You are on page 1of 4

PRINSIP-PRINSIP KEMITRAAN, KENDALA, DAN ALTERNATIF SOLUSINYA DALAM HUBUNGAN INDUSTRIAL Oleh Web Master Selasa, 11-Oktober

-2005, 18:20:15 1836 klik

Hubungan antara perusahaan (majikan), (organisasi) para pekerja dan pemerintah pada umumnya disebut dengan istilah ‘hubungan industrial’. Hubungan tersebut meliputi seluruh isu, termasuk kondisi-kondisi kerja, upah, jam kerja, kesehatan pekerja, serikatserikat pekerja, tunjangan kesehatan, Tunjangan Hari Raya (THR), cuti, dan lain-lain. oleh : Samsul Huda (LPPM UBAYA)

A. TIPE HUBUNGAN INDUSTRIAL DULU DAN SEKARANG Dalam masyarakat dahulu, organisasi pekerja adalah alat (instrumen) bagi negara dan sebagian di-restriksi (batasi) dalam fungsi mereka untuk lebih mendorong produktivitas pegawai yang lebih tinggi, yang dicirikan oleh absennya kepemilikan swasta. Di negara dengan sistem diktatorial kapitalis, atau semi diktator, serikat pekerja biasanya memiliki kebebasan untuk mewarnai lingkungan politik. Gerakan serikat pekerja dapat menjadi sekutu bagi penguasa untuk menghadang kaum pemilik tanah (aristokrat). Dalam masyarakat industri yang demokratis, serikat pekerja berfungsi sebagai instrumen tawarmenawar secara kolektif, yang memberi kuntungan timbal balik antara pengusaha dan pekerja.

B. POLA HUBUNGAN INDUSTRIAL INDONESIA Saat ini pemerintah Indonesia menegaskan bahwa, hubungan industrial di Indonesia memiliki kualitas yang spesifik dan berbeda dengan negara lain. Sehingga pola hubungan industrial model liberal kapitalis, sosialis, dan semacamnya harus ditolak. Pola hubungan industrial yang diharapkan tumbuh berkembang di negara Indonesia adalah yang memegang teguh nilai dan cara pandang orang Indonesia, yakni nilai-nilai Pancasila, dengan terciptanya situasi kerja yang harmonis, dan seimbang.

C. FUNGSI PARA PIHAK DALAM KEMITRAAN Implikasinya : 1. Hubungan antara pekerja dan perusahaan harus disesuaikan dengan prinsip gotong royong, tolong menolong, dan kekeluargaan 2. Problem-problem harus dipecahkan melalui sebuah proses konsensus atau permufakatan bulat antara perusahaan dan (organisasi) pekerja. 1. Organisasi Pekerja, Peran organisasi ini tidak hanya harus merefleksikan aspirasi-asprirasi para buruh termasuk hak mereka untuk berorganisasi, hak kolektif mereka untuk mengekspresikan perasaaan-perasaan, kondisi kerja, tawar-menawar secara kolektif, dan hak-hak normatif

pembimbing (guide). yakni bahwa kontrol harus dilakukan seketat mungkin. Pemerintah Pemerintah harus memerankan tiga fungsi : Fungsi pelindung (protector). kuno. Namun kehadiran pihak III (pemerintah) penting untuk menjadi katalisator bila terjadi kebekuan hubungan keduanya D. dari atas ke bawah. Ini lebih mencerminkan keguyuban rumah tangga perusahaan. mediasi. milik pribadi atau milik publik (go public). Dalam hal ini pemerintah merupakan pelindung komunitas serta mitra dalam proses produksi. TAMPILAN KONFLIK : a. dsb) ia dapat dihindarkan. tidak menghancurkan tatanan sosial. Semakin kuat tekanan terhadap para pekerja. adalah masyarakat yang tidak pernah bergejolak sama sekali. Kontrol sebagai aksi korektif yang muncul dari kelompok buruh dianggap sebagai gangguan keamanan. baik perusahaan yang modern. protes-protes. tapi justru membawa kepada perbaikan-perbaikan dalam kondisi-kondisi kerja. dan yang sejenisnya. Konflik Terbuka (manifest) Konflik terbuka adalah konflik yang terjadi antara perusahaan dan pekerja yang ditunjukkan dengan adanya disfungsi organisasi dengan melakukan beberapa tindakan . yang terkadang justru tidak dapat dihindari resikonya. dan penengah (arbitrator). kontrol yang terlalu berlebihan justru menimbulkan dampak akumulasi konflik laten (tersembunyi) yang pada akhirnya akan dapat berubah menjadi konflik terbuka yang lebih dahsyat. di negara manapun. maka dapat dipastikan terjadinya penggelembungan konflik laten yang setiap saat akan meledak. KONFLIK INDUSTRIAL Apapun jenis perusahaannya. Memang seharusnya hubungan kemitraan terbangun secara internal antara perusahaan dengan (organisasi) pekerja. Perusahaan Perusahaan memiliki hak untuk mengembangkan bisnis sehingga menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi perusahaan. tapi melalui media (negosiasi. tapi juga harus pula bertanggung jawab terhadap partisipasi aktif para buruh dalam kewajiban-kewajiban mereka dalam pekerjaan 2. tetapi Perusahaan harus pula memberikan kontribusi yang konstruktif terhadap kesejahteraan para buruh dan mengembangkan praktek-praktek manajemen yang baik dalam perusahaan 3. Sebaliknya dalam masyarakat (industri) yang kaku (rigid). kehadiran konflik tidak dapat dicegah. Misalnya gerakan buruh di masyarakat kapitalis melalui pemogokan. Dalam hubungan industrial juga terjadi hal hampir yang sama. Konflik tidak dapat dihindari. Ini kemudian dipahami sebagai konsensus bersama bahwa kondisi stabil adalah prasyarat utama terciptanya masyarakat yang harmonis.lainnya. termasuk hak untuk mengatur modal. Parahnya pandangan masyarakat yang “harmonis”.

yang dilakukan oleh manajemen terhadap pekerja-nya.Prinsip win – win (sama-sama menang) . non-kooperasi. tapi akan menjadi konflik laten apabila tidak segera mendapatkan jawaban Konflik. hanya berhenti dalam kematian Thomas Hobbes atau hanya untuk F.Kue yang diperebutkan jumlahnya terbatas . MEMECAHKAN KONFLIK DENGAN NEGOSIASI Tidak ada konflik. biasanya muncul dimana terjadi disfungsionalisasi organisasi yang kuat. restriksi out put. mempertahankan kejayaan. Ada dua konsep model kontrol : a. Two Way Traffic Model kontrol ini lebih pada situasi “konflik” yang terjadi antara perusahaan dan pekerja dimana pekerja berjuang untuk membela kepentingannya yang terhambat. yang dapat terjadi dalam basis individual (sendiri-sendiri) maupun kolektif (bersama-sama). Akibatnya tumbuh tendensi terselubung yang menggejala. sabotase.Prinsip Win . dengan demikian hak perusahaan-lah untuk melakukan kontrol. Negosiasi Berdasar Posisi : . Konflik Indutrial Harus Dipahami Sebagai Sebuah Tindakan Korektif Oleh Para Pihak Dalam Hubungan Kemitraan E. Negosiasi Berdasar Kepentingan : . 2. persoalan. keamanan. yang bertujuan untuk keuntungan. One Way Traffic Model kontrol yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja tanpa adanya timbal balik yang seimbang. Salah satu cara yang paling mudah untuk memecahkan konflik antara pekerja dengan perusahaan adalah dengan cara ber-negosiasi. KONFLIK DAN POLA KONTROL Kontrol sering diartikan sebagai tindakan korektif. b. atau masalah yang tidak dapat dipecahkan. dst.Anda adalah musuh saya. Sebuah penolakan untuk menyesuaikan struktur organisasional akan membawa kepada akumulasi konflik laten yang tidak dapat dihindarkan dan akan memaksimalkan kesempatan untuk terjadinya ledakan-ledakan kekerasan. dan lain-lain. Hal ini sudah biasa dilakukan karena posisi perusahaan yang lebih kuat dibandingkan dengan posisi pekerja. Namun demikian kontrol yang monolog semcam ini tidak jarang menimbulkan konflik baik laten maupun manifest apabila dilakukan tidak secara proporsional. b. Hal ini akan efektif apabila pihak perusahaan mengambil langkah responsif. 2 konsep model Negosiasi : 1. Konflik Laten Konflik laten adalah konflik yang tersembunyi antara perusahaan dan pekerja. Organisasi tidak mampu mengartikulasikan kepentingan pekerja.Lose .misalnya : pemogokan.

Akses Sumber Daya.Kesejahteraan. Kelima aspek ini sifatnya berjenjang yang menunjukkan tingkat keberdayaan seseorang : . yang mencerminkan pula sikap dan perilaku tanggung jawab terhadap masa depan perusahaan.Partisipasi.KONDISI MACAM APA YANG MEN-SYARAT-KAN TERJADINYA KEMITRAAN APAKAH DALAM HUBUNGAN KEMITRAAN MEMUNGKINKAN TERJADINYA KONFLIK . tidak ada halangan untuk mendapatkan akses. tahapan kesadaran bahwa dalam menjalankan pekerjaan selalu dilandasi oleh semangat “diperintah oleh diri sendiri” bukan “oleh orang lain” secara bertanggung jawab. tidak ada halangan untuk berperan serta.Kuasa. .APAKAH KONFLIK YANG TERJADI HARUS DIHILANGKAN SAMA SEKALI . DIMENSI PEMBERDAYAAN DALAM KEMITRAAN Hasil akhir hubungan kemitraan antara perusahaan dengan (organisasi) pekerja akan dicirikan oleh beberapa aspek berikut ini.“Anda adalah mitra saya”.APAKAH KONFLIK BISA DINEGOSIASIKAN? BAGAIMANA? .APA YANG DIMAKSUD DENGAN MITRA . H.. tidak disubordinasi dan men-subordinasi. Kuasa untuk melakukan pekerjaan layaknya memerintah dirinya sendiri.Kesadaran Kritis. termasuk kesempatan yang sama dalam jenjang karier yang ditunjukkan dengan prestasi dan persaingan yang terbuka . . BAHAN DISKUSI .Kue yang diperebutkan jumlahnya tak terbatas . meskipun dia adalah penguasa. Partisipasi merupakan wujud nyata dari rasa “handarbeni”. dst G. semua yangg terlibat dalam hubungan kemitraan terlampaui kebutuhan fisik minimum .APAKAH MEMUNGKINKAN MELAKUKAN HUBUNGAN KEMITRAAN DALAM SEBUAH PERUSAHAAN .