BELL’S PALSY : RIWAYAT, ANATOMI, EPIDEMIOLOGI, GAMBARAN KLINIS, DAN DIAGNOSIS BANDING Stephen G.Reich, M.

D TERJEMAH : Rani Tiyas Budiyanti (G0006020) FKUNS/ RSUD Dr. Moewardi Surakarta Berdasarkan definisi, bell’s palsy merupakan suatu keadaan dengan onset akut ( ≤72 jam), bersifat unilateral, dan menunjukkan gambaran paresis atau kelumpuhan pada salah satu sisi wajah, terbatas, dan tidak dapat diketahu etiologi pastinya, selain itu juga menunjukkan perbaikan dalam waktu 2 bulan. ( Kadangkala Bell’s palsy disamakan dengan ”kelumpuhan wajah idiopatik” untuk membedakannya dengan kelumpuhan wajah yang berasal dari penyebab khusus seperti penyakit Lyme, otitis media, sarkoidosis, dan lain-lain.

Epidemiologi Insiden yang terjadi 20-40 dari 10.0.000 per tahun Resiko seumur hidup : 1: 60 Umur rata-rata : 40 tahun Peningkatan insiden pada umur lebih dari 70 tahun Laki-laki = Perempuan Kekambuhan : 7% Bilateral : 1% Tidak ada predileksi musiman Peningkatan resiko pada kehamilan Peningkatan resiko pada penderita diabetes Ketika Bell’s palsy terjadi atau terjadi kelumpuhan bilateral, maka etiologi lain seharusnya dipertimbangkan. Adanya kekambuhan kelumpuhan perifer wajah dengan perburukan funsi bukanlah hal yang biasa terjadi pada pasien Bell’s palsy. Dua pertimbangan yang penting pada kekambuhan kelumpuhan perifer wajah adalah Sarkoidosis dan Melkersson-Rosenthal. Melkersson Rosental merupakan penyakit yang jarang terjadi dengan ditandai adanya fisura pada lidah dan pembengkakan bibir/ wajah secara periodik (lihat Lavensor). Greene dan Rogers menekankan bahwa pada beberapa pasien tidak dilakukan pemeriksaan. Inspeksi pada lidahn merupakan hal yang penting.

Gambaran Klinis dari Bell’s Palsy Gambaran klinis dari kelumpuhan perifer pada wajah dapat dengana mudah dikenali oleh ahli saraf, yang ditandai dengan adanya kelemahan pada seluruh otot ketika wajah berekspresi. Alis yang tidak dapat diangkat, fisura palpebra melebar, lipatan nasolabial mendatar, pipi tidak dapat digembungkan, dan cuping hidung tidak mengembang pada saat insiprasi dalam. Pasien tidak dapat bersiul, dan ketika tersenyum atau menunjukkan gigi, mulut akan tertarik ke arah sisi yang sehat. Romberg mengatakan bahwa kelumpuhan wajah merupakan terapi terbaik dari kulit keriput. Pasien akan mengeluhkan sekresi saliva yang berlebihan dari dalam mulut, ketika muncul pertama kali di pagi hari, pasta gigi akan keluar dari mulut seperti susu.. Sebagian besar pasien dengan Bell’s palsy seringkali tidak memperhatikan bahwa matanya kering, namun demikian terapi lubrikasi untuk menjaga mata tetap dibutuhkan, khsusunya ketika terdapat kelemahan yang parah pada m. Orbicularis occuli dengan tingkat perluasan yang tidak dapat ditentukan. Sebaliknya, beberapa pasien akan menunjukkan tangisan yang terus meneruskarena kemehan bagian inferior m.orbicularis occuli yang akan mencegah aliran air mata yang diteruskan menuju duktus lakrimalis. Jika m.stapedius terkena maka akan didapatkan gejala hiperakustikus karena kontraksi dari tulang penyangga stapedius. Meskipun n.fascialis menginervasi kelenjar saliva minor, akan tetapi biasanya tidak tampak kekeringan pada mulut. Keterlibatan chorda tympani akan mengakibatkan hilangnya kemampuan pengecapan yang ditandai dengan gejala disgeusia. Untuk lebih lengkapnya, fungsi pengecapan dapat ada tidaknya fungsi pengecapan sangat sulit dinilai, meskipun gangguan penegcapan akan mengarahkan diagnosis ke arah yang lebih buruk. Pasien penderita Bell’s palsy jarang mengeluhkan nyeri, khususnya di sekitar telinga.mastoid atau wajah. Demikian juga pasien yang mengeluhkan mati rasa ( hal ini penting untuk menanyakan apakah yang mereka maksudkan dengan mati rasa) tetapi tes sensorik biasanya normal pada Bell’s palsy. Sebelumnya, penulis meyakini bahwa pasien dengan Bell’s palsy pada faktanya mengalami polineuropati kranial. Adour menemukan adanya keterlibatan CNV VIII, IX dan X pada pasien Bell’s palsy. Pada sebuah kasus dimana 51 pasien didiagnosis Bell’s palsy, Benatar menemukan bahwa 8% diantaranya melibatkan setidaknya 1 nervs cranialis diantaranya adalah : n. Trigeminal kontralateral, trigeminal ipsilateral, glossopharyngeal, hypoglossal. Penemuan ini secara otomatis menjawab petanyaan apakah pasien tersebut benar jika didagnosa sebagai penderita Bell’s palsy. Sebagian besar pasien dapat sembuh sempurna atau hampir sembuh sempurna. Gejala sisa dari Bell’s palsy diantaranya adalah gejala kelemahan yang residual, kontraktur fasial ( lipatan nasolabial lebih dalam dan fisura palpebra mengabur), spasme hemifasial, dan sinkinensia. Selama penyembuhan, serat motorik dapat tidak saling berhubungan seperti pada aktivasi m Diferensial Diagnosis Terdapat berbagai macam penyebab kelumpuhan perifer pada wajagh. Sedikitnya 50% dari kelumpuhan perifer wajah adalah karena Bell’s palsy dan jika tidak ada riwayat pemeriksaan dan anamnesis yang meragukan maka persentasenya semakin meningkat, Anamnesis yang meragukan

untuk mengarahkan diagnosis kea rah Bell’s palsy adalah jika ditemukan onset yang bertahap, vertigo, gejala dasar, kanker, HIV atau faktor resikonya, dan gambaran yang mengarahkan diagnose kepada Penyakit Lyme ( wilayah geografis yang sesuai, gigitan serangga, kulit yang kemerahan, dan lain-lain). Pemeriksaan neurologis yang meragukan kea rah Bell’s palsy adalah jika ditemukan kelumpuhan pada sisi bilateral, keterlibatan nervus kranialis lain ( dengan catatan berkaitan dengan n.cranialis lain), hemiparesis, berkurangnya pendengaran atau vertigo, ataxia, kelumpuhan memandang horizontal atau kelemahan pada seluruh badan. Penemuan penting pada pemeriksaan keseluruhan adalah adanya vesikel pada canalis auditorial eksterna atau palate, adenopati cervical, otitis media, massa parotid atau lesi kulit. Adanya gejala atau tanda tersebut membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut tetapi khusus untuk pasien yang menunjukkan definisi Bell’s palsy seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tidak diperlukan pemeriksaan lebih lanjut. Pasien juga disarankan untuk mengkonsultasikan kembali kepada dokter jika terdapat perkembangan gejala. Kelumpuhan perifer pada wajah mungkin merupakan tanda pertama dari suatu kelainan seperti sarkoidosis, karsinoma meningeal atau Gullain-Barre Sindrom. Pada daftar di bawah ini, tanda * mengindikasikan etiologi yang menyebabkan kelumphan wajah bilateral.

Lesi Parenkim (Pontin) Ms Stroke Abses Ensefalitis* Tumor Kongenital SIndrom Mobius* Trauma forceps Lainnya Trauma Fraktur dasar tengkorak Post operasi Tumor

Schwanoma Neuroma Meningioma Metastase Kolestetatoma Rarotis Invasi perineural Lainnya Meningitis/Infeksi Bakteri Jamur TB Sifilis Lime *: Terjadi khususnya pada anak-anak dan semua orang pada daerah endemik, muncul biasanya pada musim semi, atau seseorang yang mempunyai tipe kulit jenis lain, adanya tanda sistemik (rash) dan tanda neurologis (poliradikulitis). Tes serologi biasanya positif (lihat Halperin, Golightly, Halperin, Shapiro, Logigian, dan lainnya dan khususnya tes terbaru Halpern yang mengarahkan pada penyakit sistem saraf Lime. HIV: Kelumpuhan pada wajah mungkin dapat meruapakn tanda serokonversi HIV, Pada HIV lanjut dipertimbangkan terjadi Sindrom Ramsay-Hun atau infiltrasi meningitis oleh limfoma atau infeksi. Sarkoid *: Kurang lebih 5% dari pasien dengan sarkoidosis mempunyai gangguan neurologik dan kelumpuhan n.VII merupakan tanda yang paling sering terlihat. (Lihat Stern dkk). Neoplastik* Ramsay Hunt (Virus Herpes Zooster) Eptein Barr-Virus Osteomieltis pada Fraktur Basis Kranii Otitis

Protitis Mastoiditis Lepra Polio

Lainnya: Peningkatan TIK idiopatik Sindroma Melkersson-Rosenthal Amiloidosis* Wegenar PAN Sjorgen Paget HSPP Gullain-Bare* CIDP Histiosit X Wernicke Lainnya.

Saran 1. Bell’s palsy merupakan penyakit dengan onset akut, unilateral, dan kelumpuhan saraf perifr wajah tanpa adanya kelainan sistemik atau neurologik lainnya pada pemeriksaan, serta tidak adanya sebab atau etiologi yang jelas. 2. Bell’s palsy mempunyai prognosis yang baik dan jika tidak membaik kurang dari 8 minggu maka dibutuhkan diagnosis ulang.

3. Lesi pada batang otak akan menyebabkan kelumpuhan perifer pada wajah yang akan diikuti dengan tanda-tanda sejenis lainnya seperti kelumpuhan memandang horizontal, kelumpuhan n. abducens, INO, ataxia, atau hemiparesis. 4. Lesi pada sudut CP dapat menyebabkan kelumpuhan perifer pada wajah, tetapi dengan onset bertahap dan melibatkan CN VIII. 5. Selain mengakibatkan paralisis pada wajah, Bell’s palsy juga akan menyebabkan lakrimasi, hiperakustik pada pendengaran, sensasi pendengaran di sekitar telinga, dan gangguan pengecapan hal ini dikarenakan yang bertanggung jawab terhadap fungsi sensoris dan parasimpatis adalah n.VII 6. Melakukan pemeriksaan HEENT dengan sangat hati-hati pada suspek Bell’s palsy untuk menilai vesikel pada canalis akuditorial eksternal atau palate ( pada herpes Zooster atau sindrom Ramsay-Hunt) 7. Terdapat diferensial diagnosis yang luas pada kelumpuhan perifer wajah, tetapi hampir pada semua kasus Bell’s palsy terdapat gambaran mengenai riwayat dan pemeriksaan yang mengarahkan kepada definsi Bell’s palsy yaitu onsetnya akut ( ≤72 jam), unilateral, paresis atau kelumpuhan perifer wajah, terbatas, dan tanpa adanya etiologi yang jelas, serta menunjukkan perbaikkan dalam waktu kurang dari 2 bulan. 8. Penyakit Lyme merupakan pertimbangan penting jika terjadi kasus kelumpuhan wajah pada anak-anak dan orang-orang di daerah endemic, muncul pada waktu musim semi, dan pada orang yang mempunyai gambaran kulit dengan rash, atau tanda neurologic (poliradikulitis). 9. Sebagian besar pasien Bell’s palsy akan sembuh secara sempurna. Gejala sisa yang tampak dapat berupa kelemahan, sinkinesis motorik dan parasimpatik, kontraktur, dan spasme hemifasial.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful