Research Report

Dental Santri School Program (DENTSPRO) Sebagai Pembelajaran Terintegrasi Kesehatan Gigi dan Mulut di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Al Yasini (Dental Santri School Program (DENTSPRO) as Integrated Learning Dental Health Education in Miftahul Ulum Al Yasini Islamic Boarding School)
Aditya Mukti Setyaji*, Endah Laksminiwati**, Lidya Martina** * Mahasiswa Penelitian ** Dosen Pembimbing Penelitian Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga Surabaya – Indonesia

ABSTRACT Background : Islamic boarding school has an important role for national progress and development into the next generation of leaders who have moral integrity. Unfortunately, a boarding school is often seen as a slum educational environment, poorly maintained, and far from the health values, particularly on dental and oral health. It can be seen from our first sample, 18 of 21 santri had decays and only 2 of them have treated by dentist. Thus, it is needed an integrated educational programs between educational boarding school and the dental health education that can improve the quality of dental health in Islamic boarding school in order to create a caring environment and to respond to oral and dental health. Purpose : This research aimed to give awareness about dental health education by innovative learning method and also create health cadres to be responsible to the dental health of Islamic boarding school society. Methods : The sample was 22 students will get DENTSPRO training to be a cadre. The training form as one group only, given the DENTSPRO methods. The measurements will be taken in three aspects, cognitive by questionnaire, psychomotoric by using PHP index, and afective by group parameter. Result : There was significant development between before and after in each aspect p-value < 0.05. Conclusion : It can be concluded that DENTSPRO methods provide improved level of three aspect in increasing the level of oral health in Islamic boarding school. Keyword : Dental Santri School Program (DENTSPRO), Dental Health Education, Integration Program

Korespondensi (correspondence): Aditya Mukti Setyaji, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga. Jl. Prof. Dr. Moestopo 47 Surabaya 60000, Indonesia. E-mail: adityasetyaji@yahoo.com.

PENDAHULUAN Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang merupakan produk budaya Indonesia. Keberadaan Pesantren di Indonesia dimulai sejak Islam masuk negeri ini dengan mengadopsi sistem pendidikan keagamaan yang sebenarnya telah lama berkembang sebelum kedatangan Islam. Sebagai lembaga pendidikan yang telah lama berurat akar di negeri ini, pondok pesantren diakui memiliki andil yang sangat besar terhadap perjalanan sejarah bangsa.1 Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang memiliki peran penting bagi perkembangan dan kemajuan bangsa

khususnya bagi umat Islam. Pesantren berperan serta menciptakan kader - kader bangsa yang memiliki kemampuan dibidang IMTAQ dan IPTEK untuk menjadi seorang khalifah atau pemimpin bangsa kelak nanti. Pesantren pada mulanya merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai dan penyiaran agama Islam. Namun, dalam perkembangannya, lembaga ini semakin memperlebar wilayah garapannya yang tidak melulu mengakselerasikan mobilitas vertikal (dengan penjejelan materi-materi keagamaan), tetapi juga mobilitas horizontal (kesadaran sosial). Pesantren kini tidak lagi berkutat pada kurikulum yang berbasis keagamaan (regional-based curriculum) dan 1

cenderung melangit, tetapi juga kurikulum yang menyentuh persoalan kikian masyarakat (societybased curriculum). Dengan demikian, pesantren tidak bisa lagi didakwa semata-mata sebagai lembaga keagamaan murni, tetapi juga (seharusnya) menjadi lembaga sosial yang hidup yang terus merespons carut marut persoalan masyarakat di sekitarnya.2 Namun pada kenyataannya, pondok pesantren selalu dipandang sebagai lingkungan pendidikan yang kumuh, tidak terawat, serta jauh dari nilai-nilai kesehatan. Hal ini terlihat dari pola kehidupan sehari-hari para santri yang mengabaikan kesehatan, khususnya kesehatan gigi dan mulut. Contohnya, pada umumnya mereka menggunakan sikat gigi secara bersama-sama. Hal ini dapat mengakibatkan mudahnya perpindahan bakteri dan kuman antara individu satu dengan individu lainnya sehingga dapat menyebabkan mudahnya penularan berbagai macam penyakit. Selain itu jarangnya para santri untuk membersihkan gigi dua kali sehari sesuai anjuran dokter gigi menyebabkan terjadinya penumpukan plak, sehingga dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit rongga mulut. Rongga mulut merupakan pintu masuknya kuman, sehingga apabila rongga mulut tersebut tidak dijaga kebersihannya akan mempengaruhi atau memperburuk masalah kesehatan pada bagian tubuh lainnya. Seperti terjadinya atau semakin parahnya penyakit jantung yang diakibatkan ikut masuknya kuman ke dalam aliran darah.

Gambar 1. Gambaran kondisi kesehatan gigi dan mulut di pondok pesantren Miftahul Ulum Alyasini

Minimnya pengetahuan tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut menjadi faktor utama timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut di kalangan santri pondok pesantren. Dibuktikan dengan hasil survey pendahuluan dari pondok pesantren Al-Yasini Pasuruan, 18 dari 21 santri memiliki gigi berlubang dan hanya dua diantaranya yang melakukan perawatan ke dokter gigi. Pendidikan keagamaan yang selama ini

menjadi kurikulum dalam pondok pesantren belum mampu membentuk pola hidup sehat, sehingga diperlukan pembelajaran terintegrasi antara materi keagamaan dan ilmu kesehatan gigi mulut secara umum. Dental Santri School Program (DENTSPRO) merupakan suatu metode belajar dengan perangkat belajar yang mengintegrasikan pelajaran kesehatan gigi dan mulut dengan pelajaran keagamaan di pondok pesantren. Sistem terintegrasi yang dikembangkan di DENTSPRO ini adalah format pembelajaran yang akan meningkatkan ranah kognitif, psikomotorik, serta afektif dengan menggunakan sistem pembelajaran student centered learning (SCL). Dental Santri School Program (DENTSPRO) sebagai pembelajaran terintegrasi kesehatan gigi dan mulut di Pondok Pesantren dilakukan dengan mengembangakan konsep pendidikan yang mengintegrasikan pendidikan kesehatan gigi dan mulut dengan pemahaman terhadap kesehatan dalam aktivitas sehari-hari di Pondok Pesantren. Pembelajaran terpadu atau terintegrasi diyakini sebagai pendekatan yang berorientasi pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan. Pembelajaran terpadu secara efektif akan membantu menciptakan kesempatan yang luasi untuk melihat dan membangun konsepkonsep yang saling berkaitan. Dengan demikian, memberikan kesempatan untuk memahami masalah yang kompleks yang ada di lingkungan sekitarnya dengan pandangan yang utuh. 3 Model integrated merupakan pemaduan sejumlah topik dari mata pelajaran yang berbeda, tetapi esensinya sama dalam sebuah topik tertentu.4 Model ini merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar mata pelajaran. Model ini diusahakan dengan cara menggabungkan mata pelajaran dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan menentukan keterampilan, konsep, dan sikap yang saling tumpang tindih di dalam beberapa mata pelajaran. Menurut Prabowo, pembelajaran terpadu merupakan pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi. Pendekatan belajar mengajar seperti ini diharapkan akan dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak didik. Arti bermakna disini dikarenakan dalam pembelajaran terpadu diharapkan anak akan memperoleh pemahaman terhadap konsepkonsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami. Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan belajar mengajar yang memperhatikan dan 2

menyesuaikan dengan tingkat perkembangan anak didik (Developmentally Appropriate Practical). Salah satu contoh korelasi antara ilmu keagamaan dan kesehatan gigi mulut, antara lain adalah bersiwak. Termasuk sunnah yang paling sering dan yang paling senang dilakukan oleh Rosululloh Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Siwak merupakan pekerjaan yang ringan namun memiliki faedah atau manfaat yang baik, yaitu menjaga kebersihan mulut, sehat dan putihnya gigi, serta menghilangkan bau mulut.

BAHAN DAN METODE Penelitian ini merupakan eksperimental semu/quasi dengan jumlah sampel 22 kader santri dan 44 adik suluh. Hanya terdapat satu kelompok perlakuan dengan rancangan The Pretest-Postest only one group design. Pada prosedur pelaksanaan terdapat pelatihan yang selama 1 (satu) hari di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Alyasini. Pertama-tama kader DENTSPRO dikumpulkan dalam satu kelas dan diberi modul dan penjelasan oleh tutor tentang proses belajar menggunakan modul. Kemudian pemateri memberikan materi pelajaran sebagai penyegaran meliputi pengetahuan kesehatan gigi mulut yang diintegrasikan dengan materi keagamaan. Masingmasing modul disampaikan oleh seorang tutor, kemudian kader diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan teman dalam kelompok (11 orang perkelompok), melakukan simulasi, praktek, dan memanfaatkan media pengetahuan yang tersedia, hal ini sebagai latihan dalam menggunakan modul. Simulasi dilakukan dengan membagi peserta menjadi dua peran, satu peran sebagai kader DENTSPRO dan peran lainnya sebagai masyarakat awam. Misalnya praktek cara menyikat gigi yang baik dan benar. Setelah selesai, untuk masing-masing topik bahasan, dibahas bersama dengan pakar kesehatan gigi. Peserta mencoba mengidentifikasi dan menganalisis sendiri kekurangan yang terjadi dan mencari alternatif jawabannya. Tutor hanya mengarahkan, apabila terjadi kemacetan dalam diskusi, tutor memberi rambu-rambu jalan keluarnya. Setelah selesai mengikuiti pelatihan kader DENTSPRO langsung dilaksanakan post test pengetahuan. Setelah itu mereka mengikuti pelatihan training of trainer untuk mempersiapkan mereka agar dapat berkomunikasi baik untuk mentransfer ilmu yang sudah mereka dapatkan di pelatihan materi. Kemudian tutorial praktek penyuluhan yang

dilakukan pada hari kedua di aula Pondok Pesantren yang telah ditetapkan dengan bimbingan tutor oleh tutor. Proses tutorial dilaksanakan dengan cara kader yang memberikan penyuluhan kepada santri MTs. Hal-hal yang disampaikan antara lain materi kesehatan gigi mulut secara umum, cara menyikat gigi yang baik dan benar sesuai dengan metode yang diajarkan tutor ketika diskusi kelompok.. Untuk mendukung proses belajar, selain modul disediakan model gigi dan sikat gigi, kegiatan tersebut merupakan proses pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan. Evaluasi dan monitoring target suluh juga diambil pada sesi ini untuk mengetahui seberapa besar kesuksesan dalam transfer ilmu yang dapat meningkatkan pengetahuan serta perilaku dari target suluh. HASIL Hasil penelitian pelatihan DENTSPRO di pondok pesantren Miftahul Ulum Al Yasini yang dilakukan sebanyak 22 santri didapatkan data tingkat pengetahuan/kognitif yang diujikan melalui pretes dan pos tes. Pada tabel dibawah ini dapat dilihat nilai rata-rata dari hasil tes variabel subjek penelitian sebelum dan sesudah.
Tabel 1. Hasil Analisis Data Kognitif Variabel Data Pelatihan DENTSPRO Penelitian Pre Post Nilai Rata-rata 7.2727 13.9545 Standar Deviasi 3.16501 1.61768 Asymp. Sig 0.880 0.496 Distribusi Data Normal Normal

Berdasarkan tabel 5.1 dapat diketahui nilai rata-rata tingkat pengetahuan/kognitif sebelum dan sesudah pelatihan DENTSPRO. Hasil dari analisis data uji normalitas dengan tingkat signifikansi α = 0,05 didapatkan hasil seluruh variabel, signifikansi > α (0,05) sehingga dipastikan data hasil penelitian berdistribusi normal dan menggunakan perhitungan analisis parametric yaitu paired t-test Skor kognitif kader DENTSPRO dikategorikan sebagai berikut, dibawah 55 persen jawaban benar termasuk pengetahuan kurang, 5675 persen pengetahuan cukup dan diatas 75 pengetahuan baik (Arikunto, 2002). Hasil distribusi kategori skor kognitif/pengetahuan pada saat pretest tercantum pada tabel 5.1. Distribusi tingkat pengetahuan santri pondok pesantren Al Yasini sebelum dilakukan perlakuan metode DENTSPRO dibagi menjadi 2 bagian, didapatkan 3

18 santri (82%) untuk kategori kurang, dan 4 santri (18%) kategori cukup. Dari data distribusi tersebut didapatkan bahwa perlu diberikannya edukasi secara komprehensif dan implementatif langsung pada realita di lapangan.

Gambar 4. Grafik Data Hasil Tes Kognitif

Gambar 2. Grafik Distribusi Kategori Skor Kognitif (pre-test)

Sementara untuk distribusi tingkat pengetahuan santri pondok pesantren Al Yasini setelah dilakukan perlakuan metode DENTSPRO dibagi menjadi 2 bagian pada tabel 5.3 dan gambar 5.2, didapatkan 18 santri (82%) untuk kategori cukup, dan 4 santri (18%) untuk kategori baik.

Hasil penelitian tingkat kesadaran dan keterampilan menggosok gigi/psikomotorik yang diuji melalui data kebersihan gigi dalam indeks PHP (Personal Hygiene Performance Index). Pada tabel 5.6 dibawah ini dapat dilihat nilai rata-rata indeks PHP subjek penelitian sebelum dan sesudah pelatihan DENTSPRO.
Tabel 2 Hasil Analisis Data Psikomotorik Variabel Data Penelitian Nilai Rata-rata Standar Deviasi Asymp. Sig Distribusi Data Pelatihan DENTSPRO Pre 0.538 0.2513 0.331 Normal Post 0.325 0.1500 0.117 Normal

Gambar 3. Grafik Distribusi Kategori Skor Kognitif (post-test)

Kemudian perbedaan data hasil antara sebelum dan sesudah dilakukannya metode DENTSPRO (pada gambar 5.3) , yakni 36.30% pada pre-test dan meningkat menjadi 69.70% pada post-test. Untuk mengetahui beda antara keadaaan sebelum dan sesudah pelatihan, dilakukan uji statistik data dengan menggunakan tingkat signifikan : α (0.05). hasilnya adalah Ho ditolak, karena p-value < α (0.05). dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pelatihan DENTSPRO tersebut efektif dalam meningkatkan tingkat pengetahuan di Pondok Pesantren Al Yasini.

Berdasarkan tabel 2, dapat diketahui bahwa nilai rata-rata indeks plak sebelum dan sesudah menggosok gigi dengan adanya pelatihan DENTSPRO. Hasil dari analisis data uji normalitas dengan tingkat signifikansi α = 0.05 didapatkan hasil, signifikansi > α (0.05) sehingga data hasil penelitian berdistribusi normal dan menggunakan perhitungan analisis parametrik paired t-test. Distribusi nilai psikomotorik yang diuji melalui data kebersihan gigi dalam indeks PHP (Personal Hygiene Performance Index) dari santri pondok pesantren Al Yasini sebelum dilakukan perlakuan metode DENTSPRO terdapat 7 sebaran nilai bagian, didapatkan 0 santri pada nilai 1 (0%), 3 santri pada nilai 1 (13,4%), 6 santri pada nilai 2 (27,4%), 2 santri pada nilai 3 (9,1%), 6 santri pada nilai 4 (27,4%), 4 santri pada nilai 5 (18,2%), dan 1 santri pada nilai 6 (4,5%). Dari data distribusi tersebut didapatkan penurunan nilai skor PHP.

4

Gambar 5. Distribusi Nilai Skor Psikomotorik (pre test)

Gambar 7. Grafik Data Hasil Tes Psikomotorik

Distribusi nilai psikomotorik yang diuji melalui data kebersihan gigi dalam indeks PHP (Personal Hygiene Performance Index) dari santri pondok pesantren Al Yasini sesudah dilakukan perlakuan metode DENTSPRO terdapat 7 sebaran nilai bagian, didapatkan 1 santri pada nilai 0 (4,5%), 5 santri pada nilai 1 (22,8%), 11 santri pada nilai 2 (50%), 4 santri pada nilai 3 (18,2%), 1 santri pada nilai 4 (4,5%), 0 santri pada nilai 5 (0%), dan 0 santri pada nilai 6 (0%). Dari data distribusi tersebut didapatkan bahwa perlu diberikannya edukasi secara komprehensif dan implementatif langsung pada realita di lapangan agar santri dapat menjaga dan merawat kebersihan gigi dan mulutnya dengan baik dan teratur.

Untuk mengetahui beda antara keadaaan sebelum dan sesudah pelatihan, dilakukan uji statistik data dengan menggunakan tingkat signifikan : α (0.05). hasilnya adalah Ho ditolak, karena p-value < α (0.05). dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pelatihan DENTSPRO tersebut efektif dalam meningkatkan tingkat keterampilan/psikomotorik di Pondok Pesantren Al Yasini. Hasil penelitian sikap yang diukur melalui parameter presensi training penyuluhan, keaktifan dan komunikasi dalam Forum Group Discussion serta simulasi penyuluhan, presentasi penyuluhan kepada adik suluh, dan pembinaan kepada adik suluh dengan memantau melalu kalender sikat gigi pagi dan malam hari selama dua minggu (empat belas hari penuh). Checklist dari beberapa criteria perilaku afektif yang didapatkan selama pelatihan ini berlangsung. Kemudian juga checklist tentang pembelajaran metode penyikatan gigi yang baik dan teratur sesuai dengan referensi yang ada, diantaranya metode scrub, metode roll, metode stillman, dan metode fones. PEMBAHASAN Sampel penelitian ini sebanyak 22 kader DENTSPRO dari SMA Al Yasini. Dari 22 kader diambil secara random yang memenuhi kriteria subjek penelitian. Keadaan sebelumnya belum pernah dilakukannya pelatihan kader kesehatan gigi dan mulut sehingga butuh intervensi khusus dan kondusif untuk pembinaan dan pembimbingan kader. Intervensi yang tepat adalah dengan pelatihan dengan menggunakan metode DENTSPRO.

Gambar 6. Grafik Distribusi Nilai Skor Psikomotorik (pos test)

Kemudian perbedaan data hasil antara sebelum dan sesudah dilakukannya metode DENTSPRO, yakni 53.80% pada sebelum dilakukannya pelatihan dan menurun menjadi 32.60% pada setelah dilakukannya pelatihan. Data ini menunjukkan penurunan indeks plak.

5

Gambar 8 Forum Group Discussion Modul Kasus

Dari hasil penelitian pelatihan DENTSPRO antara sebelum dan sesudah pelatihan, terdapat peningkatan tingkat pengetahuan/kognitif, penurunan rerata indeks PHP, dan monitoring dan evaluasi perilaku. Ketiga aspek tersebut menjadi indikator keberhasilan dari pelatihan ini, karena ketiga aspek saling berkaitan satu sama lain dalam perkembangannya. Menurut Green, karakteristik merupakan salah satu faktor predisposisi yang mempengaruhi pengetahuan, sikap dan tindakan seseorang.5 World Health Organization (WHO) yang dikutip Notoatmodjo menyebutkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan berasal dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Hal ini sesuai dengan prinsip belajar adalah pengalaman yang terjadi di dalam diri sendiri.6 Pada saat pretes jumlah kader DENTSPRO yang mempunyai pengetahuan kurang 82% dan pengetahuan sedang 18%. Setelah kader mendapat pelatihan, jumlah kader yang berpengetahuan baik meningkat menjadi 18% dan berpengetahuan sedang menjadi 82%. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan sebagian besar kader meningkat setelah mendapatkan pelatihan. Hasil nilai rerata tingkat pengetahuan/kognitif yang diuji melalui kuesioner tes (pre dan pos test) terdapat peningkatan tingkat pengetahuan, kemudian skor kognitif kader DENTSPRO dikategorikan sebagai berikut, dibawah 55 persen jawaban benar termasuk pengetahuan kurang, 5675 persen pengetahuan cukup dan diatas 75 pengetahuan baik.7 Nilai rata-rata pre tes sebesar 36.30 yang termasuk dalam kategori pengetahuan kurang meningkat pada pos test menjadi 69.70 yang termasuk dalam kategori cukup. Berdasarkan analisis statistik kesimpulannya memiliki perbedaan yang signifikan antara keadaan sebelum dan sesudah pelatihan DENTSPRO. Dengan hasil tersebut menyatakan bahwa pelatihan DENTSPRO dapat

meningkatkan tingkat pengetahuan/kognitif dari berbagai pengetahuan kesehatan gigi dan mulut. Meskipun terjadi peningkatan tingkat pengetahuan/kognitif, ada beberapa hal yang perlu diketahui selama pelatihan DENTSPRO berlangsung yaitu, beberapa santri masih terdapat yang minim informasi kesehatan, kurang terkondisinya lingkungan di pondok pesantren, dan tingkatan soal yang berawal dari level 1 (tahu) hingga level 4 (analisa). Kelebihan dari pelatihan DENTSPRO sebagai pembelajaran terintegrasi kesehatan gigi dan mulut di pondok pesantren adalah selain dari konsep belajar yang berbasis keagamaan, diterapkan juga proses belajar student centered learning (SCL) melalui Focus Group Discussion membahas kasus realita kesehatan gigi dan mulut sesuai dengan kondisi di lapangan. Pembelajaran berpusat pada peserta pada hakekatnya pembelajaran yang memfokuskan pada kebutuhan-kebutuhan peserta sehingga berdampak pada perancangan kurikulum, isi pembelajaran dan aktivitas dalam pembelajaran peserta.9 Estes (2004) dalam penelitiannya ternyata membuktikan bahwa pembelajaran dengan student-centered learning ternyata lebih baik dibandingkan dengan teacher-centered learning, karena pembelajaran dengan student-centered learning peserta dituntut untuk belajar secara aktif. Hasil nilai rerata tingkat keterampilan/psikomotorik yang diuji melalui indeks (Personal Hygiene Personal) PHP terdapat penurunan rerata indeks. Pada saat sebelum (pre) dilakukan perlakuan metode DENTSPRO terdapat 7 sebaran nilai bagian, didapatkan 0 santri pada nilai 1 (0%), 3 santri pada nilai 1 (13,4%), 6 santri pada nilai 2 (27,4%), 2 santri pada nilai 3 (9,1%), 6 santri pada nilai 4 (27,4%), 4 santri pada nilai 5 (18,2%), dan 1 santri pada nilai 6 (4,5%). Kemudian sesudah dilakukan perlakuan metode DENTSPRO terdapat 7 sebaran nilai bagian, didapatkan 1 santri pada nilai 0 (4,5%), 5 santri pada nilai 1 (22,8%), 11 santri pada nilai 2 (50%), 4 santri pada nilai 3 (18,2%), 1 santri pada nilai 4 (4,5%), 0 santri pada nilai 5 (0%), dan 0 santri pada nilai 6 (0%). Terdapat distribusi dari nilai skor PHP dari tiap santri menggambarkan perbedaan pola dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut dari masing-masing individu santri. Hasil nilai rata-rata indeks PHP sebelum pelatihan yaitu sebesar 0,538, kemudian sesudah pelatihan menjadi sebesar 0,326. terdapat perubahan yang signifikan antara sebelum dan sesudah pelatihan, namun tingkat kebersihan gigi dan mulut masih termasuk kriteria sedang. Hal 6

tersebut dapat terjadi karena santri masih belum memahami cara penyikatan gigi yang baik dan benar, siswa masih terbiasa dengan kebiasaan menyikat gigi sebelum perlakuan, sehingga usaha penyikatan gigi secara baik dan benar belum maksimal, motivasi santri dalam hal penyikatan gigi masih kurang. Menurut Depkes (1997), keterampilan dikatakan baik dan berhasil apabila tingkat kepatuhannya mencapai 80 persen atau lebih. Berdasarkan analisis statistik kesimpulannya memiliki perbedaaan signifikan (p-value < 0,05 ) antara sebelum dilakukannya pelatihan dan sesudah dilakukannya pelatihan. Dengan hasil tersebut menyatakan bahwa pelatihan DENTSPRO dapat digunakan sebagai pembelajaran kesehatan gigi dan mulut terutama pengajaran menggosok gigi.

tugas follow up serta penyuluhan bagi adik kelas di pondok pesantren dengan materi yang disampaikan berupa ilmu-ilmu yang telah diajarkan sebelumnya.

Gambar 10 Presentasi Penyuluhan kepada adik suluh

Gambar 9 Belajar metode menyikat gigi sesuai dengan metode yang ada

Dalam mengamati kemampuan motorik santri subjek penelitian tersebut, perlu diketahui perkembangan motorik anak yang elemen-elemen didalamnya adalah pola motorik dan keterampilan motorik, yaitu pengertiannya saat menggosok gigi geligi merupakan keterampilan motorik, namun menggunakan keterampilan tersebut sebagai dari aktivitas membersihkan gigi dan mulut adalah pola motorik.10 Maksudnya adalah dalam membangun perkembangan motorik anak dalam kebersihan gigi dan mulut, keterampilan menggosok gigi merupakan upaya untuk pola hidup sehat terhadap perilaku dalam meningkatkan kebersihan rongga mulut. Pada pengukuran rerata post test skor keterampilan/psikomotrik dari pretes ke post test, pada kader terjadi peningkatan yang bermakna, seperti pada gambar 7. Untuk tetap menjaga retensi pengetahuan dan keterampilan serta mencegah terjadinya penurunan retensi pada kader maka dapat dilakukan dengan pemberian

Pada aspek afektif tidak dilakukan penghitungan statistika karena parameter bersifat kebutuhan dari realita yang ada di lapangan atau dengan kata lain merupakan penyesuaian pengembangan dari konsep monitoring dan evaluasi yang telah direncanakan dalam susunan follow up pasca pengkaderan, antara lain berupa presensi training penyuluhan yang merupakan poin penting dalam kelancaran penyampaian informasi kepada masyarakat sekitar tentang materi umum kesehatan gigi dan mulut, checklist cara menyikat gigi dengan berbagai metode, kemudian didalam training penyuluhan juga terdapat aspek penilaian keaktifan dan komunikasi didalam forum group discussion yang berupa kriteria-kriteria tertentu, antara lain : a) Berani mengungkapkan pendapat b) Menghargai pendapat orang lain c) Bertanya/menjawab secara logis dan mudah dimengerti d) Dapat berinteraksi dalam kelompok kedua penilaian sebelumnya merupakan tahapan penilaian perkembangan kader atau persiapan sebelum diterjunkan ke masyarakat sekitar pondok pesantren, adapun tahapan selanjutnya adalah kegiatan presentasi penyuluhan kepada masyarakat sekitar (dalam hal ini kepada siswa/I MTs Al Yasini), kemudian juga dilakukan kegiatan follow up bimbingan kader kepada adik suluh dengan dibantu dengan kalender sikat gigi pagi dan malam hari yang harus diisi dalam rentang waktu 14 hari penuh (ada 28 kotak jika terisi penuh). Kalender ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana pola pengaruh kader untuk 7

mengajak masyarakat sekitar untuk terus menjaga kesehatan gigi dan mulutnya secara baik dan teratur.

Environmental Approach. 2nd ed. Mayfield Publishing Company, Mountain View.
6.

Notoatmodjo, S. 1995. Studi Sistem Penghargaan Kader Sebagai Upaya Melestarikan Posyandu di Jawa Barat dan Jawa Timur. Majalah KesehatanMasyarakat Indonesia, Tahun XXIII Nomor 10 Halaman 647-650. Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, hal 43 – 45. Forrester, DJ, and Fleming, J. Pediatric dental medicine. Philadelphia: Lea & febiger. 1981: 377-387.

7.

8.

Gambar 11 Adik suluh menyikat gigi bersama

Keterbatasan penelitian ada penelitian ini tidak dapat dikendalikan adanya pengaruh dari luar penelitian seperti informasi dari media massa dan sumber lain, yang dapat mempengaruhi pengetahuan dan keterampilan responden, Penilai untuk pengetahuan dan pengamat uji keterampilan kader dalam indeks PHP dilakukan oleh tim tutor sehingga dimungkinkan adanya subjektivitas dalam penilaian tersebut. Untuk mengatasi subjektivitas sebenarnya dapat dilakukan dengan cara penilai ditunjuk bukan dari tim tutor dan dilakukan dengan cara double blind, kemudian parameter afektif yang kurang mengambarkan keadaan riil dari perkembangan perilaku kader tersebut.

9. Pedersen, Susan and Williams,Doug. 2004. A Comparison of Assessment Practices and Their Effects on Learning and Motivation in a Student- Centered Learning Environment. Journal of Educational Multimedia and Hypermedia, 13 (3), pp.283-307 10. Azhar, S. 2010. Perkembangan Motorik

dan Perseptual untuk Anak Usia Dini. http://salamahazhar.wordpress.com/2010. 01/26/perkembangan-motorik-danperseptual-untuk-anak-usia-dini akses 18 Desember 2010

DAFTAR PUSTAKA Haedari, Amin. 2007. Transformasi Pesantren. Jakarta: Media Nusantara. hal.3 Mastuki, El-sha, M. Ishom. 2006. Intelektualisme Pesantren. Jakarta: Diva Pustaka. hal.1 Resmini, N dkk. 1996. Penentuan Unit Tema dalam Pembelajaran Terpadu. Malang: IKIP Malang. Fogarty, Robin. 1991. How to Integrated the Curricula. Palatine, Ilinois: IRI/ Skylight Publishing, Inc. Green, LW. and Kreuter, MW. 1991. Health Promotion Planning, An Educational and 8

1. 2.

3.

4.

5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful