BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Kardiomiopati kadang-kadang menyerang wanita dalam waktu satu bulan setelah melahirkan. Yang disebut kardiomiopati peripartum ini adalah hasil dari kardiomiopati yang terjadi tanpa diketahui penyebabnya dan berhubungan dengan kelahiran anak. Ketika banyakwanita yang menderita ini dapat sehat kembali, ada beberapa yang penyakitnya berkembang cepat menjadi kardiomiopati yang berat. Peripartum kardiomiopati adalah salah satu bentuk kardiomiopati dilatasi. Jantung yang bekerja berat adalah penyebab lain dari kardiomiopati dilatasi. Setiap kondisi yang menyebabkan otot jantung bekerja pada beban yang tinggi untuk waktu yang lama (minggu atau bulan) akhirnya dapat menyebabkan pembesaran jantung dan pelemahan otot jantung. Kejadian gagal jantung pada kehamilan telah dikenal sejak pertengahan abad ke-19, tetapi istilah kardiomiopati disebut-sebut mulai sekitar tahun 1930-an. Pada tahun 1971, Demakis dan kawan-kawan menemukan pada 27 pasien yang pada masa nifas yang menunjukkan gejala kardiomegali, gambaran elektrokardiografi yang abnormal dan gagal jantung kongesti, kemudian disebut sebagai kardiomiopati peripartum. Kardiomiopati relative jarang tetapi dapat mengancam jiwa . gagal jantung memperngaruhi perempuan pada bulan-bulan terakhir kehamilan atau puerperium dini. Ini tetap menjadi penyebab signifikan morbiditas dan mortalitas ibu. 75% kardiomiopati periparum didiagnosis pada bulan pertama postpartum dan 45% pada minggu pertama. Ketika dicurigai, harus segera menetapkan diagnosis. Insiden PPCM bervariasi di seluruh dunia. Dilaporkan prevalensi PPCM di Negaranegara nonAfrika berkisar antara 1:3.000-1:15.000 kelahiran hidup. Dalam sebuah pusat rujukan perawatan tersier untuk populasi perkotaaan dan pedesaan yang besar, terdapat prevalensi 1 per 837 kelahiran hidup. Telah dilaporkan prevalensi 1 kasus per 6000 kelahiran hidup di Jepang, I kasus per1000 kelahiran hidup di Afrika Selatan dan 1 kasus per350-400 kelahiran hidup di Haiti. Sebuah prevalensi yang tinggi di Nigeria disebabkan karena adanya tradisi memakan kanwa
1

(danan garam kering) sambil berbaring di tempat tidur Lumpur panas 2 kali sehari selama 40 hari pasca melahirkan. Asupan garam menyebabkan volume overload yang tinggi. Dalam sebuah penelitian 68.75% dari pasien kardiomiopati peripartum mengalami persalinan pervaginam dan 31% diperlukan operasi Caesar terutama karena alas an obstetric. Pendekatan multi disiplin melibatkan ahli kandungan, ahli jantung, ahli anestesi dan ahli anak. Setelah pengiriman 43.75% pasein membutuhkan perawatan ICU dibawah pengawasan ahli jantung dan anestesi. Komplikasi pada ibu terutama edema paru dan CCF pada 62.5% penderita dan aritmia pada 12.5% penderita. 3 kematian ibu terjadi karena alas an tromboemboli . Mengenai hasil neonatal, pada 27 bayi lahir hidup, 5 kematian perinatal terjadi. Penyebab utama kematian perinatal adalah premature dan IUGR dan terkait gagal jantung kongestif pada ibu. Selama periode penelitian dari Oktober 2003 hingga September 2007, sebanyak 26.780 pengiriman berlangsung di Rumah Sakit Karachi Sipil Gynae Unit-I. hasil membuktikan bahwa usia yang lebih tua ( >32 tahun) dan multiparitas (>3 anak) erat terkait dengan perkembangan kardiomiopati. Penelitian tersebut juga mengamati bahwa IUGR terdapat pada 31% dari ibu hamil sehingga merupakan factor resiko penting. 3 kematian ibu terjadi dengan tromboemboli menjadi penyebab pada 1 pasien. 20 perempuan (62.5%) mengembangkan gagal jantung kongestif. Dari 14 yang dibutuhkan perawatan intensif akibat dekompensasi gagal jantung parah. IUGR ditemui pada 10 neonatus (31.25%) diantaranya 5 membutuhkan NICU untuk premature dan respiratori distress. Oleh karena itu, perlunya mengungkap masalah ini ke dalam seminar besar stage keperawatan agar memberikan asuhan keperawatan sebagai diskusi bersama dalam tatalaksana penanganan keperawatan pada pasien dengan kardiomiopati peripartum.

2

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Teori 1. Pengertian Konsensus para ahli dari the American Heart Association (AHA) tahun 2006 merumuskan definisi kardiomiopati sebagai sekelompok penyakit miokardium heterogen yang terkait dengan disfungsi mekanik dan/atau elektrik yang umumnya (tapi tidak selalu) bermanifestasi sebagai hipertrofi ataupun dilatasi yang tak wajar dari ventrikel dan disebabkan oleh penyebab yang bervariasi, namun umumnya terkait genetik.2 Lebih lanjut, kardiomiopati dapat berupa kelainan primer jantung atau sebagai bagian dari kelainan sistemik yang berakibat pada gangguan kardiovaskular atau gejala progresif dari gagal jantung. Pada kondisi tersebut kardiomiopati diklasifikasikan ke dalam dua kelompok yaitu kardiomiopati primer yang terbatas pada otot jantung (genetik, didapat atau campuran) serta kardiomiopati sekunder ketika kelainan otot jantung merupakan bagian dari kelainan sistemik multiorgan. Definisi terkini kardiomiopati dapat merujuk pada grup studi dari the European Society of Cardiology (ESC) yang mendefinisikan kardiomiopati sebagai kelainan miokardium yang dicirikan oleh abnormalitas otot jantung secara struktural dan fungsional, yang bukan disebabkan oleh penyakit koroner, hipertensi, gangguan katup jantung, maupun penyakit jantung kongenital yang bermakna. (Eur Heart J. 2008;29:2706) Kardiomiopati peripartum adalah penyakit miokardium idiopatik yang terjadi pertama kali pada trimester III kehamilan atau dalam 5 bulan setelah melahirkan. Penyakit ini terbanyak dijumpai pada 3 bulan pertama peripartum (82%) dan lebih jarang pada bulan terakhir kehamilan (7%). (Peripartum kardiomitopati. Edisi 2008. Diunduh dari http://www.jpma.org.pk/full_article_text.php?article_id=2050, 3 Mei 2012). Kardiomiopati postpartum termasuk ke dalam jenis kardiomiopati dilatasi/kongestif sehingga pada pasien terjadi gagal jantung. Faktor-faktor yang biasa menyebabkan
3

terjadinya kardiomipati peripartum ini seperti malnutrisi, kebanyakan minum alkohol, infeksi virus, mekanisme autoimun, perubahan hormonal, kelainan genetik atau toksemia. 2. Etiologi Kardiomiopati peripartum merupakan salah satu bentuk dari penyakit miokardial primer idiopatik yang berhubungan dengan kehamilan. Meskipun beberapa kemungkinan mekanisme etiologi dari penyakit tersebut yang diperkirakan selama ini, tetapi tidak satupun yang dapat menjelaskan dengan pasti. Beberapa kejadian yang diperkirakan dapat menjadi penyebab ataupun mekanisme kardiomiopati peripartum, adalah :  Miokarditis : Melvin dkk pernah membuktikan adanya miokarditis dari biopsi endomiokardial pada pasien dengan kardiomiopati peripartum. Dikatakan bahwa hipotesis menurunnya sistem imnunitas selama hamil, dapat meningkatkan replikasi virus dan kemungkinan untuk terjadinya miokarditis akan meningkat.  Infeksi viral yang bersifat kardiotropik  Chimerism  Apoptosis dan inflamasi  Respon abnormal hemodinamik pada kehamilan : perubahan hemodinamik selama kehamilan dengan meningkatnya volume darah dan curah jantung serta menurunnya afterload, sehingga respon dari ventrikel kiri untuk penyesuaian menyebabkan terjadinya hipertrofi sesaat.  Faktor-faktor penyebab lain : efek tokolisis yang lama, kardiomiopati dilatasi idiopatik, abnormalitas dari relaxine, defisiensi selenium dll Wanita yang beresiko. Sedangkan factor-faktor resiko yang dapat menyebabkan seorang wanita mengalami kardiomiopati peripartum, diantaranya adalah; multiparitas, usia maternal yang lanjut (walaupun penyakit ini dapat mengenai semua usia, insidensi akan meningkat pada wanita berusia > 30 tahun), kehamilan multifetal, pre-eklamsia, hipertensi gestasional dan ras Afrika Amerika.

4

3. Patofisiologi

Peripartum kardiomiopati adalah salah satu bentuk kardiomiopati dilatasi. Masalah yang mendasar adalah menghilangnya kontraktilitas miokardium, yang ditandai dengan menghilangnya kemampuan sistolik jantung. Kardiomiopati dilatasi menyebabkan penurunan fraksi ejeksi, peningkatan volume end-diastolik, dan volume residual, penurunan volume sekuncup ventrikel, serta gagal biventrikel.

Gambar 8. Perbandingan jantung normal (kiri), kardiomiopati hipertrofik (tengah) dan kardiomiopati dilatasi (kanan). Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/36187354/Referat-Kardiomiopati, 28 Februari 2011. Sekitar setengah kasus, etiologi kardiomiopati dilatasi adalah idiopatik, tetapi kemungkinan besar kelainan ini merupakan hasil akhir dari kerusakan miokard akibat produksi berbagai macam toksin, zat metabolit, atau infeksi. Kerusakan akibat infeksi viral akut pada miokard yang akhirnya mengakibatkan terjadi kardiomiopati dilatasi ini terjadi melalui mekanisme imunologis. Pada kardiomiopati dilatasi yang disebabkan oleh penggunaan alkohol, kehamilan (pada 3-4 bulan pertama), penyakit tiroid, penggunaan kokain dan keadaan takikardia kronik yang tidak terkontrol, dikatakan kardiomiopati
5

tersebut bersifat reversibel. Obesitas akan meningkatkan risiko terjadinya gagal jantung, sebagaimana juga gejala sleep apnea. Kardiomiopati dilatasi dapat juga diakibatkan oleh konsekuensi lanjut infeksi virus, bakteri, parasit atau proses autoimun. Respon inflamasi dan autoimun termasuk pelepasan sitokin dan interleukin yang menghasilkan terjadinya miokarditis dan fungsi kontraktil. Jenis ini diklasifikasikan ke dalam “inflammatory cardiomyopathy” oleh WHO. Penyakit ini bersifat genetik heterogen tetapi kebanyakan transmisinya secara autosomal dominan, walaupun dapat pula secara autosomal resesif dan diturunkan secara xlinked. Sampai saat ini belum diketahui bagaimana seseorang akan memiliki predisposisi kardiomiopati dilatasi apabila tidak diketahui riwayat kejadian penyakit ini dalam keluarganya.

Myocarditis

Alkohol

Peripartum

Genetik
6

Dilatasi ventrikel kiri

Fungsi ventrikel kiri ↓ ↓ Kontraktil myocard↓ ↓ Stroke volume↓ ↓ Cardiac out put ↓ Penurunan curah jantung

Kongesti Paru Tachipnoe Nafas cepat Nafas dangkal Co2 alveoli Gg. pertukaran gas

Darah melebihi batas volume ventrikel kiri Backward ke atrium kiri Bendungan paru Ventrikel kanan Atrium kanan JVP meningkat, oedem Kelebihan Volume Cairan dyspnoe d effort ortopnoe

4. Tanda dan Gejala

Gejala yang dapat timbul pada kardiomiopati peripartum adalah : a) Dispnea b) Orthopnea c) Paroxysmal nocturnal dyspnea

7

d) Batuk e) Nyeri dada f) Anoreksia g) Lelah h) Edem kaki Adapun tanda-tanda dari kardiomiopati peripartum adalah : 8 a) Distensi vena jugularis b) Takikardi c) Takipnea d) Hepatomegali e) Refluks hepatojugular f) Asites g) Edema perifer h) Perubahan status mental i) Tromboemboli j) Irama gallop k) Murmur regurgitasi mitral l) P2 mengeras m) Ronki
5. Komplikasi

Komplikasi dari Kardiomiopati Dilatasi sebagai berikut: a) Gagal jantung Merupakan penyakit yang paling umum terjadi pada DCM. Terjadi ketika otot jantung tidak cukup kuat untuk memompa darah yang cukup untuk seluruh tubuh, menyebabkan edema di paru-paru dan/ atau jaringan/ perifer. Beberapa orang memiliki penyakit yang stabil dan kondisi yang agak sedikit buruk. Sementara yang lain memiliki gejala berubah-ubah yang disebut gagal jantung. Hal ini mempengaruhi kedua

8

sisi jantung( kiri dan kanan) menyebabkan gejala sesak nafas, edema tungkai, bendungan vena jugularis dan perut terasa penuh. b) Atrial fibrillation (AF)/ fibrilasi atrium Merupakan kelainan irama jantung yang paling sering pada DCM. Denyut jantung ireguler dan cepat, menyebabkan rasa berdebar-debar, meningkatkan napas yang pendek/ sesak nafas. Hal tersebut dapat berkaitan dengan gejala yang semakin memburuk atau perkembangan dari bekuan darah / emboli. Risiko dari bekuan tersebut diatasi dengan pemberian warfarin yang digunakan untuk mengencerkan darah jika terjadi fibrilasi atrium. c) Bekuan darah/ Thromboemboli Pada DCM, aliran darah yang melewati jantung lebih lambat dari biasanya. Hal ini menyebabkan bekuan darah terbentuk di jantung. Jika bekuan darah tersebut terlepas dari jantung dan ikut dalam sirkulasi, maka dapat menyebabkan kerusakan otak/ stroke. Pada DCM dengan pembesaran jantung, diperlukan pengobatan dengan warfarin/ antikoagulan, untuk mencegah pembentukan bekuan darah. d) Kelainan irama/ rhythm/ aritmia : Hal tersebut secara umum menyebabkan pusing, sesak nafas, palpitasi dan dapat juga asimtomatik. Beberapa kelainan irama yang dapat terjadi pada DCM : • Ektopik ventrikular Kadang-kadang ada 1 denyut tambahan di luar denyut jantung. Tidak memerlukan pengobatan, tidak berbahaya, dan dapat ditemukan pada orang normal. • Ventrikular takikardia Merupakan denyut jantung yang sangat cepat. Berkaitan dengan penurunan drastis dari tekanan darah dan gejala dari pusing sesak nafas atau bahkan pingsan. Tapi dapat juga asimtomatik. Dapat berespon terhadap obat atau ICD/ implantable cardioventer defibrillator. • Ventricular fibrillation (VF)/ fibrilasi ventrikel Jarang terjadi. Kelainan yang berat dan serius dari aktivitas elektrik irama jantung. Dapat menyebabkan kolaps dan bahkan kematian jika tidak disembuhkan. e) Sudden death/ kematian mendadak
9

Terjadi karena aritmia yang berat atau perkembangan bekuan darah yang besar. Obatobatan dan/ atau ICD dapat mengurangi risiko ini. f) Heart block Jika sistem konduksi elektrikal jantung dalam jantung gagal untuk berfungsi dengan baik, jantung akan menjadi terlalu lambat. Jika terjadi pandangan mata terasa gelap/ tidak sadar, maka diperlukan pacemaker. g) Efek samping dari pengobatan, meliputi : o hipotensi o reaksi lupus ( kumpulan gejala berupa bintik-bintik merah pada kulit dan artritis) o pusing o gangguan pencernaan
6. Pemeriksaan Diagnostik

Evaluasi status kardiovaskular pada wanita hamil lebih baik hanya dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Adakalanya diperlukan pemeriksaan lain yang harus dilakukan dengan mempertimbangkan resikonya terhadap wanita hamil dan janin yang dikandungnya. Pemeriksaah oleh orang yang berpengalaman sangat diperlukan untuk menghindarkan kesalahan dalam diagnosis yang dapat menimbulkan kecemasan, ketakutan dan biaya yang tidak diperlukan.

Radiografi

10

Gambar 1. Foto rontgen torak pada kardiomiopati peripartum, menunjukkan 1 jam setelah seksio sesarea, terlihat edema paru, efusi pleura dengan kardiomegali

Pemeriksaan ekokardiografi Ekokardiografi adalah standar non invasif untuk mengukur fungsi jantung,

mengukur fungsi ventrikel kiri dan memberikan informasi dalam menyokong diagnosis untuk menentukan disfungsi ventrikel kiri, oleh karena itu, ekokarkardiografi merupakan instrumen yang penting dalam mendiagnosis kardiomiopati peripartum dan memprediksi prognosisnya.6 Ekokardiografi sangat penting untuk meniadakan penyebab lain dari gagal jantung seperti penyakit katup mitral, miksoma atrium kiri, dan penyakit perikardium. Ekokardiogram biasanya menunjukkan dilatasi ventrikel kiri, dengan gangguan penanda dari penampilan seluruh sistolik. Kriteria ekokardiografi yang memenuhi dalam mendiagnosis kardiomiopati peripartum yaitu fraksi ejeksi ventrikel kiri < 45%, fractional shortening < 30% pada skan ekokardiografi M-mode, atau terdapat 2 kriteria tersebut, dan dimensi akhir diastolik ventrikel kiri > 2,7 cm/m2 dari area permukaan tubuh. Secara keseluruhan, gambaran pada ekokardiografi kardiomiopati peripartum tidak dapat dibedakan dari kardiomiopati dilatasi non-iskemik primer.

Gambar 2. M-mode ekokardiogram, gambaran pada pasien dengan diagnosis kardiomiopati peripartum, menunjukkan dilatasi ventrikel kiri, penurunan yang berat pada penampilan ventrikel dengan takikardi (frekuensi jantung 177x/menit)
11

Gambar 3. Ekokardiogram pada pasien dengan (a) regurgitasi mitral berat dengan kardiomiopati akut 3 minggu setelah seksio sesarea, dan (b) gambaran normal 5 bulan setelah terapi bromokriptin. Fraksi ejeksi pada ekokardiogram terukur sebesar 17% pada fase akut dan 57% setelah 5 bulan

Pemeriksaan elektrokardiografi EKG menunjukkan sinus normal atau menunjukan sinus takikardi, tetapi

fokus ektopik dan aritmia atrial lainnya dapat juga terlihat seperti fibrilasi atrial. Hipertrofi ventrikel kiri, T inversi, gelombang Q, dan perubahan segmen ST-T non spesifik juga dapat terlihat pada rekaman EKG. Pada foto toraks pasien biasanya terdapat pembesaran jantung dan kongesti pulmonal. Evaluasi laboratorium biasanya menunjukkan sedikit atau tidak ada peningkatan pada kreatinin kinase, atau troponin jantung.
A

12

B

Gambar 4. EKG pasien dengan kardiomiopati peripartum (a) pada ruang pemulihan, menunjukkan sinus takikardi, dan (b) ketika pasien mengeluh sesak pada dada, menunjukkan sinus takikardi dengan perubahan ST nonspesifik

Pemeriksaan radionuklide

Beberapa pemeriksaan radionuklide akan mengikat albumin dan tidak akan mencapai fetus, pemisahan akan terjadidan eksposure terhadap janin mungkin terjadi. Sebaiknya pemeriksaan ini dihindarkan. Adakalanya pemeriksaan ventilasi pulmonal/perfusi scan atau scan perfusi miokard thallium diperlukan saat kehamilan. Diperkirakan eksposur terhadap fetua rendah.

Magnetic resonance imaging (MRI) keamanan prosedur MRI pada

Meskipun tidak tersedia informasi mengenai

evaluasi wanita hamil dengan kehamilan, dilaporkan tidak didapati efek fetal yang merugikan bila digunakan pada tujuan yang lain. Pemeriksaan ini mesti dihindarkan pada wanita dengan implantasi pacu jantung atau defibrillator. 7. Penatalaksanaan Penanganan kardiomiopati peripartum hampir sama dengan penanganan

kardiomiopati dilatasi non iskemik.
13

Terapi nonfarmakologi • •

Diet rendah garam (< 4 g/hari) Pembatasan cairan (< 2 L/hari) Exercise sederhana (contohnya berjalan, bersepeda)

Terapi farmakologi oral a. Prepartum 1. 2. 3. 4. 5. Amlodipine Hidralazin/nitrat Digoksin Diuretik Beta blocker

b. Post partum 1. 2. 3. 4. 5. 6. ACE inhibitor atau angiotensin II receptor blocker Digoksin Diuretik Amlodipin Hidralazin/nitrat Beta blocker

Terapi farmakologi intravena pada pasien dengan gejala yang berat • • Tidak berespon terhadap terapi oral di atas Dobutamin
14

• • •

Dopamine Milrinon Nitroprusid

Pada umumnya, tujuan penanganan adalah untuk mengurangi kembalinya volume ke jantung (mengurangi preload), menurunkan resistensi yang melawan pompa jantung (mengurangi afterload), dan meningkatkan kontraktilitas jantung (inotropik). Terapi dengan ACE-inhibitor merupakan inti terapi pada wanita post partum, namun merupakan kontraindikasi selama kehamilan karena berpotensi teratogenik. ACE inhibitor yang digunakan selama kehamilan khususnya pada trimester kedua dan ketiga berhubungan dengan peningkatan kehilangan janin dan fetopati yang dicirikan dengan hipotensi janin, oligohidramniosanuria, dan displasia tubular ginjal. Seperti bentuk lain gagal jantung, penyakit ini dapat berperan dalam terjadinya komplikasi trombosis dan emboli. Pasien dengan adanya emboli sistemik, atau disfungsi ventrikel kiri yang berat dan terdapat trombus mural, sebaiknya dipertimbangkan pemberian antikoagulan. Warfarin merupakan kontraindikasi selama kehamilan dan pada wanita yang membutuhkan antikoagulan, heparin sebaiknya digunakan. Pada saat post partum, pasien dengan emboli atau dengan ultrasound terdapat pembentukan trombus, terapi warfarin sebaiknya digunakan selama periode 6 bulan. Sebagai salah satu bentuk dari kardiomiopati dilatasi, aritmia ventrikel merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Obat antiaritmia kelas III merupakan pilihan terbaik untuk aritmia ventrikel.12 Dalam sitasi lain disebutkan manajemen penanganan kardiomiopati peripartum dilakukan seperti penanganan gagal jantung akut yaitu sebagai berikut. a) b) Oksigen, diuretik, digoksin, dan vasodilator Penggunaan ACE inhibitor pada awal kehamilan sebaiknya dihindari karena

efek teratogeniknya pada fetus
15

c)

Terapi

antikoagulan

direkomendasikan

karena

tingginya

insiden

tromboemboli pada kardimiopati peripartum d) pasien Transplantasi jantung ditawarkan sebagai pilihan terakhir bagi pasien kardiomiopati peripartum yang tidak membaik atau yang menjadi memburuk dengan manajemen terapi. Penanganan kardiomipati ini hanya secara simtomatik. Digitalisasi pada gagal jantung memberikan hasil yang cukup baik. Pemakaian antikoagulan dianjurkan selama ada kardiomegali karena insiden emboli sistemik dan pulmoner tinggi. Selama kardiomegali masih ada dianjurkan supaya pasien istirahat baring. 8. Pencegahan 1) Pencegahan primer a. Anjurkan klien untuk mengurangi konsumsi alkohol dan kebiasaan merokok. b. Cegah proses infeksi c. Monitor terjadinya hipertensi sistemik d. Monitor keadaan wanita selama masa kehamilan 2) Pencegahan sekunder a. Monitor tanda awal dari gagal jantung kongestif. b. Evaluasi klien dengan disritmia. 3) Pencegahan tersier a. Perhatikan petunjuk spesifik pemakaian obat b. Pertimbangkan untuk dilakukan transplantasi jantung c. Evaluasi pemberian terapi antikoagulasi untuk mengurangi embolisme sistemik. B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian a. Data Demografi Angka kejadian kardiomiopati dilatasi adalah 2 X terjadi pada laki-laki dan terjadi pada usia pertengahan. (Ignatavicius et al, 1995:919)
16

Karena penyakit bersifat reversibel, penggunaan sementara balon pompa

intra aorta atau alat bantu ventrikel kiri dapat membantu menstabilkan kondisi

b. Riwayat Kesehatan 1) Riwayat Kesehatan Sekarang Umumnya klien datang dengan keluhan adanya sesak. Sesa yang dirasakan bertambah bila dilakukan aktivitas dan tidur terlentang dan berkurang bila diistirahatkan dan memakai 23 bantal. Sesak dirasakan pada daerah dada dan seperti tertindih benda berat. Skala sesak 0-4 dan dirasakan sering pada siang dan malam hari. 2) Riwayat Penyakit Dahulu Kaji adanya Kelainan autoimun, Hipertensi sistemik, Autoantibodi yaitu antimyocardial antibodies, Proses infeksi (infeksi bakteri/virus), Gangguan metabolik (defisiensi thiamine dan scurvy), gangguan imunitas (leukimia), Kehamilan dan kelainan post partum, toxic proses (alkohol dan chemoterapi), proses infiltrasi (amyloidosis dan kanker) 3) Riwayat kesehatan keluarga Kaji adanya anggota keluarga / lingkungan yang mempunyai penyakit menular infeksi seperti TB dan hepatitis. Kaji adanya riwayat penyakit hipertensi, jantung dan diabetes melitus di keluarga, bila ada cantumkan dalam genogram. c. Pola Aktivitas Sehari-hari Nutrisi klien dikaji adanya konsumsi garam, lemak, gula dan kafein dan jenis makanan. Klien mungkin akan merasa haus dan minum berlebihan (4000-5000 mL) akibat sekresi aldosteron. Adanya penurunan aktivitas dan aktivitas sehari-harinya (ADL) akibat adanya lemah, letih dan adanya dispneu. Istirahat terganggu akibat dispneu dan sering terbangun pada malam hari untuk eliminasi BAK. d. Pemeriksaan Fisik 1) Sistem Pernafasan/breath Dispneu saat beraktivitas, Paroksimal Nokturnal Dispneu, tidur sambil duduk atau dengan beberapa bnatal, Batuk dengan/ tanpa pembentukan sputum, riwayat paru kronis, penggunaan bantuan pernafasan (oksigen dan medikasi), nafas dangkal,takipneu, penggunaan otot aksesori pernafasan.bunyi nafas mungkin tidak terdengar, dengan krakels basilar dan mengi. 2) Sistem Kardiovaskular/blood Distensi vena jugularis, pembesaran jantung, adanya nyeri dada, suara s3 dan s4 pada auskultasi jantung ,tekanan darah normal/turun, takikardi, disritmia (fibril atrium, blok jnatung

17

dll)nadi perifer mungkin berkurang,;perubahan denyutan dapat terjadi;nadi sentral mungkin kuat, punggung kuku pucat atau sianotik dengan pengisian kapiler lambat. 3) Sistem Pencernaan/bowel Kaji adanya peningkatan berat badan secara signifikan, mual dan muntah, anorexia, adanya nyeri abdomen kanan atas, hepatomegali dan asites 4) Sistem Muskuloskeletal/bone Kelelahan, kelemahan, sakit pada otot dan kehilangan kekuatan/ tonus otot. 5) Sistem Persyarafan/brain Kaji adanya rasa pening, perubahan prilaku, penurunana kesadaran dan disorientasi 6) Sistem Perkemihan/bladder Kaji adanya nokturia dan penurunanan berkemih, urine berwarna gelap, penggunaan dan keadaan kateterisasi . 7) Sistem Integumen Pittimg edema pada bagian tubuh bawah, dan kulit teraba dingin, adanya kebiruan, pucat, abuabu dan sianotik , dan adanya kulit yang lecet. 8) Aktivitas kelelahan otot, peningkatan kebutuhan tidur, kelemahan 9) Seksualitas Perubahan libido,perubahan aliran mensturasi 10) Nyeri/kenyamanan Edema ekstermitas e. Data psikologis Kaji adanya kecemasan, gelisah dan konsep diri dan koping klien akibat penyakit, keprihatinan finansial dan hospitalisasi. f. Data sosial Perlu dikaji tentang persepsi klien terhadap dirinya sehubungan dengan kondisi sekitarnya, hubungan klien dengan perawat, dokter dan tim kesehatan lainnya. Biasanya klien akan ikut serta dalam aktivitas sosial atau menarik diri akibat adanya dispneu, kelemahan dan kelelahan. g. Data spiritual Kaji tentang keyakinan atau persepsi klien terhadap penyakitnya dihubungkan dengan agama yang dianutnya.. Biasanya klien akan merasa kesulitan dalam menjalankan ibadahnya.
18

8)

Data Penunjang a) Radiologi: Pada foto rontgen dada, terlihat adanya kardiomegali, terutama ventrikel kiri. Juga ditemukan adanya bendungan paru dan efusi pleura b) Elektrokardiografi: ditemukan adanya sinus takikardia, aritmia atrial dan ventrikel, kelainan segmen ST dan gelombang T dan gangguan konduksi intraventrikular. Kadang-kadang ditemukan voltase QRS yang rendah, atau gelombang Q patologis, akibat nekrosis miokard. c) Ekokardiografi : Tampak ventrikel kiri membesar, disfungsi ventrikel kiri, dan kelainan katup mitral waktu diastolik, akibat complience dan tekanan pengisian yang abnormal. d) Bila terdapat insufisiensi trikuspid, pergerakan septum menjadi paradoksal. Volume akhir diastolik dan akhir sistolik membesar dan parameter fungsi pompa ventrikel, fraksi ejeksi (EF) mengurang. Penutupan katup mitral terlambat dan penutupan katup aorta bisa terjadi lebih dini dari normal. Trombus ventrikel kiri dapat ditemukan dengan pemeriksaan 2D-ekokardiografi, juga aneurisma ventrikel kiri dapat disingkirkan dengan pemeriksaan ini. e) Radionuklear: pada pemeriksaan radionuklear tampak ventrikel kiri disertai fungsinya yang berkurang. f) Sadapan jantung: pada sadapan jantung ditemukan ventrikel kiri membesar serta fungsinya berkurang, regurgitasi mitral dan atau trikuspid, curah jantung berkurang dan tekanan pengisian intraventrikular meninggi dan tekanan atrium meningkat. a) Intoleransi aktivitas Berhubungan dengan : • • • • • Tirah Baring atau imobilisasi Gaya hidup yang dipertahankan. Psikologis : usia tua, kecemasan, agen biokimia, suhu tubuh, pola aktivitas, depresi, kelelahan, takut, kesendirian. Lingkungan : kelembaban, kurangnya privacy/kontrol tidur, pencahayaan, medikasi (depresan, stimulan),kebisingan. Fisiologis : Demam, mual, posisi, urgensi urin

b) Gangguan pola tidur berhubungan dengan:

19

c) Kurang Pengetahuan Berhubungan dengan : keterbatasan kognitif, interpretasi terhadap informasi yang salah, kurangnya keinginan untuk mencari informasi, tidak mengetahui sumber-sumber informasi. 2. Rencana Asuhan Keperawatan N Tujuan dan Diagnosa Keperawatan Intervensi o Kriteria Hasil 1 Penurunan curah Tujuan: Mandiri jantung b/d gangguan Curah jantungAuskultasi nadi irama jantung, stroke tidak menurunapical, kaji volume, pre load dan setelah frekwensi, irama afterload, kontraktilitas dilakukan jantung. jantung. perawatan 2x 24 Catat bunyi jam jantung, palpasi Kriteria Hasil: nadi perifer, tekanan  Tanda Vital pantau darah tiap 1 jam dalam rentang Kaji kulit terhadap normal pucat, dan (Tekanan sianosis. darah, Nadi, Tinggikan kaki respirasi) dengan  Dapat mengganjal mentoleransi bagian tumit kaki aktivitas, dengan bantal/ tidak ada gulungan kain kelelahan Pantau haluaran  Tidak ada urine, catat edema paru, penurunan perifer, dan haluaran dan tidak ada konsentrasi urine asites setiap 8 jam  Tidak ada Tingkatkan/ penurunan dorong tirah kesadaran baring dengan  AGD dalam kepala ditinggikan batas normal 45 0 Pantau tingkat  Tidak ada distensi vena kesadaran dan GCS setiap 8 jam leher  Warna kulit Kolaborasi: normal 1. Berikan oksigen tambahan sesuai Rasional Biasanya terjadi takikardi untuk mengkonpensasi penurunan kontraktilitas ventrikuler Indikator klinis dari keadequatan curah jantung. Pemantauan memungkinkan tindakan terhadap dekompensasi Pucat indikasi penurunan perfusi ferifer, cyanosis karena kongseti vena Menurunkan stasis vena dan dapat menurunkan insiden trombus/pembentukan embolus Ginjal berespon untuk meningkatkan curah jantung dengan menahan natrium dan cairan. Haluaran urine biasa menurun Menurunkan volume darah yang kembali ke jantung yang memungkinkan oksigenasi, menurunkan dispneu dan regangan jantung Dapat menunjukkan tidak adequatnya perfusi serebral sekunder terhadap penurunan curah jantung Meningkatkan kebutuhan O2 untuk miokardium untuk
20

indikasi

3. 4. 5. 6.

melawan hipoksia/iskemia Meningkatkan kekuatan Obat sesuai kontraksi miokard dan indikasi:, memperlambat frekuensi Diuretik, co. jantung dengan menurunkan Furosemid, konduksidan memperlama bumetanid dll, periode refaktori pada Vasodilator, co. hubungan AV untuk Nitrat, arteriomeningkatkan efisiensi/curah dilator:hidralazin jantung. dll, Digoxin Menurunkan tekanan darah Meningkatkan istirahat/relaksasi dan menurunkan kebutuhan Captopril, oksigen dan kerja mikardium lisonopril, Untuk mencegah enalapril pembentukan trombus Tranquilizer Peningkatan BUN/Kreatinin menunjukan hiperfungsi/gagal ginjal. AST/LDH dapat Pemberian meningkat sehubungan dengan Antikoagulan kongesti hati dan Pantau/ganti menunjukan kebutuhan untuk elektrolit, Pantau obat dengan dosis lebih kecil hasil Lab, yang didetoksikasi oleh hati. Pemeriksaan Mengukur perubahan pada fungsi Hati , proses koagulasi atau koagulasi/PT/APT keefektifan terapi T antikoagulan. Menyatakan adanya kongesti paru Membersihkan jalan napas dan memberikan oksigen Menurunkan konsumsi oksigen/kebutuhan dan meningkatkan inflamasi paru maksimal Hipoksemia dapat menjadi berat selama edema paru Meningkatkan konsentrasi
21

2 Gangguan Pertukaran gas Berhubungan dengan : è Ketidakseimbangan perfusi ventilasi è perubahan membran kapiler-alveolar

Tujuan: Mandiri Kerusakan Auskultasi bunyi pertukaran gasnapas, catat krekels, tidak terjadimengi 2x24 jam dan Anjurkan klien selama batuk efektif, perawatan napas dalam jika kriteria hasi: timbul sesak  Pertahankan tirah Mendemonstr baring dengan asikan head up 20-30 peningkatan derajat ventilasi dan Kolaborasi 1. oksigenasi 1. Pemeriksaan G yang adekuat DA, nadi 2.

oksimetri setiap hari

oksigen alveolar yang dapat menurunkan hipoksemia jaringan

3 Kelebihan Volume Cairan Berhubungan dengan : - Mekanisme pengaturan melemah

 Memelihara kebersihan paru paru dan bebas dari tanda tanda distress pernafasan  Mendemo nstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan Tujuan: Mandiri Kelebihan cairanPantau haluaran uri tidak terjadin, catat jumlah dan setelah diberiwarna saat hari aske 2x24 jam dimana diuresis Kriteria Hasil: terjadi

Haluan urin mungkin sedikit fdan pekat karena penurunan perfusi ginjal.posisi terlentang membantu diuresis

22

- Asupan cairan berlebihan

 T erbebas dari edema, efusi, anaskara  B unyi nafas bersih, tidak ada dyspneu/orto pneu  T erbebas dari distensi vena jugularis,  M emelihara tekanan vena sentral, tekanan kapiler paru, output jantung dan vital sign DBN  T erbebas dari kelelahan, kecemasan atau bingung

Pantau/hitung keseimbangan pemasukan dan pengeluaran selama 24 jam. Pertahankan duduk atau tirah baring dengan posisi semi fowler selama fase akut. Pantau peningkatan vena jugular dan derajat edema setiap 1 hari

Mengetahui balance kelebihan cairan setiap harinya dan untuk pedoman ketentuan intake klien selanjutnya Posisi terlentang meningkatkan filtrasi ginjal dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan diuresis

Retensi cairan berlebihan dapat dimanifestasikan oleh pembendungan vena dan pembentukan edema. Edema perifer mulai pada kaki/mata kaki ( atau area dependen ) dan meningkat sebagai kegagalan paling buruk. Edema pitting adalah gambaran secara umum hanya setelah retensi sedikitnya 5 kg cairan. Peningkatan kongesti vascular ( sehubungan dsengan gagal jantung kanan ) secara nyata mengakibatkan edema jaringan sistemik. Buat jadwal Melibatkan pasien dalam pemasukan cairan, program terapi dapat digabung dengan meningkatkan perasaan keinginan minum mengontrol dan kerjasama bila mungkin. dalam pembatasan. Timbang BB Peningkatan 2,5 kg setiap hari menunjukkan kurang lebih 2 L cairan. Sebaliknya diuretic dapat mengakibatkan cepatnya kehilangan/perpindahan cairan dan kehilangan berat badan. Ubah posisi Pembentukan edema, sirkulasi dengan sering. melambat, imobilisasi/tirah Tinggikan kaki baring. Kegiata tersebut akan bila duduk meningkatkan sirkulasi. Auskultasi bunyi Kelebihan volume cairan napas, catat bunyi sering mangakibatkan kongesti tambahan paru Pantau TD dan Hipertensi dan CVP (+) CVP menunjukkan kelebihan
23

volume cairan Obat Meningkatkan laju aliran darahdan dapat menghambat 1. reabsorbsi Na Meningkatkan diuresis tanpa 2. kehilangan kalium 3. Mengganti kehilangan kalium b. Menurukan air total tubuh dan mencegahb reakumulasi Na c. Menunjukkan perubahan indikasif peningkatan/perbaikan kongesti paru 4 Intoleransi aktivitas Tujuan: Berikan bantuan Adanya istirahat dapat Berhubungan dengan : Setelah untuk memenuhi membantu klien untuk tetap aktivitas klien melakukan aktivitas dan • Tirah Baring atau dilakukan perawatan diselingi istirahat mengurangi beban jantung imobilisasi selama Bantu klien dalam Klien akan merasa nyaman • Kelemahan 2xjam klien perawatan diri karena kebutuhannya terpenuhi menyeluruh dapat melakukan sesuai dengan • Ketidakseimbang aktivitas sesuai kemampuan an antara suplei kemampuan Kaji respon pasien Menyebutkan parameter oksigen dengan Kriteria Hasil : terhadap aktivitas, membantu dalam mengkaji kebutuhan  perhatikan respons fisiologis terhadap • Gaya hidup yang Berpartisipa frekuensi nadi stres aktivitas dipertahankan. si dalam lebih dari aktivitas 20x/menit diatas fisik tanpa frekuensi istirahat disertai Pantau tandaUntuk mengetahui toleransi peningkatan tanda vital : TD, klien terhadap aktivitas yang tekanan nadi dan respirasi dilakukan darah, nadi sebelum dan dan RR sesudah aktivitas  Pantau adanya Mengetahui keadaan klien Mampu sesak yang lebih setelah melakukan aktivitas melakukan berat, pucat , aktivitas berkeringat sehari hari setelah melakukan (ADLs) aktivitas secara mandiri  Keseimbang Kolaborasi: a. Obat sesuai indikasi: Diuretik, co. Furosemid Tiazid Tambahan kalium Mempertahanka b. n cairan dan pembatasan Na Pantau foto c. thorax
24

an aktivitas dan istirahat 5 Gangguan pola tidur Tujuan: 1. Latih klien untuk Relaksasi akan mempercepat 1. berhubungan dengan: Setelah melakukan tehnikproses menjadi tidur - Psikologis : usia tua, diberikan relaksasi 2. kecemasan, agen perawatan Meningkatkan relaksasi dan biokimia, suhu tubuh, selama 1 hariAnjurkan klienkesiapan tidur serta memberi pola aktivitas, depresi, klien dapatuntuk melakukankenyamanan dan ketenangan kelelahan, takut, istirahat tidur kebiasaannya kesendirian. Kriteria hasil: sebelum tidur : - Lingkungan :  Jumlah jam berdoa kelembaban, Lingkungan tenang membantu tidur dalam3. kurangnya klien untuk tidur dan batas normal privacy/kontrol tidur,  Pola Ciptakan lingkunganmenurunkan saraf simpatis pencahayaan, medikasi tidur,kualitas yang nyaman bagiklien (depresan, dalam batas klien stimulan),kebisingan. Membantu proses relaksasi normal - Fisiologis : Demam, Anjurkan klien  Perasaan mual, posisi, urgensi posisi fresh sesudah mengatur urin tidur senyaman tidur/istirahat mungkin  Mampu mengidentifi kasi hal-hal yang meningkatka n tidur 6 Kurang Pengetahuan Tujuan: Jelaskan secaraPengetahuan proses penyakit Berhubungan dengan : Setelah umum tentangdan dampaknya diharapkan keterbatasan kognitif, dilakukan penyakit klien danakan memudahkan ketaatan interpretasi terhadap perawatan dampaknya terhadapklien terhadap program informasi yang salah, selama 2 harikeadaan klien pengobatan dan perawatan. kurangnya keinginan pengetahuan untuk mencari informasi, klien bertambahJelaskan pada klienDapat meningkatkan kerja tidak mengetahui mengenai tentang pentingnyasama dengan terapi obat dan sumber-sumber pengobatan danminum obat secaramencegah penghentian sendiri informasi. perawatan teratur sesuaipada obat Kriteria hasil: program  Pasien dan keluarga 3. menyatakan Jelaskan pada klien perawatanMemudahkan intervensi yang pemahaman proses yang akan dijalaniakan diberikan tentang
25

penyakit, kondisi, prognosis 4. dan program pengobatan  Pasien dan keluarga mampu melaksanaka n prosedur yang dijelaskan secara benar  Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya

klien Motivasi klien untuk patuh terhadap program Mengurangi kecemasan klien pengobatan dankarena program pengobatan perawatan dan perawatan klien yang lama.

DAFTAR PUSTAKA

26

Bambang Budi S, Leonardo Paskah S. 2010. Majalah Kedokteran Indonesia; Kardiomiopati Terkini. Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI. Jakarta Editor Santosa Budi. 2006. Panduan Diagnosis Keperawatan Nanda 2005-2006. Prima Medika: Jakarta Fisiologi Jantung. Edisi 2010. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/14332596/makalah-fisiologijantung, 14 Februari 2011. Heardman, Heather T. 2010. Nanda International Diagnosa Keperawatan: Definisi dan klasifikasi 20092011. Jakarta. EGC Ismail Yusuf. 2007. Jurnal Dexa Media; No 4, Vol 20 Komplikasi Jantung pada Kehamilan dan

Preeklampsia Berat. PPDS IPD FKUI/RSCM. Jakarta. Kardiomiopati. Edisi 2006. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/36187354/Referat-Kardiomiopati, 15 Februari 2011. Mario Johnson. 2006. Nursing diagnoses, outcomes, and interventions: NANDA, NOC, and NIC linkage Maron BJ dkk, 2006, “Contemporary Definitions and Classification of The

Cardiomyopathies”, Circulation, 113, 1807-1816 Penyakit jantung dalam kehamilan. Edisi 2005. Diunduh dari

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3485/1/gizi-bahri11.pdf, 26 Februari 2011. Peripartum cardiomyopathy. Diunduh dari http://www.asjog.org/journal/V2Issue1/231%20Reviews %20Peripartum%20cardiomyopathy_A.Nabhan-stg4-iss4.pdf, 19 Februari 2011. Peripartum cardiomyopathy. Edisi 2011. Diunduh dari

http://en.wikipedia.org/wiki/Peripartum_cardiomyopathy, 26 Februari 2011.

27

Peripartum kardiomitopati. Edisi 2008. Diunduh dari http://www.jpma.org.pk/full_article_text.php? article_id=2050), 7 Februari 2011.

28

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful