KONFLIK Oleh

ACEH,

JALAN

PANJANG S.

MENUJU

PERDAMAIAN WIRYONO

Pengantar: Untuk memperjelas pemahaman kita mengenai konflik di Aceh dan proses dialog untuk mencari penyelesaian damai, Sinar Harapan menurunkan artikel oleh Wiryono Sastrohandoyo, perunding Indonesia dalam masalah Aceh, yang dimuat dalam empat seri tulisan, 7-10 Mei. Dia akan mengulas latar belakang dan konteks proses yang tengah dijalani dan kini terancam gagal, serta rekomendasi pilihan tindakan. Waktu itu awal Januari 2002, menjelang akhir bulan puasa Ramadhan, ketika Menlu Hassan Wirajuda menanyakan kesediaan saya untuk menerima posisi sebagai perunding di pihak Pemerintah Indonesia atas masalah Aceh. Perundingan-perundingan sebenarnya sudah dilancarkan dua tahun sebelumnya dengan hasil-hasil yang membesarkan hati, tetapi kemudian perundingan ditangguhkan selama sekitar 7 bulan. Saya menerima tawaran itu sebagai sebuah kewajiban patriotik, tetapi dengan keraguan dan rasa takut yang besar. Saya benar-benar memulai kewajiban saya sebagai perunding ketika proses yang terhenti itu dimulai kembali di Jenewa, Swiss, 2 Februari 2002.

Latar Belakang Aceh memiliki sejarah militansi memerangi orang-orang Portugis di tahun 1520-an dan menantang penjajah Belanda dari 1873 sampai 1913, dan melancarkan perlawanan Islam terhadap Republik Indonesia di tahun 1953. Perlawanan itu, pemberontakan, disebut Darul Islam, bertujuan mendirikan sebuah Republik Islam atas seluruh wilayah Indonesia, hal yang juga menjadi tujuan kelompok-kelompok Islam militan di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Pemberontakan ini berakhir 1962, ketika, Pemerintahan Soekarno memberi jaminan bahwa Aceh akan diberi status sebagai sebuah daerah istimewa dengan otonomi luas di bidang agama, hukum adat dan pendidikan. Tetapi, selama bertahun-tahun, janji ini secara umum tidak terpenuhi. Pemberontakan separatis di Aceh dewasa ini dimulai 4 Desember 1976, ketika Muhammad Hasan di Tiro mendeklarasikan kemerdekaan Aceh. Di Tiro dan para pengikut setianya telah terlibat adalam pemberontakan Darul Islam 1953, tetapi kali ini pemberontakan mereka yang diberi nama Gerakan Aceh Merdeka (GAM) secara jelas berniat memisahkan diri dari Republik Indonesia. Tidak lama setelah deklarasi kemerdekaan tersebut, kekuatan bersenjata GAM mulai menyerang pasukan pemerintah, hal yang mengundang kembali operasi penumpasan pemberontakan oleh pemerintah.

Pada tahun 1983, kekuatan GAM sudah dikalahkan di lapangan dan Di Tiro lari keluar negeri. Ia bersama beberapa pengikutnya akhirnya menjadi warganegara Swedia. Dalam sebagian besar dekade 1980-an, GAM menguat lagi, merasionalisasi status politiknya dan memperkuat sayap militer Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM). Dalam periode ini, sebagian dari 400 kader Aceh dilaporkan dikirim ke Libya untuk latihan militer. Tahun 1989, GAM merasa cukup kuat untuk sekali lagi menjajal pemerintah Indonesia, menyerang pasukan pemerintah, warga sipil dan orang-orang yang dicurigai sebagai mata-mata. Pemerintah membalas dengan operasi militer dan tindak penumpasan berskala besar. Pada tahun 1992, tampak bahwa Pemerintah mengendalikan situasi sepenuhnya. Tetapi, operasi militer yang ditandai dengan pelanggaran hak-hak asasi manusia dalam skala, memicu keberatan publik terhadap Pemerintah di Jakarta. Pelanggaran hak asasi manusia di Aceh menjadi sorotan publik tidak lama setelah Presiden Soeharto melengser dari kekuasaan dalam kerusuhan politik Mei 1998. Ditekan oleh teriakan publik di seluruh Indonesia atas penganiayaan dan pelanggaran hak asasi manusia di Aceh, Pangab Jenderal Wiranto meminta maaf atas ekses-ekses militer dari 1989 sampai 1998 dan mencabut status Aceh sebagai sebuah daerah operasi militer (DOM), menjanjikan penarikan sejumlah besar tentara dari provinsi itu. Meski demikian, perdamaian tak kunjung datang, karena GAM memanfaatkan demoralisasi militer, melancarkan serangan besar-besaran. Konfrontasi bersenjata dimulai lagi. Pertengahan 1994, organisasi GAM pecah ketika para pejabat GAM yang berbasis di Kuala Lumpur membelot dari kepemimpinan GAM yang berbasis di Swedia, termasufk Hasan di Tiro. Tampaknya perbedaan utama antara dua faksi GAM ini ialah mengenai bentuk pemerintahan Aceh setelah kemerdekaan. Di Tiro lebih suka sebuah monarki dengan dirinya sebagai Sultannya, sedangkan kelompok Kuala Lumpur menghendaki sebuah republik Islam modern. Di Tiro yang mengklaim diri sebagai keturunan Sultan Aceh mendapatkan dukungan dari sebagian terbesar kekuatan GAM yang beroperasi di provinsi itu.

Sebuah Peluang Selama pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, terdapat sebuah jendela peluang bagi perdamaian di Aceh yang bisa diraih bersama kedua pihak, setidaknya untuk sementara waktu. Tawaran dialog dari pemerintahan Wahid diterima secara positif oleh faksi GAM pimpinan Hasan di Tiro. Mei 2000, wakil dari Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka menandatangani di Jenewa sebuah dokumen yang disebut "Saling Pengertian bagi Jeda Kemanusiaan untuk Aceh". Tujuannya, memberi kesempatan bagi penyaluran bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan rakyat Aceh. Hal ini dicapai melalui serangkaian perundingan rahasia yang dimediasi Henri Dunant Center, sebuah LSM internasional. Saling pengertian yang ditandai tangani itu merupakan langkah membangun rasa saling percaya (Confidence Building Measures/CBM) yang menciptakan landasan bersama bagi kedua pihak untuk melanjutkan dialog.

Kendati perkembangan ini disambut baik oleh rakyat Aceh yang tercabik-cabik oleh perang, namun tidak demikian halnya bagi banyak kalangan di Jakarta. Salah satu alasannya, DPR merasa tidak dikonsultasi, sedangkan alasan lainnya bahwa tidak terjadi perdebatan di media massa atau di mana pun tempat para pakar dan kaum akademisi bisa mengutarakan pandangan mereka. Perunding dari pihak Indonesia adalah Dr N. Hassan Wirajuda, waktu itu Wakil Tetap RI di PBB di Jenewa, yang kemudian menjadi Menlu RI. Pemerintah RI dengan hati-hati menjelaskan bahwa Dr Wirajuda, ketika mewakili Pemerintah, tidak berunding dalam kapasitasnya sebagai Wakil Tetap RI untuk PBB di Jenewa. Keterangan ini untuk meredam banyak kritikan bahwa dengan berunding dengan GAM Pemerintah sudah melakukan kesalahan besar dan pihak GAM sudah mengantongi sebuah kemenangan diplomatik, karena kesediaan berunding dengan GAM mengimplikasikan pengakuan, menempatkan GAM, setidaknya secara teoretis, dalam posisi sejajar dengan Pemerintah. Bagi sejumlah anggota parlemen, akademisi dan media massa, pertemuan di Jenewa itu memprensentasikan internasionalisasi masalah Aceh. Reaksi negatif ini menjadi lebih mudah dimengerti karena banyak kalangan menilai lepasnya provinsi Timor Timur sebagai konsekuensi dari internasionalisasi masalah Timor Timur. Kendati demikian, pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid terus mengupayakan dialog. Meski dengan begitu banyak kesulitan, sebagian akibat situasi di lapangan, dialog terus melangkah laju sehingga pada Januari 2001 kedua pihak mencapai "Saling Pengertian Sementara" yang berisi banyak ketentuan yang memungkinkan pengaturan mengenai pemeriksaan pelanggaran yang terjadi dan menjalankan upaya-upaya membangun saling kepercayaan. Sampai pertengahan 2001, pihak Pemerintah terus menawarkan otonomi khusus, dan kedua pihak sepakat mengadakan dialog informal yang melibatkan berbagai pihak, yaitu semua sektor masyarakat Aceh, termasuk GAM. Tetapi selama tujuh bulan sesudah itu, dari Juli 2001 sampai Februari 2002, dialog macet, terutama karena kesulitan-kesulitan di lapangan akibat meningkatnya kontak senjata. Sementara itu, Megawati Soekarnoputri yang lebih berpandangan nasionalis dibanding Wahid, telah mengambil alih kekuasaan, dan ia menunjuk perunding pihak Indonesia, Dr Hasan Wirajuda sebagai Menlu RI. DALAM wilayah Asia Tenggara dan di antara beragam negara yang menjalin hubungan bilateral dengan Indonesia, dan juga pada forum-forum internasional seperti Gerakan Non-Blok (GNB), Konferensi Organisasi Islam (OKI), Uni Eropa (EU) dan lain-lain, terdapat dukungan sangat kuat bagi kedaulatan dan integritas wilayah Republik Indonesia, khususnya dalam hubungan dengan kasus Aceh dan bahkan dengan masalah Papua. Di sisi lain GAM tidak mendapatkan dukungan eksternal atas klaimnya untuk menjadi negara tersendiri, kecuali mungkin dari beberapa LSM (lembaga swadaya masyarakat). Memang benar GAM mendapat latihan militer dari Libya tetapi tidak lebih dari itu. Sampai tingkat tertentu, GAM memang mengendalikan suatu kekuatan dan mendapat dukungan tertentu, yang masih sulit untuk diestimasikan, dari rakyat Aceh sendiri.

Tetapi pengekangan ini kemungkinan membawa dampak buruk tersendiri. Pemerintahan RI sampai tingkat tertentu bisa menekan praktik korupsi ini dengan mengekang para pejabat lokal dan otoritas lain di Aceh agar lebih bertanggung jawab. Sampai hari ini. Sedangkan semua ini menyebabkan buruknya kehidupan sosial-ekonomi di Aceh. Tetapi. Terdapat laporan bahwa terus terjadi penyelundupan besar-besaran barang-barang mewah di pelabuhan bebas Sabang. Masyarakat Aceh sudah lelah oleh konflik. Pemerintah. terdapat persepsi yang luas dalam Pemerintah. menciptakan perdamaian yang tahan lama dan membangun kembali kehidupan sosial-ekonomi di provinsi NAD. Kerusakan luar biasa telah menyebabkan kehidupan sosial-ekonomi Aceh anjlok. terlepas dari kebijakan dua jalur itu.sampai tingkat tertentu menyelesaikan konflik di Maluku dan Sulawesi Tengah melalui proses perdamaian Malino. Dengan keberhasilan . hal ini adalah kebijakan dua jalur. padahal provinsi ini terhitung kaya dengan sumber-sumber alam. Senjata dari sumber-sumber luar secara rutin dibawa masuk lewat pantai oleh perahu-perahu penangkap ikan. berkembang kekhawatiran yang luas dengan berlanjutnya kekerasan yang menyebabkan begitu seringnya pelanggaran hak asasi manusia dan menyebabkan begitu banyak orang Aceh meninggalkan tempat tinggal mereka. banyak dari mereka yang berpersepsi seperti ini merasa bahwa tidak perlu mengadakan perundingan dengan sebuah gerakan separatis yang kalah dan lemah yang tidak mendapat dukungan internasional. Ini adalah praktik perdagangan senjata yang membuat GAM dan kelompok-kelompok kriminal lainnya mendapatkan perlengkapan senjata yang baik. yang juga mencakup penggunaan militer dan pekerjaan polisi. baik eksekutif maupun legislatif. Sejumlah pengamat telah mengidentifikasi salah satu hambatan paling ekstrem bagi perdamaian di Aceh. bahwa kekuatan bersenjata Indonesia berada di atas angin di Aceh. dan itu adalah situasi bahwa praktik korupsi sedemikian meluas. Kekhawatiran ini diterjemahkan dalam bentuk tekanan domestik dan internasional atas kedua pihak (RI dan GAM) agar segera menghentikan konflik. telah mengafirmasi secara terbuka lewat berbagai pernyataan dan dokumen bahwa penyelesaian terbaik ialah melalui dialog dalam kerangka sebuah pendekatan komprehensif. Pemerintah RI merasakan adanya momentum untuk juga segera menyelesaikan masalah Aceh. . Pihak-pihak yang menikmati keuntungan dari praktik ini tidak berniat memecahkan atau menghentikannya.Sementara itu.000 orang sudah tewas di Aceh sebagai akibat dari konflik dan pembunuhan yang rata-rata 5 orang per hari. Pemerasan dan perlindungan bagi pemeras oleh tentara RI maupun oleh gerilyawan GAM sudah menjadi wabah yang meluas dari ujung ke ujung Aceh. sekitar 10. termasuk parlemen. Situasi 2002 Pada waktu saya dipercayakan dengan tugas memimpin dialog dari sisi Indonesia. Pada efeknya.

pihak GAM tidak bersedia menandatangani sebuah pernyataan bersama yang sedianya menjadi hasil pertemuan tersebut. Penerimaan otonomi tersebut oleh GAM mengimplikasikan ditinggalkannya tuntutan kemerdekaan Aceh. selama periode transisi. Satu-satunya sumber kesulitan ialah inti posisi Pemerintah dan itu adalah (keharusan) penerimaan oleh GAM atas tawaran otonomi dari Pemerintah yang dinyatakan dalam UndangUndang NAD. Kedua. akan menjadi forum konsultatif bagi pencapaian penyelesaian damai yang ternegosiasikan atas masalah Aceh. dan otonomi khusus akan diterima sebagai penyelesaian final atas konflik. Dalam atmosfer seperti ini. konflik akan dihentikan dan perdamaian ditegakkan selama periode transisi. Dan karena rancangan pernyataan bersama itu tidak bisa dikeluarkan bersama oleh . terbukti dialog sulit sekali dilakukan.kalau mungkin dalam bentuk sebuah "persetujuan sementara" .Bahkan ada juga. sikap permusuhan dihentikan. sebagai perunding saya menjelaskan kepada Henri Dunant Centre dan semua penasihat tentang gagasan yang menjadi isi Panduan Usulan yang saya gariskan. termasuk GAM. habis perkara. Pertama. Hal ini akan dicapai melalui tiga langkah aksi utama. Waktu itu GAM beralasan membutuhkan waktu lebih banyak untuk mempertimbangkan tawaran otonomi tersebut. sebuah Undang-Undang yang disetujui di masa Presiden Abdurrahman Wahid yang memberi status otonomi khusus bagi propinsi Aceh. khususnya karena menurut Panduan Usulan itu dimungkinkan dialog terus berjalan tanpa secara eksplisit membahas isu sensitif tentang tuntutan GAM untuk kemerdekaan Aceh. tidak sedikit. dan kehidupan sosialekonomi di Aceh dinormalkan dengan program bantuan kemanusiaan dan bantuan ekonomi dari Pemerintah Indonesia dan komunitas internasional. Setelah selesainya dialog semua unsur Aceh tersebut. sedangkan proses penciptaan saling percaya diintensifkan. saya sebagai perunding merancang sebuah "Panduan Usulan" untuk saya gunakan sendiri dalam perundingan-perundingan. Dan ketiga. maka diadakan persiapan penyelenggaraan pemilihan umum di Aceh untuk memungkinkan para pengikut GAM berpartisipasi dalam pemilihan nasional Indonesia 2004. Saya menafsirkan mandat yang diberikan kepada saya yaitu melanjutkan proses negosiasi dengan pikiran mengkonsolidasi yang sudah dicapai selama ini dalam bentuk dokumen . Kedua pihak berunding secara intensif dalam pertemuan Februari itu tetapi pada akhirnya.yang mencakup butir konsensus dan butir pengembangannya lebih lanjut sehingga pertemuan-pertemuan lanjutan antara kedua pihak akan memiliki fondasi bagi tumpuannya. saya terus berupaya agar dialog bisa terus digulirkan dengan pihak GAM. Penyelesaian ini didasarkan atas Undang-Undang Otonomi Khusus Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Panduan Usulan Setelah mendapat penjelasan tentang situasi di Aceh dan tentang perkembangan-perkembangan sebelumnya. Secara umum mereka menanggapinya secara positif. Dalam pertemuan Februari 2002. Dalam panduan itu diakui keinginan rakyat Aceh untuk memerintah diri mereka sendiri secara damai dalam kebebasan dan demokrasi. Meski demikian. dialog yang mencakup semua unsur masyarakat Aceh. yang berkeyakinan bahwa hanya ada satu hal yang dilakukan terhadap gerakan separatis ialah menumpasnya. Sebagaimana disepekati sebelumnya. kedua pihak membentuk sebuah Dewan Bersama untuk Dialog Politik dengan lima tokoh internasional terkemuka yang diterima kedua pihak sebagai penasihat.

tetapi kami akan terus meretas jalan bagi penyelesaian secara damai. atau harus menghadapi kekuatan militer Indonesia. mungkin bukan perundingan formal.kedua pihak. Tidak lama sebelum berakhirnya bulan Agustus 2002. disepakati bahwa fasilitator. Jurubicara utama GAM. Pada kenyataannya." demikian pengumuman tersebut. Naskah rancangan pernyataan bersama itu secara jelas menyatakan bahwa kedua pihak sepakat menggunakan Undang-Undang NAD sebagai titik awal diskusi-diskusi. Kejadian ini mengikuti pola bahwa setiap kali kedua pihak mencapai suatu persetujuan. Kemudian. membantah dengan keras bahwa GAM sudah menerima Undang-Undang NAD. Pemerintah Indonesia mengumumkan kebijakan baru tentang Aceh: GAM diberi kesempatan sampai akhir bulan puasa Ramadhan. Pada tanggal 10 Mei 2002. Jadi. Perbedaan tafsir ini kemudian diperburuk oleh unsurunsur bersenjata yang mengklaim sebagai kekuatan GAM yang mulai menyerang fasilitas-fasilitas pemerintah. Pemerintah memperlunak sikap dengan pengumuman dari Menteri Koordinator Politik dan Keamanan. proses dialog kini terhenti. berakhir 7 Desember 2002. unsur-unsur di lapangan pasti mengeluarkan pernyataan-pernyataan bantahan atau penolakan lalu melancarkan aksi kekerasan. setibanya kembali di Aceh. pertemuan ketiga. untuk menerima tawaran otonomi khusus sebagai prasyarat bagi dialog lebih lanjut. Sofyan Ibrahim Tiba. yang semestinya dilaksanakan Juni 2002. Henri Dunant Centre. . akan mengeluarkannya atas namanya sendiri. Sementara itu kekerasan kian meningkat dan terus menelan semakin banyak korban jiwa. termasuk perempuan dan anak-anak. Kesulitan timbul ketika kedua pihak mengintrepretasikan secara berbeda isi dokumen yang sama. dialog semua unsur masyarakat Aceh dan pemilihan. Pemerintah berpikir bahwa dokumen itu sudah mengamankan komitmen GAM menerima Undang-Undang NAD sebagai sebuah langkah awal. tanpa jaminan apa pun bahwa GAM akan kembali ke meja perundingan. TNI bereaksi dengan mengerahkan lebih banyak serdadu ke Aceh dan mengintensifkan operasi penumpasan kerusuhan. Upaya pembunuhan juga terjadi belum lama ini atas diri Gubernur Aceh. hal yang setiap kali merusak proses dialog. kedua pihak menandatangani sebuah Pernyataan Bersama dengan isi yang secara esensial sama dengan dokumen Februari tersebut. "Kami mengharapkan babak perundingan baru dengan GAM dalam bulan September. Sedangkan GAM tampak mengerti isi dokumen itu hanya sebagai bahan pertama untuk dibahas bersama. PERTEMUAN lanjutan antara GAM dan wakil Pemerintah awal Mei 2002 membuahkan formalisasi dokumen Februari yang dikeluarkan Henri Dunant Centre." Oleh karena itu dokumen ini menjadi semacam "peta jalan" untuk proses perdamaian ke depan. khususnya tiang-tiang listrik dan membunuh warga sipil yang tidak bersalah. dan " selama periode penciptaan saling percaya di mana kedua pihak menghentikan permusuhan dan kemudian bergerak maju menuju pemilihan yang demokratis di Aceh dalam tahun 2004. menetapkan penghentikan permusuhan. batal digelar karena situasi buruk di lapangan. 19 Agustus 2002.

Pada 19 November 2002. Swiss. Negara-negara lain yang ambil bagian dalam konferensi itu adalah Australia. Juga hadir wakil dari Uni Eropa. Masalah-masalah yang belum terselesaikan. Thailand dan Inggris. termasuk rincian mengenai waktu dan cara penyerahan senjata oleh GAM dan hal-hal yang mesti dilakukan oleh TNI. AS dan badan-badan pendanaan internasional itu bertujuan menghimpun dana bagi pembangunan kembali Aceh setelah kedua pihak menandatnagani Persetujuan Penghentian Permusuhan itu. Kedua pihak ini membuat perbaikan atas rancangan tersebut. Indonesia. Program Pembangunan PBB (UNDP) dan HDC. rancangan persetujuan itu menuntut pembentukan sebuah Komite Keamanan Bersama oleh Pemerintah Indonesia. Pilipina. Kanada. Ini berarti keduanya menerima rancangan itu sehingga bisa dijadikan sebagai basis bagi dialog lebih lanjut antara Pemerintah dan GAM. Denmark. Undang-Undang Otonomi Khusus NAD akan menjadi titik awal bagi dialog semua unsur masyarakat Aceh menuju pemilihan umum 2004. 3 Desember 2002. Konferensi yang dipandu bersama oleh Jepang. persetujuan penghentian permusuhan direncanakan untuk disepakati 9 Desember 2002. Secara esensial. Jenewa dan Stockholm. Dan memang demikianlah yang terjadi: rancangan yang sudah diperbaiki dan dikonsolidasikan HDC itu dirundingkan dengan wakil GAM dan dalam serangkaian pertemuan tidak langsung kedua pihak (Pemerintah dan GAM) difasilitasi oleh diplomasi bolak-balik HDC di Singapura. Paris. Kegelisahan Kawasan . HDC mengumumkan bahwa kedua pihak telah memberi komitmen untuk menyepapati sebuah persetujuan. Prancis. Malaysia. GAM diundang ke konferensi itu tetapi tidak menghadirkan wakilnya. sebenarnya ada banyak kejutan yang mesti diselesaikan hingga saat-saat terakhir. Bank Pembangunan Asia. Meski beberapa isu masih harus diselesaikan. menginvestigasi pelanggaran-pelanggaran dan untuk mengambil langkah-langkah. 6 hari menjelang penandatanganan perjanjian tersebut. Komite ini bertugas memantau pelaksanaan penghentian permusuhan. Pemerintah mengajukan sebuah rancangan persetujuan untuk menghentikan sikap permusuhan kepada Henri Dunant Centre (HDC) dan kelompok penasihat. Keseluruhan proses dirancang untuk membuang senjata dari politik. termasuk sanksi-sanksi guna memulihkan ketenangan. Syukurlah bahwa komunitas internasional merasa berkepentingan dalam proses ini dan menunjukkan dukungannya yaitu menyelenggarakan konferensi negara-negara donor di Tokyo.Basis Dialog Di awal September. Proses ini makan waktu beberapa pekan. GAM dan HDC yang terdiri dari 150 anggota. Jerman. Bank Dunia. Qatar. Selagi HDC merasa yakin bahwa penandatanganan persetujuan tersebut akan terlaksana sesuai jadwal. Swedia.

Sejak Persetujuan Penghentian Permusuhan ditegakkan. terutama dalam dua bulan pertama. Banyak hal tergantung pada ketrampilan dan kebijaksanaan Komite Keamanan Bersama (JSC) di bawah kendali Mayjen Thanungsak Tuvinan dari Thailand dan wakilnya Brigjen Nogomora Lomodag dari Pilipina. Tidak lama setelah penandatanganan persetujuan itu. GAM menilai wakil Filipina itu tidak bisa berdiri netral karena pemerintah Pilipina terlibat dalam pertempuran dengan gerakan Moro yang hendak memisahkan diri. sampai tingkat tertentu. Persetujuan Penghentian Permusuhan ditandatangani di Jenewa 9 Desember 2002. korban tewas yang jatuh memang berkurang secara berarti. mendorong investasi jangka pendek yang berdaya guna bagi masyarakat. menjamin bahwa rakyat benar-benar bisa segera merasakan buah dari perdamaian dan dengan demikian proses perdamaian itu sendiri diperkuat. tetapi belakangan ini meningkat lagi. untuk mendukung pembubaran pasukan. (Sinar Harapan) DAMPAK umum dari penandatanganan perjanjian Penghentian Permusuhan (COHA) di Jenewa 9 Desember 2002 ialah kegembiraan besar rakyat Aceh . yang sebagiannya disebabkan oleh perkara Aceh. 30 Desember 2002. dan juga karena Indonesia pernah menjadi penengah bagi perjanjian damai antara pemerintah Pilipina dan kelompok separatis lain di negeri itu tahun 1996. hal ini merupakan pemulihan keadaan bagi negara-negara tetangga Indonesia yang gelisah akan dampak dari konflik internal di Indonesia bagi stabilitas kawasan Asia Tenggara. sedangkan komunitas-komunitas lokal dan masyarakat sipil akan dilibatkan untuk menjamin bahwa dana-dana tersebut memang sampai ke tangan masyarakat yang membutuhkan sesegera mungkin secara bertanggungjawab dan transparan. penyelesaian masalah-masalah internal ini. Maluku dan di beberapa propinsi lain semuanya bisa diselesaikan dalam beberapa bulan ke depan.Penyelenggaraan konferensi itu adalah manifestasi keprihatinan masyarakat internasional atas kenyataan ketidakstabilan terus-menerus di Indonesia. Disepakati dalam konferensi Tokyo tentang Perdamaian dan Rekonstruksi di Aceh bahwa begitu persetujuan ditandatangani. Kelompok Konsultatif untuk Indonesia (CGI) akan mengkoordinasikan bantuan tersebut. sudah terjadi 50 insiden pertempuran antara kekuatan GAM dan pasukan keamanan Indonesia. sebuah misi multi-agen akan dikirim ke Aceh untuk menghitung kebutuhan bagi perbaikan sosial-ekonomi di porpinsi itu. Negara-negara dan lembaga-lembaga internasional yang berpartisipasi kemudian akan mengumpulkan dana yang dibutuhkan bagi bantuan kemanusiaan. Juga telah timbul soal akibat penolakan GAM belum lama ini atas kehadiran pengamat dari Pilipina dalam ISC. akan memulihkan posisinya dalam komunitas internasional dan di antara investor domestik dan asing. Soal ini kemudian diselesaikan dengan kesepakatan bahwa wakil Pilipina yang sudah ada dalam ISC dipertahankan sedangkan tambahannya digantikan oleh pengamat dari Thailand. Bagi Indonesia sendiri. Kalau perkara Aceh dan juga perkara Papua. perbaikan fasilitas pendidikan dan kesehatan dan pembangunan infrastruktur.dan ini terutama karena perjanjian itu sudah dianggap sebagai sebuah perjanjian perdamaian. Konsepnya ialah. . Tetapi pada Januari 2003 sudah mulai kelihatan bahwa jalan menuju perdamaian benar-benar penuh tantangan.

.pun terjadi. Unit-unit GAM kembali ke barak-barak mereka. Dalam waktu sebulan JSC yang memantau pelaksaan COHA tersebut mulai masuk Aceh. Saling tuding antara TNI dan GAM . senjata terus saja menyalak. dan perkembangan positif ini semestinya menjadi momentum perdamaian.dihentikannya permusuhan . Bersama semua itu GAM merekrut tenaga-tenaga baru untuk perjuangannya dan mengangkat perwira-perwira baru.GAM justru menggalang demonstrasi pro-kemerdekaan dan mengacau-balaukan informasi guna menciptakan persepsi umum bahwa hasil akhir pelaksanaan pertujuan Jenewa adalah kemerdekaan Aceh. menuding GAM telah melanggar kewajiban-kewajibannya dalam COHA.mengenai pelanggaran persetujuan . Atas dasar ini Pemerintah menuntut segera diadakan sidang Dewan Bersama (Joint Council) yang terdiri dari Pemerintah. ini sejalan dengan keluhan Pemerintah bahwa JSC tidak efektif karena pernyataan-pernyataan serba negatif dari oknum-uknum GAM tentang JSC. GAM dan HDC. sementara sebuah tim multi-agen dari PBB mengunjungi Aceh untuk mengkalkulasi kebutuhan pembangunan kembali Aceh. Pemerintahan bawah tanah yang dikembangkan GAM ini disertai praktik pemungutan pajak yang disebut "Pajak Nanggroe". Pemerintah menggalang tim bantuan kemanusiaan bagi rakyat Aceh dan juga memprioritaskan bantuan bagi warga pengungsi Aceh. Dengan alasan keamanan. sekaligus melakukan perluasan struktur politiknya dari kampung ke kampung. COHA yang disambut secara berhati-hati dan tanpa banyak kritik itu dipertegas oleh komitmen Presiden Megawati Soekarnoputri sendiri yang didemonstrasikan dengan segera mengunjungi Aceh menyusul penandatanganan di Jenewa itu. maka kegagalan pelaksanaan perjanjian tersebut merupakan pukulan sangat berat bagi rakyat Aceh. Dewan Bersama ini diciptakan COHA sendiri dengan tugas menyelesaikan perselihan akibat pelaksanaan COHA yang tidak bisa diselesaikan JSC. sampai pada titik yang sedemikian sulit sehingga sangat sulit dibayangkan bahwa kesepakatan itu masih bisa dilaksanakan. Di Jakarta. Tuntutan diadakannya pertemuan Dewan Bersama itu diajukan kepada HDC awal April 2003 dan Pemerintah menyebutnya sebagai upaya terakhir untuk menyelamatkan COHA. anggota JSC pun mundur dari Aceh. HDC Gagal Pemerintah kemudian mengajukan protes keras kepada HDC. tetapi nyatanya tidak demikian. Ini ditambah dengan menyebarnya laporan bahwa anggota JSC diintimidasi warga sipil setempat. Dengan kerinduan yang begitu besar akan perdamaian setelah sekian lama dilelahkan konflik. Ketimbang memenuhi isi COHA . Ini tentu saja sebuah penyimpangan dan tindak kejahatan. hal yang dibantah pihak militer.Rakyat Aceh merasa bahwa perdamaian sudah di tangan mereka dan mereka tak hendak melepaskannya lagi. Permusuhan jalan terus. Di Jakarta. Tetapi faktanya ialah. Insiden dengan korban tewas turun secara dramatis. Dengan ulah GAM ini jadwal kerja JSC sama sekali terganggu hal yang juga berdampak pada citra buruk Henri Dunant Centre (HDC) yang bertugas sebagai pengawas penyerahan senjata (peletakan senjata) GAM.

Tidak lama sesudah itu Presiden Megawati mengirim utusan khusus kepada PM Swdia untuk menyampaikan secara resmi kepada Pemerintah Swedia bahwa sejumlah warganegara Swedia . GAM setuju tetapi tidak lama kemudian berubah pikiran lagi. terutama menyangkut tanggal pertemuan. Maka pertanyaan besar sekarang ialah: Apakah berikutnya? Jawabannya boleh jadi bisa ditarik dari kelakuan GAM di masa lalu. GAM menolak menghadiri pertemuan Dewan Bersama. dengan memberitahu Pemerintah RI. Pemerintah Swedia menjawab dengan minta bukti-bukti konkret untuk itu.Hasan Di Tiro dan beberapa letnan terkemuka pendukungnya . HDC tidak bisa membawa GAM ke meja pertemuan sehingga Dewan Bersama gagal terlaksana. Pertengahan April. tetapi seluruh soal tidak bisa hanya diselesaikan dalam satu hari pertemuan. Sejak perundingan dimulai awal Januari 2000. Tetapi tanpa alasan yang jelas HDC tidak bisa meyakinkan GAM untuk menerima kompromi dari Pemerintah RI. hari Minggu. GAM berubah pikiran. bahwa mereka bersedia menghadiri pertemuan Dewan Bersama. namun GAM masih harus memberi persetujuan tentang tempat dan tanggal pertemuan tersebut.terlibat dalam aksi pemberontakan dan aksi kejahatan lainnya yang menyebabkan banyaknya jatuh korban di Indonesia. Pemerintah memilih Tokyo. . Di pihak lain GAM sama sekali tidak menunjukkan fleksibiltasnya dengan alasan yang tidak jelas. Selalu Berkhianat Pemerintah sudah mengambil semua langkah yang fleksibel bersamaan dengan kesabaran yang kian mendekati batas. Dalam suratnya untuk Pemerintah RI. Pemerintah menyambut baik hal ini. seperti jeda kemanusiaan. hal yang tampaknya sedang dipersiapkan Pemerintah RI. GAM hanya mau bertemu tanggal 27 April. Di sini lain Pemerintah selalu mencoba konsisten dengan pernyataan 19 Agustus bahwa akan berpegang teguh pada strategi menggunakan semua jalan damai sebelum memutuskan sebuah "tindakan yang tepat" yang oleh sebagian besar orang ditafsirkan sebagai operasi militer. Dengan enggan Pemerintah menyetujui tempat Jenewa dan menetapkan pertemuan pada tanggal 25 April. GAM memilih Jenewa sebagai tempat pertemuan. Pemerintah menawarkan kompromi bahwa pertemuan pembukaan 25 April dan pertemuan sesungguhnya tanggal 26 dan 27. hanya untuk membuka kembali pertempuran ketika pihaknya yakin memiliki kekuatan politik dan senjata yang memadai. dan juga tampak mempermainkan itikad baik Pemerintah. melalui HDC. tapi menggunakannya hanya untuk tujuan konsolidasi kekuatan. kelakuan khas GAM adalah berkhianat! GAM menerima suatu pengaturan. Pemerintah pun mulai menyiapkan operasi militer di Aceh karena proses menuju perdamaian tampaknya sudah menjadi berantakan.

Tuntutan dewasa ini ialah. Hal inilah yang kini sedang terus dibicarakan. Faktanya ialah. Perang Kemanusiaan Ketika operasi militer akhirnya diputuskan. ada risiko bahwa aksi militer bisa menjadi bumerang bagi RI kalau korban sipil menjadi berlebihan. di mana dikatakan bahwa Pemerintah Indonesia dan GAM mempunyai sasaran obyektif yang sama memenuhi aspirasi rakyat Aceh untuk hidup dengan aman secara bermartabat. pandangan bahwa perdamaian harus diupayakan dengan segala cara sudah dinyatakan oleh banyak politisi terkemuka. Dalam COHA ditetapkan batas waktu 5 bulan bagi GAM merampungkan proses melepaskan senjata. sehingga yang terjadi di lapangan nanti bukanlah perang dalam pengertian tradisional melainkan perang kemanusiaan yang didasarkan pada pengakuan bahwa situasi politik yang sedemikian rumit di Aceh tidak bisa semata-mata diselesaikan secara militer. operasi itu mesti dipersiapkan secara berhati-hati. Hal ini sama sekali tidak bisa ditafsirkan sebagai berkaitan dengan referendum dan kemerdekaan. damai. melainkan menjadikan perdamaian sebagai jalan untuk mencapai tujuan mereka sendiri. dialog segenap unsur masyarakat Aceh dan akhirnya pemilihan umum 2004. pemilihan yang disebutkan dalam COHA adalah pemilihan umum Indonesia 2004. untuk sebagian orang. Dengan menjalankan seluruh kesabaran dan flesibilitas di hadapan GAM yang "bertingkah". Sedangkan di sisi lain. sehingga sesudah tanggal itu akan menjadi sah bagi Pemerintah bila hendak melancarkan operasi militer di Aceh. Tetapi yang terjadi. disusul dengan penghentian permusuhan. Padahal satu-satunya jalan untuk mencapai tujuan bersama ialah dengan mematuhi naskah dan semangat COHA dan mempertahankan fokus pada tujuan bersama.Pernyataan bersama 10 Mei dan COHA 9 Desember memang bukanlah dokumen yang sempurna tetapi memadai sebagai peta jalan yang jelas dengan penerimaan Undang-Undang NAD sebagai titik tolak. Lebih dari itu. Pemerintah yakin bahwa telah mempertahankan sebuah pilihan moral yang tinggi. komitmen fundamental Pemerintah dan GAM telah dinyatakan dalam bagian pembukaan COHA. Memulai kembali proses perdamaian. Kalau sekarang Pemerintah harus memformulasikan kembali kebijakan atas Aceh. tampak tidak lagi menjadi pilihan yang menarik. operasi itu sendiri harus sedemikian rupa sehingga menghindari . tetapi terutama memenangkan hati dan pikiran rakyat Aceh. Secara teoretis ini baru akan berakhir 9 Juli mendatang. hendaknya tetap dengan moral yang tinggi itu dan dengan itu Pemerintah bisa memilih salah satu dari dua pilihan: menjalankan operasi militer. walapun operasi militer itu sah adanya. Ketika format yang akurat dan jadwal dialog semua unsur Aceh itu belum diputuskan. secara politis. oleh para ulama dan orang-orang Aceh pada umumnya. sejahtera dan adil. atau mencoba lagi jalan damai. GAM tidak berupaya mencari jalan menuju perdamaian. Karenanya operasi militer harus dirancang tidak saja untuk memenangkan pertempuran dan kontak senjata.

masyarakat Aceh sudah seharusnya mendukung operasi militer itu..au/s_issues/aceh/. melainkan diintegrasikan dengan upaya-upaya lain yang dijalankan serempak di bidang sosial. dan oleh karena itu operasi tersebut harus dijalankan dengan cara yang tidak merugikan kepentingan dan hidup mereka. Di atas semuanya itu. Dengan kata lain. ekonomi. Sesungguhnya. Apabila korban sipil berjatuhan. Seperti kata filosof militer Cina. setidaknya sampai tingkat tertentu. bila nanti harus terjadi perang 26 tahun lagi. sebagaimana telah terjadi sebelumnya.kbri-canberra. Ini berarti bahwa operasi militer tidak berjalan sendirian. di Aceh."kerusakan besar-besaran". Sun Tzu: "Belum ada contoh dari bangsa manapun yang memetik keuntungan dari perang yang panjang". aspek kemanusiaan dari operasi militer harus menjadi pertimbangan utama. operasi militer tersebut haruslah sesingkat mungkin.org./articles_jalanpanjang. dan ini hanya akan mempersulit pencapaian tujuan dari apa yang disebut sebagai "perang kemanusiaan" itu. Kasus Aceh bisa menjadi kekecualian bagi kata-kata Sun Tzu itu.. politik dan lain-lain. (Sinar Harapan) www. rasa dendam baru timbul pada sebagian rakyat Aceh.htm .

namun kekecewaan kembali hinggap di rakyat Aceh. dfan kecewa terhadap pemerintahan Indonesia itu sendiri.Sejarah Konflik Aceh Berawal dari Ketidakadilan… OPINI | 15 August 2009 | 20:10 Aktual Dibaca: 8835 Komentar: 25 1 dari 1 Kompasianer menilai Provinsi di Ujung Pulau sumatera yang akrab kita sebut sebagai Seraqmbi Mekah.ain di Indonesia. Berbeda dengan pemberontakan daerah l. Dari melawan Portugis. tapi matinya sungguhan. memutuskan mengangkat senjata untuk melawan pemerintah Indonesia pada 21 september 1953. sampai dengan melawan saudara sebangsanya sendiri. saking terbiasanya dengan peperangan. Meski pada akhirnya daud Beureuh dapat dibujuk untuk turun gunung. Sejarah Aceh terdiri dari lembaran perang. sudah sejak lama menjadi seperti rumah bagi peluru dan salak senjata. yang mana cepat dapat dipadamkan. hasil bumi yang melimpah diperkirakan hanya 1 persennya saja yang sampai ke tangan rakyat Aceh. setelah segala tuntutannya dipenuhi. maka rakyat Aceh sering menganggap perang hanyalah mainan belaka. Rasa kecewa terhadap apa yang berlaku. Hal inilah yang membuat Hasan Tiro dan kawan kawan kembali mengangkat senjata melalui panji-panji Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang didirikan pada tanggal 4 Desember 1974. semenjak beratus ratus tahun lamanya yakni semenjak abad ke 17 kekerasan kerap melanda negeri serambi mekah tersebut. Di mana mana kalau ada pemberontakan yang menyebabkannya tak lain dan tak bukan adalah rasa ketidak-adilan. Hal . dari satu kancah pertempuran ke pertempuran lainnya. Dan kekecewaaan yang berkepanjangan pula inilah yang sering hingap di rakyat Aceh. Karena kecewa terhadap pemerintah iniulah yang membuat Tengku daud Beureuh bersama sebagaian rakyat Aceh. perlawanan rakyat Aceh ini bisa dibilang yang paling lama dan paling bandel. mereka merasa sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam hanya menjadi sapi perah pusat saja. belanda. mulai dari kecewa terhadap penjajahan Belanda.

dr. Apa-pun itu sekarang kita sudah bisa melihat nilai positifnya. tak ada lagi deru mesin perang di serambi Mekah. Tapi saya tidak permasalahkan hal itu. farid. Saya tidak ada maksud untuk membangga banggakan diri. Berbagai upaya dilakukan untuk mendamaikan Aceh. sementara pemerintah sendiri sangat membutuhkan bantuan dari pihak luar pada saat itu. karena dasar pemikiran itulah. Berbagai kekerasan yang acapkali terjadi di Bumi Aceh ini. tidak mungkin kita bisa membangun Aceh dengan cepat tanpa adanya perdamian.ini membuat Aceh kembali berlumuran dengan darah. sampai-sampai saat mengunjungi Aceh saya harus dikawal panser dari empat penjuru. . itu tidak ikhlas namanya” mendengar itu mereka tida bisa ngomong lagi. baik oleh parlemen. Dan menyerahkan semuanya kepada Hamid. dan beberapa pejabat pemerintah tapi dengan ucapan “basmallah saya tetap jalankan” dan terbukti berhasil. dan mereka yang dulunya menghujat semuanya mau mengambil keuntungan. namun semuanya pupus. dan memang secara legal itu kurang sah. Kembali derap-derap sepatu dan letusan mesin perang mewarnai udara Bumi Aceh. Bagaimana itu pekerja-pekerja kemanusiaan yang masuk ke Aceh kalau tiba-tiba mereka hilang diculik. menyadarkan mereka bahwa alam tidak restu dibasahi oleh tetesan darah. meski pada akhirnya saya mengeluarkan SK yang saya tanda tangani sendiri. Mereka semua bekerja dengan ikhlas dan tanpa SK yang resmi. itu bantuan kemanusiaan akan sampai kalau mereka selalu dihantui oleh desingan peluru. bermaksud riya. memang sempat ada yang tanyakan masalah SK itu kepada saya. Kejadian Tsunami ini membuka mata semua pihak yang bertikai. Tapi tak apalah demi kebaikan tidak apa-apa kita kalau kata orang jawa “nyeleneh sedikit” selama itu tidak melanggar hukum Tuhan. maka bisa lari semua itu pekerja kemanusiaan. karena memang tidak ada KEPWAPRES. Untuk itulah pada saat akan dilakukan rehabilitasi paska Tsunami saya berpikir. kasihan generasi mendatang yang akan buta sejarah. semoga itu bisa diatasi oleh pemerintahan yang baru. Keadaan yang tidak damai inilah yang sangat mengganngu saya dalam melakukan rehabilitasi Aceh paska Tsunami. pada akhirnya membuat alam pun menjadi murka. meski di sana sini masih terdapat sedikit persoalan. “Kalau mau mendamaikan orang kenapa harus pakai SK. Bagaiamana . Tsunami melanda serambi mekah dengan korban ratusan ribu. maka saya langsung pergi menghadap ke presiden agar diberi mandat untuk mendamaikan Aceh. dan Rakyat Aceh yang saat itu baru dilanda bencana akan terkatung katung. asal jangan mereka mau mengaburkan sejarah. Meski dalam melakukan ini saya banyak dikritik. dan Sofyan djalil untuk menguyrus masalah-masalah teknis. paling sedikit 50 orang tewas setiap harinya selama 30 tahun. dan saya bilang ke mereka. dan saya siap membantu apabila diminta.

merupakan program semasa Orde Baru. Selain penandatanganan MoU. Melalui jalan diplomasi dan militer yang panjang." kata Puteh. Sebagai bukti adanya keterkaitan (konflik) antara para transmigran dari luar Aceh dengan para aktivis bersenjata GAM. dengan tujuan memerdekakan Aceh dari Indonesia. Jika pemerintah tidak segera menarik para transmigran yang berasal dari berbagai daerah. Karena dengan keberadaan para transmigran di tanah Aceh selalu dimanfaatkan para aktivis bersenjata GAM untuk memperpanjang konflik di Aceh. tetapi mendapat jawaban militer oleh rezim Suharto. jika pemerintah (pusat) tidak mengetahui. Abdullah Puteh mengakui." katanya. "Untuk mencegah konflik yang berkepanjangan di Aceh. Kerja sama tersebut berkaitan dengan rencana induk pengembangan sektor tata kota dan penataan kota di Provinsi Serambi Mekah. utamanya persoalan porsi ekonomi. serta memicu perang terbuka dengan pemerintah pusat. keberadaan para transmigran yang berasal dari Jawa." kata Abdullah Puteh pada acara lokakarya dan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam dan Fakultas Planologi Institut Teknologi Bandung (ITB) di Bandung kemarin. konflik di Aceh tidak akan terselesaikan. Motivasi yang paling mengemuka di balik gerakan ini adalah kecewa terhadap sikap Jakarta yang sentralistis. Hal itu merupakan kesalahan yang sangat mendasar serta menjadi salah satu pemicu konflik di Aceh. juga digelar lokakarya dengan mengambil tajuk rencana pengembangan perkotaan di di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. apa yang menjadi penyebab terjadi konflik. Hasan Tiro kemudian menggalang ide kemerdekaan itu. selain peninggalan masalah politik kesejarahan Aceh. Sumatra Selatan. "Penyebabnya adalah transmigrasi. sumber: Mediaindo. "Dengan adanya teror terhadap para transmigran merupakan bukti ketidaksenangan aktivis GAM terhadap keberadaan para transmigran di tanah Aceh. yang harus dilakukan pemerintah yakni dengan menarik keluar para transmigran yang berasal dari berbagai daerah. . Menurut Puteh. program transmigrasi ke Aceh. dan Bengkulu di tanah Aceh.id Tengku Hasan di Tiro mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka di tahun 1976. Karena dengan keberadaan mereka.Transmigran Penyebab Konflik di Aceh Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Abdullah Puteh mengatakan konflik di Aceh tidak akan terselesaikan dengan begitu saja. Keberadaan mereka dijadikan alasan oleh para aktivis bersenjata Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk memperpanjang konflik.co. yakni dengan sering terjadinya teror terhadap para transmigran. berkaitan erat dengan permasalahan serta timbulnya konflik di Aceh. konflik di Aceh tidak akan terselesaikan.

dan Hasan tetap menjadi pemimpin tertinggi. Hasan Tiro memilih melarikan diri ke luar negeri. Media-media di Indonesia saat itu bahkan secara gampang dapat melaporkan aktivitas militer GAM. TNA. Pada pertengahan 2002. dengan mengirimkan ratusan pemuda Aceh untuk berlatih kemiliteran di Libya. tetapi perlahan secara pasti sosok Hasan Tiro yang sempat "tenggelam". bentuk perlawanan memerdekakan Aceh itu kemudian menjadi terbuka. Hasan Tiro dan petinggi GAM lainnya di pengasingan melakukan konsolidasi.Sempat lari ke hutan-hutan. dan bermuara kepada permintaan suaka politik ke Swedia pada tahun 1979. Meskipun demikian. Hasan Tiro yang dilahirkan di Pidie. Keberhasilan kemerdekaan Timor-Timur dari Indonesia di tahun 1999. yang kemudian disegani.mendapatkan momentum dan hidup kembali. tanpa khawatir ditekan militer. . kemudian hidup kembali. Dari negara itulah. Semula bersifat tertutup. memunculkan pula tuntutan referendum di seluruh wilayah Aceh.yang masih bersemayam di masyarakat Aceh -. walaupun tidak berarti upaya damai mereka tolak. yang ditandai jatuhnya rezim Suharto. Perlawanan terbuka Tidak sedikit warga Aceh menyambut penuh gagasan Hasan Tiro Tetapi perubahan politik Indonesia di tahun 1998. bekas pengusaha ini menghidupkan kembali perlawanan militer. membuat ide kemerdekaan -. Perlawanan militer pun dihidupkan kembali. 25 September 1925 ini melanjutkan gagasan awalnya -. Mereka membentuk kembali struktur pemerintahan GAM. Anak-anak muda didikan militer Libya inilah yang belakangan tampil sebagai Tentara Neugara Aceh. Tuntutan ini ditolak.kali ini dengan bobot tekanan pada perjuangan diplomatik. di pertengahan tahun 80-an.

semuanya sepertinya menjadi berjalan tidak sesulit yang dibayangkan. Lebih dari 150 ribu orang tewas akibat bencana alam ini. tidak terkecuali pimpinan tertingginya Hasan Tiro. . bencana ini rupanya mampu melunakkan para pemimpin Indonesia dan pimpinan GAM. Dalam masa ini sejumlah juru runding GAM ditangkap. Dilanjutkan oleh pemerintahan Megawati. Tentara Neugara Aceh resmi dibubarkan. dan dibentuk komite peralihan untuk membubarkan mantan tentara itu dengan warga sipil.Di masa Presiden Abdurrahman Wahid. dalam setiap perundingan damai antara RI dan GAM. Efek Tsunami Tetapi konflik berkepanjangan antara Indonesia dan GAM itu "berubah" setelah gempa berskala besar dan disusul tsunami meluluh-lantakkan pesisir pantai barat Aceh. pertemuan informal di antara pimpinan kedua pihak dilakukan. restu Hasan Tiro selalu ditunggu. antara lain Pemerintah Indonesia akan memfasilitasi pembentukan partai lokal di Aceh dan pemberian amnesti bagi anggota GAM. Dan ketika Hasan Tiro "membuka tangan". di sebuah pagi. tetapi gagal. Kontak dengan Hasan Tiro pun dilakukan oleh Jakarta. Gencatan senjata pun dilakukan. upaya itu juga mengalami jalan buntu. yang ternyata tidak mudah. dan kedua belah pihak pun mau kembali ke meja perundingan. kesepakatan damai itu akhirnya ditandatangani di Helsinki. 15 Agustus 2005. Melalui perundingan maraton yang melibatkan Wakil Presiden Yusuf Kalla dan pimpinan pusat GAM. Sejarah mencatat. Empat bulan kemudian. pemerintah menempuh operasi militer terbatas. Finlandia. 26 Desember 2004. Di masa Megawati ini pula. sebelum status ini dicabut setahun kemudian. Dan. Poin penting dari kesepakatan itu.

Sepuluh konflik diantaranya akibat ketidakadilan ekonomi.MH (Kapolda Aceh) dan Prof Dr Bachtiar Aly. keadilan ekonomi. Inti perdamaian Aceh. Ratusan ribu orang dari berbagai wilayah Aceh menjemputnya di Bandar Udara Sultan Iskandar Muda hingga di pusat kota Banda Aceh. setelah lebih dari 30 tahun berstatus sebagai pelarian politik. membuat Hasan Tiro kembali ke tanah kelahirannya pada 17 Oktober 2008. Sabtu (17/3).MA. Warga Aceh menyambut pemimpin mereka yang disebut sebagai "Paduka yang Mulia Wali". Semenjak saat itulah. Ketua Umum PMI Pusat ini mengingatkan para pemimpin harus mengetahui asal-usul terjadi konflik. setelah Pemerintah Indonesia memulihkan status kewarganegaraannya. ujar mantan Wapres HM Jusuf Kalla saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional Konstruksi Perdamaian Aceh di Hotel Emerald garden Medan. Hasan Tiro menetap di Aceh. tiga tahun setelah perjanjian damai itu. Seminar yang digelar DPP Aceh Sepakat juga menampilkan pembicara Malik Mahmud Al Haytar. (Analisa). Kalla: Konflik Tidak Terjadi Selama Tercipta Keadilan Ekonomi Medan. Ferry Mursyidan Baldan (Ketua Pansus RUU tentang Pemerintah Aceh). Dia menyebutkan selama 66 tahun Indonesia merdeka tercatat 15 konflik besar terjadi di negeri ini. Irjen Pol Drs Iskandar Hasan.Pulang ke Aceh Perubahan politik di atas. Hasan Tiro memperoleh kembali status sebagai Warga Negara Indonesia. Sementara itu menjawab pertanyaan wartawan tentang Aceh ke depan. Konflik tidak akan terjadi selama masih tercipta keadilan ekonomi dan pemimpin tidak ingkar janji. Kalla menyatakan . "Sebab inti perdamaian Aceh keadilan ekonomi". Jusuf Kalla melukiskan merintis perdamaian Aceh tidak gampang bahkan menghabiskan waktu enam bulan. Adnan Ganto (Penasehat Menhan RI Bidang Ekonomi). Dan hari rabu kemarin. dalam keadaan sakit dan terbaring di salah-satu ruangan rumah sakit di Banda Aceh. 2 Juni 2010.SH. Seperti halnya konflik di Aceh bukan masalah agama tapi persoalan ekonomi. termasuk digelarnya pemilihan kepala daerah di Aceh. Sementara memelihara perdamaian membutuhkan waktu 10 tahun. Harapan rakyat Aceh kemakmuran merata dan keadilan ekonomi. jika tidak akan sangat berbahaya.

"Semua kita sepakat bahwa koridor ekonomi berjalan baik. Sehingga pelaksanaan Pemilukada Aceh berlangsung aman. menyatakan Polda Aceh sebagai leading sector penyelenggara keamanan dan ketertiban masyarakat memiliki tanggungjawab besar terciptanya suasana kondusif di Aceh. keamanan dan kenyamanan berbisnis merupakan komitmen bersama untuk membangun ekonomi Aceh yang lebih baik". Turut memberi sambutan Ketua Umum DPP Aceh Sepakat H Fauzi Hasballah dan Ketua panitia Masdani. damai. M Hum. pendidikan dan adat istiadat di tanah rencong. lancar dan demokratis. Dimensi Senada Iskandar. tenteram di tengah masyarakat sehingga terwujudnya perdamaian yang langgeng. Siapapun pimpinan Aceh yang terpilih dalam Pilkada mendatang harus mampu meningkatkan harkat dan martabat Aceh dengan kemakmuran dan keadilan ekonomi yang merata. "Menjaga perdamaian. katanya. Justru itu perdamaian yang telah dicapai dengan susah payah harus dipelihara".optimis terhadap Malik Mahmud Al Haytar. Kapolda Aceh Irjen Pol Drs Iskandar Hasan. Bukan hanya itu. pintanya pada acara yang dibuka Pj Gubsu Gatot Pujo Nugroho. (bay) . Malik Mahmud Al Haytar (mantan petinggi GAM) mengakui awal terjadinya konflik di Aceh karena ketidak adilan ekonomi terutama masa Orde Baru. menurut Iskandar memerlukan pemerataan pembangunan pendidikan dan pembangunan ekonomi yang menyentuh ekonomi kerakyatan. dan para pimpinan Aceh lainnya mampu memelihara perdamaian secara berkesinambungan. jika tidak ada persoalan di Aceh dan Sumatera Utara".Ini perlu segera diwujudkan oleh pemerintah dan didukung semua komponen masyarakat. Adnan Ganto menyarankan pembangunan ekonomi Aceh memerlukan dimensi idealisme yang dapat merefleksikan kepedulian pada agama. Menyinggung tentang kesejahteraan rakyat Aceh.SH. Ir Tarmizi A Karim dalam sambutannya mengatakan konsep pembangunan Aceh ke depan yakni bagaimana masyarakat dapat memberdayakan diri sendiri. ujarnya. "Bayangkan selama 30 tahun tanah rencong dilanda konflik berkepanjangan sangat melelahkan. Pj Gubernur Aceh. jurdil tertib. pihak keamanan pinta Malik Mahmud harus bersungguh-sungguh menciptakan suasana aman.

payung politik untuk mengatasi persoalan di Aceh saat ini adalah Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2002 (sebelumnya telah ada dua Inpres serupa. "Untuk mengatasi permasalahan itu. Saya mengusulkan tiga gebrakan yang perlu segera ditempuh pemerintah. seputar perkembangan di Aceh. atau darurat militer. perlu segera dicari penyelesaian yang realistis. Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menindak tegas semua pelaku kekerasan dari kelompok mana pun. Dalam rekonsiliasi konflik. Kedua. Jawa Timur (Jatim). pemberlakuan keadaan darurat akan menghentikan upaya dialog yang selama ini sudah terjalin. Namun." papar Amien. juga berkembang pemikiran. usai menghadiri Rembuk Kebangsaan Nahdlatul Ulama (NU)-Muhammadiyah dengan tema "Peran NU dan Muhammadiyah dalam Mengawal Konsolidasi Kebangsaan" di Surabaya. dan pemerintahan di Aceh masih berjalan. Evaluasi kebijakan penanganan keamanan di Aceh belakangan timbul karena Inpres tersebut akan habis masa berlakunya pada bulan Juli 2002. "Pendistribusian uang ke kabupaten-kabupaten dan kota-kota di Aceh jangan sampai ditundatunda agar wujud konkret otonomi (khusus) tampak jelas. Isinya menugaskan TNI/Polri untuk melaksanakan operasi pemulihan keamanan di Aceh. Yang lebih penting adalah optimalisasi pelaksanaan tiga gebrakan tersebut terlebih dahulu oleh pemerintah. ekonomi. Amien mengaku telah berbicara dengan Presiden Megawati Soekarnoputri. Peningkatan status Aceh menjadi darurat sipil maupun militer. Selain itu. Peningkatan status keamanan tanpa didahului peningkatan profesionalisme dan akuntabilitas pada tubuh TNI dan Polri dalam menangani keamanan di Aceh malah akan menimbulkan kekerasan baru. rencana mengubah status Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dari tertib sipil menjadi darurat sipil. tidak akan menyelesaikan persoalan. Ketiga. Khusus gebrakan kedua. aktivis rekonsiliasi konflik Ichsan Malik dan pengamat militer Dr Kusnanto Anggoro yang dihubungi Kompas secara terpisah hari Minggu menilai. Dalam acara yang diprakarsai Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jatim tersebut. Amien mengusulkan segera dilakukan pendistribusian dana pemerintah pusat ke kabupaten/kota di Aceh seperti diatur dalam Undang-Undang Provinsi NAD. Amien menegaskan hal tersebut merupakan pilihan terakhir. Menurut Amien. Seperti diketahui. hadir Dien Syamsuddin (Wakil Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah) dan Abdul Muchith Muzadi (Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). penyelesaian dengan senjata tidak pernah menyelesaikan masalah. muncul pemikiran baru dari kalangan wakil rakyat supaya pemerintah lebih tegas. dirinya sepakat dengan Megawati bahwa permasalahan di provinsi tersebut merupakan hal yang serius. menjadi lebih tertekan secara . selain Amien. Ditanya mengenai penerapan darurat militer di Provinsi NAD. Kamis malam. seperti memberlakukan keadaan darurat sipil atau darurat militer di Aceh. Pertama.Tiga Solusi Atasi Konflik di Aceh Ada tiga solusi untuk mengatasi konflik di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). berbagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Minggu (7/7). Solusi itu diungkapkan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Amien Rais kepada wartawan. menurut Ichsan. Hal tersebut berbeda dengan yang terjadi Ambon. semua pasal dalam Undang-Undang (UU) NAD segera dilaksanakan. yaitu Inpres No 4/ 2001 dan Inpres No 7/2001). Maluku. Kekerasan baru Sementara itu. Peningkatan status di Aceh dirasakan juga belum diperlukan karena seluruh sistem sosial. pemerintah segera berunding dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM). malah semakin membuat rakyat Aceh yang mengidamkan kedamaian." tegas Amien.

bukan berarti hal tersebut harus dihadapi dengan kekuatan senjata semata. pemerintah segera berunding dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM). jelasnya. "Sekarang ini. jelasnya. "Untuk mengatasi permasalahan itu. Minggu (7/7). Kalau menangkap satu orang saja harus bakar satu kampung. Senada dengan Ichsan. Ketiga. Jawa Timur (Jatim).com Tiga Solusi Atasi Konflik di Aceh Ada tiga solusi untuk mengatasi konflik di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). hadir Dien Syamsuddin (Wakil Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah) dan Abdul Muchith Muzadi (Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Gerakan pemberontakan bersenjata di Aceh. pasukan TNI/ Polri itu seperti pasukan Belanda melawan pejuang gerilya. Menurut Kusnanto. Pertama. selain Amien. Di pihak lain." ucapnya. Dirasakan. Kebijakan komprehensif Yang jauh lebih penting dari sekadar meningkatkan status keamanan di Aceh. dan kalaupun melakukan penumpasan dengan sistem main pukul rata. Terlebih lagi dengan mulai dikaitkannya konflik Aceh dengan kasus peledakan Gedung Graha Cijantung yang salah satu tersangka pelakunya adalah asal Aceh. adalah lemahnya kemampuan intelijen. semua pasal dalam Undang-Undang (UU) NAD segera dilaksanakan. juga mendapat tekanan dari operasi militer yang dilakukan TNI dan Polri. Salah satu kelemahan TNI dan Polri dalam penanganan keamanan di Aceh. perlu segera dicari . Hal tersebut yang membuat TNI dan Polri tidak mampu mendeteksi keberadaan GAM dengan cepat. payung politik malah akan mendorong TNI dan Polri untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran HAM yang baru sumber: Kompas. kebijakan operasi militer yang selama ini berjalan masih terpisah dengan kebijakan-kebijakan lain seperti perundingan di Geneva (Swiss) atau penerapan Otonomi Daerah NAD. Dalam acara yang diprakarsai Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jatim tersebut. khususnya strategi kontra-intelijen (counter intelligence strategy). Akuntabilitas TNI dan Polri juga masih banyak dipertanyakan dengan tidak pernah terselesaikannya proses hukum berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan TNI dan Polri di Aceh.psikologis. cara-cara dialog dan negosiasi juga masih merupakan cara yang lebih efektif untuk memulihkan keamanan di Aceh. memang merupakan persoalan keamanan yang harus segera ditangani. usai menghadiri Rembuk Kebangsaan Nahdlatul Ulama (NU)-Muhammadiyah dengan tema "Peran NU dan Muhammadiyah dalam Mengawal Konsolidasi Kebangsaan" di Surabaya. tanpa hal itu dibenahi terlebih dulu. Selain mendapat tekanan dari GAM. Namun. Solusi itu diungkapkan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Amien Rais kepada wartawan. Kedua. membuat kebijakan penanganan keamanan di Aceh yang lebih komprehensif. Kusnanto berpendapat peningkatan status Aceh menjadi keadaan darurat sipil atau militer sebagai payung politik penanganan keamanan di Aceh bukanlah jalan keluar terbaik. perlu adanya peningkatan profesionalisme dan akuntabilitas TNI dan Polri. Karena itu. kata Kusnanto. Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menindak tegas semua pelaku kekerasan dari kelompok mana pun.

muncul pemikiran baru dari kalangan wakil rakyat supaya pemerintah lebih tegas. membuat kebijakan penanganan keamanan di Aceh yang lebih komprehensif. "Pendistribusian uang ke kabupaten-kabupaten dan kota-kota di Aceh jangan sampai ditundatunda agar wujud konkret otonomi (khusus) tampak jelas. Senada dengan Ichsan. Amien mengusulkan segera dilakukan pendistribusian dana pemerintah pusat ke kabupaten/kota di Aceh seperti diatur dalam Undang-Undang Provinsi NAD. Di pihak . Dirasakan. kata Kusnanto. Saya mengusulkan tiga gebrakan yang perlu segera ditempuh pemerintah. Namun. Peningkatan status keamanan tanpa didahului peningkatan profesionalisme dan akuntabilitas pada tubuh TNI dan Polri dalam menangani keamanan di Aceh malah akan menimbulkan kekerasan baru. jelasnya. aktivis rekonsiliasi konflik Ichsan Malik dan pengamat militer Dr Kusnanto Anggoro yang dihubungi Kompas secara terpisah hari Minggu menilai. Hal tersebut berbeda dengan yang terjadi Ambon. ekonomi. Amien mengaku telah berbicara dengan Presiden Megawati Soekarnoputri. Terlebih lagi dengan mulai dikaitkannya konflik Aceh dengan kasus peledakan Gedung Graha Cijantung yang salah satu tersangka pelakunya adalah asal Aceh. seperti memberlakukan keadaan darurat sipil atau darurat militer di Aceh. Seperti diketahui. Yang lebih penting adalah optimalisasi pelaksanaan tiga gebrakan tersebut terlebih dahulu oleh pemerintah. pemberlakuan keadaan darurat akan menghentikan upaya dialog yang selama ini sudah terjalin. Ditanya mengenai penerapan darurat militer di Provinsi NAD. berbagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Karena itu. Maluku. seputar perkembangan di Aceh. Kusnanto berpendapat peningkatan status Aceh menjadi keadaan darurat sipil atau militer sebagai payung politik penanganan keamanan di Aceh bukanlah jalan keluar terbaik. dirinya sepakat dengan Megawati bahwa permasalahan di provinsi tersebut merupakan hal yang serius. Dalam rekonsiliasi konflik. Gerakan pemberontakan bersenjata di Aceh. dan pemerintahan di Aceh masih berjalan. Isinya menugaskan TNI/Polri untuk melaksanakan operasi pemulihan keamanan di Aceh.penyelesaian yang realistis. menurut Ichsan. cara-cara dialog dan negosiasi juga masih merupakan cara yang lebih efektif untuk memulihkan keamanan di Aceh. juga mendapat tekanan dari operasi militer yang dilakukan TNI dan Polri. penyelesaian dengan senjata tidak pernah menyelesaikan masalah. Evaluasi kebijakan penanganan keamanan di Aceh belakangan timbul karena Inpres tersebut akan habis masa berlakunya pada bulan Juli 2002. tidak akan menyelesaikan persoalan. Peningkatan status Aceh menjadi darurat sipil maupun militer. Kekerasan baru Sementara itu. bukan berarti hal tersebut harus dihadapi dengan kekuatan senjata semata. menjadi lebih tertekan secara psikologis. yaitu Inpres No 4/ 2001 dan Inpres No 7/2001). Selain mendapat tekanan dari GAM. payung politik untuk mengatasi persoalan di Aceh saat ini adalah Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2002 (sebelumnya telah ada dua Inpres serupa." papar Amien. juga berkembang pemikiran. Kamis malam. atau darurat militer. Peningkatan status di Aceh dirasakan juga belum diperlukan karena seluruh sistem sosial. rencana mengubah status Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dari tertib sipil menjadi darurat sipil. Selain itu. Kebijakan komprehensif Yang jauh lebih penting dari sekadar meningkatkan status keamanan di Aceh. kebijakan operasi militer yang selama ini berjalan masih terpisah dengan kebijakan-kebijakan lain seperti perundingan di Geneva (Swiss) atau penerapan Otonomi Daerah NAD." tegas Amien. Namun. Khusus gebrakan kedua. malah semakin membuat rakyat Aceh yang mengidamkan kedamaian. Menurut Amien. Amien menegaskan hal tersebut merupakan pilihan terakhir. memang merupakan persoalan keamanan yang harus segera ditangani.

dan kalaupun melakukan penumpasan dengan sistem main pukul rata. perlu adanya peningkatan profesionalisme dan akuntabilitas TNI dan Polri. payung politik malah akan mendorong TNI dan Polri untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran HAM yang baru sumber: Kompas. adalah lemahnya kemampuan intelijen. Masyarakatnya multietnis yang tiap daerahnya memilik tradisi dan bahasa masing-masing. tanpa hal itu dibenahi terlebih dulu. Menurut Kusnanto. jelasnya. Bahkan bisa dibilang diantara mereka sangat solid dan saling menghargai. disisi lain sebagian kelompok di Aceh sendiri berusaha untuk mewujudkan Aceh merdeka. yang didalamnya termasuk Aceh sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Akuntabilitas TNI dan Polri juga masih banyak dipertanyakan dengan tidak pernah terselesaikannya proses hukum berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan TNI dan Polri di Aceh. Namun begitu. Seorang yang akan meraih gelar harus melewati berbagai pendidikan. Karena itu sangat wajar jika kita temukan adanya keterikatan psikologis yang kuat dalam kehidupan sosial masyarakat disana. Benarkah masyarakat Aceh secara keseluruhan menginginkan dirinya merdeka secara de jure dari republik Indonesia atau itu hanya sekedar luapan dari perasaan ketidakadilan yang mereka terima selama ini? Sekilas sejarah Aceh Aceh adalah satu dari propinsi Indonesia yang memiliki sejarah panjang.com ACEH MERDEKA Luthfi Kamil* Referendum telah menjadi kesepakatan bulat rakyat Aceh. dan tiap tingkatan . Dan salah satu penopang hubungan sosial yang kuat ini berasal dari hirarki struktural (tradisional).lain. ditengah perbedaan ini jarang terjadi konflik satu sama lain. Satu sisi hampir sebagian penduduk Indonesia mengkhawatirkan Aceh lepas dari Indonesia. pasukan TNI/ Polri itu seperti pasukan Belanda melawan pejuang gerilya. Demikian halnya. Hal tersebut yang membuat TNI dan Polri tidak mampu mendeteksi keberadaan GAM dengan cepat. Tradisi ini ada kemiripan apa yang disebut sebagai Ayatullah di Iran. khususnya strategi kontra-intelijen (counter intelligence strategy)." ucapnya. negara kesatuan RI. Kalau menangkap satu orang saja harus bakar satu kampung. "Sekarang ini. Teungku adalah gelar yang diberikan (masyarakat) atas keberhasilannya melewati bentuk pendidikan khas disana. yang didalamnya terdapat bentuk sentralisasi kepemimpinan yakni antara Teuku dan Teungku. Salah satu kelemahan TNI dan Polri dalam penanganan keamanan di Aceh.

seorang pemimpin begitu strategis posisinya dimata masyarakat Aceh dan para teungku waktu itu yang menggerakkan mereka. mulai terjadi gesekan dimana para pamong-pamong termasuk didalamnya teungku yang selama ini menjadi elit masyarakat mulai terdesak fungsinya. Selama masa Orba terjadi dua hal penting yang mempengaruhi tatanan masyarakat Aceh yakni yang pertama terjadinya proses birokratisasi yang menggeser tatanan struktural tradisonal sebelumnya. Sejak adanya penempatan para birokrat-birokrat pemerintahan. Selama ini Teungku lebih identik seorang Ulama yang memiliki kedekatan dengan masyarakat. lebih-lebih ketika rakyat Aceh membantu Indonesia dizaman Soekarno. karena mereka memiliki sifat yang kharismatik bagi masyarakat awam selain pengakuan pendidikan dimata masyarakatnya selama ini. Begitu pula yang terjadi di Aceh. Kekecewaan ini akhirnya menimbulkan sebuah "pemberontakan" meskipun akhirnya dicapai kompromi bahwa Aceh dijadikan sebagai daerah Istimewa. sehingga membuat marah pemimpin Aceh waktu itu yakni Daud Beureh. Konsep developmentalisme dalam ekonomi menjadi jargon utama dimana dalam tahapan-tahapan yang hirarkis akan tercapai kemakmuran. Tentu banyak jasa yang tidak bisa dibalas. Tentu kita tidak lupa terhadap perang Aceh melawan Belanda. dimana satu sisi birokrat pemerintahan tidak menyentuh fungsinya secara optimal di masyarakat luas dan disisi lain muncul polarisasi yang memecah hubungan sosial dalam legitimasi struktural. sekarang ini ada kecenderungan bagi para keturunan teuku merasa tertutup untuk menunjukkan identitas dirinya. dan yang kedua terjadinya ketimpangan dalam proses pembangunan dalam kaitannya dengan proses tradisonal menuju modernisasi. Sedangkan Teuku adalah para bangsawan yang bersifat turun temurun. kompensasi dari bantuan rakyat Aceh sendiri oleh Sukarno akan dibalas dengan kemerdekaan Aceh. Yang terakumulasi hingga sekarang. dan begitu pula nasib rakyat Aceh dimasa Orba. Selama masa tradisional inilah posisi penting pengatur masyarakat dipegang para teungku.dimana kegigihan dan kesolidannya sangat terlihat. Tatanan struktural tradisonal saat itu sangat terpusat pada kharisma seorang teungku sehingga terjadi ikatan yang sangat emosional secara timbal balik dengan masyarakat. Oleh sebab itu.mendapatkan gelar tersendiri sebelum sampai pada maqam Teungku. . sebagian masyarakat Aceh sendiri memendam perasaan dikhianati yang tidak mudah dihapus. Dan selain itu. teuku yang lebih banyak memfungsikan dirinya sebagai saudagar (borjuis). Namun terlepas dari status tersebut. Dan dalam keadaan terdesak. Bagi orang Aceh mereka adalah pengkhianat. Pada masa orba terjadi pemusatan pembangunan besar-besaran. memiliki keterikatan erat dengan pihak penjajah. Namun rakyat Aceh sendiri masih mempercayakan kepada tatanan tradisional (para teungku) seperti yang sebelumnya berjalan. saat itu masyarakat Aceh menyumbangkan hartanya pada Indonesia sehingga terbeli dua pesawat terbang untuk membantu mengusir penjajah. Akhirnya terjadi kristalisasi situasional. Namun perjanjian itu sendiri akhirnya "dikhianati" Soekarno. Benih "Merdeka" Zaman berubah. Sedangkan posisi Teuku sendiri dalam perkembangannya memiliki makna yang negatif ditengah pemahaman masyarakat. Kegigihan rakyat Aceh selama proses kemerdekaan dalam melawan Belanda tidak dapat diragukan lagi. Sedangkan dalam sebuah negara. Ketika itu Belanda dan Inggris mendarat kembali karena tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Dalam sebuah perjanjian sebelumnya. Sebab selama penjajahan kolonial. Kedua hal ini tentunya memiliki keterikatan satu sama lain.

pelecehan seksual. sehingga terjadi kejahatan-kejahatan di pusat-pusat wilayah industrial. ketika para tentara menggunakan operasi kekerasan terselubung atas nama menumpas GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Masyarakat mendapat teror psikologis yang menciptakan situasi saling curiga mencurigai. Sejak awal. pembangunan-pembangunan yang dilakukan di Aceh terlihat sangat eksklusif sifatnya. tentunya secara tidak sadar terjadi proses modernisasi. istilah GPK sendiri dimunculkan untuk mengangkat legitimasi sejarah " pemberontakan" rakyat Aceh di zaman Soekarno sehingga mendapatkan pembenaran. Alasan penurunan militer sendiri untuk menghadapi para GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) yang sebenarnya merupakan kelompok kecil pengacau. maka akhirnya terjadi kebijakan yang menggunakan pendekatan militeris (dan kita ketahui Orba identik dengan kekuasaan Militer) dalam penyelesaian masalah ini. Namun karena banyak faktor yang mendorong terjadinya diskomunikasi antara rakyat Aceh dengan pemerintah pusat. Yang tragis adalah wilayah ini dibatasi dengan "pagar-pagar" yang hanya menghalangi proses sosialisasi antara penduduk asli-pendatang. Dan kemungkinan besar. khususnya bagi system sentral seperti Indonesia. Hal ini dapat ditemukan adanya wilayah khusus industrial dimana-mana. akhirnya tumbuh kelompok-kelompok kecil yang reaktif melihat situasi ini dan sekaligus memanfaatkannya. Proses ini cukup lama terjadi dan selama itu pemerintah pusat tetap menjalankan kebijakannya yang mengabaikan munculnya reaksi psikologis historis-kultural dan tetap bertahan pada pembangunan fisik semata. HAM yang selama ini didengungkan dimana-mana menjadi bahasa pengantar seminar semata. Kecemburuan sosial ini akhirnya melahirkan adanya ranjau-ranjau yang mengancam keutuhan masyarakat. Daerah ini diciptakan bagi para pendatang yang bekerja bagi perusahaan tersebut dan dibangun segala macam sarana yang "lebih modern" disekitarnya. yang secara bersamaan semakin meningkatkan kecemburuan sosial yang menyolok dimasyarakat. terjadi brutalitas yang ditimpakan kepada masyarakat sipil. Dari lapisan masyarakat. sedangkan pada saat yang sama dibelahan daerah lainnya kejahatan terhadap HAM terjadi setiap . Pemerkosaan yang disaksikan oleh suami dan anak-anaknya sendiri seperti yang terdapat diberita-berita dan janda-janda yang menangisi suaminya menjadi kenyataan bagi kita bahwa kemanusiaan kita dicoreng didepan mata telanjang.regional. Bisa jadi itu rumor yang diada-adakan pihak militer namun pada kelanjutannya malah memberikan legitimasi secara tidak langsung pada sekelompok orang yang memiliki obsesi untuk memaksa kepentingannya sendiri. pembunuhan. perampokan dan pemaksaan-pemaksaan selalu terjadi setiap saat. Dalam operasi-operasi yang dilakukan tentara. Pemerkosaan. GAM sendiri sangat kontroversial sejarahnya dan tidak ada korelasi yang jelas dengan rakyat Aceh secara keseluruhan. dan juga kebijakan berat sebelah yang juga mendapatkan respons yang sebaliknya. ataupun lingkup etnis hubungan timbal balik ini sangat penting sebab akan memiliki implikasi luas bagi hubungan daerah-pusat. Mereka pada hakekatnya berangkat dari fenomena ketimpangan sosial murni. Sejak terjadinya pembangunan di wilayah Aceh. Ditemukannya tulang-tulang yang berserakan kemudian hari semakin membuktikan kejahatan tentara tidak bisa dibalas dengan kompensasi apapun. DOM dan Kekejamannya Masuknya tentara ke wilayah Aceh dinamakan operasi Militer. perbedaan yang menyolok didalam proses transformasi dari tradisonal ke modern tidak dapat disikapi dengan baik oleh pemerintah pusat. Namun sayangnya. DOM (Daerah Operasi Militer) di Aceh ini akhirnya semakin menimbulkan dampak yang luarbiasa.

*Sebanyak 16000 Anak Yatim dan 2470 orang hilang juga 375 orang cacat seumur hidup ( Waspada. 10. Penemuan adanya Kuburan Massal. sejauh ini dalam mencari solusi permasalahan Aceh. yakni membuka tirai Referendum bagi Aceh merdeka. antara lain: Penyiksaan dan Pembunuhan. Aceh Bersimbah Darah. maka masyarakat Aceh akhirnya menggunakan pendekatan para pemimpin non-birokratis semacam Amien Rais dan Gus Dur. Dan secara Internasional dilakukan Gus Dur sendiri. 22. Kini nurani mereka meminta pertanggungjawaban atas ketidakadilan yang ditimpakan mereka selama ini. toh untuk melepas dengan mudah Aceh dari Indonesia tentu bukan perkara gampang.12. suatu hari terjadilah apa yang selama ini diharapkan mereka. Gus Dur. Bentuk-bentuk pelanggaran HAM selama DOM bermacam-macam motifnya.11 1999). Sekilas Data kekejaman tentara selama DOM: *Korban tewas: 30000 orang.saat. Sehingga. maka sangat wajar jika rakyat Aceh berusaha ingin melepaskan dirinya dari Indonesia. Akumulasi perasaan rakyat Aceh dengan tanggapan ini semakin menguatkan pada kesepakatan untuk lepas dari Indonesia. telah menjadi presiden.08 1998. khususnya melalui sektor pendidikan tidak terealisasikan. Kemudian dilanjutkan pada pendekatan negara-negara Asia dan Timur Tengah. Untuk itu. yang membuka tirai Referendum bagi rakyat Aceh waktu itu. tuntutan rakyat Aceh sendiri kurang mendapat tanggapan serius. bisa dikatakan dia menggunakan dua pendekatan. Pelecehan Seksual. dimana elit-elit politik melakukan usaha kompromi dalam mencari celah solusi. Pada masa Habibie. Mungkin orang bisa melihat hasil pengaruh dari pendekatan Internasional. Dengan langkah-langkah strategis ini. Mencari Solusi Sejak Suharto lengser keprabon. Kini. 9.1998). Kemerdekaan yang bisa mengembalikan hak asasi mereka dan pengakuan martabat kemanusiaan yang selama ini diinjak-injak. Karena itu. bersamaan dengan lawatannya ke berbagai negara. Secara Internal difokuskan pada penanganan dalam negeri.2 1999 ) *2. Penjarahan dan Pembakaran. Namun demikian. dimana Amerika mendukung kesatuan negara Indonesia. inilah kemerdekaan bagi dirinya. secara Internal dan Internasional. Bahkan apa yang dijanjikan pemerintah waktu itu. bagi penguasa baru dalam menyikapi permasalahan ini seringkali terjebak pada alasan pembalikan bukti historis dan berusaha melepaskan tanggungjawabnya dari apa yang pernah terjadi.7 % orang mati tiap hari (kekerasan terhadap perempuan) (Detik. Pemerkosaan. Memang peristiwa ini merupakan multikomplek permasalahan yang ditopang baik secara historis. Tentu logis jika salah satu tujuan pendekatan ini adalah membendung dari kekuatan luar jika nantinya ikut campur menggiring GAM dan mungkin rakyat Aceh (demi kepentingan politik mereka) untuk membantu kemerdekaan Aceh. Untuk itu dengan logika demikian. suara keadilan bagi rakyat Aceh semakin keras terdengar. Merasa bahwa jalur resmi tidak memungkinkan. sekitar 3000 jadi Janda (Al-Chaidir dkk. psikologis maupun sosiologis. Pemerasan. tentunya saat ini Aceh sendiri tidak . 18.

Pertama. Sebab luapan psikologis lebih banyak mengikat secara emosional dalam menelurkan gagasan Aceh Merdeka daripada sebuah pemahaman yang tampak rasional. Situasi demikian memiliki dorongan positif bagi pemerintah dan sebaliknya semakin memojokkan rakyat Aceh. kata referendum digulirkan oleh Mahasiswa. meskipun pada saat yang sama semakin mengkhaburkan batas sebenarnya dari kepentingan murni antar kelompok dan masyarakat Aceh secara keseluruhan. meskipun kata referendum menjadi kebulatan semua lapisan golongan di Aceh. akutnya permasalahan Aceh ternyata tidak membuat presiden kita . ada sebuah bentuk ikatan pemikiran Orba yang sampai sekarang masih melekat ditengah masyarakat bahwa Aceh lepas karena ingin mendirikan negara Islam ( Seperti yang didengungkan GAM). Tentu situasi ini memberikan implikasi khusus bagi masyarakat Indonesia sehingga mengabaikan faktor-faktor khusus penyebab sebenarmya dari tuntutan rakyat Aceh. MUI dan semua unsur masyarakat telah larut dalam kata referendum. yang tentunya bisa berakibatkan pada dua arah antara cooling down secara psikologis bagi tawaran rakyat Aceh atau malah menimbulkan antagonisme yang semakin menguatkan perlawanan rakyat Aceh terhadap pemerintah. Dan belum lama ini sudah terjadi di Irian Jaya pendirian bendera yang disaksikan ribuan rakyat Irian. Sebab bukan tidak mungkin GAM sendiri yang muncul bermacam-macam. Karena secara politik Internasional tidak mendapatkan dukungan yang luas dan juga ada kecenderungan kuat terjadinya konflik antar kelompok untuk memperebutkan kekuasaan disana pasca kemerdekaan. maka semakin jelas munculnya kesepakatan bersama. yakni adanya ketidakpastian bagi sebuah perubahan di Aceh jika merdeka. namun ada satu keyakinan bahwa tidak semua rakyat Aceh ingin lepas dari wilayah Indonesia. perjuangan rakyat Aceh sendiri mendapat simpati yang minimal di dalam negeri. memiliki kepentingan yang berbeda dan memanfaatkan situasi. Saat ini birokrasi pemerintahan. Keyakinan ini tentunya dilandaskan pada beberapa argumen. tidak sedikit analisis para tokoh yang menyimpulkan bahwa lepasnya Aceh sama dengan menggulirkan proses disintegrasi bangsa Indonesia secara keseluruhan terlepas dari sisi historis eksistensi Aceh bagi Indonesia selama ini. Ketika pertama kali. Dan selama ini gambaran tentang negara Islam sendiri sangat buruk-terlepas dari pembahasan empiris maupun teoritis yang bersifat kontroversial. LSM-LSM dan terakhir GAM secara sepihak. Selain itu.memiliki kekuatan proses pengakuan dalam konteks Internasional. ada pengaruh trauma terhadap apa yang terjadi dengan Timor-Timur belum lama ini. Untuk itu. Dari setiap elit politik yang kesana tidak dapat mencapai kata kesepakatan. argumen ini diperkuat adanya keraguan bahwa tiap rakyat Aceh sendiri belum tentu mengerti akan apa yang menjadi tuntutannya yakni referendum untuk Aceh merdeka. masyarakat awam. Mahasiswa. Namun demikian. Ada beberapa alasan yang mungkin mendasari akan rendahnya interest masyarakat Indonesia dalam menanggapi perjuangan rakyat Aceh. pendekatan Internal sendiri mengalami kebuntuan. Dalam kenyataannya. Yang kedua. Lalu apa solusinya? Aceh "Merdeka" Seperti yang diakui sendiri oleh Gus Dur bahwa kelompok yang memiliki massa adalah teungkuteungku dayah (dayah=pesantren). tidak semua sepakat khususnya GAM terhadap kata tersebut. Dan pada ujung-ujungnya gambaran Indonesia sebagai Yugoslavia kedua semakin menguat jika ini terjadi. Namun semenjak kata ini menjadi kesepakatan para teungku. Untuk itu. Namun begitu.

Wallahua'lam. beredarnya rumor-rumor yang menggelisahkan dll. Makna dari hati nurani kata Aceh Merdeka sendiri sebetulnya toh bisa dijawab dengan memberikan kepastian yang memuaskan secara psikologis. anakanak di Aceh tidak mendapatkan pendidikan normal karena gedung-gedung sekolahan dibakar oleh kelompok orang yang tidak bertanggungjawab. rasa keadilan. sebuah kegagalan harus dibayar mahal bagi seluruh rakyat Indonesia dan generasi mendatang. salah satunya ide tentang darurat militer merupakan satu bentuk ketidakpedulian dalam menyikapi tuntutan rakyat Aceh. proses hukum yang transparan terhadap kejahatan tentara selama DOM dan jawaban-jawaban langsung yang direalisasikan berlandaskan kemauan yang kuat. Benih demokrasi yang mulai berkembang saat ini di era Reformasi tentu tidak diharapkan surut. santunan bagi janda-janda yang ditinggal suaminya. Sebab kata merdeka secara filosofis memiliki makna psikologis yakni merdeka dari rasa ketakutan.selama ini hakekat dari keinginan masyarakat Aceh untuk merdeka tidak pernah disikapi secara kooperatif melainkan sebaliknya konfrontatif. * Student TFH Berlin Jurusan Tekhnologi Pangan. Pernyataanpernyataan dari pejabat militer. Apakah memang situasi ini dibiarkan untuk menjadi satu alternatif lain sehingga masyarakat Aceh menyerah terhadap kesepakatan referendum? Tentu masih jadi pertanyaan. HomePolitikNasional Berita Terkait      Gubernur NAD Serahkan "Kursi Perdamaian" ke Presiden Presiden Minta Semua Pihak Jaga Perdamaian Aceh Kalla Tak Mau Ada MoU Helsinki Berikutnya Mahasiswa Demo Peringatan Lima Tahun Damai Aceh Warga Aceh Gelar Doa Bersama Peringati Lima Tahun Perdamaian . Memang sayang . permasalahan Aceh bisa jadi memberikan peluang bagi munculnya diktator baru (militeris) jika permasalahan etnis dan bentuk-bentuk komunalisme dari ikatan kultur atau kelompok agama tidak disikapi secepatnya dengan arif. Dengan wilayah multietnis dan budaya maka sangat mungkin proses disintegrasi di Indonesia sangat rentan terjadi jika bangsa Indonesia tidak disatukan dalam toleransi real dalam pluralisme serta iklim demokratisasi yang memberikan perhatian kepada minoritas sekaligus penye-imbangan pembangunan daerah-pusat. Sedangkan pada saat ini. terjadinya eksodus besar-besaran. Dan jika itu terjadi. fungsi keamanan lumpuh total. Permasalahan Aceh memang benih dari sebuah permasalahan nasionalisme dan etnis. Mereka tentu satu bagian dari diri kita dan tentunya keliru jika kita meletakkan mereka sebagai komoditas politik sehingga menyisakan gambaran vis a vis secara berlawanan. terjadinya kejahatan-kejahatan.mencari kompromi yang real secepatnya dengan rakyat Aceh. keinginan untuk memulihkan semua hal yang pernah menjadi mimpi buruknya. Untuk itu. pengembalian atas hakhak mereka.

Topik   Konflik Aceh[tempobr]212 Gerakan Aceh Merdeka Infografis Perang Klaim Juru Damai Aceh Kamis. pertemuan di Helsinki yang berlangsung kali ini adalah pertemuan informal kedua. 24 Februari 2005 | 20:07 WIB Presiden: Otonomi Khusus Solusi Final Konflik Aceh Besar Kecil Normal TEMPO Interaktif. Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan kembali sikap pemerintah soal opsi bagi penyelesaian konflik di Nanggroe Aceh Darussaalam. Kamis (24/2). di Istana Negara. yang ditemui usai menerima dua wartawan Metro TV yang sempat diculik kelompok bersenjata di Irak. Meutya Hafid dan Budiyanto. jakarta." kata Presiden. kata Presiden. Indonesia bersedia melanjutkan pertemuan informal itu apabila agendanya jelas. "Dunia pun tidak ada yang mendukung lepasnya Aceh dari Indonesia. yaitu pengakhiran konflik. kata Presiden. pemerintah bersedia meneruskan . dunia luar mendukung Aceh tetap tetap menjadi bagian dari Indonesia. "Sudah jelas solusi final untuk Aceh adalah otonomi khusus." kata Presiden kepada wartawan. berdasarkan otonomi khusus dan hal-hal lain yang berkaitan dengan itu. Kedua. Menurut Presiden. Presiden juga yakin. Pertama. Dan saya memberikan kesempatan untuk itu.

Tidak bisa sekali pertemuan menghasilkan sesuatu yang diharapkan." tandasnya. sudah membahas lebih serius makna otonomi khusus. pengakhiran konflik. amnesti dan bagaimana mereka dapat hidup kembali sesuai hak-hak yang dimiliki." tambahnya. Pihaknya mendapat laporan terus menerus bahwa perkembangannya makin positif.perundingan apabila pihak Gerakan Aceh Merdeka menaati agenda yang telah ditetapkan bersama. "Awalnya memang alot. Abdul Manan . Ini terjadi dimanapun juga. Dalam arti. "Saya terus terang ingin betul konflik Aceh yang berlangsung 29 tahun ini bisa segera diakhiri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful