SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI – IV

Hotel Marcopolo, Bandar Lampung, 29 – 30 November 2011 SENSITIVITAS PEMERIKSAAN SITOLOGI PLEURITIS TUBERKULOSA Rizki Hanriko, Muhartono Fakultas Kedokteran Universitas Lampung ABSTRACT Tuberculous pleurosy is the most common manifestation of extrapulmonary tuberculosis and the most common cause of pleural effusion. But until now, clinical diagnosis is still difficult to enforce. This study aimed to determine sensitive value of citology examination in the diagnosis of tuberculous pleurosy compare with refference standar, clinical diagnose. The study was conducted at Urip Soemohardjo Hospital Bandar Lampung with period 1 Mei – 31 October 2011. Design research is diagnostic test. The sample in this study was 72 samples obtained by using n samples, then searched the results of tuberculous pleurosy using citology and clinical diagnose used 2x2 table. From the research results with citology examination and clinical diagnose showed positive tuberculous pleurosy are 37 cases (51.39%), to check positive citology whereas negative clinical diagnose of tuberculous pleurosy are 12 cases (16.67%), to provide inspection citology negative results of tuberculosis and tuberculous pleurosy positive clinical diagnose there were 3 cases (4.16%), while those giving negative results on both examinations is 20 cases (27.78%). The results obtained from diagnostic tests citology examination are the Sensitivity 92.5%, Specificity 62.5%, Positive Power Value 75.51%, Value of Negative Power 86.96%, Positive Probability Ratio 2.467, Negative Probability Ratio 0.12, and Accuracy 79.17%. From the results obtained it can be concluded that citology was sensitive, this suggest that cytologic examination can be used as supporting examination to help the diagnose of tuberculous pleurosy. Key words: Tuberculous pleurosy, Citology, Clinical Diagnose, Diagnostic test

PENDAHULUAN Pleuritis tuberkulosa merupakan manifestasi tersering dari tuberkulosis ekstra paru dan merupakan penyebab tersering dari terjadinya efusi pleura (Trajman et al., 2008). Pleuritis tuberkulosa memiliki angka kejadian 9,7 sampai 46 % dari seluruh pasien tuberkulosis (Sunggoro, 2008). Keterlibatan dari jaringan pleura sering terjadi pada tuberkulosis primer dan merupakan hasil dari penetrasi basil tuberkulosis ke dalam rongga pleura. Tergantung dari lamanya reaktivitas, efusi yang terjadi bisa saja sangat sedikit, hilang tak berbekas dan sembuh secara
ISBN 978-979-8510-34-2 Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV Hotel Marcopolo, Bandar Lampung, 29-30 November 2011 “Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Membangun Karakter Bangsa“

spesimen yang digunakan untuk dilakukan pemeriksaan penunjang adalah cairan pleura.. Dari pemeriksaan fisik ditemukan adanya dullness pada perkusi dan tidak terdengarnya suara nafas saat auskultasi. Tes-tes tersebut diketahui memiliki keterbatasan untuk kegunaan klinis. Di Bandar Lampung. nyeri dada pleuritik dan sesak nafas. Akan tetapi. namun. Dari pemeriksaan rontgen.. 2008). Pada salah satu penelitian disebutkan bahwa pada pemeriksaan mikroskopis cairan pleura untuk AFB positif pada <5% kasus pleuritis tuberkulosa. seorang dokter spesialis perlu melakukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti yang disebutkan diatas. diagnosis pleuritis tuberkulosa biasa ditegakkan oleh dokter spesialis penyakit dalam. Bandar Lampung. sputum atau jaringan pleura dan pemeriksaan histopatologi jaringan pleura untuk melihat peradangan granulomatosa.Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV “Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Membangun Karakter Bangsa“ BAGIAN I spontan atau bisa juga dalam jumlah yang besar dan menyebebkan gejala seperti demam. Saat ini. kultur mikobakterial dari cairan pleura. penegakkan diagnosis untuk pasien dengan tuberkulosis ekstra paru khususnya pleuritis tuberkulosa masih mengalami kesulitan. terdapat pemeriksaan sitologi yang juga dapat digunakan sebagai salah satu pemeriksaan 848 Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV Hotel Marcopolo. Tes diagnosis konvensional untuk pleuritis tuberkulosa antara lain adalah pemeriksaan mikroskopis dari cairan pleura untuk melihat AFB (Acid Fast Bacilli). yaitu sekitar 24-58%. Biopsi dari jaringan pleura untuk kombinasi pemeriksaan histologi dan kultur mikobakterium cairan pleura adalah yang paling sensitive dari pemeriksaan yang ada. kombinasi dari tes-tes tersebut diketahui sebagai standar terbaik untuk mengevaluasi keakuratan (Trajman et al. Disamping pemeriksaan yang telah disebutkan diatas. terkadang dokter masih sering menemukan kesulitan dalam menegakkan diagnosisnya. dan terbatas oleh panjangnya waktu dalam menunggu hasil. oleh karena keterbatasan pemeriksaan tersebut. Kultur mikobakterial juga memiliki sensitivitas yang rendah. akan tetapi masih memiliki false positif sebesar 15-20% (Trajman et al. Dalam proses penegakkannya. Biasanya. yaitu bisa sampai 8 minggu jika media kultur yang digunakan adalah media solid. 29 – 30 November 2011 . menunjukan adanya cairan dalam rongga dan pada sepertiga kasus menunjukkan adanya lesi parenkim (Horrison). 2008).

Bila dibandingkan dengan pemeriksaan yang lain. Bandar Lampung. terdapat sel histiosit yang dapat membentuk struktur epiteloid. nilai duga positif. namun sampai sekarang belum diketahui sensitifitasnya dalam mendeteksi adanya pleuritis tuberkulosa meski sensitivitas sitologi pleura dalam mendiagnosa keganasan serosa mencapai 58-71%. Oleh karena itu. Diharapkan sensitivitas sitologi adalah 70%. Populasi adalah pasien dengan efusi pleura selama periode Mei – Agustus 2011 yang datang ke Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandar Lampung. lebih cepat. rasio kemungkinan positif. 29 – 30 November 2011 849 . pemeriksaan ini jauh lebih mudah. nilai duga negatif. α = 5% dan presisi ditetapkan 15%. Penelitian dilakukan pada 1 Mei – 31 Oktober 2011. METODE PENELITIAN Desain penelitian yang digunakan ialah uji diagnostik. rasio kemungkinan negatif dan akurasi. granuloma dan sel datia benda asing Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV Hotel Marcopolo. kemudian data tersebut dianalisis dengan menggunakan uji statistik untuk menilai sensitivitas. karena tidak diketahui prevalensi pleuritis tuberkulosa dianggap 50%. Data yang telah diperoleh dari proses pengumpulan data akan diubah ke dalam bentuk tabel 2x2.BAGIAN I Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV “Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Membangun Karakter Bangsa“ penunjang lainnya yang dapat membantu dokter dalam menegakkan diagnosis pleuritis tuberkulosa. Pasien dengan efusi pleura dilakukan pemeriksaan sitologi dengan menggunakan cairan pleura eksudatif untuk mendeteksi pleuritis tuberkulosa dengan melihat adanya sel yang terlihat predominan limfosit. Maka sesuai rumus di atas jumlah sampel yang diperlukan sebanyak 72 subjek (Dahlan. peneliti sangat tertarik untuk mengetahui seberapa besar akurasi pemeriksaan sitologi ini dalam membantu penegakkan diagnosis pleuritis tuberkulosa. sedangkan pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus Uji diagnostik (sampel uji sensitivitas): Ingin diketahui nilai diagnostik pemeriksaan sitologi dalam mendiagnosa pleuritis tuberkulosa. dan lebih tidak invasive. spesifisitas. 2009). di bagian Laboratorium Patologi Anatomi Rumah Sakit Urip Soemohardjo Bandar Lampung.

16 kasus pada usia 41-50 tahun.39%) 4 (5. dan yang berjenis kelamin wanita adalah sebanyak 26 kasus (36. Gambar 1. Tabel 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil pengumpulan data yang dilakukan di Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandar Lampung periode 1 Mei – 31 Oktober 2011 didapatkan sampel sebanyak 72 subjek. didapatkan jumlah pasien efusi pleura yang berjenis kelamin pria adalah sebanyak 46 kasus (63. Bandar Lampung. 4 kasus pada usia 11-20 tahun.17%) 13 (18. 9 kasus pada usia 21-30 tahun.05%) Total 72 (100%) Dari data yang diperoleh (Gambar 1). 29 – 30 November 2011 .22%) 21 (29. Diagram distribusi pasien efusi pleura berdasarkan jenis kelamin 850 Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV Hotel Marcopolo.11%) 16 (22. 21 kasus pada usia 51-60 tahun. Distribusi Pasien Efusi Pleura Berdasarkan Usia Karakteristik Usia (tahun) 0-10 11-20 21-30 31-40 41-50 51-60 >60 Jumlah (kasus) 1 (1.89%).Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV “Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Membangun Karakter Bangsa“ BAGIAN I dengan latar belakang nekrotik kemudian di cross check dengan diagnosa klinis ahli paru sebagai refference standard.11%).56%) 9 (12. 8 kasus pada usia 31-40 tahun. dan 13 kasus pada usia diatas 60 tahun (Tabel 1). Berdasarkan distribusi usia terdapat 1 kasus yang terjadi pada usia antara 0-10 tahun.50%) 8 (11.

94% 68. Bandar Lampung. 31.44%) yang tidak terdiagnosis pleuritis tuberkulosa (Gambar 3).56% Diagnosis Klinis positif tuberkulosa Gambar 3. 29 – 30 November 2011 851 . Diagram distribusi pasien efusi pleura berdasarkan hasil diagnosis klinis Data yang didapat dari sampel penelitian kemudian dilakukan uji diagnostik dengan menggunakan tabel 2x2. Output data dari tabulasi silang antara pemeriksaan sitologi dan diagnosis klinis pleuritis tuberkulosa dapat diketahui bahwa sampel dengan hasil pemeriksaan sitologi suspek tuberkulosis dan Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV Hotel Marcopolo.94%) pasien efusi pleura yang diduga tidak menderita tuberculosis seperti disajikan dalam Gambar 2. 44.44% 55.06% Tuberkulosis Gambar 2. yaitu 40 kasus (55.BAGIAN I Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV “Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Membangun Karakter Bangsa“ Berdasarkan hasil dari pemeriksaan sitologi yang dilakukan. terdapat 49 kasus (68.56%) yang terdiagnosis pleuritis tuberkulosa dan 32 kasus (44. didapatkan hasil bahwa pasien efusi pleura suspek tuberkulosis yang tediagnosis pleuritis tuberkulosa berbanding lurus dengan hasil pemeriksaan sitologi. Diagram distribusi pasien efusi pleura berdasarkan hasil pemeriksaan sitologi Pada data yang didapatkan dari kroscek bagian paru melalui rekam medis pasien efusi pleura di Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandar Lampung setelah dilakukan pemeriksaan sitologi.06%) pasien efusi pleura yang diduga menderita tuberkulosis dan 23 kasus (31.

rasio kemungkinan negatif 0. spesifisitas 62.78% (Tabel 2).89%). Untuk sampel yang hasil pemeriksaan sitologinya suspek tuberkulosis tetapi diagnosis klinisnya bukan pleuritis tuberkulosa adalah sebanyak 12 kasus (16.16%) dan sampel dengan hasil pemeriksaan sitologinya memberikan gambaran non-tuberkulosis dan didiagnosis bukan pleuritis tuberkulosa adalah sebanyak 20 kasus atau 27. dan akurasi pemeriksaan sebesar 79. Pada suatu studi disebutkan bahwa usia rata-rata pasien dengan reaktivasi tuberkulosa adalah 44. nilai duga negatif 86. Hal ini disebabkan oleh karena pleuritis tuberkulosa dapat terjadi sebagai manifestasi dari tuberkulosis primer dan postprimer (reaktivasi) tuberkulosis paru. 29 – 30 November 2011 . Bandar Lampung.96%. nilai duga positif 75. hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya yang menyatakan bahwa penderita terbanyak dari pleuritis tuberkulosa berada pada kelompok usia 21-30 tahun. Pada pleuritis tuberkulosa yang terjadi sebagai manifestasi dari tuberkulosis primer. rasio kemungkinan positif 2.16%) 20 (27.Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV “Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Membangun Karakter Bangsa“ BAGIAN I diagnosis klinis positif pleuritis tuberkulosa adalah sebanyak 37 kasus (51. insiden pleuritis tuberkulosa meningkat pada usia 5-45 tahun. Dari hasil pengumpulan data yang dilakukan di Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandar Lampung periode 1 Mei – 31 Oktober 2011 didapatkan sampel sebanyak 72 subjek. Diagnosis Klinis Tuberkulosis Non-tuberkulosis 37 (51.39%). Distribusi pasien efusi pleura berdasarkan usia diperoleh pasien efusi pleura terbanyak terdapat pada kelompok usia 51-60 tahun dan terbanyak kedua pada usia 31-40 tahun.5%.67%).67%) 3 ( 4.12. yaitu 46 orang (63.17%. banyak terjadi pada usia anak-anak. sedangkan pada penelitian ini kelompok usia 21-30 tahun menempati tempat keempat.467. Hal ini sejalan dengan 852 Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV Hotel Marcopolo.6 tahun. Mayoritas penderita efusi pleura adalah pria.78%) 40 32 Total 49 23 72 Pemeriksaan Sitologi Tuberkulosis Non-tuberkulosis Total Dari perhitungan secara statistik didapatkan sensitivitas pemeriksaan sitologi pleuritis TB sebesar 92. Selain itu dapat dilihat pula untuk sampel yang hasil pemeriksaan sitologinya memberikan gambaran non-tuberkulosis akan tetapi didiagnosis pleuritis tuberkulosa adalah sebanyak 3 kasus (4. sedangkan pleuritis tuberkulosa yang terjadi akibat reaktivasi tuberkulosis biasa terjadi pada pasien dengan usia yang lebih tua.39%) 12 (16.5%.51%. Menurut Khatami (2002).

46% dari seluruh kejadian tuberkulosis. batuk. cepat dan tidak invasif dibanding dengan pemeriksaan lainnya untuk membantu menegakkan diagnosis pleuritis tuberkulosa. Hal ini ditentukan dengan melihat gambaran sitologi yang menunjukan adanya sel predominan limfosit. yaitu sebesar 44. didapatkan hasil pemeriksaan sitologi sebagian besar menunjukkan hasil yang positif yang mengarah ke diagnosis pleuritis tuberkulosa. Menurut Sunggoro (2008). dan dengan latar belakang yang nekrotik.44% dari sampel terdignosis pleuritis tuberkulosa. diagnosis dari penyakit ini masih sulit untuk ditegakkan. angka kejadian pleuritis tuberkulosa cukup tinggi.BAGIAN I Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV “Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Membangun Karakter Bangsa“ pendapat yang diungkapkan oleh Gustafson. Bandar Lampung. Pasien pleuritis tuberkulosa tidak memiliki gejala yang spesifik. Berbeda dengan pendapat Eylin (2010) yang menyatakan bahwa pada daerah-daerah dengan prevalensi tuberkulosis paru tinggi dan terutama pada pasien usia muda.58 kali untuk menderit tuberkulosis dibandingkan dengan wanita dimana hal ini mungkin berhubungan dengan interaksi sosial laki-laki lebih tinggi dibandingkan wanita sehingga memungkinkan transmisi tuberkulosis lebih besar. multinucleated giant cell. salah satunya adalah pemeriksaan sitologi yang merupakan alat bantu pemeriksaan yang mudah. et al (2003) yang menunjukkan bahwa laki-laki mempunyai risiko 2. yang juga didapatkan pada pasien dengan efusi pleura eksudatif dengan etiologi yang berbeda. yaitu 9. sebagian besar efusi pleura disebabkan bukan oleh pleuritis tuberkulosa. Soe (2010) juga menemukan bahwa pada suatu penelitian yang dilakukan sebelumnya menunjukan bahwa rasio limfosit sebesar 0. penurunan berat badan. Umumnya pasien pleuritis tuberkulosa memiliki gejala seperti demam. Dari hasil penelitian. nyeri dada. Diagnosis utamanya ditegakkan dengan Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV Hotel Marcopolo. Beberapa macam pemeriksaan kerap dilakukan untuk menunjang diagnosis penyakit ini.7. 29 – 30 November 2011 853 . Namun. Berdasarkan hasil diagnosis klinisnya. terdapat sel histiosit yang dapat membentuk struktur epiteloid.75 atau lebih pada efusi pleura dapat digunakan sebagai kombinasi parameter untuk mengkonfirmasi diagnosis. Hal ini disebabkan sebagian besar efusi pleura non tuberkulosa yang diperiksa merupakan metastase keganasan organ lain. sebagian besar efusi pleura disebabkan pleuritis tuberkulosa.

Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV “Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Membangun Karakter Bangsa“ BAGIAN I menemukan kuman tuberkulosis pada cairan efusi pleura. 2009).51%. Dengan demikian pemeriksaan sitologi kurang memiliki nilai diagnostik yang tinggi terhadap pleuritis tuberkulosa.5% saja.96%. karena syarat pemeriksaan dianggap memiliki nilai diagnostik bila nilai rasio kemungkinan positif >10 dan rasio kemungkinan negatif sekitar 0. Tuberculosa.96%. Dengan demikian masih cukup besar negatif palsu yang ditimbulkan oleh pemeriksaan sitologi ini. Dari hasil penelitian.5% .5%. artinya ketika hasil diagnosis sudah didapat maka kemungkinan hasil positif pleuritis tuberkulosa oleh sitologi benar-benar positif diagnosanya pleuritis tuberkulosa adalah sebesar 75. bila orang tersebut benar menderita pleuritis tuberkulosa maka kemungkinan pemeriksaan sitologi mendiagnosa orang tersebut pleuritis tuberkulosa sebesar 92. Ketika seseorang datang dengan efusi pleura kemudian akan dilakukan pemeriksaan sitologi. Tetapi spesifisitas pemeriksaaan sitologi hanya 62. Bandar Lampung. Dan biasanya ditegakkan oleh dokter ahli penyakit dalam setelah melakukan beberapa macam pemeriksaan penunjang. tetapi bila orang tersebut tidak menderita pleuritis tuberkulosa maka kemungkinan pemeriksan sitologi mendiagnosa bukan pleuritis tuberkulosa hanya 62. Rasio kemungkinan positif 2. artinya pemeriksaan sitologi sangat sensitif dalam mendiagnosa pasien dengan efusi pleura oleh M.5%.12.1 (Dahlan. Pada penelitian ini digunakan pemeriksaan sitologi sebagai salah satu pemeriksaan penunjang yang ternyata dapat digunakan dalam penegakkan diagnosis klinis pasien pleuritis tuberkulosa.12 artinya perbandingan antara hasil positif dan positif palsu pemeriksaan sitologi sebesar 2. Akurasi pemeriksaan sitologi pleuritis TB didapatkan 854 Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV Hotel Marcopolo. berarti kemampuan sitologi untuk mendiagnosa efusi pleura bukan disebabkan tuberkulosa pada pasien yang tidak menderita pleuritis tuberkulosa cukup rendah. Dari statistik didapatkan nilai duga positif 75.51% dan nilai duga negatif 86. 29 – 30 November 2011 . didapatkan sensitivitas pemeriksaan sitologi pleuritis tuberkulosa sebesar 92. dan bila pemeriksaan sitologi bukan pleuritis tuberkulosa maka diagnosanya benar-benar bukan pleuritis tuberkulosa adalah sebesar 86.467 dan rasio kemungkinan negatif 0.467 dan perbandingan antara hasil negatif palsu dan negatif pada pemeriksaan sitologi pleuritis tuberkulosa sebesar 0.

2 No.ac.com/ Soe Z. Buku Ajar Patologi. Cotran RS. berarti pemeriksaan ini dapat digunakan dalam menunjang penegakan diagnosa pleuritis tuberkulosa meskipun kurang memiliki nilai diagnostik.uk/content/31/5/1098. pp. Shiraz University of Medical Sciences : 79-81. Smit RVZ. A Study on Tuberculous Pleural Effusion. Moe S. Sunggoro. Bandar Lampung.sums.17%. 24 Januari 2008. Trajman A.pdf.S.ersj.blogspot. Dheda K.full.org. 3 Juli 2002. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan sitologi pleuritis tuberkulosa memiliki sensitivitas yang tinggi yaitu sebesar 92.Cetakan Pertama. 2010. Pai M. Jakarta.12. 29 – 30 November 2011 855 . Edisi 2. DAFTAR PUSTAKA Dahlan. ERS Journals. 2007. Kalantri S. Shwe WH. 2008. International Journal of Collaborative Research on Internal Medicine & Public Health Vol. Salemba Medika: Jakarta Depkes RI. Pemeriksaan sitologi pleuritis tuberkulosa cukup akurat meskipun kurang memiliki diagnostik yang tinggi karena rasio kemungkinan positif hanya 2. Dahlan.5%. Salemba Medika : Jakarta. Diakses pada tanggal 27 Februari 2011. Novel tests for diagnosing tuberculous pleural effusion: what works and what does not?. http://semj. Pp 43-44.exomedindonesia. 2009. penelitian diagnostik. 2006. Diakses tanggal 27 Februari 2011. Shiraz E Medical Journal. 31: 1098-1106. http://agusjati. http://www. Eylin. Pleuritis Toberculosis. Zwerling AA. Menzies D. 3 (March 2010) . Daley P.htm. EGC. Khatami. European Respiratory Journal . Efusi Pleura. Robbins SL.com/referensi-kedokteran/artikel-ilmiahkedokteran/pulmonologi-ilmu-penyakit-dalam/2010/10/29/efusi-pleura/ Kumar V. Diakses pada tanggal 27 Februari 2011.2009. M. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.467 meskipun rasio kemungkinan negatif mencapai 0.ir/vol3/jul2002/PleuralTB.S. Pleuritis TB.BAGIAN I Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV “Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Membangun Karakter Bangsa“ sebesar 79.A. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. Diakses pada tanggal 27 februari 2011. Besar Sampel dan Cara Pengambilan Sampel Dalam Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV Hotel Marcopolo. Joshi R. 32-48. M. Interna UI. http://www.J. K.

jaga sanitasi lingkungan dan hygiene perorangan. kok beda-beda? 2. hindari rokok. biaya dan tenaga. waktu. 856 Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV Hotel Marcopolo. Semakin tinggi sensitivitas yang diinginkan (hipotesis) dan presisi semakin kecil otomatis jumlah sampel akan semakin banyak dan waktu dan biaya akan semakin besar. 29 – 30 November 2011 . Penelitian ini berupa penelitian uji diagnostik dengan sampel uji sensitivitas. Penetapan sampel tergantung jenis penelitian. terakhir tingkatkan daya tahan tubuh dengan konsumsi makanan sehat dan olahraga. Bandar Lampung. bagaimana caranya kita untuk menghindarinya? Jawaban : 1. Phd: Bagaimana cara menetapkan sampel. DR. Rohmah.Prosiding : Seminar Nasional Sains & Teknologi – IV “Peran Strategis Sains & Teknologi dalam Membangun Karakter Bangsa“ BAGIAN I DISKUSI SEMINAR Pertanyaan: 1. Hendri B: Pleuritis TB paling banyak menimpa laki-laki. Jumlah sampel tergantung kemampuan peneliti. Pleuritis TB disebabkan BTA M Tuberculose. 2. harus menghindari faktor risiko terkena TBC: hindari kontak dengan penderita TBC.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful