1

PENGARUH PENERAPAN PROJECT BASED LEARNING (PBL) TERHADAP MOTIVASI DAN AKTIFITAS BELAJAR FISIKA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 GUNUNG TALANG
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Abad XXI dikenal dengan abad globalisasi dan abad teknologi informasi. Pembangunan yang begitu pesat serta perkembangan sains dan teknologi yang semakin canggih, membuat manusia tertantang untuk meningkatkan kualitas bidang pendidikan. Kemajuan suatu bangsa salah satu indikatornya, dapat dilihat dari perkembangan dunia pendidikan pada bangsa tersebut. Indonesia sebagai negara berkembang yang memberikan perhatian kepada dunia pendidikan, mengharapkan agar pendidikan nasional menghasilkan peserta didik yang kompeten. Artinya, peserta didik memiliki kemampuan berpikir dan bertindak yang baik dan efisien dengan berorientasi pada keterampilan dalam menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, peserta didik mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan globalisasi melalui peran serta dalam kemajuan IPTEK dengan kreativitas dan kemandirian yang mereka miliki. Fisika sebagai bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam telah banyak memberikan kontribusi nyata dalam perkembangan Ilmu dan Teknologi (IPTEK). Hal ini sesuai dengan pendapat Suryo (2008 : 3) ”Pada hakekatnya, fisika

merupakan kumpulan pengetahuan, cara berpikir, dan penyelidikan (eksperimen). Selain itu, fisika juga dipandang sebagai suatu proses sekaligus produk, sehingga dalam pembelajarannya harus mempertimbangkan model pembelajaran yang efektif dan efisien serta mampu membuat peserta didik tertarik dan termotivasi untuk mempelajari fisika.” Berdasarkan alasan tersebut, salah satu kegiatan pembelajaran fisika yang efektif dan benar-benar mencerminkan hakikat fisika itu sendiri adalah melalui kegiatan praktik. Secara umum, kegiatan praktik merupakan unjuk kerja yang ditampilkan guru atau siswa dalam bentuk demonstrasi maupun percobaan oleh siswa yang berlangsung di laboratorium atau tempat lain melalui eksperimen dan proyek. Hal ini sejalan dengan pendapat Ari (2008: 1-2) ”Fisika mempelajari fakta-fakta yang ada kemudian dikemas menjadi konsep-konsep fisika dan dikembangkan menjadi hukum atau teori fisik melalui kegiatan eksperimen.................................... Pada tingkat SMA/MA, eksperimen fisika diarahkan pada suatu pembuktian dan pemahaman dari konsep, hukum, atau teori yang sudah ada.” Berdasarkan penjelasan tersebut, maka kegiatan praktik memegang peranan penting dalam pembelajaran fisika karena praktikum memberikan peluang kepada siswa untuk kreatif dalam melakukan inovasi atau minimal siswa mendapatkan pengetahuan tentang langkah-langkah yang telah dilakukan ilmuwan dalam menemukan hukum fisika. Tentunya kegiatan praktik ini dapat terlaksana dengan baik jika didukung oleh penggunaan model pembelajaran yang tepat, sarana dan prasarana laboratorium yang lengkap serta ditambah dengan pemanfaatan sumber belajar

3

seperti internet yang dapat menunjang kegiatan praktik itu sendiri. Jika hal di atas dapat terlaksana dengan baik, maka kualitas proses pembelajaran akan meningkat diiringi dengan peningkatan hasil belajar fisika siswa sebagai cerminan keberhasilan pendidikan sendiri. Berdasarkan harapan-harapan yang begitu besar terhadap pembelajaran fisika tersebut, pemerintah telah melakukan upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Diawali dengan upaya penyempurnaan kurikulum secara terusmenerus yang disesuaikan dengan perkembangan IPTEK sehingga akhirnya diterapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pemerintah juga memberikan pelatihan atau penataran kepada guru fisika mengenai sosialisasi penyempurnaan kurikulum untuk meningkatkan profesionalitas guru, serta mengadakan program sertifikasi guru yang memenuhi standar profesi seorang pendidik. Upaya pemerintah pun dilanjutkan dengan melengkapi sarana dan prasarana yang menunjang pembelajaran fisika di sekolah, seperti pengadaan alatalat laboratorium, komputer, dan pemasangan internet untuk membantu kemandirian siswa dalam menggali informasi materi pembelajaran di samping yang mereka peroleh dari guru dan buku-buku pelajaran yang disediakan perpustakaan. Pada kenyataannya, upaya pemerintah tersebut belum memberikan dampak positif dalam kegiatan pembelajaran fisika. Hal ini terbukti dengan rendahnya hasil belajar fisika siswa. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, masalah ini terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya siswa kurang termotivasi untuk

salah satu model pembelajaran yang dapat menunjang keefektifan kegiatan praktikum fisika adalah Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning/ PBL). belum maksimalnya pemanfaatan laboratorium. tidak mampu berpikir kritis. Dari berbagai faktor penyebab masalah pembelajaran yang ditemukan peneliti di atas. Guru cenderung menggunakan model pembelajaran langsung yang selalu mengutamakan metode ceramah dan penugasan berupa latihan soal-soal saja. penentuan proyek. Akibatnya. pembuatan laporan. serta kurangnya aplikasi materi pembelajaran pada kehidupan siswa sehingga siswa kurang kreatif dan terampil serta mempunyai pola pikir yang monoton. perencanaan. materi pembelajaran yang padat harus dicapai dalam waktu singkat. serta tidak mampu mengaplikasikan pengetahuannya untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan nyata. . Model ini merupakan bagian dari pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) yang dilakukan melalui suatu proyek dalam jangka waktu tertentu dengan langkahlangkah yang terdiri dari persiapan. sarana laboratorium tidak dimanfaatkan secara maksimal. salah satu faktor penyebab yang sangat berpengaruh adalah kurang bervariasinya model pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran.belajar karena pembelajaran yang masih bersifat teori. sehingga siswa menjadi pasif. dan evaluasi. investigasi. Untuk mengatasi permasalahan proses pembelajaran fisika tersebut. kurang bervariasinya model pembelajaran yang digunakan oleh guru. sementara itu model pembelajaran yang berkaitan dengan kegiatan praktik sangat jarang digunakan. mengkomunikasikan hasil kegiatan.

siswa mampu terlibat secara mental dan fisik. dan kerjasama/ kolaborasi dalam kelompok.” PBL ini melatih siswa untuk dapat mengkonstruksi pengetahuan baru berdasarkan pengalaman sendiri melalui tindakan inkuiri pada proyek. hasil belajar fisika siswa rendah dan jauh dibawah KKM yang ditetapkan sekolah. Rumusan Masalah Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. maka rumusan . menurut Stevani (2008:17) ”PBL ini sangat cocok dilaksanakan dalam pembelajaran fisika karena melalui proyek ini. pembelajaran fisika yang dilaksanakan guru sebagian besar menggunakan model pembelajaran yang terfokus pada teori saja. sehingga pembelajaran fisika akan menjadi menarik. indera. Berdasarkan uraian di atas. sehingga siswa akan termotivasi dan aktif selama proses pembelajaran.” B. peneliti tertarik untuk mengangkat masalah ini dalam suatu penelitian dengan judul ”Pengaruh Penerapan Project Based Learning (PBL) terhadap Motivasi dan Aktifitas Belajar Fisika Siswa Kelas XI SMA N 1 Gunung Talang. dan menyenangkan. Untuk itu. Melalui model pembelajaran dengan kegiatan praktikum. menghargai orang lain. pembelajaran fisika yang paling efektif adalah melalui kegiatan praktikum. syaraf. Akibatnya. siswa dituntut untuk dapat berbagi ide. maka konsep fisika yang bersifat abstrak akan menjadi nyata bagi siswa. termasuk kecakapan sosial dengan melakukan banyak hal sekaligus. Padahal.5 Secara umum. model Project Based Learning perlu diterapkan dalam pembelajaran fisika. Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan. efektif. Selain itu.

(c) menyelidiki hubungan antar besaran-besaran terkait serta karakteristik getaran pegas. (b) menyelidiki hubungan antar besaran-besaran terkait serta karakteristik susunan pegas seri dan paralel. .masalah untuk penelitian adalah: ”Apakah terdapat pengaruh penerapan Project Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar fisika siswa kelas XI SMA Negeri 1 Gunung Talang pada ranah kognitif. 2. dan psikomotor?” C. Penggunaan model Project Based Learning (PBL) pada pembelajaran fisika Kelas XI semester 1 pada materi elastisitas bahan dan materi getaran. dan psikomotor. Bentuk proyek yang akan dilakukan berupa: (a) menyelidiki hubungan antar besaran-besaran terkait dalam materi Hukum Hooke pada pegas. afektif. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menyelidiki pengaruh penerapan Project Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar fisika siswa kelas XI SMA N 1 Gunung Talang pada ranah kognitif. D. Pembatasan Masalah Pembatasan masalah dari penelitian adalah sebagai berikut ini: 1. afektif. (d) menyelidiki hubungan antar besaranbesaran terkait serta karakteristik getaran ayunan sederhana kemudian membuat alat berupa pendulum sederhana yang mampu menghitung percepatan gravitasi bumi dengan menerapkan prinsip ayunan sederhana.

2. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. Masukan bagi peneliti selanjutnya untuk melanjutkan penelitian ini di masa yang akan datang. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Masukan bagi guru fisika dalam memilih model pembelajaran yang sesuai dengan pembelajaran fisika. .7 E. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai: 1.

) Berpusat pada potensi. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing. kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. kompetensi dasar. Oleh sebab itu. teknologi. Secara umum. indikator. penyusunan KTSP juga harus mengikuti ketentuan lain yang menyangkut 8 kurikulum dalam UU 20/2003 dan ketentuan PP 19/2005 serta Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Masnur (2008: 18) menyatakan: ”Pengembangan KTSP memenuhi prinsip. perkembangan. alokasi waktu. dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya (b.) Relevan dengan kebutuhan kehidupan . kebutuhan.isi. Silabus itu sendiri merupakan rencana pembelajaran suatu mata pelajaran tertentu yang mencakup standar kompetensi. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan.masing satuan pendidikan. dan sumber/bahan/alat belajar. Selain itu. struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan. kalender pendidikan. penilaian. dan silabus. Pengembangan KTSP yang beragam mengacu kepada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. dan seni (d. materi pokok/pembelajaran.) Beragam dan terpadu (c.) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.prinsip berikut: (a.

tujuan KTSP ini lebih mengutamakan terciptanya sumber daya manusia yang cerdas. yang bisa mendorong motivasi dan tanggung jawab siswa untuk belajar.” Oleh karena itu. kontekstual.) Seimbang antara kepentingan kepentingan daerah” nasional dan Berdasarkan prinsip tersebut. Secara khusus. pembelajaran fisika juga membutuhkan perencanaan pembelajaran yang tepat dengan ilmu fisika itu sendiri agar tercipta situasi belajar yang lebih menyenangkan. Hal ini sejalan dengan pendapat Sardiman .) Menyeluruh dan berkeseimbangan (f. mengamati. dengan serangkaian kegiatan misalnya membaca. kreatif. sedangkan guru bertanggung jawab menciptakan situasi yang menyenangkan.) Belajar sepanjang hayat (g. mendengarkan. B. dan lainnya. Pada dasarnya. kompeten. tanggung jawab belajar tetap ada pada diri siswa sendiri. dalam pelaksanaan KTSP dibutuhkan suatu perencanaan yang tepat sesuai dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan serta mempertimbangkan karakteristik siswa sehingga dapat memacu aspek kognitif. Pembelajaran Fisika Belajar dan pembelajaran merupakan dua hal yang memiliki keterkaitan tinggi dalam pendidikan. Masnur (2008: 25) menyatakan bahwa ”Pada KTSP. meniru. profesional. dan psikomotor siswa menjadi lebih baik. Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan. afektif. maka perlu dibahas lebih lanjut mengenai pembelajaran fisika.9 (e. dan aktif. Agar perencanaan dapat disusun sesuai dengan yang diharapkan. dan kompetitif.

2007 : 110) ”Belajar adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur pelatihan baik latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan ilmiah. tetapi merupakan suatu proses mental yang terjadi dalam diri seseorang sehingga munculnya perubahan tingkah laku. rasa dan karsa. saling bergantung.” Pendapat lainnya dikemukakan oleh Hilgard (Wina. afektif. tetapi juga diiringi dengan kegiatan inkuiri/penemuan. psiko-fisik untuk menuju ke perkembangan pribadi manusia seutuhnya. Masingmasing komponen tidak bersifat parsial (terpisah) atau berjalan sendiri. komplementer.” Dari pendapat tersebut. dapat disimpulkan bahwa belajar bukan sekedar mengumpulkan pengetahuan. membutuhkan pembelajaran yang bukan saja menekankan teori pada siswa. Hanya sebagian siswa yang bisa menangkap pelajaran ini karena mereka dapat membayangkan fenomena yang dijelaskan dalam buku secara abstrak . dan psikomotor. dan berkesinambungan. Hal ini disebabkan oleh fisika yang tidak bisa hanya dengan menjelaskan dan membaca buku saja melainkan diusahakan mengadakan banyak kegiatan praktik sesuai materi yang diajarkan. tetapi berjalan secara teratur.(2003 : 21) bahwa ”Belajar itu sebagai rangkaian kegiatan jiwaraga.” Fisika sebagai salah satu mata pelajaran ilmu pengetahuan alam sangat erat kaitannya dengan lingkungan dan fenomena yang terjadi dalam kehidupan.sendiri. ranah kognitif. Menurut Ahmad (2004 : 1) ”Pembelajaran adalah aktivitas (proses) yang sistematis dan sistemik yang terdiri atas banyak komponen. Pembelajaran merupakan suatu aktivitas belajar yang melibatkan siswa dan guru bersamaan. yang berarti menyangkut unsur cipta.

Sesuai dengan karakteristik fisika tersebut..” Sesuai dengan kutipan di atas. memberikan pengalaman belajar yang nyata dan aktif melalui komunikasi sehingga memiliki keterampilan berpikir kritis. seperti layaknya ilmuwan ketika menyelidiki fenomena alam ini. sebagian siswa yang sulit menguasai pelajaran ini tidak dapat membayangkannya dengan jelas sehingga perlu diadakan kegiatan praktik untuk meningkatkan pemahaman siswa.... dan proyek yang dapat dilakukan di laboratorium atau ..... tetapi juga harus melalui hands-on... Depdiknas (2003: 2) menyatakan: ”Mata pelajaran fisika di SMA dikembangkan dengan mengacu pada pengembangan fisika yang ditujukan untuk mendidik siswa agar mampu mengembangkan observasi dan eksperimentasi serta taat asas. eksperimen..... Kemampuan obervasi dan eksperimentasi ini lebih ditekankan pada melatih berpikir eksperimental yang mencakup tata laksana percobaan dengan mengenal peralatan yang digunakan dalam pengukuran baik di dalam laboratorium maupun alam sekitar kehidupan siswa.. Sedangkan. Pendapat lainnya dikemukakan oleh Nurhadi dkk (2004 : 72-73) ”Pembelajaran melalui inkuiri memacu motivasi siswa untuk belajar memecahkan masalah secara mandiri. maka kegiatan inkuiri yang dimaksud adalah kegiatan praktik berupa percobaan yang dilaksanakan melalui demonstrasi....... fisika sebagai ilmu yang memiliki karakteristik tersendiri dalam mempelajarinya tidak cukup hanya melalui minds-on.” Kegiatan inkuiri yang dilaksanakan dalam pembelajaran fisika dapat mendorong siswa untuk belajar aktif dan guru hanya berperan sebagai pembimbing siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan sendiri konsep fisika tersebut...11 maupun nyata.

sedangkan siswa sebagai pendengar dan pengamat. Menurut Nasution (1995:196) ”Eksperimen adalah metode percobaan yang memberikan kesempatan kepada siswa secara perorangan atau kelompok untuk melakukan praktik mulai dari perencanaan. Proyek merupakan pengembangan dari . guru berperan sebagai penyaji dan pemberi informasi. Tidak jauh berbeda dengan eksperimen. atau benda tertentu. demonstrasi tidak sepenuhnya dapat mengaktifkan siswa dalam belajar karena pembelajaran sebagian besar masih berpusat pada guru. Eksperimen dapat membuat siswa lebih yakin dengan kebenaran teori karena percobaan dilakukan sendiri daripada hanya mengamati kerja guru. menemukan fakta.” Dalam demonstrasi. situasi. eksperimen merupakan metode percobaan yang melibatkan siswa sepenuhnya dalam kegiatan penemuan.tempat lain. mengumpulkan data.” Inti kegiatan eksperimen terletak pada siswa sedangkan guru hanya sebagai pembimbing atau pengarah. Ketiga jenis pelaksanaan kegiatan praktik tersebut memiliki perbedaan. Menurut Wina (2007) ”Demonstrasi merupakan metode percobaan dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses. Berbeda dengan demonstrasi. proyek juga melibatkan sepenuhnya peran aktif siswa dalam belajar. baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan. Demonstrasi dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan antara teori dan kenyataan sehingga mereka akan lebih menyakini kebenaran materi pembelajaran. dan menyimpulkan hasil temuan. Akan tetapi. tetapi metode ini hanya menuntut siswa berada dalam laboratorium saja.

Akan tetapi. sikap. Hal ini menjadi suatu tantangan bagi guru untuk mempersiapkan kegiatan praktik sebaikbaiknya agar pembelajaran fisika betul-betul efektif. dan keterampilan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Syaiful (2000: 122) ”Proyek bertitik tolak pada permasalahan yang dekat dengan siswa. kemudian menghasilkan artefak dan laporan tertulis sebagai hasil proyek. Akan tetapi. metode ini menuntut kreativitas guru untuk menyiapkan proyek yang tepat dengan konsep yang diajarkan sehingga siswa tertarik. meskipun dalam pelaksanaannya memerlukan biaya dan tenaga yang besar sehingga guru fisika yang sukses harus benar-benar ahli dalam mendesain kegiatan praktikum untuk siswanya. sebelum guru bisa menentukan model pembelajaran yang tepat dalam pelaksanaan kegiatan praktik. kemudian mereka diberi kekebasan untuk menemukan solusi masalah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. perlu diketahui macam-macam model pembelajaran terlebih dahulu. Salah satu upaya yang dilakukan guru untuk mewujudkan kegiatan praktik tersebut adalah melalui penggunaan model pembelajaran yang tepat. Berdasarkan uraian di atas. dapat disimpulkan bahwa kegiatan praktik dapat dikatakan sebagai inti dari pembelajaran fisika. siswa tidak hanya melakukan kegiatan praktik saja melainkan juga dilatih untuk mengembangkan kreativitasnya dalam memecahkan permasalahan dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar. Model .” Proyek dapat meningkatkan pola pikir siswa menjadi luas dan menyeluruh dalam menyelesaikan suatu permasalahan serta membiasakan mereka untuk menerapkan pengetahuan.13 eksperimen.

maka diperlukan teknik. Karakteristik suatu model pembelajaran ditentukan oleh sintaks atau tahapan pelaksanaannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Wina (2007:124) ”Metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang ditetapkan”. Artinya. yaitu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran tercapai secara efektif dan efisien.pembelajaran tersebut akan dijelaskan selanjutnya. Wina (2007:125) menyatakan bahwa ”Teknik lebih bersifat individual”. teknik . dalam upaya menjalankan metode pembelajaran. model pembelajaran merupakan suatu bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas dan ditampilkan dalam bentuk tahapan umum/ sintaks dari model yang digunakan. upaya untuk merealisasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata disebut dengan metode.” Sesuai dengan pendapat tersebut. Selanjutnya. C. sehingga walaupun metode sama. guru dapat menentukan teknik yang dianggapnya relevan dengan metode. Untuk melaksanakan model pembelajaran dibutuhkan strategi pembelajaran. Model Pembelajaran Menurut Abdul (2007: 52) ”Model pembelajaran adalah sebuah perencanaan pembelajaran yang mengambarkan proses yang ditempuh dalam pembelajaran agar tercapai perubahan spesifik pada perilaku siswa seperti yang diharapkan. Untuk mengimplementasikan metode yang sudah ditetapkan. Model pembelajaran ini digunakan sebagai wujud pelaksanaan dari suatu pendekatan.

Interaksi dengan lingkungan. 2007: 56) menentukan jenis model pembelajaran secara umum sebagai berikut: ”Model pembelajaran dikelompokkan berdasarkan 4 sumber utama yaitu : 1. dan sarana pendukung dalam pembelajaran. Penetapan lingkungan secara khusus 4. bahan. model pembelajaran didasarkan pada pendekatan tertentu dan diwujudkan melalui strategi yang tepat. 5. dan metode pembelajaran dapat dijalankan sesuai dengan teknik yang digunakan guru yang bersangkutan. Chauhan (Abdul. Hasil belajar ditetapkan secara khusus. 2. terdiri dari model pembelajaran group investigasi dan model sosial inkuiri. Ukuran keberhasilan. model pembelajaran pengembangan. artinya model pembelajaran harus senantiasa menggambarkan dan menjelaskan hasil-hasil belajar dalam bentuk perilaku yang seharusnya ditunjukkan oleh siswa setelah menempuh dan menyelesaikan urutan pembelajaran. maka guru dapat mengembangkan model-model pembalajaran yang dianggap sesuai dengan tujuan. 2. Pada umumnya. setiap model pembelajaran menentukan tujuan-tujuan khusus hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai siswa secara rinci dalam bentuk unjuk kerja yang dapat diamati. ciri-ciri model pembelajaran menurut Abdul (2007: 54): 1. sedangkan bagaimana menjalankan strategi tersebut ditetapkan berbagai metode pembelajaran. 3. Pemprosesan informasi. terdiri dari model pembelajaran induktif. Dari berbagai pandangan para ahli. model . Artinya.15 masing-masing guru bisa berbeda. Berdasarkan ciri-ciri model pembelajaran di atas. Oleh karena. model pemerolehan konsep. Memiliki prosedur yang sistematik. Interaksi sosial.

Pembelajaran berbasis Proyek (Project Based Learning) yang . 3. Pembelajaran berbasis Inkuiri (Inquiry Based Learning) yang membutuhkan metodologi sains 4. 3. Pendapat lainnya dikemukakan oleh Nurhadi. dkk (2004: 19-20) ”Pembelajaran yang bersifat kontekstual harus menekan beberapa model pembelajaran yang dapat digunakan. serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari mata pelajaran. 2. pemprosesan informasi merupakan dasar model pembelajaran yang tepat untuk IPA. Modifikasi perilaku. Individu. model sains inkuiri. serta mampu memahami konsep melalui kegiatan inkuiri. yaitu: 1. Pembelajaran Autentik (Autentic Instruction) yang menekankan siswa untuk mempelajari konteks yang bermakna.” Dari keempat sumber utama dalam menentukan model pembelajaran. terdiri dari model pembelajaran bebas dan model pertemuan kelas. memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. 4.pengorganisasian kedalaman konsep. Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah. Hal ini disebabkan oleh IPA yang sangat dekat dengan lingkungan sekitar siswa memerlukan suatu model pembelajaran yang mampu menggiring siswa untuk berpikir induktif. terdiri dari model pembelajaran penyesuaian kondisi.

17 memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengkonstruksi pembelajarannya dan mengaplikasikannya pada suatu produk nyata. Project Based Learning (PBL) . KTSP menuntut setiap pembelajaran bersifat kontekstual pada setiap bidang studi. Pembelajaran Berbasis Kerja (Work Based Learning) yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran dan bagaimana materi tersebut digunakan kembali pada tempat kerja tersebut.” Berdasarkan beberapa pendapat di atas. model pembelajaran yang akan dipilih oleh guru untuk diterapkan dalam kegiatan pembelajaran harus memperhatikan tuntutan kurikulum serta jenis bidang studi yang diajarkan. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) yang dilaksanakan dengan penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. 6. PBL ini akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. Salah satu model pembelajaran yang tepat digunakan dalam pembelajaran ilmu alam seperti fisika adalah Pembelajaran berbasis Proyek (Project Based Learning). 5. 7. D. Pembelajaran Berbasis Jasa Layanan (Service Learning) yang mampu menerapkan pengetahuan baru yang diperlukan dan berbagai keterampilan untuk memenuhi kebutuhan dalam masyarakat.

dan mensintesis informasi. Salah satu model yang digunakan dalam pendekatan CTL adalah Project Based Learning (PBL). melakukan pengkajian atau penelitian. maka perlu diimbangi dengan pemilihan model pembelajaran yang sejalan dengan konsep pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL).1. Proyek ini menuntut siswa untuk mampu mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang diperolehnya melalui penyidikan yang dibantu dengan berbagai sumber belajar yang digunakan siswa.” Kutipan tersebut bermakna bahwa PBL merupakan suatu model dalam pembelajaran berupa penugasan/proyek bersama yang bermaksud untuk memperdalam pelajaran dimana siswa menggunakan teknologi dan penyidikan yang berkaitan dengan masalah dalam kehidupan siswa. Menurut Waras (2008) ”Project Based Learning (PBL) merupakan proyek yang memfokuskan pada pengembangan produk atau unjuk kerja (performance) dimana siswa melakukan kegiatan: mengorganisasi kegiatan belajar kelompok. intended to bring about deep learning. Barron (1998) menyatakan “PBL is the use of classroom projects. Pengertian Project Based Learning (PBL) Dalam rangka mengembangkan pendekatan kontekstual. memecahkan masalah. sedangkan guru hanya bertugas untuk membimbing dan mengarahkan . where students use technology and inquiry to engage with issues and questions that are relevant to their lives.” Hal ini sejalan dengan beberapa pengertian PBL menurut para ahli.

” Maksud dari kutipan di atas adalah PBL adalah model pembelajaran yang dirangkai dalam suatu proyek. dan menghasilkan suatu produk atau presentasi hasil proyek. Pendapat tersebut didukung pula oleh Blumenfeld et al (1991) menyatakan ”Project-based learning is a comprehensive approach to classroom teaching and learning that is designed to engage students in investigation of authentic problems. Dari berbagai pengertian di atas. memberikan siswa kesempatan untuk bekerja dalam jangka waktu tertentu. based on challenging questions or problems. Kegiatan proyek merupakan latihan yang kompleks. or investigative activities.19 siswa. and culminate in realistic products or presentations. give students the opportunity to work relatively autonomously over extended periods of time. pemecahan masalah. problem-solving. that involve students in design. berdasarkan pada suatu masalah.” Kutipan tersebut dapat menjelaskan bahwa PBL adalah pendekatan komprehensif untuk pengajaran dan pembelajaran yang dirancang agar melibatkan siswa dalam penyidikan suatu permasalahan nyata dan dekat dengan kehidupan sekitar siswa. . PBL melatih siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran melalui peransertanya dalam menemukan suatu konsep pengetahuan dari hasil penyidikan yang dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pendapat lainnya dikemukakan oleh Thomas (2000) ” Project-based learning (PBL) is a model that organizes learning around projects……………………………………………………………………………… Projects are complex tasks. keterlibatan siswa dalam desain proyek. decision making. pengambilan keputusan.

jelaslah perbedaan antara Project Based Learning dan Problem Based Learning meskipun singkatan untuk nama kedua model pembelajaran tersebut sama.dapat disimpulkan Project Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam penyelidikan dari permasalahan yang diberikan dimana permasalahan tersebut berasal dari suatu objek dan puncaknya terdapat pada produk yang dihasilkan siswa. Akan tetapi. dan mengevaluasi hasil. Secara umum. Project Based Learning (PBL) sering dianggap sama dengan Problem Based Learning (PBL). decision maker (pembuat keputusan). pengumpulan data. hakikat proyek adalah adanya objek yang diobservasi/dieksperimenkan secara kolaboratif (kerja dalam kelompok) yang mampu mendukung proses konstruksi pengetahuan dan . Menurut Thomas (Waras: 2008) “Project Based Learning lebih mendorong siswa pada kegiatan desain. investigator (penyelidik) atau documentarian. dan teknik evaluasi otentik. yaitu perumusan kerja. kedua model pembelajaran tersebut menekan lingkungan belajar siswa aktif. Proyek menempatkan siswa pada peran aktif seperti problem-solver (pemecah masalah). Namun. Pada intinya. kedua model tersebut berbeda pada objeknya. Sedangkan Problem Based Learning lebih mendorong siswa pada kegiatan yang membutuhkan perumusan masalah. Project Based Learning (PBL) pada awalnya merupakan adaptasi dari model Problem Based Learning (PBL) yang diperkenalkan dalam pendidikan kedokteran. melaksanakan kerja. kedua model pembelajaran tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. dan analisis data. mengkalkulasi. merancang.” Bertolak dari pendapat tersebut. kolaboratif.

.” Berdasarkan pendapat tersebut.” 2 Teori tersebut akan dijelaskan berikut ini. pembelajaran berfokus pada aktivitas siswa dalam memperoleh pengalaman langsung daripada pasif menerima konsep yang diberikan guru. Kegiatan nyata yang dilakukan dalam proyek memberikan pengalaman belajar yang dapat mengkaitkan hubungan aktivitas dunia nyata dengan pengetahuan konseptual yang melatarinya dan diharapkan akan dapat berkembang lebih luas dan lebih mendalam. Project Based Learning (PBL) dilandasi oleh teori belajar konstruktivistik dan teori belajar eksperiensial (pengalaman). Landasan pemikiran Project Based Learning (PBL) Waras (2008) menyatakan ”Secara teoritik dan konseptual. konstruktivisme merupakan landasan berpikir dalam pembelajaran yang bersifat kontekstual dimana pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Teori Belajar Konstruktivistik Piaget (Wina : 2007) menyatakan ”Pada dasarnya setiap individu sejak kecil memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. 2. Pada teori konstruktivistik ini.21 pengembangan kompetensi siswa. a.

” Hakikat kerja proyek adalah kolaboratif. kekuatan individu dan cara belajar yang dipicu akan memperkuat kerja tim keseluruhan.Bagian-bagian dari prinsip belajar konstruktif seperti belajar yang berorientasi pada kontekstual. 2004: 40) menyatakan bahwa: ”Ciri-ciri pembelajaran secara konstruktivisme adalah sebagai berikut ini: 1) Guru bukan satu-satunya sumber belajar. atau rancanglah ketika berikan tugas. inkuiri. mengorganisasi. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Waras (2008) ”Di dalam kerja suatu proyek. siswa menemukan keterampilan merencanakan. negosiasi. 2) Guru membawa siswa masuk ke dalam pengalaman-pengalaman yang menentang konsepsi pengetahuan yang suda ada dalam diri mereka. dan motivasi sosial dapat diterapkan dengan baik melalui kolaborasi. analisislah. Brooks dan Brooks (Nurhadi dkk. 5) Guru menggunakan istilah kognitif seperti klasifikasikan. 6) Guru membiarkan siswa bekerja secara otonom dan berinisiatif . 4) Guru menggunakan teknik bertanya untuk memancing siswa berdiskusi satu sama lain. sehingga dalam model PBL. ciptalah. 3) Guru membiarkan siswa berpikir setelah mereka disuguhi beragam pertanyaan dari guru. serta keterampilan bertanggungjawab terhadap setiap tugas dan bagaimana informasi akan dikumpulkan dan disajikan. dan membuat solusi dari permasalahan yang diberikan. berorientasi masalah.

23

sendiri. 7) Guru tidak memisahkan antara tahap ”mengetahui” dari tahap ”menemukan”. 8) Guru mengusahakan siswa agar dapat mengkomunikasikan pemahaman mereka.” . Sementara itu, saat proyek dilakukan siswa dalam kelompok, maka berdasarkan konstruktivisme sosial menurut Vygotsky (Waras: 2008) ”Proses interaktif dengan kawan sejawat membantu proses konstruksi pengetahuan.” Berdasarkan penjelasan di atas, PBL dapat dipandang sebagai salah satu model pembelajaran yang menciptakan lingkungan belajar yang dapat mendorong siswa mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilan secara personal dan kelompok.

b. Teori Belajar Eksperiensial (Pengalaman) Belajar yang paling baik adalah melalui aktivitas diri sendiri, pengalaman langsung adalah dasar untuk belajar. Pernyataan ini didukung oleh Dewey (Waras: 2008) ”Pengalaman adalah elemen kunci dari proses pembelajaran”. Siswa mengendalikan belajarnya sendiri, mulai dari pengidentifikasian masalah yang akan dijadikan proyek sampai dengan mengevaluasi hasil proyek. Guru berperan sebagai pembimbing, fasilitator, dan partner belajar. Apa yang dilakukan siswa dalam proyek merupakan pengalaman-pengalaman yang berguna dalam belajar.

3. Kriteria dan Karakteristik Project Based Learning (PBL) Proyek menjadi inti dari model PBL ini. Hiscocks (2008) menyatakan bahwa “Project: an activity where the participants have some degree of choice in the outcome. The result is complete and functional, that is, it has a beginning, middle and end. Usually, it spans multiple lab periods and requires work outside scheduled lab periods.” Kutipan tersebut dapat diartikan sebagai berikut: ” Proyek adalah aktivitas dimana partisipan memiliki beberapa tingkatan hasil. Hasilnya komplit dan fungsional, memiliki awal, pertengahan dan akhir. Biasanya membutuhkan waktu untuk praktikum labor dan pencarian data.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka ciri-ciri proyek yang baik adalah sebagai berikut: a. Menarik dan menimbulkan rasa ingin tahu siswa. b. Menyediakan sebuah isi yang bermakna dan original untuk belajar. c. Melibatkan siswa secara kompleks, masalah, dan penyelidikan dalam kehidupan sehari-hari tanpa solusi yang telah ditetapkan sebelumnya.

25

d. Mengizinkan

siswa

untuk

mencari

panduan,

mengambil pilihan, dan keputusan secara kritis. e. Menghubungkan siswa dengan sumber belajar dan ahli. f. Mengharuskan siswa untuk mengembangkan dan memperagakan kemampuan dan pengetahuan yang esensial. g. Mengadaptasi berbagai disiplin ilmu untuk

menyelesaikan masalah dan pemahaman yang mendalam. h. Kesempatan untuk refleksi dan penugasan pribadi. i. Berpuncak pada pameran atau presentasi kepada pendengar atau pengamat sebenarnya. Waras (2008) mengatakan bahwa ”Tidak semua kegiatan belajar aktif dan melibatkan proyek dapat disebut pembelajaran berbasis proyek.” Untuk itu, Thomas (2000) mengatakan ”The five criteria of PBL are centrality, driving question, constructive investigations, autonomy, and realism.”

5 Kriteria PBL tersebut dijelaskan sebagai berikut ini: a. Keterpusatan (centrality) Proyek dalam PBL mencakup pokok kurikulum karena proyek itu sendiri

Mencerminkan realisme atau keoutentikan proyek (realism) Bentuk proyek yang diberikan memberikan nilai keaslian pada siswa. Proyek adalah intinya. Melibatkan siswa pada inverstigasi konstruktif (constructive investigations) Proyek PBL menggiring siswa pada proses penyelidikan yang bersifat membangun. tugas. Tidak di-dikte-kan ataupun dipaketkan. isi. Praktek laboratorium dan modul praktikum bukanlah PBL walaupun berpusat pada masalah dan mengandung inti kurikulum. b. hasil dan penerima hasil proyek yang pada akhirnya berpotensi untuk . c. Mengutamakan otonomi bagi siswa (autonomy) Proyek itu adalah siswa itu sendiri. Berfokus pada pertanyaan atau masalah (driving question) Proyek PBL terfokus pada pertanyaan atau permasalahan yang menggiring siswa pada konsep dasar dan pokok dari suatu disiplin ilmu. kolaborator. yang dapat mengantarkan siswa memperoleh tingkatan pengetahuan yang berarti. karakteristik ini meliputi topik.merupakan strategi guru dalam pembelajaran. e. d. sedangkan proyek yang berada di luar kurikulum bukanlah contoh dari proyek PBL walaupun proyek itu dapat memperkaya pengetahuan siswa. bukan guru. aturan. Maksudnya.

b. Petunjuk pembelajaran fleksibel. Mergendoller. adanya investivasi dan riset yang mendalam. Thomas. pengembangan kemampuan memecahkan masalah daripada kemampuan membangun blok pengetahuan yang telah disajikan dalam teori yang sudah jadi. keluasan. pemahaman konsep dan prinsip daripada pengetahuan dari fakta. PBL mengutamakan kedalaman pemahaman tentang cakupan isi.27 diterapkan di lapangan sesungguhnya. Menggunakan alat yang terintegrasi dalam . c. mengutamakan data. siswa sebagai pusat perhatian dalam menyimak isu dunia nyata yang menarik perhatian siswa. PBL mengutamakan ketertarikan/minat siswa daripada mengikuti kurikulum yang telah baku. hubungan berbagai disiplin ilmu. e. Guru sebagai fasilitator dan menyediakan sumber daya d. Di dalam kelas. dan mendorong siswa bekerja dalam tim yang heterogen untuk mencapai target. santai. Berdasarkan kriteria tersebut. dan kolaborasi dalam tim. menggambarkan tugasnya sendiri dan bekerja sebagai anggota suatu tim untuk waktu tertentu dengan suatu target. siswa duduk secara fleksibel. Selain itu. Kurikulum bersifat jangka panjang. banyak perbedaan tingkat dan topik yang dipelajari oleh setiap siswa. PBL mengubah peran guru dalam pembelajaran. & Michaelson (Waras: 2008) mengatakan ”Perbedaan yang mendasar antara PBL dengan model konvensional adalah sebagai berikut: a. memahami proses. dan benda-benda karya siswa dari pada guru. mendorong kemampuan berpikir kritis dan menghasilkan penemuan. yaitu dari pengajar dan pengatur menjadi penyedia informasi dalam pembelajaran. Siswa bertanggung jawab atas diri sendiri.

guru menginformasikan beberapa pertanyaan penggiring yang . yaitu: a. oral. pembelajaran fisika benar-benar berpusat pada siswa. Selanjutnya. drafts. maka PBL pun dilaksanakan melalui beberapa tahapan/sintaks yang sesuai dengan karakteristik PBL tersebut. and finally the team’s presentations to an outside panel of exparts drawn from parents and the community. d. Oleh karena itu. dan mengumpulkan informasi. Secara umum. Structure of project through plans. PBL memang memiliki perbedaan yang jelas dengan model konvensional.” Sesuai dengan kutipan tersebut. Provide timely assessments and/or feedback on the project for content. Pearlman (2006) mengemukakan tahapan pelaksanaan PBL. teamwork. meneliti hasil. PBL diawali dengan membagi siswa menjadi kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang atau lebih untuk melaksanakan proyek sederhana. timely benchmarks. Berdasarkan perbedaan PBL dengan model konvensional. c. critical thinking. komunikasi. dan kreatif untuk menemukan pengetahuan baru berdasarkan permasalahan kehidupan nyata dengan memanfaatkan semua sumber belajar yang ada di bawah arahan dan bimbingan guru. and written communication.semua aspek kelas. seperti dalam pemecahan masalah. aktif. dimana PBL membiasakan siswa untuk belajar mandiri. Create teams of three or more students to work on an in-deeply project b. and other important skill. Introduce a complex entry question that establishes student’s need to know and scaffold the project with activities and new information that depend of the work.

Proyek diakhiri dengan refleksi yang dilakukan siswa terhadap hasil proyek masing-masing dibawah bimbingan guru. e. such as teacher conferences to help learners assess their progress. plan. a process or investigation that result in the creation of one or more sharable artifacts d. and project template. f.29 dirancang sesuai dengan kebutuhan siswa untuk menyelesaikan proyek dan tergantung pada aktivitas proyek serta informasi baru yang berkaitan dengan kerja proyek. selanjutnya siswa diberikan kesempatan untuk melakukan penyelidikan dan pengamatan. teacher must to done phase PBL are encourage students to raise questions or problems. such as learning books in library. and external content spesialists. . collaborations. kemudian hasil proyek disusun menjadi laporan proyek yang disajikan di depan kelas. and discuss with physics teachers. including teams. and carry out investigations. peer reviews. Pendapat lain dikemukakan oleh Intel (2003) ”In the implementation of project. and reflect on what they have discovered. scaffolding. browsing internet. Pendapat-pendapat sebelumnya juga sesuai dengan pendapat Grant (2002) ”There common features across all the various implementations : a. introduction to ”set the stage” or anchor the activity b.” Dalam pelaksanaan proyek. guiding question or diving question c. siswa diminta untuk menyiapkan perencanaan proyek yang berkaitan dengan masalah tadi. a task. make observations. resources. tahapan pelaksanaan PBL yang harus dirancang oleh guru diantaranya menyiapkan pertanyaan penggiring/masalah.

Dari beberapa pendapat ahli mengenai tahapan pelaksanaan PBL dalam proses pembelajaran. maka Yudipurnawan (2007) menyatakan ”Secara umum. memuatnya dalam jurnal. sedangkan guru mengamati dan menilai setiap perkembangan aktivitas siswa selama proyek. Proyek diakhiri dengan penampilan hasil proyek dalam diskusi kelas. yaitu: . such as classroom debriefing sessions.g. Kutipan tersebut menjelaskan bahwa terdapat beberapa bentuk penerapan PBL dalam proses pembelajaran. oppurtinities for reflection and transfer. journal entries. siswa merancang desain proyek berdasarkan permasalahan dan sumber yang telah ditemukan. internet. Siswa bekerjasama dengan kelompok belajar yang telah ditentukan sebelumnya untuk menyelesaikan proyek tepat pada waktunya. pelaksanaan PBL terbagi menjadi enam tahapan (sintaks)”. atau berdiskusi dengan guru fisika lain. siswa diberi kesempatan untuk menggunakan sumber seperti buku pelajaran yang disediakan perpustakaan sekolah. and extension activities. dan dapat juga dilanjutkan untuk proyek yang lebih kompleks. yaitu diawali dengan guru menjelaskan kepada siswa tentang rangkaian tahapan aktivitas dalam proyek. Kemudian. selanjutnya siswa diberikan pertanyaan pengiring untuk mengarahkan pemikiran siswa pada masalah yang akan diselesaikan dalam proyek.

membuat pemetaan topik. tulisan. Sintaks PBL No 1. Kemudian. kemudian. Jika bekerja dalam kelompok. Dengan berdasar pada sumber yang berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan proyek. dan lain- 5. Diskusi dapat dilakukan secara kontinu dengan cara yang dirasa efisien oleh kelompok tersebut. Finishing Siswa membuat laporan.31 Tabel 2. dan lainnya. presentasi. Selanjutnya. siswa akan memperoleh dan membaca kerangka proyek. diagram. Sesuai dengan tugas proyek yang diberikan oleh guru. dan mengembangkan gagasannya dalam menentukan sub topik suatu proyek. saling tukar. terkadang berisi observasi dan eksperimen. Siswa bekerja dalam kelompok dalam satu kelas atau antar kelas. berupaya mencari sumber yang dapat membantu. merencanakan waktu pengerjaan dari semua sub topik. siswa berupaya berpikir dengan kemampuannya berdasar pada pengalaman yang dimiliki. 2. Merencanakan kegiatan 4. Siswa menentukan kegiatan dan langkah yang akan diambil sesuai dengan sub topiknya. Investigasi dan Investigasi di sini termasuk kegiatan: menanyakan penyajian pada ahli. gambar. dan menyediakan sumber yang dapat membantu pengerjaannya.ahli yang berkaitan dengan proyek tersebut. . Tahapan Persiapan Tindakan Guru dan Siswa Guru merancang desain atau membuat kerangka proyek yang bermanfaat dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh siswa dalam mengembangkan pemikiran terhadap proyek tersebut sesuai dengan kerangka yang ada. Penugasan/ menentukan topik 3. pemetaan. penyajian hasil dapat berupa gambar. tiap anggota harus mengikuti aturan dan memiliki rasa tanggung jawab. Dalam perkembangannya.menukar pengalaman dan pengetahuan serta melakukan survei.

Hal ini didukung dengan pendapat Nurhadi dkk (2004: 68) ”Jumlah anggota dalam tiap kelompok belajar tidak boleh terlalu besar. peneliti menyesuaikan beberapa tindakan dalam sintaks PBL pada penelitian ini. serta lingkungan belajar/sekolah. (2) ketersediaan bahan. biasanya 2 hingga 6 orang. tindakan pada setiap sintaks dari PBL tersebut belum dapat sepenuhnya diterapkan pada siswa karena pada awalnya PBL sudah diterapkan di negara maju seperti USA dan Inggris. guru dan siswa membuat catatan terhadap proyek untuk pengembangan selanjutnya. yaitu: a. Peserta menerima feedback atas apa yang dibuatnya dari kelompok. Berdasarkan teori yang dikemukakan di atas. Akan tetapi. ” . dan guru. 6. teman. yaitu: (1) taraf kemampuan siswa. yaitu peneliti membagi siswa dalam kelompok yang heterogen. Oleh karena itu. pola pikir dan karakteristik siswa. Indonesia sebagai negara berkembang belum dapat melakukan setiap tindakan sintaks tersebut karena keterbatasan sarana. Ada 3 faktor yang menentukan jumlah anggota tiap kelompok belajar. Sementara. Monitoring evaluasi / Guru menilai semua proses pengerjaan proyek yang dilakukan oleh tiap siswa berdasarkan pada partisipasi dan produktifitasnya dalam pengerjaan proyek.No Tahapan Tindakan Guru dan Siswa lain. dan (3) ketersediaan waktu. maka peneliti akan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan enam tahapan pada sintaks tersebut. Ketiga faktor tersebut harus dipertimbangkan agar siswa aktif menjalin kerja sama untuk menyelesaikan kerjanya. Sebagai hasil dari kegiatannya. Persiapan.

c. keterbatasan alat dan bahan yang digunakan. serta heterogennya kemampuan akademik siswa. Siswa dilatih mengakses internet untuk mendukung proyek yang dilaksanakan. sehingga seluruh kelompok dapat diamati secara maksimal. Investigasi yang dilakukan siswa dalam proyek berupa observasi dan eksperimen terhadap objek yang yang mewakili materi yang dipelajari. . maka peneliti membagi siswa menjadi 5 sampai 6 orang dalam tiap kelompok dengan pertimbangan jumlah siswa yang terdiri dari 34 orang. b. tindakan guru dalam merealisasikan metode PBL ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa. Dengan demikian. Peneliti menjalin kerjasama dengan guru-guru fisika lainnya untuk melakukan pengamatan selama pelaksanaan proyek berlangsung.33 Sesuai dengan pendapat tersebut. Selanjutnya. Proyek yang diberikan kepada siswa merupakan proyek yang tidak membutuhkan peralatan yang rumit dan mahal karena hal ini akan membebankan siswa. d. peneliti membuat kerangka proyek sederhana yang pelaksanaannya dapat dilakukan di lingkungan sekolah terutama dalam rangka pemanfaatan alat laboratorium yang sudah ada.

” Sedangkan menurut Djamarah dalam Oemar Hamalik (1992: 173) mengatakan bahwa motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya efektifitas (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. dan motivasi akan dirangsang dengan tujuan.E. diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Donald dalam Sardiman (2009: 73-74). Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas tertentu demi mencapai tujuan tertentu. Menurut Mc.” Suharsimi Arikunto (1990: 67) dalam bukunya yang berjudul “Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi” mengemukakan bahwa: “Motivasi merupakan konstrak (konsep hipotetik) yang terdiri dari kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi persepsi dan perilaku seseorang dalam upaya mengubah situasi yang tidak menguntungkan dirinya. “Motivasi yaitu perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya perasaan (feeling) dan afeksi seseorang. Motivasi Belajar Kata “motif”. .

akan makin berhasil pula pelajaran itu. F. Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas. Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia. arah.35 Di dalam Wikipedia (----). tetapi kemunculannya karena terangsang/terdorong oleh adanya unsur lain yaitu tujuan. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa. Motivation is an essential condition of learning. Pada penelitian ini indicator motivasi belajar mengacu pada pendapat Keller dalam Reigeluth (1989: 395) yang mengemukakan bahwa ada empat kategori kondisi motivasional yang harus diperhatikan dalam usaha menciptakan pembelajaran yang menarik. Guru harus dapat memelihara suasana belajar yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Aktivitas Belajar Menurut Poerwadamita (1991: 108) mengatakan bahwa “aktivitas adalah . Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah. bermakna dan memberikan tantangan bagi siswa yaitu minat (interest). Makin tepat motivasi yang diberikan. Motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat nonintelektual. harapan (expectancy). Hasil belajar akan optimal kalau ada motivasi. merasa senang dan semangat untuk belajar. dan kepuasan (satisfaction). Sardiman (2009: 84) menyatakan bahwa untuk belajar sangat diperlukan motivasi. Siswa yang mempunyai motivasi kuat. akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. relevansi (relecance). dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya.

mendiskusikan. Sedangkan menurut S. maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan yang perubahan oleh faktor-faktor yang termasuk latihan. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan dari guru. Belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif siswa. merefleksikan rangsangan. Nasution dalam Herman (----) mengatakan bahwa “aktivitas adalah azas yang terpenting oleh sebab belajar sendiri merupakan suatu kegiatan”. Menurut Poerwadamita (1991: 108) mengatakan bahwa “belajar adalah suatu kebiasaan berlatih supaya pandai”. mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dinyatakan bahwa. maka yang dimaksud dengan aktivitas belajar adalah suatu keaktifan. kesibukan kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan ditiap bagian kerja diperusahaan”. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. menulis. kegiatan. membaca. kesibukan atau kegiatan yang dilakukan oleh . dan memecahkan masalah “ Berdasarkan beberapa teori di atas.keaktifan. Dari definisi atas. “Aktivitas belajar adalah kegiatan mengolah pengalaman dan atau praktik dengan cara mendengar. Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan objek nyata.

peta. Oral activities. j. karangan. Emotional activities. Listening activities. seperti. Sementara itu Nana Sudjana (1989: 61) menyatakan bahwa penilaian proses belajar mengajar adalah melihat sejauh mana keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. Mental activities. angket. beternak. i. musik. . Writing activities. Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru. mengingat. Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah. memecahkan soal. seperti menyatakan. merumuskan. diagram. d. pekerjaan orang lain. misalnya: menggambar. Turut serta dalam melaksanakan tugas belajar. Melatih diri dalam memecahkan soal/masalah sejenis. Menilai kemampuan dirinya sendiri dan hasil-hasil yang diperolehnya. menaruh minat. Sementara itu Paul B. mengadakan wawancara. Drawing activities. yang termasuk didalam misalnya. berani. f. Bertanya kepada siswa lain/guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapi. tenang. Keaktifan siswa dapat dilihat dalam hal: a. Terlibat dalam pemecahan masalah. Visual activities. model mereparasi. megeluarkan pendapat. membaca. bermain. menyalin. sebagai contoh misalnya: menanggapi. g. percobaan.37 seorang siswa dalam melaksanakan proses belajar. interupsi. bertanya. membuat grafik. sebagai contoh mendengarkan: uraian. memberi saran. m. l. b. melihat hubungan. percakapan. menganalisis. Diedrich dalam Sardiman (2009: 101) membuat suatu daftar yang berisi 177 macam kegiatan siswa yang antara lain dapat digolongkan sebagai berikut: h. merasa bosan. gembira. mengambil keputusan. Motor activities. k. e. membuat konstruksi. gugup. n. bergairah. pidato. memerhatikan gambar demonstrasi. c. berkebun. bersemangat. diskusi. yang termasuk didalamnya antara lain: melakukan percobaan. misalnya menulis cerita. o. diskusi. laporan.

Kreativitas guru mutlak diperlukan agar dapat merencanakan kegiatan siswa yang sangat bervariasi itu. RPP tersebut terdiri dari standar kompetensi. disusun berdasarkan kajian teoritik. variabel terikat. tentu sekolah akan lebih dinamis. G. kompetensi dasar. Untuk mencapai tujuan .” berdasarkan pengertian tersebut. Dalam proses pembelajaran terjadi interaksi antara guru dan siswa. guru terlebih dahulu menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan KTSP. Di dalam penelitian ini. upaya yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam belajar adalah melalui penerapan pendekatan konflik kognitif berbasis konstruktivis. dan variabel kontrol dalam penelitian ini akan dijelaskan selanjutnya. Sebelum pembelajaran dilaksanakan. Melalui pendekatan ini diharapkan siswa akan lebih aktif dan penuh perhatian dalam proses pembelajaran. tidak membosankan dan benar-benar menjadi pusat aktivitas yang maksimal dan bahkan memperlancar peranannya sebagai pusat dan transformasi kebudayaan. Kalau berbagai macam kegiatan tersebut dapat diciptakan di sekolah. Kerangka Pikir Depdiknas UNP (2003) menyatakan bahwa ”Kerangka pikir berisi gambaran pola hubungan antar variabel atau kerangka konsep yang akan digunakan untuk menjelaskan masalah yang diteliti. maka hubungan antara variabel bebas. dan indikator harus dicapai ketuntasannya oleh setiap siswa sesuai dengan KKM yang ditetapkan.Jadi dengan klasifikasi aktivitas seperti diuraikan di atas. menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariasi.

merumuskan dan menyimpulkan hasil proyek. . terampil mencari sumber bacaan melalui studi pustaka atau bertanya pada guru fisika lainnya. Guru pun diberi kebebasan untuk memilih model mana yang tepat untuk melaksanakan suatu kompetensi dasar. melakukan penyidikan untuk mencari solusi masalah tersebut. Hal ini disebabkan oleh PBL yang dapat membantu siswa mengaitkan materi pembelajaran yang diperoleh dalam pengalaman hidup mereka melalui kegiatan proyek. maka kerangka pikir dapat ditampilkan pada Gambar 1. karena kemampuan guru dalam memilih model pembelajaran yang tepat akan menentukan keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan. serta melaporkan hasil proyek di akhir pembelajaran dalam diskusi kelas. Ada tidaknya pengaruh penerapan PBL dalam pembelajaran fisika ini dapat dilihat dari peningkatan motivasi dan aktifitas belajar siswa. guru harus memiliki keterampilan dalam menyajikan materi dengan baik. Project Based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran yang cocok untuk pembelajaran fisika.PROJECT BASED LEARNING GURU (PBL) KTSP SISWA 39 kompetensi dasar tersebut. Berdasarkan penjelasaan tersebut. PBL ini diterapkan melalui identifikasi masalah dalam bentuk proyek.

Hipotesis Kerja Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan dalam penelitian ini.PROSES PEMBELAJARAN FISIKA Motivasi dan Aktifitas belajar Gambar 1. Jenis Penelitian . Skema Kerangka Pikir B. dikemukakan hipotesis kerja. yaitu: Terdapat pengaruh yang berarti dalam penerapan Project Based Learning (PBL) terhadap motivasi dan aktifitas belajar fisika siswa kelas XI SMA N 1 Gunung Talang. BAB III METODE PENELITIAN A.

Tes akhir yang diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol as eksperimen. yaitu pembelajaran melalui pendekatan kontekstual dengan model Project Based Learni 41 Sesuai dengan permasalahan dan tujuan yang dikemukakan di atas. Populasi dan Sampel 1. Rancangan Penelitian Kelas Eksperimen Kontrol Keterangan: X = Y = Perlakuan X Y Y Tes Akhir B. Dalam penelitian eksperimen ini digunakan kelas eksperimen dan kelas kontrol. sedangkan kelas kontrol hanya diberi pembelajaran sesuai dengan anjuran KTSP. maka jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (Quasi Experimental Research). Rancangan penelitian yang digunakan adalah ”The Static Group Comparison: Randomized Control Group Only Design ” yang dapat dilihat dalam Tabel 3. Tabel 3. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan.Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa pada kelas XI di SMA . kelas eksperimen diberi perlakuan berupa pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual dengan model Project Based Learning (PBL).

2. yang menjadi sampel adalah kelas eksperimen dan kelas kontrol. c. Mengumpulkan data hasil ujian pertengahan semester (MID) kelas XI untuk mata pelajaran fisika pada seluruh kelas populasi.Sampel Sampel merupakan bagian dari populasi yang akan diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi (representatif). b. . digunakan teknik Cluster Random Sampling.Negeri 1 Gunung Talang yang terdaftar pada tahun ajaran 2010 / 2011 kecuali kelas SBI. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengambilan dua sampel yang homogen secara kognitif adalah sebagai berikut: a. Menganalisis skor hasil MID dua kelas sampel tersebut dengan melakukan uji normalitas (Lampiran I) dan uji homogenitas (Lampiran II). Dalam penelitian ini. MID menggunakan bentuk soal yang sama dan dikoreksi oleh guru fisika pada masing-masing kelas tersebut. Mengambil secara acak dua kelas sampel. MID ini dilaksanakan serentak pada seluruh kelas populasi secara resmi dan sesuai jadwal yang ditentukan sekolah. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah populasi terdistribusi normal atau tidak. Untuk mendapatkan dua kelas sampel ini.

Variabel terikat yaitu hasil motivasi dan aktifitas belajar selama dan setelah perlakuan diberikan. e.43 sedangkan uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah populasi homogen atau tidak. Setelah kedua kelas sampel diketahui terdistribusi normal dan homogen. C. d. b. Variabel bebas yaitu pembelajaran melalui model Project Based Learning (PBL).Variabel Berdasarkan pengaruh terhadap variabel lainnya. Variabel dan Data 1. . maka variabel penelitian terdiri dari: a. Dari 2 kelas sampel yang telah diuji kesamaan dua rataratanya tersebut. Pelaksanaan uji normalitas dan uji homogenitas ini bertujuan untuk mengetahui kedua kelas sampel yang diperoleh nantinya harus memiliki kemampuan awal yang sama sebelum diadakan penelitian. maka ditentukan secara acak kelas kontrol dan kelas eksperimen. dilaksanakan uji kesamaan dua rata-rata melalui uji t (Lampiran III) untuk mengetahui kedua kelas sampel memiliki perbedaan yang berarti atau tidak.

D. 2. afektif. Data ini termasuk data primer. Mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari silabus.Tahap persiapan Pada tahap ini. dan penyelesaian. dan kerangka proyek. c. peneliti mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian. prosedur penelitian dapat dibagi menjadi tiga tahapan. dan psikomotor selama dan setelah pembelajaran dilakukan. materi pelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tahaptahap tersebut akan dijelaskan oleh peneliti sebagai berikut: 1. perlu disusun prosedur penelitian yang sistematis. pelaksanaan. Menentukan kelas sampel yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Secara umum. b. waktu dalam proses pembelajaran yang sama. .c. yaitu tahap persiapan. Variabel kontrol yaitu guru. Prosedur Penelitian Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Menetapkan jadwal penelitian dan mempersiapkan surat penelitian.Data Jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa dalam ranah kognitif. yaitu: a.

2. Menyusun instrumen penelitian yaitu soal-soal tes akhir. e. Membagi siswa dalam kelompok heterogen yang terdiri dari 5-6 orang berdasarkan kemampuan akademis. a. sedangkan perlakuan terhadap kedua sampel ini berbeda. dan rubrik penskoran. Memberi apersepsi KELAS KONTROL 1 . Tabel 5. KELAS EKSPERIMEN PERTEMUAN 1 Pendahuluan a.Tahap pelaksanaan Pembelajaran yang diberikan kepada dua kelas sampel berdasarkan Kurukulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). b. lembar observasi. Kegiatan Pembelajaran pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol NO.45 d. Perlakuan yang diberikan peneliti pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat diamati pada Tabel 5. Guru mencek kehadiran siswa b.

NO. d. KELAS EKSPERIMEN KELAS KONTROL berupa pengajuan pertanyaanpertanyaan c.6 orang a. c. Siswa dibagi dalam kelompok heterogen yang terdiri dari 5. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran 2 Kegiatan Inti Tahap 1 : Persiapan a. . Memotivasi siswa d.

47 NO. Siswa secara berkelompo k diberi kesempatan untuk memahami kerangka proyek dan membagi tugas pada masingmasing anggota kelompok untuk mencari sumber yang berkaitan dengan proyek c. b. Siswa menerima kerangka proyek yang telah didesain guru Tahap 2:Penugasan/penentuan topik c. . KELAS EKSPERIMEN KELAS KONTROL b.

KELAS EKSPERIMEN KELAS KONTROL d.NO. . Siswa mulai merancang desain proyek d.

KELAS EKSPERIMEN KELAS KONTROL e. Guru mengecek desain proyek yang telah dirancang siswa agar guru dapat menentukan proyek setiap kelompok layak untuk dilaksanaka n . Tahap 3 : Merencanakan kegiatan e.49 NO.

. g. Siswa mendapat kesempatan diskusi dengan guru fisika lainnya sebagai ahli/narasum ber yang membantu proyek di luar kelas/laborat orium KELAS KONTROL f.NO. KELAS EKSPERIMEN Tahap 4 : Investigasi dan penyajian f. Siswa dalam kelompok masingmasing mulai melaksanak an proyek dalam jangka waktu yang telah ditentukan g.

h. . KELAS EKSPERIMEN KELAS KONTROL h.51 NO. Siswa diarahkan untuk menyiapkan laporan proyek yang telah mereka lakukan a. Guru mengawasi dan membimbin g siswa selama kegiatan proyek berlangsung 3 Penutup a.

NO. KELAS EKSPERIMEN sesuai dengan sistematika yang telah ditentukan. KELAS KONTROL .

53 NO. Setiap kelompok melaporkan proyeknya dalam diskusi kelas d. Siswa diarahkan untuk mengumpulkan laporan hasil percobaan kepada setiap ketua kelompok c. Memotivasi siswa 2 Kegiatan Inti Tahap 5 : Finishing a. b. Memotivasi siswa a. Guru mencek kehadiran siswa. Guru mencek kehadiran siswa. Siswa langsung duduk pada kelompok yang telah ditentukan sebelumnya. Siswa membuat laporan untuk menyampaikan hasil kegiatan mereka b. c. b. Siswa dari kelompok yang lain diberi kesempatan untuk menanggapi . Memberi apersepsi berupa pengajuan pertanyaan mengenai kendala yang dihadapi setiap kelompok dalam menyiapkan laporan proyek. Memberi apersepsi berupa pengajuan pertanyaan mengenai kendala yang dihadapi setiap kelompok dalam menyiapkan laporan percobaan. b. Siswa dari kelompok lain diberi kesempatan untuk menanggapi a. c. Setiap kelompok melaporkan hasil kegiatan percobaan mereka dalam diskusi kelas d. KELAS EKSPERIMEN PERTEMUAN 2 KELAS KONTROL 1 Pendahuluan a. Siswa diarahkan untuk mengumpulkan laporan hasil proyek kepada setiap ketua kelompok c.

KELAS EKSPERIMEN penyajian laporan hasil percobaan temannya di bawah bimbingan dan arahan guru Tahap 6 : Evaluasi e. Siswa bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran yang telah dipelajari. Siswa bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran yang telah dipelajari.NO. Guru menilai laporan setiap kelompok berdasarkan pembahasan hasil percobaan dan kerjasama antara anggota kelompok selama praktikum berlangsung 3 a. b. Guru memberikan tugas kepada siswa 3. Guru menilai semua proses pengerjaan proyek yang dilakukan oleh tiap siswa berdasarkan partisipasi dan produktifitasnya dalam pengerjaan proyek. Penutup a.Tahap penyelesaian Hal. b. Mengadakan tes hasil belajar pada kedua sampel setelah penelitian berakhir guna mengetahui hasil perlakuan yang diberikan.hal yang dilakukan peneliti pada tahap ini adalah: a. Guru memberikan tugas kepada siswa KELAS KONTROL penyajian laporan hasil proyek temannya di bawah bimbingan dan arahan guru e. .

dan rubrik penskoran untuk aspek psikomotor. lembar observasi atau pengamatan untuk aspek afektif . E. Instrumen Penelitian Nana (2007: 261) menyatakan bahwa ”Instrumen adalah alat pengambil data dalam penelitian.55 b. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini akan dijalaskan sebagai berikut: 1. Menarik kesimpulan dari hasil yang didapat sesuai dengan teknik analisis data yang digunakan.Penilaian ranah kognitif Instrumen penelitian dalam ranah kognitif umumnya menggunakan tes .” Instrumen yang digunakan adalah tes tertulis untuk aspek kognitif. Mengolah data dari kedua sampel. c. proses pelaksanaan maupun hasil yang dicapai. baik kelas eksperimen maupun keals kontrol. Instrument penelitian yang dimaksud mencakup insrument untuk menilai input / program pendidikan.

langkah sebagai berikut: a. sehingga penilaiannya bersifat objektif.kisi soal tes akhir b. Hal ini disebabkan oleh kelebihan tes objektif berbentuk pilihan ganda memiliki beberapa kelebihan dari tes tertulis lainnya sesuai dengan pendapat Nana (2007: 269) ”Materi yang diujikan dapat mencakup sebagian besar dari bahan pelajaran yang telah diberikan.tertulis yang terdiri tes uraian dan objektif. Membuat kisi. Menganalisis hasil uji coba tes secara statistik.” Agar tes menjadi instrumen/alat ukur yang baik. jawaban siswa dapat dikoreksi/dinilai dengan mudah dan cepat dengan menggunakan kunci jawaban. Menyusun berdasarkan tes kisiakhir kisi yang telah dibuat c. yaitu: 1) Validitas Validitas adalah suatu keadaan yang mengambarkan tingkat instrumen yang bersangkutan mampu mengukur yang hendak diukur. Namun. dalam penelitian ini. . serta jawaban untuk setiap pertanyaan sudah pasti benar atau salah. digunakan instrumen berupa tes objektif dengan bentuk pilihan ganda. maka perlu dilakukan langkah.

57 Suatu tes dikatakan valid apabila mampu mengukur tujuan yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Untuk menentukan reliabilitas tes digunakan rumus K-R 21 yang dikemukakan oleh Suharsimi (2005: 103) yaitu: . Oleh karena itu. 2) Reliabilitas Reliabilitas merupakan ketepatan suatu tes apabila digunakan kepada subjek yang sama. dalam penyusunan tes ini harus berpedoman kepada kurikulum dan indikator yang sesuai dengan materi pelajaran fisika kelas XI semester 1.

..................M( n − M  n  rH =   1 −   n − 1  nSt 2 )    .(1) ..................................

20 0.80 – 1. hasil analisis reliabilitas (Lampiran IX) menunjukkan bahwa soal uji coba tes akhir memiliki reliabilitas 0.80 0.66 dengan kriteria tinggi.40 – 0.40 0.60 0. Tabel 6. 1 2 3 4 5 Indeks Reliabilitas 0.60 – 0.59 dimana M= ∑x N dan S2 = N∑ x 2 − (x )2 N( N − 1) Keterangan: rH n M N S2 x : reliabilitas tes secara keseluruhan : jumlah butir soal tes : rata.00 – 0.rata skor tes : jumlah peserta tes : varians total : skor peserta tes Klasifikasi tingkat reliabilitas soal digunakan skala yang dikemukakan oleh Slameto (2001: 215) pada Tabel 6.20 – 0. Klasifikasi Indeks Reliabilitas Soal No. 3) Menentukan tingkat kesukaran soal Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Bilangan yang menunjukkan sukar atau mudahnya soal .00 Klasifikasi Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Berdasarkan Tabel 6.

disebut tingkat kesukaran (P). untuk menentukan tingkat kesukaran soal digunakan persamaan berikut: . Menurut Suharsimi (2005: 208).

..00 Klasifikasi Sukar sedang mudah 4) Menghitung daya beda (D) Daya beda ditentukan dengan melihat kelompok atas dan kelompok bawah berdasarkan skor total. Klasifikasi Tingkat Kesukaran Soal No.....70 0.30 0......... para ahli membagi 27 atau 33 % kelompok atas dan 27 atau 33 % kelompok bawah”........... Tabel 7................ kemudian menentukan kelompok atas dan kelompok bawah.... Umumnya. Rumusan untuk menghitung daya beda tersebut adalah sebagai berikut: . Menurut Sumarna (2004: 2425) ”Skor peserta tes diurutkan dari skor tertinggi sampai skor terendah.(2) Keterangan: P B Js : tingkat kesukaran : jumlah siswa yang menjawab soal dengan benar : jumlah seluruh siswa peserta tes Tingkat kesukaran soal ini dapat diklasifikasikan seperti pada Tabel 7. 1 2 3 Tingkat Kesukaran 0.......31 – 0.71 – 1.00 – 0........61 P= B Js ....

..71 – 1.00 Klasifikasi Jelek Sekali Jelek Cukup Baik Baik sekali 2....... Aspek-aspek pengamatan tersebut merupakan sikap siswa yang muncul saat pelaksanaan proyek.... menghargai teman. yaitu mau bertanya.....00 – 0.Penilaian ranah afektif Penilaian yang dilakukan untuk ranah afektif ini adalah sikap dan prilaku siswa selama proses pembelajaran terutama yang berkaitan dengan treatment yang diberikan dalam penelitian.. kehati-hatian . Tabel 8.41 – 0..21 – 0...........20 0. keseriusan/ tekun dalam bekerja.......70 0..(3) Keterangan: D Ba Bb Ja Jb : daya pembeda : jumlah kelompok atas yang menjawab benar : jumlah kelompok bawah yang menjawab benar : jumlah peserta kelompok atas : jumlah peserta kelompok bawah Indeks daya beda soal ini dapat diklasifikasikan pada Tabel 8. Format obeservasi tersebut memuat aspek-aspek yang diamati dari sikap siswa selama proses pembelajaran.40 0..D= Ba B b − Ja Jb ..... 1 2 3 4 5 Indeks Daya Beda Minus 0.. Klasifikasi Indeks Daya Beda Soal No... Penilaian ranah afektif ini menggunakan format observasi atau pengamatan sebagai instrumen penelitiannya........

3. Setiap aspek diberi skor berupa angka. pada akhir skor tersebut dirata-ratakan dan dikonversikan dalam bentuk persentase. Rubrik penskoran berisi kriteria penilaian langkah-langkah kerja sistematis yang harus dilakukan siswa saat unjuk kerja. di akhir pembelajaran mengacu pada laporan kerja proyek. dan kerja sama. Menurut Masnur (2003) : ”Penilaian akhir proyek dapat .Penilaian ranah psikomotor Penilaian ranah psikomotor dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dengan mengacu pada rubrik penskoran. maka untuk menentukan nilai akhir ditentukan kriteria penilaian dari ketiga tahapan tersebut.63 dalam bekerja. Depdiknas (2003) menyatakan ”Pengisian rubrik penskoran tersebut memiliki pedoman penskoran: A (bobot 4) : kriteria sangat tepat B (bobot 3) : kriteria tepat C (bobot 2) : kriteria kurang tepat D (bobot 1) : kriteria tidak tepat E (bobot 0) : kriteria tidak tahu apa.apa” Karena penilaian pada ranah psikomotor terbagi dalam tiga tahapan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Slameto (2001: 124) ”Skala penilaian dibuat dengan rentangan dari 1 sampai 5 yang ditafsirkan sebagai berikut: 1 = tidak pernah 2 = jarang 3 = kadang-kadang 4 = seringkali 5 = selalu ” Akan tetapi. dan di akhir penelitian mengacu pada tes unjuk kerja.

dan 50 % dari tes unjuk kerja”. Hal ini sejalan dengan pendapat Suharsimi (2005: 278) : ”Nilai akhir diperoleh dari nilai tugas. Oleh karena itu. peneliti menentukan nilai akhir ranah psikomotor setiap siswa dengan rumusan sebagai berikut : .ditentukan dari 20 % dari penilaian proses. dan nilai ujian akhir merupakan penilaian tes unjuk kerja. nilai harian. nilai tugas merupakan penilaian hasil proyek. dan nilai ujian akhir dengan bobot masing-masing 2. 30 % dari penyajian laporan. Dalam hal ini. dan 5”. 3. nilai harian merupakan penilaian proses.

........ a....65 20...... Untuk menguji normalitas digunakan uji ..syarat berikut: a.NT 100 NA = . perlu dilakukan terlebih dahulu uji normalitas dan homogenitas...masing ranah: 1.(4) Keterangan: NA NP NH NT : Nilai akhir ranah psikomotor : Nilai proses (selama pembelajaran berlangsung) : Nilai hasil proyek : Nilai tes unjuk kerja (pada akhir pembelajaran) F......NP + 30... Teknik Analisis Data Analisis data bertujuan untuk menguji apakah hipotesis kerja yang diajukan dalam penelitian ini diterima atau ditolak....... Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah sampel yang berasal dari populasi yang terdistrbusi normal....................Ranah Kognitif Analisis data pada ranah kognitif adalah uji kesamaan dua rata-rata........ Berikut akan dibahas teknik analisis data pada masing... Kedua kelas mempunyai varians yang homogen Oleh karena itu.. Sebelum melaksanakan uji tersebut harus dipenuhi syarat.. Sampel berasal dari populasi yang terdistribusi normal b....NH + 50....

Lilliefors dengan langkah..langkah sebagai berikut: 1) Data X1. Xn yang diperoleh dari data yang terkecil hingga data yang terbesar. X2.. .. Z2.... Zn dengan rumus : . X3. Xn dijadikan bilangan baku Z1.. Z3. X2.. . 2) Data X1. X3.. .

.......67 Zi = Xi − X S ..............i ...(5) Keterangan: Xi = skor yang diperoleh siswa ke..............................

jika proporsi ini dinyatakan dengan S (Zi).X = skor rata-rata = simpangan baku 3) Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku. Z3... maka: Z .. Zn yang lebih kecil atau sama dengan Zi. kemudian dihitung peluang F (Zi) = P (Z < Zi) 4) Dengan menggunakan proporsi Z1. . Z2.

.. kriteria pengujian adalah sebagai berikut: i. Z 3...05.langkah sebagai berikut: 1) Menghitung varians masing. digunakan uji F dengan langkah.. Jika Lo > Lt. maka sampel tidak terdistribusi normal b... Untuk mengujinya..(6) n 5) Menghitung selisih F(Zi) – S(Zi) yang kemudian tentukan harga mutlaknya 6) Diambil harga yang paling besar diantara harga mutlak selisih tersebut dan disebut Lo... maka sampel terdistribusi normal ii........69 S (Z i ) = Σ Z1. 7) Membandingkan nilai Lo dengan nilai krisis Lt yang terdapat penada taraf nyata α = 0.. Uji Homogenitas Uji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah kedua sampel mempunyai varians yang homogen atau tidak...........masing kelompok data kemudian dihitung harga F dengan rumus: . Z 2 .... Jika Lo < Lt.. Z n yang ≤ Zi ...

..S2 F= 1 S2 2 Keterangan: F S12 S22 ....... Sebaliknya... Bila harga Ftabel lebih besar dari Fhitung.. maka dalam pengujian hipotesis statistik yang digunakan adalah uji t dengan rumus: ..... berarti kedua kelompok tidak mempunyai varians yang homogen..... maka harga Fhitung tersebut dibandingkan dengan harga Ftabel yang terdapat dalam daftar distribusi dengan taraf signifikan 5 % dan dkpembilang = n1–1 dan dkpenyebut = n2–1... berarti kedua kelompok mempunyai varians yang homogen.. Uji Hipotesis Hasil uji normalitas dan uji homogenitas menunjukkan bahwa kedua sampel terdistribusi normal dan kedua kelompok sampel homogen.......... jika harga Ftabel lebih kecil dari Fhitung.............. c......(7) = varians kelompok data = varians hasil belajar kelas eksperimen = varian hasil belajar kelas kontrol 2) Jika harga Fhitung sudah didapatkan.....

..................(8) S2 = (n1 − 1)S12 + (n 2 − 1)S2 2 n1 + n 2 − 2 .....................................(9) Keterangan: ..........71 t= X1 − X 2 1 1 S + n1 n 2 .................................................................

X1 = nilai rata.rata kelas eksperimen .

proporsi afektif yang diperoleh siswa selama pembelajaran berlangsung adalah: .” Sesuai dengan pendapat tersebut. selanjutnya dikonversikan dalam bentuk huruf. Ho ditolak. Oleh karena itu.73 X2 = nilai rata. lembar observasi ranah afektif dalam penelitian ini diisi dengan cara mencek skor yang diperoleh siswa untuk setiap aspek pengamatan selama pembelajaran berlangsung.Ranah Afektif Teknik analisis data yang digunakan untuk ranah afektif adalah menaksir proporsi. sehingga skor maksimum lembar pengamatan = 5 (skor maksimum tiap aspek) x 6 (jumlah aspek pengamatan) x 10 (jumlah pertemuan) = 300. Slameto (2001: 115) menyatakan ”Analisis data hasil observasi dapat dilakukan menjumlahkan item-item dari tiap aspek yang dicek (√) kemudian ditentukan persentasenya. 2. Untuk harga lainnya. Penilaian afektif ini dilakukan selama 10 kali pertemuan dengan 6 aspek pengamatan dan skor maksimum setiap aspek adalah 5.05. Kriteria pengujian adalah terima Ho jika –t(1-1/2 α) < t < t(1-1/2 α) pada taraf nyata 0.rata kelas kontrol = standar deviasi kelas eksperimen = standar deviasi kelas kontrol = standar deviasi gabungan = jumlah siswa kelas eksperimen = jumlah siswa kelas kontrol S1 S2 S n1 n2 harga thitung dibandingkan dengan ttabel yang terdapat dalam tabel distribusi t.

............SP x 100 % SA = SM . dapat dikonversikan menjadi huruf sesuai dengan jumlah kategori yang diinginkan peneliti”............ Oleh karena itu....... Tabel 9...(10) Keterangan: SA SP SM : Proporsi skor akhir (%) : Jumlah skor perolehan siswa sesuai dengan tanda cek yang diberikan : Jumlah skor maksimum lembar pengamatan Sesuai dengan Depdiknas (2003) ”Penilaian ranah afektif yang menggunakan skala bertingkat dari 1 sampai 5 misalnya............... Kriteria konversi nilai ke huruf Skor total Angka 242-300 182-241 123-181 63-121 81-100 61-80 41-60 21-40 Nilai konversi Huruf A B C D Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Kategori Proporsi yang diperoleh siswa ditampilkan dalam bentuk grafik hubungan rata- ........... proporsi skor siswa dikonversikan dalam bentuk kualitatif dengan menggunakan kriteria pada Tabel 9................................

sehingga jelas terlihat aspek afektif yang benar-benar dipengaruhi oleh PBL.Ranah Psikomotor Teknik analisis data yang digunakan untuk ranah psikomotor pada penelitian ini adalah sama dengan teknik analisis data pada ranah kognitif. .75 rata proporsi skor siswa dalam kelas setiap pertemuan untuk setiap aspek pengamatan. 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful