You are on page 1of 6

PARTISIPASI ETNIS TIONGHOA DALAM MELESTARIKAN TRADISI GOTONG ROYONG DI KOTA GURINDAM TANJUNGPINANG

A. Mukadimah Tradisi Gotong Royong Sebagaimana pepatah orang terdahulu,“ Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”. Sama halnya dengan budaya dan tradisi pada suatu tempat atau daerah dimanapun kita berada, budaya setempatlah yang kita terapkan. Sebenarnya apakah budaya dan tradisi itu .Seberapa penting peranan budaya sehingga dapat mempengaruhi sekelompok orang yang berada dalam suatu lingkungan budaya itu bahkan orang luar yang ikut berpartisipasi ke dalam suatu budaya tersebut. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia ) yang dimaksud dengan budaya adalah suatu karya karsa cipta manusia yang terbentuk dari suatu peradaban. Sedangkan tradisi menurut KBBI diartikan sebagai segala sesuatu seperti adat, kepercayaan dan kebiasaan. Selama ini kita selalu menganggap bahwa kebudayaan dan tradisi itu adalah dua hal yang sama saja. Namun, pada kenyataannya tidak sama sekali. Tradisi mempunyai ruang lingkup yang lebih mendetail dari sekedar kebudayaan. Apabila anda mengatakan bahwa Tanjungpinang, Ibu kota provinsi Kepulauan Riau menerapkan kebudayaan Melayu, Provinsi Jambi pun menerapkan kebudayaan Melayu hal ini secara visual dapat secara kasat mata kita lihat dari pakaian adat, rumah adat dan bahasa yang yang digunakan oleh kedua provinsi tersebut bernuansakan budaya Melayu. Lain halnya dengan tradisi, ketika anda berbicara tentang batik gonggong, pantun, negeri gurindam, festival dragon boat, kuliner serba dari makanan laut dan kota yang di dalamnya berbaur berbagai etnik yang hidup dengan rukun, secara otomatis anda akan membayangkan itulah Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Dalam hal ini dapat ditarik sebuah asumsi atau pendapat, bahwa tradisi lebih mengarah kepada sosial, kepercayaan dan pola hidup suatu masyarakat yang dapat menunjukkan ciri khas suatu masyarakat tertentu sedangkan budaya hanya menjadi ciri khas daerah secara umum. Walaupun secara kasat mata kebudayaan di beberapa tempat sama, namun tradisi masing-masing daerah jelas jauh berbeda. Hal inilah yang mendasari saya mengangkat judul “Partisipasi Etnis Tionghoa Dalam Melestarikan Tradisi Gotong Royong di Tanjungpinang” bukan “Partisipasi Etnis Tionghoa Dalam Melestarikan
1

Budaya Gotong Royong di Tanjungpinang”. karena, gotong royong adalah sebuah tradisi asli masyarakat Indonesia yang diterapkan oleh masyarakat Indonesia dari sabang sampai merauke sejak dulu dan tidak kita temukan di negara-negara lainnya dan tradisi gotong royong ini pula selama berpuluh-puluh tahun telah menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Mungkin jika anda mendengar kata “Gotong Royong” yang terfikir oleh anda adalah kerja bakti, bahu membahu untuk membersihkan rumah, ruang kelas atau sekolah, atau mungkin membersihkan lingkungan perkampungan di sekitar rumah anda. Itu hanyalah gotong royong dengan skala kecil, sedangkan gotong royong yang di maksud disini adalah gotong royong dalam skala besar .Suatu bentuk kerjasama yang mengikat banyak orang untuk menghasilkan suatu hasil yang nantinya akan dinikmati bersama dalam bentuk apa saja misalnya koperasi, partisipasi dalam organisasi, partai politik, perang melawan penjajah dan lain sebagainya. Di zaman yang sudah serba instan di era globalisasi ini, banyak masyarakat yang sudah melupakan budaya gotong royong, dengan alasan yang sangat sederhana sekali yaitu “repot”. Dengan adanya berbagai kemudahan di era globalisasi ini, semua orang menginginkan kerja yang cepat, instan dan hasil yang bagus . Sedangkan untuk terus melanjutkan tradisi gotong royong banyak sekali hambatannya. Beberapa diantaranya adalah perlunya pastisipasi semua pihak yang memakan waktu dan tenaga sedangkan hasilnya lebih mementingkan kepentingan umum, bukan untuk kepentingan

individu.Kebanyakan orang lebih mengutamakan pekerjaan yang hasilnya dapat dirasakan sendiri, bukan untuk umum. Sifat individualisme inilah yang nantinya berujung kepada sikap antisosial, sedangkan sikap antisosial itu sendiri akan membawa kita kepada kehancuran dan perpecahan. Tentunya kita sebagai bangsa yang utuh dan bersatu sebagaimana yang tertera pada dasar Negara Pancasila sila ke-3 ( Persatuan Indonesia) sama sekali tidak mengiginkan suatu perpecahan apapun bentuknya.

B. Tradisi Gotong Royong Etnis Tionghoa Dalam Pembangunan Sektor Ekonomi di Tanjungpinang Tanjungpinang adalah ibukota provinsi Kepulauan Riau . Kota ini telah terbentuk sejak diberlakukannya UU No.5 tanggal 1 Juni 2001 dengan luas wilayah ± 15 Km2 . Sebuah keunikan tersendiri bagi kota Tanjungpinang, dilihat dari sudut etnik budaya . Tanjungpinang merupakan kota cagarbudaya yang kaya dengan berbagai etnik budaya
2

serta jarang bahkan hampir tidak pernah ada perselisihan antara satu etnik dengan etnik lainnya. Beberapa diantaranya adalah Suku Melayu, Batak, Bugis, Minang, Jawa, dan Tionghoa. Sekilas tidak aneh jika kita membahas keragaman suku bangsa di Tanjungpinang, apalagi sudah jelas Indonesia adalah Negara yang kaya akan budaya, keragaman etnik terjadi sudah tentu akibat migrasi penduduk dari satu pulau ke pulau lain karena Indonesia memang Negara Kepulauan. Namun, ketika mendengar etnik Tionghoa, ke pulau manakah fikiran kita akan tertuju.Pulau Jawa tentu akan berisi orang-orang Jawa, Pulau Sumatera tentu akan berisi orang-orang Minang, Melayu, Batak dan Bugis, Pulau Madura juga akan berisi orang-orang Madura dan sebagainya. Jika melihat kebelakang pada sejarahnya, etnis Tionghoa memang bukan etnis asli Indonesia. Leluhur Tionghoa-Indonesia bermigrasi secara bergelombang sejak ribuan

tahun yang lalu ke Indonesia. Dari masa awal kerajaan sampai dengan reformasi setelah kemerdekaan .Selama kurun waktu tersebut banyak peran serta etnis Tionghoa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia khususnya di bidang ekonomi. Misalnya , pada masa awal kebangkitan nasional, pada masa itu diberlakukannya passenstelsel (Peraturan Belanda untuk memberlakukan semacam boarding pass bagi etnis Tionghoa) Masyarakat Tionghoa bermigrasi ke daerah-daerah yang dikosentrasikan hanya untuk masyarakat Tionghoa saja, pada masa itu muncul gagasan oleh H.Samanhudi (Salah seorang aktivis kebangkitan nasional) untuk membentuk suatu organisasi Syarikat Dagang Islam yang menghimpun para pedagang Islam dan prinsip kerja organisasinya dengan cara gotong royong. Sebelum H.Samanhudi mendirikan organisasi tersebut, masyarakat Tionghoa telah lebih awal mendirikan organisasi paguyuban tolong menolong bagi para pedagang di Hindia-Belanda. Organisasi tersebut menghimpun semua golongan untuk saling gotong royong , bahu membahu meningkatkan perekonomian Hindi- Belanda. Pada masa awal kemerdekaan di zaman orde baru, masyarakat Tionghoa sangat berperan penting dalam upaya peningkatan ekonomi di Indonesia. Pengusaha- pengusaha Tionghoa banyak yang meningkatkan angka ekspor ke luar negeri dan menambah devisa negara Indonesia walaupun status mereka sebagai warga negara Indonesia pada saat orde baru sempat terancam. Begitu luar biasanya nilai-nilai gotong royong yang di perlihatkan masyarakat Tionghoa bagi kepentingan tanah air. Sampai sekarang, masih dapat kita saksikan sendiri, di Tanjungpinang, dari sekian banyaknya suku bangsa, masyarakat Tionghoa lah yang menguasai pasaran ekonomi. Walaupun mereka etnis Tionghoa yang membawa budaya mereka yang berbeda ke Tanjungpinang, tetapi mereka benar-benar menunjukkan dengan jelas sekali bahwa
3

akulturasi kebudayaan Cina dan Tanjungpinang menyatu dengan sangat baik. Etnis Tionghoa membawa tradisi masyarakat Cina , dimana orang-orang Cina adalah orangorang yang terkendali, tipe pekerja keras dan budaya itu teralkuturasi dengan tradisi masyarakat Tanjungpinang yang gemar hidup bergotong-royong. Hasilnya , sangat luar biasa . Gotong royong yang selama ini kita anggap sesuatu yang bersifat sepele, ternyata dapat menghasilkan buah manis jika diterapkan dalam skala besar contohnya masyarakat Tionghoa yang saling gotong royong dan bekerjasama untuk membangun perekonomian, kini dapat kita lihat sendiri hasilnya. Contoh kecilnya adalah pasar Tanjungpinang yang 80%nya dipegang oleh etnis Tionghoa. mulai dari pasaran sembako, toko buku, toko baju, sampai bank-bank di Tanjungpinang pun di dominasi oleh etnis Tionghoa

C. Degradasi Tradisi Gotong Royong Pada Masyarakat Tanjungpinang Sementara itu, di Tanjungpinang, sampai dengan detik ini masih mengalami penurunan tingkat kesadaran untuk melestarikan tradisi gotong royong . Sikap dan sifat individualisme yang dapat digolongkan cukup tinggi sekarang ini membawa masyarakat Tanjungpinang jauh dari budaya gotong royong. Jika alasan utamanya adalah tuntutan era globalisasi, mungkin pernyataan tersebut harus ditelaah lebih dalam lagi. Apakah globalisasi menuntut kita untuk mempunyai sikap individualisme? Tentu saja tidak. Justru untuk melawan derasnya arus globalisasi yang membawa banyak dampak baik dari segi positif maupun negatif harus kita lawan dengan persatuan dan kesatuan bangsa. Ditambah lagi Tanjungpinang dekat dengan pengaruh dua negara luar yaitu Malaysia dan Singapura. Jika kita terbuai untuk tetap mempertahankan ego individu tanpa mau bekerja sama dan menerapkan prinsip gotong royong maka pengaruh negatif dari negara lain akan cepat merambat ke bangsa kita. Gotong royong adalah salah satu ciri khas bangsa kita. Khususnya di Tanjungpinang budaya gemar bergotong royong sering kita temukan jauh sebelum Tanjungpinang berdiri sebagai kota. Mulai dari gotong royong skala kecil (bahu membahu untuk membersihkan di lingkungan RT/RW setempat) bahkan sampai gotong royong dengan skala besar. Sebuah contoh kesuksesan masyarakat Tanjungpinang dalam menerapkan tradisi gotongroyong di tingkat nasional salah satunya adalah menjadi pemegang piala Adipura selama 4 tahun berturut-turut dan mencetak rekor muri kuliner otak-otak terpanjang se-Indonesia. Jika di telaah lebih jauh, ternyata tradisi gotong royong sangat baik sekali diterapkan. Hasilnya sangat luar biasa. Ironisnya kita tidak pernah menyadari
4

keuntungan-keuntungan yang akan kita dapatkan apabila kita melestarikan tradisi gotongroyong tersebut. Contoh kecilnya saja, masyarakat Tanjungpinang kini lebih senang jika kotanya yang indah ini setiap hari disapu bersih oleh para pegawai kebersihan kota yang memakai seragam kuning daripada “repot” membersihkan kota dengan gotong-royong. Memang benar, hal tersebut bagus karena menciptakan lapangan pekerjaan bagi sebagian masyarakat Tanjungpinang. Tetapi sadarkah anda, ketika anda membiarkan kota anda dibersihkan oleh sekelompok orang yang anda beri tanggung jawab untuk itu tanpa memikirkan tanggung jawab anda sendiri sebagai masyarakat Kota Tanjungpinang, saat itu anda sedang menarik diri anda sendiri untuk menjadi orang yang individualis dan anti gotong-royong . Tidak hanya itu, degradasi kesadaran gotong royong masyarakat Tanjungpinang juga sering terlihat di lingkungan pemerintah dan masyarakat. Misalnya, kerusakan fasilitas yang disediakan pemerintah kota untuk kepentingan umum. Jika tingkat kesadaran akan tradisi gotong royong masyarakat Tanjungpinang tinggi, tidak mungkin kasus coret-coretan, kerusakan, bahkan pencurian fasilitas tersebut dapat terjadi.Karena kurangnya kesadaran masyarakat akan tradisi gotong royong, banyak sekali fasilitas umum yang rusak bahkan sebagian tidak dapat digunakan lagi. Dalam kasus ini tidak hanya pemerintah yang dirugikan, melainkan masyarakat yang tidak merusak fasilitas pun terkena dampaknya. Bayangkan, jika sepuluh atau lima belas tahun kedepan, budaya gotong-royong benar-benar hilang dari selayang pandang masyarakat kota Tanjungpinang, bagaimana kota kita akan maju sedangkan untuk masalah kebersihan kota saja kita tidak mau untuk ikut bersama-sama gotong royong apalagi dibidang ekonomi, politik, pendidikan, budaya dan sebagainya. Mari kita pelajari etnis Tionghoa yang selama ini berperan penting dalam sektor ekonomi kota Tanjungpinang. Mereka bisa mencapai itu semua karena mereka (etnis Tionghoa) adalah etnis yang rasa persatuan dan kesatuan serta tingkat keperdulian untuk gotong royongnya tinggi. Kita bisa dan mampu untuk bersama- sama melestarikan tradisi gotong-royong. Mengapa kita harus ragu melaksanakannya. Harus kita tanamkan pada diri kita sendiri bahwa tradisi hidup gotong royong itu adalah tradisi kita sendiri. Jika bukan kita yang melestarikannya , siapa yang akan melestarikan tradisi kita tersebut. Jika sekarang ini, kita dapat melihat kesuksesan etnis Tionghoa memajukan sektor ekonomi, bukanlah hal yang mustahil jika enam atau sepuluh tahun kedepan dengan kunci sukses yang sama yaitu “gotong royong” kita dapat memajukan sektor budaya, politik, pemerintahan, pendidikandan lain sebagainya. Dianalogikan seperti narapidana
5

yang sudah mendapat kunci untuk membuka jeruji penjaranya sendiri, untuk apalagi ia menunggu lebih lama agar jeruji besinya dapat terbuka. Kita juga demikian, jika sudah jelas kita mengetahui bahwa kunci keberhasilan kita untuk memajukan sektor apapun itu (ekonomi, sosial , politik dan lainnya) adalah dengan bekerjasama dan mau melestarikan tradisi gotong royong, apalagi yang kita tunggu untuk menunda-nunda kemajuan tersebut.

D. Gotong Royong Sebagai Alat Pemersatu Bangsa Masalah degradasi tradisi gotong royong dalam masyarakat Tanjungpinang tidak akan berujung pada hal-hal yang tidak kita inginkan apabila kita mau bersama-sama menghilangkan ego kita untuk mau melestarikan tradisi gotong royong baik dalam skala kecil maupun skala besar. Memang benar, era globalisasi ini menuntut kita untuk terus bersaing, tetapi bukan untuk bersaing sesama kita. Kita sama-sama masyarakat

Tanjungpinang, tugas kita memajukan Tanjungpinang. Di mulai dari Tanjungpinang, meluas ke Provinsi Kepri, sampai ke seluruh Indonesia. Sungguh baik sekali jika kita bisa memberikan contoh kepada masyarakat Indonesia bahwa dari sekian banyak etnis di kota Tanjungpinang, kita tetap bisa melestarikan budaya gotong royong tanpa adanya perselisihan satu etnik dan lainnya.Jika hal ini dapat dilaksanakan dengan baik maka dimulai dari Tanjungpinang sampai ke seluruh Indonesia dapat mencerminkan kebhinekaan yang sesungguhnya dan melestarikan tradisi yang membudaya di masyarakat Indonesia yaitu tradisi gotong royong. Jika tradisi gotong royong dapat kita terapkan dalam masyarakat kita, apapun sektornya baik itu pendidikan, kebersihan, politik dan sosial budaya,, maka dapat dipastikan kesuksesan dan keberhasilan bukanlah suatu hal yang mustahil dapat kita capai. Diawali dengan pelestarian budaya untuk mencapai kesuksesan bangsa.

6