Menyongsong TAHUN IMAN

11 Oktober 2012 - 24 November 2013

“Motu Proprio” Pintu kepada Iman (Porta Fidei, 4)

1

Menyongsong TAHUN IMAN

11 Oktober 2012 - 24 November 2013

IMAM MENGAJAR
Berpartisipasi pada Tugas Kristus Sang Firman dalam Gerak Pastoral Gereja Setempat Gereja yang hidup penghubung antara teks dan konteks
Bilamana globalisasi menjadi konteks pewartaan zaman sekarang dapat kita bertanya, apa yang menjadi teks pewartaan zaman sekarang, yang tidak berbeda dengan teks perwartaan zaman ketika Injil diwartakan oleh Yesus Kristus. Dalam karya publik Yesus teks itu adalah Injil Kerajaan Allah (bdk. Mat 4:23); dan sesudah kebangkitanNya teks itu adalah Yesus yang adalah Mesias, pokok pewartaan para rasul, cikal bakal Gereja perdana (bdk. Kisah 5: 42). Teks tersebut menjadi pokok pewartaan dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda: Gereja perdana pada zaman awal millenium pertama, dan Gereja kita pada zaman awal millenium ketiga, era globalisasi. Dunia yang dimengerti pada awal millenium pertama adalah “imperium romanum”, yaitu kerajaan romawi, yang meliputi wilayah Roma sampai Laut Tengah, sedangkan dunia pada awal millenium ketiga adalah “imperium mundanum”, yaitu kerajaan dunia yang berciri global, melintasi batas ruang dan waktu, bahkan berhasrat menyentuh ambang “imperium divinum”, tempat Allah bertahta dalam Kerajaan-Nya. Dalam konteks dunia itu Injil Kerajaan Allah, yang hadir dalam pribadi Yesus yang adalah Mesias, tetap menjadi teks perwartaan Gereja, karena “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr. 13: 8). Dalam syahadat kita nyatakan pokok iman kepercayaan kita pada Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Ibarat bagian tubuh kita adalah anggota-anggota Gereja, yang menerima perutusan untuk pergi, menjadikan semua bangsa murid Kristus dan membaptis mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan Kritus. Kristus itu jugalah yang menyertai kita senantiasa sampai kepada akhir zaman" (bdk. Mat. 28: 19-20). Gereja yang hidup melintasi ruang dan waktu dari zaman ke zaman hendaknya setia memahami teks, yaitu Firman yang menjadi manusia (bdk. Yoh 1:14), dan secara kreatif mewartakan Firman itu dalam konteks yang berbeda dan yang selalu berubah dengan menjadi saksi kebenaran Firman. Dengan demikian Gereja yang hidup menjadi penghubung antara teks dan konteks. Tugas Mengajar Berpartisipasi pada Tugas Kristus Pergumulan manusia untuk menemukan makna keberadaannya terjadi dalam perumusan dirinya dalam kata tentang dirinya yang mendapatkan kepenuhannya dalam Firman. Dalam pergumulan tersebut manusia melaksanakan peran profetiknya menurut berbagai dimensi: pribadi, ruang dan waktu. Menurut dimensi pribadi peran profetik terjadi dalam pergumulan manusia untuk mengenali apa makna Firman bagi hidup manusia dan dunia. Ia berperan menjadi penafsir Firman, yang berhasil bilamana tafsirannya selaras dengan Firman, dan gagal bilamana tafsirannya meleset karena kepentingan pribadi dengan mengesampingkan Firman. Menurut dimensi ruang, peran profetik terjadi karena buah pergumulan dengan Firman diberitakan kepada orang lain. Ia berperan sebagai pewarta yang berbicara di hadapan orang lain. Menurut dimensi waktu, karena visi hidup yang telah dicerahkan oleh Firman, peran profetik terjadi bilamana pewartaan mencerahkan orang lain agar tidak terpenjara pada batasan waktu, tetapi terbuka pada pembangunan masa depan yang lebih baik. Melaksanakan peran profetik itu membentuk manusia menjadi nabi, profeta.
“Motu Proprio” Pintu kepada Iman (Porta Fidei, 4)

2

Menyongsong TAHUN IMAN

11 Oktober 2012 - 24 November 2013

Gereja melaksanakan peran profetik dalam partisipasinya mengemban tugas Kristus, Sang Firman. Menjadi murid Kristus memuat panggilan untuk akrab dengan Sang Firman, dan memuat perutusan untuk menjadi saksi kebenaran Firman pada zaman sekarang. Bagian integral dari partisipasinya pada tri-tugas Kristus Tugas mengajar tersebut tentu merupakan bagian integral dari partisipasinya pada tritugas Kristus yang mengajar, menguduskan dan menggembalakan umat. Gereja sebagai “koinonia”, sungguh hidup dalam “kerygma”, “leitourgia”, “diakonia”, dalam semangat “martyria”. Bapa Suci Benediktus XVI dalam suratnya kepada para seminaris menegaskan, “Bagi kita, Allah bukan semata Firman. Di dalam sakramen-sakramen, Ia memberi diri-Nya kepada kita secara pribadi, melalui realitas indrawi. Inti hubungan kita dengan Allah dan cara hidup kita adalah Ekaristi.” (Dalam “Surat Bapa Suci Benedictus XVI kepada para Seminaris, 18 Oktober 2010). Konsili Vatikan II dalam Presbyterorum Ordinis menerangkan dalam keterpaduan tritugas Kristus dengan tugas-tugas imam yaitu : sebagai pelayan sabda (PO 4), pelayan sakramen (PO 5), dan pemimpin umat (PO 6), dengan happy, committed dan profesional. Dalam Gerak Pastoral Gereja Setempat Imam karena tahbisannya “in persona Christi capitis” (PO 2 ) mendapatkan tugas mengajar, berpartisipasi pada tugas Kristus Sang Firman , maka “sentire cum Ecclesia”, seperasaan dengan Gereja perlu ditumbuhkembangkan terus-menerus dengan berbagai macam cara secara kontekstual. Imam-imam yang mengemban tugas perustusan di wilayah Keuskupan Agung Semarang saya harap juga seperasaan dengan Gereja setempat yang melalukan gerak pastoral, sebagai tanda bahwa Gereja hidup. Agar gerak pastoral itu menjadi gerak bersama, seluruh umat diajak untuk melaksanakan Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang. Di dalam Arah Dasar pastoral tersebut dirumuskan cita-cita umat sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus,yang dalam bimbingan Roh Kudus, berupaya menghadirkan Kerajaan Allah sehingga semakin signifikan dan relevan bagi warganya dan masyarakat (Ardas KAS, 2011-12015, al. 1). Cita-cita itulah yang menjadi teks, dan diletakkan dalam konteks masyarakat Indonesia dewasa ini, sehingga peran profetik Gereja mendapat arah yang jelas juga. Keuskupan Agung Semarang sebagai Gereja setempat merupakan bagian terpadu dengan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik.

Syukur atas 50 Tahun Pembukaan Konsili Vatikan II
50 tahun yang lalu terjadilah peristiwa iman yang menjadi tonggak sejarah dan pedoman arah Gereja Katolik yang hadir di dalam dunia,yaitu Konsili Vatikan II. Bangsa-bangsa di seluruh muka bumi ini menyaksikan Konsili Vatikan II sebagai Pentekosa Baru, yang memperbarui kehidupan Gereja. Sedemikian penting peristiwa itu sehingga Bapa Benediktus XVI mencanangkan “Tahun Iman” dengan menerbitkan Surat Apostolik sebagai “Motu Proprio” Pintu kepada Iman. (Porta Fidei, 4) Bersyukur atas 50 tahun pembukaan Konsili Vatikan II Bapa Suci telah mengambil keputusan untuk mencanangkan suatu Tahun Iman. Dalam Surat Apostolik tersebut Bapa Suci menjelaskan, bahwa :

“Motu Proprio” Pintu kepada Iman (Porta Fidei, 4)

3

Menyongsong TAHUN IMAN

11 Oktober 2012 - 24 November 2013

“Tahun itu akan dimulai pada tanggal 11 Oktober 2012, yakni hari ulang tahun yang ke limapuluh dari pembukaan Konsili Vatikan II, dan akan ditutup pada Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, pada tanggal 24 November 2013. Tanggal yang mengawali Tahun Iman itu, 11 Oktober 2012, merupakan juga hari ulang tahun yang ke duapuluh dari publikasi buku Katekismus Gereja Katolik, sebuah naskah yang sudah dipromulgasikan oleh pendahulu saya, Beato Yoahnes Paulus II, dengan maksud untuk memberikan kepada segenap umat beriman gambaran tentang kekuatan dan keindahan iman-kepercayaan kita.” (Porta Fidei, 4) Harapan saya semoga peristiwa Pentekosta Baru tersebut menjadi peristiwa iman kita juga, sehingga kita pun dapat mengalami kekuatan dan keindahan iman kepercayaan kita. Melaksanakan peran profetis dengan mewartakan Injil Kerajaan Allah yang terwujud dalam diri Yesus Kristus pada zaman kita bersama seluruh Gereja para imam dalam pribadi Kristus sebagai kepala, mengemban amanat untuk melakukan tugas profetik, yaitu mengubah kata menjadi kabar sukacita, mengubah verbum menjadi evangelium. Mengubah verbum menjadi evangelium mengandaikan kemampuan para imam untuk menimbang-nimbang kata-kata mana yang digunakan, dipilih, diucapkan agar berkata (“dicere”) tidak menjadi mengutuk (“maledicere”), tetapi memberkati (“benedicere”). Menggunakan kata-kata tidak senonoh, berbau kekerasan bahkan mesum pada mimbar kotbah tentu dapat melukai hati umat, yang mengakibatkan terjadinya persengketaan (“contradictio”). Ketrampilan mengubah kata "verbum” menjadi kabar sukacita “evangelium” dalam era komunikasi yang didukung oleh media komunikasi modern ini perlu dilengkapi kearifan untuk melakukan pemberitaan yang mengkomunikasikan informasi dengan data yang akurat (5 W, 1 H), untuk mengembangkan jurnalisme yang berimbang, yang memajukan keadilan dan perdamaian serta keutuhan ciptaan. Tanpa kearifan dalam komunikasi publik ini dapat muncul pemberitaan yang tidak proporsional yang membingungkan, bahkan meresahkan warga masyarakat. Saya mendukung dalam rangka Tahun Iman (2012-2013) diselenggarakan Hari Studi oleh semua imam di Keuskupan Agung Semarang. Refleki Dewan Imam KAS, 4-5 Juni 2012 dengan mengolah tema ”Tugas Mengajar Imam dalam Konteks Zaman Ini” menegaskan peran profetis imam mengajar berpartisipasi pada tugas Kristus Sang Firman dalam Gerak Pastoral Gereja Setempat, Gereja Keuskupan Agung Semarang.

Salam, doa „n Berkah Dalem, † Mgr. Johannes Pujasumarta Pr.

“Motu Proprio” Pintu kepada Iman (Porta Fidei, 4)

4

Menyongsong TAHUN IMAN

11 Oktober 2012 - 24 November 2013

Uskup Keuskupan Agung Semarang

“Motu Proprio” Pintu kepada Iman (Porta Fidei, 4)

5