BAB IV TUGAS KHUSUS 4.1 4.1.

1 Pendahuluan Latar Belakang Sistem pengolahan limbah dalam industri petrokimia memegang peranan yang penting dalam kaitannya dengan lingkungan karena limbah industri mengandung senyawa-senyawa yang berbahaya apabila dibuang langsung ke lingkungan. Industri petrokimia biasanya memiliki instalasi pengolahan air limbah yang berfungsi mengolah air limbah dari instalasi produksi agar sesuai dengan baku mutu limbah yang ditetapkan. Kebanyakan industri menggunakan pengolahan limbah secara biologis menggunakan jasa mikroorganisme untuk mengurai senyawa kimia yang terdapat dalam limbah karena biayanya yang tidak terlalu mahal. Pada pengolahan limbah biologis, instalasi pengolahan air limbahnya harus memiliki kelayakan agar limbah dapat diurai dengan sempurna, khususnya kinerja reaktor atau aeration pond. Kelayakan ini diuji menggunakan beberapa parameter, pertama yaitu COD (Chemical Oxygen Demand )yang menunjukkan massa oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi material organic yang terdapat di dalam air pada inlet dan outletnya, volume reaktor, konsentrasi MLVSS (Mixed Liquor Volatile Suspended Solid) , serta laju alir limbah yang masuk ke dalam reaktor. PT Mitsubishi Chemical Indonesia sebagai perusahaan industri petrokimia yang memproduksi Asam Tereftalat dan PET memiliki karakteristik limbah yang cukup berbahaya. Hal ini dikarenakan limbahnya mengandung senyawa-senyawa asam kimia seperti asam asetat, asam tereftalat, normal butil asetat, dan butanol dalam produksinya. Sistem instalasi pengolahan air limbah PT. Mitsubishi Chemical Indonesia telah berumur 18 tahun sejak pertama kali dibuat sehingga kelayakannya perlu ditinjau lebih lanjut. Oleh karena itu, pada tugas khusus laporan kerja praktik ini kami akan menghitung kelayakan instalasi pengolahan air limbah ini. 1

1 Tinjauan Pustaka Prinsip Pengolahan Limbah Mikroorganisme mengkonsumsi bahan-bahan organik sebagai sumber makanan (nutrisi).1.4. 4. serta jumlah MLVSS di dalam pond. Volume. volume bak aerasi. Mitsubishi Chemical Indonesia maka dapat ditentukan langkah-langkah untuk meningkatkan kinerja reaktor agar proses pengolahan limbah berjalan dengan optimal dan efisien.4 Manfaat Tugas Khusus Dengan mengetahui kelayakan sistem instalasi pengolahan air limbah PT.3 Ruang Lingkup Tugas Khusus Kelayakan instalasi pengolahan air limbah ditinjau dari kinerja reaktor aerob dan anaerob instalasi pengolahan limbah.2 4. laju alir. 4. Bahan organik dikonsumsi bersama-sama dengan oksigen terlarut (DO) dan terurai secara biologis menjadi bahan-bahan seperti CO2 dan H2O. dan jumlah MLVSS selama 1 bulan terakhir. Data-data yang dibutuhkan dalam proses perhitungan kelayakan instalasi pengolahan limbah yaitu laju alir influent. Bahan Organik + O2  CO2 + H2O (1) Bahan Organik + NH3 + O2  mikroorganisme baru + CO2 + H2O (2) Bahan Organik + O2  CO2 + H2O + NH3 (3) Reaksi (1) : Oksidasi bahan organik oleh mikroorganisme Reaksi (2) : Pertumbuhan Mikroorganisme 2 .2 Tujuan Tugas Khusus Tujuan tugas khusus ini adalah menghitung kinerja proses pengolahan limbah cair pada pengolahan limbah secara Aerob I&II serta Anaerob PT Mitsubishi Chemical Indonesia dari data-data berupa COD.2. 4. COD.1.1.

a. c.Reaksi (3) : Penguraian (“self-biodegradation”) mikroorganisme Jika sejumlah besar limbah cair yang mengandung bahan organik dibuang ke lingkungan. maka jumlah oksigen terlarut yang ada turun dengan cepat/ akibatnya mikroorganisme akan mengalami kekurangan oksigen sehingga makhluk tersebut akan mati. seperti filtrasi dan sedimentasi b. 4. Oleh karena itu.2. Pada proses aerobik. Sedangkan pada proses anaerobik.2. dan adsorpsi. Pengolahan secara fisika-kimia. seperti metode lumpur aktif.3 Proses Lumpur Aktif Sesudah dikembangkan pada 1910 an di Eropa dan Amerika Serikat. seperti pengeringan dan pembakaran. Jika laju pelarutan oksigen ke dalam air konstan. Selanjutnya laut dan sungai akan tercemari dan makhluk hidup tidak dapat hidup lagi. ekstraksi. proses lumpur aktif mulai banyak digunakan dan 3 . oksidasi. 4. d. Pengolahan biokimia. reduksi dan penguraian bahan organik terjadi tanpa adanya oksigen. Mitsubishi Chemical Indonesia menggunakan metoda activated sludge process untuk mengolah limbah ini. Pemidahan padat-cair (solid-liquid separation). oksidasi dan penguraian bahan organik oleh mikroorganisme dilakukan dengan keberadaan oksigen. bahan organic dalam limbah cair dari pabrik harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang.2 yaitu : Metode Pengolahan Limbah Cair Pengolahan limbah cair (WWT) dapat dilakukan dengan beberapa metode. karena efisien dan ekonomis. maka mikroorganisme akan membutuhkan lebih banyak oksigen untuk menguraikan limbah organik tersebut. PT. (physicochemical treatment) seperti pengaturan pH. Proses pengolahan secara biokimia dapat dikelompokkan lagi menjadi proses aerobik dan anaerobik. Pengolahan panas (heat treatment).

Oksigen yang dibutuhkan untuk proses disuplai dengan aerasi udara.1 Kolam aerasi yang berisi activated sludge (lumpur aktif) Mikroorganisme akan terus tumbuh dan berkembang selama proses. untuk menjaga agar konsentrasi 4 . Pada proses ini. Akibatnya. Konsentrasi mikroorganisme akan meningkat. dan cairan di bagian atasnya (supernatant). dipisahkan sebagai air yang sudah diolah. dan akan terjadi ketidakseimbangan pada sistem antara suplai udara. Istilah “lumpur aktif” sering diartikan sebagai nama proses itu sendiri dan juga sering diartikan sebagai padatan biologik yang merupakan motor di dalam proses pengolahan. Lumpur diendapkan. Gambar 4.menjadi proses aerobik yang paling popular. Oleh karena itu. Komponen yang teradsorpsi ini selanjutnya menjadi umpan bagi mikroorganisme. Sebagian dari zat organik tersebut dikonsumsi sebagai sumber energi untuk aktivitas hidup mikroorganisme. Lumpur yang mengendap dikembalikan sebagian ke kolam aerasi untuk digunakan kembali pada proses penguraian COD limbah cair berikutnya. jumlah mikroorganisme. komponen-komponen dalam limbah cair mula-mula akan teradsorpsi pada permukaan lumpur aktif yang merupakan tempat berkumpulnya mikroorganisme. dan sisanya digunakan untuk pertumbuhan serta pembelahan sel. dan kapasitas alat sedimentasi. Hasil pengolahan selanjutnya dijernihkan dengan memisahkan air terolah dari lumpur.

Gambar 4.1 Chemical Oxygen Demand ( COD ) COD menunjukkan jumlah pemakaian oksigen oleh reaksi kimia dengan potassium permanganat (KMnO4) pada suhu 1000 C. maka biasanya nilai COD dari suatu sampel akan tinggi juga. Lumpur ini selanjutnya akan dikirim ke pabrik semen setelah kadar airnya dikurangi dengan alat decanter. Oleh karena itu. Akan tetapi jika nilai BOD tinggi. dan ion-ion lain.2 Diagram sederhana pengendalian lumpur aktif Beberapa parameter penting dalam pengukuran kinerja reaktor lumpur aktif antara lain: 4. penggunaan satuan COD dapat digunakan dalam kaitannya dengan efisiensi proses pengolahan.3.mikroorganisme tetap. Apabila limbah cair diolah hingga bersih. Pengukuran COD hanya membutuhkan waktu yang singkat dengan peralatan yang lebih murah apabila dibandingkan dengan BOD. COD merupakan suatu metode untuk mengukur banyaknya kontaminasi bahan organik di dalam air. asam sulfat. Disamping itu nilai COD juga termasuk ion-ion logam. maka baik BOD maupun COD dari air yang sudah diolah akan menjadi lebih kecil dibandingkan sebelum pengolahan. maka sebagian lumpur (excess sludge) harus dibuang. 5 .2. Nilai COD tidak sama dengan BOD karena metode pengukurannya juga berbeda.

8. MLSS juga mengandung anorganik SS. Bulking adalah suatu keadaan dimana lumpur tidak dapat mengendap di kolam dan mengapung di permukaan kolam sedimentasi. Akan tetapi jika nilainya melebihi suatu batas tertentu maka dapat tumbuh mold yang dapat menyebabkan kematian lumpur aktif dan terjadinya bulking di kolam sedimentasi. Selain mengandung SS organik (biologis). jumlah mikroorganisme di aeration pond dapat dihitung. SS) merupakan “sarang” tempat hidup mikroorganisme. dan mati jika dipanaskan pada temperature tinggi. Perbandingan MLVSS/MLSS yang ideal adalah antara 0. maka SS organik secara khusus disebut MLVSS (Mixed Liquor Volatile Suspended Solid).2.3. Untuk jumlah mikroorganisme tertentu maka dibutuhkan SS sejumlah tertentu pula. 6 .2 MLSS dan MLVSS Padatan terendapkan (Suspended Solid. Secara teori. MLSS dan MLVSS menunjukkan jumlah mikroorganisme di aeration pond.4. Karena SS organic akan terurai menjadi CO2 dan H2O. dan makin besar harganya makin besar pula beban yang dapat diolah. Akan tetapi dalam praktek sangat sulit dilakukan. Oleh karena itu jumlah mikroorganisme dinyatakan dalam satuan MLSS (Mixed Liquor Suspended Solid ).6-0.

4 8.3 8.2 8.2 6.7 6.6 8.6 8.3.6 COD(Cr) ppm < 300 124 171 165 169 179 159 167 175 165 165 165 167 116 160 175 171 155 175 149 165 6.3 8.6 8.8 7.5 8.3 7.4 8.3 7.7 8.6 8.4 6.3 7.6 8.6 8.6 8.3 7.9 6.9 7 7.2 as ref.5 ~ 9.1 Sampel Item Satuan Standard 21-Jun-12 22-Jun-12 23-Jun-12 24-Jun-12 25-Jun-12 26-Jun-12 27-Jun-12 28-Jun-12 29-Jun-12 30-Jun-12 01-Jul-12 02-Jul-12 03-Jul-12 04-Jul-12 05-Jul-12 06-Jul-12 07-Jul-12 08-Jul-12 09-Jul-12 10-Jul-12 M-5311 (Inlet Aerobik 1) COD pH (Cr) ppm as ref.5 8.6 8.7 8.2 7 7.2 as ref. 7 6.4 8.5 8.3 217 8.3 7 7 5.9 5.3 7.4 8.1 7.0 8.6 8.5 8.5 8.5 <500 179 MLSS ppm 5500 ~7500 6997 5738 6010 6540 6508 5445 5085 5500 5558 6123 6243 6308 6000 5748 6150 6145 6303 6205 6038 6430 4550 8.3 8.2 MLVSS ppm 5000 ~7000 4000 pH 2F-5311 (Aerobic pond 2) SVI mm as ref.1 7. 4250 4340 4800 4890 5140 4800 4700 4880 4650 4570 4780 4110 4400 4280 4310 4240 4250 4290 6680 3830 Hasil Pengukuran influent dan effluent sistem pengolahan limbah aerobik F-5311 (Aeration pond 1) pH SVI mm as ref.1 7.2 7.9 7.5 8.1 Data Aerobik Table 4.6 8. 8.5 8.5 8.3 7 7.5 8.2 8.6 8.5 8.3 Perhitungan 4.5 8.6 8.4 8.6 2F-5326 Outlet (Effluent) pH COD(Cr) ppm < 300 125 198 173 177 180 167 174 173 169 170 170 184 120 167 165 161 150 153 157 177 167 4058 182 4263 148 192 7 .4 168 <500 183 MLSS ppm 5500 ~7500 5815 6905 6520 7050 6155 5633 5842 5943 6172 5862 6415 6655 6318 5665 6468 6058 6453 6410 6573 6237 4788 MLVSS ppm 5000 ~7000 4910 F-5326 Outlet (Effluent) pH 6.1 5.2 6. 7.0 8.2 7 7.5 8.6 8.6 8.3 8.1 6.5 8.7 7. 8.4.6 8.2 139 8.3 8.4 8.2 7.6 8.6 8.2 8.5 8.6 8.5 8.6 8.2 8.3 6.6 8. 4630 5110 5020 5140 4970 5220 4890 4730 4500 5000 4680 4810 5270 4740 4890 5010 5080 4960 6620 6180 2M-5311 (inlet aerobik 2) COD pH (Cr) ppm as ref.4 7.2 7.5 169 8.6 8.5 ~ 9.4 179 8.1 7.5 115 8.5 8.8 7.

6 8.574 167 108 156 167 155 167 157 159.46 160.9 6.5 8.111 8 .25 8.6 8.9 6.926 7 6.5 8.8 6.625 5920 6050 6100 6260 6095 6185 5862 6057.892 4840 4890 4790 5330 5080 5300 4830 5055.6 8.6 8.567 171 184 171 177 169 151 152 166.8 6.9 6.3 8.3 173 173 4410.7 6.778 8.5 7.6 8.6 8.6 8.8 7 6.6 8.6 8.259 5033 8.3 8.6 8.741 8.6 8.5 6.5 8.11-Jul-12 12-Jul-12 13-Jul-12 14-Jul-12 15-Jul-12 16-Jul-12 17-Jul-12 rata-rata 6.6 8.6 8.267 178.952 4000 4080 4160 4420 4380 4670 4160 4520.375 5935 6565 6115 6350 6295 6320 6023 6250.6 8.074 5328 4822.7 7 6.1 6.5 161 167 8.

1 44.7 35.1 14.0 164.7 90.0 165.0 165.7 40.0 165.4 36.3 200.4 41.7 199.4 14.4 33.0 165.774 2FC363B (aerob2).6 42.6 46.9 93.1 46.7 90.5 13.7 199.7 91.0 14.2 41.0 165.8 30.4 13.9 31.2 38.8 92.9 36.8 45.3 45.0 165.5 16.6 12.7 42.3 58.3 200.0 165.000 2FC321 (return sludge2) 165.2 42.0 43.3 33.4 37. ( GW S/F) 13.1 44.0 165.2 16.9 28.4 35.1 43.6 29.2 200.0 42.4 92.4 34.0 165.2 10.707 FI328 (Ditch).3 200.3 200.5 13.3 13.4 33.0 92.7 199.4 37.0 165.025 WWT Out (Ton/jam) FC330.8 92.9 92.6 92.9 92.3 42.8 34.7 199.3 200.1 14.3 68.4 35.1 12.3 41.1 89.3 199.8 199.1 57.0 165.8 39.0 165.7 21.Tabel 4.3 200.3 27.3 36.0 165.0 14.0 165.1 13.3 41.6 91.7 200. 16.7 199.6 46.0 165.3 49.2 10.0 165.4 85.1 33.9 37.6 28.6 23.9 12.1 91.3 33.3 200.3 200.0 93.8 92.9 32.5 16.130 6/21/2012 5:00 6/22/2012 5:00 6/23/2012 5:00 6/24/2012 5:00 6/25/2012 5:00 6/26/2012 5:00 6/27/2012 5:00 6/28/2012 5:00 6/29/2012 5:00 6/30/2012 5:00 7/1/2012 5:00 7/2/2012 5:00 7/3/2012 5:00 7/4/2012 5:00 7/5/2012 5:00 7/6/2012 5:00 7/7/2012 5:00 7/8/2012 5:00 7/9/2012 5:00 7/10/2012 5:00 7/11/2012 5:00 7/12/2012 5:00 7/13/2012 5:00 7/14/2012 5:00 7/15/2012 5:00 7/16/2012 5:00 7/17/2012 5:00 rata-rata 9 .1 91.0 165.0 165.0 165.3 10.6 13.0 165.7 91.1 92.6 23.7 41.7 199.0 165.9 165. 32.7 36.871 Inlet aerob (Ton/jam) 2FC363A (aerob1) 58.0 165.0 165.5 89.4 14.8 42.0 165.5 10.7 200.3 44.1 33.9 92.7 199.1 91.5 38.9 13.3 39.3 92.8 38.3 200.4 43.7 199.3 200.7 41.1 57.0 37.6 41.1 10.9 40.5 43.6 199.6 32.3 49.2 38.3 200.7 41.1 13.2 Data laju alir dalam aliran pengolahan limbah aerobik Tanggal/Waktu Flow WWT Sludge (Ton/jam) FC321 (return sludge) 199.3 93.187 2FI328 (Ditch 2) 89.0 42.9 13.3 40.3 27.9 13.9 43.5 9.0 165.9 30.2 41.3 200.0 40.8 38.8 12.7 199.9 13.9 93.7 39.

4 7.1 3H-5363-1 (Outlet Anaerob 1) pH COD (Cr) ppm < 6000 3840 4256 3544 2864 2776 2752 3088 3368 3656 3584 3288 3312 3448 3344 3712 3792 3392 3392 3408 2992 3088 3064 3176 2712 3H-5363-1 (Outlet Anaerob 2) pH COD (Cr) ppm < 6000 3912 4458 3656 2848 2816 2880 2768 3448 3584 3848 3312 3520 3456 3696 3472 3624 3840 3840 3816 3504 3832 3608 3168 3464 SS ppm < 3000 SS ppm < 3000 ppm < 19000 8184 8184 8184 8184 8712 8712 8712 9328 9328 9328 9328 8608 8608 8608 8600 8600 8600 8600 8304 8304 8304 7920 8072 7552 7.2 7.3.4 7.0 7.4 32 35 10 .2 7.1 7.2 7.1 7.3 7.1 7.2 7.2 7.4 7.4 7.2 27 30 6.2 7.2 7.2 7.2 Data Anaerob Tabel 4.2 7.1 7.2 7.9 7.1 7.2 7.2 7.9 7.6 ~ 8.9 7.2 7.1 7.9 31 33 6.0 25 30 6.1 7.1 7.3 Hasil Pengukuran influent dan effluent sistem pengolahan limbah anaerobik Sampel Item Satuan Standard 21-Jun-12 22-Jun-12 23-Jun-12 24-Jun-12 25-Jun-12 26-Jun-12 27-Jun-12 28-Jun-12 29-Jun-12 30-Jun-12 01-Jul-12 02-Jul-12 03-Jul-12 04-Jul-12 05-Jul-12 06-Jul-12 07-Jul-12 08-Jul-12 09-Jul-12 10-Jul-12 11-Jul-12 12-Jul-12 13-Jul-12 14-Jul-12 2F-5361 (Inlet Anaerob) pH COD(Cr) as ref.3 7.1 7.1 7.2 7.2 7.0 6.2 7.1 7.1 7.2 7.6 ~ 8. 7.9 7.2 7.0 7.1 7.0 6.3 7.1 7.1 7.4.2 7.2 7.1 7.7 6.2 7.4 7.1 7.2 7.2 7.2 7.

181 3456 3496 3272 3503.9 7.1 7.481 32 11 .1 7.1 7.1 7.75 7.889 7.074 28.185 3008 3024 2952 3290.1 7.2 6.028 7912 7912 7648 8456.1 7.15-Jul-12 16-Jul-12 17-Jul-12 rata-rata 7.2 7.

0 29.3 66.9 26.3 153.8 67.0 40.1 157.3 32.9 156.9 115.1 122. (sludge return) (sludge return) 16. (input anaerob 1) 121.6 123.3 33.0 34.0 33.7 42.1 152.3 33.6 67.1 22.0 20.9 39.5 68.0 39.0 19.263 outlet hybrid 67.4 66.0 26.9 24. 156.8 67.8 122.2 26.9 36.9 115.0 157.5 114.1 152.7 25.2 122.5 121.6 155.8 114.3 122.1 34.5 159.1 124.4 25.2 154.1 151.3 31.8 22.9 20.8 36.7 114.9 29.9 146.9 123.0 40.2 67.0 67.4 20.7 113.0 29.9 116.9 19.0 21.0 MG (Nm3/h) 3FIS365 (flow Metana).8 115.6 67.3 29.4 22.9 22.2 25.4 29.9 19.9 43.5 38.3 122.3 33.7 28.0 35.5 16.1 32.7 33.4 152.8 33.7 122.0 68.8 156.4 114.0 146.0 123.8 156.2 34.8 115.1 68.8 21.9 35.0 123.0 115.1 122.5 124.0 153.6 24.9 158.0 22.8 123.0 19.4 32.3 114.5 114.0 38.0 33.2 66.4.3 121.9 122.6 123.1 26.0 19.2 33.4 114.4 29.6 114.4 67.1 143.4 114.7 112.4 24.9 121.0 35.0 39.6 122.8 30.9 115.849 12 .1 68.7 33.8 18.5 28.4 146.8 25.0 69.249 3FI366A 3FI366B.2 114.1 34.1 34.6 149.0 115.8 18.1 34.9 36.1 25.6 155.7 114.Tabel 4.6 21.9 26.4 25.2 67.2 114.6 155.6 66.1 152.6 123.3 22.5 37.5 122.6 67.218 Flow Rate Hybrid (Ton/jam) 3FI361.170 3FC362.9 116.9 39.1 157. (input anaerobik2) 29. (input tank anaerob 2) 113.5 122.6 33.9 115.2 123.3 67.1 19.5 66. Data laju alir dalam sistem pengolah limbah anaerobik Tanggal/Waktu 6/21/2012 5:00 6/22/2012 5:00 6/23/2012 5:00 6/24/2012 5:00 6/25/2012 5:00 6/26/2012 5:00 6/27/2012 5:00 6/28/2012 5:00 6/29/2012 5:00 6/30/2012 5:00 7/1/2012 5:00 7/2/2012 5:00 7/3/2012 5:00 7/4/2012 5:00 7/5/2012 5:00 7/6/2012 5:00 7/7/2012 5:00 7/8/2012 5:00 7/9/2012 5:00 7/10/2012 5:00 7/11/2012 5:00 7/12/2012 5:00 7/13/2012 5:00 7/14/2012 5:00 7/15/2012 5:00 7/16/2012 5:00 7/17/2012 5:00 rata-rata 3FC361.0 19.6 67.1 122.0 33.5 68.9 29.1 21.3 21.8 153.0 21.1 19.4 22.8 68.5 28.2 37.8 33.3 34.3 34.9 29.8 153.6 23.6 33.0 34.8 30.9 26.4 67.5 29.2 34.2 123.8 25.1 34.3 25.237 26.9 122.0 153.5 38.1 31.180 3FI362.2 26.3 68.8 113. (input anaerobik1) 37.0 113.0 114.6 67.

574 159.8 Parameter pH COD acOH volume reaktor laju alir Satuan ppm ppm m3 ton/h 13 .6 Rataan inlet aerob1 6.028 8456.926 5055.741 4520.25/6057.4. MLVSS.8 33. laju alir dan parameter lainnya. Dari tabel dibawah maka akan dapat kita ketahui kinerjareaktor pengolahan limbah untuk berdasarkan nilai COD.481 253.6 Data kondisi pengolahan limbah anaerob PT.5 Data kondisi pengolahan limbah aerob PT. Mitsubishi Chemical Indonesia Parameter Satuan Baku Mutu limbah < 300 ppm 5000-7000 ppm 80.952 4520.2 65. maka kita dapatkan rata-rata beberapa parameter.75 3320 m3 33.889 1352 Rataan outlet anaerob 1 7. Mitsubishi Chemical Indonesia Baku Mutu outlet < 6000 ppm < 2000 ppm 69.111 - pH COD MLVSS MLSS volume reaktor laju alir Ppm Ppm Ppm m3 ton/h 5340 m - 64.267 4822.volume.1 Rataan inlet anaerob 7.2 83.926 Rataan inlet aerob 2 6.074 257.741 Rata-rata kondisi aerob 1 8.5/6250.074 3 Rataan outlet aerob 1 8.772 Tabel 4.259 = 0.181 3503. Tabel 4.3.46 4410.259 Rata-rata kondisi aerob 2 8.567 166.8 Rataan outlet anaerob 2 7.5 6250.728 Aerob 2 = 4822.778 6057.892 5055.1 Pengukuran Kualitas Pengolahan Limbah Dari data pengukuran beberapa parameter limbah dari aliran influent dan effluent anaerobserta aerobik 1 dan 2 selama 1 bulan.185 3290.25 6057.259 Rataan outlet aerob 2 8.074 = 0.9 Efisiensi COD removal: Aerob 1 = Aerob 2 = PerbandinganMLVSS/MLSS : Aerob 1 = 4410.

hal tersebut juga bukan merupakan jaminan dari kualitas limbah yang diolah. degradasi zat organik yang dilakukan oleh mikroorganisme tidak maksimal dan effluent COD lebih tinggi dari biasanya.6-0.3.8. Namun menurut hasil pengamatan laboratorium akhir-akhir ini. flagella. harga COD sudah berada pada kisaran harga normal yaitu dibawah 300 ppm.3.4 Konsentrasi MLVSS Rasio MLVSS/MLSS yang ideal berada pada range 0.3 Laju alir reaktor Beban aliran yang terlalu tinggi menyebabkan penurunan waktu kontak dan residence time limbah di dalam aeration pond. Secara ideal. yakni bekisar 5000-8000 ppm. free swimming ciliates. yakni mendekati angka 100 %. rantai makanan serta jumlah bakteri yang ideal di dalam lumpur aktif terdiri dari bakteri. Sehingga.3.2 Efisiensi COD removal Dilihat dari data instalasi aerob. stalked ciliates. sehingga lebih sensitif terhadap beban COD yang terlalu tinggi ataupun terhadap suhu. bahwa kondisi tersebut disebabkan oleh rasio F/M (Food/Mass) yang tinggi yang berarti beban BOD per MLSS yang terlalu tinggi 14 . dan rotifer. Namun. Sedangkan kadar MLVSS di dalam reaktor juga masih berada di bawah standar. baik aerob 1 maupun aerob 2. Rasio MLSS/MLVSS yang terlalu tinggi pada aeration pond aerob-1 menandakan komponen organik yang lebih tinggi. Mitsubishi Chemical Indonesia mengalami masalah. Dapat dilihat pada gambar 4. 4. mikroba yang terdapat pada lumpur aktif. efisiensi yang dicapai oleh reaktor aerob 1 dan 2 amat tinggi. yakni effluent COD yang terlalu tinggi serta turunnya jumlah MLVSS di dalam reaktor. serta sedikit free swimming ciliates. Namun dalam data terakhir ini. Beberapa waktu ini unit waste water treatment PT. 4. amuba.Efisiensi COD removal: Anaerob 1= Anaerob 2= 4. hanya terdapat banyak amuba dan flagella.

5 Volume reaktor Secara teoritis. Upaya yang sudah dilakukan saat ini adalah menurunkan nilai F/M Ratio dengan meniadakan excess sludge untuk meningkatkan konsentrasi MLVSS di dalam reaktor. yang berakibat proses degradasi material yang kurang optimal.3. rumus sludge age reaktor aerob dengan sistem recycle (Woodard. kondisi mikroba seperti ini juga disebabkan nilai MCRT (Mean Cell Residence Time) pada kondisi tersebut juga rendah. 4.3Indikator organisme di lumpur aktif dengan rasio F/M dan MCRT Seperti yang telah disebutkan diatas. 2001) adalah : V = Volume reaktor c= Sludge Age R= Recycle Ratio 15 . Gambar 4.sehingga menyebabkan ketidakseimbangan organisme di dalam lumpur aktif.

dapat dilihat bahwa dengan volume reaktor aerob 1 sebesar 5340 m3 dan laju alir sebesar 1924.8 m3/hari mempunyai sludge age atau sludge retention time sebesar 2 hari. Hal ini berada di bawah standar yang berada pada range 3-14 hari agar menghasilkan biological floc yang baik. maka volume yang dibutuhkan agar nilai sludge age yang ada berada dalam kondisi normal yaitu sebesar minimal 3 hari adalah : 16 . Dengan laju alir sebesar 1924.8 m3/hari.Dari hasil perhitungan tersebut. Akibatnya. karena pertumbuhan mikroorganisme kurang maksimal dan proses degradasi kurang optimum.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.