DAMPAK

“DOKTRIN-DOKTRIN”
ISLAM
(wolak-waliking zaman)

BURUK

dari aspek

AGAMA-ILMU-SPIRITUAL

By : Ryan Ananda

i

DAFTAR ISI
Daftar isi Kata Pengantar Pendahuluan i ii iii

BAB I

Kesalahan dalam berMindset dan Bagaimana Seharusnya -Kontemplasi Ramadhan -Berserah Diri pada Tuhan -Pasrah atau Fataliskah Diri Anda? ISLAM Abad Pertengahan : Zaman Keemasan -Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Berpikir -Era Kemajuan Islam -Kelahiran Ilmu Pengetahuan di Barat -Bangkit dan Runtuhnya Materialisme -Kesimpulan dari Sejarah Memandang Agama dari Sudut Pandang : Hakekat-Ma’rifat -Bagaimana dengan Islam Sebaik-baiknya Agama? -Memahami Pahala dan Dosa -Memaknai Surga dan Neraka -Apakah Tuhan Itu? -Mencermati Sunatullah Bencana Alam -Bentuk Penampilan DAJJAL -Hakekat dibalik Kekuatan Doa

6 7 10 12 22 23 25 27 29 31 33 35 36 37 38 39 43 44 46

BAB II

BAB III

PENUTUP : Agama Yang Berpolitik

ii

Kata pengantar
Assalamu’alaikum,Salam Sejahtera dan Salam Sejati para pembaca yang budiman. Mengingat judul diatas yang kiranya menurut penulis pribadi sangat mengundang kontroversi dikalangan masyarakat khususnya kalangan umat Muslim.Penulis dengan segala kerendahan hati mohon maaf yang sebesar-besarnya. Judul diatas sengaja dipilih oleh penulis karena berkaitan dengan realitas yang ada. Dan dalam tulisan ini, saya jamin Anda tidak akan menjumpai kalimat-kalimat motivasi atau penenang jiwa layaknya buku-buku yang bertema agama pada umumnya. Karena tulisan ini bertujuan untuk mengungkap betapa selama ini kita umat muslim telah kembali ke zaman “jahiliyah” abad modern. Zaman memang semakin maju, tetapi pola pikir manusianya malah semakin mundur. begitulah kata-kata yang terucap dari berbagai orang yang telah berhasil mengamati dinamika kehidupan modern sekarang ini. Mengingat bahwa ada beberapa artikel yang dikutip dari sumber refferensi untuk dijadikan bahan materi buku ini, ada beberapa bagian-bagian tertentu yang memang mengandopsi dari falsafah-falsafah dan terminologi jawa. Penulis sengaja tidak menghilangkan hal-hal tersebut,dikarenakan untuk menjaga makna dan maksud aslinya. Disamping itu, falsafah bangsa jawa memang tidak diragukan lagi akan ketajamannya dalam memaknai dinamika kehidupan. Tanah Jawa memang negerinya filsafat. Dengan senang hati, penulis juga mengijinkan pembaca untuk memperbanyak dan menyebarluaskan buku ini kepada siapapun.Karena pada hakekatnya membaca dan memahami sesuatu yang baru adalah hak setiap manusia dan merupakan anugerah yang diberikan oleh Yang Maha Pemurah.Mengenai keperluan pembaca jika ingin mengajukan kritik, saran atau beberapa pertanyaan, bisa menghubungi penulis melalui :

FB : ryan_ananda@rocketmail.com

atau
Twitter : @blackjack_21_

iii

Pendahuluan
Pernahkah Anda berpikir bahwa Agama yang seharusnya bertujuan memerdekakan manusia, dan membuka kesadaran spiritual seluas-luasnya, akan tetapi kenyataannya justru sebaliknya, doktrin menghegemoni manusia, dan membelenggu kesadaran spiritual? Pernahkah Anda merenungkan betapa selama ini kita terlalu disibukan oleh aktivitasaktivitas agamis yang kita sendiri sering meragukan maksud dan tujuannya? Pernahkah Anda mecermati betapa justru kalangan orang-orang yang mengaku beriman,malah saling memperdebatkan golongan dan berebut umat sebagai bentuk egosentris dan arogansi iman,akibatnya agama tidaklah berbeda layaknya partai politik? Tidakah Anda mengetahui bahwa sebenarnya semua Agama secara garis besar itu mengajarkan agar manusia berperilaku hidup baik? Tidakah Anda sadari bahwa selama ini orang-orang Islam telah menuai citra buruk akan fanatisme,terorisme,dan rasisme dalam pergaulan sosial dengan agama lain? Dan yang paling penting dari kesemuanya, mengapa negara yang mayoritas pendudukanya adalah pemeluk islam merupakan negara berkembang, miskin, dan terdapat banyak kerusuhan di dalamnya. Dan jika kita renungkan sejenak, seolah Islamlah yang telah gagal dalam membangun masyarakat yang berperadaban maju. Lalu dimana letak kesempuarnaan Islam jika demikian halnya? “Manusia adalah makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir. Namun sayang, kebanyakan mereka tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan pada kenyataannya sebagian manusia hampir tidak pernah berpikir.Sebenarnya, setiap orang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri tidak menyadarinya. Ketika mulai menggunakan kemampuan berpikir tersebut, fakta-fakta yang sampai sekarang tidak mampu diketahuinya, lambat-laun mulai terbuka di hadapannya. Semakin dalam ia berpikir, semakin bertambahlah kemampuan berpikirnya dan hal ini mungkin sekali berlaku bagi setiap orang. Harus disadari bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta menggunakan akalnya semaksimal mungkin”, (Harun Yahya, Deep Thinking:1999 hlm. 10) Melihat fenomena belakangan ini dimana zaman manusia semakin maju tetapi pola pikir manusianya malah semakin mundur. banyak sekali perilaku tak islam yang justru bermunculan dari orang-orang islam. Banyak orang islam yang mengaku beriman, setiap hari tiada hentinya menyebut asma Allah, namun perbuatan kesehariannya masih saja suka mengingkari asma.shalat dengan pakaian serba putih kedodoran,tetapi dalam hatinya masih sibuk memikirkan urusan duniawi.biasanya orang yang demikian ini suka menghitung-hitung pahala. Shalatnya saja belum tentu ikhlas dan diterima di sisi Allah, pahala masih sangat jauh untuk di perhitungkan, sungguh tak satupun yang dapat dicapai. Njabane putih njerone dhadhu. Dari luar tampak putih bersih tetapi didalamnya abu-abu.

iv

Ditambah lagi dengan pengaruh dogma yang diajarkan ulama salaf bahwa perbuatan baik itu akan mendatangkan “pahala” dan akan dijanjikan “surga” kelak di kemudian hari,orang muslim ibarat orang tolol yang dengan serakahnya mencari “pahala-pahala” dan berebut “surga” yang seolah pintu surga itu teramat sempit dan hanya muat bagi segelintir umat. Para pemuka agama gemar membuat aliran-aliran baru, bahkan saling berlombalomba berebut umat. Agama tidak ubahnya partai politik yang dengan giatnya mengumpulkan pengikut-pengikut untuk memperkuat barisan agar bisa membantai sektesekte dan agama lainnya, dengan alasan mereka kafir lah, musrik lah, dan dengan seribu satu macam dalil atau MIND-SET “aliran saya lah yang paling benar” “jika kamu mengikuti kebanyakan orang, niscaya kamu tersesat” “aliran lain itu sesat” “betapa surga Allah itu amat sempit, sehingga hanya muat untuk umatku dan aku saja”.… ANEH !! Tidak heran jika belakangan ini Islam dipandang sebagai agama orang fanatik dan sektarian. Faktanya,negara yang penduduknya banyak menganut islam adalah negara kategori berkembang dan miskin. Mayoritas orang islam itu malas untuk berpikir kritis. ”nasib,rejeki,jodoh itu ada di tangan Tuhan”, Begitulah dalil yang selalu menjadi penghibur akan kemalasan manusia dalam berusaha.Tanpa pernah berpikir bahwa manusia itu harus berusaha sendiri (baca : mandiri) untuk menjemput takdir Tuhan yang sudah disediakan di suatu tempat. Pantas saja,Indonesia,negara yang mayoritas penduduknya pemeluk Islam selalu tertinggal dari orang-orang yang bahkan katanya dianggap kafir atau fasik sekalipun. Hal ini menunjukan,bahwa seolah Islam itu telah gagal dalam membangun manusia yang berperadaban maju.Sebaliknya, malah lebih banyak mendatangkan kekacauan dan kerusuhan didalamnya. Islam, agama yang paling sempurnya saja, telah gagal dalam membangun masyarakat yang “beragama”. Lalu semua itu salah siapa? Apakah salah Nabi Muhammad SAW yang telah salah mendatangkan Al-Qur’an kepada manusia? Atau memang dasar manusianya saja yang terlalu bodoh karena enggan berpikir kritis sehingga mengambil jalan pintas dengan seenaknya menafsirkan syari’at islam sebagai sumber yang mutlak tanpa perlu penalaran akal lebih lanjut (manut wudele dhewe) .Memang,akan terasa lebih gampang menafsirkan secara TEXTUAL. Sehingga hasil penafsirannya bisa di gunakan sebagai dalil pembenaran akan segala sesuatu keadaan dalam diri dan perbuatan manusia.sehingga,merasa diri paling beriman,paling benar, dan seenaknya mengkafir-kafir kan yang lain (golek benere dhewe,golek butuhe dhewe,golek menange dhewe). Yang demikian itu, sungguh sangat bertentangan dengan sifat Tuhan Yang Maha Bijaksana. Lalu apa gunanya Allah menganugerahkan akal (logic) kepada manusia? Akal, bukan alat ukur untuk mempertimbangkan hal yang benar dan yang salah saja,akal adalah sarana untuk memahami tujuan hidup manusia yang sebenarnya dalam membangun kesadaran (conciousness) ke tingkat yang lebih tinggi, yakni mencapai kesadaran kosmos. Dimana kesadaran kosmos berarti terciptanya keselarasan antara mikrokosmos (tubuh manusia) dengan makrokosmos (alam semesta).Dengan kata lain,manusia yang bisa menjaga keselarasan di alam semesta,yakni manusia yang sejalan dengan kodrat Allah.

v

Melalui tulisan ini, saya akan mencoba membawakan Anda sudut pandang yang lain daripada yang lain. Maksud dan tujuan saya semata-mata bukan untuk menjelek-jelekan suatu aliran atau agama tertentu. Melainkan,saya berusaha membawakan realitas,dan mengajak para pembaca yang budiman untuk sadar diri betapa selama ini pola pikir dan tindakan kita telah terjebak dalam “sangkar emas”. Tentu saja, saya sangat membuka diri untuk dikritik dan diperdebatkan. Silahkan, itu hak setiap manusia.Dengan penuh keterbukaan pikiran dan senang hati saya akan memahami kritik dan pertanyaan yang Anda berikan.Dan yang lebih penting, tidak lupa saya haturkan rasa terimakasih yang mendalam kepada orang-orang yang dengan tulusnya telah memberi saya banyak saran dan masukan sehingga saya bisa sampai pada pemikiran ini

**********

7

1.1 KONTEMPLASI RAMADHAN
MENCOBA MELURUSKAN KONSEP BULAN SUCI Tulisan ini dalam rangka usaha saya untuk selalu menggurui dan menegur terhadap diri saya sendiri. Semua ini saya lakukan, karena saya pribadi selalu saja merasa bodoh yang teramat sangat. Semakin banyak belajar malah semakin banyak yang tidak saya ketahui. Mohon kiranya masukan dan saran pemikiran dari anda para pembaca yang budiman untuk memberikan saran, tanggapan dan tentu saja kritikan yang membangun. Dan semoga bukan cacian yang datang. Tidak lupa saya haturkan kepada seluruh saudara-saudaraku khususnya bagi yang muslim, saya mengucapkan selamat datang bulan suci Ramadhan, dan selamat menunaikan segala aktifitas khusus bulan Ramadhan. Mohon maaf atas segala kekhilafan yang dapat saya sadari maupun yang tidak saya sadari selama ini. EMPAT DIMENSI SUCI Memasuki bulan suci Ramadhan, diawali dengan “siraman” mensucikan raga dengan air (sembah raga), sekaligus sebagai simbol pentingnya mensucikan pikiran dan hati (sembah kalbu), dan mensucikan batin (sembah jiwa) dari segala hal yang dapat mengotorinya, yang membuat POLUSI dalam hati, pikiran, dan batin kita. Dengan target utama yakni hakekat hidup yang suci (sembah rahsa). MASA TRAINING Umat muslim memiliki jadwal untuk memusatkan pelatihan diri selama sebulan. Hanya satu bulan dalam setahun. Yakni pada bulan suci Ramadhan yang pada hakekatnya adalah saat di mana menjadi konsentrasi pelatihan diri selama bulan. Dengan KESADARAN bahwa bulan suci hanyalah sebagai pemusatan PELATIHAN DIRI DALAM BERIBADAH, justru akan bermanfaat besar menjadikan sikap kita semakin ELING dan WASPADA, bahwa beribadah yang sejatinya adalah dalam praktek kehidupan sehari-hari setelah bulan Ramadhan berlalu. ASUMSI TERBALIK Boleh saja berasumsi bahwa bulan suci merupakan puncak ibadah. Namun kenyataannya asumsi itu banyak membuat umat jadi TERLENA. Setelah bulan suci usai, ibarat seorang napi yang baru saja lepas dari penjara. Berbaur dalam kehidupan masyarakat, menjalani “laku” perbuatan sehari-hari dengan cara menggasak sana-sini apapun yang ditemui dan diingininya. Hanya karena sikap mentang-mentang merasa sudah bukan bulan suci lagi, lantas dianggapnya tidak lagi menjadi sakral. Kembali mengumbar nafsu golek menange dewe, golek butuhe dewe, golek benere dewe.

8

BULAN SUCI YANG SESUNGGUHNYA Bagi saya pribadi, bulan puasa tidak lain sebagai pemusatan pelatihan diri. Saya umpamakan sebagai gathotkaca yang ingin mbabar jati diri harus melewati “tapa brata” dengan tapa kungkum direndam di dalam panasnya kawah candradimuka terlebih dahulu. Sang Gathotkaca tidak pernah BERHARAP PAHALA manakala menjalani tapa kungkum (berendam diri dalam air) di dalam kawah candradimuka yang mendidih itu. Apa yang ia harapkan hanyalah mencapai kesadaran diri yang tinggi (highest consciousness). Kesadaran yang tinggi diperlukan sebagai BEKAL dalam menjalani perBERIBADATan yang sesungguhnya. Yakni menjalani kehidupan habluminannas setelah bulan suci usai. Mempraktekan hasil latihan dan gemblengan selama sebulan merupakan hal yang lebih utama. Tanpa adanya keberhasilan dalam mempraktekan hasil dalam kehidupan sehari-hari selama setahun, apa yang dicapai selama sebulan hanyalah sia-sia belaka. POLA PIKIR YANG ANEH Logika dan konsep berfikir sang Gathotkaca sangat ideal, manakala berfikir bahwa habluminannas atau beribadah kepada sesama manusia dan seluruh makhluk ciptaan Hyang Widhi beserta seluruh alam semesta ini merupakan JEMBATAN utama menuju habluminallah. Sang Gatotkaca tidak tekecoh oleh mind set sebaliknya, bahwa habluminallah sebagai sarana mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Umat yang merasa sudah berhasil mengumpulkan pahala yang banyak sehingga membuat lupa diri, timbul sikap mentang-mentang gemar melecehkan dan menuduh orang lain sebagai kafir dan fasikun. Kesombongan itu hanya karena dirinya sudah merasa mendapatkan malam lailatul qadar sebanyak 7 kali (7000 bulan) yang kurang lebih diumpamakan sebagai sembahyang selama 560 tahun. Angka pahala itu tentu sudah lebih dari cukup, malah sisa banyak sekali jika dibanding umur manusia. Yah, sang Gathotkaca merasa logika demikian sebagai sebuah kejahiliahan tersembunyi dan sangat halus, sehingga membuat sang Gathotkaca sadar diri perlu merubah mind set yang aneh itu. SIKAP “aneh” si TOGOG Sang TOGOG menambah kritikan lagi, togog menganggap aneh kenapa jalma manusia sibuk menghitung-hitung pahala. Padahal apa yang dilakoninya hanyalah sebagai sarana latihan atau dalam rangka menjalani sekolah. Togog menyuruh mBilung mawas diri dan melakukan instropeksi mendalam. Disuruhnya mBilung membayangkan, seandainya kita bersekolah, bukankah harus bayar ke pihak pengelola sekolahan ? Kenapa logikamu justru terbalik Lung ?, kamu malah minta dibayar atau diupah dari pihak sekolah. Wah, betul-betul aneh kamu ya…??! sergah Togog kepada mBilung. Togog masih menyumpah-serapahing kegoblokan Togog….,”Enggak tahu diuntung, nggak tahu diri kamu Lung ! Pantas saja kalau orang-orang seperti dirimu itu akan kaget manakala ajal telah menjemput ! Ternyata kesibukannya menghitung-hitung pahala sewaktu hidup tidak berguna sama sekali. Justru membuat dirimu terlena dan tidak eling, tidak waspada Lung. mBilung sejenak mengernyitkan dahi lalu berguman,”…Ya, ya, aku pikir yang aneh bukan alam pikirmu Gog..!, melainkan pikiran kebanyakan orang seperti aku selama ini. Hati-hati kamu lho Lung…!! sahut Petruk kanthong bolong yang tiba-tiba nongol ingin menantang mBilung berkelahi seperti adat kebiasaan mereka berdua jika bertemu. Kata Petruk dengan sok tahu,

9

“katanya lebih banyak umat yang akan masuk neraka. Jangan-jangan gara-gara masalah logika pikir yang aneh seperti alam pikirannya si mBilung… Lantas yang bener mungkin memang alam pikirannya si Togog. Ya, paling tidak Togog bisa berperilaku dan ambil sikap lebih hati-hati, eling dan waspada dari pada sikap si mBilung yang sok PeDe, sok tahu juga, dan besar kepala merasa sudah tak nggendong kemana-mana pahala segede rumah. PANDANGAN JAWANISME Kegiatan di bulan suci ramadhan bukanlah klimaksnya rangkaian “peribadatan” selama 11 bulan sebelumnya. Sebaliknya, bulan Puasa merupakan PERSIAPAN diri menuju garis start (starting point). Preparing to the starting point. Going to the real game. Sebaliknya di mana sebagian orang menganggap bulan ramadhan sebagai PEMUNCAK segala “peribadatan”. Mind set itu akan beresiko besar membuat diri menjadi lupa, bahwa perjuangan yang sesungguhnya baru akan dimulai. Adalah sebuah teori Gossen di mana setelah klimaks pasti akan terjadi anti klimaks. Klimaks merupakan posisi di mana nilai kepuasan mencapai titik jenuh. Yang kemudian nilai kepuasan akan meluncur ke bawah bagaikan roller coaster sebagai gerak anti klimaks menuju kehambaran dan kehampaan lagi. Maka dalam konsep tradisi Jawa, justru klimaks dicapai pada saat bulan arwah, atau sasi Ruwah, satu bulan sebelum bulan puasa. Di mana dipuncaki dengan berbagai acara misalnya bersih bumi, ruwat bumi, meliputi bersih-bersih desa, sungai, hutan, sawah dsb. Ada dalam rangkaian tradisi nyadran, dengan acara menghaturkan sembah bekti dan mendoakan kepada para arwah leluhur masing-masing dengan harapan agar beliau-beliau mendapat tempat kemuliaan di alam keabadian. Semua itu dilakukan sebagai langkah konkrit mensyukuri nikmat dan anugerah Tuhan yang Mahakuasa serta tanda terimakasih yang sebesarnya kepada generasi pendahulu yang telah berhasil menjaga kelestarian alam sehingga dapat mewariskan harta karun berupa desa, sungai, hutan, laut, alam semesta dalam keadaan yang baik dan tidak rusak. Setelah klimaks dipuncaki pada bulan Ruwah, bulan selanjutnya, umat mulai menata diri, mawas diri, melakukan evaluasi dan kontemplasi atas apa yang bisa dilakukan selama ini. Coba bandingkan dengan ulah manusia sok suci dan sok tahu di zaman sekarang ini ? adoh sungsate…!!

BULAN UNTUK BERPESTA PORA ! Siapa pun orangnya yang merasa sukses menjalani gemblengan selama bulan puasa, perasaan itu hanyalah sekedar penilaian subyektif terhadap diri sendiri. Bahkan saya menawarkan cara paling sederhana mengukur tingkat keberhasilan anda menjalani ibadah bulan suci ramadhan. Timbanglah berat badan anda pada saat memasuki bulan ramadhan. Setelah itu, timbanglah lagi pada saat sore hari setelah lebaran hari raya Iedul Fitri. Jika berat badan anda mengalami kenaikan, hendaknya tidak perlu GR bahwa diri telah siiip dan sukses menjalani gemblengan diri di bulan suci. Apakah mayoritas umat Islam di Indonesia sukses menjalani ibadah di bulan suci ? Saya sangat meragukan..! Coba anda kontemplasi sejenak, bukankah harga sembako melambung tinggi setiap memasuki bulan suci Ramadhan dari tahun ke tahun, bahkan mengalami kenaikan harga hingga 50%. Hebat ! Artinya apa semua itu ? masyarakat yang sedang menjalani ibadah puasa, justru melakukan stokisasi, penumpukan cadangan sembako, bahkan sampai mengada-ada melebihi kebutuhan normal

10

sehari-hari pada bulan-bulan biasa. Tiak hanya itu saja, pelaku puasa menuntut menu konsumsi makanan yang jauh lebih mewah dibanding hari-hari biasa. Sehingga permintaan kebutuhan sembako meningkat tajam, sementara jumlah barang tetap atau jika ada tambahan stok pun tidak signifikan dengan kenaikan permintaan barang-barang sembako, sehingga mengakibatkan lonjakan harga yang relatif besar. Apakah dengan kondisi demikian, anda masih tidak merasa malu mengatakan,”….kita baru prihatin, kita sedang latihan mengendalikan nafsu, kita sedang menjalani ibadah suci !!. Apakah kesucian identik dengan pemborosan dan kemewahan yang berlebihan ? Marilah kita rubah MIND SET “hebat” tersebut dengan meningkatkan kesadaran jati diri, eling dan waspada. Mungkin fenomena itu merupakan gambaran perilaku massal sok suci, sok soleh solikhah yang menjangkiti umat tanpa disadari. Adalah kenyataan, bahwa bulan ramadhan merupakan bulan berpesta, bahkan seolah bulan di mana umat mendapat legitimasi untuk berbuat secara berlebihan.

1.2 BERSERAH DIRI PADA TUHAN
BAGAIMANA HARUS BERSERAH DIRI PADA TUHAN Berserah diri hakekatnya sama dengan “tapa ngeli” menghayutkan diri pada “aliran sungai” kehendak Hyang Widhi (kareping rahsa) yang akan menjamin kita sampai pada muara keberuntungan memasuki samodra anugrah Tuhan. Tapi orang kadang tanpa sadar telah salah pilih, menghanyutkan diri pada “air bah” (rahsaning karep/keinginan jasad) sehingga arahnya berbalik meninggalkan samodra anugrah Tuhan menuju ke daratan, menyapu dan merusak apa saja yang dilewatinya. Menerjang wewaler, merusak kedamaian dan ketentraman, tata krama, aturan, dan segala macam tatanan. Itupun, bagi yang dapat melakukan “tapa ngeli” tetap harus sambil berenang (eling dan waspadha) agar tidak tewas tenggelam. Bukan berarti, kita menyerahkan 100 % kemauan (inisiatif) kita kepada Tuhan. Karena sikap ini sama saja membangun sikap FATALISTIS. Lantas menganggap nasib buruk, kegagalan, penderitaan, kesulitan yang menimpa dirinya sebagai takdir Tuhan. Secara tidak sadar sikap itu seperti halnya mengkambing hitamkan Tuhan dan menafikkan tugas ihtiar manusia. Berserah diri 100% artinya kita tetap memiliki inisiatif untuk berjuang dan berusaha, hanya saja harus menempuh cara-cara atau prosedur yang mentatati rumus-rumus (kodrat) Tuhan. Sebab letak kodrat ada di dalam prosedur dan cara-caranya, bukan pada garis nasib. Merubah nasib itu menjadi tanggungjawab kita sendiri. Hanya saja tata cara dan rumus-rumus merubah nasib, sudah disediakan Tuhan. Bila kita menggunakan rumus Tuhan, pastilah akan menuai sukses besar. Sebaliknya akan menuai kerusakan diri sendiri, orang lain, dan bumi. Manusia jenis inilah yang menjadi seteru Tuhan.

11

Contoh rumus-rumus Tuhan/hukum alam/kodrat di alam semesta ialah “hukum sebabakibat”. Barang siapa menanam maka mengetam, atau dalam terminologi jawa “sopo nggawe bakal nganggo”. bahwa sesuatu yang sudah seharusnya menjadi milik Anda tidak dapat dirampok, ditunda, atau dihentikan orang lain. Dan jika kita cermati masih banyak lainnya, kuncinya ada pada kesadaran masing-masing manusia dalam memahami hukum alam yang memang sudah disediakan oleh Yang Maha Bijaksana. “Proses tetap menjadi tugas utama manusia” Kegagalan bisa jadi karena manusia tidak mentaati rumus Tuhan. Atau Tuhan sengaja menggagalkan upaya manusia sebab Tuhan Maha mengetahui dan selalu menentukan yang terbaik untuk manusia. Hidup ibarat seni, perlu manajemen seni untuk menjalankan irama kehidupan sehari-hari sesuai kehedak Tuhan. Kejadian yang sama belum tentu memiliki makna dan hikmah yang sama pula. Itulah sulitnya menerjemahkan kehendak Tuhan, karna Tuhan “bekerja” dengan cara yang misterius. Akan tetapi Tuhan Maha Adil, telah memberikan instrumen dalam jati diri kita berupa rahsa sejati dan guru sejati, sebagai alat paling canggih yang dapat menangkap bahasa isyarat dan kehendak Tuhan. Sayangnya masih banyak orang yang belum mengenali instrumen dalam diri pribadi setiap manusia tersebut. Kodrat meliputi rumus-rumus ilmu Tuhan yang Mahaluas tak terbatas. Discovery, penemuan ilmiah bidang sains, teknologi dan inovasi, teori-teori filsafat, sosial ekonomi, politik, psikologi, kedokteran merupakan bukti nyata kesuksesan manusia dalam mengejawantah rumus-rumus (kodrat) dan kehendak Tuhan. Bahkan banyak di antara tokoh penemu sains dan teknologi, temuan mereka berkat diawali oleh sebuah ilham atau wisik gaib. Kadang dengan didahului oleh kejadian unik yang menjadi jalan penunjuk ke arah penemuan baru. Dalam bahasa yang lebih ilmiah disebut sebagai talenta atau bakat alami (ILMU LADUNI). Seperti Albert Einstein misalnya, ia dengan gamblang menyatakan :

"The intuitive mind is a sacred gift and the rational mind is a faithful servant. we have creatd a society that honors the servant and has forgotten the gift"
yang kurang lebih jika diterjemahkan dalam bahasa indonesia,“INTUISI adalah anugerah suci,dan pikiran rasional adalah budak yang penurut.selama ini kita telah mencipatakan lingkungan yang memberi kemuliaan pada budak (baca : pikiran rasional) sehingga mengesampingkan akan anugerah intuisi”.Jadi, dari sini kita bisa memahami bahwa intusi mengambil peranan penting dalam datangnya suatu ilham atau wisik. Seorang ilmuwan penemu, tidak akan tergantung apa sukunya, bangsanya, bahkan agamanya.Inilah salah satu bukti jika Tuhan itu tidak primordial, anti sektarian dan puritan. Tapi mengapa ya manusia sering kebangeten dengan berulah dan bertabiat kontraversi dengan “sikap” Tuhan tersebut ? Sebagai bangsa yang agamis, harus berani jujur mengakui, telah kalah langkah dari orangorang dan bangsa yang justru sering dianggap sekuler dan kafir yang kenyataannya mampu membuktikan diri berhasil menangkap rumus-rumus (kodrat) Tuhan. Hal ini terjadi mungkin

12

karena orang sibuk bertengkar gara-gara perbedaan nilai-nilai pada tataran syari’at atau “kulit”, sekedar “baju” . Sehingga hidupnya selalu dirundung rasa curiga mencurigai sesama (su’udhon). Manakah yang lebih religius ? Mana pula yang sekedar agamis ? Jika kita tetap negatif thinking dan menutup mata, jangan menyalahkan siapa-siapa bila selamanya ketinggalan dalam segala hal dan jatuh dalam keterpurukan. Padahal, kenyataannya orang yang dapat meraih kemajuan dan kemuliaan hidup, adalah orang yang selalu positif thinking (khusnudhon). Sebaliknya, tiada bosan-bosannya mengkritik diri sendiri.

1.3 Pasrah Atau Fatalis kah Diri Anda ??
Mengukur Kesadaran Diri PASRAH PASRAH, adalah kata-kata yang tak mudah dipahami. Banyak orang salah kaprah mengartikan makna pasrah yang dipahami sebagai sikap melenyapkan segala kemauan, keinginan, inisiatif, dan kehendak. Yang seperti ini sudah termasuk ke dalam terminologi FATALISME yang rentan sekali terhadap sikap putus asa. Tanpa disadari keputus-asaan akan mudah membuat siapapun mudah tergelincir pada sindrom radikalisme, ekstrimisme, dan ekslusivisme. Pasrah berhubungan dengan penyelarasan sikap dan perbuatan diri dengan kehendak alam semesta alias kehendak tuhan. Pasrah bukan bermakna sikap pasif dan tanpa usaha. Justru pasrah di dalamnya termaktub suatu usaha sekuat tenaga, semaksimalnya agar supaya sikap dan perbuatan kita selaras dan sinergis dengan hukum alam. Sehingga di antara jagad kecil atau mikrokosmos dengan jagad besar atau makrokosmos tercipta hubungan yang harmonis. Dan begitulah hakekatnya orang yang disebut tunduk patuh kepada Tuhan. Sebaliknya, radikalisme, ekstrimisme, mengarah pada kekerasan dan penghancuran antar sesama manusia, sudah termasuk ke dalam kategori bertentangan dengan hukum/kodrat alam yang bersifat sebaliknya, selalu harmonis berada dalam hukum keseimbangan alam semesta. FATALISME Fatalisme adalah faham atau cara pandang hidup, disebut pula prinsip dalam menjalani kehidupan. Secara sosiologis fatalistis menunjuk sikap seseorang yang selalu menghilangkan peran dan inisiatif diri sendiri secara mutlak, terutama pada saat menghadapi problema kehidupan. Lantas di mana kehendak diri atau self ? Musnah ditelan oleh suatu paham akan kemutlakan “kehendak Tuhan”! Bila seseorang terlalu pasrah dalam segala hal sampaisampai kehilangan inisiatifnya, maka sikap inilah disebut fatalis. Sikap fatalis yang telah menjadi prinsip menjalani hidup sehari-hari, berubah menjadi paham fatalisme. Dalam paham fatalisme, secara sadar atau tidak seseorang menyangka suatu keadaan sudah

13

dikuasai oleh nasib dan tidak bisa dirubahnya tanpa kehendak Tuhan. Bahkan pandangan fatalisme yang paling ekstrim menganggap segala nasib baik dan buruk mutlak datang dari kehendak Tuhan. Manusia tidak memiliki celah sedikitpun untuk merubahnya. Dalam khasanah agama, sikap fatalistik berkaitan dengan cara pandang (mind set) seseorang terhadap pemaknaan takdir atau kehendak Tuhan yang dipahami dengan salah kaprah. Ironisnya, sikap fatalistis biasanya justru bermula dari cara penafsiran akan ajaran suatu agama. Atau pola-pikir yang sudah terpola oleh doktrin agama yang tidak dipahami secara esensial/hakekat. Sikap fatalis akan muncul bilamana seseorang memahami bahwa karsa atau kehendak dalam kehidupan ini mutlak merupakan kehendak Tuhan. Tak ada gerakgerik sekecil apapun yang bukan kehendak Tuhan. Sikap seorang fatalis menganggap semua keinginan manusia sekecil dan seburuk apapun tidaklah mandiri, kecuali sudah menjadi determinasi kekuasaan Tuhan. Bahkan pada tingkat ekstrim, orang-orang tipe fatalis akan menganggap “kemutlakan Tuhan” telah meniadakan peran individu sebagai makhluk hidup yang memiliki kehendak mandiri, dan memiliki kemampuan untuk memilih. Misalnya anda garuk-garuk kepala pada jam 23.09 malam Jumat, tanggal 21 Agustus, merupakan kejadian yang sudah merupakan ketentuan Tuhan. Tuhan mengatur seekor nyamuk supaya terbang dari comberan lalu menggigit pantat anda, kemudian anda menepuk nyamuk tersebut pada jam 23.07 wit. Seorang fatalis akan menganggap peristiwa itu sudah menjadi KODRAT TUHAN. Daun yang gugur dari ranting pohon pada jam 23.56 pun dipahami sebagai kodrat dan iradat (ketentuan dan kehendak) Tuhan saat itu. Artinya Tuhan telah menentukan peristiwa di mana anda menepuk nyamuk pada jam tersebut serta gugurnya daun dari ranting pada jam tersebut.Cara berfikir demikian inilah yang menjadi terkesan sangat aneh ! LANTAS BAGAIMANA MEMAHAMI KODRAT ? Kodrat saya pahami tak ubahnya hukum alam yang di dalamnya terkandung rumus-rumus alam.Dengan kata lain, Tuhan hanya menciptakan rumus-rumus untuk segala kejadian. Hukum sebab-akibat adalah salah satu contohnya.Rumus-rumus itu sebagian kecil telah diketemukan manusia sejak zaman paleolitikum, mezolitikum hingga neolitikum. Hasil temuan manusia jika dibukukan sebagai hasil penemuan manusia maka jadilah ilmu pengetahuan. Jika dibukukan dengan klaim atas nama Tuhan, jadilah buku yang disucikan dan dikeramatkan. Bedanya, ilmu pengetahuan butuh verifikasi, pengujian secara ilmiah, terbuka untuk dikritik agar mencapai kesempurnaan pemahaman akan rumus-rumus Tuhan yang berlaku. Sedangkan buku yang dikeramatkan justru bersifat anti kritik, tabu untuk diperdebatkan, dan tidak butuh verifikasi atau uji kebenaran. CHAOS dalam MEMAHAMI KODRAT Kembali ke pokok bahasan, jika dianalogikan, kodrat bagaikan “karpet merah” yang musti dilalui manusia agar selamat dan sentausa menggapai kemuliaan hidup. Sebaliknya, orang yang enggan melewati “karpet merah” itu hidupnya akan mengalami sengsara dan gagal meraih kemuliaan lahir dan batinnya. Kodrat bisa saja bersifat pasif, yang aktif tentu saja manusianya. Manusia aktif untuk menentukan pilihannya secara tepat. Ketepatan memilih

14

ditentukan kecermatannya memahami rumus-rumus hukum alam. Itulah makna memahami sejatinya hidup.

“Gusti iku mahawicaksana, nanging menungso ora biso hanggayuh kawicaksananing Gusti”

Tuhan itu mahabijaksana, tetapi manusia sering gagal memahami kebijaksanaan Tuhan. Sehingga kebijaksanaan Tuhan yang Maha luas tiada batas, menjadi sesempit nalar manusia, lebih parah lagi dipersempit oleh doktrin (dogma-dogma) yang bertebaran menghipnotis mayoritas masyarakat dunia. Kesadaran spiritual manusia tak bisa berkembang sebab selalu terkurung di dalam kapsul kesadaran semu, kesadaran hasil indoktrinasi para saleh. Ironis sekali! Seharusnya dogma bertujuan memerdekakan manusia, dan membuka kesadaran spiritual seluas-luasnya, akan tetapi kenyataannya justru sebaliknya, doktrin menghegemoni manusia, dan membelenggu kesadaran spiritual. Mengapa demikian ? Agama tak ubahnya parpol yang berorientasi mengejar kekuasaan yang diperoleh dari sisi KUANTITAS, yakni mencari pengikut sebanyaknya guna memperkuat barisan. Padahal tujuan semula agama adalah untuk memerdekakan individu, menggapai kualitas kesadaran spiritual yang lebih baik untuk menggapai kualitas hidup yang lebih baik pula. Namun kini, telah terjadi chaos (kekacauan) dalam kesadaran spiritual beragama. Serba kebalik (wolak-waliking jaman). Banyak orang tidak menyadari jika dirinya sedang tidak sadar. Yang sadar dianggap tak sadar, yang tak sadar merasa dirinya sadar. FATALISME & PENYAKIT JIWA Kapsul kesadaran berakibat fatal. Di antaranya adalah fanatisme dan sikap fatalis. Sikap fatalis menenggelamkan segala kehendak seseorang. Jika sikap ini terus-menerus dijadikan pedoman hidup, setiap individu fatalis akan kehilangan cipta dan karsanya. Lantas ia cenderung berpangku-tangan menunggu-nunggu kehendak Tuhan. Secara tidak langsung sikap fatalis akan menimbulkan makna yang bisa di mana manusia sekedar menjadi obyek penderita. Di samping itu tanpa di sadari justru menimbulkan pemahaman seolah manusia bersikap tidak mau disalahkan, dan tidak mau melakukan instrospeksi diri akan keadaan nasib buruknya. Apabila kita mengerjakan pekerjaan dengan ceroboh, lalu mengalami kegagalan fatal, hal itu tetap dianggap sebagai kehendak Tuhan. Misalnya bila terjadi musibah kapal tenggelam gara-gara kelebihan penumpang, serta-merta dianggap sebagai kehendak Tuhan. Atau misalnya terjadi kasus jebolnya tanggul waduk Situ Gintung yang menelan korban lebih dari 120 orang, lantas orang mengatakan,” musibah itu sudah direncanakan Tuhan” untuk memberi cobaan kepada umat manusia yang beriman. Kenapa orang tidak berkata sebaliknya,”..oh, musibah itu merupakan peringatan atau teguran tuhan kepada umat manusia yang sudah tidak eling dan waspada. Jika kita mau instropeksi, jebolnya tanggul Situ Gintung disebabkan oleh ulah para pejabat yang berwenang teledor melakukan perawatan tanggul. Dana anggarannya sengaja disusutkan dari alokasi APBD, atau malah diselewengkan sehingga rehabilitasi tanggul menjadi tertunda-tunda hingga musibah benar-benar terjadi.

15

Coba kita renungkan bersama. Kenapa banyak orang menggunakan jalur hijau dan wilayah resapan air sebagai pemukiman yang padat. Bukankah hal itu sebagai perbuatan MELAWAN KODRAT ALAM (Tuhan) ??!! Kenapa banyak orang diwawancara televisi berpendapat bahwa musibah itu dikatakan sudah menjadi kehendak dan rencana Tuhan ? Waduh…jahat bener Tuhan demikian?? Apakah Tuhan berencana menciptakan para koruptor dan para penyeleweng anggaran pembangunan ? Apakah Tuhan berencana membuat pejabat yang ceroboh ? Apakah Tuhan merencanakan sebanyak 120 orang bakal mati konyol menjadi korban kecerobohan segelintir pejabat ? Kemutlakan kehendak Tuhan biasanya tertanam begitu kuat melalui doktrin yang berkesinambungan sejak masih usia kanak-kanak. Wajar jika doktrin kemutlakan tersebut akhirnya tertancap kuat dalam alam pikiran bawah sadar. Namun jika kemutlakan Tuhan masih saja dipahami dengan pola pikir di atas, maka tanpa sadar pola pikir itu kian dekat dengan virus fatalisme yang erat dengan “gangguan kejiwaan”. Cobalah bersama-sama kita melakukan rehabilitasi atas gangguan kejiwaan itu. BUKAN BEGITU CARANYA MANUSIA PASRAH kepada tuhan.

PASRAH (TAPA NGELI) Pasrah merupakan upaya manusia untuk menselaraskan, harmonisasi dan sinergisasi antara perilakunya dengan kodrat alam atau hukum alam yang terdapat di dalam semesta raya ini. Kodrat/hukum alam itulah yang dimaksud dengan aturan tuhan. Berbeda dengan fatalistis, “tapa ngeli” merupakan prinsip berserah diri atau selaras dan sinergis dengan “kebijaksanaan” hukum alam (Tuhan). Tapa ngeli dapat “bekerja” secara efektif menjadi pedoman perilaku dan perbuatan pada saat seseorang menghadapi masalah berat atau dalam situasi yang serba gambling dan penuh resiko. Pada saat menghadapi kesulitan hidup yang sulit untuk dijabarkan dan dianalisa apa yang sesungguhnya terjadi, tanpa bantuan dan share dari siapapun, orang biasanya terjebak pada suatu keadaan yang serba membingungkan, dilematis dan buntu. Sangat sulit memahami secara pasti bagaimana jalan keluar yang harus ditempuh. Belajar Dari Watak Sungai Dalam kondisi demikian tapa ngeli menjadi jalan alternatif paling ideal. Tapa ngeli adalah di mana seseorang berprinsip menyerahkan segala proses pada irama atau ritme alam atau “kehendak Tuhan”. Karena alam semesta ini, hukum alam dengan rumus-rumus keTuhanannya akan berproses secara alamiah. Terangkum sebagai rumus atau kodrat alam, bahwa alam mampu melakukan seleksi secara alamiah, adil, bijaksana, teliti, dan cermat (mulat laku jantraning bumi) tanpa menyisakan secuilpun ketidakadilan. Jika seseorang dapat melakukan “tapa ngeli” ia akan membiarkan diri terbawa proses alamiah dalam kebijaksanaan alam (kehendak Tuhan). Bagi pelaku “tapa ngeli” sikap dan perilaku akan menjadi sinergis, harmonis, sesuai dengan rumus-rumus atau prinsip-prinsip alamiah tentang keadilan dan kebijaksanaan yang sejatinya. Sebagaimana disuguhkan oleh alam semesta melalui “bahasanya sendiri” yang menyiratkan hukum/kodrat alam.

16

Namun,prinsip-prinsip itu terasa sangat sulit dijabarkan dan dianalisa bila hanya mengandalkan kemampuan akal budi manusia serta hanya berbekal dogma-dogma kaku anti-kritik. Sebaliknya terasa lebih mudah dipahami melalui indera rasa pangrasa (mata hati) kita. Prinsip utama tapa ngeli adalah ; sabar, sumarah, sumeleh (qonaah) & pantang menggerutu (grenengan) atau tidak tulus menjalani suatu keadaan yang pahit. Dalam tapa ngeli ibaratnya kita “menghanyutkan diri kedalam aliran sungai kehendak alam semesta” yang terbukti bijaksana. Sungai yang masih alamiah selalu memiliki keseimbangan dengan alam sekitarnya. Sungai yang masih alamiah belum terkena polusi akal-akalan dan keserakahan manusia, sungguh masih berwatak sangat bijaksana. Sungai tidak akan merusak lingkungan alam, termasuk para penghuninya yang terdiri dari tumbuhan, hewan, masyarakat “halus” dan pemukiman penduduk. Sebaliknya sungai justru menjadi sumber berkah bagi lingkungan alam yang dilaluinya. Perjalanan air sungai yang penuh berkah hingga sampailah pada “muara keberuntungan”, masuk ke dalam “samudra kemuliaan” hidup. Kita dapat memahami bahwa rumus Tuhan mengejawantah ke dalam bahasa dan kodrat alam. Pada saatnya pelaku “tapa-ngeli” akan berhasil memasuki “muara samudra keberuntungan”. Ciri-ciri seseorang yang berhasil melakukan tapa ngeli, biasanya akan merasakan nikmatnya hidup, seolah serba kebetulan, dan selalu memperoleh keberuntungan (menggapai ngelmu bejo). Terjadinya lika-liku hidup dirasakan sudah seperti ada yang mengatur. Sekalipun proses dan jalan cerita kehidupan kadang terasa pahit namun selalu indah pada akhirnya (happy ending). Bisa saja anda kilas balik merasakan perjalanan melewati masalah-masalah sulit dan berbahaya, namun pada akhirnya menemukan kemenangan dan kesuksesan yang di luar yang anda duga-duga sebelumnya. “Begitulah hukum alam, asal manusia bersedia sinergis dan harmonis dengan hukum/kodrat alam, maka alam akan mengatur kehidupan anda menjadi harmonis penuh berkah”

Cermatilah ; “Tapa Ngeli” atau Mengikuti “Air Bah” Berikut ini saya membuat analogi dan ilustrasi untuk memudahkan Anda memilah, mencermati dan membedakan mana tapa ngeli dan mana yang bukan tapa ngeli. Tapa Ngeli adalah sikap perilaku kita yang mau mengikuti “aliran air sungai” agar kehidupan kita selaras sesuai hukum alam (kodrat Tuhan). “Aliran air sungai” pasti menuju “samudra” anugrah dan keberuntungan. Sebaliknya adalah sepak terjang air bah yang menerjang wewaler, dengan kata lain perilaku yang melawan hukum alam (kodrat Tuhan). Jika tapa ngeli jauh dari polusi hawa nafsu negatif (nuruti kareping rahsa). Sebaliknya mengikuti “air bah” sama saja mengikuti hawa nafsu negatif (nuruti rahsaning karep) atau sikap semaunya si hawa nafsu sendiri (dikiaskan; manut wudele dewe). Air bah menerjang segala sesuatu yang bukan menjadi haknya. Air bah merusak tepi pantai, daratan, pemukiman penduduk, sawah, ladang dan membuat kerusakan di mana-mana.

17

Perilaku “Tapa Ngeli” Apabila perilaku dan perbuatan anda tidak melanggar sesuatu yang menjadi hak orang lain termasuk perbuatan melawan hukum (breaking the law), tidak menyinggung perasaan atau menyakiti hati orang lain, atau perilaku anda tidak menimbulkan kerusakan dan kerugian bagi orang banyak. Perbuatan Anda tidak merusak alam, lingkungan hidup, itulah perilaku yang masih berada dalam koridor tapa ngeli. Misalnya, perusahaan pengeboran tambang yang menyebabkan terjadinya semburan lumpur Porong Sidoarjo boleh saja menganggap hal itu sebagai musibah. Musibah diterima, dijalani, dan dirasakan dengan penuh kesabaran sebagai kelalaian dan kealpaan manusia. Tidak perlu banyak menggerutu dan menyalahkan pihak lain atau mencari-cari kambing hitam termasuk menganggap sebagai akibat dari efek gempa Jogjakarta yang letaknya nun jauh dari lokasi musbah lumpur Porong Sidoarjo. Yang paling penting mau menanggung semua resiko lalu memenuhi kewajibannya dengan cara yang penuh tanggungjawab, ketulusan, dan penuh kasih sayang. Perusahaan secepatnya mengambil langkahlangkah nyata melindungi dan mengganti kerugian kepada masyarakat sekitar yang tertimpa luapan lumpur dengan tulus ikhlas walaupun menguras aset perusahaan sampai habis. Begitulah perilaku tapa ngeli yang tepat. Jika semua tanggungjawab dijalani dengan penuh kesabaran, penuh ketulusan dan kasih sayang untuk melindungi warga masyarakat yang tertimpa luapan lumpur seadil-adilnya, maka kemungkinan besar perusahaan pengeboran itu akan mendapatkan gantinya yang jauh lebih besar dari apa yang telah ia keluarkan. Sedangkan bagi masyarakat dan PemKab setempat, melakukan tapa ngeli dengan cara menerima penderitaan itu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Tidak sibuk menggerutu atau meratapi nasibnya, namun sebaliknya dengan penuh semangat tetap memperjuangkan apa yang menjadi haknya melalui prosedur yang tepat dan benar secara hukum. Perjuangan tidak berhenti di situ saja, Pemkab bersama komponen masyarakat secepatnya menyusun rencana ke depan untuk merubah musibah menjadi anugrah. Dengan berfikir kreatif, alternatif dan inovatif untuk menciptakan peluang baru di tengah runyamnya keadaan akibat luapan lumpur. Dirancang melalui pemikiran positif, dilakukan dengan sikap positif bahu membahu antara Pemerintah dengan semua unsur masyarakat setempat. Saya yakin akan datang anugrah agung terlimpah bagi masyarakat Sidoarjo. Saya termasuk orang yang yakin 100 % bahwa mukjizat Tuhan harus diraih oleh manusia sendiri. Artinya manusia tidak bisa hanya dengan berpangku tangan lantas mukjizat Tuhan datang dengan seketika. Manusia harus benar dulu “laku”nya. Barulah anugrah dan mukjizat yang diharapkan benar-benar terwujud. “Mujizat Tuhan (hukum alam semesta) hanya berlaku bagi orang-orang yang mau memperjuangkannya dan bagi orang yang percaya 100% saja”

18

Perilaku “Air Bah” Sebaliknya, apabila perilaku dan perbuatan Anda sadar atau tidak ternyata telah menyakiti hati orang lain, menyinggung perasaan sesama, melibas hak orang lain, mencelakai dan merugikan orang, melakukan tindakan invasi, menyerobot, menggusur dan menjajah, maka termasuk mengikuti sepak terjang air bah. Misalnya, perusahaan pengeboran tambang yang menyebabkan terjadinya semburan lumpur Porong Sidoarjo menganggap hal itu sebagai cobaan buat dirinya (atau cobaan untuk orang-orang yang “beriman”). Sekilas kalimat itu terdengar indah sekali. Namun pernahkah berfikir dan melakukan instropeksi diri bahwa musibah itu timbul atas kelalaian dan kecerobohan dirinya sendiri. Sangatlah arif dan bijaksana apabila pihak pengebor sendiri menyadari bahwa luapan lumpur Porong sebagai bentuk teguran atau hukuman Tuhan atas segala kesombongan manusia yang terlalu mengandalkan teknologi canggih, kurang bijak perlakuan terhadap alam semesta, dan sikap lancang tidak menghargai “masyarakat gaib” yang benar-benar ada di sekitar kita. Sikap instropeksi ini tentu saja lebih tepat dilakukan serta lebih arif dan bijaksana karena tidak “menyalahkan” Tuhan secara tidak langsung. Namun pada umumnya terjadi anggapan yang sebaliknya, musibah lumpur itu dianggap semata-mata datang dari Tuhan yang ingin mencoba-coba keimanan manusia. Seolah konsep keTuhanan hanya dijadikan sebagai obyek penderita saja, bahkan secara tidak langsung manusia menganggap Tuhan sebagai pelaku kerusakan alam. Lantas di mana letak kebenaran rumus bahwa: “Tuhan merupakan berkah bagi alam semesta (rabbul alamin)..?! Di situlah terdapat sifat egosentris manusia yang sangat halus, yang seringkali tidak disadarinya. Tuhan dijadikan sarana kambing hitam dan cuci tangan manusia dari segala tuntutan tanggungjawab atas segala resiko yang ditimbulkan akibat ulah ceroboh dan kelalaiannya. Hebatnya orang-orang tipikal demikian disadari atau tidak, dengan santun masih bisa berucap,”…kami melakukan “tapa ngeli” kami pasrah mengikuti apa yang menjadi kehendak Tuhan..! Namun tanpa ia sadari dirinya telah mengikuti prinsip air bah, nuruti rahsaneng karep, dengan bersikap golek menange dewe, golek benere dewe, golek butuhe dewe, sembari menjadikan Tuhan sebagai “kambing hitam” yang telah mendatangkan segala macam musibah. Orang-orang atau pihak yang memiliki sikap demikian itu, cepat atau lambat tidak ada yang luput dari bebendu (hukuman) Tuhan sejak masih di dunia maupun setelah ajal tiba. Itulah “ilustrasi” bilamana manusia mengikuti kehendak “air bah”. Pada tingkat retorika, seolah sebagai orang yang tabah melakukan tapa ngeli. Diawas den dieling, kita sering tidak menyadari hal itu terjadi pada diri kita sendiri. Maka jangan tertipu indahnya kulit (baca : syari’at), merdunya kalimat dan pesona wajah nan rupawan. Kebenaran sejati ada di dalam hakekat. Di balik semua yang tampak oleh mata. BETULKAH TUHAN GEMAR MENCOBA ? Saya ingin berbagi kepada para pembaca yang budiman tentang suatu analisa bagaimana sistematika dan hubungan sebab-akibaat atas terjadinya berbagai bencana dan musibah di negeri ini, siapa tahu ada manfaatnya. Coba kita renungkan bersama, mengapa bencana alam kebakaran, angin, banjir dan gempa kini sering terjadi.

19

“Mengapa terjadi kebakaran (hutan), banjir, angin, salah musim, hama tanaman, wabah penyakit, hingga gempa dahsyat dan tsunami..?” Pertanyaan di atas, akan menghasilkan berbagai jawaban seperti di bawah ini, sesuai dengan tingkat kesadaran si penjawab. *catatan ; mernurut ilmu filsafat,katagori manusia terbagi menjadi 4 yaitu :
1. MANUSIA ADA YANG TIDAK TAHU DALAM KETIDAKAHUANNYA 2. MANUSIA TIDAK TAHU DALAM KETAHUANNYA 3. MANUSIA TAHU AKAN KETIDAKTAHUANNYA 4. MANUSIA TAHU AKAN KETAHUANNYA

1. Jawaban paling mudah dan simpel, sekaligus bodoh; hal itu sudah menjadi kehendak Tuhan. Sudah digariskan Tuhan untuk mencoba keimanan manusia. Nah, jawaban ini keluar dari seseorang yang terlalu percaya diri, yang hanya membuat pribadi-pribadi seolah agamis, tetapi sungguh congkak menganggap diri sebagai orang beriman paling baik dan benar. Lantas dari mana manusia bisa mengukur keimanannya sendiri? Apa parameter keimanan, yang berkaitan dengan keyakinan yang mengendap dalam perasaan dan di alam pikiran bawah sadar? Jawaban ini beresiko membuat seseorang lupa diri, gagal melakukan instropeksi dan evaluasi diri. Maka termasuk tipikal orang yang tak tahu jika dirinya sedang tidak tahu. 2. Jawaban yang lumayan kritis ; hal itu terjadi karena manusia telah meninggalkan agama. Cuma sayangnya, agama mana yang ditinggalkan ? Biasanya masing-masing orang menjawab ; agama yang paling benar dan yang dianutnyalah yang ditinggalkan. Musibah itu sebagai hukuman bagi orang-orang yang telah menutup mata terhadap agama yang dianutnya. Jawaban ini masih terpolusi oleh rasa egoisme, fanatisme kelompok, golongan, sektarian, primordial, etnosentrisme. Apakah berkah dan kasih sayang alam semesta bersifat sektarian hanya welas asih kepada sekte/umat agama tertentu? Apakah kasih sayang dan anugrah alam bersifat primordialis, pilih kasih hanya kepada agama tertentu ? Apakah berkah dan anugrah alam bersifat etnosentris ? hanya berlaku bagi kebudayaan dan peradaban manusia tertentu? Apakah sumber kehidupaan yang disediakan oleh jagad raya ini hanya diperuntukkaan bagi suku dan ras tertentu? Coba berfikirlah lebih dalam dengan hati yang bersih dan batin yang bening. 3. Jawaban lebih kritis; musibah dan bencana merupakan teguran tuhan (alam semesta) atas perilaku, perbuatan dan ulah manusia. Bahkan merupakan hukuman tuhan (alam semsta) agar supaya manusia dapat berinstropeksi diri. Agar supaya manusia lebih pandai mensyukuri nikmat dan anugrah tuhan (alam semesta). Jawaban ini rasanya lebih positif, tidak menjadikan diri kita congkak, terlalu merasa percaya diri, dan membuat lupa diri. Hal ini menjadikan diri kita selalu sadar jika kita ternyata belum sadar. Kita menjadi tahu, jika

20

diri kita ternyata belum tahu. Dan begitulah modal besar bagi siapapun agar menjadi orang yang tahu dan sadar. Jawaban yang lebih kritis, sebagai bentuk kesadaran kita akan adanya hukum sebab akibat. Bahwa musibah dan bencana ada hubungannya dengan ulah manusia. Mau percaya atau tidak percaya pada hukum alam dan hukum sebab akibat, toh hukum sebab akibat itu tetap ada dan terbukti bisa disaksikan siapapun yang mau mencermati hukum alam. Akibat adalah bentuk hisab. Kapan terjadinya hari hisab ? Tentu saja tak perlu menunggu “kiamat” (bagi yang percaya kiamat). Hari hisab terjadi setiap hari, di mana hari ini merupakan “buah” atas apa yang kita tanam beberapa hari, minggu, bulan, tahun lalu. Sing sopo nggawe bakal nganggo, siapa menabur angin akan menuai badai, siapa menanam pasti akan mengetam. Inilah hukum sebab akibat yang bisa terjadi kapan saja dan menimpa siapa saja, yang memungkiri maupun yang tak memungkiri. Gempa, banjir, kekeringan, kebakaran, bisa terjadi oleh ulah manusia. Manusia yg tak memahami hukum alam di wilayah tertentu (misalnya Indonesia), dengan seenaknya melakukan penggundulan hutan, ekploitasi alam secara berlebihan, tidak melakukan konservasi alam, merusak sungai, hutan, tepi pantai. Akibatnya sangat fatal. Hutan gundul mengakibatkan kurangnya resapan air ke dalam tanah. Akibatnya begitu kompleks. Lempeng bumi yang selalu bergetar, bergeser, setiap saat terjadi kekurangan “pelumas” dan pelentur berupa air sehingga keadaannya menjadi rapuh mudah patah. Pada saat terjadi sedikit geseran dan getaran, maka patahlah lempeng bumi mengakibatkan gempa. Terjadinya perpatahan lempeng bumi bersifat estafet, maka gempa terjadi beruntun terjadi secara estafet pula. Lindu sedino ping pitu. Akibat lain, reboisasi berkurang sangat signifikan, sehingga terjadi proses penguapan air tanah secara besar-besaran, berakibat pada penyusutan kandungan air tanah dan global warming, hal ini menambah porsi penguapan air laut semakin bertambah besar, yang berpengaruh pada perubahan iklim secara distortif, lantas terjadi hujan salah mongso. Pada saat kemarau, empang, kolam tak kering kerontang, pada saat musim penghujan air meluap menjadi banjir besar. Akibatnya hasil pertanian gagal total. Sekali hujan maka terjadi sangat lebat, hingga menimbulkan banjir besar. Pemanasan global berakibat es kutub meleleh, terjadi elevasi air laut, perubahan cuaca yang begitu cepat dan terjadi berkali-kali dalam sehari. Suhu ektrim terjadi di mana-mana, menimbulkan pergerakan udara dingin ke panas terjadi begitu cepat, sehingga menimbulkan bencana angin topan, lesus, tornado, putting beliung yang merusak permukaan bumi. Pemanasan global, distorsi cuaca dan iklim, berimplikasia menimbulkan wabah penyakit, virus, bakteri mengalami perubahan genetika dan sifat dasar, lantas muncullah penyakit-penyakit baru yang mematikan manusia, tanaman dan binatang. Esuk lara sore mati, sore lara isuk mati. Ini baru sedikit ulasan mengenai apa sebab musabab terjadinya gempa, banjir, angin dan wabah penyakit. Masihkah kita “menyalahkan” Tuhan yang ujug-ujug (tiba-tiba) mencobacoba manusia ? Marilah berfikir dengan akal sehat, betapa ulah kita, ulah manusia telah menjadi penyebab utama kerusakan bumi ini. Tegakah kita kepada anak cucu generasi penerus kita, yang hanya kita warisi kerusakan, malapetaka, penyakit, wabah, kesengsaraan, penderitaan. Jika tidak eling dan waspada, diam-diam kita bisa berubah menjadi generasi biadab, keji, dan buas beringas, menjadi monster bagi anak turun kita sendiri…!! Siapa sesungguhnya yang menjadi dajjal ?

21

SIAPA YANG TAK BERAGAMA? Tapa ngeli berarti perilaku yang sesuai dengan kodrat alam atau kodrat ilahi. Pelaku “tapa ngeli” inilah sesunggunya secara hakekat dikatakan orang yang beragama. Sementara itu, mengikuti “air bah” berarti melawan kodrat alam, melawan hukum alam. Dan yang ini, tipikal orang yang tak beragama, sekalipun ia menganut salah satu agama yang ada. Atheis (baca : kafir) bukan berarti orang yang tidak menganut satu agamapun yang ada di bumi ini. Bagi saya pribadi, Atheis lebih pas untuk menyebut orang yang perbuatannya selalu melawan dan menentang hukum alam. Sekalipun seseorang memeluk salah satu agama yang bahkan mengklaim dirinya paling benar, namun perbuatannya selalu membuat kerusakan alam, mencelakai dan membunuh orang lain. Maka secara hakekat ia termasuk manusia tak beragama. Jadi, kita bisa menyadari betapa buruknya dampak dari dogma-dogma Agama yang telah kita salah pahami selama ini. Agama yang seharusnya bisa menjadikan manusia senantiasa membawa berkah bagi alam semesta, tetapi malah berlaku sebaliknya, manusia menjadi terjebak ke dalam fatalisme, dan tidak sadar bahwa dirinyalah yang telah menyebabkan kerusakan di alam.sebagaimana yang telah Allah terangkan di dalam Al-Qur’an oleh salah satu ayat berikut :

”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)”. (QS. Ar-Ruum 30:41)

Jika saja kita mengarahkan perhatian kita pada sejarah masa lalu dan berkaca diri, yakni sekitar abad pertengahan,dimana ajaran islam pada waktu itu benar-benar diterapkan secara tepat dan tidaklah disalah pahami seperti sekarang ini. Mari..kita renungkan bersama..!

23

Bagaimana seharusnya seorang muslim berpikir?

Hikmah yang diajarkan Al-Qur’an adalah pola pikir ilmiah. Dasar berpikir ilmiah adalah rasa keingintahuan. Namun kebanyakan orang tak memiliki rasa ingin tahu ini. Bagi mereka yang penting bukanlah rahasia alam semesta dan kehidupan. Akan tetapi keuntungan dan kenikmatan dunia mereka yang sedikit. Dibanyak ayat Al-Qur’an lainnya manusia diseru untuk mengkaji alam, sebab manusia hanya bisa mengenal Allah melalui hasil ciptaanNYA. “…(yaitu)..orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata ) : “ Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran, 3:191) Alhasil bagi seorang muslim, memiliki ketertarikan dalam dunia ilmu pengetahuan merupakan ibadah yang sangat penting. Dibanyak ayat Al-Qur’an Allah menyeru kaum Muslimin untuk meneliti langit, bumi, makhluk hidup atau keberadaan diri mereka sendiri dan memikirkannya. Ketika kita mengkaji ayat-ayat tersebut kita temukan petunjuk tentang seluruh cabang utama ilmu pengetahuan dalam Al-Qur’an. Misalnya , Allah menyuruh untuk mempelajari ilmu astronomi sebagai berikut : “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulangulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al Mulk, 67:3) Di ayat Al-Qur’an lain, Allah menyeru pengkajian terhadap astronomi dan susunan bumi. Dengan kata lain, ilmu geologi sebagaimana berikut : “Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah)” (QS. Qaaf, 50:6-8)

24

Allah juga menganjurkan untuk mempelajari ilmu tumbuhan : “Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak.dan dari mayang korma mengurai tangkai tangkai yang menjulai,dan kebun-kebun anggur, dan (kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya, Seusungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang beriman” (QS. Al An’aam, 6:99) Dalam satu ayat Al-Qur’an lain, Allah mengarahkan perhatian kita pada ilmu hewan : “Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu.” (QS. An Nahl, 16:66) Dibawah ini sebuah ayat Al-Qur’an tentang ilmu arkelogi dan antropologi : “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka?” (QS. Ar Ruum, 30:9) Dalam ayat lainnya, Allah mengalihkan perhatian manusia akan tanda-tanda kekuasaan Allah pada tubuh dan ruh-nya sendiri : “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah ) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz Dzaariyaat, 51:20-21)

“Dengan jelas bahwa Allah menganjurkan agar semua kaum Muslimin mempelajari semua cabang ilmu pengetahuan.oleh karenanya,dalam sejarah perkembangan islam pada saat yang bersamaan juga mendorong perkembangan ilmu pengetahuan”

25

Era Kemajuan Islam
Ketika nabi Muhammad SAW mulai mendakwahkan islam,Arab adalah sebuah masyarakat jahiliyah dan kabilah-kabilah penganut tahayul.Aamun, berkat cahaya Al-Qur’an mereka mulai terbebas dari tabiat tahayul dan mulai menggunakan akal mereka. Akibatnya, salah satu perkembangan paling mencengangkan dalam dunia terjadi.Dan dalam beberapa puluh tahun saja Islam yang muncul dari kota kecil Madinah,tersebar dari Afrika hingga Asia Tengah. Masyarakat Arab, yang dulunya tak mampu mengurus satu kota pun dengan rukun, telah menjadi penguasa imperium dunia pada masanya. Dalam bukunya,”ISLAM : The Straight Path”, pakar islam asal Amerika proffesor John L. Esposito, menjelaskan sisi menakjubkan kemunculan Islam sebagaimana berikut : “Yang paling mencengangkan tentang perluasan Islam di masa awal adalah kecepatan dan keberhasilannya. Para pakar Barat merasa takjub akan hal ini….Dalam sepuluh tahun,pasukan Arab menaklukkan angkatan perang Bizantium dan Persia…dan menguasai Irak, Suriah, Palestina, Persia dan Mesir…Pasukan Muslim tampil sebagai penakluk yang sulit terkalahkan dan penguasa yang berhasil,pembangun dan bukan perusak.” (John L. Esposito, Islam : The Straight Path, 1998,hlm. 33) Ketika beragam bangsa termasuk Turki, menerima Islam atas kehendak mereka sendiri,imperium Islam tumbuh semakin besar, dan menjadi kekuatan terbesar di dunia. Salah satu sisi terpenting imperium ini adalah memunculkan tahap perkembangan bagi ilmu pengetahuan yang tak tertandingi sebelumnya dalam sejarah umat manusia.dimana ketika Eropa mengalami masa kegelapan,dunia Islam telah membangun warisan terbesar ilmu pengetahuan yang pernah disaksikan sejarah hingga saat itu. “Ilmu kedokteran, matematika, geometri, astronomi, dan bahkan sosiologi dikembangkan secara sistematis untuk pertama kalinya” Sejumlah pengulas berusaha mengkaitkan perkembangan ilmu pengetahuan islam ini dengan pengaruh Yunani kuno.namun,sumber sesunggunya ilmu pengetahuan Islam adalah penelitian dan pengamatan para ilmuwan Muslim. Dalam bukunya “The Middle East”,proffessor Bernard Lewis,pakar sejarah Timur Tengah menjelaskannya sebagaimana berikut : “pencapaian ilmu pengetahuan islam abad pertengahan tidaklah terbatas pada pelestarian warisan keilmuan Yunani, bukan pula penggabungan unsur-unsur warisan budaya Timur yang lebih tua dan lebih jauh kepada bangunan ilmu pengetahuan tersebut.Warisan ini, yang dilimpahkan para ilmuwan Islam abad pertengahan kepada dunia modern sunguh sangat diperkaya oleh daya upaya dan sumbangsih mereka sendiri. Ilmu pengetahuan Yunani,secara keseluruhan, lebih cendeung bersifat teoritis.Ilmu pengetahuan Timur Tengah

26

abad pertengahan lebih banyak bersifat praktis, dan dalam bidang-bidang seperti kedokteran, kimia, astronomi,dan agronomi, warisan masa lalu tersebut diperjelas dan diperkaya dengan penelitian dan pengamatan para ilmuwan Timur Tengah abad pertengahan.” (Bernard Lewis, The Middle East,1998. Hlm. 266) Rahasianya adalah disiplin ilmiah dan pola pikir yang diajarkan Al-Qur’an kepada para ilmuwan Muslim.Baris-baris tulisan seorang Muslim dalam catatan hariannya,dengan jelas menunjukan betapa gagasan ilmu pengetahuan berdasarkan Al-Qur’an benar-benar diterapkan. “Lalu, selama satu setengah tahun, saya curahkan hidup saya untuk belajar. Saya meneruskan belajar logika dan seluruh bagian filsafat. Selama masa ini,saya tak pernah tidur semalaman penuh dan tak melakukan apa pun selain belajar seharian penuh.kapanpun saya menemukan kesulitan.. saya akan pergi ke masjid, shalat,dan memohon kepada Pencipta Segala Sesuatu untuk membukakan kepada saya apa yang tersembunyi dari saya, dan menjadikan mudah bagi saya sesuatu yang sebelumnya sulit. Lalu di malam hari saya akan kembali ke rumah, meletakan lampu di depan saya, dan mulai membaca dan menulis… Saya terus melakukan ini hingga saya memiliki dasar yang kuat diseluruh cabang ilmu pengetahuan dan menguasainya sejauh mungkin. “ (John L. Esposito, Islam : The Straight Path. 1998, hlm. 33) Andalusia,tempat kebanyakan ilmuwan Muslim lahir dan dibesarkan,telah menjadi pusat utama kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang kedokteran. Para dokter muslim terlatih di berbagai bidang seperti farmakologi, ilmu bedah, oktalmologi, ginekologi, fisiologi, bakteriologi dan ilmu kesehatan. mereka juga membuat sejumlah penemuan penting yang meletakan landasan bagi ilmu pengetahuan modern. Inilah sebagian dari mereka : Ibnu Juljul (Tanaman obat-obatan) , Abu Ja’far Ibnu Al Jazzar (Kedokteran) , Abdullatif Al baghdadi (Anatomi) , Ibnu Sina (Anatomi) , Zakariya Qazwini (Jantung dan Otak) , Hamdullah Al Mustaufi Al Qazwini (Anatomi) , Ibnu An Nafis (Anatomi) , Ali bin Isa (Anatomi Mata) , Biruni (Astronomi) , Ali Kushchu (Astronomi) , Tsabit Ibnu Qurrah (matematika) , Battani (Matematika) , Ibnu Al Haitsam (Optik) ,Al Kindi (Fisika) Budaya ilmiah yang maju di dunia Islam ini, membuka jalan ilmu pengetahuan bagi abad kebangkitan Barat. Para ilmuwan muslim bertindak atas pemahaman bahwa penelitian mereka terhadap ciptaan Allah, adalah jalan yang denganya mereka dapat mengenal Allah. Dengan berpindahnya cara berpikir ini ke dunia Barat,kemajuan Barat pun dimulai.

27

Kelahiran Ilmu pengetahuan di Barat :
Eropa abad pertengahan diperintah oleh penguasa dogmatis gereja Katholik.Gereja melarang kebebasan berpikir dan menindas para ilmuwan.orang-orang dapat diadili hanya karena menganut keyakinan atau gagasan yang berbeda.buku-buku karya mereka dibakar,dan mereka sendiri di hukum mati. Pengekangan terhadap kegiatan penelitian di abad pertengahan, sering kali di singgung dalam buku sejarah. Namun, sebagian menafsirkan keadaan tersebut secara keliru. Dan menyatakan bahwa para ilmuwan yang berselisih dengan gereja adalah menentang Agama. Namun, yang sesungguhnya terjadi adalah sebaliknya. Para ilmuwan yang menentang fanatisme gereja adalah kaum yang beriman dan taat beragama.mereka tidak menentang agama, akan tetapi menentang dogma gereja. misalnya, ahli astronomi terkenal, Galilleo , yang hendak di hukum mati oleh gereja karena pernyataanya bahwa bumi berputar pada porosnya. Ia mengatakan : “Saya haturkan rasa syukur yang tak terkira kepada Tuhan yang begitu baiknya telah memilih saya sendiri sebagai yang pertama menyaksikan pemandangan menakjubkan yang selama ini tersembunyi dalam kegelapan selama berabad-abad yang lalu” (Galileo Galilei. Quoted in : Mike Wilson.The Foolishness of the Cross, Focus Magazine)

“Para ilmuwan lain yang membangun Ilmu pengetahuan modern, semuanya adalah orang yang taat beragama”

Kepler,yang di anggap sebagai pendiri astronomi modern, berkata kepada ia yang menanyainya mengapa ia menyibukan diri dengan ilmu pengetahuan : “Saya memiliki niat menjadi seorang ahli teologi.. namun, dengan pekerjaan saya ini, kini saya menyaksikan bagaimana Tuhan juga diagungkan dalam astronomi, sebab langit menyatakan keagungan Tuhan” (Johannes Kepler, dikutip dalam L.H. Tiner Johannes Kepler Giant of Faith Science (Milford. Micihigan: Matt Media. 1971, hlm. 197) Newton, salah seorang ilmuwan terbesar dalam sejarah. Mejelaskan alasan terbesar yang mendasari kegigihannya dalam kegiatan ilmiah dengan mengatakan : “ ..Dia (Tuhan) adalah kekal dan tak terbatas, Mahakuasa dan Maha Mengetahui, dengan kata lain, masa keberadaan-Nya dari kekekalan hingga kekekalan,keberadaan-Nya dari ketakberhinggaan hingga ketakberhinggaan, Dia mengatur segala sesuatu, dan mengetahui segala sesuatu yang diadakan atau dapat diadakan.. Kita mengenal-Nya hanya melalui

28

perancangan-Nya yang paling bijak dan luar biasa atas segala sesuatu.. “ (Sir Isaac Newton, Mathematical Principles of Natural Philosopher.Diterjemahkan oleh Andrew Motte, direvisi oleh Florian Cajone, Great Books of the Western World 34, Roobert Maynard Hutchins, Editor in Chief, William Benton. Chicago. 1952 : 273-741 ) Si jenius hebat, Pascal. Bapak matematika modern berkata : “Tapi dengan keimanan kita mengenal keberadaan (Tuhan); dalam keagungan kita akan mengenal sifat-sifat-Nya.” (Blaise Pascal. Pensees, No. 233) Von Helmont, salah seorang tokoh terkemuka di bidang kimia modern dan penemu termometer. Menyatakan bahwa “ilmu pengetahuan adalah bagian dari iman”. George Cuvier, pendiri palaentologi modern,yang menganggap fosil sebagai bukti penciptaan-Nya yang kini masih tersisa dan mengajarkan bahwa species makhluk hidup telah diciptakan oleh Tuhan. Carl Linnaeus,ilmuwan yang pertama kali menyusun klasifikasi ilmiah,meyakini adanya penciptaan. Dan menyatakan bahwa “keteraturan di alam merupakan satu bukti penting akan keberadaan Tuhan”. Gregor Mendel,pendiri ilmu genetika yang juga seorang biarawan,meyakini adanya penciptaan Dan menentang teori-teori evolusi di zamannya seperti darwinisme dan lamarkisme. Louis Pasteur,nama terbesar dalam sejarah mikrobiologi,membuktikan bahwa kehidupan tak dapat diciptakan melalui benda-benda mati.Dan mengajarkan bahwa “kehidupan merupakan keajaiban Tuhan”. Fisikawan Jerman terkenal,Max Planck, mengatakan bahwa “ pencipta jagad raya adalah Tuhan” dan menegaskan bahwa “keimanan adalah sifat wajib bagi para ilmuwan”. Albert Einstein,yang dianggap sebagai ilmuwan terpenting abad ke-20, meyakini bahwa “ilmu pengetahuan tidak mungkin meniadakan Tuhan” dan mengatakan, “ilmu pengetahuan tanpa agama adalah pincang,agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta” Sejumlah besar para ilmuwan lain yang mengendalikan sejarah besar para ilmuwan adalah orang-orang taat beragama yang beriman kepada Tuhan.semua ilmuwan ini beriman kepada Tuhan.Dan mengabdi kepada ilmu pengetahuan dengan niat mengungkap alam semesta yang telah diciptakanNya. Sebagaimana Allah perintahkan dalam Al-Qur’an, mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi,dan meneliti dengan kesadaran adanya Allah.lahirnya Ilmu pengetahuan beserta pengembangannya adalah hasil dari pemahaman ini.

29

Akan tetapi,selama abad ke-19, pemahaman ini tergantikan oleh kebohongan bernama Materialisme.

Bangkit dan runtuhnya Materialisme
Abad ke-19 adalah masa yang menyaksikan kekeliruan terbesar dalam sejarah umat manusia.Kekeliruan ini diawali dengan diperkenalkannya filsafat materialis yang merupakan ajaran Yunani kuno kepada pemikiran bangsa Eropa.kekeliruan terbesar dalam masa ini adalah Teori Evolusi Darwin. Sebelum kelahiran Darwinisme, Biologi diterima sebagai satu cabang ilmu pengetahuan yang memberikan bukti keberadaan Tuhan. Dalam bukunya Natural Theology, penulis terkenal William Paley menyatakan bahwa : “sedemikian hingga setiap jam membuktikan keberadaan pembuat jam.sebuah rancangan di alam membuktikan keberadaan Tuhan” Namun, Darwin menolak kebenaran ini dengan teori evolusinya.Dengan memutar balikan kebenaran, agar sesuai filsafat materialisme,ia menyatakan : ”seluruh makhluk hidup muncul akibat ketidaksengajaan” Dengan demikian, ia memunculkan pemisahan semu antara Agama (Religion) dan Ilmu pengetauhan (Science). Dalam buku mereka,”The Messianic Legacy”, para peneliti Inggris ; Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln berkata tentang hal ini sebagai berikut : “Untuk Isaac Newton, yang satu setengah abad sebelum Darwin, ilmu itu tidak terpisah dari agama, tetapi, sebaliknya, satu aspek dari agama, dan akhirnya melayaninya. ... Tapi ilmu pengetahuan masa Darwin menjadi persis sedemikian itu, yakni menceraikan diri dari kerangka tempat dulunya ada dan menetapkan dirinya sendiri sebagai pesaing mutlak, sebagai pemberi penjelasan tandingan. Akibatnya, agama dan sains tidak lagi bekerja seiring, melainkan berdiri bertentangan satu sama lain, dan umat manusia semakin dipaksa untuk memilih di antara keduanya” (Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln, The Messianic Legacy, Gorgi Books, London : 1991. Hlm 177-178) Tidak hanya Biologi, cabang-cabang ilmu pengetahuan seperti Psikologi dan Sosiologi pun dipaksakan agar sesuai dengan filsafat materialis.Astronomi dibelokan mengikut dogma materialis Yunani kuno.

30

Tujuan baru Ilmu pengetahuan adalah untuk mengukuhkan kebenaran filsafat materialis.gagasan keliru ini,telah menyeret dunia ilmu pengetahuan kepada kebuntuan selama 150 tahun terakhir. Puluhan ribu ilmuwan dari berbagai cabang ilmu,bekerja dengan berpengharapan akan mampu membuktikan darwinisme atau teori-teori materialist lainnya. “TETAPI MEREKA KECEWA” Bukti ilmiah menunjukan sesuatu yang malah bertentangan dengan kesimpulan yang ingin mereka capai. Dengan kata lain, bukti tersebut malah mengukuhkan kebenaran penciptaan. Akibatnya, dunia ilmu pengetahuan sangat tercengang akan kenyataan ini. Ketika alam diteliti,yang muncul adalah adanya perencanaan dan perancangan yang hebat, di setiap bagian terkecilnya. Dan ini telah meruntuhkan landasan berpijak filsafat materialis. Misalnya,salah satu contoh kecil adalah struktur luar biasa DNA, mengungkapkan kepada ilmuwan bahwa DNA bukanlah merupakan peristiwa yang tidak disengaja. DNA dalam satu sel manusia berisi informasi yang cukup untuk memenuhi ensiklopedia yang terdiri atas 900 jilid. Gene Myers, seorang ilmuwan dari perusahaan Celera yang mengelola Human Genome Project atau Proyek Genom Manusia, menyatakan berikut ini : “ Yang benar-benar mengejutkan saya adalah arsitektur kehidupan ... Sistem ini sangat kompleks.seolah ini telah dirancang ... Terdapat kecerdasan mahahebat disana. (San Fransisco Chroniele, 19 Februari 2001)

31

Kesimpulan dari Sejarah
Allah menciptakan seluruh jagad raya.Dan semua ciptaan-Nya dengan jelas memperlihatkan kepada manusia akan tanda-tanda adanya Allah. Ilmu pengetahuan adalah sarana menyelidiki apa yang telah diciptakan Allah.jadi, perselisihan antara agama dan ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang mustahil. Sebaliknya, Islam sangat menganjurkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Berbagai kemajuan besar ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam, dengan jelas menunjukan pentingnya anjuran ini. Umat manusia sebentar lagi akan memahami dengan jelas,bahwa Allah telah menciptakan jagad raya dan seluruh makhluk hidup. Ilmu pengetahuan membuktikan penciptaan ini, dan Al-Qur’an yang memberitakan kebenaran ini 14 abad silam membuka jalan bagi ilmu pengetahuan : “Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad, 38:29) “dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan jangalah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’aam, 6:153)

Hal ini jelas menunjukan,bahwa maksud ayat diatas adalah kita umat Muslim harus memiliki landasan pola pikir ilmiah sebagaimana yang telah Allah perintahkan di dalam AlQur’an.Yaitu dengan cara mempelajari segala cabang ilmu pengetahuan dan segala aspek yang tersembunyi di dalamnya dengan tujuan memahami sifat-sifat Allah dan mengungkap tanda-tanda kekuasan-Nya secara nyata (jalan yang lurus).Dan bukan hanya dengan pedoman ilmu saja,tanpa meyakini adanya penciptaan,sehingga cenderung membawa kita ke dalam jalan berpikir materialisme, atau hanya berpedoman keyakinan dan iman saja sehingga pola pikir dan segala tindakan kita terjebak kedalam fanatisme dan fatalisme (jalan yang lain). Al-Qur’an adalah jalan bagi terbukanya ilmu pengetahuan.Di banyak ayat Al-Qur’an, tersembunyi gagasan-gagasan maha cerdas yang sebelumnya sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh manusia.yang karenanya, gagasan-gagasan tersebut menunggu untuk digali oleh para orang-orang beriman yang senantiasa menggunakan akalnya. Contoh kecilnya, gagasan tentang bagaimana awal mula kejadian alam semesta dan seluruh isinya terbentuk. Yakni melalui teori ledakan besar,atau lebih populer disebut dengan Teori Big Bang :

32

"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (QS. Al Anbiyaa 21:30)

Namun, pada abad modern ini, jumlah orang yang bisa memahami rahasia alam semesta melalui Al-Qur’an amatlah sedikit. Terutama dikalangan umat islam sendiri, dasar berpola pikir ilmiah sebagaimana yang telah diajarkan di dalam Al-Qur’an perlahan mulai hilang dan tergantikan dengan doktrin fanatisme. Sebaliknya, bangsa Barat yang dipandang sebagai kaum kafir dan pemuja hawa nafsu, justru merekalah yang telah berhasil mengadopsi dan menerapkan pola pikir ilmiah tersebut. Dampak dari fenomena ini, dapat kita lihat dari contoh nyata yang ada dalam kehidupan abad modern sekarang. Orang Islam fanatis,cenderung menganggap dirinya paling benar dan paling beriman,sehingga mudah meng-kafir-kafir-kan orang lain, dan seenaknya mengharam-haram-kan segala sesuatu.Akibatnya, muncul sikap pengekangan terhadap hak-hak manusia, kurangnya toleransi dan etika terhadap agama lain,bahkan saling bermusuhan, yang berujung pada menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat. Sementara itu, bangsa Barat yang telah berhasil memadukan pola pikir ilmiahnya, mereka lebih bisa menghargai hak-hak orang lain, tidak pilih kasih dalam bergaul lantaran berbeda keyakinan, senantiasa berpikiran positif dan terbuka dalam menanggapi segala sesuatu. mereka cenderung mengusahakan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Lalu siapakah orang yang benar-benar beriman dan beragama? Wallahu a’lam !

34

Pemahaman yang beredar dalam khasanah sufistik, tasawuf atau mistik Islam bahwa perjalanan spiritual itu dimulai dari menjalankan syariat, memasuki jalan suluk tarekat dengan berdzikir, kemudian berolah pikir di area hakekat, hingga berujung pada mengenal Tuhan setelah bermakrifat/ bertemu dengan-Nya. Secara filosofis, Islam itu Ibarat buah kelapa.Tentu yang paling nikmat adalah air dan dagingnya (hakekat-makrifat).Namun,untuk bisa menikmati air dan dagingnya, pertamatama kita harus bisa mengupas kulit dan serabutnya (Syari’at). Setelah itu, masih ada tempurungnya (Tarekat) yang perlu di kupas lagi. Barulah kita bisa menikmati air dan dagingnya (Hakekat). Kalau sudah pernah mencicipi, tentu kita akan tahu bagaimana rasanya (Ma’rifat).

Agama seharusnya tidak lagi dipandang dan dipahami melalui luarnya atau tataran “kulit” saja.melainkan harus dipahami secara menyeluruh atau diperoleh dalam wujud kelapa yang utuh.Tetapi, pada umumnya orang masih sebatas pemahaman pada tataran kulit-nya saja. Entah kulit siapa yang paling benar hal itu tidaklah penting. Karna tujuan kita ialah untuk menikmati air dan dagingnya sebagaimana itu merupakan anugerah dari Tuhan yang tersembunyi di dalam buah kelapa.sementara, orang-orang yang bisa menikmati air dan dagingnya itu amatlah sedikit, lantaran kebanyakan manusia sibuk sendiri memperdebatkan dan berebut kulit serta serabutnya. Namun jangan buru-buru keliru menafsirkan bahwa kulit dan tempurungnya itu tidaklah penting. Karena air dan daging kelapa hanya akan menjadi barang busuk yang terkontaminasi bakteri jika tidak ada pembungkusnya yaitu tempurung dan kulit-nya. “Syari’at adalah hal yang wajib dikuasai terlebih dahulu sebelum orang mencapai pemahaman hakekat. Soal syari’at siapa dan agama mana yang paling benar itu tidak menjadi masalah. Ada banyak jalan untuk menuju hakekat. Hanya ‘nama’ dan ‘cara’-nya saja yang berbeda. Justru ‘cara’ itu menjadi salah dan sesat ketika orang menilai terlalu tinggi ‘cara’ yang diikutinya hingga menafikan ‘cara’ yang lain”

35

4.1 BAGAIMANA DENGAN “ISLAM ADALAH SEBAIK-BAIKNYA AGAMA” ?

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imran 3:85)

Dalam ayat diatas, kalau kita pahami secara harfiah tentu akan berdampak munculnya pandangan bahwa agama lain yang selain islam itu adalah agama yang tidak diridhoi,aliran sesat dan penyembah berhala/thoghut/thaghut. Thaghut sendiri menurut saya pribadi tidak melulu harus dikaitkan dengan patung, dewa, dan binatang.itu hanya contoh keadaan tempo doeloe. Tetapi, di abad modern sekarang ini, bentuk thaghut itu bermacam-macam. bisa juga berbentuk negara, kekayaan, wanita, dll .Untuk itu saya lebih suka kalau thaghut dimaknai sebagai “menyembah sesuatu selain ditujukan kepada Tuhan semesta alam”. Bukankah islam sendiri juga menyembah ka’bah yang wujudnya batu berbentuk kubus? Namun, karena kalbunya hanya ditujukan kepada Allah dan bukan pada ka’bah-nya. maka perbuatan shalat orang islam yang jika dilihat secara fisik adalah menyembah ka’bah, tidak termasuk menyembah thaghut. Demikian juga halnya dengan agama-agama lainnya, secara fisik atau lahiriah mereka tampak seperti menyembah berhala.Namun, sejatinya mereka tetaplah menyembah Tuhan,Allah,Hyang Widhi,God,Dei,atau apapun namanya yang intinya mewakili wujud Tunggal pencipta alam semesta. Hanya saja mereka mempunyai ‘nama’ dan ‘cara’ yang berbeda. Sesungguhnya suatu amal itu tergantung daripada niatnya.jika ada orang yang dengan fanatiknya memuja-muja atau meng-idolakan suatu negara, kekayaan, wanita,google,smash, cherry belle, JKT48, AKB48 (just kidding :p) dan apapun itu yang bisa menggantikan posisi Allah di dalam kalbunya, maka orang itu secara hakekat sudah menyekutukan Tuhan-nya dan menjadi penyembah thaghut. Tidak peduli lantaran orang itu islam sekalipun dan rajin sholatnya. Nah, lalu bagaimana, apakah masih menganggap bahwa hanya islam yang diterima disisi Allah? Sejujurnya melalui perenungan yang mendalam,saya pribadi juga menyetujuinya. Sebab : “AGAMA ISLAM BUKAN HANYA MILIK ORANG ISLAM” Siapa saja orangnya, apapun latar belakangnya jika orang tersebut mampu menjalani kehidupan yang selaras dengan rumus-rumus (kodrat) Tuhan, meyakini dan selalu bisa menjaga kalbunya bahwa Tuhan adalah pencipta Tunggal alam semesta. maka, dialah orang beragama Islam yang sesungguhnya.

36

4.2 MEMAHAMI PAHALA DAN DOSA Menurut KBBI : “pahala” adalah ganjaran Tuhan atas perbuatan baik manusia; buah perbuatan baik. “dosa” adalah perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau agama. Jadi,Pahala tidak lain adalah manfaat yang akan diperoleh atau dirasakan manusia, sedangkan dosa adalah bencana atau keburukan yang akan ditanggung akibat dari perbuatannya melanggar rumus-rumus (kodrat) Tuhan. Namun,jangan salah memahami bahwa pahala dan dosa hanya berwujud materi.Dalam wujud ghaib pun ada, dan itu merupakan rahasia Allah. seseorang sering menjadikan pahala sebagai motivasi utama untuk melakukan berbagai bentuk kegiatan ibadah. Hal ini tidak sepenuhnya keliru. Tetapi, kebanyakan orang dalam beribadah cenderung menghitung-hitung dan mengharap-harapkan pahala ghaib yang hakekatnya itu adalah hak Allah.yang demikian itu baru keliru,mengapa? Ibadah tidak lain hanyalah wujud rasa syukur manusia kepada sang penciptanya. Jika dalam sholat saja manusia masih mengharap-harapkan pahala,itu menunjukan bahwa sholatnya tidak sepenuhnya ikhlas. Karena yang demikian itu adalah bentuk pamrih kepada Allah. Sholatnya saja belum tentu diterima, tetapi sudah mengharap-harapkan pahala.sungguh tidak ada satupun yang bisa dicapai. Untuk bisa merasakan pahala dan dosa tentu saja tidak perlu menunggu sampai kiamat. Sejak manusia dilahirkan di dunia ini, manusia sudah bisa merasakan apa itu pahala dan apa itu dosa. contohnya : “pada malam-malam bulan ramadhan terutama malam lailatul qadar (malam 1000 bulan) , bagi yang menghidupkan malam-malamnya dengan membaca AlQur’an maka akan mendapat pahala yang berlipat-lipat” . sebelum kita sampai kepada jawaban, saya akan membahas terlebih dahulu ada apa di malam-malam ramadhan terutama malam lailatul qadar. Dalam bukunya, Quranic Quotient Centre yang ditulis oleh Rajendra Kartawiria. Ia menjelaskan bahwa dalam ilmu astronomi, matahari memancarkan radiasi terkuatnya pada bulan-bulan ramadhan. Tetapi, akibat dari pengaruh medan magnetik bumi, dampak radiasi ini hanya bisa dirasakan oleh bagian bumi yang tidak menghadap matahari. Dengan kata lain,efek dari radiasi ini hanya bisa dirasakan di malam hari. Radiasi dan gravitasi bulan purnama meningkatkan permukaan air laut dan kehidupan makhluk laut di malam hari.dan ini juga menarik air dalam membran otak dan lebih menggetarkan sel-sel otak. Getaran sel otak berdampak pada meningkatnya tingkat kesadaran dan aktivitas otak.Dan fakta yang lebih mengejutkan adalah radiasi terkuat terjadi pada malam lailatul qadar.radiasi ini setara dengan 1000 kali dari radiasi yang dipancarkan bulan purnama biasa. Pada malam itulah manusia mencapai kesadaran yang optimal. Dan ini Mengarah pada hipotesa malam Lailatul Qadar Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (QS Al Qadr 97:3) . oleh karena itu, umat Muslim dianjurkan untuk membaca AlQur’an pada malam-malam ramadhan. Namun, membaca Al-Qur’an tanpa memahami arti dan maknanya adalah hal yang tidak efisien. Sayang sekali jika kita hanya memanfaatkan kesadaran optimal kita hanya untuk membaca tanpa mengerti arti dan maknanya. Padahal,ayat-ayat Al-Qur’an memerlukan kesadaran yang sangat mendalam untuk bisa memahaminya.Dan jika saja kita mau membaca Al-Qur’an dengan artinya serta merenungkannya, tentu hal ini akan membawa kita kepada pemahaman baru,penemuan gagasan-gagasan baru,dan memahami makna sebenarnya dari ayat-ayat Al-Qur’an yang selama ini tersembunyi dibalik keindahan bahasanya. Inilah wujud dari pahala yang nyata. Percuma saja, biar katham Al-Qur’an puluhan kali pun, kalau tidak paham arti dan gagal menangkap maksud dari ayat-ayatnya,pada hakekatnya itu semua sia-sia. Apalagi sambil mengharap-harapkan pahala ghaib. “Al-Qur’an itu untuk dipahami dan direnungkan, bukan hanya sekedar dibaca keras-keras sehingga hanya terdengar seperti nyanyian tanpa makna”

37

4.3 MEMAKNAI SURGA DAN NERAKA Perkara surga dan neraka sering disalah pahami oleh umumnnya orang Islam sebagai tempat hunian akhir dari manusia kelak. Padahal di dalam Al-Qur’an telah berkali-kali dijelaskan bahwa ; “sesungguhnya tempat kembali manusia ialah hanya ada pada sisi Tuhanya”

Untuk merasakan nikmatnya surga atau pedihnya siksa neraka pun tidak perlu menunggu mati. Karna pada hakekatnya surga dan neraka itu sudah ada sejak manusia dilahirkan ke dunia ini. Surga dan neraka tidak lain hanyalah perasaan manusia akibat anugerah atau musibah yang disebabkan oleh ulahnya sendiri. Contohnya : ketika kita berbuat baik kepada sesama dengan perasaan tulus nan ikhlas, hati kita pun merasa tentram dan damai, ditambah lagi orang yang kita tolong malah membalas budi baik kita, akhirnya serasa lengkap sudah hidup ini akan kebahagiaan yang memenuhi hati. Itulah surga. Seseorang yang mencari harta dan menjadi kaya dengan jalan korupsi, hatinya selalu diselimuti oleh rasa penyesalan dan ketakutan sampai-sampai tidurpun tidak nyenyak. Belum lagi jika kasusnya terbongkar tentu akan membuat stress berat dan depresi akibat disibukan oleh banyak urusan-urusan baru yang terus-menerus menekan dirinya, dan seolah masalah itu tiada hentinya berdatangan dalam hidupnya, sehingga hidupnya tidak pernah tenang. Itulah yang disebut sebagai neraka. Memang, pendapat ini berbeda dari umumnya para ulama yang mengatakan bahwa surga dan neraka hanya bisa dijumpai setelah ajal tiba. Namun, surga dan neraka yang demikian adalah perkara ghaib yang menjadi rahasia Allah dan erat kaitannya dengan iman.Dan harus diyakini. Namun, bagaimanapun juga surga tidak seharusnya diperebutkan dengan kesan bahwa surga itu teramat sempit dan hanya muat bagi segelintir orang-orang saja. Banyak orang berlomba-lomba beribadah secara berlebihan yang tidak lain hanya karena mengharap imbalan surga kelak dikemudian hari. untuk apa? Bukankah surga dan neraka itu milik Allah, kenapa manusia repot-repot memperebutkan. Biarlah menjadi urusan Allah untuk menentukan orang itu masuk surga atau neraka, dan inilah takdir yang sesungguhnya. Tugas manusia cuma menlajankan peran-Nya di dunia sebagai khalifah demi terjaganya keharmonisan di alam semesta. Dan bukan malah menjadi makhluk yang gemar menimbang-nimbang apakah dirinya sudah pantas masuk surga atau belum. Apalagi menganggap bahwa surga itu hanya milik orang-orang islam saja. Pemikiran tersebut sama halnya dengan menganggap bahwa Allah itu pilih kasih. Sungguh lancang manusia yang demikian karena telah mengambil peran Dia Yang Maha Menentukan. Dan bukankah tidak ada seorangpun yang mau menjadi Fir’aun di dunia ini? Tetapi Allah memang berkehendak menciptakan Fir’aun dengan sedemikian perannya sehingga kita manusia yang sekarang jadi bisa belajar dari kisahnya nabi Musa AS.

38

4.5 APAKAH TUHAN ITU ? Dalam pendekatan rasio dikenal suatu hukum alam, lebih populer lagi sebagai hukum sebab akibat. Maka Tuhan merupakan konsep utama sebagai CAUSA PRIMA, yakni penyebab utama tanpa ada yang menyebabkan eksistensiNya. Jika pendekatan melalui teori energi, maka Tuhan merupakan EPISENTRUM dari segala episentrum dan energi yang ada di jagad semesta. Soal Tuhan mana yang paling benar, atau sebutan nama Tuhan yang palsu apa ? Apakah Allah, Alloh, Tuhan, Pi khong, Brahman, God, Puang Alah, Yahweh, Dei dan seterusnya ? Berbicara dalam konteks rasio, semua itu tentu saja masih berupa kebenaran yang bersifat relatif. Karena nama-nama itu berkaitan dengan sistem budaya yakni, BAHASA sebagai alat komunikasi yang digunakan manusia. Logikanya,sebelum manusia mengenal bahasa, maka konsep nama-nama di atas tentunya belum ada, dengan kata lain, causa prima (Tuhan) belum punya nama apapun. Pada dasarnya nama hanyalah nama. Suatu wujud materi bisa saja memiliki banyak nama. Sebagai contoh adalah matahari, di berbagai tempat di belahan dunia, matahari memiliki banyak sekali nama. Dalam bahasa Indonesia dinamakan matahari, dalam bahasa Inggris disebut sebagai sun, adapun dalam bahasa jawa disebut srengenge,surya, dst. Meskipun matahari memiliki banyak nama untuk menyebut wujudnya, tetapi kesemua itu tidaklah merubah hakekat matahari sebagai bola gas panas yang berpijar menerangi sistem tatasurya. Oleh karena itu,sebaiknya kita jangan tertipu nama, karna nama itu ibarat sampul yang hanya menampakan luarnya saja. Boleh saja Tuhan memiliki banyak nama, tetapi hakekat Tuhan adalah Dzat yang memiliki sifat : ada, tak berawal, tak berakhir, berbeda dengan barang-barang yang baru, hidup sendiri dan tidak memerlukan bantuan dari sesuatu, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat, berilmu, hidup dan berbicara Dengan kata lain, Tuhan adalah manifestasi dari keduapuluh sifat-sifat tersebut. Dan Dia memiliki nama-nama yang paling baik (asma al-Husna). Jika pemahaman di atas ada yang menganggap statementnya kapir kopar, yang menjadi pertanyaannya, apakah gara-gara salah menyebut nama untuk Tuhan maka akan mengakibatkan seseorang kecemplung nroko ? Bukankah kita semua ini memeluk salah satu agama hanya faktor kebetulan saja, dan tak lebih karena faktor keturunan (warisan) orang tua kita. Nah, apakah hanya faktor kebetulan, faktor keturunan, dan warisan ortu tersebut menentukan orang masuk nroko atau suwargo ?

39

4.6 MENCERMATI SUNATULLAH BENCANA ALAM Gempa Bumi Gempa bumi dengan kategori kekuatan besar dan menghancurkan tetap bekerja sebagai seleksi alam, serta gerakan harmonisasi alam semesta. Di mana alam semesta beserta penghuninya mengalami perubahan-perubahan dan gerak tarik-ulur, dan saling tarik menarik. Antara gerakan negatif-destruktif dengan gerakan positif-konstruktif. Untuk kasus gempa bumi, sisi misteriusnya adalah, gempa bumi merupakan gejolak amuk alam tetapi bukan berarti terjadi disorder dan disharmoni alam semesta. Sebaliknya biasanya tetap berlaku rumus keadilan. Alam bergolak TIDAK DENGAN CARA PENGECUT. Gejolak alam TIDAK akan berlangsung secara diam-diam atau mencuri-curi kesempatan bak seorang pecundang. Sebaliknya, alam semesta menjalankan “permainan” secara fairplay, sebelumnya selalu bersuara lantang menyampaikan pesan-pesan kepada seluruh penghuninya, meliputi hutan, gunung, sungai, dimensi gaib dengan makhluk halus penghuninya, serta binatang dan manusia. Seluruh isi dan makhluk penghuni bumi ini, pada kenyataannya MANUSIALAH YANG PALING NDABLEK, MATA & TELINGANYA sengaja dibuat TULI hanya karena alasan berlebihan takut tergoda bujukan setan yang gemar menyesatkan iman. Padahal setan itu melekat sejak akil baliq (usia dewasa) pasti bersemayam di dalam tubuh setiap insan, sebab setan itu tiada lain kiasan untuk nafsu negatif manusia, “setan” sebagai gambaran nilai-nilai negatif yang paradoksal kebalikan dari nilai-nilai “ketuhanan” yang serba positif. Ketakutan berlebihan itu, pada kenyataannya hanya menghasilkan kesadaran jahiliah, kesadaran yang terkungkung oleh unsur jasadiah meliputi rasio dan emosi nafsu negatif, namun sudah merasa diri orang paling benar di dunia. Ilmu-ilmu dan alat-alat untuk membaca pesan-pesan alam telah lama ditinggalkan manusia. Ngelmu titen, ngelmu kawaskitan, dll yang dijadikan sarana membaca warning dalam bahasa alam dianggap sumber musrik dan tahyul oleh manusia-manusia picik dan dangkal kesadarannya hanya karena tidak memakai bahasa tanah suci. Padahal ilmu-ilmu tersebut sangat ilmiah bila dijelaskan secara komprehensif dan esensial. Ilmu yang mampu untuk mencermati apa yang menjadi kehendak Tuhan. Bila kita mampu membaca pesanpesan dalam bahasa alam, maka kita akan weruh sadurunge winarah (prevision). Menjadikan kita lebih hati-hati dan waspada, mengerti dengan betul-betul apa yang harus dilakukan dengan arif dan bijaksana. Lantas apa manfaatnya jika kita menafikkan ilmu-ilmu untuk membaca bahasa Tuhan ? Bukanlah menjadi tidak sesat dan iman tergoda, namun hasilnya tidak lain adalah kegagalan untuk bisa “nggayuh kawicaksananing Gusti” (memahami kebijaksanaan Tuhan).sehingga,kita menjadi orang yang kagetan dan gumunan, dan tidak tahu akan dirinya yang sejati. Manusia-manusia yang berwatak gumunan dan kagetan mudah bersikap gegabah bilamana bencana dahsyat (mega disaster) benar-benar melanda seantero negeri ini. Menjadi orang yang tak pernah menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Kini zaman serba terbalik (wolak-waliking zaman), di mana orang suci dianggap kotor, orang kotor dianggap suci. Bandit menjelma bagaikan syeh, sebaliknya “syeh” yang sebenarnya justru dituduh sebagai seorang bandit yang kafir. Ulama spiritual sejati diangap sebagai orang sesat, sementara itu orang yang benar-benar keblinger dianggap orang pinter

40

(alim).Tampilan kulit luar nan mempesona, yang indah manakjubkan dianggapnya sebagai isi dan tujuan yang dicari selama ini. Sedangkan isi yang sesungguhnya berujud belatung, namun dibayang-bayangkan sebagai “madu murni asli sumbawa”. Wolak-waliking zaman !! Banyak orang merasa diri bersih, suci, bener, pener, pas, soleh-solikah, padahal dirinyalah yang termasuk orang-orang keblinger itu. Dikiaskan dalam jongko sebagai setan yang berlagak manusia soleh: Ana setan riwa-riwa minda manungsa anggawa agama. Akeh kang padha katambuhan. Ada “setan berbulu” yang berlagak menjadi manusia yang ahli agama (alim ulama). Banyak orang yang tertipu tetapi tidak merasa tertipu. Itulah tanda-tanda zaman di saat ini. Alam pun menyambutnya dengan gebrakan dahsyat, gempa bumi, banjir besar, tsunami, distorsi cuaca yang sangat gawat, wabah penyakit aneh (pagebluk). Di mana-mana banyak perang karena emosi angkara manusia berebut CARI BENERNYA SENDIRI, cari butuhnya sendiri, cari menangnya sendiri. Dalam bertuturpun tanpa ampun, hati tega nian gemar menghakimi orang lain secara sadis dan hina, dengan hanya berdasarkan keyakinan asal-asalan, bukan menghakimi dengan data otentik dan kesaksian pasti nan sejati. Seolah dirinya tahu segalanya akan hakekat kehidupan sejati, seolah-olah pernah mati dan pernah menjelajah di alam kehidupan sejati. Padahal dasar pengetahuan dan keyakinannya sangat lemah, hanya omonge, ujare, ceunah ceuk ceunah, kabar kabur, kabur-kanginan. Sebaik apapun keyakinan tetap saja sekedar KONSEP BERFIKIR dan konsep beryakin (menata hati untuk percaya saja). Tak peduli walau dirinya tak pernah mengalami dan menyaksikan sendiri akan nilai-nilai ketuhanan. Just never say that : “keyakinan itu hanya perlu diyakini saja, karena manusia MUSTAHIL bisa tahu apa yang terjadi di alam kehidupan sejati, jika belum pernah mati.Kalimat itu, hanya berlaku bagi : 1. Siapapun yang enggan mengolah rahsa sejati. Yang hanya mengandalkan kesadaran jasadiah, meliputi kesadaran rasio yang teramat terbatas kemampan nalarnya. 2. Siapapun yang kesadaranya didominasi oleh kekuatan emosi / nafsu-nafsu negatif. 3. Berlaku bagi siapapun yang tidak mengenal konsep “setan” dengan sungguhsungguh. 4. Bagi siapapun yang terjebak oleh belenggu ketakutan berlebihan akan sesat dan godaan iman. 5. Siapapun yang kesadarannya terbelenggu oleh dogma-dogma yang penuh intimidasi dosa-nerakawi dan iming-iming pahala-surgawi. Sementara itu, sebuah tradisi lama leluhur bangsa ini telah membutikan bahwa tanpa harus mati terlebih dulu, sebenarnya manusia diberikan kesempatan “melongok” (melihat) apa yang sesungguhnya terjadi di dalam panggung “alam kelanggengan” (alam keabadian) di mana terdapat kehidupan sejati, yang langgeng tan owah gingsir. Para pembaca yang budiman, mari kita kembali ke tema semula, mengungkap sedikit demi sedikit tabir misteri di balik bencana alam, khususnya gempa bumi. Berikut ini saya paparkan gejala umum akan terjadinya gempa. Gejala Umum 1. Gempa bumi sangat mematikan biasanya terjadi pada saat banyak orang sudah terbangun dari tidur pulas, misalnya siang hari atau di saat pergantian waktu antara malam ke siang hari atau sebaliknya, siang hari ke malam hari. Tepatnya waktu antara jam 05.00 s/d 08.00 pagi atau sore. Jadi, bisa dikatakan gempa bumi

41

2. 3. 4. 5. 6.

mematikan tidak terjadi pada saat mayoritas orang sedang terlelap tidur. Sehingga pantas dikatakan bahwa “sing sopo leno keno“, siapapun yang terlena (tidak eling waspada) akan menjadi korban. Gempa bumi dahsyat tidak terjadi pada saat orang sedang terlelap dalam tidur misalnya saat-saat antara jam 24.00 s/d 03.00 malam. Mungkin hal ini merupakan rumus/prinsip keadilan Tuhan, atau kearifan hukum alam/kodrat alam. Gempa bumi tidak terjadi pada saat daratan terjadi bencana alam mislanya banjir. Karena musibah bencana alam biasanya tidak terjadi bersamaan, namun bergantian antara bencana yang datang dari daratan, udara, dan lautan. Gempa bumi tektonik terjadi di saat musim kering, atau musim kemarau. Sebaliknya musim penghujan sangat jarang terjadi gempa bumi. Kecuali gempa vulkanik dari gunung berapi. Gempa bumi tektonik konon tidak terjadi pada hari selasa. Gempa bumi juga tidak terjadi pada saat terjadi hujan lebat dan badai sedang menimpa daratan. Setelah terjadi gempa besar, biasanya akan segera turun hujan sangat lebat pada malam harinya. Kejadian ini biasanya berlangsung hingga 3 kali/hari berturut-turut setiap malam hari. Setelah gempa besar, apabila tidak terjadi hujan di malam harinya, hendaknya ekstra hati-hati karena akan terjadi gempa susulan yang lebih besar. Apabila pasca gempa tektonik yang besar tidak terjadi hujan, hendaknya ekstra hati-hati terhadap gempa susulan yang kemungkinan besar akan terjadi.

Tanda-tanda Alamiah 1. Beberapa minggu dan hari sebelum terjadi gempa besar, biasanya akan muncul awan hitam mulai siang hingga sore hari. Kemunculannya hanya sekali dua kali/hari, setelah itu lenyap dengan sendirinya. Ciri-ciri awan hitam tersebut seolah bagaikan mendung tetapi tidak menghasilkan hujan, warnanya hitam keabu-abuan bergumpal, tetapi rata menutupi seluruh ruang pandang di langit. Awan hitam itu seolah jaraknya dengan bumi terasa sangat rendah/dekat. Tidak ada angin, suasana mencekam, hening namun terkesan sangat mistis (beraura energi kuat). 2. Cermati bila keadaan di atas mulai tampak. Coba anda konsentrasi di dalam rumah dan coba juga di luar rumah, apakah badan anda merasa panas/gerah atau malah cenderung dingin ? Jika anda tidak merasakan gerah, seyogyanya anda lebih hatihati. 3. Langit cerah dan bersih, kadang terdapat gumpalan awan putih dengan membentuk sebuah konfigurasi yang aneh dan unik. Kadang muncul konfigurasi seperti pusaka misalnya keris, kujang, rencong, ekor kuda, tongkat vertikal. Kadang berbentuk menyerupai wayang kulit, wajah raksasa, wajah bola mata manusia dst. Berbagai konfigurasi awan yang aneh-aneh tersebut merupakan gejala yang dipengaruhi oleh radiasi energi bumi, kondisi tekanan udara yang mengalami distorsi oleh adanya desakan energi bumi yang melebihi kewajaran. Masing-masing konfigurasi awan memiliki arti dan makna sendiri-sendiri. Untuk menerjemahkannya pun perlu keahlian khusus setelah kita terbiasa mengolah rahsa pangrasa. 4. Di samping itu, saat sebelum gempa suhu terasa sangat panas menyengat melebihi kewajaran biasanya. Bahkan pada saat anda di dalam ruangan atau rumah sekalipun. Rasakan dan cermati hawa panas semacam ini, biasanya secara spontan membuat perasaan menjadi panik, gundah, gelisah. Itulah panasnya hawa bebendu (bencana),

42

sampai terasa panas di daun telinga kita, panas seperti dipanggang api. Bila kita merasakan hawa dan gejala alam seperti ini hendaklah meningkatkan kewaspadaan, biasanya hawa panas tersebut merupakan radiasi dari tegangan energi dari dalam lempeng bumi yang siap terlepas menjadi energi gempa bumi tektonik yang besar. Hawa panas semacam ini dapat kita rasakan dalam jarak hingga ribuan kilometer. Misalnya posisi kita sedang di Jakarta, lalu merasakan hawa panas tersebut, yang menjadi gejala akan terjadi gempa di wilayah Papua, Maluku, Ambon, Sumatera Barat, Bengkulu, dan Lampung. Hawa panas tersebut bisa di rasakan dari mana arah datangnya. Nah, arah itulah menunjukkan lokasi tempat di mana akan terjadi gempa bumi. 5. Rasakan aura panas “bebendu” tersebut, yang terasa mengalir dari dalam tanah, melewati permukaan tanah lalu naik ke atas menjadi radiasi yang kuat. 6. Bila anda tidur di bawah tidak di atas ranjang, berarti anda langsung bersentuhan dengan bumi. Saat itu anda bisa berkonsentrasi dan memasang indera batin dan kalbu anda untuk mencermati suara yang berasal dari bawah permukaan tanah, atau yang berasal dari dalam bumi. Apabila terdengar suara gemuruh, terkadang disertai letupan dan dentuman kecil, hendaknya kewaspadaan ditingkatkan. Karena suara gemurh dan dentuman-dentuman itu merupakan proses pergerakan lempeng bumi yang akan berubah menjadi kekuatan gelombang tektonik. Tanda-tanda Khusus Bagi yang telah terbiasa olah batin dan menajamkan rasa pangrasa, atau rahsa sejati akan lebih mudah membaca peringatan dini dari sinyal-sinyal yang dipancarkan dalam gerak-gerik makhluk penghuni alam semesta ini. 1. Beberapa minggu misalnya antara 4 s/d 12 minggu sebelumnya, kita dapat menyaksikan peristiwa spektakuler, di mana terjadi eksodus besar-besaran oleh masyarakat “halus” dari arah mata angin tertentu menuju ke satu arah yang lain. Misalnya dari arah selatan ke arah utara. Disebut masyarakat karena mereka hidup berkelompok, juga membuat suatu koloni yang saling berinteraksi di antaranya. Masyarakat “halus” itu rupanya sudah merasakan suhu panas yang terpancar dari pusat gempa (episentrum). Walaupun gempa belum terjadi, namun energi tektonik yang tertahan dan terakumulasi di dalam lapisan kulit bumi dalam sekian lama waktunya akan menimbulkan spleteran energi yang terasa panas dan membuat badan terasa gerah sekali. Panas itulah yang membuat mereka tidak betah/kuat lalu “mengungsi” menjauhi pusat-pusat panas calon episentrum tersebut. Hal ini pernah terjadi 3 bulan sebelum gempa Jogja. Dan 2 bulan sebelum gempa Bengkulu akhir tahun 2007 lalu. 2. Perilaku binatang yang tidak wajar alias keluar dari pakem kebiasaannya. Misalnya kucing, anjing, mencari tempat-tempat yang dingin untuk berteduh/tidur. Biasanya kucing dan anjing betah di tempat-tempat yang hangat dan panas. Kicau burung emprit gantil yang semakin intensif terdengar di malam hari, padahal biasanya emprit gantil berkicau di pagi, siang, dan sore hari. 3. Hewan dan binatang melata, binatang yang hidup di dalam rongga tanah keluar berkeliaran pada waktu-waktu diluar kebiasaannya, berkeliaran ke tempat-tempat yang tidak biasa disambangi atau menjadi habitat hidupnya. Demikian pengetahuan sederhana tentang gempa yang dikutip dari : http://www.sabdalangit.wordpress.com

43

4.7 BENTUK PENAMPILAN DAJJAL Di dalam banyak hadist,telah di singgung tentang permasalahan dan bentuk penampilan Dajjal. Menurut hadist-hadist yang ada ;

“Dajjal adalah sosok laki-laki yang berbadan besar, berkulit putih,berambut keriting,
mata sebelah kanannya buta, mata sebelah kirinya bersinar laksana bintang. Dan diantara kedua matanya tertulis huruf “ka” “fa” “ra” (kafir) yang dapat dibaca oleh setiap orang beriman yang dapat membaca maupun yang buta huruf. Dia memiliki gunung roti dan air sungai.Dia juga membawa air dan api ditanganya, namun air itu sebenarnya api, dan api itu sebenarnya air.Dajjal jika berjalan di muka bumi sangat cepat bagai awan dibawa angin” Lalu apakah benar, dajjal adalah orang dengan penampilan ciri fisik demikian? Wallahu a’lam. Menurut saya pribadi, dajjal tidaklah berpenampilan fisik demikian. Hadist harus dipahami sampai pada hakekat. Dajjal adalah orang yang berkuasa (berbadan besar), karena itu dianggap sebagai symbol kebenaran yang dari luar tampak “putih” (berkulit putih). Akibat Kepintaran dan pengetahuannya,Ia pintar memutar balikan fakta (berambut keriting) Mata ukhrawi-nya (mata kanan) buta,sehingga tidak meyakini adanya alam ghaib termasuk adanya Tuhan. sedang mata duniawi-nya (mata kiri) memandang segala sesuatu bentuk materi dengan sangat mengagumkan (layaknya bintang yang bersinar).oleh karena itu,segala hasil pemikirannya mengandung kejanggalan (tulisan kafir) bagi orang yang berpengetahuan (beriman) dan dapat dilihat oleh orang yang mengkaji pemikirannya (dapat membaca) maupun yang tidak ikut campur (buta huruf) . mereka adalah orang yang sangat kaya raya dan menguasai sumberdaya alam (punya gunung roti dan air sungai). Mereka suka sekali menipu orang dengan teori-teori palsu akan kehidupan yang dibuat-buat (membawa air dan api ditanganya). Fakta-fakta yang menunjukan kebenaran, dibuat berkesan tidak masuk akal dengan teori-teori konspirasi (air itu adalah api), sebaliknya teori-teori konspirasi dijadikan sebagai fakta-fakta baru (api adalah air). Tersebarnya pengaruh pemikiran Dajjal di muka bumi tidak terasa dan berlangsung cepat (bagai awan dibawa angin) . Dari hasil pemahaman hadist-hadist tersebut,dapat disimpulkan bahwa Dajjal adalah sekelempok orang yang mengikuti paham-paham keduniawian-materialisme sebgaimana arti dari kata Dajjal sendiri dajala : dia (yang) tertutup,yakni orang-orang yang hanya mengagungkan akal,suka mengumbar hawa nafsu dimana-mana,pemuja egoismeindividualisme-hedonisme, takut akan kematian, mengingkari keberadaan yang ghaib termasuk mengingkari keberadaan Tuhan (Atheism)

44

4.8 HAKEKAT DIBALIK KEKUATAN DOA Agar doa menjadi mustajab (tijab/makbul/kuat) dapat kita lakukan suatu kiat tertentu. Penting untuk memahami bahwa doa sesungguhnya bukan saja sekedar permohonan (verbal). Lebih dari itu, doa adalah usaha yang nyata netepi rumus/kodrat/hukum Tuhan sebagaimana tanda-tandanya tampak pula pada gejala kosmos. Permohonan kepada Tuhan dapat ditempuh dengan lisan. Tetapi PALING PENTING adalah doa butuh penggabungan antara dimensi batiniah dan lahiriah (laten dan manifesto) metafisik dan fisik. Doa akan menjadi mustajab dan kuat bilamana doa kita berada pada aras hukum atau kodrat Tuhan; 1. Dalam berdoa seyogyanya menggabungkan 4 unsur dalam diri kita; meliputi; hati, pikiran, ucapan, tindakan. Dikatakan bahwa Tuhan berjanji akan mengabulkan setiap doa makhlukNya? tetapi mengapa orang sering merasa ada saja doa yang tidak terkabul ? Kita tidak perlu berprasangka buruk kepada Tuhan. Bila terjadi kegagalan dalam mewujudkan harapan, berarti ada yang salah dengan diri kita sendiri. Misalnya kita berdoa mohon kesehatan. Hati kita berniat agar jasmani-rohani selalu sehat. Doa juga diikrarkan terucap melalui lisan kita. Pikiran kita juga sudah memikirkan bagaimana caranya hidup yang sehat. Tetapi tindakan kita tidak sinkron, justru makan jerohan, makanan berkolesterol, dan makan secara berlebihan. Hal ini merupakan contoh doa yang tidak kompak dan tidak konsisten. Doa yang kuat dan mustajab harus konsisten dan kompak melibatkan empat unsur di atas. Yakni antara hati (niat), ucapan (statment), pikiran (planning), dan tindakan (action) jangan sampai terjadi kontradiktori. Sebab kekuatan doa yang paling ideal adalah doa yang diikuti dengan PERBUATAN (usaha) secara konkrit. 2. Untuk hasil akhir, pasrahkan semuanya kepada “kehendak” Tuhan, tetapi ingat usaha mewujudkan doa merupakan tugas manusia. Berdoa harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh, bahwa manusia bertugas mengoptimalkan prosedur dan usaha, soal hasil atau targetnya sesuai harapan atau tidak, biarkan itu menjadi kebijaksanaan dan kewenangan Tuhan. Dengan kata lain, tugas kita adalah berusaha maksimal, keputusan terakhir tetap ada di tangan Tuhan. Saat ini orang sering keliru mengkonsep doa. Asal sudah berdoa, lalu semuanya dipasrahkan kepada Tuhan. Bahkan cenderung berdoa hanya sebatas lisan saja. Selanjutnya doa dan harapan secara mutlak dipasrahkan pada Tuhan. Hal ini merupakan kesalahan besar dalam memahami doa karena terjebak oleh sikap fatalistis. Sikap fatalis menyebabkan kemalasan, perilaku tidak masuk akal dan mudah putus asa. Ujung-ujungnya Tuhan akan dikambinghitamkan, dengan menganggap bahwa kegagalan doanya memang sudah menjadi NASIB yang digariskan Tuhan. Lebih salah kaprah, bilamana dengan gegabah menganggap kegagalannya sebagai bentuk cobaan dari Tuhan (bagi orang yang beriman). Sebab kepasrahan itu artinya pasrah akan penentuan kualitas dan kuantitas hasil akhir. Yang namanya ikhtiar atau usaha tetap menjadi tugas dan tanggungjawab manusia. 3. Berdoa jangan menuruti harapan dan keinginan diri sendiri, sebaliknya berdoa itu pada dasarnya menetapkan perilaku dan perbuatan kita ke dalam rumus (kodrat) Tuhan. Kesulitannya adalah mengetahui apakah doa atau harapan kita itu baik atau tidak untuk kita. Misalnya walaupun kita menganggap doa yang kita pintakan adalah

45

baik. Namun kenyataannya kita juga tidak tahu persis, apakah kelak permintaan kita jika terlaksana akan membawa kebaikan atau sebaliknya membuat kita celaka. 4. Berdoa secara spesifik dan detil dapat mengandung resiko. Misalnya doa agar supaya tender proyek jatuh ke tangan kita, atau berdoa agar kita terpilih menjadi Bupati. Padahal jika kita bener-bener menjadi Bupati tahun ini, di dalam struktur pemerintahan terdapat orang-orang berbahaya yang akan “menjebak” kita melakukan korupsi. Apa jadinya jika permohonan kita terwujud. Maka dalam berdoa sebaiknya menurut kehendak Tuhan, atau dalam terminologi Jawa “berdoa sesuai kodrat alam” atau hukum alamiah. Caranya, di dalam doa hanya memohon yang terbaik untuk diri kita. Sebagai contoh; ya Tuhan, andai saja proyek itu memberi kebaikan kepada diriku, keluargaku, dan orang-orang disekitarku, maka perkenankan proyek itu kepadaku, namun apabila tidak membawa berkah untuk ku, jauhkanlah. Dengan berdoa seperti itu, kita serahkan jalan cerita kehidupan ini kepada Gusti Allah, Tuhan Yang Maha Bijaksana. 5. Doa yang ideal dan etis adalah doa yang tidak menyetir/mendikte Tuhan, doa yang tidak menuruti kemauan diri sendiri, doa yang pasrah kepada Sang Maha Pengatur. Niscaya Tuhan akan meletakkan diri kita pada rumus dan kodrat yang terbaik…untuk masing-masing orang ! Sayangnya, kita sering lupa bahwa doa kita adalah doa sok tahu, pasti baik buat kita, dan doa yang telah menyetir atau mendikte kehendak Tuhan. Dengan pola berdoa seperti ini, doa hanya akan menjadi nafsu belaka, yakni nuruti rahsaning karep.

Resume Doa akan memiliki kekuatan (mustajab), asalkan kita mampu memadukan empat unsur di atas yakni : hati, ucapan, pikiran, dan perbuatan nyata. Dengan syarat perbuatan kita tidak bertentangan dengan isi doa. Di lain sisi amal kebaikan yang kita lakukan pada sesama akan menjadi doa mustajab sepanjang waktu, hanya jika, kita melakukannya dengan ketulusan.

“DOA MERUPAKAN PROYEKSI PERBUATAN KITA, AMAL KEBAIKAN KITA PADA SESAMA MENJADI DOA TAK TERUCAP YANG MUSTAJAB”

46

PENUTUP

Demikianlah, akhir dari buku ini. Saya ucapkan terimakasih kepada para pembaca yang budiman yang telah meluangkan waktunya untuk membaca buku sederhana ini. Dan harapan saya,dengan apa yang telah Anda baca di buku ini. sesuai dengan tujuan awal, yakni membuka pemahaman baru bagi masyarakat khususnya umat Muslim agar kembali menata diri ke dalam hakekat yang seharusnya. kita terapkan kembali pola pikir ilmiah yang mulai pudar, dan bukan malah menuruti konsep berpikir jahiliyah. Mari kita bahu-membahu dalam membangun kesejahteraan bersama tanpa pilih kasih dalam bergaul lantaran beda aliran atau keyakinan sekalipun. Justru manusia itu diciptakan bermacammacam “kulit” agar kita saling mengenal, bisa bertukar ilmu dan wawasan satu sama lain. sebuah taman tidak akan terlihat indah jika hanya ada satu jenis bunga saja. Lebih penting dari semua itu,dengan segala kerendahan hati,saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada para pembaca yang budiman apabila ada kesalahan-kesalahan yang disengaja apalagi yang tidak disengaja oleh penulis dalam menyampaikan sesuatu. Maka semata-mata itu adalah akibat ketidaktahuan dan kecerobohan saya pribadi. Sebagai penutup, berikut ini ada cuplikan artikel yang saya kutip dari : http://www.sabdalangit.wordpress.com yang kiranya juga sangat menarik untuk dibaca, sampai jumpa dan selamat menikmati 

KETIKA AGAMA BERPOLITIK KETUHANAN Berikut ini terjadi dialog antara Guru Sejati vs Panca Indera tentang hakekat beragama, dan politik ketuhanan. Dialog ini dapat terjadi kapan saja, di mana saja, pada setiap pribadi tanpa sadar maupun benar-benar disadari. Dari hasil dialog berikut, kami tidak akan mencari siapa pemenangnya, karena hal itu tidaklah penting. Yang lebih utama adalah bagaimana kita belajar berdialog dengan tema yang sangat sensitif dan krussial. Siapapun bila sering melakukan dialog dengan diri sendiri (kontemplasi) paling tidak akan mendapat hasil minimal berupa mental yang lebih matang dan emosi yang lebih stabil. Maka semakin sering kita melakukan kontemplasi terutama hal-hal yang sangat kontradiktif akan membawa sikap mental kita lebih arif dan bijak dalam memahami dan memandang kehidupan yang teramat kompleks ini. A : Panca Indera B : Guru Sejati

47

A : menurutku agama adalah jalan kebenaran. B : menurutku agama adalah jalan menggapai kebaikan, kearifan, dan kebijaksanaan dalam hidup. A : berarti kebenaran menjadi tidak penting ? B : memang apa pentingnya berbicara kebenaran, jika hasilnya membuat kerusakan bumi dan bencana kemanusiaan ? Jika kita bicara kebenaran, terlalu repot melakukan verifikasi kebenaran itu sendiri. Sebab kebenaran bukan hanya sekedar jargon, omonge, jarene, kata ini dan kata itu. Tapi buktikan sendiri. Kebenaran bukan ada dalam kulit yg penuh keberagaman. Itulah sebabnya, anda baru menyaksikan kebenaran dengan mudahnya pada saat memasuki dimensi HAKEKAT. Hakekat, adalah nilai yg merambah universalitas universe, dapat dirasakan oleh seluruh makhluk, oleh manusia segala macam bangsa, suku, dan semua umat berbagai agama. Jika hanya dirasakan oleh salah satu suku, ras, agama, golongan, hal itu belumlah merupakan nilai hakekat. Artinya, nilai-nilai masih terkait dengan cara pandang subyektif, dan kepentingan pribadi. A : contohnya ? B : gula pasir itu manis, merupakan sesuatu yg pasti, dan lidah semua org bisa merasakan bahwa gula itu manis. Gula adalah unsur ragawi atau “kulit” (sembah raga), sementara rasa manis adalah hakekatnya (sembah rasa). Nah, rasa manis tidak hanya dimiliki oleh gula pasir, ada gula jawa, gula merah, gula aren, gula-gula, sakarin, madu, sari bunga, getah pohon, jagung, sari buah, dan sebagainya. Itulah agama atau keyakinan, yang sepadan dengan berbagai materi yg manis tersebut. Anda ingin merasakan rasa manis, anda bebas memilih mau pake gula merah, gula pasir, gula aren, sakarin atau pemanis buatan, sari buah, madu, jagung (tropicana), atau yg lainnya semua terserah pilihan anda, mana yang paling anda sukai dan pas dengan selera lidah anda. Nah…apa yg terjadi dengan umat beragama di dunia ini ? Yaitu tadi…berebut saling mengklaim bahwa rasa manis hanya bersumber dari gula pasir, umat yg lain bilang salah itu keliru dan sesat, karena yang bener sumber rasa manis adalah berasal dari sakarin. Hahaha….seperti org buta yg pegang gajah. Tapi orang buta tersebut suka menuduh org lain sebagai org buta yg pegang gajah. A : loh..bukankah agama mempunyai misi menyebarkan kebenaran di muka bumi..?! B : wahh, daya pikir rasio anda kok terbatas banget ya. Kok ramudheng-mudheng to !. Yah..begitulah misi agama, bahkan banyak agama misinya ya demikian itu…menyebar dan mengkampanyekan kebenaran, tapi itu tidak menjamin dunia ini tenteram dan damai ? A : loh kok kontradiksi dengan misinya ? B : sudah jelaskan … apa hasilnya? masing-masing agama saling berebut dirinyalah yg paling bener, bahkan terkesan memaksakan diri mbener-benerke ajarane dhewe-dhewe ! A : tapi bukankah hanya ada satu agama yg benar ?! B : semua agama bisa mengklaim demikian, dirinyalah yg paling benar. A : ahh…jadi bingung saya ! B : agar tidak bikin bingung, … hormati saja agama yg menebarkan kebaikan. Bukan agama yg cari benere dhewe ! A : agama yg menebarkan kebaikan belum tentu benar ! B : juga belum tentu TIDAK benar ! A : lantas bagaimana kita harus mensikapi agama supaya lebih arif dan bijak ?? B : agama hanya perlu keyakinan anda ! A : berarti saya cukup yakin saja ? B : semua agama hanya berdasarkan keyakinan. Rasakan saja…jangan pake nalar, agama yg paling pas dengan jiwa dan membuat nurani anda tenteram.

48

A : tidak semua agama hanya berdasarkan keyakinan saja, artinya, agama atas dasar kebenaran! B : mana buktinya ?! A : agamaku ! B : itulah contoh orang yg barusan kita bahas, merasa diri paling bener ! A : lalu bagaimana idealnya sikap saya terhadap agama saya ? B : saya ulangi, cukup dengan yakin, dan jadilah orang yang bijak dan arif kepada siapa saja, jangan menyakiti hati dan mencelakai orang lain, dan seluruh makhluk. Tak usah membedabedakan apa agama yang dianutnya. Lihat saja perbuatannya yang bisa anda lihat. Jangan menebak-nebak isi hatinya untuk memvonis apakah seseorang baik atau buruk. Anda menebak hati sedndiri saja susahnya bukan main, apalagi menebak hati org lain ! A : kan… seseorang yg tidak punya agama dinamakan kafir, orang kafir pasti celaka hidupnya dan masuk neraka. B : binatang dan tumbuhan adalah “makhluk” hidup, mereka kafir semua, tetapi hidupnya bukan hanya mendapatkan berkah ilahi, justru lebih mulia menjadi berkah bagi alam semesta termasuk berkah bagi manusia ! A : hmmm…?? B : mereka itulah “umat” yg paling taat pada perintah tuhan, paling setia pada kodrat alam, paling patuh terhadap rumus-rumus alam semesta. Mereka tak pernah menganiaya manusia dan lingkungan alamnya. Tidak seperti manusia. A : lalu…? B : saya balik tanya… lebih tepat mana, agama yg menyiarkan kebenaran, atau agama yg menyiarkan kebaikan, bagaimana manusia harus berperilaku baik..? A : ya jelas…agama yg menyiarkan kebenaran. B : berarti anda terlalu telmi (telat mikir) atas apa yg dibahas di atas. Carilah agama yang paling ikhlas dan jujur !! A : bagaimana agama yg ikhlas dan jujur ? B : Agama yg paling ikhlas adalah agama yang hanya mengajak seluruh manusia berbuat arif dan bijak, berperilaku terpuji dan budi pekertinya luhur (akhlakul karim) tanpa perlu mengajak-ajak, bahkan setengah memaksa orang lain utk bergabung ke dalam institusi agama tersebut. Mau bergabung silahkan mau enggak juga enggak apa-apa. Itulah agama paling ikhlas dan fairplay (jujur). A : kalau agama yg selalu berusaha mencari pengikut yg sebanyaknya ? B : itu tak ubahnya “agama” PARPOL. Kegiatannya adalah agitasi, propaganda, kampanye, dirinyalah partai yg paling baik dan benar. Diam-diam institusi agama sudah berubah misi menjadi institusi politik. Mencari pengikut sebanyaknya supaya menjadi kuat dan semakin kuat untuk menyerang dan melawan hantaman musuh. A : kalau nggak ada musuh ? B : ya..dibuatlah musuh imajiner, musuh yg dibuat-buat dan diada-ada. A : kan musuh agama biasanya agama lainnya. B : itu merupakan kecurigaan anda pribadi, bahkan rasa curiga anda akan meretas kecurigaan umat lain pada anda, begitulah kecurigaan dan sentimen antar agama sudah menjadi “lingkaran iblis” yg sulit dimusnahkan. Jadinya kerjaan umat hanyalah saling curigamencurigai. Bahkan di antara umat dalam satu agama pun terjadi perilaku saling mencurigai. Agama menjadi bahan peledak yg setiap saat akan menghancurkan bumi, alias membuat “kiamat” planet bumi ini. Tak ubahnya agama lah yg menciptakan “neraka” bagi manusia.

49

A : kenapa bisa begitu ? B : karena agama keluar dari misi sucinya, yakni menebarkan kedamaian, ketentraman dan kebaikan bagi alam semesta seisinya. Agama juga lebih mengutamakan kampanye dirinyalah yg paling benar. A : apa salahnya ? B : salahnya, bukankah kebenaran itu perlu kepastian, seperti ilmu pasti, dan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, teknologi dan sains. Itu barulah kebenaran pasti, yg real. Sementara agama merupakan sistem kepercayaan, atau keyakinan. A : lho…dalam ajaran agama kan ada beberapa kejadian dan sinyalemen atau gejala akan suatu kebenaran dalam realitas alam semesta. B : sejak abad keberapa kitab-kitab suci semua agama itu ada ? umurnya masih muda bukan ? sementara itu manusia sudah ada sejak (paling tidak) 2 juta tahun silam. Bumi ini ada sejak bermilyar tahun silam. Sebelum agama-agama dengan kitab-sucinya ada, manusia pun telah menemukan berbagai kebenaran tak terbantahkan dalam menjalani kehidupan. Itu juga karena welas asih dan keadilan Tuhan. Isi ajaran agama tidak termasuk kebenaran pasti, tetapi berisi ajaran kebaikan, semacam aksioma yang runut dan logis. Namun bisa ditafsirkan dengan multi interpretasi sesuai kepentingan dan kemauan pembacanya. Maka dikatakan kitab itu fleksibel sesuai perkembangan zaman. Ini pengertian yg bias sekali. Alias, isi kitab selamanya tak akan pernah bertentangan dengan penafsiran manusia. Karena sadar atau tidak manusialah yg selalu berusaha (baca; memaksakan diri) untuk menundukkan pola pikir dan persepsinya sendiri agar sesuai dengan isi kitab. Itulah kebiasaan manusia selama ini, membiarkan kesadaran dirinya di dalam sangkar emas. Sementara agama banyak mengajarkan tentang kegaiban, lalu manusia buru-buru menyimpulkan bahwa akal manusia sangat terbatas untuk memahami kegaiban. Bagi saya kegaiban itu sangat masuk akal, jika tak masuk akal berarti belum tahu rumus-rumus yg berlaku di alam gaib. Jika mengandalkan isi kitab pun kenyataannya sudah mengalami perluasan dan penyempitan makna setelah ditranslate ke dalam berbagai bahasa oleh banyak orang yg memiliki penafsiran beragam corak dan warnanya. A : apa buktinya … ? B : lihat saja, begitu banyaknya aliran dan faham dalam satu agama saja. Tidak hanya puluhan bahkan ratusan jumlahnya. Semua itu sudah menjadi hukum alam, bahwa aliran dan faham (mazab) akan selalu bermunculan dan kian banyak seiring perjalanan waktu, sesuai dengan kompleksitas rasio manusia, dan daya nalar yg menimbulkan persepsi dan penafsiran beragam. Apa jadinya kalau mereka saling mengklaim dirinya paling benar ? A : yaaah…berebut kebenaran atau golek benere dhewe. Yang menimbulkan perpecahan, perselisihan, permusuhan, saling curiga, saling menjatuhkan, saling bunuh, saling fitnah. B : akar segala macam fragmentasi dan kehancuran di dalam satu agama, tidak lain disebabkan oleh penafsiran, persepsi dan pemahaman setiap individu, pengikutnya, dan akhirnya menjadi kelompok besar yang siap bersimbah darah demi kesadaran palsunya. A : hmmmm…jadi..? agar supaya agama turut andil menciptakan ketenangan batin, ketentraman, dan kaedamaian dunia ini, idealnya tak usah menekankan akan kebenaran dirinya, tetapi lebih mengutamakan kampanye untuk selalu berbuat baik kepada seluruh makhluk. Nah kebaikan kan relatif, masing2 orang punya penafsiran pula yg berbeda-beda akan nilai kebaikan itu… ? apa patokannya ? sama saja kan…harus kembali “pemurnian diri” ke kitab dan sunah thok thil. Makin bingung saya ! B : pandangan itu terlalu menyempitkan realitas kemahaluasan hakekat Tuhan Yang Mahaluas tiada batas. Idealnya, suatu perbuatan barulah menjadi kebaikan, dengan syarat,

50

tidak menerjang kodrat universe. Kodrat alam semesta. Nilai yang paling universal dan tidak menabrak kodrat alam, adalah setiap perbuatan yang kita lakukan selalu didasari dengan rasa KASIH SAYANG yg tiada bertepi, rasa welas-asih kadya samudra tanpa tepi, welas tanpa alis, kasih sayang yg TULUS, tanpa pamrih. Kecuali berharap saling memberi dan menerima kasih sayang kepada dan dari seluruh makhluk dalam jagad raya ini.

*********SEKIAN

DAN TERIMAKASIH*********

51

SUMBER REFFERENSI :
http://harunyahya.com/en/works/606/ http://id.harunyahya.com/id/works/3175/AL-QUR%E2%80%99AN-MEMBUKA-JALAN-BAGI-ILMUPENGETAHUAN http://en.wikipedia.org/wiki/Islamic_Golden_Age http://en.wikipedia.org/wiki/Neoplatonism http://en.wikipedia.org/wiki/Aristotelianism http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_modern-day_Muslim_scholars_of_Islam http://sabdalangit.wordpress.com/2010/02/09/faq-politik-ketuhanan/ http://www.unisla.ac.id/content/view/215/9/ http://sabdalangit.wordpress.com/2009/07/05/tata-cara-melihat-tuhan/ http://wongalus.wordpress.com/2009/07/02/makrifat-hakekat-tarikat-syariat/ http://sabdalangit.wordpress.com/2008/11/14/membedah-alam-fikiran-siti-jenar/ http://sabdalangit.wordpress.com/category/spiritual-jawa/bagaimana-harus-berserah-diri-papdatuhan/ Novel berjudul Suluk Abdul Jalil : perjalanan ruhani Syaikh Siti jenar, Buku dua.penerbit LkiS : 2003 http://rescomp.stanford.edu/~cheshire/EinsteinQuotes.html http://sabdalangit.wordpress.com/atur-sabdo-pambagyo/rahasia-kekuatan-doa/ http://sabdalangit.wordpress.com/2009/08/21/kontemplasi-ramadhan/ http://sabdalangit.wordpress.com/2008/06/07/membangun-kesadaran-rasa-sejati/ http://sabdalangit.wordpress.com/2010/07/29/pasrah-atau-fatalis-kah-diri-anda/ http://sabdalangit.wordpress.com/2009/09/05/rumus-rumus-tersembunyi-bencana-alam/

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful