MAKALAH PENGEMBANGAN WILAYAH DAN PENATAAN RUANG DI INDONESIA : TINJAUAN TEORITIS DAN PRAKTIS1

OLEH DIREKTUR JENDERAL PENATAAN RUANG DEPARTEMEN PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH

ABSTRAK Makalah ini berisikan pemaparan tentang konsep pengembangan wilayah dan penataan ruang secara umum di Indonesia, yang didasarkan atas pengayaan atas aspek teoritis dan aspek pengalaman empiris. Pada bagian selanjutnya dipaparkan isu strategis penyelenggaraan penataan ruang di Indonesia, serta kaitannya dengan pelaksanaan otonomi daerah yang telah dan akan memberikan beberapa implikasi penting. Pada bagian akhir disampaikan kebijakan dan strategi penataan ruang yang ditempuh oleh pemerintah dalam upaya mewujudkan tujuan dan sasaran pengembangan wilayah, sekaligus mengatasi berbagai permasalahan aktual pembangunan

I.
1.

Konsep Pengembangan Wilayah
Konsep pengembangan wilayah di Indonesia lahir dari suatu proses iteratif yang menggabungkan dasar-dasar pemahaman teoritis dengan pengalaman-pengalaman praktis sebagai bentuk penerapannya yang bersifat dinamis. Dengan kata lain, konsep
Makalah ini disajikan dalam Studium General Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) di Yogyakarta, 1 September 2003

1

c:/tarunas/tr-pulau/paperSTTNASYogya010903

1

Pada era 90-an. Berdasarkan pemahaman teoritis dan pengalaman empiris diatas. Dalam sejarah perkembangan konsep pengembangan wilayah di Indonesia. Pada periode 1980-an ini pula. Ketiga adalah Myrdal (era 1950-an) dengan teori yang menjelaskan hubungan antara wilayah maju dan wilayah belakangnya dengan menggunakan istilah backwash and spread effect.. c:/tarunas/tr-pulau/paperSTTNASYogya010903 2 . dan budaya. terdapat beberapa landasan teori yang turut mewarnai keberadaannya.24/1992 tentang Penataan Ruang. Berpijak pada pengertian diatas maka pembangunan seyogyanya tidak hanya diselenggarakan untuk memenuhi tujuan-tujuan sektoral yang bersifat parsial. 2. Kedua adalah Hirschmann (era 1950-an) yang memunculkan teori polarization effect dan trickling-down effect dengan argumen bahwa perkembangan suatu wilayah tidak terjadi secara bersamaan (unbalanced development). maka secara konseptual pengertian pengembangan wilayah dapat dirumuskan sebagai rangkaian upaya untuk mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan berbagai sumber daya.pengembangan wilayah di Indonesia merupakan penggabungan dari berbagai teori dan model yang senantiasa berkembang yang telah diujiterapkan dan kemudian dirumuskan kembali menjadi suatu pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pembangunan di Indonesia. Keberadaan landasan teori dan konsep pengembangan wilayah diatas kemudian diperkaya dengan gagasan-gagasan yang lahir dari pemikiran cemerlang putra-putra bangsa. konsep pengembangan wilayah mulai diarahkan untuk mengatasi kesenjangan wilayah. Terakhir adalah Douglass (era 70-an) yang memperkenalkan lahirnya model keterkaitan desa – kota (rural – urban linkages) dalam pengembangan wilayah. namun 5. Dalam perjalanannya SNPP ini pula menjadi cikal-bakal lahirnya konsep Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu (P3KT) sebagai upaya sistematis dan menyeluruh untuk mewujudkan fungsi dan peran kota yang diarahkan dalam SNPP. keterpaduan antar sektor pembangunan melalui proses penataan ruang dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan yang berkelanjutan dalam wadah NKRI. yakni faktor fisik. meningkatkan keserasian antar kawasan. Perkembangan terakhir pada awal abad millennium. Selanjutnya adalah Ruslan Diwiryo (era 1980-an) yang memperkenalkan konsep Pola dan Struktur ruang yang bahkan menjadi inspirasi utama bagi lahirnya UU No. Keempat adalah Friedmann (era 1960-an) yang lebih menekankan pada pembentukan hirarki guna mempermudah pengembangan sistem pembangunan yang kemudian dikenal dengan teori pusat pertumbuhan. Pertama adalah Walter Isard sebagai pelopor Ilmu Wilayah yang mengkaji terjadinya hubungan sebab-akibat dari faktor-faktor utama pembentuk ruang wilayah. merekatkan dan menyeimbangkan pembangunan nasional dan kesatuan wilayah nasional. antar kawasan dalam wilayah pulau. mengarahkan konsep pengembangan wilayah sebagai alat untuk mewujudkan integrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Diantaranya adalah Sutami (era 1970-an) dengan gagasan bahwa pembangunan infrastruktur yang intensif untuk mendukung pemanfaatan potensi sumberdaya alam akan mampu mempercepat pengembangan wilayah. sosial-ekonomi. bahkan. lahir Strategi Nasional Pembangunan Perkotaan (SNPP) sebagai upaya untuk mewujudkan sitem kota-kota nasional yang efisien dalam konteks pengembangan wilayah nasional. maupun antara kawasan perkotaan dan perdesaan. misal antara KTI dan KBI. 3. 4. Poernomosidhi (era transisi) memberikan kontribusi lahirnya konsep hirarki kota-kota dan hirarki prasarana jalan melalui Orde Kota.

Disamping sebagai “guidance of future actions” RTRW pada dasarnya merupakan bentuk intervensi yang dilakukan agar interaksi manusia/makhluk hidup dengan lingkungannya dapat berjalan serasi. 6. mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia. maka ditempuh melalui upaya penataan ruang yang terdiri dari 3 (tiga) proses utama. yakni terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan budidaya. serta mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan. (e) 8. Sesuai dengan UU 24/1992 tentang penataan ruang. yakni : (a) proses perencanaan tata ruang wilayah.24/1992 yang kemudian diikuti dengan penetapan berbagai Peraturan Pemerintah (PP) untuk operasionalisasinya. Di Indonesia. berhasil guna dan tepat guna untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. berbudi luhur dan sejahtera. yang didukung oleh sistem hukum dan sistem kelembagaan yang melingkupinya. pembangunan diselenggarakan untuk memenuhi tujuan-tujuan pengembangan wilayah yang bersifat komprehensif dan holistik dengan mempertimbangkan keserasian antara berbagai sumber daya sebagai unsur utama pembentuk ruang (sumberdaya alam.lebih dari itu. Agenda Kabinet Gotong Royong untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. buatan. khususnya pasal 3. Berdasarkan UU No. penataan ruang telah ditetapkan melalui UU No. Dalam rangka mewujudkan konsep pengembangan wilayah yang didalamnya memuat tujuan dan sasaran yang bersifat kewilayahan di Indonesia2. selain yang termuat di dalam GBHN 1999 – 2004 dalam rangka mengatasi kesenjangan Kawasan Timur Indonesia (KTI) dengan Kawasan Barat Indonesia (KBI). Konsep Penataan Ruang di Indonesia. II. proses pemanfaatan ruang.47/1997 tentang RTRWN. manusia dan sistem aktivitas). sistem perencanaan tata ruang wilayah diselenggarakan secara berhirarkis menurut kewenangan administratif. proses pengendalian pemanfaatan ruang yang terdiri atas mekanisme perizinan dan penertiban terhadap pelaksanaan pembangunan agar tetap sesuai dengan RTRW dan tujuan penataan ruang wilayahnya. meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya buatan secara berdayaguna. mewujudkan keseimbangan kepentingan antara kesejahteraan dan keamanan. selaras. RTRW Propinsi dan RTRW Kabupaten/Kota serta rencana-rencana yang Secara nasional. 7. yang merupakan wujud operasionalisasi rencana tata ruang atau pelaksanaan pembangunan itu sendiri. penataan ruang sekaligus juga merupakan produk yang memiliki landasan hukum (legal instrument) untuk mewujudkan tujuan pengembangan wilayah. Sedangkan sasaran penataan ruang adalah : (a) (b) (c) (d) mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas. (b) (c) Dengan demikian. serta di dalam PP No. yang menghasilkan rencana tata ruang wilayah (RTRW). pada saat ini tidak banyak dokumen yang memuat tujuan dan sasaran kewilayahan. termuat tujuan penataan ruang. seimbang untuk tercapainya kesejahteraan manusia/makhluk hidup serta kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pembangunan (development sustainability). selain merupakan proses untuk mewujudkan tujuan-tujuan pembangunan.24/1992. 2 c:/tarunas/tr-pulau/paperSTTNASYogya010903 3 . yakni dalam bentuk RTRW Nasional.

RTRW Kabupaten dan Kota merupakan perencanaan mikro operasional jangka menengah (5-10 tahun) dengan skala ketelitian 1 : 20.000. RTRWN disusun dengan memperhatikan wilayah Nasional sebagai satu kesatuan wilayah yang lebih lanjut dijabarkan kedalam strategi serta struktur dan pola pemanfaatan ruang pada wilayah propinsi (RTRWP). RTRWN merupakan perencanaan makro strategis jangka panjang dengan horizon waktu hingga 25 .000 hingga 100. termasuk di dalamnya penetapan sejumlah kawasan tertentu dan kawasan andalan yang diprioritaskan penanganannya 9.50 tahun ke depan dengan menggunakan skala ketelitian 1 : 1.000 (perhatikan Gambar 3).000.000. yang kemudian diikuti dengan rencana-rencana rinci yang bersifat mikro-operasional jangka pendek dengan skala ketelitian dibawah 1 : 5. Aspek teknis perencanaan tata ruang wilayah dibedakan berdasarkan hirarki rencana. RTRW Propinsi merupakan perencanaan makro strategis jangka menengah dengan horizon waktu 15 tahun pada skala ketelitian 1 : 250.sifatnya lebih rinci. Gambar 3 Illustrasi Keterkaitan Penataan Ruang secara Fungsi Utama dan Administratif. Sementara. c:/tarunas/tr-pulau/paperSTTNASYogya010903 4 .000.

Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL). 12. laut dan udara. (e) belum adanya keterbukaan dan keikhlasan dalam menempatkan kepentingan sektor dan wilayah dalam kerangka penataan ruang. SNPP dewasa ini merupakan bentuk penjabaran dari RTRWN. Dalam kaitannya dengan pengembangan sistem permukiman. mensinkronkan. yakni : (a) terjadinya konflik kepentingan antar-sektor. Penyebabnya adalah inkonsistensi kebijakan terhadap rencana tata ruang serta kelemahan dalam pengendalian pembangunan. Isu Strategis Penataan Ruang di Indonesia. yang meliputi : (a) konflik antar-sektor dan antar-wilayah. Sementara itu untuk kawasan dengan nilai strategis pertahanankeamanan (security). dan memadukan berbagai rencana dan program sektor tadi. Misalnya. Untuk mewujudkan fungsi-fungsi kota sebagaimana ditetapkan dalam RTRWN secara bertahap dan sistematis. kehutanan. dan sebagainya. maka pada saat ini tengah disusun review Strategi Nasional Pembangunan Perkotaan (SNPP). baik di darat. III. dan sebagainya. 11. serta (c) dukungan terhadap pengembangan wilayah belum optimal. (c) terjadinya penyimpangan pemanfaatan ruang dari ketentuan dan norma yang seharusnya ditegakkan. lingkungan hidup.10. maka disusun rencana pengembangan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) dan kawasan andalan. maka didalam RTRWN sendiri telah ditetapkan fungsi kota-kota secara nasional berdasarkan kriteria tertentu (administratif. disusun rencana pengembangan kawasan perbatasan negara. Menko Perekonomian pada forum yang sama menyebutkan adanya 3 (tiga) isu utama dalam penyelenggaraan penataan ruang nasional. baik di darat maupun di laut. (b) degradasi lingkungan akibat penyimpangan tata ruang. prasarana wilayah. Senada dengan isu yang dikemukakan Presiden RI. 13. Selain itu juga disusun rencana pengembangan kawasan agropolitan (sentra-sentra produksi pertanian). (b) belum berfungsinya secara optimal penataan ruang dalam rangka menyelaraskan. Dengan kata lain. seperti pertambangan. serta (f) kurangnya kemampuan menahan diri dari keinginan membela kepentingan masingmasing secara berlebihan. Presiden Republik Indonesia dalam sambutannya pada saat Rapat Kerja Nasional Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional baru-baru ini di Surabaya menegaskan beberapa isu strategis dalam penyelenggaraan penataan ruang nasional. seperti c:/tarunas/tr-pulau/paperSTTNASYogya010903 5 . dukungan prasarana. untuk kawasan dengan nilai strategis ekonomi. ekonomi. (d) belum tersedianya alokasi fungsi-fungsi yang tegas dalam RTRWN. maupun kriteria strategis lainnya) yakni sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN). maka disusun pula rencana pengembangan (spatial development plan) untuk kawasan-kawasan fungsional yang memiliki nilai strategis. Selain penyiapan rencana untuk wilayah administratif.

7 juta hektar hutan terbakar di Sumatra dan Kalimantan. hutan lindungnya telah terkonversi dengan laju sebesar 19. maka Indonesia akan menjadi nett importir pangan yang sangat besar pada masa mendatang.diindikasikan dari minimnya dukungan kebijakan sektor terhadap pengembangan kawasan-kawasan strategis nasional dalam RTRWN seperti kawasan perbatasan negara.. Seluruh SWS kritis tersebut selain mendatangkan bencana banjir pada musim hujan. kawasan andalan.2001). memperluas kelangkaan air bersih pada jangka panjang. Konversi lahan dari kawasan lindung menjadi kawasan budidaya guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah praktek pembangunan yang kerap terjadi. terjadi konversi lahan pertanian untuk penggunaan non-pertanian seperti untuk industri. industri. tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pembangunan jangka panjang. inisiatif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat cenderung diselenggarakan untuk memenuhi tujuan jangka pendek. mengganggu siklus hidrologis.4 (periksa Gambar 1 berikut). sementara pada tahun 2035 diperkirakan tambahan ketersediaan pangan nasional lebih dari 2 x jumlah kebutuhan saat ini. yakni antara 2 hingga 3. Bahkan WWF (2000) menyebutkan angka yang lebih besar.(Siswono. maupun pertambangan. sebaliknya juga menyebabkan kekeringan yang parah pada musim kemarau. Dari keseluruhan 89 SWS yang ada di Indonesia.5 juta hektar pada periode yang sama. pertanian. dan KAPET. Hutan tropis. Pada saat ini. 2001) 4 c:/tarunas/tr-pulau/paperSTTNASYogya010903 6 .005 ha atau 50. Selain itu. Pada tahun 1992. yakni : (1) coefficient of variation yang menggambarkan fluktuasi debit atau kestabilan air. Di Pulau Jawa misalnya. 2001).16. Contoh lainnya adalah penurunan luas kawasan resapan air pada pulau-pulau besar yang signifikan. Bahkan Badan Planologi Kehutanan menyebutkan bahwa hingga 2001 penjarahan hutan di Jawa telah mencapai 350. Dengan kerusakan hutan yang berfungsi lindung tersebut maka akan menimbulkan run-off yang besar.002. Perkembangan yang buruk terus meluas hingga tahun 1998. (Uraian terhadap berbagai isu diatas akan disajikan sebagai berikut). serta meningkatkan resiko pendangkalan dan banjir pada kawasan pesisir. termasuk hampir seluruh SWS di Pulau Jawa.100 ha/tahun antara 1979 – 1999 (Deptan.000 ha sehingga luas hutan tersisa 23% saja dari luas daratan Pulau Jawa. dsb) akan terancam pula. misalnya. permukiman dan jasa di Pulau Jawa yang mencapai 1. Apabila sentra-sentra pangan nasional tidak dapat dipertahakan keberadaannya (karena lahan yang terbatas atau ketersediaan air yang terbatas) . 16. Pada era otonomi daerah. dimana 59 SWS di Indonesia telah berada dalam kondisi kritis. 3 Tingkat kekritisan pada SWS dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor. Saddang. Selain itu kondisi satuan-satuan wilayah sungai di Indonesia telah berada pada kondisi yang mengkhawatirkan. (2) indeks penggunaan air yang mencerminkan rasio antara jumlah air yang digunakan dengan ketersediaan air. Gambar 1 : Perkembangan SWS Kritis di Indonesia (1984 – 1998). kondisi ini semakin meluas hingga menjadi 39 SWS. Indonesia telah menjadi negara importir pangan dengan nilai Rp. Brantas. serta (3) pencemaran air akibat masuknya limbah domestik.000 ha/tahun (BPS. 14. sebagai kawasan resapan air telah berkurang luasannya baik akibat kebakaran dan penjarahan/ penggundulan. Data yang dihimpun dari The Georgetown – International Environmental Law Review (1999) menunjukkan bahwa antara tahun 1997 – 1998 saja tidak kurang dari 1. 15.62 trilyun (2000). bilamana kecenderungan negatif dalam pengelolaan SWS tersebut terus berlanjut. hingga tahun 1984 saja telah terdapat 22 SWS berada dalam kondisi kritis3. Dari sisi ketahanan pangan. maka produktivitas sentra-sentra pangan yang terletak di SWS-SWS potensial (seperti Citarum.

Berbagai fenomena bencana (water-related disaster) seperti banjir. Pada kawasan pesisir pun.235. Penyebab terjadinya bencana sendiri dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) hal. antara 2050 hingga 2070. serta (3) aktivitas sosial-ekonomi manusia yang dinamis. Apabila mangrove tidak dapat dipertahankan maka : abrasi pantai. telah terjadi degradasi kualitas lingkungan yang serius. pada dasarnya. payau. Sumatera bagian Timur. Kalimantan bagian Selatan. seperti penggundulan hutan. land subsidence. antara manusia dengan alam maupun antara kepentingan ekonomi dengan pelestarian lingkungan. kolam ikan. (2) peristiwa alam yang bersifat dinamis. dan beberapa spot pesisir di Papua . dan sebagainya. longsor dan kekeringan – yang terjadi secara merata di berbagai wilayah di Indonesia pada awal tahun 2002 dan 2003 ini. Pertama adalah penurunan luas mangrove di Indonesia dari 5. Keempat adalah ancaman dampak global warming berupa gangguan terhadap kondisi sosial-ekonomi kawasan. Sulawesi bagian Barat Daya. dan sebagainya. (b) permukiman penduduk pada wilayah Pantura Jawa. pencemaran dari sungai ke laut. yakni : (1) kondisi alam yang bersifat statis. 18. seperti : perubahan iklim (pemanasan) global. dan mangrove seluas 3. perilaku masyarakat. Kedua adalah intrusi air laut yang diakibatkan oleh kenaikan muka air laut serta land subsidence akibat penghisapan air tanah secara berlebihan. Ketiga adalah hilangnya ekosistem terumbu karang yang merupakan tempat pemijahan (breeding and nursery ground) bagi perkembangbiakan ikan-ikan. intrusi air laut akan mencakup 50% dari luas wilayah Jakarta Utara. dan karakteristik sungai. terjadi penurunan mangrove ± 50% dari total luasan semula. Contoh. sedimentasi. topografi. seperti kondisi geografi. merupakan indikasi yang kuat terjadinya ketidakselarasan dalam pemanfaatan ruang.496.101 0 110 113 0112 00 118 0 126202 201 205 204 210 0 0 00 208 00 0212 214 2090 213 0 0 0 509 0 401 515 0 516 0 0 517 0 89 SWS di seluruh Indonesia 101 0 1984 22 SWS kritis 101 0 109 110 00112 113 00 118 414 408 0 0 403 0 402 121 00 0 124 401 129 0 0 0 126202 201 205 204 210 0 0 00 208 00 0212 2090 214 207211 213 301 0 00 0 0 0 509 0 515 510 0 516 0 0 517 0 702 0 109 110 00112 113 00 115 409 118 414 00 0 408 0 407 403 0 402 121 00 0 0 124 129 0 401 0 0 126202 201 205 204 210 215 0 0 00 208 00 02120 2090 214 207211 213 301 0 00 0 0 0 502 0 509 0 515 510 0 516 0 0 517 0 702 0 1992 39 SWS kritis 1998 59 SWS kritis 17.700 ha (1987) hingga 2. pemanfaatan sempadan sungai untuk permukiman.543 ha (1982) menjadi 3. konversi lahan pada kawasan lindung. diantaranya adalah : (a) jalan lintas dan KA di Pantura Jawa dan TimurSelatan Sumatera . Dalam 10 tahun (1982-1993). (c) hilangnya sawah. dan zona aquaculture pun akan terancam.185 ha (1993). pemanfaatan wilayah retensi banjir.209.4 c:/tarunas/tr-pulau/paperSTTNASYogya010903 7 .

mekanisme insentif dan disinsentif.html. Gambar 2 : Sebaran Wilayah yang terkena DampakGlobal Warming 19. perhatian pada penataan ruang kawasan perkotaan perlu mendapat perhatian khusus.(Siswono. Isu lainnya adalah menyangkut perkembangan kota-kota yang tidak terarah. Konsentrasi perkembangan kawasan perkotaan yang memanjang pada kedua Pulau utama tersebut telah menimbulkan kesenjangan antarwilayah pulau yang cukup signifikan serta inefisiensi pelayanan prasarana-sarana. 20.16. cenderung membentuk konurbasi antara kota inti dengan kota-kota sekitarnya. misalnya melalui penerapan zoning regulation. Indonesia telah menjadi importir pangan senilai Rp.9% (1990).8 juta atau 22.juta ha. Apabila sentra-sentra pangan nasional tidak dapat dipertahakan maka Indonesia akan menjadi nett importir yang sangat besar .62 trilyun (2000).org/summaries/indonesia/indonesia. menjadi 74 juta atau 37% (1998). Sebagai gambaran konsentrasi kegiatan ekonomi di Pantura Jawa mencapai 85%.6 Dengan kecenderungan urbanisasi yang terus meningkat. Isu berikutnya yang sangat serius adalah mengenai kenaikan jumlah penduduk perkotaan sebagai wujud terjadinya fenomena urbanisasi akibat migrasi desa – kota Data menunjukkan bahwa jumlah penduduk perkotaan di Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup pesat dari 32. 21. Hal ini pun dicirikan dengan intensitas pergerakan orang dan barang yang sangat tinggi. sentra produksi pangan (4 %) terancam alih fungsi lahan. 2001) Population Research Centre at www. seperti yang terjadi di Pantai Utara Jawa secara intensif pun mulai terjadi di Pantai Timur Sumatera. meningkat menjadi 55.49% (1990-1995). dan diperkirakan akan mencapai angka 150 juta atau 60% dari total penduduk nasional (2015) dengan laju pertumbuhan penduduk kota rata-rata 4. sementara pada 2035 diperkirakan kebutuhan pangan lebih dari 2 x jumlah kebutuhan saat ini.trcdc. Perkembangan kawasan perkotaan yang membentuk pola linear yang dikenal dengan ribbon development.4 juta atau 30. Brantas. dan sebagainya. menjadi 90 juta jiwa atau 44% (2002).5 dan (d) penurunan produktivitas sentra-sentra pangan. jauh meninggalkan Pantai Selatan (15%). seperti pada lintas utara Jawa dan lintas Timur Sumatera.3% dari total penduduk nasional (1980). Konurbasi dimaksud Dengan kondisi pangan saat ini. 5 6 c:/tarunas/tr-pulau/paperSTTNASYogya010903 8 .com. seperti di DAS Citarum. dan Saddang.

efektif. Kompatibilitas dan kesesuaian standar peta yang digunakan dalam perencanaan tata ruang wilayah di masing-masing wilayah otonom merupakan salah satu prasyarat terwujudnya keterpaduan dalam pengelolaan sumber daya. seperti kemiskinan perkotaan7. 24. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa penyaluran hak-hak masyarakat dalam penataan ruang saja belum terjamin sepenuhnya.7 juta jiwa atau 18. meningkat menjadi 15. PP No. Untuk itu. dan Denpasar).   Berdasarkan survey BKKBN (2003).6% (1999) pada periode krisis. Dukungan teknologi informasi dalam proses pengambilan keputusan atau intervensi kebijakan penataan ruang belum dioptimalkan pemanfaatannya. pelayanan prasarana dan sarana kota yang terbatas. Padang. Bandung. Palembang dan Makassar) dan 9 kota besar (Bandar Lampung.69/1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tatacara Peran Serta Masyarakat yang merupakan derivasi dari UU No. walaupun kompleksitas permasalahan pengembangan wilayah yang dihadapi telah nyata. Semarang.65% (2002). Selanjutnya. Persepsi yang berbeda mengenai hak dan kewajiban dari masyarakat seringkali juga menghadirkan konflik pemanfaatan ruang yang sulit dicarikan solusinya. Pekanbaru. tingginya transaction cost. Solo. melakukan analisis dan penyesuaian kebijakan pembangunan wilayahnya. Bekasi. Pelibatan masyarakat perlu dikembangkan berdasarkan konsensus yang disepakati bersama serta dengan memperhatikan karakteristik sosial-budaya setempat (local unique). 23. serta keterbatasan pelayanan merupakan kondisi yang tipikal terjadi. dan cenderung merugikan kepentingan publik. 10 tahun 2000 tentang Ketelitian Peta diharapkan dapat mensinergikan peta-peta yang digunakan untuk penataan ruang wilayah sehingga ke depan dapat menjadi sistem informasi yang handal untuk penataan ruang wilayah tersebut. dan seimbang. PP No. angka kemiskinan perkotaan di Indonesia menunjukkan kecenderungan yang fluktuatif dari 9. Era otonomi daerah akan menempatkan masing-masing wilayah otonom dalam iklim kompetisi yang ketat. Walaupun telah diatur melalui PP No. dan pencemaran lingkungan. peta tematik dan informasi digital lainnya. Yogyakarta. Pengembangan kota-kota pada kawasan perbatasan negara – baik yang berada di mainland ataupun di pulau-pulau kecil – sebagai pusat-pusat pertumbuhan wilayah dan beranda depan negara (frontier region) pada saat ini masih jauh dari harapan. Untuk itu. Eksistensi suatu wilayah dalam hal ini sangat ditentukan oleh kemampuan para pengambil keputusan dalam mengatasi kekurangan dan memanfaatkan kelebihan yang dimilikinya dengan optimal. proses pelibatan masyarakat sebagai subyek utama dalam penataan ruang wilayah masih belum menemukan bentuk terbaiknya. Hal lainnya adalah menyangkut tatacara penyampaian aspirasi agar berbagai kepentingan seluruh stakeholders dapat terakomodasi secara adil. Medan. Konurbasi yang terjadi pada kota-kota tersebut menimbulkan berbagai permasalahan kompleks.2 juta jiwa atau 14. Banjarmasin. dan kembali menurun menjadi 13. kemacetan lalu lintas. Tangerang. 25. Ketertinggalan. 22. keterisolasian dan keterbatasan aksesibilitas. Samarinda. salah satu kunci sukses terletak pada kecepatan mengakses informasi. Surabaya.dicirikan dengan munculnya 9 kota metropolitan dengan penduduk diatas 1 juta jiwa (Jakarta.  c:/tarunas/tr-pulau/paperSTTNASYogya010903 9 . terlebih pelaksanaan kewajibannya masih jauh dari yang diharapkan.24/1992 dan karenanya telah menjadi common interests.6 juta jiwa (1996). Malang. 10 tahun 2000 ini masih perlu disosialisasikan agar jelas manfaatnya dengan mendorong BAKOSURTANAL dan instansi terkait dengan penataan ruang untuk siap melayani kebutuhan akan pengadaan peta dasar wilayah.

Dengan tidak adanya hirarki antara pemerintah propinsi dan pemerintah kabupaten/kota. untuk mengatasi berbagai permasalahan aktual dalam pembangunan. maka daya dukung lingkungan dari suatu wilayah menjadi pertimbangan yang sangat penting. (4) privatisasi. pemerintah telah mendesentralisasikan sebagian besar kewenangannya kepada pemerintah daerah. Berlakunya kebijaksanaan otonomi daerah melalui UU No. Dengan memperhatikan keseluruhan uraian diatas.3 (5) butir 12. antar wilayah dan antar sektor 9  Rondinelli and Nellis (1986).a). Dengan diberlakukannya UU Otonomi Daerah dan Desentralisasi Fiskal pada tahun 2001. Penataan Ruang dalam Era Otonomi Daerah 27.26. • Tercapainya keseimbangan pemanfaatan ruang makro antara kawasan berfungsi lindung dan budidaya. Dalam PP No 25/1999 bahkan disebutkan bahwa penyusunan RTRWN berdasarkan tata ruang kabupaten/kota dan propinsi (ps. Meskipun pada satu sisi penataan ruang yang paling fundamental merupakan kewenangan daerah. 22/1999 berimplikasi pada biasnya hirarki dalam sistem perencanaan tata ruang wilayah. namun pada sisi lain RTRW Propinsi bukanlah mosaik dari Kabupaten/Kota. RTRW Nasional dan RTRW Propinsi yang sebelumnya menjadi pedoman bagi daerah tingkat bawahannya (ps.2 (3) butir 13. IV. desentralisasi dapat dibedakan atas 4 (empat) bentuk dengan turunan yang berbeda9 : (1) devolusi. maka prinsip-prinsip penataan ruang tidak dapat diabaikan lagi. Pada hakekatnya otonomi daerah mengandung makna yaitu diberikannya kewenangan (authority) kepada pemerintah daerah menurut kerangka perundang-undangan yang berlaku untuk mengatur kepentingan (interest) daerah masing-masing. Lazimnya prinsip devolusi mengacu kepada desentralisasi politik.c. 30. yang merupakan pengalihan kewenangan dari pemerintah kepada organisasi non-pemerintah baik yang berorientasi profit maupun non-profit. Sementara penyusunan RTRWP harus berdasarkan kesepakatan antara propinsi dan Kabupaten/Kota (ps.20 (3c) dan ps 21 (3d) UU 24/1992 dapat menjadi tidak efektif karena daerah mempunyai kewenangan penuh dalam penataan ruang daerahnya.8 Melalui kebijakan otonomi daerah ini. c:/tarunas/tr-pulau/paperSTTNASYogya010903 10 . (3) delegasi. dimulailah era baru dalam sistem pembangunan di daerah. concern Pemerintah Pusat dalam bidang penataan ruang adalah untuk menjamin: 28. Secara konseptual. 29. yang merupakan penyerahan urusan fungsi-fungsi pemerintahan dari pemerintah pusat atau pemerintah yang lebih atasnya kepada pemerintah di bawahnya sehingga menjadi urusan rumah tangga daerah. dan delegasi maupun privatisasi sebagai tugas subcontracting. Gerritsen and Situmorang (1999). yang merupakan pelimpahan kewenangan dari pemerintah pusat atau pemerintah atasannya kepada para pejabat mereka di daerah. dekonsentrasi pada pengertian desentralisasi administrasi. Dalam konteks ini. antara kawasan perkotaan dan perdesaan. Melalui instrumen ini pula. (2) dekonsentrasi. yang merupakan penunjukkan oleh pemerintah pusat atau pemerintah atasannya kepada pemerintah daerah untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan dengan pertanggungjawaban tugas kepada atasannya. Dalam konteks ini upaya pengendalian pembangunan dan berbagai dampaknya perlu diselenggarakan secara terpadu lintas sektor dan lintas wilayah melalui instrumen penataan ruang.

maka keberadaan visi penyelenggaraan penataan ruang yang tegas menjadi sangat penting. kewenangan pusat dalam bidang tata ruang meliputi: Perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan secara makro. Selain itu perumusan kebijakan dan strategi tersebut tidak dapat pula dilepaskan dari 2 (dua) pokok kesepakatan yang dicapai dalam RAKERNAS – BKTRN. (penetapan) pola dan struktur pemanfaatan ruang nasional. 34. serta • • • 32. Pengaturan tata ruang perairan di luar 12 mil dan kriteria penataan perwilayah ekosistem daerah tangkapan air Penyiapan standar. Tercapainya pemulihan daya dukung lingkungan untuk mencegah terjadinya bencana yang lebih besar dan menjamin keberlanjutan pembangunan Terwujudnya keterpaduan dan kerjasama pembangunan lintas propinsi dan lintas sektor untuk optimasi dan sinergi struktur pemanfaatan ruang Terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat (basic needs) akan pelayanan publik yang memadai • Di sisi lain. “pengembangan kawasan perbatasan”. kriteria dan fasilitasi kerjasama penataan ruang • • • • Berkenaan dengan hal tersebut. menurut PP 25 tahun 2000. instrumen pengikat yang dapat digunakan sebagai acuan sekaligus alat keterpaduan dan kerjasama pembangunan antar-daerah adalah melalui : Instrumen perundang-undangan yang mengikat Kebijakan-kebijakan yang jelas dan responsif sesuai dengan kebutuhan daerah Bantuan dan kompensasi dalam bentuk fiskal Penyediaan langsung prasarana berfungsi lintas wilayah dan ”backbone” pengembangan wilayah Mendorong kemitraan secara vertikal dan horisontal yang bersifat kerjasama pengelolaan (co-management) dan kerjasama produksi (co-production) • V. Kebijakan dan Strategi Penyelenggaraan Penataan Ruang Dalam merespons berbagai isu dan tantangan pembangunan yang aktual dalam era otonomi daerah. Adapun keywords dimaksud adalah : “integrasi tata ruang darat. 33. laut dan udara”. misal melalui penyusunan RTRW Pulau atau RTRW Kawasan Jabodetabek. Fasilitasi kerjasama atau penyelesaian masalah antar propinsi/daerah. Dalam RAKERNAS – BKTRN di Surabaya yang lalu. “pengendalian dalam pengelolaan tata ruang” dan “peningkatan aspek pertahanan dan keamanan dalam penataan ruang (demi keutuhan NKRI).• • • 31. c:/tarunas/tr-pulau/paperSTTNASYogya010903 11 . “pengelolaan pusat pertumbuhan baru”. Menko Perekonomian selaku Ketua BKTRN telah menjabarkan keywords yang menjadi jiwa daripada visi tata ruang ke depan.” Adalah menjadi tugas Ditjen Penataan Ruang – Depkimpraswil untuk menjabarkan jiwa dari visi tata ruang ke depan tersebut ke dalam bentuk kebijakan dan strategi penyelenggaraan penataan ruang. yaitu : pengaturan penataan ruang nasional dan penguatan peran daerah dalam penataan ruang.

serta udara . Berpijak pada jiwa daripada visi tata ruang ke depan dan kesepakatan RAKERNAS – BKTRN tersebut. c. maka langkah strategis yang menjadi penting adalah : (1) memperkuat peran Gubernur dalam penyelenggaraan penataan ruang. supervisi. Kabupaten maupun Kota. kesenjangan tingkat perkembangan antar wilayah (misal KBI dan KTI) serta antar-kawasan (perkotaan dan perdesaan. Standar. Adapun upaya yang ditempuh adalah melalui : (1) penyelenggaraan Bintek Penyusunan dan Evaluasi RTRW Propinsi. yakni : a. dsb). (2) memberdayakan Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah (TKPRD). b. dan mediasi (conflict resolution body). khususnya untuk memfasilitasi kerjasama penataan ruang antardaerah otonom dan mengendalikan pembangunan (pemanfaatan ruang) secara lebih efektif. Memantapkan RTRWN sebagai acuan pengembangan wilayah. serta lemahnya koordinasi dan pengendalian pembangunan.35. akuntabel dan mengaktifkan peran masyarakat. degradasi kualitas lingkungan. c:/tarunas/tr-pulau/paperSTTNASYogya010903 12 . maka penataan ruang memiliki peran penting dalam menjawab berbagai isu dan tantangan nyata dalam pembangunan. serta antar-kota dalam wilayah pulau). Pedoman. dan (3) pengembangan sistem penataan ruang. Propinsi. sesuai dengan fungsi-fungsi yang ditetapkan. Meningkatkan kapasitas penyelenggaraan penataan ruang di daerah dalam rangka mempercepat pelaksanaan otonomi daerah. Kabupaten dan RTRW Kota) sebagai produk yang mengintegrasikan rencana pemanfaatan ruang darat. dalam rangka menjalankan fungsi-fungsi koordinasi. Meningkatkan pembinaan pengelolaan KAPET (sebagai pusat pertumbuhan baru) dan Kawasan Tertentu (sebagai kawasan yang memiliki nilai strategis nasional. inisasi. Terkait dengan kebijakan dan strategi untuk meningkatkan kapasitas penyelenggaraan penataan ruang di daerah. Keduanya ditempuh melalui upaya fasilitasi yang konsisten dan sistematis. Memfungsikan kembali (revitalisasi) penataan ruang yang mampu menangani agenda-agenda aktual. Dalam kaitan ini RTRWN diharapkan dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan menjadi landasan dalam penyusunan program pembangunan lima tahunan (five-years development plan). maka telah dihasilkan rumusan kebijakan dan strategi pokok penataan ruang tahun 2004 dan pasca 2004. kawasan metropolitan. (2) penciptaan iklim yang mendorong tumbuhnya kemitraan dan peranserta masyarakat dalam penataan ruang. yang ditempuh melalui : (1) operasionalisasi RTRWN (melalui RTRW Pulau. seperti kawasan perbatasan negara. Beberapa kesimpulan yang penting untuk dikemukakan berdasarkan uraian diatas adalah : • Dalam era otonomi daerah dewasa ini. VI. baik pada tingkat Propinsi. dan (4) penyusunan Norma. (3) peningkatan kepastian hukum dan transparansi dalam penataan ruang. dan Manual (NSPM). kawasan kritis lingkungan. terbuka. Kesimpulan dan Saran 36. e. (2) koordinasi lintas sektor dan lintas daerah. d. Kabupaten dan Kota. RTRWN juga digunakan sebagai acuan dalam pengembangan sistem kota-kota yang efisien. laut dan pesisir. seperti konflik pemanfaatan ruang lintas sektor dan lintas wilayah.

Peningkatan penyelenggaraan Bantuan Teknis bagi daerah-daerah dalam penataan ruang. maka penyelenggaraan penataan ruang akan berpijak pada 2 (dua) pokok : yakni (1) pengaturan penataan ruang nasional. keberlanjutan pembangunan. c:/tarunas/tr-pulau/paperSTTNASYogya010903 13 . buatan. keadilan. sekaligus untuk meletakkan landasan bagi pembangunan pada masa mendatang adalah melalui: • • • • • • • • Peningkatan kesadaran dan peranserta masyarakat dalam penataan ruang baik secara pasif maupun secara aktif. yang ditempuh melalui sosialisasi informasi pemanfaatan ruang secara kontinu dan sistematis Penegakan hukum (law enforcement) secara konsisten terhadap penyimpangan pemanfaatan rencana tata ruang Penyelenggaraan prinsip-prinsip good governance dalam bidang penataan ruang. termasuk sebagai landasan pengembangan sistem kota-kota yang efisien sesuai dengan fungsi-fungsi yang telah ditetapkan. manusia. Penataan ruang merupakan instrumen untuk mengkaji keterkaitan antar fenomena tersebut serta untuk merumuskan tujuan dan strategi pengembangan wilayah terpadu sebagai landasan pengembangan kebijakan pembangunan sektoral dan daerah. sekaligus mewujudkan ruang yang berkualitas. efisien. khususnya melalui percepatan penyelesaian review PP 47/1997 tentang RTRWN dan alat operasionalisasinya serta (2) penguatan peran daerah dalam penataan ruang. akuntabilitas. efisiensi. seperti transparansi. dan terpadu. Untuk mendukung peran-perannya tersebut secara efektif dan konsisten. Dengan memanfaatkan berbagai teori dan konsep pengembangan wilayah penataan ruang merupakan instrumen yang digunakan untuk memahami interaksi antara 4 (empat) unsur utama pembentuk ruang (sumberdaya alam. kini penataan ruang memiliki peran yang strategis dalam konteks pembangunan nasional karena diarahkan sebagai landasan untuk mempertahankan integritas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.• • • Penataan ruang merupakan instrumen legal untuk mewujudkan tujuan dan sasaran pengembangan wilayah melalui pemanfaatan sumberdaya secara efektif. dan sistem aktivitas) secara komprehensif. peningkatan kerjasama antar-daerah dalam penyelenggaraan penataan ruang serta penguatan kelembagaan penataan ruang di daerah (TKPRD). Dalam perkembangannya. • • 37. pengintensifan sosialisasi produk-produk penataan ruang kepada masyarakat melalui public campaign dan public services penyiapan dukungan sistem informasi penataan ruang. khususnya melalui penguatan peran Gubernur dalam pengendalian pemanfaatan ruang. Sedangkan saran-saran untuk meningkatkan kinerja penyelenggaraan penataan ruang nasional dan daerah. dan pelayanan publik (misalnya mekanisme perizinan pemanfaatan ruang) Penyiapan Norma. Standar. Prosedur dan Manual (NSPM) untuk per-cepatan desentralisasi bidang penataan ruang ke daerah. peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia serta pemantapan format dan mekanisme kelembagaan penataan ruang.

Surabaya. 7. 4. Sumbangan Tulisan untuk Sejarah Tata Ruang Indonesia 1950 – 2000. Dirjen Penataan Ruang – Depkimpraswil. 25 Maret 2003. Keynote Speech pada RAKERNAS – BKTRN. Presiden Republik Indonesia. 13 Agustus 2003. Makalah pada Kuliah Perdana Program Pasca Sarjana Magister Perencanaan Kota dan Daerah – Universitas Gajah Mada. 8. Budhy. 14 Juli 2003. Arahan pada RAKERNAS – BKTRN. 14 Juli 2003. Jakarta. Jakarta. Depkimpraswil. 14 Juli 2003 6. Sambutan pada RAKERNAS Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (BKTRN). 14 Juli 2003. Draft3. Visi Penataan Ruang. Penyelenggaraan Penataan Ruang. Tinjauan Umum Pengembangan Wilayah dan Penataan Ruang. Jakarta. Akil. Dirjen Penataan Ruang – Depkimpraswil. Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah.. Surabaya. 5 Mei 2003. Roslan. Zaris. Yogyakarta.DAFTAR PUSTAKA 1. Surabaya. Bahan Rapat dalam Pembahasan Pengajuan Izin Prakarsa Penyusunan Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Wilayah Pesisir (RUU PWP). 7 Agustus 2003 11. 19 Agustus 2003. Pertemuan dengan Para Widyaiswara Depkimpraswil. S. Surabaya. Tjahjati. 10. 5. 2. Dokumen Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (BKTRN) tentang Kesepakatan Gubernur Seluruh Indonesia pada RAKERNAS – BKTRN. Strategi dan Program Direktorat Jenderal Penataan Ruang. Sjarifuddin. 14 Juli 2003. 3. Jakarta. Sumbangan Tulisan untuk Sejarah Tata Ruang Indonesia 1950 – 2000. Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah. Pembangunan Perkotaan dengan Pendekatan Penataan Ruang : Implikasi dan Prospeknya. Menteri Koordinator Perekonomian selaku Ketua BKTRN. Sumbangan Tulisan untuk Sejarah Tata Ruang Indonesia 1950 – 2000. Strategi Nasional Pengembangan Perkotaan (SNPP). Jakarta. Surabaya. Kebijakan. 9.. Dokumen Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (BKTRN) tentang Rumusan PokokPokok Hasil RAKERNAS – BKTRN. Perencanaan Tata Ruang Wilayah dalam Era Otonomi dan Desentralisasi. Agustus 2003 c:/tarunas/tr-pulau/paperSTTNASYogya010903 14 .

c:/tarunas/tr-pulau/paperSTTNASYogya010903 15 .