No : 01-2012 April 2012

Buletin
Reklamasi Sebagai Alternatif Pengembangan Bandara

SoekarnoBandara Soekarno-Hatta Menatap Dunia

ILWI (Indonesian Land reclamation & Water management Institute), adalah sebuah lembaga kajian dibidang reklamasi dan pengelolaan air. Lembaga ini berupaya untuk menyebarkan informasi dan pengetahuan di bidang reklamasi & pengelolaan air kepada masyarakat. Salah satunya dengan penerbitan buletin. Buletin ini kami kirimkan secara gratis. Tulisan, saran dan pemberitaan media menjadi bagian dari isi buletin ini. Alamat : Jalan Palapa II No 19, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 12520 atau P.O. Box 7277/JKSPM Jakarta Selatan 12072 Website : www.pengendalianbanjir.com Email : ilwi@indosat.net.id

ILWI Buletin No 01-2012

1

PENGANTAR REDAKSI
Pembaca yang budiman, menarik menyimak pertumbuhan ekonomi kita selama beberapa tahun belakangan ini. Kita melihat ada harapan besar berkenaan dengan peningkatan kesejahteraan di negara ini. Lihat saja pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2011 lalu, mencapai 6,4 %. Angka ini terbaik di Asia Tenggara. Sebagai catatan di kawasan Asean tidak ada satu negarapun yang pertumbuhan PDB nya melewati angka 6 %. Sebut saja Vietnam yang hanya sekitar 5,8 %, Singapura 5,3 %, Malaysia 5,2 %, Filipina 4,7 %, bahkan Thailand hanya 3,5 %. Belakangan berita gembira juga berembus dari Bandara Soekarno-Hatta(BSH), dimana bandara kebanggaan bangsa Indonesia itu menjadi bandara dengan pertumbuhan penumpang tertinggi di dunia. Tidak hanya itu, bandara ini juga menjadi bandara yang terbanyak melayani penumpang di Kawasan Asean atau berada nomor 12 di dunia. Berita ini tentu menimbulkan rasa optimis akan membaiknya perekonomian Indonesia. Meski demikian, disisi lain kita melihat kondisi bandara yang kesulitan menampung penumpang dimana perencanaannya. Pembaca, tuntutan untuk pengembangan BSH memang sudah tak bisa ditawar-tawar lagi. Melihat pengalaman dibanyak negera , beberapa bandara besar dibangun di atas daerah reklamasi, maka kami coba mengangkat kemungkinan yang sama jika dilakukan di BSH. Pertimbangan-pertimbangan teknis sederhana coba kami bahas dalam Buletin ILWI edisi 1 tahun 2012 ini. Semoga ulasan kami bermanfaat bagi Anda. Selamat membaca. Redaksi jumlahnya sekarang mencapai lebih dari dua kali lipat kapasitas

ILWI Buletin No 01-2012

2

CENGKARENG SEMAKIN DILIRIK
Meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia berimbas pada banyaknya penumpang pesawat yang melalui Bandar Udara Soekarno-Hatta. Perkembangan jumlah penumpang pesawat melebihi dua kali lipat kapasitas ideal bandara. Reklamasi menjadi alternatif pengembangan.

Semakin banyak pesawat singgah di Soekarno Hatta

Bagi Anda yang pernah berjalan-jalan di bandara udara (Bandara) terbesar di Malaysia, Kuala Lumpur International Airport (KLIA), pastilah akan terpukau melihat kemegahan dan kebesarannya. Negara jiran itu memiliki bandara yang cukup luas dengan arsitektur yang megah dan mengagumkan. Pemerintah setempat telah memprediksi kemampuan bandara itu hingga beberapa tahun kedepan. Jika dibandingkan dengan Bandara SoekarnoHatta (BSH), tentu saja segala fasilitas dan kenyamanannnya sangat jauh berbeda. Iri rasanya jika melihat kondisi bandara di sana, maklum negara yang seringkali kita jadikan bahan perbandingan, ini memang memiliki banyak persamaan budaya dengan kita, karena memang memiliki rumpun yang sama. Untuk urusan bandara ini, ternyata kita juga memiliki keunggulan. Kabar gembira datang dari Dewan Bandara Internasional (Airports Council International) , awal tahun ini, mengabarkan bahwa pertumbuhan penumpang di BSH mengalami kemajuan pesat. Tidak tanggung-tanggung bandara yang juga dikenal dengan sebutan Cengkareng, itu pada tahun 2011 lalu mengalami pertumbuhan yang tertinggi di dunia. Jauh meninggalkan nama nama beken di dunia penerbangan
ILWI Buletin No 01-2012

seperti Bandara Schipol-Amsterdam, Bandara Haneda-Tokyo, Heathrow-London dan ChangiSingapore. Dengan pertumbuhan 19,2 %, tak ayal lagi menunjukan pada dunia bahwa bandara kebanggaan rakyat Indonesia ini memiliki prospek yang cukup besar dalam beberapa tahun kedepan. Ini juga memberikan sinyal yang jelas bahwa ekonomi Indonesia sudah semakin membaik.

Bandara KLIA Kuala Lumpur.

3

Disamping BSH, beberapa negara di kawasan Asia Tenggara juga mengalami pertumbuhan penumpang yang cukup besar. Ini bisa dilihat dari sepuluh besar bandara yang memiliki pertumbuhan penumpang cukup tinggi, beberapa negara Asean juga terjaring didalamnya. Sepuluh bandara dunia dengan pertumbuhan pergerakan penumpang tertinggi pada 2011 adalah BSH(19,2%),Ataturk,Istanbul(16,3 %), Suvarnabhumi, Bangkok(12%), Baiyun, Guangzhou (10,8 %), Changi, Singapura (10,7%) , KLIA , Kuala Lumpur (10,5%), Schiphol , Amsterdam (10 %), Munich (8,8 %), Dubai (8 % ), dan Miami (7,3 %). Tingkat pertumbuhan penumpang yang mencapai puncaknya ini memperkuat tren peningkatan yang sudah terjadi beberapa tahun belakangan ini. Dimana BSH terus dipenuhi penumpang, kapasitas terminal yang hanya berkisar 22 juta orang dijejali hingga lebih dua kali lipatnya yaitu 52,44 juta orang. Pertambahan jumlah penumpang ini diyakini akan terus berlangsung dalam beberapa tahun kedepan.
Dubai Amsterdam Singapore Bangkok Jakarta 0 5 10 15 20 25

Bandara Dubai jumlah penumpang/tahun dibawah BSH

Grafis prosentase pertumbuhan penumpang.
60 50 40 30 20 10 0 2007 2008 2009 2010 2011

Akan tetapi yang membesarkan hati adalah posisi bandara yang terletak di Kabupaten Tangerang itu dalam hal jumlah penumpang jauh diatas bandarabandara lain di Asia Tenggara seperti KLIA, Kuala Lumpur yang hanya berada diurutan 28. Bahkan dibandingkan Bandara Changi, Singapore, yang terkenal dengan fasilitasnya yang lengkap, BSH masih berada di atasnya. Bandara di negara kota itu hanya berada di urutan 18. Peningkatan jumlah penumpang ini disamping membanggakan juga menimbulkan rasa khawatir, karena kondisinya tidak sesuai dengan daya tampung ideal dari bandara yang dirancang oleh arsitek Perancic, Paul Andreu itu. Ketika awal-awal beroperasi tahun 1985 BSH terlihat sangat megah dengan fasilitas yang tergolong wah, sayangnya semakin lama kemampuannya semakin jauh dari tuntutan perubahan jaman. Hingga akhirnya keteteran menghadapi lonjakan penumpang yang semakin tinggi. Jumlah penumpang yang jauh dari kapasitas bandara ini tentu bisa menimbulkan banyak kerawanan, seperti keselamatan, keamanan, dan kenyamanan, para penggunanya.

Pertumbuhan penumpang di BSH , 5 tahun terakhir (juta)

Jumlah penumpang sebanyak itu, langsung mengerek BSH masuk ke jajaran bandara tersibuk di dunia. Cengkareng masuk ke urutan 12 dunia dalam urusan lalu lalang penumpang. Posisinya memang masih dibawah beberapa bandara besar lainnya di dunia seperti Bandara Hartsfield-Jackson, Atlanta (92 juta penumpang), Capital International Airport,Beijing (77 juta penumpang), Heathrow, London (69 juta penumpang), Bandara O'Hare, Chicago (66 juta penumpang) dan Bandara Haneda, Tokyo (62 juta penumpang).

Penumpang sedang check in di Terminal 1

Pihak BSH sendiri tidak berdiam diri dalam mengantisipasi pertumbuhan penumpang yang terus meningkat itu. Melalui PT Angkasa Pura II desain
4

ILWI Buletin No 01-2012

baru rencana induk, yang merupakan pengembangan bandara, pertengahan tahun 2011 lalu telah disetujui Boediono, Wakil Presiden Republik Indonesia. Persetujuan pemerintah ini langsung disikapi dengan pembuatan desain teknis rinci atau detail engineering design (DED). Mengingat cepatnya pertumbuhan penumpang pengembangan BSH mutlak untuk dilakukan. Ini mengingat jumlah penumpang yang sudah terlalu besar. Rencananya untuk revitalisasi, targetnya hingga tahun 2014 nanti, BSH setidaknya bisa menampung hingga 62 juta penumpang. Dalam revitalisasi ini ada beberapa rencana yang akan dilakukan tanpa membangun landasan baru. Ini dilakukan dengan mengoptimalkan dua landasan pacu yang telah ada. Seperti merekonfigurasi landasan 1 dan 2 dengan menambah jumlah taxiway dan meningkatkan kapasitas area parkir pesawat, dari 125 pesawat menjadi 174 pesawat.

Sulitnya pembebasan lahan di Jakarta membuat penambahan landasan pacu berpotensi mengalami kendala. Dalam banyak kasus pembebasan lahan seringkali menjadi satu proses yang berlarut-larut dan berbiaya mahal. Sehingga tidak hanya menunda proyek juga seringkali justru mendongkrak biaya yang harus dikeluarkan. Pengembangan bandara dengan reklamasi diwilayah pantai, juga lebih cocok untuk landasan pacu karena laut lepas memudahkan pesawat untuk melakukan proses lepas landas maupun mendarat.

Petugas menurunkan barang dari bagasi pesawat

Pesawat parkir di Apron BSH

Disamping itu, untuk mengantisipasi ledakan penumpang, akan dilakukan pengembangan Terminal 3 ditambah dengan melakukan revitalisasi Terminal 1 dan Terminal 2. Untuk pergerakan barang juga dilakukan dengan pembangunan terminal kargo baru. Selain itu bandara recananya juga dilengkapi dengan fasilitas bangunan penghubung antar terminal serta fasilitas penunjang lainnya. Jika melihat pertumbuhan penumpang yang sangat pesat tampaknya pembangunan landasan pacu baru menjadi solusi lain yang bisa meningkatkan kapasitas BSH secara signifikan. Landasan pacu baru bisa dibangun disisi utara dari bandara yang sekarang. Meski demikian pembangunan landasan pacu tentu akan memerlukan lahan yang cukup luas. Menurut Tri Sunoko, Direktur Utama PT Angkasa Pura II, hingga tahun 2020, Angkasa Pura berharap bisa menambah kapasitas hingga 90 juta penumpang. Menurutnya karena untuk pengembangan landasan pacu membutuhkan areal lebih dari 800 hektar maka sangat tergantung pada pembebasan lahan. Seperti dikutip dari Harian Kompas, Tri juga mengatakan bahwa ada kemungkinan perluasan itu dilaksanakan dengan melakukan reklamasi.

Di banyak wilayah yang penduduknya padat seperti Jakarta dan wilayah-wilayah disekitarnya, membebaskan lahan ratusan hektar bukan masalah yang gampang. Belum lagi tantangan dari kelompokkelompok masyarakat yang mempermasalahkan pengambilan lahan mereka, meski mendapat ganti rugi. Masyarakat masih banyak yang tidak rela melepaskan tanah-tanah milik mereka. “Sangat memungkinkan jika bandara dikembangkan dengan cara reklamasi,” ujar Sawarendro, ahli reklamasi, yang juga anggota tim Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS). Menurutnya banyak negara-negara di dunia yang lebih memilih mengembangkan bandaranya dengan melakukan reklamasi di wilayah lautnya. “Apalagi jika disinergikan dengan rencana pembangunan tanggul laut Jakarta,”tambahnya. Melihat tren peningkatan jumlah penumpang ini harus diantisipasi dengan cepat. Momen ini jangan menjadi antiklimaks, hanya karena keterlambatan memberikan fasilitas yang memadai dan mendukung agar orang-orang bisa melakukan pergerakan dengan nyaman dan aman di bandara. Bagi para pendatang bandara adalah pintu masuk ke satu kota atau negara. Kesan yang ditampilkan haruslah menunjukan kesiapan negara atau kota tersebut untuk melayani mereka. Fasilitas yang ada setidaknya memadai dan tidak menimbulkan keluhan oleh para penumpang.

ILWI Buletin No 01-2012

5

EFISIEN PENGEMBANGAN KE ARAH LAUT
Beberapa bandara besar di dunia dibangun di atas lahan reklamasi. Secara teknis perluasan SoekarnoHatta ke arah pantai dengan melakukan reklamasi lebih realistis dan ekonomis. Bisa langsung disinergikan dengan rencana pembangunan tanggul laut di Teluk Jakarta.

Rencana pola ruang Jabodetabekpunjur menurut Perpres 54/200

Jika berpegang peraturan presiden (perpres) No 54 tahun 2008, tentang Perencanaan ruang kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, Cianjur (Jabodetabekpunjur), maka perluasan Bandara Soekarno-Hata (BSH) hingga ke arah laut sangat dimungkinkan. Ini bisa dilihat dalam gambar diatas dimana peruntukan lahan reklamasi untuk kawasan di utara bandara hingga ke arah timur laut diperbolehkan untuk pengembangan kawasan di sekitarnya. Seperti diketahui Teluk Jakarta terletak di Kawasan Strategis Nasional Jabodetabekpunjur, karena itu Perpres tersebut menjadi bahan rujukan. Di zona reklamasi rencana struktur ruang dan pola ruang dibedakan antara zona konservasi dan zona pengembangan, selain itu masih ada zona perlindungan pantai, dengan kode P1 sampai P5. Dalam zona perlindungan pesisir P2 sampai P5, reklamasi dapat diimplementasikan dalam bentuk pulau-pulau dengan jarak minimal 200-300 m dari garis pantai yang ada, sampai kedalaman maksimum - 8 m. Penggunaan lahan reklamasi baru, harus kompatibel dengan penggunaan lahan yang di sekitarnya. Satu-satunya zona perlindungan yang tidak
ILWI Buletin No 01-2012

mengijinkan reklamasi (P1) terletak di sepanjang kawasan konservasi di Kabupaten Bekasi. Mengacu pada Perpres ini tentu saja pengembangan BSH sangat memungkinkan jika ingin dikembangkan ke arah laut. Bagi bandara terbesar di Indonesia ini alternatif ini tentu jauh lebih menarik daripada melakukan pembangunan di lahan-lahan yang kini masih dimiliki warga. Di kawasan Jabodetabekpunjur untuk memperluas lahan bukan masalah mudah. Padatnya penduduk dan mahalnya harga tanah menjadi kendala yang luar biasa. Ini harus dicarikan jalan keluarnya agar realisasi pengembangan BSH secara maksimal bisa dilakukan dengan cepat. Beberapa pengamatan dan studi yang pernah ada menunjukan bahwa tanah hingga kedalaman -16 meter di perairan sebelah utara bandara dan beberapa tempat lain di laut Jakarta, menunjukan bahwa jenis tanahnya adalah lempung (clay). Jenis tanah semacam ini dimungkinkan untuk dilakukan reklamasi dengan melakukan sedikit rekayasa enjinering. Misalnya dengan menggunakan verticale drain dalam proses pelaksanaannya.
6

Jenis tanah di dasar laut pantai Jakarta bisa direklamasi

Menariknya jika pengembangan BSH dilakukan dengan cara reklamasi maka bisa sekaligus disinergikan dengan rencana pembangunan tanggul laut di Teluk Jakarta. Seperti sudah diketahui bahwa Tim Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS) telah merumuskan rencana pembangun tanggul laut di Teluk Jakarta. Dimana tanggul itu akan membentang dari Barat hingga ke Timur pantai Jakarta. JCDS telah menggambarkan skenario pembangunan tanggul laut tersebut. BSH bisa saja langsung menyesuaikan dengan rencana tersebut, sehingga bangunan bandara baru nantinya benar-benar bisa lebih efisien dan memadai mengikuti perkembangan pembangunan yang terjadi ibukota.

Jika landasan pacu yang ke 3 nanti dibangun di daerah reklamasi maka pilot akan lebih mudah melakukan proses pendaratan dan penerbangan pesawat. Karena berbatasan dengan lautan yang menyebabkan tidak ada halangan sama sekali dari perbukitan, gedung tinggi atau bangunan-bangunan lain yang mungkin mengganggu proses pendaratan dan penerbangan. Di beberapa negara lain, untuk memudahkan proses pendaratan memang dipilih membangun bandar udara di laut. Karena dianggap lebih aman. Di Hongkong umpamanya Bandara Kai Tak dibangun di areal reklamasi. “Pertimbangannya karena lahan di Hongkong cenderung berbukit,” kata Sawarendro. Karena itu atas pertimbangan keamanan dibangunlah bandara di lepas pantai.

Pengembangan disesuaikan dengan rencana tanggul laut
JCDS

Back Up Tangerang di Karawang
Pemerintah tampaknya serius menanggapi pertumbuhan jumlah penumpang di BSH. Tak hanya dengan merevitalisasi dan mengembangkan bandara yang terletak di Kabupaten Tangerang itu saja, pemerintah juga berencana membangun bandara baru di Karawang, Jawa Barat. Bandara baru ini rencananya terletak di antara tol Cipularang dan Waduk Jatiluhur, dengan luas 4000 hektar. Menurut perhitungan Japan International Cooperation Agency (JICA) biaya konstruksi bandara ini sekitar Rp. 30 triliun. Harapannya bandara di Karawang ini bisa menampung penumpang yang tinggal di seputar Jakarta bagian timur, seperti Bekasi, Cikarang dan Cibitung. Jika ini sudah terealisasi maka beban dari BSH bisa berkurang. Meski demikian BSH harus tetap dikembangkan karena jumlah pertumbuhan penumpang yang fantastis semacam ini harus diantisipasi dengan tepat dan cepat. Bagaimanapun juga momentum pertumbuhan penumpang ini harus benar-benar bisa dimanfaatkan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Jangan sampai menjadi antiklimak.

Bandara Hongkong yang dibangun di lepas pantai

Untuk di BSH, pembangunan bandara baru (landasan pacu) memang tidak harus terlepas dari daratan, bisa juga tetap terhubung dengan lahan yang ada di tepi pantai meski sebagian berada di lahan reklamasi. Agar menjadi satu kesatuan dengan terminal yang lain bisa dilakukan dengan hubungan interkoneksi antar terminal. Sehingga penumpang bisa dengan mudah berpindah terminal.
ILWI Buletin No 01-2012

7

TEKNOLOGI REKLAMASI SEMAKIN BERKEMBANG
Reklamasi mengefektifkan pengembangan lahan. Tak selalu atas pertimbangan ekonomi, reklamasi juga dilakukan untuk kebutuhan memperbaiki lingkungan. Kini teknologi reklamasi semakin berkembang dan dimanfaatkan untuk berbegai keperluan.

Lapangan Terbang Kansai di Jepang yang berada di atas lahan reklamasi di laut.

Kebanyakan kota besar di dunia berada di garis pantai. Bertetangga dengan laut banyak memberikan keuntungan ekonomi, karena itu orang jauh lebih tertarik untuk tinggal di dataran rendah daripada di wilayah pegunungan. Terbukti diawal tahun 90’an jumlah penduduk dunia yang tinggal di daerah pantai mencapai 3,7 milyar orang. Diprediksi hingga tahun 2020 sekitar 75 % penduduk dunia tinggal di kawasan pantai . Mereka itu berada dari bibir pantai sampai sejauh 60 kilometer ke daratan. Kecenderungan yang sama juga terjadi di Indonesia. Panjang pantai yang mencapai sekitar 80 ribu kilometer serta jumlah pulau yang mencapai belasan ribu, membuat isu pembangunan di daerah pantai menjadi dominan. Kemajuan dan perkembangan yang pesat di daerah itu, justru semakin mendorong orang untuk terus berbondong-bondong ke kawasan yang sebenarnya jumlah penduduknya sudah sangat padat. Sayangnya jumlah lahan yang ditempati semakin hari semakin terbatas, akibatnya untuk melakukan pembangunan dan pengembangan menjadi
ILWI Buletin No 01-2012

sangat sulit. Apalagi tata guna lahan, biasanya membatasi orang untuk melakukan pembangunan yang tak sesuai dengan peruntukannya. Pembangunan suatu kawasan industri atau kota baru memerlukan ratusan sampai ribuan hektar lahan. Pembebasan lahan sering menjadi kendala utama dalam implementasi proyek. Pembebasan lahan dalam skala luas praktis sulit dilakukan karena tingginya bobot permasalahan sosial yang ditimbulkannya. Pengalaman menunjukkan bahwa penolakan oleh minoritas kelompok masyarakat saja bisa menjadikan pelaksanaan proyek menjadi berlarut-larut. Walaupun tahun lalu DPR dan Pemerintah telah berhasil menelurkan Undang Undang tentang Pembebasan lahan, namun aturan pelaksanaannya masih belum turun. Hal ini menjadi ekstra pemicu dan pemacu bagi investor untuk memilih melakukan kegiatan pengembangan kawasan melalui proses reklamasi ini. Lambat laun, reklamasi lahan menjadi pilihan yang tergolong paling rasional. Dalam skala besar, ‘membuat lahan’ lebih murah dan lebih mudah dibandingkan dengan membebaskan lahan.
8

Dan tampaknya reklamasi menjadi tren dunia yang sulit untuk dibendung.

Hebatnya, di Belanda reklamasi bukan saja di tempat-tempat yang berbatasan dengan pantai, tetapi juga jauh ke daratan. Termasuk di kedua sisi sungai besar yang membelah negeri ini. Karena itu, wadukwaduk besar, jalan-jalan air yang dapat dilayari kapal besar, sudah menjadi pemandangan biasa di negeri ini. Beberapa tahun belakangan ini, kegiatan reklamasi seperti ini juga merambah ke belahan lain di dunia ini. Dubai membangun Palm Island yang cukup artistik. Cina, Rusia, Singapura juga giat mengekspansi wilayah daratannya dengan melakukan reklamasi. Reklamasi Alamiah Tanpa disadari proses reklamasi telah berlangsung dengan sendirinya di beberapa kota besar di Indonesia. Ini terjadi sejak beberapa ratusan tahun yang lalu. Jakarta dan Semarang adalah contoh kota yang mengalami proses reklamasi secara alami sejak beberapa abad lalu. Garis pantai pada kedua kota ini terus bergerak ke arah laut. Penambahan garis pantai itu berlangsung selama puluhan bahkan ratusan tahun. Sehingga terus menjorok ke luar menggeser batas laut.

Pulau Palm di Dubai

Reklamasi bukan hanya suatu kegiatan yang digunakan untuk menambah lahan daratan, namun kerap pula proses reklamasi digunakan untuk maksud perbaikan/pengembalian lingkungan ke arah aslinya. Kegiatan restorasi pantai dan perbaikan/pembersihan lahan bekas penambangan merupakan contoh lain dimana proses reklamasi dibutuhkan. Sebagaimana juga suatu pilihan dalam aspek kehidupan lainnya, pilihan untuk melakukan reklamasi lahan tentu saja bukan merupakan pilihan yang tanpa risiko. Kegiatan reklamasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit dengan segala kemungkinan resiko yang meyertainya. Perencanaan dan perancangan perlu dilakukan secara seksama, untuk memperkecil risiko yang dapat ditimbulkannya. Perlu persiapan & keahlian untuk mengawal pelaksanaannya. Sejarah reklamasi dunia, diisi dengan berbagai kebutuhan yang tak selalu sama. Banyak negara karena berbagai macam keperluan yang mendesak, memaksa pemerintah mereklamasi kawasan pesisirnya. Kebutuhan akan lahan permukiman yang lebih luas telah mengubah sebagian besar Daerah Rawa Wetland, yang menyangga kota New Orleans Amerika Serikat(AS) dari Pantai Teluk Meksiko, menjadi kantong-kantong permukiman. Di Osaka Jepang, penolakan masyarakat setempat terhadap pendirian bandara di dekat pemukiman, membuat pemerintah setempat pusing tujuh keliling. Sampai akhirnya pemerintah kota setempat memilih membuat bandara tersebut di tengah-tengah laut. Jadilah Bandara Kansai Internasional yang megah dan enak dilihat dari udara. Lain lagi cerita dari Negeri Belanda, karena keterbatasan lahan, negara itu terpaksa melakukan reklamasi secara meluas di seluruh teritorial negaranya. Tidak heran hampir 60 persen lahan kering di Negeri Kincir Angin tersebut merupakan lahan reklamasi.
ILWI Buletin No 01-2012

Penambahan garis pantai di Jakarta secara alami

Batas laut Semarang yang semakin bertambah

Ironisnya meski sempat bertambah garis pantainya, sebagian wilayah Jakarta sekarang justru terancam tenggelam. Ini akibat penurunan muka tanah yang semakin hari semakin mengurangi tinggi daratan di ibukota. Akibatnya beberapa tanggul yang sementara yang ada di tepi laut tak mampu menahan limpasan air
9

laut. Demikian juga di Semarang banjir akibat rob kerap terjadi di wialyah yang berbatasan dengan pantai.

di daerah rawa dengan jalan masuk sepanjang 22 kilometer. Sedangkan dermaganya dibangun di lepas pantai sejauh 1,6 kilometer dari tapak pabrik. Keduanya dihubungkan oleh dermaga pancang. Di era 90’an kegiatan reklamasi juga dilakukan dalam proyek pengembangan di pesisir Jakarta. Disamping itu reklamasi juga diperlukan untuk perbaikan lingkungan, penataan ruang yang lebih nyaman, meningkatan jumlah badan air, menambah lahan terbuka hijau bahkan melindungi hutan mangrove. Dimana kecenderungan penurunan muka tanah bisa pula mengancam keberlanjutan ekosistem mangrove, karena terus terendam air laut.

Kini di Jakarta air laut sering melewati tanggul yang ada

Reklamasi Tambang
Di Indonesia banyak sekali kegiatan-kegiatan pertambangan, baik pertambangan terbuka maupun pertambangan tertutup. Pertambangan adalah kegiatan dengan penggunaan lahan yang bersifat sementara, karenanya setelah penambangan rampung, lahan harus bisa dimanfaatkan untuk kegiatan produktif lainnya. Pertambangan terbuka (open pit mining) selalu menyebabkan perubahan bentang alam. Perubahan ini meliputi topografi, vegetasi , pola hidrologi dan struktur tanah. Apalagi biasanya keberadaan bahan tambang itu secara alami banyak berada dalam kawasan yang masuk kriteria hutan. Mengembalikan fungsi ekologis lahan tersebut menjadi keharusan. Tak hanya itu fungsi ekonomi dan sosialnya lahanpun harus bisa dikembalikan. Itulah sebabnya maka lahan bekas tambang seperti ini harus segera direklamasi. Paling penting, hasil reklamasi tambang tambang haruslah bisa mengembalikan tanah dalam kondisi aman, stabil, dan tak gampang terjadi erosi. Selanjutnya barulah lahan itu diperbaiki ekologinya agar bisa dimanfaatkan untuk keperluan produktif lainnya. Reklamasi harus dilaksanakan secepatnya sesuai dengan kemajuan tambang. Jadi kondisi lahan yang terbuka tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Reklamasi sendiri merupakan bagian dari skenario pemanfaatan lahan pasca tambang. Karena itu prinsip yang harus dipegang adalah penambangan dilangsung seoptimalkan mungkin, untuk selanjutnya segera dilakukan reklamasi.

Perkembangan Reklamasi di Indonesia Sekitar tahun 80’an proses reklamasi di daerah rawa dan dataran rendah mulai dilakukan. Beberapa pelabuhan di Indonesia pada umumnya dibangun di lahan hasil reklamasi. Ini dilakukan karena kedalaman laut harus memungkinkan kapal-kapal yang berlabuh dapat merapat ke dermaga. Demikian juga perluasan prasarana pelabuhan yang telah ada. Karena perkembangan lahan yang berada di luar kawasan pelabuhan, memaksa perluasan prasarana. Perluasan itu dilakukan sepanjang garis pantai yang mengharuskan dilakukannya reklamasi lahan. Tidak hanya yang berhubungan dengan pelabuhan laut saja, pelabuhan udara juga ada yang dibangun di atas lahan reklamasi. Karena sifatnya yang membutuhkan kawasan bebas rintangan dari gedunggedung tinggi dan gunung. Akibat keterbatasan lahan di darat, beberapa bandara juga dibangun di atas lahan reklamasi. Karena dulunya merupakan rawa-rawa yang membutuhkan permukaan yang stabil untuk menyangga bangunan yang diatasnya. Seperti Soekarno – Hatta di Jakarta dan Ngurah Rai di Denpasar. Selain itu, karena berbagai alasan beberapa proyek terpaksa dibangun di atas lahan reklamasi. Seperti proyek-proyek yang membutuhkan laut sebagai sarananya. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) umumnya dibangun di lahan yang berbatasan langsung dengan laut, karena air laut merupakan bahan vital untuk pembangkit jenis ini. Air laut diperlukan sebagai pendingin pembangkit ini. Bahkan PLTU berbahan bakar batubara juga dibangun di daerah pantai. Pertimbanganya adalah efisiensi, agar sarana bongkar muat dan penyimpan batubara curah tak terlalu jauh dari kapal yang mengangkutnya. Karena itu PLTU ini paling ekonomis dibangun di lahan reklamasi. Proyek Asahan di Sumatera Utara juga dibangun di lahan reklamasi, karena baik produk maupun bahan mentahnya harus menggunakan transportasi laut. Proyek seluas 250 hektar ini berada
ILWI Buletin No 01-2012

Kanan sebagian tambang yang sudah direklamasi

ESDM

10