TERMINAL Dalam pencapaian pembangunan nasional peranan transportasi memiliki posisi yang penting dan strategi dalam pembangunan

, maka perencanaan dan pengembangannya perlu ditata dalam satu kesatuan sistem yang terpadu. Untuk terlaksananya keterpaduan intra dan antar moda secara lancar dan tertib maka ditempat-tempat tertentu perlu dibangun dan diselenggarakan terminal. DEFINISI TERMINAL Berdasarkan, Juknis LLAJ, 1995, Terminal Transportasi merupakan: 1. Titik simpul dalam jaringan transportasi jalan yang berfungsi sebagai pelayanan umum. 2. Tempat pengendalian, pengawasan, pengaturan dan pengoperasian lalu lintas. 3. Prasarana angkutan yang merupakan bagian dari sistem transportasi untuk melancarkan arus penumpang dan barang. 4. Unsur tata ruang yang mempunyai peranan penting bagi efisiensi kehidupan kota. FUNGSI TERMINAL Berdasarkan, Juknis LLAJ, 1995. Fungsi Terminal Angkutan Jalan dapat ditinjau dari 3 unsur: 1. Fungsi terminal bagi penumpang, adalah untuk kenyamanan menunggu, kenyamanan perpindahan dari satu moda atau kendaraan ke moda atau kendaraan lain, tempat fasilitas-fasilitas informasi dan fasilitas parkir kendaraan pribadi. 2. Fungsi terminal bagi pemerintah, adalah dari segi perencanaan dan manajemen lalu lintas untuk menata lalulintas dan angkutan serta menghindari dari kemacetan, sumber pemungutan retribusi dan sebagai pengendali kendaraan umum. 3. Fungsi terminal bagi operator/pengusaha adalah pengaturan operasi bus, penyediaan fasilitas istirahat dan informasi bagi awak bus dan sebagai fasilitas pangkalan. JENIS TERMINAL Berdasarkan, Juknis LLAJ, 1995, Terminal dibedakan berdasarkan jenis angkutan, menjadi: 1. Terminal Penumpang, adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan menaikkan dan menurunkan penumpang, perpindahan intra dan/atau antar moda transportasi serta pengaturan kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum.

dan 3 ha di pulau lainnya. 3. 30 km di Pulau Sumatera dan 50 km di pulau lainnya. Terminal Penumpang Tipe A. Terminal Penumpang Tipe B. Terminal Penumpang Tipe C.2. KETENTUAN MENGENAI TERMINAL ANGKUTAN PENUMPANG Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No 31/1995. Terletak di jalan arteri dengan kelas jalan sekurang-kurangnya kelas IIIA. Mempunyai jalan akses masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal. angkutan kota dan/atau angkutan pedesaan. Persyaratan Lokasi Terminal Tipe B  Terletak di Kotamadya atau Kabupaten dan dalam jaringan trayek angkutan kota dalam propinsi. Persyaratan Lokasi terminal Penentuan lokasi terminal penumpang harus memperhatikan:       rencana kebutuhan lokasi simpul yang merupakan bagian dari rencana umum jaringan transportasi jalan. Luas lahan yang tersedia sekurang-kurangnya 5 ha untuk terminal di Pulau Jawa dan Sumatera. Jarak antara dua terminal penumpang Tipe A sekurang-kurangnya 20 km di Pulau Jawa. berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota dalam propinsi. Kotamadya atau Kabupaten dalam jaringan trayek antar kota antar propinsi dan/atau angkutan lintas batas negara. Terminal penumpang berdasarkan fungsi pelayanannya dibagi menjadi: 1. berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota dalam propinsi. adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan membongkar dan memuat barang serta perpindahan intra dan/atau antar moda transportasi. 2. kelestarian lingkungan. lokasi terminal. Terminal Barang. sekurang-kurangnya berjarak 100 meter di Pulau Jawa dan 50 meter di pulau lainnya. Persyaratan Lokasi Terminal Tipe A     Terletak di Ibukota Propinsi. berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan pedesaan. kondisi topografi. rencana umum tata ruang kepadatan lalu lintas dan kapasitas jalan di sekitar terminal keterpaduan moda transportasi baik intra maupun antar moda. . angkutan kota dan angkutan pedesaan.

Kriteria Pembangunan Terminal Pembangunan terminal dilengkapi dengan:    Rancang bangun terminal Analisis dampak lalu lintas Analisis mengenai dampak lingkungan Dalam rancang bangun terminal penumpang harus memperhatikan:     Fasilitas penumpang yang disyaratkan. Jarak antara dua terminal penumpang Tipe B atau dengan terminal tipe A sekurang-kurangnya 15 km di Pulau Jawa. dan 2 ha di pulau lainnya. Mempunyai jalan akses masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal. angkutan antar kota dalam propinsi. Pemisahan antara lalu lintas kendaraan dan pergerakan orang di dalam terminal. Pemisahan yang jelas antara jalur angkutan antar kota antar propinsi. .    Terletak di jalan arteri atau kolektor dengan kelas jalan sekurang-kurangnya kelas IIIB.. Manajemen lalu lintas di dalam terminal dan di daerah pengawasan terminal. Tersedia lahan yang sesuai dengan permintaan angkutan. sesuai kebutuhan untuk kelancaran lalu lintas di sekitar terminal. Sirkulasi lalu lintas Jalan masuk dan keluar kendaraan harus lancar. Pembatasan yang jelas antara lingkungan kerja terminal dengan lokasi peruntukkan lainnya. Mempunyai jalan akses masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal. perkantoran. sekurang-kurangnya berjarak 50 meter di Pulau Jawa dan 30 meter di pulau lainnya. Tersedia luas lahan sekuarng-kurangnya 3 ha untuk terminal di Pulau Jawa dan Sumatera. Terletak di jalan kolektor atau lokal dengan kelas jalan paling tinggi IIIA. Jalan masuk dan keluar calon penumpang kendaraan umum harus terpisah dengan keluar masuk kendaraan. sekolah dan sebagainya. dan dapat bergerak dengan mudah. misalnya pertokoan. Kriteria Perencanaan Terminal 1. 30 km di Pulau lainnya. angkutan kota dan angkutan pedesaan. Persyaratan Lokasi Terminal Tipe C    Terletak di dalam wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II dan dalam jaringan trayek angkutan pedesaan.

Turun naik penumpang dan parkir bus harus tidak mengganggu kelancaran sirkulasi bus dan dengan memperhatikan keamanan penumpang. sirkulasi barang dan pengelola terminal. rambu-rambu dan papan informasi. kebiasaan penumpang dan fasilitas penunjang Fasilitas penunjang sebagai fasilitas pelengkap dalam pengoperasian terminal antara lain: 1. motivasi perjalanan. Kegiatan sirkulasi penumpang. pengantar.Kendaraan di dalam terminal harus dapat bergerak tanpa halangan yang tidak perlu. tarif. dan jadwal perjalanan. Luas bangunan ditentukan menurut kebutuhan pada jam puncak berdasarkan kegiatan adalah: 3. 2. loket penjualan karcis. Luas pelataran parkir terminal tersebut di atas ditentukan berdasarkan kebutuhan pada jam puncak berdasarkan:   Frekuensi keluar masuk kendaraan Kecepatan waktu naik/turun penumpang . Fasilitas utama terminal yang terdiri dari:                jalur pemberangkatan kendaraan umum jalur kedatangan kendaraan umum tempat tunggu kendaraan umum tempat istirahat sementara kendaraan umum bangunan kantor terminal tempat tunggu penumpang dan/atau pengantar. pelataran parkir kendaraan pengantar dan taksi. kamar kecil/toilet musholla kios/kantin ruang pengobatan ruang infromasi dan pengaduan telepon umum tempat penitipan barang Taman. yang memuat petunjuk jurusan. menara pengawas. Sistem sirkulasi kendaraan di dalam terminal ditentukan berdasarkan:    Jumlah arah perjalanan Frekuensi perjalanan Waktu yang diperlukan untuk turun/naik penumpang Sistem sirkulasi ini juga harus ditata dengan memisahkan jalur bus/kendaraan dalam kota dengan jalur bus angkutan antar kota. Tata ruang dalam dan luar bangunan terminal harus memberikan kesan yang nyaman dan akrab. Macam tujuan dan jumlah trayek. penjemput.

  Kecepatan waktu bongkar/muat barang Banyaknya jurusan yang perlu di tampung dalam sistem jalur Sistem parkir kendaraan di dalam terminal harus ditata sedemikian rupa sehingga rasa aman. dengan ketentuan ukuran minimal:    Untuk terminal tipe A di pulau Jawa dan Sumatra seluas 5 Ha. Alternatif standar terminal Terminal penumpang berdasarkan tingkat pelayanan yang dinyatakan dengan jumlah arus minimum kendaraan per satu satuan waktu mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:    Terminal tipe A 50 -100 kendaraan/jam Terminal tipe B 25 – 50 kendaraan /jam Terminal tipe C 25 kendaraan/jam Persyaratan teknis. dan shallow saw tooth. teluk dan parkir adalah:   Membujur. dan di pulau lainnya seluas 3 Ha. maju memasuki teluk dan berbalik keluar. teluk tegak lurus bus-bus diparkir dengan muka menghadap ke platform. Akses Akses jalan masuk dari jalan umum ke terminal. Untuk terminal penumpang tipe B di pulau Jawa 50 m dan di pulau lainnya 30 m. Tegak lurus. tergantung wilayah dan tipenya. Untuk terminal penumpang tipe B di pulau Jawa dan Sumatra seluas 3 Ha. mudah dicapai. dan dipulau lainnya seluas 2 Ha. luas. Ada tiga jenis yang dapat digunakan dalam pengaturan membujur yaitu satu jalur. berjarak minimal:   Untuk terminal tipe A di pulau Jawa 100 m dan di pulau lainnya 50 m. Ada beberapa jenis sistem tipe dasar pengaturan platform. akses dan pejabat penentu lokasi pembangunan terminal Luas terminal penumpang Untuk masing-masing tipe terminal memiliki luas berbeda. Ada beberapa jenis teluk tegak lurus ini yaitu tegak lurus terhadap platform dan membentuk sudut dengan platform. lancar dan tertib. Untuk terminal tipe C tergantung kebutuhan. dua jalur. dengan platform yang membujur bus memasuki teluk pada ujung yang satu dan berangkat pada ujung yang lain. .

Penentuan Lokasi Penentuan lokasi dan letak terminal penumpang dilaksanakan oleh:    Direktur Jenderal setelah mendengar pendapat Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Daerah pengawasan terminal. untuk Terminal penumpang Tipe A. pengaturan jadwal petugas di terminal. Pengelolaan terminal Pengelolaan terminal penumpang yang harus dilakukan adalah meliputi kegiatan perencanaan. Kewenangan pengelolaan terminal berada pada Pemerintah Daerah Tingkat II dengan Dinas LLAJ sebagai penyelenggaraannya. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I setelah mendapat persetujuan Direktur Jenderal. penataan fasilitas penumpang. pemeliharaan. Penyelenggaraan terminal penumpang Penyelenggaraan terminal penumpang meliputi kegiatan pengelolaan. Perencanaan Kegiatan perencanaan terminal meliputi:         penataan pelataran terminal menurut rute atau jurusan. evaluasi sistem pengoperasian terminal. penyusunan jadwal perjalanan berdasarkn kartu pengawasan. Daerah kewenangan/pengelolaan terminal Daerah kewenangan/pengelolaan terminal terdiri dari:   Daerah lingkungan kerja terminal. penataan arus lalu lintas di daerah pengawasan terminal. adalah daerah di luar daerah lingkungan kerja terminal yang diawasi oleh petugas terminal untuk menjamin kelancaran arus lalu lintas di sekitar terminal. sedang Direktorat Jenderal Perhubungan Darat sebagai pembinanya. penyajian daftar rute perjalanan dan tarif angkutan. Untuk terminal penumpang tipe C sesuai dengan kebutuhan. . penataan fasilitas penunjang terminal. merupakan daerah yang diperuntukkan untuk fasilitas utama dan fasilitas penunjang terminal. pelaksanaan dan pengawasan pengoperasian terminal. Bupati Kepala Daerah/Walikotamadya daerah Tingkat II setelah mendapat persetujuan dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I terminal penumpang tipe C. dan penertiban terminal. untuk terminal penumpang tipe B.

menyediakan dan merawat sistem hidrant atau alat pemadam kebakaran lainnya yang siap pakai. pemeriksaan pelayanan yang diberikan oleh penyedia jasa angkutan. pemberitahuan tentang pemberangkatan dan kedatangan kendaraan umum kepada penumpang. pencatatan dan pelaporan pelanggaran yang terjadi. pemeriksaan kewajiban pengusaha angkutan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pengaturan kedatangan dan pemberangkatan kendaraan menurut jadwal yang telah ditetapkan. teratur. pemeriksaan batas kapasitas muatan yang diijinkan. merawat saluran-saluran air yang ada. pemeriksaan kartu pengawasan dan jadwal perjalanan. pengaturan arus lalu lintas did aerah pengawasan terminal. rapi serta berfungsi sebagaimana mestinya. pemungutan jasa pelayanan terminal penumpang. merawat instalasi listrik dan lampu-lampu penerangan. terminal penumpang meliputi:          pemantauan pelaksanaan tarif. Pemeliharaan Terminal Terminal penumpang harus senantiasa dipelihara sebaik-baiknya untuk menjamin agar terminal tetap bersih. pencatatan jumlah kendaraan dan penumpang yang datang dan berangkat. menjaga kebersihan pelataran terminal. pemeriksaan kendaraan yang secara jelas tidak memenuhi kelaikan jalan. TIPOLOGI TERMINAL . Pengawasan Pengoperasian Terminal Kegiatan pengawasan pengoperasian. pemantauan pemanfaatan terminal serta fasilitas penunjang sesuai dengan peruntukkannya. perawatan tanda-tanda dan perkerasan pelataran. harus dialokasikan anggaran pemeliharaan terminal. tertib.Pelaksanaan Pengoperasian Terminal Kegiatan pelaksanaan pengoperasian terminal penumpang meliputi:      pengaturan tempat tunggu dan arus kendaraan umum di dalam terminal. Pemeliharaan terminal meliputi:       menjaga kebersihan bangunan beserta perbaikannya. menjaga dan merawat alat komunikasi. Untuk keperluan pemeliharaan terminal sebagaimana dimaksud diatas.

negara 2) terletak di 2) terletak di jalan jalan arteri dengan arteri dengan kelas jalan kelas jalan sekurang-kurangnya kelas sekurang-kurangnya IIIA kelas IIIB 1) terletak di dalam wilayah kabupaten Dati II dan dalam trayek pedesaan.Secara tabelaris tipologi terminal dapat disarikan menjadi sebagai berikut: Tabel…………… tipologi terminal Ketentuan Fungsi Terminal (KM 31 TH 1995) pasal 2 TIPE A Melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota antar propinsi dan atau angkutan lintas batas negara. angkutan kota dan angkutan pedesaan (a) jalur pemberangkatan dan kedatangan (b) (c) (d) (e) (f) karcis tempat parkir TIPE B Melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota dalam propinsi. angkutan kota dan angkutan pedesaan TIPE C Melayani angkutan pedesaan Fasilitas Terminal (KM 31 TH 1995) pasal 3 (a) jalur pemberangkatan dan kedatangan (b) (a) jalur pemberangkatan dan kedatangan tempat parkir (b) kantor terminal kantor terminal (c) kantor terminal (c) tempat tempat tunggu tunggu (d) tempat menara pengawas tunggu (d) ramburambu dan papan loket penjualan (e) menara informasi pengawas (g) rambu-rambu dan (f) loket papan informasi penjualan karcis (h) pelataran parkir pengantar atau taksi (g) rambu-rambu dan papan informasi (h) pelataran parkir pengantar atau taksi Lokasi Terminal 1) terletak dalam 1) terletak (KM 31 TH jaringan trayek antar kota dalam jaringan 1995) pasal 11. angkutan antar kota dalam propinsi. antar propinsi dan/atau trayek antar kota 12. dan 13 angkutan lintas batas dalam propinsi. 2) terletak di jalan arteri dengan kelas jalan sekurang- .

dalam sistem yang kita amati tersebut. Sasaran umum kebijaksanaan pemerintahan di dalam lalu lintas dan angkutan umum adalah untuk menciptakan suatu sistem transportasi sehingga mobilitas orang dan barang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi dan dapat memenuhi kebutuhan sosial. pemukiman. akan terdapat juga titik-titik perhentian. kita akan dapatkan bahwa dalam sistem yang kita amati akan terdapat sekumpulan rute-rute individual yang satu dengan lainnya membentuk suatu jaringan rute. yang dimaksud dengan jaringan rute angkutan umum adalah sekumpulan lintasan rute . perniagaan dan rekreasi.3) jarak antar dua 3) jarak antar terminal penumpang tipe dua terminal Aekurang-kurangnya 20 KM penumpang tipe A di Pulau Jawa 4) Luas lahan 4) Luas lahan yang yang tersedia tersedia sekurangsekurang-kurangnya kurangnya 5 ha 3 ha 5) Mempunyai akses jalan masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal dengan jarak sekurang-kurangnya 50 m Instansi Dirjend HubDar mendengar Gubernur setelah Penetap Lokasi pendapat Gubernur dan mendengar Terminal (KM Kepala Kanwil DepHub pendapat dan 31 TH 1995) setempat Kepala Kanwil pasal 14 DepHub dan mendapat persetujuan dari Dirjend Ketentuan TIPE A TIPE B Penyelenggara Direktorat Jenderal Gubernur Terminal (KM 31 TH 1995) Pasal 17 SISTEM JARINGAN ANGKUTAN UMUM 5) Mempunyai akses jalan masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal dengan jarak sekurangkurangnya 100 m kurangnya kelas III C 3) luas lahan yang tersedia sesuai dengan permintaan angkutan 4) mempunyai akses jalan masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal sesuai dengan kebutuhan Bupati setelah mendengar pendapat dan Kepala Kanwil DepHub dan mendapat persetujuan dari Gubernur TIPE C Bupati Untuk menjamin pertumbuhan ekonomi dan mengatasi kebutuhan angkutan dibutuhkan fasilitas jaringan angkutan yang saling menghubungkan antara wilayah kota. Selain itu. terminal dan prasarana tambahan lainnya. daerah komersil dan rekreasi. Jika kita tinjau sistem angkutan umum dari suatu daerah perkotaan secara keseluruhan. Jadi di sini.

2) jaringan rute yang terbentuk simultan secara menyeluruh. karena sistem tumbuh secara parsial. Sistem jaringan rute yang ada dalam suatu perkotaan biasanya dapat dibagi menjadi (2) dua kelompok. Dalam jaringan rute seperti ini. Kondisi ideal seperti inilah biasanya yang menjadi acuan dalam menciptakan ataupun merencanakan suatu jaringan rute. di lain pihak. Pada kelompok yang pertama.individual. titik-titik perhentian dan terminal yang memungkinkan terjadinya pergerakan penumpang secara aman. Masing-masing lintasan rute terbentuk karena keinginan pengguna jasa (penumpang) ataupun karena keinginan pihak pengelola. Secara keseluruhan sistem rute menjadi tidak efektif dan efisien. sehingga penumpang dengan mudah dapat menggunakan sistem jaringan rute yang ada untuk kepentingan mobilitas mereka. Orang dengan mudah menggunakan angkutan umum dimanapun dia . suatu jaringan rute adalah sekumpulan lintasan rute. Hal ini dimungkinkan karena pembentukan yang secara simultan ini biasanya didahului dengan perencanaan yang matang dan komprehensif. Selain itu. yakni pembentukannya dilakukan oleh pengelola angkutan uumum yang besar (swasta ataupun milik pemerintah) ataupun oleh sekelompok pengelola individual secara simultan dan bersama-sama. Akibatnya keterkaitan antar rute menjadi lemah. pembentukkan jaringan rute benar-benar tidak terkoordinasi. pembentukan jaringan rute secara keseluruhan biasanya didasarkan pada kondisi tata guna tanah secara keseluruhan biasanya didasarkan pada kondisi tata guna tanah secara keseluruhan pula. efisien dan efektif. Lintasan rute hanya terkonsentrasi pada jalan-jalan arteri yang secara geometrik mempunyai kapasitas lalu lintas yang besar dan juga mempunyai potensi demand yang tinggi. Pada daerah-daerah lain jarang dijumpai rute angkutan umum. yaitu: 1) jaringan rute yang terbentuk secara evolutif yang pembentukannya dimulai oleh pihak-pihak pengelola individu secara sendiri-sendiri. Akibatnya tingkat aksesibilitas masyarakat terhadap angkutan umum sangatlah tidak merata. Pada kelompok yang kedua. keterkaitan antar individual rute sangatlah kentara. Semua potensi pergerakan betul-betul diantisipasi sedemikian rupa sehingga tingkat aksesibilitas setiap daerah perkotaan cukup merata. karena pembentukannya secara simultan dan dilakukan oleh pengelola skala besar ataupun sekelompok pengelola individual. sekumpulan titik-titik perhentian dan beberapa terminal yang membentuk sistem prasarana angkutan umum secara keseluruhan. maka jaringan rute yang terbentuk biasanya merupakan jaringan rute yang komprehensif dan integral. Ditinjau dari sistem pengoperasian angkutan umum. Ada beberapa daerah tertentu yang dijumpai kemudahan yang tinggi untuk menggunakan angkutan umum dan di daerah-daerah lain yang mempunyai tingkat kemudahan yang rendah terhadap penggunaan angkutan umum.

Berdasarkan ciri pelayanannya dan kawasan yang dihubungkan trayek terbagi atas: 1. selain memperhatikan wilayah-wilayah potensial pelayanan. Trayek utama melayani angkutan antar kawasan utama. Karakteristik jaringan jalan. juga menjangkau semua wilayah perkotaan yang ada. sistem jaringan rute angkutan umum menjadi efektif dan efisien. yang pada umumnya merupakan wilayah yang mempunyai potensi permintaan yang tinggi. salah satu faktor yang menjadi prioritas pelayanan angkutan umum adalah wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi. antara kawasan utama dan kawasan pendukung dengan ciri-ciri melakukan perjalanan ulangalik secara tetap dengan pengangkutan yang bersifat massal 2. antara kawasan pendukung dan kawasan pemukiman 3. JARINGAN TRAYEK Berdasarkan. modifikasi rute serta rute-rute baru. kondisi jaringan jalan. 2. pelayanan angkutan umum diusahakan mampu menyediakan aksesibilitas yang baik. Trayek Ranting melayani angkutan dalam kawasan pemukiman 4. yang merupakan trayek yang sudah ada. Pola tata guna lahan. 4. rute angkutan yang baik adalah arah yang mengikuti pola pergerakan penumpang. 5. Pedoman Teknis Ditjen HubDar. Daerah pelayanan. Faktor yang digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan jaringan trayek adalah sebagai berikut: 1. Jaringan trayek adalah kumpulan trayek yang menjadi satu kesatuan pelayanan angkutan orang. 1996). 1996. Pedoman Teknis Ditjen Hubdar. 3.berada untuk tujuan kemanapun yang diinginkan. TRAYEK ANGKUTAN UMUM DEFINISI TRAYEK Untuk mengisi kebutuhan terhadap permintaan angkutan dengan pelayanan angkutan umum maka dibentuk disusun trayek sebagaimana dapat dilihat pada gambar berikut. kondisi jaringan jalan akan menentukan pola pelayanan trayek angkutan umum. . Pola pergerakan penumpang angkutan umum. Untuk memenuhi hal itu. perpanjangan. Trayek Langsung melayani angkutan antar kawasan secara tetap yang bersifat massal dan langsung Hubungan antara klasifikasi trayek dan jenis pelayanan/jenis angkutan dapat dilihat pada tabel berikut (berdasarkan. lintasan trayek angkutan umum diusahakan melewati tata guna tanah dengan potensi permintaan yang tinggi. Kepadatan penduduk. Trayek cabang melayani angkutan antar kawasan pendukung. Dengan demikian. secara keseluruhan.

Bus kecil .200 500 – 600 Pelayanan .Bus sedang Cabang Bus besar (SD/DD) Bus besar .000500.Tabel : Klasifikasi Trayek Menurut Jenis Pelayanan dan Jenis Angkutan Klasifikasi Trayek Utama Jenis Jenis Angkutan Kapasitas Penumpang Per Hari/Kendaraan 1.Lambat Bus sedang (lantai tunggal) Bus sedang Bus besar Bus sedang Bus kecil Bus sedang Bus kecil MPU*) Bus besar Bus sedang Bus kecil Cabang .500 – 1.Cepat Bus besar (lantai ganda) .800 1.Bus sedang .Cepat .000 – 1.000.000 Penduduk KA Kota Besar 500.000 Penduduk .Bus sedang/kecil .000 – 1.Lambat 1.200 500 – 600 300 – 400 Ranting .000 Penduduk .000.000 – 1.000 Penduduk .Cepat * ) mobil penumpang umum Penentuan jenis angkutan berdasarkan ukuran kota dan trayek secara umum dapat dilihat pada tabel berikut Tabel : Jenis Angkutan Menurut Ukuran Kota Ukuran Kota KlasifiTrayek Utama kasi Kota Raya >1.Lambat Langsung .0001.200 500 – 600 300 – 400 500 – 600 300 – 400 250 – 300 1.Bus besar Kota Sedang 100.Bus besar/sedang Kota Kecil <100.

antara kawasan utama dan kawasan pendukung dengan ciriciri melakukan perjalanan ulang-alik secara tetap dengan pengangkutan yang bersifat Dilayani oleh bus umum Melayani angkutan antar kawasan pendukung. 2) Trayek langsung yaitu trayek yang menghubungkan langsung antar dua kawasan yang permintaan angkutan antara kedua kawasan tersebut tinggi. dengan syarat bahwa kondisi prasarana jalan memungkinkan untuk dilaksanakan trayek tersebut.Bus kecil . 3) Tempat-tempat sebagaimana dimaksud dengan ketentuan ini dapat berupa halte. stop bus.Ranting Langsung Sedang Bus Sedang/kecil Bus besar .Bus besar .Bus sedang .MPU*) . Klasifikasi Trayek Berdasarkan Penjadwalan Trayek Utama Trayek Cabang Trayek Ranting Mempunyai jadwal tetap Trayek Langsung 2) Mempunyai Melayani angkutan antar kawasan utama.Bus sedang *) mobil penumpang umum Tabel . .MPU*) . atau terminal. antara kawasan pendukung dan kawasan pemukiman 1) jadwal tetap Melayani Melayani angkutan angkutan dalam antar kawasan kawasan secara tetap yang permukiman bersifat massal dan langsung Pelayanan cepat dan/atau lambat Dilayani dengan Dilayani oleh mobil mobil bus umum bus umum dan/atau mobil penumpang umum Pelayanan Pelayanan cepat lambat Jarak pendek Melalui tempat-tempat yang ditetapkan hanya untuk menaikkan dan menurunkan penumpang3) 1) kawasan pemukiman ialah suatu kawasan perumahan tempat penduduk bermukim yang memerlukan jasa angkutan. Dengan demikian akan terjadi pengurangan perpindahan angkutan.

b. Trayek antar kota antar propinsi yaitu trayek yang melalui lebih dari satu wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Jaringan trayek terdiri dari: a. c. Trayek lintas batas negara Yaitu trayek yang melalui batas negara Jaringan taryek lintas batas antar negara ditetapkan dengan Keputusan Menteri berdasarkan perjanjian antar negara.Terminal tersebut merupakan terminal untuk perpindahan penumpang angkutan umum antar kota ke angkutan kota atau sebaliknya. Tabel : Jaringan Trayek Trayek antar kota antar Trayek antar kota propinsi dan trayek dalam propinsi lintas batas negara Mempunyai jadwal tetap 1) Pelayanan cepat 2) Trayek pedesaan Dilayani oleh bus umum 4) Tersedianya terminal penumpang tipe A pada Mempunyai jadwal tetap dan/atau tidak berjadwal5) Pelayanan cepat dan/atau Pelayanan lambat3) lambat Dilayani oleh bus umum dan/atau mobil penumpang umum Tersedianya terminal Tersedianya terminal penumpang sekurangpenumpang sekurang- . d. Trayek antar kota dalam propinsi Yaitu trayek yang melalui antar Daerah Tingkat II dalam satu wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. JENIS JARINGAN TRAYEK Angkutan Orang dengan Kendaraan Umum dalam Trayek Tetap dan Teratur Untuk pelayanan angkutan orang dengan kendaraan umum dalam trayek tetap dan teratur dilakukan dalam jaringan trayek. Trayek Kota Yaitu trayek yang seluruhnya berada dalam satu wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II atau trayek dalam Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

3. awal pemberangkatan dan tujuan persinggahan. TIPOLOGI TRAYEK . 14 tahun 1992. 41 tahun 1993 Pasal 4 dan Pasal 5. dan terminal awal pemberangkatan. untuk jaringan trayek yang melalui antar Dati I. atas usul Bupati/Kepala Dati II. Sedangkan mengenai perijinan pengeluaran trayek diatur oleh PP No. Jaringan trayek ditetapkan oleh: 1. Gubernur/Kepala Dati I. Gubernur/Kepala Dati I.awal pemberangkatan. meliputi jam keberangkatan. persinggahan. untuk jaringan trayek yang seluruhnya berada dalam kabupaten Dati II. KETENTUAN MENGENAI TRAYEK DAN JARINGAN TRAYEK ANGKUTAN Ketentuan mengenai trayek ditentukan berdasarkan PP No. untuk jaringan trayek yang melalui antar Dati II dalam satu wilayah Propinsi Dati I. untuk jaringan trayek yang melalui dari satu Propinsi Dati I. Ijin Operasi Angkutan diatur oleh PP No. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di lampiran. 41 tahun 1993. Direktur Jenderal Perhubungan darat. 41 tahun 1993. 2) Pelayanan cepat yaitu pelayanan angkutan dengan pembatasan jumlah terminal yang wajib disinggahi selama perjalanannya. Pasal 26 sampai dengan 34. 41 tahun 1993. 4. 3) Pelayanan lambat yaitu pelayanan angkutan dengan kewajiban memasuki terminal sesuai dengan izin trayek. pasal 41 mengenai Ijin Usaha Angkutan dan PP RI No. Pasal 18 sampai dengan pasal 25. dan terminal terminal tujuan tujuan Prasarana jalan yang dilalui memenuhi ketentuan kelas jalan 1) Yang dimaksud memiliki jadwal tetap adalah pengaturan jam perjalanan setiap mobil bus umum. 4) Pelayanan oleh mobil bus umum dimaksudkan agar tercapai efisiensi penggunaan sarana angkutan dan ruang jalan. kurangnya tipe B pada kurangnya tipe C pada persinggahan. Gubernur/Kepala Dati I. Masalah perijinan angkutan diatur menurut LLAJ RI No. Pasal 35 sampai dengan Pasal 42. dan kedatangan pada terminal-terminal yang wajib disinggahi. 2. untuk jaringan trayek yang seluruhnya berada dalam wilayah kotamadya Dati II. atas usul Walikotamadya Kepala Dati II. 5) Yang dimaksud dengan tidak terjadwal yaitu pelayanan angkutan dengan jam keberangkatan dan kedatangan tidak tetap pada terminal-terminal yang wajib disinggahi.

persinggahan. Tabel . Adapun bentuk sarinya ini dapat diperlihatkan dalam tabelaris sebagai berikut. dan terminal tujuan Tersedianya terminal penumpang sekurang-kurangnya tipe B pada awal pemberangkatan. pelayanan.Tipologi trayek ini adalah sari dari penjelasan kebijaksanaan-kebijaksanaan mengenai trayek. terjadwal Tipe Terminal yang Disinggahi Tersedianya terminal penumpang tipe A pada awal pemberangkatan. beserta karakteristik trayeknya (fungsi. Bus besar angkutan antar terjadwal untuk Kota kawasan secara Raya dan tetap yang Kota Besar bersifat massal dan Bus dan langsung Sedang untuk kota sedang dan kecil KOTA Utama. jenis) dan jenis moda yang digunakannya. klasifikasi. Melayani Cepat. persinggahan. sampai Mobil ranting kawasan utama. dan terminal tujuan Tersedianya terminal penumpang sekurang-kurangnya tipe C pada awal . Tipologi Trayek Jaringan Klasifikasi Jenis Kawasan Trayek Trayek yang Dilayani AKAP Langsung Melayani angkutan antar kawasan secara tetap yang bersifat massal dan langsung Moda yang Digunakan Bus Besar untuk Kota Raya dan Kota Besar dan Bus Sedang untuk kota sedang dan kecil AKDP Langsung Melayani Cepat. angkutan antar lambat. Bus sedang ranting tidak sampai Mobil berjadwal Penumpang Umum Jenis Pelayanan Cepat. berjadwal penumpang antara kawasan Umum utama dan kawasan pendukung dengan ciri-ciri melakukan perjalanan ulang-alik secara tetap dengan pengangkutan yang bersifat massal Pedesaan Cabang. Bus besar cabang. dan terminal tujuan Tersedianya terminal penumpang sekurang-kurangnya tipe B pada awal pemberangkatan. Lambat. persinggahan.

pemberangkatan. dan terminal tujuan .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful