BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Konsep negara hukum ini tidak terlepas dari falsafah dan sosiopolitik yang melatar belakanginya, terutama pengaruh falsafah individulisme, yang menempatkan individu atau warga negara sebagai primus interpares dalam kehidupan bernegara. Unsur pembatasan kekuasaan negara untuk melindungi hak-hak individu menempati posisi yang signifikan. Semangat membatasi kekuasaan negara ini semakin kental setelah lahirnya adagium yang begitu populer dari Lord Action, yaitu: “Power tends to corrupt, but absolute power corrupt absolutely1 (Manusia yang mempunyai kekuasaan cenderung untuk menyalahgunakan kekuasaan itu, tetapi kekuasaan yang tidak terbatas (absolut) pasti akan disalahgunakan)”. Salah satu perangkat hukum yang dimaksud adalah hukum pidana yang berfungsi sebagai sarana atau alat untuk menjaga ketertiban dan ketentraman di dalam masyarakat. Penerapan dari hukum pidana mempunyai sifat ultimum remidium artinya hukum pidana baru dipergunakan atau diterapkan setelah aturan-aturan hukum yang lain tidak mampu menyelesaikan suatu permasalahan yang terjadi di masyarakat.

1

Haryatmoko, Etika Politik dan Kekuasaan, (Jakarta: Kompas, 2003), hal. 124-125.

1

Hukum pidana umum adalah yang tertuang dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). sedangkan hukum pidana khusus adalah semua peraturan perundang-undangan di luar KUHP beserta peraturan perundang-undangan pelengkapnya.Sifat dari hukum pidana yang sedemikian tersebut. Sedangkan mengenai hukum pidana formalnya tertuang dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). hal. Cetakan Ke-7. 1. Salah seorang pakar hukum pidana Indonesia Moeljatno. Eksistensi Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) sebagai suatu instrumen umum (lex generalis) yang berfungsi untuk mendukung pelaksanaan dan penerapan ketentuan hukum pidana materil memiliki peran yang penting dan determinan dalam proses penegakan hukum yang didasarkan pada kerangka due process of law.2 Di Indonesia. yang menurutnya bahwa hukum pidana adalah sebagian dari keseluruhan hukum yang berlaku di suatu negara. maka dalam beroperasinya hukum pidana tidak boleh sembarangan. hukum pidana material terbagi atas hukum pidana umum dan hukum pidana khusus. 2 . dalam arti harus sesuai dan tunduk pada asas-asas pokok dalam hukum pidana itu sendiri. merumuskan hukum pidana meliputi hukum pidana formil dan hukum acara materil (seperti yang dimaksud oleh Enschede-Heijder). (Jakarta: Rineka Cipta. Baik peraturan perundang-undangan pidana maupun yang bukan pidana tetapi bersanksi pidana. Azas-azas Hukum Pidana. Pelaku di dalam mempertanggungjawabkan perbuatannya untuk dapat dikenai sanksi sesuai hukum yang ada harus selalu dalam koridor asas-asas yang telah disepakati. 2002). Dirumuskannya KUHAP sebagaimana yang 2 Moeljatno.

Hukum Acara Pidana: Suatu Tinjauan Khusus Terhadap Surat Dakwaan. 47. 6 . hal. 2003). Op. Cit. merupakan karakteristik utama yang melekat pada konsep negara hukum. 4 M. maka KUHAP memiliki asas keseimbangan. Kedua prinsip tersebut bertujuan untuk dapat terwujudnya suatu sistem peradilan pidana terpadu atau yang lebih dikenal dengan istilah integrated criminal justice system. yang berupa tahap eksekusi termasuk pengawasan dan pengamatan pelaksanaan putusan.. Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP: Penyidikan dan Penuntutan. Dalam melaksanakan tugas dan peran dari masing-masing institusi publik tersebut tentunya harus berpedoman pada prinsip diferensiasi fungsional dan prinsip saling koordinasi.3 KUHAP sebagai kaidah hukum publik.diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 merupakan realisasi konkrit dari konsep negara hukum (rechtstaat). termasuk adanya kewajiban untuk menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan tersebut. 6 M. 5 Lilik Mulyadi. (Jakarta: Sinar Grafika.1. (Bandung: Citra Aditya Bakti. Keberadaan perangkat perundangundangan yang menjunjung tinggi hak asasi manusia serta adanya jaminan persamaan kedudukan baik dalam hukum (equality before the law) maupun dalam pemerintahan bagi setiap warga negara. 38.6 Al.5 Ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam KUHAP sangat diperlukan institusi-institusi publik mulai dari tahap awal sampai dengan tingkat akhir.4 Hal tersebut diartikan bahwa KUHAP selain mengatur mengenai kepentingan masyarakat (public interest) yang dilanggar juga mengatur secara seimbang kepentingan pihak yang berstatus sebagai pelaku. Pembaruan Hukum Acara Pidana (Bandung: Citra Aditya Bakti. hal. Eksepsi Dan Putusan Peradilan. 2002). hal.7. hal. Widiartana. Yahya Harahap. Yahya Harahap. 3 3 . Wisnubroto dan G. 2005).

Lahirnya KUHAP didasarkan pada dua alasan. yaitu alasan untuk menciptakan suatu ketentuan yang dapat mendukung terselenggaranya suatu peradilan pidana yang adil (fair trial) dan alasan adanya urgensi untuk menggantikan produk hukum acara yang bersifat kolonialistik sebagaimana yang tercantum dalam Het Herziene Inlandsch Reglement (HIR). hal. menjelaskan bahwa praperadilan sebagai suatu lembaga baru memiliki karakteristik sebagai berikut :8 1.1. 4 . Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP: Pemeriksaan Sidang Pengadilan. Dengan pertimbangan tersebut maka KUHAP sebagai produk hukum nasional telah merumuskan ketentuan yang lebih baik dari HIR. M. Sebagai suatu lembaga baru yang diintrodusir oleh KUHAP maka praperadilan bukan merupakan suatu lembaga yang berdiri sendiri.1-2. 2003). Yahya Harahap. (Jakarta: 1982). 7 Departemen Kehakiman Republik Indonesia. hal. Dalam pedoman pelaksanaan KUHAP dijelaskan bahwa sebagai produk dari badan legislatif kolonial maka HIR belum memberikan jaminan dan perlindungan yang cukup terhadap hak asasi manusia.7 Ketentuan tentang praperadilan dalam KUHAP merupakan suatu lembaga yang memiliki beberapa kewenangan tertentu serta merupakan hal yang menambah perbedaan prinsipil antara KUHAP dengan HIR. Pedoman Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. 2. Banding. Praperadilan merupakan suatu divisi dari Pengadilan Negeri . Kasasi Dan Peninjauan Kembali (Jakarta: Sinar Grafika. Yahya Harahap. 8 M. Eksistensinya merupakan satu kesatuan yang melekat pada Pengadilan Negeri.

Perihal tata pelaksanaan fungsi yustisial praperadilan merupakan bagian dari fungsi yustisial Pengadilan Negeri itu sendiri. Berdasarkan kasus-kasus yang pernah ada. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum (Bandung: Citra Aditya Bakti. peralatan dan finansial menjadi satu dengan Pengadilan Negeri serta berada dibawah pimpinan dan pengawasan termasuk juga pembinaan oleh Ketua Pengadilan Negeri.9 Sudikno Mertokusumo dan A. 9 5 . 4.4. Dengan adanya ketidakjelasan tersebut maka hakim diwajibkan untuk melakukan penemuan hukum (rechtsvinding) dengan metode interpretasi. lembaga praperadilan tersebut memiliki berbagai permasalahan dalam penerapannya. personil. 1993). Konsekuensinya sebagai divisi maka perihal administratif yustisial.3. Mulai dari adanya limitasi pemeriksaan jenis upaya paksa yang berupa penangkapan dan penahanan saja dan tidak termasuk penggeledahan. KUHAP tidak memberikan penjelasan yang tegas mengenai definisi pihak ketiga yang berkepentingan namun hakim tidak boleh menolak memberikan putusan terhadap suatu perkara praperadilan dengan alasan tidak adanya ketentuan yang memberikan penjelasan yang tegas mengenai pengertian pihak ketiga yang berkepentingan. Perkembangannya. maka hakim tidak memiliki interpretasi yang sama dalam mendefinisikan pihak ketiga yang berkepentingan. penyitaan dan pemeriksaan surat sampai dengan ketidakjelasan mengenai interpretasi pihak ketiga yang berkepentingan dalam mengajukan sah tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan. Pitlo. hal.

melalui Kuasa Hukumnya R Bonaran Situmeang & Partner selaku Pemohon melakukan permohonan Pra Peradilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.kejari-jaksel. Kemudian dinyatakan juga bahwa Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan atas nama Chandra Martha Hamzah dan Tim Web Kejari Jaksel. 19 April 2010 di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah mengabulkan permohonan pemohon praperadilan Anggodo Widjojo. www.go.Jkt. dalam putusannya Nomor: 14/Pid/Prap/2010/PN.Salah satu kasus yang menjadi fokus pembahasan dalam penulisan ini adalah mengenai upaya hukum Pra Peradilan yang dilakukan oleh Anggodo Widjodjo. pada tanggal 29 Maret 2010. diupload tanggal 19 April 2010.id. “Hakim Pra Peradilan Nugroho Setiadi.I. Dikeluarkannya SKPP tersebut. melalui Kuasa Hukumnya R Bonaran Situmeang & Partner atas dikeluarkannya Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) Bibid Samad Rianto dan Chandra Hamzah oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.10 Senin. Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia Sebagai Termohon II. Cq. 10 6 . SH. bahwa perbuatan Termohon I yang mengeluarkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan atas nama Chandra Martha Hamzah dan Bibit Samad Rianto adalah perbuatan melawan hukum. dengan Termohon Pra Peradilan adalah Kejaksaan Agung R. Mengabulkan Permohonan Anggodo Widjojo”. Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Cq. serta perbuatan Termohon II yang tidak melakukan upaya hukum atas diterbitkannya Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan tersebut sebagai perbuatan melawan hukum.Sel tanggal 19 April 2010. Hakim Praperadilan Nugroho Setiadi. Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan Sebagai Termohon I dan Kapolri Cq. Anggodo Widjodjo.

7 . 12 Anonim. “Permintaan untuk memeriksa sah atau tidaknya suatu penghentian penyidikan atau penuntutan dapat diajukan oleh penyidik atau penuntut umum atau pihak ketiga yang berkepentingan kepada ketua pengadilan negeri dengan menyebutkan alasannya. http://lipsus.10/2009/Pidkor&Wcc tertanggal 9 Oktober 2009 atas nama Bibit Samad Rianto ke Pengadilan. “Anggodo Ajukan Gugatan Pra Peradilan Kasus Bibit-Chandra”. Selain itu.com. terdapat ketidakjelasan mengenai legal standing (Kedudukan Hukum) dari Anggodo Widjojo dalam melakukan upaya Permohonan Pra Peradilan atas terbitnya suatu SKPP. dengan dasar sebagai pihak ketiga yang berkepentingan mengajukan permohonan praperadilan (pretrial) menggugat keabsahan SKPP tersebut. http://kamushukum.Pol. diupload tanggal 29 Maret 2010. Kejaksaan juga menyampaikan alasan sosiologis dikeluarkannya SKPP.Bibit Samad Rianto adalah tidak sah. permohonan Pra Peradilan justru dilakukan oleh Anggodo Widjojo. diupload tanggal 4 Juni 2010. “Alasan Pengadilan Tinggi Menangkan Anggodo”. Dalam memori banding. Hakim Pengadilan Negeri yang memeriksa permohonan 11 Vivanews.” Dalam peristiwa Pra Peradilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tersebut.:BP/B. Hal ini dikarenakan menurut Pasal 80 KUHAP dinyatakan bahwa. sehingga Termohon I wajib untuk melimpahkan Berkas Perkara No. Bonaran Situmeang selaku Kuasa Hukumnya berpendapat bahwa “gugatan praperadilan ini merupakan bentuk upaya pencarian keadilan dari Anggodo Widjojo.”12 Namun.com.11 Atas peristiwa tersebut. kejaksaan mempermasalahkan kedudukan hukum (legal standing) Anggodo Widjojo sebagai pemohon praperadilan SKPP di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.kompas.

justru tidak pernah mempertimbangkan permasalahan legal standing dari Anggodo Widjojo tersebut. jadi bukan Anggodo. “Anggod Seharusnya Tak Punya Hak Pra Peradilan Bibit-Chandra”.13 Berdasarkan hal tersebut maka dalam tulisan ini penulis mencoba untuk membahas mengenai permasalahan interpretasi pihak ketiga yang berkepentingan dalam praktek praperadilan yang terjadi selama ini.Pra Peradilan dari Anggodo Widjojo tersebut.tvone. Karena saksi korban atas dugaan penyelewengan jabatan yang pernah dialamatkan kepada Bibit-Chandra adalah pengusaha yang disebut telah dirugikan karena di cegah ke luar negeri oleh Bibit-Chandra yaitu Djoko Tjandra dan Anggoro Widjojo. 13 8 . Nugroho Setiadi. http://hukum.id. Hal ini pun dipertanyakan oleh Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gadjah Mada mengenai kedudukan hukum Anggodo Widjojo dalam menggugat Surat Ketetapan Pemberhentian Penuntutan (SKPP) kasus Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. diupload tanggal 24 April 2010.co. khususnya terkait dengan legal standing dari Anggodo Widjojo dalam mengajukan permohonan Pra Peradilan atas dikeluarkannya SKPP terhadap perkara BibitChandra oleh Kejari Jaksel. seharusnya dalil Anggodo selaku Saksi Korban tidak dapat diterima dalam mengajukan permohonan pra peradilan. Menurut Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gadjah Mada. ke dalam tulisan skripsi yang berjudul : “Analisis Permohonan Pra Peradilan Atas Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan Oleh Pihak Ketiga Yang Berkepentingan (Studi Kasus: Permohonan Pra Peradilan Atas SKPP Perkara Bibit-Chandra Oleh Anggodo Widjojo)” Vivanews.

penulis mempunyai tujuan obyektif dalam melakukan penulisan yaitu untuk mengetahui kesesuaian permohonan Pra Peradilan yang diajukan oleh Anggodo Widjojo atas Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan Bibit-Chandra berdasarkan Pasal 80 KUHAP. Kegunaan Penelitian Kegunaan Teoritis Merupakan bahan kajian dan sumbangan pemikiran di bidang hukum acara pidana terutama yang berhubungan dengan pemohon dan termohon dalam Pra Peradilan suatu Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan. maka penulis membuat perumusan masalah dalam penelitian ini yaitu.A. Permasalahan Berdasarkan hal tersebut. 9 . 2. Tujuan dan Kegunaan 1. Apakah permohonan Pra Peradilan yang diajukan oleh Anggodo Widjojo atas Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan oleh Pihak Ketiga Oleh Kejari Jaksel telah sesuai berdasarkan Pasal 80 KUHAP? B. Tujuan Penelitian Dalam penelitian ini. a.

diupload dalam www. Disampaikan pada Kursus HAM Pengacara 2007 ELSAM. Berikut akan diuraikan yang menjadi kerangka konseptual dalam penulisan ini. “Legal Standing. dan konstruksi data.or.15 Dalam perkara pengujian undang-undang. Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi Republik 14 Soerjono Soekanto. Cetakan ke-3. Kerangka Konseptual Kerangka konseptual adalah kerangka yang menggambarkan hubungan antara konsep-konsep yang diteliti. hal. Kegunaan Praktis Penulisan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi para pembaca umum dan penegak hukum mengenai legal standing (kedudukan hukum dari Anggodo Widjojo) dalam mengajukan permohonan Pra Peradilan suatu Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan atas perkara Bibit-Chandra oleh Kejari Jaksel berdasarkan Pasal 80 KUHAP.elsam.id. 132. 15 Sulistiono. Hak Gugat Organisasi Lingkungan”. analisis. kedudukan hukum (legal standing) merupakan hal yang mendasari pembenaran subyektum pencari keadilan mengajukan permohonan ke hadapan lembaga pengadilan. C. Pengantar Penelitian Hukum. 1986). Menurut Guru Besar Hukum Tata Negara. Adapun pengertian Standing kelompok masyarakat yang bertindak untuk mewakili kepentingan umum (publik). 10 . Kedudukan Hukum (Legal Standing) dapat diartikan secara luas yaitu akses orang perorangan. pengolahan. (Jakarta: UI Press.b. kelompok/organisasi di pengadilan sebagai Pihak Penggugat.14 Kerangka konseptual ini merumuskan definisi-definisi tertentu yang dapat dijadikan pedoman di dalam proses pengumpulan.

1986). Kamus Hukum. 11 .16 Pengertian pihak ketiga dalam penulisan ini tidak bisa dilepaskan dari Pasal 80 KUHAP. 2.id. HM Laica Marzuki.Indonesia. (Jakarta: Ghalia Indonesia. “Legal Standing. 16 di MK”. Pra Peradilan adalah Permintaan untuk memeriksa sah atau tidaknya suatu penghentian penyidikan atau penuntutan dapat diajukan oleh penyidik atau penuntut umum atau pihak ketiga yang berkepentingan kepada ketua pengadilan negeri dengan menyebutkan alasannya: 1. hal. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan.kompas.17 Oleh karena itu keabsahan di sini mempunyai arti kelegalan atau kesesuaian penghentian penyidikan atau penuntutan berupa Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) atas Perkara Bibit-Chandra berdasarkan undang-undang. Sisi Lain Pengujian UU http://www. 516. dupload tanggal 4 Nopember 2008. Keabsahan berasal dari kata sah atau absah yang berarti bahwa legal menurut undang-undang.co. 17 Andi Hamzah. HM Laica Marzuki. yang berarti bahwa Pihak luar yang berkepentingan atas pemeriksaan sah atau tidaknya suatu penghentian penyidikan atau penuntutan kepada ketua pengadilan negeri dengan menyebutkan alasannya. Sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atas permintaan tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasa tersangka. atau sesuai dengan undang-undang. Legal standing adalah suatu entitle atau dasar hak subyektum hukum untuk mengajukan permohonan.

http://darpawan. c.wordpress. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Abolisi”. pejabat rumah tahanan negara. 19 Waingapu. diupload tanggal 30 Nopember 2009. Turunan surat ketetapan itu wajib disampaikan kepada tersangka atau keluarga atau penasihat hukum. Permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan. Dalam hal penuntut umum memutuskan untuk menghentikan penuntutan karena tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana atau perkara ditutup demi hukum. SKPP. wajib segera dibebaskan.19 Dasar hukum dari SKPP adalah Pasal 140 ayat (2) KUHAP yang menyatakan bahwa. 12 . Grasi. Deponering.3. “Tentang Istilah Hukum: SP3. Isi surat ketetapan tersebut diberitahukan kepada tersangka dan bila ia ditahan. penyidik dan hakim. Pasal 1 angka 10. penuntut umum menuangkan hal tersebut dalam surat ketetapan. b. Amnesti. 18 Indonesia.18 Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) ini merupakan kewenangan Penuntut Umum (Jaksa Penuntut Umum yang diberikan tugas sebagai penuntut umum dalam menangani suatu perkara) alasan-alasan yang mendasari Penuntut Umum mengambil tindakan ini adalah tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana atau perkara tersebut ditutup demi hukum.com. a.

d. D. Deponering adalah kewenangan mengenyampingkan perkara demi kepentingan umum ini diberikan oleh undang-undang kepada jaksa agung setelah memperhatikan saran dan pendapat dari badan-badan kekuasaan negara yang berhubungan dengan masalah tertentu. (Jakarta: UI Press. Penjelasan Pasal 35. 3. hal. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan. 13 . mengenai hukum pidana formal tersebut tertuang dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Asas-asas Hukum Pidana Bagian Pertama. Jadi demikian yang dimaksud dengan hukum acara pidana Indonesia adalah segala ketentuanketentuan yang dimuat dan terkandung dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).21 Di Indonesia. 1987).Z. penuntut umum dapat melakukan penuntutan terhadap tersangka. Apabila kemudian ternyata ada alasan baru. hal. Abidin. 22 Soerjono Soekanto. Sedangkan yang dimaksud dengan kepentingan umum adalah kepentingan bangsa dan negara dan / atau kepentingan masyarakat luas. Op.. atau gejala-gejala lainnya. A. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu penelitian yang bersifat memberikan gambaran secara lengkap tentang manusia. 10. yaitu metode untuk mendapatkan data yang berasal dari bahan pustaka atau dengan kata lain cara untuk 20 21 Indonesia.22 Penelitian ini merupakan penelitian normatif.Cit.20 Hukum pidana formal adalah hukum pidana yang mengatur tentang sikap pemerintah dengan perantaraan para pejabatnya menggunakan haknya untuk memidana. keadaan.

. d. 52. Sebagai langkah awal terlebih dahulu dikaji data sekunder yang berdasarkan kekuatan mengikatnya digolongkan ke dalam: 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Umum. Undang-Undang Nomor 73 Tahun 1958 tentang Berlakunya Undang-Undang No. 51. 14 . Kejaksaan.mendapatkan data sekunder23. Kehakiman. Ibid. b. hal. Bahan Hukum Sekunder Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan 23 24 Ibid. e. Bahan Hukum Primer Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat seperti perundang-undangan24.. Dalam penelitian ini yang dijadikan sebagai bahan hukum primer antara lain: a. 2. f. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. 1 Tahun 1946 Republik Indonesia Tentang Peraturan Hukum Pidana Untuk Seluruh Wilayah Republik Indonesia Dan Mengubah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana c. hal.

maka selanjutnya dilakukan pengolahan. analisa. khususnya terkait dengan legal standing dari Anggodo Widjojo dalam mengajukan permohonan Pra Peradilan atas dikeluarkannya SKPP terhadap perkara BibitChandra oleh Kejari Jaksel. Setelah data sekunder didapat. guna mendapatkan hasil penelitian yang sesuai dengan kenyataan yang ada. analisis.26 Ruang lingkup dari penelitian normatif ini adalah mengenai interpretasi pihak ketiga yang berkepentingan. Setelah seluruh data didapat. guna mendapatkan hasil penelitian yang sesuai dengan kenyataan yang ada. artikel. ensiklopedia.25 Dalam penelitian ini yang yaitu adalah bahan hukum sekunder di bidang hukum pembuktian pidana. dan konstruksi data secara kualitatif. sebagaimana dimuat dalam Pasal 80 KUHAP. ibid 15 .Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang menerangkan bahan hukum primer berupa buku-buku. yang pada prakteknya di praperadilan terjadi selama ini. Pengumpulan dan pengolahan data menggunakan pendekatan secara kualitatif yang dilakukan dengan cara studi kepustakaan dan wawancara. Bahan Hukum Tersier Bahan hukum tersier yaitu bahan yang melengkapi dalam hal data dan informasi yang di dapat dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus-kamus. dan konstruksi data secara deduktif. 3. dan indeks kumulatif. maka selanjutnya dilakukan pengolahan. 25 26 ibid.

khususnya untuk memberikan suatu deskripsi yang jelas mengenai praktek interpretasi pihak ketiga dalam permohonan praperadilan E. permasalahan. 16 . tulisan ini hanya bertujuan untuk memperlengkap literatur keilmuan dan pengetahuan bidang hukum yang telah ada sebelumnya. kerangka konseptual. Sistematika Penulisan Penulisan hasil penelitian ilmiah ini disusun ke dalam 5 (lima) bab yaitu sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini akan diuraikan tentang latar belakang. dan sistematika penulisan. metode penelitian. Hukum Acara Pidana. tujuan dan kegunaan penelitian. BAB III DATA HASIL PENELITIAN Dalam Bab ini akan di uraikan tentang fakta-fakta terkait dengan upaya hukum permohonan Pra Peradilan yang dilakukan oleh Anggodo Widjodjo.Pada dasarnya. dan Pra Peradilan Dalam KUHAP. BAB II LANDASAN TEORI Dalam Bab ini akan di uraikan tentang Negara Hukum Indonesia. Sistem Hukum Indonesia. melalui Kuasa Hukumnya R Bonaran Situmeang & Partner atas dikeluarkannya Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) Bibid Samad Rianto dan Chandra Hamzah oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

BAB V PENUTUP Dalam Bab ini penulis akan memuat kesimpulan. Selain itu juga penulis akan mencoba memberikan saran-saran yang mungkin dapat bermanfaat terhadap permasalahan yang menjadi objek penulisan ini. 17 .BAB IV ANALISIS Dalam Bab ini penulis akan membahas tentang analisis ‘Pihak Ketiga yang berkepentingan’ dalam mengajukan permohonan Pra Peradilan atas suatu Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan sebagaimana disebut dalam Pasal 80 KUHAP dan legal standing (kedudukan hukum) Anggodo Widjojo dapat dikategorikan sebagai Pihak Ketiga yang berkepentingan atas keluarnya SKPP perkara Bibit-Chandra oleh Kejari Jaksel.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful