No : 03-2011 Desember 2011

Buletin

MENGANTISIPASI KERAWANAN DELTA

ILWI (Indonesian Land reclamation & Water management Institute), adalah sebuah lembaga kajian dibidang reklamasi dan pengelolaan air. Lembaga ini berupaya untuk menyebarkan informasi dan pengetahuan di bidang reklamasi & pengelolaan air kepada masyarakat. Salah satunya dengan penerbitan buletin. Buletin ini kami kirimkan secara gratis. Tulisan, saran dan pemberitaan media menjadi bagian dari isi buletin ini. Alamat :

Jalan Palapa II No 19, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 12520
atau P.O. Box 7277/JKSPM Jakarta Selatan 12072 Website : www.pengendalianbanjir.com Email : ilwi@indosat.net.id

ILWI Buletin No 03-2011

1

PENGANTAR REDAKSI
Pembaca yang budiman, memasuki akhir tahun 2011 ada banyak catatan mengenai pengelolaan air dan reklamasi di negeri ini. Kita bersyukur bahwa banjir yang terjadi di tahun ini tidak terlalu banyak menimbulkan kerugian dan korban. Tahun sebelumnya 2010, kita sempat dibuat tercengang tatkala banjir di Wasior, Papua, memakan jumlah korban yang cukup banyak. Tahun ini bukan berarti tanpa banjir, tetapi tempat terjadinya yang relatif bukan didaerah-daerah yang penduduknya padat. Sehingga tidak menimbulkan kerugian yang relatif besar. Di Jawa banjir masih sering menyambangi kota-kota di pesisir Pulau Jawa, juga beberapa tempat di Papua, Kalimantan dan Sumatra. Jakarta jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya tahun ini relatif aman. Kali ini yang membuat kita terkejut justru beberapa kejadian banjir di negara tetangga kita. Kota-kota besar yang kebanyakan berada di daerah delta mengalami beragam bencana terutama banjir dan badai. Jumlah korban dan kerugiannya cukup besar , kejadian ini membuat kita miris menyaksikannya. Pembaca, secara kebetulan Jakarta menjadi penyelenggara World Delta Summit (WDS) , satu konferensi berskala dunia yang membahas tentang permasalahan-permasalahan yang terjadi di kawasan delta di kulit bumi ini. Menarik, karena konferensi seperti ini baru pertama kali diadakan di dunia. Ada banyak problem kehidupan di delta yang dibahas di ajang ini. Kami tertarik untuk menjadikan WDS ini sebagai bahasan utama dalam buletin kali ini. Tentu saja dikaitkan dengan bencana yang belakangan terjadi dibeberapa kota delta di kawasan Asean. Pembaca dengan senang hati kami persilahkan Anda menikmati buletin edisi kali ini dan tidak lupa kami mengucapkan Selamat Tahun Baru 2012.

Redaksi

ILWI Buletin No 03-2011

2

World Delta Summit

AGAR AMAN DI KAWASAN DELTA
World Delta Summit berlangsung ditengah kekhawatiran orang terhadap kerawanan yang terjadi di banyak delta di seluruh dunia. Perubahan-perubahan yang terjadi di kawasan delta cukup cepat dan bervariasi. Setiap pengembangan kawasan ini harus memperhatikan perubahan lingkungan yang ditimbulkannya.

Suasana World Delta Summit

www.menkokesra.go.id

Banjir besar yang terjadi di Bangkok, Thailand, di pengujung Oktober 2011, memang tidak ada hubungannya dengan penyelenggaraan World Delta Summit (WDS) di Jakarta, 21 - 24 November 2001. Akan tetapi peristiwa yang terjadi tiga minggu sebelum digelarnya Delta Summit itu, seolah-olah mengingatkan peserta bahwa kejadian di Bangkok adalah bagian dari kerawanan tinggal di daerah delta. Muka tanah yang relatif rendah dan berbatasan dengan pantai memberi kerawanan tersendiri bagi daerah delta. Aliran air yang berasal dari hulu dan bergerak menuju laut, pasti melewati wilayah ini. Pengelolaan kawasan yang tidak pas tentu akan memberi efek merugikan diwaktu-waktu tertentu. Di jaman keterbukaan ini, tidak hanya kerugian dalam hal ekonomi saja, jika berlarut-larut bisa saja permasalahan mengarah ke ranah politik. Lihat saja di Thailand, berkali-kali pemerintah harus meyakinkan masyarakat bahwa banjir bisa ditangani pemerintah.

"Mohon keyakinan di Thailand, kita juga memiliki sistem yang amat baik di Bangkok. Namun Bangkok merupakan tujuan terakhir sebelum laut, dan ini merupakan momen puncak yang terburuk bagi Thailand." ujar Yinluck Shinawatra, Perdana Menteri Thailand saat warga resah akibat banjir di Bangkok. Disatu sisi Yinluck berusaha meyakinkan rakyatnya bahwa banjir bisa segera diatasi, disisi lain kita yang tinggal di daerah delta diingatkan bahwa air akan selalu melalui daerah ini sebelum masuk ke laut. Sedikit penjelasan, delta atau kuala merupakan daerah endapan di muara sungai yang berbatasan dengan lautan terbuka. Karena posisinya itu, aliran sungai selalu melalui daerah ini saat air mengalir menuju laut. Daerah semacam ini lebih disukai oleh kebanyakan warga dunia, karena lebih gampang mendapatkan kebutuhan dasar seperti air, makanan, tanah yang subur dan udara yang relatif stabil. Disamping itu keunggulan daerah semacam ini adalah transportasi air yang relatif lebih mudah, baik melalui sungai maupun laut.
3

ILWI Buletin No 03-2011

Melihat kemudahan yang diberikannya maka layak kalau daerah delta dijejali sekitar 60% penduduk dunia. Mereka rata-rata tinggal dipinggir pantai hingga 60 kilometer ke dalam garis pantai. Ironisnya dari seluruh daerah delta yang ditempati manusia, 60 persennya merupakan daerah padat penduduk yang kebanyakan warga miskin. Dimana daerah ini juga merupakan daerah rawan akan bencana banjir dan badai ekstrim akibat terjadinya perubahan iklim.

tidak harus pesimis memandang kawasan delta, hanya karena terjadinya beberapa bencana di daerah itu.

Badai di Filipina

www.junalpatrolinews.com

Kawasan delta akan tetap menjadi daerah yang berkembang baik secara ekonomi, sosial dan budaya. Karena itu WDS 2011 dipandang cukup baik untuk ajang bertukar pikiran, berembug dan mencari solusi bagi kehidupan di delta yang lebih aman, nyaman dan berkembang. Sesuai dengan tema WDS kali ini : The pulse of delta and the fate of our civilization ( denyut nadi delta dan nasib dari peradaban manusia).
Sebuah stasiun di Bangkok
www.beritamanca.com

Rawannya kawasan delta tidak hanya tergambar dalam bencana banjir yang terjadi di Bangkok saja. Ketika banjir besar di Jakarta tahun 2007 lalu, juga membuktikan kepada kita betapa hidup di daerah delta harus bisa struggle terhadap kemungkinan banjir besar. Selain itu beberapa bencana yang terjadi dalam kurun waktu beberapa bulan belakangan ini juga membuat kita miris dan sedikit cemas dengan ancaman yang sering dialami di kawasan rendah dipinggir pantai ini. Seperti di Filipina, banjir akibat hembusan topan Nesat dan Nalgae, merepotkan empat juta orang yang berada di wilayah itu. Sebanyak 66.000 rumah rusak dan 586.000 warga terpaksa mengungsi. Masih di kawasan Asean, tingginya permukaan sungai Mekong selama 10 tahun belakangan ini membuat beberapa negara yang dilaluinya mengalami banjir seperti Kamboja dan Vietnam. Di Kamboja sungai ini menggenangi 18 dari 24 provinsi di negara itu dengan jumlah pengungsi mencapai 200.000 jiwa. Di Vietnam lebih parah lagi sebanyak 776 orang meninggal dengan lebih dari 30.000 rumah tenggelam, dan 59 kilometer persegi persawahan terendam banjir. Jika melihat bencana-bencana tersebut kita bertanya, layakkah kawasan delta dianggap sebagai surga dunia bagi orang-orang yang hidup di muka bumi ini. Jutaan orang telah menjadi korban akibat bencanabencana yang terjadi di kawasan ini. Tentu saja kita

Jan Sopaheluwakan, Ketua Panitia WDS 2001 mengatakan, “Kami sadar betul bagaimana kawasan ini dapat menjadi penopang kelangsungan peradaban manusia dan memberikan efek kehidupan seluruh ekosistem dunia agar menjadi lebih baik lagi.” Konferensi ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dunia untuk masa depan delta, yang kini semakin mengkhawatirkan kerusakannya, baik akibat ulah manusia maupun alam.

Banjir di Kamboja

www.hariansumutpost.com

Konferensi ini merupakan ajang berskala dunia yang mempertemukan tokoh-tokoh terkemuka dunia yang mempunyai perhatian terhadap masalah delta, lingkungan dan perubahan iklim . Mereka adalah para ilmuwan, akademisi, praktisi, lembaga-lembaga internasional, badan-badan PBB, dan kelompok Connecting Delta Cities. Konferensi yang diselenggarakan di Balai Sidang Jakarta Convention Centre diikutin oleh para ilmuwan dari 28 negara dan
4

ILWI Buletin No 03-2011

delegasi dari 15 negara. Mereka membicarakan permasalahan-permasalahan yang dihadapi delta-delta di dunia.

Dalam pertemuan tingkat tinggi mengenai Delta ini, ada 18 butir pesan yang disampaikan. Seputar permasalahan delta, baik di kawasan perkotaan maupun di kawasan pedesaan. Dari pertemuan ini terungkap betapa semakin rawannya ancaman banjir ekstrim dan badai yang bakal dihadapi para pemukim di daerah padat dari kawasan urban di delta-delta dunia, dalam 2 dekade ke depan. Dalam kesempatan itu juga ditekankan bahwa untuk menyelamatkan kawasan delta harus meninggalkan cara-cara pendekatan sektoral. Diperlukan suatu upaya yang koheren, simultan dan berkelanjutan, yang juga melibatkan pemerintah di tataran lokal. Ini karena menyangkut alokasi anggaran, sumberdaya dan adaptasi perubahan iklim setempat. Perubahan iklim sangat berpengaruh pada kawasan delta. Naiknya permukaan air laut, air garam yang masuk ke dalam airtanah, musim kering yang panjang, atau banjir yang makin sering adalah perubahan-perubahan yang terjadi di kawasan ini. Untuk bertahan penduduk harus menyesuaikan perubahan-perubahan ini. Pengembangan teknologi dan perencanaan kota harus berbasis pada perencanaan yang matang dengan memperhitungkan pelestarian lingkungan. Agar nantinya dapat dijalankan secara berkelanjutan dan dapat meningkatkan kualitas sosial dan daya adaptasi masyarakat setempat terutama dalam hal kualitas ecophysical dan socio-ecological. Kesepakatan lainnya adalah mengenai pentingnya peran sektor swasta dalam menggerakkan proses pembangunan. Strategi yang ideal untuk menyelamatkan wilayah pesisir harus dilakukan kemitraan antara sektor publik dan swasta serta masyarakat. Namun, tetap pemerintah yang memegang peranan penting dalam masalah ini. Ditekankan pula pentingnya tanggung jawab bersama dan komitmen jangka panjang yang didukung oleh mekanisme pembiayaan global. Hasil KTT delta 2011 ini dibawa ke the 17th United Nations Framework Convention on Climate Change, yang di adakan di Durban, Afrika Selatan, pada Desember 2011. Selain itu juga dibawa ke pertemuan UN Conference on Sustainable Development yang juga disebut Earth Summit Rio+20 yang akan digelar pada bulan Juni 2012 di Rio de Janeiro, Brazil. Sementara itu, Indonesia sendiri akan kembali dipercaya sebagai tuan rumah pertemuan tingkat tinggi delta yang kedua pada tahun 2013 mendatang.

Suasana pameran di WDS

www.jcc.co.id

WDS adalah konferensi pertama di dunia yang mengkombinasikan ilmu pengetahuan, kebijakan, dan sekaligus prakteknya. Pertemuan itu dibuka oleh Agung Laksono, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra). Turut hadir dalam acara itu Gusti Muhammad Hatta, Menteri Negara Riset dan Teknologi, Hermanto Dardak, Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta. Menurut Agung Laksono pertemuan ini dianggap penting, karena kawasan delta menyediakan berbagai sumber daya dan fungsi bagi kehidupan manusia. Delta juga sangat penting peranannya karena tak hanya menyediakan kebutuhan dasar manusia, seperti air, tanah, makanan, kondisi alam dan iklim namun juga menyediakan sumber energi, kayu, ikan bahkan sebagai sarana transportasi. "Pelestarian delta merupakan kunci masa depan peradaban kita,” ujar Agung. Menko Kesra juga menambahkan bahwa dalam beberapa tahun kedepan perlu ada tindakantindakan untuk melakukan penyelamatan terhadap kawasan delta termasuk orang-orang yang mendiami wilayah tersebut. "Ini bukanlah tugas yang mudah untuk mengatasinya. Sehingga sangat perlu dilakukan langkah-langkah untuk pencegahannya," katanya. Dengan pertemuan ini para peserta diharapkan bisa memperluas wawasan, memperluas dan melakukan tukar menukar informasi, serta menjajaki kerja sama. Para peserta konferensi ini menyadari betapa pentingnya tanggungjawab bersama dan komitmen jangka panjang para pelaku yang menjadi kunci dalam pengelolaan delta. Untuk itu mereka sepakat saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Tentunya semuanya itu harus diikuti oleh komitmen politik bersama dan didukung oleh mekanisme pembiayaan global yang koheren. Semua itu dilakukan dengan memperhatikan peran dan tanggungjawab masing-masing negara dan pelaku dalam tingkat lokal.

ILWI Buletin No 03-2011

5

PESAN DARI SUNGAI CHAO PHRAYA
Bangkok dan beberapa kawasan lain di Thailand mengalami banjir yang cukup parah. Kerugian mencapai ratusan triliun rupiah. Kejadian ini mengingatkan kita tentang perlunya mengelola kawasan delta secara benar agar tak menimbulkan masalah besar.

Yinluck Sinawatra di pusat penanggulangan krisis banjir di Bangkok

Oktober 2011, di Jakarta warga baru saja menikmati datangnya musim hujan , kemarau panjang yang membuat tanah dan tanaman mengering, mulai berganti dengan musim hujan. Segar dan sedikit mengademkan ibukota. Bulan itu warga Jakarta belum perlu merasa was-was akan datangnnya banjir. Berbeda dengan di Bangkok, banjir besar menggulung kota itu pada 27 - 30 Oktober 2011. Tak hanya Bangkok, beberapa wilayah lain di Thailand juga mengalami hal yang sama. Negara Gajah Putih itu benar-benar diobrak-abrik banjir, kejadian yang terbesar selama 50 tahun belakangan ini. Negara itu mengalami kerugian dan korban jiwa cukup besar akibat terjadinya serbuan air yang cukup dasyat itu. Menurut data per 14 November 2011 sudah 562 jiwa meninggal dunia dengan kerugian mencapai hampir Rp. 300 triliun. Departemen Mitigasi dan Penanggulangan Bencana

Thailand mengatakan sekitar 5,1 juta jiwa penduduk terganggu aktivitasnya akibat banjir tersebut. Untuk total keseluruhan Thailand, banjir menggenangi sekitar 1,55 juta hektar lahan pertanian. Menurut Badan Makanan dan Agrikultur (FAO) PBB, lahan sebanyak itu sama saja dengan 12,5 persen dari total luas keseluruhan lahan pertanian di Thailand. Akibatnya hasil panen merosot dari 25 juta ton menjadi 21 juta ton pada tahun ini. Padahal beras termasuk barang ekspor yang diandalkan Thailand. Tidak hanya hasil pertanian saja yang tersungkur gara-gara banjir. Industri juga mengalami goncangan yang cukup hebat. Kawasan industri besar di Bangkok yang terdapat hampir 10.000 pabrik dengan lebih dari enam ratus ribu pekerja, juga dihantam banjir. Akibatnya pabrik-pabrik perusahaan besar sepertiToyota dan Honda yang juga berada di tempat itu harus terganggu operasinya. Menurut
6

ILWI Buletin No 03-2011

kementerian perdagangan Gross Domestic Product (GDP) dari ekspor akan turun secara signifikan dari 60 persen menjadi 13 persen pada kuartal keempat. Belum lagi urusan pariwisata, dipastikan banyak wisatawan yang mengurungkan diri ke Thailand akibat adanya banjir ini.

Menggunakan perahu karet

www. okezone.com

Untuk menggambarkan betapa besarnya dampak kerugian dari banjir Bangkok dan wilayah-wilayah disekitarnya , kita bisa membandingkan dengan banjir Jakarta tahun 2007. Kala itu banjir yang terjadi adalah yang terbesar selama 300 tahun terakhir di ibukota, akibat yang ditimbulkannya juga cukup parah. Sebanyak 80 orang tewas dengan kerugian sekitar Rp. 5 triliun. Atau jika dibandingkan dengan kerugian akibat Tsunami di Aceh 2004, yang angkanya sekitar Rp. 41 triliun dan Gempa di Yogyakarta sekitar Rp. 28 triliun, maka kerugian akibat banjir di Thailand ini tergolong cukup besar. Besarnya pengaruh banjir ini sampai-sampai pemerintah Bangkok memberlakukan hari libur nasional selama lima hari. Karena itu masuk akal jika Ban Ki Moon , Sekretaris Jenderal PBB dan Hillary Clinton merasa perlu datang ke Bangkok Thailand, untuk melihat pertolongan apa yang dibutuhkan disana. Melihat kejadian di Thailand wajar jika banyak warga di Jakarta khawatir kejadian sama akan menimpa kota ini. Untuk itu Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB), menegaskan ancaman banjir semacam itu tidak akan terjadi di Jakarta. “ Jakarta tidak akan mengalami banjir seperti Bangkok,” ujar Sutopo Purwo Nugroho, menjelaskan pada para wartawan, pertengahan November lalu. Ditambahkannya Jakarta pada musim hujan ini hanya perlu mewaspadai siklus lima tahunan. Sebagai catatan memang dua banjir besar di Jakarta terjadi pada tahun 2002 dan 2007. Harapan warga ibukota tentu saja banjir besar itu tidak terulang di tahun 2012. Sebenarnya kondisi daratan Bangkok hampir mirip dengan Jakarta, berada di kawasan yang berbatasan dengan pantai, kota ini juga rawan “diganggu” air laut. Apalagi masyarakat Bangkok juga “hobi” mengambil air tanah. Akibatnya sama dengan Jakarta permukaan tanahnya menjadi turun secara gradual, semakin lama semakin rendah. Dampaknya jika terjadi genangan tentu saja
ILWI Buletin No 03-2011

menyulitkan air untuk segera bergerak ke laut. Ini menyebabkan genangan air memakan waktu berharihari baru menyusut. Banjir di Bangkok agak unik, sebelumnya aliran air dari beberapa daerah terutama disebelah utara ibukota Thailand, sudah lebih dulu mengepung Bangkok. Ini akibat hujan dengan intensitas yang lumayan tinggi sudah turun sejak tiga bulan sebelumnya. Air yang berasal dari utara hingga pagi tanggal 27 Oktober 2011, masih bisa mengalir membelah kota Bangkok melalui Sungai Chao Praya. Apalagi pemerintah dan warga telah memasang karung-karung pasir untuk membentengi air agar tidak meluber ke luar dari aliran sungai. Akan tetapi, menjelang siang jumlah air semakin lama semakin banyak terutama di daerah Bandar Udara Don Muang dan sekitarnya, akibatnya aliran semakin meraksasa menuju laut yang melewati pusat kota Bangkok . Ironis, pasang air laut justru mendorong air kembali ke daratan, tak ayal lagi air Sungai Chao Praya melimpas melewati dan bahkan menjebol tanggul. Tanpa ampun daerah-daerah di sekitar Sungai Chao seperti wilayah Dusit, Pranakorn, Saphantawong, Bangrak, Bangkholaem, Yannawa, Klongtoey, Prakhanong, Klongsan, Bangkok Yai dan Bangna, langsung tergenang air. Setidaknya ada dua tanggul yang jebol akibat gelombang pasang yang menaikkan volume sungai tersebut. Hari berikutnya air yang mengalir di sungai tersebut terus meningkat dengan cepat, Bangkokpun lantak disikat banjir. Penduduk Bangkok terutama didaerah padat yang umumnya berada diperkampungan miskin, lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Puncaknya adalah tanggal 30 Oktober 2011 dimana ketinggian aliran Chao Praya mencapai +2,53 meter. Beruntung setelah tanggal itu hujan mulai reda di daerah Utara Bangkok dan masa kritis gelombang air laut juga mulai berkurang, dampaknya berangsurangsur ketinggian air sungai juga semakin berkurang. Tidak ada lagi tambahan luberan air di wilayah Bangkok. Sayangnya karena banyak daratannya yang lebih rendah dari muka sungai, air pun tak bisa begitu saja kembali dialirkan melalui sungai. Akibatnya genangan air bertahan dalam beberapa hari. Beberapa wilayah disebelah utara yang masih tergenang juga tidak membuat aliran Sungai Chao bisa cepat berkurangaliranya. Rendet, hanya berkurang ratarata 2 sentimeter setiap harinya. Pemerintah berusaha habis-habisan untuk membuang air banjir dan mengurangi ketinggian genangan melalui sungai Chao Phraya, Bang Pakong dan Ta Chin. Pemerintah khawatir jika tidak segera dilakukan maka pada masa pasang air laut pertengahan dan akhir November 2011, dipastikan luberan air bisa kembali melumpuhkan Bangkok. Meski pada sebagian daerah banjir memakan waktu berhari-hari untuk surut, ada juga daerah yang
7

masih kering, sama sekali belum tersentuh banjir. Belakangan nyaris timbul permasalahan sosial ketika masyarakat mulai banyak yang melakukan protes. Mereka mempertanyakan bagaimana pelaksanaan menajemen pembukaan pintu air. Pemerintahpun harus ektra hati-hati mengelola permasalahan ini , karena permasalahan ini bisa menjadi faktor meluasnya banjir ke daerah-daerah yang masih kering.

Tapi, akibatnya justru menimbulkan masalah sosial yang cukup besar, air justru melimpas kepemukiman padat dengan kondisi ekonomi penduduk yang relatif rendah. Ibarat koor , warga pun berteriak agar banjir juga “dibagi-bagi” ke wilayah lain. Entah apa yang terjadi jika banjir lebih lama lagi menggenangi kawasan-kawasan yang mereka tempati. Bisa saja opisisi menyeret kasus ini ke masalah politik. Daerah delta yang kebanyakan relatif tidak terlalu berbeda ketinggian dengan muka air laut, memang harus benar-benar dikelola dengan baik. Penurunan muka tanah dan bahaya intrusi air laut selalu menjadi permasalahan dikawasan semacam ini. Karena itu perlu pengelolaan yang berkelanjutan untuk mengamankan kawasan ini. Jika melihat beberapa kejadian banjir di beberapa negara terutama di daerah delta, penyebabnya utamanya sebenarya bukan masalah intensitas hujan yang berlebihan. Mobilasi warga menuju kota-kota besar yang kebanyakan berada di kawasan delta lebih menjadi pangkal persoalan. Di benua Asia pola mobilisasi penduduk semacam ini hampir dimiliki oleh semua kota besar yang ada. Kota-kota besar Asia di Asia, kini dijejali sekitar 1,8 miliar jiwa, padahal tahun 1950 jumlah penduduk di daerah itu hanya sekitar 237 juta.

Banjir hampir di seluruh Bangkok

us.detiknews.com

Jika ini sampai terjadi maka Bangkok bisa lumpuh total dan sudah pasti masalahnya akan merembet ke urusan politik. Yinluck Sinawatra, Perdana Menteri, Thailand , berkali-kali menenangkan warganya agar bersabar menunggu surutnya air. "Rakyat harus terus bertahan. Semuanya akan pulih secepatnya," ujar Yinluck meyakinkan warganya. Dia turun langsung ke krisis center banjir di Bangkok, untuk berdiskusi dengan para ahli yang datang ke ibukota Negara Thailand itu. Militer dikerahkan untuk membantu segera mengeringkan daerah-daerah yang terendam air. Sementara itu tekanan masyarakat untuk segera membuka blokade-blokade karung yang berisi pasir dan membuka pintu-pintu air lain agar banjir tidak terlokasir pada daerah-daerah tertentu saja, semakin kencang. Pemerintah memutar otak agar warganya bisa sedikit lebih sabar, agar tidak bertindak sendiri. Beruntung hingga akhir tahun ini banjir berangsur-angsur bisa berkurang, jika tidak bisa dibayangkan rembetan masalah sosial yang ditimbulkanya. Apa yang terjadi di Bangkok Thailand, mengingatkan kita yang tinggal di daerah delta seperti Jakarta, bahwa salah satu kerawanan tinggal di daerah ini adalah gempuran air baik yang datang dari laut maupun yang menuju laut. Aliran Sungai Chao Praya dengan kapasitas besar menuju laut, tertahan dan berbalik ketika pasang laut besar menghantam Teluk Bangkok, akibatnya air meluber ke daerah sekitar sungai. Kebijakan pemerintah yang membangun tanggul-tanggul laut buatan dengan karung pasir untuk menahan luberan air dari Sungai Chao Praya, cukup “ masuk akal”.
ILWI Buletin No 03-2011

Genangan bertahan lama

www.tribunnews.com

Kota-kota yang letaknya landai, langsung menjadi pusat berbagai kegiatan. Perumahan, pabrikpabrik, sekolah, perkantoran, dan infrastruktur lain dengan cepat dibangun didaerah-daerah semacam ini. Akibatnya daerah resapan air dirambah hingga tak tersisa. Ketika limpasan air datang baik dari hulu maupun dari laut, tidak ada lagi ruang yang terbuka untuk menyerapnya. Kejadian di Bangkok ini memberi pesan yang jelas bahwa pengelolaan delta perlu dilakukan serius dan kearah yang jelas. Rencana harus dilakukan untuk jangka panjang, karena perubahan lingkungan global seringkali berakibat dan cepat berdampak pada daerahdaerah yang berada di delta.

8

MASTER PLAN TANGGUL LAUT SEGERA DIBUAT
Public Private People Patnership Sebagai Alternatif Pendanaan
Rencana pembangunan tanggul laut terus bergulir. Pengembangan teluk akan dilakukan terintegrasi dengan pembangunan daratan Jakarta. Pembiayaan proyek tidak bisa hanya mengandalkan kocek pemerintah.

Rencana tanggul laut di Teluk Jakarta

JCDS

Konsorsium konsultan Belanda yang tergabung dalam Jakarta Coastal Development Strategy (JCDS) sudah merampungkan pekerjaan awalnya. Strategi Jakarta dalam rencana pengembangan teluk berkenaan dengan tanggul raksasa, telah diserahkan ke Gubernur DKI Jakarta. Walaupun demikian bukan berarti tugas tim ini telah rampung. Selanjutnya dalam dua tahun kedepan pemerintah juga meminta mereka untuk membuat Master Plan tanggul raksasa tersebut. Sejauh ini tahapan-tahapan perencanaan pembangunan tanggul laut masih terus berjalan. Jika dilihat dari situasi Jakarta saat ini kebutuhan akan tanggul laut ini memang sudah semakin mendesak. Harian Kompas, 5 Desember, 2011, membuat kepala berita mengenai banjir rob yang sudah melanda di sebagian Jakarta Utara. Koran terbesar di Indonesia itu juga mengulas mengenai kecenderungan penurunan muka air tanah yang semakin mengkhawatirkan. Dalam laporannya, Kompas juga mengutip pernyataan Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, yang menyatakan bahwa dalam jangka panjang Jakarta memang akan memiliki Tanggul Raksasa. Dimana tanggul itu nantinya akan mengubah sebagian lautan menjadi waduk air tawar, yang juga berfungsi sebagai retensi.
ILWI Buletin No 03-2011

Jika melihat laporan dari JCDS, menariknya pembangunan tanggul laut ini nantinya diarahkan juga pada perbaikan Jakarta secara keseluruhan. Ini artinya perubahan di kawasan teluk akan mengerek perubahan di dataran Jakarta. Antara lain seperti perencanaan waduk baru, akibat dari pembendungan laut, dimana kolam raksasa ini nantinya akan menjadi tempat air tawar yang layak jadi bahan baku air minum. Ini tentu saja menimbulkan konsekuensi, karena waduk baru tersebut nantinya juga akan menjadi muara dari 13 sungai dan kanal yang ada di Jakarta. Padahal seperti kita ketahui bahwa sungai-sungai di Jakarta itu sudah sangat kotor sekali, jika kondisinya seperti ini bisa jadi waduk tersebut justru menjadi tempat kumpulannya air-air kotor yang ada se Jakarta. Dalam rencana JCDS dikemudian hari di Jakarta tidak ada lagi air yang tercemar /kotor yang masuk ke dalam sungai. Limbah industri dan domestik harus terlebih dahulu diolah sebelum dibuang. Sehingga air yang nantinya dibuang tidak kotor dan berbau lagi. Jakarta sendiri sebenarnya sudah mempunyai rencana untuk membuat pengelolaan limbah terpusat sebelum dialirkan ke sungai.

9

Rencana Pembuangan Limbah Jakarta Sumber: RTRW Jakarta

Tahapan memang masih panjang, setelah selesai master plan nanti akan diikutin dengan pembuatan analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal). Tanggul raksasa ini tidak hanya besar dalam arti fisiknya saja, akan tetapi sudah barang tentu juga besar dalam urusan pembiayaannya. Dipastikan akan merogoh kocek hingga triliunan rupiah untuk pembuatan tanggul ini. Lantas darimana dananya ? Untuk menanggung seluruhnya dari kantung pemerintah tentu tak mungkin bisa dipenuhi. Menggingat alokasi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ketat, tentu saja sangat sulit jika pendanaan seluruhnya diserahkan kepada negara. Pendanaan Tak Bisa Mengandalkan Pemerintah Seberapa besar sebenarnya perkiraan biaya yang dikeluarkan jika pemerintah membangun tanggul laut ? Seandainya pemerintah ingin melaksanakan arahan strategi dimana tanggul dibuat secara gradual dari eksisting garis pantai, kemudian ke -8 m dan tahap 3 di kedalaman sekitar -14 m (pembagian skenario ada di buletin edisi II-2011) saja dari yang direkomendasi JCDS maka perkiraan biayanya mencapai sekitar 25 miliar dollar Amerika Serikat. Biaya sebesar itu dikeluarkan antara lain untuk pembangunan tanggul, pompa, retensi di laguna 10 ribu hektar, sistem air limbah dan sanitasi, jalan tol dengan sepuluh jalur. Melihat besaran angkanya jelas sekali akan merobek kantung, jika pemerintah mendananinya dari kocek sendiri. Padahal pengembangan teluk ini menjadi satu keharusan untuk menyelamatkan kota Jakarta. Tampaknya format Public Private People Patnership (PPP) menjadi alternatif yang memungkinkan untuk terlaksananya proyek ini. Artinya pemerintah harus membatasi peranannya agar duit yang dikeluarkan tak mengucur deras. Misalnya pemerintah bersama masyarakat mengambil peran untuk normalisasi sungai, pengelolaan limbah dan sanitasi di daratan, penataan kawasan dan lain-lain. Disisi lain pihak-pihak di luar pemerintah juga bisa berperan lain, tentunya dengan perhitungan bisnis. Seperti pembangunan jalan kereta api dan jalan tol, yang berfungsi sebagai tanggul, pembangunan sarana air bersih, pelabuhan dan tempat-tempat rekreasi. Dengan pola seperti ini maka pembagian beban pembangunan bisa dibagi antara pemerintah dan swasta.

Sistem air limbah terpusat efektif dalam meningkatkan kualitas air sungai, kanal, kolam retensi dan Teluk Jakarta. Sistem ini juga akan meningkatkan fungsi kolam retensi, drainase dan sistem pemompaan untuk mencegah banjir. Ini bisa dilakukan jika masyarakat Jakarta mendukungnnya. Jika dorongan dari warga tidak ada maka sangat sulit bisa terwujud sistem ini. Hal yang sama juga untuk sampah, sekarang ini masih banyak warga Jakarta yang membuang sampah di sungai. Sebenarnya tempat pembuangan sampah DKI Jakarta di Bantar Gebang masih cukup memadai untuk menjadi tempat pembuangan akhir. Akan tetapi permasalahannya adalah kurangnya jangkauan dan intensitas kendaraan pengangkut sampah. Sehingga daripada menumpuk di halamannya, warga lebih memilih membuangnya ke kali. Pemerintah harus melakukan kampanye lebih intensif lagi agar warga tidak membuang sampah ke sungai. Disamping itu fasilitas tempat sampah sementara sebelum diangkut harus diperbanyak. Sebisa mungkin setiap rumah tangga sudah membagi-bagi jenis sampahnya ketika akan dibuang, sampah organik, anorganik, dan plastik. Untuk membersihkan sungai sekaligus lingkungan di Jakarta peran utama justru kesedaran masyarakat. Pengembangan Teluk Jakarta ini harus dijadikan momen yang tepat untuk perbaikan lingkungan Jakarta keseluruhan. Perbaikan kualitas sungai, akan memberi dampak positif. Pertama mengurangi potensi banjir dan yang kedua dapat menjadi sumber air baku untuk air bersih. Melihat dampak yang ditimbulkan dari pengembangan Teluk Jakarta kita bisa berharap ada perbaikan yang signifikan pada dataran Jakarta. Disamping masalah sistem tata air dan penyediaan air bersih, perubahahan pasti akan terjadi pada jumlah ruang terbuka hijau dan biru. Disamping itu sistem transportasi juga kan berpengaruh khususnya bagi Jakarta Utara. Masyarakat tentu sangat berharap, nantinya ada perubahan besar di Jakarta.
ILWI Buletin No 03-2011

10

JAKARTA BERSIAP MENGHADAPI BANJIR
Persiapan yang dilakukan lebih untuk menghadapi keadaan tanggap darurat. Membebaskan banjir dalam beberapa tahun kedepan mustahil dilakukan. Rencana jangka pendek dan menengah mulai diatur agar sesuai dengan rencana besar jangka panjang.
bergerak cepat jika gelombang air benar-benar menerjang daerah itu. Memang tidak hanya di Cawang saja ancaman banjir itu ada, beberapa titik lain yang juga rawan terjadi banjir. “Masih ada 62 titik daerah rawan banjir. Rencananya akan diadakan simulasi serupa,” tambahnya. Setiap ingin memasuki pergantian tahun warga Jakarta tidak hanya bergembira menyambut tahun baru, sebagian ada yang mulai ketar-ketir. Maklum dua bulan pertama di awal tahun telah menjadi kelaziman bagi warga ibukota untuk harap-harap cemas, apakah rumah mereka akan tergenang banjir atau tidak. Jika dalam dua bulan tersebut banjir besar tidak terjadi, warga boleh sedikit tersenyum karena besar kemungkinan dalam satu tahun itu banjir tak akan menyambangi kawasan mereka. Dalam sejarah Jakarta, banjir kerap terjadi pada bulan Januari dan Februari. Oleh kalangan tertentu bahkan bulan tersebut disebut bulan basah. Di mana curah hujan yang tinggi akan mengguyur ibukota. Tiga banjir besar yang terjadi tahun 1996, 2002, 2007 terjadi pada bulan itu. Jika menilik dari kerusakan dan jumlah korban yang terjadi maka warga memang pantas waswas pada bulan-bulan tersebut. Mendekati akhir tahun seperti ini tentu tidak ada program yang bisa membuat Jakarta langsung terhindar dari banjir dalam musim hujan kali ini. Jangankan hitungan bulan, hitungan tahun pun tidak ada program yang bisa benar-benar mengamankan Jakarta dari banjir. Foke tampaknya menyadari hal itu, dia membuat program jangka panjang seperti pembangunan tanggul laut, jangka menengah pembangunan kawasan-kawasan sistem polder di Jakarta dan jangka pendek pengerukan kali, perbaikan drainasi lingkungan, pembangunan tanggul-tanggul penahan rob dan lain-lain. Sayangnya tidak semua program bisa jalan seperti yang diinginkan Foke, seperti proyek pengerukan sungai-sungai di Jakarta. Proyek ini baru bisa direalisasikan Maret 2012. Ini agak ironis, karena biasanya bulan itu sudah melewati puncak musim hujan. Gubernur sendiri agak kecewa dengan realisasi program ini, tapi dia tidak dapat berbuat banyak , karena proyek ini didanai melalui pencairan pinjaman Bank Dunia dan tahapannya memang harus seperti itu. Dia sendiri berharap proyek itu sudah bisa dilaksanakan tahun 2009 lalu, akan tetapi kenyataannya baru bisa teralisasikan 2012. Meski agak terlambat Foke, mendorong agar program ini benar-benar terlaksana. Bagaimanapun
11

Ada 62 titik rawan banjir

www.jakcity.com

Sirene meraung-raung di pinggiran Kali Ciliwung, di daerah Kalibata , Cawang, Jakarta Timur. Kamis pagi, 15 Desember 2001, Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta, terlihat mondar mandir di atas sungai tersebut. Cermat diperhatikannya aparatnya bekerja sigap menolong warga yang terbawa arus karena kebanjiran, semua korban bisa ditolong. Maklum ini hanya simulasi menghadapi banjir sudah barang tentu korban yang benar-benar tidak tertolong tentu tidak ada. Bagi Foke, demikian gubernur biasa disebut, persiapan untuk menghadapi banjir, seperti simulasi ini, sangat perlu dilakukan. Bagaimanapun juga jika sudah mendekati akhir tahun seperti ini, program yang perlu digeber untuk menghadapi kemungkinan banjir adalah persiapan untuk keadaan tanggap darurat seperti ini. Gubernur tentu tidak mau mengambil risiko adanya korban jika banjir benar-benar menggenangi Jakarta. Melihat catatan seperti itu, siapapun Gubernur Jakarta , jika waktunya sudah mendesak, tak ada pilihan kecuali berusaha untuk meminimalisir terjadinya korban. "Simulasi ini terkait kesiapan pemerintah Jakarta dalam penanganan siaga banjir,’ kata Foke . Di Jakarta, daerah Cawang merupakan salah satu tempat yang sangat berpotensi mengalami banjir jika terjadi hujan lebat. Saat pelatihan itu, disimulasikan bahwa Jakarta dalam kondisi siaga 1 banjir, akibat dari hujan ekstrim yang terjadi lebih dari 3 jam di daerah Jabodetabek. Dengan intensitas curah hujan yang tinggi, 75 milimeter per jam yang mengakibatkan air meluber hingga melewati pinggiran sungai. Aparat pemerintah, SAR, tentara, Badan Penanggulangan Bencana sigap memberikan pertolongan. Dengan adanya simulasi semacam ini harapannya warga dan pihak-pihak terkait bisa
ILWI Buletin No 03-2011

juga pengerukan sungai akan sangat berpengaruh terhadap kapasitas sungai dalam mengalirkan air ke laut. Proyek pengerukan dilakukan untuk 10 sungai, satu kanal, dan empat waduk.

Meminimalisasi jumlah korban

www.detiknews.com

Sungai-sungai tersebut adalah , Sungai Grogol, Sungai Sekretaris, Sungai Krukut, Sungai Cideng, Sungai Pakin, Sungai Kali Besar, Sungai Ciliwung, Sungai Gunung Sahari, Sungai Sentiong dan Sungai Sunter. Sedangkan waduk meliputi , Waduk Melati, Waduk Sunter Utara, Waduk Sunter Selatan dan Waduk Sunter Timur II. Untuk Kanal tentu saja Banjir Barat Barat. Proyek pengerukan sungai-sungai ini dikenal dengan nama Proyek Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI). Karena pendanaannya dari Bank Dunia, ada dua Peraturan Pemerintah (PP) yang digunakan dalam pencairannnya. PP itu adalah No 2/ 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan atau Hibah Luar Negeri dan revisi PP No 54/ 2005 tentang Pinjaman Daerah. Nilai pinjamannya 150,5 Juta dollar Amerika Serikat. Diperoleh melalui pinjaman Pemerintah Pusat dan pinjaman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Di bulan Desember ini sungai memang belum meluap, semua kelihatan masih terkendali. Hujan juga masih bersahabat, warga meski kadang-kadang agak terganggu dengan hujan lebat dan beberapa pohon yang tumbang, tetapi aktifitas masih bisa berjalan normal. Meski demikian lain halnya dengan penduduk di Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, awal bulan Desember 2011, rumah warga sudah banyak yang terendam banjir. Ini tentu saja cukup meresahkan bagi

penduduk setempat, mereka merasa banjir datang sebelum waktunya. Tentu saja ini bukan banjir akibat hujan, penyebabnya adalah air laut yang menerabas masuk melewati garis pantai, atau lebih dikenal dengan sebutan rob. Limpasan air laut ini yang biasanya hanya mencapai 2,2 meter kini sudah mencapai 2,5 meter. Ini berarti ada kenaikan 30 sentimeter, akibatnya rob menggenangi lebih banyak lagi area, bahkan jalan arteri di Jakarta Utara dan Jakarta Barat terendam selama lima hari. Masalah serbuan air laut ini adalah masalah Jakarta kedepan, dimana kecenderungannya yang semakin besar. Tentu saja tidak hanya daerah Kamal Muara yang terancam. Banyak kawasan yang berbatasan dengan pantai mengalami nasib yang sama. Pemerintah daerah pun segera membuat atau memperbaiki tanggul-tanggul untuk solusi jangka pendek. Seperti tanggul yang dibuat di samping proyek pembangunan Jembatan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara. Tanggul yang dibuat dari pasangan batu kali dan akan dibangun untuk mengantisipasi atau menanggulangi banjir akibat air pasang laut atau rob. Disamping pembuatan tanggul pada tahun 2012, pintu air juga akan diganti dengan yang lebih tinggi agar luapan air sungai akibat rob tidak melimpas balik ke dalam saluran. Dinas PU rencananya akan terus melakukan pembangunan dan peninggian tanggul di Jakarta Utara hingga 2012 agar kawasan itu aman dari rob. Sejauh ini peninggian tanggul merupakan langkah paling efektif mengurangi potensi rob. Akan tetapi tidak bisa bertahan lama, hanya beberapa tahun saja, sambil menunggu pembangunan tanggul raksasa. Apapapun rencana pemerintah memang harus didukung oleh warga, pemerintah tidak bisa jalan sendiri menghadapi banjir. Menjaga kali dari sampah, membersihkan dan memeriksa drainase di lingkungan adalah sebagian kecil yang bisa dilakukan oleh masyarakat. Disamping itu masih banyak lagi hal-hal positif yang harus dilakukan , bagaimanapun juga hidup di kawasan rawan banjir, butuh perjuangan terus menerus untuk menghadapinya. Never Ending Struggle.

ILWI Buletin No 03-2011

12