PENGOLAHAN BUNGKIL INTI SAWIT MELALUI

FERMENTASI OLEH JAMUR Marasmius sp GUNA
MENUNJANG BAHAN PAKAN ALTERNATIF
UNTUK RANSUM AYAM BROILER






MAKALAH ILMIAH





Oleh :
Dr. Ir. Tuti Widjastuti, MS
Ir. Abun, MP
Ir. Wiwin Tanwiriah, MS
Indrawati Yudha Asmara, S.Pt., M.Si

















PROGRAM HIBAH KOMPETISI A3
JURUSAN PRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2007


2

I


PENDAHULUAN



1.1. Latar Belakang

Perkembangan perunggasan di Indonesia, terutama ayam broiler sangat
pesat. Kemajuan tersebut didukung oleh produknya yang umum dikonsumsi
manusia karena merupakan sumber gizi yang rasanya enak dan harganya relatif
murah. Keberhasilan industri perunggasan harus ditompang oleh pengadaan
penguasaan management berternak dan pengadaan bibit yang baik, juga harus
diimbangi dengan penyediaan ransum yang berkualitas. Bahan pakan yang
tersedia untuk menyusun ransum saat ini masih bergantung pada impor seperti
jagung, bungkil kedele dan tepung ikan. Ketergantungan seba gian besar
kebutuhan bahan pakan yang masih didatangkan dari luar negeri menyebabkan
harga ransum melonjak tinggi.
Ransum merupakan biaya terbesar dari seluruh biaya produksi, yaitu
sekitar 70-80% (Wahyu, 1988). Pemanfaatan bahan pakan lokal produk pertanian
ataupun hasil ikutannya dengan seoptimal mungkin d iharapkan dapat
mengurangi biaya ransum. Dengan demikian, diperlukan suatu upaya untuk
mencari alternatif sumber bahan pakan yang murah, mudah didapat kualitasnya
baik, serta tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Salah satunya adalah
Bungkil Inti Sawit (BIS) yang merupakan hasil ikutan dari pembuatan minyak
inti sawit.


3
Potensi kelapa sawit cukup besar, di Indonesia produksinya menempati
urutan kedua di dunia setelah Malaysia. Kelapa sawait banyak ditanam terutama
di daerah Lampung, Jambi, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh,
serta sebagian kecil Jawa Barat. Menurut data yang dikeluarkan oleh Pusat
Penelitian di Medan tahun 2000, luas tanaman kelapa sawit di Indonesia sebesar
3.134.000 ha dengan tandan bua h segar yang dihasilkan sekitar 20, 8
ton/ha/tahun. Sebesar 5% dari tandan buah segar tersebut dihasilkan minyak inti
sawit (sekitar 45-46%) dan Bungkil Inti Sawit (sekitar 45-46%). Data tersebut
menunjukkan bahwa bungkil inti sawit memiliki potensi yang cukup baik untuk
dijadikan bahan pakan alternat if sumber energi pengganti jag ung, karena
ketersediaannya cukup melimpah.
Bungkil inti sawit memiliki kandungan zat-zat makanan sebagai berikut:
Protein kasar 15,14%; lemak kasar 6,08%; serat kasar 17,18%; kalsium 0,47%;
fosfor 0,72%, dan BETN 57,80% serta energi brutonya adalah 5088 kkal/kg (Lab
Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan Unpad, 2004). Limbah tersebut
merupakan potensi untuk dijadi kan bahan baku dalam penyusunan ransum
unggas (khususnya ayam broiler), namun penggunaannya masih terbatas. Hal
demikian disebabkan karena bungkil inti sawit memiliki keter batasan yaitu
kandungan serat kasar yang cukup tinggi (terutama lignin), serta palatabilitasnya
rendah. Pada umumnya bahan pakan yang mengandung serat kasar yang tinggi
memiliki nilai kecernaan yang rendah, sehingga penggunaan bungkil inti sawit
dalam ransum menjadi terbatas. Penggunaan serat kasar yang tinggi, selain dapat
menurunkan komponen yang mudah dicerna juga menyebabkan penurunan
aktivitas enzim pemecah zat-zat makanan, seperti enzim yan g membantu
pencernaan karbohidrat, protein dan lemak (Parrakasi, 1983; Tulung, 1987).
Lignin juga dapat berikatan dengan selulosa membentuk lingo-selulosa dan


4
lingo-hemiselulosa, serta dapat beri katan dengan protein membentuk ligno-
protein (Janshekar dan Fichter, 1983). Lignin dapat bertindak sebagai benteng
pelindung fisik yang menghamba t terhadap daya cerna zat -zat makanan
(Leonowicz, dkk., 1999).
Kemajuan teknologi di bidang pengolahan bahan makanan yang ada saat
ini dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas limbah argoiundustri menjadi
bahan pakan yang bermutu, yaitu dengan bioteknologi. Kemajuan teknologi di
berbagai sektor seperti bidang pertanian, peternakan, kesehatan merupakan suatu
terobosan yang dapat memecahkan atau menghas ilkan jawaban terhadap
perubahan kebutuhan (Admadilaga, 1991). Sementara itu, proses biokonversi
substrat limbah perkebunan kel apa sawit melalui fermentasi menawarkan
alternatif yang menarik dan bermanfaat dalam pengembangan sumber bahan
baku untuk ransum unggas.
Upaya untuk memperbaiki kualitas gizi, mengurangi, atau menghilangkan
pengaruh negatif dari bahan pakan tertentu dapat dilakukan dengan penggunaan
mikroorganisme melalui proses fermentasi. Fermentasi juga dapat meningkatkan
nilai kecernaan (Saono,1976; Jay,1978; Winarno, 1980), menambah rasa dan
aroma, serta meningkatkan kandungan vitamin dan mineral (Pelczar dkk., 1996;
Kuhad dkk., 1997; Brum dkk,.1999 a,b). Pada proses fermentasi dihasilkan pula
enzim hidrolitik serta membuat mineral lebih mudah untuk diabsorbsi oleh ternak
(Esposito, dkk., 2001). Fermentasi dengan menggunakan jamur memungkinkan
terjadinya perombakan bahan yang sulit dicerna oleh unggas menjadi bahan
yang mudah dicerna sehingga ni lai manfaatnya meningkat. Kualitas produk
fermentasi bergantung kepada jenis mikroba, dosis dan lama fermentasi, serta
media yang digunakan.


5
Jamur Marasmius sp. merupakan salah satu mokroba yang dapat
mendegradasi kandungan serat kasar (lignin) pada bungkil kelapa sawit. Jamur
tersebut termasuk kelas Basidiomycetes yang memiliki kemampuan untuk
menghasilkan enzim “lignoperoksidases” dan “manganperoksidase” yang dapat
merombak dan melarutkan lignin yang terkandung di dalam bungkil inti sawit.
Marasmium sp. juga dapat menghasilkan enzim glukosidase yang dapat
memecah ikatan glikosidik sehingga serat kasar tergredasi menjadi ikatan yang
lebih sederhana seperti gula-gula sederhana (polisaharida) yang merupakan
sumber energi untuk unggas.

Beberapa peneliti melaporkan adanya perubahan komposisi za t-zat
makanan dalam substrat melalui fermentasi dengan menggunakan jamur.
Fermentasi sabut sawit dengan menggunakan jamur Marasmius sp. pada dosis
inokulum 7,5% dan lama ferment asi 3 minggu, nyata dapat menu runkan
kandungan serat kasar dan meningkatkan protein kasar (Musnandar, 2003). Hasil
fermentasi kulit buah kakao oleh jamur Marasmius sp. pada dosis inokulum 7,5%
dan lama fermentasi 1 minggu dapat menurunkan serat kasar dari 38,45%
menjadi 23,29%, selulosa dari 22,90% menjadi 17,72%, dan lignin dari 15,54%
menjadi 2,97% (Shermiyati, 2003).
Potensi nilai gizi bahan pakan untuk penyediaan zat-zat makanan dan
energi dapat ditentukan dengan jalan analisis kimia (analisis proksimat). Nilai
sebenarnya ditunjukan dari bagian yang hilang setelah bahan makanan dicerna,
diserap dan dimetabolisme (Schneider dan Flatt, 1973; Tillman, dkk 1991).


6
Makin banyak zat makanan yang dapat diserap oleh tubuh, maka nilai kecernaan
bahan makanan tersebut makin t inggi. Hal ini merupakan suat u indikator
tingginya kualitas dari bahan makanan.
Upaya fermentasi bungkil inti sawit akan lebih berhasil apabila dilakukan
pengujian secara biologis pada ayam broiler, mengingat ayam broiler memiliki
sifat tumbuh yang sangat cepat. Oleh sebab itu, pengujian nilai kecernaan dan
energi metabolis produk fermentasi tersebut perlu dilakukan. Hal tersebut
disebabkan karena kecernaan menunjukkan kemampuan saluran pencernaan
untuk merombak pakan yang diko nsumsi dan digunakan untuk kep erluan
metabolisme dalam tubuh. Sedangkan energi metabolis merupakan suatu ukuran
yang paling bayak dianut dalam penyusunan ransum unggas. Pengukuran energi
ini sesuai untuk semua tujuan seperti untuk hidup pokok, pe rtumbuhan,
penggemukan dan produksi telur, sehingga energi metabolis dapat digunakan
sepenuhnya untuk berbagai proses metabolik dalam tubuh unggas (Ewing, 1963;
Wahju, 1994).
Penggunaan Bungkil Inti Sawit dalam ransum ayam broiler sang at
bervariasi yaitu antara 5% sampai dengan 10%; bahkan produk fermentasinya
bisa digunakan hingga 25%, tidak mempunyai efek negatif (Ahmad, 1982;
Kamal, 1984; ; Kohl, 1989; Tangendjaja dan Pattyusra, 1990; Ketaren, dkk.,
1999;). Penelitian penggunaan BIS produk fermentasi hingga 25% dalam
ransum broiler menunjukkan tidak ada perbedaan konsumsi ransum atau dengan


7
perkataan lain ayam mempunyai preferensi untuk makan yang sama, dan juga
tidak menyebabkan perbedaan tampilan bobot badannya (Mc. Donald et al.,
1995; Rahayu, 2002).
Berdasarkan uraian di atas, perlu kiranya dilakukan pengukuran nilai
kecernaan dan energi metabolis bungkil inti sawit produk fermentasi dengan
menggunakan jamur Marasmius sp., selanjutnya dilakukan pengujian (“feeding
trial”) tingkat penggunaannya dalam ransum ayam broiler.

1.2. Indentifikasi Masalah
Berdasarkan pendekatan masalah di atas, maka masalah yang da pat
diidentifikasikan adalah sebagai berikut:
1. Seberapa besar pengaruh dosis inokulum Marasmius sp. dan lama
fermentasi terhadap perubahan komposisi gizi (bahan kering, protein kasar,
serat kasar dan lemak kasar).
2. Berapa nilai kecernaan (bahan kering, bahan organik, dan protein kasar) dan
energi metabolis bungkil inti sawit produk fermentasi pada ayam broiler.
3 Seberapa besar pengaruh tingkat penggunaan bungkil inti sawi t produk
fermentasi dalam ransum terhadap performan ayam broiler, dan sampai
tingkat berapa bungkil inti sawit produk fermentasi masih dapat digunakan
dalam ransum ayam broiler tanpa memperlihatkan efek negatif.


8
Melalui peran jamur Marasmius sp., maka fermentasi substrat padat pada
bungkil inti sawit diharapkan dapat menarik minat “Feed Mill ” atau industri
pakan sebagai salah satu bahan pakan penyusun ransum ayam broiler. Ayam
broiler yang mengkonsumsi produk fermentasi tersebut tidak akan terganggu
pencernaannya, dan pada gilirannya dapat memperbaiki performan.

1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mencari model pengolahan bungkil inti sawit, yaitu den gan
menggunakan teknologi fermentasi, dan akan dicari dosis jamur Marasmius
sp. serta lama fermentasi yang optimum yang dapat menghasilkan kualitas
gizi bungkil inti sawit terbaik. Perbaikan kualitas gizi bungkil inti sawit
produk fermentasi akan ditandai dengan meningkatnya nilai kecernaan dan
energi metabolis. Selanjutnya, produk fermentasi diformulasikan dalam
susunan ransum dengan berbagai level untuk mendapatkan tingk at
penggunaan bungkil inti sawit produk fermentasi yang optimal tanpa adanya
efek negatif terhadap performan ayam broiler.
2. Untuk pengembangan penelitian terpadu dengan stakeholder yang melibatkan
peran mahasiswa tingkat akhir, sehingga tercipta peluang kerjasama dengan
mitra (industri) dalam penggunaan hasil penelitian.





9


1.4. Output Dan Outcomes
1.4.1 Output Penelitian
1. Mendapatkan model pengolahan bungkil inti sawit mel alui teknologi
fermentasi (pada dosis dan lama fermentasi yang optimum) dengan
menggunakan jamur Marasmius sp. Produk fermentasi dapat dijadikan
sebagai salah satu bahan pakan alternatif (sumber energi pengganti
jagung) dalam penyusunan ransum broiler. Penggunaan bungkil inti sawit
produk fermentasi sampai tingkat 30% dalam ransum dapat mengurangi
penggunaan jagung dan bungkil kedele (yang saat ini masih bergantung
pada impor dan harganya relatip mahal) , sehingga dapat menekan biaya
produksi.
2. Mempercepat penyelesaian tugas akhir mahasiswa yang terlibat pada
penelitian ini. Adapun jumlah mahasiswa yang dapat terlibat diperkirakan
sebanyak lima orang, dengan rencana judul sebagai berikut:
(1) Pengaruh Dosis dan Lama Fermentasi oleh Jamur Marasmius sp.
terhadap Perubahan Komposisi Gizi (Kandungan Bahan Kering,
Protein Kasar dan Serat Kasar) Bungkil Inti Sawit.
(2) Penentuan Nilai Energi Metabolis Bungkil Inti Sawit dan Produk
fermentasinya pada Ayam Broiler.


10
(3) Penentuan Nilai Kecernaan (Bahan Kering, Bahan Organik dan Protein
Kasar) Bungkil Inti Sawit dan Produk fermentasinya pada Ayam
Broiler.
(4) Pengaruh Tingkat Penggunaan Bungkil Inti Sawit Produk Fermentasi
oleh Jamur Marasmius sp. dalam Ransum terhadap Performan Ayam
Broiler.
(5) Pengaruh Tingkat Penggunaan Bungkil Inti Sawit Produk Fermentasi
oleh Jamur Marasmius sp. dalam Ransum terhadap Persentase Karkas
dan Komponennya.

1.4.2. Outcomes Penelitian
a. Outcomes penelitian buat mahasiswa adalah terbantunya mereka dalam
penyelesaian tugas akhir (penelitian), baik topik maupun kesulitan
pendanaan. Selanjutnya, setelah lulus mereka diharapkan memiliki daya
saing tinggi dengan bekal keterampilan dalam melakukan pengolahan
bungkil inti sawit serta terampil dalam manajemen pemeliharaan ayam
broiler, sehingga akan membuka lapangan usaha dan lapangan pekerjaan.
b. Selain keterlibatan mahasiswa pada penelitian ini, juga terlibat pengusaha
industri makanan ternak (Feed Miill) dan diharapkan pula da pat
memberikan masukkan kepada “Feed Mill” atau Industri Pakan Ternak
(Pembuat Ransum Broiler) untuk penggunaannya sebagai salah satu bahan
pakan penyusun ransum (sumber energi / pengganti jagung), melalui


11
pengolahan terlebih dahulu dengan menggunakan peran jamur Marasmius
sp.
c. Berkurangnya penggunaan jagung dan bungkil kedele (yang digantikan
dengan bungkil inti sawit produk fermentasi) dalam ransum broiler, maka
outcomes buat perusahaan dapat menurunkan biaya produksi (efsiensi
meningkat) yang pada gilirannya diharapkan dapat menurunkan harga jual
ransum. Menurunnya harga ransum akan meningkatkan gairah para
petani-ternak dalam usaha budidaya ayam broiler, dan secara tidak
langsung akan meningkatkan pendapatan mereka.
1.6. Waktu dan Lokasi Penelitian.
1.6.1. Penelitian Tahap Pertama
Penelitian ini dilaksanakan selama 5 minggu di Laborarotarium Nutrisi
Tenak Unggas, Non Ruminansia dan Industri Makanan Ternak mul ai bulan
Agustus sampai September 2005 , untuk analisis kimia dilakuk an di
Laborarotarium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas
Peternakan Universitas Padjadjaran.
1.6.2. Penelitian Tahap Kedua (Penguk uran Kecernaan dan Energi
Metabolis)
Penelitian ini dilaksanakan selama 2 minggu di Laborarotarium Nutrisi
Tenak Unggas, Non Ruminansia dan Industri Makanan Ternak mul ai bulan
Oktober 2005, untuk analisis kimia dilakukan di Laborarotarium Nutrisi Ternak


12
Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas
Padjadjaran.
1.6.2. Penelitian Tahap Tiga (Feeding Trial)
Penelitian ini dilaksanakan selama 5 minggu di kandang Pedca Fakultas
Pertanian UNPAD mulai bulan januari 2006.


















13
II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Deskripsi Bungkil Inti Sawit
Kelapa sawit ( Elaisguinensis) merupakan golongan yang dapa t
menghasilkan minyak dan tumbuh baik di daerah tropis. Kelapa sawit berasal
dari afrika barat yang mempunyai iklim tropis sejalan dengan perdagangan budak
dari Afrika, bangsa Inggris dan Portugis membawa kelapa sawit ke Amerika
(Hartley, 1967 dalam Simanjuntak, 1998), di Indonesia kelapa sawit banyak
terdapat di daerah Sumetera utara, Aceh, Lampung, Jawa Barat bagian barat,
Riau, Jambi, Kalimantan Barat dan Timur, serta Irian Jaya namun yang paling
menonjol terdapat di pulau Sumatera.
Kelapa sawit dapat berbuah pada ketinggian 1000 m diatas permukaan
laut, tetapi secara ekonomis sebaiknya dibawah ketinggian 500 m. Iklim yang
baik untuk pertumbuhan kelapa sawit adalah daerah yang memiliki curah hujan
1500 mm per tahun. Adapun susunan taksonomi kelapa sawit adalah sebagai
berikut :
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Principes


14
Family : Palmaceae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis quneensis
Kelapa sawit mempunyai tinggi mencapai 6,5 meter, batangnya kasar dan
melingkar-lingkar serta tidak bercabang. Daunnya lurus dan ramping, pinggir
daun berduri, mempunyai warna yang sama pada pangkal dan ujungnya, serta
mempunyai panjang antara 360-510 cm. Kelapa sawit mempunyai bunga yang
terdapat dalam satu tandan dan bergerombol. Buah kelapa sawit berwarna merah
kehitaman dan mengkilap. Bagian luar dinding buah tebal dan sangat berserat
sedangkan bagian dalam buah berwarna putih (Simanjuntak, 1998).
Tanaman kelapa sawit mulai dipanen pada umur 3,5-4,5 tahun sejak
pembibitan. Tanaman ini menghasilkan buah sepanjang tahun dan umur
ekonomisnya sekitar 25 tahun. Kelapa sawit memiliki buah yang terdiri dari tiga
bagian yaitu daging buah (mesocarp), tempurung (cangkang atau shell), dan inti
(kernel). Dalam buah kelapa sawit terdapat biji dan didalam biji tersebut terdapat
inti sawit sekitar 4-4,5 % dari berat tandan segar, produksi tahun pertama panen
sekitar 10-15 ton tandan per hektar per t ahun, produksi ini meningkat setiap
tahunnya dan mencapai puncak pada umur 8-9 tahun dengan tingkat produksi
sekitar 20-30 ton tandan buah segar (Aritonang,1984).
Pengolahan tandan buah segar kelapa sawit di hasilkan berupa minyak
sawit dan minyak inti sawit se bagai hasil utama yang diperol eh selain itu


15
didapatkan pula hasil ikutan dari pengolahan kelapa sawit yaitu berupa bungkil
inti sawit, serat perasan buah, lumpur sawit kering, tandan buah kosong serta
tempurung. Bungkil inti sawit merupakan hasil ikutan pada proses ekstraksi atau
penekanan inti sawit, bungkil inti sawit ini dapat dijadikan bahan pakan untuk
ternak karena memiliki energi dan protein yang tinggi, namun dengan tingginya
nilai nutrisi tersebut tidak diimbangi dengan nilai kecernaannya pada ternak, hal
ini disebabkan pada bungkil inti sawit ini memiliki kendala yaitu berupa
tingginya kandungan serat yang akan mempengaruhi kecernaan pada ternak
khususnya ternak unggas.
2.2. Fermentasi
Fermentasi adalah suatu proses oksidasi karbohidrat anaerob atau anaerob
fakultatif. Istilah fermentasi tersebut itu sendiri telah mengalami evolusi, istilah
tersebut digunakan untuk mener angkan terjadinya penggelembungan atau
pendidihan yang terlihat dalam pembuatan anggur, yaitu pada saat sebelum
ditemukannya khamir. Bahkan i stilah yang berlaku sekarang dipakai untuk
menjelaskan pengeluaran gas karbondioksida selama sel-sel hidup bekerja
(Desrosier,1988). Menurut winarno, et.al (1980), mengatakan fermentasi dapat
terjadi karena aktivitas mikroba penyebab fermentasi pada substrat organik yang
sesuai. Fermentasi juga dapat menyebabkan perubahan sifat bahan makanan
sebagai akibat pemecahan kandungan zat makanan oleh enzim yang dihasilkan
oleh mikroba.


16
Proses fermentasi sering didefinisikan sebagai proses pemecahan bahan-
bahan organik oleh mikroorganisme sehingga diperoleh bahan-bahan organik
yang diinginkan (Fardiaz,1988). Mikroorganisme ini sangat berperan dalam
proses fermentasi karena memiliki kemampuan untuk menghasilkan enzim dalam
jumlah besar, biasanya mikroorganisme yang berperan dalam proses fermentasi
yaitu dari golongan bakteri, khamir, dan cendawan, mikroorganisme tersebut
memiliki sel tunggal dan mempunyai kapasitas fungsional pertumbuhan,
reproduksi, pencernaan, asimilasi, dan memperbaiki isi dalam sel dimana bagi
kehidupan tingkat tinggi sudah didistribusikan ke jaringan-jaringan, oleh karena
itu dapat diantisipasi bahwa sel tunggal merupakan wujud kehidupan yang
lengkap seperti khamir yang me miliki produktivitas enzim dan kapasitas
fermentatif yang tinggi dibandingkan dengan mahluk hidup yan g lainnya
(Desrosier,1988). Pada proses fermentasi peristiwa yang terjadi adalah suatu
rangkaian kerja enzim yang dibantu oleh energi -energi metabolit yang khas
berada dalam sistem biologis hidup. Perubahan kimia oleh aktivitas enzim yang
dihasilkan oleh mikroorganisme tersebut meliputi perubahan molekul-molekul
kompleks atau senyawa-senyawa organik seperti protein, karbohidrat dan lemak
menjadi molekul sederhana dan mudah dicerna (Setiyatwan, 2001).
Menurut Desrosier (1988), ada tiga kriteria penting yang harus dimiliki
oleh mikrobia bila akan digunakan dalam proses fermentasi diantaranya yaitu :


17
1. Mikrobia harus mampu tumbuh dengan cepat dal am suatu substrat dan
lingkungan yang cocok serta mudah untuk dibudidayakan dalam jumlah
besar.
2. organisme harus memiliki kemampuan untuk mengatur ketahanan fisiologis
dalam kondisi seperti tersebut di atas, dan menghasilkan en zim-enzim
essensial dengan mudah dan dalam jumlah besar agar perubahan-perubahan
kimia yang dikehendaki dapat terjadi.
3. kondisi lingkungan yang diperl ukan untuk pertumbuhan dan pro duksi
maksimum dan komparatif harus sederhana.
Proses fermentasi dapat dibedakan berdasarkan jenis mediumnya, yaitu
fermentasi substrat padat dan substrat cair. Fermentasi substrat padat adalah
fermentasi dengan menggunakan substrat yang tidak larut tetapi mengandung air
yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme yang di
inokulasikan kedalam substrat itu sendiri sedangkan fermentasi substrat cair
adalah proses fermentasi yang substratnya larut atau tersuspensi dalam fase cair.
Menurut smith (1990) menyatakan bahwa fermentasi substrat padat berkaitan
dengan pertumbuhan mikroba pada bahan padat dengan tidak atau hampir tidak
adanya air bebas. Substrat yang paling banyak digunakan dal am fermentasi
substrat padat biasanya berupa biji-bijian, sekam dan bahan yang mengandung
lignoselulosa.


18
Menurut Knaap dan Howel (1980), beberapa hal yang harus di perhatikan
sehubungan dengan penggunaan medium padat diantaranya yaitu :
1. Sifat media terutama yang ada hubungannya dengan kistalisasi dan derajat
polimerisasi.
2. Sifat mikoorganisme, masing -masing mikroorganisme mempunya i
kemampuan yang berbeda-beda dalam memecah komponen media untuk
keperluan metabolisme dari mikroorganisme itu sendiri
3. Sifat kimetika metabolisme dan kinetika enzim.
2.3. Peningkatan Bungkil Inti Sawit Melalui Proses Fermentasi
Bungkil inti sawit merupakan hasil ikutan dari pengolahan kelapa sawit,
bungkil inti sawit ini dapat dijadikan sumber bahan pakan potensial sebagai
pengganti bahan pakan impor sehingga dengan adanya pengganti bahan pakan
impor ini diusahakan biaya produksi di minimalisir sehingga menjadikan produk
peternakan sebagai produk yang dapat dijangkau oleh kalangan menengah
kebawah. Meskipun bungkil inti sawit ini sangat potensial untuk dijadikan bahan
pakan pengganti bahan impor tetapi penggunaannya belum seoptimal mungkin
apalagi untuk dijadikan pakan monogastrik khususnya untuk unggas. Hampir
semua hasil ikutan maupun limbah agroindustri memiliki kandungan nutrien
yang rendah seperti kandungan protein dan vitamin yang rendah serta kandungan
serat kasar yang tinggi dengan tingkat kecernaan yang rendah. Bahan-bahan
yang terkandung didalam limbah agroindustri ini tidak dapat digunakan untuk


19
ternak non-ruminansia dan pada kasus lain kecernaannya yang sangat rendah
dapat menyebabkan limbah tersebut tidak banyak berguna untuk ruminansia.
(Gomes et al.,1990; Brum dan Albino,1993; Lima et al.,1999; Brum et al.,1999
a,b; Lima et al.,2000). Untuk dapat mengatasi kendala tersebut maka diperlukan
suatu usaha untuk memperbaiki kualitas bungkil inti sawit agar potensinya dapat
dimanfaatkan secara optimal oleh tenak. Usaha yang dapat dilakukan dapat
berupa suplementasi perlakuan fisik, kimia dan biologis atau kombinasi
diantaranya (Jackson, 1977).
Pengolahan biologis dapat dilakukan dengan mengkultivasikan fungi,
bakteri dan alga pada skala besar karena mikroba tersebut sangat atraktif pada
bahan pakan hasil ikutan atau limbah agroindustri dengan poduksi protein sel
yang tinggi serta memungkinkan mengandung semua asam amino yang esensial,
dan dapat menambah cita rasa serta mengandung vitamin dan mineral yang tinggi
(Pelczar et al.,1996; Kuhad et al.,1997; Brum et al.,1999a.b). Selanjutnya
pertumbuhan mikroba pada limbah lignoselulosa dapat dilakuk an untuk
melengkapi semua enzim hidrolitik yang kerap kali ditambahkan pada pakan dan
juga dapat membuat mineral tersedia untuk absobsi oleh ternak. Menurut Pelczar
(1996) penggunaan mikroorganisme memberikan keuntungan tersendiri karena
dapat meningkatkan nutrisi bahan pakan dibandingkan dengan cara tradisional
dari formulasi ransum. Mikroo rganisme akan tumbuh dengan cepat dan


20
menghasilkan protein yang tinggi karena protein yang dihasilkan berupa protein
sel tunggal dengan kisaran 600 g/kg.
Microbial by-product yang berasal dari industri fermentasi tradisional telah
banyak digunakan pada bermacam-macam bahan pakan. Produk utama yang
dihasilkan sangat penting untuk industri pengolahan pakan ternak. Fermentasi
by-product yang berasal dari peng olahan minuman anggur dan indu stri
penyulingan telah lama digunakan untuk ternak terutama ruminansia sebagai
penyuplai protein dan energi. Kebanyakan by-product pada industri fermentasi
lainnya juga telah digunakan sebagai sumber nutrient pada pakan campuran
(Shaver dan Batajoo, 1995).
Terkadang produk dari mikroorganisme pada proses fermentasi dapat
menghasilkan suatu racun hasil metabolisme dari mikroorganisme itu dan ihal
tersebut sangat berbahaya dan dapat mematikan pada ternak yang memakannya,
oleh karena itu resiko tersebut harus dapat dievaluasi pada seluruh proses
biokonversi yang dilakukan mikroorganisme untuk menghidari kemungkinan
keracunan pada ternak yang memakannya. Untuk menghindarkan hal tersebut
maka dalam proses fermentasi harus diawasi dari segala kontaminasi yang akan
terjadi pada proses fermentasi tersebut, selain itu mikroba yang dipilih pun harus
sesuai dengan persyaratan agar didapatkan mikroba yang sesuai diantaranya :
1. Mikroba yang dipilih pada proses fermentasi harus sehat dan berada dalam
keadaan aktif sehingga mempersingkat masa adaptasi


21
2. Tersedia cukup sehingga mengha silkan inokulum yang optimal d an
diharapkan inokulum dihasilkan dominan mikroba yang dipilih.
3. Berada dalam morfologis yang sesuai
4. Bebas kontaminasi
5. Dapat menekan kemampuannya membentuk produk (Rahman,1989).
Suharto (1995) menjelaskan bahwa jamur, kapang, dan khamir merupakan
kelompok mikroba yang tergolong dalam fungi (jamak) atau fungus (tunggal)
yang mempunyai filament, tidak berisi butir-butir hijau daun dan dapat dipasok
makanan sumber C, N dan nutrisi lainnya untuk pertumbuhan. Bakteri dan
Khamir adalah uniseluler, sedangkan jamur multi seluler. Peranan mikroba
tersebut dalam bioteknologi adalah untuk memperoleh produk baru dengan
meningkatnya kualitas komposis i gizinya dibandingkan asalnya tanpa
pengolahan. Fungi merupakan spesies yang paling tinggi kemampuan hidup dan
daya saingnya dibandingkan mikroba lainnya, hal ini disebabkan
1. Mempunyai laju pertumbuhan dan germinasi yang sangat cepat.
2. Efisiensi metabolik yang tinggi dalam menghasilkan enzim dan kegunaannya
pada substrat.
3. Memiliki kemampuan memproduksi senyawa tertentu yang bersifat toksik
bagi mikroorganisme lainnya.
4. Tingkat toleransi yang tinggi terhadap antibiotik.


22
Fermentasi dengan menggunakan jamur merupakan salah satu soluli yang
potensial untuk dapat meningkatkan kandungan gizi bungkil inti sawit dan
menurunkan faktor pembatas yang ada pada bungkil inti sawit tersebut seperti
yang dikatakan oleh Anon (1977) Duran (1989) dan Kuhad (1997) bahwa
fermentasi dengan menggunakan jamur dapat meningkatkan kandungan nutrient
pada limbah agroindustri khusunya berkenaan dengan kandungan protein dan
vitamin selain itu juga dengan proses fermentasi diharapkan bahan pakan yang
berasal dari limbah agroindustri dapat meningkatkan kecernaannya.
2.4. Karakteristik Marasmius sp
Jamur Marasmius sp merupakan jamur saprofit yang hidup pada batang
kayu tumbuhan yang sudah mati. Jamur ini digolongkan sebagai jamur busuk
putih pada kayu yang diperoleh dari areal hutan tropik di Colombia Amerika
Selatan yang memiliki kelembaban udara sekitar 90 – 100 %. Jamur ini di isolasi
pada bulan maret tahun 199 0, Marasmius sp memiliki kemampuan
memproduksi enzim ekstraseluller yang dapat mendegradasi senyawa lignin dan
selulosa, jamur ini dapat diindentifikasi sebagai berikut :
Divisio : Mycota
Sub division : Eumycotina
Clasiss : Basidiomycetes
Sub clasiss : Hymenomyceteae
Ordo : Agaricales


23
Familia : Tricholomataceae
Marga : Marasmius
Species : Marasmius sp
Jamur ini sebelum terindentifiksi secara menyeluruh masih di beri nama
CULH (“ Colombia Unindentified Lignophilic Hymenomycetes “), jamur ini
memiliki kemampuan dalam mendegradasi lignin. Jamur ini memiliki basidia
yang ditandai dengan hymenium, memiliki tubuh buah yang tidak berklorofil
berwarna putih, bulat memiliki lamella seperti insang pada bagian tudung.
Tubuh buah disusun oleh bagian akar semu, tangkai dan tudung.
Jamur Marasmius sp termasuk kedalam jamur busuk putih yang tumbuh
baik pada suhu 30
0
C dengan kelembaban 60-70 % pada suasana aerob. Jamur
ini masuk kedalam kelas basidi omycetes yang memiliki kemampu an
mendegradasi lignin secara efisien. Dikemukakan pula bahwa jamur Marasmius
sp ini memiliki karakteristik penghasil enzim ekstraseluller phenoloksidase yaitu
enzim yang terlibat dalam proses biodegradasi lignin. Terdapat tiga tipe enzim
phenoloksidase, yaitu laccase, peroksidase dan tyr osinase (Crawford,1981).
Dengan adanya karakteristik Marasmius sp tersebut maka jamur ini dimasukkan
kedalam kelas Basidiomycetes yang diduga dapat memecah ikatan lignin dengan
karbohidrat dan ikatan lignin dengan protein pada bungkil inti sawit sehingga
bungkil inti sawit tersebut dapat digunakan sebagai bahan pakan ayam. Selama
pertumbuhan vegetatif pertama, ditandai dengan pertumbuhan miselia yang cepat


24
diatas substrat. Pertumbuhan jamur Marasmius sp pada skala laboratorium
menggunakan media potato dextrose agar dengan pemberian sedikit ekstrak
yeast, didalam media ini dibagi tiga fase, yaitu fase pertama adalah fase
penyesuaian dengan kondisi media dan lingkungan, kemudian fase logaritma,
pada fase ini sel -sel mengembangkan diri secara eksponensial sampai
pertumbuhan maksimal tercapai, fase ini lamanya sekitar 3-10 hari, setelah fase
logaritma kemudian ke fase selanjutnya yaitu fase stasioner dimana fase ini akan
terjadi jumlah koloni yang stagnan dan menuju kepada penurunan jumlah koloni
yang disebabkan oleh pengurangan nutrient yang ada pada media sehingga
pertumbuhan miselia jamur terhambat dan pada akhirnya pertumbuhan berhenti.
Menurut Joetono (1989) serta Garraway dan Evans (1984), lamanya waktu yang
dibutuhkan dalam masing-masing fase tergantung beberapa faktor diantaranya
kosentrasi nutrient dan faktor eksternal seperti suhu, kelembaban, dan tingkat
keasaman media atau substrat, kadar air dan ketersedian oksigen. Mengetahui
fase logaritma sangat penting untuk pembuatan inokulum, juga untuk mengetahui
saat kandungan substrat didegradasi dalam hal ini fraksi-fraksi serat kasar seperi
lignin dan selulosa.
Pengetahuan mengenai nutrisi dan morfologi jamur merupakan suatu hal
yang penting untuk mempelajari aspek ekologinya yang akan menggambarkan
biodeteriorasi dan biodegradasi (Eggins dan Allopp,1975).



25
2.5. Peranan Marasmius sp dalam Proses Fermentasi
Jenis cendawan yang bermanfaat untuk pengolahan bahan pakan yang
berlignoselulosa adalah jamur (pelczar dan Chan, 1986). jamu r bersifat
vilamentus (berbentuk benang-benang, dimana terdapat bagian-bagian berupa
miselium, kumpulan beberpa vilamen yang disebut hifa) dan spora. Jamur
merupakan organisme heterotrofik, dimana kapang atau jamur memerlukan
senyawa organik untuk nutrisinya. Jamur hanya dapat tumbuh dalam keadaan
aerobik sehingga sering kali disebut mikroorganisme aerobik sejati. Pada spesies
saprofitik, jamur tumbuh pada kisaran suhu optimal 22-30
0
C(Pelczar dan
Chan,1986). Secara alamiah cendawan atau jamur dapat berkembang biak
dengan berbagai cara secara aseksual dengan pembelahan, penguncupan, atau
pembentukan spora, dan dapat pula secara seksual dengan peleburan nucleus dari
dua sel induknya. Pada pembelahan, suatu sel membelah diri untuk membentuk
dua sel anak yang serupa, sedangkan pada penguncupan suatu sel anak tumbuh
dari penonjolan kecil pada sel inang.
Jamur yang dapat diinokulasika n kedalam bahan yang memiliki
lignosellulosa yang tinggi biasanya jamur yang dapat memiliki atau dapat
memproduksi enzim ekstra selul er seperti enzim selulase atau enzim ligno
peroksidase dimana enzim tersebut dapat memecah ikatan komplek pada bahan
yang berlignoselulosa menjadi suatu senyawa yang sederhana, salah satu jamur
yang dapat diinokulasikan pada bahan berlignoselulosa diantaranya adalah jamur


26
Marasmius sp. Hasil penelitian Trahayu (1994) dan Hendritomo (1995) bahwa
jamur Marasmius sp ini mampu mendegradasi lignin dalam kayu albazia dan
kayu kamper. Jamur ini juga mampu mendegradasi lignin dalam sekam dan
jerami padi.
Pertumbuhan jamur Marasmius sp telah diteliti oleh Trahayu (1994) pada
serbuk gergaji kayu albasia dan kayu kapur. Selama pertumbuhannya pada
substrat serbuk kayu albasia dan kayu kapur jamur ini memerlukan gizi tambahan
berupa nitrogen serta karbohidrat mudah dicerna sebagai sumber energi berupa
ampas tapioca sebesar 15-25 %. Marasmius sp dapat mendekomposisi selulosa
kayu albasia dan kayu kapur masing-masing 71,23 % dan 54,45 %, sedangkan
dekomposisi lignin akan meningkat sekitar 30,78 % jika ditambahkan 0,5 %
nitrogen yang siap pakai dan 10 %ampas tapioka, sedangkan pada kayu kapur
meningkat 40,95 % dengan penambahan 2 % nitrogen dan 25 % ampas tapioka.
Dalam hal pendegradasian fraksi serat kasar berupa lignin dan selulosa
penggunaan nitrogen dalam senyawa lain dan mineral Mn
2+
sangat diperlukan
untuk pertumbuhan jamur Marasmius sp. Sumber nitrogen yang dapat
ditambahkan bias menggunakan 1,75 % KNO
3
dan 0,5 % urea atau berupa
NH
4
N0
3
sebanyak 0,5 % serta dengan penambahan Mn
2+
menunjukkan degradsi
lignin dan selulosa yang cepat dengan menggunakan mineral KNO
3

dibandingkan dengan penambahan urea yaitu sekitar 68,5 % pada lignin dan 18,3
% pada selulosa. (Hendritomo, 1995).


27
Pada proses pendegradasian sen yawa lignin merupakan proses
ekstraseluler dimana Marasmius sp menghasilkan enzim lignin peroksidase dan
mangan peroksidase, serta H
2
O
2
yang dikeluarkan oleh aktivitas enzim glikosal
oksidase (dikeluarkan oleh hifa). Proses yang berlaku ketik a lignin akan
didegradai oleh enzim yang dihasilkan oleh Marasmius sp, yaitu mula-mula
veratil alcohol yang dihasilkan dala m hifa berperan penting dalam
penyeimbangan ligin peroksidase yang berlawanan dengan tidak aktifnya H
2
O
2
.
Lignin peroksidase melepaskan satu elektron pada molekul lignin yang bukan
phenol kemudian membentuk kati on radikal, yang memulai reaksi kimia
oksidatif yang secara tidak beraturan dan hasil akhirnya pemotongan lignin
dengan O
2
, kemudian enzim mangan peroksidase akan merubah Mn
2+
menjadi
Mn
3+
yang mempunyai bobot molekul yang lebih rendah dan berfungsi sebagai
mediator yang dapat berdifusi ke bagian yang tipis dari molekul lignin dan
memulai proses oksidasi.
Beberapa species jamur memliki kemampuan untuk dapat mendegradasi
komponen serat kasar terutama lignin dan selulosa tetapi dari kesemuanya hanya
yang termasuk kedalam kelas jamur busuk putihlah yang memiliki kemampuan
mendegradasi lignin dan selulosa secara efisien hal ini dika renakan jamur
tersebut mampu memproduksi enzim ekstraseluler. Selulosa dapat didegradasi
menjadi selobiosa melaui rant ai panjang 1-4 anhidroglukosa oleh enzim
ekstraseluler pada beberapa ja mur yang termasuk kelas Ascomy cetes,


28
Imperfectic dan Basidiomycetes , terutama yang termasuk kedal am
Homobasidiomycetes. Dekomposisi selulosa terjadi di dalam sel jamur dimana
selubiose memecah selobiosa, hemiselulosa sebagai sumber energi dan karbon
dimanfaatkan oleh jamur tersebut yang akhirnya membentuk karbondioksida dan
air (Hardjo,et aI,.1989).
Proses pemecahan selulosa dibagi menjadi tiga tahapan diantaranya, yaitu :
1. Anyaman fiber sudah lebih basah dan regang oleh adanya kerja enzi m
selulase terhadap substrat sehingga memudahkan kerja enzim berikutnya.
2. Selulosa dipecah menjadi disacharida selubiosa.
3. Selubiosa dihidrolisis menjadi glukosa oleh mekanisme kerja enzim β-
glukosidase yang disebut selubiose.
2.6. Deskripsi Ayam Broiler
Istilah broiler berasal dari bahasa asing yang dalam bahasa Indonesia
dikenal dengan istilah ayam pe daging. Wahyu dan sugandi (197 9)
mendefinisikan bahwa ayam broiler adalah ayam muda baik jant an maupun
betina yang berumur dibawah 16 minggu, mempunyai pertumbuhan yang cepat,
daging yang empuk dengan timbunan daging yang baik, dada relatif lebar, kulit
halus dan lembut. Dilain pihak Whitehead and Parks (1988) mengatakan bahwa
ayam broiler secara genetik di seleksi untuk mendapatkan lemak tubuh yang
rendah, jumlah konsumsi yang sedikit dan pertumbuhan bobot badan yang tinggi.


29
Bobot broiler hidup saat dipasarkan biasanya 1,3 -1,4 kg/ekor bila dipelihara
selama enam minggu (Rasyaf, 1992).
Umumnya setiap pertambahan umur dua minggu, akan menghasilkan
bobot badan dua kali lipat dari bobot badan sebelumnya sampai umur enam
minggu. Sesudah itu, pertambahan bobot badan menurun perlahan (Lubis, 1963).
Lebih lanjut Scott dkk., 2001) menyatakan bahwa periode pertumbuhan paling
cepat pada broiler terjadi sampai umur delapan minggu.
Perbedaan umur pemeliharaan dan pertumbuhan ini merupakan hasil
interaksi antara faktor hereditas dengan lingkungannya. Menurut Atmadilaga
(1972) hasilnya tergantung pada strain broiler yang dipelihara, mutu makanan
yang diberikan, system perkandangan dan pencegahan penyakit.
2.7. Energi Dan Energi Metabolis
Energi berasal dari bahasa yunani yaitu en berarti di dalam dan ergon
berarti kerja (Scott dkk., 1982). Hewan mempergunakan makanannya tidaklain
untuk kebutuhan energi yaitu untuk fungsi-fungsi tubuh dan untuk melancarkan
reaksi-reaksi sintesis dari tubuh. Energi diperoleh dari konsumsi makanan,
pencernaan dan metabolisme zat -zat makanan untuk pelepasan energi (Jull,
1979).
Energi diukur dengan kalori. Satu gram kalori adalah panas yang
diperlukan untuk menaikkan suhu 1 gram air 1
0
C dari 14,5-15,5
0
C. Satu
kilokalori adalah panas yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 kilogram air


30
1
0
C (14,5-15,5
0
C) (Wahyu, 1997). Energi yang terdapat dalam bahan makanan
merupakan nilai energi kimia yang dapat diukur dengan merubahnya kedalam
energi panas. Panas ini timbul sebagai akibat terbakarnya zat-zat makanan seperti
karbohidrat, lemak dan protein yang merupakan zat-zat organik dalam bahan
makanan. Proses perubahan menjadi panas ini dapat dilakukan dengan membakar
bahan makanan kedalam suatu al at yang disebut Oxigen Bomb Calorimeter,
dengan jumlah panas yang dihasilkan sebagai energi bruto (Mc. Donald dkk.,
1994)
Menurut Anggorodi (1984) Energi Metabolis merupakan energi makanan
dikurangi energi yang hilang dalam feses, pembakaran gas-gas dan urin. Adapun
gas-gas yang dihasilkan unggas dapat berupa uap air, gas amoniak (NH
3
), asam
sulfide (H
2
S) dan metana (Sibbald, 1982 dalam Sundari, 2004). Untuk unggas
dan monogastrik gas-gas hasil proses pencernaan dapat diabaikan (Hartadi dkk.,
1993). Energi metabolis memperlihatkan nilai suatu bahan makanan untuk
memelihara suhu tubuh. Sejalan dengan pendapat Cullison (198 2) yang
mengemukakan bahwa energi metabolis adalah energi yang digunakan untuk
memetabolisme zat-zat makanan dalam tubuh, satuannya dinyatakan dengan
kilokalori per kilogram. Pendapat tersebut diperkuat dengan pernyataan Darana
(1975) bahwa energi metabolis merupakan energi yang dipergunakan pada
pembentukan dan perombakan zat-zat makanan dalam tubuh. Nilai Energi


31
Metabolis dari beberapa bahan makanan dapat diperbaiki dengan pengolahan
(Wahyu, 1992).
Ayam mengkonsumsi ransum untuk memenuhi kebutuhan energinya dan
akan berhenti makan apabila kebutuhan energi telah terpenuhi. Namun, energi
dalam ransum tidak dapat dipergunakan seluruhnya oleh ayam, karena sebagian
akan dibuang melalui feses dan urin. Oleh karena itu, penyusunan ransum untuk
unggas terutama ayam sebaiknya didasarkan pada perhitungan energinya (Scott
dkk., 1982). Tingkat energi dalam ransum menentukan banyaknya makanan yang
dikonsumsi. Konsumsi ransum umumnya meningkat jika ransum yang diberikan
mengandung nilai energi yang rendah.
Menurut Tillman dkk. (1991) daya cerna suatu bahan pakan dipengaruhi
oleh kandungan serat kasar, keseimbangan zat-zat makanan dan faktor ternak
yang selanjutnya akan mempengaruhi nilai energi metabolis suatu bahan pakan.
Hal ini didukung oleh pernyataan Mc. Donald dkk. (1994) bahwa rendahnya
daya cerna terhadap suatu bahan pakan mengakibatkan banyaknya energi yang
hilang dalam bentuk ekskreta sehingga nilai energi metabolis menjadi rendah.
Umur ayam kecil pengaruhnya dalam menentukan nilai energi metabolis
suatu bahan pakan yang diuji. Energi Metabolis juga tidak dipengaruhi oleh jenis
kelamin (Sibbald dan Slinger, 1960 dalam Tjitjah, 1995)




32
2.8. Retensi Nitrogen
Kualitas makan tertentu dapat ditentukan dengan analisis kimia, tetapi
nilai sebenarnya dari makanan untuk ternak ditunjukkan dengan bagian yang
hilang setelah pencernaan, penyerapan dan metabolismenya (Tillman dkk.,
1989). Selanjutnya dinyatakan pula bahwa nitrogen yang diretensi merupakan
bagian nitrogen dari makanan yang tidak diekskresikan dalam feses dan urin.
Perhitungan melalui keseimbangan nitrogen yang masuk dan nit rogen yang
keluar dapat menentukan besarnya nitrogen yang diretensi. Me tode ini
merupakan perluasan percobaan pengukuran daya cerna dengan mengukur
kehilangan-kehilangan lain karena penggunaan makanan.
Retensi nitrogen yang terkenda li menghasilakan suatu pengukuran
kuantitatif terhadap metabolisme protein dan menunjukkan apakah hewan dalam
keadaan bertambah atau berkurang kadar protein di dalam tubuhnya (Tillman
dkk., 1989). Respon yang posit if terhadap retensi nitrogen diperlihatkan bila
ransum yang diberikan cukup mengandung asam-asam amino esensial yang
dibutuhkan (Parakkasi, 1983). Juju Wahju (1972) menjelaskan bahwa protein
dari suatu bahan makanan dapat dihitung malalui persentase nitrogen yang
dikonsumsi dibandingkan dengan nitrogen yang dikeluarkan. Nitrogen yang
diretensi akan menentukan cukup tidaknya nitrogen dari makan an guna
memenuhi kebutuhan untuk hidup pokok, produksi, maupun pertumbuhan,
ataukah akan terjadi perombakan jaringan tubuh untuk memenuhi kebutuhan


33
tersebut sebagai tambahan atas kehilangan nitrogen. Retensi nitrogen tidak hanya
dapat menentukan nilai gizi dari proteinsuatu bahan makanan tetapi juga dapat
menentukan kebutuhan protein untuk hidup pokok, pertumbuhan, maupun
produksi dari seekor ternak.
Nitrogen yang diretensi dapat dihitung dari selisih antara nitrogen yang
masuk dengan nitrogen yang keluar bersama feses dan urin. Khusus pada unggas
terdapat kesulitan untuk mengukur nitrogen pada feses dan urin secara terpisah
(Mc Donald, 1978).
Berdasarkan hasil penelitian J uju Wahyu (1972), ternyata tinggi
rendahnya retensi nitrogen mempunyai kaitan erat dengan konsumsi ransum,
konsumsi protein, kualitas protein dan imbangan energi-protein.
Semakin tinggi konsumsi ransum akan menghasilkan retensi nit rogen
yang semakin tinggi pula. Lebih lanjut Juju Wahyu (1972) menerangkan bahwa
peningkatan konsumsi ransum akan memberikan kesempatan pada tubuh untuk
meretensi zat-zat makanan lebih banyak termasuk didalamnya nitrogen.
Ewing (1963) menyatakan bahwa retensi nitrogen yang menurun dengan
adanya peningkatan protein ransum mungkin dikarenakan ssebagian protein
digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi. Hasil ini menunjukkan pentingnya
konsumsi energi yang cukup jika ayam digunakan untuk mengevaluasi kualitas
protein berdasarkan keseimbangan nitrogen.


34
Kualitas protein suatu bahan makanan ditentukan oleh kelengkapan dan
keseimbangan asam-asam amino yang terkandung didalamnya (Tillman dkk.,
1986; Wahju, 1992). Retensi ni trogen akan rendah apabila kualitas protein
rendah seperti bila salah satu asam aminonya kurang.
Winter dan Fung (1960) menerangkan bahwa makanan yang mempunyai
kandungan protein dengan kuali tas yang baik menyebabkan palatabilitasnya
tinggi, sehingga konsumsi rans um meningkat dan akibatnya nil ai retensi
nitrogennya semakin meningkat pula.
Mueller dkk. (1956) mengemukakan bahwa jumalh nitrogen yang
diretensi dipengaruhi oleh imbangan zat-zat makanan dalam ransum terutama
protein dan energi metabolis. Turun naiknya konsumsi protein dan energi
metabolis dalam ransum akan mempengaruhi jumlah retensi nitrogen yang sangat
penting bagi pertumbuhan.
Wahju (1992) menyatakan bahwa apabila kandungan energi dalam ransum
tinggi sedangkan kandungan protein rendah akan menyebabkan retensi nitrogen
menjadi rendah. Hal ini disebabkan bahwa dengan meningkatnya kandungan
energi dalam ransum tanpa diikuti peningkatan protein akan menyebabkan
turunnya konsumsi ransum, sehingga protein yang dikonsumsi akan menurun
yang pada gilirannya nitrogen yang diretensi menjadi rendah. Oleh karena itu,
meningkatnya energi dalam ransum harus diikuti oleh peningkatan kandungan
proteinnya. Dengan begitu kebutuhan protein untuk pertumbuhan dapat dipenuhi.


35
Sebaliknya apabila kandungan energi dalam ransum rendah dan kandungan
proteinnya tinggi, maka nitrogennya yang diretensi akan tinggi pula. Hal itu
disebabkan protein yang dikons umsi digunakan untuk kebutuhan energi,
sehingga protein untuk menunjang pertumbuhan tidak terpenuhi.
2.9. Sistem Pencernaan Ayam Broiler
Sistem pencernaan merupakan sistem yang terdiri dari saluran pencernaan
dan organ-organ pelengkap yang berperan dalam proses perombakan bahan
makanan, baik secara fisik, maupun kimia menjadi zat-zat makanan yang siap
diserap oleh dinding saluran pencernaan (Parakkasi, 1983). Sedangkan menurut
Anggorodi (1985) pencernaan adalah penguraian bahan makanan ke dalam zat-
zat makanan dalam saluran pencernaan untuk dapat diserap dan digunakan oleh
jaringan-jaringan tubuh.
Pada pencernaan terdapat suatu proses mekanis dan khemis dan
dipengaruhi oleh banyak faktor. Lebih lanjut Tillman, dkk., (1998) menyatakan
bahwa saluran pencernaan dari semua hewan dapat dianggap sebagai tabung
yang dimulai dari mulut sampai anus dan fungsinya dalam saluran pencernaan
adalah mencernakan dan mengabs orpsi makanan dan mengeluarkan sisa
makanan sebagai tinja. Anatomi sistem pencernaan unggas diperlihatkan pada
gambar 1.




Gambar 1. Anatomi sistem pencernaan


36
Sistem pencernaan unggas berbeda dengan sistem pencernaan ternak
mamalia atau ternak ruminansia, karena pada unggas tidak memiliki gigi tetapi
paruh untuk melumat makanan, unggas menimbun makanan yang dimakannya
dalam tembolok, suatu ventrikulum (pelebaran) esofagus yang tak terdapat pada
ternak non-ruminansia lain. Kemudian makanan tersebut dilunakkan sebelum
masuk ke proventrikulus. Makanan secara cepat melewati proventrikulus ke
ventrikulus atau empela. Fungsi utama empela adalah untuk menghancurkan
makanan dan menggiling makanan kasar, dengan bantuan grit (batu kecil dan
pasir) sampai menjadi bentuk pasta yang dapat masuk ke dal am usus halus.
Setelah makanan masuk ke dalam usus halus, pekerjaan pencernaan sama dengan
pada hewan non-ruminansia lain.
Usus besar unggas sangat pendek jika dibandingkan dengan hewan non-
ruminansia lain, terutma dengan babi dan manusia. Kenyataan ini dihubungkan
dengan jalannya makanan di kolon dan sekum, diketahui bahwa ada aktivitas
jasad renik dalam usus besar unggas tetapi sangat rendah jika dibandingkan
dengan non-ruminansia lain. Kenyataaanya, sangat diragukan apakah selulosa
mengalami hidrolisis dalam usus besar, namun ada petunjuk bahwa hemiselulosa
mengalami sedkit hidrolisis.
Prinsip penentuan kecernaan za t-zat makanan adalah menghitung
banyaknya zat-zat makanan yang dikonsumsi dikurangi dengan banyaknya zat
makanan yang dikeluarkan melalui feses (Schneider dan Flatt, 1975; Ranjhan,
1980). Koefisien cerna adalah selisih antara zat-zat makanan yang terkandung
dalam makanan yang dimakan dan zat-zat makanan dalam feses adalah jumlah
yang tinggal dalam tubuh hewan atau jumlah dari zat-zat makanan yang dicerna
(Anggorodi, 1984). Tillman, dkk., (1984) mengasumsikan bahwa daya cerna


37
adalah zat gizi yang tidak terdapat dalam feses adalah habis untuk dicerna dan
diabsorbsi.
Pada unggas terdapat masalah khusus dalam saluran pencernaan karena
urine dan feses keluar bersama-sama melalui kloaka sehingga k eduanya
bercampur, tetapi hal ini dapat diusahakan dengan jalan pemisahan nitrogen urine
dan feses secara kimia, atau dilakukan pembedahan untuk memisahkan saluran
urine dari kloaka, dan dapat pula dengan teknik pembunuhan untuk koleksi
sampel dari usus besar sampai kloaka mengikuti metoda Sklan dan Hurwitz
(1980) yang disitir Wiradisastra (1986) dimodifikasi Abun (2003).

2.9.1. Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik
Pakan yang dikonsumsi sebelum siap dimanfaatkan oleh tubuh ternak,
terlebih dahulu harus mengalami perombakan. Bahan pakan tersebut dirombak
melalui degradasi yang berlangsung dalam saluran pencernaan (Lubis, 1963).
Umumnya zat-zat makanan yang sering diukur kecernaaannya adalah bahan
kering, bahan organik, protein dan serat kasar dan BETN (Anggorodi,1994).
Pada kondisi normal, konsumsi bahan kering dijadikan ukuran konsumsi
ternak, konsumsi bahan kering bergantung pada banyak faktor, diantaranya
adalah kecernaan bahan kering pakan, kandungan energi metabolisme pakan dan
kandungan serat kasar pakan (Kearls, 1982).
Kecernaan bahan kering diukur untuk mengetahui jumlah zat makanan
yang diserap tubuh. Melalui analisis dari jumlah bahan kering, baik dalam
ransum maupun dalam feses. Jumlah bahan kering yang dikonsumsi dan jumlah


38
yang diekskresikan dapat dihitung dan selisihnya adalah yang dapat dicerna
(Ranjhan,1982; Tillman, dkk.,1998). Bahan-bahan organik yang terdapat dalam
pakan tersedia dalam bentuk ti dak larut, sehingga diperlukan suatu proses
pemecahan zat-zat tersebut menjadi zat -zat yang mudah larut (Tillman,
dkk.,1998).
2.9.2. Kecernaan Protein Kasar
Protein merupakan struktur yang sangat penting untuk jaringan –jaringan
lunak di dalam tubuh hewan seperti urat daging, tenunan pengikat, kolagen, kulit,
rambut, kuku dan di dalam tubuh ayam untuk bulu, kuku dab bagian tanduk dan
paruh (Juju Wahyu, 1997). Selain itu, protein merupakan salah satu diantara zat-
zat makanan yang mutlak dibutu hkan ternak baik untuk hidup p okok,
pertumbuhan dan untuk produksi (Parakkasi, 1983). Sedangkan Anggorodi
(1980) menyatakan protein dapat digunakan untuk memperbaiki jaringan yang
rusak , pertumbuhan dan metabolisme. Tillman, dkk., (1998) menyatakan protein
adalah senyawa organik kompleks dan merupakan suatu mol ekul makro dan
polimer dari asam-asam amino yang digabungkan dengan ikatan peptida.
Kecernaan protein kasar tergantung pada kandungan protein di dalam
ransum (Ranjhan, 1977). Ransum yang kandungan proteinnya rendah, umumnya
mempunyai kecernaan yang rendah pula dan sebaliknya. Hal ini sejalan dengan
pendapat Scheider dan Flatt (1 975) dan Tillman, dkk., (1989) yang
mengemukakan bahwa tinggi rendahnya kecernaan protein tergantung pada
kandungan protein bahan pakan dan banyaknya protein yang masuk dalam
saluran pencernaan. Protein merupakan bagian dari bahan kering sehingga bila


39
kecernaan bahan kering tinggi maka kecernaan protein tinggi pula, dimana
tingginya kecernaan menunjukan tingginya kualitas bahan pakan.
2.10. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecernaan
Kecernaan setiap bahan makanan at au ransum dipengaruhi oleh : ( 1)
spesies hewan (2) bentuk fisik makanan (3) komposisi bahan makanan atau
ransum (4) tingkat pemberian makanan (5) temperatur lingkungan serta (6) umur
hewan (Ranhjan dan Pathak, 1979). Menurut Maynard dan Loosli (1969),
perbedaan kecernaan bahan makanan pada hewan terjadi karena perbedaan
anatomi dan dan fisiologi dari saluran pencernaan. Sedangkan menurut
Anggorodi (1984) berpendapat yang mempengaruhi daya cerna adalah : (1) suhu
(2) laju perjalanan melalui alat pencernaan (3) bentuk fisik bahan makanan (4)
komposisi ransum (5) pengaruh terhadap perbandingan dari zat makanan lainnya.













40
III
BAHAN DAN METODE PENELITIAN


3.1. Bahan dan Alat Penelitian Tahap I (Fermentasi Bungkil Inti Sawit)
3.1.1. Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Bungkil Inti Sawit yang diperoleh dari Pabrik Pengolahan Inti Sawit PTPN
IV Unit Pabatu, kabupaten deli Serdang Sumatera Utara
2. Kapang Marasmius sp dalam media PDA agar miring pada tabung reaksi
sebagai biakan murni yang diperoleh dari Laborarotarium Mikrobiologi dan
Fermentasi ITB Bandung
3. Media Agar Ekstrak Kentang-Yeast (PDAY)
4. Mineral standar (NH
4
NO
3
0,5 %, KCL 0,05 %, MgSO
4
.7H
2
O 0,05 %,
FeSO
4
.7H
2
O 0,01 % dan mineral CuSO
4
.5H
2
O 0,001)
3.1.2. Alat Penelitian
Alat penelitian pada tahap pertama yaitu :
1. Timbangan OHAUS kapasitas 310 gram
2. Sendok Pengaduk
3. Plastik
4. Lemari incubator
5. Kapas steril


41
6. Pemanas spirtus
7. Kawat oase
8. Blender
9. Gelas ukur
10. Alumunium Foil
11. Termometer
12. Tabung reaksi dan Cawan Petri
13. Auto Clave
3.2. Bahan dan Alat Penelitian Ta hap Kedua (Penentuan Energi
Metabolis dan pengukuran Kecernaan).

3.2.1. Bahan Penelitian
Bahan - Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Penelitian akan menggunakan ayam broiler strain Arbor Acress (CP 707)
sebanyak 20 ekor, berumur 7 minggu dengan berat badan rata-rata 2,3 kg dan
koefisien variasi tidak lebih dari 10%. Ayam dibagi secara acak ke dalam 20
unit kandang, tanpa pemisahan jenis kelamin, masing-masing ditempatkan
pada kandang individu (Individual cages) setiap kandangnya diberi nomor
untuk memudahkan pencatatan.
2. Obat-obatan
Jenis obat-obatan yang digunakan berupa obat cacing, digunakan untuk
menghilangkan cacing yang terdapat dalam saluran pencernaan sehingga
tidak menyebabkan penyakit pada saluran pencernaan dan ayam d iberi


42
vitamin pada saat baru datang untuk mengurangi stress pada lingkungan
barunya
3.2.2. Alat Penelitian
Peralatan yang digunakan selama penelitian tahap kedua adalah :
1. Kandang Penelitian
Kandang yang akan digunakan da lam penelitian adalah kandang
individual dengan ukuran 35 cm x 25 cm x 40 cm. Masing-masing kandang
dilengkapi dengan tempat pakan dan air minum, diletakan dise belah luar
kandang. Sebelum kandang digunakan, kandang dibersihkan dan desinfektan
dengan menggunakan formalin kemudian dilakukan pengapuran agar terhindar
dari penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme yang merugikan.
2. Tempat pakan dan air minum
3. Timbangan analitik, digunakan untuk menimbang pakan, bungkil inti sawit
dan produk fermentasi, serta menimbang feses.
4. Baki plastik dan alumunium foil untuk menampung feses.
5. Termometer untuk mengukur suhu kandang.
6. Hygrometer untuk mengukur kelembaban kandang.
7. Split (alat suntik) yang sudah dimodifikasi untuk mencekok ayam.





43
3.3. Alat dan Bahan Penelitian Tahap III ( Feeding Trial )
3.3.1. Bahan Penelitian
Percobaan tahap tiga adalah untuk menguji produk fermentasi bungkil inti
sawit terbaik hasil penelitian tahap satu dan dua dengan ber bagai tingkat
penggunaan dalam ransum terhadap performan ayam broiler, ser ta produksi
karkas dan komponennya. Adapun bahan y ang digunakan adalah sebagai
berikut :
1. Ayam. Ayam yang akan digunakan adalah ayam broiler umur 1 hari (DOC)
strain “Cobb” sejumlah 300 ekor tanpa pemisah jenis kelamin.
2. Kandang dan perlengkapannya. Kandang yang akan digunakan adalah
system cage dengan ukuran 1 m X 1m untuk 10 ekor ayam, sebanyak 30 unit.
3. Pakan. Bahan pakan yang akan digunakan adalah jagung kuning, dedak
halus, bungkil kedele, wheat bran, tepung ikan, meat bone meal, corn glutein
meal, rape seed meal, tepung tulang, premix; dan bungkil inti sawit produk
fermentasi dengan perlakuan dalam ransum sebanyak 0%; 15%; 20%; 25%;
30; dan 35%.

3.4. Peubah yang Diukur.
3.4.1. Penelitian Tahap I (Fermentasi Bungkil Inti Sawit)
Peubah yang diukur pada penelitian ini adalah perubahan Kandungan Gizi
dari Bungkil Inti Sawit berupa protein kasar, serat kasar dan bahan kering.


44
3.4.2. Penelitian Tahap II (Pengukuran Energi Metabolis dan Nilai
Kecernaan)

Peubah yang diukur pada penelitian ini adalah Nilai Energi Metabolis dan
Retensi N, Kandungan bahan kering pakan, kandungan protein kasar pakan,
kandungan bahan organik pakan, serta kandungan lignin pakan; kandungan
bahan kering ekskreta, kandungan protein kasar ekskreta, kandungan bahan
organik ekskreta, serta kandungan lignin ekskreta.
3.4.3. Penelitian Tahap III (Feeding Trial)
Peubah yang diamati meliputi : konsumsi ransum, pertambahan bobot
badan, konversi ransum, persentase karkas dan komponennya, serta keuntungan
kotor (“income over feed and chick cost”).
3.5. Metode Penelitian
3.5.1. Tahapan Penelitian Tahap I (Fermentasi Bungkil Inti Sawit)
1. Pembuatan Media Ekstrak Kentang.
Sebanyak 300 gram kentang diblender kemudian dimasak dalam 1000 ml
aquades selama 2,5 jam, disaring dengan kain kasa, dan ekstraknya ditambah
30 gram gula pasir dan 15 gram agar batang, dimasak sampai larut. Setelah
larut kemudian ditutup dengan kapas dan di autoclave dengan tekanan 120
kPa (17 psi) selama 25 menit, kemudian didinginkan dengan meletakan pada
posisi miring.




45
2. Perbanyakan Jamur.
Biakan Murni Marasmius sp digoreskan pada media ekstrak kentang-yeast
steril kemudian diinkubasikan pada suhu 30
0
C selama 6 hari.
3. Pembuatan Inokulum.
Larutan inokulum terlebih dahulu dibuat dengan cara mengencerkan biakan
murni dengan aquadest steril kemudian larutan inokulum diinokulasikan pada
80 gram BIS dan 15 gram jagungsteril serta 5% mineral, kemu dian
diinkubasi selama 2 minggu pada suhu 30
0
C, dipanen dan dikeringkan pada
suhu 40
0
C, digiling dan siap diinokulasi.
4. Perhitungan Spora
1 gram inokulum diambil kemudian dimasukan kedalam tabung reaksi,
setelah itu tambahkan 9ml aquadest steril kemudian diencerkan sampai
dengan 10
-6
. Pada pengenceran 10
-5
dan 10
-6
diambil masing-masing
sebanyak 1ml kemudian masukan kedalam cawan petri bersamaan dengan
media agar ekstrak kentang-yeast steril, diamkan selama semalam kemudian
hitung jumlah spora yang aktif dalam cawan petri.
5. Fermentasi Bungkil Inti Sawit.
Bungkil Inti Sawit sebanyak 100 gram dimasukkan dalam kantong plastik
15 x 25 cm, ditambahkan air sebanyak 60 ml kemudian dikukus selama 1 jam
sejak air kukusan mendidih, didinginkan dan ditambahkan larutan mineral
standar. Substrat yang telah ditambahkan larutan mineral standar kemudian


46
diinokulasi dengan dosis inokulum sebanyak 5,0; 7,5; dan 10,0 %, kemudian
diinkubasi dengan suhu kamar selama 2; 3; dan 4 minggu. Setelahmasa
inkubasi selesai, bungkil inti sawit yang telah difermentasi dikeringkan
didalam oven dengan suhu 60
0
C selama 24 jam, setelah kering digiling dan
siap dianalisis proksimat untuk pengujian nilai nutrisi.
6. Larutan Mineral Standar.
Larutan mineral standar dibuat dengan melarutkan mineral yang terdiri atas
mineral NH
4
NO
3
0,5 %, KCL 0,05 %, MgSO
4
.7H
2
O 0,05 %, FeSO
4
.7H
2
O
0,01 % dan mineral CuSO
4
.5H
2
O 0,001 kedalam 1000ml aqudest. Larutan
mineral standar ditambahkan kedalam masing-masing perlakuan, kemudian
diaduk sampai homogen.
3.5.2. Penelitian Tahap II ( Pengukuran Penentuan Energi Metabolis dan
pengukuran Kecernaan).

1. Pengukuran Energi Metabolis
Uji biologis dilakukan secara eksperimen pada ayam broiler umur 5 minggu.
Pakan diberikan secara tunggal (BIS tanpa fermentasi dan produk fermentasi)
dengan metode “force feeding” untuk menentukan kandungan energi metabolis
bungkil inti sawit dan produk fermentasi hasil penelitian yang terpilih pada
Tahap I.
Penentuan nilai energi metabolis dilakukan terhadap 30 ekor ayam broiler
umur 5 minggu yang ditempatkan secara acak pada kandang individu dengan
ukuran 35 X 35 X 40 cm . Ayam dipuasakan selama 36 jam, untu k


47
menghilangkan sisa pakan dalam saluran pencernaannya. Selanjutnya 15 ekor
ayam broiler diberi BIS tanpa fermentasi, dan 15 ekor yang lainnya diberi BIS
produk fermentasi masing-masing sebanyak 100 gram per ekor. Penampungan
feses dilakukan selama 36 jam setelah diberi pakan. Feses yang keluar, setiap 3
jam disemprot dengan asam borat 5% untuk menghindari penguapan nitrogen.
Feses hasil penampungan dibersihkan dari bulu dan kotoran lainnya, kemudian
ditimbang dan selanjutnya dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 40
0
C selama 2 hari. Feses yang sudah kering dianalisis kandungan nitrogen dan
energi brutonya. Perhitungan energi metabolis mengacu pada metode Sibblald
dan Morse (1983), dengan rumus sebagai berikut:



Keterangan:
EMn = Energi metabolis bahan pakan yang dikoreksi oleh nitrogen yang
diretensi (kkal/kg).
Ebr = Energi bruto bahan pakan (kkal/kg)
Ebe = Energi bruto feses (kkal/kg)
K = Banyaknya bahan pakan yang dikonsumsi (kg)
Je = Jumlah feses (kg)
Nr = Nitrogen bahan pakan (%)
Ne = Nitrogen feses (%)
8,22 = Konstanta nilai energi

2. Pengukuran Nilai Kecernaan.
Penentuan nilai kecernaan bungkil inti sawit produk fermentasi dan tanpa
fermentasi dilakukan secara eksperimen terhadap 30 ekor ayam broiler umur 6
minggu. Ayam ditempatkan secara acak ke dalam kandang individu, kemudian
dipuasakan selama 36 jam untuk menghilangkan sisa ransum sebelumnya dari
(K X Nr) – (Je X Ne)
EMn (kkal/kg) = (Ebr X K) – (Je X Ebe) - 100 100 X 8,22
K


48
saluran pencernaan. Pakan diberikan secara “force-feeding” dalam bentuk pasta
yang dimasukkan ke dalam oesophagus sebanyak 100 gram per ekor. Dalam
percobaan ini 15 ekor ayam diberi bungkil inti sawit tanpa fermentasi dan 15
ekor yang lainnya dibri bungkil inti sawit produk fermentasi. Setelah 14 jam
sejak ayam diberi makan, ayam-ayam disembelih dan usus besarnya dikeluarkan
untuk mendapatkan sampel ekskreta. Sampel ekskreta kemudian ditimbang,
dikeringkan dan seterusnya dianalisis kandungan bahan kering, bahan organik,
protein kasar dan lignin (indikator internal).
Untuk mendapatkan nilai kecernaan, mengikuti metode dari Schneider dan
Flatt (1975) dan Ranjhan (1980), yang menggunakan metode indikator internal
(berupa lignin pakan dan feses) dengan rumus sebagai berikut:

% indikator dlm ransum % nutrien dlm ekskreta
Kecernaan = 100 -100 x
% indikator dlm ekskreta % nutrien dlm ransum
3.5.3. Penelitian Tahap III (Feeding Force)
Percobaan dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan rancangan
acak lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan ransum dan masing-masing diulang 5
kali, dan setiap unit percobaan terdiri atas 10 ekor ayam broiler. Perlakuan yang
diberikan adalah tingkat bungkil inti sawit produk fermentasi (terpilih pada
penelitian tahap satu dan dua) dalam ransum, yaitu: 0%; 15%; 20%; 25%; 30%
dan 35%. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam . Apabila terdapat
perbedaan antar perlakuan akan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan .


49
Perlakuan ransum adalah sebagai berikut:
1. R
O
= 0 % BIS produk fermentasi dalam ransum.
2. R
1
= 15 % BIS produk fermentasi dalam ransum.
3. R
2
= 20 % BIS produk fermentasi dalam ransum.
4. R
3
= 25 % BIS produk fermentasi dalam ransum.
5. R
4
= 30 % BIS produk fermentasi dalam ransum.
6. R
5
= 35 % BIS produk fermentasi dalam ransum

3.6. Rancangan Percobaan dan Analisis Statistik
3.6.1. Penelitian Tahap I ( Fermentasi Bungkil Inti Sawit )
Penelitian tahap pertama dilak ukan dengan menggunakan metode
eksperimen. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola
faktorial 3x3 tiap ulangan diulang 3 kali, adapun faktor pertama adalah dosis
inokulum yaitu D
1
= 5%, D
2
= 7,5%, D
3
= 10%, sedangkan faktor yang kedua
adalah lamanya fermentasi yaitu W
1
= 2 minggu, W
2
= 3 minggu, W
3
= 4
minggu, Adapun model percobaan sebagai berikut :

Keterangan :
Y
ijk
= Nilai pengamatan pengaruh bersama dosis inokulum taraf ke-I dan
lama inkubasi ke-j yang terdapat pada ulangan ke-k
 = Nilai rataan umum
( )
ijk ij j i
Yijk E + + + + =    


50
i
 = Pengaruh aditif dari faktor dosis inokulum taraf ke-i
j
 = Pengaruh dari faktor lama inkubasi ke-j
( )
ij
 = Pengaruh interaksi faktor inokulum taraf ke-i dan lama inkubasi
taraf ke-j
E
ijk
= Pengaruh galat dari ulangan percobaan ke-k yang memperoleh
kombinasi perlakuan dosis inokulum taraf ke-idan lama inkubasi
taraf ke-j.
Asumsi :
4. Komponen ( )
ijk ij j i
danE , , , ,     bersifat aditif
5. Pengaruh Faktor dosis dan lama fermentasi bersifat tetap
6. galat percobaan menyebar normal bebas dengan nilai tengah sama dengan 0
dan ragam
2

Tabel 1. Kombinasi Perlakuan
Dosis
Inokulum
Waktu Inkubasi
(D) W
1
W
2
W
3
D
1
D
1
W
1
D
1
W
2
D
1
W
3

D
2
D
2
W
1
D
2
W
2
D
2
W
3

D
3
D
3
W
1
D
3
W
2
D
3
W
3






51
Tabel 2. Daftar Sidik Ragam
Sumber Keragaman Db JK KT Fhit F.05 F.01
Dosis Inokulum 2 JK
D
JK
D
/2 KT
D
/KTG
Waktu Inkubasi 2 JK
W
JK
W
/2 KTw/KTG


Interaksi 4 JK
DW
JK
DW
/4 KT
DW
/KTG
Galat 18 JKG JKG/18 - - -
Total 26 JKTotal

Bentuk formulasi hipotesanya adalah :
1) Ho : D
1
= D
2
= D
3

H1 : D
1
≠ D
2


D
3
atau paling sedikit sepasang D

yang tidak sama
2) Ho : W
1
= W
2
= W
3

H1 :W
1


W
2


W
3
atau paling sedikit ada sepasang I
1
yang tidak sama
3) Ho : D x W = 0
H1 : D x W ≠ 0
Kaidah keputusan yang digunakan adalah :
a) Jiak F
hitung
> F
tabel
pada taraf 5 %, pengaruh perlakuan dikatakan nyata dan
hasil F
hitung
ditandai dengan superskrip
*

b) F
hitung
≤ F
tabel
pada taraf 5 %, pengaruh perlakuan dikatakan tidak nyata dan
hasil F
hitung
ditandai dengan superskrip
tn

Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis sidik r agam, apabila
terdapat perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan


52
antara perlakuan (Duncan New Multiple Range Test), sesuai dengan petunjuk
Steel dan Torries, 1995.
6.6.1. Penelitian Tahap II ( Pengukuran Penentuan Energi Metabolis dan
pengukuran Kecernaan).

3. Pengukuran Energi Metabolis
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan “t-Student” untuk
melihat perbedaan energi metabolis produk fermentasi dan tanpa fermentasi.
4. Pengukuran Nilai Kecernaan.
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan “t-Student” untuk
melihat perbedaan nilai kecernaan produk fermentasi dan tanpa fermentasi
dengan rumus sebagai berikut :











2 n n
1)Sd (n 1)Sd (n
s
2 1
2
2 2
2
1 1
÷ +
÷ + ÷
=
( )
1 n
Sd
1
2
, 1
1
÷
X ÷ X ¿
=
i
( )
1 n
Sd
1
2
2 , 1
2
÷
X ÷ X ¿
=
i
2
n
1
1
n
1
s
2
X
1
X
t
+
÷
=


53
Keterangan:


Sd
1
= Simpangan Baku Bungkil inti sawit non fermentasi
Sd
2
= Simpangan Baku Bungkil inti sawit fermentasi
X
1
= Bungkil inti sawit non Fermentasi
X
2
= Bungkil inti sawit Fermentasi
n = Jumlah Pengamatan
s = Simpangan baku gabungan

Kaidah Keputusan:
H
0
: µ
1
= µ
2

H
1
: µ
1
< µ
2

Keterangan:
H
0
: Rata-rata nilai kecernaan bungkil i nti sawait non fermentasi sama
dengan rata-rata nilai kecernaan bungkil inti sawit produk fermentasi.
H
1
: Rata-rata nilai kecernaan bungkil inti sawit tanpa fermentasi lebih kecil
dari pada rata-rata nilai kecernaan bungkil inti sawit produk fermentasi.
Maka: Bila t
hit
s - t
0,05
(n
1
+n
2
– 2); tolak H
0
dan terima H
1
: µ
1
s µ
2
(n,s)
Bila t
hit
> -t
0,05
(n
1
+n
2
– 2); terima H
0
: µ
1

1
(n,s)

fermentasi non sawit inti Bungkil rata Rata X
1
÷ =
fermentasi sawit inti Bungkil rata Rata X
2
÷ =


54
3.4.3. Penelitian Tahap III (Feeding Trial)
Percobaan dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan rancangan
acak lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan ransum dan masing-masing diulang 5
kali, dan setiap unit percobaan terdiri atas 10 ekor ayam broiler. Perlakuan yang
diberikan adalah tingkat bungkil inti sawit produk fermentasi (terpilih pada
penelitian tahap satu dan dua) dalam ransum, yaitu: 0%; 15%; 20%; 25%; 30%
dan 35%. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam . Apabila terdapat
perbedaan antar perlakuan akan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan .
Perlakuan ransum adalah sebagai berikut:
6. R
O
= 0 % BIS produk fermentasi dalam ransum.
7. R
1
= 15 % BIS produk fermentasi dalam ransum.
8. R
2
= 20 % BIS produk fermentasi dalam ransum.
9. R
3
= 25 % BIS produk fermentasi dalam ransum.
10. R
4
= 30 % BIS produk fermentasi dalam ransum.
6. R
5
= 35 % BIS produk fermentasi dalam ransum.










55
IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Penelitian Tahap I (Fermentasi Bungkil Inti Sawit)
4.1.1. Pengaruh Perlakuan terhadap Perubahan Kandungan Bahan Kering

Kandungan bahan kering bungkil inti sawit sebelum dan sesuda h
fermentasi serta perubahannya tertera pada Lampiran 2. Rataan Peningkatan
Kandungan Bahan Kering Bungkil Inti Sawit disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Rataan Peningkatan Bahan Kering pada setiap Dosis Inokulum
dan Lama Fermentasi
Dosis Lama Fermentasi
W
1
W
2
W
3
---------------------------------%------------------------------
D
1
37,94

57,89

77

D
2
54,02

75,69

76,23

D
3
71,80

76,95

77,87

Ket : - D
1
: Dosis Inokulum 5 % - W
1 :
Waktu Fermentasi 2 minggu
-D
2
: Dosis Inokulum 7,5 % - W
2
: Waktu Fermentasi 3 minggu

-D
3
: Dosis Inokulum 10 % - W
3
: Waktu Fermentasi 4 minggu

Tabel 3 di atas memperlihatkan bahwa fermentasi bungkil inti sawit
dengan menggunakan jamur Marasmius sp dapat meningkatkan bahan kering
dengan peningkatan bahan kering yang variatif. Peningkatan bahan kering
terkecil dicapai pada perlakuan dosis 5% dan dengan lama waktu fermentasi 2
minggu (37,94%), dan yang tert inggi dicapai pada perlakuan d engan


56
menggunakan dosis 10% dengan lama waktu fermentasi 4 minggu (77%) dari
bungkil inti sawit tanpa fermentasi. Peningkatan bahan kering bungkil inti sawit
dapat dilihat pada Ilustrasi 1 dibawah ini.
Peningkatan Kandungan Bahan Kering
36.04
13.72
24.92
38.28
38.59
14.25
40.77
16.08
39.26
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
2 3 4
Waktu Fermentasi (Minggu)
% Peningkatan
D1
D2
D3

Ilustrasi 1 . Grafik Peningkatan Kandungan Bahan Kering Bungkil Inti
Sawit.

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap peningkatan kandungan
bahan kering dilakukan uji statistik dengan menggunakan sidik ragam. Hasil
analisis keragaman memperlihatkan (Lampiran 5 ) bahwa perlak uan dosis
inokulum ataupun lama fermentasi berpengaruh nyata terhadap peningkatan
bahan kering bungkil inti sawit, dari hasil analisis keragaman memperlihatkan
juga bahwa terdapatnya interaksi antara kedua faktor perlakuan. (P<0,05).
Selanjutnya untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan terhadap peningkatan


57
kandungan bahan kering bungkil inti sawit produk fermentasi maka dilakukan uji
lanjut berupa uji jarak berganda Duncan yang disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Uji Jarak Berganda Duncan Pengaruh Interaksi Perlakuan
terhadap Peningkatan Kandungan Bahan Kering Bungkil Inti
Sawit
Dosis Lama Fermentasi Rataan
W
1
W
2
W
3

-----------------------------------%--------------------------------
D
1
37,94
a
A 57,89
a
B 77
a
C 57,61
D
2
54,02
b
A 75,69
b
B 76,23
a
B 68,65
D
3
71,80
c
A 76,95
b
A 77,87
a
A 75,54
Rataan 54,59 70,18 77,03
Ket : -Huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkkan
perbedaan yang nyata (P<0,05).
-Huruf besar yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan
Perbedaan yang nyata (P<0,05).


Tabel 4 di atas memperlihatkan bahwa pengaruh perlakuan dosi s
inokulum pada setiap lama fermentasi adalah sebagai berikut : pada lama
fermentasi 2 minggu, perlakuan dosis inokulum 5 % (37,94 %) berbeda nyata
lebih rendah dibandingkan dengan dosis inokulum 7,5% (54,02%) dan 10 %
(71,8%) begitu juga dengan dosis inokulum 7,5 % (54,02%) nyata lebih rendah
dibandingkan dengan dosis inokulum 10 % (71,8%). Pada lama fermentasi 3
minggu perlakuan dosis 5 % (57,89%) berbeda nyata lebih rendah dengan dosis
inokulum 7,5% (75,69%) dan pada dosis inokulum 10 % (76,95%), tetapi apabila
perlakuan dosis inokulum 7,5 % (75,69%) dan dosis inokulum 10 % (76,95%)


58
pada waktu yang sama dibandingkan maka akan terlihat tidak ada perbedaan
yang nyata (P>0,05). pada lama fermentasi 4 minggu perlakuan dari ketiga dosis
inokulum memperlihatkan tidak ada perbedaan yang nyata (P>0,05).
Pengaruh lama fermentasi pada setiap dosis adalah sebagai berikut : pada
taraf dosis 5 %, lama waktu 2 minggu (37,94%) berbeda nyata lebih rendah
dibandingkan dengan lama fermentasi 3 minggu (57,89%) dan 4 minggu (77%),
demikian juga lama fermentasi 3 minggu (57,89%) nyata lebih rendah
dibandingkan dengan lama fermentasi 4 minggu (77%). Pada dosis inokulum 7,5
% lama fermentasi 2 minggu (54 ,02%) berbeda nyata lebih rend ah dari
fermentasi 3 minggu (75,69%) dan 4 minggu (76,23%), tetapi pada dosis 7,5%
lama fermentasi 3 minggu (75,69%) jika dibandingkan dengan lama fermentasi 4
minggu (76,23%) memperlihatkan tidak ada perbedaan yang nyat a (P>0,05),.
Pada dosis 10 % perlakuan lama fermentasi tidak terdapat perbedaan yang nyata
(P>0,05).
Tabel 3 dan Ilustrasi 1 memper lihatkan bahwa secara umum terjadi
peningkatan terhadap bahan kering, peningkatan tertinggi diperoleh pada dosis
inokulum 10 % dengan lama waktu 4 minggu (77,87 %) hal ini disebabkan
karena makin tinggi dosis inokulum yang digunakan makin cepat pertumbuhan
populasi jamur Marasmius sp yang pada gilirannya dengan meningkatnya
populasi jamur yang akan mengakibatkan kehilangan sejumlah air yang terikat
dalam bungkil inti sawit sehingga akan berakibat terhadap peningkatan bahan


59
kering substrat. Berkurangnya air yang terikat dalam bungkil inti sawit ini
disebabkan air tersebut digunakan oleh jamur Marasmius sp untuk kebutuhan
hidupnya selama fase pertumbuhan dan perkembangan sehingga pada fase
tersebut akan terjadi proses epavorasi yang menyebabkan air pada substrat
hilang. Penguapan air pada waktu proses pengolahan dan pengeringan dapat juga
dijadikan indikator terhadap peningkatan bahan kering. Selain itu peningkatan
bahan kering juga dipengaruhi pada proses penggilingan produk menjadi tepung
dimana pada saat proses tersebut berlaku, maka akan berakibat terhadap luas
permuakan bahan atau produk akan meregang sehingga akan memungkinkan
pengeluaran sejumlah air yang terikat dalam bahan pakan (Winarno,et al.,1980).
Peningkatan bahan kering sejal an dengan bertambahnnya waktu
fermentasi. Peningkatan kadar bahan kering tertinggi dicapa i pada lama
fermentasi 4 minggu, hal ini dikarenakan semakin lama waktu fermentasi akan
menyebabkan lebih banyak air yang terikat dalam substrat itu digunakan oleh
jamur Marasmius sp untuk pertumbuhan dan perkembangan miseliumnya, selain
itu semakin lama fermentasi maka akan semakin banyak air yang akan menguap
ketika proses fermentasi terus berlangsung.
Tabel 4 di atas setelah diuji jarak berganda Duncan memperl ihatkan
bahwa pada lama fermentasi 4 minggu tidak terdapat perbedaan yang nyata pada
setiap dosis yang dilakukan, hal ini dapat dijelaskan karena pada saat itu
perkembangan dan pertumbuhan jamur Marasmius sp berada pada fase stasioner


60
dimana pada fase ini jumlah populasi mikroba menjadi sedikit karena kandungan
nutrient bahan yang digunakan oleh jamur berkurang sehingga menyebabkan
banyak koloni jamur bersaing u ntuk mendapatkan nutrient untu k
pertumbuhannya termasuk air.
Tabel 4 memperlihatkan bahwa pada dosis fermentasi 10 % deng an
pemberian perlakuan waktu yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang
nyata (P>0,05), hal ini dapat dijelaskan bahwa pada dosis tersebut populasi
mikroba pada substrat semakin meningkat yang menyebabkan ter jadinya
persaingan mikroba untuk menda patkan air serta nutrient lainnya untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga peningkatan bahan kering menjadi
stagnan pada kisaran tertentu.
Hasil pengujian memperlihatkan bahwa pengaruh dosis 7,5 % de ngan
lama waktu fermentasi 3 minggu merupakan kombinasi yang terbaik terhadap
peningkatan kandungan gizi bungkil inti sawit hal ini dengan memperhatikan
segi efisiensi dari jamur Marasmius sp dalam mendegradasi komponen zat
makanan bungkil inti sawit.
4.1.2. Pengaruh Perlakuan terhadap Peningkatan Kandungan Protein
Kasar.

Kandungan protein bungkil inti sawit sebelum dan sesudah fermentasi,
serta perubahannya tertera pada Lampiran 3. Rataan Peningkat an kandungan
protein dari masing-masing perlakuan disajikan pada Tabel 5.


61
Tabel 5. Rataan Peningkatan Kandungan Protein Kasar pada setiap Dosis
Inokulum dan Lama Fermentasi oleh Marasmius sp
Lama Fermentasi
Dosis
W
1
W
2
W
3
--------------------------------%-------------------------------
D
1
3,58 10,15 17,45
D
2
5,08 27,62 25,65
D
3
19,86 19,74 19,47
Ket : - D
1
: Dosis Inokulum 5 % - W
1 :
Waktu Fermentasi 2 minggu
-D
2
: Dosis Inokulum 7,5 % - W
2
: Waktu Fermentasi 3 minggu

-D
3
: Dosis Inokulum 10 % - W
3
: Waktu Fermentasi 4 minggu

Tabel 5 di atas memperlihatkan bahwa fermentasi bungkil int i sawit
menggunakan Marasmius sp dapat meningkatkan kandungan protein kasar
dengan peningkatan yang variatif dari yang terkecil 3,58% sampai terbesar
27,62%. Peningkatan kandungan protein kasar disajikan pada Ilustrasi 2
Peningkatan Kandungan Protein Kasar
17.45
10.15
3.58
5.08
25.65
27.62
19.86
19.47
19.74
0
5
10
15
20
25
30
2 3 4
Waktu Fermentasi
%
Peningkatan
D1
D2
D3

Ilustrasi 2. Grafik Peningkatan Kandungan Protein Kasar Bungkil Inti
Sawit
(minggu)


62

Ilustrasi 2 di atas memperlih atkan bahwa secara umum terdap at
peningkatan protein kasar bungkil inti sawit yang disebabkan kombinasi antara
perlakuan. Untuk mengetahui pe ngaruh perlakuan terhadap peni ngkatan
kandungan protein kasar bungkil inti sawit hasil fermentasi maka dilakukan uji
statistik dengan menggunakan s idik ragam (Lampiran 6). Hasil analisis
keragaman pengaruh dosis inokulum dan lama fermentasi menunjukkan bahwa
ada pengaruh interaksi (P<0,05) antara dosis inokulum dan lama fermentasi
terhadap peningkatan protein kasar. Selanjutnya untuk mengetahui perbedaan
antara perlakuan terhadap peningkatan kandungan protein kasar bungkil inti
sawit produk fermentasi maka dilakukan Uji Jarak Berganda Duncan yang
disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Uji Jarak Berganda Du ncan Pengaruh Interaksi antar
perlakuan terhadap Peningkatan Kandungan Protein Kasar
Bungkil Inti Sawit.
Lama Fermentasi
Dosis W
1
W
2
W
3

Rataan
---------------------------------------%----------------------------------
D
1
3,58
a
A 10,15
a
B 17,45
a
C 10,39
D
2
5,08
a
A 27,62
b
B 25,65
b
B 19,45
D
3
19,86
b
A 19,74
b
A 19,47
ab
A 19,68
Rataan 9,51 19,17 20,58
Ket : -Huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkkan
perbedaan yang nyata (P<0,05).
-Huruf besar yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan
Perbedaan yang nyata (P<0,05).



63
Berdasarkan uji jarak berganda Duncan (Tabel 6) diperoleh ba hwa
pengaruh perlakuan dosis inokulum pada setiap lama fermentasi adalah sebagai
berikut : pada dosis 5 % dengan lama fermentasi 2 minggu berbeda nyata lebih
rendah dari 3 minggu dan 4 minggu, demikian juga lama fermentasi 3 minggu
berbeda nyata lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lama fermentasi 4
minggu. Pada dosis 7,5 % , lama fermentasi 2 minggu berbeda nyata lebih rendah
dibandingkan dengan lama fermentasi 3 dan 4 minggu, akan tetapi pada dosis
yang sama lama fermentasi antara 3 minggu dan 4 minggu tidak ada perbedaan
yang nyata (P>0,05) yang berarti secara statistik rataan yang dihasilkan sama
antara perlakuan. Pada dosis 10 % pengaruh perlakuan lama fermentasi tidak ada
perbedaan yang nyata (P<0,05)antara lama fermentasi 2; 3; da n 4 minggu.
Peningkatan kadar protein tertinggi dicapai pada interaksi dosis inokulum 7,5 %
dan lama waktu 3 minggu (27,62%).
Perlakuan dosis inokulum 5 % tidak berbeda nyata dengan perlakuan dosis
inokulum 7,5 % pada waktu 2 minggu akan tetapi dosis 5 % berbeda nyata lebih
rendah jika dibandingkan dengan dosis inokulum 10 % pada lama fermentasi 2
minggu, sedangkan perlakuan dosis 5 % pada lama fermentasi 3 minggu berbeda
nyata lebih kecil dibandingkan dosis inokulum 7,5 % dan 10 % akan tetapi pada
lama fermentasi yang sama dosis 7,5 % tidak berbeda nyata dengan dosis 10 %.
Pengaruh perlakuan dosis 5 % pada lama fermentasi 4 minggu memperlihatkan
bahwa pemberian dosis inokulum 5 % berbeda nyata lebih rendah dibandingkan


64
dengan dosis inokulum 7,5 % akan tetapi bila dibandingkan dengan dosisi
inokulum dosis 10 % tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata, pada waktu
yang sama dosis 7,5 % tidak berbeda nyata dengan dosis inokulum 10 %.
Peningkatan kadar protein tertinggi terdapat pada dosis 7,5%, hal ini
disebabkan semakain tinggi inokulum yang digunakan menyebabkan semakain
cepat pertumbuhan populasi jamur Marasmius sp yang pada gilirannya akan
berpengaruh terhadap produksi miselium sehingga aka n meningkatkan
kandungan nitrogen total secara proposional karena terdegradasinya serat kasar,
demikian juga terjadinya perombakan karbohidrat menjadi energi yang
diperlukan untuk proses pertumbuhan jamur tersebut (Griffin, et al.,1974).
Peningkatan protein sejalan dengan bertambahnya lama waktu fermentasi,
dari tabel 3 dapat diperoleh bahwa peningkatan protein tertinggi dicapai pada
interaksi dosis inokulum 7,5 % dengan lama waktu 3 minggu. Peningkatan
protein yang terjadi selama proses fermentasi berlangsung di akibatkan adanya
kerja dari mikroba tersebut dan adanya protein yang disumbangkan oleh tubuh
mikrobia akibat pertumbuhannya ( Halid ,1991 dan Tangedjaja,1987).
Kenaikan protein substrat selama proses fermentasi menandakan bahwa jamur
Marasmius sp mampu menggunakan bagian dari substrat untuk pertumbuhannya
dan pembentukan protein mikrobia. Peningkatan tersebut dapat dijelaskan
bahwa hal ini disebabkan oleh adanya pertumbuhan miselium yang banyak
mengandung protein (protein sel tunggal) selain itu juga peningkatan tersebut


65
disebabkan oleh adanya perubahan komponen zat makanan dari substrat tersebut
seperti halnya dengan penurunan serat kasar.
Hasil analisis uji berjarak Duncan dan Ilustrai 2 memperlihatkan adanya
penurunan sejumlah protein ketika proses fermentasi berlangsung, penurunan itu
terjadi pada dosis 7,5 % dan 10 % dengan lama waktu fermentasi antara 3 dan 4
minggu, hal ini dapat dijelaskan bahwa pada waktu tersebut masa pertumbuhan
jamur Marasmius sp berada pada fase stasioner pada waktu minggu ke-3 dan
fase menuju kematian pada wakt u minggu ke-4, hal ini dapat dilihat bahwa
jumlah koloni mengalami penurunan rentang waktu minggu ke-3 dan ke-4 (
Lampiran 7). Kedua yaitu pada waktu minggu ke-3 dan ke-4 terjadinya
penurunan pH dimana dengan adanya penurunan pH substrat menjadi sedikit
asam sehingga berpengaruh terhadap laju pertumbuhan dan perkembangan dari
jamur Marasmius sp tersebut. Dijelaskan oleh Blanchette,1992 bahwa jamur
busuk putih untuk dapat mendegradasi lignin secara efektif membutuhkan pH
kisaran 5,5 – 6,5. pertumbuhan dan kemampua n Marasmius sp dalam
mendegradasi komponen serat khususnya lignin bagaimana pun dipengaruhi oleh
perubahan pH eksternal walaupun mekanisme secara subseluller belum diketahui
(Eggins dan Allsop,1975). Dinyatakan oleh Trahayu (1994) bahwa jamur
Marasmius sp mampu tumbuh pada pH 2 – 12 akan tetapi pada pH 2 dan pH
diatas 10 pertumbuhan miselium terhambat, pH optimum untuk pertumbuhan
jamur Marasmius sp adalah 6-8. Melihat pendapat para ahli dapat disimpulkan


66
bahwa dengan penurunan pH akan berpengaruh terhadap metabolisme karena
perubahan pH berhubungan langsung dengan aktivitas katalik enzim sehingga
pertumbuhan miselium dari jamur tesebut terhambat. Ketiga adalah pengaruh
pemberian mineral yang berlebi h yang berakibat terhadap terh ambatnya
pertumbuhan miselium jamur Marasmius sp tersebut. Menurut Trahayu (1994),
penambahan nitrogen anorganik 0, 5 – 1 % dalam substrat serbuk ger gaji
memberikan pertumbuhan panjang miselium yang cukup tinggi se rta dapat
menurunkan kadar lignin dalam serbuk gergaji sebesar 20,31 – 23,16 %, namun
penurunan kadar lignin tertinggi terjadi pada penambahan nitrogen anorganik
sebanyak 1 %. Janshekar dan Fr ichter (1983) menyatakan bahwa nitrogen
anorganik hanya dibutuhkan pada saat dan konsentrasi yang sesuai, apabila
ketentuan ini tidak dipenuhi maka kelebihan nitrogen akan menghambat jalannya
proses pendegradasian lignin oleh jamur busuk putih. Kadar ammonium yang
terlalu tinggi dalam kultur akan mengakibatkan racun bagi jamur (Garraway dan
Evans.,1984).
Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pembe rian
nitrogen lebih dari 1% dalam substrat akan berakibat t erhadap penurunan
kemampuan jamur Marasmius sp dalam merombak zat – zat makanan yang ada
pada bungkil inti sawit, selain itu pemberian Nitrogen anorganik diambang batas
dapat mengakibatkan jamur mati karena keracunan.


67
Hasil pengujian memperlihatkan bahwa pengaruh dosis 7,5 % dengan
lama waktu fermentasi 3 minggu merupakan kombinasi yang terbaik terhadap
peningkatan kandungan Protein kasar bungkil inti sawit
4.1.3. Pengaruh Perlakuan terhadap Penurunan Kandungan Serat Kasar
Bungkil Inti Sawit.

Penurunan kandungan serat kasar Bungkil Inti Sawit sebelum dan sesudah
fermentasi serta perubahannya tertera pada lampiran 4. Rataan penurunan kadar
serat kasar dari masing – masing perlakuan disajikan pada Tabel 7.
Table 7. Rataan Penurunan Kandungan Serat Kasar pada setiap Dosis
Inokulum dan Lama fermentasi oleh Marasmius sp
Dosis Lama Fermentasi
W
1
W
2
W
3
----------------------------------%----------------------------------
D
1
13,72 24,92 36,04
D
2
14,25 38,28 38,59
D
3
16,08 39,26 40,77
Ket : - D
1
: Dosis Inokulum 5 % - W
1 :
Waktu Fermentasi 2 minggu
-D
2
: Dosis Inokulum 7,5 % - W
2
: Waktu Fermentasi 3 minggu

-D
3
: Dosis Inokulum 10 % - W
3
: Waktu Fermentasi 4 minggu

Tabel 7 di atas memperlihatkan adanya penurunan kadar serat kasar
Bungkil Inti Sawit yang variatif dimulai dari yang terendah 13,72 % sampai yang
tertinggi 40,77 %, dari data tersebut juga dapat kita lihat bahwa penurunan kadar
serat kasar dipengaruhi oleh dosis inokulum dan lama fermentasi. Tingkat
penurunan serat kasar dapat dilihat pada ilustrasi 3 dibawah ini.


68


Penurunan Kandungan Serat Kasar
24.92
13.72
36.04
38.28
14.25
38.59
16.08
39.26 40.77
0
10
20
30
40
50
2 3 4
Waktu Fermentasi (minggu)
%
P
enurunan
D1
D2
D3

Ilustrasi 3. Grafik Penurunan Kandungan Serat Kasar
Ilustrasi 3 diatas memperlihatkan bahwa secara umum terdapat penurunan
kandungan serat kasar bungkil inti sawit yang disebabkan kombinasi antara
perlakuan. Untuk mengetahui p engaruh perlakuan terhadap pen urunan
kandungan serat kasar bungkil inti sawit hasil fermentasi maka dilakukan uji
statistik dengan menggunakan s idik ragam (Lampiran 7). Hasi l analisis
keragaman pengaruh dosis inokulum dan lama fermentasi menunjukkan bahwa
ada pengaruh interaksi (P<0,05) antara dosis inokulum dan lama fermentasi
terhadap penurunan serat kasar. Selanjutnya untuk mengetahui perbedaan antara
perlakuan terhadap penurunan bungkil inti sawit produk fermentasi maka
dilakukan Uji Jarak Berganda Duncan yang disajikan pada Tabel 8.



69
Tabel 8. Uji Jarak Berganda D uncan Pengaruh Interaksi antar
perlakuan terhadap Penurunan Kandungan Serat Kasar
Bungkil Inti Sawit.
Lama Fermentasi
Dosis W
1
W
2
W
3

Rataan
------------------------------------%------------------------------------
D
1
13,72
a
A 24,92
a
B 36,04
a
C 24,89
D
2
14,25
a
A 38,28
b
B 38,59
a
B 30,37
D
3
16,09
a
A 39,26
b
B 40,77
a
B 32,04
Rataan 14,69 34,15 38,47
Ket : -Huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkkan
perbedaan yang nyata (P<0,05).
-Huruf besar yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan
Perbedaan yang nyata (P<0,05).

Hasil analisis keragaman (Lamp iran 7 ) memperlihatkan bahwa
terdapatnya interaksi yang sangat nyata antara dosis inokulu m dan lama
fermentasi. Hasil uji jarak berganda Duncan memperlihatkan bahwa pengaruh
perlakuan dosis inokulum pada setiap lama fermentasi adalah sebagai berikut:
pada dosis 5 % dengan lama fermentasi 2 minggu berbeda nyata lebih kecil
dibandingkan dengan lama fermentasi 3 dan 4 minggu, demikian juga lama
fermentasi 3 minggu berbeda nyata lebih kecil dibandingkan dengan lama
fermentasi 4 minggu. Pada dosis inokulum 7,5 % dengan lama fermentasi 2
minggu berbeda nyata lebih kecil dibandingkan dengan lama fermentasi 3 dan 4
minggu akan tetapi jika lama f ermentasi 3 minggu dibandingkan dengan 4
minggu memperlihatkan tidak berbeda nyata (P>0,05). Pada d osis 10 %
pengaruh perlakuan pada lama fermentasi 2 minggu berbeda nyata lebih kecil


70
dibandingkan dengan lama fermentasi 3 dan 4 minggu tetapi pa da lama
fermentasi 3 minggu hasilnya tidak berbeda nyata dengan lama fermentasi 4
minggu.
Perlakuan dosis 5%, 7,5% dan 10 % pada lama fermentasi 2 minggu tidak
terdapat perbedaan yang nyata terhadap penurunan kadar serat kasar bungkil inti
sawit hal ini dikarenakan pada saat itu jamur Marasmius sp belum maksimal
menggunakan komponen serat kasar dalam memenuhi kebutuhan gizinya untuk
pertumbuhannya karena pada saat itu jamur Marasmius sp masih menggunakan
zat makanan yang mudah dirombak sebagai sumber energi siap pakai seperti pati,
glukosa dan hemiselulosa, sedangkan pada lama waktu 3 minggu dan 4 minggu
baru terlihat penurunan kadar serat kasar secara signifikan antara perlakuan. Hal
ini dapat dijelaskan bahwa pada waktu itu diasumsikan bahwa karbohidrat siap
pakai dari bungkil inti sawit sudah habis terpakai untuk pertumbuhan miselium
dari jamur Marasmius sp, oleh karena itu pada minggu ke-3 dan ke-4 Marasmius
sp dapat mendegradasi senyawa kompleks dari komponen penyususn serat kasar
diantaranya lignin untuk memen uhi kebutuhan nutrisinya pada proses
pertumbuhan dan perkembangan miseliumnya.
Tabel 8 di atas memperlihatkan bahwa terjadinya penurunan yang berbeda
nyata pada waktu fermentasi minggu ke-3 dan ke-4 dengan berbagai dosis yang
berbeda, hal ini dapat dijelaskan bahwa pada saat tersebut jamur Marasmius sp
sudah mulai mendegradasi senyawa kompleks serat kasar diantaranya lignin


71
secara optimal, dikatakan oleh Hendritomo (1995) bahwa proses biodegradasi
lignin meliputi reaksi pelepasan ikatan C – C, -0-4 dimetilasi, ikatan -0-3,-0-5,
yang diikuti dengan fragmen-fragmen lignin dengan bobot molekul rendah.
Pemecahan cincin aromati k secara oksidatif, reduksi se rta hidroksilasi
pemecahan senyawa kompleks pada bungkil inti sawit (lignin) yang dilakukan
oleh Marasmius sp yang tidak lain dikarenakan o leh aktivitas enzim
lignoselulotik dimana enzim ini dapat memecah ikatan lignin dengan selulosa,
ikatan lignin dengan hemiselulosa serta ikatan lignin dengan protein. Dengan
pecahnya ikatan lignin tersebut maka secara langsung akan berakibat terhadap
penurunan kadar serat kasar pada bungkil inti sawit selain itu dengan pecahnya
ikatan tersebut maka komponen zat makanan lainnya akan lebih mudah untuk
dihidrolisis oleh pencernaan ternak khususnya ternak ayam.
Tabel 8 memperlihatkan bahwa pada setiap dosis yang diberikan pada
lama waktu 4 minggu tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata, hal ini dapat
dijelaskan bahwa pada minggu ke empat jamur Marasmius sp berada pada fase
kematian karena data jumlah koloni memperlihatkan bahwa pada waktu tersebut
jumlah koloni menurun (Lampiran 8).
Uji jarak berganda Duncan memperlihatkan penurunan kadar serat kasar
yang tertinggi terdapat pada interaksi dosis inokulum 10 % dan lama waktu 4
minggu, hal ini sesuai dengan perkembangbiakan jamur Marasmius sp itu sendiri
sehingga popolasinya meningkat, seiring dengan bertambahnya enzim yang


72


dihasilkan marasmius sp untuk mendegradasi serat kasar pada Bungkil Inti Sawit,
selain itu meskipun jumlah koloni menurun pada waktu minggu ke-4 tetapi masih
adanya enzim yang aktif yang terus merombak komponen serat pada bungkil inti
sawit menjadi senyawa yang lebih sederhana. Hasil pengujian memperlihatkan
bahwa pengaruh dosis 7,5 % den gan lama waktu fermentasi 3 mi nggu
merupakan kombinasi yang terbaik terhadap penurunan kandungan serat kasar
bungkil inti sawit.

4.2. Penelitian Tahap II (Pengukuran Energi Metabolis dan Nilai
Kecernaan)

4.1.1. Nilai Energi Metabolis BIS dan Produk Fermentasinya dengan
Jamur Marasmius sp. pada Ayam Broiler

Pada penelitian ini nilai energi metabolis berupa Energi Metabolis yang
dikoreksi dengan nilai Retensi Nitrogen (EMn). Rataan nilai EMn BIS dan
produk fermentasinya, tercantum pada Tabel 9.







73
Tabel 9. Nilai EMn BIS dan Produk Fermentasinya.*
Ulangan BIS Non Fermentasi BIS Fermentasi
……………………….%………...………….
1 2202,012 2471,257
2 2190,557 2484,288
3 2177,219 2448,261
4 2171,335 2511,167
5 2155,688 2448,629
6 2154,896 2475,450
7 2206,704 2498,762
8 2202,387 2499,062
9 2144,225 2446,906
10 2171,006 2216,091
Jumlah 21776,030 24599,874
rata-rata 2177,603
a
2459,987
b

Keterangan : * Hasil dari cara perhitungan pada Lampiran 6.
Konversi EMn BIS non Fermentasi dari energi brutonya sebesar 47,35%
yaitu dari 4598 kkal/kg menjadi 2177,603 kkal/kg, sedangkan konversi EMn BIS
Fermentasi dari energi brutonya sebesar 58,31% yaitu dari 4219 kkal/kg menjadi
2459,987 kkal/kg. Schaible (19 76) menyatakan bahwa energi met abolis
diperoleh dari 70% energi brut o bahan makanan yang dikonsums i. Pada
penelitian ini nilai EMn masih dibawah 70% dari energi brutonya, sehingga
menunjukkan bahwa masih banyak energi yang terbuang melalui ekskreta. Nilai
EMn BIS Fementasi lebih tinggi dari BIS non Fermentasi. Untuk melihat sejauh
mana paningkatan tersebut maka, data diuji statistik yang perhitungannya dapat
dilihat pada Lampiran 7.
Dari Uji-t Student terhadap nilai EMn tersebut menunjukkan bahwa EMn
BIS Fermentasi nyata lebih tinggi (P<0,05) daripada BIS non Fermentasi. Proses


74
fermentasi BIS dengan jamur Marasmius sp. meningkatkan nilai EMn sebesar
282,384 kkal/kg atau 12,96% yaitu dari 2177,603 kkal/kg menj adi 2459,987
kkal/kg. Peningkatan tersebut menunjukkan terjadinya aktivitas enzim yang
dihasilkan oleh jamur Marasmius sp. dalam pemecahan serat kasar menjadi
karbohidrat sederhana, yang akhirnya lebih mudah dicerna oleh unggas. Hasil ini
sejalan dengan pendapat (Shurtleft dan Aoyagi, 1979 dalam Abun, 2003) bahwa
pada proses fermentasi akan te rjadi perubahan molekul-molekul kompleks
menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana dan mudah dicerna.
Pada penelitian ini nilai EMn BIS non Fermentasi (2177,603 kkal/kg)
lebih tinggi bila dibandingkan dengan 1844 kkal/kg dari hasil penelitian
Simanjuntak (1998). Tetapi dal am hal peningkatan nilai EMn, BIS yang
difermentasi dengan Marasmius sp. (12,96%) lebih kecil dari pada BIS yang
difermentasi dengan Aspergillus niger (14%) yang diteliti oleh Simanjuntak
(1998). Dari perbandingan ini bisa di katakan bahwa kemampuan jamur
Marasmius sp. tidak jauh berbeda dengan Aspergillus niger dalam memecah
serat kasar.

4.2.1. Nilai Retensi Nitrogen BIS dan produk fermentasinya dengan Jamur
Marasmius sp. pada Ayam Broiler

Nilai Retensi Nitrogen BIS dan pro duk fermentasinya dengan jamur
Marasmius sp. dapat dilihat pada Tabel 4. N ilai retensi nitrogen yang
dicantumkan tidak dikoreksi dengan nitrogen endogen yang berasal dari sel-sel


75
epitel yang rusak dan enzim-enzim saluran pencernaan yang bercampur dengan
ekskreta. Dari Tabel 10. dapat diketahui bahwa rataan nilai Retensi Nitrogen BIS
Fermentasi (53,82%) dan rataan nilai Retensi Nitrogen BIS non Fermentasi
(40,45%).
Tabel 10. Nilai Retensi Nitrogen BIS dan Produk Fermentasinya.*
Ulangan BIS Non Fermentasi BIS Fermentasi
…………………%…………..
1 40.79 53.49
2 40.59 54.44
3 40.73 54.73
4 40.17 53.69
5 40.41 54.79
6 40.16 54.80
7 40.10 54.43
8 41.29 54.25
9 40.05 53.00
10 40.18 50.62
Jumlah 404.48 538.24
rata-rata 40.45 53.82
Keterangan : *Hasil dari cara perhitungan pada lampiran 6.

Untuk mengetahui besarnya perbedaan antar perlakuan maka data penelitian
diuji secara statistik dengan Uji T-Student yang dapat dilihat pada lampiran 7.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai Retensi Nitrogen BIS Fermentasi
(53,82%) nyata lebih tinggi (P<0,05) daripada BIS non Fermentasi (40,45%).
Proses fermentasi BIS dengan jamur Marasmius sp. mampu meningkatkan nilai
Retensi Nitrogen sebesar 13,37% atau 33,1% dari 40,45%. Peningkatan tersebut



76

menunjukkan adanya efisiensi penggunaan protein dari BIS Fermentasi, sehingga
protein yang tercerna menjadi lebih banyak.
Wahju (1997) menerangkan bahwa protein yang diretensi oleh ayam broiler
adalah 67% dari protein yang dikonsumsi. Jadi hanya 67% yang diretensi untuk
pertumbuhan jaringan per hari, pertumbuhan bulu dan penggant ian nitrogen
endogen yang hilang. Nitrogen yang diretensi ini menggambarkan efisiensi
penggunaan protein pada ayam b roiler. Nilai Retensi Nitrogen BIS non
Fermentasi maupun BIS Fermentasi masih lebih rendah dari 67%.
Kualitas protein bergantung pada kelengkapan dan keseimbangan asam-
asam amino esensial yang membentuknya. Komposisi protein yang lengkap
dengan kualitas protein yang baik maka nilai retensi nitrogennya akan menjadi
tinggi. Peningkatan nilai efisiensi penggunaan protein akan mengakibatkan
kebutuhan protein dalam ransum menurun, tetapi memberikan pertumbuhan dan
produksi optimal (Scott, dkk., 1982).








77
4.2.3. Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Bahan Kering
Rataan nilai kecernaan bahan kering percobaan disajikan pada tabel 11
dibawah ini.

Tabel 11. Rataan Nilai Kecernaan Bahan Kering Bungkil Inti Sawit, Bungkil
Inti Sawit Fermentasi pada Ayam Broiler
Perlakuan
Ulangan
Non Fermentasi Fermentasi
………………(%)………………
1. 58,33 68,28
2. 58,68 69,18
3. 57,26 69,09
4. 57,75 68,97
5. 57,93 68,05
6. 58,46 68,40
7. 57,14 69,69
8. 57,57 69,43
9. 57,40 68,44
10. 57,25 68,89
Jumlah 577,78 689,42
Rata-rata 57,78
a
68,94
b

Nilai kecernaaan bahan kering menunjukkan berapa besar bahan kering
yang dapat dicerna oleh tubuh ternak. Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat
adanya peningkatan nilai kecernaan bahan kering pada bungkil inti sawit yang
difermentasi dibandingkan tanpa fermentasi, dengan peningka tan sekitar
19,31%, yakni dari 57,78% menjadi 68,94%. Setelah dilakukan analisis statistik
dengan menggunakan uji t -student (Lampiran 4.), hasilnya menunjukkan
perbedaan yang nyata (P<0.05) terhadap kecernaan bahan kering bungkil inti
sawit.
Meningkatnya nilai kecerna an tersebut disebabkan menurun nya
kandungan serat kasar atau ter degradasinya serat kasar yang terdapat pada


78
bungkil inti sawit yang difermentasi sehingga menyebabkan kecernaan zat-zat
makananan lainnya meningkat. Hal ini disebabkan karena dinding sel bungkil inti
sawit yang mengalami proses fermentasi menjadi tipis dan mudah ditembus oleh
getah pencernaan, sehingga proses degradasi serat kasar tersebut menjadi mudah
dalam saluran pencernaan. Menurut pendapat Anggorodi (1994), semakin tinggi
suatu bahan makanan yang mengandung serat kasar semakin rendah juga daya
cerna bahan tersebut.
Serat kasar dan BETN (bahan ek strak tanpa nitrogen) merupakan
golongan karbohidrat yang dapat digunakan sebagai bahan makanan, tetapi
mempunyai nilai kecernaan yang berbeda. Serat kasar pada ternak unggas tidak
dapat dicerna, karena tidak me mpunyai mikroorganisme dalam s aluran
pencernaannya. Oleh karena itu, bila serat kasar tidak tercerna pada ternak
unggas secara keseluruhan dapat membawa zat-zat makanan yang dapat dicerna
dari bahan-bahan makanan lain akan ditemukan kembali pada feses (Wahyu, J.
1997). Sesuai dengan pernyataan Ranjhan, (1980) tinggi rendahnya kecernaan
zat-zat makanan dalam bahan pakan dapat dipengaruhi oleh laju perjalanan
makanan di dalam saluran pencernaan serta kandungan zat-zat makanan yang
terdapat bahan tersebut.
Tingginya kecernaan bahan keri ng disebabkan rendahnya kandungan
bahan kering yang dieksresikan kembali dalam feses dan Culli son, (1978)
mengemukakan bahwa zat makanan yang terdapat di dalam feses dianggap zat
makanan yang tidak tercerna dan tidak diperlukan kembali sehingga sedikit
kandungan bahan kering dalam feses maka semakin tinggi nilai kecernaannya.





79
4.2.4. Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Bahan Organik
Rataan nilai kecernaan bahan organik percobaan disajikan pada tabel 4
dibawah ini.
Tabel 4. Rataan Nilai Kecernaan Bahan Organik Bungkil Inti Sawit, Bungkil Inti
Sawit Fermentasi pada Ayam Broiler
Perlakuan
Ulangan
Non Fermentasi Fermentasi
………………(%)………………
1. 56,50 68,77
2. 56,48 69,71
3. 55,85 69,67
4. 56,13 69,44
5. 56,00 69,45
6. 56,29 68,99
7. 55,88 70,30
8. 56,32 69,83
9. 55,39 68,87
10. 55,88 69,45
Jumlah 560,71 694,49
Rata-rata 56,07
a
69,45
b

Tabel 4 memperlihatkan bahwa r ataan nilai kecernaan bahan organik
bungkil inti sawit yang difermentasi mengalami peningkatan dibandingkan tanpa
fermentasi. Peningkatan nilai kecernaan bahan organik tersebut sebesar 23,86%,
yakni dari 56,07% menjadi 69,45%. Selanjutnya dilakukan anal isis statistik
dengan menggunkan uji t-student (Lampiran 5.), menunjukan perbedaan yang
nyata (P<0.05).
Tingginya nilai kecernaan bahan organik tersebut disebabkan oleh
tingginya nilai kecernaan bahan kering dari bungkil inti sawit yang difermentasi.
Selain itu bahan makanan yang menggandung zat organik seperti karbohidrat,
karena pada karbohidrat merupakan lebih kurang tiga perempat bagian dari bahan


80
kering yang sebagian besar terdapat pada tumbuh-tumbuhan (Anggorodi, 1985),
sehinga karbohidrat tersebut terurai dan ditemukan kembali dipada feses dalam
jumlah sangat sedikit. Semakin sedikit bahan kering yang dit emukan di feses
maka kecernaan dari bahan kering tersebut sangat tinggi, begitu pula pada bahan
organik dan bahan kering merupakan ukuran dalam pemberian suatu makanan zat
organik. Hal ini sejalan dengan prinsip perhitungan bahan organik dari analisis
proksimat, dimana semakin tinggi persentase bahan kering maka akan diikuti
oleh peningkatan persentase bahan organik (Tillman, dkk. 1998).

4.2.5. Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Protein Kasar
Tabel 5. Rataan Nilai Kecernaan Protein Kasar Bungkil Inti Sawit, Bungkil Inti
Sawit Fermentasi pada Ayam Broiler
Perlakuan
Ulangan
Non Fermentasi Fermentasi
………………(%)………………
1. 59,56 69,98
2. 59,01 71,80
3. 57,97 71,59
4. 59,09 70,81
5. 59,03 70,48
6. 59,76 70,09
7. 58,12 72,30
8. 58,67 71,91
9. 58,20 70,65
10. 58,06 71,31
Jumlah 587,46 710,92
Rata-rata 58,75
a
71,09
b



81
Berdasarkan tabel 5, tampak terjadi kenaikan nilai kecernaan protein kasar
pada bungkil inti sawit yang difermentasi. Kenaikan kecernaan protein kasar
sebesar 21,00 %, yakni dari 58,75% menjadi 71,09%. Berdasarkan analisis
statistik dengan menggunakan u ji t-student (Lampiran 6.), menunju kan
perbedaan yang nyata (P<0.05).
Adanya peningkatan kecernaan ini, disebabkan bungkil inti sawit yang
difermentasi mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi dan kandungan
serat kasar yang lebih rendah dibandingkan dengan bungkil inti sawit yang tidak
difermentasi. Protein yang dikonsumsi tergantung dari kandungan protein dalam
bahan pakan tersebut, semakin tinggi tingkat protein di dalam bahan pakan, maka
konsumsi protein makin tinggi pula, yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap
nilai kecernaan bahan pakan tersebut (Wahju, J., 1997).
Selain itu protein yang dalam bungkil inti sawit yang difermentasi
disebabkan rendahnya serat kasar, karena serat kasar tersebut didegradasi oleh
enzim selulase yang dihasilkan oleh jamur Marasmius sp. sehingga tidak
mempengaruhi proses pencernaan protein dalam saluran pencern aan.
Meningkatnya nilai daya cerna bahan pakan bungkil initi sawit yang difermentasi
disebabkan pula oleh enzim prorease sebagai katalisator dalam pencernaan
protein (proteolitik), sehingga di dalam saluran pencernaan protein menjadi lebih
mudah dicerna (Sudarmadji, 1975). Oleh karena itu, tingginya nilai kecernaan
bahan kering akan berpengaruh terhadap protein, dan menurut Morisson, (1961)


82
protein merupakan bagian dari bahan kering sehingga apabila kecernaan bahan
kering tinggi maka daya cerna protein juga tinggi. Dimana daya cerna bahan
kering menunjukan tingginya kualitas ransum. Protein yang mudah dicerna
merupakan protein yang berkualitas baik (Bautrif, 1990).





























83
DAFTAR PUSTAKA

Atmadilaga, D. 1991. Rekayasa Genetika dan Bioteknologi Mutakir Terobosan
Kelambanan Bioteknologi Konves ional dan Meningkatkan Produks i
pertanian. Universitas Putra Bangsa, Surabaya.

Jay,L.M. 1978. Modern Food Microbiologi. D Van Nostrund Company, New
York, Toronto, London.

Kuhad, R.C., A. Singh, K.K. Triphati, R.K. Saxena, dan K. Eriksson. 1997.
Mikroorganisms as Alternative Source Prorein. Nutr. Rev 55, 65-75.

Leoniwics, A., Matuszewska, J. Luterek, D. Ziegenhagen, M. Wojtaswisilewska,
N.S. Cho, M. Hofrichter, dan J. Rogalsky. 1999. Biodegradation of Linin
by White-rot Fungi. Funct. Gen. Biol 27, 175-185.

Musnandar,E. 2003. Rumput Hayati Sabut Sawit Oleh jamur Marasmius sp.
Serta Pemanfaatanya Pada Kambi ng Kacang. Disertasi, Pascasarjana
Unpad, Bandung.

Parakasi. 1983 . Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik. Angkasa ,
Bandung.

Saono, S. 1976. Pemanfaatan Jasad Renikdalam Pengolahan Hasil Sampingan
Atau Sisa-sisa Produk Pertanian. Berita IPTEK, Jakarta.

Scott, M.L., M.C. Nasheim and R.J. Young. 1982. Nutrition of the Chicken. 3
nd. Ed. M.L. Scott and Ithaca, New York.

Schnider, B.H dan W.P. Flatt. 1973. The Evaluation of Feeds Through
Digestibility Experiment. The University of Georgia Press, New York.

Sibbald I.R., J.D. Summers and Slingers. 1960. Factors Affecting The
Metabolisme Energy Content of Poultry Feed. Poultry Science.

Suhermiyati, S. 2003. Biokonversi Limbah Kakao Oleh Marasmius sp. dan
Saccharomyces cerevisae Serta Implikasi Efeknya Terhadap Produksi Ayam
Broiler. Disertasi, Pascasarjana, Unpad, Bandung.



84
Tilman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S.
Lebdosoekojo 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University
Press, Yogyakarta.

Tulung, B. 1987. Efek Fisiologis Serat Kasar Di Dalam Alat Pencernaan
Bagian Bawah Hewan Monogastrik. Makalah Simposium Biologi, Unstrat
Menado.

Wahju, J. 1988. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan Kedua. Gajah Mada University
Press, Yogyakarta.

Winarno, F.G. 1980. Bahan Pangan Terfermentasi. Pusat penelitian dan
Pengembangan Teknologi Pangan, IPB, Bogor.

Wolayan, F.R. 1998. Pengaruh Fermentasi Bungkil Kelapa Menggunakan
Trichoderma viride terhadap Komposisi Kimia Dan Kernaan Protein Pada
Ayam Broiler. Disertasi, Pascasarjana IPB, Bogor.

10. BIODATA TIM PELAKSANA

A. CURRICULUM VITAE KETUA PENELITI

Nama lengkap dan Gelar : DR. Ir. Tuti Widjastuti, MS.
Pangkat / Golongan : Pembina / IVa.
Unit Kerja : Staf Pengajar Fakultas Peterna kan Universitas
Padjadjaran.
Alamat : Jl. Sepak Bola No. 3 Arcamanik, Bandung - 40293.
Pendidikan : 1. Sarjana Peternakan (S
1
) UNPAD.
2. Magister Sains (S
2
) IPB.
3. Doktor (S
3
) UNPAD.
Pengalaman penelitian : 24 (dua puluh empat) tahun.


Track Record Penelitian:


85
1. Penentuan efisiensi Penggunaan Protein, Kebutuhan Protein dan Efisiensi
untuk Pertumbuhan dan Produksi Telur Ayam Sentul pada Kandang Sistem
Litter dan system Cage (Desertasi, Tahun 1996).

2. Hubungan Antara Efisiensi Penggunaan Protein dengan Keseimbangan
Energi/ Protein pada Pertumbuhan Ayam Sentul (Tahun 1999).

3. Pengaruh Tingkat Pemberian Yodium dan Tingkat Protein Ransum terhadap
Performans Ayam Kampung Jantan (Tahun 2000).

4. Hasil-hasil Penetasan Ayam Sentul pada Dua Sistem Alas Kandang yang
Diberi Ransum dengan Berbagai Tingkat Energi/Protein (Tahun 2000).

5. Aplikasi Teknologi Peternakan Mengoptimalkan Potensi Usaha Peternakan
Ayam Buras di Pedesaan (Tahun 2000).

6. Pemanfaatan Tepung Daun Singkong dalam Upaya Peningkatan Kualitas
Telur Ayam Lokal (Tahun 2001).

7. Usaha Ternak Ayam Buras Melalui Optimalisasi Pemanfaatan Limbah
Pertanian di Pedesaan (Tahun 2001).

8. Pengaruh Subtitusi Tepung Ikan dan Tepung Pupa Ulat Sutera (Bombyx-mori
Linn) dalam Ransum Terhadap Performan Itik Lokal Jantan (Tahun 2002).

Track Record Pendidikan dan Pengajaran:
1. Memberikan kuliah Ilmu Management Ternak Unggas dan Ilmu Produksi
Aneka Ternak di S
1
reguler dan ekstension Fakultas Peternakan UNPAD.

2. Membimbing Skripsi S
1
dan Thesis S
2.


3. Menguji pada Sidang Sarjana S
1
dan S
2.


4. Membimbing laporan mahasiswa D
3
Fakultas Peternakan UNPAD.

5. Membimbing praktek kerja lapangan mahasiswa Fakultas Peternakan
UNPAD.

6. Mengikuti seminar, loka karya dan penataran yang diselenggarakan di dalam
dan di luar lingkungan Universitas Padjadjaran.



86
7. Membantu penyuluhan bidang perunggasan pada masyarakat pedesaan Jawa
Barat.

8. Melakukan penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
B. CURRICULUM VITAE ANGGOTA PENELITI I

Nama lengkap dan Gelar : Ir. A b u n , MP.
Pangkat / Golongan : Penata / III-C
Jabatan Fungsional : Lektor Kepala
Unit Kerja : Staf Pengajar Fakultas Peterna kan Universitas
Padjadjaran.
Alamat : Komp. Rancaekek Permai Blok E 4 No. 11 BDG.
Pendidikan : 1. Sarjana Peternakan Unpad (S
1
) (Tahun 1991).
2. Magister Pertanian Unpad (S
2
) Bidang Ilmu Nutrisi
Ternak (Tahun 2002).

Track Record Penelitian:
1. Pengaruh Perbedaan Spesies Jamur dan Tingkat Perbandingan Bu ngkil
Kelapa dan Onggok terhadap Perubahan Nilai Gizi dan Kecernaan Bahan
Kering Pada Ayam Pedaging (2000).

2. Pengaruh Suhu dan Ketinggian Tempat terhadap Produksi Ayam Pedaging
(2001).

3. Penentuan Nilai Kecernaan Ransum Mengandung Ampas Umbi Garut
(Maranta arundinacea Linn.) pada Ayam Broiler dengan Metode
Pemotongan (2002).

4. Pengaruh Cara Pengolahan Limbah Ikan Tuna (Thunnus atlanticus) terhadap
Kandungan Gizi dan Energi Metabolis pada Ayam Pedaging (2002).

5. Pengolahan Limbah Umbi Garut (Maranta arundinacea Linn.) melalui
Fermentasi dengan Aspergillus niger terhadap Perubahan Nilai Gizi dan
Kecernaan Ransum pada Ayam Broiler (2003).



87
6. Biokonversi Ampas Umbi Garut (Maranta arundinacea Linn.) oleh
Aspergillus niger terhadap Perubahan Komposisi Gizi dan Nilai Energi
Metabolis pada Ayam Broiler (2003).

7. Pengaruh Dosis Inokulum Aspergillus niger dan Lama Fermentasi terhadap
Perubahan Protein Kasar dan Serat Kasar Ampas Umbi Garut (2004).

8. Pengaruh Cara Pengolahan Limbah Ikan Tuna (Thunnus atlanticus) terhadap
Kandungan Gizi dan Nilai Energi Metabolis pada Ayam Pedaging (2004).



Track Record Pendidikan dan Pengajaran:
1. Memberikan kuliah Nutrisi Ternak Unggas, Teknologi Pengolahan Pakan,
Bioteknologi Pakan dan Nutrisi Ternak Eksperimental pada Program S-1
Reguler, Fakultas Peternakan Unpad.

2. Membimbing Skripsi S-1

dan D-3
.


3. Membimbing Praktek Kerja Lapang.

4. Menguji pada Sidang Program D-3, S-1

dan S-2
.


5. Membimbing laporan mahasiswa D
3
Fakultas Peternakan UNPAD.

6. Mengikuti seminar, loka karya dan penataran yang diselenggarakan di dalam
dan di luar lingkungan Universitas Padjadjaran.

7. Membimbing Kuliah Kerja Nyata.

8. Melakukan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat.


C. CURRICULUM VITAE ANGGOTA PENELITI II

Nama lengkap dan Gelar : Ir. Wiwin Tanwiriah, MS.
Pangkat / Golongan : Penata Muda/III-A
Jabatan Fungsional : Asisten Ahli


88
Unit Kerja : Staf Pengajar Fakultas Peterna kan Universitas
Padjadjaran.
Alamat : Kabupaten Garut.
Pendidikan : 1. Sarjana Peternakan Unpad (S
1
)
2. Magister Peternakan Unpad (S
2
) Bidang Produksi
Ternak.

Track Record Penelitian:
1. Pengaruh Kriteria Pengisian Ransum dengan Bentuk Fisik yang Berbeda
dalam Tempat Makanan terhadap Jumlah Ransum yang Terhambur pada
Ayam Petelur.

2. Pengaruh Umur Induk dan Frekwensi Pengambilan Telur Tetas Ayam Buras
Sentul terhadap Fertilitas dan Hasil Penetasan.

3. Pengaruh Tingkat Pemberian Temulawak pada Ayam Petelur yang Diberi
Ransum Kadar Lemak Berbeda terhadap Produksi dan Kadar Kolesterol
Telur.

4. Penentuan Efisiensi Penggunaan Protein dan Kebutuhan Protein Untuk
Pertumbuhan dan Produksi Telur pada Itik Tegal.

5. Pengaruh Lamanya Pemuasaan pada Perlakuan Force Molting terhadap
Performan Ayam Petelur.

Track Record Pendidikan dan Pengajaran:
1. Memberikan kuliah Ilmu Management Ternak Unggas dan Ilmu Produksi
Aneka Ternak di S
1
reguler Fakultas Peternakan UNPAD.

2. Membimbing Skripsi S-1

dan D-3
.


3. Membimbing Praktek Kerja Lapang.

4. Menguji pada Sidang Program D-3, dan S-1

.

5. Membimbing laporan mahasiswa D
3
Fakultas Peternakan UNPAD.



89
6. Mengikuti seminar, loka karya dan penataran yang diselenggarakan di dalam
dan di luar lingkungan Universitas Padjadjaran.

7. Membimbing Kuliah Kerja Nyata.

8. Melakukan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat.

D. CURRICULUM VITAE ANGGOTA PENELITI III

Nama lengkap dan Gelar : Indrawati Yudha Asmara, SPt., MSi.
Pangkat / Golongan : Penata Muda tingkat I/III-b
Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
Unit Kerja : Staf Pengajar Fakultas Peterna kan Universitas
Padjadjaran.
Alamat : Pamulihan, Kec. Cilengkrang Bandung
Pendidikan : 1. Sarjana Peternakan Unpad (S
1
)
2. Magister Sains (S
2
) Institut Teknologi Bandung.



Track Record Penelitian:
1. Pengaruh Kepadatan Ayam dan Imbangan Energi Protein terhadap Bobot
Hidup, Bobot Karkas dan Kualitas Karkas Ayam Broiler.

2. Pengelolaan Burung Maleo (Macrosephalon maleo) di Suaka Marga Satwa
Penjan-Tanjung Matop Sulawesi Tengah.


Track Record Pendidikan dan Pengajaran:
1. Memberikan kuliah Ilmu Management Ternak Unggas dan dan Produksi
Ternak Unggas di S
1
reguler Fakultas Peternakan UNPAD.

2. Membimbing Skripsi S-1



3. Membimbing Praktek Kerja Lapang.



90
4. Menguji pada Sidang Program D-3, dan S-1

.

5. Mengikuti seminar, loka karya dan penataran yang diselenggarakan di dalam
dan di luar lingkungan Universitas Padjadjaran.

6. Membimbing Kuliah Kerja Nyata.

7. Membimbing Kuliah Kerja Nyata.


2

I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Perkembangan perunggasan di Indonesia, terutama ayam broiler sangat

pesat.

Kemajuan tersebut didukung oleh produk nya yang umum dikonsumsi

manusia karena merupakan sumber gizi yang rasanya enak dan harganya relatif murah. Keberhasilan industri perunggasan harus ditompang ol h pengadaan e

penguasaan management berternak dan pengadaan bibit yang baik, juga harus diimbangi dengan penyediaan ra nsum yang berkualitas. Bahan p kan yang a tersedia untuk menyusun ransum saat ini masih bergantung pada impor seperti jagung, bungkil kedele dan tep ng ikan. u Ketergantungan sebaian besar g

kebutuhan bahan pakan yang masih didatangkan dari luar negeri menyebabkan harga ransum melonjak tinggi. Ransum merupakan biaya terbesa dari seluruh biaya produksi, yaitu r sekitar 70-80% (Wahyu, 1988). Pemanfaatan bahan pakan lokal produk pertanian ataupun hasil ikutan ya n dengan seoptimal mungkin iharapkan d dapat

mengurangi biaya ransum. Denga demikian, diperlukan suatu u n paya untuk mencari alternatif sumber bahan pakan yang murah, mudah didapat kualitasnya baik, serta tidak bersaing den gan kebutuhan manusia. Salah satunya adalah

Bungkil Inti Sawit (BIS) yang merupakan hasil ikutan dari pembuatan minyak inti sawit.

3

Potensi kelapa sawit cukup bes di Indonesia produksinya m ar, enempati urutan kedua di dunia setelah Malaysia. Kelapa sawait banyak ditanam terutama di daerah Lampung, Jambi, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, serta sebagian kecil Jawa Bara t. Menurut data yang dikeluar an oleh Pusat k

Penelitian di Medan tahun 2000, luas tanaman kelapa sawit di Indonesia sebesar 3.134.000 ha dengan tandan bua seg h ar yang dihasilkan sekitar 20, 8

ton/ha/tahun. Sebesar 5% dari tandan buah segar tersebut dihasilkan minyak inti sawit (sekitar 45-46%) dan Bungkil Inti Sawit (sekitar 45-46%). Data tersebut menunjukkan bahwa bungkil inti sawit memiliki potensi yang cukup baik untuk dijadikan bahan pakan alternat sumber energi pengganti jagng, karena if u ketersediaannya cukup melimpah. Bungkil inti sawit memiliki kandungan zat-zat makanan sebagai berikut: Protein kasar 15,14%; lemak kasar 6,08%; serat kasar 17,18%; kalsium 0,47%; fosfor 0,72%, dan BETN 57,80% serta energi brutonya adalah 5088 kkal/kg (Lab Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan Unpad, 2004). Limb tersebut ah

merupakan potensi untuk dijadi an bahan baku dalam penyusuna ransum k n unggas (khususnya ayam broiler), namun penggunaannya masih terbatas. Hal demikian disebabkan karena bun gkil inti sawit memiliki keter atasan yaitu b kandungan serat kasar yang cukup tinggi (terutama lignin), serta palatabilitasnya rendah. Pada umumnya bahan pakan yang mengandung serat kasar yang tinggi memiliki nilai kecernaan yang rendah, sehingga penggunaan bungkil inti sawit dalam ransum menjadi terbatas. Penggunaan serat kasar yang tinggi, selain dapat menurunkan komponen yang mudah dicerna juga menyebabkan penuunan r aktivitas enzim pemecah zat zat makanan, seperti enzim yan membantu g pencernaan karbohidrat, protein dan lemak (Parrakasi, 1983; Tulung, 1987). Lignin juga dapat berikatan de gan selulosa membentuk lingo n -selulosa dan

. Upaya untuk memperbaiki kualitas gizi. serta meningkatkan kandungan vitamin dan mineral (Pelczar dkk. dosis dan lama f rmentasi.1976. yaitu dengan bioteknologi. Lignin dapat bertindak sebagai benteng pelindung fisik yang menghamba terhadap daya cerna zat t -zat makanan (Leonowicz.1999 a.1978.. Kuhad dkk. . prose biokonversi s substrat limbah perkebunan kel apa sawit melalui fermentasi m enawarkan alternatif yang menarik dan be rmanfaat dalam pengembangan s umber bahan baku untuk ransum unggas.4 lingo-hemiselulosa.b). serta dapat beri atan dengan pr k otein membentuk ligno protein (Janshekar dan Fichter. dkk. 1980). Pada proses fermentasi dihasilkan pula enzim hidrolitik serta membuat mineral lebih mudah untuk diabsorbsi oleh ternak (Esposito. 1996. Kemajuan teknologi di berbagai sektor seperti bidang pertanian. Kemajuan teknologi di bidang pengolahan bahan makanan yang ada saat ini dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas limbah argoiundustri menjadi bahan pakan yang bermutu.. kesehatan merupakan suatu terobosan yang dapat memecahkan atau menghas ilkan jawaban terhadap perubahan kebutuhan (Admadilaga... dkk. atau menghilangkan pengaruh negatif dari bahan pakan tertentu dapat dilakukan dengan penggunaan mikroorganisme melalui proses fermentasi. 1983). serta e media yang digunakan. Brum dkk. 1997. Jay. Sementara itu. menambah rasa dan aroma. Winarno. 1999). Fermentasi juga dapat meningkatkan nilai kecernaan (Saono. Fermentasi dengan menggunakan jamur memungkinkan terjadinya perombakan bahan y ang sulit dicerna oleh unggas menjadi bahan Kualitas produk yang mudah dicerna sehingga niai manfaatnya meningkat. 1991). 2001). peternakan. mengurangi. l fermentasi bergantung kepada jenis mikroba.

29%. selulosa dari 22.97% (Shermiyati. Beberapa peneliti melaporkan adanya perubahan komposisi za t-zat makanan dalam substrat melalui fermentasi dengan menggunakan jamur. 2003).90% menjadi 17.5% dan lama ferment 3 minggu.45% a r menjadi 23. 2003). Tillm dkk 1991). Marasmium sp. dan lignin dari 15. 1973.72%. pada dosis inokulum 7. .5 Jamur Marasmius sp. nyata dapat menu asi runkan kandungan serat kasar dan meningkatkan protein kasar (Musnandar. merupakan salah satu mokroba yang dapat mendegradasi kandungan serat kasar (lignin) pada bungkil kelapa sawit. an. Nilai s sebenarnya ditunjukan dari bagian yang hilang setelah bahan makanan dicerna. pada dosis inokulum 7. Jamur tersebut termasuk kelas Basidiomycetes yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan enzim “lignoperoksidases” dan “manganperoksidase” yang dapat merombak dan melarutkan lignin yang terkandung di dalam bungkil inti sawit. Hasil fermentasi kulit buah kakao oleh jamur Marasmius sp. diserap dan dimetabolisme (Sch neider dan Flatt. Potensi nilai gizi bahan pakan untuk penyediaan zat zat makanan dan energi dapat ditentukan dengan jalan analisis kimia (analisi proksimat).54% menjadi 2. Fermentasi sabut sawit dengan menggunakan jamur Marasmius sp. juga dapa menghasilkan enzim t glukosidse yang dapat a memecah ikatan glikosidik sehingga serat kasar tergredasi menjadi ikatan yang lebih sederhana seperti gula -gula sederhana (polisaharida) yang merupakan sumber energi untuk unggas.5% dan lama fermentasi 1 minggu dpat menurunkan serat kasar dai 38.

. 1984. Ketaren. Upaya fermentasi bungkil inti sawit akan lebih berhasil apabila dilakukan pengujian secara biologis pada ayam broiler. Pengukuran energi ini sesuai untuk semua tujuan seperti untuk hidup pokok. 1994). Penggunaan Bungkil Inti Sawit dalam ransum ayam broiler sangt a bervariasi yaitu antara 5% sampai dengan 10%. 1989. maka nilai kecernaan bahan makanan tersebut makin inggi. Wahju. mengingat ayam broiler memiliki sifat tumbuh yang sangat cepat. tidak mempunyai efek negatif (Ahmad. Oleh sebab itu. 1990. Sedangkan energi metabolis merupakan suatu ukuran yang paling bayak dianut dalam penyusunan ransum unggas. t tingginya kualitas dari bahan makanan. pengujian nilai kecernaan dan energi metabolis produk fermen tasi tersebut perlu dilakukan. Kamal. Hal tersebut Hal ini merupakan suat indikator u disebabkan karena kecernaan me nunjukkan kemampuan saluran pe ncernaan untuk merombak pakan yang dikosumsi dan digunakan untuk keprluan n e metabolisme dalam tubuh.6 Makin banyak zat makanan yang dapat diserap oleh tubuh. 1999. pe rtumbuhan. Penelitian penggunaan BIS produk fermentasi hingga 25% dalam ransum broiler menunjukkan tidak ada perbedaan konsumsi ransum atau dengan . penggemukan dan produksi telur. Tangendjaja dan Pattyusra. . 1963. bahkan produk fermentasinya bisa digunakan hingga 25%. dkk. Kohl.). sehingga energi metab olis dapat digunakan sepenuhnya untuk berbagai proses metabolik dalam tubuh unggas (Ewing. 1982.

pelu kiranya dilakukan pengukuran nilai r kecernaan dan energi metabolis bungkil inti sawit produk fer entasi dengan m menggunakan jamur Marasmius sp.7 perkataan lain ayam mempunyai preferensi untuk makan yang sama. selanjutnya dilakukan pengujian (“feeding trial”) tingkat penggunaannya dalam ransum ayam broiler. dan juga tidak menyebabkan perbedaan ta mpilan bobot badannya (Mc. 1. bahan organik. Indentifikasi Masalah Berdasarkan pendekatan masalah di atas. Seberapa besar pengaruh dosis inokulum Marasmius sp.2. 2. Rahayu. serat kasar dan lemak kasar). dan lama fermentasi terhadap perubahan komposisi gizi (bahan kering. protein kasar. Berapa nilai kecernaan (bahan kering. dan sampai n tingkat berapa bungkil inti sawit produk fermentasi masih dapat digunakan dalam ransum ayam broiler tanpa memperlihatkan efek negatif. Don ald et al. Berdasarkan uraian di atas. 2002). 3 Seberapa besar pengaruh tingka penggunaan bungkil inti sawi produk t t fermentasi dalam ransum terhadap performa ayam broiler. maka masalah yang da pat diidentifikasikan adalah sebagai berikut: 1. dan protein kasar) dan energi metabolis bungkil inti sawit produk fermentasi pada ayam broiler. ... 1995.

sehingga tercipta peluang kerjasama dengan mitra (industri) dalam penggunaan hasil penelitian. Untuk mencari model pengolahan bungkil inti sawit. Ayam o broiler yang mengkonsumsi prod fermentasi tersebut tidak a uk kan terganggu pencernaannya.8 Melalui peran jamur Marasmius sp. dan pada gilirannya dapat memperbaiki performan. susunan ransum Selanjutnya produk fermentasi diformulasikan dalam . maka fermentasi substrat padat pada bungkil inti sawit diharapkan dapat menarik minat “Feed Mill atau industri ” pakan sebagai salah satu bahan pakan penyusun ransum ayam br iler. dengan berbagai level untuk mendapatkan tingk at penggunaan bungkil inti sawit produk fermentasi yang optimal tanpa adanya efek negatif terhadap performan ayam broiler. dan akan dicari dosis jamur Marasmius sp. Untuk pengembangan penelitian terpadu dengan stakeholder yang melibatkan peran mahasiswa tingkat akhir.. yaitu den gan menggunakan teknologi fermentasi. Perbaikan kualitas gizi bungkil inti sawit produk fermentasi akan ditandai dengan meningkatnya nilai kecernaan dan energi metabolis. 2. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: 1. serta lama fermentasi yang optimum yang dapat menghasilkan kualitas gizi bungkil inti sawit terba ik.3. 1. .

Protein Kasar dan Serat Kasar) Bungkil Inti Sawit. Produk fermentasi dapat dija dikan sebagai salah satu bahan pakan alternatif (sumber energi pen ganti g jagung) dalam penyusunan ransum broiler.9 1. dengan rencana judul sebagai berikut: (1) Pengaruh Dosis dan Lama Fermen tasi oleh Jamur Marasmius sp. Output Dan Outcomes 1. 2. . Penggunaan bungkil inti sawit produk fermentasi sampai tingkat 30% dalam ransum dapat meng urangi penggunaan jagung dan bungkil kedele (yang saat ini masih be rgantung pada impor dan harganya relatip mahal) .4. Adapun jumlah mahasiswa yang dapat terlibat diperkirakan sebanyak lima orang.1 Output Penelitian 1. Mempercepat penyelesaian tugas akhir mahasiswa yang terlibat pada penelitian ini.4. Mendapatkan model pengolahan b ungkil inti sawit mel lui teknologi a fermentasi (pada dosis dan lam fermentasi yang optimum) den an a g menggunakan jamur Marasmius sp. terhadap Perubahan Komposisi Gizi (Kandungan Bahan Kering. sehingga dapat menekan biaya produksi. (2) Penentuan Nilai Energi Metabols Bungkil Inti Sawit dan Prod k i u fermentasinya pada Ayam Broiler.

dalam Ransum terhadap Persentase Karkas dan Komponennya. Outcomes penelitian buat ma hasiswa adalah terbantunya mereka dalam penyelesaian tugas akhir (peneitian). (4) Pengaruh Tingkat Penggunaan Bungkil Inti Sawit Produk Fermentasi oleh Jamur Marasmius sp. Selanjutnya. Bahan Organik dan Protein Kasar) Broiler. Selain keterlibatan mahasiswa pada penelitian ini. Bungkil Inti Sawit dan Produk fermentasinya pada Aya m 1. setelah lulus mereka diharapkan memiliki daya saing tinggi dengan bekal kete rampilan dalam melakukan pengo lahan bungkil inti sawit serta teram dalam manajemen pemeliharaan ayam pil broiler. mealui l . b. dalam Ransum terhadap Performan Ayam Broiler.4. juga terlibat pengusaha industri makanan ternak (Feed Miill) dan diharapkan pula da pat memberikan masukkan kepada “Feed Mill” atau Industri Pakan Ternak (Pembuat Ransum Broiler) untuk penggunaannya sebagai salah satu bahan pakan penyusun ransum (sumber energi / pengganti jagung). (5) Pengaruh Tingkat Penggunaan Bungkil Inti Sawit Produk Fermentasi oleh Jamur Marasmius sp. sehingga akan membuka lapangan usaha dan lapangan pekerjaan. Outcomes Penelitian a.10 (3) Penentuan Nilai Kecernaan (Bahan Kering. baik to l pik maupun kesulitan pendanaan.2.

Non Ruminansia d Industri Makanan Ternak mul i bulan an a Agustus sampai September 2005 untuk .2.6.1. analisis kimia dilakuk an di Laborarotarium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Berkurangnya penggunaan jagung dan bungkil kedele (yang digantikan dengan bungkil inti sawit produk fermentasi) dalam ransum broiler.6. Penelitian Tahap Pertama Penelitian ini dilaksanakan selama 5 minggu di Labora rotarium Nutrisi Tenak Unggas. c. 1.11 pengolahan terlebih dahulu dengan menggunakan peran jamur Marasmius sp. untuk analisis kimia dilakukan di Laborarotarium Nutrisi Ternak Tahap Kedua (Pengukran u Kecernaan dan Energi . Penelitian Metabolis) Penelitian ini dilaksanakan selama 2 minggu di Laborarotariu Nutrisi m Tenak Unggas.6. dan secara tidak a langsung akan meningkatkan pendapatan mereka. maka outcomes buat perusahaan dapat menurunkan biaya produksi (ef iensi s meningkat) yang pada gilirannya diharapkan dapat menurunkan harga jual ransum. 1. 1. Waktu dan Lokasi Penelitian. Non Ruminansia d Industri Makanan Ternak mul i bulan an a Oktober 2005. Menurunnya harga ransum akan meningk tkan gairah para a petani-ternak dalam usaha budidaya aym broiler.

Penelitian Tahap Tiga (Feeding Trial) Penelitian ini dilaksanakan selama 5 minggu di kandang Pedca Fakultas Pertanian UNPAD mulai bulan januari 2006.12 Ruminansia dan Kimia Makanan Trnak Fakultas Peternakan Univrsitas e e Padjadjaran. 1.2.6. .

Jawa Ba bagian barat. Adapun sus unan taksonomi kelapa sawit adalah sebagai berikut : Divisio : Spermatophyta Sub Divisio : Angiospermae Kelas Ordo : Monocotyledoneae : Principes . bangsa Inggris da Portugis membawa kelapa sawi ke Amerika n t (Hartley. di Indonesia kelapa sawit banyak a terdapat di daerah Sumetera utara. Deskripsi Bungkil Inti Sawit Kelapa sawit Elaisguinensis) ( merupakan golongan yang dapa t menghasilkan minyak dan tumbuh baik di daerah tropis. Kelap sawit berasal a dari afrika barat yang mempunyai iklim tropis sejalan dengan perdagangan budak dari Afrika. Iklim yang baik untuk pertumbuhan kelapa sawit adalah daerah yang memiliki curah hujan 1500 mm per tahun. 1967 dalam Simanjunt k.1. Jambi. 1998). Kelapa sawit dapat berbuah pad ketinggian 1000 m diatas per ukaan a m laut. tetapi secara ekonomis sebaiknya dibawah ketinggian 500 m.13 II TINJAUAN PUSTAKA 2. rat Riau. Lampung. serta Irian Jaya namun yang paling menonjol terdapat di pulau Sumatera. Aceh. Kalimantan Barat dan Timur.

Kelapa sawit memiliki buah yang terdiri dari tiga bagian yaitu daging buah (mesocarp). produksi tahun pertama panen sekitar 10-15 ton tandan per hektar per ahun. Daunnya lurus dan ramping. tempurung (cangkang atau shell). Tanaman kelapa sawit mulai dip anen pada umur 3.5 -4. 1998). dan inti (kernel). Bagian luar dinding buah tebal dan sangat berserat sedangkan bagian dalam buah berwarna putih (Simanjuntak. Buah kelapa sawit berwarna merah kehitaman dan mengkilap. produksi ini meningkat s t etiap tahunnya dan mencapai puncak pada umur 8-9 tahun dengan tingkat produksi sekitar 20-30 ton tandan buah segar (Aritonang. serta mempunyai panjang antara 360-510 cm. Dalam buah kelapa sawit terdapat biji dan didalam biji tersebut terdapat inti sawit sekitar 4-4. mempunyai warna yang sama pada pangkal dan uju ngnya. Tanaman ini menghsilkan buah sepanjang tahun dn umur a a ekonomisnya sekitar 25 tahun.5 % dari berat tandan segar. batangnya kasar dan melingkar-lingkar serta tidak bercabang.14 Family Genus Spesies : Palmaceae : Elaeis : Elaeis quneensis Kelapa sawit mempunyai tinggi mencapai 6.5 tahun sejak pembibitan. pinggir daun berduri.5 meter. Pengolahan tandan buah segar k elapa sawit di hasilkan berupa minyak sawit dan minyak inti sawit seagai hasil utama yang diperol selain itu b eh .1984). Kelapa sawit mempunyai bunga yang terdapat dalam satu tandan dan bergerombol.

hal ini disebabkan pada bungkil ini sawit ini memiliki kendala yaitu berupa t tingginya kandungan serat yang akan mempengaruhi kecernaan p ada ternak khususnya ternak unggas.15 didapatkan pula hasil ikutan dari pengolahan kelapa sawit yaitu berupa bungkil inti sawit. mengatakan fermentasi dapat terjadi karena aktivitas mikroba penyebab fermentasi pada substrat organik yang sesuai. Fermentasi Fermentasi adalah suatu proses oksidasi karbohidrat anaerob atau anaerob fakultatif. Bungkil inti sawit merupakan hasil ikutan pada proses ekstraksi atau penekanan inti sawit.1988). et. tandan buah kosong serta tempurung. Bahkan stilah yang berlaku sekarang d i ipakai untuk menjelaskan pengeluaran gas kabondioksida selama sel sel hidup bekerja r (Desrosier. lumpur sawit kering. bungkil inti sawit ini dapat dijadikan bahan pakan untuk ternak karena memiliki energi dan protein yang tinggi.2. 2. Fermentasi juga dapat menyebabkan perubahan sifat b ahan makanan sebagai akibat pemecahan kandungan zat makanan oleh enzim yang dihasilkan oleh mikroba.al (1980). Menurut winarno. namun dengan tingginya nilai nutrisi tersebut tidak diimbangi dengan nilai kecernaannya pada ternak. Istilah fermentasi tersebut itu sendiri telah mengalami evolusi. . yaitu pada saat sebelum ditemukannya khamir. istilah tersebut digunakan untuk mener angkan terjadinya pengg elembungan atau pendidihan yang terlihat dalam pembuatan anggur. serat perasan buah.

16 Proses fermentasi sering didefinisikan sebagai proses pemecahan bahanbahan organik oleh mikroorgani me sehingga diperoleh bahan s -bahan organik yang diinginkan (Fardiaz. oleh karena itu dapat diantisipasi bahwa s l tunggal merupakan wuju kehidupan yang e d lengkap seperti khamir yang me iliki produktivitas enzim dan kapasitas m fermentatif yang tinggi diband ingkan dengan mahluk hidup yan lainnya g (Desrosier. Mikroorganisme ini sangat b erperan dalam proses fermentasi karena memiliki kemampuan untuk menghasilkan enzim dalam jumlah besar. Perubahan kimia oleh aktivitas enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme tersebut meliputi perubahan m olekul-molekul kompleks atau senyawa-senyawa organik seperti protein. k hamir. asimilasi. mikroorga nisme tersebut memiliki sel tunggal dan m empunyai kapasitas fungsional pertumbuhan.1988). reproduksi.1988). Pada proses fermentasi peristiwa yang terj di adalah suatu a rangkaian kerja enzim yang dibantu oleh energienergi metabolit yang khas berada dalam sistem biologis hidup. dan cendawan. Menurut Desrosier (1988). ada tiga kriteria penting yang harus dimiliki oleh mikrobia bila akan digunakan dalam proses fermentasi diantaranya yaitu : . karbohidrat dan lemak menjadi molekul sederhana dan mudah dicerna (Setiyatwan. pencernaan. 2001). dan memperbaiki isi dalam sel dimana bagi kehidupan tingkat tinggi sudah didistribusikan ke jaringan-jaringan. biasanya mikroorganisme yang berperan dalam proses fermentasi yaitu dari golongan bakteri.

organisme harus memiliki kemampuan untuk mengatur ketahanan fisiologis dalam kondisi seperti tersebut di atas. Proses fermentasi dapat dibedakan berdasarkan jenis mediumnya. Fermentasi sub strat padat adalah fermentasi dengan menggunakan substrat yang tidak larut tetapi mengandung air yang cukup untuk pertumbuhan d perkembangan mikroorganisme yang di an inokulasikan kedalam substrat itu sendiri sedangkan fermenta substrat cair si adalah proses fermentasi yang substratnya larut atau tersuspensi dalam fase cair. yaitu fermentasi substrat padat dan substrat cair. 3. sekam dan bahan yang m engandung lignoselulosa. 2. . dan menghasilkan en zim-enzim essensial dengan mudah dan dalam jumlah besar agar perubahan-perubahan kimia yang dikehendaki dapat terjadi.17 1. Menurut smith (1990) menyatakan bahwa fermentasi substrat pa dat berkaitan dengan pertumbuhan mikroba pada bahan padat dengan tidak atau hampir tidak adanya air bebas. kondisi lingkungan yang diperl ukan untuk pertumbuhan dan prouksi d maksimum dan komparatif harus sederhana. Mikrobia harus mampu tumbuh dengan cepat dal suatu substrat dan am lingkungan yang cocok serta mu dah untuk dibudidayakan dalam jumlah besar. Substrat ya g paling banyak digunakan dal m fermentasi n a substrat padat biasanya berupa biji-bijian.

beberapa hal yang harus di perhatikan sehubungan dengan penggunaan medium padat diantaranya yaitu : 1. 2. masing -masing mikroorganisme mempunya i kemampuan yang berbeda-beda dalam memecah komponen me ia untuk d keperluan metabolisme dari mikroorganisme itu sendiri 3. Sifat kimetika metabolisme dan kinetika enzim. Peningkatan Bungkil Inti Sawit Melalui Proses Fermentasi Bungkil inti sawit merupakan h asil ikutan dari pengolahan kelapa s awit.3. Meskipun bungkil inti sawit ini sangat potensial untuk dijadikan bahan pakan pengganti bahan impor tetapi penggunaannya belum seoptimal mungkin apalagi untuk dijadikan pakan monogastrik khususnya untuk unggas.18 Menurut Knaap dan Howel (1980). Bahan-bahan yang terkandung didalam limbah agroindustri ini tidak dapat digunakan untuk . Sifat mikoorganisme. bungkil inti sawit ini dapat d ijadikan sumber bahan pakan po tensial sebagai pengganti bahan pakan impor sehingga dengan adanya pengganti bahan pakan impor ini diusahakan biaya produksi di minimalisir sehingga menjadikan produk peternakan sebagai produk yang dapat dijangkau oleh kalangan menengah kebawah. 2. Hampir semua hasil ikutan maupun limb agroindustri memiliki kandu ah ngan nutrien yang rendah seperti kandungan protein dan vitamin yang rendah serta kandungan serat kasar yang tinggi dengan tingkat kecernaan yang re ndah. Sifat media terutama yang ada hubungannya dengan kistalisasi dan derajat polimerisasi.

Brum dan Albino.. pertumbuhan mikroba pada limba lignoselulosa h Selanjutnya dapat dilakukn untuk a melengkapi semua enzim hidrolitik yang kerap kali ditambahkan pada pakan dan juga dapat membuat mineral tersedia untuk absobsi oleh ternak. Kuhad et al. Mikrooganisme akan tumbuh denga cepat dan r n .. k bakteri dan alga pada skala be karena mikroba tersebut sangat atraktif pada sar bahan pakan hasil ikutan atau limbah agroindustri dengan poduksi protein sel yang tinggi serta memungkinkan mengandung semua asam amino yang esensial. Brum et al.1990. Untuk dapat mengatasi kendala tersebut maka diperlukan suatu usaha untuk memperbaiki kualitas bungkil inti sawit agar potensinya dapat dimanfaatkan secara optimal ol h tenak.1999 a.. dan dapat menambah cita rasa serta mengandung vitamin dan mineral yang tinggi (Pelczar et al..b). kimia dan biologis atau kombinasi diantaranya (Jackson...1997.19 ternak non-ruminansia dan pada kasus lain kecernaannya yang sangat rend ah dapat menyebabkan limbah terse but tidak banyak berguna untuk ruminansia. Usaha yang dapat dilak kan dapat e u berupa suplementasi perlakuan fisik.1996. Menurut Pelczar (1996) penggunaan mikroorganisme memberikan keuntungan tersendiri karena dapat meningkatkan nutrisi bahan pakan dibandingkan dengan c tradisional ara dari formulasi ransum. Pengolahan biologis dapat dila ukan dengan mengkultivasikan fungi.b. 1977). (Gomes et al.1999a. Brum et al. Lima et al.2000).1999.1993. Lima et al..

Mikroba yang dipilih pada proses fermentasi harus sehat dan berada dalam keadaan aktif sehingga mempersingkat masa adaptasi . Terkadang produk dari mikroorg anisme pada proses fermentasi dapat menghasilkan suatu racun hasil metabolisme dari mikroorganisme itu dan ihal tersebut sangat berbahaya dan dapat mematikan pada ternak yang memakannya.20 menghasilkan protein yang tinggi karena protein yang dihasilkan berupa protein sel tunggal dengan kisaran 600 g/kg. Untuk menghindarkan hal tersebut maka dalam proses fermentasi harus diawasi dari segala kontaminasi yang akan terjadi pada proses fermentasi tersebut. oleh karena itu resiko tersebu harus dapat dievaluasi pada seluruh proses t biokonversi yang dilakukan mik roorganisme untuk menghidari kemungkinan keracunan pada ternak yang mem akannya. Fermentasi by-product yang berasal dari peng olahan minuman anggur dan indu stri penyulingan telah lama digunak untuk ternak terutama rumin an ansia sebagai penyuplai protein dan energi. Kebanyakan by-product pada industri fermentasi lainnya juga telah digunakan s bagai sumber nutrient pada pa e kan campuran (Shaver dan Batajoo. Produk utama yang dihasilkan sangat penting untuk industri pengolahan pakan te rnak. selain itu mikroba yang dipilih pun harus sesuai dengan persyaratan agar didapatkan mikroba yang sesuai diantaranya : 1. Microbial by-product yang berasal dari industri fermentasi tradisional telah banyak digunakan pada bermacam-macam bahan pakan. 1995).

kapang. Bakteri dan i Khamir adalah uniseluler. Bebas kontaminasi 5. Efisiensi metabolik yang tinggi dalam menghasilkan enzim dan kegunaannya pada substrat. 3. N dan nutris lainnya untuk pertumbuhan. Peranan mikroba tersebut dalam bioteknologi ad alah untuk memperoleh produk b aru dengan meningkatnya kualitas komposis i gizinya dibandingkan asalnya tanpa pengolahan. Mempunyai laju pertumbuhan dan germinasi yang sangat cepat. Memiliki kemampuan memproduksi senyawa tertentu yang bers ifat toksik bagi mikroorganisme lainnya. Tingkat toleransi yang tinggi terhadap antibiotik. 3. seda ngkan jamur multi seluler. . Dapat menekan kemampuannya membentuk produk (Rahman. Suharto (1995) menjelaskan bahwa jamur. dan khamir merupakan kelompok mikroba yang tergolong dalam fungi (jamak) atau fungus (tunggal) yang mempunyai filament.21 2. 2. Fungi merupakan spesies yang paling tinggi kemampuan hidup dan daya saingnya dibandingkan mikroba lainnya. 4.1989). Berada dalam morfologis yang sesuai 4. hal ini disebabkan 1. Tersedia cukup sehingga menghailkan s inokulum yang optimal an d diharapkan inokulum dihasilkan dominan mikroba yang dipilih. tidak berisi butir-butir hijau daun dan dapat dipasok makanan sumber C.

2. Karakteristik Marasmius sp Jamur Marasmius sp merupakan jamur saprofit yang hidup pada batang kayu tumbuhan yang sudah mati. Jamur ini digolongkan sebaga jamur busuk i putih pada kayu yang diperoleh dari areal hutan tropik di Co lombia Amerika Selatan yang memiliki kelembaban udara sekitar 90 – 100 %. sp memiliki kemampuan memproduksi enzim ekstraseluller yang dapat mendegradasi senyawa lignin dan selulosa.4.22 Fermentasi dengan menggunakan jamur merupakan salah satu soluli yang potensial untuk dapat meningka tkan kandungan gizi bungkil in sawit dan ti menurunkan faktor pembatas yang ada pada bungkil in sawit tersebut seperti ti yang dikatakan oleh Anon (1977 Duran (1989) dan Kuhad (1997 bahwa ) ) fermentasi dengan menggunakan jamur dapat meningkatkan kandungan nutrient pada limbah agroindustri khusunya berkenaan dengan kandung protein dan an vitamin selain itu juga dengan proses fermentasi diharapkan bahan pakan yang berasal dari limbah agroindustri dapat meningkatkan kecernaannya. jamur ini dapat diindentifikasi sebagai berikut : Divisio : Mycota Sub division : Eumycotina Clasiss Sub clasiss Ordo : Basidiomycetes : Hymenomyceteae : Agaricales . Jamur ini di isolasi pada bulan maret tahun 199 Marasmius 0.

o Dengan adanya karakteristik Marasmius sp tersebut maka jamur ini dimasukkan kedalam kelas Basidiomycetes yang diduga dapat memecah ikatan lignin dengan karbohidrat dan ikatan lignin dengan protein pada bungkil in sawit sehingga ti bungkil inti sawit tersebut dapat digunakan sebagai bahan pakan ayam. Terdapat tiga tipe enzim phenoloksidase. Jamur ini masuk kedalam kelas basidi omycetes yang memiliki kemampu an mendegradasi lignin secara efisien. yaitu laccase. jamur ini memiliki kemampuan dalam mendegradasi lignin. bulat memiliki lamella seperti insang pada bgian tudung. Dikemukakan pula bahwa jamur Marasmius sp ini memiliki karakteristik penghasil enzim ekstraseluller phenoloksidase yaitu enzim yang terlibat dalam proses biodegradasi lignin. ditandai dengan pertumbuhan miselia yang cepat . Selama pertumbuhan vegetatif pertama. memiliki tubuh buah yang tida berklorofil k berwarna putih.1981). peroksidase dan tyr sinase (Crawford. tangkai dan tudung. a Tubuh buah disusun oleh bagian akar semu.23 Familia Marga Species : Tricholomataceae : Marasmius : Marasmius sp Jamur ini sebelum terindentifi si secara menyeluruh masih di eri nama k b CULH (“ Colombia Unindentified Lignophilic Hymenomycetes “). Jamur Marasmius sp termasuk kedalam jamur busuk putih yang tumbuh baik pada suhu 300 C dengan kelembaban 60-70 % pada suasana aerob. Jamur ini memiliki basid ia yang ditandai dengan hymenium.

24 diatas substrat. se pada fase ini sel -sel mengembangkan diri secara eksponensial sampai pertumbuhan maksimal tercapai. kelem baban. dan tingkat keasaman media atau substrat. kemudian fa logaritma. lamanya waktu yang dibutuhkan dalam masing-masing fase tergantung beberapa faktor diantaranya kosentrasi nutrient dan faktor eksternal seperti suhu. fase ini lamanya sekitar 3-10 hari. didalam media ini dibag tiga fase. Pertumbuhan jamur Marasmius sp pada skala laboratorium menggunakan media potato dext ose agar dengan pemberian sed r ikit ekstrak yeast. Menurut Joetono (1989) serta Garraway dan Evans (1984). setelah fase logaritma kemudian ke fase selanjutnya yaitu fase stasioner dimana fase ini akan terjadi jumlah koloni yang stagnan dan menuju kepada penurunan jumlah koloni yang disebabkan oleh pengurangan nutrient yan ada pada media sehingga g pertumbuhan miselia jamur terhambat dan pada akhirnya pertumbuhan berhenti. Pengetahuan mengenai nutrisi dan morfologi jamur merupakan s uatu hal yang penting untuk mempelajari aspek ekologinya yang akan me nggambarkan biodeteriorasi dan biodegradasi (Eggins dan Allopp. kadar air dan ketersedian oksigen. Mengetahui fase logaritma sangat penting untuk pembuatan inokulum. juga untuk mengetahui saat kandungan substrat didegradasi dalam hal ini fraksi-fraksi serat kasar seperi lignin dan selulosa. .1975). yaitu fase pertam adalah fase i a penyesuaian dengan kondisi media dan lingkungan.

Peranan Marasmius sp dalam Proses Fermentasi Jenis cendawan yang bermanfaat untuk pengolahan bahan pakan yang berlignoselulosa adalah jamur (pelczar dan Chan. Secara alamiah ce dawan atau jamur dapat berkem n bang biak dengan berbagai cara secara aseksual dengan pemb elahan. Pada pembelahan.25 2.5. Jamur hanya dapat tumbuh dalam keadaan aerobik sehingga sering kali disebut mikroorganisme aerobik sejati. atau pembentukan spora. Jamur yang dapat diinokulasika n kedalam bahan yang memiliki lignosellulosa yang tinggi bia sanya jamur yang dapat memilik atau dapat i memproduksi enzim ekstra selul r seperti enzim selula atau enzim ligno e se peroksidase dimana enzim tersebut dapat memecah ikatan komplek pada bahan yang berlignoselulosa menjadi suatu senyawa yang sederhana. dimana kapang atau jamur m emerlukan senyawa organik untuk nutrisinya. 1986). dimana terdapat bagian -bagian berupa miselium. dan dapat pula secara seksual dengan peleburan nucleus dari dua sel induknya. Pada spesies saprofitik. penguncupan. sedangkan pada penguncupan suatu sel anak tumbuh dari penonjolan kecil pada sel inang. salah satu jamur yang dapat diinokulasikan pada bahan berlignoselulosa diantaranya adalah jamur . a o Jamur merupakan organisme heterotrof ik. jamu bersifat r vilamentus (berbentuk benang-benang.1986). jamur tumbuh pada kisaran suhu optimal 22 0 C(Pelczar dan -30 Chan. kumpulan beberpa vil men yang disebut hifa) dan sp ra. suatu sel membelah diri untuk membentuk dua sel anak yang serupa.

23 % dan 54.26 Marasmius sp.78 % jika ditam bahkan 0. sed angkan pada kayu kapur meningkat 40. n Selama pertumbu hannya pada Jamur ini juga m ampu mendegradasi lignin dalam sekam dan substrat serbuk kayu albasia dan kayu kapur jamur ini memerlukan gizi tambahan berupa nitrogen serta karbohidrat mudah dicerna sebagai sumber energi berupa ampas tapioca sebesar 15-25 %. jerami padi. Dalam hal pendegradasian fraksi serat kasar berupa lignin da selulosa n penggunaan nitrogen dalam senyawa lain dan mineral Mn2+ sangat diperlukan untuk pertumbuhan jamur Marasmius sp.45 %. (Hendritomo.5 % serta dengan penambahan Mn2+ menunjukkan degradsi lignin dan selulosa yang cepat dengan menggunakan mineral KNO 3 dibandingkan dengan penambahan urea yaitu sekitar 68. . 1995).5 % pada lignin dan 18.5 % urea atau berupa NH4N03 sebanyak 0. Sumber nitrogen yang dapat ditambahkan bias menggunakan 1 . Pertumbuhan jamur Marasmius sp telah diteliti oleh Trahayu (1994) pada serbuk gergaji kayu albasia da kayu kapur.75 % KNO3 dan 0.5 % nitrogen yang siap pakai dan 10 %ampas tapioka.95 % dengan penambahan 2 % nitrogen dan 25 % ampas tapioka. se dangkan dekomposisi lignin akan meningkat sekitar 30. Marasmius sp dapat mendekomposisi selulosa kayu albasia dan kayu kapur masing-masing 71.3 % pada selulosa. Hasil penelitian Trahayu (1994) dan Hendritomo (1995) bahwa jamur Marasmius sp ini mampu mendegradasi lignin dalam kayu albazia dan kayu kamper.

a Proses yang berlaku ketik lignin akan a didegradai oleh enzim yang dih asilkan oleh Marasmius sp. . serta H2O2 yang dikeluarkan oleh aktivitas enzim glikosal oksidase (dikeluarkan oleh hif ). yaitu mula-mula veratil alcohol yang dihasilkan dala m hifa berperan penting dalam penyeimbangan ligin peroksidase yang berlawanan dengan tidak aktifnya H2O2. Selulosa dapat didegradasi menjadi selobiosa ekstraseluler pada melaui rant panjang 1 anhidroglukosa oleh enzim ai -4 beberapa ja mur yang termasuk kelas Ascomy cetes.27 Pada proses pendegradasian sen yawa lignin merupakan proses ekstraseluler dimana Marasmius sp menghasilkan enzim lignin peroksidase dan mangan peroksidase. ya on ng memulai reaksi kimia oksidatif yang secara tidak be raturan dan hasil akhirnya pem otongan lignin dengan O2. kemudian enzim mangan peroksidase akan merubah Mn2+ menjadi Mn3+ yang mempunyai bobot molekul yang lebih rendah dan berfungsi sebagai mediator yang dapat berdifusi ke bagian ya g tipis dari molekul lignin d n an memulai proses oksidasi. Lignin peroksidase melepaskan satu elektron pada molekul lig nin yang bukan phenol kemudian membentuk kati radikal. Beberapa species jamur memliki kemampuan untuk dapat mendegradasi komponen serat kasar terutama lignin dan selulosa tetapi dari kesemuanya hanya yang termasuk kedalam kelas jamur busuk putihlah yang memiliki kemampuan mendegradasi lignin dan selulo secara efisien hal ini dika sa renakan jamur tersebut mampu memproduksi enzim ekstraseluler.

dada relatif lebar. 2. Deskripsi Ayam Broiler Istilah broiler berasal dari b ahasa asing yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah ayam pe daging. Dekomposisi selulosa terjadi di dalam sel jamur dimana selubiose memecah selobiosa. terutama yang termasuk kedal am Homobasidiomycetes. Proses pemecahan selulosa dibagi menjadi tiga tahapan diantaranya. 3. hemiselulosa sebagai sumber energi dan karbon dimanfaatkan oleh jamur tersebut yang akhirnya membentuk karbondioksida dan air (Hardjo.6. Anyaman fiber sudah lebih basa dan regang oleh adanya kerja enzi h m selulase terhadap substrat sehingga memudahkan kerja enzim berikutnya. mempunyai pertumbuhan yang cepat.. kulit halus dan lembut. 2.28 Imperfectic dan Basidiomycetes . . daging yang empuk dengan timbunan daging yang baik. Selubiosa dihidrolisis menjadi glukosa oleh mekanisme kerja enzim βglukosidase yang disebut selubiose.et aI. yaitu : 1. jumlah konsumsi yang sedikit dan pertumbuhan bobot badan yang tinggi. Dilain pihak Whitehead and Parks (1988) mengatakan bahwa ayam broiler secara genetik di eleksi untuk mendapatkan lemak tubuh yang s rendah.1989). Wahyu dan sugandi (197 9) mendefinisikan bahwa ayam broi er adalah ayam muda baik jant maupun l an betina yang berumur dibawah 16 minggu. Selulosa dipecah menjadi disacharida selubiosa.

Satu kilokalori adalah panas yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 kilogram air .5 u -15. system perkandangan dan pencegahan penyakit. 1979). Umumnya setiap pertambahan umu dua minggu. Menu Atmadilaga t rut (1972) hasilnya tergantung pada strain broiler yang dipeliha mutu makanan ra.7. Lebih lanjut Scott dkk. 1982).3 -1. 1992). 2.29 Bobot broiler hidup saat dipas arkan biasanya 1. Perbedaan umur pemeliharaan da pertumbuhan ini merupakan hail n s interaksi antara faktor heredi as dengan lingkungannya. pencernaan dan metabolisme zat zat makanan untuk pelepasan en ergi (Jull.50 C.. Energi Dan Energi Metabolis Energi berasal dari bahasa yun yaitu en berarti di dalam dan ergon ani berarti kerja (Scott dkk. yang diberikan. 2001) menyatakan bahwa periode pertumbuhan paling cepat pada broiler terjadi sampai umur delapan minggu. Enrgi diperoleh dari konsumsi m e akanan. Sesudah itu. 1963).. a r kan menghasilkan bobot badan dua kali lipat dar bobot badan sebelumnya sampa umur enam i i minggu. Stu gram kalori adalah panas yang a 0 diperlukan untuk menaikkan suh 1 gram air 1C dari 14. Hewan mempergunakan makanannya tidaklain untuk kebutuhan energi yaitu untuk fungsi-fungsi tubuh dan untuk melancarkan reaksi-reaksi sintesis dari tubuh.4 kg/ekor bila dipelihara selama enam minggu (Rasyaf. pertambahan bobot badan menurun perlahan (Lubis. Energi diukur dengan kalori.

Sejalan dengan pendapat Cullison (198 yang 2) mengemukakan bahwa energi meta bolis adalah energi yang digu nakan untuk memetabolisme zat-zat makanan dalam tubuh. Energi metabolis memperihatkan nilai suatu bahan maknan untuk l a memelihara suhu tubuh. gas amoniak (NH3). lemak dan protein yang merupakan zat-zat organik dalam bahan makanan. 1993). 2004). Energi yang terdapat dalam bahan makanan merupakan nilai energi kimia yang dapa diukur dengan merubahnya ked t alam energi panas. 1982 d alam Sundari. a l dengan jumlah panas yang dihas ilkan sebagai energi bruto (Mc Donald dkk. . satua nya dinyatakan dengan n kilokalori per kilogram. Untuk unggas dan monogastrik gas-gas hasil proses pencernaan dapat diabaikan (Hartadi dkk..30 10C (14. Proses perubahan menjadi panas ini dapat dilakukan dengan membakar bahan makanan kedalam suatu al t yang disebut Oxigen Bomb Caorimeter. Panas ini timbul sebagai akibat terbakarnya zat-zat makanan seperti karbohidrat.. Adapun gas-gas yang dihasilkan unggas dapat berupa uap air. Pendapat tersebut diperkuat dengan pernyataan Darana (1975) bahwa energi metabolis merupakan energi yang dipergun akan pada pembentukan dan perombaka zat-zat makanan dalam tubuh.5-15. pembakaran gas-gas dan urin. Nilai Energi n . 1994) Menurut Anggorodi (1984) Energi Metabolis merupakan energi makanan dikurangi energi yang hilang dalam feses. asam sulfide (H2S) dan metana (Sibbald.50 C) (Wahyu. 1997).

karena sebagian akan dibuang melalui feses dan urin. 1995) . Energi Metabolis juga tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin (Sibbald dan Slinger. 1960 dalam Tjitjah. Umur ayam kecil pengaruhnya dalam menentukan nilai energi metabolis suatu bahan pakan yang diuji. Tingkat energi dalam ransum menentukan banyaknya makanan yang dikonsumsi. Menurut Tillman dkk. Ayam mengkonsumsi ransum untuk memenuhi kebutuhan energinya dan akan berhenti makan apabila kebutuhan energi telah terpenuhi. energi dalam ransum tidak dapat dipergunakan seluruhnya oleh ayam. 1982). Hal ini didukung oleh pernyata Mc. keseimbangan zat-zat makanan dan faktor ternak yang selanjutnya akan mempengaruhi nilai energi metabolis suatu bahan pakan. 1992). Donald dkk.31 Metabolis dari beberapa bahan makanan dapat diperbaiki denga pengolahan n (Wahyu.. (1991) daya cerna suatu bahan pakan dipengaruhi oleh kandungan serat kasar. Oleh karena itu. Konsumsi ransum umumnya meningkat jika ransum yang diberikan mengandung nilai energi yang rendah. penyusunan ransum untuk unggas terutama ayam sebaiknya didasarkan pada perhitungan energinya (Scott dkk. (1994) bahw rendahnya an a daya cerna terhadap suatu bahan pakan mengakibatkan banyaknya energi yang hilang dalam bentuk ekskreta sehingga nilai energi metabolis menjadi rendah. Namun.

maupun pertu buhan..32 2. 1989). Selanjutnya dinyatakan pula bahwa nitrogen yang diret nsi merupakan e bagian nitrogen dari makanan y ang tidak diekskresikan dalam feses dan urin. produksi. Perhitungan melalui keseimbang nitrogen yang masuk dan nit an rogen yang keluar dapat menentukan besarna y nitrogen yang diretensi. Respon yang positf terhadap retensi nitrogen d i iperlihatkan bila ransum yang diberikan cukup mengandung asam -asam amino esensial yang dibutuhkan (Parakkasi. Me tode ini merupakan perluasan percobaan pengukuran daya cerna dengan m engukur kehilangan-kehilangan lain karena penggunaan makanan. nilai sebenarnya dari makanan untuk ternak ditunjukkan dengan bagian yang hilang setelah pencernaan. Retensi nitrogen yang terkenda li menghasilakan suatu pengukuran kuantitatif terhadap metabolisme protein dan menunjukkan apakah hewan dalam keadaan bertambah atau berkurang kadar protein di dalam tubu hnya (Tillman dkk. m ataukah akan terjadi perombaka jaringan tubuh untuk memenuh kebutuhan n i . penyerapan dan metabolismenya (Tillman dkk. Retensi Nitrogen Kualitas makan tertentu dapat ditentukan dengan analisis kim tetapi ia.8. diretensi akan menentukan cuku tidaknya nitrogen dari makan guna p an memenuhi kebutuhan untuk hidup pokok. Juju Wahju (1972) menjelaskan bahwa protein dari suatu bahan makanan dapat dihitung malalui persentase n itrogen yang dikonsumsi dibandingkan denga nitrogen yang dikeluarkan Nitrogen yang n . 1989). 1983)..

33

tersebut sebagai tambahan atas kehilangan nitrogen. Retensi nitrogen tidak hanya dapat menentukan nilai gizi dari proteinsuatu bahan makanan tetapi juga dapat menentukan kebutuhan protein u ntuk hidup pokok, pertumbuhan, maupun produksi dari seekor ternak. Nitrogen yang diretensi dapat dihitung dari selisih antara nitrogen yang masuk dengan nitrogen yang keluar bersama feses dan urin. Khusus pada unggas terdapat kesulitan untuk mengukur nitrogen pada feses dan urin secara terpisah (Mc Donald, 1978). Berdasarkan hasil penelitian uju J Wahyu (1972), ternyata tinggi

rendahnya retensi nitrogen

me mpunyai kaitan erat dengan kon sumsi ransum,

konsumsi protein, kualitas protein dan imbangan energi-protein. Semakin tinggi konsumsi ransum akan menghasilkan retensi nitogen r yang semakin tinggi pula. Lebih lanjut Juju Wahyu (1972) menerangkan bahwa peningkatan konsumsi ransum akan memberikan kesempatan pada tubuh untuk meretensi zat-zat makanan lebih banyak termasuk didalamnya nitrogen. Ewing (1963) menyatakan bahwa retensi nitrogen yang menurun dengan adanya peningkatan protein ran sum mungkin dikarenakan ssebag ian protein digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi. Hasil ini menunjukkan pentingnya konsumsi energi yang cukup jika ayam digunakan untuk mengevaluasi kualitas protein berdasarkan keseimbangan nitrogen.

34

Kualitas protein suatu bahan m akanan ditentukan oleh kelengkapan dan keseimbangan asam-asam amino yang terkandung did alamnya (Tillman dkk., 1986; Wahju, 1992). Retensi ni trogen akan rendah apabila kuaitas protein l rendah seperti bila salah satu asam aminonya kurang. Winter dan Fung (1960) menerangkan bahwa makanan yang mempunyai kandungan protein dengan kualias yang baik menyebabkan palaabilitasnya t t tinggi, sehingga konsumsi rans m meningkat dan akibatnya nil retensi u ai nitrogennya semakin meningkat pula. Mueller dkk. (1956) mengemukakn bahwa jumalh nitrogen yang a diretensi dipengaruhi oleh imbangan zat-zat makanan dalam ransum terut ma a protein dan energi metabolis. Turun naiknya konsumsi protein dan energi metabolis dalam ransum akan mempengaruhi jumlah retensi nitrogen yang sangat penting bagi pertumbuhan. Wahju (1992) menyatakan bahwa apabila kandungan energi dalam ransum tinggi sedangkan kandungan protein rendah akan menyebabkan retensi nitrogen menjadi rendah. Hal ini diseba bkan bahwa dengan meningkatnya kandungan energi dalam ransum tanpa diik ti peningkatan protein akan m u enyebabkan turunnya konsumsi ransum, sehingga protein yang dikonsumsi a kan menurun yang pada gilirannya nitrogen yang diretensi menjadi rendah. Oleh karena itu, meningkatnya energi dalam ransum haru diikuti oleh peningkatan kan s dungan proteinnya. Dengan begitu kebutuhan protein untuk pertumbuhan dapat dipenuhi.

35

Sebaliknya apabila kandungan e nergi dalam ransum rendah dan kandungan proteinnya tinggi, maka nitrog ennya yang diretensi akan tinggi pula. Ha itu l disebabkan protein yang dikons msi digunakan untuk kebutuhan energi, u sehingga protein untuk menunjang pertumbuhan tidak terpenuhi. 2.9. Sistem Pencernaan Ayam Broiler Sistem pencernaan merupakan sistem yang terdiri dari saluran pencernaan dan organ-organ pelengkap yang berperan dalam proses perombakan bahan makanan, baik secara fisik, maupun kimia menjadi zat-zat makanan yang siap diserap oleh dinding saluran pencernaan (Parakkasi, 1983). Sedangkan menurut Anggorodi (1985) pencernaan adalah penguraian bahan makanan ke dalam zatzat makanan dalam saluran pencernaan untuk dapat diserap dan digunakan oleh jaringan-jaringan tubuh. Pada pencernaan terdapat suatu proses mekanis dan khemis dan

dipengaruhi oleh banyak faktor. Lebih lanjut Tillman, dkk., (1998) menyatakan bahwa saluran pencernaan dari semua hewan dapat dianggap seb agai tabung yang dimulai dari mulut sampai anus dan fungsinya dalam salu pencernaan ran adalah mencernakan dan mengabsrpsi makanan dan mengeluarkan sisa o makanan sebagai tinja. Anatomi sistem pencernaan unggas dipe rlihatkan pada gambar 1.

Gambar 1. Anatomi sistem pencernaan

36

Sistem pencernaan unggas berbe dengan sistem pencernaan tenak da r mamalia atau ternak ruminansia, karena pada unggas tidak memiliki gigi tetapi paruh untuk melumat makanan, unggas menimbun makanan yang dimakannya dalam tembolok, suatu ventrikulum (pelebaran) esofagus yang tak terdapat pada ternak non-ruminansia lain. Kemudian maka nan tersebut dilunakkan sebelum masuk ke proventrikulus. Makanan secara cepat melew proventrikulus ke ati ventrikulus atau empela. Fungs utama empela adalah untuk me ghancurkan i n makanan dan menggiling makanan kasar, dengan bantuan grit (b kecil dan atu pasir) sampai menjadi bentuk p asta yang dapat masuk ke dal m usus halus. a Setelah makanan masuk ke dalam usus halus, pekerjaan pencernaan sama dengan pada hewan non-ruminansia lain. Usus besar unggas sangat pendek jika dibandingkan dengan hewan nonruminansia lain, terutma dengan babi dan manusia. Kenyataan ini dihubungkan dengan jalannya makanan di kol n dan sekum, diketahui bahwa ada aktivitas o jasad renik dalam usus besar u nggas tetapi sangat rendah jik dibandingkan a dengan non-ruminansia lain. Kenyataaanya, sangat diragukan apakah selul sa o mengalami hidrolisis dalam usus besar, namun ada petunjuk bahwa hemiselulosa mengalami sedkit hidrolisis. Prinsip penentuan kecernaan za t-zat makanan adalah menghitung

banyaknya zat-zat makanan yang dikonsumsi di urangi dengan banyaknya zat k makanan yang dikeluarkan melalui feses (Schneider dan Flatt, 1975; Ranjhan, 1980). Koefisien cerna adalah selisih antara zat-zat makanan yang terkandung dalam makanan yang dimakan dan zat-zat makanan dalam feses adalah jumlah yang tinggal dalam tubuh hewan atau jumlah dari zat-zat makanan yang dicerna (Anggorodi, 1984). Tillman, dk (1984) mengasumsikan bahwa daya cerna k.,

37

adalah zat gizi yang tidak terdapat dalam feses adalah habis untuk dicerna dan diabsorbsi. Pada unggas terdapat masalah k husus dalam saluran pencernaan karena urine dan fes keluar bersama es -sama melalui kloaka sehingga eduanya k bercampur, tetapi hal ini dapat diusahakan dengan jalan pemisahan nitrogen urine dan feses secara kimia, atau dilakukan pembedahan untuk memisahkan saluran urine dari kloaka, dan dapat p dengan teknik pembunuhan untuk koleksi ula sampel dari usus besar sampai kloaka mengikuti metoda Sklan dan Hurwitz (1980) yang disitir Wiradisastra (1986) dimodifikasi Abun (2003). 2.9.1. Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik Pakan yang dikonsumsi sebelum siap dimanfaatkan oleh tubuh ternak, terlebih dahulu harus mengalami perombakan. Bahan pakan tersebut dirombak melalui degradasi yang berlang sung dalam saluran pencernaan (Lubis, 1963). Umumnya zat-zat makanan yang sering diukur kecernaaannya adalah bahan kering, bahan organik, protein dan serat kasar dan BETN (Anggorodi,1994). Pada kondisi normal, konsumsi bahan kering dijadikan ukuran konsumsi ternak, konsumsi bahan kering bergantung pada banyak faktor, diantaranya adalah kecernaan bahan kering pakan, kandungan energi metabolisme pakan dan kandungan serat kasar pakan (Kearls, 1982). Kecernaan bahan kering diukur untuk mengetahui jumlah zat ma kanan yang diserap tubuh. Melalui analisis dari jumlah b ahan kering, baik dalam ransum maupun dalam feses. Jumlah bahan kering yang dikonsumsi dan jumlah

1998). kuku dan di dalam tubuh ayam untuk bulu.2. dkk.. 1977). kolagen.. tenunan pengikat. pertumbuhan dan metabolisme. Kecernaan Protein Kasar Protein merupakan struktur yang sangat penting untuk jaringan –jaringan lunak di dalam tubuh hewan seperti urat daging. p pertumbuhan dan untuk produksi (Parakkasi. dkk. umumnya mempunyai kecernaan yang rendah pula dan sebaliknya. kuku dab bagian tanduk dan paruh (Juju Wahyu. Sdangkan Anggorodi e (1980) menyatakan protein dapat digunakan untuk memperbaiki jaringan yang rusak .9. Selain itu. dkk. Tillman. 2.. Kecernaan protein kasar tergan tung pada kandungan protein di dalam ransum (Ranjhan. (1998) menyatakan protein adalah senyawa organik komplek dan merupakan suatu mol kul makro dan s e polimer dari asam-asam amino yang digabungkan dengan ikatan peptida. 1997). Bahan-bahan organik yang terdapat dalam pakan tersedia dalam bentuk ti dak larut. Tillman. dkk. Protein merupakan bagian dari bahan kering sehingga bila . Ransum yang kandungan proteinnya rendah. Hal ini sejalan dengan pendapat Scheider dan Flatt (1 975) dan Tillman.1982.1998). sehingga diperlukan suatu proses pemecahan zat-zat tersebut menjadi zat -zat yang mu dah larut (Tillman.. (1989) yang mengemukakan bahwa tinggi rend ahnya kecernaan protein tergan tung pada kandungan protein bahan pakan dan banyaknya protein yang mas k dalam u saluran pencernaan. rambut. 1983).38 yang diekskresikan dapat dihit ng dan selisihnya adalah yang dapat dicerna u (Ranjhan. protein merupakan salah satu diantara zatzat makanan yang mutlak dibutu hkan ternak baik untuk hidup okok. kulit.

10. 2. . 197 ). Menurut M 9 aynard dan Loosli (1969). Sedangkan menurut Anggorodi (1984) berpendapat yang mempengaruhi daya cerna adalah : (1) suhu (2) laju perjalanan melalui alat pencernaan (3) bentuk fisik bahan makanan (4) komposisi ransum (5) pengaruh terhadap perbandingan dari zat makanan lainnya.39 kecernaan bahan kering tinggi maka kecernaan protein tinggi pula. perbedaan kecernaan bahan maka nan pada hewan terjadi karena perbedaan anatomi dan dan fisiologi dari saluran pencernaan. dimana tingginya kecernaan menunjukan tingginya kualitas bahan pakan. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecernaan Kecernaan setiap bahan makanan at u ransum dipengaruhi oleh : 1) a ( spesies hewan (2) bentuk fisik makanan (3) komposisi bahan m akanan atau ransum (4) tingkat pemberian makanan (5) temperatur lingkungan serta (6) umur hewan (Ranhjan dan Pathak.

5 %. 4 FeSO4. Bahan Penelitian Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1.05 %. Bungkil Inti Sawit yang diperoleh dari Pabrik Pengolahan Inti Sawit PTPN IV Unit Pabatu. MgSO.1.1. kabupaten deli Serdang Sumatera Utara 2. Sendok Pengaduk 3.7H2O 0.5H2O 0.1. Plastik 4. Media Agar Ekstrak Kentang-Yeast (PDAY) 4. Bahan dan Alat Penelitian Tahap I (Fermentasi Bungkil Inti Sawit) 3.1. Lemari incubator 5.2. Kapas steril .40 III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.01 % dan mineral CuSO4. Mineral standar (NH4NO3 0. Timbangan OHAUS kapasitas 310 gram 2.001) 3. Kapang Marasmius sp dalam media PDA agar miring p ada tabung reaksi sebagai biakan murni yang diperoleh dari Laborarotarium Mikrobiologi dan Fermentasi ITB Bandung 3. KCL 0.05 %. Alat Penelitian Alat penelitian pada tahap pertama yaitu : 1.7H2O 0.

digunakan untuk b menghilangkan cacing yang terd apat dalam saluran pencernaan sehingga tidak menyebabkan penyakit pad saluran pencernaan dan ayam iberi a d . Ayam dibagi secara acak ke dalam 20 unit kandang. Blender 9.41 6. masing-masing ditempatkan pada kandang individu (Individual cages) setiap kandangnya diberi nom or untuk memudahkan pencatatan.2. Gelas ukur 10. Bahan dan Alat Penelitian Ta hap Kedua Metabolis dan pengukuran Kecernaan). Bahan Penelitian Bahan . Auto Clave 3.Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. berumur 7 minggu dengan berat badan rata-rata 2. Pemanas spirtus 7. Penelitian akan menggunakan ayam broiler strain Arbor Acress (CP 707) sebanyak 20 ekor. tanpa pemisahan jenis kelamin. Kawat oase 8.1. 2. Alumunium Foil 11.3 kg dan koefisien variasi tidak lebih dari 10%. Obat-obatan Jenis obat-obatan yang digunakan berupa o at cacing. Termometer 12.2. Tabung reaksi dan Cawan Petri 13. (Penentuan Energi 3.

kandang dibersihkan dan desinfektan dengan menggunakan formalin kemudian dilakukan pengapuran agar terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme yang merugikan. Alat Penelitian stress pada lingkungan Peralatan yang digunakan selama penelitian tahap kedua adalah : 1. Termometer untuk mengukur suhu kandang. diletakan dise belah luar kandang. bungkil inti sawit dan produk fermentasi. Tempat pakan dan air minum 3. 2.2. 5. Masingmasing kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan air minum. digunakan untuk menimbang pakan. .42 vitamin pada saat baru datang untuk mengurangi barunya 3. Hygrometer untuk mengukur kelembaban kandang. Sebelum kandang digun akan. Baki plastik dan alumunium foil untuk menampung feses. Timbangan analitik. Split (alat suntik) yang sudah dimodifikasi untuk mencekok ayam. 7. 6. Kandang Penelitian Kandang yang akan digunakan da lam penelitian adalah kandang individual dengan ukuran 35 cm x 25 cm x 40 cm. serta menimbang feses. 4.2.

premix. bungkil kedele.1.4. 20%. corn glutein meal. sebanyak 30 unit.3. tepung ikan. Penelitian Tahap I (Fermentasi Bungkil Inti Sawit) Peubah yang diukur pada penelitian ini adalah perubahan Kandungan Gizi dari Bungkil Inti Sawit berupa protein kasar. Kandang yang akan digunakan adalah system cage dengan ukuran 1 m X 1m untuk 10 ekor ayam. 25%. wheat bran. tepung tulang. 3. 3. 2. Pakan. halus. 3. 30. Adapun bahan ang digunakan adalah sebagai y berikut : 1. Peubah yang Diukur. Bahan Penelitian Percobaan tahap tiga adalah untuk menguji produk fermentasi bungkil inti sawit terbaik hasil penelitian tahap satu dan dua dengan ber bagai tingkat penggunaan dalam ransum terhad performan ayam broiler. Alat dan Bahan Penelitian Tahap III ( Feeding Trial ) 3. dan bungkil inti sawit produk fermentasi dengan perlakuan dalam ransum sebanyak 0%. sera produksi ap t karkas dan komponennya. serat kasar dan bahan kering. dan 35%. Ayam yang akan digunakan adalah ayam broiler umur 1 hari (DOC) strain “Cobb” sejumlah 300 ekor tanpa pemisah jenis kelamin.1. meat bone meal. . 15%.4. Ayam. rape seed meal. Bahan pakan yang akan digunakan adalah jagung kuning dedak .3. Kandang dan perlengkapannya.43 3.

konversi ransum. Penelitian Tahap III (Feeding Trial) Peubah yang diamati meliputi : konsumsi ransum. kandungan protein kasar pakan. Kandungan bahan kering pakan.5. pertambahan bobot badan.44 3.4.3. serta keuntungan kotor (“income over feed and chick cost”).5 jam. serta kandungan lignin pakan. disaring dengan kain kasa. persentase karkas dan komponennya. dimasak sampai larut. dan ekstraknya ditambah 30 gram gula pasir dan 15 gram agar batang. 3. kandungan bahan organik pakan. .1. Metode Penelitian 3. kandungan bahan kering ekskreta. Pembuatan Media Ekstrak Kentang. 3.5. Tahapan Penelitian Tahap I (Fermentasi Bungkil Inti Sawit) 1. Penelitian Tahap II (Pengukura Energi Metabolis n Kecernaan) dan Nilai Peubah yang diukur pada penelitian ini adalah Nilai Energi Metabolis dan Retensi N. kandung protein kasar ekskreta. serta kandungan lignin ekskreta.4. Sebanyak 300 gram kentang diblender kemudian dimasak dalam 1000 ml aquades selama 2. kemudian didinginkan dengan meletakan pada posisi miring. kan an dungan bahan organik ekskreta.2. Setelah larut kemudian ditutup dengan kapas dan di autoclave dengan tekanan 120 kPa (17 psi) selama 25 menit.

kemuian d diinkubasi selama 2 minggu pada suhu 300C. Bungkil Inti Sawit sebanyak 100 gram dimasukkan dalam kantong plastik 15 x 25 cm. Fermentasi Bungkil Inti Sawit. Perhitungan Spora 1 gram inokulum diambil kemudian dimasukan kedalam ta ung reaksi. diamkan selama semalam kemudian hitung jumlah spora yang aktif dalam cawan petri. Perbanyakan Jamur. Larutan inokulum terlebih dahulu dibuat dengan cara mengencerkan biakan murni dengan aquadest steril kemudian larutan inokulum diinokulasikan pada 80 gram BIS dan 15 gram jagung steril serta 5% mineral. Pada pengenceran 10 dan 10 diambil masing -masing sebanyak 1ml kemudian masukan kedalam cawan petri bersamaan dengan media agar ekstrak kentang-yeast steril. digiling dan siap diinokulasi. Biakan Murni Marasmius sp digoreskan pada media ekstrak kentang-yeast steril kemudian diinkubasikan pada suhu 300C selama 6 hari. 5. b setelah itu tambahkan 9ml aqua est steril kemudian diencerka sampai d n -5 -6 dengan 10-6. 4. ditambahkan air sebanyak 60 ml kemudian dikukus selama 1 jam sejak air kukusan mendidih. 3. Substrat yang telah ditambahkan larutan mineral standar kemudian . Pembuatan Inokulum. di inginkan dan ditambahkan larutan mineral d standar. dipanen dan dikeringkan pada suhu 400C.45 2.

5. 3. 3. 6. Larutan mineral standar dibuat dengan melarutkan mineral yang terdiri atas mineral NH4NO3 0.7H2O 0. FeSO4. 7.0 %.0. Penentuan nilai energi metabolis dilakukan terhadap 30 ekor ayam broiler umur 5 minggu yang ditempatkan secara acak pada kandang individu dengan ukuran 35 X 35 X 40 cm . 1. a Setelah masa inkubasi selesai. Pengukuran Energi Metabolis Uji biologis dilakukan secara eksperimen pada ayam broiler umur 5 minggu. untu k .5 %.2.05 %.001 kedalam 1000ml aqudest. kemudian diinkubasi dengan suhu kamar selam 2. Larutan Mineral Standar. Penelitian Tahap II ( Pengukuran Penentuan Energi Metabolis dan pengukuran Kecernaan). Pakan diberikan secara tunggal (BIS tanpa fermentasi dan pro duk fermentasi) dengan metode “force feeding” untuk menentukan kandungan energi metabolis bungkil inti sawit dan produk fermentasi hasil penelitian ya terpilih pada ng Tahap I. dan 4 minggu.01 % dan mineral CuSO4.46 diinokulasi dengan dosis inokulum sebanyak 5. KCL 0. setelah kering digiling dan siap dianalisis proksimat untuk pengujian nilai nutrisi.7H2O 4 0.5H2O 0. dan 10. Ayam dipuasakan selama 36 jam. MgSO .05 %. Larutan mineral standar ditambahkan kedalam masing-masing perlakuan.5. bungkil inti sawit yang telah difermentasi dikeringkan didalam oven dengan suhu 600 C selama 24 jam. kemudian diaduk sampai homogen.

Penampungan feses dilakukan selama 36 jam setelah diberi pakan. Feses ya sudah kering dianalisis kan ng dungan nitrogen dan energi brutonya.22 = Konstanta nilai energi 2. kemudian ditimbang dan selanjutnya dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 40 0 C selama 2 hari. kemudian dipuasakan selama 36 jam untuk menghilangkan sisa ransum sebelumnya dari . dengan rumus sebagai berikut: (K X Nr) – (Je X Ne) 100 100 EMn (kkal/kg) = (Ebr X K) – (Je X Ebe) K X 8. Penentuan nilai kecernaan bungkil inti sawit produk fermentasi dan tanpa fermentasi dilakukan secara eksperimen terhadap 30 ekor ayam broiler umur 6 minggu. Perhitungan energi metabolis mengacu pada metode Sibblald dan Morse (1983). Ayam ditempatkan secara acak ke dalam kandang individu.47 menghilangkan sisa pakan dalam saluran pencernaannya. Feses hasil penampungan dibersihkan dari bulu dan kotoran lainnya. setiap 3 jam disemprot dengan asam borat 5% untuk menghindari penguapan nitrogen.22 Keterangan: EMn = Energi metabolis bahan pakan yang dikoreksi oleh nitrogen yang diretensi (kkal/kg). Feses yang keluar. Selanjutnya 15 ekor ayam broiler diberi BIS tanpa fermentasi. Pengukuran Nilai Kecernaan. Ebr = Energi bruto bahan pakan (kkal/kg) Ebe = Energi bruto feses (kkal/kg) K = Banyaknya bahan pakan yang dikonsumsi (kg) Je = Jumlah feses (kg) Nr = Nitrogen bahan pakan (%) Ne = Nitrogen feses (%) 8. dan 15 ekor yang lainnya diberi BIS produk fermentasi masing-masing sebanyak 100 gram per ekor.

Apabila terdapat perbedaan antar perlakuan akan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan . yang menggunakan metode indikator internal (berupa lignin pakan dan feses) dengan rumus sebagai berikut: % indikator dlm ransum Kecernaan = 100 -100 % indikator dlm ekskreta 3. 20%. e dikeringkan dan seterusnya dianalisis kandungan bahan kering. Sampel ekskreta kemudian ditimbang. mengikuti metode dari Schneider dan Flatt (1975) dan Ranjhan (1980). yaitu: 0%. 30% dan 35%. bahan organik. Pakan diberikan secara “force-feeding” dalam bentuk pasta yang dimasukkan ke dalam oesophagus sebanyak 100 gram per ek or. Untuk mendapatkan nilai kecernaan. protein kasar dan lignin (indikator internal). Penelitian Tahap III (Feeding Force) x % nutrien dlm ekskreta % nutrien dlm ransum Percobaan dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan ransum dan masing-masing diulang 5 kali. 15%.3. ayam-ayam disembelih dan usus besarnya dikeluarkan untuk mendapatkan sampel ekskr ta. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam .5. 25%. .48 saluran pencernaan. Dalam percobaan ini 15 ekor ayam diberi bungkil inti sawit tanpa fermentasi dan 15 ekor yang lainnya dibri bungkil inti sawit produk fermentasi. Perlakuan yang diberikan adalah tingkat bungk inti sawit produk fermentas (terpilih pada il i penelitian tahap satu dan dua) dalam ransum. dan setiap unit percobaan terdiri atas 10 ekor ayam broiler. Setelah 14 jam sejak ayam diberi makan.

D3 = 10%. R2 4. adapun faktor perta adalah dosis ma inokulum yaitu D1 = 5%.49 Perlakuan ransum adalah sebagai berikut: 1. = 25 % BIS produk fermentasi dalam ransum. R3 5. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RA pola L) faktorial 3x3 tiap ulangan diulang 3 kali. W = 4 u 2 3 minggu. R4 6. = 30 % BIS produk fermentasi dalam ransum.5%. R1 3. Adapun model percobaan sebagai berikut : Yijk     i   j   ij   ijk Keterangan : Yijk = Nilai pengamatan pengaruh bersama dosis inokulum taraf ke-I dan lama inkubasi ke-j yang terdapat pada ulangan ke-k  = Nilai rataan umum . R5 = 0% BIS produk fermentasi dalam ransum.6. D2 = 7. W = 3 minggu.6.1. Rancangan Percobaan dan Analisis Statistik 3. = 35 % BIS produk fermentasi dalam ransum 3. RO 2. = 20 % BIS produk fermentasi dalam ransum. = 15 % BIS produk fermentasi dalam ransum. Penelitian Tahap I ( Fermentasi Bungkil Inti Sawit ) Penelitian tahap pertama dilak ukan dengan menggunakan metode eksperimen. sedangkan faktor yang kedua adalah lamanya fermentasi yait W1 = 2 minggu.

 i .  ij . Kombinasi Perlakuan Dosis Inokulum (D) D1 D2 D3 W1 D1 W1 D2 W1 D3 W1 W2 D1 W2 D2 W2 D3 W2 W3 D1 W3 D2 W3 D3 W3 Waktu Inkubasi . Komponen  . 6.  j .50  i = Pengaruh aditif dari faktor dosis inokulum taraf ke-i  j = Pengaruh dari faktor lama inkubasi ke-j   = Pengaruh interaksi faktor inokulum taraf ke-i dan lama inkubasi ij taraf ke-j Eijk = Pengaruh galat dari ulangan percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi perlakuan dosis inokulum taraf ke-idan lama inkubasi taraf ke-j. dan ijk bersifat aditif Pengaruh Faktor dosis dan lama fermentasi bersifat tetap galat percobaan menyebar normal bebas dengan nilai tengah sama dengan 0 dan ragam  2 Tabel 1. Asumsi : 4. 5.

01 26 JKTotal Bentuk formulasi hipotesanya adalah : 1) Ho : D1 = D2 = D3 H1 : D1 ≠ D2 ≠ D3 atau paling sedikit sepasang D yang tidak sama 2) Ho : W1 = W2 = W3 H1 :W1 ≠ W2 ≠ W3 atau paling sedikit ada sepasang I1 yang tidak sama 3) Ho : D x W = 0 H1 : D x W ≠ 0 Kaidah keputusan yang digunakan adalah : a) Jiak Fhitung > Ftabel pada taraf 5 %.05 F. apabila r terdapat perbedaan yang nyata dila njutkan dengan uji jarak berga nda Duncan . pengaruh perlakuan dikatakan tidak nyata dan hasil Fhitung ditandai dengan superskriptn Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis sidik agam. pengaruh perl kuan dikatakan nyata dan a hasil Fhitung ditandai dengan superskrip* b) Fhitung ≤ Ftabel pada taraf 5 %.51 Tabel 2. Daftar Sidik Ragam Sumber Keragaman Dosis Inokulum Waktu Inkubasi Interaksi Galat Total Db 2 2 4 18 JK JKD JKW JKDW JKG KT JKD/2 JKW/2 JKDW/4 JKG/18 Fhit KTD/KTG KTw/KTG KTDW/KTG F.

Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan “t-Student” untuk melihat perbedaan nilai kecern aan produk fermentasi dan tanpa fermentas i dengan rumus sebagai berikut : t X1  X 2 1 1 s  n1 n2 2 (n1  1)Sd1  (n 2  1)Sd 2 2 n1  n 2  2 s Sd1   1.i   n1  1   2 Sd 2   1.i   2 n1  1   2 . 4. sesuai de ngan petunjuk Steel dan Torries.1. 6. Pengukuran Nilai Kecernaan. 1995. Penelitian Tahap II ( Pengukuran Penentuan Energi Metabolis dan pengukuran Kecernaan). 3.6. Pengukuran Energi Metabolis Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan “t-Student” untuk melihat perbedaan energi metabolis produk fermentasi dan tanpa fermentasi.52 antara perlakuan (Duncan New M ultiple Range Test).

s) . Maka: Bila thit  . tolak H0 dan terima H1: 1  2 (n.s) Bila thit  -t0. H1 : Rata-rata nilai kecernaan bungkil inti sawit tanpa fermentasi lebih kecil dari pada rata-rata nilai kecernaan bungkil inti sawit produk fermentasi.05(n1+n2 – 2). terima H0 : 1=1 (n.53 Keterangan: X1  Rata  rata Bungkil inti sawit non fermentasi X 2  Rata  rata Bungkil inti sawit fermentasi Sd1= Simpangan Baku Bungkil inti sawit non fermentasi Sd2= Simpangan Baku Bungkil inti sawit fermentasi X1 = Bungkil inti sawit non Fermentasi X2 = Bungkil inti sawit Fermentasi n = Jumlah Pengamatan s = Simpangan baku gabungan Kaidah Keputusan: H0 H1 : 1 = 2 : 1 < 2 Keterangan: H0 : Rata-rata nilai kecernaan bungkil nti sawait non fermentasi sama i dengan rata-rata nilai kecernaan bungkil inti sawit produk fermentasi.t0.05(n1+n2 – 2).

Perlakuan ransum adalah sebagai berikut: 6. = 35 % BIS produk fermentasi dalam ransum. 20%.3. Apabila terdapat perbedaan antar perlakuan akan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan . Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam . RO 7. = 15 % BIS produk fermentasi dalam ransum. R5 = 0% BIS produk fermentasi dalam ransum. R1 8. Perlakuan yang diberikan adalah tingkat bungk inti sawit produk fermentas (terpilih pada il i penelitian tahap satu dan dua) dalam ransum. 15%.4. 30% dan 35%. = 30 % BIS produk fermentasi dalam ransum. Penelitian Tahap III (Feeding Trial) Percobaan dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan ransum dan masing-masing diulang 5 kali. dan setiap unit percobaan terdiri atas 10 ekor ayam broiler. R3 10.54 3. = 25 % BIS produk fermentasi dalam ransum. . yaitu: 0%. R2 9. R4 6. 25%. = 20 % BIS produk fermentasi dalam ransum.

Rataan Peningkatan Bahan Kering pada setiap Dosis I nokulum dan Lama Fermentasi Dosis Lama Fermentasi W1 W2 W3 ---------------------------------%-----------------------------D1 D2 D3 37. Penelitian Tahap I (Fermentasi Bungkil Inti Sawit) 4.94%).1.80 57.02 71.69 76.W3 : Waktu Fermentasi 4 minggu Tabel 3 di atas memperlihatkan bahwa fermentasi bungkil inti sawit dengan menggunakan jamur Marasmius sp dapat meningkatkan bahan keri g n dengan peningkatan bahan kering yang variatif.1.87 Ket : .89 75.1.5 % -D3 : Dosis Inokulum 10 % .55 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.23 77. Tabel 3.D1 : Dosis Inokulum 5 % -D2 : Dosis Inokulum 7.94 54. dan yang tert inggi dicapai pada perlakuan engan d .W2: Waktu Fermentasi 3 minggu .95 77 76. Peningkatan bahan kering terkecil dicapai pada perlakuan dosis 5% dan dengan lama wak fermentasi 2 tu minggu (37.W1 : Waktu Fermentasi 2 minggu . Rataan Peningkatan Kandungan Bahan Kering Bungkil Inti Sawit disajikan pada Tabel 3. Pengaruh Perlakuan terhadap Perubahan Kandungan Bahan Kering Kandungan bahan kering bungkil inti sawit sebelum dan sesuda h fermentasi serta perubahannya tertera pada Lampiran 2.

72 D2 D3 % P e n ig k a t n 2 3 Waktu Fermentasi (Minggu) 4 Ilustrasi 1 . Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap peningkatan kandungan bahan kering dilakukan uji statistik dengan mengg unakan sidik ragam.04 D1 24. si a Selanjutnya untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan terhadap peningkatan .28 40.77 38. Hasil analisis keragaman memperlihat an (Lampiran 5 ) bahwa perlak k uan dosis inokulum ataupun lama fermenta berpengaruh nyata terhadap peningkatan si bahan kering bungkil inti sawit. dari hasil analisis keragaman memperlihatkan juga bahwa terdapatnya interak antara kedua faktor perlakun.05).59 36.26 38. Grafik Peningkat n Kandungan Bahan Kering Bung Inti a kil Sawit. (P<0. Peningkatan Kandungan Bahan Kering 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 39. Peningkatan bahan kering bungkil inti sawit dapat dilihat pada Ilustrasi 1 dibawah ini.92 16.08 14.56 menggunakan dosis 10% dengan lama waktu fermentasi 4 minggu (77%) dari bungkil inti sawit tanpa fermentasi.25 13.

57 kandungan bahan kering bungkil inti sawit produk fermentasi maka dilakukan uji lanjut berupa uji jarak berganda Duncan yang disajikan pada Tabel 4.61 68.02%) nyata lebih rendah dibandingkan dengan dosis inokulum 10 % (71.80cA 54.05).03 -----------------------------------%-------------------------------D1 D2 D3 Rataan 57.5 % (54.23aB 77.89%) berbeda nyata lebih rendah dengan dosis inokulum 7.5% (54.5 % (75.87aA 77.8% Pada lama fermentasi 3 ).18 W3 77aC 76.05). Uji Jarak Berganda Duncan Pengaruh Interaksi Perlakuan terhadap Peningkatan Kandungan Bahan Kering Bungkil Inti Sawit Dosis Lama Fermentasi Rataan W1 37. -Huruf besar yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan Perbedaan yang nyata (P<0. perlakuan dosis inokulum 5 % (37.95bA 70.89aB 75.5% (75.94 %) berbeda nyata lebih rendah dibandingkan deng dosis inokulum 7.95%) .95%).65 75.8%) begitu juga dengan dosis inokulum 7.59 W2 57.02% dan 10 % an ) (71.54 Ket : -Huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkkan perbedaan yang nyata (P<0. tetapi apabila perlakuan dosis inokulum 7.69%) dan pada dosis inokulum 10 % (76.69%) dan dosis inokulum 10 % (76.94aA 54.69bB 76. Tabel 4 di atas memperlihatkan bahwa pengaruh perlakuan dosi s inokulum pada setiap lama ferm entasi adalah sebagai b erikut : pada lama fermentasi 2 minggu.02bA 71. Tabel 4. minggu perlakuan dosis 5 % (57.

89%) dan 4 minggu (77%). a Pada dosis 10 % perlakuan lama fermentasi tidak terdapat perbedaan yang nyata (P>0.69%) dan 4 minggu (76.23%).05). peningkatan tertinggi diperoleh pada dosis inokulum 10 % dengan lama wakt 4 minggu (77. Pada dosis inokulum 7.5% lama fermentasi 3 minggu (75.05).58 pada waktu yang sama dibanding kan maka akan terlihat tidak a perbedaan da yang nyata (P>0. demikian juga lama fermentasi 3 minggu (57.89%) nyata lebih rendah dibandingkan dengan lama fermentasi 4 minggu (77%).5 % lama fermentasi 2 minggu (54 .87 %) u hal ini disebabkan karena makin tinggi dosis inokulum yang digunakan makin cepat pertumbuhan populasi jamur Marasmius sp yang pada gilirannya dengan m eningkatnya populasi jamur yang akan mengakibatkan kehilangan sejumlah air yang terikat dalam bungkil inti sawit sehingga akan berakibat terhadap pe ningkatan bahan .. Pengaruh lama fermentasi pada setiap dosis adalah sebagai berikut : pada taraf dosis 5 %. tetapi pada dosis 7. pada lama fermentasi 4 minggu perlakuan dari ketiga dosis inokulum memperlihatkan tidak ada perbedaan yang nyata (P>0.69%) jika dibandingkan dengan lama fermentasi 4 minggu (76. lama waktu 2 minggu (37.23%) memperlihatkan tidak ada perbedaan yang nyat (P>0.94%) berbeda nyata lebih rendah dibandingkan dengan lama fermentasi 3 minggu (57. Tabel 3 dan Ilustrasi 1 memper lihatkan bahwa secara umum terjad i peningkatan terhadap bahan kering.05).02%) berbeda nyata lebih rendh dari a fermentasi 3 minggu (75.05).

1980). Selain itu peningkatan bahan kering juga dipengaruhi pada proses penggilingan produk menjadi tepung dimana pada saat proses tersebut berlaku. h l ini dapat dijelaskan karena pada saat itu a perkembangan dan pertumbuhan jamur Marasmius sp berada pada fase stasioner . maka akan berakibat terhadap luas permuakan bahan atau produk ak meregang sehingga akan memu an ngkinkan pengeluaran sejumlah air yang terikat dalam bahan pakan (Winarno. Penguapan air pada waktu proses pengolahan dan pengeringan dapat juga dijadikan indikator terhadap peningkatan bahan kering..et al. Tabel 4 di atas setelah diuji jarak berganda Duncan memperlhatkan i bahwa pada lama fermentasi 4 minggu tidak terdapat perbedaan yang nyata pada setiap dosis yang dilakukan. Berkurangnya air yang terikat dalam bungkil inti sawit ini disebabkan air tersebut digunakan oleh jamur Marasmius sp untuk kebutuhan hidupnya selama fase pertumbuh dan perkembangan sehingga pda fase an a tersebut akan terjadi proses e avorasi yang menyebabkan air pada substrat p hilang. selain itu semakin lama fermentasi maka akan semakin banyak air yang akan menguap ketika proses fermentasi terus berlangsung. hal ini dikarenakan semakin lama waktu fermentasi akan menyebabkan lebih banyak air y ang terikat dalam substrat itu digunakan oleh jamur Marasmius sp untuk pertumbuhan dan perkembangan miseliumnya. Peningkatan fermentasi.59 kering substrat. bahan kering sejal an dengan bertambahnny a waktu Peningkatan kadar bahan kering tertinggi dicapa pada lama i fermentasi 4 minggu.

4.1.05). m serta perubahannya tertera pad Lampiran 3. . Rataan Peningkat n kandungan a a protein dari masing-masing perlakuan disajikan pada Tabel 5.5 % de gan n lama waktu fermentasi 3 minggu merupakan kombinasi yang terbaik terhadap peningkatan kandungan gizi bungkil inti sawit hal ini dengan memperhatikan segi efisiensi dari jamur Marasmius sp dalam mendegradasi komponen za t makanan bungkil inti sawit. hal ini dapat dijelaskan bahwa pada dosis te rsebut populasi mikroba pada substrat semakin meningkat yang menyebabkan ter jadinya persaingan mikroba untuk menda atkan air serta nutrient lainnya untuk p memenuhi kebutuhan hidupnya. Hasil pengujian memperlihatkan bahwa pengaruh dosis 7.60 dimana pada fase ini jumlah populasi mikroba menjadi sedikit karena kandungan nutrient bahan yang digunakan oleh jamur berkurang sehingga menyebabkan banyak koloni jamur bersaing ntuk u mendapatkan nutrient untu k pertumbuhannya termasuk air. Tabel 4 memperlihatkan bahwa p ada dosis fermentasi 10 % dengn a pemberian perlakuan waktu yang berbeda tidak memberikan peng aruh yang nyata (P>0. Pengaruh Perlakuan Kasar. s ehingga peningkatan bahan keri g menjadi n stagnan pada kisaran tertentu.2. terhadap P eningkatan Kandungan Protein Kandungan protein bungkil inti sawit sebelum dan sesudah fer entasi.

45 25.W1 : Waktu Fermentasi 2 minggu .D1 : Dosis Inokulum 5 % -D2 : Dosis Inokulum 7.58 2 3 Waktu Fermentasi 25.86 10.W3 : Waktu Fermentasi 4 minggu Tabel 5 di atas memperlihatkan bahwa fermentasi bungkil int sawit i menggunakan Marasmius sp dapat meningkatkan kandungan p rotein kasar dengan peningkatan yang variat f dari yang terkecil 3.65 19.74 5.W2: Waktu Fermentasi 3 minggu .58% sa pai terbesar i m 27.47 17.15 4 (minggu) Ilustrasi 2.45 D1 D2 D3 nn% ain tae kP g 10.15 27.86 19.62 19.08 3. Grafik Peningkata Kandungan Protein Kasar Bung Inti n kil Sawit . Rataan Peningkatan Kandungan Protein Kasar pada setiap Dosis Inokulum dan Lama Fermentasi oleh Marasmius sp Lama Fermentasi Dosis W1 W2 W3 --------------------------------%------------------------------D1 D2 D3 3.58 5.47 Ket : .61 Tabel 5.74 17.62%.08 19.5 % -D3 : Dosis Inokulum 10 % . Peningkatan kandungan protein kasar disajikan pada Ilustrasi 2 Peningkatan Kandungan Protein Kasar 30 25 20 15 10 5 0 27.65 19.62 19.

86bA 9.62bB 19. .51 W2 10.65bB 19. Untuk mengetahui pe ngaruh perlakuan terhadap peni ngkatan kandungan protein kasar bungkil inti sawit hasil fermentasi maka dilakukan uji statistik dengan menggunakan isdik ragam (Lampiran 6).47abA 20.45aC 25.74bA 19.58aA 5.58 Rataan Dosis ---------------------------------------%---------------------------------D1 D2 D3 Rataan 10.62 Ilustrasi 2 di atas memperlih atkan bahwa secara umum terdap at peningkatan protein kasar bungkil inti sawit yang disebabkan kombinasi antara perlakuan. Selanjutnya untuk menget hui perbedaan a antara perlakuan terhadap peni gkatan kandungan protein kasa bungkil inti n r sawit produk fermentasi maka d ilakukan Uji Jarak Berganda Du ncan yang disajikan pada Tabel 6.05 antara dosis inokulum dan lama fementasi ) r terhadap peningkatan protein k asar. Tabel 6.15aB 27. Hasil analisis keragaman pengaruh dosis inokulum dan lama fermentasi menunjukkan bahwa ada pengaruh interaksi (P<0.05). Lama Fermentasi W1 3.17 W3 17. Uji Jarak Berganda Du ncan Pengaruh Interaksi antar perlakuan terhadap Peningkatan Kandungan Protein Kasar Bungkil Inti Sawit.08aA 19.68 Ket : -Huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkkan perbedaan yang nyata (P<0. -Huruf besar yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan Perbedaan yang nyata (P<0.05).45 19.39 19.

Pengaruh perlakuan dosis 5 % pada lama fermentasi 4 minggu memperlihatkan bahwa pemberian dosis inokulum 5 % berbeda nyata lebih rendah dibandingkan .5 % dan 10 % akan tetapi pada lama fermentasi yang sama dosis 7. akan tet pi pada dosis a yang sama lama fermentasi antara 3 minggu dan 4 minggu tidak ada perbedaan yang nyata (P>0. lama fermentasi 2 minggu berbeda nyata lebih rendah dibandingkan dengan lama fermentasi 3 dan 4 minggu. n Peningkatan kadar protein tertinggi dicapai pada interaksi dosis inokulum 7.63 Berdasarkan uji jarak berganda Duncan (Tabel 6) diperoleh ba hwa pengaruh perlakuan dosis inokulum pada setiap lama fermentasi adalah sebagai berikut : pada dosis 5 % dengan lama fermentasi 2 minggu berbeda nyata lebih rendah dari 3 minggu dan 4 minggu.62%).5 % dan lama waktu 3 minggu (27.05)a ntara lama fermentasi 2.5 % tidak berbeda nyata dengan dosis 10 %. sedangkan perlakuan dosis 5 % pada lama fermentasi 3 minggu berbeda nyata lebih kecil dibandingkan dosis inokulum 7. Perlakuan dosis inokulum 5 % tidak berbeda nyata dengan perlakuan dosis inokulum 7. da 4 minggu. demikian juga lama fermentasi 3 minggu berbeda nyata lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lama fermentasi 4 minggu.5 % .5 % pada waktu 2 minggu akan tetapi dosis 5 % berbeda nyata lebih rendah jika dibandingkan dengan dosis inokulum 10 % pada lama fermentasi 2 minggu. Pada dosis 10 % pengaruh perlakuan lama fermentasi tidak ada perbedaan yang nyata (P<0.05) yang berarti secara stat stik rataan yang dihasilkan s i ama antara perlakuan. 3. Pada dosis 7.

5 % akn tetapi bila dibandingkan de gan dosisi a n inokulum dosis 10 % tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata.. pada waktu yang sama dosis 7.5 % dengan lama waktu 3 minggu. Peningkatan kadar protein tertnggi terdapat pada dosis 7. Kenaikan protein substrat selama proses fermentasi menandakan bahwa jamur Marasmius sp mampu menggunakan bagian dari substrat untuk pertumbuhannya dan pembentukan protein mikrob ia.64 dengan dosis inokulum 7. Peningkatan ter ebut dapat dijelaskan s bahwa hal ini disebabkan oleh adanya pertumbuhan miselium ya banyak ng mengandung protein (protein sel tunggal) selain itu juga pen ingkatan tersebut .1991 dan Tangedjaja.1987).5% hal ini i . Peningkatan protein yang terjadi selama proses fermentasi berlangsung di akibatkan adanya kerja dari mikroba tersebut dan adanya protein yang disumbangkan oleh tubuh mikrobia akibat pertumbuhannya ( Halid .5 % tidak berbeda nyata dengan dosis inokulum 10 %. et al. disebabkan semakain tinggi inokulum yang digunakan menyebabkan semakain cepat pertumbuhan populasi jam Marasmius sp yang pada gilirannya akan ur berpengaruh terhadap produksi miselium sehingga aka n meningkatkan kandungan nitrogen total secara proposional karena terdegradasinya serat kasar. demikian juga terja inya d perombakan karbohidrat m enjadi energi yang diperlukan untuk proses pertumbuhan jamur tersebut (Griffin.1974). Peningkatan protein sejalan dengan bertambahnya lama waktu fermentasi. dari tabel 3 dapat diperoleh b ahwa peningkatan protein tertinggi dicapai pada interaksi dosis inokulum 7.

pH optimum untuk p ertumbuhan jamur Marasmius sp adalah 6-8. Hasil analisis uji berjarak Duncan dan Ilustrai 2 memperlihatkan adanya penurunan sejumlah protein ketika proses fermentasi berlangsung.5. Dijelaskan oleh Bla nchette. Diny atakan oleh Trahayu (1994) bah a jamur w Marasmius sp mampu tumbuh pada pH 2 – 12 akan tetapi pada pH 2 dan pH diatas 10 pertumbuhan miselium terhambat. hal ini dapat dijelaskan bahwa pada waktu tersebut masa pertumbuhan jamur Marasmius sp berada pada fase stasioner pa waktu minggu ke-3 dan da fase menuju kematian pada wakt minggu ke-4. hal ini dapat dilihat bahwa u jumlah koloni mengalami penurunan rentang waktu min ggu ke-3 dan ke-4 ( Lampiran 7).1975). Melihat pendapat para ahli dapat disimpulkan .5 – 6.65 disebabkan oleh adanya perubahan komponen zat makanan dari substrat tersebut seperti halnya dengan penurunan serat kasar.1992 bahwa jamur busuk putih untuk dapat mendeg radasi lignin secara efektif m embutuhkan pH kisaran 5. pertumbuhan dan kemampua Marasmius sp n dalam mendegradasi komponen serat khususnya lignin bagaimana pun dipengaruhi oleh perubahan pH eksternal walaupun mekanisme secara subseluller belum diketahui (Eggins dan Allsop.5 % dan 10 % dengan lama waktu fermentasi antara 3 dan 4 minggu. Kedua yaitu pada waktu minggu ke dan ke terjadinya -3 -4 penurunan pH dimana dengan ada nya penurunan pH substrat menj di sedikit a asam sehingga berpengaruh terhadap laju pertumbuhan dan perkembangan dari jamur Marasmius sp tersebut. penurunan itu terjadi pada dosis 7.

. selain itu pemberian Nitrogen anorganik diambang batas dapat mengakibatkan jamur mati karena keracunan. apabila a s ketentuan ini tidak dipenuhi maka kelebihan nitrogen akan menghambat jalannya proses pendegradasian lignin oleh jamur busuk putih.1984).66 bahwa dengan penurunan pH akan berpengaruh terhadap metabolisme karena perubahan pH berhubungan langsung dengan aktivitas katalik enzim seh ingga pertumbuhan miselium dari jamur tesebut terhambat.31 – 23.. – 1 % dalam substrat serbuk ger 5 gaji memberikan pertumbuhan panjang miselium yang cukup tinggi seta dapat r menurunkan kadar lignin dalam serbuk gergaji sebesar 20. namun penurunan kadar lignin tertinggi terjadi pada penambahan nitrogen anorganik sebanyak 1 %. Menurut Trahayu (1994). Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pembeian r nitrogen lebih dari 1% dlam substrat akan berakibat erhadap penurunan a t kemampuan jamur Marasmius sp dalam merombak zat – zat makanan yang ada pada bungkil inti sawit. Ketiga a dalah pengaruh pemberian mineral yang berlebi yang berakibat terhadap terh h ambatnya pertumbuhan miselium jamur Marasmius sp tersebut. Kadar ammonium yang terlalu tinggi dalam kultur akan mengakibatkan racun bagi jamur (Garraway dan Evans. Janshekar dan Fr ichter (1983) menyatakan bahwa nitrogen anorganik hanya dibutuhkan pad saat dan konsentrasi yang seuai.16 %. penambahan nitrogen anorganik 0.

72 % sampai yang tertinggi 40.92 38. Tingkat .5 % -D3 : Dosis Inokulum 10 % .W3 : Waktu Fermentasi 4 minggu Tabel 7 di atas memperlihatkan adanya penurunan kadar serat k asar Bungkil Inti Sawit yang variatif dimulai dari yang terendah 13.3. Penurunan kandungan serat kasar Bungkil Inti Sawit sebelum dan sesudah fermentasi serta perubahannya tertera pada lampiran 4.D1 : Dosis Inokulum 5 % -D2 : Dosis Inokulum 7. Table 7.26 36.72 14. Pengaruh Perlakuan terhadap Penurunan Kandungan Serat Kasar Bungkil Inti Sawit. Rataan penurunan kadar serat kasar dari masing – masing perlakuan disajikan pada Tabel 7.04 38.77 %. penurunan serat kasar dapat dilihat pada ilustrasi 3 dibawah ini.67 Hasil pengujian memperlihatkan bahw pengaruh dosis 7. dari data tersebut juga dapat kita lihat bahwa penurunan kadar serat kasar dipengaruhi oleh d osis inokulum dan lama fermen tasi.1.08 24. Rataan Penuru nan Kandungan Serat Kasar pada setiap Dosis Inokulum dan Lama fermentasi oleh Marasmius sp Dosis Lama Fermentasi W1 W2 W3 ----------------------------------%---------------------------------D1 D2 D3 13.77 Ket : .W2: Waktu Fermentasi 3 minggu .28 39.25 16.59 40.W1 : Waktu Fermentasi 2 minggu .5 % dengan a lama waktu fermentasi 3 minggu merupakan kombinasi yang terbaik terhadap peningkatan kandungan Protein kasar bungkil inti sawit 4.

Selanjutnya untuk mengetahui perbedaan antara perlakuan terhadap penurunan b ungkil inti sa wit produk fermentasi maka dilakukan Uji Jarak Berganda Duncan yang disajikan pada Tabel 8.68 Penurunan Kandungan Serat Kasar 50 39.25 13. s Hasi analisis l keragaman pengaruh dosis inokulum dan lama fermentasi menunjukkan bahwa ada pengaruh interaksi (P<0.28 30 20 nu% an ne uP r 40.59 36.08 14.77 38.72 24.92 10 0 2 3 Waktu Fermentasi (minggu) 4 Ilustrasi 3. .26 40 38. Untuk mengetahui engaruh p perlakuan terhadap penrunan u kandungan serat kasar bungkil inti sawit hasil fermentasi ma dilakukan uji ka statistik dengan menggunakan idik ragam (Lampiran 7). Grafik Penurunan Kandungan Serat Kasar Ilustrasi 3 diatas memperlihatkan bahwa secara umum terdapat penurunan kandungan serat kasar bungkil inti sawit yang disebabkan kombinasi antara perlakuan.05 antara dosis inokulum dan la a fermentasi ) m terhadap penurunan serat kasar.04 D1 D2 D3 16.

Lama Fermentasi Dosis W1 13.09aA 14. demikian juga lama fermentasi 3 minggu berbeda ny ta lebih kecil dibandingkan dngan lama a e fermentasi 4 minggu. Pada osis 10 % d pengaruh perlakuan pada lama fermentasi 2 m inggu berbeda nyata lebih keci l . Pada dosi inokulum 7.69 W2 24.5 % dengan lama fermentasi 2 s minggu berbeda nyata lebih kecil dibandingkan dengan lama fermentasi 3 dan 4 minggu akan tetapi jika lama ermentasi 3 minggu dibandingka dengan 4 f n minggu memperlihatkan tidak be rbeda nyata (P>0.04aC 38.69 Tabel 8.05). -Huruf besar yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan Perbedaan yang nyata (P<0.72aA 14.89 30. Uji Jarak Berganda uncan Pengaruh Interaksi antar D perlakuan terhadap Penurunan K andungan Serat Kasar Bungkil Inti Sawit.15 W3 36.47 Rataan ------------------------------------%-----------------------------------D1 D2 D3 Rataan 24.04 Ket : -Huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkkan perbedaan yang nyata (P<0.28bB 39. Hasil uji jarak berganda Duncan memperlihatkan bahwa pengaruh perlakuan dosis inokulum pada setiap lama fermentasi adalah sebagai berikut: pada dosis 5 % dengan lama fermentas 2 minggu berbeda nyata lebih kecil i dibandingkan dengan lama ferme ntasi 3 dan 4 minggu.05).92aB 38. Hasil analisis keragaman (Lamp iran 7 ) memperlihatkan bahwa terdapatnya interaksi yang san gat nyata antara dosis inokulu dan lama m fermentasi.37 32.26bB 34.59aB 40.77aB 38.05).25aA 16.

Tabel 8 di atas memperlihatkan bahwa terjadinya penurunan yang berbeda nyata pada waktu fermentasi minggu ke-3 dan ke-4 dengan berbagai dosis yang berbeda.70 dibandingkan dengan lama ferme tasi 3 dan 4 minggu tetapi pa lama n da fermentasi 3 minggu hasilnya tdak berbeda nyata dengan lama fermentasi 4 i minggu. Perlakuan dosis 5%. hal ini dapat dijelaskan bahwa pada saat tersebut jamur Marasmius sp sudah mulai mendegradasi senya wa kompleks serat kasar dianta ranya lignin . oleh karena itu pada minggu ke-3 dan ke-4 Marasmius sp dapat mendegradasi senyawa kompleks dari komponen penyususn serat kasar diantaranya lignin untuk memen uhi kebutuhan nutrisinya pada proses pertumbuhan dan perkembangan miseliumnya. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada waktu itu diasumsikan bahwa karbohidrat siap pakai dari bungkil inti sawit sudah habis terpakai untuk pertumbuhan miselium dari jamur Marasmius sp. sedangkan pada lama waktu 3 minggu dan 4 minggu baru terlihat penurunan kadar serat kasar secara signifikan antara perlakuan.5% dan 10 % pada lama fermentasi 2 minggu tidak terdapat perbedaan yang nyata terhadap penurunan kadar serat kasar bungkil inti sawit hal ini dikarenakan pada saat itu jamur Marasmius sp belum maksimal menggunakan komponen serat kasar dalam memenuhi kebutuhan gizinya untuk pertumbuhannya karena pada saat itu jamur Marasmius sp masih menggunakan zat makanan yang mudah dirombak sebagai sumber energi siap pakai seperti pati. glukosa dan hemiselulosa. 7.

reduksi se rta hidroksilasi pemecahan senyawa kompleks pada bungkil inti sawit (lignin) yang dilakukan oleh Marasmius sp yang tidak lain dikarenakan leh aktivitas enzim o lignoselulotik dimana enzim ini dapat memecah ikatan lignin dengan selulosa. Tabel 8 memperlihatkan bahwa p ada setiap dosis yang diberika pada n lama waktu 4 minggu tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata.-0-5. Uji jarak berganda Duncan memperlihatkan penurunan kadar serat kasar yang tertinggi terdapat pada interaksi dosis inokulum 10 % d lama waktu 4 an minggu. hal ini sesuai dengan perkembangbiakan jamur Marasmius sp itu sendiri sehingga popolasinya meningkat. ikatan -0-3.71 secara optimal. -0-4 dimetilasi. ikatan lignin dengan hemiselulosa serta ikatan lignin dengan protein. Dengan pecahnya ikatan lignin tersebut maka secara langsung akan be rakibat terhadap penurunan kadar serat kasar pada bungkil inti sawit selain itu dengan pecahnya ikatan tersebut maka komponen zat makanan lainnya akan lebih mudah untu k dihidrolisis oleh pencernaan ternak khususnya ternak ayam. yang diikuti dengan fragmen -fragmen lignin dengan bobot mo lekul rendah. dikatakan oleh Hendritomo (1995) bahwa prose biodegradasi s lignin meliputi reaksi pelepasan ikatan C – C. hal ini dapat dijelaskan bahwa pada minggu ke empat jamur Marasmius sp berada pada fase kematian karena data jumlah koloni memperlihatkan bahwa pada waktu tersebut jumlah koloni menurun (Lampiran 8). seiring dengan bertambahnya enzim yang . Pemecahan cincin aromati k secara oksidatif.

pada Ayam Broiler Pada penelitian ini nilai energi metabolis berupa Energi Metabolis yang dikoreksi dengan nilai Retensi Nitrogen (EMn).1.2.5 % den gan lama waktu fermentasi 3 mi nggu merupakan kombinasi yang terbaik terhadap penurunan kandungan serat kasar bungkil inti sawit. tercantum pada Tabel 9. Nilai Energi Metabolis BIS dan Produk Fermentasinya dengan Jamur Marasmius sp. Penelitian Tahap II (Pengukura Energi Metabolis n Kecernaan) dan N ilai 4. Hasil pengujian memperlihatkan bahwa pengaruh dosis 7.1. . 4. selain itu meskipun jumlah koloni menurun pada waktu minggu ke-4 tetapi masih adanya enzim yang aktif yang terus merombak komponen serat pada bungkil inti sawit menjadi senyawa yang lebih sederhana.72 dihasilkan marasmius sp untuk mendegradasi serat kasar pada Bungkil Inti Sawit. Rataan nila EMn BIS dan i produk fermentasinya.

.874 a rata-rata 2177.091 Jumlah 21776.261 4 2171.987b Keterangan : * Hasil dari cara perhitungan pada Lampiran 6. 1 2202.335 2511.006 2216. Nilai EMn BIS Fementasi lebih tinggi dari BIS non Fermentasi.167 5 2155.257 2 2190.762 8 2202.062 9 2144.31% yaitu dari 4219 kkal/kg menjadi 2459.* BIS Non Fermentasi BIS Fermentasi ……………………….219 2448. Schaible (196) 7 menyatakan bahwa energi met abolis Ulangan diperoleh dari 70% energi brut bahan makanan yang dikonsums Pada o i.896 2475.704 2498.603 kkal/kg. Dari Uji-t Student terhadap nilai EMn tersebut menunjukkan bahwa EMn BIS Fermentasi nyata lebih tinggi (P<0. penelitian ini nilai EMn masih dibawah 70% dari energi bruto nya. sehingga menunjukkan bahwa masih banyak energi yang terbuang melalui ekskreta..73 Tabel 9.906 10 2171. Konversi EMn BIS non Fermentasi dari energi brutonya sebesar 47.450 7 2206.387 2499.603 2459.288 3 2177.………….%……….05) daripada BIS non Fermentasi.688 2448.987 kkal/kg.629 6 2154.012 2471.225 2446.030 24599.557 2484.35% yaitu dari 4598 kkal/kg menjadi 2177. Proses . Untuk melihat sejauh mana paningkatan tersebut maka. sedangkan konversi EMn BIS Fermentasi dari energi brutonya sebesar 58. data diuji statistik yang perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran 7. Nilai EMn BIS dan Produk Fermentasinya.

dalam pemecahan serat kasar m enjadi karbohidrat sederhana.987 itu a kkal/kg. 1979 dalam Abun. Peningkatan tersebut menunjukkan terjadinya aktivitas enz yang im dihasilkan oleh jamur Marasmius sp. yang akhirnya lebih mudah dicerna oleh unggas.96%) lebih kecil dari ada BIS yang p difermentasi dengan Aspergillus niger (14%) yang diteliti oleh Sima juntak n (1998).603 k kal/kg) lebih tinggi bila dibandingkan dengan 1844 kkal/kg dari hasil penelitian Simanjuntak (1998). Pada penelitian ini nilai EMn BIS non Fermentasi (2177.384 kkal/kg atau 12. 2003) bahwa pada proses fermentasi akan tejadi perubahan molekul molekul kompleks r menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana dan mudah dicerna. BIS yang difermentasi dengan Marasmius sp.74 fermentasi BIS dengan jamur Marasmius sp.96% ya dari 2177. Dari perbandingan ini bisa di katakan bahwa kemampuan jamur Marasmius sp.2. Tetapi dal am hal peningkatan nilai EMn. Hasil ini sejalan dengan pendapat (Shurtleft dan Aoyagi. pada Ayam Broiler Nilai Retensi Nitrogen BIS dan pro duk fermentasinya dengan jamur Marasmius sp. meningkatkan nilai EMn sebesar 282. 4.1. (12. ilai retensi nitrogen yang N dicantumkan tidak dikoreksi dengan nitrogen endogen yang berasal dari sel-sel . dapat dilihat pada Tabel 4. tidak jauh berbeda dengan Aspergillus niger dalam memecah serat kasar. Nilai Retensi Nitrogen BIS dan produk fermentasinya dengan Jamur Marasmius sp.603 kkal/kg menj di 2459.

mampu meningkatkan nilai Retensi Nitrogen sebesar 13.49 2 40.45%).79 6 40.17 53.82 Keterangan : *Hasil dari cara perhitungan pada lampiran 6.43 8 41.69 5 40.44 3 40. 1 40. Ulangan Untuk mengetahui besarnya perbedaan antar perlakuan maka data penelitian diuji secara statistik dengan Uji T-Student yang dapat dilihat pada lampiran 7.45%).29 54.75 epitel yang rusak dan enzim-enzim saluran pencernaan yang bercampur dengan ekskreta.82%) nyata lebih tinggi (P <0.73 4 40.80 7 40. Peningkatan tersebut . Proses fermentasi BIS dengan jamur Marasmius sp. dapat diketahui bahwa rataan nilai Retensi Nitrogen BIS Fermentasi (53.62 Jumlah 404..59 54.05) daripada BIS non Fermen tasi (40. Tabel 10.00 10 40.82%) dan rataan nilai Retensi Nitrogen BIS no Fermentasi n (40. Nilai Retensi Nitrogen BIS dan Produk Fermentasinya.24 rata-rata 40.73 54.1% dari 40.45%.45 53.* BIS Non Fermentasi BIS Fermentasi …………………%………….79 53.16 54.10 54.25 9 40.48 538. Dari Tabel 10.18 50.41 54. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai Retensi Nitrogen BIS Fermentasi (53.37% atau 33.05 53.

sehingga protein yang tercerna menjadi lebih banyak.76 menunjukkan adanya efisiensi penggunaan protein dari BIS Fermentasi. dkk. Kualitas protein bergantung pada kelengkapan dan keseimbangan asamasam amino esensial yang membe tuknya. Komposisi protein yan lengkap n g dengan kualitas protein yang baik maka nilai retensi nitrogennya akan menjadi tinggi. 1982). Wahju (1997) menerangkan bahwa protein yang diretensi oleh ayam broiler adalah 67% dari protein yang dikonsumsi. . Jadi hanya 67% yang diretensi untuk pertumbuhan jaringan per hari. pertumbuhan bulu dan penggantan nitrogen i endogen yang hilang. Nilai Retensi Nitrogen BIS non b Fermentasi maupun BIS Fermentasi masih lebih rendah dari 67%. Nitrogen yang diretensi ini me ggambarkan efisiensi n penggunaan protein pada ayam roiler. Peningkatan nilai efisiensi pe nggunaan protein akan mengakib atkan kebutuhan protein dalam ransum menurun.. tetapi memberikan pertumbuhan dan produksi optimal (Scott.

Meningkatnya nilai kecernan a tersebut disebabkan menurun nya kandungan serat kasar atau ter egradasinya serat kasar yang terdapat pada d . 57. 57.44 10.09 4.43 9.).40 68. dapat dilihat adanya peningkatan nilai kecernaan bahan kering pada bungkil inti sawit yang difermentasi dibandingkan tanp a fermentasi.94b Nilai kecernaaan bahan kering menunjukkan berapa besar bahan kering yang dapat dicerna oleh tubuh ternak.42 Rata-rata 57.89 Jumlah 577. Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Bahan Kering Rataan nilai kecernaan bahan ke ring percobaan disajikan pada tabel 11 dibawah ini.78 689. 58.14 69.31%.25 68. yakni dari 57. 57.26 69. 57. 58. 57.2. dengan peningka tan sekitar 19.05 6. 57. Rataan Nilai Kecernaan Bahan Kering Bungkil Inti Sawit. Setelah dilakukan analisis statistik dengan menggunakan uji -student (Lampiran 4. 57. hasilny menunjukkan t a perbedaan yang nyata (P<0.46 68.57 69.94%.77 4. Tabel 11. Berdasarkan tabel diatas.93 68.75 68.78a 68.05) terhadap kecernaan bahan kering bungkil inti sawit. Bungkil Inti Sawit Fermentasi pada Ayam Broiler Perlakuan Ulangan Non Fermentasi Fermentasi ………………(%)……………… 1.69 8.3. 58.68 69.97 5.78% menjadi 68.28 2.18 3.40 7.33 68.

tetapi t n mempunyai nilai kecernaan yang berbeda. Hal ini disebabkan karena dinding sel bungkil inti sawit yang mengalami proses fermentasi menjadi tipis dan mudah ditembus oleh getah pencernaan. Sesuai dengan pernyataan Ranjhan.78 bungkil inti sawit yang diferm entasi sehingga menyebabkan kecernaan zat-zat makananan lainnya meningkat. Tingginya kecernaan bahan keri g disebabkan rendahnya kandun n gan bahan kering yang dieksresikan kembali dalam feses dan Culli son. sehingga proses degradasi serat kasar tersebut menjadi mudah dalam saluran pencernaan. karena tidak me mpunyai mikroorganisme dalam aluran s pencernaannya. Menurut pendapat Anggorodi (1994). 1997). Serat kasar dan BETN (bahan ek strak tanpa nitrogen) merupaka n golongan karbohidrat yang dapa digunakan sebagai bahan maka an. (1980) tinggi renda hnya kecernaan zat-zat makanan dalam bahan pakan dapat dipengaruhi oleh laju pejalanan r makanan di dalam saluran pence rnaan serta kandungan zat-zat makanan yang terdapat bahan tersebut. r unggas secara keseluruhan dapat membawa zat-zat makanan yang dapat dicerna dari bahan-bahan makanan lain akan ditemukan kembali pada feses (Wahyu. Oleh karena itu bila serat kasar tidak tercena pada ternak . semakin tinggi suatu bahan makanan yang mengandung serat kasar semakin rendah juga daya cerna bahan tersebut. Serat kasar pada ternak unggas tidak dapat dicerna. . J. (1978) mengemukakan bahwa zat makanan yang terdapat di dalam feses dianggap zat makanan yang tidak tercerna da tidak diperlukan kembali seh n ingga sedikit kandungan bahan kering dalam feses maka semakin tinggi nilai kecernaannya.

83 9. Selain itu bahan makanan yang menggandung zat organik seperti karbohidrat.88 70. 55.05).13 69.32 69. 56.44 5. Rataan Nilai Kecernaan Bahan Organik Bungkil Inti Sawit.29 68. 55. 55.50 68.4 5%.77 2. 55. Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Bahan Organik Rataan nilai kecernaan bahan organik percobaan disajikan pada tabel 4 dibawah ini. 56. Tabel 4.87 10.).49 Rata-rata 56. Bungkil Inti Sawit Fermentasi pada Ayam Broiler Perlakuan Ulangan Non Fermentasi Fermentasi ………………(%)……………… 1.39 68. Tingginya nilai kecernaan baha organik tersebut disebabkan oleh n tingginya nilai kecernaan bahan kering dari bungkil inti sawit yang difermentasi.45 6. yakni dari 56. menunjukan perbedaan yang nyata (P<0.2.99 7.86%. 56.85 69.45b Tabel 4 memperlihatkan bahwa ataan nilai kecernaan bahan or anik r g bungkil inti sawit yang difermentasi mengalami peningkatan dibandingkan tanpa fermentasi.07a 69. 56.07% menjadi 69. 56.79 4.00 69.67 4. 56. Selanjutnya dilakukan analsis statistik i dengan menggunkan uji t-student (Lampiran 5.71 694.48 69.4.30 8.45 Jumlah 560. karena pada karbohidrat merupakan lebih kurang tiga perempat bagian dari bahan .71 3. Peningkatan nilai kecernaan bahan organik tersebut sebesar 23.88 69.

91 9.46 710.30 8. begitu pula pada bahan organik dan bahan kering merupakan ukuran dalam pemberian suatu makanan zat organik.98 2.59 4. 58.20 70. Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Protein Kasar Tabel 5.65 10. 59.97 71.31 Jumlah 587.5. Semakin sedikit bahan kering yang dit mukan di feses e maka kecernaan dari bahan kering tersebut sangat tinggi. 59.81 5.75a 71. sehinga karbohidrat tersebut terurai dan ditemukan kembali dipada feses dalam jumlah sangat sedikit.48 6.92 Rata-rata 58. Rataan Nilai Kecernaan Protein Kasar Bungkil Inti Sawit.09b .09 7. Bungkil Inti Sawit Fermentasi pada Ayam Broiler Perlakuan Ulangan Non Fermentasi Fermentasi ………………(%)……………… 1.06 71.12 72.09 70.03 70.67 71.80 kering yang sebagian besar terdapat pada tumbuh-tumbuhan (Anggorodi.01 71. 58. 59. dimana semakin tinggi persentase bahan kering mak akan diikuti a oleh peningkatan persentase bahan organik (Tillman. 59. 1985). 58.56 69. 4. 57. 1998). 58.2. 59.76 70.80 3. dkk. Hal ini sejalan dengan prinsip perhitungan bahan organik dari analisis proksimat.

statistik dengan menggunakan ji u t-student Berdasar an analisis k 6. mempengaruhi proses pencernaan protein dalam sehingga tidak pencern aan. disebabkan bungkil inti sawit yang difermentasi mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi d kandungan an serat kasar yang lebih rendah dibandingkan dengan bungkil inti sawit yang tidak difermentasi. yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap nilai kecernaan bahan pakan tersebut (Wahju.00 %. Adanya peningkatan kecernaan ini. J. 1997). semakin tinggi tingkat protein di dalam bahan pakan. 1975). Protein yang dikonsumsi tergantung dari kandungan protein dalam bahan pakan tersebut. yakni dari 58 .09%.05). (1961) .75% menjadi 71. saluran Meningkatnya nilai daya cerna bahan pakan bungkil initi sawit yang difermentasi disebabkan pula oleh enzim proease sebagai katalisator dala pencernaan r m protein (proteolitik). tingginya nilai k ecernaan bahan kering akan berpengaruh terhadap protein. Oleh karena itu. karena serat kasar tersebut didegradasi oleh enzim selulase yang dihasilkan oleh jamur Marasmius sp. Kenaikan kecernaan protein k asar sebesar 21. menunjuan k (Lampiran perbedaan yang nyata (P<0. sehingga di dalam saluran pencernaan protein menjadi lebih mudah dicerna (Sudarmadji.). Selain itu protein yang dalam bungkil inti sa wit yang difermentasi disebabkan rendahnya serat kasar..81 Berdasarkan tabel 5. tampak terjadi kenaikan nilai kecernaan protein kasar pada bungkil inti sawit yang d ifermentasi. maka konsumsi protein makin tinggi pula. dan menurut Morisson.

Protein yang mu dah dicerna merupakan protein yang berkualitas baik (Bautrif.82 protein merupakan bagian dari bahan kering sehingga apabila kecernaan bahan kering tinggi maka daya cerna protein juga tinggi. . 1990). Dimana da cerna bahan ya kering menunjukan tingginya ku alitas ransum.

. 2003. Disertasi. New York. M. Jakarta. Bandung. Sibbald I.H dan W. Trphati. R. 2003. M. Bandung. Hofrichter. Musnandar. Singh. A. Pemanfaatan Jasad Renikdalam Pengolahan Hasil Sampingan Atau Sisa-sisa Produk Pertanian.. J. Ziegenhagen.L. 1982.C. 1960. Leoniwics. 175-185. Ed. i Mikroorganisms as Alternative Source Prorein. M. dan K. Universitas Putra Bangsa. Summers and Slingers. 3 nd. Scott and Ithaca. Luterek. Jay.K. New York. Rekayasa Genetika dan Bioteknologi Mutakir Terobosan Kelambanan Bioteknologi Konvesonal dan Meningkatkan Produks i i pertanian. S. 65-75. Rumput Hayati Sabut Sawit Oleh jamur Marasmius sp. D. Poultry Science. Bandung. Angkasa . N.S. . Eriksson. S. Unpad. Scott. Berita IPTEK. New York.. M.M. Pascasarjana ng Unpad. D. Rev 55. The University of Georgia Press. Wojtaswisilewska. D Van Nostrund Company. A. K. Modern Food Microbiologi.D.83 DAFTAR PUSTAKA Atmadilaga. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak M onogastrik.K. B.J. London. Biokonversi Limbah Kakao Oleh Marasmius sp. Funct. Nasheim and R. 1978. Factors Affecting The Metabolisme Energy Content of Poultry Feed. Kuhad. Surabaya.R. 1997. Suhermiyati. Nutrition of the Chicken. Disertasi. Biol 27. 1983 . Toronto. Saxena. Saono. Young.. M.C. Matuszewska. Cho. Pascasarjana. Flatt.L. J. Nutr. 1973. Gen. Schnider. Rogalsky. Biodegradation of Linin by White-rot Fungi.L. Serta Pemanfaatanya Pada Kambi Kacang. Parakasi. 1991. 1976. dan J. The Evaluation of Feeds Throu h g Digestibility Experiment.E.P. 1999. dan Saccharomyces cerevisae Serta Implikasi Efeknya Terhadap Produksi Ayam Broiler. R.

. Doktor (S3) UNPAD. 2.D. Staf Pengajar Fakultas Peterna kan Universitas Track Record Penelitian: . MS. 3. : : Pembina / IVa. Bogor. Gajah Mada University Press. Sarjana Peternakan (S1) UNPAD. H. Magister Sains (S2) IPB. Yogyakarta. 1980. S. CURRICULUM VITAE KETUA PENELITI Nama lengkap dan Gelar : DR. Tuti Widjastuti. Wahju.R. Winarno. IPB. BIODATA TIM PELAKSANA A. 1998. Disertasi. F. Ilmu Makanan Ternak Dasar.G. Cetakan Kedua. Alamat Pendidikan : : Jl. Bogor. 10. Ir.84 Tilman. Yogyakarta. Hartadi. Tulung. F. 1. Sepak Bola No. Gajah Mada University Press. 1988. Unstrat Menado.40293. Bahan Pangan Terfermentasi Pusat penelitian dan . Rksohadiprodjo. S. Ilmu Nutrisi Unggas. Pascasarjana IPB. e n Lebdosoekojo 1991. Prawirokusumo da S. Pengembangan Teknologi Pangan. Makalah Simposium Biologi. Wolayan. Pengalaman penelitian : 24 (dua puluh empat) tahun. 3 Arcamanik. Pangkat / Golongan Unit Kerja Padjadjaran. Bandung . Pengaruh Fermentasi Bungkil Kelapa Men ggunakan Trichoderma viride terhadap Komposisi Kimia Dan Kernaan Protein Pada Ayam Broiler. B. A. 1987. Efek Fisiologis Serat Kasar Di Dalam Alat Pencernaan Bagian Bawah Hewan Monogastrik. J.

Menguji pada Sidang Sarjana S1 dan S2. Hubungan Antara Efisiensi Penggunaan Protein dengan Keseimbangan Energi/ Protein pada Pertumbuhan Ayam Sentul (Tahun 1999). 2. Tahun 1996). 5. Usaha Ternak Ayam Buras Melalui Optimalisasi Pemanfaatan Limbah Pertanian di Pedesaan (Tahun 2001). Membimbing praktek kerja lapangan mahasiswa Fakultas Peternakan UNPAD. Kebutuhan Protein dan Efisiensi untuk Pertumbuhan dan Produksi Telur Ayam Sentul pada Kandang Sistem Litter dan system Cage (Desertasi. Memberikan kuliah Ilmu Management Ternak Unggas dan Ilmu Produksi Aneka Ternak di S1 reguler dan ekstension Fakultas Peternakan UNPAD. 6. 7. Track Record Pendidikan dan Pengajaran: 1. Pengaruh Tingkat Pemberian Yodium dan Tingkat Protein Ransum terhadap Performans Ayam Kampung Jantan (Tahun 2000). 4. loka karya dan penataran yang diselenggarakan di dalam dan di luar lingkungan Universitas Padjadjaran. Pemanfaatan Tepung Daun Singkong dalam Upaya Peningkatan Kualitas Telur Ayam Lokal (Tahun 2001). 3. 2. 3. Aplikasi Teknologi Peternakan Mengoptimalkan Potensi Usaha Peternakan Ayam Buras di Pedesaan (Tahun 2000).85 1. Hasil-hasil Penetasan Ayam Sentul pada Dua Sistem Alas Kandang yang Diberi Ransum dengan Berbagai Tingkat Energi/Protein (Tahun 2000). Membimbing laporan mahasiswa D3 Fakultas Peternakan UNPAD. . 8. Mengikuti seminar. 5. Pengaruh Subtitusi Tepung Ikan dan Tepung Pupa Ulat Sutera (Bombyx-mori Linn) dalam Ransum Terhadap Performan Itik Lokal Jantan (Tahun 2002). Membimbing Skripsi S1 dan Thesis S2. Penentuan efisiensi Penggunaan Protein. 4. 6.

Magister Pertanian Unpad (S2) Bidang Ilmu Nutrisi Ternak (Tahun 2002). 3. : : : Penata / III-C Lektor Kepala Staf Pengajar Fakultas Peterna kan Universitas Track Record Penelitian: 1. 5. A b u n . Sarjana Peternakan Unpad (S1) (Tahun 1991). MP. Pengaruh Cara Pengolahan Limbah Ikan Tuna (Thunnus atlanticus) terhadap Kandungan Gizi dan Energi Metabolis pada Ayam Pedaging (2002). Membantu penyuluhan bidang perunggasan pada masyarakat pedesaan Jawa Barat. 2. 11 BDG. 4. CURRICULUM VITAE ANGGOTA PENELITI I Nama lengkap dan Gelar : Ir. Pengolahan Limbah Umbi Garut (Maranta arundinacea Linn. Pangkat / Golongan Jabatan Fungsional Unit Kerja Padjadjaran. Penentuan Nilai Kecernaan Ransum Mengandung Ampas Umbi Garut (Maranta arundinacea Linn. 8. B. Pengaruh Suhu dan Ketinggian T empat terhadap Produksi Ayam P edaging (2001). 2. Pengaruh Perbedaan Spesies Jam dan Tingkat Perbandingan Bugkil ur n Kelapa dan Onggok terhadap Per bahan Nilai Gizi dan Kecernaa Bahan u n Kering Pada Ayam Pedaging (2000). Melakukan penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Rancaekek Permai Blok E 4 No.86 7. 1.) melalui Fermentasi dengan Aspergillus niger terhadap Perubahan Nilai Gizi dan Kecernaan Ransum pada Ayam Broiler (2003).) pada Ayam Broiler dengan Metode Pemotongan (2002). Alamat Pendidikan : : Komp. .

Bioteknologi Pakan dan Nutrisi Ternak Eksperimental pada Program S-1 Reguler. C. 7. Teknologi Pengolahan Pakan. MS. Membimbing laporan mahasiswa D3 Fakultas Peternakan UNPAD. Pengaruh Cara Pengolahan Limbah Ikan Tuna (Thunnus atlanticus) terhadap Kandungan Gizi dan Nilai Energi Metabolis pada Ayam Pedaging (2004).) oleh Aspergillus niger terhadap Perubahan Komposisi Gizi dan Nilai Energi Metabolis pada Ayam Broiler (2003). Membimbing Kuliah Kerja Nyata. Mengikuti seminar. loka karya dan penataran yang diselenggarakan di dalam dan di luar lingkungan Universitas Padjadjaran. CURRICULUM VITAE ANGGOTA PENELITI II Nama lengkap dan Gelar : Ir. Pengaruh Dosis Inokulum Aspergillus niger dan Lama Fermentasi terhadap Perubahan Protein Kasar dan Serat Kasar Ampas Umbi Garut (2004). 6. Fakultas Peternakan Unpad. 7.87 6. Pangkat / Golongan Jabatan Fungsional : : Penata Muda/III-A Asisten Ahli . Biokonversi Ampas Umbi Garut (Maranta arundinacea Linn. Menguji pada Sidang Program D-3. Track Record Pendidikan dan Pengajaran: 1. S-1 dan S-2. Melakukan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat. 8. 2. 3. 8. Membimbing Praktek Kerja Lapang. Membimbing Skripsi S-1 dan D-3. 5. Wiwin Tanwiriah. 4. Memberikan kuliah Nutrisi Ternak Unggas.

1. Pengaruh Tingkat Pemberian Temulawak pada Ayam Petelur yang Diberi Ransum Kadar Lemak Berbeda terhadap Produksi dan Kadar Kolesterol Telur. Penentuan Efisiensi Penggunaan Protein dan Kebutuhan Protein Untuk Pertumbuhan dan Produksi Telur pada Itik Tegal. Menguji pada Sidang Program D-3. dan S-1 . 4. Track Record Pendidikan dan Pengajaran: 1. Membimbing Skripsi S-1 dan D-3. Pengaruh Umur Induk dan Frekwensi Pengambilan Telur Tetas Ayam Buras Sentul terhadap Fertilitas dan Hasil Penetasan. 4. 5. Sarjana Peternakan Unpad (S1) 2. Memberikan kuliah Ilmu Management Ternak Unggas dan Ilmu Produksi Aneka Ternak di S1 reguler Fakultas Peternakan UNPAD. 2. Track Record Penelitian: 1. Membimbing Praktek Kerja Lapang. 2. 5. Pengaruh Kriteria Pengisian Ra nsum dengan Bentuk Fisik yang Berbeda dalam Tempat Makanan terhadap Jumlah Ransum yang Terhambur p ada Ayam Petelur. Membimbing laporan mahasiswa D3 Fakultas Peternakan UNPAD. 3. Magister Peternakan Unpad (S2) Bidang Produksi Ternak. Pengaruh Lamanya Pemuasaan pada Perlakuan Force Molting terhadap Performan Ayam Petelur. . 3.88 Unit Kerja Padjadjaran. Alamat Pendidikan : Staf Pengajar Fakultas Peterna kan Universitas : : Kabupaten Garut.

Membimbing Skripsi S-1 3. . Memberikan kuliah Ilmu Management Ternak Unggas dan dan Produksi Ternak Unggas di S1 reguler Fakultas Peternakan UNPAD. Alamat Pendidikan : : Pamulihan. Kec.. loka karya dan penataran yang diselenggarakan di dalam dan di luar lingkungan Universitas Padjadjaran. Magister Sains (S2) Institut Teknologi Bandung. Melakukan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat. : : : Penata Muda tingkat I/III-b Asisten Ahli Staf Pengajar Fakultas Peterna kan Universitas Track Record Penelitian: 1. Bobot Karkas dan Kualitas Karkas Ayam Broiler. Pengaruh Kepadatan Ayam dan Im bangan Energi Protein terhadap Bobot Hidup. 2. Track Record Pendidikan dan Pengajaran: 1. MSi. Cilengkrang Bandung 1. Pengelolaan Burung Maleo (Macrosephalon maleo) di Suaka Marga Satwa Penjan-Tanjung Matop Sulawesi Tengah. 8. Sarjana Peternakan Unpad (S1) 2. Membimbing Kuliah Kerja Nyata. 7. SPt. 2. CURRICULUM VITAE ANGGOTA PENELITI III Nama lengkap dan Gelar : Indrawati Yudha Asmara. Mengikuti seminar. Pangkat / Golongan Jabatan Fungsional Unit Kerja Padjadjaran. Membimbing Praktek Kerja Lapang.89 6. D.

7. Membimbing Kuliah Kerja Nyata. 5. Mengikuti seminar. . 6. loka karya dan penataran yang diselenggarakan di dalam dan di luar lingkungan Universitas Padjadjaran. Membimbing Kuliah Kerja Nyata. dan S-1 . Menguji pada Sidang Program D-3.90 4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful