Isi Jiwa

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Manusia dalam memenuhi kebutuhan dan kepuasan hidupnya akan selalu membutuhkan orang lain untuk menjalin hubungan interpersonal atau berinteraksi. Orang yang dapat berinteraksi dengan orang lain dapat dikatakan sebagai individu yang sehat dalam arti tidak mempunyai suatu gangguan. Namun, pada kenyataannya secara kita sadari maupun tidak diantara orangorang tersebut ada yang mengalami gangguan dalam kesehatan jiwanya. Beberapa masalah keperawatan yang kerap muncul pada pasien jiwa di Rumah Sakit antara lain gangguan sensori persepsi: halusinasi, gangguan proses pikir: waham, isolasi sosial: menarik diri. Adapun yang akan kami bahas salah satunya yaitu gangguan isolasi sosial: menarik diri. Menarik diri (withdrawal) adalah suatu tindakan melepaskan diri, baik perhatian maupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung. Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain ( Rawlins,1993 ). Menurut penelitian WHO prevalensi gangguan jiwa 100 jiwa/1000 penduduk, ini berarti di Indonesia mencapai 264 jiwa penduduk, artinya 2,6 kali lebih tinggi dari ketentuan WHO (Azwar, 2001). Berdasarkan hasil pencatatan jumlah penderita yang mengalami gangguan jiwa di BPRS Dadi Makassar pada bulan Januari sampai Maret 2009 sebanyak 2294 orang, halusinasi 1162 orang (50.65 %), menarik diri 462 orang (20.13 %), waham 130 orang (5.66 %). Isolasi sosial mengalami peningkatan tiap tahunnya dan menempati urutan kedua masalah kesehatan jiwa setelah halusinasi. Menurut data dari Konas II, 2005 bahwa gangguan jiwa menarik diri berada di urutan ke 7 dari 10 diagnosis keperawatan terbanyak di RSJ. Saat ini jumlahnya pun semakin meningkat dikarenakan tidak adanya penanganan sejak dini yang diterapkan pada seseorang yang mengalami isolasi sosial tersebut. Adanya gangguan isolasi sosial akan menyebabkan seseorang semakin merasa sendiri, tidak dapat berinteraksi dengan orang lain, dia akan

1

semakin merasa terkucilkan dan terbuang dari lingkungan sosialnya. Pada mulanya klien merasa dirinya tidak berharga lagi sehingga merasa tidak aman dalam berhubungan dengan orang lain. Biasanya klien berasal dari lingkungan yang penuh permasalahan, ketegangan, kecemasan dimana tidak mungkin mengembangkan kehangatan emosional dalam hubungan yang positif dengan orang lain yang menimbulkan rasa aman. Semakin klien menjauhi kenyataan semakin banyak kesulitan yang timbul dalam mengembangkan hubungan dengan orang lain. Menarik diri juga disebabkan oleh perceraian, putus hubungan, peran keluarga yang tidak jelas, orang tua pecandu alkohol dan penganiayaan anak (Aziz, 2003). Gangguan isolasi sosial yang terjadi pada diri seseorang harus segera ditangani, baik secara medis ataupun non-medis diantaranya dengan asuhan keperawatan (misal komunikasi terapeutik) dan juga penggunaan obat-obatan. Dengan adanya asuhan keperawatan dapat terjalin hubungan saling percaya, tidak menarik diri dan lebih terbuka dengan lingkuan sekitarnya. Selain itu klien juga dapat melakukan komunikasi dengan normal melalui metode komunikasi terapeutik. Oleh karena itu, kami menyusun sebuah makalah mengenai menarik diri. Diharapkan dengan adanya makalah ini, mahasiswa keperawatan akan memahami dan mampu melakukan asuhan kperaawatan yang benar dan tepat kepada pasien dengan gangguan menarik diri.

1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum Mahasiswa mampu memahami dan memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan isolasi sosial: menarik diri. 1.2.2 Tujuan khusus 1. Menjelaskan konsep gangguan hubungan sosial : menarik diri. 2. Menerangkan asuhan keperawatan untuk klien dengan masalah utama gangguan hubungan sosial: menarik diri. 3. Merancang kasus klien dengan masalah utama menarik diri. 4. Menerapkan asuhan keperawatan pada kasus klien dengan masalah utama menarik diridalam bentuk role play.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi 2.1.1 Pengertian Gangguan Hubungan Sosial Gangguan hubungan sosial adalah keadaan dimana individu kurang berpartisipasi dalam jumlah berlebihan atau hubungan sosial yang tidak efektif (Rawlins, 1993). Townsend (1998) menyatakan bahwa keadaan dimana seorang individu berpartisipasi dalam kuantitas yang berlebihan atau tidak cukup atau ketidakefektifan kualitas pertukaran sosial. 2.1.2 Pengertian Menarik Diri Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlins,1993). Menurut Townsend, M.C (1998) menarik diri merupakan suatu keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain. Menarik diri adalah keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan dalam membina hubungan dan menghindari interaksi dengan orang lain secara langsung yang dapat bersifat sementara atau menetap (Fajar, 2012). Penarikan diri atau withdrawal merupakan suatu tindakan melepaskan diri baik perhatian ataupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung yang dapat bersifat sementara atau menetap (Depkes RI,1989). 2.1.3 Rentang Respon a. Rentang respon adaptif Rentang respon adaptif merupakan respon individu dalam

penyesuaian masalah yang dapat di terima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan. 1. Menyendiri (solitude) merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah dilakukan di

3

lingkungan sosialnya dan suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya. 2. Otonomi merupakan kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide pikiran, perasaan dalam hubungan sosial. 3. Bekerjasama (mutualisme) adalah suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk saling memberi dan menerima. 4. Saling tergantung (interdependen) adalah suatu kondisi saling tergantung antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal. b. Respon antara adaptif dan maladaptive 1. Aloness (Kesepian) individu mulai merasakan kesepian, terkucilkan dan tersisihkandari lingkungan. 2. Withdrawl (Menarik diri) Gangguan yang terjadi di mana seseorang menemukan kesulitan dalammembina hubungan saling terbuka dengan orang lain, di mana individu sengaja menghindarai hubungan interpersonal ataupun interaksi dengan lingkungannya. 3. Dependence ( ketergantungan ) Individu mulai tergantung kepada individu yang lain dan mulai tidak memperhatikan kemampuan yang di milikinya. c. Respon maladaptif Respon maladaptif merupakan suatu respon individu dalam penyelesaian masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial dan budaya lingkungannya. Respon maladaptif : 1. Loneliness ( kesepian ) Gangguan yang terjadi apabila seseorang memutuskan untuk tidak berhubungan dengan orang lain.

4

2. Manipulasi Pada gangguan hubungan sosial jenis ini orang lain diperlakukan sebagai objek, hubungan terpusat pada masalah pengendalian orang lain dan individu cendrung berorientasi pada diri sendiri atau tujuan, bukan padaorang lain. 3. Implusif Individu implusif tidak mampu merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar dari pengalaman, tidak dapat di andalkan. 4. Narkisisme Pada pasien narkisme terdapat harga diri yang rapuh, secara terus menerus berusaha mendapatkan penghargaan dan pujian, sikap egosentris, pencemburu, marah jika orang lain tidak mendukung. 5. Paranoid ( curiga ) Gangguan yang terjadi apabila seseorang gagal dalam

mengembangkanrasa percaya diri pada orang lain.

2.2 Faktor Predisposisi Menurut Stuart dan Sundeen (1995), faktor predisposisi dari gangguan hubungan sosial yaitu : a. Faktor perkembangan Kemampuan membina hubungan yang sehat tergantung dari pengalaman selama proses tumbuh kembang. Setiap tahap tumbuh kembang memiliki tugas yang harus dilalui individu dengan sukses, karena apabila tugas perkembangan ini tidak dapat dipenuhi akan menghambat masa perkembangan selanjutnya. Kurangnya stimulasi, kasih sayang, perhatian, dan kehangatan dari orang tua/pengasuh akan memberikan rasa tidak aman yang dapat menghambat terbentuknya rasa tidak percaya. b. Faktor komunikasi komunikasi keluarga termasuk masalah komunikasi yang tidak jelas ( double blind ) yaitu suatu keadaan di mana seseorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu

5

bersamaan, ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan di luar keluarga. c. Faktor biologis Yang termasuk faktor biologis yaitu organ tubuh yang jelas dapat mempengaruhi terjadinya gangguan hubungan sosial. Organ tubuh yang sangat berpengaruh adalah otak. d. Faktor sosial budaya Disebabkan oleh norma-norma yang salah di anut oleh keluarga, yangmana setiap anggota keluarga yang tidak produktif seperti usia lanjut, penyaki tkronis, dan penyandang cacat di asingkan dari lingkungan sosialnya.

2.3 Faktor Presipitasi a. Faktor sosial budaya Stressor sosial budaya dapat menyebabkan terjadinya gangguan dalam membina hubungan dengan orang lain, misalnya anggota keluarga yang labil, yang dirawat di rumah sakit. b. Faktor psikologis Psikologis terjadi akibat ansietas yang berkepanjangan dan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan individu untuk mengatasinya. Ansietas terjadi akibat tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhinya kebutuhan ketergantungan individu.

2.4 Tanda dan Gejala Menurut Townsend, M.C (1998:152-153) & Carpenito,L.J (1998: 382) isolasi sosial menarik diri sering ditemukan adanya tanda dan gejala sebagai berikut: Data subjektif : a. Mengungkapkan perasaan tidak berguna, penolakan oleh lingkungan b. Mengungkapkan keraguan tentang kemampuan yang dimiliki Data objektif : a. Tampak menyendiri dalam ruangan

6

c. Tidak berkomunikasi, menarik diri d. Tidak melakukan kontak mata e. Tampak sedih, afek datar f. Posisi meringkuk di tempat tidur dengang punggung menghadap ke pintu g. Adanya perhatian dan tindakan yang tidak sesuai atau imatur dengan perkembangan usianya h. Kegagalan untuk berinterakasi dengan orang lain didekatnya i. Kurang aktivitas fisik dan verbal j. Tidak mampu membuat keputusan dan berkonsentrasi k. Mengekspresikan perasaan kesepian dan penolakan di wajahnya

2.5 Proses Terjadinya Masalah Isolasi Sosial adalah kondisi kesepian yang diekspresikan oleh individu dan dirasakan sebagai hal yang ditimbulkan oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan negatif yang mengancam. Dengan karakteristik : tinggal sendiri dalam ruangan, ketidakmampuan untuk berkomunikasi, menarik diri, kurangnya kontak mata. Ketidaksesuaian atau ketidakmatangan minat dan aktivitas dengan perkembangan atau terhadap usia. Preokupasi dengan pikirannya sendiri, pengulangan, tindakan yang tidak bermakna. Mengekspresikan perasaan penolakan atau kesepian yang ditimbulkan oleh orang lain. Mengalami perasaan yang berbeda dengan orang lain, merasa tidak aman ditengah orang banyak. Isolasi sosial merupakan keadaan di mana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak (Carpenito ,L.J, 1998: 381). Menurut Rawlins, R.P & Heacock, P.E (1988 : 423). Isolasi sosial menarik diri merupakan usaha menghindar dari interaksi dan berhubungan dengan orang lain, individu merasa kehilangan hubungan akrab,tidak mempunyai kesempatan dalam berfikir, berperasaan, berprestasi, atau selalu dalam kegagalan. Isolasi sosial menarik diri sering disebabkan oleh karena kurangnya rasa percaya pada orang lain, perasaan panik, regresi ke tahap perkembangan sebelumnya, waham, sukar berinteraksi dimasa

7

lampau, perkembangan ego yang lemah serta represi rasa takut (Townsend, M.C,1998:152). Menurut Stuart, G.W & Sundeen, S,J (1998 : 345) Isolasi sosial juga disebabkan oleh gangguan konsep diri harga diri rendah. Gangguan konsep diri: harga diri rendah adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri (Stuart dan Sundeen, 1998 :227).

2.6 Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian A. Identitas Klien Dalam pengkajian kita mencantumkan identitas klien (nama klien, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, pendidikan) dan identitas penanggung jawab (nama, umur, alamat, pekerjaan). Identitas klien dapat ditanyakan kepada keluarga atau dengan melihat data yag sudah diambil sebelumnya. B. Keluhan Utama dan Alasan Masuk Keluhan biasanya berupa menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi kurang atau tidak ada , berdiam diri dikamar ,menolak interaksi dengan orang lain , tidak melakukan kegiatan sehari – hari , dependen. Kita kaji apa yang menyebabkan klien dibawa oleh keluarga ke rumah sakit untuk saat ini, apa yang sudah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah klien dan bagaimana hasilnya. Hal tersebut akan berguna untuk perencanaan perawatan nantinya. C. Faktor predisposisi Berbagai faktor yang menunjang perubahan dalam konsep diri seseorang. Faktor ini dapat dibedakan sebagai berikut : 1) Faktor yang mempengaruhi harga diri, meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang berulang-ulang, kurangnya tanggung jawab personal, terlalu bergantung kepada orang lain, dan ideal diri yang tidak realistis. 2) Faktor yang mempengaruhi performa peran adalah stereotip peran gender, tuntutan peran kerja, dan harapan peran budaya.

8

3) Faktor yang mempengaruhi identitas pribadi meliputi kurangnya saling percaya antara orang tua dan anak, tekanan dari teman sebaya atau teman bermain, dna adanya struktur budaya yang berubah. D. Aspek fisik / biologis Hasil pengukuran tada vital (TD, Nadi, suhu, Pernapasan , TB, BB) dan keluhafisik yang dialami oleh klien. E. Asfek Psikososial 1. Genogram yang menggambarkan tiga generasi. 2. Konsep diri a) citra tubuh : Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Menolak penjelasan perubahan tubuh , persepsi negatip tentang tubuh . Preokupasi dengan bagia tubuh yang hilang , mengungkapkan keputus asaan, mengungkapkan ketakutan. b) Identitas diri Ketidak pastian memandang diri , sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan. c) Peran Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit , proses menua , putus sekolah, PHK. d) Ideal diri Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya : mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi. e) Harga diri Perasaan malu terhadap diri sendiri , rasa bersalah terhadap diri sendiri , gangguan hubungan sosial , merendahkan martabat , mencederai diri, dan kurang percaya diri.

9

3. Klien mempunyai gangguan / hambatan dalam melakukan hubunga sosialdengan orang lain terdekat dalam kehidupan, kelempok yang diikuti dalam masyarakat. 4. kenyakinan klien terhadap tuhan dan kegiatan untuk ibadah ( spritual). F. Status Mental Kontak mata klien kurang /tidak dapat mepertahankan kontak mata , kurang dapat memulai pembicaraan , klien suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan denga orang lain , Adanya perasaan keputusasaan dan kurang berharga dalam hidup. G. Kebutuhan persiapan pulang. 1. Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan 2. Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC, membersikan dan merapikan pakaian. 3. Pada observasi mandi dan cara berpakaian klien terlihat rapi 4. Klien dapat melakukan istirahat dan tidur , dapat beraktivitas didalam dan diluar rumah. 5. Klien dapat menjalankan program pengobatan dengan benar. H. Mekanisme Koping Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakan nya pada orang orang lain( lebih sering menggunakan koping menarik diri). I. Aspek Medik : dengan medikamentosa. 2. Analisa Data Data DO : bahasa tubuh: kepalan tangan, kaku rahan, mengancam, nafas tertahan ; riwayat kekerasan pada orang lain: menendang, mencakar, memukul orang lain DS : isyarat verbal: isolasi sosial : menarik diri Resiko perubahan sensori : halusinasi Etoilogi Resiko menciderai diri, orang lain, lingkungan Masalah Keperawatan Resiko menciderai diri sensori dan orang lain.

10

berbicara tentang kematian, menanyakan dosis/obat yang mematikan; sumber sosial: isolasi sosial; kesehatan mental: depresi berat; status emosi: peningkatan ansietas, marah DO : Berbicara dan tertawa sendiri, tersenyum, bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu, berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatudisorientasi, menggerakkan bibir tanpa suara, diam dan asyik sendiri. DS : Mendengar suara bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata, melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata, mencium bau tanpa stimulus, takut pada suara/bunyi/gambaran yang didengar, ingin memukul/melempar
11

Resiko perubahan sensori : halusinasi

Resiko perubahan sensori persepsi : Halusinasi

isolasi sosial : menarik diri

Gangguan harga diri : Harga diri rendah

barang barang. DO : Apatis, ekpresi sedih, afek tumpul, menyendiri, berdiam diri dikamar, banyak diam, kontak mata kurang (menunduk), menolak berhubungan dengan orang lain, perawatan diri kurang, posisi menekur. DS : Sukar didapat jika klien menolak komunikasi, kadang hanya dijawab dengan singkat, ya atau tidak. DO : Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencederai diri. Pasca kejadian DS : Klien mengatakan : saya tidak bisa, tidak mampu, bodoh/tidak tahu apa -apa, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri. traumatik Tidak efektifnya koping individu Gangguan harga diri : Harga diri rendah Harga diri rendah Tidak efektifnya koping individu Gangguan harga diri : Harga diri rendah isolasi sosial : menarik diri Isolasi sosial: menarik diri

12

DO : pakaian tampak kumal, tidak rapi, bau dan kotor tubuh kotor, rambut acak-acakan dan tampak tidak segar

Isolasi diri : menarik diri

Defisit perawatan diri

Intoleransi aktivitas

Defisit perawatan diri DS : menolak mandi, ganti baju, dan berias

3. Pohon Masalah Resiko menciderai diri, Resiko Persepsi sensori orang lain, lingkungan

Resiko perubahan sensori : halusinasi

isolasi sosial : menarik diri

Intoleransi aktivitas

defisit perawatan diri

Gangguan harga diri : Harga diri rendah

Tidak efektifnya koping individu

Pasca kejadian traumatik

4. Diagnosa 1. Resiko menciderai diri sensiri dan orang lain berhubungan dengan gangguan sensori : Halusinasi. 2. Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi berhubungan dengan menarik diri. 3. Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah. 4. Gangguan harga diri : harga diri rendah berhubungan dengan tidak efektifnya koping individu. 5. Defisit perawatan diri berhubungan dengan intoleransi aktivitas.

13

5. Intervensi No. 1. Diagnosa keperawatan Resiko menciderai diri dan lain Tujuan TUM : Klien tidak Perencanaan Kriteria Hasil Intervensi Rasional

sensiri menciderai orang orang lain . TUK : dapat 1. Ekspresi wajah klien bersahabat, menunjukka n rasa 1. Bina hubungan saling percaya dengan prinsip komunikasi terapeutik. 1. Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk

berhubungan 1. Klien dengan gangguan sensori Halusinasi : membina

hubungan saling percaya.

senang, ada kontak mata atau mau

kelancaran hubungan interaksi selanjutnya. 2.

jabat tangan. 2. Klien dapat 2. Klien dapat 2. Diskusikan mengungkap kan perasaanya terhadap halusinasi. 3. Klien dengan klien apa yang

mengenal halusinasi.

dirasakan jika terjadi

halusinasi. 3. merupakan upaya untuk cara memutus siklus halusinasi.

dapat 3. Klien dapat 3. Identifikasi menyebutka n tindakan dapat bersama klien yang dilakukan jika terjadi

mengontrol halusinasinya.

yang

dilakukan untuk mengendalik an halusinasiny

halusinasi.

14

a. 4. Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol halusinasinya 4. Keluarga dapat menyebutka n pengertian, tanda tindakan untuk mengendalik an halusinasi 2. Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi TUM : Klien berinteraksi dengan lain orang sehingga terjadi dapat dan 4. Anjurkan klien untuk memberi tahu keluarga sedang halusinasi. 4. untuk mendapatkan bantuan keluarga dalam mengontrol halusinasi.

berhubungan tidak dengan menarik diri. TUK : 1. Klien halusinasi.

dapat 1. Setelah berinteraksi selama kali terbina hubungan saling percaya. 2 dapat

1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunaka n prinsip

1. Hubungan saling percaya merupakan landasan utama untuk

membina hubungan saling percaya.

hubungan selanjutnya.

komunikasi terapeutik.

2. Klien

dapat 2. Setelah berinteraksi

2. Beri kesempatan

2. Memberi kesempatan

menyebutkan

15

penyebab menarik diri.

selama kali dapat mengenali penyebab

2

kepada klien untuk mengungka pkan perasaan penyebab menarik diri mau bergaul. atau

untuk mengungkapk an perasaannya dapat membantu mengurangi stres penyebab perasaaan menarik diri. dan

pasien

menarik diri.

3. Klien

dapat 3. Setelah pertemuan klien dapat

3. Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubunga n dengan

3. Untuk mengetahui keuntungan dari bergaul

menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan

berinteraksi, berbincang atau berdiskusi dengan baik

dengan orang lain.

kerugian tidak berhubungan dengan orang lain. 4. Klien

orang lain.

dapat 4. Setelah kali pertemuan klien

5 4. Dorong dan 4. Mengeksplora bantu klien untuk berhubunga n dengan si perasaan

melaksanakan hubungan sosial.

klien terhadap perilaku menarik yang biasa dilakukan. diri

dapat

membina hubungan dengan orang lain.

orang lain.

5. Klien

dapat 5. Setelah beberapa

5. Diskusikan dengan klien

5. Dapat membantu

mengungkapk

16

an perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain.

kali pertemuan klien dapat

tentang perasaan manfaat berhubunga n dengan

klien

dalam

menemukan cara dapat menyelesaika n masalah. yang

mengungkap kan manfaat dari berinteraksi dg lain orang

orang lain.

3.

Isolasi sosial:

TUM : Klien dapat

menarik diri berhubungan berhubungan dengan dengan harga rendah lain diri optimal merasa diri. TUK : 1. Klien membina hubungan saling percaya. dapat 1. Setelah beberapa kali pertemuan klien akan lebih terbuka untuk berdiskusi. 1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunaka n prinsip 1. Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk orang secara tanpa rendah

kelancaran hubungan interaksi selanjutnya. 2. Diskusikan tingkat kemampuan klien seperti menilai

komunikasi terapeutik. 2. Klien dapat 2. Setelah beberapa kali pertemuan klien akan mampu 2. Diskusikan kemampuan dan aspek

mengidentifik asi kemampuan dan

positif yang dimiliki

aspek mengekspresika

17

positif dimiliki.

yang n dan menyebutkan apa saja kemampuan yang dimilikinya

klien.

realitas, kontrol diri atau

integritas ego ini diperlakukan sebagai dasar asuhan keperawatann ya.

3. Klien menilai

dapat 3. Setelah beberapa kali pertemuan klien akan mampu menunjukkan apa saja yang dapat dikerjakan selama dirawat.

3. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit.

3. Pengertian tentang kemampuan yang dimiliki diri memotivasi untuk tetap

kemampuan yang digunakan.

mempertahan kan penggunaann ya.

4. Klien

dapat 4. Setelah beberapa kali pertemuan klien akan menyusun

4. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat

4. Membentuk individu yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

(menetapkan) merencanakan kegiatan

sesuai dengan rencana kemampuan yang dimiliki. kesehariannya sesuai dengan bakat yang sudah diungkapkanny a

dilakukan setiap sesuai kemampuan. hari

18

5. Klien

dapat 5. Setelah beberapa kali pertemuan klien

5. Beri kesempatan pada untuk mencoba kegiatan yang telah klien

5. Memberikan kesempatan kepada klien mandiri dapat meningkatka n motivasi dan harga klien. diri

melakukan kegiatan

sesuai kondisi dapat sakit dan melaksanakan

kemampuanny kegiatan yang a. sudah dirancangnya

direncanaka n.

4.

Gangguan

TUM : dapat

harga diri : Klien harga rendah

diri berhubungan dengan orang

berhubungan lain. dengan tidak TUK : efektifnya koping individu. 1. Klien membina hubungan saling percaya. dapat 1. Ekspresi wajah klien 1. Menyapa klien, memperkenal kan diri dan menenyakan nama jelaskan tujuan pertemuan. klien, 1. Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk

bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada mata mau tangan. kontak atau jabat

kelancaran hubungan interaksi selanjutnya. 2. Klien dapat

2. Klien

dapat 2. dalam 3 kali 2. Diskusikan pertemuan klien mau kemapuan dan positif aspek yang

mengidentifik asi kemampuan dan positif dimiliki. 3. klien aspek yang

memaksimalk an yang dimilikinya. keahlian

melakukan keahlian yang dimilikinya.

dimiliki oleh klien.

dapat 3. Klien

dapat 3. Diskusikan

3. Klien mampu

19

menilai kemapuan yang digunakan.

mengenali kemampuan yang dimilikinya.

dengan klien mengenai kemampuan yang dapat digunakan selama sakit. masih

mengenali beraktivitas yang dilakukan sesuai dengan kemampuann ya. 4. klien melakukam aktivitas sesuai dengan bisa

4. Klien

dapat 4. dalam 3 kali 4. Rencanakan pertemuan klien mau dengan klien tentang aktivitas klien dapat dilakukan setiap sesuai kemampuan hari yang

menetapkan/m erencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuann ya.

kemampuann ya.

5.

Defisit perawatan diri berhubungan dengan intoleransi aktivitas.

TUM: klien mampu

melakukan aktifitas perawatan diri

secara mandiri

TUK: 1. Klien dapat 1. Menganjurk 1. Pengertian an untuk mandi. klien yang dapat membantu klien mengerti dapat dan baik

mandi sendiri 1. setelah tanpa paksaan. berinteraksi selama 2 kali klien mandi mau

20

diharapkan dapat melakukan sendiri. 2. Klien dapat 2. seletah berinteraksi selama 2 kali klien berpenampila n rapi an 2. Membantu dan menganjurk an untuk menghias diri. klien 2. Diharapkan klien mandiri.

berpakaian sendiri dengan rapi bersih. dan

bersih 3. Klien menyikat giginya merawat kukunya sendiri dengan bersih. dan dapat

3. setelah 3 kali 3. Membantu pertemuan klien dapat klien untuk merawat rambut dan gigi.

3. Diharapkan klien mandiri.

merawat dirnya sendiri

21

BAB III CONTOH KASUS

Klien Nn. C, 25 Tahun, anak bungsu dari 1 bersaudara, dari keluarga Bpk. B (yang sudah bercerai) dan Ibu R, bertempat tinggal di Surabaya. Nn. C merupakan sosok yang ceria, ramah dan mudah bergaul. Setahun yang lalu, Ibu R meninggal karena kecelakaan. Tidak lama kemudian, Nn.C ditinggal menikah oleh calon suaminya. Sejak saat itu, Nn.L sering menangis, melamun, dan mengurung diri di kamar. Puncaknya Nn.C mengunci diri di kamarnya selama 4 hari. Sehingga keluarga membuka paksa pintu kamar Nn.C pada tanggal 4 April 2012 karena teman kerjanya datang ke rumah menanyakan perihal absen Nn.C tidak masuk kerja dan menemukan klien dalam kondisi yang buruk: penampilan acak-acakan, kumal, bau, dan badan amat kurus. Akhirnya keluarga memasukkan Nn.C ke RSJ pada tanggal 20 April 2012. Dari hasil observasi pada hari itu juga, didapat data tentang klien, yaitu pakaian acak-acakan, kotor dan bau, wajah murung, dan tatapan mata kosong. Klien mengatakan malas mandi. Gaya bicara klien hati-hati, bicara apabila ditanya, jawaban singkat. Klien sering duduk sendiri dan banyak tidur, terkadang berbicara sendiri, marah-marah tidak jelas dan berteriak menyebut nama seseorang. Klien juga mengatakan melihat calon suaminya ketika ada laki-laki lain yang berkunjung.

Reka Ulang Kejadian : Ketika sedang berjalan bersama ibu nya di suatu sore, hampir saja Nn.C ditabrak oleh mobil yang dikendarai secara ugal – ugalan. Namun karena ibu nya mendorong Nn.C ke tepi jalan, sehingga Nn.C bisa selamat tetapi nyawa ibu nya tidak terselamatkan. Seminggu setelah kejadian itu, Nn.C bisa menerima kepergian ibu nya meski masih sering murung dan berdiam diri. (Di suatu tepi jalanan) Nn.C : “Ma, nanti sampai di rumah kita masak semur tahu ya. Tapi kecapnya yang banyak, hmm pasti enak. Manis kayak aku” Ibu : “iya dong manis kayak kamu, kan mama nya saja manis” (Sambil mendorong Nn.C ke pinggir) ibu : “sayang awas”

22

Nn.C : “awwww (mengaduh kesakitan karena tersungkur di tanah tepi jalan).” Kemudian menengok ibu nya “mamaaaaaa !!!! (berteriak histeris melihat ibu nya sudah tergeletak, toolooooong”

(Di rumah) Kakak : “kamu sudah makan ce? Besok kerja jam berapa?” Nn.C : “sudah. Besok libur” Kakak : “owh yasudah, kakak besok mau ke luar kota mungkin pulangnya malam” Nn.C : “iya (sambil masuk kamar)” Nn.C rencananya akan menikah bulan depan, tetapi tiba – tiba 3 minggu sebelum hari H pelaksanaan acara tersebut calon suaminya menemui Nn.C bersama wanita lain dan mengatakan tidak bisa menikahinya karena dia sudah lebih dahulu menikah dengan wanita tersebut seminggu yang lalu. Nn.C tidak terima dengan perlakuan pria tersebut. Nn.C merasa dirinya tidak dihargai sebagai perempuan dan dia merasa sebagai perempuan paling jelek di dunia ini. Nn.C sering menangis histeris, melamun dan mengurung diri tanpa mau bertemu dengan siapapun. (Di rumah) Nn.C : “ (sambil menjawab telepon) iya sayang? Bisa kok. Ketemu dimana? Oke, aku kesana sekarang, mungkin 10 menit lagi sampai”

(Di suatu kafe) Nn.C : “sudah lama nunggunya?? Loh cewek ini siapa? Saudara kamu? (sambil duduk)” Calon suami : “nggak kok, barusan sampai juga. Duduk dulu aja, mau pesen minum?” Nn.C : “enggak ah, lagi nggak haus. Siapa cewek ini?” Calon suami : “sebelumnya aku minta maaf, mungkin ini akan mengagetkan buat kamu. Maaf aku tidak bisa menikahimu bulan depan, aku sudah menikah dengan perempuan ini seminggu yang lalu”

23

Si perempuan : “kenalkan namaku Nn.I (tatapan sinis)” Nn.C : “(terdiam dan memandang wajah calon suami serta perempuan bergantian)” Si perempuan : “Maaf ya mbak sebelumnya, aku nggak bermaksud merebut dia dari mbak. Tapi masalahnya memang cantikan saya kok, jadi ya wajar mungkin kalau dia lebih memilih saya. Tinggal batalin semua nya lewat wedding organizernya saja untuk acara mbak bulan depan beres kan” Calon suami : “sudah (sambil membelai pundak istrinya). Maaf ya, sepertinya sudah cukup. Berita ini yang ingin kusampaikan. Aku minta maaf semoga kamu menemukan yang lebih baik (sembari berlalu meninggalkan Nn.C yang masih shock)

(Di rumah 5 hari kemudian) Teman : “permisi, Assalamualaikum” Tante : “ iya, waalaikumsalam. Silahkan masuk. Mau cari siapa ya?” Teman : “saya temannya Nn.C tante, mau tanya apakah Nn.C sakit? Sudah 4 hari tidak masuk kerja” Tante : “(memanggil kakaknya Nn.C) coba kamu kesini sebentar” Kakak : “ada apa tante?” Tante : “ini temannya Nn.C, katanya dia sudah tidak masuk kerja selama 4 hari. Kemana dia? Tapi apa mungkin dia tidak keluar kamar selama 4 hari itu?” Kakak : “iya tante, 4 hari ini aku tidak melihatnya sama sekali sejak aku pulang dari Bandung” Teman : „apa tidak dicoba di cek di kamarnya tante?”

(Menuju ke kamar Nn.C) Tante “(mengetuk pintu) sayang, kamu di dalam?? Ada teman mu mencari” Nn.C : “ya (dengan suara pelan)

(Pintu di dobrak dengan bantuan tetangga, dan Nn.C ditemukan dengan penampilan acak-acakan, kumal, bau, dan badan kurus. Akhirnya keluarga memutuskan membawa Nn.C ke RSJ)

24

Ketika dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Nn.C sering histeris dan marah – marah ketika melihat ada laki – laki di depannya. Dia malu bercampur marah karena menganggap semua laki – laki sama seperti calon suaminya dulu, akhirnya setiap melihat laki – laki Nn.C histeris dan marah – marah tidak karuan.

(Di RSJ ketika sudah 2 minggu) Perawat 1 (cwe) :”Selamat pagi mbak C Masih ingat saya kan?? Saya suster yang kemarin berbincang dengan mbak di taman” Nn.C : (mengangguk tanpa melihat) Perawat 1 (cwe) :”wah Mbak C masih ingat ya dengan saya. Bagaimana kalau sekarang mbak C bercerita sesuatu mungkin atau ingin melanjutkan cerita yang kemarin?” Nn.C : “terserah suster saja (memandang hanya sekilas)” Perawat 1 (cwe) : ”Bagaimana kalau kita menyapa perawat – perawat lain yang disana juga? Sepertinya menyenangkan kalau bisa bercerita dengan banyak orang, pasti seru mbak.” Nn.C : “boleh” Perawat 1 (cwe) : ”Mbak, ini Ners A kalau mungkin saya sedang tidak disini, mbak bisa bercerita ke Ners A.” Nn.C : (mengangguk sembari tersenyum kecil) Perawat 2 (cwo) : ”Mungkin ada yang mbak mau sampaikan atau diceritakan juga ke saya? Nn.C : “(memandang sebentar kemudian bercerita tentang hobinya menulis) Perawat 1 (cwe) : “Bagaimana Ners A juga asyik kan untuk diajak berdiskusi dan bercerita?” Nn.C : (hanya tersenyum) Perawat 2 (cwo) : “Nah, bagaimana kalau lain waktu kita berjalan jalan di koridor dan taman menyapa perawat yang bekerja dan teman – teman lainnya juga?” Nn.C : “(tersenyum) mari..” Perawat 2 (cwo): ”Bagaimana perasaan mbak setelah bisa bercerita dengan saya?” Nn.C : “senang, seperti ada yang lepas (sembari tersenyum)

25

Perawat 2 (cwo): ”Wah sepertinya Mbak merasa cukup senang ya hari ini?” Nn.C : “yah begitulah” Perawat 1 (cwe) : ”Bagus sekali, mbak sekarang sudah bisa bercerita selain kepada saya”

26

BAB IV PEMBAHASAN

I. Pengkajian a. Identitas Klien Nama klien Umur Jenis kelamin Agama Tanggal MRS Informan : Nn. C : 25 tahun : Perempuan : Islam : 20 April 2012 : Pasien

Keluhan utama / alasan masuk : Pasien sering menangis, melamun, dan mengurung diri di kamar b. Faktor predisposisi Nn.C ditinggal menikah oleh calon suaminya c. Aspek fisik / biologis TD : 120/80 mmHg, Nadi = 80 x/menit, suhu : 37oC, Pernapasan : 18x/menit d. Aspek psikososial 1. Genogram yang menggambarkan tiga generasi 2. Konsep diri a) Gambaran diri Klien mengungkapkan bahwa dirinya tidak cantik sehingga ditinggal oleh kekasihnya. b) Identitas diri Klien kecewa karena kekasihnya meninggalkannya dan menikah dengan orang lain. c) Peran Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan karena tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi pada dirinya. d) Ideal diri Mengungkapkan perasaan malu karena tidak jadi menikah e) Harga diri

27

Merasa bahwa dirinya tidak berarti dan tidak ada orang yang menyayanginya 3. Hubungan Sosial a) Orang yang berarti Tante dan kakak pasien b) Peran serta dalam kegiatan kelompok/ masyarakat Klien tidak begitu aktif di kalangan masyarakat c) Hambatan dalam hubungan dengan orang lain Klien jarang bersosialisasi dengan orang lain / masyarakat di lingkunganya 4. Spiritual a) Nilai dan keyakinan Klien dan masyarakat sekitar menganggap orang yang menderita gangguan jiwa merupakan suatu hal yang memalukan b) Kegiatan ibadah Klien rajin melaksanakan sholat di rumahnya. e. Status mental Kontak mata klien kurang /tidak dapat mepertahankan kontak mata , kurang dapat memulai pembicaraan , klien suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan dengan orang lain , klien berbicara apabila ditanya dan jawabannya singkat, adanya perasaan malu dan kurang berharga dalam hidup. f. Kebutuhan persiapan pulang g. Mekanisme koping Klien apabila mendapat masalah, tidak mau menceritakan nya pada orang orang lain( lebih sering menarik diri) h. Masalah psikososial dan lingkungan Klien tidak jadi menikah sehingga ia malu jika bertemu dengan tetangga dan teman - temannya i. Pengetahuan Mekanisme koping klien kurang efektif dalam menghadapi masalah yang dihadapinya.

28

j. Aspek medis Terapi yang diterima klien adalah terapi farmakologi

II. Analisis Data No 1. 1. Data DS : keluarga mengatakan pasien mengunci diri di kamarnya selama dua hari berturut-turut DO: klien melamun, duduk sendiri, wajah murung, tatapan mata kosong, dan apabila ditanya jawaban singkat Isolasi sosial: Menarik diri 2. 2. DS: Klien mengatakan takut pada suara/bunyi yang didengar DO: Klien berbicara sendiri, marah-marah tidak jelas, dan berteriak menyebut nama seseorang Halusinasi pendengaran 3. 3. DS : Klien mengatakan bahwa dia merasa sebagai perempuan paling jelek di dunia ini DO : Klien selalu menyendiri, tidak mau bersosialisasi dengan orang koping individu inefektif harga diri rendah penolakan dari lingkungan Harga diri rendah Klien berbicara, berteriak, marah-marah sendiri Klien merasa gelisah/takut Klien mendengar bunyi/suara Resiko tinggi halusinasi sukar diajak komunikasi melamun, menyendiri, murung Etiologi kehilangan Masalah Menarik diri

29

lain 4. DS : Klien mengatakan malas mandi DO: rambut dan pakaian acak-acakan, kumal, bau, kotor, dan badan amat kurus Rambut dan pakaian kotor Defisit Perawatan diri Intoleransi aktivitas Defisit Perawatan diri

III. Pohon Masalah Resiko Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi Lihat (E) Gangguan hubungan social: menarik diri (CP)

Defisit Perawatan Diri

Harga Diri Rendah (P)

Intoleransi Aktivitas

Koping Individu inefektif

Respon Pasca Kehilangan

IV. Diagnosa keperawatan 1. Resiko perubahan persepsi sensori : halusinasi lihat b.d gangguan hubungan sosial : menarik diri 2. Gangguan hubungan sosial b.d harga diri rendah 3. Harga diri rendah b.d koping individu inefektif 4. Defisit perawatan diri b.d intoleransi aktifitas

30

V. Intervensi keperawatan Tgl No Dx 1 Dx Keperawatan Resiko perubahan persepsi sensori : halusinasi lihat b.d gangguan hubungan sosial menarik diri. TUK: 1. Membina hubungan saling percaya. 1. Setelah 3x kali interaksi, klien menunjukkan eskpresi wajah bersahabat, menun-jukkan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, klien mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi.       1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik :  Sapa ramah klien baik dengan verbal Perencanaan Tujuan TUM: Tidak terjadi perubahan sensori persepsi. Kriteria Evaluasi Intervensi

maupun non verbal. Perkenalkan dengan sopan. Tanyakan lengkap dan nama nama diri

panggilan yang disukai klien. Jelaskan pertemuan. Jujur janji. Tunjukan sikap empati dan menerima klien dan menepati tujuan

apa adanya. Beri perhatian dan

perhatikan dasar klien. 2. Klien mampu 2. Setelah 5x kali 2.

kebutuhan

Tanyakan pada klien

31

menyebutkan penyebab menarik diri

interaksi klien dapat menyebutkan salah satu penyebab menarik diri: o Diri sendiri o Orang lain o lingkungan

tentang:   orang yang tinggal

serumah /teman klien orang dekat   yang dengan paling klien

dirumah/ di RS apa yang membuat

klien dekat orang yang tidak dekat dengan klien dirumah/ di RS  apa klien  yang tidak membuat dekat

dengan orang tersebut upaya apa yang harus dilakukan agar klien dekat tersebut 3. Beri kesempatan klien dengan orang

mengungkapkan penyebab menarik diri, tidak mau bergaul dengan orang lain 4. Beri pujian terhadap klien

kemampuan mengungkapkan perasaannya

2

Gangguan hubungan sosial menarik diri b.d harga diri rendah

TUM : Klien dapat berkomunikasi dengan lingkungan

32

TUK : 1. Membina hubungan saling percaya.

1. Setelah 3x kali interaksi, klien menunjukkan eskpresi wajah bersahabat, menun-jukkan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, klien mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi.

1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik :  Sapa ramah   klien baik dengan verbal

maupun non verbal. Perkenalkan dengan sopan. Tanyakan lengkap dan nama nama diri

panggilan yang disukai klien.    Jelaskan pertemuan. Jujur janji. Tunjukan sikap empati dan menerima klien dan menepati tujuan

apa adanya. Beri perhatian dan perhatikan kebutuhan dasar klien.

2. Klien dapat

2.setelah 5x

1. diskusikan tentang: o aspek

dengan

klien

mengidentifik interaksi klien asi aspek positif dan kemampuan yang dimiliki menyebutkan : o Aspek positif

positif

yang

dimiliki klien, keluarga, dan lingkungan o kemampuan dimiliki klien yang

dan kemampuan yang klien o Aspek keluarga o Aspek positif positif dimiliki

2. bersama klien buat daftar tentang: o aspek positif klien,

33

lingkungan klien

keluarga dan lingkungan o kemampuan dimiliki klien 3. beri pujian yang realistic, hindari member penilaian negative yang

3

Gangguan konsep diri harga diri rendah b.d koping individu inefektif

TUM: Klien dapat mengidentifikasi aspek positif dan kemampuan yang dimiliki TUK: Koping klien efektif 1. Setelah 3x kali interaksi, klien menunjukkan eskpresi wajah bersahabat, menun-jukkan rasa senang, ada kontak mau tangan, mata, berjabat mau 1. beri pujian yang realistis, hindari memberi penilaian negative. 2. Berikan dorongan pada

klien agar menceritakan masalah dihadapi. yang sedang

menyebutkan nama, menjawab salam, mau klien duduk mau

berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah dihadapi. yang

34

4

Defisit perawatan diri b.d intoleransi aktifitas

TUM: klien mampu melakukan aktifitas perawatan diri secara mandiri TUK: Klien mampu melakukan aktifitas baik secara mandiri maupun dengan bantuan perawat. 4. Setelah interaksi membuat rencana kegiatan harian. 5. Setelah 2x 2x 1. Rencanakan bersama klien klien aktifitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan klien:   Kegiatan mandiri Kegiatan bantuan 2. tingkatkan kegiatan sesuai kondisi klien dengan

interaksi klien melakukan kegiatan sesuai jadwal dibuat

yang 3. beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang dapat klien lakukan 4. dorong klien untuk melakukan aktifitas   Pantau kegiatan yang dilaksanakan klien Beri pujian atas usaha yang dilakukan klien

35

VI. STRATEGI PELAKSANAAN I. PROSES KEPERAWATAN a. Kondisi klien :

Klien duduk sendiri di sebuah bangku di sudut ruangan, termenung dan melamun. Pandangan mata ke arah depan dan tatapan kosong. Baju yang dikenakan terlihat bersih namun tidak rapi. Kontak mata kurang saat di ajak bicara. Klien terkadang histeris marah dan mengumpat dengan tiba – tiba jika melihat laki – laki. b. Diagnosa Keperawatan : sensori : Halusinasi lihat

Resiko perubahan persepsi berhubungan dengan menarik diri c. Tujuan Khusus :

Klien dapat melaksanakn hubungan sosial secara bertahap d. Tindakan keperawatan: 1. 2. Observasi perilaku klien saat berhubungan sosial Beri motivasi dan bantu klien untuk berkenalan/ berkomunikasi

dengan: a. b. c. 3. 4. Perawat lain Klien lain Kelompok Libatkan klien dalam Terapi Aktivitas Kelompok Sosialis Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan untuk

meningkatkan kemampuan klien bersosialisasi 5. Beri motivasi klien untuk melakukan kegiatan sesuai dengan

jadwal yang telah dibuat 6. Beri pujian terhadap kemampuan klien memperluas pergaulannya

melalui aktivcitas yang dilaksanakan II. PROSES TINDAKAN KEPERAWATAN A. ORIENTASI 1. Salam Terapeutik : ”Selamat pagi mbak Lulut”

36

” Masih ingat saya kan?? Saya suster yang kemarin berbincang dengan mbak Lulut di taman” 2. Evaluasi (pertemuan sebelumnya): ”Bagaimana perasaan Mbak hari ini ? Tadi sudah melakukan apa saja selama belum bertemu dengan suster?” 3. Kontrak : a. Topik : ”Suster disini setiap hari Senin – Jum‟at dari jam

12.00 sampai jam 20.00 untuk merawat Mbak Lulut. Mungkin ada yang ingin Mbak ceritakan atau melanjutkan cerita kemarin saja?” b. Waktu : ”Untuk membicarakan hal tersebut, Mbak mau : ”Kita bicara dimana? Di tempat kemarin atau kita berapa lama? Ooh 25 menit ?” c. Tempat

mencari suasana baru” B. KERJA 1. ”Selamat pagi mbak Lulut” ” Masih ingat saya kan?? dengan mbak Lulut di taman” 2. ”wah Mbak Lulut masih ingat ya dengan saya. Bagaimana kalau sekarang mbak Lulut bercerita sesuatu mungkin atau ingin melanjutkan cerita yang kemarin?” 3. ”Bagaimana kalau kita menyapa perawat – perawat lain yang disana juga? Sepertinya menyenangkan kalau bisa bercerita dengan banyak orang, pasti seru mbak.” 4. ”Perkenalkan mbak, ini Ners A. mungkin ada yang mbak mau sampaikan atau diceritakan juga ke Ners A?” 5. ”Mbak, kalau mungkin saya sedang tidak disini, mbak bisa bercerita ke Ners A. Bagaimana Ners A juga asyik kan untuk diajak berdiskusi dan bercerita?” 6. “Nah, bagaimana kalau lain waktu kita berjalan jalan di koridor dan taman menyapa perawat yang bekerja dan teman – teman lainnya?” Saya suster yang kemarin berbincang

37

7. ”Bagaimana perasaan mbak setelah bisa bercerita selain dengan saya?” 8. ”Wah sepertinya Mbak merasa cukup senang ya hari ini?” 9. ”Bagus sekali, mbak sekarang sudah bisa bercerita selain kepada saya” C. TERMINASI 1. Evaluasi ( evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan) Subyektif : ”Setelah 25 menit berbicara tadi, bagaimana : ”Klien tampak mau menjawab pertanyaan perawat

perasaan Mbak?” Obyektif

, sekali-kali melihat ke perawat dan sudah mau berinteraksi dengan perawat lainnya meskipun berbicara masih sedikit sedikit” 2. Tindak lanjut ( PR untuk klien ) ”Nah......ini kan sudah 25 menit, jadi kita cukupkan disini dulu pembicaraan kita karena waktunya sudah habis. Sekarang Mbak bisa istirahat daluhu. Kalau nanti ada yang ingin diceritakan atau ditanyakan kepada suster, Mbak bisa langsung sampaikan saat kita ketemu lagi atau mungkin bisa ke Ners A tadi.” 3. Kontrak yang akan datang : Topik : ”Bagaimana kalau besok kita ketemu lagi dan membicarakan tentang kegiatan disini dan ikut bergabung dengan teman – teman lainnya?” Waktu: ”Mbak mau kita bertemu jam berapa?” Tempat: ”Kita nanti berbicara di mana Mbak? Di taman samping?...baiklah....”

38

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlins,1993). Ada beberapa penyebab yang dapat memicu terjadinya gangguan isolasi sosial menarik diri yaitu dari faktor perkembangan, faktor komunikasi, faktor biologis, dan faktor sosial budaya. Tanda yang paling mencolok antara lain klien lebih banyak diam dan cenderung menyendiri menjauh dari orang lain. Penatalaksanaan klien menarik diri dapat dilakukan baik secara medis ataupun non-medis, diantaranya dengan asuhan keperawatan (misal komunikasi terapeutik) dan juga penggunaan obat-obatan. Dengan adanya asuhan keperawatan dapat terjalin hubungan saling percaya antara klien dan perawat sehingga klien tidak menarik diri lagi dan lebih terbuka dengan lingkungan sekitarnya.

5.2 Saran Diharapkan perawat mampu memberikan asuhan keperawatan yang benar dan tepat kepada klien yang mengalami gangguan isolasi sosial : menarik diri, sehingga klien akan lebih membuka untuk berinteraksi atau berhubungan sosial dengan orang lain dan lingkungan disekitarnya. Selain itu, peran keluarga atau orang terdekat juga sangat diharapkan demi tercapainya tujuan perawatan bagi klien yang mengalami menarik diri.

39

Daftar Pustaka

Anonim. 2012. http://www.scribd.com/doc/40227121/laporan-pendahuluan-jiwa. [3 Mei 2012] Noverdi, Fajar. 2012. http://fajarnoverdi.blogspot.com/2012/03/gangguan-

hubungan-sosial.html) [2 Mei 2012] Sutrisno. 2008. http://trisnoners.blogspot.com/2008/02/pojok-jiwa.html [3 Mei 2012] Wilkinson & Judith. BUKU SAKU DIAGNOSIS KEPERAWATAN dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC Edisi 7. 2012. Jakarta: EGC

40

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful