BAB I PENDAHULUAN 1. A.

Latar Belakang Setiap orang sepakat bahwa pendidikan adalah investasi hidup yang paling berharga. Melalui pendidikanlah upaya mencetak Sumber Daya Manusia yang berkualitas, beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur dan berkemampuan tinggi akan dapat dicapai.Selengkapnya baca di sini … Sebagaimana diamanatkan dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Salah satu yang tersurat secara implisit dalam penyelenggaraan pendidikan menurut UUSPN yaitu melalui kegiatan bimbingan yang lazim dikenal dengan istilah Bimbingan dan konseling. Keberadaan Bimbingan dan Konseling di sekolah memberikan dampak positif yang amat besar terhadap perkembangan pendidikan dan pribadi siswa, hal ini mengingat banyaknya permasalahan belajar yang dialami siswa. (Ahmadi, Abu & Supriono, Widodo. 2004 : 16) mengemukakan permasalahan belajar yang dihadapi siswa antara lain: 1. 2. 3. 4. Siswa mngalami kesulitan dalam mempersiapkan kondisi fisik dan psikisnya. Siswa tidak dapat mempersiapkan bahan dan peralatan sekolahnya. Sarana dan prasarana di perpustakaan kurang menunjang. Pralatan di laboratorium kurang lengkap, sehingga tidak dapat memberikan pelayanan yang sesuai dengan pelajaran. 5. Siswa tidak mempunyai keberanian untuk menyampaikan pertanyaan atau pernyataan dalam proses pembelajaran. 6. Siswa sering melanggar kedisiplinan kehadiran di sekolah, misalnya sering datang terlambat, sering tidak masuk sekolah, berbicara kotor, over acting ketika belajar. 7. Malas mencatat mata pelajaran. 8. Tidak menindak lanjuti proses belajar mengajar. 9. Tidak bergairah atau termotivasi dalam belajar. 10. Siswa tidak melaksanakan belajar, dan diskusi kelompok. 11. Tidak bergairah dalam melaksanakan tugas atau latihan mata pelajaran. 12. Siswa malas berkonsultasi dengan guru. Dalam praktiknya penanganan masalah-masalah siswa di atas dalam kerangka bimbingan dan konseling diselesaikan melalui konseling individu maupun konseling kelompok. Berbagai teori dikemukakan oleh para ahli mengenai pendekatan atau teknik yang digunakan oleh konselor ketika proses konseling berlangsung. Pada dasarnya pendekatan/teknik konseling itu dibagi tiga (Moh. Surya : 1988). yaitu : teknik konseling direktif, non-direktif dan Eklektif. Teknik Konseling Eklektif merupakan penggabungan dua teknik Konseling Direktif dan Non Direktif Peneliti memadukan kebaikan dua teknik konseling tersebut, mengembangkan dan menerapkan dalam praktek sesuai dengan permasalahan belajar siswa dengan berorientasi pada teknik

hubungan antara konselor dengan klien yaitu Teknik Eklektif dengan Perilaku Attending, yang dikemas dalam sebuah judul penelitian tindakan kelas (PTK) : “Mengatasi Permasalahan Belajar Siswa Kelas IX Semester 2 Melalui Konseling Eklektif Dengan Perilaku Attending di SMP Negeri 1 Singajaya Garut Tahun Pelajaran 2008/2009”. 1. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, masalah-masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Prestasi belajar rendah, Kurang minat belajar, Pelanggaran tata tertib, Membolos, sering terlambat, bertengkar, sulit beradaptasi, pemalu, penakut, penyendiri, berbicara kotor, dan berperilaku kasar

1. C. Pembatasan Masalah dan Rumusan Masalah Permasalahan dalam PTK ini yaitu : 1. Bagaimanakah pengaruh teknik Konseling Eklektif dengan Perilaku Attending dalam mengatasi permasalahan siswa? 2. Bagaimanakah pengaruh teknik Konseling Eklektif dengan Perilaku Attending guru selaku konselor dalam peningkatan prestasi siswa Pemecahan masalah yang dilakukan guru berupa tindakan : 1. 2. 3. 4. Langkah-langkah konseling dengan Perilaku Attending Pengentasan permasalahan siswa Peningkatan hasil prestasi siswa Mengamati pengaruh konseling Eklektif dengan Perilaku Attending terhadap gairah belajar siswa dan prestasi belajar siswa.

1. D. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Teoritik Tujuan teoritik penelitia tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui pengaruh teknik konseling Eklektif dengan penbdekatan attending dalam peningkatan semangat belajar, tanggung jawab siswa sebagai pelajar, mengentaskan permasalahan belajar siswa, serta meningkatkan kemampuan guru untuk membimbing siswa. 1. Tujuan Praktis 1. Membangkitkan semangat siswa untuk belajar 2. Mengatasi permasalahan siswa 3. Meningkatkan partisifasi siswa dalam pembelajaran 4. Meningkatkan prestasi belajar siswa

5. Meningkatkan kemampuan guru dalam membimbing siswa 1. E. Manfaat Hasil Penelitian Konseling Eklektif dengan Perilaku Attending (menghampiri klien) bermanfaat : 1. Bagi Siswa a. Membangkitkan semangat, partisifasi, peran siswa dalam belajar b. Mengatasi permasalahan pribadi dan teman c. Meningkatkan harga diri siswa yang bermasalah/klien d. Menciptakan suasana aman, mempermudah ekspresi perasaan siswa yang bermasalah/klien dengan bebas e. Memberikan dampak positif yang amat besar terhadap perkembangan pendidikan dan pribadi siswa; baik melalui konseling individual maupun konseling kelompok yang dilaksanakan di kelas. 1. Bagi Peneliti hasil penelitian tindakan kelas ini bermanfaat memberikan pemahaman pengaruh Konseling Eklektif dengan Perilaku Attending terhadap pengentasan permasalahan, juga memberikan sumbangan penyempurnaan praktek karena penelitian tindakan kelas ini menghasilkan deskripsi dan analisis tentang kegiatan, proses, atau peristiwa-peristiwa penting dalam bimbingan konseling. 2. Selanjutnya bagi guru, hasil penelitian tindakan kelas ini dapat menjadi cermin menginstropeksikan diri berkenaan dengan tugas guru dalam membimbing siswa di kelasnya. 3. Bagi pengambil kebijakan khususnya yang terkait dengan pembelajaran di SMP, hasil penelitian tindakan kelas ini memberi sumbangan bagi perumusan, implementasi dan perubahan kebijakan; sebagai upaya perbaikan sistem bimbingan konseling guna peningkatan mutu pendidikan dan pelayanan pendidikan di sekolah dasar. BAB II KAJIAN PUSTAKA 1. A. Kajian Teori 1. 1. Pengertian Prestasi Belajar Untuk memahami apa yang dimaksud dengan prestasi belajar, tentu mudah memberikan jawaban dengan begitu saja, mengingat bayak komponen dan faktor yang ikut melatarbelakanginya. Ada faktor yang berasal dari luar diri siswa, dan ada pula yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri yaitu faktor psikologis dan pisiologi.

2). berbagai faktor yang terlibat dalam proses belajar dan akhirnya mengemukakan tentang prestasi belajar tersebut. dan untuk lebih memudahkan dalam memehami pengertian prestasi belajar. Sedangkan Prandsen (1957 : 43) memberikan batasan belajar sebagai berikut : ……. over activity. Faktor-faktor dalam diri murid (intern) dan faktor yang datang dari luar (extern) secara bersama-sama turut mempengaruhi kegiatan belajar murid yang hasilnya tercermin dalam perubahan pola-pola perilaku mereka. which results in more adequate satisfaction of the motivating conditions. a change in experience or behavior resulting from purposeful observation. Pengertian belajar dapat disimpulkan : a) Belajar adalah memperoleh perubahan tingkah laku. e) belajar merupakan suatu bentuk pengalaman. c) belajar merupakan suatu proses. Faktor-faktor yang terlibat dalam proses belajar Pada dasarnya kehidupan sekolah tidak ubahnya dengan kehidupan sosial yang sangat luas. Abin Syamsudin (2003 : 134) merangkumkan pengertian belajar dari beberapa ahli dalam satu pernyataan yakni suatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang. (Nana S. Pengertian Belajar Skinner mengartikan belajar sebagai suatu proses adaptasi perilaku secara progresif. Surya. Interaksi antara sejumlah individu dalam lingkungan sekolah.Meskipun demikan tidak mengurangi makna ungkapan diatas. b) hasil belajar ditandai dengan perubahan seluruh aspek tingkah laku. Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku atau pengalaman sebagai akibat dari perhatian terhadap tujuan atas kegiatannya. juga terlibatnya lingkungan sekitar. or thingking. and accompairid by motivational-emosional reactions. 1975 : 59). Abi Syamsudin (2003 : 143) mengemukakan sebuah bagan yang melukiskan betapa kompleknya kemungkinan interaksi antar berbagai aktor atau komponen yang mempengaruhi belajar mengajar (PBM) di sekolah. sebagai akibat dari kepuasan yang memadai dari kondosi dorongannya. dan M. d) proses belajar terjadi karena adanya dorongan dan tujuan yang akan dicapai. atau hasil berpikir dan disertai dengan dorongan dan reaksi emosi. Sekolah merupakan miniatur kehidupan sosial. Para siswa yang belajar berusaha mempersiapkan diri untuk memasuki kehidupan sosial secara matang. Bagan 1 : Komponen-komponen yang terlibat dalam PBM (Abin Syamsudin. 2003 : 143) . sehingga mewujudkan kondisi yang amat kompleks dalam proses belajar mengajar di sekolah. 1)..

perkembangan. minat. bakat. Interaksi ketiga masukan tersebut dapat mempengaruhi keluaran yang diharapkan (expected output) yaitu berupa hasil belajar para siswa. Yakni merupakan berlangsungnya PBM.Bagan di atas menjelaskan bahwa ada tiga masukan (input) yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama turut mempengaruhi PBM. Pelayanan Bimbingan dan Konseling memfasilitasi pengembangan peserta didik. situasi dan keadaan fisik sekolah. melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. dan hasil dari proses itu (akan) tercermin dalam bentuk prestasi belajar. 2. serta perencanaan dan pengembangan karir. Ketiga masukan lingkungan (environmental input) yakni letak sekolah. dan perencanaan karir. kondisi. kehidupan sosial. serta peluang-peluang yang dimiliki. dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi. hubungan antar individu di dalamnya dan faktor-faktor yang dapat menjadi penunjang atau penghambat bagi berlangsungnya PBM secaraberhasil. Pelayanan ini juga membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi peserta didik. kegiatan belajar. secara individual. 3). Kedua masukan instrumental atau sarana (Instrumental input). yakni berbagai karakteristik yang dimiliki oleh individu atau siswa ketika memasuki suatu PBM. Ketiga kawasan keprilakuan manusia itu ialah kawasan kognitif (cognitive domain). Dengan demikian. Pertama masukan mentah (raw input). Bidang Pelayanan Bimbingan dan Konseling . berbagai karakteristik yang mencakup baik yang akan memberikan kemudahan atau merupakan kendala dalam belajar sisa. Pengertian Bimbingan dan Konseling Bimbingan dan Konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik. agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal. kelompok dan atau klasikal. A. Siswa sebagai raw input mempunyai pembawaan yang beraneka ragam. kemampuan belajar. Prestasi belajar (achevoment) dapat diketahui dengan mengevaluasi mereka dengan mempergunakan tes tertentu. potensi. dan kawasan psikomotorik (psychomotorik domain). kawasan afektif (affective domain). misalnya : kapasitas dasar bakat mempengaruhi proses serta hasil belajar yang dicapai. Bloom dan kawan-kawan membedakan hasil belajar yang diharapkan itu berdasarkan atas kawasan (taxonomy). susunan sekolah. mulai yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Starategi Dasar Layanan Bimbingan di SMP Pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah/madrasah merupakan usaha membantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi. sesuai dengan kebutuhan. berdasarkan norma-norma yang berlaku. bagan tadi menunjukan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa di sekolah. 1. Sebagai mahluk individual tentunya banyak hal yang berbeda. kehidupan sosial. baik secara perorangan maupun kelompok. B. Prestasi Belajar Bagan yang dikemukakan oleh Abin Syamsuddin di atas kiranya cukup jelas memberikan gambaran mengenai banyaknya faktor yang mempengaruhi PBM.

Dengan demikian inisiatif dan peranan utama pemecahan masalah lebih banyak ditentukan oleh konselor. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. dan . 4. C. Fungsi Bimbingan dan Konseling 1. Pencegahan. anggota keluarga. yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mampu mencegah atau menghindarkan diri dari berbagai permasalahan yang dapat menghambat perkembangan dirinya. yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memelihara dan menumbuh-kembangkan berbagai potensi dan kondisi positif yang dimilikinya. dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. bakat dan minat. menilai. Konseling Eklektif yang mengambil berbagai kebaikan dari dua kebaikan dari dua pendekatan atau dari berbagai teori konseling. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi. D. Klien bersifat menerima perlakuan dan lebih banyak ditentukan oleh konselor. Pengembangan karir. yaitu layanan konseling yang berorientasi pada perubahan tingkah laku secara langsung. Surya : 1988). Advokasi. Diagnosis direktif konseling beraliran Behavioristik. 2. dan mengembangkan potensi dan kecakapan. 3. Pemeliharaan dan pengembangan. Pengentasan. mengembangkan dan menerapkan dalam praktek sesuai dengan permasalahan klien. Pemahaman. 1. dan yang aktif adalah konselor. yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memperoleh pembelaan atas hak dan atau kepentingannya yang kurang mendapat perhatian. 5. yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memahami diri dan lingkungannya. Pengembangan kemampuan belajar. Konseling Direktif Dalam konseling direktif klien bersifat pasif. Konseling Eklektif lebih tepat dan sesuai dengan filsafat tujuan bimbingan dan konseling dari pada sikap yang hanya mengandalkan satu pendekatan satu pendekatan atau satu dua teori tertentu saja (Moh. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami. 1. serta memilih dan mengambil keputusan karir. yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mengatasi masalah yang dialaminya. Selain itu diperlukan konseling secara individual. Dalam konseling direktif diperlukan data yag lengkap dengan klien untuk dipergunakan diagnosis. Pengembangan kehidupan sosial. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya.Pengembangan kehidupan pribadi. Teknik Konseling Konseling Eklektif Teknik Konseling Eklektif merupakan penggabungan dua pendekatan Direktif dan Non-Direktif. serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik.

Potensi dan kemampuan yang berkembang menjadi penggerak bagi upaya individu untuk mencapai tujuan-tujuan hidupnya. jarang duduk. maka dalam konseling. Meningkatkan harga diri klien. dan berpaling. tersebut juga Client Centered theraphy. ekspresi melalun. dan bahasa lisan. 2004 : 176). Perlu dihindari konselor berpenampilan attending yang kurang baik seperti: kepala kaku. duduk kurang akrab. Contoh perilaku attending yang baik :  Kepala : melakukan anggukan jika setuju . dan permisif. Willis. Menurut Roger menjadi tanggung jawab klien sendiri untuk membantu dirinya sendiri. Teori ini didasari kajejat manusia. menciptakan hubungan konseling yang hangat. Attending baik untuk meningkatkan harga diri klien yang bebas. sehingga klien akan terlihat dalam pembicaraan terbuka. mudah buyar oleh gangguan (Sofyan. Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. potensi dan kemampuannya itu tidak dapat berkembang atau berfungsi sebagaimana mestinya. bahasa lisan. berbicara terus tanpa ada teknik dim untuk memberi kesempatan klien guna berpikir dan berbicara. Merupakan upaya bantuan pemecahan masalah yang berpusat pada klien. Willis. Pendekatan ini berasumsi dasar bahwa seseorang yang mempunyai masalah sendiri. 2004 : 176). dan tingkah lakunya : pendekatan konseling beraliran Humanistik (Sofyan. Penelitian konselor terpecah. Memutuskan pembicaraan. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. pendekatan ini diperoleh oleh Carl Rongers dan Universitas Wiconsin di Amerika Serikat. Aliran ini menekankan pentingnyapengembangan potensi dan kemampuan yang secara hakiki ada pada diri setiap individu. Konseling Non-Direktif Teknik konseling Non-Direktif. mata melotot. mengalihkan pandangan. bahasa tubuh. Tetapi oleh karena suatu hambatan. 1. Untuk memfungsikan kembali kemampuannya klien memerlukan bantuan. perasaan dan pikiran-pikirannya secara bebas. Prinsip yang penting adalah mengupayakan agar dengan baik. (teknik menghadapi klien) melalui kontak mata. tidak terlihat saat klien sedang bicara. Posisi tubuh bersandar miring. 2. S. inisiatif dan peranan untama terletak pada pundak klien sendiri. 1. jarak duduk menjauh. bahwa badan. Sedangkan kewajiban dan peran konselor hanya mempersiapkan suasana agar potensi dan kemampuan yang pada dasarnya ada pada klien untuk berkembang secara optimal. S. muka kaku. Perilaku attending yang baik dapat: 1.kelompok pada bimbingan konsultasi lainnya yang memberikan sumbangan langsung kepada keberhasilan siswa sekolah maupun di luar sekolah. klien diberi kesempatan untuk mengemukakan persoalan. tegak kaku. Laporan tersebut secara langsung dibenarkan dan mendapat dukungan hasil diagnosis yang pada umumnya berbentuk kegiatan yang langsung ditujukan pada pengubahan tingkah laku klien. Perilaku Attending Perilaku Attending . Menciptakan suasana yang aman 3.

Memutuskan pembicaraan. menguntungkan anak. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. dan orang tua hendaknya saling bekerjasama. mudah buyar oleh gangguan luar. mata melotot. Maka fungsi konselor dengan segala peran yang dapat diberikan kepada mereka. Guru sebagai konselor harus memiliki khasanah teori dan teknik konseling yang justru jauh lebih kaya dari pada mereka yang bertjuan di lingkungan sekolah yang lebih tinggi (HM. melakukan kegiatan yang menyenangkan. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). Teori dan teknik-teknik konseling peorangan yang dipakai untuk anak-anak SMP. akan dirasakan denkat dan banyak dikunjungi anak. Posisi tubuh : tegak kaku. Melalui konseling Eklektif dengan Perilaku Attending yang berorientasi kepada pengubahan tigkah laku secara langsung. akan memberikan sumbangan kepada keberhasilan siswa di sekolah maupun di luar sekolah. lalu guru dapat memberi bantuan dan dapat pula mengalih tangankan kepada konselor / Kepala Sekolah yang masih cukup memiliki pemahaman tentang siswanya sebagai konselor yang aktif. sikap-sikap kebiasaan belajar. Dari rujukan di atas cukup alasan perlunya anak SMP memperoleh bimbigan konseling menggunakan konseling Eklektif dengan Perilaku Attending secara . miring. yaitu guru selaku konselor. Arifin 2003: 22).    Ekspresi wajah : tenang. duduk kurang akrab dan berpaling. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. menunggu ucapan klien hingga selesai. Kepala Sekolah. sering menciptakan suasana. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. ekspresi melamun. menggunakan tangan sebagai isyarat. Mendengarkan : aktif penuh perhatian.  1. perhatian terarah pada lawan bicara. karena itu klien membutuhkan bantuan dari orang lain. bersandar. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. Contoh perilaku attending yang tidak baik :     Kepala : kaku Muka : kaku. dan konselor bertanggung jawab penuh melindungi kerahasiaan mereka. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. Perhatian : terpecah. akan banyak menentukan frekuensi dan intensitas pemanfaatan jasa konseling anak. jarak duduk dengan klien menjauh. Kajian Hasil Penelitian Penelitian tindakan kelas mempergunakan Konseling Eklektif dengan Perilaku Attending dalam mengatasi permasalahan siswa kelas IX yang rata-rata berusia 15-16 tahun dengan berasumsi dasar bahwa siswa/klien kurang mampu mengatasi sendiri terhadap masalah yang dihadapi. mengalihkan pandangan. ceria. Guru paling dekat bergaul. banyak perhatian. Anak SMP perlu banyak perhatian. tingkah laku yang menyimpang dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan anak-anak yang dapat diketahui secara langsung oleh guru. hubungan sosial mereka. mendorong anak agar mampu datang untuk memperoleh layanan bimbingan Selanjutnya guru. B. memperhatikan segenap tingkah laku anak-anak sehari-hari di sekolah. tidak melihat saat klien sedang bicara. senyum Posisi tubuh : agak condong ke arah klien.

aktif penuh perhatian. sumber data peristiwa : hasil observasi. Merefleksi/pematulan kembali perasaan. Objek Tindakan Objek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IX C SMP Negeri 1 Singajaya berjumlah 40 siswa dengan rincian 22 laki-laki dan 18 perempuan. berani bertanya Tidak berbicara kotor. 1. Directing/mengarahkan klien 11. Mengamati. tersenyum 5. artifak yang berasal dari siswa/klien maupun dari guru/konselor dan peneliti. gembira. 2. Kesabaran mendengarkan. Subjek Penelitian Subjek penelitian tindakan kelas ini meliputi : data-data hasil wawancara terhadap responden. BAB III METODE PENELITIAN 1. menerima nasihat. duduk akan berhadapan atau berdampingan 6. B. Subjek penelitian yang berasal dari siswa berupa hasil pengamatan tentang : 1. mengumpulkan data tentang sejauh manakah pengaruh bimbingan konseling menggunakan teknik attending Eklektif terhadap gairah belajar siswa dan prestasi belajar siswa 2. membuka diri. Guru selaku konselor dalam attending selalu berupaya untuk berpenampilan baik. tidak bertengkar Berani berpendapat. 3. Tercapainya tujuan pokok bimbingan konseling 3. A. mencatat. Partisipasi dalam belajar. Interprestasi/berupaya megulas pemikiran. jarak dekat. pikiran pengalaman klien 10.terprogram. seperti: kepala mengangguk jika setuju dan melakukan kontak pandang dengan siswa/klien 4. Bertanya membuka percakapan dan menyampaikan pertanyaan tertutup terhadap klien . Ekspresi wajah guru/konselor tenag. 8. Paraphasing/dapat menangkap pesan utama klien 12. perilaku yang merujuk pada teori 13. Lokasi. 4. Empati ikut merasakan apa yang dirasakan klien 9. bekerja sama. Posisi tubuh konselor agak condong kearah klien. menunggu ucapan klien hingga selesai. berterus terang Cerita. Setting. hasil analisis dokumen. Tangan konselor bervariasi melakukan gerakan tangan/lengan spontans berubah arah sebagai syarat menekankan ucapan 7. Selanjutnya peneliti menyakini akan membawa perubahanyang sangat berarti bagi siswa. merencanakan tindakan Guru/konselor dalam kegiatan bimbingan konseling berupa : 1. perasaan. ceria.

3. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui. penerapan dan pentingnya bimbingan kelompok dan pendekatan konseling Eklektif guna mengatasi permasalahan belajar. Analisa Dokumen Analisa dokumen akan dilakukan terhadap dokumen-dokumen : data hasil pengamatan. Pemberian nasehat. tempat. 1. Wawancara Wawancara dilakukan oleh peneliti terhadap guru (selaku konselor) dan siswa. Pengamatan/Observasi Pengamatan akan dilakukan terhadap konselor dan siswa untuk memantau proses dan danpak penanganan masalah belajar melalui pendekatan Eklektif Attending dalam penggunaan permasalah belajar siswa teknik pengamatan yang akan digunakan adalah pengamatan berperan secara aktif sebagaimana dikemukakan oleh Spradley (1980) ditulis kembali Joko Nurkamto (2003 : 12) berperan aktif di dalam pengertian kegiatan alih tangan konselor kepala sekolah. Memberi kesempatan kepada klien untuk feed back/mengambil kilah baik dari hal-hal yang telah dibicarakan 18. Penyimpulan hasil secara bertahap guna meningkatkan kualitas diskusi 19. 1. dokumen/artifak (Sutopo. Minimal Encouragment atau memberikan dorongan langsung terhadap apa yang dikatakan klien 15. 2. C. Kemudian hasil pengamatan akan dipergunakan guna menata langkah-langkah perbaikan pada siklus berikutnya. Tujuannya adalah untuk melengkapi informasi yang telah diuperoleh melalui pengamatan dan wawancara. 1996: 49-51). Indikator kinerja penelitian tindakan kelas bimbingan konseling berupa : .14. Penyimpulan sementara/Summariing 17. juga dari catatan lapangan pelaksanaan penelitian tindakan kelas dalam upaya penanganan permasalahan belajar siswa. yaitu : wawancara untuk sumber dataresponden. informasi dan merencanakan tindakan selanjutnya Setting Lokasi Penelitian tindakan Kelas ini ruang kelas IX dan ruang guru BP SMP Negeri 1 Singajaya Kabupaten Garut. 1. Informasi tersebut digali dari empat sumber yaitu : peristiwa/kegiatan. data hasil wawancara serta yang digali dari empat sumber yaitu : peristiwa / kegiatan. dokumen atau artifak terhadap guru dan siswa. tempat. observasi untuk sumber data perietiwa dan analisis dokumen untuk sumber data dokumen. 1. pelaku peristiwa. 1. Bertindak sebagai leading/memimpin arah pembicaraan 16. Tujuannya adalah ntuk memperoleh data informasi untuk pemahaman. pelaku peristiwa.

Implementasi Pada implementasi guru menyusun pelaksanaan bimbingan konseling menggunakan Konseling Eklektif dengan Perilaku Attending. Refleksi Mendiskusikan hasil pengamatan dan wawancara untuk perbaikan pada pelaksanaan siklus II. 4. 3. 2005: 43). Kemudian langkah-langkah prosedur kerja yang dipergunakan menggunakan tahapan-tahapan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari tiga siklus. 2. guru mengamati penanganan permasalahan belajar siswa yang terdiri dari tahapan : 1. masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan. Perilaku Attending. respon siswa. penyebabnya dan dirumuskan implementasi penanganannya termasuk dalam perencanaan langkah-langkah bimbingan konseling menggunakan Konseling Eklektif dengan Perilaku Attending : analisa data tentang klien. 2. Permasalahan siswa dapat teratasi Bangkitnya semangat siswa untuk belajar Partisipasi siswa dalam pembelajaran meningkat Peningkatan prestasi belajar siswa Peningkatan kemampuan guru membimbing siswa Peneliti melakukan persiapan awal mulai tanggal 13 Januari 2009 meliputi kegiatan: mengadakan kontak awal dan kesepakatan denga reponden. hasil pengamatan dan wawancara. dan tindak lanjut dan peninjauan hasil-hasil konseling begitu juga perencanaan pembentukan bimbingan individual terhadap tiga orang siswa berdasarkan permasalahan yang sama (kebiasaan buruk dalam belajar. demikian pula hasil pelaksanaan pengamatan dan wawancara siklus II untuk perbaikan pada siklus III. serta memilih informasi (Sugiharto. berbicara kotor.1. guna membangun mempertahankan kepercayaan. 4. evaluasi dan refleksi. implementasi. pemecahan masalah. diagnosis masalah diagnosis masalah prognosis atau prediksi tentang perkembangan masalah selanjutnya. Metode Analisis Data . 1. yaitu : perencanaan. Perencanaan Mendiagnosis permasalahan belajar siswa. 5. Observasi dan Evaluasi Peneliti dan rekan guru berkolaborasi untuk melakukan pengamatan. 3. 1. dan bertengkar) serta merencanakan instrumen pengamatan danwawancara. D. observasi. 1. (jadwal penelitian terlampir) 1. jalannya bimbingan kelompok melalui Teknik Eklektif. 1.

Selanjutnya dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan strategi untuk meningkatkan validasi. 7) melakukan kritik dari dengan mengajukan pertanyaan tentang peranan dan kegiatan dalam seluruh proses penelitian tindakan kelas tersebut. tolak ukur dan merefleksi peneliti dan guru selaku konselor atas kelmahan yang terekam. gembira. Selanjutnya data-data yang didapat pada siklus I. pengelompokan. Bahasa partisipan kata demi katamendapat rumusan dan kutipan yang rinci 4. perpanjangan dan guru selaku konselor melalui ketekunan pengamatan. menganalisis melapor data dan kasus-kasus negatif atau yang berbeda dengan pola yang ada Bahkan untuk meningkatkan refleksitas dalam pengumpulan data. Penjelasan perbandingan sebagai fenomena yang dapat digunakan untuk membandingkan. mencatat. berani bertanya. Cara Pengambilan Kesimpulan Hasil pengumpulan data. Dengan demikian terjadi interaksi antara proses pengumpulan data dan analisis data serta elemen-elemen lain seperti pencatatan data. 4) catatan tentang pertentangan etika. kelompok utama. dan review informan . dan merencanakan tindakan. Interaksi berbagai elemen tersebut membentuk pola siklikal. Selanjutnya data yang disajikan. orang dan kegiatan. dan sumber (Kepala Sekolah. E. triangulasi. yaitu: Pengumpulan data relatif cukup lama guna memungkinkan analisa dan melengkapi data secara berangsur-angsur agar memungkinkan ada kesesuaian antara taman dan kenyataan 1. 5) teknik pengelolaan pencatatan. membuka diri. keputusan dan tindakan dalam jurnal lapangan. melainkan akan dilakukan secara stimulat pada saat dan setelah data terkumpul. peneliti menggabungkan beberapa cara. jam. 2) membuat catatan harian yang memuat tanggal. berupa tabel yang memuat secara nominal dan dapat ditentukan 5-nya kemudian didiskripsikan kearah kecenderungan tindakan guru selaku konselor dan sekasinya dalam bentuk partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar menunjukan semangat. pengkodean data. studi dokumenter. 1. tidak bertengkar. melakukan sintesis semua hasil wawancara dan observasi 8. berani berpendapat. tidak berbicara kotor. dan mengajukan pertanyaan penelitian. siswa / klien) hanya dalam pengumpulan dan analisis data (triangulasi) 2. Pengecekan data oleh semua anggota selama pengumpulan dan analisis data 6. wawancara. dan III dibandingkan kemudian diungkapkan dalam bentuk kata-kata. Pencatatan secara lengkap dan detail baik sumber situasi maupun orang 3. guru/konselor. perubahan-perubahan dan perkiraan validitas data. bekerja sama. Penggunaan catatan-catatan dari partisipan berbentuk catatan anekdot untuk melengkapi 5. ceria.Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah model Sprandley. berpartisifasi aktif. Penerapan multi metode guna memungkinkan paduan beberapa teknik pengumpulan data seperti : wawancara. pemeriksaan keabsahan data yang diperoleh peneliti guru selaku konselor melalui ketekunan pengamatan. penulisan laporan sementara. Data deskriftif yang dikumpulkan peneliti dan guru merupakan hasil kolaborasi tim 7. perpanjangan keikutsertaan peneliti. berterus terang. II. dalam pelaksanaan analisis data tidak silakukan secara linier berurutan setelah semua data yang terkumpul. 1) Memilih teman yang dapat membantu mempermudah analisis dan interprestasi data. tempat. Review oleh partisipan : bertanya kepada partisipan untuk mereview data. Mencari. 6) Melakukan kegiatan kompirmasi formal seperti. menerima naehat. observasi.

observasi. Guru/Konselor menganalisis data tentang klien . penyebab permasalahan dirumuskan b. siswa bersemangat. bertengkar Penyebab 2 Kurang keteladanan dan perhatian dari orang tua Keputusan Bertindak Usaha Pemecahan/Mengatasi Masalah 3 Pengendalian diri sebagai tindak lanjut agar siswa tidak berbicara. Perencanaan a. membuka diri. menerima nasehat dan merencanakan tindakan. A. implementasi. bekerja sama. 1. Teknik Eklektif dan Perilaku Attending dinyatakan efektif dalam menangani dan mengentaskan permasalahan siswamanakala data Hasil Observasi Kegiatan guru dan Data Hasil Observasi Kepribadian Siswa yang merekam dalam tabel menunjukan rata-rata > 60 % dan data hasil wawancara menunjukan respon positif dan cocok dengan kajian pustaka. berani berpendapat. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Perilaku Attending terbukti efektif apabila dalam kegiatan tindakan kelas ini permasalahan siswa dapat diatasi. evaluasi dan refleksi. a. 1. Gambaran Umum Peneliti selaku konselor menyusun perencanaan penelitian tindakan kelas dalam bimbingan konseling individual terhadap tiga orang siswa yang mempunyai kesaman permasalahan belajar melalui Teknik Eklektif dan Perilaku Attending Tahap Kerja Identifikasi Masalah 1 Berbicara kotor / tidak senonoh. ceria. berterus terang. berpartisipasi aktif. berani bertanya.sebagai kunci dalam penelitian tindakan kelas siklus I. tidak bertengkar. Kemudian muncul pengaruh peningkatan kemampuan guru dalam membimbing siswa sehingga prestasi belajar siswa dapat meningkat. gembira. Mendiagnosis permasalahan belajar siswa. memberi tugas dan berdoa 1. II. dan III selanjutnya dipergunakan peneliti dan guru untuk mengambil keputusan. Guru menyampaikan penanganan permasalahan belajar siswa menggunakan tahapan-tahapan atau langkah-langkah Teknik Eklektif dan Perilaku Attending c. tidak berbicara kotor. Siklus I Siklus I terdiri dari empat tahapan yaitu : perencanaan.

pukul 11. Merancang instrumen pengamatan dan wawancara 1. Guru menanyakan penanganan permasalahan belajar siswa menggunakan tahapan-tahapan atau langkah-langkah Eklektif Attending 3.00 – 11. b. mereka duduk berhadapan dengan guru/konselor. Implementasi Bimbingan dilaksanakan di ruang guru menggunakan Pendekatan Eklektif dan Perilaku Attending peneliti mengamati penanganan permasalahan belajar siswa yang terdiri dari : a. Y. Mendiagnosis permasalahan belajar siswa. 3. 1. Tahap Awal (10 menit) : pukul 11. Secara bergantian konselor menanyai klien.00 1.55 Konselor langsung menuju kepermasalahan mereka . Tahap pertengahan (45 menit) . maka peneliti dan konselor sepakat untuk mengadakan perencanaan perbaikan guna perbaikan kegiatan konseling pelaksanan siklus II. 4. Y. b. melakukan pemantauan hasil pengamatan dan wawancara. yaitu tentang perkataan tindak senonoh. pukul 11. c. Guru/Konselor melaksanakan sintesis data untuk mengenal kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan klien e.10 – 11. Tahap akhir (5 menit) . 1. dan Z untuk mendefinisikan masalah. dan Z. Satu persatu klien dipanggil. yaitu pukul 11. Perencanan 1.55 – 12. Refleksi Mendiskusikan hasil pengamatan dan wawancara. tindak lanjut dan peninjauan hasil-hasil konseling f.10 Konselor mengajak klien X. Bimbingan Konseling dilaksanakan sebelum kegiatan belajar mengajar . Berdasarkan hasil pengamatan siklus I yang belum menunjukan perkembangan. Diagnosis masalah prognosis atau prediksi tentang perkembangan masalah selanjutnya pemecahan masalah. penyebab permasalahan dirumuskan 2. dimulai dari X.d.00 Guru selaku konselor mengajark tiga orang siswa yang bermasalah sama ke ruang guru. Siklus II 1. 2. Guru/Konselor menganalisis data tentang klien . mengamati jalannya bimbingan kelompok dan Konseling Eklektif dengan Perilaku Attending menilai respon siswa. 1. Observasi dan Evaluasi Peneliti dan rekan guru berkolaborasi untuk melakukan pengamatan.

konselor mendengarkan penjelasan dari siswa dengan cukup perhatian. ceria. Tahap Pertengahan (45 menit) pukul 11. Implementasi Pada implementasi guru kelas selaku konselor melaksanakan bimbingan konseling mengadakan Pendekatan Eklektif Attending di ruang guru. Merancang instrumen pengamatan dan wawancara 7. Guru kelas IX melaksanakan sintesis data untuk mengenal kekuatankekuatan dan kelemahan-kelemahan klien 5. maka konselor mencoba untuk merefleksikan memantulkan kembali perasaan. tindak lanjut dan peninjauan hasil-hasil konseling. Posisi tubuh konselor condong kearah klien. tidak mau bahkan tidak dapat berterus terang b.10 Tindakan I Konselor bertanya untuk membuka percakapan dengan klien raut dengan wajah yang menunjukan keramahan. tersenyum. selanjutnya peneliti mengamati penanganan permasalahan belajar siswa yang terdiri dari : a. pengalaman klien Tindakan 6 Konselor menggali perasan. Tahap awal (10 menit) pukul 11. Ekspresi wajah guru/konselor tenang. Tindakan 2 Dalam siklus II Konselor melakukan kegiatan Attending cukup baik kepala mengangguk jika setuju dan konselor melakukan kontak pandang dengan siswa/klien. sabar menunggu penjelasan klien. Diagnosis masalah prognosis atau prediksi tentang perkembangan masalah selanjutnya pemecahan masalah.00 – 11. Tindakan 5 Karena klien masih diam saja.10 – 11. pengalaman. 6. dan pikiran klien karena kebanyakan tertutup/menyimpan rahasia. Tindakan 3 Empati konselor (berusaha ikut merasakan apa yang dirasakan klien) Tindakan 4 Konselor meminta klien untuk menjelaskan lebih lanjut jauh tentang perasaan X berupa pertanyaan terbuka.55 . 2. pikiran.4.

konselor belajar dengan definisi masalah bersama-sama klien. konselor mengatakan inti pesan utama klien yang berbelit-belit Tindakan 3 Konselor melakukan directing / mengarahkan agar klien bermain peran. terus…lalu…Dan …kemudian…. merencanakan tindakan selanjutnya Tindakan 9 Konselor memberikan manfaat Tindakan 10 . Oh …ya…..mmmhh…. kegelisahan yang bertentangan dengan apa yang dikemukakan maka konselor mengadakan Tindakan 7 Guru selaku konselor mengadakan Minimal Encouragement atau memberikan dorongan langsung terhadap apa yang dikatakan klien.. Tindakan 8 Konselor memberikan informasi. sorot mata. tujuan untuk mengolah maalah klien yang sudah didefinisikan maka konselor melakukan : Tindakan 1 Guru selaku konselor bertindak sebagai leading / memimpin agar klien tidak melantur Tindakan 2 Konselor melaksanakan paraphrasing / menangkap pesan utama / fokus klien. menghayal sebagaimana kejadian yang dituturkan kepada konselor Tindakan 4 Konselor mencoba menaksir keinginan X Tindakan 5 Konselor membantu klien untuk memperjelas perubahan sikap yang mestinya dapat mereka lakukan Tindakan 6 Saat klien mengatakan hal yang tidak sama dengan perasaan. Wah …. berbuat sesuatu.

00 Tindakan 1 Konseling menyampaikan hasil secara bertahap guna meningkatkan kualitas diskusi. Konselor dan peneliti mendiagnosis kembali permasalahan belajar siswa penyebab permasalahan dirumuskan 2. kepala mengangguk jika setuju dan konselor melakukan kontak pandang dengan siswa cukup santai. dan ramah.55 – 12. penampilan guru juga baik. tenang. perbuatan nyata yang produktif bagi kemajuan dirinya Tindakan 4 Menilai / evaluasi (“Bagaimanakah perasaan nanda sekarang?”) Tindakan 5 Mengakhiri proses konseling 1. tindak lanjut dan peninjauan hasil-hasil konseling. 2. Guru kelas IX melaksanakan sintesis data untuk mengenal kekuatankekuatan dan kelemahan-kelemahan klien 4. tahap pertengahan dan tahap akhir . memperjeles fokus pada wawancara konseling Tindakan 2 Konselor perlu mendorong klien untuk mengatakan hal yang sebenarnya melalui attending yang baik Tindakan 3 Menjelang akhir konseling konselor membantu klien untuk merencanakan / memprogram untuk action. Siklus III 1. yaitu konselor bertanya untuk membuka percakapan dengan raut wajah yang sudah menunjukan keramahan. . 5. konselor lebih mengoptimalkan penanganan masalah melalui Teknik Eklektif dan Perilaku Attending pada : Tahap awal. c. 1. Diagnosis masalah prognosis atau prediksi tentang perkembangan masalah selanjutnya pemecahan masalahan. Perencanaan 1. Implementasi Pada prinsipnya implementasi siklus III seperti pada siklus II . Guru mengupayakan penanganan permasalahan belajar siswa menggunakan tahapan-tahapan atau langkah-langkah Eklektif Attending 3. Tahap akhir / tahap Action (5 menit) pukul 11.Konselor memberikan manfaat pada klien untuk feed back/ mengambil kilah balik dari hal-hal yang telah dibicarakan c.

dan penyusunan laporan berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara. Diagnosis masalah prognosis atau prediksi tentang perkembangan masalah selanjutnya pemecahan masalah. dan Z terbuka untuk mengemukakan isi hatinya. Juga kesedihannya. Guru mengupayakan penanganan permasalahan belajar siswa menggunakan tahapan-tahapan atau langkah-langkah teknik Eklektif dan Perilaku Attending 3. Perencanaan 1. peneliti mengamati penanganan permasalahan belajar siswa yang terdiri dari : 1. Konselor berusaha ikut merasakan apa yang dirasakan klien sehingga X. Mmmhh…. Pembahasan Per Siklus Siklus I Siklus I terdiri dari empat tahapan yaitu : perencanaan.. Guru / Konselor menganalisis data tentang klien 4. Oh …. 1.Posisi tubuh konselor agak condong kearah klien. tindak lanjut dan peninjauan hasil-hasil konseling 6. Observasi dan Evaluasi Peneliti dan rekan guru berkolaborasi untuk melakukan pengamatan. 1. a. maka peneliti atau konselor sepakat untuk menganalisa data.. Merancang instrument pengamatan dan wawancara 7. Konselor memuji ide X. implementasi. 2. observasi. tangan digerakan sesuai kebutuhan untuk lebih menyakinkan klien. Mendiagnosis permasalahan belajar siswa penyebab permaalahan dirumuskan 2. Guru kelas IX melaksanakan sintesis data untuk mengenal kekuatan-kekuatan dan kelemahan klien 5.... telah menunjukan perkembangan. Berdasarkan hasil pengamatan siklus III. 1. Implementasi Pada saat implementasi konselor melaksanakan bimbingan konseling menggunakan Pendekatan Konseling Eklektif dengan Perilaku Attending. Tahap awal (10 menit) .konselor memberi kesempatan pada klien untuk feed back/ mengambil alih balik dari hal-hal yang telah dibicarakan.kemudian …. Dan …. guru selaku konselor mengadakan Minimal Encouragment atau memberikan dorongan langsung terhadap apa yang dikatakan klien. B.ya…. terus…. Y. Wah…. 4. Refleksi Mendiskusikan hasil pengamatan dan wawancara. 1. evaluasi dan refleksi 1. mengamati jalannya bimbingan individual dan Eklektif Attending serta menilai respon siswa. malakukan pemantauan hasil pengamatan dan wawancara. 3.

c. dan guru berpesan agar mereka berpamitan kepada orang tua. klien membalas sapaan gurunya. 4. Satu persatu dipanggil. dan Z untuk menjawab. maka peneliti dan konselor sepakat untuk mengadakan perencanaan perbaikan guna perbaikan kegiatan bimbingan konseling pada pelaksanaan siklus II.00 guru selaku konselor mengajak tiga orang siswa yang bermasalah sama ke ruang kelas. dan Z untuk mendefinisikan masalah. Tahap Pertengahan (45 menit) Konselor langsung menuju ke permasalahan . Guru meminta siswa untuk berjanji tidak mengulang lagi kejadian diatas. bersiap untuk belajar bersama siswa yang lain. yaitu berkata tidak senonoh.Konselor mengajak klien X. Sambil menundukan kepala. sehingga keterangan belum banyak diperoleh pada saat pertengahan. Bimbingan konseling dilaksanakan sebelum kegiatan belajar mengajar. 1. Guru menekankan bahwa apabila perbuatan ibi diulang lagi akan dikeluarkan dari sekolah. 1. maka mereka akan dikeluarkan dari sekolah. agak marah. Tahap Akhir (5 menit) Konselor mengingatkan sekali lagi bahwa anak sekolah tidak boleh berbicara kotor dan bertengkar dengan siapa saja. Klien hanya menjawab. 1. Y. Kemudian konselor mengatakan bahwa mereka besok sisang pukul 11. tegang. Guru meminta siswa untuk berjanji tidak mengulang lagi kejadian diatas dan segera meminta maaf. dan Z . menilai respon siswa. Guru mengatakan bahwa siswa boleh keluar menanti lonceng tanda masuk. Dengan pertanyaan serupa. dan jengkel mereka berkata yang kurang senonoh. guru menanyai terus menerus X. mereka duduk berhadapan dengan guru/konselor. terkesan mengadili tampak sekali. yaitu pukul 11. 3. Refleksi Mendiskusikan hasil pengamatan dan wawancara. melakukan pemantauan hasil pengamatan dan wawancara. serta hal ini tidak boleh diulang lagi. ya dan tidak saja. b. konselor sama sekali tidak memberi kesempatan X. Konselor kemudian berpesan bahwa anak sekolah tidak boleh berbicara kotor dan bertengkar dengan siapa saja. Y. Konselor berbicara sambil melemparkan pandangan tajam kearah siswa. Siklus II . dan suara agak keras. hal ini tidak boleh diulang lagi. Y. 1. ditambah raut wajah yang kaku. dan bersalaman kepada teman.00 agar datang ke sekolah. Observasi dan Evaluasi Peneliti dan rekan guru berkolaborasi melakukan pengamatan mengamati jalannya bimbingan kelompok dan Pendekatan Konseling Eklektif dengan Perilaku Attending. Siswa satu persatu maju untuk mengucapkan janji tidak mengulang lagi perbuatannya dan bersalaman meminta maaf. Guru menekankan/menerapkan sanksi bahwa apabila perbuatan ini diulang lagi. Berdasarkan hasil pengamatan siklus I belum menunjukan perkembangan. Guru menyapa kliennya dengan raut wajah yang kaku.

konselor mendengarkan penjelasan dari siswa dengan cukup perhatian. Kepala mengangguk jika setuju dan konselor melakukan kontak pandang dengan siswa/klien Ekspresi wajah konselor. Implementasi Pada implementasi guru kelas selaku konselor melaksanakan bimbingan konseling menggunakan Konseling Elekrik dengan Perilaku Attending. Perencanaan 1. 2. Tindakan 4 : Konselor meminta klien untuk menjelaskan lebih jauh tentang perasaan X berupa pertanyan terbuka (“mengapa kamu sering berbicara kotor?”) guru/konselor sudah diam sesaat untuk memberi kesempatan klien untuk menyampaikan perasaan. Tetapi ketika X mau berkata jujur. dan ia belum mau mengemukakan penderitaannya. Guru kelas IX melakanakan sintesis data untuk mengenal kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan klien 5. karena pandangan konselor tajam memandang pada X sehingga X dalam menjawab tidak berani memandang konselor. Peneliti mengamati penanganan permasalahan belajar terdiri dari : 1. penampilan guru sudah baik . . tindak lanjut dan peninjauan hasil-hasil konseling 6. Tahap awal (10 menit) Tindakan I : Konselor bertanya untuk membuka percakapan dengan klien raut wajah sudah menunjukan keramahan masih tampak agak kaku Tindakan 2 : Dalam kegiatan Attending . Guru mengupayakan penanganan permasalahan belajar siswa menggunakan tahapan-tahapan atau langkah-langkah Konseling Eklektif dengan Perilaku Attending 3.1. sabar menunggu penjelasan klien. 1. Guru/ konselor menganalisis data tentang klien 4. pikiran atau usul kepada guru. Posisi tubuh konselor belum condong ke arah klien. Diagnosis masalah prognosis atau presiksi tentang perkembangan masalah selanjutnya pemecahan masalah. Mendiagnosis permasalahan belajar siswa. klien belum terbuka untuk mengemukakan isi hati dari lubuk hati yang paling dalam. tenang seria. Merancang instrument pengamatan dan wawancara 7. Tindakan 3 : Empati konselor (berusaha ikut merasakan apa yang dirasakan klien) belum tampak. penyebab permasalahan dirumuskan 2. tersenyum.

Konselor menangkap pesan X. berbuat sesuatu. Benarkah demikian?” itu berarti X sebenarnya anak yang baik. perlu kesabaran. coba waktunya perlu diatur lebih cepat. mungkin sambil menanyai klien lainnya dahulu. pengalaman klien (“nampaknya nanda merasa menyesal. dan pikiran klien karena kebanyakan klien tertutup/menyimpan rahasia. menghayal sesuatu bagaimana kejadian yang dituturkan kepada konselor. apabila klien belum mau berterus terang).Namun klien masih diam saja (konselor perlu bersikap santai. pikiran. terangkanlah tentang dia! Apakah ada sesuatu yang perlu disampaikan? Bagaimanakah perasaan Nanda saat itu? Dapatkan Nanda kemukakan hal itu selanjutnya kepada Bapak?” Tindakan 3 Konselor melakukan directing/ mengarahkan agar klien bermaian peran. rasa ketakutan karena dihadang X. maka konselor memimpin arah pembicaraan sehingga mencapai tujuan konseling (Menurut Bapak rencana yang kamu sampaikan baik sekali. supaya kegiatan belajar siswa tetap berjalan lancar sekaligus kamu dapat mengembangkan hobi bermain sepak bola?”) Tindakan 2 Konselor melaksanakan paraphrasing/menangkap pesan utama/fokus klien. diam sejenak. konselor mengatakan inti pesan utama klien berbelit-belit. Y. Tindakan 5 : Karena kita masih diam saja. Tahap pertengahan (45 menit) Konselor bekerja dengan definisi masalah bersama-sama klien . Bisakah nanda mengemukakan kejadian selengkapnya kepada bapak?”) Tindakan 6 : Konselor menggali perasaan . menjadi pemain sepak bola terkenal?”) 1. dan Z. tidak mau bahkan tidak dapat terus terang (Bapak yakin kamu dapat menjelaskan lebih jauh ide untuk mencapai cita-cita menjadi polisi. maka konselor mencoba untuk merefleksikan memantulkan kembali tentang perasan. pengalaman. tujuannya untuk mengolah masalah klien yang sudah didefinisikan maka konselor melakukan : Tindakan I Guru selaku konselor bertindak sebagai leading/memimpin agar klien tidak melantur. Itu baik. kata-kata X ketika mengancam ?”) Tindakan 4 . (“Apakah Nanda bisa menjelaskan secara apa adanya? Bagaimanakah sikap.

Adakah yang Nanda maksudkan di ejek. merencanakan tindakan selanjutnya (“tahukah Nanda isi tata tertib sekolah kita?”) Tindakan 9 Konselor memberi nesehat (Nanda sudah cukup besar. Coba katakan apa sajakah yang dapat nanda simpulkan?”) 1. kegelisahan yang bertentangan dengan apa yang dikemukakan maka konselor mengadakan konfrontasi (“Nanda tidak ada masalah. mmmmmd…. Oh … ya… terus ….wah…. Dan … kemudian…. Tindakan 8 Konselor memberi informasi. (Setelah kita berbincang-bincang selama 10 menit.Konselor mencoba menaksir keinginan X untuk membentuk group sepak bola dibawah pimpinannya. Apakah demikian?”) Tindakan 5 Konselor membantu klien untuk memperjelas perubahan sikap mestinya dapat dilakukan (“nampaknya Nanda belum mengatakan yang sebenarnya. c. sorot mata. Bapak harap. Yang sudah berlalu biarlah berlalu yang penting untuk hari esok marilah kita rencanakan kegiatan yang lebih baik”) Tindakan 6 Saat klien mengatakan hal yang tidak sama dengan perasaan. kemudian membalas? Barangkali Nanda merasa menyesal. nanda salah dapat menyimpulkan pembicaraan kita. karena X mempunyai bakat sepak bola tendangannya kuat sekali (“nanda seolaholah berkeinginan untuk mengajak teman-temannya membentuk kelompok dan berlatih sepak bola. apakah masih memerlukan nasehat dari Bapak?”) Tindakan 10 Konselor memberi kesempatan pada klien untuk feed back / mengambil kilah balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. namun nasi sudah menjadi bubur. Tahap Akhir / Tahap Action (5 menit) Tindakan I .. tetapi mengapa Nanda gelisah sekali?”) Tindakan 7 Guru selaku konselor mengadakan Minimal Encouragment atau memberikan dorongan langsung terhadap apa yang dikatakan klien.

Observasi dan Evaluasi Peneliti dan rekan guru berkolaborasi untuk melakukan pengamatan. Cobalah Nanda katakan. 1. melakukan pemantauan hasil pengamatan dan wawancara. Konselor dan peneliti mendiagnosis kembali permasalahan belajar siswa penyebab permasalahan dirumuskan .memprogramkan untuk action. Siklus III 1. menjelaskan fokus pda wawancara konseling (“Baiklah. Perencanaan 1. (“Bolehkan Nanda berbicara kotor. 3. ibu. maka peneliti dan guru/konselor sepakat untuk mengadakan perencanaan perbaikan guna perbaikan kegiatan bimbingan konseling pada pelaksanaan siklus III.Konseling menyimpulkan hasil secara bertahap guna meningkatkan kualitas diskusi. 4. Bapak pasti akan mendengarkan!”) Tindakan 2 Konselor perlu mendorong klien untuk mengatakan hal yang sebenarnya melalui Attending yang baik. mengamati jalannya bimbingan konseling melalui pendekatan Eklektif attending serta menilai respon siswa. bertengkar dengan teman? Mengapa tidak boleh? Nampaknya Nanda masih ragu lagi menyatakan hal itu tidak boleh?”) Tindakan 3 Menjelang akhir konseling. perbuatan nyata yang produktif bagi kemajuan dirinya (“Nah apakah tidak lebih baik Nanda mulai menyusun rencana baik berpedoman hasil pembicaraan kita? Kalau begitu tindakan apakah yang sebenarnya Nanda lakukan? Adakah usul yang ingin disampaikan kepada ayah. Refleksi Mendiskusikan hasil pengamatan dan wawancara hasil pengamatan siklus II belum menunjukan perkembangan. 1. konselor membantu klien untuk merencakana. dan guru?”) Tindakan 4 Menilai/ evaluasi (“Bagaimanakah perasaan Nanda sekarang?”) Tindakan 5 Mengakhiri proses konseling (“Jika tidak ada lagi yang nanda sampaikan apakah dapat kita akhiri?”) 1. Bapak pikir Nanda sudah mempunyai satu keputusan namun masih belum mantap.

karena guru selaku konselor pada aspek attending dan aspek Eklektif masih berekspresi kaku. Guru kelas IX melakukan sintesis data untuk mengenal kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan klien 5. tahap pertengahan. mengamati jalannya bimbingan konseling melalui pendekatan Eklektif attending serta menilai respon siswa. Konselor mendengarkan penuh perhatian. lalu…. Diagnosis masalah prognosis atau prediksi perkembangan masalah. 2. Refleksi Mendiskusikan hasil pengamatan dan wawancara. 4. Berdasarkan hasil pengamatan siklus III. maka peneliti dan konselor sepakat untuk menganalisis data. 1. dan kesabaran empati konselor berusaha ikut merasakan apa yang dirasakan klien sehingga X. dan tahap akhir : yaitu konselor pada bertanya untuk membukapercakapan dengan raut wajah yang sudah menunjukan keramahan. 3. 1. dan ramah. . tenag. dan penyusunan laporan berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara. juga kesedihannya.00 predikat nilai kurang baik didalam konselor menangani permasalahan belajar siswa. Implementasi Pada prinsipnya implementasi siklus III seerti pada siklus II. dan menasehati belajar giat agar cita-cita menjadi polisi dapat tercapai. penampilan guru juga baik . kepala mengangguk jika setuju dan konselor melakukan kontak pandang dengan cukup santai. Guru/konselor dan peneliti sepakat akan mengadakan perubahan perencanaan dan pelaksanaan tindakan kelas dalam pembimbingan dan konseling siswa. selanjutnya pemecahan masalah.mmh… konselor memberi kesempatan pada klien untuk feed back / mengambil kilah balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. dan Z terbuka untuk mengemukakan isi hatinya. Y.2. tangan digerakan sesuai kebutuhan untuk lebih menyakinkan klien. belum memberikan hasil yang berarti. C. Sering konselor mengalihkan pandangan terutama pada saat klien berbicara. an… kemudian…. Score penilaian pada siklus I adalah 40. tindak lanjut dan peninjauan hasil-hasil konseling 6. terus…. ceria. hasil telah menunjukan perkembangan. Proses Menganalisa Data Berdasarkan tindakan pada siklus I. hanya konselor lebih mengoptimalkan penanganan masalah melalui Konseling Eklektif dengan Perilaku Attending pada : Tahap awal. Guru selaku konselor mengadakan Minimal Encouragment atau memberikan dorongan langsung terhadap apa yang dikatakan klien. Guru mengupayakan pengamanan permasalahan belajar siswa menggunakan tahapan-tahapan atau langkah-langkah Konseling Eklektif dengan Perilaku Attending 3. Observasi dan Evaluasi Peneliti dan rekan guru berkolaborasi untuk melakukan pengamatan. melakukan pemantauan hasil pengamatan dan wawancara 1. Konselor memuji ide X untuk membentuk group sepak bola. Guru/konselor menganalisis data tentang klien 4. muram dan marah. Oh… ya …. wah…. Posisi tbuh konselor agak condong ke arah klien.

Attending siklus II. 33 predikat pembimbing amat baik. kepala mengangguk jika setuju dan melakukan kontak pandang dengan siswa/klien 2 Ekspresi wajah guru/konselor tenang. Hasil score penilaian = 50. menggeleng sebagai tanda setuju tetapi masih kaku. Pada siklus III dengan pengoptimalan penghampiran klien secara tenang. tenang. semua yang dirasakan termasuk penderitaan 8 Konselor merefleksi/memantulkan kembali tentang perasaan. sehingga pada siklus III hasil pengamatan menunjukan perkembangan “yaitu : 88.1 : Hasil Kegiatan Guru Dalam Proses Konseling Tabel 4. merasa dan berpikir bersama klien 7 Keikutan konselor membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi lubuk yang paling dalam. aman. gerakan tangan konselor belum bermakna sesuai kebutuhan (konselor dapat mengusap kepala klien sebagai tanda sayang penuh perhatian) kesabaran mendengarkan perlu dipertahankan. pikiran. ramah. gerakan tangan konselor belum nampak. menunggu ucapan klien sehingga selesai. diam.00 karena itu guru/konselor dan peneliti sepakat mengadakan perbaikan lagi. ceria. jarak dekat. ekspresi wajah konselor agak tenang. penuh perhatian. Konselor sudah melakukan kontak pandang dengan klien. pengalaman klien 1 1 1 . aktif. perhatian terarah kepada lawan bicara/klien 6 Empati konselor ikut merasakan apa yang dirasakan klien. duduk akrab berhadapan atau berdampingan 4 Tangan konselor bervariasi melakukan gerakan tangan/lengan spontan berusaha arah sebagai isyarat menekaknkan ucapan 5 Konselor sabar mendengarkan. karena posisi kepala konselor tegak juga kecondongan tubuh konselor ke arah klien cukup namun keakraban belum nampak.1 Hasil Observasi Kegiatan Guru Siklus 1 NO Tingkah Laku Yang diamati Penilaian 3 2 1 (3) (4) (5) 1 1 1 1 1 (1) (2) 1 Penampilan guru saat attending baik. melakukan anggukan kepala tanda setuju. (menanti saat kesepakatan bereaksi). dan meninggikan suara konselor agar diakhiri apabila klien diam/tidak memberikan respon terhadap pertanyaan guru/konselor. tersentuh dan dekat. Secara lebih jelasnya gambaran hasil perkembangan kegiatan guru dalam konseling teknik eklektif dengan perilaku attending dapat dilihat dalam gambar berikut ini : Gambar 4. dan ceria. tersenyum 3 Posisi tubuh konselor agak condong kearah klien. sabar ceria akrab penuh perhatian dan kasih sayang akan membuat klien nyaman.

agar tidak melantur. perilaku dengan merujuk pada teori Interprestasi/ upaya konselor berupaya untuk mengulas pemikiran. ceria. menghayal sesuatu sebagaimana kejadian I yang dituturkan kepada konselor Konselor melaksanakan paraphasing/menangkap pesan utama klien. memperjelas fokus pada wartawan konseling Konselor memberi nasehat Konselor memberi informasi. merencanakan tindakan selanjutnya JUMLAH NILAI SCORE PEROLEHAN Predikat = 24 : 60 x 100 = 43.2 Hasil Observasi Kegiatan Guru Siklus II 3 Penilaian 2 1 1 10 11 12 13 14 1 1 1 2 1 15 2 16 17 1 1 18 1 19 20 2 2 8 16 24 Kurang NO Tingkah Laku Yang diamati (1) (2) 1 Penampilan guru saat attending baik. jarak Penilaian 3 2 1 (3) (4) (5) 1 1 2 . perilaku dengn merujuk pada teori Konselor bertanya untuk membuka percakapan dengan klien Konselor menyampaikan pertanyaan tertutup kepada klien Guru selaku konselor mengadakan minimal encouragment atau memberikan dorongan langsung terhadap apa yang dikatakan klien Guru selaku konselor bertindak sebagai leading/memimpinnya.33 Tabel 4. kepala mengangguk jika setuju dan melakukan kontak pandang dengan siswa/klien 2 Ekspresi wajah guru/konselor tenang. Memberi kesempatan pada klien untuk feed back/ mengambil balik dari hal-hal yang telah dibicarakan Konseling menyimpulkan hasil secara bertahap guna meningkatkan kualitas diskusi. konselor memimpin arah pembicaraan sehingga mencapai tujuan konseling Guru/konselor diam sesaat untuk memberikan kesempatan klien untuk menyampaikan perasaan. berbuat sesuatu.NO 9 Tingkah Laku Yang diamati Konselor melakukan directing/mengarahkan agar klien bersaing peran. pikiran atau usul kepada guru Konselor menyimpulkan sementara/Summarizing. perasaan. perasaan. tersenyum 3 Posisi tubuh konselor agak condong kearah klien.

pikiran. perilaku dengn merujuk pada teori 12 Konselor bertanya untuk membuka percakapan dengan klien 13 Konselor menyampaikan pertanyaan tertutup kepada klien 14 Guru selaku konselor mengadakan minimal encouragment atau memberikan dorongan langsung terhadap apa yang dikatakan klien 15 Guru selaku konselor bertindak sebagai leading/memimpinnya. perasaan. konselor memimpin arah pembicaraan sehingga mencapai tujuan konseling 16 Guru/konselor diam sesaat untuk memberikan kesempatan klien untuk menyampaikan perasaan. berbuat sesuatu. pikiran atau usul kepada guru 17 Konselor menyimpulkan sementara/Summarizing. semua yang dirasakan termasuk penderitaan 8 Konselor merefleksi/memantulkan kembali tentang perasaan. merasa dan berpikir bersama klien 7 Keikutan konselor membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi lubuk yang paling dalam. Memberi kesempatan pada klien untuk feed back/ mengambil balik dari hal-hal yang telah dibicarakan 18 Konseling menyimpulkan hasil secara bertahap guna meningkatkan kualitas diskusi. (menanti saat kesepakatan bereaksi). memperjelas fokus pada wartawan konseling 19 Konselor memberi nasehat 20 Konselor memberi informasi. pengalaman klien NO Tingkah Laku Yang diamati 2 2 1 2 2 Penilaian 3 2 1 2 9 Konselor melakukan directing/mengarahkan agar klien bersaing peran. perasaan. perhatian terarah kepada lawan bicara/klien 6 Empati konselor ikut merasakan apa yang dirasakan klien. agar tidak melantur. merencanakan tindakan 2 1 2 2 1 1 2 2 1 2 2 . diam. menunggu ucapan klien sehingga selesai. penuh perhatian.dekat. perilaku dengan merujuk pada teori 11 Interprestasi/ upaya konselor berupaya untuk mengulas pemikiran. duduk akrab berhadapan atau berdampingan 4 Tangan konselor bervariasi melakukan gerakan tangan/lengan spontan berusaha arah sebagai isyarat menekaknkan ucapan 5 Konselor sabar mendengarkan. aktif. menghayal sesuatu sebagaimana kejadian I yang dituturkan kepada konselor 10 Konselor melaksanakan paraphasing/menangkap pesan utama klien.

aktif. perilaku dengn merujuk pada teori 12 Konselor bertanya untuk membuka percakapan dengan klien 13 Konselor menyampaikan pertanyaan tertutup kepada klien 14 Guru selaku konselor mengadakan minimal encouragment 3 (3) 3 2 2 3 3 2 . pengalaman klien NO Tingkah Laku Yang diamati 3 (3) 2 3 3 Penilaian 2 1 (4) (5) (1) (2) 9 Konselor melakukan directing/mengarahkan agar klien bersaing peran. duduk akrab berhadapan atau berdampingan 4 Tangan konselor bervariasi melakukan gerakan tangan/lengan spontan berusaha arah sebagai isyarat menekaknkan ucapan 5 Konselor sabar mendengarkan. kepala mengangguk jika setuju dan melakukan kontak pandang dengan siswa/klien 2 Ekspresi wajah guru/konselor tenang. merasa dan berpikir bersama klien 7 Keikutan konselor membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi lubuk yang paling dalam. berbuat sesuatu.3 Hasil Observasi Kegiatan Guru Siklus III NO Tingkah Laku Yang diamati Penilaian 2 1 (4) (5) 2 2 3 3 3 26 33 Kurang 7 (1) (2) 1 Penampilan guru saat attending baik. perasaan. (menanti saat kesepakatan bereaksi). perilaku dengan merujuk pada teori 11 Interprestasi/ upaya konselor berupaya untuk mengulas pemikiran.selanjutnya JUMLAH NILAI SCORE PEROLEHAN Predikat = 24 : 60 x 100 = 55 Tabel 4. tersenyum 3 Posisi tubuh konselor agak condong kearah klien. diam. penuh perhatian. ceria. menunggu ucapan klien sehingga selesai. jarak dekat. pikiran. perasaan. semua yang dirasakan termasuk penderitaan 8 Konselor merefleksi/memantulkan kembali tentang perasaan. menghayal sesuatu sebagaimana kejadian I yang dituturkan kepada konselor 10 Konselor melaksanakan paraphasing/menangkap pesan utama klien. perhatian terarah kepada lawan bicara/klien 6 Empati konselor ikut merasakan apa yang dirasakan klien.

4 Hasil Observasi Kepribadian siswa No 1 2 3 Nama Siswa KS AR TT JUMLAH PREDIKAT 1 1 1 1 2 1 1 1 3 1 1 1 4 1 1 2 5 1 1 2 6 1 1 2 7 1 1 2 8 1 1 2 9 10 Jumlah 1 1 10 = 25 1 1 10 = 25 2 2 17 = 42.83 Kurang Sekali No Nama Siswa 1 KS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 10 = 25 .15 16 17 18 19 20 atau memberikan dorongan langsung terhadap apa yang dikatakan klien Guru selaku konselor bertindak sebagai 2 leading/memimpinnya. Memberi 3 kesempatan pada klien untuk feed back/ mengambil balik dari hal-hal yang telah dibicarakan Konseling menyimpulkan hasil secara bertahap guna 2 meningkatkan kualitas diskusi. agar tidak melantur. pikiran atau usul kepada guru Konselor menyimpulkan sementara/Summarizing. memperjelas fokus pada wartawan konseling Konselor memberi nasehat 3 Konselor memberi informasi. konselor memimpin arah pembicaraan sehingga mencapai tujuan konseling Guru/konselor diam sesaat untuk memberikan kesempatan 3 klien untuk menyampaikan perasaan. merencanakan tindakan 3 selanjutnya JUMLAH 39 15 NILAI SCORE PEROLEHAN 54 Predikat = 24 : 60 x 100 = 90.5 SIKLUS I 4 = Baik Sekali 3 = Baik 2 = Cukup 1 = Kurang Predikat > 75 = baik 60 = sedang < 60 = kurang SIKLUS II 4 = Baik Sekali 37 : 12 x 10 = 30.00 Amat Baik Tabel 4.

Tidak berbicara kotor Tidak bertengkar Membuka diri. 4. 3.5 . 5. 7.66 Kurang 2 10 = 25 3 30 = 75 3 = Baik 2 = Cukup 1 = Kurang Predikat > 75 = baik 60 = sedang < 60 = kurang SIKLUS III 4 = Baik Sekali 3 = Baik 2 = Cukup 1 = Kurang Predikat > 75 = baik 60 = sedang < 60 = kurang No 1 2 3 Nama Siswa KS AR TT JUMLAH PREDIKAT 1 2 2 3 2 2 2 3 3 2 2 3 4 2 2 3 5 2 2 3 6 2 2 4 7 2 2 4 8 2 2 4 9 10 Jumlah 2 2 10 = 25 2 2 10 = 25 4 4 34 = 85 74 : 12 x 10 = 61.66 Sedang Keterangan : 1. 9. Merencanakan tindakan Tabel 4. gembira Menerima nasehat 10. 8. 2.2 3 AR TT JUMLAH PREDIKAT 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 3 3 3 3 3 3 3 3 50 : 12 x 10 = 41. 6. berterus terang Bekerjasama Berani bertanya dan berpendapat Berpartisifasi aktif Berani berpendapat Ceria.

Perkembangan Kepribadian Siswa Kelas IX yang Diminati NO 1 1 2 3 NAMA SISWA 2 KS AR TT JUMLAH RATA_RATA SIKLUS I II III 3 4 5 25 25 50 25 25 50 42.66 predikat sedang/cukup baik.50 134. serta hasil observasi Kepribadian Klien pada siklus I.2 : Perkembangan Kepribadian Siswa 1.66 predikat kurang dan pada siklus III = 61.5 75 85 92.6 Perkembangan Kegiatan Guru Dalam Bimbingan Konseling Teknik Eklektif dan Perilaku Attending Kelas IX Semester I Tahun 2008/2009 NO 1 NAMA SISWA 2 Teknik Eklektif dan Perilaku Attending Predikat SIKLUS II III 4 5 50. Pembahasan Umum Berdasarkan tindakan pada siklus I.00 Kurang Kurang Demikian pula dengan hasil wawancara menunjukan respon yang positif.33 67. muram dan marah karena konselor sering mengalihkan pandangan.00 88.66 81.33 33. tetapi masih berkelanjutan melalui upaya attending konselor selaku guru kelas. Maka data pada score penilaian pada siklus I adalah 40.80 41. D. siklus II = 41.66 Tabel 4. belum memberikan hasil yang berarti karena guru selaku konselor pada aspek attending dan pada spek Eklektif masih berekspresi kaku.83 predikat kurang baik sekali.5 125 185 30. dan III diperolehkan hasil 30. juga peneliti sekaligus sebagai kepala sekolah memantau terus perkembangan perubahan tingkah laku klien agar klien lebih mantap untuk bertindak positif.16 44. II. terutama saat klien berbicara. . Y dan Z yang bermasalah tidak berhenti pada siklus III. Gambaran lebig jelasnya dapat dilihat dalam grafik berikut ini: Gambar 4.44 KET 7 RATA-RATA 6 33. Bimbingan konseling terhadap tiga siswa X.00 predikat nilai kurang baik dalam konselor menangani permasalahan belajar siswa.72 KET 7 Kurang Kurang Baik I 3 40.33 Amat Baik RATARATA 6 59.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN . tersentuh dan dekat. Cara Pengambilan Kesimpulan Hasil pengumpulan data. II. dan kasih sayang. dan ceria. yaitu 88. Berdasarkn data-data yang didapat pada siklus I.66 predikat kurang dan pada siklus III = 61.66 kemudian pada siklus III meningkat lagi menjadi 61. 1. tidak berbicara kotor.66 srta rata-rata kepribadian siswa adalah 44. II.Attending siklus II. Hasil Observasi Kegiatan Guru dan Data Hasil Observasi Kepribadian Klien pada situs I. Penjelasan perbandingan sebagai fenomena yang dapat dipergunakan untuk membandingkan tolak ukur dan merefleksikan peneliti dan guru selaku konselor atas kelemahan yang terekam. pemeriksaan keabsahan data yang diperoleh peneliti dan guru selaku konselor melalui ketekunan pengamanan. dan meningginya suara konselor agar dihindari apabila klien diam/klien memberikan respon terhadap pertanyaan guru/konselor hasil score penilaian pada siklus II = 50. II. dan reviem informan sebagai kunci (Moelong. perpanjangan keikutsertaan peneliti. Berdasarkan Data Hasil Observasi perkembangan Kepribadian Siswa pada Siklus I. analisis data.80 . berani berpendapat. membuat klien merasa nyaman. data yang disajikan. tidak bertengkar. II. ramah.sehingga pada siklus III hasil pengamatan menunjukan perkembangan. konselor sudah melakukan kontak pandang terhadap klien. Y. juga peneliti sekaligus sebagai kepala sekolah memantau terus perkembangan tingkah laku klien agar klien lebih mantap untuk bertindak positif. siklus II = 41. dan III diperoleh hasil 30. sabar. melakukan anggikan kepala tanda setuju. triangulasi. dan III yang dipergunakan peneliti dan guru untuk mengambil keputusan. dan merencanakan tindakan. 1995) dalam penelitian tindakan kelas siklus I. tenang.66 predikat sedang/cukup baik. berupa tabel yang memuat secara nominal dan setelah ditentukannya diskripsi kearah kecenderungan tindakan guru selaku konselor dan reaksinya dalam bentuk partisifasi aktif. membuka diri. menggeleng sebagai tanda setuju tetapi masih kaku. hal ini berarti penanganan-penanganan bimbingan konseling dengan menggunakan Pendekatan Eklektif Attending menunjukan keberhasilan penelitian tindakan kelas. ceria. ekspresi wajah konselor agak tenang. tetapi masih berkelanjutan melalui upaya attending konselor selaku guru. bekerja sama. penuh perhatian.72 .33 predikat amat baik. E. ceria. Bimbingan Konseling terhadap tiga siswa X. berterus terang. karena posisi kepala konselor tegak juga kecondongan tubuh konselor belum bermakna sesuai kebutuhan (konselor dapat mengusap kepala klien sebagai tanda kasih sayang penuh perhatian) kesabaran mendengarkan perlu dipertahankan.00 Kemudian hasil pada siklus III melalui pengoptimalan penghampiran klien secara tenag. Maka dari hasil analisis data. diungkapkan dalam bentuk kata-kata. berani bertanya. akrab. dan III menunjukan perkembangan hasil yang meningkat pada siklus berikutnya yaitu : 30. gembira. dan III setelah dibandingkan. 41. menerima nasehat. dan Z yang bermasalah tidak berhenti pada siklus III.83 presikat kurang sekali. aman.

Abu & Supriono. Perlu pengembangan dan tindak lanjut penelitian tindakan kelas DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsudin Makmun (2003). Bandung : Rajawali Depdiknas (2003). Arifin. IKIP Bandung Ahmadi. Saran Peneliti mengajak rekan-rekan guru selaku pembimbing siswa : 1. Pendekatan Eklektif Attending merupakan langkah efektif untuk mengatasi permasalahan siswa.1. Surya (1998). Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Gunakanlah Pendekatan Eklektif Attending guna mengatasi permasalahan siswa 2. Belajar dan Menifestasinya. Surabaya : Usaha Nasional Nana Syaodih dan Moh. Rhineka Cipta . dkk (1999). Jakarta : PT Golden Terayon Press. Kesimpulan Setelah Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1.M. 2. Dasar-Dasar Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Pedoman Studi Psikologi Pendidikan. 20 Tahun 2003. Bandung : FIP IKIP Bandung. Pendekatan Eklektif Attending memberi kemudahan perubahan sikap pada siswa yang bermasalah karena permasalahan belajar dapat diatasi melalui komunikasi dengan bahasa anak sendiri 3. Widodo. Ketut Sukardi (1983). serta perlu diadakan penelitian kelanjutan 1. Prayitno. (2003). Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Pengantar Psycologi Jihad I. Bandung : FIP IKIP Bandung Moh. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. Psikologi Pendidikan. Tingkatkanlah partisifasi siswa dalam Proses Belajar Mengajar melalui proses motivasi guru kepada siswa secara selektif 3. A. B. Surya (1988). Jakarta : Depdiknas H. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (2004). Teknik Eklektif dan Perilaku Attending layak dipergunakan dan dikembangkan oleh guru.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful