Prinsip-prinsip terapi obat antiepilepsi : 1.

Menentukan diagnosis yang tepat Penderita epilepsi akan meminum obat dalam jangka waktu yang lama yang berakibat pada kemungkinan adanya efek yang merugikan akibat obat antiepilepsi. 2. Menentukan kapan dimulainya terapi dengan obat antiepilepsi Salah satu kesulitan yang dihadapi seorang dokter dalam merawat pasien dengan serangan epilepsi adalah memutuskan kapan memulai pengobatan. Keputusan ini seharusnya dibuat setelah mendiskusikan dan mengevaluasi keadaan pasien, menimbang manfaat dan kerugian pengobatan. Setelah kejang pertama Langkah pertama untuk memulai pengobatan adalah menilai risiko terjadinya bangkitan selanjutnya. Jika bangkitan merupakan bangkitan non epileptik, pengobatan harus ditujukan pada faktor penyebab yang mendasari. Jika bangkitan hipoglikemik pada anak maka diterapi dengan glukosa, bangkitan karena putusnya alcohol dapat dikontrol paling baik dengan perubahan perilaku adiktif dan jika bangkitan karena masalah psikogenik dapat diatasi dengan konseling yang tepat. Terapi bangkitan epilepsi ditentukan oleh penilaian dua hal, risiko pengobatan dan manfaat pengobatan. Sebagai contoh, anak penderita epilepsi benigna dengan “spikes” di sentrotemporal mungkin tidak membutuhkan terapi dengan obat karena penelitian-penelitian menunjukkan bahwa setelah mengalami hanya sedikit serangan nokturnal, mereka jarang mengalami kondisi ini. Jika terdapat lesi struktural, biasanya bangkitan akan berulang (termasuk tumor otak, displasia kortikal dan malformasi arteriovenosa). Namun demikian, pada banyak kasus, penggalian faktor penyebab spesifik seringkali gagal. Keputusan untuk mulai memberikan pengobatan setelah kejang pertama, menurut Leppik (2001) dapat dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan risiko terjadinya kejang selanjutnya, yaitu treat, possibly treat dan probably treat. A. Treat : 1. Jika didapatkan lesi struktural : a. Tumor otak seperti meningioma, glioma, neoplastik b. Malformasi arteiovenosa c. Infeksi seperti abses dan ensefalitis herpetika 2. Tanpa lesi struktural, namun dengan : a. Riwayat epilepsi pada saudara (bukan pada orang tua) b. EEG dengan pola epilepsi yang jelas (epileptiform) c. Riwayat kejang akut (kejang akibat penyakit tertentu atau kejang demam pada masa kanak-kanak) d. Riwayat trauma otak atau stroke, infeksi SSP, trauma kepala berat e. Todd’s postical paresis f. Status epileptikus B. Possibly : Bangkitan tanpa ada penyebab yang jelas dan tidak ditemukan faktor risiko di atas. Untuk keadaan seperti ini diperlukan pertimbangan yang matang mengenai keuntungan dan risiko dari pengobatan obat antiepilepsi. Risiko pengobatan obat antiepilepsi umumnya rendah, sedangkan akibat dari bangkitan kedua tergantung gaya hidup pasien.pengobatan mungkin diindikasikan untuk pasien yang akan mengendarai kendaraan atau pasien yang mempunyai risiko besar atau trauma jika mengalami bangkitan kedua. C. Probably not (meskipun terapi jangka pendek mungkin bisa digunakan) : a. Putusnya alkohol

Kejang karena tidak tidur lama seperti kejang pada pelajar dalam waktu-waktu ujian Setelah kejang lebih dua kali atau lebih Pada umumnya pasien yang mengalami serangan dua kali atau lebih membutuhkan pengobatan. Sindrom epilepsi benigna spesifik seperti : kejang demam atau epilepsi benigna dengan “spikes” sentrotemporal. f. Kejang karena trauma(kejang tunggal dengan segera setelah pukulan di kepala) e. Sebagai contoh terapi diindikasikan untuk pasien yang bekerja sebagai sopir karena jika terjadi kekambuhan sewaktu-waktu maka akan membahayakan pasien bahkan mengancam nyawa pasien. Seandainya pasien diputuskan untuk diobati. maka kemungkinan terjadinya kejang yang kedua 10% pada tahun pertama dan 24% pada akhir tahun kedua setelah kejang yang pertama. kejang karena trauma(kejang tunggal dengan segera setelah pukulan di kepala). Kecuali pada serangan-serangan tertentu seperti kejang akibat putusnya alcohol. Keputusan untuk memulai terapi diambil dengan pertimbangan risk and benefit setelah sebelumnya dokter berdiskusi dengan pasien. Penyalahgunaan obat c. hipoglikemik. sindrom epilepsi benigna spesifik seperti : kejang demam atau epilepsi benigna dengan “spikes” sentrotemporal. kejang karena tidak tidur lama seperti kejang pada pelajar dalam waktu-waktu ujian dan kejang akibat penyebab non epileptik lainnya. Tipe serangan Tabel 2 modifikasi brodie et al (2005) dan panayiotopoulos (2005) Tipe serangan Parsial simple & kompleks dengan atau tanpa general sekunder First-line Karbamazepine Fenitoin Fenobarbital Okskarbazepin Lamotrigin Topiramat Gabapentin Asam valproat Karbamazepine Fenitoin Fenobarbital Asam valproat Second-line/ add on Asam valproat Levetiracetam Zonisamid Pregabalin Third line/ add on Tiagabin Vigabatrin Felbamat Pirimidon Tonik klonik Lamotrigin Okskarbazepin Topiramat Levetiracetam Zonisamid Pirimidon Lamotrigin Clobazam Mioklonik Topiramat Levetiracetam .b. dehidrasi. dehidrasi. Kejang akibat penyakit akut seperti demam tinggi. tipe serangan dan karakteristik pasien 1. penyalahgunaan obat. Memilih obat yang paling sesuai Pemilihan obat antiepilepsi didasarkan pada dua hal. Kejang akibat hal-hal di atas sebaiknya ditangani sesuai kausanya. Risiko terjadinya kekambuhan yang paling besar terjadi pada dua tahun pertama. Pada pasien yang mengalami kejang pertama namun tidak ada faktor risiko satupun yang ditemukan. hipoglikemik d. 3. kejang akibat penyakit akut seperti demam tinggi. Pengobatan yang dilakukan pada penderita yang mempunyai sedikit bahkan tidak mempunyai risiko terjadinya kejang kedua biasanya hanya terapi jangka pendek. maka penghentian pengobatan dilakukan setelah tahun kedua dari kejang yang pertama.

dosis yang tepat.5-25 100 500 1200 25-50 300 600 900-1800 200-400 400 1000 2400 200-400 100-700 400-2000 900-2700 100-800 400-600 500-2000 1800-4800 100-100 Frekuensi pemberian (kali/hari) 1-2 2-4 2-3 1-2 1-2 1-2 3 2 . khususnya wanita yang masih dalam usia subur. pola hidup dan usia pasien.Zonisamid Absence (tipikal dan atipikal) Atonik Asam valproat Lamotrigin Asam valproat Etosuksimid Clonazepam Fenobarbital Levetiracetam Zonisamid Felbamat Lamotrigin Topiramat Clonazepam Clobazam Tonik Asam valproat Fenitoin Fenobarbital Epilepsy juvenil Epilepsy juvenil absence Asam valproat Etosuksimid Asam valproat Fenobarbital Clonazepam mioklonik Clonazepam Etosuksimid 2. Sebagai contoh asam valproat pada wanita. 4. Optimalisasi terapi dengan dosis individu Table 3 dosis obat antiepilepsi untuk dewasa diambil dari Brodie et al (2005) Obat Dosis (mg/hari) awal Dosis yang paling umum (mg/hari) Dosis maintenance (mg/hari) Fenitoin Karbamazepin Okskarbazepin Lamotrigin Zonisamid Ethosuximid Felbamat Topiramat 200 200 150-600 12. karakteristik pasien Dalam pengobatan dengan obat antiepilepsi karakteristik pasien harus dipertimbangkan secara individu. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah : efek buruk obat. harga. Suatu obat antiepilepsi mungkin efektif pada pasien tertentu namun jika ada kontra indikasi atau terjadi reaksi yang tidak bisa ditoleransi maka sebaiknya penggantian obat dilakukan.

. dan menghambat terjadinya potensial aksi oleh depolarisasi terusmenerus pada neuron (4). Proses ini harus dilanjutkan sampai monoterapi dengan dua atau tiga obat primer gagal. Salah satu efek samping kronis yang mungkin terjadi adalah gingival hyperplasia (pembesaran pada gusi). Terapi dengan obat yang kedua harus dimulai dengan gambaran sebagai berikut: pertama. Setelah obat yang pertama diturunkan. Fenitoin memiliki range terapetik sempit sehingga pada beberapa pasien dibutuhkan pengukuran kadar obat + dalam darah (12). Pemberian fenitoin dosis tinggi dapat menyebabkan gangguan keseimbangan tubuh dan nystagmus. dan pencegahan kejang pada pasien trauma kepala/bedah saraf (11). Mekanisme aksi fenitoin adalah dengan menghambat kanal sodium (Na ) (13) yang mengakibatkan influk + (pemasukan) ion Na kedalam membran sel berkurang (11). 2. Setelah proses tersebut dilakukan baru politerapi dipertimbangkan. kelelahan. maka obat antiepilepsi kedua harus segera dipilih. Efek samping yang sering terjadi pada penggunaan fenitoin adalah depresi pada SSP.Clobazam Clonazepam Fenobarbital Pirimidon Tiagabin Vigabatrin Gabapentin Pregabalin Valproat Levetiracetam 5. Dosis awal penggunaan fenitoin 5 mg/kg/hari dan dosis pemeliharaan 20 mg/kg/hari tiap 6 jam (10). Penggantian Obat 10 1 60 125 4-10 500-1000 300-400 150 500 1000 20 4 120 500 40 3000 2400 300 1000 2000-3000 10-40 2-8 60-240 250-1500 20-60 2000-4000 1200-4800 150-600 500-3000 1000-4000 1-2 1-2 1-2 1-2 2-4 1-2 3 2-3 2-3 2 Penggantian obat antiepilepsi pertama dilakukan jika : 1. disfungsi korteks dan mengantuk. dosis dari obat kedua harus dititrasi sampai pada range dosis yang direkomendasikan. Jika serangan terjadi kembali meskipun obat antiepilepsi pertama sudah diberikan dengan dosis maksimal yang dapat ditoleransi. sehingga mengakibatkan lemah. kejang tonik-klonik. Antiepilepsi Penggolongan obat antiepilepsi (1) Hidantoin Fenitoin Fenitoin merupakan obat pilihan pertama untuk kejang umum. gangguan penglihatan (penglihatan berganda). Menjaga kebersihan rongga mulut dapat mengurangi resiko gingival hyperplasia (14). Obat yang pertama harus diturunkan secara bertahap selama 1-3 minggu. Jika terjadi reaksi obat pertama baik efek samping. dosis obat kedua (monoterapi) harus dinaikkan sampai serangan terkontrol atau dengan efek samping yang minimal. reaksi alergi ataupun efek merugikan lainnya yang tidak dapat ditoleransi pasien.

Etosuksimid 2+ 2+ menghambat pada kanal Ca tipe T. Mekanisme aksi okskarbazepin mirip dengan mekanisme kerja karbamazepin (4). (5) Suksimid Etosuksimid Etosuksimid digunakan pada terapi kejang absens (11). 300 mg 2 kali sehari (11). mengantuk. Efek samping yang sering terjadi antara lain adalah pusing. Efek samping lain yang mungkin terjadi adalah kelelahan. Dosis etosuksimid pada anak usia 3-6 tahun 250 mg/hari untuk dosis awal dan 20 mg/kg/hari untuk dosis pemeliharaan. mual. Efek samping SSP merupakan hal yang umum terjadi pada penggunaan fenobarbital. Aksi utama fenobarbital terletak pada kemampuannya untuk menurunkan konduktan Na dan K. Efek samping penggunaan etosuksimid adalah mual dan muntah. Karbamazepin menghambat kanal Na (7). lemah. kemerahan dikulit. kehilangan keseimbangan. Sedangkan dosis pada anak dengan usia lebih dari 6 tahun dan dewasa 500 mg/hari (11). Efek anti kejang primidon hampir sama dengan fenobarbital. Okskarbazepin memiliki efek samping lebih ringan dibanding dengan fenitoin. perubahan perilaku. yang mengakibatkan influk (pemasukan) ion Na kedalam membran sel berkurang (11) dan menghambat terjadinya potensial aksi oleh depolarisasi terus-menerus pada neuron (4). ketidak seimbangan tubuh. dispepsia. Fenobarbital menurunkan influks kalsium dan mempunyai efek langsung terhadap reseptor GABA (16) (aktivasi reseptor barbiturat akan meningkatkan durasi pembukaan reseptor GABA A (7) dan meningkatkan konduktan post-sinap klorida). Okskarbazepin merupakan prodrug yang didalam tubuh akan segera dirubah menjadi bentuk aktifnya. dan karbamazepin (10). Selain itu. mual. toksisitas yang rendah. fenobarbital juga menekan glutamate excitability dan meningkatkan postsynaptic GABAergic inhibition (16). dan kecemasan. sedasi. yaitu suatu turunan 10-monohidroksi dan dieliminasi melalui ekskresi ginjal (4). dan impotensi (11). muntah. Penggunaan fenobarbital pada anak-anak dapat menyebabkan hiperaktivitas. mengantuk. Dosis awal penggunaan fenobarbital 1-3 mg/kg/hari dan dosis pemeliharaan 10-20 mg/kg 1kali sehari (14). Kanal kalsium merupakan target dari beberapa obat antiepilepsi. Dosis penggunaan okskarbazepin pada anak usia 4-16 tahun 8-10mg/kg 2 kali sehari sedangkan pada dewasa. Dosis primidon 100-125 mg 3 kali sehari (7). Namun. Efek samping yang sering terjadi pada penggunaan karbamazepin adalah gangguan penglihatan (penglihatan berganda). Efek samping penggunaan okskarbazepin adalah pusing. (4) Iminostilben (a) Karbamazepin Karbamazepin secara kimia merupakan golongan antidepresan trisiklik (4). efek . diare. Sedangkan pada anak usia lebih dari 12 tahun dan dewasa 400 mg 2 kali sehari (8). asam valproat. Karbamazepin digunakan sebagai pilihan pertama pada + + terapi kejang parsial dan tonik-klonik (11). mengantuk. efek sedasinya serta kecenderungannya menimbulkan gangguan perilaku pada anak-anak telah mengurangi penggunaannya sebagai obat utama (15). sehingga penghambatan pada kanal tersebut akan mengurangi sentakan pada kejang absens (4). konstipasi. Didalam tubuh primidon dirubah menjadi metabolit aktif yaitu fenobarbital dan feniletilmalonamid (PEMA) (4). PEMA dapat meningkatkan aktifitas fenobarbotal (11). dan depresi. goyah (tidak dapat berdiri tegak) dan Hyponatremia. Dosis pada anak dengan usia kurang dari 6 tahun 10-20 mg/kg 3 kali sehari. namun kurang poten. pusing. Resiko terjadinya efek samping tersebut akan meningkat seiring dengan peningkatan usia (10). Talamus berperan dalam pembentukan ritme sentakan yang diperantarai oleh ion Ca tipe T pada kejang absens. Primidon mempunyai efek penurunan pada neuron eksitatori (11). anak usia 6-12 tahun dosis awal 200 mg 2 kali sehari dan dosis pemeliharaan 400-800 mg. (b) Okskarbazepin Okskarbazepin merupakan analog keto karbamazepin. Efikasi. Okskarbazepin dapat menginduksi enzim CYP450 (4). dan Stevens-Johnson syndrome (10). serta harga yang murah menjadikan fenobarbital obat yang penting utnuk tipe-tipe epilepsi ini. sakit kepala.(2) Barbiturat Fenobarbital Fenobarbital merupakan obat yang efektif untuk kejang parsial dan kejang tonik-klonik (11). Fenobarbital juga dapat menyebabkan kemerahan kulit. (3) Deoksibarbiturat Primidon Primidon digunakan untuk terapi kejang parsial dan kejang tonik-klonik (4). Okskarbazepin digunakan untuk pengobatan kejang parsial (10).

kehilangan kesadaran.samping penggunaan etosuksimid yang lain adalah ketidakseimbangan tubuh. sakit kepala. mengantuk. Asam valproat dapat meningkatkan GABA dengan menghambat degradasi nya atau mengaktivasi sintesis GABA. Asam valproat juga berpotensi terhadap respon GABA post sinaptik yang langsung menstabilkan membran serta mempengaruhi kanal kalium (10). Efek samping lain yang mungkin ditimbulkan adalah pusing. (c) Levetirasetam . Gabapentin mengikat protein pada membran 2+ 2+ 2+ korteks saluran Ca tipe L. (8) Obat antiepilepsi lain (a) Gabapentin Gabapentin merupakan obat pilihan kedua untuk penanganan parsial epilepsi walaupun kegunaan utamanya adalah untuk pengobatan nyeri neuropati (12). kemerahan dikulit. Namun gabapentin tidak mempengaruhi arus Ca pada saluran Ca tipe T. Uji double-blind dengan kontrol plasebo pada penderita seizure parsial yang sulit diobati menunjukkan bahwa penambahan gabapentin pada obat antiseizure lain leibh unggul dari pada plasebo. Gabapentin dapat meningkatkan pelepasan GABA nonvesikel melalui mekanisme yang belum diketahui. Obat yang dapat menginduksi enzim dapat meningkatkan metabolisme valproat. pusing. goyah (tidak dapat berdiri tegak). Valproat sendiri juga dapat menghambat metabolisme lamotrigin. tremor. anak usia 611 tahun 0. Perilaku yang agresif umumnya terjadi pada anak-anak. maupun pada pasien geriatri. mengantuk.3 mg/kg. Efek samping yang berat dari penggunaan asam valproat adalah hepatotoksik. pusing dan cegukan (10). Dosis penggunaan asam valproat 10-15 mg/kg/hari (11). muntah. dan ketidakseimbangan tubuh. Lamotrigin tidak menginduksi atau menghambat metabolisme obat anti epilepsi lain. Hyperammonemia (gangguan metabolisme yang ditandai dengan peningkatan kadar amonia dalam darah) umumnya terjadi 50%. Penurunan nilai median seizure yang diinduksi oleh gabapentin sekitar 27% dibandingkan dengan 12% pada plasebo. dan kejang tonik-klonik (11). gangguan pencernaan. (6) Asam valproat Asam valproat merupakan pilihan pertama untuk terapi kejang parsial. Lamotrigin dapat menyebabkan kemerahan kulit terutama pada penggunaan awal terapi 3-4 minggu. Hampir 1/3 pasien mengalami efek samping obat walaupun hanya kurang dari 5% saja yang menghentikan penggunaan obat terkait efek samping tersebut (12). anak usia 12 tahun atau lebih 0. kelelahan. Dosis lamotrigin 25-50 mg/hari (11). N. anorexia. depresi.2 mg/kg (11). dan peningkatan berat badan. dan mual (11). dan karbamazepin. kejang absens. Efek samping yang sering terjadi adalah gangguan pencernaan (>20%). Penelitian double-blind monoterapi gabapentin (900 atau 1800 mg/hari) mengungkapkan bahwa efikasi gabapentin mirip dengan efikasi karbamazepin (600 mg/hari) (15). dan goyah (tidak dapat berdiri tegak). fenitoin. menghambat aktivasi arus Ca serta memblok pelepasan eksitasi neurotransmiter asam amino seperti glutamat dan aspartat. Efek samping yang sering dilaporkan adalah pusing. anak usia 12 tahun atau lebih dan dewasa 300 mg 3 kali sehari (11). (b) Lamotrigin Lamotrigin merupakan obat antiepilepsi generasi baru dengan spektrum luas yang memiliki efikasi pada parsial dan epilepsi umum (10). sehingga aktivasi reseptor benzodiazepin akan meningkatkan frekuensi pembukaan reseptor GABAA (7). Stevens-Johnson syndrome juga dilaporkan setelah menggunakan lamotrigin (10). anak usia 5-12 tahun 25-35 mg/kg 3 kali sehari. dan kebotakan. Interaksi valproat dengan obat antiepilepsi lain merupakan salah satu masalah terkait penggunaannya pada pasien epilepsi. Penggunaan lamotrigin umumnya dapat ditoleransi pada pasien anak. pusing. Gabapentin tidak selalu mengurangi perangsangan potensial aksi berulang terus-menerus (4). Asam valproat mempunyai efek gangguan kognitif yang ringan. tetapi tidak sampai menyebabkan kerusakan hati (10). kejang mioklonik. termasuk mual. gangguan keseimbangan tubuh. Dosis gabapentin untuk anak usia 3-4 tahun 40 mg/kg 3 kali sehari. dan dewasa 4-40 mg/hari (7). (7) Benzodiazepin Benzodiazepin digunakan dalam terapi kejang (11). Mekanisme aksi utama lamotrigin adalah 2+ blokade kanal Na. Benzodiazepin merupakan agonis GABA A. Penggunaan fenitoin dan valproat secara bersamaan dapat meningkatkan kadar fenobarbital dan dapat memperparah efek sedasi yang dihasilkan. dewasa. Efek samping yang mungkin terjadi pada penggunaan benzodiazepin adalah cemas. Efek samping yang sering dilaporkan adalah gangguan penglihatan (penglihatan berganda). konstipasi. Dosis benzodiazepin untuk anak usia 2-5 tahun 0.5 mg/kg. mengantuk. Beberapa pasien yang menggunakan gabapentin mengalami peningkatan berat badan (10). atau L.

muntah. dan depresi juga dilaporkan akibat penggunaan levetirasetam (10). Dosis levetirasetam 500-1000 mg 2 kali sehari (7). Mekanisme aksi felbamat menghambat kerja NMDA dan meningkatkan respon GABA (4). Topiramat dapat menyebabkan asidosis metabolik sehingga terjadi anorexia dan penurunan berat badan (10). Gangguan perilaku seperti agitasi. asthenia (kekurangan atau kehilangan energi). Resiko terjadinya anemia aplastik akan meningkat pada wanita yang mempunyai riwayat penyakit cytopenia (10). sulit mengingat. paresthesias (rasa tidak enak atau abnormal). kejang absens. gangguan perilaku. Efek samping utama yang mungkin terjadi adalah gangguan keseimbangan tubuh. anorexia. Anorexia dan penurunan berat badan umumnya terjadi pada anak-anak dan pasien dengan konsumsi kalori yang rendah. Di United Stated 26% pasien mengalami gejala batu ginjal (10). dan kejang tonik-klonik. pusing. antagonis reseptor glutamat AMPA/kainate. (e) Tiagabin Tiagabin digunakan untuk terapi kejang parsial pada dewasa dan anak ≥16 tahun. kelelahan. Efek samping yang sering terjadi adalah pusing. (g) Zonisamid Zonisamid merupakan suatu turunan sulfonamid (4) yang digunakan sebagai terapi tambahan kejang parsial pada anak lebih dari 16 2+ tahun dan dewasa (11). dan agitasi. kejang mioklonik. kejang mioklonik. Proses pengikatan levetiracetam dengan protein sinaptik belum diketahui. mual. Dosis felbamat untuk anak usia lebih dari 14 tahun dan dewasa 1200 mg 3-4 kali sehari (11). Mekanisme aksi zonisamid adalah dengan menghambat kanal kalsium (Ca ) tipe T. Efek samping yang umum terjadi adalah sedasi. sulit berkonsentrasi. Mekanisme levetirasetam dalam 2+ mengobati epilepsi belum diketahui. Topiramat + mengobati kejang dengan menghambat kanal sodium (Na ). Tiagabin meningkatkan aktivitas GABA (11). sakit kepala.Levetiracetam mudah larut dalam air dan merupakan derifat pyrrolidone ((S)-ethyl-2-oxo-pyrrolidine acetamide) (31). Penggunaan tiagabin bersamaan dengan makanan dapat mengurangi efek samping SSP (10). kejang tonik-klonik (10). Levetirasetam digunakan dalam terapi kejang parsial. (d) Topiramat Topiramat digunakan tunggal atau tambahan pada terapi kejang parsial. dan menghambat karbonat anhidrase yang lemah (11). meningkatkan aktivitas GABAA. felbamat hanya digunakan bila terapi sebelumnya tidak efektif dan pasien epilepsi berat yang mempunyai resiko anemia aplastik (11). sakit kepala dan penurunan berat badan. gangguan tidur. Namun pada suatu studi penelitian disimpulkan levetirasetam dapat menghambat kanal Ca tipe N (11) dan mengikat protein sinaptik yang menyebabkan penurunan eksitatori (atau meningkatkan inhibitori). Efek samping yang sering dilaporkan terkait dengan penggunaan felbamat adalah anorexia. pusing. (f) Felbamat Felbamat bukan merupakan pilihan pertama untuk terapi kejang. Dosis topiramat 25-50 mg 2 kali sehari (7). Tabel II. tremor. Dosis tiagabin 4 mg 1-2 kali sehari (11). Pilihan obat untuk gangguan kejang spesifik (10) Tipe seizure Seizure parsial Terapi pertama pilihan Obat alternatif Gabapentin Topiramat Levetiracetam Zonisamid Tiagabin Primidon Fenobarbital Felbamat Lamotrigin Karbamazepin Fenitoin Lamotrigin Asam valproat okskarbanzepin kejang absens Asam valproat . Efek samping yang umum terjadi adalah mengantuk. dan efek pada SSP. diare dan depresi (17). mual. antagonis neuron atau menghambat reuptake GABA (7). kecemasan. Dosis zonisamid 100 mg 2 kali sehari (7).

Levetiracetam Tonik-klonik Fenitoin Karbamazepin Asam valproat . topiramat.umum Mioklonik Etosuksimid Asam valproat Klonazepam Levetiracetam Lamotrigin. levetiracetam Lamotrigin. felbamat. primidon. okskarbanzepin. fenobarbital. topiramat. zonisamid.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful