PERENCANAAN KEBUTUHAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU SUSU UHT (Ultra High Temperature) PADA PT.

INDOLAKTO - SUKABUMI

Oleh : MIA WIDHI ASTUTI A14102009

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

RINGKASAN MIA WIDHI ASTUTI. Perencanaan Kebutuhan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Susu UHT (Ultra High Temprature) Pada PT. Indolakto-Sukabumi. (Di bawah bimbingan SRI HARTOYO) Susu UHT merupakan hasil dari perkembangan teknologi pengolahan susu, yaitu melalui proses pengolahan pada suhu tinggi dan dalam waktu yang singkat (135-145 derajat Celsius) selama 2-5 detik (Amanatidis dalam Republika Juli 2005). Perkembangan teknologi susu khususnya untuk susu UHT mendapat perhatian yang serius dari pemerintah mengingat konsumsi susu cair masyarakat Indonesia masih tergolong rendah, yaitu 62 juta liter per tahun. Oleh karena itu, pemerintah akan mengambil tanggung jawab untuk mengkampanyekan kebiasaan minum susu UHT. Seiring dengan berkembangnya perusahaan pengolahan susu menyebabkan persaingan semakin meningkat sehingga keunggulan kompetitif menjadi penting. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah pengembangan keragaan manajemen produksi dan operasi organisasi melalui manajemen produksi dan persediaan. PT. Indolakto merupakan salah satu produsen susu UHT yang sedang berkembang. Adanya perubahan permintaan konsumen terhadap susu UHT seringkali menuntut pihak perusahaan untuk melakukan perubahan terhadap rencana produksinya (revisi rencana produksi). Selain itu, kebijakan perusahaan menyangkut perencanaan kebutuhan dan pengendalian persediaan bahan baku sering dihadapkan pada kendala investasi yang terlalu banyak atau menekan persediaan. Masing- masing akan memiliki konsekuensi terhadap biaya persediaan, kelancaran produksi dan pelayanan kepada pelanggan. Untuk itu, diperlukan sistem pengendalian persediaan yang optimal sehingga perusahaan mampu meningkatkan efisiensi produksi dan meminimalkan biaya produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menganalisis sistem pengadaan dan pengendalian bahan baku susu UHT yang dilakukan perusahaan. (2) Mengetahui apakah ada suatu rencana yang lebih tepat untuk mengatasi adanya perubahanperubahan permintaan konsumen terhadap produk susu UHT pada PT. Indolakto. (3) Mengetahui implikasi dari hasil perencanaan yang lebih tepat tersebut dalam menentukan alternatif tingkat persediaan bahan baku PT. Indolakto untuk periode selanjutnya. (4) Menganalisis sistem pengendalian persediaan bahan baku yang optimal dilihat dari biaya persediaan. Jenis data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari PT. Indolakto yang berlokasi di Jalan Raya Siliwangi, Cicurug, Sukabumi pada bulan April - Mei 2006 melalui hasil pengamatan dan wawancara dengan karyawan, manajer, dan kepala divisi yang berkaitan. Data sekunder diperoleh dari buku-buku, hasil laporan penelitian terkait, catatan perusahaan, literatur perusahaan dan instansi terkait serta literatur lainnya. Data kuantitatif diolah dengan menggunakan program Microsoft Excel dan Minitab 14. Untuk menganalisis metode pengendalian persediaan bahan baku perusahaan di tahun 2005 akan digunakan model MRP teknik EOQ, dan PPB. Setelah itu dipilih satu model alternatif untuk digunakan dalam analisis pengendalian persediaan bahan baku di tahun 2006 berdasarkan perencanaan bahan baku hasil peramalan dekomposisi aditif.

2

Data produksi susu UHT PT. Indolakto (tahun 2000-2005) adalah tidak stasioner, memiliki unsur tren dan musiman. Hal ini ditunjukkan dari sebaran data produksi yang tidak berada disekitar garis lurus dan memiliki kecenderungan meningkat serta nilai koefisien autokorelasi yang membentuk suatu siklus yang memiliki titik tertinggi, terendah dan berulang setiap tahunnya. Metode peramalan yang digunakan adalah metode dekomposisi aditif. Model ramalan yang terbentuk adalah Ýt = 503951 + (23683.6 x t) + IMTt. Penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan, yaitu sistem pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku susu UHT di PT. Indolakto belum optimal dari segi biaya persediaan. Hal ini ditunjukkan dari tingginya biaya persediaan yang dihasilkan perusahaan dibandingkan sistem pengendalian menggunakan metode MRP teknik EOQ dan PPB. Rencana produksi susu UHT untuk periode tahun 2006 diperoleh dari pengurangan jumlah produksi hasil ramalan dan persediaan akhir (persediaan pengaman) dengan persediaan awal tahun 2006. Persediaan pengaman dihitung berdasarkan tingkat pelayanan perusahaan di tahun 2005 yaitu 102.97 persen. Perencanaan kebutuhan bahan baku SMP dan gula diturunkan dari rencana produksi susu UHT. Proporsi SMP dan gula dalam 1 kilogram susu UHT masingmasing sebesar 9 persen dan 6 persen. Ada suatu rencana yang lebih tepat untuk mengatasi adanya perubahanperubahan permintaan konsumen terhadap produk susu UHT pada PT. Indolakto, yaitu melalui metode peramalan dekomposisi aditif. Metode peramalan tersebut menghasilkan penyimpangan yang rendah. Perencanaan kebutuhan bahan baku susu UHT pada PT. Indolakto melalui proyeksi hasil peramalan dekomposisi aditif untuk periode tahun 2006 menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan bahan baku (SMP dan gula) akibat dari meningkatnya jumlah produksi susu UHT di tahun 2006. Total produksi susu UHT pada tahun 2006 diperkirakan naik 21.47 persen menjadi 27 983 916.89 kg. Produksi puncak perusahaan diperkirakan terjadi pada bulan September 2006. Metode MRP teknik PPB merupakan model alternatif yang digunakan untuk menganalisis pengendalian persediaan bahan baku berdasarkan hasil ramalan tahun 2006 karena model tersebut terbukti menghasilkan penghematan terhadap biaya persediaan dan biaya pembelian perusahaan pada tahun 2005. Sementara hasil analisis pengendalian persediaan bahan baku pada tahun 2006 dengan metode PPB masih memberikan penghematan terhadap biaya persediaan dan biaya pembelian perusahaan Oleh karena itu metode MRP teknik PPB direkomendasikan sebagai model alternatif dalam sistem pengendalian persediaan bahan baku yang optimal dilihat dari biaya persediaan bahan bakunya. Penggunaan metode MRP teknik PPB dapat dijadikan alternatif bagi pengendalian persediaan perusahaan karena metode ini menghasilkan periode gabungan yang akan meminimumkan biaya persediaan (biaya pemesanan dan biaya penyimpanan). Metode ini lebih dinamis dalam menyeimbangkan antara biaya pemesanan dan biaya penyimpanan yang dikeluarkan perusahaan. Selain itu, metode PPB dapat lebih fleksibel dalam penggabungan kebutuhan bersih SMP dan gula selama periode tertentu jika terjadi perubahan biaya persediaan. Metode PPB juga dapat menggabungkan periode gabungan lebih dari satu periode kebutuhan bersih bahan baku.

3

PERENCANAAN KEBUTUHAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU SUSU UHT (Ultra High Temperature) PADA PT. INDOLAKTO - SUKABUMI

SKRIPSI Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh : MIA WIDHI ASTUTI A14102009

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

4

Judul Skripsi : Perencanaan Kebutuhan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Susu UHT (Ultra High Temperature) Pada PT. Indolakto – Sukabumi Nama : Mia Widhi Astuti NRP : A14102009

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir Sri Hartoyo, MS NIP. 131 124 021

Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. H. Supiandi Sabiham, MAgr NIP. 130 422 698

Tanggal lulus : ________________

5

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “PERENCANAAN KEBUTUHAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU SUSU ULTRA HIGH TEMPERATURE PADA PT. INDOLAKTO-SUKABUMI” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA

PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, Juni 2006

Mia Widhi Astuti. A14102009

6

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 31 Mei 1984 di Praya, Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Penulis yang bernama lengkap Mia Widhi Astuti adalah anak kedua dari dua bersaudara pasangan ayahanda I Made Subamia dan ibunda Yuni Astuti. Penulis memulai pendidikan dasar di SD Negeri 2 Sumbawa Besar tahun 1990 hingga tahun 1992, kemudian penulis pindah ke SDN 6 Sumbawa Besar hingga t hun 1996. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan pada sekolah a menengah pertama di SLTP Negeri 1 Sumbawa Besar hingga tahun 1999. Pada tahun 2002 penulis menamatkan pendidikan menengah atas pada SMU Negeri 1 Mataram, kemudian pada tahun yang sama melanjutkan studi di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada Program Studi Manajemen Agribisnis, Departemen Ilmu- ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian. Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif di organisasi kemahasiswaan, seperti Himpunan Peminat Ilmu- ilmu Sosial Ekonomi Pertanian (MISETA) periode 2003-2004 sebagai staf IT (Information Technology) Departemen Informasi, Student Company Archipelago (GLOBE) UKM Century pada periode 2003-2004 sebagai staf divisi Finance, UKM Century periode 2004-2005 sebagai ketua divisi IT, klub fotografi (LENSA) periode 2004-2005, Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) periode 2004-2005 sebagai staf Departemen Informasi dan Komunikasi, dan terakhir menjadi anggota Ikatan Mahasiswa Masyarakat (IMMA) NTB-Bogor periode 2005-2006.

7

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... i UCAPAN TERIMAKASIH.................................................................................. ii DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii DAFTAR TABEL ................................................................................................ iv DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. v DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ vi

I.

PENDAHULUAN Latar Belakang ............................................................................................... Perumusan Masalah Penelitian ....................................................................... Tujuan Penelitian ............................................................................................ Kegunaan Penelitian........................................................................................ Batasan Penelitian ..........................................................................................

1 4 6 7 7

II.

TINJAUAN PUSTAKA Persediaan........................................................................................................ 9 2.1.1 Pengertian dan Peran Persediaan ................................................ 9 2.1.2 Bahan Baku ................................................................................ 9 2.1.3 Fungsi persediaan ....................................................................... 10 2.1.4 Jenis dan Tipe Persediaan .......................................................... 10 2.1.5 Biaya Persediaan ........................................................................ 11 Model Pengendalian Persediaan ..................................................................... 11 Perencanaan Kebutuhan Bahan ( MRP) ......................................................... 12 2.3.1 Economic Order Quantity (EOQ) .............................................. 14 2.3.2 Lot For Lot ................................................................................. 15 2.3.3 Part Periode Balancing (PPB) ................................................... 16 Peramalan dan Perencanaan............................................................................ 17 2.4.1 Peran Peramalan.......................................................................... 17 2.4.2 Metode- metode Peramalan.......................................................... 18 2.4.3 Identifikasi Pola Data .................................................................. 19 2.4.4 Metode Kausal ............................................................................ 20 2.4.5 Metode Time Series .................................................................... 21 2.4.6 Pemilihan Metode Peramalan ...................................................... 22 Hasil Penelitian yang Relevan ........................................................................ 22 Keunggulan Penelitian ................................................................................... 26 Kerangka Pemikiran Penelitian ...................................................................... 26

8

III. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian .......................................................................... 32 Jenis dan Sumber Data ................................................................................... 32 Model Analisa Data ........................................................................................ 33 3.3.1 Identifikasi Sistem Pengadaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Perusahaan ............................................................. 33 3.3.2 Analisis Kuantitatif Pengendalian Persediaan Bahan Baku........ 33 3.3.3 Ana lisis Perbandingan Biaya dan Penghematan ........................ 37 3.3.4 Rekomendasi Model Alternatif Pengendalian Persediaan Berdasarkan Data Historis .......................................................... 37 3.3.5 Peramalan Produksi .................................................................... 38 3.3.6 Metode Dekomposisi .................................................................. 38 3.3.7 Analisis Kuantitatif Pengendalian Persediaan Bahan Baku Berdasarkan Hasil Ramalan ....................................................... 39 3.4 Definisi Operasional ............................................................................. 40 IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 4.1 Sejarah Perkembangan Perusahaan ...................................................... 39 4.2 Lokasi Perusahaan dan Tata Letak Bangunan ...................................... 40 4.2.1 Lokasi Perusahaan ...................................................................... 41 4.2.2 Tata Letak Bangunan ................................................................. 41 4.3 Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan .............................................. 42 4.3.1 Struktur Organisasi ................................................................... 43 4.3.2 Sistem Ketenagakerjaan ........................................................... 44 4.3.2.1 Tenaga Kerja .................................................................... 44 4.3.2.2 Strata Pendidikan Pekerja ................................................ 45 4.3.2.3 Waktu Kerja dan Sistem Intensif .................................... 45 4.3.2.4 Jaminan Kesejahteraan dan Masa Cuti ............................ 47 4.4 Proses Produksi ..................................................................................... 48 V. SISTEM PENGADAAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PERUSAHAAN 5.1 Penyimpanan dan Penggunaan Bahan ................................................. . 53 5.2 Jenis dan Asal Bahan Baku ................................................................. . 54 5.3 Biaya-biaya Persediaan ......................................................................... 58 5.3.1 Biaya Pemesanan ........................................................................ 58 5.3.2 Biaya Penyimpanan .................................................................... 60 5.4 Prosedur Pengadaan dan Penerimaan Bahan Baku ............................... 62 5.5 Pengendalian Kualitas Bahan Baku ...................................................... 65

VI. ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PERUSAHAAN Pengendalian Persediaan Bahan Baku Perusahaan ........................................ 67 Metode Material Requirement Planning (MRP) ............................................ 71 6.2.1 Metode MRP Teknik Economic Order Quantity (EOQ) ........... 73 6.2.2 Metode MRP Teknik Part Period Balancing (PPB) .................. 74 Analisis Perbandingan Metode Pengendalian Persediaan .............................. 76

9

Rekomendasi Alternatif Metode Pengendalian Persediaan Bahan Baku Berdasarkan Data Historis Perusahaan Tahun 2005 ............................................ 78 VII. PERENCANAAN BAHAN BAKU Peramalan Produksi ........................................................................................ 80 7.1.1 Identifikasi Pola Data ................................................................. 80 7.1.2 Peramalan Produksi ………………………………………….... 82 Perencanaan Produksi .................................................................................... 86 Perencanaan Kebutuhan Bahan ..................................................................... 88 Pengendalian Persediaan Bahan Baku Berdasarkan Metode MRP Teknik PBB untuk Periode Selanjutnya .......................................................................... 90 Analisis Perbandingan Metode Pengendalian Persediaan.............................. 93 Rekomendasi Alternatif Metode Pengendalian Persediaan Bahan Baku untuk Periode Selanjutnya ................................................................................... 94 VIII. KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan .......................................................................................... 96 8.2 Saran .................................................................................................... 97 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 98 LAMPIRAN ........................................................................................................100

10

DAFTAR TABEL

Nomor Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 8. Tabel 9.

Hal Produksi dan Konsumsi Susu (Indonesia) ............................................ 2 Tabel Penentuan Ukuran Lot dengan Menggunakan EPP .................. 16 Format Rencana MRP ......................................................................... 34 Spesifikasi Fresh Milk yang diterima PT. Indolakto........................... 54 Standar Mutu Skim Milk Powder (SMP) PT. Indolakto...................... 57 Standar Mutu Gula PT. Indolakto ....................................................... 58 Biaya Pemesanan Bahan Baku PT. Indolakto per Pesanan ................ 60 Biaya Penyimpanan Bahan Baku PT. Indolakto per tahun ................. 62 Persediaan Akhir Bahan Baku SMP dan Gula Selama Tahun 2005 ... 69

Tabel 10. Biaya Persediaan Bahan Baku per tahun periode 2005 menggunakan Metode perusahaan ..................................................... 70 Tabel 11. Biaya Pembelian SMP dan Gula dengan Metode Perusahaan Tahun 2005 ......................................................................................... 71 Tabel 12. Biaya Persediaan SMP dan Gula dengan Metode EOQ Tahun 2005 . 73 Tabel 13. Biaya Persediaan SMP dan Gula dengan Metode PPB Tahun 2005... 75 Tabel 14. Perbandingan Frekuensi, Biaya Persediaan Total SMP dan Gula Tahun 2005.......................................................................................... 77 Tabel 15. Penghematan Biaya Persediaan dengan Metode MRP Teknik EOQ dan PPB ...................................................................................... 77 Tabel 16. Hasil Peramalan Produksi Susu UHT Periode Tahun 2006 dengan Metode Dekomposisi Aditif ................................................... 83 Tabel 17. Perbandingan Hasil Ramalan dengan Data Aktual Produksi Susu UHT PT. Indolakto Bulan Januari - Maret 2006................................. 86 Tabel 18. Jumlah Penjualan, Produksi, Persediaan Pengaman, dan Rencana Produksi Susu UHT PT. Indolakto Tahun 2006 ................................. 87 Tabel 19. Rencana Produksi (kg) dan Rencana Kebutuhan Bahan Baku (kg) Hasil Proyeksi Bulanan Tahun 2006 ................................................... 89

11

Tabel 20. Biaya Persediaan SMP dan Gula dengan Metode MRP teknik PPB tahun 2006 ................................................................................... 92 Tabel 21. Biaya Pembelian SMP dan Gula dengan Metode PPB Tahun 2006 ... 92 Tabel 22. Perbandingan Biaya Persediaan Total SMP dan Gula Metode PPB Tahun 2006 dengan Metode Perusahaan Tahun 2005 ........................ 93

12

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Hal

Gambar 1. .................................................................................................................. B iaya Persediaan ........................................................................................................................13 Gambar 2. .................................................................................................................. P enggunaan Peramalan Permintaan dalam Subsistem Produksi Operasi .............................................................................................. 18 Gambar 3. .................................................................................................................. P ola Permintaan terhadap Suatu Barang atau Jasa .............................. 19 Gambar 4. .................................................................................................................. B agan Kerangka Pemikiran ................................................................. 27 Gambar 5. .................................................................................................................. B agan Kerangka Operasional Penelitian ............................................. 31 Gambar 6. .................................................................................................................. P lot Data Produksi Susu UHT PT. Indolakto Periode 2000-2005 ...... 80 Gambar 7. Plot Data Hasil Peramalan Produksi Susu UHT PT. Indolakto Periode Tahun 2006 .......................................................................... 84 Gambar 8. .................................................................................................................. P lot Data Aktual, Ramalan dan Error dari Data Produksi Susu UHT PT. Indolakto Periode Tahun 2000-2005 ................................. 85

13

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Hal

Lampiran 1. Denah Lokasi Pabrik PT. Indolakto ............................................. 100 Lampiran 2. Denah Tata Letak Pabrik PT. Indolakto ........................................ 101 Lampiran 3. Bagan Struktur Organisasi PT. Indolakto ..................................... 102 Lampiran 4. Diagram Alir Proses Pengolahan Susu UHT ................................ 103 Lampiran 5. Bagan Alir Prosedur Penerimaan Bahan Baku di Warehouse Raw Material ................................................................................. 104 Lampiran 6. Perbandingan Antara Merode Pengendalian Persediaan Pada Keseluruhan Persediaan SMP dan Gula Tahun 2005.................... 105 Lampiran 7. Data Produksi Bulanan Susu UHT PT. Indolakto Tahun 20002005 ............................................................................................... 106 Lampiran 8. Plot Autokorelasi (ACF) dan Autokorelasi Parsial (PACF) Produksi Susu UHT....................................................................... 108 Lampiran 9. Hasil Differensing pertama Autokorelasi (ACF d1) dan Autokorelasi Parsial (PACF d1).................................................... 109 Lampiran 10. Perbandingan Nilai MSE dari Beberapa Model Time Series yang Diujikan ................................................................................ 110 Lampiran 11. Suku Bunga Simpanan Berjangka Rupiah Bank Umum (12 Bulan) Tahun 2005 ................................................................. 110 Lampiran 12. Metode Dekomposisi Model Aditif (L= 12) ................................. 111 Lampiran 13. Penentuan Ukuran Lot dengan Menggunakan EPP untuk Bahan Baku SMP Tahun 2005 ................................................................. 116 Lampiran 14. Penentuan Ukuran Lot dengan Menggunakan EPP untuk Bahan Baku Gula...................................................................................... 116 Lampiran 15. MRP untuk Bahan Baku SMP dengan Teknik EOQ Tahun 2005
(EOQ SMP = 36 199.35 kg) (buffer stock = 86 389.30 kg) ................. 117

Lampiran 16. MRP untuk Bahan Baku Gula dengan Teknik EOQ Tahun 2005
(EOQ Gula = 51 683.53 kg) (buffer stock = 28 796.43 kg) .................. 117

Lampiran 17. Biaya Pembelian SMP dan Gula dengan Metode EOQ Tahun 2005

14

Lampiran 18. MRP Teknik PPB yang disesuaikan untuk Bahan Baku SMP Tahun
2005 dengan sediaan pengaman 50% ................................................ 118

Lampiran 19. MRP Teknik PPB yang disesuaikan untuk Bahan Baku Gula Tahun
2005 (buffer 25%) ........................................................................... 118

Lampiran 20. Biaya Pembelian SMP dan Gula dengan Metode PPB Tahun 2005 ............................................................................................... 118 Lampiran 21. Penentuan Ukuran Lot dengan Menggunakan EPP untuk Bahan Baku SMP Tahun 2006 ................................................................. 119 Lampiran 22. Penentuan Ukuran Lot dengan Menggunakan EPP unt uk Bahan Baku Gula Tahun 2006 ................................................................. 119 Lampiran 23. MRP Teknik PPB yang disesuaikan untuk Bahan Baku SMP Tahun 2006 dengan sediaan pengaman 50% ................................ 120 Lampiran 24. MRP Teknik PPB yang disesuaikan untuk Bahan Baku Gula Tahun 2006 (buffer 25%) .............................................................. 120

15

I. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Susu merupakan bahan pangan yang banyak mengandung unsur-unsur

penting yang diperlukan tubuh seperti: protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin dan unsur penting lainnya. Mengkonsumsi susu memberikan banyak manfaat, diantaranya mengurangi resiko kanker usus dan rectum (hasil penelitian di Harvard School of Public Health and Women), mencegah osteoporosis, hipertensi dan dianjurkan dalam DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) 1 , mempunyai kemampuan untuk mengikat polutan yang membantu mengurangi dampak buruk polusi, serta mampu meningkatkan tubuh

memproduksi melatonin di malam hari yang berfungsi sebagai hormon sekaligus antioksidan yang membuat tubuh bisa beristirahat. Upaya penggalakan minum susu dirintis oleh Prof. Poorwo Sudarmo (Bapak Gizi Indonesia) yang mencetuskan Empat Sehat Lima Sempurna pada tahun 1950-an. Berdasarkan jenisnya, susu yang kini beredar meliputi susu bubuk, susu kental manis, susu pasteur isasi dan susu Ultra Hight Temperature (UHT). Susu UHT merupakan hasil dari perkembangan teknologi pengolahan susu, yaitu melalui proses pengolahan pada suhu tinggi dan dalam waktu yang singkat (135145 derajat Celsius) selama 2-5 detik 1 . Susu UHT memiliki keunggulan dalam hal penyimpanan yang lebih tahan lama (lebih dari 6 bulan tanpa disimpan dalam mesin pendingin), berkualitas tinggi, bebas dari mikroorganisme, dan adanya pengurangan waktu produksi, serta meminimalisasi jeda waktu antara pengiriman dan pendinginan. Susu UHT biasanya dikemas dengan kemasan aseptik yang
1

Republika,19 Juli 2005

16

membuat susu dapat dikonsumsi kapan saja tanpa memerlukan alat pendingin khusus. Perkembangan teknologi susu khususnya untuk susu UHT mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Pemerintah akan mengambil tanggung jawab untuk mengkampanyekan kebiasaan minum susu UHT2). Mengingat pentingnya manfaat dan kegunaan dari susu dalam kehidupan sehari- hari, maka peluang dalam agroindustri susu masih terbuka lebar. Hal ini juga didukung oleh jumlah konsumsi susu nasional pada Tabel 1 yang

menunjukkan peningkatan meskipun pada tahun 1996, 1997, 1998, dan 2001 mengalami penurunan. Penurunan terbesar terjadi pada tahun 1998, yaitu 219 100 ton dari konsumsi tahun 1997 yang dipengaruhi oleh terjadinya krisis moneter. Tabel 1. Produksi dan Konsumsi Susu (Indonesia) Tahun 1994-2004 (000 ton)
Tahun Produksi Nasional 1995 433.4 1996 441.2 1997 423.7 1998 375.4 1999 436.0 2000 495.7 2001 479.9 2002 493.4 2003 553.4 2004* 596.3 Sumber : Deptan, 2004 Keterangan : * Angka sementara 2004 Impor 974.7 739.4 692.8 588.0 822.0 1 479.8 1 476.0 1 382.6 1 425.2 1 425.2 Ekspor 0.0 0.0 0.0 66.0 142.0 575.5 693.0 609.6 461.2 461.2 Konsumsi Nasional 1 408.1 1 180.6 1 116.5 897.4 1 116.0 1 400.0 1 262.9 1 266.4 1 517.4 1 560.3

Produksi susu nasional juga mengalami peningkatan meskipun beberapa tahun tertentu mengalami penurunan yang tidak terlalu signifikan. Berdasarkan Tabel 1 terlihat bahwa impor susu Indonesia masih terus meningkat. Dengan kata lain, produksi susu dalam negeri masih belum dapat memenuhi konsumsi dalam negeri itu sendiri sehingga masih terbuka peluang untuk mengembangkan usaha pengolahan susu di Indonesia. Masyarakat Indonesia lebih memilih

mengkonsumsi susu olahan. Selain itu, berdasarkan hasil survei perusahaan riset
2

Kompas, 19 April 2004

17

pasar global Canadean pada tahun 2004 3), konsumsi susu cair penduduk Indonesia baru mencapai 62 juta liter per tahun. Sementara Amerika Serikat (AS) mencapai 22 350 juta liter, India 42 001 juta liter, Cina 6 345 juta liter, Pakistan 28 671 juta liter, Spanyol 4 577 juta liter. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi susu cair masyarakat Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara lain. Seiring dengan berkembangnya perusahaan pengolahan susu

menyebabkan persaingan dalam industri tersebut semakin meningkat. Keunggulan kompetitif perusahaan akan menjadi penting untuk dapat bertahan dalam industri tersebut. Salah satu strategi yang dapat diterapkan untuk mendapatkan keuntungan dari pengembangan organisasi dalam globalisasi adalah pengembangan keragaan manajemen produksi dan operasi organisasi. Manajemen produksi dan persediaan sangat memainkan peranan penting dalam penciptaan keunggulan kompetitif dari industri karena mempengaruhi formulasi dari strategi- strategi bisnis industri. Pengendalian persediaan bahan baku merupakan bagian dari manajemen produksi dalam rangka memenuhi jumlah persediaan bahan baku, waktu, dan kualitas yang tepat. Bahan baku industri merupakan sumberdaya yang dapat memberikan value added komoditas/produk bila dipergunakan secara efisien dan efektif. Bahan baku membentuk bagian menyeluruh dari produk jadi sehingga ketersediaan bahan baku sangat menunjang dalam menghasilkan produk jadi. Kelebihan persediaan mengakibatkan adanya biaya ekstra dari sudut biaya penyimpanan dan opportunity cost yang disebabkan nilai investasi pada persediaan yang menga nggur sebenarnya dapat dialokasikan untuk kepentingan lain. Sebaliknya jika terjadi kekurangan persediaan dapat menghambat beberapa

3

Pikiran Rakyat, 30 April 2005

18

hal, diantaranya proses produksi, pemenuhan permintaan pelanggan, dan peningkatan biaya pemesanan sejalan dengan meningkatnya frekuensi pembelian. Dalam rangka menciptakan keunggulan kompetitif melalui manajemen pengendalian persediaan, maka diperlukan suatu perencanaan yang tepat. Perencanaan dan pengendalian untuk operasi menuntut penaksiran atas permintaan akan produk atau jasa yang diharapkan akan disediakan organisasi di masa mendatang (Buffa dan Sarin, 1996). Peramalan atau penaksiran bisnis ekonomi akan sangat membantu manajer untuk pengambilan keputusan dalam strategi bisnis. Kebutuhan akan peramalan meningkat sejalan dengan usaha manajemen untuk mengurangi ketergantungan pada hal- hal yang belum pasti. Peramalan menjadi lebih ilmiah sifatnya dalam menghadapi lingkungan manajemen, karena setiap bagian organisasi berkaitan satu sama lain, baik buruknya ramalan dapat mempengaruhi seluruh bagian organisasi (Makridakis et al, 1999). Salah satu manfaat yang diperoleh melalui peramalan adalah manajer dapat memperkirakan kebutuhan bahan baku untuk memenuhi permintaan dan menentukan jumlah produksi berdasarkan hasil ramalan. Peningkatan efisiensi produksi akan dapat tercapai ketika ramalan yang akurat diperoleh sehingga pengalokasian biaya yang sia-sia dapat diminimalisir bahkan dihilangkan.

1.2

Perumusan masalah PT. Indolakto merupakan salah satu produsen susu UHT yang sedang

berkembang. Untuk menghadapi persaingan dalam industri susu UHT, PT. Indolakto merasa perlu menciptakan keunggulan kompetitif. Salah satunya melalui manajemen produksi dan persediaan yang optimal, yaitu melalui

19

perencanaan kebutuhan dan pengendalian persediaan bahan baku susu UHT. Hal ini didasari dari beberapa permasalahan dalam manajemen produksi dan persediaan yang dihadapi PT. Indolakto, diantaranya: perubahan permintaan konsumen akan produk susu UHT, kapasitas gudang bahan baku yang tidak dapat menampung seluruh bahan baku yang diterima, dan keterlambatan kedatangan bahan baku dari pemasok. Ketersediaan bahan baku sangat menunjang kelancaran produksi perusahaan, terlebih ketersediaan untuk bahan baku utama. Skim Milk Powder (SMP) dan gula merupakan baha n baku utama dalam memproduksi susu UHT. Pada waktu-waktu tertentu perusahaan mengalami keterlambatan kedatangan bahan baku yang menghambat jalannya operasi dan di lain waktu, perusahaan mengalami kelebihan bahan baku dan produk jadi susu UHT yang disimpan di gudang sehingga mengakibatkan tingginya biaya penyimpanan perusahaan dan berakibat pada berkurangnya keuntungan yang diperoleh perusahaan. Oleh karena itu, masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana sistem pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku susu UHT yang dilakukan oleh PT. Indolakto. Pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku susu UHT yang baik membutuhkan perencanaan yang tepat. Perencanaan kebutuhan bahan baku dapat diturunkan dari perencanaan produksi produk jadi perusahaan. Adanya perubahan permintaan konsumen yang cepat terhadap produk jadi susu UHT yang di produksi oleh PT. Indolakto seringkali menuntut pihak perusahaan untuk melakukan perubahan terhadap rencana produksinya (revisi rencana produksi). Menghadapi kondisi perusahaan dengan perubahan-perubahan tersebut maka

20

dibutuhkan suatu metode peramalan yang akurat, yaitu metode peramalan yang menghasilkan penyimpangan/selisih terkecil antara nilai ramalan dan nilai aktualnya. Sehingga masalah berikutnya yang dikaji dalam penelitian ini adalah adakah suatu rencana yang lebih tepat untuk mengatasi adanya perubahanperubahan permintaan konsumen terhadap produk susu UHT serta implikasi dari hasil perencanaan tersebut dalam menentukan alternatif tingkat persediaan bahan baku PT. Indolakto untuk periode selanjutnya. Kebijakan perusahaan menyangkut perencanaan kebutuhan dan

pengendalian persediaan bahan baku sering kali dihadapkan pada dua kendala, yaitu jika perusahaan menginvestasikan dana terlalu banyak dalam persediaan bahan baku dengan tujuan memenuhi kepuasan konsumen, maka akan menimbulkan biaya yang besar terutama biaya penyimpanan. Sebaliknya jika perusahaan berupaya menekan persediaan dengan tujuan menurunkan biaya produksi, maka akan menimbulkan risiko tidak tersedianya produk untuk menjamin kelancaran produksi dan ketersediaan produk dalam memenuhi kepuasan konsumen. Untuk itu, diperlukan sistem pengendalian persediaan yang optimal dilihat dari biaya yang dikeluarkan karena adanya persediaan. Melalui sistem penge ndalian persediaan yang optimal tersebut diharapkan perusahaan mampu meningkatkan efisiensi produksi dan meminimalkan biaya produksinya.

1.3

Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk :

1. Menganalisis sistem pengadaan dan pengendalian bahan baku susu UHT yang dilakukan perusahaan.

21

2. Mengetahui apakah ada suatu rencana yang lebih tepat untuk mengatasi adanya perubahan-perubahan permintaan konsumen terhadap produk susu UHT pada PT. Indolakto. 3. Mengetahui implikasi dari hasil perencanaan yang lebih tepat tersebut dalam menentukan alternatif tingkat persediaan bahan baku PT. Indolakto untuk periode selanjutnya. 4. Menganalisis sistem pengendalian persediaan bahan baku yang optimal dilihat dari biaya persediaan.

1.4

Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi perusahaan, penulis

maupun pembaca. Bagi perusahaan, penelitian ini diharapkan dapat membantu manajer dalam memberikan alternatif metode peramalan produksi yang akurat dan model pengendalian persediaan bahan baku yang optimal sehingga dapat meminimumkan biaya produksi perusahaan. Bagi penulis, penelitian ini berguna untuk menambah pengalaman dan sarana dalam menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah. Selain itu diharapkan penelitian ini juga dapat bermanfaat bagi pembaca sebagai sumber informasi mengenai peramalan produksi dan pengendalian pesediaan bahan baku serta sebagai masukan bagi penelitianpenelitian selanjutnya.

1.5

Batasan Penelitian Secara umum, produk yang dihasilkan oleh PT. Indolakto adalah susu

kental manis (SKM) dan susu Ultra High Temperature (UHT). Penelitian ini difokuskan pada produk susu UHT dengan formula recombined. Hal ini didasari

22

atas kecenderungan konsumsi masyarakat Indonesia yang meningkat terhadap susu cair olahan, salah satunya adalah susu UHT. Kajian yang dibahas dalam penelitian ini meliputi perencanaan kebutuhan dan pengendalian bahan baku khususnya bahan baku skim milk powder (SMP) dan gula yang merupakan bahan baku utama dalam memproduksi susu UHT dengan formula recombined.

23

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 2.1.1 Persediaan Pengertian dan Peran Persediaan Persediaan didefinisikan sebagai aktiva yang meliputi barang jadi, barang dalam proses dan bahan baku yang digunakan untuk tujuan tertentu seperti untuk proses produksi atau perakitan, untuk dijual, dan untuk suku cadang dari suatu peralatan atau mesin (Assauri, 1999; Herjanto, 1999; Rangkuti, 2004). Persediaan merupakan salah satu unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan yang secara kontinu diperoleh, diubah, yang kemudian dijual kembali (Assauri, 1999). Dua alasan yang diutarakan Assauri (1999) mengenai perlunya persediaan bagi suatu perusahaan pabrik yaitu (1) waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan operasi produksi dari suatu tingkat ke tingkat proses yang lain dan (2) alasan organisasi perusahaan.

2.1.2

Bahan Baku Pengertian dari bahan baku meliputi semua bahan yang dipergunakan

dalam perusahaan pabrik, kecuali terdapat bahan-bahan yang secara fisik akan digabungkan dengan produk yang dihasilkan oleh perusahaan pabrik tersebut (Assauri, 1999). Perusahaan yang memiliki penguasaan atas produksi bahan baku sendiri dapat lebih menjamin ketersediaan bahan baku dibandingkan bila pengadaan bahan baku tersebut dilakukan melalui pembelian. Namun bagi perusahaan yang pengadaan bahan bakunya berasal dari pembelian, maka kegiatan pembelian mempunyai peran yang sangat penting. Pembelian merupakan kegiatan yang penting bagi perusahaan karena berkaitan dengan penjadwalan dan pengendalian pemasok (Gaspersz, 2002).

24

2.1.3

Fungsi persediaan Efisiensi operasional organisasi dapat ditingkatkan karena berbagai fungsi

penting persediaan. Menurut Handoko (2000) dan Rangkuti (2004) serta Heizer and Render (2004), fungsi persediaan terdiri atas (1) fungsi decoupling, dimana adanya kebebasan dalam operasi internal dan eksternal perusahaan; (2) fungsi economic lot sizing, dimana mempertimbangkan penghematan atau potongan pembelian; (3) fungsi antisipasi, diperlukan dalam menghadapi ketidakpastian jangka waktu pengiriman dan permintaan barang-barang selama periode pemesanan.

2.1.4

Jenis dan Tipe Persediaan Persediaan dapat dikelompokkan berdasarkan jenis dan posisi barang

tersebut di dalam urutan pengerjaan produk, yaitu (1) persediaan bahan baku (Raw materials stock), yaitu barang-barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi, (2) persediaan bagian produk atau parts yang dibeli (purchased parts/komponents stock) yang terdiri dari parts yang diterima dari perusahaan lain, (3) persediaan barang-barang pelengkap (supplies stock) atau bahan penolong yang diperlukan dalam proses produksi, (4) persediaan barang setengah jadi atau barang dalam proses (work in process/progress stock) yang keluar dari tiap-tiap bagian dalam satu pabrik, dan (5) persediaan barang jadi (finished goods stock) yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual kepada pelanggan atau perusahaan lain (Assauri, 1999; Handoko 2000 dan Rangkuti 2004).

25

2.1.5

Biaya Persediaan Menurut Handoko (2000) dan Rangkuti (2004), ada beberapa hal yang

harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan besarnya jumlah persediaan, biaya-biaya variabel yaitu (1) biaya penyimpanan (holding cost/carrying cost) yang terdiri atas biaya-biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan, (2) biaya pemesanan atau pembelian (ordering costs/procurement cost) meliputi proses pesanan dan biaya ekspedisi, upah, biaya telepon, pengeluaran surat-menyurat, biaya pengepakan dan penimbangan, biaya pemeriksaan (inspeksi) penerimaan, biaya pengiriman ke gudang, biaya utang lancar dan sebagainya, (3) biaya penyiapan (manufacturing) atau set-up cost yang tediri dari biaya mesin- mesin menganggur, biaya persediaan tenaga kerja langsung, biaya penjadwalan, biaya ekspedisi dan sebagainya, dan (4) biaya kehabisan atau kekurangan bahan (shortage cost) yang timbul apabila persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan dan termasuk biaya kekurangan bahan adalah kehilangan penjualan, kehilangan pelanggan, biaya pemesanan khusus, biaya ekspedisi, selisih harga, terganggunya operasi, tambahan pengeluaran kegiatan manajerial dan sebagainya

2.2

Model Pengendalian Persediaan Pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting

karena melibatkan sejumlah investasi yang besar. Tujuan pengendalian persediaan yaitu meminimalkan investasi dalam sediaan, namun tetap konsisten dengan penyediaan tingkat layanan yang diminta (Harding, 2001). Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan model pengendalian persediaan yang tepat. Dalam model pengendalian persediaan perlu diketahui mengenai sifat dari permintaan untuk

26

suatu barang. Permintaan tersebut dapat bersifat independent (bebas) atau dependen (terikat). Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2005), permintaan independent atas persediaan adalah untuk jenis barang-barang akhir dan permintaannya tidak tegantung (bebas) dari permintaan akan barang lainnya. Sedangkan permintaan dependent atas persediaan adalah untuk jenis-jenis persediaan komponen, bahan baku, dan barang dalam proses yang digunakan dalam produksi untuk menghasilkan barang jadi. Permintaan untuk jenis barang dengan permintaan terikat ini sangat tergantung dari permintaan jenis barang dengan permintaan bebas. Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2005), model yang digunakan untuk analisis pengendalian persediaan pada barang dengan sifat permintaan independent adalah model perhitungan jumlah pemesanan kembali seperti sistem pemesanan tetap, sistem produksi tumpukan (batch), sistem periodik tetap, dan sistem minimum- maksimum. Sedangkan model pengendalian barang denga n sifat permintaan dependent menggunakan Material Requirement Planning (MRP). Beberapa model yang banyak digunakan dalam penentuan lot dalam MRP adalah model Economic Order Quantity (EOQ), Lot For Lot, dan Part Periode Balancing (PPB).

2.3

Perencanaan Kebutuhan Bahan (MRP) Menurut Buffa (1996), Herjanto (1999), Rangkuti (2004), Indrajit dan

Djokopranoto (2005), MRP merupakan metode perencanaan dan pengendalian pesanan dan persediaan untuk barang-barang dengan sifat permintaan dependent (terikat) dimana permintaan cenderung tidak berlanjut ke permintaan barang lain dan jumlahnya tertentu pada satuan waktu tertentu pula. Sasaran manajerial dalam

27

menggunakan MRP adalah menghindari kehabisan sediaan sehingga produksi berjalan mulus, sesuai rencana, dan menekan investasi sediaan bahan baku dan barang setengah jadi (Buffa, 1996). Jenis-jenis barang yang cocok untuk MRP adalah komponen produk yang tercantum dalam daftar bahan produk (product’s bill of materials) yang menunjukkan kebergantungan dari komponen-kompone n sub rakitan terhadap produk akhir (Buffa, 1996 dan Rangkuti, 2004). MRP merupakan sistem penjadwalan mundur yang dimulai dengan produk akhir, kemudian dikerjakan mundur yaitu menuju bahan baku melalui berbagai tingkat pabrikan dan pabrikasi. MRP memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan sistem ukuran pesanan tetap untuk pengendalian barang-barang produksi. Kelebihan tersebut antara lain dapat mengurangi persediaan dan biaya gabungannya (inventory holding cost) karena biaya itu hanya sebesar materi dan komponen yang dibutuhkan (Rangkuti, 2004). Selain itu, kelebihan MRP dalam menangani barang-barang dengan permintaan terikat (Heizer and Render, 2004) adalah (1) meningkatkan pelayanan dan kepuasan pelanggan, (2) meningkatkan kegunaan fasilitas dan tenaga kerja, (3) perencanaan dan penjadwalan persediaan yang lebih baik, (4) respon lebih cepat terhadap perubahan pasar, dan (5) mengurangi tingkat persediaan tanpa mengurangi pelayanan kepada pelanggan. Lebih lanjut Heizer and Render (2004) menegaskan beberapa hal yang harus diketahui manajer dalam merancang model persediaan terikat yang efektif yaitu (1) jadwal produksi induk/master production schedule (MPS) yang berkaitan dengan apa yang harus dibuat dan kapan, (2) spesifikasi daftar bahan/bill of materials (BOM) yang berkaitan dengan kebutuhan produk, (3) persediaan yang tersedia/inventory availibility, (4) perjanjian pesanan

28

pembelian/purchase orders outstanding, (5) waktu ancang-ancang (lead time), yang dibutuhkan untuk memperoleh barang.

2.3.1

Economic Order Quantity (EOQ) Model EOQ merupakan teknik pengendalian persediaan tertua dan paling

umum dikenal (Herjanto, 1999). Teknik ini sering digunakan dalam persediaan barang-barang bebas dan dapat juga digunakan dalam teknik penentuan lot. Menurut Heizer dan Render (2004), beberapa asumsi yang digunakan dalam teknik EOQ antara lain (1) diketahuinya tingkat permintaan dan bersifat konstan, (2) waktu tenggang (lead time) bersifat konstan, (3) persediaan diterima dengan segera dalam bentuk kumpulan produk pada satu waktu, (4) diskon tidak diberikan, (5) biaya variabel yang muncul hanya biaya pemasangan atau pemesanan dan biaya penahanan atau penyimpanan persediaan, dan (6) keadaan kehabisan stok (kekurangan) dapat dihindari sama sekali bila pemesanan dilakukan pada waktu yang tepat.
Biaya Total Biaya Total Biaya Penyimpanan

Biaya Pemesanan

EOQ

Q (kuantitas)

Gambar 1. Biaya Persediaan Sumber: Rangkuti, 2004

Metode EOQ digunakan untuk menentukan kuantitas pesanan persediaan yang meminimumkan biaya langsung penyimpanan persediaan dan biaya

29

kebalikannya

(inverse

cost)

pemesanan

persediaan

(Handoko,

2000).

Meminimumkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan, dapat berarti meminimumkan biaya total. Gambar 1 menunjukkan hubungan antara biaya penyimpanan (holding/carrying cost) dan biaya pemesanan (ordering atau set up cost), dalam bentuk grafik. Kuantitas pesanan tetap yang meminimumkan biaya tersebut terjadi pada saat kurva biaya pemesanan dan kurva biaya penyimpanan berpotongan, yaitu pada saat total biaya pemesanan sama dengan total biaya penyimpanan. Ukuran lot dengan biaya minimum diperoleh pada saat turunan pertama dari biaya total terhadap kuantitas (Q) tahunan sama dengan nol (Buffa, 1996; Herjanto, 1999; Rangkuti, 2004).

2.3.2

Lot For Lot Dalam teknik ini, ukuran satu batch yang dipilih untuk memenuhi

kebutuhan bersih satu periode tunggal. Kebijakan Lot For Lot hanya efektif, bilamana biaya awal (penyetelan) sangat kecil dibandingkan dengan biaya penyimpanan (Buffa, 1996). Pemesanan dilakukan tepat sebesar yang dibutuhkan, tanpa persediaan pengaman dan tanpa antisipasi atas pesanan lebih lanjut. Prosedur semacam ini konsisten dengan ukuran lot kecil, pesanan berkala, persediaan tepat waktu rendah, dan permintaan terikat (Heizer dan Render, 2004). Teknik Lot For Lot berusaha menghilangkan biaya penyimpanan atas persediaan yang dipegang melewati suatu persediaan. Menurut Herjanto, 1999 biaya yang ditanamkan dalam persediaan barang terikat dapat ditekan dengan teknik ini, apabila perusahaan mampu memiliki persediaan dengan kondisi dan

30

sifat yang sesuai. Teknik ini tidak dapat mengambil keuntungan ekonomis yang berhubungan dengan ukuran pesanan tetap.

2.3.3

Part Periode Balancing (PPB) Teknik penyeimbangan bagian periode merupakan pendekatan yang lebih

dinamis yaitu menyeimbangkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan. Menurut Herjanto (1999), metode PPB secara sederhana menambahkan kebutuhan sampai nilai bagian periode mencapai Economic Part Period (EPP), yang merupakan rasio antara biaya pemesanan dengan biaya penyimpanan. Prinsip dari teknik ini adalah mencoba menggabungkan suatu periode dengan periode berikutnya kemudian menghitung kumulatif bersih dari periode gabungan tersebut serta kumulatif bagian periodenya. Kumulatif bagian periode diperoleh dengan mengakumulasikan perkalian kebutuhan suatu periode dengan periode tambahan yang ditanggung. Tabel 2. menunjukkan penentuan ukuran lot dengan menggunakan EPP. Bagian periode yang paling mendekati nilai EPP merupakan gabungan periode yang dipilih (Herjanto, 1999). Besar pesanan adalah sebesar kebutuhan bersih kumulatif yang dilakukan sebelum kebutuhan tersebut terjadi, dengan harapan akan diterima tepat pada awal periode gabungan tersebut dan akan digunakan selama periode gabungan. Tabel 2. Penentuan Ukuran Lot dengan Menggunakan EPP
Periode Kebutuhan
A B C 1999

Lama Penyimpanan (Periode)
0 1 2

Periodebagian
A x (0) B x (1) C x (2)

Akumulasi periode-bagian
A x (0) A x (0) + B x (1) A x (0) + B x (1) + C x (2)

1 1, 2 1, 2, 3 Sumber: Herjanto,

31

2.4

Peramalan dan Perencanaan Pengertian peramalan menurut Indrajit dan Djokopranoto (2005) adalah

kegiatan yang berhubungan dengan meramalkan atau memproyeksikan hal- hal yang terjadi di masa lampau ke masa depan. Menurut Sugiarto (2000) peramalan merupakan studi terhadap data historis untuk menemukan hubungan,

kecenderungan dan pola sistematis. Peramalan merupakan seni dan ilmu dalam memprediksi kejadian yang mungkin dihadapi pada masa yang akan datang dan menjadi dasar dalam penyusunan rencana (Assauri, 1999).

2.4.1

Peran Peramalan Dalam dunia bisnis, hasil peramalan mampu memberikan gambaran

tentang masa depan perusahaan yang memungkinkan manajemen membuat perencanaan, menciptakan peluang bisnis maupun mengatur pola investasi mereka (Sugiarto et al, 2000). Salah satu peran peramalan adalah penyusunan rencana, dimana perencanaan yang dibuat oleh perusahaan salah satunya adalah perencanaan produksi. Menurut Assauri (1999), dalam menentukan atau merencanakan jumlah hasil yang akan diproduksi umumnya sangat ditentukan oleh jumlah atau besarnya permintaan akan produk tersebut. Oleh karena itu setiap perusahaan selalu memperkirakan atau meramalkan jumlah permintaan dari produknya. Berdasarkan jumlah permintaan yang diramalkan untuk operasi, maka subsistem produksi operasi merencanakan dan merancang sistem, menjadwalkan sistem dan mengendalikan sistem tersebut yang pada akhirnya akan menentukan hasil keluaran berupa barang dan jasa (Gambar 2).

32

Informasi tentang permintaan yang ada dan produksi

Peramalan Permintaan untuk Operasi

Perencanaan/Perancangan Sistem Perancangan produk Perancangan proses Investasi & penggantian peralatan Perencanaan kapasitas

Penjadwalan Sistem Perencanaan produksi agregat Penjadwalan operasi

Pengendalian Sistem Pengendalian produksi Pengendalian persediaan Pengendalian tenaga kerja Pengendalian biaya

Keluaran Berupa Barang atau jasa

Gambar 2. Penggunaan Peramalan Permintaan dalam Subsistem Produksi Operasi Sumber: Assauri, 1999

2.4.2

Metode – metode Peramalan Secara umum terdapat dua macam metode peramalan menurut Gaynor dan

Kirkpatrick (1994), yaitu: (1) Peramalan kualitatif, didasarkan pada intuisi atau pengalaman empiris dari perencana atau pengambil keputusan, sehingga relatif bersifat subjektif. Kelemahan metode ini adalah dapat memberikan hasil yang tidak baik ketika beberapa individu tertentu mendominasi proses peramalan melalui reputasi, kekuatan pribadi, atau posisi strategis dalam organisasi. Biasanya peramalan secara kualitatif didasarkan atas hasil penyelidikan seperti: Delphi, S Curve, Analogies dan penelitian bentuk Morphological research, atau didasarkan atas ciri-ciri normatif seperti decision matrices atau decisions trees. (2) Peramalan kuantitatif, didasarkan atas data kuantitatif pada masa lalu, sehingga lebih bersifat objektif. Kualitas hasil ramalan sangat bergantung pada kualitas data dan metode yang digunakan, yaitu sangat ditentukan oleh perbedaan atau penyimpangan antara hasil ramalan dengan kenyataan yang terjadi. Metode

33

yang baik adalah metode yang memberikan nilai- nilai perbedaan atau penyimpangan serendah mungkin. Menurut Makridakis et al (1999), syarat-syarat kondisi penerapan peramalan kua ntitatif yaitu (1) tersedia informasi masa lalu, (2) informasi tersebut dapat dikuantitatifkan dalam bentuk data numerik, dan (3) pola data masa lalu akan berkelanjutan pada masa yang akan datang.

2.4.3

Identifikasi Pola Data Menurut Assauri (1999), prakiraan atau peramalan permintaan suatu

barang atau jasa membutuhkan informasi tentang pola permintaan terhadap barang atau jasa tersebut. Pola permintaan terhadap suatu barang atau jasa dapat berbentuk garis trend linear sesuai dengan perkembangan waktu, dan dapat berbentuk musiman atau tetap selalu konstan (Gambar 3). Untuk melihat pola permintaan terhadap barang atau jasa tersebut, maka dibutuhkan informasi tentang permintaan akan barang atau jasa tersebut selama ini.
Trend Linear Musiman Permintaan Produk Konstan

Waktu

Gambar 3. Pola Permintaan terhadap suatu barang atau jasa Sumber: Assauri (1999)

Identifikasi pola data dilakukan untuk memahami perilaku data time series dan membantu dalam penentuan metode peramalan yang terbaik. Menurut Makridakis (1999), pola data kuantitas memiliki empat unsur, yaitu (1) pola horizontal/konstan, terjadi bila nilai data berfluktuasi disekitar nilai rata-rata yang konstan; (2) pola musiman, terjadi bila suatu deret dipengaruhi oleh faktor

34

musiman (kuartal tahun tertentu, bulanan, atau h ari-hari pada minggu tertentu); (3) pola siklis, terjadi bila data dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi jangka panjang seperti yang berhubungan dengan siklus bisnis; dan (4) pola trend, terjadi bilamana terdapat kenaikan atau penurunan sekuler jangka panjang dalam data.

2.4.4

Metode Kausal Menurut Makridakis (1999), metode ini mencoba mengajukan variabel

lain yang berkaitan dengan rangkaian data dan mengembangkan suatu model yang menyatakan adanya saling ketergantungan fungsional diantara semua variabel terebut. Metode peramalan kausal/sebab-akibat juga didasarkan dari data yang lalu, tetapi menggunakan data dari variabel yang lain yang menentukan atau mempengaruhi pada masa depan (Assauri, 1984). Metode kausal yang dapat digunakan dapat berupa : (1) Metode regresi, yaitu mencoba memperkirakan keadaan di masa yang akan datang dengan menemukan dan mengukur beberapa faktor bebas (independen) yang penting beserta pengaruh mereka terhadap variabel tidak bebas (dependen) yang akan diramalkan (Makridakis et al, 1999). Metode ini banyak digunakan untuk meramalkan penjualan, perencanaan keuntungan, peramalan permintaan dan peramalan keadaan ekonomi. (2) Metode ekonometri, yaitu menggabungkan teori ekonomi dengan alat-alat matematis dan statistik untuk menganalisis hubungan ekonomi (Pappas & Hirschey, 1995). Menurut Assauri (1999) metode ekonometri didasarkan atas peramalan pada sistem persamaan regresi yang diestimasi secara simultan. Metode ini memiliki variabel eksogen dan variabel endogen. Metode ini juga dipergunakan untuk peramalan penjualan menurut kelas produk, atau peramalan keadaan ekonomi masyarakat, seperti permintaan, harga dan

35

penawaran. (3) Metode Input – Output, yaitu menganalisis arus barang dan jasa antar industri dalam perekonomian atau antar departemen dari suatu organisasi besar yang ditunjukkan oleh tabel input-output. Menurut Assauri (1984) metode ini dipergunakan untuk menyusun proyeksi trend ekonomi jangka panjang. Metode ini banyak dipergunakan untuk peramalan penjualan perusahaan, penjualan sektor industri dan subsektor industri.

2.4.5

Metode Time Series Metode peramalan time series merupakan bagian dari peramalan

kuantitatif dengan menggunakan data-data masa lalu dalam membuat ramalan untuk masa depan dengan mengidentifikasikan pola data historis dan mengekstrapolasi pola tersebut untuk masa mendatang (Buffa et al, 1996). Menurut Sugiarto et al (2000), beberapa asumsi penting yang mendasari penggunaan metode time series antara lain (1) adanya ketergantungan kejadian masa yang akan datang dengan masa sebelumnya, (2) aktivitas di masa yang akan datang mengikuti pola yang terjadi di masa lalu, (3) hubungan atau keterkaitan masa lalu dan masa kini dapat ditentukan dengan observasi atau penelitian. Beberapa metode time series adalah metode naïve, metode rata-rata sederhana/simple average, metode rata-rata bergerak sederhana/simple moving average, metode rata-rata bergerak ganda/double moving pemulusan eksponensial/exponential exponential smoothing, average, metode eksponensial tunggal:

pemulusan

tunggal/ single

smoothing,

pemulusan

eksponensial

pendekatan adaptif, double exponential smoothing: metode linear satu-parameter dari Brown, pemulusan eksponensial ganda: metode dua parameter dari Holt, pemulusan eksponensial tripel: metode kuadratik satu-parameter dari Brown,

36

triple

Exponential

Smoothing

(Winters),

metode

dekomposisi,

model

Autoregresisve Integrated Moving Average (ARIMA).

2.4.6

Pemilihan Metode Peramalan Penggunaan peramalan dalam pengambilan keputusan merupakan hal

yang sangat penting sehingga pemilihan teknik dan metode peramalan yang tepat sangat diperlukan untuk pemecahan suatu masalah atau keadaan tertentu. Ada enam faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metode peramalan (Assauri, 1984), yaitu : (1) Horison waktu, (2) Pola data, (3) Jenis dari model, (4) Biaya, (5) Ketepatan (accuracy), (6) Mudah tidaknya penggunaan atau aplikasinya. Ukuran-ukuran akurasi model peramalan dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar (Aritonang, 2002), yaitu: ukuran yang bersifat mutlak, terdiri atas mean error (ME), mean absolute error (MAE), mean squared error (MSE) dan ukuran yang bersifat relatif terdiri dari mean percentage error (MPE), mean absolute percentage error (MAPE), U dari Theil dan McLaughlin Batting Average (MBA). Dari semua ukuran tersebut ukuran yang lebih lazim digunakan adalah MSE, dengan pedoman bahwa semakin kecil nilai MSE berarti model itu semakin tepat untuk digunakan.

2.5

Hasil penelitian yang relevan Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian

Widyastuti (2001) dengan judul Sistem Pengendalian Persediaan Bahan Baku Susu Kental Manis, studi kasus PT. Indolakto, Sukabumi. Penelitian tersebut menggunakan analisis EOQ, persediaan pengaman (safety stock), dan titik

37

pemesanan kembali (reorder point). Bahan baku yang menjadi fokus dalam penelitian tersebut adalah susu segar, gula, skimmed milk powder (SMP). Hasil penelitian ini me nyatakan bahwa kebijakan perusahaan terhadap pengendalian persediaan belum optimal dan perusahaan perlu mengurangi persediaan pengaman untuk ketiga bahan baku tersebut. Astuti (2002), menganalisis pengendalian persediaan bahan baku susu bubuk, studi kasus: PT. Mirota KSM Inc., Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menggunakan metode EOQ dan model persediaan probabilistik (persediaan pengaman dan titik pemesanan kembali). Bahan baku yang menjadi fokus penelitian adalah Full Cream Milk Powder (FCMP) dan Skimmed Milk Powder (SMP) yang masing- masing didatangkan dari Australia dan New Zealand. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan metode EOQ jumlah pemesanan bahan baku memiliki kuantitas yang lebih kecil dengan frekuensi pemesanan optimal yang lebih sering dibanding jumlah dan frekuensi pemesanan bahan baku yang dilakukan perusahaan. Jika perusahaan mengadakan persediaan pengaman (dengan perhitungan metode EOQ) maka persediaan pengaman yang optimal bagi perusahaan adalah 41 255.4 kg untuk FCMP dan 19 834 kg untuk SMP asal New Zealand. Sedangkan FCMP dan SPM asal Australia masing- masing 38 270 Kg dan 21 261 Kg. Pemesanan kembali kepada pemasok di New Zealand dilakukan pada saat FCMP dan SMP asal New Zealand di gudang masing- masing berjumlah 169 304.8 Kg dan 90 972.5 Kg. Sedangkan pemesanan kembali kepada pemasok di Australia terjadi saat FCMP dan SMP asal Australia di gudang masing- masing berjumlah 220 804.4 Kg dan 122 669 Kg.

38

Rajagukguk (2004), menganalisis pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku susu olahan (studi kasus di PT. Indomilk). Penelitian tersebut bertujuan mengetahui pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku susu olahan yang dilakukan di PT. Indomilk, kemudian menganalisis besarnya biaya yang dikeluarkan dalam rangka pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku dengan metode MRP teknik EOQ dan Part Period Balancing (PPB) serta membandingkan model aternalif pengendalian persediaan bahan baku yang efektif dan efisien pada perusahaan. Teknik Lot For Lot yang prinsipnya tidak memerlukan adanya persediaan di gudang tiap periodenya tidak digunakan dalam penelitian tersebut karena kebijakan PT. Indomilk menginginkan adanya persediaan pengaman dalam pelaksanaan proses produksinya. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa metode MRP memberikan penghematan yang cukup besar terutama dengan teknik EOQ jika dibandingkan dengan metode yang digunakan perusahaan selama ini. Sary (2004), menganalisis mengenai peramalan produksi dan pengendalian persediaan bahan baku kelapa pada PT. Riau Sakti United Plantations. Penelitian tersebut memperkirakan kebutuhan bahan baku kelapa yang diturunkan dari hasil peramalan produksi perusahaan tahun 2004 dengan metode ARIMA sehingga perusahaan dapat menentukan persediaan bahan baku yang optimal. Metode pengendalian persediaan yang digunakan adalah metode Material Requirement Planning (MRP) dengan teknik EOQ, Lot For Lot, dan PPB. Teknik pengendalian persediaan kelapa yang dilakukan perusahaan selama ini adalah menggunakan teknik Lot For Lot. Total biaya persediaan terendah diperoleh dengan metode PPB yaitu sebesar 1.2 miliyar rupiah. Dengan menggunakan metode PBB, perusahaan

39

dapat menghemat biaya persediaan sebesar 6.8 persen yaitu dari 1.271 miliyar rupiah menjadi 1.18 miliyar rupiah. Widowati (2004) dengan penelitiannya yang berjudul “Perencanaan Kebutuhan dan Pengendalian Persediaan Benang Sebagai Bahan Baku Produk Tekstil Pada PT. Asaputex Nusantara, Tegal, Jawa Tengah” menganalisis sistem pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku perusahaan dalam rangka memberikan model alternatif pengendalian persediaan bahan baku yang dapat meminimumkan biaya persediaan dan pembelian bahan baku perusahaan dengan analisis MRP teknik Lot For Lot, EOQ, dan PPB. Selain itu, penelitian tersebut juga melakukan perencanaan produksi, perencanaan kebutuhan bahan baku dan pengendalian persediaan bahan baku pada periode selanjutnya berdasarkan

peramalan penjualan dengan metode trend. Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa metode LFL dan PPB merupakan metode yang dapat direkomendasikan sebagai alternatif alat pengendalian persediaan benang perusahaan untuk periode operasi tahun 2004 karena memberikan penghematan terbesar yaitu 77.67 persen terhadap biaya persediaan perusahaan dan 6.77 persen terhadap biaya pembelian. Namun dalam pelaksanaannya, metode PPB lebih sesuai untuk diterapkan karena lebih dinamis dalam menyeimbangkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan benang perusahaan. Selain itu, metode PPB lebih fleksibel dalam penggabungan kebutuhan bersih benang selama periode tertentu jika terjadi perubahan biaya persediaan yang diakibatkan oleh peningkatan biaya pemesanan benang. Berdasarkan hasil- hasil penelitian terdahulu mengenai perencanaan

kebutuhan dan pengendalian persediaan bahan baku, dapat disimpulkan bahwa umumnya model analisis untuk persediaan bahan baku adalah model MRP. Model

40

MRP teknik LFL cocok digunakan pada perusahaan yang melakukan pemesanan hanya sejumlah kebutuhan bersihnya atau tanpa sediaan pengaman. Model MRP teknik PPB lebih fleksibel dalam menggabungkan kebutuhan bersih selama periode tertentu dan lebih dinamis dalam menyeimbangkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan.

2.6

Keunggulan Penelitian Keunggulan penelitian ini, yaitu mengkaji sistem pengendalian persediaan

PT. Indolakto untuk periode tahun 2005 yang menjadi dasar dalam melakukan perencanaan kebutuhan bahan baku dan pengendalian persediaan bahan baku tersebut pada periode tahun 2006. Penelitian ini tidak hanya menganalisis kebijakan pengendalian persediaan perusahaan juga melakukan perencanaan terhadap kebutuhan bahan baku utama susu UHT dan menganalisis kembali pengendalian persediaan bahan baku tersebut.

2.7

Kerangka Pemikiran Pe nelitian Bahan baku merupakan unsur yang penting dalam proses produksi

perusahaan. Untuk menghasilkan produk susu UHT dibutuhkan beberapa bahan baku utama diantaranya Skim Milk Powder (SMP) dan gula. Ketersediaan bahan baku tersebut sangat menunjang dalam perencanaan produksi perusahaan. Rencana produksi yang dibuat oleh perusahaan dihasilkan dari estimasi permintaan konsumen akan susu UHT. Estimasi yang tidak tepat akan menyebabkan perusahaan beroperasi secara tidak efisien. Oleh karena itu dibutuhkan suatu estimasi yang menghasilkan penyimpangan terkecil.

41

Berdasarkan rencana produksi tersebut, perusahaan merencanakan kebutuhan bahan baku SMP dan gula. Dalam merencanakan kebutuhan bahan baku perusahaan sangat diperlukan suatu sistem pengendalian persediaan bahan baku yang tepat agar aktivitas produksi perusahaan berjalan denga n efisien. Sitem pengendalian persediaan bahan baku tersebut dapat dianalisis dengan beberapa model- model system pengendalian persediaan, diantaranya model EOQ dan MRP teknik PPB. Berdasarkan model- model tersebut diharapkan dapat dihasilkan suatu model alternative yang menghasilkan system pengendalian persediaan yang optimal.
INPUT PROSES OUTPUT

Bahan Baku Susu UHT

Rencana Produksi UHT Sistem Model Pengendalian Persediaan Optimal

SMP

GULA Estimasi Permintaan Konsumen

Rencana Kebutuhan Bahan Baku

EOQ Model Sistem Pengendalian Persediaan PPB

Gambar 4. Kerangka Pemikiran Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif sistem pengendalian persediaan bahan baku susu UHT khususnya bahan baku SMP dan gula yang optimal dilihat dari biaya yang dikeluarkan akibat adanya persediaan. Oleh karena itu langkah awal yang dilakukan dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi kebijakan perusahaan dalam perencanaan dan pengendalian persediaan bahan

42

baku. Kegiatan yang termasuk di dalamnya adalah mengidentifikasi fasilitas penyimpanan dan penanganan bahan baku, jenis dan asal bahan baku, biaya-biaya persediaan, prosedur perolehan bahan baku, serta pengendalian kualitas bahan baku. Kebijakan perusahaan dalam perencanaan dan pengendalian persediaan bahan baku susu UHT tidak terlepas dari perhitungan-perhitungan kuantitas dan biaya. Perhitungan mengenai penentuan kuantitas pesanan dan frekuensi pemesanan bahan baku yang optimal melibatkan berbagai jenis biaya yang terkandung dalam persediaan. Oleh karena itu, perlu diidentifikasi juga mengenai komponen-komponen biaya persediaan yang terjadi. Biaya persediaan dalam penelitian diasumsikan meliputi biaya pemesanan bahan baku dan biaya penyimpanan bahan baku. Langkah selanjutnya, kebijakan perusahaan dalam pengendalian bahan baku selama tahun 2005 dianalisis dan dibandingkan dengan metode MRP sebagai alternatif dalam pengendalian persediaan bahan baku khususnya SMP dan gula yang ditujukan untuk produksi susu UHT. Metode MRP yang digunakan sebagai perbandingan dengan metode yang digunakan perusahaan adalah metode MRP teknik EOQ dan PPB. Komponen yang dibandingkan dalam analisis model pengendalian persediaan bahan baku tersebut meliputi: frekuensi pemesanan, biaya pemesanan, biaya penyimpanan dan total biaya persediaan. Hasil analisis ini dapat digunakan untuk mengetahui tingkat persediaan dan kebijakan pengendalian bahan baku yang optimal sehingga perusahaan dapat merumuskan suatu alternatif strategi dalam pengendalian persediaan bahan baku yang digunakannya. Metode terbaik dari beberapa metode yang dianalisis tersebut akan direkomendasikan

43

sebagai metode alternatif dalam pengendalian persediaan bahan baku dan akan digunakan sebagai metode pengendalian persediaan bahan baku SMP dan gula untuk periode tahun 2006 berdasarkan rencana produksi yang diramalkan. Setelah itu dilakukan perencanaan bahan baku susu UHT yaitu SMP dan gula yang didasarkan dari hasil peramalan produksi produk jadi susu UHT untuk tahun 2006. Data produksi susu UHT selama beberapa tahun ke belakang (tahun 2000 – 2005) akan dianalisis dan diestimasi dengan metode peramalan time series. Data-data produksi perusahaan selama beberapa tahun ke belakang (tahun 20002005) tersebut perlu diidentifikasi terlebih dahulu pola datanya. Pola data yang terjadi dapat berupa pola horizontal, trend, musiman, dan siklis. Pola horizontal terjadi bilamana nilai data berfluktuasi di sekitar nilai rata-rata yang konstan. Pola trend terjadi bilamana terdapat kenaikan atau penurunan sekuler jangka panjang dalam data. Pola musiman terjadi bilamana suatu deret dipengaruhi oleh faktor musiman (misalnya kuartal tahun tertentu, bulanan, atau hari-hari pada minggu tertentu). Pola siklis terjadi bilamana datanya dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi jangka panjang seperti yang berhubungan dengan siklus bisnis. Setelah mengetahui pola data produksi tersebut, selanjutnya adalah menentukan model peramalan dengan metode peramalan time series terbaik. Metode yang memberikan hasil ramalan mendekati kenyataan yang terjadi atau menghasilkan penyimpangan antara hasil peramalan dengan nilai kenyataan yang sekecil mungkin merupakan metode peramalan terbaik. Metode time series yang digunakan untuk mengestimasi jumlah produksi susu UHT sela ma satu periode ke depan (tahun 2006) adalah metode dekomposisi aditif.

44

Dengan mengetahui jumlah produksi susu UHT dari hasil ramalan dekomposisi aditif, selanjutnya akan diestimasi jumlah bahan baku berupa SMP dan gula yang dibutuhkan selama satu periode ke depan (tahun 2006). SMP dan gula merupakan bahan baku yang memiliki sifat permintaan dependen (terikat) terhadap permintaan produk jadinya, yaitu susu UHT. Hal tersebut merupakan tahapan dalam perencanaan kebutuhan bahan baku. Metode perencanaan kebutuhan bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Material Requirement Planning (MRP). Teknik penentuan lot dalam rangka pengendalian persediaan bahan baku menggunakan teknik lot sizing terbaik dari beberapa teknik yang ada. Berdasarkan analisis perbandingan model pengendalian persediaan bahan baku SMP dan gula pada tahun 2005 akan dihasilkan model alternatif untuk pengendalian persediaan bahan baku SMP dan gula. Model alternatif tersebut kemudian akan digunakan kembali untuk menganalisis tingkat persediaan bahan baku SMP dan gula di tahun 2006 berdasarkan perencanaan kebutuhan yang telah diramalkan sebelumnya. Setelah menganalisis pengendalian persediaan bahan baku SMP dan gula di tahun 2006 dengan model alternatif, kemudian akan dibandingkan kembali dengan metode pengendalian persediaan bahan baku yang dilakukan perusahaan. Perbandingan tersebut dimaksudkan untuk mengetahui apakah model alternatif yang digunakan dalam pengendalian persediaan bahan baku khususnya SMP dan gula pada tahun 2006 masih memberikan tingkat persediaan bahan baku yang optimal dari segi biaya persediaan bahan bakunya. Kerangka operasional penelitian dapat dilihat pada Gambar 5.

45

Identifikasi Kondisi Perusahaan dalam Sistem Pengadaan dan Penanganan Bahan Baku

Penyimpanan dan Penggunaan Bahan Baku

Jenis dan Asal Bahan Baku

Biaya-biaya Persediaan Bahan B aku

Prosedur Perolehan Bahan Baku

Pengendalian Kualitas Bahan Baku

Kebijakan Perusahaan MRP Teknik EOQ MRP Teknik PPB

Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Tahun 2005

Analisis Perbandingan Model Pengendalian Persediaan

Rekomendasi Model Alternatif Pengendalian Persediaan Bahan Baku

Perencanaan Penggunaan Bahan Baku Perusahaan Tahun 2006 melalui Peramalan Produksi dengan Metode Terbaik Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Tahun 2006

Model Pengendalian Persediaan Bahan Baku yang Optimal Keterangan: = alat analisis

Gambar 5. Bagan Kerangka Operasional Penelitian

46

III. METODE PENELITIAN

3.1

Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT. Indolakto yang berlokasi di Jalan Raya

Siliwangi, Cicurug, Sukabumi. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan mempertimbangkan bahwa perusahaan ini merupakan perusahaan agroindustri yang berpengalaman dalam memproduksi susu UHT. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2006.

3.2

Jenis dan Sumber Data Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data kualitatif

dan kuantitatif yang terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari PT. Indolakto yang terdiri atas: gambaran umum perusahaan, data produksi dan penjualan produk susu UHT perusahaan, kebijakan pengadaan dan penanganan bahan baku di perusahaan yang mencakup jenis bahan baku yang digunakan, jumlah kebutuhan bahan baku, waktu tunggu (lead time) pembelian bahan baku, pemasok, sistem pemesanan dan penyimpanannya. Data primer dikumpulkan melalui hasil pengamatan, pencatatan langsung di lapang dan wawancara dengan pihak perusahaan. Wawancara langsung dilakukan kepada karyawan, manajer, dan kepala divisi yang berkaitan. Pemilihan responden ini dilakukan dengan sengaja (porposive) dengan pertimbangan bahwa responden mengetahui dan dapat memberikan informasi mengenai kondisi perusahaan dengan baik, khususnya mengenai kebijakan pengendalian persediaan bahan baku dan pelaksanaan pengendalian persediaan bahan baku di perusahaan. Sedangkan data sekunder diperoleh dari (bahan pustaka) buku, hasil laporan

47

penelitian terkait, catatan-catatan yang dimiliki perusahaan, literatur perusahaan dan instansi terkait serta literatur lainnya, yaitu: artikel-artikel dalam majalah, surat kabar dan internet.

3.3

Model Analisis Data Hasil perolehan data kuantitatif diolah dengan menggunakan program

Microsoft Excel dan Minitab 14. Software Minitab adalah salah satu program yang dapat digunakan untuk peramalan. Output data kuantitatif disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan diuraikan secara narasi. Sedangkan untuk data kualitatif disajikan dalam bentuk deskriptif dengan gambar dan tabel agar mudah dipahami.

3.3.1

Identifikasi Sistem Pengadaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Perusahaan Identifikasi awal ini meliputi identifikasi proses produksi susu UHT dan

kebijakan-kebijakan dalam proses produksi. Selain itu, identifikasi terhadap manajemen persediaan bahan baku juga dilakukan. Identifikasi tersebut meliputi identifikasi terhadap fasilitas penyimpanan dan penanganan bahan baku, jenis dan asal bahan baku, biaya-biaya persediaan, prosedur perolehan bahan baku, prosedur penyimpanan, pengendalian kualitas bahan baku, frekuensi pemesanan, tingkat persediaan bahan baku, lead time, serta kebijakan-kebijakan dalam pengendalian persediaan bahan baku.

3.3.2

Analisis Kuantitatif Pengendalian Persediaan Bahan Baku Tujuan dari analisis kuantitatif ini adalah untuk menentukan waktu pesan

yang tepat dan kuantitas pesanan yang optimal. Dengan demikian diharapkan

48

tingkat persediaan di tangan menjadi lebih optimal dan biaya persediaan bahan baku dapat ditekan. Bahan baku yang diteliti adalah SMP dan gula sebagai bahan baku pembuatan susu UHT. Sifat permintaan dari bahan baku ini termasuk ke dalam permintaan terikat (dependen) yang dipengaruhi oleh permintaan produk jadi susu UHT. Oleh karena itu, model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model persediaan bahan baku yang termasuk ke dalam rencana kebutuhan

bahan/Material Requirement Planning (MRP). Penggunaan sistem MRP biasanya menggunakan format seperti pada Tabel 3. Teknik yang digunakan untuk menentukan ukuran lot pada sistem MRP diantaranya adalah teknik EOQ, Lot For Lot, dan PPB. Tabel 3. Format Rencana MRP Uraian 1
Kebutuhan kotor (kg) Sediaan di tangan (kg) Penerimaan terjadwal (kg) Kebutuhan bersih (kg) Pesanan yang direncanakan (kg) Sumber : Buffa, S. Elwood, 1996

2

3

4

Periode 5 6

7

8

9

10

Berikut ini beberapa teknik yang digunakan dalam penentuan lot (lot sizing technique), yaitu: a. Teknik Kua ntitas Pesanan Ekonomis (EOQ technique) Jumlah atau besarnya pesanan yang diadakan menghasilkan biaya-biaya yang timbul dalam penyediaan adalah minimal. Besar pesanan yang dilakukan sebesar EOQ atau kelipatan dari EOQ yang lebih besar dan terdekat dengan kebutuhan bersih. Pendekatan yang dapat digunakan untuk menentukan EOQ, yaitu dengan menggunakan tabel (tabular approach), dengan menggunakan grafik

49

(graphical approach) dan dengan menggunakan rumus (formula approach). Penentuan kuantitas pesanan yang optimal dengan menggunakan model EOQ adalah sebagai berikut:
Total biaya per tahun (TC) = Biaya Penyimpanan + Biaya Pemesanan TC =

HQ 2

+

SD Q

Dimana: TC H S = Total biaya tahunan = Biaya penyimpanan (carrying cost) per unit per tahun = Biaya pemesanan (ordering cost) Ukuran lot dengan biaya minimum diperoleh pada saat turunan pertama dari biaya total terhadap kuantitas (Q) tahunan sama dengan 0. TC min : dTC =0 dQ
dTC H SD = − dQ 2 Q2 0= H SD − 2 Q2

H SD = 2 Q2
Q2 = 2 SD H

Sehingga rumus dasar dari EOQ adalah: dimana, S D H = Biaya pemesanan per pesanan (Rp)

EOQ =

2 SD H

= Permintaan bahan baku per periode (Rp) = Biaya penyimpanan per unit per periode (Rp)

50

Pesanan direncanakan akan diterima pada saat dan jumlah yang mencukupi dan mendekati kebutuhan bersih sesuai dengan kelipatan EOQ yang telah dihitung sebelumnya. b. Teknik Lot For Lot Langkah awal pada teknik ini adalah menentukan kebutuhan kotor. Apabila pada awal periode pengamatan terdapat persediaan yang cukup besar, maka perusahaan akan menghabiskan persediaan awal tersebut terlebih dahulu sehingga tidak perlu dilakukan pemesanan bahan baku sampai diperkirakan persediaan awal tersebut hanya cukup memenuhi kebutuhan bahan baku perusahaan selama waktu tunggu dan tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan bahan baku perusahaan selanjutnya. Pada metode ini diasumsikan perusahaan tidak menetapkan persediaan pengaman. Pada saat persediaan suatu periode tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan kotor, maka dilakukan perencanaan penerimaan pesanaan tepat sebesar kebutuhan bersih. Proyeksi persediaan di tangan untuk periodeperiode dimana sudah terdapat rencana penerimaan pesanan pada periode sebelumnya dapat ditekan sebesar nol. Besar dan waktu pemakaian bahan baku secara akurat yang didasarkan pada jadwal produksi master dan waktu tunggu bahan baku perlu diketahui dalam menjalankan teknik ini. c. Teknik Penyeimbangan Bagian Periode (Part Period Balancing/PBB) Dalam teknik ini, besarnya pesanan dilakukan sebesar kebutuhan bersih pada suatu periode yang dapat digabungkan. Penggabungan periode dilakukan untuk gabungan periode berurutan yang memiliki nilai kumulatif

51

bagian periode mendekati nilai Economic Part Period (EPP). Rumus untuk menghitung EPP adalah: EPP = Dimana, S H = Biaya pemesanan per pesanan (Rp) = Biaya penyimpanan per unit per periode (Rp) Selanjutnya dihitung kumulatif bersih dari periode gabungan tersebut serta kumulatif bagian periodenya. Kumulatif bagian periode diperoleh dengan mengakumulatifkan perkalian kebutuhan suatu periode dengan periode tambahan yang ditanggung.
S H

3.3.3

Analisis Perbandingan Biaya dan Penghematan Analisis perbandingan biaya diukur berdasarkan hasil analisis biaya

persediaan untuk setiap model yang digunakan. Variabel yang dibandingkan dari masing- masing model terdiri atas: frekuensi pesanan, banyaknya pesanan, biaya pemesanan, biaya penyimpanan dan biaya persediaan total sera biaya pembelian. Analisis penghematan yang dilakukan adalah analisis penghematan biaya pemesanan, biaya penyimpanan, biaya persediaan total dan biaya pembelian.

3.3.4

Rekomendasi Model Alternatif Pengendalian Persediaan Berdasarkan Data Historis Berdasarkan analisis perbandingan biaya dan penghematan akan dipilih

suatu model alternatif yang memberikan tingkat biaya persediaan yang paling rendah dan tepat bagi perusahaan. Model alternatif ini tentunya harus disesuaikan dengan kondisi perusahaan dan kebijakan-kebijakan yang ada dalam perusahaan mengenai pengendalian persediaan bahan baku.

52

3.3.5

Peramalan Produksi Metode peramalan yang digunakan adalah deret berkala (time series). Pada

dasarnya ada tiga langkah peramalan yang penting, yaitu: 1. Menganalisis data yang lalu, yaitu mengidentifikasi pola yang terjadi pada masa lalu. Pola data produksi susu UHT PT. Indolakto diidentifikasi dengan mengamati plot data produksi susu UHT hasil dari program Minitab 14 dan plot autokorelasinya. 2. Menentukan metode yang digunakan. Metode peramalan yang baik adalah metode yang memberikan penyimpangan sekecil mungkin antara hasil peramalan dengan nilai kenyataan. Standar yang digunakan adalah nilai MAE (mean absolute error) atau nilai MSE (mean squared error). Metode peramalan time series Dekomposisi Aditif. 3. Memproyeksikan data yang lalu dengan metode Dekomposisi Aditif dan mempertimbangkan faktor- faktor perubahan, seperti perubahan kebijakan pemerintah, kebijakan perusahaan, perkembangan potensi masyarakat, perkembangan teknologi, dan perbedaan antara hasil ramalan yang ada dengan kenyataan. Sehingga dapat ditentukan hasil ramalan akhir yang dipergunakan sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan produksi serta implikasinya terhadap persediaan bahan baku yang digunakan. yang digunakan dalam penelitian ini adalah

3.3.6

Metode Dekomposisi Metode dekomposisi merupakan suatu metode yang dapat digunkan untuk

mengidentifikasi komponen tren (T), musiman (S), siklis (C), dan acak (E) yang terdapat pada data time series. Model keterkaitan dari keempat komponen tersebut

53

dapat bersifat multiplikatif (perkalian) dan aditif (penjumlahan). Model yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah model dekomposisi aditif dengan rumus umum Y = T + S + C + E. Bila data yang tersedia dinyatakan dalam dimensi tahunan, maka komponen yang terdapat pada data time series tetsebut hanya terdiri atas komponen T, S dan E. Komponen T dinyatakan dalam satuan data aktual dan komponen S dinyatakan dalam bentuk indeks atau Y dibagi dengan T. Bila data yang tersedia dinyatakan dalam dimensi waktu yang kurang dari satu tahun maka komponen yang terdapat dalam data time series tersebut terdiri dari komponen T, S, C (seharusnya tidak ada), dan E. Bila dimensi waktunya merupakan kuartalan, maka komponen S diidentifikasikan untuk tiap kuartalan, dan bila dimensi waktunya berupa bulanan maka komponen S diidentifikasikan untuk tiap bulan.

3.3.7

Analisis Kuantitatif Pengendalian Berdasarkan Hasil Ramalan

Persediaan

Bahan

Baku

Setelah peramalan produksi ditentukan, perencanaan produksi dapat dilakukan. Cara menghitung jumlah produksi adalah produksi (peramalan) ditambah persediaan akhir dan dikurangi persediaan awal atau dengan kata lain produksi (peramalan) ditambah dengan selisih antara persediaan akhir dengan persediaan awal. Rencana produksi ini dapat digunakan untuk menghitung kebutuhan bahan baku. Selanjutnya dilakukan analisis pengendalian persediaan bahan baku untuk tahun 2006 dengan menggunakan model alternatif hasil rekomendasi model pengendalian persediaan bahan baku tahun 2005. Setelah itu, dilakukan analisis perbandingan biaya dan penghematan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah model alternatif tersebut masih layak untuk digunakan.

54

Analisis perbandingan biaya diukur berdasarkan hasil analisis biaya persediaan untuk setiap model yang digunakan. Variabel yang dibandingkan dari masing- masing model terdiri atas: frekuensi pesanan, banyaknya pesanan, biaya pemesanan, biaya penyimpanan dan biaya persediaan total sera biaya pembelian. Analisis penghematan yang dilakukan adalah analisis penghematan biaya pemesanan, biaya penyimpanan, biaya persediaan total dan biaya pembelian.

3.4 1.

Definisi Operasional Waktu tunggu (lead time) adalah selang antara pemesanan bahan baku dengan saat datang dan diterimanya bahan baku di gudang persediaan. Waktu tunggu ini diukur dalam satuan hari, minggu atau bulan, tergantung dari sifat dan kebutuhan bahan yang diperlukan perusahaan. Untuk bahan baku SMP dan gula dihitung dalam satuan bulan.

2.

Frekuensi pembelian adalah banyaknya (kali) pembelian yang dilakukan perusahaan selama satu tahun produksi.

3.

Biaya pemesanan bahan baku yaitu biaya yang dikeluarkan setiap kali melakukan pemesanan dan penerimaan pesanan. Biaya pemesanan diukur dalam rupiah per pesanan (Rp/pesanan). Besarnya biaya yang dikeluarkan tidak tergantung pada besarnya atau banyaknya barang yang dipesan.

4.

Biaya penyimpanan bahan baku yaitu semua biaya yang dikeluarkan perusahaan selama satu tahun produksi karena penyimpanan persediaan bahan baku. Biaya penyimpanan bahan baku diukur dalam satuan rupiah per kilogram per tahun (Rp/kg/th).

55

IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

4.1

Sejarah Perkembangan Perusahaan PT. Indolakto merupakan perusahaan PMDN (Penanaman Modal dalam

Negeri) swasta yang bergerak di bidang usaha i dustri pengolahan susu (IPS). n Perusahaan ini didirikan pada tanggal 3 Juli 1992 atas dasar akte notaris Nomor 20, NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) 1.596.125.3/011, dengan notaris Benny Kristianto dan sudah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman. Berdirinya perusahaan ini merupakan kerjasama antara Salim Group dengan Marison. PT. Indolakto merupakan bagian dari Dairy Division Group yang terdiri dari perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam pengolahan susu. Perusahaanperusahaan tersebut yaitu PT. Indomilk, PT. Indolakto, PT. IndoMeiji, PT. Ultrindo, PT. Indomurni, PT. Sumber AlamVita dan PT. Dairyville. Luas tanah yang dimiliki oleh Dairy Group adalah 38 hektar. Tanah ini dikembangkan menjadi sebuah kawasan industri dengan nama Indolakto Industrial Estate. PT. Indolakto menempati lahan seluas 12 hektar, dimana 10 hektar untuk bangunan kantor dan pabrik serta dua hektar untuk pusat pengolahan limbah. Penetapan tanah dan proses pembangunan pabrik seluas 12 ha dilakukan pada tanggal 10 Desember 1994. Pembangunan konstruksi bangunan pabrik dimulai pada bulan Januari 1995 dan selesai pada akhir tahun 1996. sedangkan pemasangan peralatan dan mesin dilakukan pada bulan Januari 1997. Kegiatan produksi PT. Indolakto dimulai pada bulan Juni 1997 dengan produk pertamanya Susu Kental Manis (SKM) full cream dengan merek dagang Indomilk Putih (IMP), Indomilk Coklat (IMC), dan creamer kental manis “Cap Enak” yang dikemas dalam kemasan kaleng. PT. Indolakto juga memproduksi

56

susu UHT dengan berbagai ukuran dan rasa. Produksi susu UHT dimulai pada bulan Oktober 1997 yang terdiri dari rasa coklat, strawberry, manis (sweetened), melon, tawar (Plain Full Cream), dan madu. Susu UHT dikemas dalam kemasan tetrapack dengan merek dagang Indomilk dan Indomilk kids berukuran 125 ml, 200 ml, dan 1000 ml. Pada bulan April 1998, PT. Indolakto meluncurkan produk baru dengan merek dagang sendiri yaitu Krimer Kental Manis (KKM) “Tiga Sapi” dan “Krima”. PT. Indolakto juga mulai mengembangkan produk-produknya sebagai hasil dari penelitian dan pengembangan Corporate Development Laboratory menggunakan (CDL) pada tahun-tahun berikutnya. PT. Indolakto perusahaan telah dan

standar

internasional

dalam

manajemen

produksinya, yaitu ISO 9002 yang tercatat pada tahun 1998. Penggunaan standar ini diharapkan dapat lebih menjamin kualitas produk dan pelayanan kepada masyarakat yang dianggap sebagai mitra usaha perusahaan. PT. Indolakto juga telah memperoleh sertifikat HALAL dan telah mendaftarkan diri untuk memperoleh sertifikat Good Manufacturing Practices (GMP) dan HACCP. PT. Indolakto tidak hanya memasarkan produknya di pasar lokal tetapi juga dipasarkan ke pasar ekspor, seperti SKM Corina, KKM Crima dan UHT sesuai permintaan konsumen. Pemasaran dan distribusi produk susu PT. Indolakto ditangani oleh PT. Indomarco sebagai distributor utama.

4.2

Lokasi Perusahaan dan Tata Letak Bangunan Penentuan lokasi PT. Indolakto dipengaruhi oleh beberapa faktor,

diantaranya ketersediaan bahan baku, tenaga kerja, sarana dan prasarana transportasi, serta daerah pemasaran.

57

4.2.1

Lokasi Perusahaan PT. Indolakto berlokasi di jalan raya Siliwangi, Desa Pesawahan,

Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. Lokasi ini sangat strategis karena terletak di tepi jalan yang menghubungkan Sukabumi- Bogor dan Jakarta sehingga me mudahkan transportasi bahan baku dan pemasaran produk akhir. Letak yang strategis ini juga memudahkan penyerapan tenaga kerja. Selain itu, di lokasi tersebut terdapat sumber daya air yang bagus untuk menunjang proses produksi. Sebelah barat pabrik PT. Indolakto berbatasan dengan PT. Yakult Indonesia Persada, PT. Indomeiji dan industri lain yang nantinya ada di kawasan industri ini. Sebelah timur berbatasan dengan jalan raya CicurugSukabumi, sedangkan sebelah utara dan selatan berbatasan dengan perumahan penduduk. Denah lokasi pabrik PT. Indolakto dapat dilihat pada Lampiran 1.

4.2.2

Tata Letak Bangunan Tata letak bangunan dan susunan ruangan pabrik diatur sedemikian rupa

untuk mengoptimalkan keterkaitan antara proses, aliran bahan, pekerjaan, aliran informasi, dan metode operasi dalam rangka mencapai tujuan perusahaan. Bangunan pabrik PT. Indolakto terdiri dari tiga bangunan utama yaitu dairy building, service building, dan auxiliary building. Dairy building adalah bangunan pabrik atau ruang produksi yang terdiri dari dua lantai. Lantai satu terdiri dari ruang pengolahan, ruang pengemasan, gudang penyimpanan, dan ruang pengendalian mutu. Lantai dua merupakan plan office yang terdiri dari kantor beberapa departemen. Ruang pengolahan terdiri dari ruang produksi SKM dan ruang produksi UHT. Ruang pengemasan terdiri dari ruang filling (pengisian), ruang labelling (pelabelan), ruang packing (ruang

58

pengepakan), dan ruang can line (ruang pembuatan kaleng). Gudang penyimpanan terdiri dari ruang penyimpanan bahan baku dan kemasan (raw material and packaging) dan ruang penyimpanan produk akhir (finished good). Ruang pengendalian mutu terdiri dari laboratorium fisika-kimia, laboratorium in process, dan laboratorium mikrobiologi. Ruang pengolahan SKM berdekatan dengan ruang pengendalian mutu dan laboratorium pengendalian mutu. Ruang can line berdekatan dengan ruang pengisian SKM, dan berlanjut dengan ruang pelabelan, ruang pengepakan dan gudang produk jadi SKM. Untuk ruang proses UHT, ruang pengolahan berdekatan dengan ruang sterilisasi, di sebelahnya adalah ruang pengisian UHT. Pada bagian luarnya terdapat ruang pengepakan dan ruang produk jadi UHT. Service building adalah bangunan untuk mekanik dan mesin yang terdiri dari ruang transformer, ruang boiler, ruang genset, ruang suku cadang (spare part), ruang kompresor, dan instalasi pengolahan air. Bangunan ini terletak di belakang pabrik. Auxiliary building terdiri dari kantor utama (main office) berlantai tiga, ruang kantin, tiga unit ruang supir, dua unit ruang satpam, ruang pemadam kebakaran, tempat pembuangan sampah dan masjid. Bangunan ini terletak di bagian depan pabrik. Denah tata letak pabrik PT. Indolakto dapat dilihat pada Lampiran 2.

4.3

Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan Struktur organisasi bertujuan untuk membantu mengatur dan mengarahkan

usaha- usaha dalam organisasi sedemikian rupa hingga usaha tersebut terkoordinir dan sejalan dengan tujuan-tujuan organisasi (Reksohadiprodjo et al, 1992).

59

Struktur organisasi yang digunakan oleh PT. Indolakto dalam menjalankan aktifitasnya menggunakan struktur organisasi yang umum digunakan di industri pangan. Bagian-bagian yang terdapat di dalamnya yaitu: bagian produksi, bagian pengendalian mutu, bagian penggudangan, dan sebagainya. Perusahaan juga mengatur masalah-masalah ketenagakerjaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

4.3.1

Struktur Organisasi Bentuk struktur organisasi PT. Indolakto adalah berbentuk lini (garis).

Alasan yang mendasari pemilihan bentuk ini adalah agar terjaminnya kesatuan komando. Perusahaan yang dipimpin oleh satu orang cenderung memiliki proses pengambilan keputusan yang lebih cepat dan mengutamakan wewenang yang utuh. Hal ini berati masing- masing karyawan hanya bertanggung jawab kepada seorang pemimpin. Kekuasaan tertinggi di PT. Indolakto dipegang oleh para pemegang saham yang mempercayakan pengelolaannya kepada Steering Commite yang terdiri dari Chief Executive Officer (CEO) dan Deputy CEO. Pelaksanaannya dipegang oleh General manager dibantu oleh Sekretaris dan Technical Advisor. Secara organisator, PT. Indolakto dipimpin oleh seorang General Manager yang bertugas memimpin perusahaan secara keseluruhan dan bertanggung jawab penuh atas berhasilnya perusahaan, mengawasi serta mengkoordinasikan semua bagian dalam melaksanakan tugasnya. Terdapat 15 unit fungsiona l departemen yang bertanggung jawab kepada General Manager dan masing- masing departemen dipimpin oleh seorang manager. Manager tersebut adalah Senior Milk Prossesing Manager, SCM Processing Manager, UHT Production Manager,

60

SKM Package Manager, Chief Engineer, Deputy Chief Engineer, Environment Officer, Quality Control Manager, Quality Assurance Manager, HRD dan Industrial Estate Manager, Purchase Manager, Finance Manager, Accounting Manager, Information and Technology Manager dan Logistic Manager. Bagan struktur organisasi PT. Indolakto dapat dilihat pada Lampiran 3.

4.3.2

Sistem Ketenagakerjaan PT. Indolakto dalam peraturan perusahaannya telah mengatur hubungan

kerja antara pengusaha dengan pekerja dengan Keputusan No. 206/w.9/PP/98 tahun 1998 yang telah disyahkan oleh Departemen Tenaga Kerja Propinsi Jawa Barat. Peraturan perusahaan PT. Indolakto terdiri dari 41 pasal yang diantaranya memuat ketentuan hari kerja, jam kerja, waktu shift, sistem pengupahan, kerja lembur, keselamatan kerja, bonus, tunjangan, skorsing, pemutusan hubungan kerja, dan hak serta kewajiban pekerja. Peraturan ini mulai berlaku setiap dua tahun dan selanjutnya diperpanjang sesuai kesepakatan. Pelaksanaan peraturan ini dijamin dengan terbentuknya SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) PT. Indolakto pada bulan Juli 1998.

4.3.2.1 Tenaga Kerja PT. Indolakto mengklasifikasikan karyawan menjadi dua bagian yaitu karyawan overtime dan karyawan non overtime. Karyawan overtime adalah karyawan yang waktu lemburnya diperhitungkan dan mendapat pembayaran tambahan atas waktu lemburnya, sedangkan karyawan non overtime adalah karyawan yang waktu lemburnya tidak diperhitungkan.

61

Berdasarkan status hubungan dengan perusahaan, karyawan yang bekerja di PT. Indolakto terdiri dari karyawan tetap dan karyawan kontrak serta karyawan harian. Karyawan tetap adalah karyawan yang terikat hubungan kerja untuk waktu tidak tertentu dengan perusahaan, dan telah melampaui masa percobaan tiga bulan dengan mendapat upah setiap bulan. Karyawan kontrak adalah karyawan yang terikat hubungan kerja dengan perusahaan untuk waktu tertentu dan masa kerjanya dapat diperpanjang atau tidak diperpanjang. Karyawan harian adalah karyawan yang terikat hubungan kerja atas dasar pekerjaan harian yang insidental (sewaktu-waktu).

4.3.2.2 Strata Pendidikan Pekerja Seluruh pekerja didistribusikan ke berbagai departemen dengan proporsi yang disesuaikan dengan departemen yang bersangkutan. Strata pendidikan untuk manajer dan wakil menejer minimal sarjana, sedangkan untuk supervisor adalah D3 atau sarjana. Pekerjaan bagian produksi dan bagian pengendalian mutu seperti operator dan teknisi lab adalah setingkat SLTA dan D3. Strata pendidikan untuk pekerja di bagian gudang dan pekerja kasar adalah SD, SLTP dan SLTA. Pekerjaan di bagian administrasi dan keuangan adalah lulusan SLTA dan D3. Dalam rangka meningkatkan keterampilan dan keahlian pekerja, PT. Indolakto juga mengikutsertakan pekerjanya untuk mengikuti pelatihan dan seminar.

4.3.2.3 Waktu Kerja dan Sistem Insentif Waktu kerja karyawan PT. Indolakto adalah lima hari kerja dalam seminggu. Jumlah jam kerja adalah delapan jam sehari atau 40 jam seminggu yang dilakukan dalam dinas normal atau shift. Pekerja kantor/non produksi

62

bekerja mulai dari Senin hingga Jumat dengan jam kerja dari jam 08.00 hingga 16.30 dengan waktu istirahat selama 30 menit. Untuk pekerja pabrik diberlakukan sistem shift yang dibagi menjadi empat shift yaitu shift malam (jam 22.30 – 07.00), shift pagi (jam 06.30 – 15.00), shift siang (jam 14.30 – 23.00) dengan waktu istirahat 30 menit, dan shift khusus yang waktunya disesuaikan dengan kebutuhan. Pertukaran dilakukan satu minggu sekali sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan dengan memperhatikan keselamatan dan kesehatan karyawan. Hari Sabtu dan Minggu merupakan hari kerja lembur untuk karyawan non eksekutif, sedangkan untuk pekerja eksekutif yang masuk pada hari tersebut, maka pada minggu selanjutnya diperbolehkan untuk libur antara hari Senin sampai Jumat. Sistem pembayaran gaji di PT. Indolakto didasarkan pada golongan dan jabatan pekerja dengan memperhatikan tingkat pendidikan, tanggung jawab, keahlian, kemampuan, serta pengalaman yang dibutuhkan untuk jabatan tersebut. Pembayaran gaji karyawan tetap dan kontrak dilakukan setiap bulan antara tanggal 26 sampai 30, sedangkan untuk karyawan harian dilakukan dua kali dalam sebulan. Karyawan yang telah menjalani masa kerja selama setahun akan mendapatkan THR (Tunjangan Hari raya) sebesar satu bulan gaji, sedangkan untuk karyawan yang masa kerjanya belum satu tahun, besar THR diatur secara proporsional oleh perusahaan. Pemberian bonus juga dilakukan oleh perusahaan, namun sifatnya tidak tetap, tergantung pada keadaan perusahaan. Upah lembur diberikan kepada pekerja yang melakukan kerja lembur, yaitu pekerjaan yang dilakukan melebihi empat jam dari jam yang ditentukan (40 jam seminggu) atau pada hari- hari besar. Perhitungan upah lembur berbeda-beda

63

tergantung dari hari lembur (hari biasa, hari minggu dan hari raya resmi) karyawan dan jumlah jam lembur.

4.3.2.4 Jaminan Kesejahteraan dan Masa Cuti Fasilitas yang tersedia bagi karyawan antara lain sarana kantin, tempat beribadah (masjid), loker, seragam, poliklinik, rawat inap dan rawat jalan, serta jamsostek. Setiap hari karyawan memperoleh jatah makan satu kali yang sesuai dengan waktu shifnya. Sedangkan untuk pekerja yang lembur empat jam atau lebih diberikan uang makan yang besarnya senilai satu kali makan. Selain itu setiap bulan semua karyawan memperoleh enam kaleng susu kental manis. Perlengkapan karyawan juga disediakan oleh perusahaan yaitu seragam, sepatu dan tutup kepala yang diberikan sesuai kebutuhan serta diberikan juga fasilitas laundry. Fasilitas lainnya adalah fasilitas antar jemput untuk karyawan tingkat eksekutif dan karyawan yang bekerja pada shift malam untuk daerah Sukabumi dan Bogor, sedangkan karyawan non eksekutif mendapatkan uang transport. Fasilitas perumahan hanya diberikan pada pekerja terkait yang harus bisa memberi suatu keputusan pada perusahaan. PT. Indolakto juga memberikan jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, hari tua dan jaminan kematian. Jaminan kesehatan diberlakukan bagi karyawan dan keluarga. Pemeriksaan dan pengobatan dapat dilakukan di poliklinik yang terdapat di area PT. Indolakto. Untuk karyawan yang sudah berkeluarga, apabila istri dan dua orang anak memerlukan perawatan rumah sakit, perusahaan akan menggantikan semua biaya perawatan, pengobatan maupun rawat inap atau rawat jalan. Rumah sakit yang ditunjuk perusahaan untuk sementara ini adalah Rumah Sakit PMI Bogor.

64

Jaminan kecelakaan kerja, hari tua dan jaminan kematian terhadap pekerja dikelola oleh PT. JAMSOSTEK. Hal ini disesuaikan dengan peraturan Undangundang yang berlaku yaitu UU No. 3 Tahun 1992, tentang jaminan sosial tenaga kerja. Selain jaminan-jaminan di atas, pekerja yang meninggal dunia karena kecelakaan di luar kerja akan mendapat sumbangan dari PT. Indolakto. PT. Indolakto memberikan masa cuti bagi karyawannya. Setiap pekerja yang telah bekerja selama satu tahun berhak atas cuti tahunan selama 12 hari kerja dan tetap mendapat upah penuh. Bagi karyawati yang hamil diperbolehkan untuk cuti selama tiga bulan dengan mendapat upah penuh. Selain itu, karyawati yang mendapat haid diperbolehkan cuti sebanyak-banyaknya dua hari bila benar-benar dibutuhkan dengan surat keterangan dokter.

4.4

Proses Produksi PT. Indolakto secara umum memproduksi dua jenis produk yaitu susu

kental manis (SKM) dan susu Ultra High Temperature (UHT). Proporsi produksi susu UHT terhadap total produksi perusahaan adalah 30.72 persen. Susu UHT yang diproduksi oleh PT. Indolakto menggunakan dua formula bahan baku yaitu formula susu segar dan formula recombined. Formula susu segar jarang digunakan perusahaan untuk memproduksi susu UHT karena adanya keterbatasan pasokan susu segar, selain itu susu segar lebih banyak digunakan untuk produksi SKM. Oleh karena itu penelitian ini memfokuskan pada produk susu UHT dengan formula recombined. Produksi UHT selama lima tahun terakhir mengalami peningkatan dari segi jumlah dan variasi produk. Tahun 2000 total produksi UHT PT. Indolakto adalah 6 744.96 ton, kemudian mengalami peningkatan setiap tahunnya menjadi

65

9 695.58 ton pada tahun 2001, 17 259.87 ton pada tahun 2002, 20 710.09 ton pada tahun 2003, 21 077.37 ton pada tahun 2004, dan 23 037.15 ton pada tahun 2005. Proses produksi Sistem Ultra High Temperature (UHT) merupakan salah satu cara pengolahan susu yang berlangsung secara kontinyu dengan pemanasan yang tinggi dan dalam waktu singkat serta diikuti dengan pendinginan secara cepat untuk menghasilkan produk yang steril secara komersial. Perlakuan panas yang digunakan adalah secara tidak langsung menggunakan Plate Heat Exchanger (PHE) dan Tabular Heat Exchanger (THE) atau alat penukar panas dimana produk susu tidak langsung kontak dengan uap panas. Secara garis besar, tahap-tahap proses pengolahan susu UHT meliputi proses penyiapan bahan baku, proses dumping, pencampuran bahan baku (mixing), homogenisasi, pasteurisasi, hidrasi, sterilisasi, pengemasan dan pengepakan (aseptic filling and packing). Diagram alir proses pengolahan susu UHT ini dapat dilihat pada Lampiran 4. 1. Tahap Persiapan Bahan Baku Langkah awal dalam proses produksi adalah mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan, antara lain Skim Milk Powder (SMP), Anhydrous Milk Fat (AMF), gula, air dan minor ingredients yang terdiri dari vitamin, flavor, pewarna dan stabilizer. Proses penyiapan minor ingredients dilakukan oleh bagian Quality Control (QC) dengan sangat teliti agar menghasilkan mutu produk yang seragam. 2. Proses Dumping Proses dumping adalah proses penuangan bahan baku utama ke dalam silo tank yang dilengkapi dengan saringan (filter) berukuran 2 x 4 centimeter dan berfungsi untuk mencegah benda-benda asing yang tidak diinginkan masuk ke

66

dalam tangki. Bahan baku yang tertampung dalam silo tank tersebut kemudian ditransfer ke dalam mixer. 3. Proses Pencampuran Bahan /Mixing Proses pencampuran bahan/mixing adalah proses pencampuran semua bahan yang digunakan agar diperoleh suatu campuran yang homogen. Umumnya perusahaan menggunakan dua mixing tank untuk sekali produksi dengan kapasitas 15 ton untuk setiap tangkinya. 4. Prosaes Homogenisasi Proses homogenisasi berfungsi untuk memecah globula lemak dan menyeragamkannya menjadi berdiameter 2 µ sehingga terbentuk emulsi yang stabil. Sebelum proses homogenisasi, dilakukan proses pre-heating dengan menggunakan PHE dengan suhu 70 °C sebagai pemanasan awal. Proses homogenisasi dilakukan dengan menggunakan tekanan 200 bar pada suhu 70 °C selama 30 detik. 5. Proses Pasteurisasi Proses pasteurisasi dilakukan dengan menggunakan PHE yang terbuat dari stainless-steel. PHE memiliki kisi-kisi dengan kedalaman tertentu pada permukaannya. Fungsinya adalah untuk memperluas permukaan PHE agar proses pasteurisasi berlangsung lebih efektif dan efisien. Proses pasteurisasi berlangsung selama 30 detik bertujuan untuk memusnahkan mikroorganisme patogen. Selanjutnya hasil pasteurisasi disimpan di dalam tangki hidrasi yang berkapasitas 60 000 liter dan bersuhu 4-10 °C, maksimal selama 10 jam yang bertujuan untuk memberi kesempatan bagi stabilizer untuk menggabungkan air dan lemak.

67

6.

Proses Hidrasi Proses hidrasi dilakukan pada produk yang suhunya masih dibawah 10 °C,

dengan masa hidrasi selama 1-2 jam. Waktu hidrasi adalah waktu yang diberikan untuk produk agar komponen-komponen yang terpisah (vitamin, protein, lemak, dan lain- lain) dapat menyatu kembali dengan bantuan stabilizer dan membentuk produk yang memiliki karakter mendekati susu segar. 7. Proses Sterilisasi Sterilisasi bertujuan untuk membunuh mikroorganisme termasuk spora yang terkandung dalam susu tanpa merusak kandungan gizi susu tersebut dan dapat memperpanjang umur simpan. Proses sterilisasi susu di PT. Indolakto menggunakan sterilisasi dengan metode indirect heating, pemanasan dilakukan melalui penukar panas, yaitu PHE atau THE. Setelah sterilisasi selesai, produk dipertahankan selama 4 detik dalam holding tube setelah itu produk dilewatkan ke Flow Diversion tube (FDV) yang berfungsi sebagai pengecek suhu produk. Jika suhunya < 142 °C setelah sterilisasi, maka produk akan dialirkan kembali ke balance tank untuk mengalami proses homogenisasi dan sterilisasi ulang. Jika terjadi sebaliknya, maka produk dialirkan ke proses selanjutnya. Proses selanjutnya, produk mengalami pendinginan secara bertahap dengan menggunakan cooler hingga bersuhu 26 °C. Produk yang telah dingin dan steril dimasukkan ke aseptic tank dengan kapasitas 20 000 kg, kemudian produk di dorong dengan udara steril ke aseptic filling menggunakan tekanan 1.5 bar.

68

8.

Proses Pengisian dan Pengemasan Proses pengisian dilakukan di dalam ruangan khusus yang sangat steril dan

harus selaku dijaga kesterilannya, baik ruangan, pekerja, bahan pengemas, dan peralatan lainnya. Proses pengemasan dilakukan secara aseptik untuk mencegah kontaminasi secara mikrobiologis yang dapat menyebabkan perubahan aroma, rasa dan penurunan nilai gizi produk sehingga shelf life produk lebih panjang. Materi pengemasan yang digunakan adalah tetra paper® dan tetap dilakukan sterilisasi terlebih dahulu. Kemasan yang telah terbentuk dari gulungan kertas kemasan yang telah dicetak tanggal kadaluarsa dan kode produksinya, kemudian diisikan dengan produk. Kotak-kotak yang telah terisi dengan rapi dikeluarkan melalui konveyer dari ruang filling ke ruang packing untuk dikemas karton dan diberi straw (sedotan) pada karton boxnya. 9. Proses Pengepakan Proses pengepakan dilakukan menggunakan mesin pengepak karton (cardboard packer machine) secara otomatis. Mesin tersebut memasukkan pakpak produk jadi dan operator yang bertugas secara bersamaan memasukkan straw (sedotan) sesuai dengan volume produk yang dibuat ke dalam kemasan karton bergelombang (corrugated paper). Mesin akan melipat karton untuk membentuk suatu box dan akan membubuhkan tanggal kadaluarsa, jenis produk dan kode mesin. Selanjutnya box akan keluar melalui rak besi dan siap untuk disusun ke atas palet/palletizing yang dilakukan oleh operator mesin secara manual.

69

V. SISTEM PENGADAAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PERUSAHAAN

5.1

Penyimpanan dan Penggunaan Bahan Penyimpanan bahan baku SMP, dan gula dilakukan dalam suatu gudang

yang sama, yaitu gudang raw material (RM) dan packaging material (PM) bersama dengan bahan baku lainnya. Penyimpanan bahan baku tersebut menggunakan pallet (alas) agar bahan baku tidak bersentuhan langsung dengan lantai dan memudahkan pengangkutan. Mengingat keterbatasan jangkauan forklift yang ada, susunan pallet secara vertikal adalah maksimum tiga pallet. Setiap satu susunan pallet memuat 40 karung untuk gula dan 60 karung untuk SMP. Luas total area gudang raw material adalah 1 323.75 m2 . Luas area untuk penyimpanan gula adalah 306.75 m2 dengan kapasitas penyimpanan sebanyak 780 metrik ton atau 15 600 karung (50 kg/karung). Sedangkan untuk area
2 penyimpanan SMP adalah 183.75 m dengan kapasitas penyimpanan sebanyak

360 metrik ton atau 14 400 karung (25 kg/karung). Perusahaan tidak memisahkan bahan baku SMP dan gula yang ditujukan untuk kebutuhan produksi SKM dan UHT, semuanya disimpan dalam satu area penyimpanan. Penyimpanan bahan baku di gudang dikelompokkan berdasarkan jenis dan waktu kedatangan bahan baku tersebut (metode FIFO) sehingga bahan baku yang lebih dulu disimpan akan lebih dulu digunakan. Layout gudang bahan baku RM saat ini dirancang untuk kebutuhan dua minggu, sehingga penyimpanan bahan baku terbatas untuk jumlah tertentu, namun saat ini jumlah bahan baku yang ada melebihi kapasitas normal gudang. Oleh karena itu, perusahaan telah merencanakan untuk mengembangkan area gudang penyimpanan bahan baku agar

70

dapat menyimpan dalam jumlah yang lebih banyak, mengingat kapasitas produksi perusahaan juga semakin meningkat. Fasilitas yang dimiliki oleh WH adalah listrik dan forklift. Fasilitas listrik berupa lampu yang berfungsi sebagai penerangan, sedangkan forklift diperlukan untuk mengangkut gula dan SMP dari warehouse ke bagian produksi. Jumlah lampu yang disediakan di dalam gudang raw material adalah sebanyak 30 lampu, namun yang digunakan hanya 18 lampu dengan daya satu lampunya sebesar 250 watt. Forklift yang digunakan untuk keperluan pemindahan bahan baku tersebut berjumlah tiga buah. Pemeliharaan fasilitas WH dilakukan oleh petugas maintenance yang bertugas membersihkan WH agar tetap terawat. Perusahaan bekerjasama dengan perusahaan jasa ECOLAB dalam pemeliharaan bahan baku. Pemeliharaan yang dilakukan adalah dengan melakukan pest control dan fogging setiap sebulan sekali. Jadwal pelaksanaan fogging disesuaikan dengan jadwal produksi, yaitu pada saat perusahaan sedang tidak berproduksi. Selain pemeliharaan tersebut, petugas WH juga memiliki jadwal rutin untuk membersihkan gudang setiap hari, yaitu mulai pukul 07.00 hingga pukul 08.00 agar ruang tempat penyimpanan bahan/gudang selalu dalam keadaan bersih.

5.2

Jenis dan Asal Bahan Baku Bahan baku yang digunakan dalam produksi susu pada PT. Indolakto,

khususnya untuk produk susu UHT bervariasi dan berasal dari pemasok yang berbeda-beda pula. Secara umum bahan baku yang digunakan dalam produksi susu UHT adalah sebagai berikut:

71

1.

Susu Segar/Fresh Milk Susu UHT yang diproduksi oleh PT. Indolakto mempunyai dua alternatif

formulasi, yaitu formulasi dengan menggunakan susu segar/fresh milk sebagai bahan baku utama dan tanpa menggunakan susu segar/fresh milk biasa disebut dengan metode rekombinasi. Susu segar yang digunakan oleh PT. Indolakto adalah susu sapi segar yang memenuhi spesifikasi pada Tabel 4. Tabel 4. Spesifikasi Fresh Milk yang diterima PT. Indolakto
SPESIFIKASI Temperatur (°C) pH Keasaman (%) Alkohol Test Resazurin Test Kadar Lemak (%) Berat Jenis (20 °C) Total Solid (%) Solid Non Fat (%) Kadar Karbonat (ppm) Kandungan Antibiotik Freezing Point (°C) TPC (CFU/g) Spora (CFU/g) MPC (CPU/g) Sumber: Departemen QC. PT. Indolakto, 2006 NILAI Maks 8 °C 6.6 – 6.8 0.13 – 0.17 Negatif 5– 6 Min 3.3 Min 1.0250 Min 11 Min 7.7 < 100 Negatif Maks – 0.520 Maks 3.000.000 Maks 100 Maks 100

Susu sega r yang digunakan untuk produksi perusahaan diperoleh dari pemasok lokal yang dikirim secara rutin setiap hari. Pemasok susu segar ke PT. Indolakto yang masih aktif sampai saat ini ada lima pemasok dari tujuh pemasok yang terdaftar. Pemasok tersebut diantaranya KSU Puspa Mekar, KSU Tandang Sari, Sinar Jaya, Taurus Dairy Farm, dan UPS GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia) Sukabumi. Susu segar yang digunakan sebagai bahan baku produk susu UHT dan SKM disimpan dalam ruang penampungan/tangki yang dikelola oleh bagian produksi SKM. Bagian produksi UHT dapat menggunakan susu segar tersebut dengan membuat surat permintaan barang ke bagian warehouse dan mengkoordinasikan dengan bagian produksi SKM.

72

Pasokan susu segar dari pemasok masih dirasa belum mencukupi kebutuhan perusahaan, sehingga perusahaan mengambil kebijakan untuk menggunakan formula rekombinasi untuk produksi UHT, yaitu menggunakan SMP sebagai bahan baku utamanya. Harga susu segar yang digunakan berdasarkan harga yang telah ditetapkan oleh GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia) yang merupakan hasil negosiasi dengan para pengusaha pengelola industri pengolahan susu. Harga susu segar yang diperoleh PT. Indolakto bervariasi sesuai dengan kualitas susu tersebut. Kisaran harga susu segar selama satu tahun terakhir yaitu mulai dari Rp 1 795.37 hingga Rp 2 306.45 per kilogramnya. Tinggi rendahnya harga tersebut tergantung dari kualitas susu yang dipasok. Sistem pembayaran yang digunakan adalah nontunai atau pembayaran dilakukan seminggu sampai sebulan setelah barang diterima. 2. Susu Bubuk/Milk Powder Susu bubuk yang ditambahkan dalam pembuatan susu UHT terdiri dari tiga macam, yaitu Skim Milk Powder (SMP), Butter Milk Powder (BMP), Anhydrous Milk Fat (AMF). Susu bubuk ditambahkan untuk standarisasi mutu susu segar. SMP merupakan produk susu yang dihasilkan dengan memisahkan cream (lemak susu) dan menghilangkan air dari susu segar dengan cara dikeringkan dengan spray dryer sehingga dihasilkan skim bubuk bebas lemak. SMP berbentuk bubuk, berwarna putih dan tidak menggumpal. Fungsi SMP pada pembuatan susu UHT adalah untuk meningkatkan total solid non fat. SMP ini dikemas dalam paper dan polybag ukuran 25 kilogram dan disimpan dalam ruangan kering dan berventilasi selama maksimum 12 bulan, namun perusahaan selalu berusaha menggunakannya dalam waktu kurang dari sebulan. SMP ini diperoleh dengan

73

cara mengimpor dari beberapa negara, yaitu dari Fonterra (SEA) Pte. Ltd (Singapura), James Farrel and Co, Ferjidson Pte. Ltd (Singapura), Interfood B.V (Belanda), Amberston Pte. Ltd (Singapura). Harga SMP selama satu tahun terakhir berkisar antara USD 2 150 hingga USD 2 595 per metrik ton. Harga SMP yang digunakan dalam perhitungan adalah USD 2 372.5 per metrik ton {(USD 2 150 + USD 2595): 2}. Sistem pembayaran yang diberlakukan adalah sistem non tunai, yaitu 14 hari sampai 120 hari setelah barang diterima. PT. Indolakto tidak pernah melakukan pembayaran secara cash untuk pembelian dalam jumlah besar. SMP yang dipergunakan untuk produksi susu UHT adalah dari jenis medium heat. Jenis-jenis tersebut ditetapkan berdasarkan jumlah panas yang diterima saat pengeringan yang dinyatakan dengan nilai WPNI (Whey Protein Nitrogen Index). Standar SMP yang digunakan oleh PT. Indolakto dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Standar Mutu Skim Milk Powder (SMP) PT. Indolakto
Analisa Asam lemak bebas Bilangan peroksida Organoleptik Kadar air Bilangan iod
Sumber: Departemen QC PT. Indolakto

Spesifikasi SMP < 0.3 % 0.1 mg eq O2 /kg < 0.1 % 26 - 38

3.

Gula/Sugar Gula berfungsi sebagai pemanis dan pengawet karena gula dapat

menghalangi aktivitas bakteri dan dapat menurunkan aktivitas air. Selain itu penambahan gula juga dapat mencegah denaturasi protein susu akibat pemanasan yang berlebihan. Gula yang digunakan adalah disakarida dalam bentuk kristal sukrosa (C 12 H12O11 ). Gula ini dikemas dalam karung plastik pada bagian luar dan plastik pada bagian dalam dengan berat 50 kilogram yang disimpan pada suhu

74

ruang yang kering dan tidak lembab. Standar mutu gula yang digunakan oleh PT. Indolakto dapat dilihat pada Tabel 6. Gula yang digunakan diperoleh dari pemasok lokal, yaitu PT. Indomilk (trade), PT. Nusa Indah, PT. Angels Products, dan juga diimpor dari ETS Internasional (Saudi Arabia), Hottlet Sugar Trading N.V (Belgia), dan Ferjidson Pte. Ltd (Singapura). Pengiriman gula dilakukan secara bertahap berdasarkan perjanjian bagian purchasing dengan pemasok. Hal ini dilakukan, mengingat perusahaan tidak bisa menyimpan gula dalam jumlah banyak dan terlalu lama dalam gudang karena khawatir akan mudah mengkristal karena kelembaban yang tinggi. Harga rata-rata gula selama satu tahun terakhir yaitu sebesar Rp 5 200 per kilogram. Pembayaran dilakukan rata-rata tujuh hari setelah barang diterima perusahaan. Tabel 6. Standar Mutu Gula PT. Indolakto Analisa pH So2 CaCO3 Ekstraneous matters Gula pereduksi
Sumber: Departemen QC PT. Indolakto

Spesifikasi SMP > 5.50 < 20 mg/g < 30 mg / 100 g Standar < 20 mg / 100 g

5.3 Biaya-biaya Persediaan Biaya persediaan PT. Indolakto secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu biaya pemesanan dan biaya penyimpanan.

5.3.1

Biaya Pemesanan Biaya pemesanan total per periode adalah hasil kali antara jumlah pesanan

yang dilakukan setiap periode dengan biaya yang harus dikeluarkan setiap kali pesan. Biaya ini bersifat agak konstan dimana besarnya biaya yang muncul tidak

75

dipengaruhi besarnya kuantitas bahan yang dipesan oleh perusahaan. Pemesanan untuk bahan baku produk susu kental manis (SKM) dan UHT digabungkan dalam suatu pemesanan ke masing- masing pemasok. Komponen biaya pemesanan bahan baku SMP dan gula untuk kebutuhan produksi susu UHT dapat diuraikan sebagai berikut: (a) Biaya administrasi, meliputi biaya pembuatan dokumen-dokumen

pemesanan dan penerimaan bahan berupa dokumen Purchase Request (PR) dari bagian PPIC dan dokumen Purchase Order (PO) dari bagian Purchasing kepada pemasok serta kelengkapan administrasi lainnya. Total biaya administrasi per pesanan PT. Indolakto untuk bahan baku SMP adalah sebesar Rp 57 369.60 per pesanan dan Rp Rp 8 191.33 per pesanan untuk bahan baku gula. (b) Biaya telepon, email dan correspondent fax , dikeluarkan untuk mengirimkan PO kepada pemasok dan mengkonfirmasi mengenai dokumen PO yang telah dikirim oleh bagian purchasing perusahaan. Biaya ini meliputi biaya telepon internal dan eksternal perusahaan. Biaya telepon internal perusahaan yaitu biaya telepon yang digunakan untuk koordinasi antara bagian-bagian perusahaan yang terkait seperti bagian gudang raw material, bagian PPIC dan bagian purchasing. Sedangkan biaya telepon eksternal perusahaan adalah biaya telepon antara bagian purchasing kepada para pemasok dan pihakpihak terkait lainnya. Total biaya telepon, email dan correspondent fax per pesanan PT. Indolakto untuk bahan baku SMP adalah Rp 115 968.00 dan 16 622.25 untuk gula. Komponen dan besarnya biaya pemesanan per pesanan bahan baku secara rinci dapat dilihat pada Tabel 7.

76

Berdasarkan Tabel. 7 diketahui bahwa bahan baku SMP memiliki total biaya pemesanan per pesanan lebih besar dibandingkan bahan baku gula. Biaya pemesanan total baha n baku SMP yaitu Rp 173 337.6 per pesanan sedangkan biaya pemesanan total bahan baku gula sebesar Rp 24 813.58 per pesanan. Tabel 7. Biaya Pemesanan Bahan Baku PT. Indolakto per Pesanan
Komponen Biaya Pemesanan SMP Nilai (%) (Rp/pesanan) 57 369.60 33.10 115 968.00 66.90 173 337.60 100 Gula Nilai (%) (Rp/pesanan) 8 191.33 33.01 16 622.25 66.99 24 813.58 100

1. Administrasi 2. Telepon dan correspondent fax Total
Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

5.3.2

Biaya Penyimpanan Biaya penyimpanan merupakan biaya yang dikeluarkan karena perusahaan

menyimpan bahan baku di gudang. Biaya ini bervariasi langsung dengan kuantitas persediaan. Biaya penyimpanan adalah hasil perkalian dari tingkat persediaan rata-rata dengan biaya penyimpanan bahan baku per unit. Komponen biaya penyimpanan bahan baku SMP dan gula yang dilakukan oleh PT. Indolakto dapat diuraikan sebagai berikut: (a) Biaya fasilitas penyimpanan, meliputi biaya listrik sebagai penerangan dan pendinginan, serta biaya pengadaan alat-alat kebersihan seperti: sapu, sabun/deterjen, dan karet pengering lantai. Biaya fasilitas penyimpanan untuk bahan baku SMP sebesar Rp 3.48 per tahun sehingga biaya fasilitas penyimpanan per bulannya sebesar Rp 0.290/kg. Sedangkan untuk bahan baku gula memiliki biaya fasilitas per tahun sebesar Rp 0.52 sehingga biaya per bulannya sebesar Rp 0.043/kg.

77

(b) Biaya pemeliharaan, meliputi biaya fogging dan pest control gudang raw material (RM) yang dilakukan sebulan sekali. Biaya pemeliharaan per tahun bahan baku SMP sebesar Rp 0.11/kg. Sedangkan biaya pemeliharaan bahan baku gula per tahun sebesar Rp 0.02/kg. Biaya pemeliharaan memiliki biaya yang paling rendah dalam komponen biaya penyimpanan. Hal ini menunjukkan bahwa biaya pemeliharaan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perubahan total biaya penyimpanannya. Namun biaya ini harus tetap diperhatikan karena akan mempengaruhi kualitas dari bahan baku yang disimpan. Tidak adanya pemeliharaan akan menyebabkan bahan baku yang disimpan mengalami penurunan kualitas bahkan dapat mengakibatkan kerusakan. (c) Biaya modal, yaitu biaya yang terjadi karena kehilangan pendapatan berupa bunga bank yang seharusnya diperoleh tetapi tidak diperoleh karena uang yang ada digunakan untuk membeli barang. Besarnya biaya ini tergantung dari lamanya barang disimpan dan tingkat suku bunga yang berlaku. Tingkat suku bunga yang digunakan adalah rata-rata tingkat suku bunga simpanan berjangka rupiah bank umum (12 bulan) tahun 2005, yaitu sebesar 8.06 persen. Biaya modal merupakan biaya terbesar dalam biaya penyimpanan perusahaan. Biaya modal terbesar adalah untuk bahan baku SMP sebesar Rp 544.97/kg (USD 2.3725/kg x 8.06% x Rp 9 2774) x 30.72%) atau sebesar 99.35 persen dari biaya total penyimpanannya. Bia ya modal SMP ini hampir mendekati 100 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa bahan baku SMP memiliki nilai modal yang sangat tinggi. Semakin banyak persediaan/stock

4

nilai tukar 1 USD = Rp 9 277

78

SMP di gudang, maka akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap peningkatan biaya penyimpana nnya. Biaya modal untuk bahan baku gula adalah Rp 25.11/kg (Rp 5 200 x 8.06% x 5.99%) per tahun. Biaya ini juga merupakan komponen biaya terbesar dari total biaya penyimpannya. Tabel 8. Biaya Penyimpanan Bahan Baku PT. Indolakto Komponen Biaya Penyimpanan SMP Nilai (%) (Rp/kg) 1. Biaya Fasilitas 3.48 0.63 2. Biaya Pemeliharaan 0.11 0.02 3. Biaya Modal 544.97 99.35 Total Biaya Penyimpanan setahun 548.56 100 Total Biaya Penyimpanan sebulan 45.71
Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

Gula Nilai (%) (Rp/kg) 0.52 2.03 0.02 0.08 25.11 97.89 25.65 100 2.14

Berdasarkan Tabel. 8 diketahui bahwa biaya penyimpanan total untuk bahan baku SMP per tahun adalah Rp 548.56/kg sehingga untuk setiap periode bulanan total biaya penyimpanan SMP menjadi Rp 45.71/kg. Sedangkan total biaya penyimpanan bahan baku gula per tahun adalah Rp 25.65/kg sehingga total biaya penyimpanan per bulan untuk gula adalah sebesar Rp2.14/kg untuk gula. Biaya penyimpanan SMP perusahaan merupakan biaya penyimpanan terbesar. Oleh karena itu, pengelolaannya harus diperhatikan agar tidak menimbulkan pemborosan.

5.4

Prosedur Pe ngadaan dan Penerimaan Bahan Baku Perolehan bahan baku pada PT. Indolakto dimulai dari adanya kebutuhan

dan rencana penggunaan bahan baku oleh perusahaan. Rencana penggunaan bahan baku untuk produk susu UHT ditetapkan oleh bagian PPIC (Product Planning Inventory Control). Rencana tersebut dibuat berdasarkan hasil penyesuaian antara jumlah permintaan konsumen yang termuat dalam SO (Supply

79

Order) yang merupakan perkiraan/peramalan dari departemen marketing (PT. Indomilk) dengan kemampuan dan kapasitas perusahaan. Selanjutnya PPIC memberikan konfirmasi kepada bagian marketing berupa CSO (Confirm Supply Order) mengenai kesanggupan perusahaan dalam memproduksi order tersebut. PPIC kemudian membuat rencana produksi dan kebutuhan bahan baku untuk produksi susu UHT. Perencanaan dibuat per tiga bulan (satu bulan rencana tetap dan dua bulan ramalan) yang selanjutnya diturunkan menjadi rencana mingguan. Setelah merencanakan produksi baik jumlah, jenis produk dan kebutuhan bahan, bagian PPIC membuat PR (Purchase Requestion), yaitu permohonan pembelian yang diserahkan ke bagian purchasing. PR ini terdiri dari tiga lembar yang didistribusikan ke bagian purchasing, akunting, dan PPIC. PR untuk raw material (RM) harus disetujui terlebih dahulu oleh manajer logistik dan PPIC sebelum diserahkan ke bagian purchasing. Bagian purchasing akan

menindaklanjuti PR tersebut dengan menghubungi para pemasok yang telah ditetapkan. Penetapan pemasok itu sendiri mempunyai prosedur tertentu, namun untuk bahan baku yang dibahas dalam penelitian ini yaitu gula dan SMP diatur oleh Dairy Group pusat yaitu PT. Indomilk. Setelah menerima PR, bagian purchasing akan menerbitkan PO (Purchase Order) untuk memesan bahan baku dan melakukan negosiasi harga dengan pemasok. Khusus untuk bahan baku SMP dan gula, negosiasi harga dan pemilihan pemasok dilakukan oleh Dairy Group pusat yaitu PT. Indomilk. PO terdiri dari tiga lembar yang akan didistribusikan ke pemasok (dokumen asli), accounting (copy warna putih), dan purchasing (copy warna kuning). Selanjutnya bagian purchasing akan melakukan controlling terhadap realisasi PO tersebut dengan

80

membuat form jadwal kedatangan barang, kemudian menanyakan ke bagian warehouse (WH), dan konfirmasi ke pemasok. Bahan baku yang dikirim oleh pemasok akan diterima dan disimpan oleh bagian WH. Pengaturan tata letak bahan baku diatur oleh bagian gudang agar kualitasnya tidak berkurang. Prosedur penerimaan bahan baku raw material (RM) yang berlaku di PT. Indolakto dimulai dari pelaporan pihak supplier/pembawa bahan baku RM ke pos satpam dengan meninggalkan identitas diri dan menunjukkan surat jalan. Kemudian satpam yang bertugas akan menghubungi bagian gudang (WH) yang akan melakukan penimbangan di jembatan timbang. Tujuan penimbangan tersebut adalah untuk mendapatkan data/angka yang benar yang dipergunakan sebagai perbandingan di surat jalan yang ada dengan hasil penimbangan yang tercetak. Hasil penimbangan tersebut juga dapat dipergunakan untuk perhitungan tagihan dari supplier. Setelah ditimbang barang tersebut dibawa ke gudang bahan baku RM yang disertai surat jalan untuk di uji oleh QC (Quality Control). Pengujian tersebut ditujukan untuk mengetahui apakah bahan baku yang diterima sesuai dengan PO, layak digunakan dalam produksi, dan kuantitasnya sesuai dengan perjanjian. QC akan mengeluarkan pernyataan realease apabila bahan tersebut memenuhi kriteria dan dapat digunakan dalam produksi, kemudian dilakukan bongkar muat dan pihak WH membuat Surat Penerimaan Barang (SPB) yang kemudian memasukkan ke dalam stock untuk disimpan. Sistem

penyimpanan yang digunakan adalah sistem First In First Out (FIFO). Sebaliknya QC akan mengeluarkan pernya taan reject apabila kriteria bahan baku tidak terpenuhi. Alasan untuk bahan baku gula dan SMP yang reject terjadi karena sudah berjamur, kemasan rusak dan membantu (gula). Bahan baku yang

81

dinyatakan reject oleh QC bisa dikembalikan kepada pemasok, karena sudah ada perjanjian antara pemasok dengan bagian purchasing. Namun apabila bahan baku reject karena kesalahan dalam penyimpanan sehingga terjadi penurunan kualitas maka bahan baku tidak bisa dikembalikan. Kasus reject karena kesalahan penyimpanan ini jarang sekali terjadi di PT. Indolakto. Bagan alir prosedur pengadaan bahan baku RM dapat dilihat pada Lampiran 6. PT. Indolakto dalam memilih pemasok sangat selektif. Calon pemasok bahan baku harus memenuhi beberapa kriteria yang telah ditetapkan perusahaan dan telah lulus seleksi oleh bagian purchasing dan QC. Kriteria PT. Indolakto dalam menentukan pemasok bahan baku adalah sebagai berikut: 1. Kriteria produk, yaitu bahan baku harus memenuhi standar yang ditetapkan. 2. Kriteria pengiriman, yaitu pengiriman bahan baku harus tepat waktu. 3. Kriteria harga, yaitu harga bahan baku yang ditawarkan harus bisa bersaing. 4. Kriteria tempat kedudukan pemasok (lokasi), yaitu pemasok harus jelas domisilinya, mudah dihubungi dan tanggap untuk menerima komplain.

5.5

Pengendalian Kualitas Bahan Baku Pengendalian kualitas bahan dan produk merupakan hal yang esensial

dalam industri pangan, khususnya industri pengelolaan susu. Pengendalian mutu/kualitas sangat penting dilakukan untuk menjaga mutu produk,

mengendalikan agar menghasilkan mutu yang konsisten, dan yang terpenting adalah sebagai jaminan keamanan makanan. PT. Indolakto memiliki bagian khusus untuk pengendalian kualitas/mutu, yaitu departemen PDQC (Product Development Quality Control). Pengendalian kualitas dilakukan melalui berbagai pengujian, mulai dari bahan baku (susu segar,

82

SMP, gula, air, dan bahan-bahan lainnya) sampai produk jadi dengan jenis pengujian TPC, kapang jamur, koliform, dan salmonella. Bagian QC ( Quality Control) mempunyai wewenang untuk menetapkan status suatu bahan baku ataupun produk jadi. Bahan baku atau produk jadi yang diberikan status reject, tidak boleh digunakan dalam proses produksi maupun dilepas ke konsumen. Hanya produk yang berstatus release yang dapat digunakan dan dilepas ke konsumen. PT. Indolakto sangat memperhatikan masalah kualitas. Hal ini terlihat dari quality slogan yang ditetapkan perusahaan, yaitu: 1. Produk dan jasa tanpa cacat dan aman saja yang hanya diberikan kepada pelanggan 2. Amat mengerti dan memahami semua persyaratan proses kerja terkait. 3. Semua persyaratan dalam proses terkait harus dipenuhi. 4. Semua aktivitas yang dilakukan ditujukan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. PT. Indolakto memiliki tiga laboratorium yaitu mikrobiologi, fisika-kimia, dan pengawasan proses. Pengawasan mikrobiologi meliputi pengawasan penggunaan terhadap bahan mentah, ruang pengisian, dan produk akhir. Bahan mentah yang dipasok ke perusahaan harus memenuhi syarat dari laboratorium mikrobiologi sebelum bahan tersebut diterima. Laboratorium pengawasan proses cenderung melihat aspek fisika karena aspek ini mengandung parameter mutu yang lebih mudah diketahui dan yang pertama dilihat konsumen. Pengawasan mutu fisika-kimia, sama halnya dengan pengawasan mutu mikrobiologi, yaitu dilakukan mulai dari bahan baku sampai produk akhir.

83

VI. ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PERUSAHAAN

6.1

Pengendalian Persediaan Bahan Baku Perusahaan Pengendalian persediaan yang dilakukan oleh perusahaan bertujuan untuk

memperlancar mengantisipasi

proses terhadap

produksi,

mengantisipasi persediaan

kekurangan yang akan

bahan

dan

kelebihan

menyebabkan

pemborosan biaya. Selain itu, efisiensi operasional suatu organisasi dapat meningkat karena fungsi penting persediaan, yaitu berfungsi menghadapi ketidakpastian dari pemasok. Berdasarkan fungsi persediaan tersebut diketahui bahwa jenis persediaan perusahaan adalah jenis anticipation stock. Sistem pemakaian bahan baku perusahaan adalah sistem FIFO (First In First Out), dimana bahan baku yang terlebih dahulu masuk gudang akan keluar gudang/digunakan terlebih dahulu. Kebutuhan bahan baku perusahaan dalam hal ini SMP dan gula diturunkan dari rencana produksi susu UHT. Rencana produksi susu UHT ini diperoleh dari Supply Order (SO) yang perkirakan oleh bagian marketing (PT. Indomilk). Selanjutnya bagian PPIC PT. Indolakto akan menyesuaikan SO yang diterima dengan kapasitas produksi perusahaan yang tercermin dalam Confirm Supply Order (CSO). Berdasarkan kesepakatan tersebutlah PT. Indolakto berproduksi. Sehingga dapat dikatakan bahwa tujua n perusahaan dalam berproduksi adalah untuk memenuhi pesanan. Kebutuhan bahan baku SMP dan gula diperoleh dari pemasok-pemasok yang telah mengalami penyeleksian terlebih dahulu. Perusahaan melakukan perjanjian dengan pemasok berupa kontrak selama waktu tertentu untuk bahan

84

baku yang dibutuhkan dalam jumlah besar termasuk didalamnya adalah SMP dan gula. Pemesanan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan beberapa waktu tertentu namun penyerahan/delivery barangnya dilakukan secara bertahap. Untuk bahan baku SMP, perusahaan biasanya melakukan pemesanan untuk kebutuhan selama tiga bulan mengingat lead time SMP adalah tiga bulan, namun setiap bulannya ada penyerahan barang. Sementara pemesanan untuk bahan baku gula dilakukan sejumlah kebutuhan gula selama sebulan pemakaian, karena lead time gula adalah satu bulan. Jadi penyerahan/delivery barang tidak dilakukan sekaligus dalam suatu waktu karena jumlahnya yang sangat besar sedangkan kapasitas gudang terbatas. Selain itu sifat bahan baku yang tidak tahan lama (perishable ) juga menjadi pertimbangan untuk menetapkan kebijakan penyerahan/delivery secara bertahap. Bagian produksi susu UHT menerima jadwal produksi dari PPIC setiap minggunya. Selanjutnya bagian produksi susu UHT akan menghitung kebutuhan bahan baku per hari dan mengajukan permintaan bahan kepada bagian gudang/WH dengan membuat Surat Permintaan Bahan. Setelah menerima Surat Permintaan Bahan, bagian gudang/WH akan mentransfer bahan ke bagian produksi susu UHT untuk kebutuhan setiap hari produksi dan mengeluarkan Surat Pengeluaran Bahan. Bagian gudang/WH memiliki label stok untuk masingmasing bahan baku yaitu sejenis kartu yang berfungsi mengetahui jumlah bahan baku yang diterima, yang keluar dan yang tersisa. Perhitungan secara fisik terhadap bahan baku yang ada di gudang dilakukan setiap dua minggu sekali oleh petugas gudang. Selain itu perusahaan juga menggunakan software SOLOMON sebagai sistem informasi perusahaan sehingga memudahkan dalam memonitor inventory stock status.

85

Sistem pengendalian persediaan yang dilakukan perusahaan pada prinsipnya bertujuan untuk melakukan pesanan sejumlah kebutuhan untuk beberapa waktu tertentu (sesuai lead time) yang ditambah dengan persediaan pengaman. Lead time untuk bahan baku SMP adalah tiga bulan dan untuk bahan baku gula adalah satu bulan. Perusahaan menetapkan persediaan pengaman untuk bahan baku SMP sebanyak kebutuhan SMP selama dua minggu produksi (0.5 bulan) setiap bulannya sedangkan persediaan pengaman untuk bahan baku gula adalah sebanyak kebutuhan gula selama satu minggu produksi (0.25 bulan). Penyimpanan persediaan di gudang diusahakan seminimal mungkin dengan kebijakan penyerahan/delivery pesanan bahan baku secara bertahap. Hal itu semua dilakukan untuk menjaga kualitas dan ketersediaan bahan baku agar dapat memenuhi kebutuhan pemakaiannya. Tabel 9. Persediaan SMP dan Gula per Bulan di Gudang Selama Tahun 2005 Bulan SMP Gula Januari 121 813.91 32 736.63 Februari 196 760.76 62 002.95 Maret 189 096.16 49 033.78 April 8 363.01 60 067.48 Mei 55 902.72 24 291.67 Juni 185 779.51 21 734.54 Juli 90 714.32 20 475.98 Agustus 176 894.36 24 926.55 September 67 245.47 9 942.56 Oktober 60 329.16 14.50 November 46 264.32 2 750.67 Desember 171 624.75 157 232.82 Total 1 370 788.45 465 210.12 Rata-rata 114 232.37 38 767.51
Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

Persediaan bahan baku SMP dan gula setiap bulannya dapat dilihat pada Tabel 9. Berdasarkan Tabel. 9 tersebut diketahui bahwa selama tahun 2005, total persediaan yang tersimpan di gudang adalah 1 370 788.45 kg SMP dan

86

465 210.12 kg gula. Adanya persediaan ini akan berpengaruh terhadap biaya penyimpanan perusahaan. Semakin banyak persediaan yang di simpan, maka semakin besar biaya penyimpanannya. Total biaya persediaan bahan baku per tahun adalah total biaya antara pemesanan bahan baku dan biaya penyimpanan bahan baku. Biaya pemesanan perusahaan selama tahun 2005 adalah Rp 4 680 115.20 untuk bahan baku SMP dengan frekuensi pemesanan sebanyak 27 kali pesan. Pengiriman barang setiap kali pesanan biasanya dilakukan secara bertahap, ya itu beberapa kali dalam sebulan tergantung dari permintaan perusahaan. Sedangkan biaya pemesanan bahan baku gula adalah Rp 818 848.14 dengan frekuensi pemesanan sebanyak 33 kali. Biaya penyimpanan total perusahaan selama tahun 2005 untuk bahan baku SMP adalah Rp 62 658 740.05 dan Rp 995 549.66 untuk bahan baku gula. Sehingga biaya persediaan total bahan baku perusahaan selama tahun 2005 adalah sebesar Rp 67 338 855.25 untuk SMP dan untuk bahan baku gula adalah sebesar Rp 1 814 397.80. Biaya persediaan total perusahaan untuk bahan baku SMP dan Gula adalah sebesar Rp 69 153 253.05. Secara rinci mengenai frekuensi pemesanan, biaya pemesanan dan biaya penyimpanan bahan baku SMP dan gula dengan metode perusahaan dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Biaya Pers ediaan Bahan Baku per tahun periode 2005 menggunakan Metode perusahaan.
Bahan Baku Biaya Pemesanan/tahun Rp/pesan Frek Biaya Penyimpanan/tahun Jml stock setahun (kg/tahun) 1 370 788.45 465 210.12 Total Biaya Penyimpanan per tahun (Rp/tahun) 62 658 740.05 995 549.66 Total Biaya Rp/kg Pemesanan per tahun (Rp/tahun) 1 386 700.80 45.71 496 271.60 2.14 Total Biaya Persediaan Biaya Total Persediaan (Rp)

SMP Gula

173 337.60 24 813.58

8 20

64 045 440.85 1 491 821.26 65 537 262.11

Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

87

Selama tahun 2005 perusahaan melakukan pemesanan sebanyak delapan kali untuk SMP dan dua puluh kali untuk gula. Perusahaan melakukan pemesanan sebanyak delapan kali untuk SMP karena bahan baku tersebut diperoleh dengan cara mengimpor dari beberapa negara, dimana biaya pemesanannya yang relatif mahal. Kuantitas pemesanan yang dilakukan perubahaan berbeda-beda setiap periode pemesanan, tergantung dari perkiraan permintaan konsumen. Oleh karena itu perusahaan selalu menyediaakn sediaan penyangga yang mengakibatkan adanya persediaan di gudang setiap periodenya. Hal ini disebabkan perusahaan tidak ingin mengambil resiko ketidakandalan pemasok yang berdampak pada terganggunya proses produksi perusahaan. Perusahaan saat ini memiliki enam pemasok untuk SMP dan tujuh pemasok untuk gula. Dalam rangka memenuhi kebutuhan bersih SMP dan gula setiap bulannya, perusahaan melakukan pemesanan kepada seluruh pemasok tersebut. Tabel 11. Biaya Pembelian SMP dan Gula Kebijakan Perusahaan Tahun 2005
Kuantitas (kg) SMP Gula 2 178 414.89 1 510 913.78 Harga beli + Biaya tranportasi (Rp/kg) 22 009.68 5 200.00 Biaya Bongkar Muat (Rp/kg) 1.90 1.90 Biaya Pembelian Total (Rp/tahun) 47 950 353 659.12 7 859 622 373.48 55 809 976 032.60

Biaya Pembelian Total
Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

Pada Tabel 11. dapat dilihat rincian biaya pembelian bahan baku SMP dan gula. Kuantitas pembelian bahan baku SMP yang ditujukan untuk produksi UHT pada tahun 2005 adalah 2 178 414.89 kilogram dengan biaya pembelian sebesar Rp 47 950 353 659.12. Sedangkan untuk bahan baku gula, kuantitas pembelian perusahaan adalah 1 510 913.78 kilogram dengan biaya pembelian sebesar

88

Rp 7 859 622 373.48. Biaya pembelian total untuk bahan baku SMP dan gula yang dilakukan perusahaan pada tahun 2005 adalah Rp 55 809 976 032.60.

6.2

Metode Material Requirement Planning (MRP) MRP merupakan metode perencanaan dan pengendalian pesanan dan

persediaan untuk barang-barang dengan sifat permintaan dependent (terikat). SMP dan gula yang digunakan oleh PT. Indolakto merupakan bahan baku untuk produksi susu UHT yang memiliki sifat permintaan terikat. Sehingga metode MRP ini dapat digunakan sebagai alternatif bagi perusahaan untuk merencanakan kebutuhan bahan dan mengelola persediaan bahan baku terutama dalam hal ukuran lot pemesanan, biaya persediaan, dan besarnya tingkat persediaan. Ada beberapa macam teknik MRP yang dalam perhitungan besarnya lot yang dipesan. Teknik MRP tersebut adalah teknik Lot For Lot (LFL), Economic Order Quantity (EOQ) dan teknik Part Period Balancing (PPB). Namun dalam pembahasan ini hanya mengkaji teknik EOQ dan PPB sedangkan teknik LFL tidak digunakan mengingat kebijakan perusahaan yang menginginkan adanya persediaan pengaman. Sementara teknik LFL pada prinsipnya mengharuskan perusahaan untuk selalu memesan sebesar kebutuhan bersih SMP dan gula yang disesuaikan dengan waktu tunggu masing- masing bahan tersebut tanpa sediaan pengaman. Rencana pelaksanaan pesanan merupakan perhitungan waktu mundur dari rencana penerimaan pesanan. Dalam hal ini, rencana pelaksanaan pesanan sangat tergantung dari lead time pengadaan bahan baku SMP dan gula tersebut. Dengan demikian, perusahaan harus memesan SMP dan gula masing- masing pada tiga bulan dan satu bulan sebelum timbul adanya kebutuhan bersih persediaan bahan baku tersebut, agar persediaan SMP dan gula tersedia pada saat dibutuhkan.

89

6.2.1

Metode MRP Teknik Economic Order Quantity (EOQ) Penggunaan metode EOQ mengharuskan perusahaan melakukan

pemesanan SMP dan gula sebesar tingkat EOQnya atau sebesar kelipatan dari EOQ pada setiap kali melakukan pemesanan apabila kebutuhan bersih SMP dan gula lebih besar dari nilai EOQ. Nilai EOQ untuk bahan baku SMP adalah 36 199.35 kg dan 51 683.53 kg untuk bahan baku gula. Dengan menggunakan metode EOQ, perusahaan melakukan pemesanan sebanyak sembilan kali untuk bahan baku SMP dan sebelas kali untuk bahan baku gula. Jumlah persediaan di tangan selama tahun 2005 dengan metode EOQ adalah sebanyak 1 220 357.73 kg untuk bahan baku SMP dan 634 488.53 kg gula. Adanya persediaan tersebut mengakibatkan perusahaan harus menanggung biaya penyimpanan untuk SMP dan gula masing- masing sebesar Rp 55 782 551.61 dan Rp 1 357 805.45. Biaya persediaan total SMP dan gula dengan menggunakan metode EOQ adalah Rp 58 973 344.84. Biaya ini masih lebih kecil dibandingkan biaya persediaan total yang ditanggung perusahaan. Hal ini disebabkan frekuensi pemesanan dan jumlah persediaan di tangan selama tahun 2005 dengan metode EOQ lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan. Tabel 12. Biaya Persediaan SMP dan Gula dengan Metode EOQ Tahun 2005
Bahan Baku Biaya Pemesanan/tahun Rp/pesan Frek Total Biaya Pemesanan per tahun (Rp/tahun) 1 560 038.40 272 949.38 1 832 987.78 Rp/kg Biaya Penyimpanan/tahun Jml stock setahun (kg/tahun) Tot Biaya Penyimpanan per tahun (Rp/tahun) 55 782 551.61 1 357 805.45 57 140 357.06 Biaya Total Persediaan (Rp/tahun)

SMP Gula Total

173 337.60 24 813.58

9 11

45.71 1 220 357.73 2.14 634 488.53

57 342 590.01 1 630 754.83 58 973 344.84

Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

Frekuensi pemesanan yang dilakukan perusahaan lebih sedikit karena perusahaan melakukan pemesanan lebih jarang namun dengan kuantitas pesan

90

yang relatif tinggi sehingga menyebabkan persediaan perusahaan menjadi besar. Secara rinci mengenai frekuensi pemesanan, biaya pemesanan dan biaya penyimpanan SMP dan gula dengan metode EOQ dapat dilihat pada Tabel 12. Kuantitas pembelian bahan baku SMP untuk produksi UHT pada tahun 2005 dengan metode EOQ adalah 1 701 369.45 kg dengan biaya pembelian sebesar Rp 37 449 829 758.23. Sedangkan untuk gula, kuantitas pembelian adalah 1 292 088.25 kg dengan biaya pembelian sebesar Rp 6 721 313 867.68. Kuantitas tersebut masih lebih sedikit dibandingkan kuantitas yang dibeli perusahaan. Perusahaan melakukan pembelian dengan kuantitas yang lebih besar karena perusahaan tidak mau mengambil resiko kekurangan bahan baku. Biaya pembelian total SMP dan gula dengan metode EOQ adalah Rp 44 171 143 625.91. Rincian biaya pembelian bahan baku SMP dan gula dengan metode EOQ dapat dilihat pada Lampiran 17.

6.2.2

Metode MRP Teknik Part Period Balancing (PPB) Dalam penggunaan metode PPB, perusahaan melakukan pemesanan bahan

baku SMP dan gula sebesar kebutuhan kotor pada suatu periode yang digabungkan. Banyaknya periode yang digabungkan tergantung dari nilai kumulatif bagian periode yang mendekati nilai Economic Part Period (EPP). Nilai EPP untuk masing- masing bahan baku diperoleh dari hasil bagi antara biaya pemesanan per pesanan dengan biaya penyimpanan per kilogram per bulan SMP dan gula tersebut. Nilai EPP SMP dan gula masing- masing sebesar 3 792.12 dan 11 595.13. Berdasarkan Lampiran 13 dan Lampiran 14 diperoleh nilai akumulasi periode bagian yang mendekati nilai EPP untuk bahan baku SMP dan bahan baku

91

gula, yaitu satu periode. Nilai EPP yang menghasilkan periode gabungan satu periode tersebut menyebabkan frekuensi dan kuantitas pemesanan masing- masing SMP dan gula adalah sembilan dan sebelas kali. Kuantitas pemesanan yang direncanakan adalah sejumlah kebutuhan kotor selama periode gabungan, dalam hal ini adalah sejumlah kebutuhan kotor satu periode ya ng jumlahnya berbeda-beda untuk setiap periodenya ditambah dengan persediaan pengaman. Kebijakan perusahaan menginginkan adanya persediaan pengaman untuk antisipasi terhadap permintaan konsumen, oleh karena itu dalam penentuan lot pemesanan perlu diikutsertakan perhitungan persediaan pengaman. Biaya persediaan total selama tahun 2005 dari bahan baku SMP adalah Rp 48 946 297.45 dan Rp 1 012 441.80 untuk bahan baku gula. Secara keseluruhan, biaya persediaan total perusahaan selama tahun 2005 dari bahan baku SMP dan gula dengan teknik PPB adalah sebesar Rp 49 958 739.25. Biaya persediaan total dengan teknik PPB ini masih lebih rendah bila dibandingkan dengan teknik perusahaan. Secara rinci mengenai frekuensi pemesanan, biaya pemesanan dan biaya penyimpanan bahan baku SMP dan gula dengan metode PPB dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13. Biaya Persediaan SMP dan Gula dengan Metode PPB Tahun 2005
Bahan Baku Biaya Pemesanan/tahun Rp/pesan Frek Total Biaya Pemesanan per tahun 1 560 038.40 272 949.38 1 832 987.78 Rp/kg Biaya Penyimpanan/tahun Jml stock setahun 1 036 671.60 345 557.20 Total Biaya Penyimpanan per tahun 47 386 259.05 739 492.42 48 125 751.46 Biaya Total Persediaan (Rp)

SMP Gula Total

173 337.60 24 813.58

9 11

45.71 2.14

48 946 297.45 1 012 441.80 49 958 739.25

Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

Kuantitas pembelian bahan baku SMP untuk produksi UHT pada tahun 2005 dengan metode PPB adalah 1 686 026.83 kg dengan biaya pembelian

92

sebesar Rp 37 112 114 450.69. Sedangkan kuantitas pembelian bahan baku gula adalah 1 308 163.72 kg dengan biaya pembelian sebesar Rp 6 804 936 875.66. Biaya pembelian total SMP dan gula dengan metode PPB adalah sebesar Rp 43 917 051 326.35.

6.3

Analisis Perbandingan Metode Pengendalian Persediaan Berdasarkan hasil perhitungan metode pengendalian persediaan

perusahaan dengan metode MRP teknik EOQ dan PPB selama tahun 2005 dapat dilakukan perbandingan antara model- model tersebut. Ringkasan perhitungan dapat dilihat pada Tabel 14. Perusahaan unggul dalam biaya pemesanan SMP dibandingkan teknik EOQ dan PPB karena frekuensi pemesanan SMP perusahaan lebih jarang tetapi berdampak pada biaya penyimpanan yang lebih besar. Hal itu juga berdampak pada tingginya biaya persediaan SMP perusahaan. Dalam pemesanan gula, perusahaan menghasilkan biaya terbesar karena frekuensi yang dilakukan perusahaan lebih sering diband ingkan teknik EOQ dan PPB. Seringnya perusahaan melakukan pemesanan gula untuk menghindari kerusakan gula akibat penyimpanan yang terlalu lama karena gula mudah membatu. Biaya penyimpanan gula perusahaan masih lebih rendah dibandingkan biaya penyimpanan dengan teknik EOQ namun masih lebih tinggi dibandingkan dengan teknik PPB. Metode MRP teknik PPB menghasilkan biaya persediaan total dan juga biaya pembelian total untuk bahan baku SMP dan gula yang paling kecil bila dibandingkan dengan metode yang digunakan perusahaan dan teknik EOQ. Penghematan yang dihasilkan dengan metode PPB tersebut adalah yang terbesar. Pada Tabel 15 terlihat bahwa penghematan biaya persediaan SMP dan Gula dengan metode PPB mampu menghemat sebesar 23.77 persen dibandingkan

93

teknik perusahaan. Biaya persediaan gula memiliki persentase terbesar dalam penghematan dengan metode PPB tersebut. Hal ini dapat dilihat pada Lampiran 6. Tabel 14. Perbandingan Frekuensi, Biaya Persediaan dan Biaya Pembelian Total SMP dan Gula Tahun 2005
Uraian
Frekuensi Pemesanan Biaya Persediaan SMP Biaya Persediaan Gula Biaya Persediaan Total Biaya Pembelian SMP Biaya Pembelian Gula Biaya Pembelian Total

Perusahaan
8 kali SMP 20 kali Gula 64 045 440.85 1 491 821.26 65 537 262.11 47 950 353 659.12 7 859 622 373.48 55 809 976 032.60

EOQ
9 kali SMP 11 kali Gula 57 342 590.01 1 630 754.83 58 973 344.84 37 449 829 758.23 6 721 313 867.68 44 171 143 625.91

PPB
9 kali SMP 11 kali Gula 48 946 297.45 1 012 441.80 49 958 739.25 37 112 114 450.69 6 804 936 875.66 43 917 051 326.35

Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

Sedangkan untuk penghematan terhadap biaya pembelian metode PPB juga menghasilkan penghematan terbesar yaitu 21.31 persen. Kontribusi penghematan dari pembelian SMP merupakan yang terbesar. Hal ini terjadi karena proporsi penggunaan bahan baku SMP untuk pembuatan susu UHT lebih besar dibandingkan bahan baku gula sehingga sedikit saja perubahan dalam rencana produksi susu UHT akan berdampak lebih besar terhadap kuantitas kebutuhan SMP yang dipesan. Tabel 15. Penghematan Biaya Persediaan dan Pembelian dengan Metode MRP teknik EOQ dan PPB
Uraian (Rp) Biaya Persediaan SMP Biaya Persediaan Gula Biaya Persediaan Total Biaya Pembelian SMP Biaya Pembelian Gula Biaya Pembelian Total 6 702 850.84 -138 933.57 6 563 917.27 10 500 523 900.89 1 138 308 505.80 11 638 832 406.69 EOQ (%) 10.47 -9.31 10.02 21.90 14.48 20.85 (Rp) 15 099 143.40 479 379.46 15 578 522.86 10 838 239 208.43 1 054 685 497.82 11 892 924 706.25 PPB (%) 23.58 32.13 23.77 22.60 13.42 21.31

Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

94

6.4

Rekomendasi Alternatif Metode Pengendalian Persediaan Bahan Baku Berdasarkan Data Historis Perusahaan Tahun 2005 Berdasarkan hasil analisis perbandingan biaya persediaan dan

penghematan metode MRP terhadap kebijakan perusahaan tahun 2005, maka dapat direkomendasikan suatu model alternatif pengendalian persediaan bahan baku SMP dan gula bagi PT. Indolakto. Metode alternatif ini diharapkan dapat menghemat biaya perusahaan melalui penghematan biaya persediaan bahan bakunya. Selain itu, tingkat persediaan SMP dan gula perusahaan diharapkan dapat optimal sehingga perusahaan tidak mengalami gangguan produksi yang disebabkan oleh kekurangan bahan baku dan membengkaknya biaya persediaan akibat besarnya persediaan yang tersimpan. Hasil analisis perbandingan biaya persediaan dan penghematan metode MRP terhadap kebijakan perusahaan tahun 2005 menunjukkan bahwa kebijakan pengendalian persediaan SMP dan gula perusahaan belum optimal. Hal ini dibuktikan dengan besarnya biaya persediaan bahan baku SMP dan gula yang mencapai Rp 65 537 262.11 dan biaya pembelian sebesar Rp 55 809 976 032.60. Biaya pemesanan dan biaya penyimpanan gula perusahaan mempunyai kontribusi yang besar terhadap tingginya biaya persediaan perusahaan. Tingginya biaya penyimpanan gula perusahaan disebabkan oleh besarnya persediaan yang tersimpan di gudang dan tingginya biaya pemesanan gula disebabkan perusahaan lebih sering memesan gula. Sementara metode MRP teknik, EOQ dan PPB memungkinkan perusahaan melakukan penghematan terhadap biaya persediaan, terutama teknik PPB.

95

Tingginya biaya pembelian SMP dan gula yang ditanggung oleh perusahaan disebabkan kuantitas selama tahun 2005 yang dibeli perusahaan lebih banyak diband ingkan dengan metode MRP teknik EOQ dan PPB. Kuantitas pembelian bahan baku perusahaan dipengaruhi oleh kebijakan perusahaan yang menginginkan adanya persediaan pengaman. Sediaan pengaman yang dilakukan perusahaan adalah 50 persen dari rata-rata kebutuhan bersih SMP setiap periode (bulan) dan 25 persen dari kebutuhan bersih rata-rata gula setiap periode (bulan). Hasil analisis dengan metode PPB dalam penelitian ini memberikan alternatif bagi perusahaan untuk menghasilkan penghematan terhadap biaya pemesanan dan biaya penyimpanan yang berdampak pada biaya persediaan yang lebih besar serta penghematan terhadap biaya pembelian, terutama pembelian bahan baku SMP. Metode PPB pada prinsipnya dapat digunakan untuk menggabungkan kebutuhan bersih lebih dari satu periode. Penggunaan metode PPB ini menghasilkan periode gabungan yang akan meminimumkan biaya persediaan (biaya pemesanan dan biaya penyimpanan). Metode ini lebih dinamis dalam menyeimbangkan antara biaya pemesanan dan biaya penyimpanan yang dikeluarkan perusahaan. Selain itu, metode PPB dapat lebih fleksibel dalam penggabungan kebutuhan bersih SMP dan gula selama periode tertentu jika terjadi perubahan biaya persediaan. Oleh karena itu metode PPB dapat direkomendasikan sebagai metode pengendalian persediaan bahan baku SMP dan gula pada PT. Indolakto.

96

VII. PERENCANAAN BAHAN BAKU

7.1

Peramalan Produksi Peramalan dilakukan terhadap angka produksi produk jadi susu UHT PT.

Indolakto. Data historis produksi susu UHT yang digunakan adalah data produksi bulanan dari tahun 2000 hingga tahun 2005. Metode peramalan yang digunakan adalah metode terbaik dari beberapa metode yang telah diujikan terhadap data produksi PT Indolakto dengan kriteria uji yaitu kesesuaian pola data dan nilai MSE (Mean Square Error) terkecil.

7.1.1

Identifikasi Pola Data Identifikasi pola data dilakukan untuk mengetahui unsur-unsur yang

terdapat pada deret data produksi dengan mengamati plot data produksi susu UHT serta plot autokorelasinya. Berikut ini adalah plot data produksi susu UHT pada PT. Indolakto periode tahun 2000 hingga 2005.
Time series Plot
3500 3000 2500 Prod UHT (Ton) 2000 1500 1000 500 0 1 7 14 21 28 35 42 Index 49 56 63 70

Gambar 6. Plot Data Produksi Susu UHT PT. Indolakto Periode 2000-2005

Berdasarkan Gambar. 6 terlihat bahwa data produksi susu UHT PT. Indolakto tidak stasioner, memiliki unsur tren dan memiliki unsur musiman. Sebaran data produksi yang tidak berada disekitar garis lurus menunjukkan bahwa

97

data tidak stasioner. Berdasarkan plot autokorelasi (Lampiran 8) menunjukkan pola data yang tidak stasioner, karena time lag tiga dan empat periode masih berbeda nyata dengan nol, bahkan sampai periode ke 15 nilai koefisien ACF masih berada di luar selang kepercayaan (-0.2 s/d 0.2). Data produksi tersebut sudah stasioner ketika dilakukan differencing/pembedaan pertama (d 1) terhadap ACFnya. Hasil differencing pertama ACF dapat dilihat pada Lampiran 9. Nilai koefisien ACF setelah differencing pertama menunjukkan bahwa time lag pertama dan kedua berbeda nyata dengan nol, dan pada time lag ketiga sudah tidak berbeda nyata dengan nol. Hal tersebut menunjukkan bahwa data sudah stasioner. Pola data produksi susu UHT PT. Indolakto memiliki kecenderungan yang positif yaitu memiliki tren yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dipengaruhi oleh semakin meningkatnya minat konsumen untuk mengkonsumsi susu UHT. Oleh karena itu, produksi susu UHT perusahaan terus bertambah dari segi jumlah dan variasi produk. Tahun 2000 total produksi UHT PT. Indolakto adalah 6 744.96 ton, kemudian mengalami peningkatan setiap tahunnya menjadi 9 695.58 ton pada tahun 2001, 17 259.87 ton pada tahun 2002, 20 710.09 ton pada tahun 2003, 21 077.37 ton pada tahun 2004, dan 23 037.15 ton pada tahun 2005. Berdasarkan nilai koefisien autokorelasi yang membentuk suatu siklus yang memiliki titik tertinggi, terendah dan berulang m enandakan adanya unsur musiman. Hal ini juga terlihat dari data produksi susu UHT pada Lampiran 7 yang menunjukkan angka produksi tertinggi, terendah dan berulang. Produksi susu UHT PT. Indolakto mencapai puncaknya pada bulan September dan Oktober hampir disetiap tahunnya. Hal ini terjadi karena perusahaan memproduksi lebih banyak untuk mengantisipasi permintaan yang besar menjelang hari raya Idul Fitri

98

dan Natal serta tahun baru. Keadaan ini terus berulang setiap tahunnya sehingga pola data musiman yang dimiliki oleh data produksi tersebut adalah pola musiman dengan panjang musiman 12.

7.1.2

Peramalan Produksi Metode peramalan yang digunakan untuk meramalkan produksi susu UHT

periode tahun 2006 adalah metode terbaik dari beberapa metode yang telah diujikan. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh bahwa model dekomposisi additif dengan seasonal length 12 merupakan model terbaik untuk meramalkan produksi bulanan susu UHT periode tahun 2006 karena memberikan nilai MSE terkecil, yaitu 102 862. Perbandingan nilai MSE pada beberapa model yang diujikan dapat dilihat pada Lampiran 10. Metode dekomposisi bertujuan untuk membantu pemahaman atas perilaku deret data sehingga dapat dicapai keakuratan peramalan yang lebih baik. Komponen yang mempengaruhi deret data dapat dikelompokkan menjadi empat macam yaitu trend, musiman, siklus, dan faktor acak. Apabila dalam suatu deret data terdapat komponen-komponen tersebut maka model dekomposisi akan memberikan hasil yang optimal dan cukup akurat. Pada deret data produksi susu UHT PT. Indolakto seperti yang telah dijelaskan sebelumnya terdapat komponen tren dan musiman sehingga model ini cocok digunakan untuk meramalkan beberapa periode waktu kedepan dan jika dibandingkan model Winters, model ini tidak terlalu rumit. Penerapan model dekomposisi aditif dalam penelitian ini dapat dilihat pada Lampiran 12. Langkah pertama adalah memisahkan masing- masing komponen yaitu komponen tren dan musiman. Caranya yaitu dengan menghitung

99

centre moving average (CMA) dengan panjang average 12 (banyaknya periode dalam satu tahun) sehingga diperoleh data time series yang telah hilang unsur musimannya. Selanjutnya mendapatkan kembali unsur musiman dan error (Sn+E)t serta menghitung indeks musiman dengan menghilangkan error dari (Sn+E)t yakni dengan menghitung rata-rata untuk setiap musim. Jumlah indeks musiman seharusnya sama dengan nol, jika tidak sama dengan nol maka dilakukan koreksi sehingga diperoleh indeks musiman terkoreksi (IMT). IMT berlaku umum disetiap tahun. Langkah selanjutnya yaitu mendapatkan dugaan komponen tren dengan cara menghitung deseasonalize, yakni mengurangi data aktual dengan indeks musiman terkoreksi (IMT), kemudian dapatkan model tren yang sesuai dengan menggunakan data deseasonalize sebagai variabel tak bebas. Model tren yang terbentuk, yaitu: T = 503951 + (23683.6 t). Tabel 16. Hasil Peramalan Produksi Susu UHT Periode Tahun 2006 dengan Metode Dekomposisi Aditif No 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 Periode Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Total Tren (T) 2 232 853.80 2 256 537.40 2 280 221.00 2 303 904.60 2 327 588.20 2 351 271.80 2 374 955.40 2 398 639.00 2 422 322.60 2 446 006.20 2 469 689.80 2 493 373.40 28 357 363.20 Musiman (IMTt) -514 348.11 -220 914.01 64 529.70 -204 613.04 -252 849.45 136 137.29 92 828.02 -37 582.46 552 713.04 464 243.77 123 482.58 -203 627.34 0.00 Nilai Ramalan (Y) 1 718 505.69 2 035 623.39 2 344 750.70 2 099 291.56 2 074 738.75 2 487 409.09 2 467 783.42 2 361 056.54 2 975 035.64 2 910 249.97 2 593 172.38 2 289 746.06 28 357 363.20

Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

Setelah masing- masing komponen diketahui, dalam hal ini adalah komponen tren dan musiman. Langkah selanjutnya adalah melakukan peramalan

100

untuk produksi bulanan susu UHT PT. Indolakto periode tahun 2006, yaitu dengan menjumlahkan komponen tren dan musiman untuk periode tahun 2006 (periode 73 – 84) sehingga diperoleh hasil ramalan seperti pada Tabel 16. Model dekomposisi aditif yang terbentuk adalah: Ýt = 503951 + (23683.6 x t) + IMTt Peramalan produksi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah peramalan jangka pendek (satu tahun). Hal ini didasari oleh perencanaan produksi yang akan dilakukan adalah jangka pendek. Menurut Assauri (1999), perencanaan jangka pendek adalah penentuan kegiatan produksi yang akan dilakukan dalam jangka waktu satu tahun mendatang atau kurang, dengan tujuan untuk mengatur penggunaan tenaga kerja, persediaan bahan dan fasilitas produksi yang dimiliki perusahaan pabrik. Oleh karena itu, peramalan yang dilakukan adalah peramalan produksi susu UHT untuk tahun 2006 yang digunakan untuk merencanakan kebutuhan bahan bakunya selama tahun 2006.
Plot Data Produksi Hasi l Ramalan Tahun 200 6
3000000 2800000 Pro d Hasil Ramalan (kg) 2600000 2400000 2200000 2000000 1800000 1600000 1 2 3 4 5 6 7 Index 8 9 10 11 12

Gambar 7. Plot Data Hasil Peramalan Produksi Susu UHT PT. Indolakto Periode Tahun 2006 Pola data produksi hasil peramalan tersebut memiliki tren yang meningkat dari bulan Januari sampai bulan Maret, kemudian mengalami penurunan produksi pada bulan April sampai bulan Mei. Produksi kembali meningkat pada bulan Juni

101

dan pada bulan Juli menurun kembali sampai bulan Agustus. Produksi mencapai puncaknya pada Bulan September dan terus mengalami penurunan produksi hingga akhir tahun 2006. Plot data produksi hasil peramalan untuk periode tahun 2006 dapat dilihat pada Gambar 7. Produksi susu UHT paling rendah terjadi pada bulan Januari. Hal ini disebabkan masih tersedianya stock produk jadi susu UHT yang cukup banyak di akhir tahun 2005. Hal ini menyebabkan perusahaan menetapkan kebijakan untuk memproduksi lebih sedikit. Selain itu, kapasitas gudang produk jadi masih terbatas dalam menampung hasil produksi. Sedangkan pada bulan September 2006 produksi mencapai puncaknya, yaitu sebesar 3 063 394.19 kilogram. Hal ini disebabkan oleh kebijakan perusahaan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang hari raya Idul Fitri dan persiapan Natal serta tahun baru 2007.
Pl ot Data Produks i Aktual, Ramalan dan Error Hasil Dekomposisi Additive
3000000
Variable Ak tual Ramala n Err or

2000000 Data

1000000

0

-1000000 1 7 14 21 28 35 42 Inde x 49 56 63 70

Gambar 8. Plot Data Aktual, Ramalan dan Error dari Data Produksi Susu UHT PT. Indolakto Periode Tahun 2000-2005 Perbandingan antara data aktual, hasil ramalan dan error diperlihatkan pada Gambar. 8. Plot data hasil ramalan menunjukkan sebaran yang mendekati pola plot data aktualnya. Sedangkan hasil perbandingan antara ramalan dan data

102

aktual produksi susu UHT selama tiga bulan berjalan yaitu dari bulan Januari, Februari dan Maret tahun 2006 adalah dapat dilihat pada Tabel. 17. Berdasarkan perbandingan hasil ramalan produksi dengan hasil produksi aktual periode tahun 2006 diketahui bahwa selisih data ramalan dan data aktual produksi pada bulan Januari 2006 adalah sebesar 222 624.31 kg a sebesar tau 11.47 persen. Pada bulan Februari, selisih ramalan dan data aktual produksi adalah sebesar 251 796.61 kg atau sebesar 11.01 persen. Selisih tersebut menurun hingga pada bulan Maret 2006 selisihnya mencapai 121 590.70 kg atau sebesar 5.47 persen. Ini menunjukkan kecenderungan yang semakin membaik antara hasil ramalan dengan data aktual. Tabel 17. Perbandingan Hasil Ramalan dengan Data Aktual Produksi Susu UHT PT. Indolakto Bulan Januari - Maret 2006 Bulan Januari Februari Maret Total Data Ramalan (Kg) 1 718 505.69 2 035 623.39 2 344 750.70 6 098 879.78 Data Aktual (Kg) 1 941 130.00 2 287 420.00 2 223 160.00 6 451 710.00 Selisih (Kg) -222 624.31 -251 796.61 121 590.70 -352 830.22 (%) 11.47 11.01 5.47 5.47

Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

7.2

Perencanaan Produksi Kegiatan produksi membutuhkan perencanaan yang menjadi dasar atas

kegiatan yang akan dilaksanakan dan pengendalian terhadap kegiatan-kegiatan tersebut sehingga diperoleh produk yang sesuai dengan target kualitas dan kuantitas maksimum serta biaya yang minimum. Prakiraan permintaan merupakan titik awal dari perencanaan dan pengendalian produksi, karena berapapun produksi yang dihasilkan pada akhirnya harus memenuhi kebutuhan konsumen. Namun sering kali hasil peramalan/prakiraan tidak sama persis dengan keadaan

103

aktualnya. Demikian halnya dengan peramalan produksi yang dilakukan dalam penelitian ini. Ada nilai error yang dihasilkan dari peramalan tersebut yang perlu diantisipasi. Semakin kecil nilai error tersebut maka peramalan yang dilakukan semakin baik. Antisipasi persediaan produk jadi susu UHT yang ditetapkan sebagai persediaan pengaman perlu dihitung berdasarkan tingkat pelayanan perusahaan. Tingkat pelayanan perusahaan di tahun 2005 adalah 102.97 persen. Persediaan pengaman dihitung dengan cara menghitung selisih antara jumlah penjualan dengan jumlah produksi susu UHT periode tahun 2006. Jumlah penjualan tahun 2006 diperoleh dengan cara mengalikan tingkat pelayanan perusahaan di tahun 2005 dengan nilai produksi susu UHT pada tahun 2006. Hasil perhitungan persediaan pengaman akhirnya akan digunakan sebagai persediaan akhir optimal yang ditampilkan pada Tabel 18. Tabel 18. Jumlah Penjualan, Produksi, Persediaan Pengaman, dan Rencana Produksi Susu UHT PT. Indolakto Tahun 2006 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Total Penjualan (kg) 1 769 545.31 2 096 081.40 2 414 389.80 2 161 640.52 2 136 358.50 2 561 285.14 2 541 076.59 2 431 179.92 3 063 394.19 2 996 684.39 2 670 189.60 2 357 751.52 29 199 576.89 Produksi (kg) 1 718 505.69 2 035 623.39 2 344 750.70 2 099 291.56 2 074 738.75 2 487 409.09 2 467 783.42 2 361 056.54 2 975 035.64 2 910 249.97 2 593 172.38 2 289 746.06 28 357 363.20 Persediaan Pengaman (kg) 51 039.62 60 458.01 69 639.10 62 348.96 61 619.74 73 876.05 73 293.17 70 123.38 88 358.56 86 434.42 77 017.22 68 005.46 842 213.69 Rencana Produksi (kg) *553 885.31 2 096 081.40 2 414 389.80 2 161 640.52 2 136 358.50 2 561 285.14 2 541 076.59 2 431 179.92 3 063 394.19 2 996 684.39 2 670 189.60 2 357 751.52 27 983 916.89

*Jumlah persediaan awal produk UHT bulan Januari 2006 adalah 1 215 660 kg

Rencana produksi susu UHT untuk periode tahun 2006 diperoleh dari pengurangan jumlah produksi hasil ramalan dan persediaan akhir (persediaan

104

pengaman) dengan persediaan awal tahun 2006. Persediaan awal bulan Januari tahun 2006 adalah berjumlah 1 215 660 kg. Rencana produksi untuk bulan Januari 2006 didapat dari pengurangan jumlah produksi (hasil ramalan) dan persediaan akhir (persediaan pengaman) dengan persediaan awal yaitu 553 885.31 kg (1 718 505.69 kg + 51 039.62 kg – 1 215 660 kg). Perhitungan rencana produksi untuk bulan selanjutnya juga didapat dengan cara yang sama.

7.3

Perencanaan Kebutuhan Bahan Perencanaan kebutuhan bahan baku pada PT. Indolakto untuk produk susu

UHT diturunkan dari rencana produksi perusahaan. Rencana produksi ini diperoleh dari penyesuaian supply order dari bagian marketing dengan kemampuan produki perusahaan. Setelah jumlah produksi direncanakan, kemudian perusahaan menentukan berapa bahan baku yang dibutuhkan. Ada dua formula yang digunakan oleh PT. Indolakto untuk menghasilkan produk susu UHT, yaitu dengan formula Fresh Milk (FM) dan formula recombined. Perbedaannya terletak pada penggunaan susu segar sebagai bahan baku dan proporsi SMP yang digunakan. Jika menggunakan formula FM, maka menggunakan bahan baku susu segar dan proporsi SMP lebih sedikit. Sedangkan jika menggunakan formula recombined, maka susu segar tidak digunakan sebagai bahan baku dan proporsi SMP lebih banyak. Mengingat keterbatasan pasokan susu segar (FM), perusahaan lebih menyukai menggunakan formula recombined untuk memproduksi susu UHT. Oleh karena itu perencanaan kebutuhan dan pengendalian persediaan bahan baku pada penelitian ini dikhususkan untuk bahan baku SMP dan gula yang merupakan komponen utama dalam pembuatan susu UHT formula recombined.

105

Berdasarkan hasil wawancara dengan manajer produksi UHT mengenai proporsi penggunaan dari masing- masing bahan baku dengan formula recombined diperoleh bahwa proporsi SMP dalam 1 kilogram susu UHT adalah 9 persen dan 6 persen untuk bahan baku gula. Pada Tabel. 19 dapat dilihat rencana kebutuhan bahan baku SMP dan gula yang diturunkan dari rencana produksi susu UHT periode tahun 2006. Tabel 19. Rencana Produksi (kg) dan Rencana Kebutuhan Bahan Baku (kg) Hasil Proyeksi Bulanan Tahun 2006 Rencana Produksi Bulan Susu UHT (kg) Januari 553 885.31 Februari 2 096 081.40 Maret 2 414 389.80 April 2 161 640.52 Mei 2 136 358.50 Juni 2 561 285.14 Juli 2 541 076.59 Agustus 2 431 179.92 September 3 063 394.19 Oktober 2 996 684.39 November 2 670 189.60 Desember 2 357 751.52 Total 27 983 916.89 Rata-rata kebutuhan per bulan
Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

Rencana Kebutuhan Bahan Baku (kg) SMP Gula 49 849.68 33 233.12 188 647.33 125 764.88 217 295.08 144 863.39 194 547.65 129 698.43 192 272.26 128 181.51 230 515.66 153 677.11 228 696.89 152 464.60 218 806.19 145 870.80 275 705.48 183 803.65 269 701.60 179 801.06 240 317.06 160 211.38 212 197.64 141 465.09 2 518 552.52 1 679 035.01 209 879.38 139 919.58

Rencana kebutuhan bahan baku pada bulan Januari 2006 untuk SMP adalah sebesar 49 849.68 kg (0.09 x 553 885.31 kg) dan kebutuhan bahan baku gula adalah sebesar 33 233.12 kg (0.06 x 553 885.31 kg). Kebutuhan untuk bulan berikutnya didapat dengan cara yang sama seperti perhitungan pada bulan Januari. Total kebutuhan selama tahun 2006 adalah sebesar 2 518 552.52 kg untuk bahan baku SMP, dan untuk bahan baku gula sebesar 1 679 035.01 kg. Rata-rata

106

kebutuhan per bulan untuk bahan baku SMP adalah 209 879.38 kg dan untuk bahan baku gula adalah 139 919.58 kg. Jika dibandingkan kebutuhan bahan baku SMP dan gula pada tahun 2005, kebutuhan SMP dan gula pada tahun 2006 meningkat sebesar 21.47 persen. Hal ini disebabkan oleh peningkatan produksi susu UHT tahun 2006 sebesar 21.47 persen dibandingkan produksi tahun 2005. Bila dilihat dari total kebutuhan bahan baku perusahaan, proporsi bahan baku gula yang digunakan untuk produksi susu UHT adala h sebesar 5.99 persen dari total kebutuhan bahan baku gula perusahaan. Sementara 94.01 persen kebutuhan gula perusahaan ditujukan sebagai bahan baku SKM. Hal ini disebabkan produksi SKM lebih banyak menggunakan gula sebagai bahan bakunya. Sedangkan proporsi bahan baku SMP untuk produksi UHT adalah 30.72 persen dari total kebutuhan bahan baku SMP perusahaan dan sisanya ditujukan untuk produksi SKM.

7.4

Pengendalian Persediaan Bahan Baku Berdasarkan Metode MRP Teknik PBB untuk Periode Selanjutnya Berdasarkan analisis perbandingan dan penghematan biaya persediaan

bahan baku SMP dan gula perusahaan pada tahun 2005 menghasilkan rekomendasi metode MRP teknik PPB sebagai metode alternatif pengendalian persediaan bahan baku SMP dan gula pada PT. Indolakto. Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis lebih lanjut penggunaan metode MRP teknik PPB berdasarkan hasil peramalan dengan metode dekomposisi aditif untuk periode tahun selanjutnya, dalam hal ini tahun 2006. Adapun biaya pemesanan dan biaya penyimpanan dalam perhitungan ini diasumsikan sama dengan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan perusahaan pada tahun 2005.

107

Teknik PPB berusaha menyeimbangkan biaya pemesanan dan biaya peyimpanan. Ukuran lot dicari dengan dengan menggunakan pendekatan periodebagian yang ekonomis/Economic Part Period (EPP). Metode ini lebih dinamis daripada metode EOQ karena metode PPB dapat menggunakan jumlah pesanan yang berbeda untuk setiap pesanan. EPP dihitung dengan rumus sebagai berikut: EPP = Dimana, S = Biaya pemesanan per pesanan H = Biaya penyimpanan per unit per periode EPP bahan baku SMP adalah 3 792.12 dan EPP bahan baku gula adalah 11 595.13. Nilai EPP tersebut selanjutnya digunakan untuk menentukan periode bagian dalam perhitungan MRP. Berdasarkan Lampiran 21 dan 22 diperoleh nilai akumulasi periode bagian yang mendekati nilai EPP untuk bahan baku SMP adalah satu periode dan untuk bahan baku gula adalah satu periode. Hasil tersebut digunakan dalam perhitungan MRP teknik PPB pada Lampiran 23 dan 24. Persediaan akhir tahun 2005 merupakan persediaan awal tahun 2006, yaitu 171 624.75 kg untuk SMP dan 156 445.35 kg untuk gula. Dengan tetap mengadakan sediaan pengaman sesuai dengan kebijakan perusahaan maka metode MRP teknik PPB menghasilkan frekuensi pemesanan SMP sebanyak sembilan kali dengan biaya pemesanan sebesar Rp 1 560 038.40 selama satu tahun dan frekuensi pemesanan gula sebanyak 11 kali dengan biaya pemesanan sebesar Rp 272 949.38. Tingkat persediaan rata-rata di tangan setiap bulannya selama tahun 2006 diperkirakan sebanyak 106 342.64 kg untuk SMP dan 42 332.59 kg untuk bahan baku gula. Tingkat persediaan tersebut masih berada di atas sediaan pengaman yang ditetapkan perusahaan yaitu 104 940 kg untuk SMP dan 34 980
S H

108

kg untuk gula. Dengan tingkat persediaan tersebut diharapkan perusahaan tidak menghadapi kekurangan bahan baku jika terjadi perubahan permintaan terhadap susu UHT sehingga operasi perusahaan dapat berjalan lancar. Tabel 20. Biaya Persediaan SMP dan Gula dengan Metode PPB Tahun 2006
Bahan Baku Biaya Pemesanan/tahun Rp/pesan Frek Total Biaya Rp/kg Pemesanan per tahun (Rp/tahun) 1 560 038.40 45.71 272 949.38 2.14 Total Biaya Penyimpanan/tahun Jml stock setahun (kg/tahun) 1 276 111.64 507 991.09 Total Biaya Penyimpanan per tahun (Rp/tahun) 58 331 063.10 1 087 100.93 Biaya Total Persediaan (Rp/tahun)

SMP Gula

173 337.60 24 813.58

9 11

59 891 101.50 1 360 050.31 61 251 151.80

Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

Biaya persediaan yang dihasilkan selama tahun 2006 untuk SMP adalah Rp 59 891 101.50 dan Rp 1 360 050.31 untuk gula dengan frekuensi pemesanan untuk SMP adalah sebanyal sembilan kali dan sebelas kali untuk gula. Perincian biaya persediaan yang ditanggung perusahaan dengan metode MRP teknik PPB dapat dilihat pada Tabel. 20. Tabel 21. Biaya Pembelian SMP dan Gula dengan Metode PPB Tahun 2006
Kuantitas Harga beli + Biaya tranportasi (Rp/kg) 22 009.68 5 200.00 Biaya Bongkar Muat (Rp/kg) 1.90 1.90 Biaya Pembelian Total

SMP Gula

2 062 760.43 1 557 569.57

45 404 616 226 8 102 321 127

Biaya Pembelian Total
Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

53 506 937 352

Pada Tabel 21. dapat dilihat rincian biaya pembelian bahan baku SMP dan gula dengan metode PPB tahun 2006. Kuantitas pembelian bahan baku SMP untuk produksi UHT pada tahun 2006 dengan metode PPB adalah 2 062 760.43 kilogram dan 1 557 569.57 kilogram untuk bahan baku gula. Biaya pembelian total SMP dan gula dengan metode PPB tahun 2006 adalah Rp 53 506 937 352. Berdasarkan Tabel 21 diketahui bahwa biaya pembelian SMP memberikan

109

kontribusi terbesar dalam biaya total pembelian perusahaan karena nilai SMP itu sendiri relatif tinggi dan kuantitas pembeliannyapun juga relatif tinggi.

7.5

Analisis Perbandingan Metode Pengendalian Persediaan Berdasarkan hasil perhitungan metode pengendalian persediaan

perusahaan dengan metode MRP teknik PPB untuk periode tahun 2006 dilakukan perbandingan dengan hasil perhitungan dengan metode perusahaan pada tahun 2005. Ringkasan perhitungan dapat dilihat pada Tabel 22. Penghematan yang dihasilkan oleh metode PPB pada tahun 2006 adalah sebesar 6.54 persen terhadap biaya persediaan SMP dan gula, dimana persentase penghematan terbesar diperoleh dari bahan baku gula. Sedangkan penghematan dari biaya pembelian yang dihasilkan dengan metode PPB adalah sebesar 4.13 persen, dimana pembelian SMP menghasilkan penghematan terbesar sementara pembelian bahan baku gula menghasilkan pemborosan sebesar 3.09 persen. Pemboran tersebut terjadi karena dengan me tode PPB, frekuensi pembelian gula menjadi lebih jarang namun dengan kuantitas yang lebih banyak dibandingkan dengan yang dilakukan perusahaan. Tabel 22. Perbandingan Biaya Persediaan Total SMP dan Gula Metode PPB Tahun 2006 dengan Metode Perusahaan Tahun 2005
Uraian Biaya Persediaan SMP Biaya Persediaan Gula Biaya Persediaan Total Biaya Pembelian SMP Biaya Pembelian Gula Biaya Pembelian Total Perusahaan 64 045 440.85 1 491 821.26 65 537 262.11 47 950 353 659.12 7 859 622 373.48 PPB 59 891 101.50 1 360 050.31 61 251 151.80 45 404 616 226 8 102 321 127 Penghematan 41 54 339.35 131 770.95 4 286 110.31 2 545 737 433.00 (%) 6.49 8.83 6.54 5.31

-242 698 753.50 (3.09) 2 303 038 681.00 4.13

55 809 976 032.60 53 506 937 352.00

Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

110

7.6

Rekomendasi Alternatif Metode Pengendalian Persediaan Bahan Baku untuk Periode Selanjutnya Berdasarkan hasil perencanaan kebutuhan dan pengendalian persediaan

bahan baku SMP dan gula PT. Indolakto tahun 2006 yang didukung oleh analisis pengendalian persediaan bahan baku SMP dan gula pada tahun 2005, maka dapat direkomendasikan suatu model alternatif pengendalian persediaan bahan baku yang optimal bagi PT. Indolakto. Metode alternatif ini diharapkan dapat menghema t biaya perusahaan melalui penghematan biaya persediaan bahan baku. Selain itu, perusahaan diharapkan tidak mengalami gangguan produksi yang disebabkan oleh kekurangan bahan baku sebagai akibat dari keterlambatan kedatangan bahan baku atau perubahan permintaan konsumen sehingga perusahaan dapat memenuhi permintaan konsumen dengan baik, yaitu melalui metode peramalan yang akurat. Dengan metode pengendalian persediaan yang tepat, perusahaan juga diharapkan tidak mengalami kelebihan persediaan bahan baku yang berakibat pada membengkaknya biaya penyimpanan. Hasil analisis perencanaan dan pengendalian persediaan bahan baku SMP dan gula untuk periode tahun 2006 menunjukkan bahwa teknik peramalan dekomposisi aditif dapat digunakan sebagai alternatif dalam melakukan peramalan untuk perencanaan kebutuhan bahan baku perusahaan. Sementara untuk pengendalian persediaan bahan baku khususnya bahan baku SMP dan gula pada PT. Indolakto dapat menggunakan metode PPB sebagai alternatif karena menghasilkan penghematan terhadap biaya persediaan dan biaya pembelian. Hal ini didasarkan atas analisis pengendalian persediaan perusahaan pada tahun 2005. Analisis tersebut menunjukkan adanya penghematan yang lebih besar terhadap biaya persediaan yang dihasilkan melalui metode PPB dari pada metode

111

pengendalian yang digunakan perusahaan. Selain itu, hasil analisis pengendalian persediaan bahan baku SMP dan gula pada tahun 2006 menunjukkan bahwa dengan metode PPB, perusahaan masih dapat menghemat biaya persediaan dan biaya pembelian dibanding metode yang digunakan perusahaan. Pemborosan yang dihasilkan dengan metode perusahaan bila dibandingkan dengan metode PPB terletak pada biaya penyimpanan perusahaan yang besar. Biaya penyimpanan tersebut dipengaruhi oleh jumlah persediaan yang disimpan. Perusahaan selama ini mempunyai kebijakan untuk selalu mengadakan persediaan bahan baku untuk antisipasi terhadap perubahan permintaan sehingga akan mempengaruhi besarnya biaya penyimpanan. Semakin besar jumlah persediaan, maka semakin besar pula biaya penyimpanannya. Untuk menghindari penyimpanan berlebih dan

menyesuaikan dengan kapasitas gudang, maka perencanaan jadwal penerimaan barang dibuat secara bertahap seperti yang telah dilakukan perusahaan selama ini dengan lebih mempertimbangkan lead time. Penggunaan metode MRP teknik PPB dapat dijadikan alternatif bagi pengendalian persediaan perusahaan karena metode ini menghasilkan periode gabungan yang akan meminimumkan biaya persediaan (biaya pemesanan dan biaya penyimpanan). Metode ini lebih dinamis dalam menyeimbangkan antara biaya pemesanan dan biaya penyimpanan yang dikeluarkan perusahaan. Selain itu, metode PPB dapat lebih fleksibel dalam penggabungan kebutuhan bersih SMP dan gula selama periode tertentu jika terjadi perubahan biaya persediaan. Metode PPB juga dapat menggabungkan periode gabungan lebih dari satu periode kebutuhan bersih bahan baku. Hal ini tergantung dari penyeimbangan antara biaya pemesanan dan biaya penyimpanan (EPP).

112

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan 1. Sistem pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku susu UHT di PT. Indolakto belum optimal dari segi biaya persediaan. Hal ini ditunjukkan dari tingginya biaya persediaan yang dihasilkan perusahaan dibandingkan sistem pengendalian menggunakan metode MRP teknik EOQ dan PPB. Metode MRP teknik PPB menghasilkan penghematan terbesar dibandingkan metode perusahaan.
2.

Ada suatu rencana yang lebih tepat untuk mengatasi adanya perubahanperubahan permintaan konsumen terhadap produk susu UHT pada PT. Indolakto, yaitu melalui metode peramalan dekomposisi aditif. Metode peramalan tersebut menghasilkan penyimpangan yang rendah.

3.

Perencanaan kebutuhan bahan baku susu UHT pada PT. Indolakto melalui proyeksi hasil peramalan dekomposisi aditif untuk periode tahun 2006 menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan bahan baku (SMP dan gula) akibat dari meningkatnya jumlah produksi susu UHT di tahun 2006. Total produksi susu UHT pada tahun 2006 diperkirakan naik 21.47 persen menjadi 27 983 916.89 kg. Produksi puncak perusahaan diperkirakan terjadi pada bulan September 2006.

4.

Metode MRP teknik PPB dapat dijadikan model alternatif dalam sistem pengendalian persediaan bahan baku yang optimal dilihat dari biaya persediaan bahan bakunya Analisis dengan metode MRP teknik PPB yang disesuaikan dengan kondisi perusahaan pada tahun 2006 menghasilkan tingkat persediaan rata-rata bahan baku untuk kebutuhan produksi susu UHT setiap

113

bulannya sebesar 106 342.64 kg untuk SMP dan 42 332.59 kg untuk gula. Frekuensi pemesanan SMP dan gula masing- masing sebanyak sembilan kali dan sebelas kali. Penghematan yang dihasilkan terhadap biaya persediaan perusahaan adalah 6.54 persen dan 4.13 persen terhadap biaya pembelian SMP dan gula. 8.2 Saran 1. Metode MRP teknik PPB yang disesuaikan dengan kondisi perusahaan dapat direkomendasikan sebagai model alternatif dalam pengendalian persediaan bahan baku perusahaan dengan harapan dapat menghemat biaya persediaan sehingga penghematan yang diperoleh dapat dialokasikan untuk kegiatan lain. 2. Peramalan merupakan hal yang sangat penting dalam perencanaan kebutuhan bahan baku. Perusahaan dapat menggunakan teknik peramalan dekomposisi aditif sebagai alternatif dalam melakukan peramalan untuk perencanaan kebutuhan bahan baku karena teknik tersebut menghasilkan penyimpangan yang kecil dari keadaan aktualnya. 3. Perusahaan dapat melakukan antisipasi lebih awal dengan adanya perkiraan peningkatan produksi susu UHT di tahun 2006, terutama pada saat produksi puncak yaitu bulan September. 4. Sistem pengadaan dan pengendalian persediaan yang dilakukan perusahaan perlu didukung dengan koordinasi yang baik diantara berbagai pihak seperti marketing, PPIC, bagian produksi, purchasing dan bagian gudang/warehouse. Hal ini akan mempengaruhi kelancaran produksi perusahaan. 5. Perusahaan perlu menjaga hubungan baik dengan pemasok yang dapat diandalkan agar kelancaran produksi dapat tercapai.

114

DAFTAR PUSTAKA

Assauri, S. 1999. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi Revisi. Lembaga Penerbit FERI. Jakarta Astuti, Dewi. 2002. Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku susu (Studi Kasus: PT. Mirota KSM Inc., Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi. Jurusan Ilmu- ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Buffa, E.S. dan R.K. Sarin. 1996. Manajemen Operasi dan Produksi Modern. Edisi kedelapan. Jilid I. Binarupa Aksara. Jakarta. Direktorat Jendral Bina Produksi Peternakan. 2004. Statistik Peternakan Tahun 2004. Departemen Pertanian. Jakarta. Gaspersz, V. 2002. Production Planning and Inventory Control Berdasarkan Pendekatan Sistem terintegrasi MRP II dan JIT Menuju Manufakturing 21. Edisi Revisi dan Perluasan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Handoko, T.H. 1997. Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi kesatu. BPFE. Yogyakarta. Harding, H.A. 1978. Manajemen Produksi. Balai Aksara. Jakarta. Heizer, J. dan B. Render. 2004. Operations Management. 7th Edition. Prentice Hall Inc. New Jersey. Herjanto, Eddy. 1999. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi kedua. Grasindo. Jakarta. Indrajit, R.E. dan R. Djokopranoto. 2005. Manajemen Persediaan. Grasindo. Jakarta. Makridakis, et al. 1999. Metode dan Aplikasi Peramalan. Edisi kedua. Jilid satu. Binarupa Aksara. Jakarta. Pappas, J.L. dan Mark Hirschey. 1995. Ekonomi Manajerial. Edisi keenam. Jilid satu. Binarupa Aksara. Jakarta. R Aritonang, L.R. 2002. Peramalan Bisnis. Ghalia Indonesia. Jakarta.

115

Rajagukguk, F.H. 2004. Analisis Pengadaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Susu Olahan (Studi kasus di PT. Indomilk). Skripsi. Departemen Ilmu- ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Rangkuti, F. 2002. Manajemen Persediaan Aplikasi di Bidang Bisnis. PT. Raja Grafindo persada. Jakarta. Reksohadiprodjo, et al. 1992. Pengantar Ekonomi Perusahaan. Buku satu. Edisi kedua. BPFE Yogyakarta. Yogyakarta. Rusell, R.S. dan B.W. Taylor. 2003. Operations management. 4th Edition. Prentice Hall Inc. New Jersey. Sary, I.I. 2004. Peramalan Produksi dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Kelapa Pada PT. Riau Sakti United Plantations. Skripsi. Departemen IlmuIlmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Situs Bank Indonesia. 2005. Tingkat Suku Bunga Pinjaman Berjangka Rupiah Menurut Kelompok Bank. Bank Umum-12 Bulan. http://www.bi.go.id/Utama/Data statistik/. [20 Mei 2006] Sugiarto, et al. 2000. Peramalan Bisnis. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Widowati, Cici. 2004. Perencanaan Kebutuhan dan Pengendalian Persediaan Benang Sebagai Bahan Baku Produk Tekstil Pada PT. Asaputex Nusantara, Tegal, Jawa Tengah. Skripsi. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Widyastuti, M. 2001. Sistem Pengendalian Persediaan Bahan Baku susu kental manis (Studi kasus: PT. Indolakto, Sukabumi).

116

117

Lampiran 1. Denah lokasi pabrik PT. Indolakto

118

Lampiran 2. Denah tata letak pabrik PT. Indolakto

119

Lampiran 3. Stuktur Organisasi PT. Indolakto

SCM Processing Manager CEO Deputy CEO Senior Milk Prossesing Manager Chief Engineer General Manager Deputy Chief Engineer SKM Package Manager Secretary Technical Advisor Environment Officer Quality Control Manager, Quality Assurance Manager
HRD & Industrial Estate Manager

UHT Production Manager

Purchase Manager Finance Manager Accounting Manager, IT Manager Logistic Manager

120

Lampiran 4. Diagram alir Proses Pengolahan Susu UHT

Persiapan Bahan

Dumping

Mixing

Homogenisasi I, 200 – 250 bar

Pasteurisasi 87 o C, 30 detik

Hydration Tank, min 2 jam

Homogenisasi II, 200 – 250 bar

Sterilisasi 142 – 145 o C, 4 detik

Aseptic Tank

Aseptic Filling

Pengemasan

Palletizing

Penyimpanan/Finish Good

121

Lampiran 5. Bagan Alir Prosedur Pengadaan Bahan Baku di Warehouse Raw Material

SO dari Dept. Marketing

CSO dari PPIC

Production Planning

Supplier (Pemasok)

Purchase Order (PO)

Purchase Request (PR)

Supplier/Pembawa Barang

Pos Satpam

Petugas Warehouse

Quality Control

Penimbangan

OK

Bongkar Muat

Penyimpanan

122

Lampiran 6.

Perbandingan dan Penghematan Biaya Antara Metode Pengendalian Persediaan SMP dan Gula Tahun 2005

Perbandingan Frekuensi, Biaya Persediaan dan Biaya Pembelian Total SMP dan Gula Tahun 2005
Uraian Frekuensi Pemesanan Perusahaan 8 kali SMP 20 kali Gula B. Pemesanan SMP Per tahun B. Pemesanan Gula Per tahun B. Penyimpanan SMP per tahun B. Penyimpanan Gula per tahun Biaya Persediaan SMP Biaya Persediaan Gula Biaya Persediaan Total Biaya Pembelian SMP Biaya Pembelian Gula Biaya Pembelian Total 1 386 700.80 496 271.60 62 658 740.05 995 549.66 64 045 440.85 1 491 821.26 65 537 262.11 47 950 353 659.12 7 859 622 373.48 55 809 976 032.60 EOQ 9 kali SMP 11 kali Gula 1 560 038.40 272 949.38 55 782 551.61 1 357 805.45 57 342 590.01 1 630 754.83 58 973 344.84 37 449 829 758.23 6 721 313 867.68 44 171 143 625.91 PPB 9 kali SMP 11 kali Gula 1 560 038.40 272 949.38 47 386 259.05 739 492.42 48 946 297.45 1 012 441.80 49 958 739.25 37 112 114 450.69 6 804 936 875.66 43 917 051 326.35

Penghematan Biaya Persediaan dan Pembelian dengan Metode MRP teknik EOQ dan PPB
Uraian (Rp) Biaya Pemesanan SMP Per tahun Biaya Pemesanan Gula Per tahun Biaya Penyimpanan SMP per tahun Biaya Penyimpanan Gula per tahun Biaya Persediaan SMP Biaya Persediaan Gula Biaya Persediaan Total Biaya Pembelian SMP Biaya Pembelian Gula Biaya Pembelian Total -173 337.60 223 322.22 6 876 188.44 -362 255.79 6 702 850.84 -138 933.57 6 563 917.27 10 500 523 900.89 1 138 308 505.80 11 638 832 406.69 EOQ (%) -12.50 45.00 10.97 -36.39 10.47 -9.31 10.02 21.90 14.48 20.85 (Rp) -173 337.60 223 322.22 15 272 481.00 256 057.24 15 099 143.40 479 379.46 15 578 522.86 10 838 239 208.43 1 054 685 497.82 11 892 924 706.25 PPB (%) -12.50 45.00 24.37 25.72 23.58 32.13 23.77 22.60 13.42 21.31

123

Lampiran 7. Data Produksi Bulanan Susu UHT PT. Indolakto Tahun 2000-2005
No Tahun Bulan 2000 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 2001 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 2002 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Produksi UHT Produksi UHT (kg) (Ton) 254 331.82 254.33 40 176.12 40.18 59 522.18 59.52 184 441.20 184.44 208 883.60 208.88 110 050.26 110.05 637 323.04 637.32 746 011.24 746.01 1 368 148.98 1 368.15 1 254 449.98 1 254.45 1 016 365.17 1 016.37 865 254.97 865.25 6,744,958.55 6 744.96 472 836.58 472.84 792 160.39 792.16 806 742.11 806.74 454 503.64 454.50 381 338.05 381.34 817 524.40 817.52 838 758.69 838.76 715 459.07 715.46 1 199 696.90 1 199.70 1 210 890.91 1 210.89 1 134 893.75 1 134.89 870 773.38 870.77 9 695 577.86 9 695.58 451 719.27 451.72 1 121 545.21 1 121.55 1 607 030.90 1 607.03 1 469 641.88 1 469.64 1 281 887.13 1 281.89 1 831 226.78 1 831.23 1 554 431.28 1 554.43 1 105 434.78 1 105.43 1 914 365.53 1 914.37 1 714 987.14 1 714.99 1 849 969.29 1 849.97 1 357 631.54 1 357.63 17 259 870.74 17 259.87

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Total 2000 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Total 2001 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Total 2002

124

Lampiran 7. Data Produksi Bulanan Susu UHT PT. Indolakto Tahun 2000-2005 (Lanjutan)
No Tahun Bulan 2003 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 2004 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 2005 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Produksi UHT Produksi UHT (kg) (Ton) 1 371 865.84 1 371.87 1 613 648.44 1 613.65 1 959 689.36 1 959.69 1 529 405.34 1 529.41 1 254 459.96 1 254.46 1 879 047.18 1 879.05 1 615 747.18 1 615.75 2 271 082.85 2 271.08 2 443 192.00 2 443.19 2 010 072.92 2 010.07 1 723 798.38 1 723.80 1 038 080.76 1 038.08 20 710 090.21 20 710.09 992 879.64 992.88 1 189 405.54 1 189.41 1 602 296.82 1 602.30 1 300 401.12 1 300.40 1 714 316.84 1 714.32 1 882 207.54 1 882.21 2 176 089.60 2 176.09 1 429 221.08 1 429.22 2 417 008.02 2 417.01 2 839 581.28 2 839.58 1 722 074.34 1 722.07 1 811 886.20 1 811.89 21 077 368.02 21 077.37 1 234 418.42 1 234.42 1 385 968.16 1 385.97 1 683 128.82 1 683.13 1 678 846.12 1 678.85 1 616 670.10 1 616.67 1 872 075.46 1 872.08 2 084 019.96 2 084.02 1 983 415.34 1 983.42 3 225 345.04 3 225.35 2 268 225.30 2 268.23 1 371 934.00 1 371.93 2 633 100.14 2 633.10 23 037 146.86 23 037.15

37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 Total 2003 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 Total 2004 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 Total 2005

125

Lampiran 8. Plot Autokorelasi (ACF) dan Autokorelasi Parsial (PACF) Produksi Susu UHT a. Autokorelasi (ACF) Produksi Susu UHT
ACF Prod UHT
1.0 0.8 0.6 A utocorrelation 0.4 0.2 0.0 -0.2 -0.4 -0.6 -0.8 -1.0 1 5 10 15 Lag 20 25 30 35

Lag 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

ACF 0.720991 0.593997 0.549263 0.405257 0.359267 0.309657 0.284421 0.268728 0.340274 0.331099 0.426679

T 6.12 3.53 2.81 1.88 1.59 1.32 1.19 1.10 1.37 1.30 1.64

Lag 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

ACF 0.480224 0.350294 0.325225 0.272503 0.180150 0.115541 0.117952 0.077922 0.023628 0.034238 0.047602 0.098345

T 1.78 1.24 1.13 0.93 0.61 0.39 0.40 0.26 0.08 0.11 0.16 0.33

Lag 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35

ACF 0.121104 0.057828 -0.044190 -0.023680 -0.069088 -0.119346 -0.056831 -0.100473 -0.137024 -0.116376 -0.091442 -0.069561

T 0.40 0.19 -0.15 -0.08 -0.23 -0.40 -0.19 -0.33 -0.45 -0.38 -0.30 -0.23

b. Autokorelasi Parsial (PACF) Produksi Susu UHT
PACF Prod UHT (Ton)
1.0 0.8 Partial A utocorrelation 0.6 0.4 0.2 0.0 -0.2 -0.4 -0.6 -0.8 -1.0 1 5 10 15 Lag 20 25 30 35

Lag

PACF

T 6.12 1.31 1.37 -1.22 0.67 -0.12 0.79 0.07 2.07 -0.36 2.64

1 0.720991 2 0.154464 3 0.161678 4 -0.143810 5 0.079409 6 -0.013958 7 0.093058 8 0.007918 9 0.243827 10 -0.042906 11 0.311450

Lag 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

PACF 0.005515 -0.189794 -0.076404 -0.021168 -0.077817 -0.059375 0.085526 -0.029462 -0.138011 -0.064530 0.060905 -0.011494

T 0.05 -1.61 -0.65 -0.18 -0.66 -0.50 0.73 -0.25 -1.17 -0.55 0.52 -0.10

Lag 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35

PACF 0.061373 -0.112161 -0.244838 0.142073 0.002954 -0.001120 0.082449 0.001147 -0.073035 -0.037426 0.033719 0.051003

T 0.52 -0.95 -2.08 1.21 0.03 -0.01 0.70 0.01 -0.62 -0.32 0.29 0.43

126

Lampiran 9. Hasil Differensing pertama Autokorelasi (ACF d1) dan Parsial Autokorelasi (PACF d1) a. Autokorelasi Differens 1 Produksi Susu UHT
ACF Prod UHT (d1 )
1.0 0.8 0.6 Autocorre lation 0.4 0.2 0.0 -0.2 -0.4 -0.6 -0.8 -1.0 1 5 10 15 La g 20 25 30 35

Lag 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

ACF -0.238504 -0.253992 0.134643 -0.108428 -0.012617 0.001081 0.006413 -0.147218 0.162164 -0.218095 0.089719

T -2.01 -2.03 1.02 -0.81 -0.09 0.01 0.05 -1.09 1.18 -1.55 0.62

12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

0.311308 -0.196160 -0.038417 0.088587 0.014112 -0.177646 0.113078 0.031803 -0.070389 -0.032616 -0.052808 0.054816

2.13 -1.27 -0.24 0.56 0.09 -1.12 0.70 0.19 -0.43 -0.20 -0.32 0.33

24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35

0.146254 0.071634 -0.252833 0.090557 0.006671 -0.147758 0.181654 0.001306 -0.087288 -0.062591 0.043250 0.030392

0.89 0.43 -1.52 0.53 0.04 -0.86 1.04 0.01 -0.49 -0.35 0.24 0.17

b. Autokorelasi Parsial Differens 1 Produksi Susu UHT
PACF Prod UHT (d1)
1.0 0.8 Par tia l A utocorre lat ion 0.6 0.4 0.2 0.0 -0.2 -0.4 -0.6 -0.8 -1.0 1 5 10 15 La g 20 25 30 35

Lag 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

PACF -0.238504 -0.329627 -0.029169 -0.187474 -0.076673 -0.128742 -0.049605 -0.260165 0.030763 -0.401281 -0.029453 0.079456

T -2.01 -2.78 -0.25 -1.58 -0.65 -1.08 -0.42 -2.19 0.26 -3.38 -0.25 0.67

13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

0.001221 -0.070507 0.046641 0.035890 -0.119027 -0.010227 0.065246 0.040537 -0.120957 0.006935 -0.140235 0.113857 0.166497

0.01 -0.59 0.39 0.30 -1.00 -0.09 0.55 0.34 -1.02 0.06 -1.18 0.96 1.40

26 27 28 29 30 31 32 33 34 35

-0.093769 -0.048542 -0.053149 -0.104177 0.022689 -0.031653 0.027638 -0.104661 -0.111944 0.000135

-0.79 -0.41 -0.45 -0.88 0.19 -0.27 0.23 -0.88 -0.94 0.00

127

Lampiran 10. Perbandingan Nilai MSE dari Beberapa Model Time Series yang Diujikan. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Model Time Series Trend Linear Trend Linear dengan dummy musiman Trend Kuadratik Trend Kuadratik dengan dummy musiman
Trend Exponential Growth Moving Average (MA) Single Exponential Smoothing (a = 0.487613) Double Exponential Smoothing (a = 0.909607, ? = 0.040274) Winters’ multiplikatif (a = 0.2; ß = 0.2; ? = 0.2) Winters’ additif (a = 0.2; ß = 0.2; ? = 0.2) Decomposition Multiplikatif Decomposition Additif ARIMA (2.1.2) (1.0.0) 12 ARIMA (2.1.2) (0.0.1) 12

Nilai Mean Square Error (MSE)
180643 118676 166730 104230 297837 208088 184895 212574 218018 137251 110675 102862 126552 133300

Lampiran 11. Suku Bunga Simpanan Berjangka Rupiah Bank Umum (12 Bulan) Tahun 2005 Bulan Suku Bunga Simpanan Berjangka Januari 7.06 Februari 7.11 Maret 8.04 April 7.09 Mei 7.16 Juni 7.11 Juli 7.30 Agustus 7.46 September 8.65 Oktober 9.21 November 9.60 Desember 10.95 Total 96.74 Rata-rata 8.06

128

Lampiran 12. Metode Dekomposisi Model Aditif (L= 12)
No 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Thn (t) Bln Prod UHT (Ton) 3 254,331.82 40,176.12 59,522.18 184,441.20 208,883.60 110,050.26 562,079.88 Jul Agst Sept Okt Nov Des 2001 Jan 637,323.04 580,288.61 746,011.24 642,953.97 1,368,148.98 705,222.29 1,254,449.98 727,727.50 1,016,365.17 742,098.70 865,254.97 801,054.88 472,836.58 817,841.18 809,448.03 -336,611.45 -514,348.11 987,184.69 811,837.80 297,489.69 175,346.89 771,576.79 93,678.18 -203,627.34 1,068,882.30 788,154.20 584,526.86 280,728.10 734,913.10 281,452.08 123,482.58 892,882.59 764,470.60 887,953.18 128,411.99 716,474.89 537,975.08 464,243.77 790,206.21 740,787.00 1,205,030.77 49,419.21 674,088.13 694,060.85 552,713.04 815,435.94 717,103.40 1,269,816.44 98,332.54 611,621.29 134,389.95 -37,582.46 783,593.69 693,419.80 655,837.34 90,173.89 571,184.24 66,138.80 92,828.02 544,495.02 669,736.20 762,564.22 -125,241.18 Mat 4 CMAt 5 (Sn+E)t 6=3-5 IMT (Snt) 7 -514,348.11 -220,914.01 64,529.70 -204,613.04 -252,849.45 136,137.29 Dt 8=3-7 768,679.93 261,090.13 5,007.52) 389,054.24 461,733.05 (26,087.03) Dugaan Trend 9 527,634.60 551,318.20 575,001.80 598,685.40 622,369.00 646,052.60 Ýt 10=9+7 13,286.49 330,404.19 639,531.50 394,072.36 369,519.55 782,189.89 [Error]t [3-10] 241,045.33 -290,228.07 -580,009.32 -209,631.16 -160,635.95 -672,139.63

2 2000 Jan Feb Mart Apr Mei Jun

129

No 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Thn (t)

Bln Feb Mart Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des

Prod UHT (Ton) 792,160.39

Mat

CMAt 816,568.18

(Sn+E)t -24,407.78 -1,534.22 -344,938.89 -421,228.22 9,789.51 31,673.75 -104,470.34 332,697.75 268,248.97 112,431.50 -231,449.35 -722,560.74 -98,803.48 340,655.36 152,484.47

IMT (Snt) -220,914.01 64,529.70 -204,613.04 -252,849.45 136,137.29 92,828.02 -37,582.46 552,713.04 464,243.77 123,482.58 -203,627.34 -514,348.11 -220,914.01 64,529.70 -204,613.04

Dt 1,013,074.41 742,212.40 659,116.68 634,187.49 681,387.11 745,930.67 753,041.53 646,983.86 746,647.14 1,011,411.17 1,074,400.71 966,067.38 1,342,459.23 1,542,501.20 1,674,254.92

Dugaan Trend 835,521.40 859,205.00 882,888.60 906,572.20 930,255.80 953,939.40 977,623.00 1,001,306.60 1,024,990.20 1,048,673.80 1,072,357.40 1,096,041.00 1,119,724.60 1,143,408.20 1,167,091.80

Ýt 614,607.39 923,734.70 678,275.56 653,722.75 1,066,393.09 1,046,767.42 940,040.54 1,554,019.64 1,489,233.97 1,172,156.38 868,730.06 581,692.89 898,810.59 1,207,937.90 962,478.76

[Error]t 177,553.01 -116,992.60 -223,771.92 -272,384.71 -248,868.69 -208,008.73 -224,581.47 -354,322.74 -278,343.06 -37,262.63 2,043.31 -129,973.62 222,734.63 399,093.00 507,163.12

815,295.17 806,742.11 801,257.50 454,503.64 797,627.57 381,338.05 807,504.95 817,524.40 807,964.82 838,758.69 806,205.05 715,459.07 833,653.78 1,199,696.90 900,344.51 1,210,890.91 984,939.37 1,134,893.75 1,059,985.12 870,773.38 1,144,460.32 2002 Jan Feb Mart Apr 451,719.27 1,204,099.71 1,121,545.21 1,236,597.68 1,607,030.90 1,296,153.40 1,469,641.88 1,338,161.42 1,317,157.41 1,266,375.54 1,220,348.69 1,174,280.01 1,102,222.72 1,022,462.25 942,641.94 866,999.15 819,929.41 807,084.93 807,734.89 802,566.26 799,442.53 808,276.33

130

No 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43

Thn (t)

Bln Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des

Prod UHT (Ton) 1,281,887.13

Mat

CMAt 1,367,956.23

(Sn+E)t -86,069.10 413,189.98 77,769.28 -430,070.96 343,661.38 127,098.74 260,733.55 -232,453.92 -222,766.96 -32,107.86 243,329.95 -221,283.74 -503,267.24 139,891.71 -94,302.58

IMT (Snt) -252,849.45 136,137.29 92,828.02 -37,582.46 552,713.04 464,243.77 123,482.58 -203,627.34 -514,348.11 -220,914.01 64,529.70 -204,613.04 -252,849.45 136,137.29 92,828.02

Dt 1,534,736.58 1,695,089.49 1,461,603.26 1,143,017.24 1,361,652.49 1,250,743.37 1,726,486.71 1,561,258.88 1,886,213.95 1,834,562.45 1,895,159.66 1,734,018.38 1,507,309.41 1,742,909.89 1,522,919.16

Dugaan Trend 1,190,775.40 1,214,459.00 1,238,142.60 1,261,826.20 1,285,509.80 1,309,193.40 1,332,877.00 1,356,560.60 1,380,244.20 1,403,927.80 1,427,611.40 1,451,295.00 1,474,978.60 1,498,662.20 1,522,345.80

Ýt 937,925.95 1,350,596.29 1,330,970.62 1,224,243.74 1,838,222.84 1,773,437.17 1,456,359.58 1,152,933.26 865,896.09 1,183,013.79 1,492,141.10 1,246,681.96 1,222,129.15 1,634,799.49 1,615,173.82

[Error]t 343,961.18 480,630.49 223,460.66 -118,808.96 76,142.69 -58,450.03 393,609.71 204,698.28 505,969.75 430,634.65 467,548.26 282,723.38 32,330.81 244,247.69 573.36

1,397,751.05 1,831,226.78 1,438,322.56 1,554,431.28 1,515,001.44 1,105,434.78 1,556,010.04 1,914,365.53 1,585,398.25 1,714,987.14 1,590,378.54 1,849,969.29 1,588,092.94 1,357,631.54 1,592,077.97 2003 Jan Feb Mart Apr Mei Jun Jul 1,371,865.84 1,597,187.63 1,613,648.44 1,694,324.97 1,959,689.36 1,738,393.84 1,529,405.34 1,762,984.32 1,254,459.96 1,752,470.08 1,879,047.18 1,725,840.85 1,615,747.18 1,694,258.67 1,710,049.76 1,739,155.47 1,757,727.20 1,750,689.08 1,716,359.41 1,645,756.30 1,594,632.80 1,590,085.46 1,589,235.74 1,587,888.39 1,570,704.15 1,535,505.74 1,476,662.00 1,418,036.80

131

No 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58

Thn (t)

Bln Agst Sept Okt Nov Des

Prod UHT (Ton) 2,271,082.85

Mat

CMAt 1,676,581.88

(Sn+E)t 594,500.97 799,178.26 390,492.38 94,598.98 -610,411.02 -679,091.43 -470,835.55 -21,775.70 -357,143.25 22,281.46 158,002.10 409,578.15 -355,544.60 620,684.24 1,024,120.95

IMT (Snt) -37,582.46 552,713.04 464,243.77 123,482.58 -203,627.34 -514,348.11 -220,914.01 64,529.70 -204,613.04 -252,849.45 136,137.29 92,828.02 -37,582.46 552,713.04 464,243.77

Dt 2,308,665.30 1,890,478.96 1,545,829.15 1,600,315.80 1,241,708.10 1,507,227.75 1,410,319.55 1,537,767.12 1,505,014.16 1,967,166.29 1,746,070.25 2,083,261.58 1,466,803.54 1,864,294.98 2,375,337.51

Dugaan Trend 1,546,029.40 1,569,713.00 1,593,396.60 1,617,080.20 1,640,763.80 1,664,447.40 1,688,131.00 1,711,814.60 1,735,498.20 1,759,181.80 1,782,865.40 1,806,549.00 1,830,232.60 1,853,916.20 1,877,599.80

Ýt 1,508,446.94 2,122,426.04 2,057,640.37 1,740,562.78 1,437,136.46 1,150,099.29 1,467,216.99 1,776,344.30 1,530,885.16 1,506,332.35 1,919,002.69 1,899,377.02 1,792,650.14 2,406,629.24 2,341,843.57

[Error]t 762,635.90 320,765.96 -47,567.45 -16,764.40 -399,055.70 -157,219.65 -277,811.45 -174,047.48 -230,484.04 207,984.49 -36,795.15 276,712.58 -363,429.06 10,378.78 497,737.71

1,658,905.09 2,443,192.00 1,629,122.38 2,010,072.92 1,610,038.70 1,723,798.38 1,648,360.10 1,038,080.76 1,648,623.47 2004 Jan Feb Mart Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt 992,879.64 1,695,318.67 1,189,405.54 1,625,163.52 1,602,296.82 1,622,981.52 1,300,401.12 1,692,107.22 1,714,316.84 1,691,963.55 1,882,207.54 1,756,447.34 2,176,089.60 1,776,575.57 1,429,221.08 1,792,955.79 2,417,008.02 1,799,691.79 2,839,581.28 1,831,228.87 1,815,460.33 1,796,323.79 1,784,765.68 1,766,511.45 1,724,205.44 1,692,035.38 1,657,544.37 1,624,072.52 1,660,241.09 1,671,971.07 1,648,491.78 1,629,199.40 1,619,580.54 1,644,013.74

132

No 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72

Thn (t)

Bln Nov Des

Prod UHT (Ton) 1,722,074.34

Mat

CMAt 1,827,160.25

(Sn+E)t -105,085.91 -10,783.27 -583,992.65 -451,698.10 -211,309.57 -225,466.48 -249,246.82 -13,469.53

IMT (Snt) 123,482.58 -203,627.34 -514,348.11 -220,914.01 64,529.70 -204,613.04 -252,849.45 136,137.29 92,828.02 -37,582.46 552,713.04 464,243.77 123,482.58 -203,627.34

Dt 1,598,591.76 2,015,513.54 1,748,766.53 1,606,882.17 1,618,599.12 1,883,459.16 1,869,519.55 1,735,938.17 1,991,191.94 2,020,997.80 2,672,632.00 1,803,981.53 1,248,451.42 2,836,727.48

Dugaan Trend 1,901,283.40 1,924,967.00 1,948,650.60 1,972,334.20 1,996,017.80 2,019,701.40 2,043,385.00 2,067,068.60 2,090,752.20 2,114,435.80 2,138,119.40 2,161,803.00 2,185,486.60 2,209,170.20

Ýt 2,024,765.98 1,721,339.66 1,434,302.49 1,751,420.19 2,060,547.50 1,815,088.36 1,790,535.55 2,203,205.89 2,183,580.22 2,076,853.34 2,690,832.44 2,626,046.77 2,308,969.18 2,005,542.86

[Error]t -302,691.64 90,546.54 -199,884.07 -365,452.03 -377,418.68 -136,242.24 -173,865.45 -331,130.43 -99,560.26 -93,438.00 534,512.60 -357,821.47 -937,035.18 627,557.28

1,823,091.64 1,811,886.20 1,822,247.30 2005 Jan Feb Mart Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des 1,234,418.42 1,814,574.83 1,385,968.16 1,860,757.69 1,683,128.82 1,928,119.10 1,678,846.12 1,880,506.11 1,616,670.10 1,851,327.74 1,872,075.46 1,919,762.24 2,084,019.96 1,983,415.34 3,225,345.04 2,268,225.30 1,371,934.00 2,633,100.14 1,885,544.99 1,865,916.92 1,904,312.60 1,894,438.39 1,837,666.26 1,818,411.07 1,822,669.47

MSE = 102 861 663 998.55

133

Lampiran 13.
Periode 1 1, 2 1, 2, 3 4 4, 5 4, 5, 6 7 7, 8 7, 8, 9 10 10, 11 10, 11, 12

Penentuan Ukuran Lot dengan Menggunakan EPP untuk Bahan Baku SMP Tahun 2005
Kebutuhan bersih SMP 111 097.66 124 737.13 151 481.59 151 096.15 145 500.31 168 486.79 187 561.80 178 507.38 290 281.05 204 140.28 123 474.06 236 979.01 Lama Penyimpanan 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 Periode-bagian 0 124 737.13 302 963.18 0 145 500.31 336 973.58 0 178 507.38 580 562.10 0 123 474.06 473 958.02 Akumulasi Periode Bagian 0 124 737.13 427 700.31 0 145 500.31 482 473.89 0 178 507.38 759 069.48 0 123 474.06 597 432.08

EPP SMP = 3 792.12

Lampiran 14.
Periode 1 1, 2 1, 2, 3 4 4, 5 4, 5, 6 7 7, 8 7, 8, 9 10 10, 11 10, 11, 12

Penent uan Ukuran Lot dengan Menggunakan EPP untuk Bahan Baku Gula
Kebutuhan Lama Periode-bagian bersih Gula Penyimpanan 0 0 74 065.11 1 83 158.09 83 158.09 2 201 975.46 100 987.73 0 0 100 730.77 1 97 000.21 97 000.21 2 224 649.06 112 324.53 0 125 041.20 0 119 004.92 119 004.92 1 387 041.40 193 520.70 2 0 136 093.52 0 82 316.04 82 316.04 1 315 972.02 157 986.01 2 Akumulasi Periode Bagian 0 83 158.09 285 133.55 0 97 000.21 321 649.26 0 119 004.92 506 046.33 0 82 316.04 398 288.06

EPP Gula = 11 595.13 Perhitungan EOQ SMP dan Gula Tahun 2005 EOQ SMP =

2SD H 2SD H

=

2 x173337.6 x172778.6 45.71 2 x24813 .58x115185.73 2.14

= 36 199.35 kg

EOQ Gula =

=

= 51 683.53 kg

134

Lampiran 15. MRP untuk Bahan Baku SMP dengan Teknik EOQ Tahun 2005 (EOQ SMP = 36 199.35 kg) (buffer stock = 86 389.30 kg)
Periode (bulan) Kebutuhan (kg) Sediaan di tangan a (66 553.80) Penerimaan Terjadwal Kebutuhan Bersih Pesanan yang direncanakan
b

1 111097.66 114244.14 158788.00 44543.86 180996.75

2 124737.13 98105.06 108598.05 10492.99 144797.40

3 151481.59 91420.87 144797.40 53376.53 144797.40

4 151096.15 121321.47 180996.75 59675.28 180996.75

5 145500.31 120618.56 144797.40 24178.84 180996.75

6 168486.79 96929.17 144797.40 47868.23 289594.80

7 187561.80 90364.12 180996.75 90632.63 217196.10

8 178507.38 92853.49 180996.75 88143.26 108598.05

9 290281.05 92167.24 289594.80 197427.56 253395.45

10 204140.28 105223.06 217196.10 111973.04 0

11 123474.06 90347.05 108598.05 18251.00 0

12 236979.01 106763.49 253395.45 146631.96 0

Lampiran 16. MRP untuk Bahan Baku Gula dengan Teknik EOQ Tahun 2005 (EOQ Gula = 51 683.53 kg) (buffer stock = 28 796.43 kg)
Periode (minggu) Kebutuhan (kg) Sediaan di tangan (28 547.86) Penerimaan Terjadwal b Kebutuhan Bersih Pesanan yang direncanakan
a

1 74065.11 57849.81 103367.06 45517.25 103367.06

2 83158.09 78058.78 103367.06 25308.28 103367.06

3 100987.73 80438.11 103367.06 22928.95 51683.53

4 100730.77 31390.87 51683.53 20292.66 103367.06

5 97000.21 37757.72 103367.06 65609.34 103367.06

6 112324.53 28800.25 103367.06 74566.81 155050.59

7 125041.2 58809.64 155050.59 96240.95 103367.06

8 119004.92 43171.78 103367.06 60195.28 206734.12

9 193520.7 56385.2 206734.12 150348.92 155050.59

10 136093.52 75342.27 155050.59 79708.32 51683.53

11 82316.04 44709.76 51683.53 6973.77 155050.59

12 157986.01 41774.34 155050.59 113276.25 0

a b

Persediaan pada akhir bulan bersangkutan Penerimaan jadwal pada awal bulan

Lampiran 17. Biaya Pembelian SMP dan Gula dengan Metode EOQ Tahun 2005
Kuantitas Harga beli + Biaya tranportasi (Rp/kg) 22 009.68 5 200.00 Biaya Bongkar Muat (Rp/kg) 1.90 1.90 37 449 829 758.23 6 721 313 867.68 44 171 143 625.91 Biaya Pembelian Total

SMP Gula Biaya Pembelian Total

1 701 369.45 1 292 088.25

135

Lampiran 18. MRP Teknik PPB yang disesuaikan untuk Bahan Baku SMP Tahun 2005 dengan sediaan pengaman 50%
Periode (bulan) Kebutuhan (kg) Sediaan di tangan a (66 553.80 kg) Penerimaan Terjadwal Kebutuhan Bersih Pesanan yang direncanakan
b

1 111097.66 86389.30 130933.16 44543.86 151096.15

2 124737.13 86389.30 124737.13 38347.83 145500.31

3 151481.59 86389.30 151481.59 65092.29 168486.79

4 151096.15 86389.30 151096.15 64706.85 187561.80

5 145500.31 86389.30 145500.31 59111.01 178507.38

6 168486.79 86389.30 168486.79 82097.49 290281.05

7 187561.8 86389.30 187561.80 101172.50 204140.28

8 178507.38 86389.30 178507.38 92118.08 123474.06

9 290281.05 86389.30 290281.05 203891.75 236979.01

10 204140.28 86389.30 204140.28 117750.98 0.00

11 123474.06 86389.30 123474.06 37084.76 0

12 236979.01 86389.30 236979.01 150589.71 0

Lampiran 19. MRP Teknik PPB yang disesuaikan untuk Bahan Baku Gula Tahun 2005 (buffer 25%)
Periode (minggu) Kebutuhan (kg) Sediaan di tangan a (28 547.86) Penerimaan Terjadwal b Kebutuhan Bersih Pesanan yang direncanakan 1 74,065.11 28,796.43 74,313.68 45,517.25 83,158.09 2 83,158.09 28,796.43 83,158.09 54,361.66 100,987.73 3 100,987.73 28,796.43 100,987.73 72,191.30 100,730.77 4 100,730.77 28,796.43 100,730.77 71,934.34 97,000.21 5 97,000.21 28,796.43 97,000.21 68,203.78 112,324.53 6 112,324.53 28,796.43 112,324.53 83,528.10 125,041.20 7 125,041.20 28,796.43 125,041.20 96,244.77 119,004.92 8 119,004.92 28,796.43 119,004.92 90,208.49 193,520.70 9 193,520.70 28,796.43 193,520.70 164,724.27 136,093.52 10 136,093.52 28,796.43 136,093.52 107,297.09 82,316.04 11 82,316.04 28,796.43 82,316.04 53,519.61 157,986.01 12 157,986.01 28,796.43 157,986.01 129,189.58 0

a b

Persediaan pada akhir bulan bersangkutan Penerimaan jadwal pada awal bulan

Tabel 20. Biaya Pembelian SMP dan Gula dengan Metode PPB Tahun 2005
Kuantitas Harga beli + Biaya tranportasi (Rp/kg) 22 009.68 5 200.00 Biaya Bongkar Muat (Rp/kg) 1.90 1.90 Biaya Pembelian Total

SMP Gula Biaya Pembelian Total

1 686 026.83 1 308 163.72

37 112 114 450.69 6 804 936 875.66 43 917 051 326.35

136

Lampiran 21. Penentuan Ukuran Lot dengan Menggunakan EPP untuk Bahan Baku SMP Tahun 2006
Periode 1 1, 2 1, 2, 3 4 4, 5 4, 5, 6 7 7, 8 7, 8, 9 10 10, 11 10, 11, 12 Kebutuhan bersih SMP 49849.678 188647.33 217295.08 194547.65 192272.26 230515.66 228696.89 218806.19 275705.48 269701.6 240317.06 212197.64 Lama Penyimpanan 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 Periode-bagian 0 188,647.33 434,590.16 0.00 192,272.26 461,031.33 0.00 218,806.19 551,410.96 0.00 240,317.06 424,395.27 Akumulasi Periode Bagian 0 188,647.33 623,237.49 0.00 192,272.26 653,303.59 0.00 218,806.19 770,217.15 0.00 240,317.06 664,712.34

EPP SMP = 3 792.12

Lampiran 22.
Periode

Penentuan Ukuran Lot dengan Menggunakan EPP untuk Bahan Baku Gula Tahun 2006
Kebutuhan bersih Gula 33233.119 125764.88 144863.39 129698.43 128181.51 153677.11 152464.6 145870.8 183803.65 179801.06 160211.38 141465.09 Lama Penyimpanan 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 Periode-bagian Akumulasi Periode Bagian 0 125,764.88 415,491.66 0.00 128,181.51 435,535.73 0.00 145,870.80 513,478.10 0.00 160,211.38 443,141.56

1 1, 2 1, 2, 3 4 4, 5 4, 5, 6 7 7, 8 7, 8, 9 10 10, 11 10, 11, 12

0 125,764.88 289,726.78 0.00 128,181.51 307,354.22 0.00 145,870.80 367,607.30 0.00 160,211.38 282,930.18

EPP Gula = 11 595.13

137

Lampiran 23. MRP Teknik PPB yang disesuaikan untuk Bahan Baku SMP Tahun 2006 dengan sediaan pengaman 50%
Periode (bulan) Kebutuhan (kg) Sediaan di tangan a (171,624.75) Penerimaan Terjadwal b Kebutuhan Bersih Pesanan yang direncanakan 194547.65 1 49849.68 121775.07 2 188647.33 104940 171811.95 66872.26 192272.26 3 217295.08 104940 217295.08 112355.39 230515.66 4 194547.65 104940 194547.65 89607.96 228696.89 5 192272.26 104940 192272.26 87332.57 218806.19 6 230515.66 104940 230515.66 125575.97 275705.48 7 228696.89 104940 228696.89 123757.20 269701.60 8 218806.19 104940 218806.19 113866.50 240317.06 9 275705.48 104940 275705.48 170765.79 212197.64 10 269701.60 104940 269701.60 164761.91 0.00 11 240317.06 104940 240317.06 135377.37 0.00 12 212197.64 104940 212197.64 107257.95 0.00

Lampiran 24. MRP Teknik PPB yang disesuaikan untuk Bahan Baku Gula Tahun 2006 (buffer 25%)
Periode (minggu) Kebutuhan (kg) Sediaan di tangan a (156,445.35) Penerimaan Terjadwal b Kebutuhan Bersih Pesanan yang direncanakan 37532.55 1 33233.12 123212.23 2 125764.88 34980 37532.55 2552.65 144863.39 3 144863.39 34980 144863.39 109883.49 129698.43 4 129698.43 34980 129698.43 94718.53 128181.51 5 128181.51 34980 128181.51 93201.61 153677.11 6 153677.11 34980 153677.11 118697.21 152464.60 7 152464.60 34980 152464.60 117484.70 145870.80 8 145870.80 34980 145870.80 110890.90 183803.65 9 183803.65 34980 183803.65 148823.75 179801.06 10 179801.06 34980 179801.06 144821.16 160211.38 11 160211.38 34980 160211.38 125231.48 141465.09 12 141465.09 34980 141465.09 106485.19 0.00

138

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful