Presentasi Kasus

DIARE AKUT DENGAN DEHIDRASI BERAT

Diajukan O l e h DENDI HESTIAWAN 1101998034

SMF ILMU KESEHATAN ANAK

RSUD Dr. Hi. ABDUL MOELOEK - BANDAR LAMPUNG JANUARI 2004 STATUS PENDERITA No. catatan medik Masuk RSAM Pukul : 211/ 687003 : 05 Januari 2004 : 10.30 wib

ANAMNESIS Alloanamnesis dari ibu pasien Identitas Nama penderita Jenis kelamin Umur Nama Ayah Umur Pekerjaan Pendidikan Nama Ibu Umur Pekerjaan Pendidikan : An. Y : Laki-laki : 11 bulan : Tn. M : 48 tahun : Buruh : SLTP : Ny. Y : 40 tahun : Ibu Rumah Tangga : SLTP

Hub. dg orangtua : Anak kandung Agama Suku Alamat : Islam : Lampung : Sukamenanti Kedaton

Riwayat Penyakit Keluhan utama: Mencret - mencret 2

Keluhan tambahan

: Demam

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan keluhan mencret-mencret sejak 2 hari yang lalu, frekuensi lebih dari 10X sehari, setiap mencret sebanyak ± ½ gelas belimbing berupa cairan kekuningan tanpa lendir maupun darah. Keluhan mencret juga disertai dengan demam tidak menggigil. Namun tidak disertai dengan adanya muntah, batuk, maupun kejang. Selama sakit pasien tampak lemah dan malas minum. BAK frekuensi dan jumlah lebih sedikit bila dibandingkan masih sehat. Karena keluhan tersebut maka penderita dibawa orangtua berobat ke Poli anak RSAM dan dianjurkan untuk segera dirawat ke RSAM. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien belum pernah menderita sakit seperti ini. Riwayat Penyakit Keluarga Dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit seperti ini. Riwayat Kehamilan Selama hamil, ibu pasien rajin memeriksakan kehamilannya ke bidan dan tidak ada keluhan yang berarti selama hamil. Riwayat Persalinan Pasien lahir di rumah bersalin ditolong oleh bidan. Bayi lahir cukup bulan, spontan dan langsung menangis, tidak ada cacat, berat badan lahir 3600 gram, panjang badan 50 cm. Pasien anak kelima dari lima saudara. Riwayat Makanan Umur : 0 - 4 bulan : ASI.

3

5 bulan : 1x. Kelainan mukosa kulit/subkutan yang menyeluruh Pucat Sianosis Ikterus Perdarahan Oedem umum Turgor Lemak bawah kulit : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : Menurun : Cukup 4 .4 ºC : 10 kg : Cukup Status Generalis 1. umur 2 bulan : 3x.4 . umur 9 bulan : Belum pernah : Tampak sakit sedang : Somnolen : 140 x/menit. umur 3. 5 bulan : 3x. 4.Sekarang Riwayat Imunisasi BCG Polio DPT Campak Hepatitis PEMERIKSAAN FISIK Status Present Keadaan umum Kesadaran Nadi Respirasi Suhu BB Status gizi : ASI + Bubur Susu + Buah : ASI + Bubur Susu + Buah + Nasi Tim Saring : ASI + Buah + Biskuit + Nasi Tim : 1x. reguler. umur 3.6 bulan 6 . isi lemah : 40 x/menit : 38. 4.9 bulan 9 .

sekret (-) : Bibir kering. refleks cahaya (+/+). lensa jernih. tidak mudah dicabut : Tidak ada kelainan : Kelopak mata sangat cekung. liang lapang. simetris. faring tidak hiperemis LEHER Bentuk Trakhea KGB Kaku kuduk : Simetris : Di tengah : Tidak membesar : (-) THORAKS Inspeksi : Bentuk simetris. lidah bersih. septum deviasi (-). air mata (-) Telinga Hidung Mulut : Bentuk normal. pernafasan cuping hidung (-). lurus. sianosis (-). konjungtiva ananemis. simetris : Cekung : Hitam.- Pembesaran kelenjar getah bening generalisata : (-) KEPALA Bentuk UUB Rambut Kulit Mata : Bulat. kornea jernih. serumen (-/-) : Bentuk normal. sklera tidak ikterik. Tidak ada kelainan 5 . retraksi sela iga (-).

: Timpani. 6 . turgor menurun. murmur (-) ABDOMEN Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Cembung.PARU ANTERIOR KIRI KANAN Pergerakan Pergerakan pernafasan pernafasan simetris simetris Fremitus taktil = Fremitus taktil = kanan kiri Sonor Sonor Suara nafas Suara nafas vesikuler vesikuler Ronkhi (-) Ronkhi (-) Wheezing (-) Wheezing (-) POSTERIOR KIRI KANAN Pergerakan Pergerakan pernafasan pernafasan simetris simetris Fremitus taktil = Fremitus taktil = kanan kiri Sonor Sonor Suara nafas Suara nafas vesikuler vesikuler Ronkhi (-) Ronkhi (-) Wheezing (-) Wheezing (-) Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi JANTUNG Inspeksi Palpasi Perkusi : Iktus kordis tidak terlihat : Iktus kordis teraba sela iga IV garis midklavikula sinistra : Batas atas sela iga II garis parasternal sinistra Batas jantung kanan sela iga IV garis parasternal dextra Batas jantung kiri sela iga IV garis midklavikula sinistra Auskultasi : Bunyi jantung I-II murni. simetris : Supel. hepar dan lien tidak teraba. : Bising usus (+) meningkat.

Urine 3. Oedem (-/-) PEMERIKSAAN PENUNJANG 1.18 ) ( 0 .700 ) . count : 11 gr% : 15 mm/jam : 8000/mm³ : 0/0/0/57/41/2 ( 13.10. Oedem (-/-) : Akral dingin. tidak ada kelainan : Kemerahan pada sekitarnya EKSTREMITAS Superior Inferior : Akral dingin. Feses Makroskopis : Konsistensi : encer Warna Darah Lendir Bau Mikroskopis : Sel epitel : Kuning : (-) : (-) : Indol/skatol : (+) 7 Warna Bau Reduksi Protein : Jernih kekuningan : Amonia : (-) : (-) Hb LED Leukosit Diff. Darah Rutin 2.5 .500 .10 ) ( 4.Anus : Laki-laki.GENITALIA EXTERNA .Kelamin .

Namun tidak disertai dengan adanya muntah. Anamnesis Seorang anak laki-laki. batuk.Leukosit : (-) Telur cacing : (-) RESUME I.4 ºC : 10 kg : Cukup : Cekung : Cekung. datang dengan keluhan mencret sejak 2 hari yang lalu sebelum masuk RS. BAK frekuensi dan jumlah lebih sedikit bila dibandingkan masih sehat Karena keluhan tersebut pasien dirawat di RS. reguler. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum Kesadaran Nadi Respirasi Suhu BB Status gizi UUB Mata Mulut : Tampak sakit sedang : Somnolen : 140 x/menit. Keluhan mencret juga disertai dengan demam tidak menggigil. II. air mata (-) : Bibir kering 8 . : 40 x/menit : 38. umur 11 bulan. Frekuensi per hari lebih dari 10X. maupun kejang. jumlah tiap mencret ± ½ gelas belimbing berupa cairan kekuningan tanpa lendir maupun darah. BB 10 Kg.

- Thoraks Abdomen Genitalia Ekstremitas : Cor dan Pulmo dalam batas normal : Cembung. Bising usus (+) meningkat. : Anus Kemerahan sekitarnya : Akral dingin 9 . Turgor menurun.

Urin dalam batas normal 3. IVFD ASERING 4 jam pertama 2. Diagnosis Kerja Diare Akut dengan Dehidrasi Berat V.III. Laboratorium 1. Penatalaksanaan 1.5 gr/hari : 36tetes/menit (makro) 20 jamSelanjutnya : 29 tetes/menit (makro) 10 . Diet TKTP Kalori Protein : 1100 kkal/hari : 27. Diagnosa Banding Diare akut dengan Dehidrasi Berat ec Infeksi Diare Akut dengan Dehidrasi Berat ec Malabsorbsi Karbohidrat Diare Akut dengan Dehidrasi Berat ec Malabsorbsi Protein Diare Akut dengan Dehidrasi Berat ec Malabsorbsi Lemak VI. Feses Makroskopis : Konsistensi : encer Warna Darah Lendir Bau Mikroskopis : Sel epitel Leukosit : Kuning : (-) : (-) : Indol/skatol : (+) : (-) Telur cacing : (-) IV. Darah dalam batas normal 2.

Kultur Feses Elektrolit VII. Prognosa Quo ad Vitam Quo ad Functionam Quo ad Sanationam : Dubia ad bonam : Dubia ad bonam : Dubia ad bonam 11 .3. Medikamentosa Anti piretika : Parasetamol 3 X 100 mg VII. Anjuran Pemeriksaan Pemeriksaan PH tinja dengan kertas lakmus.

Cair (+) (-) (-) Kuning (-) (+) Tampak Sakit Sedang Compos Mentis 120 x/menit 26 x/menit 36.Nafsu makan Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign: .8 ºC (-) (-) (+) (+) ↑ Cukup (-) (+) 15 tts/mnt (+) 13 tts/mnt (-) 12 .FOLLOW UP TANGGAL Keluhan: .BAB Ampas Lendir Darah Warna .Nadi .Bibir kering .Turgor .8 ºC (+) (+) (+) (+) ↑ Kurang (+) (+) 07 – 01 – 2004 3 X.Pernafasan .Anus kemerahan Therapi: .IVFD ASERING tts/mnt (makrodrip) .Mata cekung .Suhu Pemeriksaan Fisik : .UUB Cekung .Demam .Bising usus .Akral dingin . Cair (+) (-) (-) Kuning (+) ↓ Tampak Sakit Sedang Compos Mentis 138 x/menit 32 x/menit 37.Parasetamol 100mg X 3 k/p 06 – 01 – 20034 > 5 X.

Lunak (+) (-) (-) Kuning (-) (+) Tampak Sakit Sedang Compos Mentis 120 x/menit 34 x/menit 37.4 ºC (-) (-) (-) (+) Normal Cukup (-) (-) 10 tts/mnt (-) (-) Stop (-) 13 .Demam .Bising usus .UUB Cekung .Turgor .TANGGAL Keluhan: .Nafsu makan Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign: .Akral dingin .Mata cekung . Lunak (+) (-) (-) Kuning (-) (+) Tampak Sakit Sedang Compos Mentis 110 x/menit 26 x/menit 36.0 ºC (-) (-) (-) (+) Normal Cukup (-) (+) 09 – 01 – 2004 2X.Anus kemerahan Therapi: .IVFD ASERING tts/mnt (makrodrip) .Pernafasan .Nadi .BAB Ampas Lendir Darah Warna .Parasetamol 100 mg X 3 k/p 08 – 01 – 2004 2X.Bibir kering .Suhu Pemeriksaan Fisik : .

Nafsu makan Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign: .Bising usus .Akral dingin .Nadi .Bibir kering .2 ºC (-) (-) (-) (+) Normal Cukup (-) (-) (-) (-) (-) (-) Pasien boleh pulang Pasien boleh pulang dengan persetujuan dokter 14 .Turgor . Biasa (+) (-) (-) Kuning (-) (+) Tampak Sakit Sedang Compos Mentis 110 x/menit 32 x/menit 36.Pernafasan .TANGGAL Keluhan: .6 ºC (-) (-) (-) (+) Normal Cukup (-) (+) 12 – 01 – 2004 1X.BAB Ampas Lendir Darah Warna . Lunak (+) (-) (-) Kuning (-) (+) Tampak Sakit Sedang Compos Mentis 124 x/menit 30 x/menit 36.Parasetamol 100 mg X 3 k/p 10 – 01 – 2004 1X.IVFD ASERING tts/mnt (makrodrip) .UUB Cekung .Suhu Pemeriksaan Fisik : .Anus kemerahan Therapi: .Demam .Mata cekung .

IX. Diagnosis Akhir Diare Akut dengan Dehidrasi Berat 15 .Dengan Anjuran:    Mengkonsumsi makanan rendah serat & tidak merangsang usus sementara waktu Menggunakan susu formula rendah Laktosa sampai kondisi stabil Memperhatikan hygienes makanan yang dimakan serta lingkungan sekitar.

monosakarida (intoleransi glukosa. b. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak < 2 tahun. Malabsorbsi protein. 16 . dan sebagainya. Infeksi enteral. Tonsilofaringitis.2) 1. seperti Otitis Media Akut (OMA). Oxyuris. dan lain – lain Infeksi parasit : Cacing (Ascaris. Ensefalitis. Strongyloides). Trichiuris.3. Faktor malabsorbsi a. Giardia lambilia. dan sebagainya. Infeksi virus : Enterovirus (Virus ECHO. fruktosa dan galaktosa). Infeksi parental. yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan. Bronkopneumonia. Malabsorbsi lemak terutama lemak jenuh.(1. c. Poliomyelitis). Salmoella.4) Etiologi Ada beberapa faktor yaitu : (1. Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa. Faktor infeksi a. Infeksi bakteri : Vibrio. Adenovirus. 2. Protozoa (Entamoeba histolytica. Pada bayi dan anak yang tersering ialah intoleransi laktosa. Jamur (Candida albicans). maltosa dan sukrosa). dengan frekwensi 3 kali atau lebih per hari.DIARE AKUT PADA BAYI DAN ANAK Definisi Diare akut adalah buang air besar yang terjadi pada bayi atau anak yang sebelumnya tampak sehat. disertai perubahan tinja menjadi cairan dengan atau tanpa lendir dan darah. Coxsackie. Trichomonas hominis). Ecoli. Shigella. b. Rotavirus.

4) Faktor resiko yang meningkatkan transmisi enteropatogen : 1. Faktor genetik 17 . Kontak langsung atau tidak langsung (4 F = Fod. Tidak ada / kurangnya sarana MCK 4. alergi terhadap makanan. Malnutrisi b. Faktor psikologis : rasa takut dan cemas. Cara Penularan Pada umumnya adalah orofecal melalui :(1) 1. Imunodefisien d. Makanan dan minuman yang telah terkontaminasi oleh enteropatogen. Higiene per orangan dan penyediaan makanan tidak higieni 5. Cara penyapihan bayi yang tidak baik (terlalu cepat disapih. Fly). Finger. terlalu cepat diberi susu botol dan terlalu cepat diberi makanan padat) 6. Faktor Resiko Terjadinya Diare (1. Rendahnya kadar asam lambung f.3. Peningkatan motilitas usus g. BBLR c. Feses. Faktor makanan Makanan basi. Beberapa faktor resiko pada pejamu (host) yang dapat meningkatkan kerentanan pejamu terhadap enteropatogen di antaranya adalah : a. beracun. Imunodepresi e. 4. Tercemarnya air oleh tinja 3. 2. Tidak cukup tersedianya air bersih 2.

Gangguan sekresi Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus. Vili usus halus kemudian akan memendek sehingga kemampuannya untuk menyerap dan mencerna makananpun akan berkurang. 3. Akibatnya sel epitel ini tidak dapat berfungsi untuk menyerap air dan makanan. 18 . Gangguan motilitas usus Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus menyerap makanan. Gangguan osmotik Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan ostomik dalam rongga usus meningi. 2. Sebagai akibatnya akan terjadi diare osmotik. Patogenesa Diare Karena Virus Virus yang terbanyak menyebabkan diare adalah rotavirus. Sel epitel usus halus bagian apikal akan diganti oleh sel dari bagian kripta yang belum matang.Patogenesis (2. Pada saat ini biasanya diare mulai timbul. yang berbentuk kuboid atau gepeng. kemudian berkembang biak di dalam usus. sehingga timbul diare. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare. sehingga terjadi pergeseran air dalam elektrolit ke dalam rongga usus.4) Mekanisme dasar timbulnya diare ialah : 1. Setelah itu virus masuk ke dalam epitel usus halus dan menyebabkan kerusakan di bagian apikal vili usus halus. Garis besarnya patogenesisnya adalah sebagai berikut : Virus masuk ke dalam traktus digestivus bersama makanan dan minuman. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.

3. kemudian berkembang biak di dalamnya.4) 1. Dan bila kemampuan penyerapan colon berkurang. Patogenesa Diare Karena Bakteri Bakteri masuk ke dalam traktus digestivus. Kemudian akan terjadi hiperperistaltik usus untuk mengeluarkan cairan yang berlebihan dalam lumen usus.3) 19 . sebagai akibat peningkatan aktivitas enzim – enzim ini akan terjadi peningkatan cAMP (cyclic adenosine monophospate) atau cGMP (cyclic guanosine monophospate) yang mempunyai kemampuan merangsang sekresi kloride. netrium dan air dalam sel ke lumen usus serta menghambat absorbsi natrium. Jasad renik tersebut berkembang biak (multiplikasi) di dalam usus halus. 4. maka akan terjadi diare. Bakteri kemudian mengeluarkan toksin yang akan merangsang epitel usus sehingga terjadi peningkatan aktivitas enzim adenil siklase (bila toksin bersifat tahan panas / labil toksin / LT) atau enzim guanil siklase (bila toksin bersifat tahan panas / stabil / ST). untuk mengatasi infeksi sampai terjadinya penyembuhan (1). Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare. sehingga cairan dapat dialirkan dari lumen usus halus ke lumen usus besar (colon). Hal ini akan menyebabkan peninggian tekanan osmotik di dalam lumen (hiperosmolar).setelah itu sel retikulum akan melebar dan kemudian akan terjadi infiltrasi sel limfoid dari lamina propia. Fisiologi dan Patofisiologi (2. 2.(1) Patogenesis Diare Akut (2. Oleh jasad renik dikeluarkan toksin (toksin diaregenik). kloride dan air dari lumen usus ke dalam sel. Masuknya jasad renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung. atau sekresi cairan melebihi kapasitas penyerapan colon.

akut maupun kronis akan terjadi : 1. serat dan dapat juga karena terdapatnya toksin dalam makanan (food poisoning) yang akhirnya menyebabkan diare pula. misalnya H2. bila terjadi sekresi cairan yang berlebihan dari usus halus (ileosekal). Diare dapat juga terjadi karena terbatasnya kemampuan penyerapan usus besar pada keadaan sakit. Secara garis besar diare dapat disebabkan oleh diare sekretorik. terutama IgA. elektrolit dan akhirnya terjadi dehidrasi. Dalam keadaan normal usus besar dapat meningkatkan kemampuan penyerapan sampai 4400 ml sehari. Gangguan sirkulasi darah. diare osmotik. 3. dan sebagainya). asam. Bila sekresi melebih 4400 ml maka usus besar tidak mampu menyerap seluruhnya lagi. Setiap perubahan mekanisme normal absorbsi dan sekresi di dalam lumen usus halus. misalnya karena virus.Sebagai akibat diare. hipokalemia. CO2 H2O. tumor dan sebagainya. Keadaan dalam lumen usus yang hiperosmolar ini kemudian akan meyerap air dari intraseluler. kehilangan cairan. misalnya laktosa (dari susu). Peristaltik usus juga dapat meningkat karena adanya zat makanan yang merangsang misalnya pedas. merupakan makanan yang baik bagi bakteri. diikuti peningkatan peristaltik usus sehingga terjadi diare ostotik. terlalu banyak lemak. dan sebainya. Diare yan disebabkan oleh infeksi bakteri akan menyebabkan diare sekretorik. pengeluaran bertambah). Gangguan gizi sebagai akibat kelaparan (masukan makanan kurang. peningkatan motilitas usus dan defisiensi umum. disentri basiler. Kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik. ulcus. 4. Laktosa ini akan difermentasikan oleh bakteri anerob menjadi molekul yang lebih kecil. Makanan yang tidak diserap atau dicerna. maupun usus besar (kolon) dapat menyebabkan diare. 20 . Dan menyebabkan tekanan osmotik di dalam lumen usus meningkat. Hipoglikemia. selebihannya akan dikeluarkan bersama tinja dan terjadilah diare. 2.

3) Mula – mula bayi dan anak menjadi cengeng. selain melalui anus dalam keadaan normal juga melalui ginjal berupa urin. mata dan ubun – ubun besar menjadi cekung. Bila jumlah cairan yang masuk dan ke luar setiap hari selalu seimbang. selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering. seperti pada diare akan terjadi defisit cairan tubuh yang lebih dikenal .Dehidrasi sedang . Tinja cair dan mungkin disertai lendir dan atau darah.Dehidrasi ringan . suhu tubuh biasanya meningkat. maka gejala dehidrasi mulai tampak. Gejala muntah dapat terjadi sebelum / sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lembung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit. nafsu makan berkurang atau tidak ada. juga melalui pori kulit berupa keringat dan melalui pernafasan berupa uap air. Gejala Klinis (2. tidak akan terjadi diare atau defisit cairan. anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat banyaknya asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare. kemudian timbul diare. Berdasarkan banyak cairan yang hilang dapat dibagi menjadi : . Dalam keadaan normal. Pada diare oleh karena intoleransi. turgor kulit berkurang. Pengeluaran cairan. pengeluaran air dari tubuh anak usia 0 – 2 tahun sekitar 100 ml sehari. Bukan saja bakteri tetapi juga virus. berat badan turun. parasit dan jamur dapat menyebabkan diare.Dehidrasi berat 21 Tetapi pengeluaran cairan melebihi pemasukan.Akhirnya immunodefisiensi baik selular maupun humoral terutama defisiensi IgA di dalam lumen usus akan menyebabkan diare karena ketidakmampuan usus untuk menetralisir enteropatogen dalam lumen usus. dengan dehidrasi.

tekanan darah menurun.Dehidrasi isotonik . penderita menjadi lemah. dehidrasi isotonik (dehidrasi isonatremia) bila kadar Na dalam plasma 130 – 150 mEq/l. Akibat dehidrasi. sedangkan dehidrasi hipertonik (hipernatremia) bila kadar Na dalam plasma > 150 mEq/l. kesadaran menurun (apatis.3) 1.Dehidrasi hipertonik Pada dehidrasi berat. Pemeriksaan Laboratorium (2. volume darah berkurang sehingga dapat terjadi renjatan hipovolemik dengan gejala – gejala yaitu denyut jantung menjadi cepat. 4. Makroskopis dan mikroskopis b. somnolen sampai soporokomatous). pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet elinitest. Kehilangan NaHCO3 melalui tinja 2. bila diduga intoleransi gula. Berpidahnya ion Na dari cairan ekstrasel ke cairan intrasel 5. Ketosis kelaparan 3. Bila sudah ada asidosis metabolik.Berdasarkan tonisitas plasma dapat dibagi menjadi : . 22 . Produk – produk metabolik yang bersifat asam tidak dapat dikeluarkan (karena oliguria atau anuria). Penimbunan asam laktat (anoksia jaringan tubuh). Dehidrasi hipotonik (dehidrasi hiponetremia) yaitu kadar Na dalam plasma < 130 mEq/l. diuresis berkurang (oliguria sampai anuria). Pemeriksaan tinja a. Bila perlu lakukan pemeriksaan biakan / uji resistensi. denyut nadi cepat dan kecil. tampak pucat dengan pernafasan yang cepat dan dalam (pernafasan Kussmaul). Asidosis metabolik terjadi karena : 1. c.Dehidrasi hipotonik .

perubahan pada elektrokardiogram). 2. Infeksi sistemik Seperti alat pernafasan. sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan villi mukosa usus halus. Penyakit Penyerta pada Diare (1) 1. Malnutrisi energi protein. 5. 23 . dan sebagainya. 7. Hipoglikemi. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal. lemah. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah dengan menentukan pH dan cadangan alkali atau lebih tepat lagi dengan pemeriksaan analisa gas darah menurut ASTRUP (bila memungkinkan). Komplikasi (2) 1. morbili. 3. hipotonik. Renjatan hipovolemik. terutama pada dehidrasi hipertonik. Sebaliknya diare akan menyebabkan absorbsi makanan terganggu dan berkurang sehingga akan menyebabkan bertambah beratnya derajat KKP penderita. Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif. terutama pada penderita diare kronik. hipotonik otot. 6. 2. 4. berat. Hipotokalemia (dengan gejala meteorismus. kalium. Kejang. Pemeriksaan kadar elektrolit terutama natrium. Dehidrasi (ringan. 4. bradikardi. isotonik dan hipertonik). 5. Selain dapat menyebabkan suhu penderita meningkat juga dapat menyebabkan diare dan dehidrasi. kalsium dan fosfor dalam serum (terutama bila ada kejang). karena selain diare dan muntah penderita juga mengalami kelaparan. KKP dapat menyebabkan diare karena adanya malabsorpsi makanan dan infeksi alat pencernaan.2. sedang. Intoleransi laktosa sekunder. KKP (Kurang Kalori Protein). 3.

Pengobatan Dasar pengobatan diare adalah : 1. Per oral untuk dehidrasi ringan. Jalan pemberian cairan a. larutan gula garam. 2. Darrow 1 bagian larutan Glukosa 5 %). Kejang Sebagian penderita diare dapat disertai kejang baik sebelum atau sesudah dehidrasi terjadi penyebabnya antara lain kejang demam. tetapi anak tidak mau minum atau kesadaran menurun. Intragastrik untuk dehidrasi ringan. hipoglikemi dan ensefalitis. 3. b. gangguan elektrolit (terutama hipernatremi). Intravena untuk dehidrasi berat dan kegagalan terapi rehidrasi oral Sejumlah pasien dengan dehidrasi ringan / sedang tidak dapat diobati secara memadai dengan oralit melalui mulut. dan sebagainya. Pemberian cairan pada diare dehidrasi murni 1. Cairan parenteral: RL.3. Penderita dengan terapi oral biasa gagal karena : 24 . DG aa (1 bagian lar. Dietetik (pemberian makanan). Cairan rehidrasi oral: oralit. Penderita ini harus diberikan terapi IV. sedang dan tanpa dehidrasi dan bila anak mau minum serta kesadaran baik. Jenis cairan a. b. Pemberian cairan (rehidrasi awal dan rumat). dan lain – lain. DG 1 : 2. 2. c. Obat – obatan. sedang atau tanpa dehidrasi.

5. Ileus paralitik (hambatan mobilitas isi perut) mungkin alasan kembung perut. Tetapi bila hal ini terjadi penggunaan oralit dapat menyebabkan bertambahnya diare dengan sejumlah besar glukosa yang 25 Terapi IV atau terapi nasogastrik diperlukan Muntah Beberapa penderita harus diobati selama beberapa jam dengan cairan IV sampai . Jika kembung bertambah atau jika ada bising usus. untuk penderita ini. Gejala ileus paralitik disebabkan oleh obat yang mengandung candu (kodein. karena kelelahan atau mengantuk karena obat (seperti antiemetik atau obat antimotilitas). Malabsorpsi glukosa Kegagalan penyerapan glukosa yang bermakna secara khas adalah tidak biasa selama diare akut. Perut kembung atau ileus Jika perut mulai kembung. Beberapa penderita dengan tingkat kehilangan cairan yang tinggi mungkin tidak bisa minum cukup oralit untuk menggantikan kehilangan cairan yang berkelanjutan sehingga keadaan dehidrasi makin buruk. 4. terapi IV diperlukan sampai muntahnya hilang. sariawan dan herpes). Jika tanda – tanda dehidrasi tidak membaik atau makin memburuk. Tingginya tingkat kelahiran cairan (seringnya buang air besar dalam tinja caira dengan jumlah yang banyak). Muntah terus menerus Kadang – kadang muntah yang berulang – ulang menghambat berhasilnya rehidrasi oral. biasanya hilang ketika air dan elektrolit terganti. 3. oralit harus diberikan lebih lambat. loperamide). Ketidakmampuan untuk minum Beberapa penderita tidak dapat minum oralit dalam jumlah yang tepat karena sakit atau radang pada mulut (contoh : campak. 2. hipokalemia atau keduanya. terapi IV diperlukan.1. tingkat kehilangan cairan berkurang.

kira – kira 25 ml / kgBB / 24 jam). 3. Parenteral dibagi rata dalam 24 jam. Cairan IV harus diberikan sampai diare hilang. CWL = Concomitant Water Loss (ml / kgBB) (Jumlah cairan yang hilang melalui muntah dan diare. NWL = Normal Water Loss (ml / kgBB) (Terdiri dari urin + jumlah cairan yang hilang melalui penguapan pada kulit dan pernafasan). b.tidak diserap dengan tanda – tanda dehidrasi yang memburuk atau tes menunjukkan terdapat sejumlah besar glukosa pada tinja. biasanya berkisar 5 – 15 % dari BB (ml / kgBB). Anak juga menjadi sangat haus. Belum ada dehidrasi Oral sebanyak anak mau minum (ad libitum) atau 1 gelas setiap kali buang air besar. Derajat Dehidrasi Ringan Sedang Berat PWL 50 75 125 NWL 100 100 100 CWL 25 25 25 Jumlah 175 200 250 JADWAL (KECEPATAN) PEMBERIAN CAIRAN a. Dehidrasi ringan 26 . Jumlah cairan Jumlah cairan = PWL + NWL + CWL PWL = Previous Water Loss (ml/kgBB) (Jumlah cairan yang hilang.

koma atau apatis. DERAJAT DEHIDRASI BERDASARKAN SISTEM PENGANGKAAN MAURICE KING. Dehidrasi sedang 1 jam pertama : 50 – 100 ml / kgBB per oral / intragastrik.- 1 jam pertama : 25 – 50 ml / kgBB per oral / intragastrik Selanjutnya : 125 ml / kgBB / hari atau ad libitum c. 1. 27 . 2 sesuai dengan tabel kemudian dijumlahkan. mengantuk/lunglai syok Kekenyalan kulit Normal Sedikit kurang Sangat kurang Mata Normal Sedikit kurang Sangat kurang Ubun – ubun Normal Sedikit cekung Sangat cekung Mulut Normal Kering Kering dan membiru Denyut nadi Normal 120 – 140 > 140 Catatan : Hasil yang didapat pada penderita diberi angka 0. 1974 Bagian tubuh yang harus diperiksa Keadaan umum 0 Sehat 1 2 Gelisah. Selanjutnya : 125/ml/kgBB/hari atau ad libitum d. lekas marah atau Mengigau. 20 jam II diberikan sisanya (3 x BB tts/mnt). Dehidrasi berat Untuk anak 1 bulan – 2 tahun dengan BB 3 – 10 kg 1 jam pertama 7 jam berikutnya 16 jam berikutnya : 40 ml/kgBB/jam atau 13 tts/kgBB/menit (dengan infus berukuran 1 ml = 20 tts) : 12 ml/kgBB/jam atau 4 tts/kgBB/menit (dengan infus berukuran 1 ml = 20 tts) : 3 tts/kgBB/menit (dengan infus berukuran 1 ml = 20 tts) Cara lain adalah : 4 jam I diberikan 1/3 dari kebutuhan cairan yang telah diperhitungkan (6 x BB tts/mnt).

gelisah Normal (frek. Pernafasan 4. sedang atau ringan adalah : bila terdapat 2 atau lebih gejala dalam penggolongan tersebut. Pasien kehilangan BB Prakiraan kehilangan cairan Keterangan: Haus. Mata * 7. gelisah SEDANG BERAT Mengantuk. Air mata 8. halus. Dengan catatan 28 . & isi Normal Normal Pada pencubitan kembali segera Normal Ada Lembab Normal Normal 4–5% 40 – 50 ml/kg * Terutama berguna pada bayi untuk menilai dehidrasi dan memantau rehidrasi. gelisah. ekstermitas dingin. berkeringat. kadang – kadang tidak teraba Dalam dan cepat Sangat cekung Sangat lamban > 2 detik Sangat cekung Sangat kering Sangat kering Tidak ada urin untuk beberapa jam. kulit jari – jari tangan dan kaki keriput Cepat. Selaput lendir 9.Nilai 0 – 2 = dehidrasi ringan Nilai 3 – 6 = dehidrasi sedang Nilai 7 – 12 = dehidrasi berat TABEL PENENTUAN DERAJAT DEHIDRASI MENURUT WHO. merasa pusing pada perubahan Cepat dan lemah Dalam Cekung Lambat Cekung Kering Kering Berkurang Normal. lemas. ekstremitas dingin. mungkin koma Biasanya sadar. gelisah atau letargi tapi iritabel Haus. rendah 6–9% 60 – 90 ml/kg Anak lebih besar dan dewasa 2. kandung kencing kosong < 80 mmlHg > 10 % 100 – 110 ml/kg Haus. UUB * 5. Nadi radialis 3.3) TANDA RINGAN DEHIDRASI 1. sadar. Pengeluaran urin* 10. TD sistolik 11. sadar. sadar. Pegangan untuk menggolongkan penderita termasuk dehidrasi berat. berkeringat dan sianotik. sianotik. Keadaan umum & kondisi Bayi dan anak kecil Haus. 1980 (1. Elastisitas kulit* 6.

Lihat keadaan umum .selalu memikirkan resiko yang lebih tinggi. maka penderita tersebut dimasukkan dalam golongan dehidrasi berat. rewel Cekung Tidak ada Kering * Haus.Air mata . Pemberian ASI sebaiknya diteruskan walaupun frekwensi intoleransi laktosa tinggi. lesu Sangat cekung dan kering Tidak ada Sangat kering * Malas minum. Hasil pemeriksaan A Baik. Dengan cara ini penyembuhan pendertita dapat lebih cepat. minum dengan lahap C Lunglai/latergi. tidak haus Kembali dengan cepat B * Gelisah. jika memiliki 2 / lebih tanda termasuk tanda * Kembali dengan lambat Dehidrasi ringan. Elmiron. Pada pelaksanaan dietetik. Periksa turgor kulit 3. dan kenaikan berat badan lebih baik walaupun frekwensi diare bertambah.Mata . tidak sadar. sedikit atau tidak bisa minum * Kembali dengan lambat Dehidrasi berat. (1) TABEL PENILAIAN DERAJAT DEHIDRASI PENDERITA (4) INDIKATOR 1. Untuk anak < 1 tahun atau berat badan < 7 kg. sadar Normal Ada Basah Normal.Rasa haus 2. misal terdapat 2 gejala dehidrasi berat dan 5 gejala dehidrasi sedang. Sedangkan untuk anak 29 . jika memiliki 2 / Tanpa dehidrasi lebih tanda termasuk tanda* Pemberian makanan pada penderita diare (1) Pemberian makanan per oral diberikan setelah anak rehidrasi. bubur susu.Mulut dan lidah . penderita diare akut dengan dehidrasi perlu diperhatikan faktor – faktor sebagai berikut : a. Insiden diare pada bayi yang mendapat ASI b. diberikan ASI dan susu rendah laktosa dan asam lemak tidak jenuh seperti LLM.

Pertumbuhan kalori dan protein untuk mengejar laju pertumbuhan (catch up growth) membutuhkan kenaikan kalori sekitar 30 % dan protein sekitar 100 % dari keadaan basal untuk menggantikan kehilangan selama diare.5 mmol/100 gram. Hanya sebagian kecil saja (10 – 20 %) yang disebabkan oleh bakteri patogen seperti Vibrio Cholerae. Antibiotika Pada umumnya antibiotika tidak diperlukan pada semua kasus diare akut karena sebagian besar penyebab diare akut adalah Rotavirus yang sifatnya self limited dan tidak dapat dibunuh oleh antibiotika. ETEC (Entero Toksigenic E. Bila ada infeksi terutama diare maka kebutuhan kalori dan protein bertambah karena meningkatnya katabolisme protein tubuh.Bila terdapat penyakit penyerta seperti :  Infeksi ringan (OMA.Campylobakter diberikan Eritromisin 40 – 50 mg/kgBB/hari . Shigella. sedangkan kalium dibutuhkan untuk mengatasi hipokalemi. (2) Buah yang dapat diberikan pada penderita diare adalah pisang. diberikan makanan padat atau makanan cair atau susu sesuai dengan kebiasaan makan di rumah. Salmonella. Campilobakter dan sebagainya yang pada umumnya baru diketahui setelah dilakukan biakan.  Infeksi sedang (bronkitis) diberikan Penisillin Prokain atau Ampisillin 50 mg/kgBB/hari. sedangkan hasil biakan baru datang setelah diare berhenti. kalori dan pisang adalah 99 kcal dan kandungan kaliumnya 9. (1) Pengobatan Medikamentosa 1. coli).Kolera diberikan Tetrasiklin 25 – 50 mg/kgBB/hari . faringitis) diberikan Penisillin Prokain 50.> 1 tahun dengan berat badan > 7 kg.000 u/kgBB/hari. (1) Antibiotika diberikan jika penyebabnya jelas seperti : (2) . 30 .

(1) 4. pektin. gangguan digesti dan absorpsi lainnya. ekstrak beladona. morfin. Absorben Obat – obat absorben (pengental tinja) seperti kaolin. Pemberian dalam dosis kecil ( 0. tabonal). Diarenya terlihat tidak ada lagi tetapi perut akan bertambah kembung dan dehidrasi bertambah berat yang akhirnya dapat fatal untuk penderita. nikotinamit dan sebagainya tidak akan dapat memperbaiki syok atau dehidrasi beratnya karena penyebabnya adalah kehilangan cairan (syok hipovolemik). dan sebagainya telah dibuktikan tidak ada manfaatnya. Bismuth Subsalisit. Aspirin) dalam dosis rendah (25 mg/kgBB/hari) ternyata selain berguna untuk 31 .5 – 1 mg/kgBB/hari) terutama penderita yang disertai muntah – muntah hebat dapat diberikan. dilatasi usus. (1) 3. Pengobatan yang paling tepat ialah pemberian cairan secepatnya. melipatgandakan pembiakan bakteri (over growth). dsb) justru akan memperburuk keadaan karena akan menyebabkan terkumpulnya cairan di lumen usus. Obat ini hanya berkhasiat menghentikan peristaltik usus saja tetapi justru akibatnya sangat berbahaya karena baik pemberi obat maupun penderita akan terkelabui. codein. Obat – obat stimulan seperti adrenalin. charcoal (norit. Anti Emetik Obat anti emetik seperti klorpromazin (largaktil) terbukti selain untuk mencegah muntah dapat mengurangi sekresi dan kehilangan cairan melalui tinja. 2. Infeksi berat (bronkopneumonia) diberikan Penisillin Prokain dengan Kloramphenikol 74 mg/kgBB/hari atau Ampisillin 75-100 mg/kgBB/hari ditambah Gentamisin 6 mg/kgBB/hari atau derifat Sefalosporin 30 – 50 mg/kgBB/hari. Obatanti piretik seperti preparat salisilat (Asetol. Anti Diare Obat – obat yang berkhasiat menghentikan diare secara cepat seperti antispasmodik/spasmolitik atau opium (papaverin.

(1) 32 .menurunkan panas yang terjadi sebagai akibat dehidrasi atau panas karena infeksi penyerta. juga dapat mengurangi sekresi cairan yang keluar melalui tinja.

4. EM. Modul Diklat Jarak Jauh Keterampilan Klinik Diare. 2. 3. BP FKUI. Aswitha Boediarso. Jilid I. Editor Husein Alatas dan Rusepno Hasan. BP FKUI. Gastroenterologi Anak Praktis : Editor Suharyono. Markum dkk. Jakarta. 33 . 1985 : 283 : 312. Editor A. H. 1996 : 448 – 446. BP FKUI. 1988 : 51 – 69. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. Jilid I. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI : Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak.DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta. Halimun.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.