Lampiran Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor :17 Tahun 2009 Tanggal : 22 Mei 2009 PEDOMAN PENENTUAN DAYA

DUKUNG LINGKUNGAN HIDUP DALAM PENATAAN RUANG WILAYAH I. PENDAHULUAN Berdasarkan ketentuan Pasal 19, Pasal 22, dan Pasal 25 UndangUndang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Pemerintah harus menyusun rencana tata ruang wilayah nasional (RTRWN), pemerintah daerah provinsi harus menyusun rencana tata ruang wilayah provinsi (RTRW provinsi), dan pemerintah daerah kabupaten harus menyusun rencana tata ruang wilayah kabupaten (RTRW kabupaten), dengan memperhatikan daya dukung lingkungan hidup. Penyusunan rencana tata ruang wilayah yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan hidup, dapat menimbulkan permasalahan lingkungan hidup seperti banjir, longsor dan kekeringan. Dalam upaya menangani permasalahan tersebut di atas, dan dalam rangka pelaksanaan penjelasan Pasal 25 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang perlu disusun Pedoman Penentuan Daya Dukung Lingkungan Hidup dalam Penataan Ruang Wilayah. Pedoman ini di samping digunakan untuk menentukan daya dukung lingkungan hidup wilayah juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi pemanfaatan ruang sehingga setiap penggunaan lahan sesuai dengan kemampuan lahan. II. DASAR PENENTUAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN HIDUP Penentuan daya dukung lingkungan hidup dilakukan dengan cara mengetahui kapasitas lingkungan alam dan sumber daya untuk mendukung kegiatan manusia/penduduk yang menggunakan ruang bagi kelangsungan hidup. Besarnya kapasitas tersebut di suatu tempat dipengaruhi oleh keadaan dan karakteristik sumber daya yang ada di hamparan ruang yang bersangkutan. Kapasitas lingkungan hidup dan sumber daya akan menjadi faktor pembatas dalam penentuan pemanfaatan ruang yang sesuai.

1

Daya dukung lingkungan hidup terbagi menjadi 2 (dua) komponen, yaitu kapasitas penyediaan (supportive capacity) dan kapasitas tampung limbah (assimilative capacity) (lihat Gambar 1). Dalam pedoman ini, telaahan daya dukung lingkungan hidup terbatas pada kapasitas penyediaan sumber daya alam, terutama berkaitan dengan kemampuan lahan serta ketersediaan dan kebutuhan akan lahan dan air dalam suatu ruang/wilayah.
Kualitas Hidup Hasil Kegiatan pembangunan Masukan Sumber daya alam Limbah/residu Lingkungan

Kapasitas penyediaan sumber daya alam (Supportive capacity) Daya Dukung (Carrying capacity)

Kapasitas tampung limbah (Assimilative capacity)

Gambar 1

Daya Dukung Lingkungan Sebagai Dasar Pembangunan Berkelanjutan

Oleh karena kapasitas sumber daya alam tergantung pada kemampuan, ketersediaan, dan kebutuhan akan lahan dan air, penentuan daya dukung lingkungan hidup dalam pedoman ini dilakukan berdasarkan 3 (tiga) pendekatan, yaitu: 1. Kemampuan lahan untuk alokasi pemanfaatan ruang. 2. Perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan lahan. 3. Perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan air. Agar pemanfaatan ruang di suatu wilayah sesuai dengan kapasitas lingkungan hidup dan sumber daya, alokasi pemanfaatan ruang harus mengindahkan kemampuan lahan. Perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan akan lahan dan air di suatu wilayah menentukan keadaan surplus atau defisit dari lahan dan air untuk mendukung kegiatan pemanfaatan ruang.

2

Hasil penentuan daya dukung lingkungan hidup dijadikan acuan dalam penyusunan rencana tata ruang wilayah. Mengingat daya dukung lingkungan hidup tidak dapat dibatasi berdasarkan batas wilayah administratif, penerapan rencana tata ruang harus memperhatikan aspek keterkaitan ekologis, efektivitas dan efisiensi pemanfaatan ruang, serta dalam pengelolaannya memperhatikan kerja sama antar daerah. III. METODE PENENTUAN KEMAMPUAN LAHAN UNTUK ALOKASI PEMANFAATAN RUANG Metode ini menjelaskan cara mengetahui alokasi pemanfaatan ruang yang tepat berdasarkan kemampuan lahan untuk pertanian yang dikategorikan dalam bentuk kelas dan subkelas. Dengan metode ini dapat diketahui lahan yang sesuai untuk pertanian, lahan yang harus dilindungi dan lahan yang dapat digunakan untuk pemanfaatan lainnya. Pedoman ini mengatur alokasi pemanfaatan ruang dari aspek fisik lahan. Sedangkan aspek lainnya seperti keanekaragaman hayati, dipertimbangkan dengan memperhatikan kriteria kawasan lindung sesuai dengan peraturan perundang-undangan. A. Klasifikasi Kemampuan Lahan Kemampuan lahan merupakan karakteristik lahan yang mencakup sifat tanah (fisik dan kimia), topografi, drainase, dan kondisi lingkungan hidup lain. Berdasarkan karakteristik lahan tersebut, dapat dilakukan klasifikasi kemampuan lahan ke dalam tingkat kelas, sub kelas, dan unit pengelolaan. Pengelompokan kemampuan lahan dilakukan untuk membantu dalam penggunaan dan interpretasi peta tanah. Kemampuan lahan sangat berkaitan dengan tingkat bahaya kerusakan dan hambatan dalam mengelola lahan. Dengan demikian, apabila tingkat bahaya/risiko kerusakan dan hambatan penggunaan meningkat, spektrum penggunaan lahan menurun seperti yang diilustrasikan dalam Gambar 2.

3

kapasitas menahan air baik. 2. subur. kedalaman efektif dalam. Tanaman semusim. terutama pertanian. b. c. Tanaman pertanian semusim. mudah diolah. c. Kemampuan Lahan dalam Tingkat Kelas Lahan diklasifikasikan ke dalam 8 (delapan) kelas. B. II Pertanian: a.datar. Karakteristik lahannya antara lain: topografi hampir datar . Mempunyai beberapa hambatan atau ancaman kerusakan yang mengurangi pilihan penggunaannya atau memerlukan tindakan konservasi yang Penggunaan Pertanian: a. Tidak mempunyai atau hanya sedikit hambatan yang membatasi penggunaannya. Kelas III sampai dengan kelas VI dapat dipertimbangkan untuk berbagai pemanfaatan lainnya. Tabel 1 Klasifikasi Kemampuan Lahan dalam Tingkat Kelas Kelas I Kriteria 1. Sesuai untuk berbagai penggunaan. Meskipun demikian. Keterangan lebih rinci mengenai klasifikasi kelas lahan dan penggunaannya dapat dilihat pada Tabel 1. Dua kelas pertama (kelas I dan kelas II) merupakan lahan yang cocok untuk penggunaan pertanian dan 2 (dua) kelas terakhir (kelas VII dan kelas VIII) merupakan lahan yang harus dilindungi atau untuk fungsi konservasi.Gambar 2 Gambaran Hubungan Antara Kelas Kemampuan Lahan Dengan Intensitas. 3. Hutan dan cagar alam. ancaman erosi kecil. Tanaman rumput. tidak terancam banjir. Padang 4 . b. drainase baik. lahan kelas III dan kelas IV masih dapat digunakan untuk pertanian. Spektrum dan Hambatan Penggunaan Tanah. 1. Tanaman rumput. yang ditandai dengan huruf romawi I sampai dengan VIII.

d. 2. 2. 2. Tanaman yang memerlukan pengolahan tanah. Umumnya terletak pada lereng curam. Tanaman semusim dan tanaman pertanian pada umumnya. Pertanian: a. Mempunyai faktor penghambat berat yang menyebabkan penggunaan tanah sangat terbatas karena mempunyai ancaman kerusakan yang tidak dapat dihilangkan. Non-pertanian 1. Tanaman rumput. Mempunyai hambatan yang membatasi pilihan macam penggunaan dan tanaman. Terletak pada topografi datar-hampir datar tetapi sering terlanda banjir. pilihan tanaman atau kombinasi dari pembatas tersebut. 2. e. Tanaman rumput. penggembalaan. Tidak terancam erosi tetapi mempunyai hambatan lain yang tidak mudah untuk dihilangkan. Mempunyai pembatas lebih berat dari kelas II dan jika dipergunakan untuk tanaman perlu pengelolaan tanah dan tindakan konservasi lebih sulit diterapkan. 3. Hutan lindung dan cagar alam. Hambatan pada angka I membatasi lama penggunaan bagi tanaman semusim. b. Mempunyai beberapa hambatan yang berat yang mengurangi pilihan penggunaan lahan dan memerlukan tindakan konservasi khusus dan keduanya. d. 2. f. Hutan lindung dan cagar alam. d. Hutan produksi. e. Cagar alam. Pertanian: a. Hutan produksi. Non-pertanian. Non-pertanian. 1. c. b. Hutan produksi. f. 2. c. e. Hutan produksi. 1. Padang rumput. c.III IV sedang. Tanaman semusim. Pertanian: a. d. Hutan lindung dan suaka alam. c. Hutan lindung dan suaka alam. 5 . Hutan produksi. 1. waktu pengolahan. 1. berbatu atau iklim yang kurang sesuai. 3. 2. Padang penggembalaan. d. Tanaman rumput. Padang penggembalaan. Non-pertanian. Padang penggembalaan. sehingga jika dipergunakan untuk penggembalaan dan hutan produksi harus dikelola dengan baik untuk menghindari erosi. Hutan lindung. dan pilihan tanaman juga terbatas. Pertanian: a. tindakan konservasi lebih sulit diterapkan. b. Hambatan dan ancaman kerusakan tanah lebih besar dari kelas III. 2. Tanaman rumput. 1. 2. 1. b. V VI 1. sehingga membatasi pilihan penggunaannya. Pengelolaan perlu hati-hati termasuk tindakan konservasi untuk mencegah kerusakan. Perlu pengelolaan hati-hati untuk tanaman semusim.

Kelas kemampuan lahan seperti tersebut di atas (kelas II sampai dengan kelas VIII) dapat dirinci ke dalam subkelas berdasarkan empat faktor penghambat. Jika digunakan untuk padang rumput atau hutan produksi harus dilakukan pencegahan erosi yang berat. faktor lahan seperti tanah yang dangkal. Subkelas penghambat terhadap perakaran tanaman (s) terdapat pada lahan yang faktor kedalaman tanah sebagai penghambat terhadap perakaran tanaman. Genangan air (w) Subkelas kemiringan lereng (t) terdapat pada lahan yang faktor lerengnya menjadi faktor penghambat utama. b. Cagar alam. a. kesuburan rendah yang sulit diperbaiki. Rekreasi alam. C. aliran permukaan dan kemudahan atau faktor penghambat terhadap usaha pertanian sehingga dapat menjadi petunjuk dalam penempatan lahannya ke dalam subkelas ini. Mempunyai faktor penghambat dan ancaman berat yang tidak dapat dihilangkan. Kemiringan lereng (t) 2. Kemampuan Lahan dalam Tingkat Subkelas Kemampuan lahan kategori kelas dapat dibagi ke dalam kategori subkelas yang didasarkan pada jenis faktor penghambat atau ancaman dalam penggunaannya. sehingga perlu dilindungi. b. Sebaiknya dibiarkan secara alami. dan bentuk lereng sangat mempengaruhi erosi. daya memegang air yang rendah. c. 1. 2. panjang lereng. Bahaya erosi 6 . Hutan produksi. yaitu: 1. Pembatas dan ancaman sangat berat dan tidak mungkin dilakukan tindakan konservasi. Kemiringan lereng. karena itu pemanfaatannya harus bersifat konservasi. Subkelas tingkat erosi/bahaya erosi (e) erosi terdapat pada lahan dimana erosi merupakan problem utama. Tingkat erosi/bahaya erosi (e) 4. Kategori subkelas hanya berlaku untuk kelas II sampai dengan kelas VIII karena lahan kelas I tidak mempunyai faktor penghambat. Hutan lindung. garam dan Na yang tinggi akan menjadi petunjuk dalam menempatkan lahan tersebut ke dalam subkelas ini. Penghambat terhadap perakaran tanaman (s) 3. Padang rumput. banyak batu-batuan. a.VII VIII 1.

Untuk jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3. terutama untuk melakukan evaluasi kecocokan 7 . IIIe3. IVs3. dalam kategori unit pengelolaan telah diindikasikan kesamaan potensi dan hambatan/risiko sehingga dapat dipakai untuk menentukan tipe pengelolaan atau teknik konservasi yang dibutuhkan. Dengan demikian. lahan kelas II dengan faktor penghambat drainase (w) ditulis IIw. air tanah yang tinggi. III e Subkelas Kelas Gambar 3 Contoh Cara Penamaan Kelas Dan Sub Kelas Kemampuan Lahan D. misalnya IIw1. drainase yang buruk. bahaya banjir merupakan faktor-faktor yang digunakan untuk penentuan subkelas ini. Kemampuan lahan pada tingkat unit pengelolaan memberikan keterangan yang lebih spesifik dan detil dari subkelas. contoh: lahan kelas III dengan faktor penghambat kelerengan (t) ditulis IIIt. Cara penamaan kelas dan subkelas dilakukan dengan menuliskan faktor penghambat di belakang angka kelas. Subkelas genangan air/kelebihan air (w) terdapat pada lahan dimana kelebihan air merupakan faktor penghambat utama. dan lahan kelas IV dengan faktor penghambat perakaran tanaman karena kedalaman tanah (s) ditulis IVs. Tingkat unit pengelolaan lahan diberi simbol dengan menambahkan angka di belakang simbol subkelas.dan erosi yang telah terjadi merupakan petunjuk untuk penempatan dalam subkelas ini. Kemampuan Lahan pada Tingkat Unit Pengelolaan Kategori subkelas dibagi ke dalam kategori unit pengelolaan yang didasarkan pada intensitas faktor penghambat dalam kategori subkelas. lahan kelas II dengan faktor penghambat erosi (e) ditulis IIe. Angka ini menunjukkan besarnya tingkat faktor penghambat yang ditunjukkan dalam subkelas. dan sebagainya. Penentuan kemampuan lahan pada tingkat unit pengelolaan penting.

l6 = (G) = > 65% : sangat curam. l3 = (D) = 15-30% : miring berbukit. lempung.0 cm/jam. drainase. Kedalaman sampai kerikil. Lereng permukaan (l) Lereng permukaan dikelompokkan sebagai berikut: l0 = (A) = 0-3% : datar. l4 = (E) = 30-45% : agak curam. liat masam (cat clay). lempung liat berpasir. lempung liat berdebu. Permeabilitas Permeabilitas dikelompokkan sebagai berikut: p1 = lambat: < 0. t2 = agak halus: liat berpasir. 2. k1 = sedang: 90-50 cm. l1 = (B) = 3-8% : landai/berombak. lempung berliat. padas. pasir.0 – 6. k3 = sangat dangkal: < 25 cm. p2 = agak lambat: 0. l2 = (C) = 8-15% : agak miring/bergelombang. Tekstur tanah Tekstur tanah dikelompokkan ke dalam lima kelompok sebagai berikut: t1 = halus: liat. lempung berdebu. l5 = (F) = 45-65% : curam. k2 = dangkal: 50-25 cm. Faktor-faktor tersebut digolongkan berdasarkan besarnya intensitas faktor penghambat atau ancaman. 8 . 3. lereng permukaan. p3 = sedang: 2. sebagai berikut: 1. liat berdebu. 4. tingkat erosi yang telah terjadi. Evaluasi kecocokan penggunaan lahan diperlukan sebagai masukan bagi revisi rencana tata ruang atau penggunaan lahan yang sudah ada.25 cm/jam.5 cm/jam. t4 = agak kasar: lempung berpasir. kedalaman efektif tanah.5 – 2.penggunaan lahan saat ini. plinthite (k) Kedalaman efektif dikelompokkan sebagai berikut: k0 = dalam: > 90 cm. ancaman banjir atau genangan air yang tetap. t3 = sedang: debu. Klasifikasi pada kategori unit pengelolaan memperhitungkan faktor-faktor penghambat yang bersifat permanen atau sulit diubah seperti tekstur tanah. batuan di atas permukaan tanah. t5 = kasar: pasir berlempung.

5.5 mm jika berbentuk 9 . Terdapat bercak-bercak pada saluran bagian lapisan bawah. d4 = sangat buruk: seluruh lapisan permukaan tanah berwarna kelabu dan tanah bawah berwarna kelabu atau terdapat bercak-bercak kelabu. Tidak terdapat bercak-bercak berwarna kuning. Batuan Bahan kasar dapat berada dalam lapisan tanah atau di permukaan tanah. Drainase tanah (d) Drainase tanah diklasifikasikan sebagai berikut: d0 = baik: tanah mempunyai peredaran udara baik. e3 = berat: > 75% lapisan atas hilang. e1 = ringan: < 25% lapisan atas hilang. 6. < 25% lapisan bawah hilang. atau coklat. d3 = buruk: bagian bawah lapisan atas (dekat permukaan) terdapat warna atau bercak-bercak berwarna kelabu. e4 = sangat berat: sampai lebih dari 25% lapisan bawah hilang. Tidak terdapat bercak-bercak berwarna kuning. coklat dan kekuningan. Kerikil Kerikil merupakan bahan kasar yang berdiameter lebih besar dari 2 mm sampai 7. Erosi (e) Kerusakan oleh erosi dikelompokkan sebagai berikut: e0 = tidak ada erosi. < 25% lapisan bawah hilang. Seluruh profil tanah dari atas sampai lapisan bawah berwarna terang yang seragam dan tidak terdapat bercak-bercak. d2 = agak buruk: lapisan atas tanah mempunyai peredaran udara baik. Faktor-faktor khusus Faktor-faktor penghambat lain yang mungkin terjadi berupa batu-batuan dan bahaya banjir: a. e2 = sedang: 25-75% lapisan atas hilang. 7. coklat dan kekuningan. coklat atau kelabu pada lapisan atas dan bagian atas lapisan bawah. d1 = agak baik: tanah mempunyai peredaran udara baik. Bahan kasar yang terdapat dalam lapisan 20 cm atau di bagian atas tanah yang berukuran lebih besar dari 2 mm dibedakan sebagai berikut: 1). kelabu.

b2 = sedang : 3%-15% permukaan tanah tertutup. berdiameter lebih besar dari 25 cm (berbentuk bulat) atau bersumbu memanjang lebih dari 40 cm (berbentuk gepeng). 3). atau sumbu panjangnya berukuran 15 cm sampai 40 cm jika berbentuk gepeng. Kerikil di dalam lapisan 20 cm dikelompokkan sebagai berikut: b0 = tidak ada atau sedikit: 0-15% volume tanah. Batuan kecil Batuan kecil merupakan bahan kasar atau batuan berdiameter 7.01%-3% permukaan tanah tertutup.01% luas areal. b4 = sangat banyak: lebih dari 90% permukaan tanah tertutup. Penyebaran batuan lepas di atas permukaan tanah dikelompokan sebagai berikut: b0 = tidak ada: kurang dari 0. Batuan lepas (stone) Batuan lepas merupakan batuan yang bebas dan terletak di atas permukaan tanah. b1 = sedang: 15-50% volume tanah. Penyebaran batuan tertutup dikelompokkan sebagai berikut : b0 = tidak ada: kurang dari 2% permukaan tanah tertutup. b1 = sedang: 15-50% volume tanah.5 cm sampai 25 cm jika berbentuk bulat.10% permukaan tanah tertutup. b1 = sedikit : 0. b2 = banyak: 50-90% volume tanah. 2). b3 = sangat banyak: > 90% volume tanah. 4). b2 = sedang : 10% .bulat atau sampai 15 cm sumbu panjang jika berbentuk gepeng. b3 = sangat banyak: > 90 % volume tanah. Banyaknya batuan kecil dikelompokkan sebagai berikut: b0 = tidak ada atau sedikit: 0-15% volume tanah. b3 = banyak : 15%-90% permukaan tanah tertutup. Batu terungkap (rock) Batuan terungkap merupakan batuan yang tersingkap di atas permukaan tanah. 10 . b2 = banyak: 50-90% volume tanah. tanah sama sekali tidak dapat digunakan untuk produksi pertanian.50% permukaan tanah tertutup. b1 = sedikit : 2% . yang merupakan bagian dari satuan besar yang terbenam di dalam tanah (batuan tertutup).

o4 = selama waktu enam bulan atau lebih tanah selalu dilanda banjir secara teratur yang lamanya lebih dari 24 jam. Kriteria klasifikasi untuk masing-masing kelas tertera pada Tabel 2. tanah sama sekali tidak dapat digarap. Drainase 4. b. o3 = selama waktu 2-5 bulan dalam setahun. Keadaan erosi 6. lapisan atas (40 cm) b. Kerikil/batuan 7. lapisan bawah 2. Ancaman banjir/genangan Ancaman banjir atau penggenangan dikelompokkan sebagai berikut: o0 = tidak pernah: dalam periode satu tahun tanah tidak pernah tertutup banjir untuk waktu lebih dari 24 jam.90% permukaan tanah tertutup. Kedalaman efektif 5. o2 = selama waktu satu bulan dalam setahun tanah secara teratur tertutup banjir untuk jangka waktu lebih dari 24 jam. secara teratur selalu dilanda banjir lamanya lebih dari 24 jam. Tabel 2 Klasifikasi Kemampuan Lahan pada Tingkat Unit Pengelolaan Faktor Penghambat/Pembatas I 1. Lereng Permukaan (%) 3. Banjir t2/t3 t2/t3 L0 d0/d1 kO eO bO II t1/t4 t1/t4 l1 d2 kO e1 bO Kelas Kemampuan Lahan III t1/t4 t1/t4 l2 d3 k1 e1 bO IV (*) (*) l3 d4 k2 e2 b1 V (*) (*) (*) (**) (*) (*) b2 VI (*) (*) l4 (*) K3 e3 (*) VII (*) (*) l5 (*) (*) e4 ( *) VIII t5 t5 L6 (*) (*) (*) b3 o0 o1 o2 o3 o4 (*) (*) (*) Catatan: (*) : dapat mempunyai sebaran sifat faktor penghambat dari kelas yang lebih rendah (**) : permukaan tanah selalu tergenang air 11 . b4 = sangat banyak : lebih dari 90% permukaan tanah tertutup. Tekstur tanah (t) a. o1 = kadang-kadang: banjir yang menutupi tanah lebih dari 24 jam terjadinya tidak teratur dalam periode kurang dari satu bulan.b3 = banyak : 50% .

2. Untuk keperluan analisa dan uji silang dari data kelas dan subkelas. antara lain: tanah. Cara Penentuan Kemampuan Lahan Penentuan kemampuan lahan terutama dilakukan untuk perencanaan ruang atau alokasi pemanfaatan ruang. Tumpang tindih dapat dilakukan dengan menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG) maupun secara manual. Peta tanah c. Peta lereng b. iklim. atau 1:50. Di bawah ini diberikan langkah penentuan kemampuan lahan: 1. hujan. Peta erosi d. 1:100. Peta yang digunakan dapat berskala 1:250. peta erosi dan peta drainase/genangan untuk mendapatkan peta kemampuan lahan sebagaimana tersebut pada gambar 4. Peta drainase/genangan Siapkan peta dengan skala yang sama. diperlukan juga data/laporan yang memuat sifatsifat biofisik wilayah. Siapkan peta sebagai berikut: a. Peta lereng Peta erosi Peta tanah Peta drainase Peta Kemampuan Lahan Gambar 4 Diagram Alir Pembuatan Peta Kemampuan Lahan Dalam Tingkat Kelas 12 .000. dan genangan/drainase.E. Lakukan tumpang tindih (overlay) peta lereng.000. topografi.000. peta tanah.

Namun demikian identifikasi dan delineasi kelas lahan tetap harus dilakukan.3. didapat kombinasi keempat parameter di atas. Dari overlay peta. 4. Apabila peta kemampuan lahan atau peta kemampuan tanah sudah ada. sehingga dapat dilakukan identifikasi kelas lahan. karena sudah tidak perlu lagi dilakukan langkah tumpang tindih (overlay) peta. F. Tabel 3 Contoh Identifikasi Kelas dan Subkelas Lahan No No Sampel Faktor Pembatas 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kemiringan Lereng (l) Kepekaan Erosi (KE) Tingkat Erosi (e) Kedalaman Tanah (k) Tekstur Tanah Atas (t) Tekstur Tanah Bawah (t) Permeabilitas Tanah (P) Drainase (d) Kerikil/Batu (b) Ancaman Banjir (o) Salinitas (g) Kelas Sub Kelas Potensi kemampuan lahan 1 Data 0-2 % 0. Contoh yang lebih rinci untuk mengidentifikasi kelas dan subkelas lahan sebagaimana dijabarkan pada Tabel 3. akan dapat memudahkan penentuan kelas lahan. dapat dideliniasi kelas dan subkelas kemampuan lahan. Cara Evaluasi Kesesuaian Penggunaan Lahan Evaluasi kesesuaian penggunaan lahan dilakukan untuk revisi alokasi pemanfaatan ruang saat ini. d Tinggi Dari contoh tabel 3 dapat disimpulkan. lahan yang memiliki lereng datar dan tidak mempunyai hambatan dari paramater lainnya masuk ke dalam kelas I. kelas kemampuan lahan masuk dalam kategori Kelas III dengan faktor penghambat kepekaan erosi (ke) dan drainase (d). Dari hasil identifikasi. Evaluasi kesesuaian penggunaan lahan dilakukan dengan membandingkan 13 . Sebagai contoh.49 SR > 90 cm Geluh Berlempung Lempung Agak lambat Agak jelek Tanpa Kadangkadang Bebas Kode lo KE5 e0 k0 t2 t1 P2 d3 b0 o1 g0 Kemampuan Lahan I III I I I I I III I II I III III ke. Besarnya hambatan yang ada untuk masing-masing parameter menentukan masuk ke dalam kelas dan subkelas mana lahan tersebut.

penggunaan lahan yang ada dengan hasil analisa kemampuan lahan yang didapat pada huruf D. 3. 2. Siapkan peta penggunaan lahan yang berskala sama dengan peta kemampuan lahan pada angka 1. Setiap satuan lahan dapat dideskripsikan sifatnya yang berkaitan dengan faktor penghambat maupun potensinya untuk dikembangkan pemanfaatan ruangnya dan ditentukan kesesuaian penggunaannya (contoh pada Tabel 4 dan Tabel 5). Cara melakukan evaluasi kesesuaian penggunaan lahan: 1. untuk mendapatkan satuan lahan (unit lahan) seperti diilustrasikan pada Gambar 5 dan Gambar 6. Siapkan peta kemampuan lahan seperti pada huruf D. pemukiman pertanian I III II IV hutan Peta Kemampuan Lahan Penggunaan Lahan Gambar 5 Ilustrasi Peta Kemampuan Lahan dan Penggunaan Lahan 14 . Lakukan tumpang tindih (overlay) peta kemampuan lahan dengan peta penggunaan lahan (Gambar 4).

Kemiringan lereng: agak miring. Kemiringan lereng: agak miring. 15 . Pertanian tegalan jagung/padi. Hutan. Cocok. Cocok. Pertanian sawah. Pertanian tegalan jagung/ padi.Kondisi I: Seandainya kelas kemampuan dan Penggunaan lahan sebagai berikut: pemukiman pertanian I IIIℓk1 IIℓ IV ℓ2 Hutan 4 1 5 2 3 6 8 7 Gambar 6 Ilustrasi Tumpang Tindih Peta Kemampuan Lahan Dan Penggunaan Lahan Untuk Menghasilkan Satuan Lahan Contoh Kondisi I Tabel 4 Uraian Hasil Evaluasi Lahan untuk Contoh Kondisi I Satuan Lahan 1 2 3 4 5 6 7 8 Kelas Kemampuan Lahan I I II l1 III l2 k1 III l2 k1 IV l3 k2 II l1 IV l3 k2 Penggunaan Lahan Permukiman. Kemiringan lereng: agak miring. Cocok. Cocok. Cocok. Permukiman. Luas (ha) 25 75 180 20 180 110 20 180 Evaluasi Kesesuaian Cocok. Kemiringan lereng: agak miring. Kemiringan lereng: agak miring. Pertanian sayuran. Cocok. Hutan. Faktor Penghambat Kemiringan lereng: landai. Cocok.

genangan terusmenerus.Kondisi II. dapat diubah menjadi lahan pertanian kurang intensif. Tidak cocok. Faktor Penghambat Drainase sangat buruk. Cocok. Kemiringan lereng curam. Cocok. Cocok. Pertanian jagung/padi. Kedalaman tanah sedang. perlu diubah. Tidak cocok perlu diubah. Luas (ha) 60 Evaluasi Kesesuaian Tidak cocok. 140 3 4 5 6 III k1 IV k2 VII l5 III k1 170 170 30 30 7 VII l5 Hutan. Hutan. Pertanian jagung/padi. genangan terusmenerus. Pertanian jagung/padi. pertahankan sebagai cagar alam. 170 16 . Drainase sangat buruk. Kedalaman tanah sedang Kedalaman tanah dangkal. Cocok. Kemiringan lereng curum. pertahankan sebagai hutan. Seandainya kelas & penggunaan lahannya sbb: pemukiman pertanian V IV III VII Hutan 1 4 2 5 3 7 6 Gambar 7 Ilustrasi Tumpang Tindih Peta Kemampuan Lahan dan Penggunaan Lahan untuk Menghasilkan Satuan Lahan Contoh Kondisi II Tabel 5 Uraian Hasil Evaluasi Lahan Berdasarkan Contoh Kondisi II Satuan Lahan 1 Kelas Kemampuan Lahan V o4 d5 Penggunaan Lahan Permukiman. 2 V o4 d5 Pertanian rawa lebak.

apabila luas kawasan hutan di daerah tersebut tidak mencapai 30%. Contoh Peta Lereng. 17 . Lahan yang penggunaannya cocok dengan kemampuannya tidak perlu diubah penggunaannya. sehingga lahan tidak rusak dan dapat digunakan secara lestari. 5. atau diterapkan teknologi sesuai dengan syarat yang diperlukan oleh lahan tersebut. Berdasarkan hasil evaluasi kesesuaian. G. Namun. Penggunaan lahan hutan yang kelas kemampuannya cocok untuk pertanian dapat diubah menjadi lahan pertanian tetapi perubahannya harus sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Peta Tingkat Erosi. penggunaan lahan yang tidak cocok dengan kemampuannya perlu direkomendasikan perubahan penggunaannya. penggunaan lahan hutan harus dipertahankan. Peta Kemampuan Lahan dan Peta Penggunaan Lahan Berikut ini merupakan beberapa contoh peta terkait dengan penentuan kemampuan lahan dan evaluasi kesesuaian lahan.4.

.

Sayung dan Mranggen Nomer 1408-542. Jatingaleh. D E M A K K A B. Semarang.435000 A 440000 W A 445000 PETA TINGKAT BAHAYA EROSI DAS BABON JAWA TENGAH Sriwulan 450000 L A U T J 2 0 2 4 Km Tanjung mas Terboyo kulon Trimulyo Terboyo wetan Sayung Semarang utara Tambak rejo Kemijen Tingkat Bahaya Erosi Sangat rendah Rendah Sedang Berat Sangat berat Banjar dowo Muktiharjo lor Genuksari Kalisari Karangroto Kaligawe Genuk Gebang sari Kudu Sayung Rejomulyo Mlati baru Sawahbesar Mlati harjo Semarang timur Jetaksari Muktiharjo kidul Bugangan Kebon agung Bangetayu kulon 9230000 9230000 Gayamsari Rejosari Sambirejo Sarirejo Siwalan Karang turi Karang tempel Pandean lamper Peterongan Lamper lor Tlogosari wetan Tlogosari kulon Sembungharjo Wringinjajar Bangetayu wetan Penggaron lor Tlogomulyo Kalicari Gayamsari Pendurungan tengah Palebon Jamus Pedurungan 9225000 Lamper tengah Lamper kidul Jomblang Semarang selatan Kota Semarang Pedurungan lor Penggaron kidul Gemah Sendangguwo Pedurungsn kidul Kedungmundu Plamongansari 9225000 Candisari Jatingaleh Karangrejo Tinjomoyo Ngesrep Tandang Karanganyar Jangli Sambiroto Sendangmulyo Kabupaten Demak Batursari Mranggen Kebonbatur Mangunharjo Tembalang 9220000 9220000 Tembalang Sumurboto Bulusan Pedalangan Srondol wetan Meteseh Banyumanik Padangsari Banyumanik Gedawang Kramas Rowosari Jabungan Kalikayen Banyumeneng 9215000 9215000 Pudakpayung 420000 440000 U Mluweh Bandarajo Susukan 460000 Kawengen 9240000 A L 9240000 Kabupaten Semarang Ungaran 9220000 K A B. 1409-222. 1408-544. dan 1408-623 Bakosurtanal 2001 Hasil analisis data sekunder. 1409-311. S E M A R A N G 9220000 Kalongan Kalirejo Gondoriyo 9210000 9210000 420000 440000 460000 Leyanan Beji Sumber : Peta Rupa Bumi Indonesia Skala 1:25.Indonesia 2006 Gambar 9 Contoh peta tingkat bahaya erosi 19 . K E N D A L K A B. 440000 445000 450000 435000 Legenda : Sungai Batas Kabupaten Batas Kecamatan Batas Desa Batas DAS Babon Jalan Propinsi Jalan Kabupaten Jalan Lokal Jalan kereta Daya Dukung Lingkungan DAS BABON Jawa Tengah Kementerian Negara Lingkungan Hidup Jakarta .000 Lembar Ungaran.

K E N D A L K A B. D E M A K K A B.000 4 Km : . d III p. S E M A R A N G 9220000 9220000 9210000 9210000 420000 440000 460000 440000 Kebon agung Penggaron kidul Kalisari 445000 450000 Daya Dukung Lingkungan DAS BABON Jawa Tengah Batas Kabupaten Jalan Propinsi Terboyo kulon Sambirejo Palebon Terboyo wetan Karangroto Kemijen Batas Kecamatan Muktiharjo kidul Sriwulan Sayung Tlogosari kulon Kalicari TlogomulyoSembungharjo Banjar dowo Kudu injomoyo ondol wetan Batas Desa Batas DAS Babon Rejomulyo Sawahbesar Mlati Muktiharjo lor Mlati baru harjo Gebang sari Bugangan rejo Tambak Gemah Kaligawe Rejosari Karang tempel Pandean lamper Sarirejo Lamper tengah Peterongan Siwalan Gayamsari Bangetayu kulon Plamongansari Jetaksari Wringinjajar Tlogosari wetan andarajo Karang turi Karanganyar Tandang Sendangguwo Pendurungan tengah Pedurungan lor Jamus rangrejo Pedurungsn kidul Kedungmundu Penggaron lor Gambar 10 Contoh peta kemampuan lahan KalirejoLamper lor Lamper kidul Tembalang Jangli Sumurboto Bulusan Trimulyo Mangunharjo Rowosari Kalikayen Meteseh Genuksari Pedalangan Kebonbatur Jatingaleh Tanjung mas nyumanik Padangsari Sendangmulyo Banyumeneng Sayung Semarang timur Mluweh Gayamsari Bangetayu wetan ukan Semarang utaraKalongan Tembalang Semarang selatan Jomblang GedawangBeji Jabungan Sambiroto Pedurungan Genuk Candisari Gondoriyo udakpayung Leyanan Kawengen Mranggen Batursari 20 Legenda : Sungai 435000 L A U T Banyumanik Kramas Kota Semarang Jalan Kabupaten kereta W 0 2 Sumber 2Peta Rupa Bumi Indonesia Skala 1:25. d IV o VI e VI l VII e 9225000 9220000 9220000 9215000 9215000 420000 440000 U 460000 9240000 A L 9240000 K A B. d III d III e III ke.440000 A A 445000 PETA KEMAMPUAN LAHAN DAS BABON JAWA TENGAH 450000 J 9230000 9230000 9225000 Kemampuan Lahan II e II ke II ke.

21 .

terkait dengan penyediaan produk hayati secara berkelanjutan melalui upaya pemanfaatan ruang yang menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup. 22 . Bappeda Provinsi dan Kabupaten/Kota. peta tanah. Pendekatan Penghitungan Penentuan daya dukung lahan dilakukan dengan membandingkan ketersediaan dan kebutuhan lahan seperti digambarkan dalam diagram di bawah ini. Hasil perhitungan dengan metode ini dapat dijadikan bahan masukan/pertimbangan dalam penyusunan rencana tata ruang dan evaluasi pemanfaatan ruang. peta erosi dan peta drainase Peta kemampuan lahan Peta penggunaan lahan Kabupaten/ Kota Bakosurtanal atau Puslit Tanah Departemen Pertanian Bakosurtanal atau Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Puslit Tanah Departemen Pertanian LAPAN. Bakosurtanal Sumber Data Provinsi IV.H. Keadaan surplus menunjukkan bahwa ketersediaan lahan setempat di suatu wilayah masih dapat mencukupi kebutuhan akan produksi hayati di wilayah tersebut. Dengan metode ini dapat diketahui gambaran umum apakah daya dukung lahan suatu wilayah dalam keadaan surplus atau defisit. METODE PERBANDINGAN KETERSEDIAAN DAN KEBUTUHAN LAHAN Dalam Bab IV ini dijelaskan cara mengetahui daya dukung lahan berdasarkan perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan lahan bagi penduduk yang hidup di suatu wilayah. A. Penjelasan Sumber Data Data yang digunakan dalam penentuan kemampuan lahan dan evaluasi kesesuaian lahan bisa didapat dari beberapa sumber sebagai berikut: Tabel 6 Jenis dan Sumber Data Jenis Data Pusat Peta lereng. sedangkan keadaan defisit menunjukkan bahwa ketersediaan lahan setempat sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan akan produksi hayati di wilayah tersebut.

peternakan dan perikanan. kehutanan. B. kebutuhan lahan dihitung berdasarkan kebutuhan hidup layak.Populasi penduduk Total produksi aktual seluruh komoditas setempat Ketersediaan lahan Kebutuhan lahan Daya Dukung Lahan Kebutuhan lahan per orang yang diasumsikan setara dengan luas lahan untuk menghasilkan 1 ton setara beras/tahun Gambar 12 Diagram Penentuan Daya Dukung Lahan Ketersediaan lahan ditentukan berdasarkan data total produksi aktual setempat dari setiap komoditas di suatu wilayah. Sementara itu. dengan menjumlahkan produk dari semua komoditas yang ada di wilayah tersebut. Hi = Harga satuan tiap jenis komoditas (Rp/satuan) di tingkat produsen Hb = Harga satuan beras (Rp/kg) di tingkat produsen Ptvb= Produktivitas beras (kg/ha) Dalam penghitungan ini. Penghitungan Ketersediaan (Supply) Lahan Rumus: Σ (Pi x Hi) SL =___________ Hb 1 X ____ Ptvb (1) Keterangan: SL = Ketersediaan lahan (ha) Pi = Produksi aktual tiap jenis komoditi (satuan tergantung kepada jenis komoditas) Komoditas yang diperhitungan meliputi pertanian. perkebunan. Cara Penghitungan Penghitungan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1. Untuk penjumlahan ini digunakan harga sebagai faktor konversi karena setiap komoditas memiliki satuan yang beragam. 23 . faktor konversi yang digunakan untuk menyetarakan produk non beras dengan beras adalah harga.

Mangga. b. antara lain: a. b. Bawang putih. b. TOTAL Produksi (Pi) Harga satuan (Hi) Nilai produksi (Pi x Hi) 2 3 4 5 6 7 8 9 10 {Σ (Pi x Hi) } 2. Jeruk. Kopi. antara lain: a.Untuk memudahkan penghitungan. Ayam ras. Sapi. Tanaman obat-obatan antara lain: a. Penghitungan Kebutuhan (Demand) Lahan Rumus: DL = N x KHLL (2) Keterangan: DL = Total kebutuhan lahan setara beras (ha) N = Jumlah penduduk (orang) KHLL = Luas lahan yang dibutuhkan untuk kebutuhan hidup layak per penduduk: 24 . Non kayu. Jagung. dapat digunakan contoh tabel berikut ini dalam menghitung total nilai produksi {Σ (Pi x Hi) }. antara lain: a. antara lain: a. Lengkuas. Ayam kampung. Produksi susu. Kehutanan: a. b. b. Kambing. Kelapa. Sayur mayur. Produksi daging. Jahe. Kayu. Produksi telur. b. Bawang merah. antara lain: a. Tabel 7 Contoh Penghitungan Nilai Produksi Total No 1 Komoditas Padi dan palawija. b. Buah-buahan. antara lain: a. b. antara lain: Sapi Perikanan Perkebunan. Padi.

Bila SL > DL . Tabel 8 Jenis dan Sumber Data Jenis Data Pusat Jumlah penduduk (N) Produksi padi/beras (padi/beras) Sumber Data Provinsi Kabupaten/ Kota Produksi non padi (non padi) Data hasil susenas atau sensus penduduk BPS dalam Buku Daerah Dalam Angka BPS Pusat: Daerah dalam Untuk Angka (DDA) Kabupaten: • Subdit Statistik Tanaman • DDA Pangan Untuk Kota: • Direktorat • Dinas terkait Statistik Pertanian Statistik sektoral: • Data hortikultura di dinas pertanian setempat • Daerah dalam angka • Data perkebunan di dinas terkait setempat • Statistik pertanian • Statistik perkebunan • Statitik perikanan 25 . dapat menggunaan data rata-rata produktivitas beras nasional sebesar 2400 kg/ha/tahun. daya dukung lahan dinyatakan defisit atau terlampaui. Daerah yang tidak memiliki data produktivitas beras lokal. c. Kebutuhan hidup layak per penduduk diasumsikan sebesar 1 ton setara beras/kapita/ tahun. Bila SL < DL. sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 8. Penentuan Status Daya Dukung Lahan Status daya dukung lahan diperoleh dari pembandingan antara ketersediaan lahan ( SL ) dan kebutuhan lahan (DL) . 3. daya dukung lahan dinyatakan surplus.a. Luas lahan yang dibutuhkan untuk kebutuhan hidup layak per penduduk merupakan kebutuhan hidup layak per penduduk dibagi produktifitas beras lokal. b. Sumber Data Data yang digunakan dalam penghitungan perbandingan kebutuhan dan ketersediaan lahan berasal dari beberapa sumber data. C.

atau bisa didekati dengan harga pedagang besar. bisa digunakan harga produsen wilayah di dekatnya. METODE PERBANDINGAN KETERSEDIAAN DAN KEBUTUHAN AIR Metode ini menunjukan cara penghitungan daya dukung air di suatu wilayah. Keadaan surplus menunjukkan bahwa ketersediaan air di suatu wilayah tercukupi. Guna memenuhi kebutuhan air. A. Hasil perhitungan dengan metode ini dapat dijadikan bahan masukan/pertimbangan dalam penyusunan rencana tata ruang dan evaluasi pemanfaatan ruang dalam rangka penyediaan sumber daya air yang berkelanjutan.Statistik Harga produsen Produsen di BPS setempat Di kota: . tergantung pada jenis komoditi lokal) Statistik harga produsen (harga di tingkat petani atau di lokasi sumber komoditas) Statistik Di kabupaten: harga .Statistik dinas terkait lokal jika tidak ada data harga produsen wilayah tersebut. dapat diketahui secara umum apakah sumber daya air di suatu wilayah dalam keadaan surplus atau defisit. dengan mempertimbangkan ketersediaan dan kebutuhan akan sumber daya air bagi penduduk yang hidup di wilayah itu. fungsi lingkungan yang terkait dengan sistem tata air harus dilestarikan. Pendekatan Penghitungan Penentuan daya dukung air dilakukan dengan membandingkan ketersediaan dan kebutuhan air seperti pada gambar 13 di bawah ini.Harga beras (Hb) Harga: (Hi) • Statistik peternakan • Statistik kehutanan Statistik harga Produsen Statistik harga produsen (secara prinsip menggunakan data harga produsen. sedangkan keadaan defisit menunjukkan bahwa wilayah tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan akan air. V. Dengan metode ini. 26 .

atau dari data Badan Pertanahan Nasional (BPN) R = rata-rata aljabar curah hujan tahunan wilayah (mm/tahunan) dari data BPS atau BMG atau dinas terkait setempat. Sementara itu. kebutuhan air dihitung dari hasil konversi terhadap kebutuhan hidup layak. B. Penghitungan Ketersediaan (Supply) Air Perhitungan dengan menggunakan Metode Koefisien Limpasan yang dimodifikasi dari metode rasional. Cara Penghitungan Penghitungan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1. Ri = curah hujan tahunan pada stasiun i m = jumlah stasiun pengamatan curah hujan A = luas wilayah (ha) 10 = faktor konversi dari mm.ha menjadi m3 27 . Rumus: C = ∑ (ci x Ai) / ∑Ai R = ∑ Ri / m SA = 10 x C x R x A (3) (4) (5) Keterangan: SA = ketersediaan air (m3/tahun) C = koefisien limpasan tertimbang Ci = Koefisien limpasan penggunaan lahan i (lihat Tabel 9) Ai = luas penggunaan lahan i (ha) dari data BPS atau Daerah Dalam Angka.Koefisien limpasan untuk setiap jenis penggunaan lahan Populasi penduduk Ketersediaan Air Kebutuhan Air Luas setiap jenis penggunaan lahan Daya Dukung Air Kebutuhan air per orang berdasarkan pola konsumsi Gambar 13 Diagram Penentuan Daya Dukung Air Ketersediaan air ditentukan dengan menggunakan metode koefisien limpasan berdasarkan informasi penggunaan lahan serta data curah hujan tahunan.

jalan aspal. 7.35 0.2 0. 7.5 – 0.4 – 0. 2 – 7% c. pemakaman Pekarangan tanah berat: a.5 0.3 0.18 – 0.15 0.10 . 2 – 7% c.13 – 0.7 0.9 0.40 0. 6.10 0. 3.9 0.05 .10 .3 0. 4.35 0. > 7 % b.40 0.30 0. pemakaman Pekarangan tanah berat: a.7 0. 5. jalan aspal.9 0. > 7 % b.6 0. pertokoan Kompleks perumahan Villa Taman. 11. 1.30 0.5 – 0. < 2% Lahan berat Padang rumput Lahan budidaya pertanian Hutan produksi C (koefisien limpasan tertimbang) Koefisien Limpasan (Ci) 0. Contoh Penghitungan Tertimbang Koefisien Luas Lahan (Ai) Limpasan (Ci XAi) Deskripsi permukaan Kota.22 0. atap genteng Kawasan industri Permukiman multi unit.1 – 0.15 – 0. 2. penghitungan koefisien limpasan tertimbang dapat menggunakan tabel 10 di bawah ini. 10.10 0.3 – 0.6 – 0.3 – 0.15 – 0. 12. < 2% Pekarangan tanah ringan: a. 2. 10.13 – 0. 2 – 7% c. Tabel 10 No.18 – 0.35 0.Tabel 9 Koefisien Limpasan No.35 0.25 – 0.22 0.0. 2 – 7% c.5 0. Untuk memudahkan.25 – 0. Σ(Ai) Σ(Ci XAi) Σ(Ci XAi) / Σ(Ai) 28 . 5.7 – 0.4 – 0. atap genteng Kawasan industri Pemukiman multi unit.18 8.17 0.15 0. Deskripsi permukaan Kota.2 0. > 7 % b. < 2% Pekarangan tanah ringan: a.17 0. 3. 11.0.05 – 0.9 0.18 8. pertokoan Kompleks perumahan Villa Taman.7 – 0. 9. 1. 6.6 0. 12. < 2% Lahan berat Padang rumput Lahan budidaya pertanian Hutan produksi Ci 0. 4.1 – 0. > 7 % b. 9.0.6 – 0.

1/5 kg tiap 3 hari 1/10 kg/5hari Kebutuhan Setara Air 324. 2. Catatan: Kriteria WHO untuk kebutuhan air total sebesar 1000–2000 m3/orang/tahun Tabel 11 Total Kebutuhan Air Konsumsi Beras Air minum dan rumah tangga Telor Buah Daging Salad Kedelai Total Jumlah 120 kg/th 120 l/ h 1 kg berisi 16 telor.2.00 m3/th 778. dimana: 800 m3 air/kapita/tahun merupakan kebutuhan air untuk keperluan domestik dan untuk menghasilkan pangan (lihat Tabel 11 total kebutuhan air dan Tabel 12 tentang “Air Virtual” (kebutuhan air untuk menghasilkan satu satuan produk) di bawah ini. 1 butir/hari 1kg jeruk = 5 buah.0 merupakan faktor koreksi untuk memperhitungkan kebutuhan hidup layak yang mencakup kebutuhan pangan.75 m3/th 3.35 m3/th 29 .40 m3/th 276.20 m3/th 105.00 m3/th 43.16 m3/th 5.84 m3/th 20. = 2 x 800 m3 air/kapita/tahun. domestik dan lainnya. Penghitungan Kebutuhan (Demand) Air Rumus: DA = N x KHLA (6) Keterangan: DA = Total kebutuhan air (m3/tahun) N = Jumlah penduduk (orang) KHLA = Kebutuhan air untuk hidup layak = 1600 m3 air/kapita/tahun.

yang dijelaskan pada Tabel 13 berikut ini. DDA 30 . daya dukung air dinyatakan surplus. C. bila tidak ada data BMKG. Penentuan Status Daya Dukung Air Status daya dukung air diperoleh dari pembandingan antara ketersediaan air (SA) dan kebutuhan air (DA). Sumber Data Data yang digunakan dalam penghitungan perbandingan kebutuhan dan ketersediaan air berasal dari beberapa sumber data. Tabel 13 Jenis dan Sumber Data Jenis Data Pusat Jumlah Penduduk (N) Curah hujan (R) Sumber Data Provinsi Kabupaten/Kota Luas wilayah (A) Luas guna lahan Data Hasil Susenas atau Sensus Penduduk BPS dalam Buku Daerah Dalam Angka Statistik DDA DDA atau Dinas Indonesia BMKG setempat. Bila SA < DA .Tabel 12 Air Virtual (kebutuhan air untuk menghasilkan satu satuan produk) Produk 1 kg padi 1 kg daging sapi 1 kg daging unggas(ayam) 1 kg telor 1 kg kentang 1 kg kedelai 1 kg gandum 1 bongkah roti 1 kaleng soda Air minum dan RT Kebutuhan air 2700-4000 liter 2900-16000 liter 2800 liter 4700 liter 160 liter 2300 liter 1200 liter 170 liter 90 liter 120 liter/hari/kapita 3. data dapat diperoleh dari dinas terkait lokal seperti Dinas Pertanian atau dinas lainnya BPS a. daya dukung air dinyatakan defisit atau terlampaui. Bila SA > DA .

ttd RACHMAT WITOELAR Salinan sesuai dengan aslinya Deputi V MENLH Bidang Penaatan Lingkungan. Data BPN d. Data RTRW Bappeda Provinsi/Kabupaten/Kota MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Buku Statistik Luas Guna Lahan c.(Ai) b. ttd Ilyas Asaad 31 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful