DINAMIKA GERAKAN PETANI : KEMUNCULAN DAN KELANGSUNGANNYA

(DESA BANJARANYAR KECAMATAN BANJARSARI KABUPATEN CIAMIS)

MOCHAMMAD FAJRIN I34061767

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

RINGKASAN
MOCHAMMAD KEMUNCULAN FAJRIN. DAN DINAMIKA GERAKAN Desa PETANI, Banjaranyar,

KELANGSUNGANNYA.

Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat (Di bawah Bimbingan Satyawan Sunito)

Gerakan petani merupakan suatu bentuk perlawanan yang sengaja dilakukan oleh sekelompok petani yang terorganisir untuk menciptakan terjadinya perubahan dalam pola interaksi atau keadilan untuk petani di dalam masyarakat. Gerakan tersebut mempunyai ciri-ciri seperti halnya gerakan sosial yaitu i) memiliki pengorganisasian internal yang rapi, ii) berlangsung lebih lama, iii) gerakan sengaja bertujuan melakukan reorganisasi kehidupan masyarakat internal maupun eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : i) latar belakang dan proses perebutan tanah di Desa Banjaranyar. ii) apa makna tanah bagi petani Banjaranyar, berkaitan dengan kemuculan gerakan petani (pra-reclaiming). iii) perkembangan gerakan petani Banjaranyar, beserta hubungan gerakan petani dengan berbagai kekuatan sosial baik di dalam dan si luar desa. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan suatu metode berganda dalam fokus, yang melibatkan suatu pendekatan interpretatif dan wajar terhadap setiap pokok permasalahannya. Penelitian ini menggunakan metode observasi partisipasi (participant observation) di lapangan. Metode observasi partisipasi merupakan sebuah teknik pengumpulan data yang mengharuskan peneliti melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat yang diteliti. Peneliti harus dapat memahami gejala-gejala yang ada, sesuai dengan maknanya dengan yang diberikan atau dipahami oleh warga masyarakat yang sedang diteliti, termasuk dalam pengertian metode ini adalah wawancara dan mendengarkan serta memahami apa yang didengarnya. Desa Banjaranyar berdiri di atas tanah eks-perkebunan Agris NV. Warga mulai menggarap tanah perkebunan semenjak periode awal kemerdekaan. Pada tahun 1982, penggarapan yang dilakukan warga terusik oleh kedatangan PT RSI.

PT RSI merupakan anak perusahaan PT Bukit Jonggol Asri, pemilik hak kelola atas lahan eks-perkebunan Agris NV. Hak pengelolaan tersebut kemudian beralih melalui aksi tukar guling lahan antara PT RSI dengan pihak Perhutani pada tahun 1996. Kuatnya institusi Negara dan Pemerintah Orde baru yang cenderung represif membuat gerakan perlawanan petani tidak lahir pada saat itu. Tahun 1998, Petani Banjaranyar mulai mengorganisir diri dan melakukan pemotongan pohon jati Perhutani. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk perlawanan atas kehadiran Perhutani di atas tanah eks-perkebunan. Kejatuhan rezim Orde Baru menciptakan momentum yang memudahkan lahirnya gerakan petani Banjaranyar. Gerakan petani Banjaranyar dapat dilihat sebagai aksi perlawanan petani terhadap perampasan tanah oleh kapital swasta yang didukung negara melalui pemberian hak kelola tanah (HGU). Masuknya kapital swasta ke dalam komunitas petani Banjaranyar, dalam bentuk perampasan tanah, menyebabkan kehidupan petani semakin terpuruk dan menghadapi krisis subsistensi hingga kebatas toleransi. Walaupun begitu, lahirnya gerakan petani Banjaranyar tidak hanya didasarkan pada adanya faktor krisis subsitensi di tingkat petani, termasuk rasionalitas petani, tetapi juga karena terbukanya kesempatan akibat adanya reformasi 1998 di Indonesia. Gerakan petani Banjaranyar yang kemudian bergabung dengan Serikat Petani Pasundan (SPP), telah merubah gerakan petani Banjaranyar baik itu dari segi organisasi gerakan, strategi gerakan, dan kepemimpinan gerakan. Semula gerakan petani Banjaranyar lebih bersifat ke dalam, dengan persatuan sebagai strategi utamanya. Setelah bergabung dengan SPP, gerakan petani Banjaranyar, menjadi lebih terbuka dengan berbagai kekuatan sosial lain, baik di dalam ataupun di luar desa. Hingga tahun 2010, terdapat beberapa kelembagaan di Desa Banjaranyar, yang dapat dikatakan sebagai hasil dari hubungan tersebut, seperti koperasi kredit, organisasi wanita dan leyit.

DINAMIKA GERAKAN PETANI : KEMUNCULAN DAN KELANGSUNGANNYA (DESA BANJARANYAR KECAMATAN BANJARSARI KABUPATEN CIAMIS) Oleh Mochammad Fajrin I34061767 SKRIPSI Sebagai Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada Fakultas Ekologi Manusia. Institut Pertanian Bogor DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 .

Menyetujui. Kemunculan dan Kelangsungannya (Desa Banjaranyar.DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKUTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR Dengan ini menyetakan bahwa Skripsi yang disusun oleh : NAMA MAHASISWA NRP PROGRAM STUDI JUDUL : : : : Mochammad Fajrin I34061767 Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Dinamika Gerakan Petani. 19520326 199103 1 001 Mengetahui. 19550630 198103 1 003 Tanggal Lulus : ______________ . Soeryo Adiwibowo. Kabupaten Ciamis) Dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada Fakultas Ekologi Manusia. MS NIP. Institut Pertanian Bogor. Kecamatan Banjarsari. Ketua Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Dr. Ir. Satyawan Sunito NIP. Dosen Pembimbing Dr.

Mei 2011 Mochammad Fajrin . KABUPATEN CIAMIS. KECAMATAN PERNAH BANJARSARI.LEMBAR PERNYATAAN DENGAN BERJUDUL INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG DAN “DINAMIKA GERAKAN (DESA PETANI. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR – BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN – BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH. JAWA BARAT)” BELUM DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. Bogor. KEMUNCULAN KELANGSUNGANNYA BANJARANYAR.

Jakarta pada tahun 1994 – 2000. 2 Desember 1988. Intitut Pertanian Bogor. Penulis memulai jenjang pendidikan dengan memasuki Taman Kanak – Kanak (TK) Putra Setia pada tahun 1992 – 1994. dan Sekolah Menengah Umum (SMU) di SMUN 68. Setelah lulus dari jenjang SMU penulis melanjutkan studi di Intitut Pertanian Bogor pada tahun 2006 melalui jalur SPMB. Pada tahun kedua di IPB penulis memilih melanjutkan studi pada jurusan Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. penulis menyelesaikan Sekolah Dasar (SD) di SD Perguruan Cikini. Fakultas Teknologi Pertanian. Beberapa waktu setelahnya. Yamin dan Elly Z. Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMPN 1. penulis aktif menjadi volunteer di FORCI – Dev. Jakarta pada tahun 2003. Setelah itu. penulis mendirikan organisasi perfilman dalam kampus yaitu Agriculture Filmmaker Community (AFC) dan dipercaya sebagai ketua pelaksana dalam program kerja pemutaran film lingkungan di tiga fakultas. Pada periode selanjutnya. terdapat berbagai kegiatan dan organisasi yang pernah dikuti oleh penulis. Fakultas Ekologi Manusia. Jakarta pada tahun 2000-2003. Saat ini penulis aktif menjadi editor lepas di penerbitan dan percetakan Firdaus. dan Fakultas Perikanan. . penulis aktif di Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu Komunikasi dan Pengambangan Masyarakat (HIMASIERA) dan masuk menjadi salah satu staf di divisi fotografi dan cinematografi. yaitu Fakultas Kehutanan. Pada tahun kedua. Jakarta. Penulis merupakan anak tunggal dari pasangan M. Semenjak memasuki jenjang pendidikan tinggi di Institut Pertanian Bogor. Bersama kawan – kawan dari fakultas lain.2006. penulis dipercaya sebagai ketua HIMASIERA untuk periode 2008-2009. Fakultas Kehutanan IPB.RIWAYAT HIDUP Mochammad Fajrin (penulis) lahir di Jakarta.

Fakultas Ekologi Manusia. Bogor. Kemunculan dan Kelangsungannya (Desa Banjaranyar.KATA PENGANTAR Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan berkahnya. Mei 2011 Mochammad Fajrin . khususnya yang berkaitan dengan kemunculan dan kelangsungan gerakan petani. Institut Pertanian Bogor. Jawa Barat). Adapun judul dari skripsi ini ialah Dinamika Gerakan Petani. Kabupaten Ciamis. Meskipun sungguh disadari oleh penulis. penelitian kali ini boleh jadi tidak berarti apa – apa di dalam perkembangan studi – studi meengenai gerakan petani di Indonesia. bahwa penulisan skripsi ini dapat menambah pengetahuan diri dan orang – orang di sekitar penulis prihal permasalahan gerakan petani. sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini ditujukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui perihal apa dan bagaimana gerakan petani di Desa Banjaranyar. tetapi besar harapan penulis. Kecamatan Banjarasari.

serta dengan sabar menunggu penulis karena jarang singgah ke rumah. karena sudah memberi inspirasi dengan gaya ketentaraannya. Penulis sangat bersyukur karena penyusunan Skripsi ini dapat rampung tempat pada waktunya dan sesuai dengan yang direncanakan. 3. dan segala bantuan yang saya tidak mampu untuk menyebutkannya satu persatu. Kang Jek. Kepada Yusup Napiri Maguantara (Mas Yusup). memberi dukungan dengan berbagai cara. memberi nasihat dan kritik yang sangat berguna. Kang Agustiana. Bung Hermawan . 4. Yamin dan Elly Z. Bapak Oman. dan segala macam informasi yang resmi ataupun tidak. asupan makanan yang enak – enak. 5. 2. Kang Arif. Hafid Faris Hakim.argumen dari penulis. yang telah menyayangi. Ibu Wati.UCAPAN TERIMAKASIH Puji Syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan izin-Nya penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Dinamika Gerakan Petani. serta motivasi sehingga Skripsi ini dapat terselesaikan. Kepada teman – teman di Serikat Petani Pasundan (SPP). memberikan semangat. Penulis menyadari bahwa Skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik karena dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Kepada teman – teman kontrakan dan tetangga. Kepada sahabat saya Ahsana Riska. Kepada orang tua penulis M. Dan tidak lupa kepada Bapak Mayor dan keluarga. Kemunculan dan Kelangsungannya”. tetangga sebelah rumah. ilmu – ilmu hidup yang sangat beragam. yang dengan sangat baik mau memberikan tumpangan tempat tinggal. dan dengan sangat sabar mau mendengarkan argumen . Raditya M. . karena telah dengan sangat baik mau meminjamkan buku yang sangat banyak. memberi saran dan kritik yang membangun. Anom Kalbuadi. Dr. 6. yang dengan sabar mau menjadi teman satu lingkungan tinggal dengan saya. Rachman. Ari Mulyono (Mas Ari). Maka dari itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. yang dengan sabar mau menjadi teman saya berbagi pemikiran. Dosen Pembimbing Skripsi. Agus Budi Wibowo (Mas Bagong). Satyawan Sunito yang telah membimbing dengan penuh kesabaran.

Bogor. Irfan. Azis. Kebersamaan dan segala kenangan yang begitu banyak dan sangat berharga sungguh sangat berbekas pada diri saya. Untung. 8. Mei 2 011 Penulis . Semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Tya. Kepada teman – teman penulis di Jurusan Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat.7. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu menyelesaikan Skripsi ini Akhirnya penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Irena. Lintang. Ina. Cecep. Risman. Dea.

.......4.... DAFTAR GAMBAR.......3......5. Sumber Radikalisasi Petani............................................... Kepemimpinan...........……………………..............................................................2................. Kerangka Pemikiran.......... Sistimatika Penulisan.............………………................................. i iii iv BAB I PENDAHULUAN……………................1..................……………. 2.............2........1......... Taknis Analisis Data.......………... 4 5 6 2...................... 1...3....................…………………...........1.............1 Organisasi Gerakan..................……………............................... 19 22 24 28 29 32 32 33 34 3... Unit Analisis...........1................................……………………..........3.......... Gerakan Petani di Indonesia........ Teknis Pengumpulan Data.........3.. 2...1................................... 7 9 2.................................... 3......4...…………………………………….............1......DAFTAR ISI DAFTAR ISI………………………………............. 1 1... Perumusan Masalah.....3......4............ BAB III PENDEKATAN LAPANG..... 1 1. 2.... 16 2...............3......... Definisi Konseptual.......... 2.....................................................................………………………....1.………………………… 3.. Latar Belakang………………………………….... Petani dan Tanah..............1................................……...............................................…… BAB II TINJAUAN TEORITIS..1 Makna Tanah Bagi Petani.......... 6 2................................………………...........1............ 6 2..............………………………… 35 3.....2...2................................... Pengorganisasian Petani.........………………............................ DAFTAR TABEL..... Tinjauan Pustaka.......1......1.... Gerakan Petani.......... Jenis Penelitian…….....1..1..... 35 i    ...................……………………….2.... 3.........………………………………………........ 2...... 13 2..................... Tujuan Penelitian..................……....1...................………......................

......................... 58 5........ Pengorganisiran Petani Banjaranyar dan Aksi Perebutan Tanah..... Desa Banjaranyar…................... 6.........................................3... Koperasi.......................………………………........................4..............................................4.......…………………………......2...............................4.... BAB VII PENUTUP.............. 4......... 5....2................................................ 62 67 71 71 72 75 76 78 80 83 7........ Lumbung (leyit).............. Perkebunan Agris NV............. Implikasi Teoritis.................…………………...........2 Strategi Gerakan.................................... BAB VI KELANGSUNGAN GERAKAN PETANI BANJARANYAR........ Pertemuan Dengan Agustiana....................................... Kesimpulan....................3.... 4.1....... 4....................... 6.................1.......................... 83 7...................... 6.................... Era Orde Baru............................. 6........ 4......2................ 4........6................... Sejarah tanah Perkebunan di Desa Banjaranyar.....2......... 6..................................2....... Makna Tanah Bagi Petani Banjaranyar....... DAFTAR PUSTAKA..........................1....................................... Organisasi Gerakan.................................................... Pembukaan Perkebunan Kopi.................……………………… 4.............1... 4...................................................... “Aku” Anggota SPP.. 37 37 40 40 42 47 49 50 54 55 58 5................... 4. Redistribusi Tanah.....2 Sistem Kebun......... Periode Pasca Kemerdekaan.............................. Kepemimpinan.........................................2................. Organisasi Wanita..............................2.............................…………........... 4................ 6...3..................................1....................................................................... 88 91 ii    ....................BAB IV LATAR BELAKANG KEMUNCULAN GERAKAN PETANI.................……………....................................3...5.....................................................3.1... BAB V GERAKAN PETANI BANJARANYAR.....................

.. Tahun 2010.... Tahun 2005.... Jumlah Kepala Keluarga Petani menurut Luas Lahan yang Dimiliki................. Tabel 3...................... Desa Banjaranyar.......... Perkebunan 33 38 Pemerintah dan Swasta Tahun 1895 – 1909........DAFTAR TABEL Nomor Teks Halaman Tabel 1......... 45 iii    ........... Tabel 2........... Stakeholder Pada Kasus Petani Desa Banjaranyar.. Jumlah Produksi Kopi Hindia Belanda Dalam pikul....

..... Struktur Organisasi Serikat Petani Pasundan (SPP)...........DAFTAR GAMBAR Nomor Teks Halaman Gambar 1...…..............…………………………………...... Kerangka Pemikiran......................... Struktur Organisasi Koperasi Kredit............. Peta Desa Banjaranyar............. 29 39 42 Gambar 4....................... Batavia...................... Tahun 1796 – 1810... 60 Gambar 5.................................. Produksi Kopi Priyangan..... Kecamatan Banjarsari.............. dan Sekitarnya...... Gambar 2.......... Gambar 3. 77 iv    ....

Hal ini ditandai dengan terbukanya ruang yang cukup lapang bagi petani untuk membentuk organisasi ditingkat akar rumput sehingga partisipasi politik ormas petani terbuka luas. Perkebunan – perkebunan swasta besar mulai bermunculan di Sumatera dan Jawa. tetapi tanpa sejarah. Hal ini memberi dampak yang signifikan bagi kehidupan petani. Meskipun pada tahap pelaksanaannya pelaksanaan UU tersebut 1   . 1984. dapat dilihat bagaimana petani selalu mewarnai dinamika sejarah bangsa. diakui secara legal sebagai landasan hukum pertanahan yang sah. pada mulanya merupakan tanah garapan milik petani. Ketimpangan struktur kepemilikan dan penguasaan tanah yang ada pada masa kolonial menjadi salah satu pemicu dikeluarkan kebijakan penataan agraria pada masa orde lama (1945 – 1965). Seperti yang dituliskan Kuntowijoyo dan Kartodirdjo bahwa. radikalisasi petani pada era kolonial terjadi karena pengambilan tanah oleh Pemerintah Kolonial untuk kepentingan aktivitas usaha perkebunan. Kuntowijoyo. Semenjak saat itu. semenjak masa kolonial hingga saat ini. (Kartodirdjo. rakyat mulai merasakan adanya kebebasan (Fauzi. Pada gilirannya. aliran modal swasta asing deras mengalir membanjiri Indonesia. Karena tidak sedikit dari tanah – tanah perkebunan tersebut. Selama pemerintahan Soekarno.BAB I PENDAHULUAN 1. pemerintah kolonial dapat memberikan keleluasaan kepada pengusaha swasta asing untuk dapat menyewa tanah dalam waktu yang panjang dan dengan harga yang murah.1 Latar Belakang Sejarah adalah kuburan. begitu kata Vilfredo Pareto (Wiradi. kebijakan tersebut menjadi salah satu pemicu munculnya aksi – aksi perlawanan petani. Dikeluarkannya Undang – Undang Pokok Agraria (UUPA 1960) sebagai salah satu kebijakan pemerintah Soekarno.1984). 1997). Dengan adanya undang – undang tersebut. 1999). Diterbitkannya undang – undang agraria (Agrarische Wet) pada tahun 1870 oleh pemerintah kolonial menjadi tonggak penting bagi sejarah petani di Indonesia.“apakah mungkin kita berada disini” ? Dalam sejarah panjang Indonesia.

5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa yang menghapus proses politik partisipatif orang desa dan perlibatan militer dalam pengawasan pembangunan desa. Mustain (2007) menyatakan bahwa pengelolaan HGU tersebut dalam praktiknya sering terjadi penyimpangan peruntukan. Kejatuhan pemerintahan Orde Baru menciptakan ketidakstabilan di bidang politik dan ekonomi. (Simon Philpott. sehingga kegiatan politik pada tingkatan desa hanya pada saat pemilu semata. dan pengasingan terhadap masyarakat sehingga memicu manifestasi konflik.terhambat baik karena masalah administratif. 2001). Sejalan dengan itu. Nasib petani di Pedesaan semakin terpuruk ketika ideologi developmentalism menjadi pilihan paradigma pembangunan rezim Orde Baru yang pada kenyataannya sangat problematik bagi petani dengan ditopang investasi modal asing secara besar – besaran melalui industrialisasi. Sudah menjadi ciri rezim otoriter modern bahwa ketika pusat tidak dapat bertahan. merupakan bentuk konversi dari hak erfpacht yang ada pada massa kolonial. rezim ini mempunyai asumsi yang berbeda dalam melihat pembangunan (Fauzi. yang marak pada masa Orde Baru. Reformasi membuka ruang yang lebih besar bagi rakyat dalam menyuarakan aspirasinya. Pada era Orde Baru (1965 – 1998) persoalan land Reform dijadikan hanya sebatas pada masalah teknis birokrasi dan juga menghapus semua legitimasi ormas petani dalam program land reform. Adanya pemberian hak pengelolaan kawasan oleh pemerintah kepada pihak swasta atupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN). korupsi. baik itu pada tingkat pusat atupun daerah. Dikeluarkannya Undang Undang No. 2003). maka segalanya akan berantakan dengan begitu cepat. Pada prakteknya hal ini memotong massa desa dengan partai politik. maupun oposisi dari tuan tanah. yang dalam operasionalsilasinya sangat memerlukan ketersediaan tanah (Fauzi. Arah kebijakan agraria berubah pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997 mendesak lahirnya gagasan reformasi. terutama dengan dukungan dari banyaknya organisasi non pemerintah yang memang pesat juga perkembangannya diseluruh dunia pada awal tahun 1990-an 2   . penguasaan. 1999).

Adanya gerakan yang terorganisir di dalam Desa Banjaranyar pada tahun 1998 dapat dilihat sebagai salah satu gejala sosiologis. Kasus perebutan tanah yang ada di Desa Banjaranyar. yang ditandai dengan turunnya Presiden Soeharto dari tampuk kepmimpinan. Mengapa dan bagaimana perlawanan petani yang di Desa Banjaranyar. Pertanyaan perihal “mengapa dan bagaimana aksi perlawanan petani secara terbuka dapat terjadi hingga saat ini” dapat diperjelas dengan menurunkannya menjadi sebuah pertanyaan besar yaitu “mengapa dan bagaimana                                                              1  Komunikasi pribadi penulis dengan salah satu tokoh masyarakat Desa Bangun Karya. gerakan yang ada mulai terorganisir pada tahun 1998. Tanah yang ada di Desa Banjaranyar merupakan tanah milik negara yang dikelola oleh PT RSI. seperti pada kasus wonosobo. putra dari Soeharto. pada Studi pendahuluan yang dilaksanakan pada bulan Februari 2010. sebuah aksi perlawanan petani tidak mungkin terjadi pada kondisi yang tidak mendukung (Wolf. PT RSI mendapatkan Hak Guna Usaha (HGU) dari pemerintah atas tanah seluas 750 hektar. Semangat reformasi tidak hanya dirasakan oleh mahasiwa dan berbagai elemen masyarakat yang melakukan aksi turun ke jalan di kota – kota besar. Hal ini ditandai dengan adanya pendataan jumlah kepala keluarga desa. 1969). Presiden kedua Republik Indonesia.(Hulme dan Edward. tetapi juga dirasakan pada masyarakat di tingkat akar rumput. Gerakan yang ada di Desa Banjaranyar bersamaan dengan terjadinya reformasi pada tahun 1998. dimana tersedianya sebuah kondisi kondusif di dalam masyarakat yang memungkinkan terjadinya suatu aksi perlawanan petani. dan kasus Desa Keprasan Gunung Kelud. dalam Pinky. 3   . mengejawantah dalam aksi perebutan tanah yang dilakukan oleh masyarakat atas tanah – tanah yang pernah menjadi tanah garapan penduduk. Apabila kita sejajarkan dengan periode waktu pembagian gerakan petani di Indonesia. pembuatan peta daerah reclaim. 2007). hal tersebutlah yang mendasari dilakukannya penelitian kali ini. dan pembentukan organisasi gerakan pada tingkat lokal desa1. Karena. Salah satu bentuknya. kasus Tapos. PT RSI sendiri merupakan sebuah perusahaan perkebunan swasta yang dimiliki Bambang Trihatmojo.

1. yaitu: 1. Pertanyaan perihal kelangsungan (faktor – fakor internal dan eksternal) gerakan petani dalam rangka mempertahankan tanah : • • Bagaimaana perkembangan gerakan petani di Desa Banjaranyar pasca terjadinya aksi perebutan tanah ? Bagaimana hubungan gerakan petani Banjaranyar dengan berbagai kekuatan sosial baik itu di dalam ataupun di luar desa Banjaranyar ? 4   . apa makna tanah bagi petani di Desa Banjaranyar ? 3. yaitu penyebab atau asal usul (kajian historis) terjadinya aksi perebutan tanah oleh petani dan kondisi masyarakat secara keseluruhan. Secara lebih spesifik dapat diuraikan menjadi beberapa pertanyaan analitis.petani di Desa Banjaranyar dapat merebut dan mempertahankan tanah”. Kabupaten Ciamis. Bagaimana latar belakang dan proses perebutan tanah yang dilakukan oleh petani di Desa Banjaranyar ? 2. penelitian kali ini mengkaji kemunculan dan kelangsungan gerakan petani di Desa Banjaranyar. Apabila dilihat dari sisi prosesnya dapatlah dipilah menjadi dua bagian. terjadinya “kemunculan” dari aksi perebutan tanah dan “keberlanjutan” dari aksi perlawanan tersebut. Berkaitan dengan kemunculan (pra – reclaiming) gerakan petani. dapat menunjukan perkembangan gerakan petani berserta kaitaannya dengan berbagai kekuatan sosial lain baik di dalam atau di luar desa. Proses kemunculan dari gerakan ini dapat menunjukan dua hal secara sekaligus.2 Perumusan Masalah Seperti yang telah dipaparkan diawal. Kecamatan Banjarsari. Proses keberlanjutan dari gerakan sebagai aksi petani untuk mempertahankan tanah.

5   . berkaitan dengan kemuculan gerakan petani (pra-reclaiming). beserta hubungan gerakan petani dengan berbagai kekuatan sosial baik di dalam dan si luar desa.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : i) latar belakang dan proses perebutan tanah di Desa Banjaranyar. iii) perkembangan gerakan petani Banjaranyar. ii) apa makna tanah bagi petani Banjaranyar.1.

Hal tersebut akan berujung pada terciptanya stabilitas relatif dalam rumah tangga petani. tanah menempati posisi yang teramat penting. yang apabila terjadi krisis. ataupun mengatur kembali hubungan mereka dengan pasar. Kata tanah mendapatkan penekanan lebih karena dianggap menaungi kesemua hal tersebut. Redistribusi tanah atau membagi kembali tanah kepada masyarakat bukanlah reforma agraria. apabila komoditas atau hasil produksi pertanian dapat dipertemukan dengan pemenuhan kebutuhan dasar dari rumah tangga petani akan mencipkan kemerdekaan relatif pada diri petani terhadap produsen pertanian lain dan pasar. kata agraria tidak semata – mata dalam artian tanah semata tetapi juga air. dan ruang angkasa serta segala sesuatu yang terkandung di dalamnya. Redistribusi tanah merupakan salah satu jalan yang dapat ditempuh dalam rangka menjalankan program reforma agraria. udara. dengan melihat posisinya sebagai golongan yang tersubordinasi serta mempunyai budaya yang tersendiri.BAB II PENDEKATAN TEORITIS 2. Shanin (1966) berpendapat bahwa. mencirikan petani sebagai kelompok yang berbeda dengan kelompok masyarakat yang lain.1 Petani dan Tanah Moore (1966). dimana hasil produksi sebagian besar digunakan untuk konsumsi pribadi dan untuk memenuhi kewajiban mereka kepada pemegang kekuatan politik dan kekuatan ekonomi. Istilah reforma agraria sendiri merupakan upaya penataan atau perombakan penguasaan sumberdaya agraria yang adil dan menyeluruh. mereka dapat mempertahankan keberadaannya dengan cara meningkatakan usaha kerja. mendefinisikan petani sebagai produsen pertanian skala kecil yang menggunakan peralatan yang sederhana dan mengerjakan lahan dengan tenaga kerja keluarga. Meskipun apabila kita merujuk pada Undang Undang Pokok Agraria.1 Tinjauan Pustaka 2. Sejalan dengan hal tersebut Shanin (1971) dalam tulisan yang berjudul Peasantry as a Political Factor. menekan konsumsi mereka sendiri. Reforma agraria tidak hanya 6   . Di dalam konteks reforma agraria.1.

tanah akan membawa rasa aman tertentu bagi petani jika sesuatu terjadi pada diri mereka. tetapi juga bermakna sosial dan keamanan. Oleh karena itu setiap rumah tangga petani wajib menguasai tanah meskipun kecil. Secara ekonomi tanah merupakan tempat sumber makanan. dan norma). Pandangan ini menempatkan reforma agraria dalam konteks perubahan struktur mendasar dan perubahan institusi (aturan. 2005). terutama dalam sejarah Jawa Abad XIX. sebagai tempat melakukan aktivitas produktif.1 Makna Tanah Bagi Petani Bagi petani tanah tidak hanya sebagai komoditas ekonomi. pemberontakan petani yang oleh penjajah dianggap sebagai wabah atau penyakit sosial merupakan bukti bahwa petani memiliki peran penting dan posisi politik yang diperhitungkan dalam perkembangan sejarah Indonesia (Sadikin. Chayanov (Chrysantini. Semangat reforma agraria di Indonesia dipercaya merujuk pada paham neo – populis yang dipopulerkan oleh A.sebatas redistribusi tanah melainkan juga perombakan tatanan sosial ekonomi politik yang lebih luas (Wiradi. sehingga reforma agraria seharusnya tidak sepotong – sepotong dan hanya berwujud pembagian tanah tetapi merupakan perombakan besar pada struktur sosial ekonomi politik yang terkait dengan tanah pada kehidupan petani. dalam sejarah masyarakat Indonesia. sebagai tempat untuk menemukan dirinya secara utuh. meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga petani.1. yang berarti tanah membawa efek psikologis bagi petani. Apabila kita telisik jauh kebelakang. Di dalam makna keamanan.1. khususnya Indonesia. dengan penekanan pada kepemilikan tanah. bahkan tanah merupakan simbol status sosial di dalam masyarakat. Neo – populis melihat bahwa satuan ekonomi rumah tangga merupakan bentuk ekonomi yang efisien. tempat mencari penghidupan. 2000). 7   . 2005). Petani memiliki peran vital dalam perkembangan sejarah dunia.V. 2. Raforma agraria di Indonesia yang tercermin dalam Undang Undang Pokok Agraria memiliki semangat untuk memperkuat fondasi ekonomi di level masyarakat desa. Secara sosial tanah berarti eksistensi diri. nilai.

memperlihatkan bahwa petani memberikan makna yang bersifat ideologis terhadap tanah. penyimpanan hasil produksi pertanian dan perdagangan kesemuanya berkaitan erat dengan tanah. tanah bahkan dipandang sebagai sikep (istri) kedua (Bahri. karena tanah merupakan modal utama. tanah secara utuh merupakan gambaran eksistensi dari si petani itu sendiri. perburuhan. pertambangan. 2005). Petani tanpa tanah serasa bukan menjadi petani lagi. Sehingga dapatlah dikatakan bahwa tanah bagi petani. Ketika kemudian tanah dapat dimiliki dan diwariskan oleh para petani. Kalau tanah sulit untuk didapatkan atau tidak cukup maka salah satu jalan yang ditempuh adalah berkerja semakin keras atau mengintensifikasikan produksi pertanian. penjualan kayu. Didalam beberapa kebudayaan. Berkurang atau direbutnya tanah yang dimiliki petani akan membuat mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan subsistensinya. Petani mempertahankan tanah bukan hanya karena nilai komoditasnya. Karena tanah merupakan penopang kehidupan petani. menyatakan bahwa di dalam segala aktivitas yang dilakukan petani di pedesaan seperti bercocok tanam. Pemaknaan petani terhadap tanah juga dapat dilihat dari pola kehidupan (livelihood) dari petani itu sendiri. Tanah merupakan bagian penting bagi petani. tanah memiliki nilai yang begitu besar. maka dengan sendirinya akan memperlihatkan cara – cara pemaknaan petani terhadap tanah. Di dalam kasus gerakan petani yang ada pada era 1980an. 1999). Di dalam pandangan neo – populis. Bahri (1999) menyatakan. tanah merupakan warisan dari leluhur yang harus dijaga keberadaannya (nilai sakral). jika menempatkan penekanan pada gerakan petani dan hubungannya dengan tanah. ukuran luas tanah minimal yang dapat 8   . Makna tanah bagi petani akan tergambar dalam nilai – nilai yang mereka anut atau percayai. seperti halnya tenaga kerja (Labor). Thennakoon (2002) dalam sebuah tulisan yang berjudul Rural Livelihood Strategi and Five Capital : A Comparative Study in Selected Villages in Sri Langka. merupakan biaya tetap (fixed cost) yang menjadi aset mutlak agar petani bisa memenuhi kebutuhan subsistensi keluarganya (Chrysantini. tetapi merupakan akumulasi dari nilai – nilai ideologis yang membentuknya. disanalah tempat atau pangkal dari budaya petani itu sendiri.Tanah menempati kedudukan strategis dalam kehidupan petani.

dari sisi ekonomi tanah merupakan sarana produksi yang dapat mendatangkan kesejahteraan. Ketiga. Pertama. Ajaran – ajaran yang mereka kembangkan. Dalam tulisan Drewes. seperti mitos akan datangnya Ratu Adil atau juru selamat. Kedua. gerakan sosial di Jawa banyak diawali oleh para ulama yang pada mulanya hanya menyebarkan agama Islam tetapi pada kemudian berkembang menjadi gerakan perlawanan rakyat terhadap pemeritah kolonial. Dilain pihak latar belakang sosial ekonomi dan politik yang berkembang pada saat itu. Dengan kata lain aspek sosiologis dari gerakan tersebut tidak terlalu dimunculkan (Bahri. tanah bermakna sakral karena berurusan dengan warisan dan masalah – masalah transendental (Handayani.dimiliki petani amat dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga. harapan – harapan mesianik dan eskatologi menjadi motivasi utama dalam gerakan perlawanan. Petani tidak dapat ditempatkan pada pilihan yang dikotomis di dalam pemaknaan mereka terhadap tanah. memperhitungkan efisiensi pemilikan atau penguasaan tanah sesuai dengan kebutuhan hidup minimum berdasarkan jumlah anggota keluarganya (Kitching. 2004) 2.2 Sumber Radikalisasi Petani Awal abad ke-20.1. motivasi – motivasi subyektif menjadi aspek utama yang dikaji. 1982). Keempat. secara sosial tanah dapat menetukan posisi seseorang dalam pengambilan keputusan masyarakat. seperti yang dikutip oleh Bahri (1999). 1999). Studi yang ada pada awal abad 20 banyak membahas latar belakang dan nilai – nilai yang dianut oleh para pelaku pemberontakan. serta pada lapisan mana ajaran tersebut tumbuh subur tidak terlalu dibahas. Hal senada juga dapat kita lihat pada perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat Samin di Jawa Tengah. bermunculan kajian gerakan sosial di Indonesia yang lebih menonjolkan pada gagasan atau simbol gerakan mesianik. 9   . sebagai budaya dapat menentukan tinggi rendahnya status sosial pemiliknya. Para ulama yang berperan sebagai motor penggerak petani banyak menanamkan harapan – harapan akan datangnya sang juru selamat atau Ratu Adil. Hal inilah yang kemudian disebut sebagai labor – consumer balance yaitu petani bertindak sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen. Tanah bagi petani memiliki makna yang multidimensional.

dari yang semula merupakan pertanian subsistem menjadi pertanian yang berorientasi ekspor. di pedesaan Asia. 1984). meningkatnya eksploitasi. serta mengkhianati sendi . pengalihan secara besar – besaran disektor pertanian. Pertama. Keadaan yang sudah sedemikian buruk ternyata belum cukup untuk membuat 10   . memperlihatkan terdapatnya empat faktor utama penyebab kemarahan kaum tani. Penguasaan tanah semakin terlepas dari tangan penduduk. Perubahan struktur agraria di pedesaan Asia. Eksploitasi kolonial ditambah dengan tekanan demografi yang semakin meningkat. Hal yang menarik justru terlihat dalam karakteristik petani itu sendiri.Studi yang dilakukan oleh Scott (1974 dan 1989) dan Popkin (1976). Transformasi agraria yang terjadi telah menghilangkan jaring pengaman sosial keluarga – keluarga petani miskin dari bencana kelaparan. yaitu perubahan struktur Agraria. kemerosotan status sosial. Salah satu bentuk transformasi tersebut mengejawantah dalam bentuk perkebunan – perkebunan besar. Kedua. Penduduk desa di Asia pada massa pra-kapitalis merupakan sebuah unit rumah tangga yang bertumpu pada tingkat subsisten. dan desprivasi relatif. dipengaruhi adanya sistem kolonialisme. Kedermawanan sosial yang semula ada pada masa bagi hasil. 1976). mengakibatkan rusaknya pola – pola yang sudah ada.sendi moral ekonomi petani yang didasarkan pada etika subsistensi (Scott. Kolonialisme dan masuknya ekonomi uang berangsur – angsur telah menghapus jaminan sosial yang ada pada masa pra-kapitalis. mereka yang tidak memiliki tanah beralih menjadi penggarap buruh tani upahan dan buruh perkebunan. mengenai maraknya gerakan perlawanan petani pada masa kolonial. Pemerintah kolonial sama sekali tidak memberikan perlindungan kepada para petani miskin terhadap fluktuasi pasar (Kartodirjo. Kartodirjo (1991) berpendapat bahwa terdapat dua transformasi penting di era kolonial. Pengenalan sistem pertanian modern dalam bentuk perkebunan berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan atas tanah dan tenaga kerja. desa – desa di Asia terintegrasi dengan sistem kapitalis dunia. dibentuknya negara modern yang ditopang oleh birokrasi dan militer untuk mengontrol wilayah jajahan. khususnya Jawa. Melalui kolonialisme. kini tidak lagi berlaku umum.

Besarnya lingkup kejutan atas eksploitasi dapat menjadi suatu alasan kolektif petani dalam jumlah besar untuk bertindak. Pemberontakan yang terjadi di pedesaan Jawa sebagian besar disebabkan karena pengambilalihan tanah dalam jumlah yang sangat banyak untuk digunakan usaha – usaha perkebunan.petani berontak untuk melawan. Scott (1976) mencoba menjelaskan bahwa lingkup dan sifat dari kejutan – kejutan eksploitasi memiliki arti penting. maka besar sekali kemungkinan eksploitasi tersebut mencetuskan sebuah aksi perlawanan. Ketika dunia dilanda depresi besar pada tahun 1930-an yang juga amat berdampak pada struktur perekonomian kolonial. pemerintah mewajibkan petani mempergunakan unsur-unsur revolusi hijau demi tercapai dan terjaganya swasembada beras. seperti intensifikasi kerja. Ekploitasi yang dilakukan secara berkelanjutan dengan kualitas yang terus meningkat. mengurangi konsumsi atau mengubah pola konsumsi. Sifat evolusi petani yang amat sangat terbiasa hidup dalam kesusahan membuat mereka sudah tertempa untuk dapat mempergunakan berbagai cara untuk mempertahankan tingkat subsistensi mereka. pada massa pemerintahan Orde Baru terdapat sejumlah penyebab yang dikemudian hari dapat menjadi pemicu terjadinya gerakan petani. dan memecah keluarga besar menjadi keluarga – keluar kecil untuk mengurangi beban mulut yang ditanggung (Shanin. menimpa banyak petani. Isu yang terkait dengan hal ini seperti: i) pihak petani ingin 11   . Noer Fauzi (1999) berpendapat bahwa. 1966). Pertama. 1993). serta dapat mengancam jaring pengaman sosial mereka atas sumber – sumber subsistensial. Bentuk dari adaptasi petani dalam menghadapi keadaan di sekelilingnya dapat dilakukan dengan berbagai cara. apabila kejadian tersebut datang secara tiba – tiba sehingga petani sulit untuk melakukan adaptasi dalam menghadapi beban tambahan dan tingkat subsistensinya. terjadi ratusan pemberontakan petani dalam rangka menentang pungutan pajak yang dilakukan oleh negara (Kuntowijoyo. migrasi jangka pendek. Aksi perlawanan petani baru dapat terjadi apabila terjadi kemerosotan ekonomi secara mengejutkan. Terlebih lagi. dan hampir terjadi diseluruh wilayah. dimana hal tersebut dibarengi dengan peningkatan eksploitasi yang dilakukan oleh negara atau tuan tanah.

konflik akibat eksploitasi hutan. vi) proses kredit yang tidak diketahui oleh petani plasma dan jumlah hutang yang tidak bisa terbayarkan. baik oleh pemerintah sendiri maupun swasta. vi) penentuan harga komoditi yang lebih rendah dari harga pasar. dan vii) korupsi hak petani plasma. ii) kehancuran sumber daya subsistensi masyarakat adat. ii) kesempatan kerja yang menyempit karena penggunaan traktor dan mekanisme tebasan. terdapat sejumlah kasus di mana pemerintah melakukan pengambilalihan (penggusuran) tanah yang mengatasnamakan “program pembangunan”. adalah konflik perkebunan dengan petani dalam hubungan intiplasma dalam program Perusahaan Inti Rakyat-Perkebunan (PIR-Bun). karena hilangnya hubungan dengan tanah. iv) Kredit Usaha Tani (KUT) yang tidak mampu terbayarkan. iii) penyediaan sumber ekonomi dan pemukiman alternatif yang memadai. ii) ganti rugi tanah yang tidak memadai.mempertahankan penggunaan bibit dan pengelolaan padi secara tradisional. ii) tercerabutnya rakyat petani dari tanahnya sendiri. iii) harga pupuk dan pestisida yang naik tidak sebanding dengan kenaikan harga gabah. iv) pemukiman kembali (resetlement). Kedua.Bun. petani yang tergusur sama sekali dari tanahnya. Isu yang muncul adalah: i) penolakan petani untuk keluar dari tanah yang diklaim. dan iii) pemukiman kembali penduduk (resetlement) yang tidak memadai. perkebunan-perkebunan mengambil alih tanah-tanah yang sebelumnya dikuasai oleh rakyat. ii) ganti rugi yang tidak layak. sehingga tidak terjadi transfer of technology. serta iv) kemunduran kualitas ekologis di tingkat lokal hingga global. Isu yang terkait seperti: i) penolakan penduduk untuk menyerahkan tanah garapannya. v) monopoli pemasaran hasil-hasil komoditi oleh pihak inti. Variasi konflik agraria ini. Keempat. Ketiga. Isu yang terkait seperti: i) penolakan petani atas pencerabutan hubungannya dengan tanah. menjadi ‘buruh di tanah sendiri’. Isu yang muncul antara lain: i) pengambilan tanah-tanah produktif rakyat petani untuk PIR . iii) proletarisasi petani. v) praktek Koperasi Unit Desa (KUD). baik oleh oknum inti maupun pihak perantara lainnya. 12   . iv) rendahnya produktivitas lahan yang dikelola oleh plasma. iii) langkanya penyuluhan dari pihak perkebunan inti.

1969). pada bentuk sederhana seringkali berpusat pada mitos tentang suatu tatanan sosial yang lebih adil dan merata ketimbang dengan tatanan sosial yang sekarang bersifat hirarkis. petani miskin tidak bisa keluar dari strukturnya atau petani tidak memilliki taktik dalam melakukan perlawanan. Pandangan perihal ketidakmampuan petani dalam mengoraganisir diri sendiri diperkuat oleh Marx (1850) dalam Peasantry as a Class. 1966). hingga kondisi subsistensi petani yang sudah melampaui batas toleransi. maupun melakukan perlawanan. kultural. dan hanya dipersatukan untuk sementara waktu oleh suatu impian milenial (Wolf. kedua. Tekanan struktural. Pertama.1. hal ini sudah cukup untuk menjadi pemicu bagi petani untuk melampiaskan kemarahannya terhadap tatanan sosial yang ada. pada saat yang bersamaan haruslah bertindak sebagai pemimpin. sangat rentan. kondisi – kondisi yang mendorong timbulnya pergerakan.2. Scott (1976) mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat keberhasilan dan kegagalan dalam sebuah gerakan atau mobilisasi petani. menurut Scott (1976). Petani cenderung memandang bahwa. dan ketiga. berpolitik. Perwakilan tersebut. meskipun tidak stabil.3 Pengorganisasian Petani Petani pada dasarnya tidak mempunyai keinginan untuk melakukan perlawanan kecuali ada tekanan atau krisis yang sangat menekan mereka dan adanya pihak luar yang mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut (Wolf. faktor kepemimpinan. Gerakan – gerakan perlawanan petani. Petani dianggap selalu bertindak atas nama kelompok. bahwa petani tidak dapat memperjuangkan kepentingan kelas mereka atas nama mereka sendiri. Mereka tidak mampu merepresentasikan diri mereka kedalam sebuah kelas. Mitos – mitos seperti ini mempersatuakan kaum tani hingga mampu membentuk koalisi – koalisi petani. Petani kelas 13   . pembuat peraturan. Lahirnya suatu mitos bersama tentang keadilan yang transedental sering dapat menggerakan kaum tani untuk melakukan gerakan sosial. Wolf (1969) juga menyatakan bahwa petani kelas menengahlah yang menempati posisi penting dalam mendukung gerakan revolusi petani. dan kekuatan institusional yang dapat melindungi mereka dari tekanan kelas lain. baik dalam berproduksi. startegi yang digunakan. mereka harus diwakilkan.

Akibatnya. struktur bawah diduduki para petani penggarap dan buruh tani dengan jumlah yang banyak. fluktuasi pasar. dan perubahan – perubahan lain yang diakibatkan pasar dunia. posisi puncak strata sosial diduduki kaum elite yang berjumlah sedikit. tingginya tingkat bunga. Dalam struktur masyarakat seperti ini faktor kepemimpinan memegang peran penting dalam pengorganisiran petani. Struktur sosial yang terdapat pada masyarakat ini secara horizontal ditandai oleh homogenitas yang tinggi dan secara vertical ditandai oleh struktur yang berbentuk krucut.menengah paling mudah terkena dampak penyitaan tanah. Moralitas mendahulukan keselamatan inilah yang kemudian menjadi faktor kunci pendekatan moral ekonomi petani dalam menjelaskan pengorganisiran petani. Konsep lain yang dipergunakan Scott (1976) dalam menjelaskan pengorganisiran petani adalah struktur sosial yang terdapat pada masyarakat prakapitalis. sehingga sebuah perjuangan tidak ditunggangi oleh free rider (pemboncengan). Pengorganisiran atau mobilisasi petani memerlukan lebih dari sekedar konsensus atau intensitas kebutuhan. Scott (1981). juga mempunyai basis ekonomi yang independen dan sumberdaya politik taktis yang tidak dimiliki oleh petani miskin dan buruh tani untuk mendukung suatu gerakan revolusioner. Pendekatan moral ini mendapatkan kritikan oleh Popkin (1979) yang mengatakan bahwa petani sesungguhnya tidak terlalu mementingkan kelompok dan mampu melakukan perlawanan atas dasar kepentingan pribadi di atas kepentingan umum. sehingga ketika terjadi perubahan yang tidak sesuai atau dirasakan akan mengancam kelangsungan kehidupan yang telah mereka miliki. para petani kemudian mengandalkan perlawanan terbuka. Pada struktur sosial yang berbentuk kerucut. dan harus ada kepentingan pribadi. 14   . petani kelas menengah selain lebih mudah menerima gerakan revolusioner yang menjanjikan restorasi politik dan stabilitas ekonomi. pada dasarnya berasumsi bahwa gerakan perlawanan petani semata – mata didasari oleh moralitas tradisional yang berorientasi ke masa lalu dan masa kini saja. berpendapat bahwa kehidupan petani ditandai oleh hubungan moral sehingga malahirkan moral ekonomi yang lebih mengutamakan “keselamatan” dan menjauhkan diri dari bahaya. Pendekatan moral petani.

padahal lebih bertujuan untuk mempertahankan tatanan yang lebih menguntungkan mereka. sistem filosofi. teori – teori politik. terbatas. yang selama ini mengklaim mewakili komunitas tradisional. iii) kalkulasi keterlibatan dalam gerakan lebih penting daripada isu ancaman kelas. Pertama – tama mereka memberikan bantuan bagi proyek – proyek atau aktivitas yang beresiko dan berskala kecil. ekonomi uang. tetapi untuk membangun tradisi baru. Para petani dalam melakukan gerakan biasanya tidak terlalu meperdulikan tujuan – tujuan umum. Aksi – aksi perlawanan petani biasanya untuk 15   . Namun pada kenyataannya. petani tidak mempunyai kesempatan sehingga tidak dapat menjual hasil pertaniannya sendiri ke pasar. kreatif dan juga ingin menjadi kaya. ideologi. tetapi lebih dimaksudkan untuk menentang kekuasaan para elite desa (Petani Kaya). keberhasilan pengorganisiran petani ditingkat desa. ekonomi pasar. Kemudian mereka mengembangkan diri dengan mengorganisir petani pada proyek – proyek yang lebih menantang (spekulatif) dan berskala lebih besar yang dapat memberikan keuntungan abstrak jangka panjang (Popkin.Petani dipandang sebagai manusia – manusia rasional. menitikberatkan pada keberhasilan penyelesaian atas masalah – masalah lokal. ii) tidak ada kaitan yang signifikan antara ancaman terhadap subsitensi dan tindakan kolektif. Ketidakpuasan petani bersifat jelas. dimana keuntungan datang dengan cepat dan bersifat kongkrit. 1979). lokal. Popkin (1986) menyatakan bahwa. strata sosial baru di desa) akan menganggu subsistensi dan tatanan sosial – ekonomi petani sehingga membuat petani bersifat reaktif. Terdapat tiga hal penting yang dapat kita garis bawahi pada penelitian yang dilakukan oleh Popkin (1986). dan organisasi – organisasi yang revolusioner. eksploitasi. antara lain : i) gerakan yang dilakukan para petani adalah gerakan anti-feodal. Dengan kata lain. dan cenderung pragmatis. semua perlawanan petani tidaklah dimaksudkan untuk menentang program negara (Kasus Revolusi Hijau). bukan gerakan untuk mengembalikan tradisi lama (restorasi). adanya perbedaan yang jelas antara rasionalitas individu dengan resionalitas kelompok. Kapitalisme dan imperialisme (komersialisasi pertanian. Dalam kasus petani di Vietnam. bukan untuk menghancurkan ekonomi pasar tetapi untuk mengontrol kapitalisme.

Mereka melakukan pemberontakan atas dasar hitungan untung rugi yang ditanggung dari ketidakpuasan atas keadaan status quo. menyatakan bahwa teori rasional petani memang memberikan pandangan yang cukup bermakna dalam pengorganisiran massa. Terdapat dua pengembangan teori pilihan rasional. bentuk dan isi harapan – harapan yang menurutnya bakal menguntungkan (Mustain. yaitu i) teori ini melibatkan sifat dan efek psikologis yang diperlukan untuk menjelaskan partisipasi petani dalam aksi kolektif. Suatu kelompok akan berpartisipasi dalam suatu gerakan yang bersifat kolektif karena ingin mendapatkan keuntungan tertentu atau mendapat insentif. karena sebagian besar gerakan bukanlah subyek dari sebuah kontrol yang bersifat hirarkis. yaitu 16   . Dari asumsi tersebut.lebihkan teori pilihan rasional dan meninggalkan teori psikologi. Orang yang terlibat dalam gerakan lebih banyak didasari oleh pilihan rasionalnya.1 Organisasi Gerakan Jo Freeman (1979) dalam tulisan yang berjudul A Model For Analyzing the Strategic Option of Social Movement Organization berpendapat bahwa keputusan strategis dalam sebuah gerakan tidak selalu berasal dari pemimpin gerakan atau sekumpulan elite dalam gerakan. tetapi yang menjadi pertanyaan “mengapa pilihan rasional itu relevan di dalam aksi perlawanan petani”. sangat mungkin dikembangakan sifat dan peran psikologis dalam menjelaskan partisipasi petani dalam gerakan petani. banyak orang melebih . Hal ini memperlihatkan bahwa keikutsertaan petani dalam gerakan banyak dipengaruhi oleh jenis.1. ii) Pilihan petani difokuskan pada asumsi rasionalitas yang membentuk basis teori tentang putusan sebelum membentuk aksi koletif. Dalam melihat organisasi gerakan terdapat empat elemen penting yang harus diperhatikan. Salert (1976) dalam bukunya yang berjudul Revolution and Revolutionaries : Four Theories. Tetapi.memenuhi kepentingan materil. 2007). 2. perilaku revolusioner akan membentuk pengalaman sosial yang akan mengakibatkan perubahan perilaku sebagian masyarakat. Olson (1971) dalam buku yang berjudul The Logic of Collective Action mengkritik argument tersebut dengan menyatakan bahwa pergolakan petani dalam menetang kekuatan pasar tidaklah selalu mendorong terjadinya gerakan petani.3.

sebaliknya. Uang dapat membeli ruang. iii) struktur organisasi gerakan. Menurut Harper (1998). ii) pengalaman pada masa lalu. i) nilai yang dianut oleh gerakan. perbedaan mendasar antara organisasi gerakan dengan perkumpulan individu yang berbasis pada suatu ketertarikan. Sumberdaya yang tidak terbatas dapat dipilah menjadi dua kategori besar yaitu manusia yang berkemampuan dan manusia yang tidak berkemampuan. Sumberdaya yang dapat dimafaatkan dalam melakukan gerakan bisa dibagi menjadi dua. Haruslah disadari bahwa tidak setiap orang dapat memberikan kontribusi yang sama pada satu gerakan. bisa digunakan untuk hampir semua kebutuhan dalam sebuah gerakan. ruang. iii) konstituen dari gerakan. terletak pada pengelolaan kedua sumberdaya ini. struktur adalah jejaring hubungan 17   . dan v) hubungan dengan kelompok target gerakan. dan iv) ekspektasi atas target yang potensial (tujuan gerakan). bukanlah sumberdaya cair yang dapat kita gunakan seenaknya. Sayangnya sumberdaya yang ada dalam sebuah gerakan. ii) pembatasan pada pemanfaatan sumberdaya tersebut. iv) ekspektasi. publikasi juga dapat digunakan untuk melakukan pengumpulan uang. uang dapat dipergunakan untuk melakukan publikasi ide – ide gerakan. uang misalnya. dan manusia yang memiliki jalur kepara pengambil kebijakan. Sedangkan manusia yang tidak berkemampuan merupakan manusia yang hanya memiliki waktu dan komitmen kepada gerakan. Pada kenyataannya.i) sumberdaya yang dimobilisasi. dan penyebaran ide dasar dari gerakan kepada publik secara luas. yaitu sumberdaya terbatas dan sumberdaya tidak terbatas. Akan lebih mudah membayangkan sumberdaya sebagai sesuatu yang abstrak. meskipun tidak selamanya akan seperti itu. Sumberdaya terbatas termasuk uang. Hal ketiga yang menjadi penting dalam sebuah organisasi gerakan adalah struktur gerakan sosial. Terdapat “pembatasan” antara sumberdaya dengan gerakan yang bertindak seperti penyaring. Joe Freeman (1979) membagi pembatasan dalam pemanfaatan sumberdaya menjadi lima kategori yaitu. manusia yang mempunyai jaringan dengan berbagai kelompok terkait. Disisi lain. Manusia yang berkemampuan merupakan manusia yang memiliki kemampuan untuk mengorganisir massa. Sedangkan sumberdaya tidak terbatas adalah manusia itu sendiri.

sosial yang sudah mantab dimana interaksi sudah menjadi rutin dan berulang. Institusi Adat pada kasus Tanah Lot. Disamping itu. Pertama adalah struktur dari kesempatan yang terbuka untuk melakukan aksi massa. BPRPI di Sumatra Timur. antara berbagai peran-sosial. Terdapat dua model dari struktur organisai gerakan. Ketiga. organisasi. (2) organisasi yang muncul dari luar (Mustain. Institusi ini tercipta guna menekan kerugian yang didapat dalam usaha mendapatkan insentif. Terdapat dua tipe organisasi petani yang melakukan perlawanan. ataupun KAAPLAG pada kasus Cimacan. insentif juga dapat menjadi semacam stimulus bagi institusi petani lain yang mengorganisisr dirinya sendiri berdasarkan ketidaksepakatan bersama (kolektif). Keberhasilan pada suatu gerakan banyak ditentukan pada bagaimana gerakan itu dapat menemukan titik rataan antara ketiga kategori tersebut dengan kondisi dilapangan. Institusi – institusi petani yang mengorganisir diri sendiri dapat sangat berpengaruh dalam bentuk perlawanan harian petani. yaitu struktur gerakan yang tersentralisasi. Gerakan petani yang terorganisasi dari luar (eksternal). perbandingan hasil dari aksi dengan standar norma yang ada di masyarakat. Meskipun tidak dapat kita jadikan patokan. dan struktur gerakan yang desentralisasi atau tersegmentasi. definisi mengenai struktur yang diutarakan oleh Harper (1998) dapat membantu kita dalam melihat stuktur dari organisasi gerakan petani seperti Serikat Petani Pasundan (SPP) di Priangan Timur. 2007). Guna mewujudkan gerakan sosial yang efektif terdapat tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan ekspektasi atas target dalam organisasi gerakan. dalam menjaga kesinambungan gerakan. yaitu keberhasilan mereka tergantung pada kemampuan dalam memberikan 18   . group. yakni (1) organisasi yang muncul dari dalam kelompok petani itu sendiri untuk mengatur diri sendiri. Struktur gerakan yang tersentralisasi cenderung membutuhkan sumberdaya yang lebih sedikit apabila dibandingkan dengan gerakan dengan struktur desentralisasi. dan institusi yang membentuk masyarakat tersebut. Kedua adalah upaya – upaya berupa kontrol sosial yang dapat dilakukan oleh gerakan. dalam mencapai keberhasilan organisasinya memerlukan mekanisme dengan melaksanakan peraturan tertentu.

Seorang pemimpin yang otoriter cenderung memperlakukan para bawahannya sama dengan alat lain dalam organisasi. dan tipe demokratik. karena tanpa kelompok tidak akan ada pemimpin. Insentif tersebut diperuntukan para pengikut dan pejuang. tipe paternalistik. bahkan hingga sampai aktivitas kelompok. tipe laissez faire. Pemimpin merupakan figur sentral yang menyatukan kelompok. 2.1. Brown (1936) berpendapat bahwa pemimpin tidak dapat dipisahkan dari kelompok. keluarga mereka juga dapat meminta penambahan tanah selain yang telah diberikan kepada pendukung secara umum. khususnya yang berbahaya seperti perang grilya yang sesungguhnya. Organisasi petani dikatakan berhasil apabila organisasi tersebut dapat menyeimbangkan antara pertimbangan insentif individu dengan kebutuhan umum. Hal yang paling diutamakan adalah orientasi pada pelaksanaan dan penyelesaian tugas. organisasi – organisasi revolusioner tersebut juga menawarkan insentif untuk mendorong partisipasi dalam berbagai macam aktivitas. Kepemimpinan tipe otokratik dapat dilihat sebagai seorang pemimpin yang sangat egois. tanpa mengaitkan pelaksanaan tugas itu dengan 19   . Kepemimpinan dapat juga dikatakan sebagai suatu kemampuan untuk menangani orang lain untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan friksi yang sedikit mungkin antar anggota kelompok. Kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang atau beberapa orang dalam kelompok dalam mengelola gejala – gejala sosial.insentif. tipe kharismatik. ideologi. Godwin dalam Ecstein (1990) mengemukakan bahwa selain barang – barang kolektif. Terdapat beberapa tipe kepemimpinan seperti tipe otokratik.3. anggota dipandang selayaknya mesin. yang mampu mengundang para pengikutnya untuk berpartisipasi secara aktif. di samping dapat meminta pengurangan pajak dan sewa tanah.2 Kepemimpinan Pemimpin dan kepemimpinan merupakan satu kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan. suasana. Pemimpin dapat dipandang sebagai agen primer yang menentukan struktur. tujuan.

Kesulitan yang sering kali muncul pada kelompok dengan kepemimpinan kharismatik adalah regenerasi pemimpin. Salah satu cirinya ialah penghormatan yang begitu tinggi kepada orang tua dan orang yang dituakan. dan tugas apa yang harus ditunaikan. Pemimpin menyadari bahwa organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang harus dicapai oleh organisasi. Seluruh anggota organisasi dianggap sudah mengetahui dan memahami tujuan organisasi. Pemimpin dengan kepemimpinan otoktarik akan selalu menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya. sasaran apa yang akan dicapai. Pemimpin dengan tipe kepemimpinan laissez faire berpandangan bahwa organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang – orang dewasa. Seorang pemimpin kharismatik akan sulit digantikan. Pada umumnya pemimpin semacam ini merupakan tokoh – tokoh adat. Pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif.kepentingan bawahannya. dalam artian bertindak sebagai tauladan atau panutan masyarakat. walau terkadang si pengikut tidak dapat menjelaskan kegagumannya secara kongkrit. Kepemimpinan demokratik lebih menekankan peran pemimpin sebagai seorang koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi. karena kekaguman anggota akan seseorang pemimpin tidak semudah itu dapat berpindah dari satu orang ke orang lain. Pembagian tugas tersebut membuat adanya pembagian tugas dan 20   . dimana pengambilan keputusan lebih banyak dilakukan pada anggota menengah. khususnya agraris. Sehingga pada tipe kepemimpinan ini seorang pemimpin tidak akan banyak melakukan intervensi. tetua desa dan guru. ulama. Kepemimpinan tipe paternalistik banyak ditemui dimasyarakat tradisional. Kharakteristik yang khas dari kepemimpinan kharismatik ialah daya tarik dari sang pemimpin yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut pemimpin yang sangat dikagumi pengikutnya. Kepemimpinan tipe kharismatik akan amat bertumpu pada sang pemimpin. Kepemimpinan ini erat kaitannya dengan tata nilai yang ada di dalam masyrakat tradisional atau pedesaan. Pemimpinan dengan kepemimpinan paternalistik bersifat kebapakan.

maka dapat diasumsikan bahwa gerakan perlawanan petani tidak mungkin terjadi tanpa adanya pemimpin. sedangkan pada bagian atas diisi oleh para elite yang berjumlah sedikit. Masyarakat pedesaan apabila dilihat secara horisontal akan memperlihatkan homogenitas yang tinggi. Mereka berada dalam keadaan yang benar – benar tersubordiasi. berserta herarki kekuasaannya.peran yang jelas. Para perwakilan ini pada saat yang bersamaan juga bertindak sebagai pemimpin. Pemimpin gerakan petani. suatu strategi “dari dan untuk individu sesuai dengan politiknya”. faktor kepemimpinan memiliki peran yang sangat penting. Popkin (1986) menyatakan. 21   . Petani penggarap dan buruh tani pada dasarnya tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk melakukan perlawanan. pemersatu. pemimpin mendistribusikan ulang sumberdaya. haruslah mampu mambangun gerakan yang memenuhi tiga kriteria yaitu memiliki sumberdaya. 1966). tekanan yang begitu besar membuat benar – benar dalam keadaan impoten. Scott (1976) menggunakan pendekatan struktur sosial dan relasi sosial dalam melihat sebuah gerakan petani. Seorang pemimpin dengan kepemimpinan demokratik akan disegani bukan ditakuti. mereka harus diwakilkan (Marx. dari struktur sosial yang ada. sedang secara vertikal akan memperlihatkan bentuk krucut. para pemimpin mendorong pengikutnya untuk melakukan penjarahan. contohnya. dan pemberi kekuatan guna melawan penindasan dari kelas diatasnya. dimana pada bagian bawah diisi oleh petani penggarap dan buruh tani dengan masa terbesar. 1895). pemberontakan budak terhadap majikannya untuk mengambil alih posisi majikannya. Mengingat pentingnya faktor kepemimpinan yang ada. dan mempertahankan anggota lama. Di dalam perjalanannya petani juga tidak memiliki kekuatan untuk mendefinisikan diri mereka sendiri kedalam sebuah kelas. Pertama. terdapat enam teknik yang dapat digunakan pemimpin petani dalam mendapatkan dan mengelola sumberdaya. dimana setiap surplus yang mereka dapatkan akan terhisap oleh kekuatan ekonomi dan politik yang ada. adanya anggota baru. Kedua. sedangkan pemimpin dipegang oleh kelompok elite yang berada pada puncak. Didalam struktur masyarakat yang seperti ini. dan perlawanan petani tidak mungkin terjadi dalam keadaan tidak berdaya (Wolf. Petani (Peasant) menjalani hidup hanya pada keadaan subsistensi mereka.

dan keluhan yang dapat menarik perhatian kelompoknya secara berlebihan. radikalisme perkotaan di negara – negara agraris dan semi agraris tidak akan mampu menuntaskan sebuah transformasi sosial (Bahri. seperti makanan. sehingga selalu diharapkan oleh para petani miskin dan dapat mengobarkan semangat perlawanan. Pemimpin gerakan haruslah mampu membantu petani dalam memenuhi kebutuhan yang bersifat kongkrit dan singkat. adanya campur tangan pemimpin gerakan pada urusan yang berhubungan dengan para pendukungnya di pemerintahan lokal. Keenam. baik itu dalam merekrut anggota baru ataupun mempertahankan anggota lama. Rusia. Ini akan menyelesaikan masalah kolektif petani dengan cara meminimalisir persaingan dalam mendapatkan keuntungan di antara anggota kelompok. pembangunan jalan. dan China. pemimpin gerakan dapat mematahkan monopoli kaum elite pada institusi politik. ataupun “tatanan dunia baru”. pemberontakan petani terbukti menjadi faktor yang sangat penting dalam semua revolusi sosial yang pernah terjadi di Perancis. 2. Revolusi yang terjadi di 22   . pemimpin gerakan mencari penyokong yang dapat menyediakan sumberdaya. Sebagai contoh. 1999). pemimpin gerakan merahasiakan kebaikan. dan tanpa menjadi golongan yang terorganisir untuk diri mereka sendiri.1. Tanpa adanya pemberontakan petani. dan pembangunan rumah ibadah. melibatkan aset untuk mendapatkan lebih banyak tanah hak milik. Kelima. Ketiga. sumberdaya yang ada selalu dibuat dalam kondisi yang sedikit. Pemimpin gerakan tidak dapat mengatasi dilema petani hanya dengan ideologi dan mimpi – mimpi tentang “revolusi”.contohnya pemberontak Vietnam mengumpulkan donasi dalam jumlah besar dan sebagian dari uang tersebut dipergunakan untuk membiayai para guru. Skocpol (1991) menyatakan bahwa petani berpartisipasi dalam sebuah gerakan tanpa melakukan perubahan pada visi yang radikal mengenai masyarakat nasional baru yang diinginkan. persoalan. Keempat. atau kebebasan (Skocpol. Hal yang tidak kalah penting yang harus diperhatikan pemimpin gerakan adalah pengikut gerakan itu sendiri. 1991). Petani berjuang lebih disebabkan untuk pemenuhan atas tujuan – tujuan konkrit. “sosialisme”.4 Gerakan Petani Abad ke-18 hingga abad ke-19.

Hanya saja adanya bukti penguasaan tanah secara de facto dan cara hidup yang khas dengan mengelola tanah. 2004). dapat dijadikan salah satu ciri yang membedakan petani dengan yang lain. tetapi juga semakin berkembang ketika menganalisa lapisan petani mana yang terlibat aktif dalam pemberontakan. tidak akan memiliki kekuatan untuk melawan. Meskipun masih didalam tulisan yang sama. terlebih lagi petani kelas menengah memiliki sumberdaya minimal untuk melakukan perlawanan.Inggris dan Jerman pada tahun 1848 pada umumnya dipimpin gerakan revolusioner perkotaan mengalami kegagalan karena tidak terjadinya pemberontakan pertani terhadap para tuan tanah di pedesaan. Hal berbeda dapat ditemui pada pandangan Wolf (1966) yang menyatakan bahwa petani menengahlah yang paling dapat diandalkan dalam melakukan pemberontakan. Kekhususan kultural yang dimiliki oleh petani baik itu pada perkembangan nilai – nilai. Ia menganggap bahwa sumber radikalisme petani berdasarkan pada pemilikan atau penguasaan alat produksi tanah. menyatakan bahwa tidak mungkin mendefinisikan petani dengan ketepatan yang mutlak karena batasannya kabur pada ujung kenyataan sosial itu sendiri. Petani kelas menengah jelas terganggu dengan keberadaan tuan tanah baik itu dalam akses terhadap pasar ataupun tekanan kultural yang dirasakan oleh mereka. dan kebudayaan petani tidak serta merta membuat para ahli dapat mendefnisikan petani secara mudah. persepsi. Marx (1895) juga menyatakan bahwa sesungguhnya petani dalam melakukan pemberontakan tidak dapat berdiri sendiri. Marx (1895) menyatakan bahwa lapisan buruh tani atau proletariat pedesaan merupakan lapisan yang paling revolusioner. Jumlah buruh tani tak bertanah yang besar memang merupakan sumber potensial untuk melakukan pemberontakan atau revolusi tetapi pendapat ini tidak selamanya benar dan berlaku disemua tempat. Persoalan tidak berhenti pada apa dan bagaimana mendefinisikan petani. Petani membutuhkan pemimpin yang bertugas mewakili mereka dalam melakukan perlawanan terhadap kelas penindas. Moore (1966). Petani kelas bawah atau buruh tani tanpa tanah yang menggantungkan hidupnya kepada tuan tanah. Gerakan petani dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk dari gerakan sosial (Handayani. Para ahli telah banyak mencoba untuk melakukan 23   .

Bahri (1999) berpendapat bahwa. baik itu penyebab terjadinya gerakan ataupun dalam struktur dan pola gerakan. Seperti gerakan Haji Rifangi di Pekalongan (1860). gerakan sosial merupakan gejala yang lahir dalam kondisi masyarakat yang konfliktual. baik secara formal ataupun tidak. pandangan dan sikap politik atas 24   . Herbert Blumer (1939). Kedua. 2. pemberontakan petani candi udik (1892). dan peristiwa Gedangan (1904). Klaten (1886). baik ulama ataupun bangsawan lokal. gerakan petani yang ada abad ke-19 belum menunjukan ciri – ciri modern.1. suatu kelompok masyarakat mendambakan tatanan hidup yang baru. Kelima. pemberontakan petani Banten (1888). Keempat. gerakan Mangkuwijoyo di Desa Merbung. dalam artian adanya organisasi dalam lingkup yang luas yang menyatukan gerakan. Gerakan yang ada bersifat sangat lokal.4. kita dapat melihat banyak bermunculan gerakan perlawanan petani di berbagai tempat. dengan membentuk sebuah gerakan yang terorganisir. gerakan sosial tidak identik dengan gerakan politik yang terlibat dalam perebutan kekuasaan secara langsung. gerakan sosial senantiasa memiliki tujuan untuk membuat perubahan sosial atau mempertahankan suatu kondisi.19. sebagai ciri – ciri atau karakter yang melekat dalam gerakan sosial. dan tidak memiliki hubungan antara gerakan yang satu dengan yang lain. Kesemua gerakan yang terjadi pada kurun waktu tersebut memiliki beberapa kesamaan. gerakan sosial merupakan perilaku kolektif yang terorganisir. Pertama. gerakan sosial merupakan satu bentuk perilaku koletif. Kemunculan gerakan sosial ditandai adanya kegelisahan akibat kesenjangan antara nilai-nilai harapan dan kenyataan hidup sehari-hari. Ketiga.pendefinisian prihal gerakan sosial. Kartosuro (1886). Maka itu. sporadis. Perlawanan banyak dipimpin oleh tokoh – tokoh lokal. Sadikin (2005) mencoba merangkum berbagai definisi gerakan sosial yang diutarakan para ahli.1 Gerakan Petani di Indonesia Pada pertengahan abad ke. dalam Sadikin (2005) berpendapat bahwa gerakan sosial merupakan sebagai suatu kegiatan bersama untuk menentukan suatu tatanan baru dalam kehidupan. Gerakan Tirtowiat alias Raden Joko di Desa Bangkalan.

seperti boikot dan pemogokan. terjadi pengorganisiran petani secara masif di wilayah Jawa Tengah. Indische Partij (IP). kehadiran organisasi semacam Sarekat Islam telah merubah kondisi sosial-politik yang ada dimasa kolonial. terasa lebih tertata dengan adanya pembakuan struktur organisasi. bermetamorfasa menjadi pejuang – pejuang kemerdekaan yang gigih. seperti pembentukan tatanan masyarakat baru pengganti tatanan masyarakat kolonial.struktur kekuasaan. Boikot dan pemogokan merupakan bentuk perlawanan yang diadopsi dari gerakan buruh dan kelas menengah perkotaan untuk menentang kekuasaan pemilik modal dan pemerintah yang saat itu sedang marak terjadi di daratan Eropa. dan Indische Social – Democratische Partij (ISDP) merupakan anak para bangsawan yang mendapatkan keistimewaan untuk dapat bersekolah hingga kejenjang universitas. Hal ini pada dasarnya dapat dilihat sebagai suatu hal yang wajar. yaitu gugatan dan penggantian sistem pemerintah kolonial. berhasil mempertemukan gerakan petani di pedesaan dengan gagasan revolusioner kemerdekaan. Jawa Barat. karena para motor penggerak organisasi semacam Serikat Islam (SI). Struktur dan pola gerakan yang ada. merupakan anak para bangsawan yang telah 25   . Orang – orang seperti Tirtoadisuryo. Banten. bahkan banyak diantara mereka yang merupakan lulusan perguruan tinggi Eropa. dan Sumatera. salah satu organisasi yang sangat berpengaruh pada waktu itu. dan instrumen gerakan yang tertata rapih sehingga dapat memberikan seruan keseluruh negeri. dan diterapkannya metode pengorganisiran masyarakat. Samanhudi. Pada tahun 1912. dan Tjokroaminoto. Soe Hok Gie (1964) dalam Skripsinya yang berjudul Dibawah Lentera Merah menyatakan bahwa. tetapi perubahan sistem politik. Tujuan dari gerakan pun tidak lagi hanya terbatas pada penuntasan masalah di tingkatan lokal. Petani yang semula hanya paham prihal cangkul dan persoalan desa. Organisasi – organisasi modern yang lahir pada awal abad ke – 20 berhasil memperkenalkan pola perlawanan yang sama sekali berbeda dengan pola perlawanan petani yang ada sebelumnya. Hal ini begitu berbeda dengan gerakan yang lahir pada awal abad ke – 20. Sebagai contoh Serikat Islam (SI). sistem keanggotaan.

Pada posisi ini petani kembali pada tradisi penyesuian diri dan mencari jalan masing – masing untuk mempertahankan hidup. Kehadiran organisasi tani seperti Serikat Tani Islam Indonesia (STII) yang bernaung di bawah Masyumi. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pasca kemerdekaan. dan advokasi. serta Barisan Tani Indonesia (BTI) yang memiliki hubungan yang erat dengan PKI. khususnya pada periode waktu 1950 – 1965. LSM yang sudah lebih berpengalaman dalam menangani permasalahan 26   . Dilain pihak. hampir seluruh organisasi petani yang ada merupakan perpanjangan tangan dari berbagai partai politik ditingkat nasional. Bersamaan dengan itu. hal ini justru mentah dengan sendirinya. pemerintah melarang seluruh organisasi petani yang ada di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Gerakan petani mulai aktif pada pertengahan tahun 1980-an. Petani – petani mulai kehilangan patron politik karena banyak dari para pemimpin gerakan dari kelas menengah perkotaan sudah dibunuh dan yang hidup mendapatkan tekanan yang luar biasa dari Rezim Orde Baru. Persatuan Tani Indonesia (PETANI) yang bernaung di bawah PNI. sebagai akibat dari intervensi modal yang sangat intensif di wilayah pedesaan. menjadi peta gerakan petani pasca kemerdekaan hingga tahun 1965. karena pada beberapa kasus BTI justru melindungi tuan tanah yang menjadi simpatisan dari PKI. yang mayoritas pemilik tanah – tanah luas dan pangreh praja di pedesaan. Pada massa itu mahasiswa yang sebelumnya dibungkam oleh Pemerintahan Soeharto mulai turun ke jalan. Akan tetapi. di Departemen Agraria dan Dewan Pertimbangan Agung. Persatuan Tani Nahdatul Ulama (PETANU) yang bernaung di bawah NU. di wilayah perkotaan juga tumbuh gerakan mahasiswa dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang masuk kepedesaan dengan berbagai kegiatan baik itu dalam hal sosial politik. PNI dan partai – partai islam berkepentingan untuk membela para pendukungnya. PKI mengklaim dirinya sebagai perwakilan dari para petani tak bertanah. pendidikan.mengenyam pendidikan kolonial tetapi tidak pernah melupakan akar budaya bangsanya. Perdebatan politis yang sangat tajam terlihat ketika penyusunan Undang – Undang Pokok Agraria (UUPA).

begitu banyak terjadi gerakan perlawanan petani diberbagai daerah. Maka pada akhir 80-an dan awal 90-an terjadi aliansi gerakan petani dengan mahasiswa dalam bentuk demonstrasi ke DPRD dan kantor – kantor Gubernur. pada pertengahan abad ke – 19 mereka bersandar pada organisasi kepartaian seperti SI.kelompok gerakan diperkotaan.petani lebih banyak mengambil jalan pembelaan litigasi diperadilan atau mengirim surat protes kepemerintah. Dilihat dari sisi yang lain. belum terlihat adanya petani yang dapat mengorganisisr diri mereka sendiri hingga menjadi sebuah gerakan petani. Tasik. sedang pada awal kemerdekaan hingga 1965 mereka bergantung pada partai politik. dan Garut. 27   . amat jelas terlihat bahwa petani tidak memiliki kemampuan untuk dapat mengorganisir diri mereka sendiri. IP. dan pada massa orde baru mereka bergantung pada gerakan mahasiswa dan LSM. Apabila pada awal abad ke -19 mereka bersandar pada para bangsawan dan tokoh lokal. kritik gerakan mahasiswa pada tahun 1980-an kepada gerakan sebelumnya adalah tidak adanya penyambung antara gerakan mahasiswa dengan gerakan rakyat. Pasca jatuhnya pemerintahan Presiden Soeharto pada tahun 1998. Adapun yang terjadi pada saat ini dipandang tidak jauh berbeda dengan yang terjadi pada massa sebelumnya. dan ISDP. Petani masih amat bergantung pada kelompok. Petani mulai berkenalan dengan aksi massa dan demontrasi setelah menjalin hubungan dengan kelompok – kelompok gerakan di perkotaan khususnya mahasiswa. Gerakan petani di Desa Keprasan Kabupaten Blitar. juga memiliki keterkaitan dengan LBH Surabaya dan Kesmalita (Kesatuan Mahasiswa Blitar) di Jogjakarta. Tetapi apabila dilihat secara lebih mendalam. Di dalam tubuh gerakan mahasiswa sendiri sudah terjadi pergeseran orientasi. Serikat Petani Pasundan (SPP) yang ada di wilayah Priangan Timur memiliki keterkaitan yang sangat jelas dengan gerakan mahasiswa di kota Ciamis.

seperti radikalisasi petani. pembahasan selanjutnya berfokus pada dinamika atau kelangsungan dari gerakan petani. serta makna tanah bagi petani dan pada faktor – fakto subyektif.faktor meterialnya seperti sejarah penguasaan tanah. baik yang dipengaruhi oleh kondisi didalam organisasi gerakan ataupun pengaruh dari kekuatan sosial lain di luar gerakan petani. Pasca terbetuknya organisasi gerakan dan terjadinya redistribusi tanah. yaitu basis material atau tanah dan aspek politik petani. Pada periode kemunculan gerakan.                                           28   . yaitu pada faktor .2.2 Kerangka Berpikir Pembahasan prihal kemunculan dan kelangsungan gerakan petani dapat dipilah dalam dua alur yang berjalan secara paralel. terdapat beberapa hal yang dapat dilihat sebagai faktor – faktor penyebab terjadi gerakan petani. serta pengorganisiran petani. Lihat gambar 1.

: Terpisah Gambar 1. Kerangka Berpikir Penelitian 29   .(Faktor – Faktor Material) ‐SEJARAH PENGUASAAN TANAH    ‐MAKNA TANAH BAGI PETANI    ‐AKSES TERHADAP TANAH        ‐REDISTRIBUSI TANAH  ‐LIVELIHOOD   GERAKAN PETANI :  ‐ORGANISASI GERAKAN  KEMUNCULAN GERAKAN  --------------------------------------------------------------------------------------------------‐STRATEGI GERAKAN  (KONDISI KONDUSIF)  ‐KEPEMIMPINAN GERAKAN  ‐RADIKALISASI PETANI  ‐PENGORGANISASIAN PETANI  ‐KESADARAN POLITIK  ‐PERKEMBANGAN  KELEMBAGAAN GERAKAN  ‐PENGARUH  AKTOR LUAR PETANI  (Faktor – Faktor Subyektif) Keterangan : : Berhubungan : Meliputi -------.

pengorganisiran dapat bersifat formal atau informal. Sejarah Penguasaan Tanah : catatan – catatan histografis atau dokumen sejarah yang berkisah tentang tanah. dsb. pengekangan hak. dapat bersifat ekonomi. seperti penindasan. penyawaan. Pada umumnya. ataupun kultural. Radikalisasi Petani : Faktor – faktor atau kondisi yang dapat memicu terjadinya aksi perlawanan petani. 3) gerakan sengaja bertujuan melakukan reorganisasi kehidupan masyarakat internal maupun eksternal.2. Makna Tanah Bagi Petani : intepretasi yang timbul dari ikatan – ikatan yang ada antara petani dengan tanah. sakral. mengelola. 2) berlangsung lebih lama. dan mengembangkan sumberdaya agraria khususnya tanah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.3 Definisi Konseptual Petani : Individu atau sekelompok orang yang memiliki (de facto). ataupun alih fungsi tanah serta kaitannya dengan orang atau sekolompok orang disekitar tanah. pungutan pajak. guna mencapai suatu tujuan tertentu. baik berupa sumberdaya yang bersifat terbatas seperti uang dan makanan ataupun individu petani itu sendiri. perebutan. Dalam gerakan tersebut diharapkan mempunyai ciri-ciri seperti halnya gerakan sosial yaitu 1) memiliki pengorganisasian internal yang rapi. Seringkali catatan histografis berbentuk sejarah lisan (oral history). Pengorganisiran Petani : Proses mobilisisasi petani. Gerakan Petani : suatu bentuk perlawanan yang sengaja dilakukan oleh sekelompok petani yang terorganisir untuk menciptakan terjadinya perubahan dalam pola interaksi keadilan untuk petani di dalam masyarakat. pembatasan kerja. baik itu pembahasan soal kepemilikan. kondisi tersebut berasal dari luar masyarakat petani. 30   .

Redistribusi Tanah : Pembagian kembali objek redistribusi atau tanah kepada petani. dan adanya unsur kepemimpinan. yang didalamnya terdapat struktur (hierarki) organisasi. Pola ini dapat berupa sistem kebun. ataupun persawahan. demonstrasi atau aksi massa. pemogokan. dsb. memiliki tujuan yang jelas. Pola Pertanian : tata cara bercocok tanah yang dipergunakan oleh sekelompok orang atau masyarakat didalam suatu luasan lahan. perkebunan. Strategi Gerakan : cara atau media yang digunakan gerakan petani guna mencapai suatu tujuan. Pemimpin Gerakan : orang atau sekelompok orang yang bertugas untuk memimpin suatu gerakan. dapat berupa aksi boikot.Organisasi Gerakan : betuk formal dari pengorganisiran petani. 31   . pemimpin merupakan tokoh sentral atau motor penggerak pada sebuah gerakan petani.

yang melibatkan suatu pendekatan interpretatif dan wajar terhadap setiap pokok permasalahannya. yang berupaya untuk memahami. agar dapat melihat secara langsung mengetahui dan memahami berbagai kondisi masyarakat. Metode observasi partisipasi merupakan sebuah teknik pengumpulan data yang mengharuskan peneliti melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat yang diteliti. interaksional dan visual: yang menggambarkan momen rutin dan problematis. memberi tafsiran pada fenomena yang dilihat dari arti yang diberikan orang-orang kepadanya. Peneliti harus dapat memahami gejala-gejala yang ada. introspeksi. Maka itu. Jawa Barat. Ini berarti penelitian kualitatif bekerja dalam seting yang alami. Peneliti dalam upaya memahami kehidupan objek penelitian telah melakukan live in di lokasi tersebut. wawancara. sesuai dengan maknanya dengan yang diberikan atau dipahami oleh warga masyarakat yang sedang diteliti. teks sejarah. scope temporal dalam penelitian ini akan dilaksanakan selama enam bulan yaitu April sampai Agustus 2010.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif melibatkan penggunaan dan pengumpulan berbagai bahan empiris seperti studi kasus. serta maknanya dalam kehidupan individual dan kolektif (Denzin and Lincoln. termasuk dalam pengertian metode ini adalah wawancara dan mendengarkan serta memahami apa yang didengarnya (Denzin and Lincoln. 2009). pengamatan. 2009). Penelitian kualitatif merupakan suatu metode berganda dalam fokus. Kabupaten Ciamis. Sementara scope spatial dalam penelitian ini terfokus pada masyarakat petani Desa Banjaranyar yang berlokasi di Kecamatan Banjarsari. Penelitian ini menggunakan metode observasi partisipasi (participant observation) di lapangan. riwayat hidup. 32   .BAB III PENDEKATAN LAPANG 3. pengalaman pribadi.

2 Unit Analisis Unit analisis adalah gerakan petani yang terhimpun dalam Organisasi Tani Lokal (OTL) Banjaranyar . termasuk buruh tani. Lihat tabel 1. FARMACI. pengurus Serikat Petani Pasundan (SPP) pendamping. RSI Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ciamis                                     33   . LBH SPP.3. Daftar Stakeholder dan Perannya Dalam Kasus Gerakan Petani Desa Banjaranyar Tahun 2010 Di dalam Desa Banjaranyar Individu Petani atau massa nonstruktural di Desa Banjaranyar. dan Perangkat Desa Banjaranyar. dalam hal ini mereka petani tidak bertanah Pelaku Sejarah Lokal Tokoh Masyarakat Perangkat Desa Di luar Desa Banjaranyar Individu Sekjen Serikat Petani Pasundan Anggota DPRD Ciamis Organisasi Organisasi Tani Lokal (OTL) Banjaranyar 1 Koperasi Usaha Tani SPP Organisasi LBH SPP FARMACI PT. Responden adalah stakeholder yang dinilai relevan untuk memperkuat bobot analisis penelitian yaitu. Tabel 1. Gerakan petani tersebut memperjuangkan nasib petani Banjaranyar yang meliputi sekitar 195 kepala keluarga. Responden penelitian dipilih secara purposif berdasar telaah peran dalam proses gerakan petani.

hasil penemuan. Wawancara langsung dilakukan terhadap: 1) Pemimpin Gerakan. proposal. ekonomi. Penelitian kali ini juga menggunakan pendekatan sejarah (historical approach). 2) Pamong desa. dan c) diskusi dengan stakeholder. 2) agenda. yang akan menguraikan sejarah. Sejarah lisan sangat membantu memberikan penjelasan mengenai hal – hal yang berkaitan dengan kesinambungan (continuity) dan perubahan (discontinuity) kehidupan sosial. Data sekunder diperoleh peneliti dari: • • Arsip-arsip kantor pertanahan di tingkat kabupaten. dan dilematika di dalam gerakan petani Banjaranyar. dan pengumuman lain. terutama berupa social memory atau community’s collective memory yang dapat dipakai menyusun sejarah Desa Banjaranyar. Pengumpulan data untuk studi peristiwa bersumber dari 1) surat. 1992). politik.3. dan desa 4) Petani. fenomena. Teknik pengumpulan data ini dilakukan melalui a) wawancara tertuntun dengan menggunakan daftar pertanyaan. dan budaya melalui ingatan kolektif atau disebut sebagai history of memory or memory of history (Fentress dan Wickham. pandangan dan perkembangan sebuah kasus. kecamatan. 4) kliping dan artikel dalam media massa. dan kelurahan. Namun karena keterbatasan sumber – sumber tulisan. 5)Masyarakat lain. Data primer adalah data yang langsung diperoleh dari sumbernya untuk mengetahui sejarah. problamatika. dan dokumen internal. Analisis difokuskan pada era reformasi. maka pendekatan sejarah lisan (oral history) dijadikan sebagai salah satu pilihan penting dalam upaya pengumpulan data. yaitu tahun 1997 hingga tahun 2010. Data sekunder adalah jenis data yang mengutip dari sumber lain. kecamatan. 3) Pejabat tingkat kabupaten. dan tulisan laporan peristiwa. 3) dokumen administrasi. khususnya yang berkaitan dengan gerakan petani Banjaranyar. b) wawancara mendalam dengan stakeholders.3 Teknik Pengumpulan Data Data bersumber dari data primer dan sekunder. progress report. Arsip – arsip kasus sengketa lahan Serikat Petani Pasundan (SPP) 34   . memorandum. Pendekatan sejarah lisan dimaksud untuk menggali ingatan kolektif.

pencapaian kesimpulan dari penelitian (Surakhmad.• • • Surat resmi dari Pemda Kabupaten Ciamis yang berkaitannya dengan topik. 1994). dan berita pers. melakukan intepretasi data untuk dikaji berdasar kerangka dasar teori. data dikumpulkan dengan cara observasi langsung. Kedua. 3. interview. Keempat. pertama. majalah.4 Teknik Analisis Data Teknik analisis data terdiri dari beberapa langkah sebagai berikut. Ketiga. dan mengumpulkan data dari kepustakaan. internet dan laporan penelitian yang telah dipublikasikan. melakukan penilaian dan pengamatan terhadap data primer dan sekunder yang selanjutnya disesuaikan dengan keadaan di lapangan. Artikel-artikel tentang topik dalam surat kabar. 35   . arsip. Arsip-arsip dan laporan penelitian dari lembaga advokasi yang mengenai kasus tersebut.

tepatnya di wilayah Kecamatan Banjarsari. fasilitas kesehatan. sanitasi. sebelah timur berbatasan dengan Desa Cigayam. Nama Banjaranyar sendiri berasal dari adanya kota yang bernama Banjar. nama Banjaranyar dapat diartikan sebagai daerah Banjar yang baru.BAB IV LATAR BELAKANG KEMUNCULAN GERAKAN PETANI 4. diadakan kajian oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Ciamis prihal desa tertinggal. persentase penduduk yang bekerja sebagai buruh tani. Secara geografis. Tahun 2007. yaitu seperti fasilitas pendidikan. variabel sosial dan ekonomi penduduk. jumlah tenaga kesehatan. Kedua. Desa Banjaranyar merupakan satu dari enam puluh satu desa tertinggal yang berada di dalam wilayah Kabupaten Ciamis. Pertama. penggunaan bahan bakar. Sebelum adanya pemekaran. 36   .1 Desa Banjaranyar Desa Banjaranyar secara administratif masuk kedalam wilayah Kabupaten Ciamis. kasus kejadian wabah penyakit (busung lapar). Nama tersebut mengandung harapan. variabel keadaan penduduk yaitu hal – hal yang menunjukan tingkat kesejahteraan penduduk meliputi tingkat kepadatan penduduk per kilometer persegi. Kajian yang dilakukan SKPD Ciamis didasarkan pada empat variabel utama. dan sumber air bersih. karena ini merupakan desa baru maka nama Anyar pun disandingkan dengan kata Banjar. Pada bagian utara Banjaranyar berbatasan dengan Desa Karang Mukti. dan presentasi rumah tangga petani. Pada akhir tahun 1990an terjadi pemekaran Desa Cigayam menjadi dua desa yaitu Desa Cigayam dan Desa Banjaranyar. seperti keluarga pengguna listrik. sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kalijaya dan Pasawahan. Sehingga. variabel alam dan lingkungan yang menunjukan pemafaatan prasaranan dan potensi ekonomi desa. Desa Banjaranyar masuk kedalam wilyah Desa Cigayam. semoga Desa Banjaranyar dapat berkembang menjadi daerah yang maju seperti Kota Banjar. variabel sarana prasarana dan akses. dan pada bagian barat berbatasan dengan Desa Cikupa. Ketiga. Keempat. Desa Banjaranyar terletak di 108’32 bujur timur dan 07’30 bujur selatan.

Sebagian besar masyarakat Desa Banjaranyar bekerja di sektor pertanian. Hal ini tercermin di dalam data monografi desa. Desa Banjaranyar.04 9. Tahun 2005 No Luasan Tanah (Hektar) Jumlah Kepala Keluarga Petani (KK) 1 2 3 4 0 0 – 0. Jumlah Kepala Keluarga Petani Menurut Luas Lahan yang Dimiliki.5 hektar. Jarak antara Banjaranyar dengan Kota Banjarsari. Kondisi jalan yang berbatu memperlambat waktu tempuh dari dan menuju Banjaranyar.70 Sumber : Data Monografi Desa Banjaranyar Tahun 2005 Struktur kepemilikan tanah yang ada di Desa Banjaranyar dirasa masih timpang. yang merupakan Ibu Kota Kecamatan Banjarsari. tidak serta merta membuat adanya pemerataan dalam kepemilikan tanah. sanitasi atau fasilitas MCK (Mandi Cuci Kakus) dinilai amat kurang. tetapi hanya 10 KK yang memiliki tanah lebih besar dari 1 hektar.51 15. sebanyak 739 KK tidak memiliki tanah dan bekerja sebagai buruh tani 37   . Pada tahun 2007 hanya satu dari lima warga Banajaranyar yang memiliki fasilitas MCK di dalam rumah.5 – 1 hektar. dan 255 KK memiliki tanah dengan luasan dibawan 0. Penduduk Desa Banajaranyar berjumlah 4283 orang atau 1420 KK (Kepala Keluarga) dan sebanyak 1139 KK bekerja disektor pertanian. Selain kondisi jalan yang belum baik. Tabel 2. tetapi butuh waktu lebih dari dua jam untuk sampai ke Desa Banjaranyar. Sisanya. 135 KK memiliki tanah antara 0.5 0.5 – 1 >1 739 135 255 10 Jumlah Kepala Keluarga Petani (%) 52.84 0. Banyaknya warga masyarakat yang bekerja di sektor pertanian. sesungguhnya hanya 15 kilometer. Jumlah Kepala Keluarga (KK) yang bekerja sebagai petani ada 400 KK.Desa Banjaranyar dinyatakan amat kurang kurang pada poin ketiga yaitu sarana prasarana dan akses jalan.

Berdasarkan pembagian daerah melalui Sistem Karesidenan yang ada dimasa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Desa Banjaranyar, yang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Ciamis, masuk kedalam wilayah Karesidenan Priyangan Timur. Pada tahun 1950an, Karesidenan Priyangan Timur dijadikan daerah basis massa perjungan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DII/TII) yang dipimpin oleh SM Kartosuwiryo. Penetrasi gerakan DI/TII yang masuk hingga ke desa – desa, boleh jadi meredam penetrasi gerakan komunis yang mulai marak kembali pada akhir tahun 1950an. Tahun 1966, pasca terjadinya Gerakan 30 September (G30S) 1965, terjadi pembunuhan masal orang - orang yang dituduh sebagai komunis. Aksi pembunuhan masal yang terjadi di berbagai daerah, dirasa tidak terlalu memepengaruhi kehidupan warga. Karena kondisi Desa Banjarnyar pada saat itu relatif stabil. Orang – orang yang menggarap lahan bekas perkebunan AGRIS NV tidak dibunuh atau dikebiri hak – haknya karena tuduhan komunis. Sehingga penggarapan lahan bekas perkebunan AGRIS NV terus berjalan hingga akhir tahun 1970an.

Gambar 2. Peta Desa Banjaranyar, Kecamatan Banjarsarsari

38
 

4.2 Sejarah Tanah Perkebunan Di Desa Banjaranyar 4.2.1 Pembukaan Perkebunan Kopi Desa Banjaranyar berdiri di atas tanah perkebunan yang dahulunya dikelola oleh perusahaan perkebunan swasta asing bernama AGRIS NV. Kontur tanah Desa Banjaranyar yang berbukit – bukit, hawa dingin yang menyelimuti desa, orang – orang yang berkomunikasi dengan bahasa sunda, dan keterkaitan dengan sejarah panjang dengan perkebunan kopi, memang mengingatkan pada kisah Prijangansteelsel yang tertulis di dalam buku Max Havelaar. Sejarah tanah perkebunan yang ada di Desa Banjaranyar dapat dirunut hingga awal tahun 1700-an. Yaitu, ketika tanah Priyangan bersama dengan Batavia (Jakarta) dan sebagian kecil wilayah Majenang dijadikan daerah penanaman kopi oleh VOC (Vereeningde Oost Indische Compagnie). Tepatnya pada tahun 1707, VOC menetapkan tanah Priyangan sebagai salah satu daerah ujicoba penanaman kopi. Keberhasilan dari uji coba tersebut, memicu dilakukannnya pembukaan perkebunan kopi secara masif ditanah Priyangan. Perkebunan kopi Priyangan yang dibuka pada priode tahun 1707 – 1730 tidak menggunakan tanah garapan rakyat, melainkan tanah – tanah bukaan baru di wilayah hutan. Di Ciamis sendiri, dalam data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ciamis tahun 2005, tercatat beberapa perkebunan kopi besar yang ada pada periode tersebut, seperti Perkebunan Bangkelung, Gunung Bitung, Panawangan, dan Perkebunan Cigayam. Di dalam area lahan Perkebunan Cigayam inilah, tepatnya disisi sebelah utara perkebunan, dikemudian hari lahir sebuah desa yang bernama Desa Banjaranyar. Berdasarkan pada sistem pengelolaan perkebunan kopi yang ada pada awal abad ke -18. Pengelolaan perkebunan kopi Priyangan, pada tahapan pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya kepada para bupati dan dilakukan

menurut sistem feodal. Melalui tata cara kerja paksa, penduduk diwajibkan untuk melakukan kerja rodi, seperti pembukaan lahan baru ditanah hutan, penggarapan lahan, penanaman biji kopi, pemeliharaan, dan pengangkutan panen biji kopi dari perkebunan ke tempat penampungan. Pelaksanaan penanaman kopi paksa yang dilakukan di Priyangan ini kemudian dikenal sebagai dengan sebutan Sistem Priangan atau Prijanganstelsel (Kartodirdjo, 1991).

39
 

Awal abad ke – 18 daerah Priyangan, khususnya Priyangan Timur, merupakan daerah dataran tinggi dengan jumlah penduduk yang sedikit. Dari data VOC Cirebon, seperti yang dikutip oleh Kartodirdjo (1991), pada tahun 1705 daerah Priyangan timur dan tengah hanya dihuni oleh 10.000 kepala keluarga. Jumlah penduduk yang begitu terbatas tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan perkebunan akan tenaga kerja. Guna memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja di perkebunan, pada periode tersebut terjadi mobilisasi tenaga kerja dari luar kedalam wilayah Priyangan. Tercatat pada tahun 1720 daerah Priyangan timur dan tengah telah dihuni oleh 20.000 kepala keluarga. Sehingga dengan kata lain, selama diberlakukannya Sistem Priyangan (Prijanganstelsel) terjadi peningkatan sebesar seratus persen atau 10.000 kepala keluarga dalam tempo lima belas tahun. Berhasilnya penanaman kopi di daerah Priyangan ditopang oleh empat faktor (Kartodirdjo, 1991). Pertama, faktor alami yang membuat kopi dapat tumbuh dengan baik di Priyangan, baik itu di dataran tinggi ataupun dataran rendah. Kedua,daerah Priyangan yang memiliki topografi pegunung memberi perlindungan yang baik bagi tanaman kopi dari tiupan angin yang kuat. Ketiga, karakteristik tanah, khususnya pada pada tanah perkebunan yang baru dibuka di atas tanah hutan, sangat cocok untuk tanaman kopi. Keempat, faktor ekonomi, harga pembayaran kopi pada masa – masa awal (1707 – 1720) tidak hanya stabil dan bagus, tetapi juga termasuk tinggi. Hal ini tercermin dari data harga pembelian VOC di daerah Priyangan, bahwa harga pasaran biji kopi 15 – 40 kali lebih besar dari harga beras dalam takaran yang sama. Faktor terakhir yang tidak kalah penting yaitu tidak adanya aksi perlawanan secara besar - besar yang dilakukan petani Priyangan guna mencegah penanaman kopi di daerah mereka. Perkebunan – perkebunan kopi yang ada di wilayah Priyangan tidak menggunakan tanah garapan masyarakat untuk keperluan perkebunan. Pada periode 1700 – 1730 tidak ditemukan adanya perebutan tanah garapan (tanaman pangan) rakyat oleh pihak perkebunan kopi. Perkebunan – perkebunan kopi yang ada di Priyangan dibangun diatas tanah kehutanan yang tidak digarap oleh rakyat. Kartodirdjo (1991) mengistilahkan fenomena perluasan tanah perkebunan kopi di Priyangan sebagai “celah angin surplus” atau vent-forsurplus.

40
 

2. Pada bait awal lagu ini bercerita tentang pahitnya kehidupan dimasa taman kopi Priyangan.000 0 1796 1797 1798 1799 1807 1808 1809 1810 Sumber : Sartono Kartodirdjo.Gambar 3 Produksi Kopi Priyangan.000 100. Pada bait selanjutnya lagu ini bercerita tentang seorang gadis yang sedih berkepanjangan karena ditinggal sang pujaan hati yang harus bekerja di perkebunan kopi. lagu tersebut diciptakan oleh Bupati Aria pada saat beliau menjabat sebagai Bupati Galuh pada tahun 1839 – 1886. dalam Sejarah Perkebunan Di Indonesia : Kajian Sosial Ekonomi.000 80. ketika beekerja di tanah garapannya.000 60. Batavia. lagu Dengkleung Dengdek diciptakan oleh para buruh yang bekerja di Perkebunan Kopi Priyangan. 1991. Hal tersebut kemudian terabadikan dalam sebuah lagu berjudul “Dengkleung dengdek”. Hingga saat penelitian ini dilaksanakan. menurut kisah sejarah yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Ciamis.000 20. Sedangkan. dan Sekitarnya Tahun 1796 – 1810 Kopi 120.000 Kopi 40. Menurut para tetua desa. lagu Dengkleung dengdek masih sering dinyanyikan oleh para petani tua Desa Banjaranyar. 4.2 Perkebunan AGRIS NV Lahirnya Undang – Undangn Agraria Hindia Belanda (Agrarische Wet) pada tahun 1870 memberikan warna baru bagi perjalanan sejarah perkebunan di 41   . Getirnya kehidupan yang dialami oleh para pekerja di perkebunan – perkebunan kopi Priyangan berbekas dalam ingatan para petani di Desa Banjaranyar.

Pada momentum inilah perusahan perkebunan masuk kedalam jaringan perbankan. Sehingga perusahaan perkebunan berubah menjadi perusahaan besar dengan kapital-intensif (Kartodirdjo. pasca diterbitkannya Agrarische Wet 1870 pemerintah secara formal memberikan kebebasan dan keluasaan kepada para pemodal untuk melakukan usaha – usaha perkebunan. Pada masa sistem tanam paksa pemerintah menghendaki adanya penyatuan kembali antara pemerintah dengan kehidupan perusahaan dalam menangani produksi tanaman ekspor. Pada perjalanannya. Hal tersebut menimbulkan desakan untuk mengganti perusahaan perseorangan dengan perusahaan besar berbentuk NV. timbul berbagai permasalahan seperti krisis yang terjadi pada tahun 1875 dan 1895.Indonesia. Apabila pada masa sewa tanah terdapat pemisahan antara pemerintah dengan perkebunan. AGRIS NV merupakan perkebunan yang berdiri diatas lahan seluas 755.07 Ha. Tetapi. Salah satu hal yang dapat disoroti didalam Agrariche Wet adalah keberadaan dari Hak Erfpacht yaitu hak untuk melakukan pengolahan diatas sebidang tanah yang diberikan oleh Pemerintah Kolonial kepada pihak swasta dalam jangka waktu tertentu. kesempatan yang ada banyak dipergunakan oleh pengusaha perseorangan. 2007). Berdasarkan data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ciamis yang dihimpun hingga tahun 2010. 1991). Pada awalnya. Perusahaan – perusahaan ini secara kolektif bernaung di bawah Cultuuralbank atau Unie guna mengatasi permasalah dalam hal permodalan. Para penguasaha perseorangan tersebut merupakan orang .orang yang telah berpengalaman dalam teknik penanaman dan penglolaan perkebunan pada massa Sistem Tanam Paksa (Mustain. Maka. Para penguasaha perkebunan diberikan akses langsung kepada para petani untuk melakukan penyewaan tanah dan penyerapan tenaga kerja. membuat posisi petani tidak dalam kondisi yang kuat dan cenderung dirugikan. pada kenyataannya struktur sosial – politik masyarakat yang masih tradisional dan semi feodal. salah satunya ialah AGRIS NV. serta wabah penyakit pada tanaman kopi yang terjadi pada tahun 1890an yang mengakibatkan kebangkrutan pada banyak perusahaan perseorangan. Hak Erfpacht yang dimiliki oleh AGRIS 42   .

000 pikul. 472. dengan kode No. Didalam laporan berita acara perkebunan VOC tahun 1720. dikarenakan dua hal yaitu faktor alam dan kebijakan liberalisasi ekonomi yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial. tercatat bahwa Blok Cigayam merupakan perkebunan dengan tanaman kopi sebagai komoditas utamanya. Perubahan komoditas yang ditanam. Cikaso. Pertama yaitu faktor alam. hingga akhirnya masuk ketanaman kopi yang berada di daerah Galuh (Ciamis). Blok Cigayam inilah yang kemudian pada tahun 1928 menjadi tanah erfpacht yang hak pengelolaannya diberikan kepada perusahaan perkebunan AGRIS NV. dan Pasawahan. dari kopi menjadi karet. yang terbagi atas dua blok.000 pikul. 214) berbatasan dengan Desa Cigayam.1909 yang hanya menghasilkan kopi sebesar 371. Hak yang dimiliki AGRIS NV atas tanah tersebut akan habis pada 24 Januari 1975. indogo. Pada periode awal tahun 1900an. Blok pertama berada disebelah utara dengan luas tanah 377. yang berbatasan dengan Desa Cikaso.53 Ha (Erf. Blok kedua berada diselatan dengan luas tanah 377. Pada tahun 1900 .NV dikeluarkan pada tanggal 30 November 1928. teh. Perkebunan AGRIS NV tidak lagi menanam kopi.1904. Hal ini dapat dilihat dari data komoditas hasil perkebunan Pemerintah Hindia Belanda tahun 1900 hingga tahun 1909.20). Karena pada periode tersebut tanaman kopi terjangkit wabah penyakit yang menyebar dibeberapa tempat di Priyangan. dimana kemudian terjadi penurunan drastis pada tahun 1905 . melainkan menanam pohon karet sebagai komoditas utama. di perkebunan AGRIS NV pada periode awal 1900an. Pemerintah Hindia Belanda mencoba memperkenalkan beberapa tanaman pengganti kopi seperti karet. hasil keseluruhan panen kopi mencapai 615. Penyebaran wabah penyakit tersebut memiliki dampak besar pada hasil produksi kopi di Hindia Belanda secara keseluruhan.53 Ha (Erf Verf No. Verf No. 43   . dan kina.

meskipun pada tahun 1925 dilakukan introdusir varietas kopi robusta yang dikenal tanahan terhadap wabah penyakit oleh Pemerintah Kolonial. Ditanamnya pohon karet sebagai komoditas utama di perkebunan AGRIS NV. baik itu berkaitan dengan komoditas yang ditanam ataupun sistim pengelolaan perkebunan.000 Produksi Kopi Perkebunan Swasta (pikul) 446.Tabel 3. 44   .000 403. Perkebunan AGRIS NV tetap melakukan penanaman karet dan tidak berubah kembali menjadi perkebunan kopi. Sehingga.000 273. 1991). Stasiun percobaan dan penelitian disokong dengan adanya teknologi maju. perkebunan AGRIS NV dengan memegang Hak Erfpacht yang diberikan Pemerintah Hindia Belanda.000 212.000 98. Pemerintah Kolonial tidak lagi dapat memaksakan pihak perkebunan. 1961. tata kerja yang lebih efisien dan juga kepekaan terhadap pasar global. Jumlah Produksi Kopi Hindia Belanda. memiliki kemerdekaan penuh untuk mengatur segala sesuatu di dalam perkebunan. dapat dilihat sebagai jalan yang ditempuh perusahaan perkebunan guna menjawab kebutuhan pasar global. Perkebunan Pemerintah dan Swasta Tahun 1895 – 1909 (dalam pikul) Tahun Produksi Kopi Perkebunan Pemerintah (pikul) 1895 – 1899 1900 – 1904 1905 – 1909 314. Perusahan perkebunan berbentuk “NV” selain bercirikan kapital – intensif. seperti yang terjadi pada massa Sistem Tanam Paksa. juga menuntut adanya R and D atau pengembangan dan penelitian dalam hal peningkatan hasil produksi (Kartodirdjo. Karena perkebunan memiliki kebebasan untuk menentukan komoditas yang akan ditanam. Economic Development of Southeast – Asia. Strukur organisasi perusahaan perkebunan AGRIS NV tidak berbeda jauh dengan perusahaan perkebunan berbentuk “NV” pada umumnya.000 Sumber : Cowan. Kedua yaitu diterbitkannya Agrarisch Wet pada tahun 1870 sebagai bentuk dari kebijakan liberaliasi ekonomi yang dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda (Wiradi. 2000). Pasca Agrarisch Wet.

menurut para tetua Desa Banjaranyar. Opzicher merupakan pembantu pemimpin umum yang mengepalai beberapa mandor dan bertugas mengawasi kinerja perkebunan. terdapat seorang administratuer dan beberapa opzichter. terutama dibagian penyadapan getah karet. Komunikasi yang terjadi antara orang Eropa yang berada pada lapisan atas. selain para pekerja yang berasal dari desa sekitar perkebunan. Tidak diketahui secara jelas apakah desa disekitar perkebunan AGRIS NV merupakan hasil evolusi dari bedeng buruh kopi dimasa Prijangansteelsel atau bukan. dengan para pribumi yang berada pada lapisan bawah terjalin dalam suatu mekanisme tertentu.hari. terdapat buruh perkebunan yang berasal dari penduduk desa. Lokasi perkebunan AGRIS NV tidak terlalu jauh dari pemukiman warga. 1991). Titik pembeda antara buruh pendatang dengan orang desa sekitar yang menjadi buruh. Hanya saja. para wanita desa juga ada yang bekerja di perkebunan.Lapisan atas struktur organisasi perusahaan perkebunan berbentuk “NV”. Tetapi. Sedangkan pada lapisan atas para Opzicher-lah yang bertindak sebagai “schakel” atau penghubung mata rantai. Mandor selain bertugas sebagai kepala regu juga bertidak sebagai penghubung antara para buruh perkebunan dengan para Opzicher. Sedangkan. Guna memenuhi kebutuhan perkebunan akan tenaga kerja. Sehingga praktis tidak pernah terjadi komunikasi secara langsung antara seorang pemipin perkebunan atau Administratuer dengan para buruh perkebunan. Administratuer ialah pimpinan umum yang merupakan sutu jabatan puncak yang ada di perusahaan perkebunan. dalam artian mudah dijangkau oleh penduduk desa sekitar perkebunan. yang diisi oleh orang – orang Eropa. Di dalam perusahaan perkebunan AGRIS NV kepala regu sering kali disebut sebagai “mandor”. Perkebunan AGRIS NV juga mengambil tenaga kerja dari luar daerah Ciamis. dialek sunda yang berbeda antara daerah satu dengan daerah yang lain dapat dijadikan salah satu indikator penentu darimana buruh tersebut berasal. terdapat pada logat bahasa yang digunakan. pada lapisan bawah terdapat buruh – buruh yang dikelompokan ke dalam beberapa regu (ploeg) dan dipimpin oleh seorang kepala regu (ploeg baas) (Kartodirdjo. 45   . Bahkan. Walaupun seluruh buruh perkebunan AGRIS NV menggunakan bahasa sunda sebagai bahasa komunikasi sehari .

pada sore harinya dapat kembali ke desa untuk melanjutkan perkerjaan di rumah. Lahan yang semula dikelola sebagai perkebunan karet. hiburan.3 Periode Pasca Kemerdekaan Pasca diproklamirkannya teks proklamasi oleh Soekarno Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. AGRIS NV sebagai salah satu perusahaan perkebunan asing yang mendapatkan hak penglolaan lahan dari Pemerintah Hindia Belanda terjebak dalam kondisi yang tidak jelas. Perbedan tersebut terdapat pada berbagai macam sisi seperti akses pendidikan. Hal ini juga mempengaruhi kondisi perusahaan – perusahaan perkebunan yang ada di Indonesia. terjadi perubahan besar pada peta politik di Indonesia. tidak ditemukan di perkebunan AGRIS NV. Agrarische Wet 1870 yang menjadi dasar dari hak penggunaan lahan bagi banyak perusahaan perkebunan kemudian dihapuskan.2. Produk kebijakan Pemerintah Hindia Belanda tersebut dianggap tidak memihak pada kepentingan rakyat Indonesia. Fenomena Tricle down effect atau efek tetesan justru dirasakan oleh penduduk desa sekitar perkebunan. Letak perkebunan yang dekat dengan desa membuat kehidupan di perkebunan tidak terisolasi dari dunia luar. Bahkan. tetapi lebih bertujuan untuk memberi kemudahan bagi para pemodal asing. sudah menjadi rahasia umum dikalangan buruh dan penduduk sekitar perkebunan. terdapat buruh perkebunan yang telah selesai bekerja. dan berbagai pelayanan lainnya. maka rakyat menerima perbedaan tersebut sebagai suatu hal yang biasa. Perbedaan yang mencolok memang terlihat pada taraf hidup golongan atas (administratuer dan opzicher) dengan taraf hidup golongan bawah (buruh perkebunan).Titik – titik sentuh antara perusahaan perkebunan dengan rakyat yang mudah menimbulkan konflik seperti perampasan tanah garapan dan lahan pemukiman warga. transportasi. Para administratuer dan opczhier tidak lagi diketahui 46   . Namun. Cerita – cerita prihal kebiasaan para administratuer dan opzcher yang suka menghabiskan waktu di Kota Bandung dan Ciamis untuk bersenang – senang. karena kesadaran akan diskriminasi belum berkembang dimasyarakat. 4. Keberadaan perkebunan membuka lapangan pekerjaan bagi penduduk desa sekitar. dibakar oleh warga.

tanah perkebunan asing dan seluruh tanah perkebunan asing akan dikembalikan kepada rakyat. warga tetap menggarap lahan AGRIS NV. sedangkan perkebunan milik Pemerintah Kolonial diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia. Pada saat ditetapkannya keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB). Pertama. Pada tahun 1955. salah satunya dipicu oleh pidato Presiden Soekarno yang tersebar melalui radio – radio. Penggarapan yang dilakukan oleh warga tidak dilaksanakan secara berkelompok. Praktis pada saat itu tidak ada kegiatan dari perusahaan perkebunan di atas tanah perkebunan. Dari 42 Hak Erfpacht 47   . terdapat dua kejadian penting ditingkat nasional yang cukup mempengaruhi kondisi perkebunan di Kabupaten Ciamis. ketika Pemerintah Republik menasionalisasi aset perkebunan. Presiden Soekarno memerintahkan warga untuk menggarap tanah . Pada akhir tahun 1940an. hingga bisa terdengar ditelinga warga Banjaranyar.keberadaannya. Penggarapan yang dilakukan oleh warga. sehingga pengarapanpun terus dilanjutkan. yaitu pasca Perundingan Meja Bundar di tahun 1949. Besar kemungkinan. tanah bekas perkebunan Agris NV tidak masuk kedalam daftar tanah yang akan dikelola Pemerintah. baik itu berupa penanaman. begitu sebaliknya. Pada keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga besar akan menggarap luasan tanah yang besar. warga sekitar perkebunan AGRIS NV mulai melakukan penggarapan di atas tanah perkebunan. yaitu nasionasasi seluruh aset terutama aset perkebunan oleh Pemerintah Republik Indonesia. penyadapan pohon karet. Pada tahun 1950an. Kedua. seluruh perkebunan milik asing harus dikembalikan. Luasan tanah yang digarap oleh masing – masing kelurga pun berbeda – beda. tetapi digarap oleh masing – masing keluarga. bergantung dari jumah anggota keluarganya. Perkebunan – perkebunan yang ada pada saat itu akan berdiri di bawah Pusat Perkebuna Negara Baru (PPN – Baru) dan Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) yang kesemuanya dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia. praktis tidak mempengaruhi aktivitas warga dalam menggarap lahan bekas perkebunan AGRIS NV. atupun pengasapan getah karet. Dua kejadian penting yang terjadi pada periode tahun 1950an tersebut. para petinggi perkebunan tersebut ikut dalam eksodus warga Eropa yang keluar dari Indonesia pada massa Pendudukan Jepang (1943 – 1945). Di dalam podato tersebut.

dikelola PT. seluruh lahan yang dikelola oleh PNP tersebut. Cimanggu. Menurut penuturan Bapak Oman yang merupakan salah satu tokoh masyarakat di Desa Banjarnyar. Bukit Jonggol Asri merupakan salah satu perusahaan yang berada dibawah Group Bimantara yang dimiliki oleh Bambang Trihatmojo. Ciparanti. Bukit Jonggol Asri.yang ada di Kabupaten Ciamis. tanah seluas 755. pada tahun 1982 datang seorang wanita yang bernama Ibu Jua.Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII. Tanah perkebunan Blok Cigayam (AGRIS NV) tidak termasuk dalam daftar tanah tersebut. Pada tahap pelaksanaannya. baik itu jual beli tanah dengan masyarakat ataupun perizinan ditingkat pemerintah desa dan kecamatan. Warga Banjaranyar cenderung enggan untuk melakukan perlawanan guna mencegah masuknya perusahaan dilahan eks-perkebunan. salah satu putra dari Presiden Soeharto. hanya lahan perkebunan di daerah Batulawang. PT Bukit Jonggol Asri (BJA) merupakan salah satu perusahaan properti yang terkemuka di Indonesia. berdasar pada SK.4 Era Orde Baru Pada tahun 1982. Pada saat ini. aktivitas penggarapan rakyat terusik dengan masuknya PT. 4.2.Men No.07 hektar yang berada di wilayah Kecamatan Banjarsari dibebaskan kepada PT. Wanita ini disebut – sebut sebagai utusan PT RSI untuk mengurus masalah pertanahan. RSI ditanah bekas perkebunan AGRIS NV. Karangkamiri.000 hektar lahan didaerah Jonggol pada tahun 1990an. PT Bukit Jonggol Asri memberikan kuasa kelola kepada PT RSI selaku anak perusahaan. 1 yang dikeluarkan pada tanggal 24 Januari 1975. Cikupa. dengan kata lain PT RSI tidak mendapatkan Hak Guna Usaha (HGU) atas tanah eks-perkebunan AGRIS NV secara langsung. Nama Bambang Trihatmojo yang merupakan pemilik perusahaan telah memberi dampak tersendiri bagi warga Desa Banjarnyar. Sehingga. PT. 48   . tetapi melalui PT Bukit Jonggol Asri selaku perusahaan induk. Cigugur. dan Bangunharja yang masuk kedalam daftar tanah yang akan dikelola oleh Pemerintah melalui Perusahaan Negara Perkebunan (PNP). Nama perusahaan ini mulai mencuat kepermukaan setelah terlibat dalam proyek pengembangan 30. Berdasarkan data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ciamis yang dihimpun hingga tahun 2010.

Masyarakat mulai berani untuk berbicara. yang sebagian besar berkerja disektor pertanian. melakukan penanaman bibit pohon jati di tanah seluas 708. Pada perjalanannya. proses jual beli inilah yang terjebak dalam kondisi yang tidak jelas. Pernyataan prihal tukar guling lahan antara PT. Cerita – cerita tentang ketidakadilan dan kemiskinan yang dialami oleh warga di sekitar lahan eks-perkebunan. mulai merebak ditengah – tengah masyarakat. Pada tahun 1996.5 hektar. PT. Perhutani selaku penerima hak pengelolaan tanah. Bapak Eman selaku Camat dari Kecamatan Banjarsari mengabarkan kepada masyarakat bahwa tanah eks-perkebunan AGRIS NV sudah tidak lagi dikelola oleh PT RSI. meskipun dalam perencanaan pengambangan perusahaan. memberi dampak psikologis bagi warga Kabupaten Ciamis. Tanah yang dahulu merupakan lahan perkebunan AGRIS NV akan dirubah menjadi perkebunan singkong terpadu. tidak ada kepastian tentang kapan waktu pembelian dan harga dari tanah yang akan dibeli oleh perusahaan. Sedangkan tanah – tanah yang telah digarap oleh rakyat akan dibeli dengan harga yang layak oleh perusahaan. Pasca kejadian tersebut. terutama Camat Kecamatan Banjarsari selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Dipihak Pemerintah Daerah. Kegiatan penanaman dan pengelolaan pohon jati oleh Perhutani kemudian terhenti pada tahun 1998.3 Pengorganisiran Petani Banjaranyar dan Aksi Perebutan Tanah Kerusuhan Tasik yang terjadi pada tanggal 26 Desember 1997 dan kejatuhan Presiden Soeharto dari tampuk kepemimpinan pada tahun 1998. beberapa hari setelahnya. mulai mempertanyaan prihal hak pengelolaan lahan yang dimiliki oleh Perhutani. 49   . Di dalam perencanaan pengembangan perusahaan yang disampaikan kepada masyarakat. pejabat IRPH Perhutani Ciamis.Mereka lebih memilih untuk diam. Dipihak masyarakat. Hak pengelolaan tanah tersebut sudah dialihkan kepada Perhutani. tanah – tanah garapan warga termasuk di dalam lahan yang akan digunakan oleh perusahaan. juga tidak dapat memberi kepastian prihal jual beli tersebut. RSI dengan Perhutani diperkuat dengan kehadiran Bapak Jamaludi. RSI berencana mengembangkan usaha gula singkong. khususnya masyarakat Desa Banjaranyar. Warga Desa Banjaranyar. 4.

Hingga setelah kurang lebih sebulan dilakukan penebangan pohon jati Perhutani. Ibu – ibu. Seiring berjalannya waktu. dengan harapan pelaku penebangan tidak diketahui oleh pihak berwajib. karena dinilai berbahaya dan penuh dengan resiko.Warga juga mulai mempertanyakan prihal apa manfaat yang dapat mereka terima dari hak pengelolaan tersebut. dari hari ke hari jumlah warga yang ikut melakukan penebangan makin bertambah. 50   . yang dimotori oleh Bapak Oman. berawal dari penebangan pohon jati Perhutani secara diam . TNI ataupun petugas Perhutani. Pada setiap malamnya. Aksi penyerangan lahan eks-perkebunan oleh warga. melainkan bertujuan merusak pohon jati yang menjadi simbol keberadaan Perhutani diatas lahan eks-perkebunan. Menurut penuturan Ibu Wati istri dari Pak Oman. seperti diwarung ketika berbelanja ataupun dipengajian rutin masjid. isu – isu yang berkembang di tengah masyarakat berubah menjadi aksi penyerangan terhadap lahan eksperkebunan. Ia dan para istri lainnya sesungguhnya tau apa yang dilakukan suami dan anak lelaki mereka. Penebangan pohon dilakukan pada malam hari. hampir seluruh lelaki Desa Banjaranyar ikut andil dalam penebangan tersebut. Pada gilirannya. Para lelaki Banjaranyar memang menjadi motor dalam aksi penebangan ini. Hal ini dibuktikan dengan dibiarkannya kayu hasil tebangan berserakan dikawasan perkebunan. dan anak – anak dilarang untuk ikut andil dalam penebangan. rata – rata warga berhasil menebang pohon jati seluas 5 hektar. Bahkan. ketika melakukan penebangan jati Perhutani. beberapa hari setelah penebanganpun tidak ada warga Banjaranyar yang mengambil kayu tersebut. Tetapi. Pak oman biasanya pergi pada pukul sebelas malam dan baru kembali sebelum adzan subuh atau sekitar pukul setengah empat pagi. Aksi penebangan pohon ini tidak bertujuan untuk mencuri kayu. tidak ada satu pun dari mereka yang mau membicarakan hal tersebut diruang publik. baik itu Kepolisian. Pada awalnya penebangan hanya dilakukan oleh lima orang.diam. Susana mencekam yang ada di desa mendorong mereka untuk tidak membicarakan aksi penebangan ini di ruang publik. para gadis.

Setelah seharian penuh diintrogasi oleh petugas. Meskipun tidak mendengar dan melihat secara langsung. Pada tahun 1999. Di dalam salah satu pernyataannya setelah menjadi Presiden. tetapi justru lebih mengobarkan semangat perlawanan. tetapi tidak melakukan pencurian kayu. Para pencuri kayu ini akan ditangkap dan dimasukan ke penjara. orang – orang yang menebang pohon jati perhutani merupakan para pencuri kayu. Pada akhir tahun 1998. masih terlalu muda untuk dijual. Banbinsa yang semula jarang melakukan pemeriksaan keliling desa. mulai rutin melakukan patroli. diputuskan bahwa aksi penebangan pohon jati dihentikan dan tanah – tanah yang kosong karena ditebang akan digarap oleh warga. 51   . Pak Oman diminta untuk mengakui bahwa ia dan warga lainnya telah melakukan pencurian kayu di wilayah kerja Perhutani. Isu yang berkembang pada saat itu. Pemanggilan Pak Oman ke Danrem Ciamis tidak menyurutkan semangat perlawanan warga. melalui Sidang Umum Istimewa MPR. Pria – pria berbaju dinas TNI dan Brimob dari Kepolisian mulai sering terlihat di sekitaran desa. mulai mengusik Perhutani selaku pengelola lahan.Besarnya luas lahan yang telah ditebang oleh warga. pernyataan Gus Dur prihal penggarapan tanah perkebunan juga sampai ketelinga warga Banjaranyar. Abdurahman Wahid atau Gus Dur terpilih menjadi Presiden Republik ke – 4. pada akhirnya Pak Oman mengakui bahwa ia melakukan penebangan kayu. Rumah Bapak Oman beberapa kali didatangi oleh anggota TNI yang menanyakan soal penebangan kayu di arel perkebunan. Gus Dur menyatakan bahwa rakyat diperbolehkan untuk menggarap tanah – tanah perkebunan dan tanah – tanah rakyat yang dahulu direbut oleh perkebunan akan dikembalikan kepada rakyat. Warga menjadi semakin solid dan berani menunjukan ketidaksukaan mereka terhadap kehadiran Perhutani dilahan eks-perkebunan. Pak Oman yang dipandang sebagai penggerak warga dipanggil oleh Danrem Ciamis untuk dimintai keterangan. Ia berdalih bahwa pohon – pohon jati yang berada dilahan eks-perkebunan AGRIS NV baru berumur 1 – 3 tahun. warga berkumpul disamping rumah Pak Oman untuk membicarakan kelanjutan aksi penebangan. Dari hasil musyawarah tersebut. Sehari setelah kembalinya Pak Oman ke desa.

Pasca tersebarnya kabar tersebut, semangat Warga Banjaranyar untuk menggarap dan menuntut hak atas tanah semakin membesar. Pada tanggal 26 April 1999 , warga Desa Banajaranyar bersepakat untuk membentuk Panitia Pembebasan Tanah. Panitia Pembebasan Tanah merupakan organisasi bentukan warga yang betugas untuk mewakili warga dalam memperjuangkan hak – hak mereka atas tanah. Pak Oman ditunjuk sebagai ketua dari panitia pembebasan tanah. Sedangkan jumlah anggota panitia pembebasan tanah, tidak pernah diketahui secara pasti. Karena tidak pernah dilakukan pendataan prihal jumlah anggota. Seluruh anggota panitia merupakan warga Banjaranyar yang mau ikut memperjuangkan hak mereka atas tanah eksperkebunan. Menurut Beno, salah seorang pemuda Desa Banjaranyar, pada waktu pembentukan panitia, warga sangat solid, setiap pertemuan panitia selalu disesaki warga. Pada waktu itu, penduduk Banjaranyar percaya bahwa dengan berjuang secara bersama mereka akan lebih mudah untuk mendapatkan tanah. Perjuangan yang dilakukan Panita Pembebasan Tanah Desa Banjaranyar tidak hanya sebatas memotori warga untuk melakukan penggarapan di tanah eksperkebunan. Pertemuan – pertemuan dengan para pemangku kepentingan lain juga dijalankan, seperti pertemuan dengan Dinas Kehutanan dan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Meskipun pertemuan - pertemuan tersebut bukanlah inisiasi warga Banjaranyar tetapi undangan dari pemangku kepentingan lain. Di dalam berbagai pertemuan dengan BPN, diketahui bahwa

sesungguhnya status tanah eks-perkebunan berada dalam kondisi yang tidak jelas. Hak Erfpacht yang dimiliki oleh AGRIS NV seharusnya hangus sebelum massa habis waktunya, yaitu tahun 1945. Pemerintah Hindia Belanda selaku pemberi Hak Erfpacht, telah jatuh dan digantikan dengan Pemerintah Republik Indonesia. Maka dengan sendirinya Hak Erfpacht yang telah dikeluarkan kepada AGRIS NV tidak berlaku lagi, karena Pemerintah Hindia Belanda sudah tidak ada. Selain itu, aksi tukar guling lahan antara PT. Bukit Jonggol Asri, selaku penerima Hak Guna Usaha (HGU) lahan eks-perkebunan, dengan Perhutani dinggap tidak sah. Hal ini dikarenakan tidak adanya bukti tertulis yang mendasari dilakukannya tukarguling lahan antara PT. Bukit Jonggol Asri dengan Perhutani. Baik Perhutani ataupun Badan Pertanahan nasional, sama – sama tidak dapat

52
 

membuktikan bahwa hak kelola lahan eks-perkebunan AGRIS NV telah diberikan kepada pihak Perhutani. Telebih lagi, pada akhir Desember 1999, Perhutani membantah telah mendapatkan hak kelola lahan dan tidak tau menahu soal tukar guling lahan eks-perkebunan AGRIS NV dengan PT. Bukit Jonggol Asri. Hal inilah yang kemudian menambah keyakinan warga untuk terus menggarap lahan eks-perkebunan. Karena tanah tersebut dianggap sebagai tanah tak bertuan.

4.3.1 Pertemuan Dengan Agustiana Pasca dilakukannya pertemuan dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) di Kota Ciamis. Pak Oman dan beberapa orang warga Banjaranyar bertemu dengan Agustiana yang pada saat itu bergabung dengan aktivis mahasiswa Ciamis, Tasik, dan Garut dalam YAPEMAS (Yayasan Pengembangan Masyarakat). Di dalam pertemuan tersebut Agustiana mengajak warga Banjaranyar untuk melakukan perjuangan bersama dalam memperjuangkan hak atas tanah dengan membentuk Serikat Petani Pasundan (SPP). Menurut Agustiana, pada tahun 1999 di daerah Priayangan Timur begitu banyak kasus persengketaan tanah, baik itu di atas tanah perkebunan ataupun di atas tanah kehutanan (Perhutani). Pasca terjadinya reformasi pada tahun 1998, warga yang semula ditekan oleh Pemerintah Orde Baru mulai berani menuntut hak mereka atas tanah. Hal ini dibarengi dengan meningkatnya gerakan mahasiswa di kawasan Ciamis, Tasik dan Garut. Ia berpendapat bahwa, gerakan mahasiswa yang membesar pada tahun 1998 dapat bertahan, hanya apabila bergabung dengan gerakan rakyat, seperti gerakan petani dalam menuntut tanah. Menurut Bapak Oman, Agustiana mengajak warga Banjaranyar untuk bergabung membentuk Serikat Petani Pasundan (SPP) dan membubarkan Panitia Pembebasan Tanah. Panitia Pembebasan Tanah dianggap tidak akan dapat bertahan lama, karena hanya bertujuan untuk mendapatkan tanah dan selesai pada kasus Banjarnyar. Sedangkan Serikat Petani Pasundan (SPP) tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan hak atas tanah tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan tanah tersebut. Selain daripada itu, bergabungnya warga Banjaranyar dapat menjadi penyokong dalam membantu

53
 

penyelesaian kasus sengketa tanah di desa – desa lain di wilayah Ciamis, Tasik, dan Garut. Pasca pertemuan dengan Agustiana di depan gedung BPN, Pak Oman mengumpulkan warga Banjaranyar untuk membicarakan usulan bergabungnya gerakan warga Banjaranyar dalam menuntut hak atas tanah dengan Serikat Petani Pasundan (SPP). Pertemuan yang digelar setelah waktu sholat isya dan diadakan di dekat rumah Pak Oman juga turut dihadiri Agustianan sebagai perwakilan dari YAPEMAS. Setelah melakukan beberapa kali pertemuan, pada akhirnya warga Banjaranyar bersepakat untuk bergabung dengan Serikat Petani Pasundan (SPP). Tanggal 24 Januari 2000 di Kota Garut, bersama dengan petani dari daerah Ciamis, Tasik, Garut, warga Desa Banjaranyar ikut mendeklarasikan berdirinya Serikat Petani Pasundan (SPP). Panitia Pembebasan Tanah yang semula menjadi wadah organisasi gerakan petani Banjaranyar dalam menuntut hak atas tanah dibubarkan dan digantikan dengan Organisasi Tani Lokal (OTL) Banjaranyar.

4.4 Makna Tanah Bagi Petani Banajaranyar “dulu beno waktu awal nikah, beras aja dikirim dari sini. Coba liat sekarang, alahamdulillah udah mulai bisa mandiri. Tanah dia 250 bata ajah, cukup tuh buat idup...” (Wati, petani penggarap) Hubungan – hubungan yang terjadi antara tanah dengan petani Banjaranyar tidak hanya didasarkan pada hubungan ekonomi semata. Tanah boleh jadi merupakan tempat dimana mereka menjalani mata pencaharian sebagai petani. Terlebih lagi, diatas tanah tersebut jugalah petani Banjarnyar menjalin hubungan yang berdasarkan ikatan – ikantan solidaritas sosial. Ketika ada petani yang gagal panen atau mengalami musibah maka beban ini tidak semata – mata ditanggung oleh petani tersebut. Begitu pula ketika terdapat salah saorang anak muda yang baru menikah. Anggota komunitas lainnya secara swadaya akan membantu guna mengurangi beban yang diderita. Bantuan sering kali berupa beras dan hasil bumi lainnya, tetapi tidak jarang bantuan dapat pula berupa pekerjaan seperti menggarap tanah garapan tetangganya.

54
 

Sebagian besar masyarakat merupakan orang yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. petani penggarap) Bagi petani Banjaranyar tanah erat kaitannya dengan rasa aman. 55   . Kuatnya institusi Negara dan Pemerintahan yang cenderung represif selama masa Orde Baru.. “susah berarti kalo gak punya tanah.. Hal inilah yang kemudian menciptakan ketergantungan yang tinggi antara penduduk Banjaranyar dengan tanah. paling sewa buat balong. kalo ada gitu anak muda sini yang gak ada tanah. petani Banjaranyar berani melakukan gerakan perlawanan..“kalo saya mening punya tanah tapi susah makan daripada bisa makan tapi gak punya tanah.” (Jandi.” (Ati. paling sekarang – sekarang aja ada yang beli. lagian sih. orang sini tanah jarang yang beli. bahwa masih ada harapan akan hasil panen dari tanaman di atas tanah garapan. Bingung de. dan miskin semangatnya. Sekdes Banjaranyar) Penduduk Banjaranyar cenderung tidak memiliki banyak pilihan mata pencaharian.. membuat petani Banjaranyar tidak mampu untuk melakukan gerakan perlawanan. Baru setelah kejatuhan rezim Orde Baru dan melemahnya institusi Negara pada tahun 1998. Keberadaan tanah garapan memungkinkan petani untuk dapat memanfaatkan potensi dari tanah tersebut. Sehingga Tercipta garansi – garansi secara psikologis. menciptakan kepercayaan diri bagi si petani dalam mengarungi hidup.. Orang yang tidak punya tanah garapan dipersepsikan sebagai manusia yang miskin ekonominya.... masa tinggal ngegarap aja gak mau... Rasa aman yang diberikan dari keberadaan tanah inilah yang kemudian terusik dengan kehadiran PT RSI dilahan eks-perkebunan pada awal tahun 1980an.. berarti kan dia males orangnya... kalo gak punya tanah mah. Aman dari sisi ekonomi berarti petani tersebut mempunyai jaminan atas penghasilan yang akan didapatnya dari hasil pertanian. miskin kemauannya. aman dari sisi ekonomi dan aman sisi sosial. Aman dari sisi sosial dapat dilihat dari persepsi masyarakat prihal orang yang tidak punya tanah garapan. sepetak aja gitu.... itu juga bukan beli... dijamin susah cari istri juga. dari dulu juga kan.

. “ijon” tanaman kayu rakyat. Tanah. Orang yang dianggap berjasa dalam perjuangan perebutan tanah akan mendapatkan empat hingga lima kavling tanah...” (Oman. tinggal ke haji belom.. baik itu setifikat kepemilikan per-individu ataupun secara kelompok. Petani yang menggarap tanah satu kavling akan ditarik iuran sebesar dua puluh ribu rupiah dan untuk dua kavling akan dikenakan iuran empat puluh ribu rupiah.” (Adminah.. Apabila masing – masing warga hanya mendapatkan satu hingga dua kapling tanah. Pasca masa perebutan tanah eks-perkebunan AGRIS NV oleh warga. tar kalo dah gede baru jual.... garap juga gak kuat. Sebagai contoh. ibu kan dah tua. iuran wajib bulanan di Organisasi Tani Lokal (OTL) Banjaranyar didasarkan pada luasan tanah yang digarap oleh masing – masing petani. mesti gelut dulu sama orang yang loreng – loreng itu. petani penggarap) Segala macam kegiatan ekonomi yang terjadi diatas tanah garapan memang tidak dapat menyingkirkan makna tanah dari unsur ekonomi. dan jual beli pohon dibawah tegakan kayu. Karena Badan Pertanahan Nasional (BPN) selaku pihak yang berwenang belum mengeluarkan setifikat kepemilikan atas tanah tersebut. jadi gak bakal dijual.Secara de jure.. kepikiran juga enggak.. bapak dapetnya susah. makanya nanem jengjeng. nambahin ongkos munggah haji.. 56   . tanah dijadikan alat penghargaan bagi warga Banjaranyar yang dinggap berjasa bagi perjuangan perebutan tanah. sesungguhnya petani yang menggarap tanah eksperkebunan AGRIS NV belum diakui kepemilikan atas tanah garapannya oleh Negara.. mudah kita temui di Desa Banjaranyar... Kegiatan – kegiatan seperti “ngaborong” untuk pekerja penggarap tanah... “tanah itu idup mati.. bagi petani Banjaranyar juga dapat dipandang sebagai sarana ekstistensi mereka dikehidupan bermasyarakat. dengan satu kavling sama dengan dua ratus lima puluh bata. Orang – orang tersebut mendapatkan tanah garapan lebih besar daripada warga pada umumnya. petani penggrap) “embung jual tanah sih.

Bergabungnya gerakan Banjaranyar dengan Serikat Petani Pasundan (SPP) ditandai dengan ikrar bersama di Garut pada tahun 2000.1 Organisasi Gerakan Bergabungnya gerakan petani Banjaranyar dengan Serikat Petani Pasundan (SPP) membawa sejumlah konsekuensi. Tasik. Pada tanggal 26 April 1999. Panitia Pembebasan Tanah Banjaranyar dibubarkan dan digantikan dengan Organisasi Tani Lokal (OTL) Banjaranyar. OTL berdiri ditingkatan desa dengan tujuan menjaga kesinambungan gerakan massa di tingkat akar rumput. Wajib memiliki rasa solidaritas baik sesama anggota maupun sesama manusia tanpa memandang suku. Garut. Oraganisai Tani Lokal (OTL) Banjaranyar merupakan salah satu dari organisasi petani lokal yang berada dibawah Serikat Petani Pasundan (SPP). kepatuhan pada segala tata pertaturan di dalam SPP. warga Banjaranyar membentuk Panitia Pembebasan Tanah Banjaranyar. OTL juga merupakan sarana penghubung atau jalur informasi antara anggota SPP di desa dengan kesekertariatan SPP di Kota Ciamis. Sekjen SPP. yang diikuti oleh warga Banjaranyar dan petani lain dari wilayah Ciamis. dan kesediaan untuk mengikuti aksi – aksi atau demonstrasi yang dilakukan oleh SPP. mekanisme penerimaan anggota. pendirian OTL baik itu di Desa Banjaranyar ataupun di desa – desa lainnya bertujuan untuk menjaga massa pada tingkat akar rumput agar tetap teguh pada garis perjuangan SPP. Organisasi ini merupakan wadah perjuangan warga Banjaranyar untuk mendapatkan hak atas tanah di lahan eks-perkebunan AGRIS NV. Pasca bergabungnya warga Banjaranyar dengan Serikat Petani Pasundan (SPP). OTL inilah yang kemudian mempermudah sekertariat SPP untuk mendapatkan gambaran tentang kondisi desa dan segala permasalahan yang ada di dalam masyarakat desa. yaitu : 1.BAB V GERAKAN PETANI BANJARANYAR 5. Selain bertujuan untuk menanamkan nilai – nilai gerakan. 57   . Menurut Agustiana. Konsekuensi tersebut berupa pembubaran Panitia Pembebasan Tanah Banjaranyar. Pendefinisian garis perjungan SPP dijabarkan melalui 9 kewajiban anggota SPP.

dan Koordinator wilayah Ciamis. Wajib menjadi pemimpin masyarakat yang arif dan bijaksana. Tetapi khusus untuk wilayah Kabupaten Ciamis. 8. Koordinator wilayah Tasik. OTL Banjaranyar berada di bawah Koordinator wilayah Ciamis. Pada lapisan atas terdapat terdapat Kongres Dewan Pimpinan OTL sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. 7. dan divisi informasi dan telekomunikasi. 4. guna memenuhi kebutuhan organisasi keberadaan divisi mengalami beberapa penyesuaian. 5. Ciamis Selatan. dan Ciamis Utara. yaitu divisi pengembangan ekonomi masyarakat dan divisi hukum yang kemudian berkembangan menjadi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) SPP. Wajib mengikuti dan membangun sikap bergotong royong. Wajib ikut melaksanakan musyawarah dalam pengambilan keputusan organisasi. Wajib berjuang untuk mendapatkan kesejahteraan dan kehidupan yang layak. Wajib iman dan takwa terhadap Allah SWT. Hingga saat ini. Wajib menjaga lingkungan hidup dan kelestarian alam. 9. Hal ini disebabkan karena banyaknya kasus sengketa lahan yang ada di wilayah Kabupaten Ciamis. Wajib mencari ilmu dan membangun kepintaran dan kecerdasan. Pada perkembangannya. Secara struktural keberadaan divisi masuk ke dalam kesekertariatan Sekjen. Tiga orang kepala divisi dibagi berdasarkan fungsi pendukung oraganisasi. Tiga orang koordinator yang dibagi berdasarkan wilayah kerja. yaitu Koordinator wilayah Garut. terdapat dua divisi baru. 6. Wajib memperjuangkan kebenaran dan keadilan yang hakiki. tepatnya Ciamis Tengah. wilayah kerja dibagi kembali menjadi tiga yaitu Ciamis tengah. Di dalam menjalankan roda organisasi Sekjen akan dibantu oleh tiga orang Koordinator.2. Organisasi Tani Lokal berada pada lapisan yang paling bawah. 58   . seperti divisi penguatan organisasi. divisi pengolahan sumberdaya hutan. Kongres akan memberikan mandat penuh kepada seorang Sekertaris Jendral (Sekjen) untuk menjalankan organisasi. 3. tiga orang deputi atau wakil dan tiga orang kepala divisi.

hingga saat ini pertanggungjawaban tersebut belum pernah dilakukan. DPP Wilayah  Koord. DPP Wilayah  Koord DPP Kab Garut  Koord. dalam hal ini Sekjen SPP kepada Dewan Pimpinan OTL. Hal ini merujuk pada profile SPP yang dikeluarkan pada tahun 2001. DPP Wilayah  Koord DPP Kab Ciamis  Koord. maka orang tersebut wajib memenuhi beberapa persyaratan atau disebut sebagai tata tertib anggota. DPP Wilayah  Koord. seharusnya dilakukan satu kali setiap dua tahun. Hingga saat ini tercatat. Semenjak berdirinya SPP pada tahun 2000 hingga dilakukannya penelitian ini pada tahun 2010. Sekjen Serikat Petani Pasundan (SPP) tetap dipegang oleh Agustiana. Mendaftarkan diri pada dewan pimpinan Organisasi Tani Lokal setempat dan direkomendir oleh Koordinator Dewan Pimpinan Organisasi Tani Lokal. yaitu : 1. DPP Wilayah  DPP OTL  DPP OTL DPP OTL  DPP OTL  DPP OTL DPP OTL  Anggota Gambar 4. Struktur Organisasi Serikat Petani Pasundan (SPP) Organisasi Tani Lokal (OTL) Banjaranyar beranggotakan warga masyarakat Desa Banjaranyar. Pada prakteknya. DPP Wilayah Koord DPP Kab Tasikmalaya  Koord. Kongres Dewan Pimpinan OTL Kesekretariatan Sek. terdapat 190 Kepala Keluarga (KK) yang terdaftar sebagai anggota dari OTL Banjaranyar. 59   .Jen  Koord. Lama waktu kepengurusan seorang Sekjen tidak diketahui secara pasti.Pertanggungjawaban sekertariat SPP. Apabila ada seseorang yang berkeinginan untuk menjadi anggota. Tetapi. mekanisme pertanggungjawaban dilakukan melalui temu OTL yang dilakukan setiap tiga bulanan di sekretariat SPP.

Berjuang membangun kepintaran dan kecerdasan. 6. cukup 60   . Memperjuangkan hak untuk membangun kesejahteraan ekonomi. 4. 13. Memelihara dan menjaga keseimbangan lingkungan hidup yang berkeadilan dan kesetaraan. Di dalam PPT tidak dikenal adanya persyaratan khusus untuk masuk menjadi anggota organisasi. Melaksanakan 9 (Sembilan) Wajib SPP. yaitu Panitia Pembebasan Tanah (PPT). 10. Melaksanakan agenda dan program yang telah diputuskan secara parsitipatif oleh musyawarah Dewan Pimpinan Organisasi Tani Lokal. 11.2. 14. 5. Mengontrol dan mengawasi kinerja Dewan Pimpinan Organisasi Tani Lokal masing-masing. Membayar iuran wajib anggota yang diputuskan secara musyawarah yang besarnya ditetapkan oleh musyawarah Dewan Pimpinan Organisasi Tani Lokal masing-masing. Menjaga nama baik Serikat Petani Pasundan. Berjuang merebut keadilan dan kecerdasan. 8. sosial. Meningkatkan kebersamaan dan gotong-royong. Hal ini jelas berbeda dengan organisasi yang sebelumnya dibetuk oleh warga Banjaranyar. Hal-hal yang belum tercantum dari poin 1 sampai dengan poin 13 akan diatur dan dimusyawarahkan dikemudian hari. 12. Menjalin silahturahmi dengan sesama anggota dan pimpinan Organisasi Tani Lokal dan sesama anggota lainnya 7. 3. 9. dan budaya bagi anggota. Seluruh warga Banjaranyar yang berkeinginan bergabung dengan PPT. politik. Memiliki kartu anggota Serikat Petani Pasundan.

tidak ditetapkan oleh OTL Banjaranyar sendiri. Setelah disepakati oleh seluruh anggota Dewan Pimpinan OTL SPP. asalkan orang tersebut merupakan anggota SPP. barulah kemudian ketua OTL diberikan hak untuk dapat memilih sekertaris dan bendahara. Maka. dengan sendirinya orang tersebut sudah menjadi anggota PPT. Pendamping inilah yang kemudian bertugas mengadvokasi para petani dan menyadarkan petani prihal hak dan kewajiban mereka. Tasik. yaitu Garut. Setelah seorang ketua terpilih menjadi ketua OTL. Mekanisme pemilihan ketua OTL di Desa Banajaranyar dilakukan secara musyawarah. dalam artian keduanya memiliki kewajiban untuk mentaati 9 wajib anggota. Seluruh anggota OTL berhak mencalonkan siapapun. Ciamis. untuk segera dilaksanakan. Pendamping adalah para mahasiswa yang ikut andil dalam perjuangan petani.datang dan ikut aktif di dalam setiap rapat dan kegiatan PPT. Butir – butir peraturan baik itu 9 wajib anggota ataupun tata tertib anggota. khususnya hak petani atas 61   . Anggota merupakan para petani yang berada di desa dalam wilayah kerja dan berada di bawah koordinasi OTL. tetapi juga bertindak sebagai pemersatu dari para anggota OTL. Secara struktural. Di dalam tubuh SPP terdapat dua macam keanggotaan yaitu anggota dan pendamping. Hal ini merupakan salah satu konsekuensi yang harus ditanggung gerakan petani Banjaranyar ketika bergabung dengan SPP. Sebagian besar pendamping merupakan mahasiswa yang berasal dari universitas yang ada tiga Kabupaten di Priyangan Timur. Sistem keanggotaan yang ada di OTL Banjaranyar memang merujuk pada pada sistem keanggotaan yang ada di Serikat Petani Pasundan (SPP). maka peraturan tersebut akan disebarkan keseluruh anggota. Kedua tipe anggota tersebut diperlakukan sama. Seluruh peraturan yang ada dimusyawarahkan di dalam rapat Dewan Pimpinan OTL Serikat Petani Pasundan (SPP). dan segala keputusan Dewan Pimpinan OTL SPP. Keberadaan ketua OTL tidak hanya bertugas untuk menjalankan amanah organisasi. tata tertib anggota. pendamping SPP berada di dalam kesekertarian Sekjen dan bertanggungjawab langsung kepada Sekjen SPP. OTL Banjaranyar dipimpin oleh seorang ketua yang dibantu sekertaris OTL dan bendahara OTL.

Pada mulanya. dibentuklah organisasi untuk mewadahi perjungan guna mendapatkan hak atas tanah. memang dianggap sebagai cara yang paling ampuh untuk merebut dan mempertahankan tanah. orang dagang. semua orang dateng. Polisi juga takut kalo gitu mah. Setelah dianggap memiliki kekuatan yang cukup. telah memperbesar ruang gerak dari gerakan petani Banjaranyar. yaitu Karesidenan Priayangan Timur. dateng semua.2 Strategi Gerakan Bergabungnya gerakan petani Banjaranyar dengan Serikat Petani Pasundan (SPP). Meskipun. tetapi seluruh warga Desa Banjaranyar. Pendudukan ini diawali dengan pemotongan pohon – pohon jati Perhutani.. Orang tani. Penyebaran ide – ide perjuangan dilakukan melalui pertemuan desa. rembuk warga. persatuan diantara warga Banjaranyar. penggabungan ini juga berdampak pada strategi gerakan yang digunakan.. 5. serta pembicaraan informal lainnya. yang dikuti dengan penggarapan dilahan tersebut. petani penggarap) Persatuan yang terjadi di antara warga desa juga disokong oleh penyebaran ide gerakan yang gencar dilakukan oleh para anggota panitia. lebih banyak menggunakan 62   . Media komunikasi yang dipakai. masa dia mau nangkep sekampung. Guyub ajah yang penting. Pada periode tahun 1999 – 2000 ketika terbentuknya panitia pembebasan tanah. pertemuan panitia tanah. guru.tanah.” (Oman.. Emang keliatan si. tiap ada pertemuan rame. “waktu panitia kita pikir gini. perlawanan yang dilakukan oleh petani Banjaranyar berupa pendudukan lahan eks-perkebunan. Penyebaran ide perjungan tidak hanya terbatas pada para petani penggarap.. Gerakan petani yang semula hanya berputar pada lingkup desa dan satu daerah reclaim berkembang menjadi sebuah gerakan petani ditingkatan regional. Selain meluasnya ruang gerak. kan gak mungkin. tidak jarang pada prakteknya para pendamping ini harus juga belajar bercocok tanam kepada para petani. yang penting nyatu dulu. Terbentuknya organisasi yang kemudian disebut sebagai Panitia Pembebasan Tanah Banjaranyar berhasil meningkatkan persatuan diantara petani penggarap.

. serta audiensi dengan para pemangku kepentingan belum dilakukan secara maksimal. dan juga khalifah dalam membuat dan menjalankan kebijakan di tingkatan desa. Karena manusia memang tugasnya jadi khalifah. Tidak ada selebaran ataupu pamflet yang disebarkan untuk memasifkan gerakan.. dapat memiliki tanah.. melainkan hanya kepada anggota SPP.. “kami mengesampingkan negara. Strategi perjuangan yang digunakan pada massa terbentuknya panita pembebasan tanah memang lebih bersifat ke dalam desa. penguatan jaringan dengan aktivis mahasiswa dan LSM. Perjuangan keluar desa yang sempat dilakukan oleh panitia pembebasan tanah. Khalifah dimuka bumi. setelah bergabungnya gerakan petani Banjaranyar dengan dengan Serikat Petani Pasundan (SPP). seluruh anggota SPP diwajibkan untuk menjadi seorang khalifah... Bahkan. Di dalam profile SPP yang dikeluarkan pada tahun 2001.komunikasi langsung dari mulut ke mulut. Sistem keanggotaan yang diterapkan oleh SPP telah merubah tata cara penyebaran ide gerakan di dalam desa. dan juga terlibat dalam proses pembuatan kebijakan di tingakat desa. Jadi seluruh anggota SPP harus mampu ngasih manfaat kedesanya. Pada tahun 2000. karena fungsi negara proses dari rakyat ini. Sekjen Serikat Petani Pasundan) Seluruh anggota OTL Banjaranyar selalu didorong untuk dapat berperan di desa. Bagaimana agar rakyat didesa tidak miskin. anggota OTL juga dituntut untuk ikut dalam program pemerintah pusat yang mengalir ke desa. Penggunaan strategi guna memanfaatkan sumberdaya. baik yang bersifat kedalam ataupun keluar desa. dan harus mau dan mampu jadi pemimpin di desa. ataupun institusi di luar desa seperti penggunaan media massa. khususnya OTL Banjaranyar. Selain ikut andil dalam program – program yang dikeluarkan oleh Pemerintah desa.. strategi yang digunakan dalam melakukan perlawanan mengalami perubahan. pemimpin. baru berupa pertemuan dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Ciamis diakhir tahun 1999. Penyebaran ide gerakan tidak lagi ditujukan kepada seluruh warga desa. individu.” (Agustiana. pada periode kepemimpinan 63   .. khalifah dalam menguasai sumberdaya agraria.

bertugas untuk mengurus perizinan aksi di Kepolisian. Serikat Petani Pasundan (SPP) tidak hanya berisikan para petani. serta mengurus 64   . Perubahan strategi gerakan jelas terlihat pada hubungan gerakan petani Banajaranyar dengan berbagai kekuatan diluar desa.saat ini Kepada Desa Banajaranyar merupakan anggota Serikat Petani Pasundan (SPP). Pada setiap aksi demontrasi. Kehadiran para mahasiswa inilah yang kemudian memberikan warna baru pada strategi gerakan yang digunakan. rasa takut apabila melakukan perlawanan di luar desa. Menurut Hermawan. tetapi juga para mahasiswa yang kemudian menjadi pendamping di dalam organisasi. salah satu pendamping yang ada di OTL Banajaranyar. Berbagai macam peran yang diambil oleh anggota OTL di desa. baik itu ke Pemerintah Pusat (Jakarta) ataupun ke Pemerintah Daerah (Bandung dan Ciamis). menghubungi media masa. dan perbekalan selama dilakukannya aksi demontrasi. Keterbatasan dana. Pasca tahun 2000.000. petani Banajaranyar tidak pernah sekalipun melakukan aksi demontrasi. Bagi para pendamping yang bertugas di kesekertariatan Sekjen. untuk mengangkut masa aksi. perjuangan mendapatkan tanah merupakan perjalanan yang penuh dengan rintangan. sudah ada semacam pembagian tugas. untuk setiap kavling tanah garapan anggota akan dikenai iuran sebesar Rp 20. Besaran iuran aksi disesuaikan dengan luas tanah yang digarap. menetukan target dan tuntutan aksi. dapat dikatakan bertujuan untuk meminimalisir resistensi yang berasal dari dalam desa. Pada massa panitia pembebasan tanah. jauhnya jarak antara Desa Banjaranyar dengan pusat pemerintahan dan ketidaktahuan tentang apa itu demontrasi menjadi beberapa faktor penyebab tidak dipilihnya demonstrasi sebagai strategi perlawanan. Uang hasil iuran anggota tersebut kemudian digunakan untuk menyewa truk. Segala macam rintangan tersebut akan menjadi berkali – kali lipat kesulitannya apabila di dalam desa sendiri ada resistensi pada keberadaan OTL Banjaranyar (SPP). Para pengurus OTL di Desa Banjaranyar bertugas untuk mengumpulkan massa aksi dan uang dari para anggota. sudah tidak terhitung berapa kali OTL Banjaranyar sudah melakukan aksi demontrasi.00.

. Gubernur. Kemampuan media untuk dapat membentuk opini masyarakat. kan dia jadi tau kalo kita ini masih terus berjuang. pendamping Serikat Petani Pasundan) Strategi gerakan yang baru pada tahun 2004 mulai dilakukan ialah intervensi pada ranah politik praktis. yaitu Garut. Tasik. “pake wartawan kan supaya semua orang jadi tau. Demontrasi yang dilakukan Serikat Petani Pasundan (SPP) tidak hanya diikuti oleh OTL Banjaranyar. kasih dong. yang menyatakan bahwa anggota SPP merupakan para pencuri kayu. dianggap dapat membantu perjungan mereka... mas juga jadi tau. 65   . Perubahan sistem pemilihan umum dimanfaat dengan cara memasukan anggota SPP menjadi calon anggota legislatif. DPRD). terutama masyarakat di luar lingkup desa. Tuntutan yang dibawa ialah permintaan kepada Kepala Dinas Kehutanan Jawa Barat untuk mencabut penyataannya. dan Ciamis. orang Jakarta tau. Seluruh penduduk Indonesia yang telah memenuhi persyaratan. Aksi demontrasi terakhir yang dilakukan pada Juli 2010. baik saat demonstrasi ataupun tidak. posisi penting SPP berada pada arah dukungan masa gerakan.. Bupati) dan perwakilan dilegislatif (DPR. Hingga saat ini terdapat 36 OTL yang tersebar di tiga wilayah Kabupaten. Begitu pula dengan Pemilu Kepala Daerah Kabupaten Ciamis. Ada apa disini.. Pejabat juga kan sering susah ditemuin nya. berhak memilih langsung pemimpin diekskutif (Presiden. baik ditingkat eksekutif ataupun legislatif. Penggunaan media masa. juga merupakan hal baru bagi gerakan petani Banjaranyar..bantuan hukum apabila ada anggota yang tertangkap selama demonstrasi berlangsung.” (Hermawan. tetapi seluruh OTL wajib mengikuti setiap aksi demonstrasi. Pada tahun 2004 sistem pemilihan umum (Pemilu) di Indonesia dirubah menjadi sistem pemilihan langsung.. Bandung tau. Kalo berita kita ada di tipi sama koran gitu.. Hingga saat ini terdapat empat orang anggota SPP yang telah menjadi anggota dewan di DPRD Ciamis. tidak kurang dari 6000 orang turut memenuhi Kota Bandung dengan satu tuntutan. mekipun tidak ada anggota SPP yang mencalonkan diri sebagai Bupati.. hoyong tanah yeuh pak.

guna melawan kelas – kelas penindas.. Sekjen Serikat Petani Pasundan) Intervensi keranah politik praktis. berangkat dari kesadaran bahwa perjuangan perebutan hak – hak petani atas tanah sulit berhasil bila tidak ada dukungan dari pemerintah... biar bisa ngingetinnya tiap hari..” (Jek..... kepemimpinan merupakan salah satu syarat penting terbentuknya gerakan petani. saya juga yakin gak bakal menang tuh. Gerakan petani merupakan sarana yang digunakan untuk dapat memaksa pemerintah memperhatikan hak – hak petani.3 Kepemimpinan Selayaknya yang dinyatakan oleh Scott (1971). Rabu 2 Juni 2010. Pria berusia 57 tahun ini telah lima jam berada di ladang. Di dalam prosesnya SPP.. kalo diingetin susah ya kita masuk dong.. makanya sekarang blangsak gitu. kan urusan masing – masing.. Perwakilan inilah yang kemudian bertugas untuk memimpin dan membantu mereka. Marx (1875) menganalogikan petani seperti kentang di dalam keranjang.. Koordinator Wilayah Ciamis Serikat Petani Pasundan) 5. kopi. ngapain kita dukung puying jadi anggota DPRD.. dijamin gak bakal didukung sama SPP. singkong.. pisang.. Ladang yang berisi tanaman cokelat (kakao).” (Agustiana. Kita ini mau ingetin pemerintah kalo petani itu ada. Tubuh tua Oman sudah tidak lagi mampu bekerja sehari penuh di ladang. yang meskipun bersatu susungguhnya terpisah antara satu dengan yang lain. termasuk OTL Banjaranyar di dalam nya. Dosa tuh dia. “dulu waktu susno jadi Kapolda..... Sesekali ia mengeluhkan 66   . petani itu susah. pukul dua siang Oman kembali kerumah. kan kita dituduh makar. kalo mau makar.“SPP itu tidak akan mendukung salah satu calon. dan dua buah balong (kolam ikan) dirawatnya setiap hari dengan bantuan istri dan beberapa orang tetangga. kalo orang – orangnya saya gak bisa jamin ya.. tapi bagi calon bupati yang tidak mendukung perjuangan SPP. memilih untuk tidak hanya memaksa dan menunggu kebaikan Pemerintah tetapi juga berperan aktif dalam terhadap jalannya pemerintahan. Petani membutuhkan perwakilan yang berasal dari kelas yang berbeda untuk menyatukan dan menyatakan diri mereka ke dalam sebuah kelas.

Oman mengajak beberapa warga untuk membabat tanaman jati yang ditanam Perhutani di lahan eks-perkebunan. Ia bukanlah seorang orator ulung yang dapat membuat orang – orang terpukau ketika berpidato.kondisi tubuhnya yang mudah sekali lemas. buat idup aja. 67   . Berdasarkan tipe – tipe kepemimpinan. Terlebih lagi penyakit chikungunya yang dideritanya dalam tiga minggu terakhir membuat seluruh persendiannya sering terasa sakit. Oman ditunjuk sebagai ketua. Tahun 1998. kalo warga disini udah pada kaya sih gak papa. kepemimpinan Oman dapat digolongkan kedalam tipe kepemimpinan paternalistik. seperti soal tanah garapan. Siapa yang menyangka.” (Oman.. tapi ini kan susah. Warga Banjaranyar sering datang ke rumah Oman untuk bertanya prihal banyak hal. Petani Panggarap) Oman dipandang sebagai seorang yang gigih dan berpengetahuan luas. Kemampuan Oman dalam mempengaruhi orang lain ketika berbicara secara langsung. permasalahan seputar pertanian. Pengalamannya selama lebih dari 25 tahun menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Penampilan Oman dirasa kurang meyakinkan untuk menjadi seorang pemimpin gerakan petani... juga terdapat hak mereka. Pada saat pembentukan Panitia Persiapan Tanah Banjaranyar. mau idup aja mesti ke kota. lelaki ini telah berhasil membakar semangat warga Banajaranyar untuk merebut tanah eks-perkebunan AGRIS NV. Oman lebih banyak diam ketika aksi demonstrasi ataupun pertemuan dengan para pemangku kepentingan. Oman dihormati di desa sebagai seorang tetua desa... tetapi juga karena dipandang sebagai orang yang mampu memberi suri tauladan... hingga sekolah yang baik untuk anak – anak mereka. bukan hanya karena sudah cukup berumur.. “tanah ada didepan mata masa digarap aja gak boleh. Ia berusaha menyadarkan warga bahwa di dalam tanah eksperkebunan. Kejatuhan rezim Orde Baru menciptakan momentum dan menumbuhkan keberanian diantara warga Banjaranyar untuk melawan... cukup membuat ia mengetahui kondisi diluar desa. ngegarap juga bukan buat dijual. membuat aksi pembabatan pohon jati semakin mudah dilakukan. terutama pada waktu malam hari.

dengan memanfaatkan momentum reformasi. Garut. Agustiana dan beberapa aktivis mahasiswa melakukan pengorganisiran petani di wilayah Ciamis. Oman jugalah yang menyusun strategi selama pembabatan berlangsung. Bergabungnya gerakan petani Banjaranyar. baik para anggota ataupun orang luar desa. 68   . Tidak banyak perubahan pada gaya kepemimpinan Oman. pasca terjadinya kerusuhan Tasik pada tahun 1997. Para anggota diberikan ruang untuk menyampaikan keluh kesah dan segala permasalahan pribadi mereka. Selain membuka ruang untuk para anggota disetiap pertemuan rutin. Apabila ada yang tidak tersampaikan pada pertemuan rutin. baik itu di lahan perkebunan ataupun Perhutani. maka Agustiana merupakan sosok pemimpin yang kharismatik. Nama Agustiana mulai dikenal oleh penduduk Priyangan Timur dan sekitarnya. Oman selalu kedatangan tamu. Apabila Oman memiliki gaya kepemimpinan yang paternalistik. yaitu Priyangan Timur. Pada saat gerakan petani Banjaranyar meleburkan diri kedalam Serikat Petani Pasundan. Oman yang merupakan pemimpin gerakan petani pada tingkat desa bertemua dengan Agustiana yang merupakan pemimpin gerakan petani ditingkat daerah. ia juga menjadikan rumahnya sebagai rumah bagi semua orang. oman kembali ditunjuk menjadi Ketua Organisasi Tani Lokal (OTL) Banjaranyar. Persoalan – persoalan yang dibahas tidak melulu mengenai tanah garapan dan strategi aksi perlawanan.Ia adalah penggagas aksi pembabatan pohon jati Perhutani. setiap anggota OTL bisa menyampaikannya di rumah Oman. Letak rumah Oman berada di tengah jalur penghubung antara Kota Banjarsari dengan Desa Pasawahan dan Desa Bangunkarya. Sehingga. Kedua orang ini mempunyai tipe kepemimpinan yang berbeda. Hampir setiap hari selepas bekerja di ladang. para anggota ataupun pendamping SPP dari desa lain sering kali singgah di rumah Oman. Pengorganisiran ini difokuskan pada aksi perebutan hak atas tanah. Ia dan beberapa orang lainnya ditangkap oleh pihak Kepolisian dan dituduh sebagai dalang dari kerusuhan Tasik. Pertemuan rutin anggota ia buat sedemikian rupa sehingga tidak terasa membosankan bagi anggota. dan Tasik. juga dapat dikatakan sebagai pertemuan dua orang pemimpin. Ia lebih sebagai “bapak” bagi para anggota OTL. Setelah keluar dari penjara.

. Pesan tersebut berisikan permohonan izin pamit ke tanah suci dan permohonan doa untuk keselamatan selama beribadah. Beberapa saat kemudian. gak ada ganti nya..” (Oman. pinter.Agustiana merupakan pemimpin yang memiliki begitu banyak pengikut. lagian juga yang laen kan sadar diri.. bahkan terlihat pada kehidupan sehari – hari.. kekaguman. Permasalahan justru timbul pada regenerasi dari kepemimpinan didalam tubuh Serikat Petani Pasundan (SPP).. merupakan beberapa contoh dari kesan yang disampaikan anggota SPP terhadap sosok Agustiana... khususnya yang berada dikesekertariatan Sekjen dan OTL Banjaranyar. Petani Penggarap) 69   ... dan yang paling penting.. punya istri berapa juga dia mah pantes – pantes aja. Pukul 10. beranggapan bahwa tidak ada satu orang pun anggota SPP yang pantas menggantikan Agustiana. gak ada sih kayaknya.... Garut. Balas jasa. pukul 19. “Agustiana mah kasep. Agustiana menjalankan ibadah umroh.. gigih. susah nyari orang konsisten kayak dia gitu. beda derajat gitu. coba liat. membuat seakan – akan sosok Agustiana tidak tergantikan sebagai seorang pemimpin. BPN..10 tidak kurang dari 40 orang anggota OTL Banjaranyar datang ke rumah Oman dengan berpakaian muslim lengkap. gak ada yang pantes gantiin kayaknya sih. Agustiana mengirimkan pesan singkat kepada Koordinator wilayah Ciamis.. Bagi seluruh anggota SPP. kalo sekarang.00 sebelum sebelum berangkat ke Arab Saudi. Pendamping Serikat Petani Pasundan) “gak tau. dan perhatian dengan nasip petani. ulet.... dan Tasik. Mereka semua datang dengan tujuan untuk mendoakan Agustiana agar selamat selama menjalankan ibadah umroh. udah mau jadi anggota dewan.... Sebagai contoh. DPRD. semua juga nurut ama dia.. kooordinator mengirimkan pesan tersebut kepada seluruh ketua OTL di wilayah kerjanya masing – masing..” (Hermawan. mau Bupati.. Loyalitas yang begitu besar kepada Agustiana. Loyalitas anggota SPP terhadap sosok Agustiana.. Petani Penggarap) “saya juga bingung kalo ditanya siapa gantinya kang agus.... baru dampingin satu desa ajah. dia itu peduli sama nasip petani.” (Wati. pada minggu pertama bulan Juni 2010. Pada malam harinya di Desa Banjaranyar.

dan tanaman buah (nangka. Hal ini bertujuan untuk menjaga kestabilan tanah. maka tanah tersebut akan diambil kembali dan diberikan kepada petani yang mau dan mampu untuk menggarap.BAB VI KELANGSUNGAN GERAKAN PETANI BANJARANYAR 6. Selain penggarapan yang dilakukan secara berkesinambungan. seperti kapol. yaitu Desa Kalijaya. dan Desa Banjaranyar. Seseorang bisa mendapatkan tanah garapan apabila sudah berusia 21 tahun atau sudah menikah.beda. Desa Pasawahan. Lahan perkebunan seluas 708. ramah lingkungan yaitu pada setiap pembagian tanah faktor alam menjadi hal yang harus diperhatikan. yaitu ramah lingkungan. Tanaman kayu seperti Albasia (jengjeng/sengon). Apabila tanah yang telah diberikan tidak digarap selama tiga tahun. Tanah dengan kemiringan 60 derajat atau lebih. tidak boleh ditanami tanaman musiman. Pembagian tanah juga melihat dari kapasitas petani penerima tanah dalam menggarap. kayu afrika. Desa Cigayam. durian. karena tanah dengan kemiring lebih dari 60 derat amat rentan terjadi longsor. berkesinambungan. barulah di antaranya diperbolehkan ditanami tumbuhan lain. singkong. tetapi juga dari usia petani dan jumlah anggota keluarga petani. Luasan tanah yang diterima antar petani pun berbeda . Kapasitas petani dalam menggarap tidak hanya dilihat dari keahlian seseorang. Setelah ditanami tanaman kayu.1 Redistribusi Tanah Pada tahun 2000. Ketiga. Redistribusi tanah yang ada di Desa Banjaranyar didasarkan pada tiga hal. manggis. Kedua. dll) amat dianjurkan pada tanah tersebut. Di Desa Banjaranyar terdapat 195 orang yang kemudian mendapatkan tanah. berkesinambungan yaitu kemampuan dan kemauan petani dalam menggarap tanah. Petani yang mendapatkan tanah di 70   . dan berkeadilan Pertama. keberadaan tanah redistribusi juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani. perjuangan warga atas lahan eks-perkebunan AGRIS NV mulai membuahkan hasil. dan pisang. berkeadilan yaitu pembagian luasan tanah tidak berat sebelah atau hanya menguntungkan satu atau dua orang semata.35 hektar diredistribusikan kepada warga desa sekitar perkebunan.

merujuk pada peraturan redistribusi tanah yang dikeluarkan oleh Serikat Petani Pasundan (SPP). Tenaga kerja yang dipergunakan untuk menggarap tanah terpusat pada tenaga 71   . redistribusi tanah diserahkan kepada pengurus OTL dengan terlebih dahulu bermusyawarah bersama para anggota OTL. Perubahan kepemimpinan nasional. sistem perkebunan komersial pada dasarnya merupakan sistem perkebunan Eropa (European plantation). Tanah redistribusi warga pada mulanya merupakan lahan perkebunan kopi.pinggir jalan desa maka akan mendapatkan tanah seluas 140 bata atau 2000 meter persegi. tidak padat modal. penggunaan lahan terbatas. Peraturan tersebut pada awalnya dimusyawarahkan di dalam pertemuan rutin tiga bulanan para ketua OTL di sekretariat SPP. tanah seluas 708 hektar dibagikan kepada warga di desa sekitar perkebunan. Segala tata peraturan redistribusi tanah yang ada di Desa Banjaranyar. hak pengelolaan lahan diberikan kepada PT. Hingga tahun 1998. barulah peraturan tersebut diterapkan diseluruh OTL. lahan tersebut dikelola oleh perusahaan perkebunan AGRIS NV. Sedangkan petani yang mendapatkan tanah di tengah atau jauh dari jalan desa. Pada saat Indonesia dikuasai oleh Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. para petani menggarap secara mandiri dan dengan sendirinya menghapuskan sistem perkebunan yang semula ada. maka akan mendapatkan tanah garapan seluas 33000 meter persegi. kurang berorientasi pasar dan sumber tenaga kerjanya terpusat pada anggota keluarga. dengan karet sebagai komoditas utama. Sistem kebun merupakan usaha pertanian dengan skala kecil. Pasca kemerdekaan. Pada tahun 2000. RSI.2 Sistem Kebun Sartono Kartodirdjo (1991) menyatakan bahwa. Di Desa Banjaranyar. Setelah disepakati secara bersama. Pada tingkat pelaksanaan. Sistem perkebunan tersebut sama sekali berbeda dengan sistem kebun (garden system) yang telah lama ada di Indonesia. Pada perjalanannya. juga turut merubah kondisi perkebunan. termasuk OTL Banjaranyar. Perhutani melakukan penanaman pohon jati pada lahan tersebut. tepatnya pada era Ode Baru. 6. terjadi tukar guling hak kelolaan lahan antara PT RSI dengan Perhutani.

ataupun pemanenan dalam jumlah yang besar. untuk setiap butir kelapa dihargai lima ribu rupiah. Ibu Kota Kecamatan. Tanah yang digarap oleh petani Banjaranyar sebagian besar merupakan kebun campur yang didominasi oleh tanaman sengon (jengjeng). pisang. Setiap butir buah kelapa dihargai tujuh ratus rupiah. singkong. Sedangkan daun dan ranting – ranting muda. Menurut penuturan Oman. Pohon sengon apabila dijual kepada pengumpul. Apabila ada perkerjaan yang tergolong berat. Batang (kayu) pohon sengon sangat mudah untuk dijual dan memiliki harga yang tinggi. pohon sengon merupakan salah satu tanaman yang banyak ditanam karena memberikan penghasilan besar bagi petani. Apabila petani ingin menjual pohon sengon mereka kepada pengumpul mereka tidak perlu membawa batang pohon sengon ketempat pengumpulan kayu. dapat digunakan sebagai pakan ternak. Salah satu hal yang paling menonjol dari tanah garapan petani Banjaranyar ialah keberadaan dari tanaman kayu. 72   . selalu ada saja pengumpul yang berkeliling desa untuk memborong kayu. harga kelapa jatuh pasca kepemimpinan SBY. maka pekerjaan tersebut akan dibantu oleh buruh tani. pembersihan dan pembukaan lahan. Pengumpul merupakan sebutan bagi orang yang memborong tanaman kayu rakyat. Sehingga besar kecilnya jumlah anggota keluarga amat mempengaruhi cepat lambatnya penggarapan dan jenis tanaman yang akan ditanam. Tanaman pangan seperti singkong dan pisang pada umumnya dikonsumsi sendiri. pemimpin gerakan petani Banjaranyar. Harga tetinggi ada pada massa kepemimpinan Presiden Habiebie. Sedangkan kelapa dijual kepada pengumpul kelapa yang ada di Kota Banjarsari. yaitu menjual ke-pengumpul. dan kelapa. Seorang petani di Desa Banjaranyar bisa menanam empat puluh hingga seratus pohon sengon di atas tanah garapannya. Karena hampir setiap hari. sistem ijon dan dijual langsung pabrik pengolahan. Mereka cukup menunggu di tanah garapan mereka masing – masing. Sekdes (Sekertaris Desa) Banjaranyar. Terdapat tiga cara yang biasa digunakan petani Banjaranyar untuk menjual kayu sengon (jengjeng).kerja keluarga. Menurut penuturan Jandi. seperti pembuatan kolam ikan. khususnya pohon sengon (jengjeng).

lima puluh tanaman sengon yang berumur lima tahun. Ia memiliki dua puluh pohon sengon diatas tanah garapannya. Terdapat dua pabrik yang biasa menjadi tempat tujuan penjualan kayu sengon petani Banjaranyar yaitu PT. AP dan PT. Pada bulan Juni. ia menjual sepuluh pohon sengon. Ketiga ialah menjual pohon sengon langsung ke pabrik pengolahan kayu. BKL. Ijon merupakan cara penjualan pohon sengon sebelum masa panen tiba. Sebagai contoh. membutuhkan uang untuk biaya anaknya masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP). atau tiga puluh ribu per batang. Sistem kebun (garden system) juga dapat dilihat sebagai jalan yang ditempuh petani Banjaranyar untuk mendapatkan kemerdekaan pada sektor ekonomi. Sebagai contoh untuk lima puluh batang pohon sengon yang dijual dengan sistem ijon hanya dihargai satu setengah juta rupiah. Penangguk ijon tidak selalu berperan sebagai pengumpul. Sistem kebun memberikan keleluasaan kepada petani untuk dapat menanam dan memanfaatkan hasil pertanian sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka. karena apabila dijual pada waktu panen.000. Memang terdapat kelemahan ketika menjual pohon sengon dengan cara ijon. akan dibeli dengan harga tiga juta rupiah. Hal ini dimungkinkan karena pengambilan keputusan yang berkaitan dengan komoditas pertanian dan pemanfaatan hasil berada pada tingkat rumah tangga petani. Karena harga beli per batang kayu sengon bisa mencapai Rp 100. Setelah waktu panen barulah sengon tersebut diambil oleh penangguk ijon. pohon sengon akan berharga tidak kurang dari enam puluh ribu per batang. Hanya saja untuk memasukan kayu ke pabrik petani harus menanggung sendiri biaya penebangan dan pengangkutan kayu. yaitu petani akan mendapatkan harga jual yang rendah. Penjualan pohon sengon langsung ke pabrik pengolahan kayu lebih menguntungkan petani. Hal ini sungguh merugikan petani. Ia beranggapan bahwa sepuluh batang pohon sengon sudah cukup 73   . Pabrik tidak menyediakan fasilitas penjemputan dan penebangan di Desa Banjaranyar. dan menunda penjualan sepuluh pohon sengon sisanya.00. Beno seorang petani penggarap di Desa Banjaranyar. karena sering kali petani sengon meng-ijon-kan tanaman sengonnya kepada warga desa lain yang dianggap kaya.

. 6. terutama para istri dan anak dari anggota OTL yang sebagian besar laki – laki. terjadi penurunan semangat para anggota OTL Banjaranyar. pengambilan keputusan berada pada tingkat pengelola lahan perkebunan (manajer perkebunan atau administrature) bukan pada rumah tangga petani. wanita terutama ibu – ibu bisa lebih militan dibanding bapak – bapak. Ketua OTL Banjaranyar) Tahun 2005 dibentuklah organisasi wanita OTL Banjaranyar yang secara struktural berada di bawah Organisasi Tani Lokal (OTL) Banjaranyar. mana ada yang awet. ketika anaknya memerlukan biaya untuk masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA). coba liat pengajian bapak – bapak. ketika semangat para bapak – bapak sedang menurun. Organisasi ini berisikan para wanita yang telah dewasa. lagian ibu – ibu juga lebih kompak. Sedangkan sepuluh pohon sengon sisanya akan ditebang nanti. memberikan usulan agar setiap OTL memiliki organisasi wanita. dan partisipasi dalam berbagai kegiatan di sekretariat SPP. seperti pertemuan rutin.. Keberadaan dari Organisasi Kewanitaan didukung penuh oleh Serikat Petani Pasundan (SPP) selaku organisasi induk. kan kalo ditagih gitu ibu – ibu pada malu... Hal tersebut terlihat dalam pelatihan – pelatihan yang difasilitasi SPP. Ia berpendapat bahwa.. relawan untuk menjadi massa aksi. Usulan ini disampaikannya pada rapat tiga bulanan ketua – ketua OTL di sekretariat SPP. dimintain iuran juga cepet. setelah dilaksanakannya redistribusi lahan ditahun 2000. seperti pelatihan kepemimpinan.3 Organisasi Wanita Tahun 2005... yang pada tahun 2005 sudah menjadi Ketua OTL Banjaranyar. pelatihan 74   . kalo pengajian ibu – ibu sampe sekarang juga masih.. Ibu Wati. Kemerdekaan semacam inilah yang tidak dapat dimiliki oleh petani pada pengelolaan lahan berbasis sistem perkebunan... Sehingga. tugas sang wanitalah untuk menumbuhkan semangat itu kembali.” (Wati. iuran aksi demontrasi. jadi bayarnya cepet. pelatihan organisasi.. “kalo ibu – ibu mah gak hese. Karena pada sistem pengelolaan lahan berbasis perkebunan.untuk memenuhi biaya sekolah anaknya.... Hal ini ditandai dengan semakin sedikitnya partisipasi anggota dalam berbagai kegiatan OTL.

Bahkan.penangan konflik. melalui tangan para ibu. terdapat empat puluh delapan orang yang terdaftar sebagai anggota koperasi.. 75   ... Tiap – tiap anggota diwajibkan membayar iuran sebesar lima belas ribu rupiah perbulan. Pelatihan kepemimpinan dan penanganan konflik. Hingga saat penelitian ini berlansung. tidak jarang penarikan uang iuran aksi juga dibantu oleh anak – anak gadis yang berumur belasan tahun.. tapi bisa buat lain – lain juga. dan pelatihan pertanian. penguatan organisasi dilakukan pada tingkat rumah tangga. 6. salah satu jalannya kita diriin koperasi ini” (Erna. sesungguhnya berangkat dari kenyataan bahwa para ibu inilah yang memiliki intensitas yang lebih tinggi dengan tanah garapan dan rumah tangga daripada para lelaki. Keberadaan organisasi ini telah berhasil menumbuhkan kembali semangat perjuangan petani Banjaranyar. Bahkan. Intensitas yang tinggi antara seorang ibu dan anggota anggota keluarga yang lain dalam satu rumah tangga petani. naik ekonomi nya. Penguatan organisasi gerakan tidak lagi hanya dilakukan pada tingkatan kelompok ataupun desa. nah.. bukan buat menggurui tapi supaya tani nya mereka tidak hanya sebatas buat makan. Pendamping Serikat Petani Pasundan) Koperasi OTL Banjaranyar berdiri pada tahun Juni 2009. Tetapi. para wanita yang tergabung di organisasi wanita OTL berperan besar dalam persiapan aksi demonstrasi. membuat penyebaran ide gerakan berjalan secara efektif dan efisien. Penarikan uang iuran antar sesama ibu – ibu mempermudah pengumpulan uang. Iuran inilah yang kemudian dijadikan modal untuk melaksanakan kegiatan koperasi. Tapi supaya petani hidup dengan layak.. Ibu – ibu inilah yang kemudian berkeliling desa guna mengumpulkan uang iuran aksi dan melakukan pendataan bagi anggota yang akan ikut aksi demonstrasi. penyebaran ide gerakan bisa dilakukan setiap hari di dalam rumah setiap anggota OTL. kami adakan pelatihan tata cara bertani.4 Koperasi “tujuan dari adanya SPP itu bukan cuma supaya petani dapet tanah... Di Desa Banjaranyar.

Setiap orang yang berkeinginan untuk bergabung diwajibkan untuk membayar iuran pokok sebesar dua puluh lima ribu rupiah dan iuran bulanan sebesar lima belas ribu rupiah. ia harus menjadi anggota koperasi terlebih dahulu. pengumpulan uang iuran bulanan. mengkhususkan diri pada usaha keuangan simpan pinjam. sekertaris. diolah dan dikeluarkan oleh Dewan Kredit. dan pencatatan kredit. Anggota koperasi yang berhak melakukan pinjaman ialah mereka yang telah menjadi anggota selama setahun dan membayar iuran bulanan. sedangkan pengurus koperasi hanya bertugas untuk mencatat datanya.Struktur Organisasi Koperasi Kredit 76   . Khusus untuk pemberian izin pengeluaran kredit dan besaran kredit yang akan diberikan. Setiap anggota berhak menyimpan dan meminjam sejumlah uang jika telah memenuhi sejumlah persyaratan. bendahara Dewan Kredit  Anggota Keterangan : : Pengawasan : Koordinasi : Kepengurusan Gambar 5 . pendaftaran anggota. Seluruh kegiatan koperasi dilakukan oleh pengurus dan diawasi oleh Dewan Pengawas Koperasi. Kegiatan koperasi meliputi pendataan anggota. Dewan Pengawas Pengurus Koperasi : Ketua. pengurusan uang kas. Koperasi ini dipimpin oleh seorang ketua yang dibantu oleh seorang sekertaris dan bendahara.Koperasi yang diberinama Koperasi Kredit ini. Apabila ada seseorang yang ingin menyimpan uang di koperasi kredit.

Berdirinya koperasi ini juga membawa harapan besar terhadap peningkatan kemampun para anggota koperasi. salah seorang pendamping SPP. Koperasi kredit berkembang melalui pendidikan. “Koperasi kredit mencapai hasil gilang gemilang. Desa Banjaranyar kesebuah tempat penyimpanan gabah yang berada di belakang rumah Ibu Wati.. gerakan mahasiswa.Seluruh kegiatan koperasi akan dievaluasi satu kali pada setiap bulannya. Menurut penuturan Hermawan. khususnya dalam bidang pengelolaan keuangan.. pada masyarakat Sunda terdapat istilah sendiri untuk menyebut lumbung yaitu dengan istilah “leyit”. tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk meminjam dan menabung sejumlah uang. Selain mengevaluasi..” 6. Lumbung merupakan kelembagaan rakyat yang dibangun atas inisiasi bersama antara petani Banjaranyar dengan lembaga dari luar desa yaitu KRKP (Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan). Para anggota koperasi. Sehingga masyarakat lebih nyaman menyebut bangunan tersebut dengan sebutan lumbung daripada leyit.. Jaringan yang dibangun oleh SPP (Kesekertariatan Sekjen) dengan berbagai Organisasi Non – Pemerintah (ORNOP). lumbung yang ada di Desa Banjaranyar bukanlah semata – mata nama dari sebuah tempat penyimpanan gabah milik petani. baik itu berupa pengiriman anggota pada berbagai pelatihan terkait ataupun turorial secara langsung. tetapi juga diberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan melalui berbagai pelatihan. Koperasi kredi dimulai dengan pendidikan. Dinkop Jabar juga memtugas membimbing pengurus koperasi kredit.. Apabila kita telisik lebih dalam. terlihat jelas dalam slogan yang tertulis di setiap buku tabungan anggota.. Pentingnya pendidikan sebagai dasar berjalannya kegiatan koperasi.. Dan bergantung pada pendidikan... Evaluai tersebut dilakukan oleh petugas dari Dinas Koperasi Propinsi Jawa Barat (Dinkop Jabar). dan 77   .. Kopreasi kredit dikontrol melalui pendidikan.5 Lumbung (leyit) Lumbung merupakan istilah yang diberikan oleh masyarakat di Kampung Bulaksitu..

Bencana yang dialami warga Banjaranyar sesungguhnya tidak hanya gempa bumi. Penelitian – penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari dalam dan luar negeri. Jauhnya jarak antara Desa Banjaranyar dengan pasar yang berada di Kota Banjarsari. Bantuan yang pertama kali masuk ke wilayah desa bukanlah bantuan yang berasal dari pemerintah tetapi bantuan dari Serikat Petani Pasundan (SPP). Hal ini juga diperparah dengan ketiadaannya cadangan pangan yang dimiliki oleh warga. Keanggotaan disini berarti anggota diperbolehkan untuk menyimpan atupun meminjam gabah dilumbung tersebut. warga hanya bergantung pada bantuan yang datang dari luar desa.kelompok – kelompok masyarakat. maka anak tersebut diperbolehkan untuk memilki keanggotaan terpisah dengan keluarga lamanya. Lumbung memiliki anggota yang dilihat berdasarkan kepala keluarga. Keanggotaan lumbung pun tidak 78   . bantuan dari pemerintah pun tidak terlalu bisa diharapkan karena lambatnya pengiriman bantuan.3 SR berhasil merusak beberapa bangunan dan rumah warga. membuat warga kesulitan dalam memperoleh bahan pangan. diharapkan dapat mencegah terjadinya kelangkaan pangan dikemudian hari. Gempa Bumi sebesar 7. Menurut penuturan Ibu Wati. Keberadaan Lumbung sebagai tempat penyimpanan gabah yang dimiliki secara kolektif oleh masyarakat. membuat hubungan antara petani dengan kekuatan sosial diluar desa menjadi lebih sering terjadi. Di Desa Banjaranyar sebanyak delapan rumah warga tercatat rusak berat dan dua puluh tujuh rumah rusak ringan. Menurut Ibu Wati apabila sebuah keluarga memiliki anak yang sudah menikah. warga tidak bisa mengharapkan bahan pangan dari hasil pertanian karena sawah mereka belum memasuki masa panen. Salah satu program yang masih berjalan pada saat penelitian ini dilakukan ialah program leyit atau lumbung masyarakat. Sedangkan di tingkat desa. Ibukota Kecamatan. program – program bantuan. Satu kepala keluarga akan memiliki satu keanggotaan dilumbung. Baik itu yang disebabkan karena bencana alam ataupun karena kegagalan panen. tetapi kelangkaan pangan yang terjadi setelah gempa tersebut. Pembangunan lumbung atau leyit dilatarbelakangi oleh adanya bencana gempa Tasik yang terjadi pada tahun 2009. Sehingga. dan pengenalan teknologi baru acap kali ada di Desa Banjaranyar.

Sehingga apabila sewaktu – waktu dibutuhkan gabah masih tersedia didalam lumbung. sehingga ia membutuhkan gabah. gabah yang dipinjam oleh anggota haruslah dikembalikan dalam bentuk gabah. Pada umumnya. Terdapat beberapa peraturan yang diterapkan dalam proses simpan pinjam di lumbung ini. Keterbukaan yang ada di dalam gerakan petani Banjaranyar. itupun diperbolehkan untuk meminjam. Sebagai contoh. Keterbukaan semacam ini pula yang kemudian membuat OTL Banjaranyar menjadi sebuah organisasi gerakan yang begitu dinamis dalam menanggapi perubahan dari luar organisasi. 79   . Setiap anggota diperbolehkan meminjam gabah yang ada dilumbung dan diwajibkan mengembalikan pinjaman tersebut dengan melebihkan lima kilogram dari total pinjaman. Pengembalian pinjaman tidak dapat digantikan dengan uang. tetapi ingin menyimpan gabah dilumbung hal itu dapat dilakukan. ia pun diberikan kebebasan untuk keluar dari keanggotaan lumbung. peminjaman gabah tidak hanya disebabkan karena bencana alam atau terjadinya kegagalan panen pada sawah anggota. Apabila anggota mengadakan hajatan seperti pernikahan atau sunatan. Proses penyimpananpun biasanya dilakukan anggota sewaktu musim panen tiba. maka ia harus menyisihkan dua pocong untuk disimpan ke dalam lumbung. serta jejaring yang dibangun melalui Serikat Petani Pasundan (SPP) sebagai organisasi induk menjadikan gerakan petani Banjaranyar menjadi gerakan petani yang inklusive. Dari keberadaan lumbung ini sedikit banyak dapat terlihat seperti apa sesungguhnya pola hubungan yang dibangun antara gerakan petani Banjaranyar dengan kekuatan sosial lain yang berada di luar desa. Bagi warga yang tidak mempunyai lahan.tertutup hanya pada masyarakat yang memiliki lahan saja. peminjaman gabah banyak dilakukan pada periode musim panen menuju musim tanam. Pengembalian pinjaman anggota banyak dilakukan sewaktu musim panen tiba. Menurut Bapak Oman. seorang warga diberikan kebebasan untuk menjadi anggota lumbung dan ketika ia merasa tidak nyaman. apabila diibaratkan dalam satu kali panen seorang anggota mendapatkan tujuh pocong padi. Keanggotaan lumbung bersifat sukarela. Hal ini dimaksudkan agar cadangan gabah yang ada didalam lumbung dapat terus bertambah.

sekarang mau tani tanah udah ada.. Di dalam Desa Banjaranyar. para pemimpin OTL juga diberikan ruang khusus di Desa dalam berbagai kesempatan. Nama besar SPP sebagai organisasi tani terbesar di Priyangan Timur. Pasca 10 tahun keberadaan SPP di wilayah Priyangan Timur. TNI. jaringan hanya sebatas pada Organisasi Non.6 “Aku” Anggota SPP Kelangsungan dari gerakan petani di Desa Banjaranyar salah satunya juga ditopang oleh nama besar dari Serikat Petani Pasundan (SPP).. ketua OTL Banjaranyar. anggota OTL Banjaranyar. Sebgai Contoh. sekertaris OTL Banjaranyar.. Hal inilah yang kemudian menciptakan kengganan bagi aparat Perintah (Kepolisian. seperti DPRD dan Pemerintah Kabupaten. Otang.. secara tidak langsung membuat anggotanya mendapatkan keistimewaan.... para anggota OTL mendapatkan pengakuan dari warga desa lain sebagai seorang pejuang dan pembela hak . organisasi – organisai gerakan mahasiswa. Beno. Ibu Wati. Selain itu. Maka. lagian dulu.. “orang spp kan yang dulu perjuangin tanah. Strategi intervensi yang dilakukan SPP pada ranah politik praktis juga menjadikan jaringan SPP semakin meluas.hak petani.. menciptakan kesan bahwa SPP merupakan sebuah organisasi yang kuat dan memiliki massa yang begitu banyak. terpilih sebagai Kepala Desa (Kades) Desa Banjaranyar. dan kelompok – kelompok masyarakat. mau kerja mesti kekota dulu.. ditunjuk sebagai ketua pemuda Desa Banjaranyar. anak muda itu susah cari kerja disini. jaringan SPP meluas hingga ke lembaga – lembaga pemerintahan. ditunjuk sebagai ketua pelaksana program desa dasawisma di Desa Banjaranyar. kalo gak punya tanah juga bisa ngeburuh 80   . baik di dalam ataupun di luar desa... dan Pegawai Dinas Kabupaten) untuk “bermain – main” dengan anggota SPP. Kisah – kisah keberhasilan SPP dalam merebut tanah dibanyak wilayah Priyangan Timur. Apabila pada tahun – tahun awal perjuangan. kalo gak ada ya. Hal tersebut kemudian diperkuat dengan aksi – aksi demontrasi yang diadakan SPP dengan melibatkan ribuan massa.. mungkin dikit orang sini yang punya tanah garapan kali ya. SPP sudah dikenal luas oleh masyarakat.Pemerintah (ORNOP). susah juga itu.6. pada tahun 2004 setelah diberlakukannya sistem Pemilihan Umum (Pemilu) secara langsung. khususnya aparat dan pejabat Pemerintah Daerah.

” (Jandi. ia mengeluarkan Kartu Tanda Anggota SPP.” (Adminah.. lagian juga dia kan pada dapet pelatihan bukan buat sendiri. bukan anggota SPP) “iya lah. Kejadian ... Setelah memasuki Kota Ciamis... kan orang SPP dapet pelatihan mulu. Bukan anggota SPP) Keistimewaan juga dirasakan anggota OTL ketika berurusan dengan aparat Pemerintah. Ketika ditangkap.kejadian sejenis juga dapat dengan mudah ditemui pada pengalaman anggota OTL Banjaranyar diberbagai kesempatan. penjaga warung..kan. 81   . ngajarin ke yang laen juga. Sekertaris Desa Banjaranyar. Hal inilah yang kemudian menciptakan rasa bangga para diri anggota karena merasa mendapat perlakuan khusus dari aparat pemerintah. gratis juga lagi... orang tersebut ditangkap oleh petugas Kepolisian karena tidak mengenakan helm (pelindung kepala) ketika berkendara... Seorang anggota OTL Banjaranyar pergi ke kota Ciamis dengan mengendarai sepeda motor. Salah satu kasus yang terjadi pada bulan Juni 2010. ya pantes atuh jadi pada pinter gitu. dan pada saat itu juga ia dilepaskan tanpa alasan yang jelas..

apabila terjadi pelanggaran terhadap kewajiban itu. Scott (1994) menganalogikan petani pada kondisi tersebut ibarat orang yang terandam didalam air hingga sebatas hidung. kewajiban – kewajiban ekonomis kaum elite adalah memerhatikan kebutuhan petani. maka tidak ada lagi pilihan bagi petani selain melakukan pemberontakan. Kekuatan moral dan harapan – harapan ini sudah cukup untuk menjadi bara api.BAB VII PENUTUP 7. yang dikemudian hari dapat berubah menjadi aksi kemarahan dan tindakan kekerasan. sehingga pemenuhan atas kebutuhan dasar petani tidak lagi menjadi hal yang mendesak. dalam artian begitu mudah melakukan pemberontakan. 82   . Scott (1976) tidak pernah menggambarkan petani sebagai sebuah kelompok masyarakat yang begitu reaktif. dimana tekanan tersebut berdampak sedemikian parah dan terjadi dalam tempo yang relatif singkat. Ketika pertumbuhan negara hanya berupa perlindungan dan pertumbuhan fisik semata. apabila tekanan struktural dan kultural hingga kondisi subsistensi petani yang sudah melampauai batas toleransi. menyesuaikan tuntutan mereka akan tenaga kerja dan padi. Di mata petani miskin. Namun. Ia menyatakan bahwa kehidupan petani ditandai oleh hubungan moral sehingga melahirkan moral ekonomi.1 Implikasi Teoritis Pembahasan prihal gerakan petani sesungguhnya dapat dilihat melalui perpektif moral ekonomi petani. sehingga riak yang begitu kecil saja sudah dapat menenggelamkannya. Ia menggambarkan petani sebagai sekelompok manusia yang yang lebih mengutamakan “dahulukan keselamatan” dan menjauhkan diri dari bahaya. Begitupun dengan gerakan petani Banjaranyar. masuknya PT RSI (1983 – 1996) dan Perhutani (1996 – 1998) membuat petani Banjaranyar tidak dapat lagi melakukan penggarapan di atas tanah perkebunan. serta menyediakan pangan di musim paceklik. maka yang tertinggal hanyalah kewajiban – kewajiban ekonomis kaum elite. Bahkan mereka menyatakan bahwa kehadiran PT RSI tidak memberikan manfaat apa – apa bagi warga dan hanya menguntungkan para pemilik perusahaan dan pemerintah. yang dipelopori oleh Scott (1976).

Popkin (1979) lebih fokus pada tindakan . petani Banjaranyar justru berusaha untuk menjalin hubungan dengan pasar dengan memanfaatkan berbagai jaringan didalam ataupun diluar desa. Struktur krucut seperti yang dikatakan Scott (1976). Bapak Oman tidak hanya bertindak sebagai pemimpin gerakan. Peran Bapak Oman dalam gerakan petani Banjaranyar. Salah satu contohnya pada proses tata niaga kayu sengon di Desa Banjaranyar. terasa begitu dominan. Gerakan petani Banjaranyar boleh jadi tidak pas apabila disandingkan dengan teori ekonomi politik sebagaimana disampaikan Popkin (1979) dalam The Rational Peasant : The Politic Economy of Rural Society in Vietnam. gerakan petani Banjaranyar terkesan bergantung pada sosok Bapak Oman.Konsep lain yang digunakan Scott (1976) dalam menjelaskan gerakan petani ialah konsep kepemimpinan dan struktur sosial. dapat ditemui di Desa Banjaranyar. tetapi melawan perampasan tanah oleh para kapitalis perkebunan yang menyebabkan petani kehilangan eksistensi diri dan sumber penghidupannya. Petani merupakan individu – individu yang bebas 83   . merupakan sebuah kenyataan di Desa Banjaranyar. sedangkan pada lapisan bawah dihuni oleh para petani penggarap dan buruh tani dalam jumlah yang banyak. Popkin (1979) menolak pendekatan moral ekonomi Scott (1976) yang beranggapan bahwa gerakan petani sebagai reakasi difensif untuk mempertahankan institusi dan norma – norma tradisional dari ancaman kapitalisme dan kolonialisme. pasca dilakukannya redistribusi tanah. Bahkan. Struktur sosial yang ada dimasyarakat pedesaan.tindakan rasional petani. Di dalam tulisannya. Struktur masyarakat yang seperti ini membuat faktor kepemimpinan menjadi faktor penting didalam gerakan perlawanan petani. Bahkan. Gerakan petani tidak melawan kapitalisme. tetapi juga sebagai motor sekaligus pemersatu dari gerakan petani Banjaranyar. pernyataan Popkin (1979) bahwa gerakan perlawanan petani terjadi ketika sebagian besar individu merasa dirugikan setelah melakukan tawar menawar dengan negara. Struktur kerucut seperti ini. Tetapi. posisi puncak statifikasi sosial dihuni oleh oleh kaum elite yang berjumlah sedikit. secara hirizontal ditandai dengan homogenitas yang tinggi dan secara vertikal ditandai dengan struktur yang berbentuk kerucut.

Petani juga manusia yang ingin kaya. Karena. 2007). Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 mendesak lahirnya gagasan reformasi. Kemunculan gerakan petani pada tahun 1998. maka segalanya akan berantakan dengan begitu cepat. dalam Pinky. baik itu pada tingkat pusat atupun daerah. Wolf (1966). hanya sedikit pengamat Indonesia yang meramalkan akhir kekuasaan Soeharto akan datang begitu cepat. Reformasi sendiri dimaknai sebagai sebagi suatu gerakan pembaharu yang bertujuan untuk mengoreksi bekerjanya berbagai instansi dan berusaha menghilangkan berbagai kebobrokan yang dianggap sebagai sumber malfunction 84   . 2003). terutama dengan dukungan dari banyaknya organisasi non pemerintah yang memang pesat juga perkembangannya diseluruh dunia pada awal tahun 1990-an (Hulme dan Edward. baik itu yang berasal dari Negara barat ataupun timur. meskipun dalam pelaksanaannya terlihat sisi – sisi komunalitas dan emosionalitas. memang melahirkan pertanyaan besar prihal situasi dan kondisi yang terjadi pada saat tersebut. Sudah menjadi ciri rezim otoriter modern bahwa ketika pusat tidak dapat bertahan.mengembangkan kreativitasnya secara rasional. menyatakan bahwa sebuah pemberontakan tidak akan mungkin terjadi pada situasi yang tidak mendukung. Reformasi membuka ruang yang lebih besar bagi rakyat dalam menyuarakan aspirasinya. tetapi tindakan masing – masing individu petani Banjaranyar (untuk ikut atau tidak ikut melakukan pendudukan lahan) sudah tentu melalui pemikiran dan pertimbangan individu secara rasional. Kejatuhan pemerintahan Presiden Soeharto pada tahun 1998 menciptakan ketidakstabilan dibidang politik dan ekonomi. yang memperkirakan bahwa pada pertengahan tahun 1998 akan terjadi kejatuhan rezim Soeharto. Pada awal tahun 1998 hanya segelintir manusia. (Simon Philpott. seperti kebanyakan orang lainnya. Namun. kendati para elit pendukung dan demonstrasi jalanan banyak menyuarakan ketidaksetujuan. Pilihan strategi gerakan petani Banjaranyar dengan melakukan pendudukan lahan pada dasarnya bisa disebut sebagai sebuah pilihan yang rasional. Hal ini diperkuat oleh Geoff Forrester seperti dikutip oleh oleh Simon Philpott (2003) menyatakan bahwa Presiden Soeharto baru saja dipilih sebagai Presiden secara bulat oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dua bulan sebelumnya.

maka akan mencipkan kemerdekaan relatif pada diri petani terhadap produsen pertanian lain dan pasar. melainkan hanya selected aspects dari tata sosial yang ada. dalam suatu tata sosial. juga bertindak sebagai alat produksi yang kemudian diharapkan dapat memenuhi kebutuhan hidup petani itu sendiri. merupakan suatu penjelasan dari apa yang terjadi pada petani Banjaranyar pasca redistribusi tanah. RSI yang kemudian digarap oleh petani Banjaranyar. Departemen Kehutanan dan Perkebunan. dan 48.830 ha pada perkebunan Negara. mereka dapat mempertahankan keberadaannya dengan cara meningkatakan usaha kerja. yang apabila terjadi krisis. termasuk lahan perkebunan PT. (Wiradi. Boras Jr (2010) menyatakan bahwa. jumlah luas tanah yang di reclaim mencapai 118. Dalam konteks yang lebih makro. 2009). Shanin (1966) berpendapat bahwa. Reformasi juga berusaha membongkar nilai – nilai tetapi tidak seluruhnya. Pola pertanian kebun yang dilakukan oleh petani Banjaranyar memberikan keleluasaan dan kemerdekaan relatif pada rumah tangga petani terhadap produsen petani lain dan pasar. Tanah – tanah perkebunan yang kemudian digarap oleh warga memang tidak hanya bertindak sebagai simbol perjuangan. sudah dapat dipertemukan dengan pemenuhan kebutuhan rumah tangga petani. menekan konsumsi mereka sendiri. neoliberalisme secara signifikan telah mengubah dinamika 85   . Boleh jadi apa yang dikatakan Shanin (1966). Salah satu bentuknya.051 ha pada perkebunan swasta. ataupun mengatur kembali hubungan mereka dengan pasar.nya institusi – institusi. Namun. Saturnino M. mengejawantah dalam aksi – aksi okupasi tanah yang dilakukan oleh masyarakat atas tanah – tanah yang pernah menjadi tanah garapan rakyat. Hal tersebut akan berujung pada terciptanya stabilitas relatif dalam rumah tangga petani. apabila komoditas atau hasil produksi pertanian bila dapat dipertemukan dengan pemenuhan kebutuhan dasar dari rumah tangga petani. Berdasarkan data Dirjen Perkebunan. Semangat reformasi 1998 tidak hanya dirasakan oleh mahasiwa dan berbagai elemen masyarakat yang melakukan aksi turun ke jalan di kota – kota besar. Hasil dari luasan tanah garapan yang rata – rata dua hingga tiga kavling per-keluarga petani. tetapi juga dirasakan pada masyarakat di tingkatan akar rumput. hingga September 2000.

yang memberikan kekuasaan penuh pada kapital domestik dan korporasi untuk mendikte syarat – syarat pertukaran dan produksi pertanian.hubungan pertukaran di dalam dan di antara negara – negara yang berada di utaraselatan. tetapi untuk 86   . on-farm. Orang – orang yang semula bermata pencaharian disektor pertanian. memainkan kunci utama dalam pertumbuhan dan perkembangan sistem agraria. ataupun internasional). SPP merupakan sebuah gerakan yang menyatukan berbagai macam permasalahan pada tingkatan yang benar – benar lokal. Proses yang secara luas terjadi pada masyarakat pedesaan itu. Kehadiran SPP tidak semata – mata menjadi gerakan yang “melokalisasi” perlawanan – perlawanan mereka sebagai respons terhadap desentralisasi yang parsial. seperti yang disampaikan Boras (2010). juga dapat dilihat sebagai salah satu dampak dari proses restrukturisasi global-lokal. celakanya terjadi secara bersamaan dengan gelombang restrukturisasi agraria. nasional. yang di dalam strategi gerakannya juga memanfaatkan segala macam sumberdaya dari berbagai level (lokal. menjadi sebuah gerakan pada tingkatan regional. Akses dan kontrol terhadap tanah. regional. Proses serempak yang terjadi oleh globalisasi “dari atas”. Tetapi. pada gilirannya didefinisikan ulang dan hak kepemilikan atas tanah telah direstrukturisasi guna menopang kapital swasta. non-farm) yang dijalankan dengan terpaksa atau sebaliknya menjadi semakin tersebar luas. ataupun berfokus pada segala macam aktivitas yang bertujuan untuk menggantikan fungsi negara dalam hal isu – isu pembangunan seperti memberikan pelayanan sosial pada masyarakat. Kehadiran SPP bukan dalam rangka menggantikan peran dan fungsi negara. Fenomena muncul dan berkembangnya gerakan petani Banjaranyar yang kemudian tergabung dalam Serikat Petani Pasundan (SPP). desentralisasi sepihak “dari bawah”. Boras (2010) kemudian menekankan pada dampak. Proses global – lokal inilah yang kemudian mempengaruhi gerakan agraria dalam berbagai bentuk. dan proses ini telah menggoncang masyarakat pedesaan hingga keakar – akarnya. kemudian dengan cepat menghadapi kondisi yang teramat buruk. berujung pada diversifikasi mata pencaharian (desa dan desa-kota. dan privatisasi “dari samping” melalui negara sebagai pusatnya. yang ia sebut sebagai ”pemenang dan pecudang” dalam proses restrukturisasi global-lokal saat ini. Buruknya kondisi masyarakat pertanian di pedesaan. off-farm.

Kondisi ini berakibat pada : i) terjadinya degradasi sosial dan hilangnya eksistensi diri petani. tetapi juga karena terbukanya kesempatan akibat reformasi 1998. Secara ekonomi kehidupan petani Banjaranyar yang mendapatkan tanah juga menjadi lebih baik. secara horizontal : dari petani menjadi buruh industri atau pekerja di sektor informal dan secara vertikal : dari petani dengan lahan terbatas menjadi petani yang tidak memiliki lahan atau buruh tani. ii) petani mengalami diversifikasi mata pencaharian atau mobilitas profesi. khususnya permasalahan yang berkaitan dengan akses dan kontrol petani terhadap tanah. Masuknya kapital swasta ke dalam komunitas petani Banjaranyar. Faktor kekuatan dan kekuasaan negara tetap menjadi persoalan untuk lahirnya sebuah pemberontakan petani. Oleh karena itu. yang memungkinkan tokoh gerakan seperti Pak Oman untuk dapat mengorganisir petani Banjaranyar. secara de facto tanah eks-perkebunan sudah dikuasai oleh petani.memaksa negara dan kekuatan ekonomi-politik (kapital swasta dan BUMN) lainya untuk dapat menjalankan kewajiban mereka untuk memenuhi kebutuhan petani. Hal inilah yang kemudian melahirkan anggapan bahwa kehadiran kapital swasta tidak membawa manfaat bagi masyarakat Banjaranyar.2 Kesimpulan Gerakan petani Banjaranyar dapat dilihat sebagai aksi perlawanan petani terhadap perampasan tanah oleh kapital swasta yang didukung negara melalui pemberian hak kelola tanah (HGU). Kondisi kehidupan petani yang sudah sedemikian terpuruk tetap saja tidak membuat petani Banjaranyar memiliki kemampuan dan keberanian untuk melakukan pemberontakan. lahirnya gerakan petani Banjaranyar tidak hanya didasarkan pada adanya faktor krisis subsitensi di tingkat petani. Tanah – tanah garapan hasil redistribusi telah berhasil memberikan keleluasaan dan kemerdekaan relatif kepada petani terhadap petani lain dan pasar. menyebabkan kehidupan petani semakin terpuruk dan menghadapi krisis subsistensi hingga kebatas toleransi. dalam bentuk perampasan tanah. 7. Pasca redistribusi tanah yang dilakukan pada tahun 2000. termasuk rasionalitas petani. dalam artian terjadinya peningkatan penghasilan petani. Hasil pertanian dari tanah 87   .

menyebut fenomena ini sebagai labor – consumer balance yaitu petani bertindak sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen. Fenomena ini justru memperlihatkan bahwa petani miskin memiliki kecederungan yang begitu kuat untuk selalu berada dalam ”situasi kemiskinan” dimana petani miskin akan tetap menjadi pihak yang lemah dan termarjinalkan. Keberadaan gerakan petani di Desa Banjaranyar hingga saat ini (1998 – 2010). Keberhasilan menguasai kembali tanah dan adanya peningkatan ekonomi sebenarnya tidak serta merta membuat seluruh persoalan yang ada menjadi selesai. boleh jadi dapat dipandang sebagai sebuah prestasi dalam konteks keberlanjutan sebuah gerakan petani. justru melahirkan golongan elite baru di Desa Banjaranyar. Pada tahun 2010 ketika penelitian ini dilakukan. pada beberapa kasus justru memperkuat posisi elite desa dan tidak signifikan membantu petani kecil sebagai pihak yang termarginalkan. Perbaikan ekonomi bagi para pemegang tanah garapan juga melahirkan permasalahan baru seperti munculnya kesenjangan sosial antara peserta reclaiming dan bukan peserta reclaiming. perusahaan swasta.redistribusi. memperhitungkan efisiensi pemilikan atau penguasaan tanah sesuai dengan kebutuhan hidup minimum berdasarkan jumlah anggota keluarganya. Kenyataan bahwa gerakan petani Banjaranyar dapat bertahan hingga 12 tahun. Para elite baru ini yang kemudian disokong dengan kisah heroik tetang aksi perebutan tanah dan kepemilikan de facto atas tanah redistribusi eks-perkebunan. Tetapi. Pada kenyataannya kehadiran gerakan petani. Kiching (1982). pemerintah daerah. petani yang meningkat posisi tawarnya adalah petani yang memiliki KTA SPP (Kartu Tanda Anggota SPP) dan tidak semua petani di Desa Banjaranyar merupakan anggota SPP. setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan subsisten petani. para petani tidak bertanah atau buruh tani justru banyak didominasi oleh petani yang bukan anggota SPP. keberadaannya yang mengejawantah dalam bentuk organisasi gerakan (OTL Banjaranyar) secara terus menerus dalam 88   . Tetapi. BUMN. LSM) lainnya. Gerakan petani Banjaranyar yang kemudian tergabung dalam Serikat Petani Pasundan (SPP) memang berhasil meningkatkan posisi tawar petani dihadapan para pemangku kepentingan (pemerintah pusat.

Seperti halnya pameo yang ada di daerah Priangan Timur yang menyatakan bahwa. Organisasi gerakan (OTL Banjaranyar) belum mampu bertranformasi menjadi institusi ekonomi yang dapat menyokong dan mepermudah kehidupan petani Banjaranyar. sangat maksimal apabila menjadi pusat informasi “aksi reclaiming tanah Desa Banjaranyar”. Terlepas dari berbagai permasalahan itu semua.kurun waktu 12 tahun justru melahirkan masalah baru. 89   . Karena tanah menjadi sumber sekaligus taruhan hidup bagi petani. melainkan juga simbol harga diri sebagai manusia pedesaan yang hidupnya bersumber dari sektor pertanian. tetapi kurang maksimal dalam hal membantu petani memenuhi kebutuhan seperti pupuk. dll. bibit. “tiadalah mungkin ada petani kalau tidak ada tanah yang bisa digarap”. akses pasar. tanah tidak hanya sebagai simbol eksistensi diri sebagai petani. modal tanam. Terlebih lagi. sesungguhnya gerakan petani Banjaranyar dapat dilihat sebagai sebuah gerakan kemanusiaan. OTL Banjaranyar saat ini. Sehingga perampasan tanah bagi petani juga dapat dilihat sebagai perampasan hak hidup dari petani itu sendiri.

1971. Yogyakarta : STPN Press dan Sajogyo Institute Chrysantini. Handbook of Qualitattive Research. Jurnal. Jakarta : Sekertariat Bina Desa Boras Jr. Yogyakarta : Pustakapelajar Eckstein. Yogyakarta : Pustaka Pelajar dan KPA Freeman. C. Tanah Untuk Penggarap. 2007. Gerakan dan Pertumbuhan Organisasi Petani di Indonesia : Studi Kasus Gerakan Petani Era 1980-an.DAFTAR PUSTAKA Aji. Edelman. Bogor : Pustaka Latin Bachriadi. A Model for Analyzing The Strategic Option of Social Movement. Syaiful dkk. 1993. Dua Abad Penguasaan Tanah : Pola Penguasaan Tanah Pertanian di Jawa Dari Masa ke Masa. Gerakan Petani Pagilaran : Kecamatan Blado Kabupaten Batang Jawa Tengah. 2004. Peasantry as a Class. Sartono. Middlesex : Penguin Books Mustain. 1984. Gutomo Bayu. Noer. Karl. dalam Teodor Shanin (ed). 2008. Sejarah Perkebunan di Indonesia. Petani vs Penguasan : Gerakan Sosial Petani Melawan Hegemoni Negara. Joe. Pemberontakan Petani Banten 1888. Power and Popular Protest. Radikalisasi Petani : Esai – Esai Sejarah. 1982. 2010. kajian sosial ekonomi. Dianto dan Anton Lucas. 2007. Pengalaman Serikat Petani Pasundan Menggarap Lahan – Lahan Perkebunan dan Kehutanan. Middlesex : Penguin Books. 2005. Bandung : Yayasan AKATIGA Denzin. edisi revisi. Barirington. 2001. Jakarta : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Bahri. Dwi Wahyu. Pinky. The Logic of Collective Action : Public Goods and The Theory of Group. Merampas Tanah Rakyat : Kasus Tapos dan Cimacan. Latin American Social Movement. 1999. Social Origins of Dictatorship and Democracy : Lord and Peasant in the Making of the Modern World. London : Methuen & Co Ltd Kuntowijoyo. Gerakan – Gerakan Agraria Transnasional. Cambridge Handayani. S. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia -----------. Yogyakarta : Bentang Intervisi Utama Marx. Dinamika Perjalanan Politik Agraria Indonesia.P. Development and Underdevelopment in Historical Perspective. 1966. 1991. Kay. Berkeley : University of California Press Fauzi. 1971 Moore. 1979. Noman K dan Yvonna S. Susan. Cambirdge : Harvard University Press 90   . 1999.. 2009. M. 1895. 1989. Yogyakarta : Aditya Media Kitching. Program Pascasarjanan Studi Ilmu Politik Konsentrasi Politik Lokal dan Otonomi Daerah. G.. Yogjakarta : Universitas Gajah Mada Kartodirjo. Jakarta : Pustaka Jaya -----------. Yogjakarta : Ar Ruzz media Olson. Tjondronegoro dan Gunawan Wiradi. Petani dan Penguasa . Penyunting : Soediono M. Lincoln. Berawal Dari Tanah : Melihat ke Dalam Aksi Pendudukan Tanah. Mancur.

Simon. New York : Elsevier Scott. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia Shanin. Rahman Zainudin. Middlesex : Penguin Books. Teodor. Senjata Orang –Orang Kalah : Bentuk – Bentuk Perlawanan Sehari – Sehari Kaum tani. dalam Teodor Shanin (ed). Negara dan Revolusi Sosial : Suatu Analisis Komparatif Tentang Perancis. 1971 91   . Sayogyo. Peasant. Bandung : Yayasan AKATIGA Wiradi. Barbara. penerjemah : A. Jakarta : Erlangga Suhendar. Theda. Dan Gerakan Sosial. 1986. James C. 2005. Meruntuhkan Indonesia : Politik Postkolonial dan Otorianisme. The Rational.1 Juni : Perdebatan Konseptual Tentang Kaum Marginal. Jurnal Analisis Sosial Vol. 1979. Uzair Fauzan. 1969. Petani Rasional. Berkeley: University of California Press Popkin. The Moral Economy Of The Peasent. Perlawanan Petani. penerjemah Nurudin MHD. Gunawan. 1989. 1971 Skocpol. 2003. Samuel L. New York : Rmunk Me Sharpe ---------. Samuel L. 1998. dalam Teode Shanin (ed). Endang dan Yohana Budi Winarni. Middlesex : Penguin Books. Yayasan Akatiga Salert. New Heaven : Yale University Press ---------. Peasant Resistance. 1976. The Political Economy of Rural Society in Vietnam.Philpott. dan Cina. Yogyakarta : LKIS Popkin. Konflik Agraria. Mien Joebhaar. Jakarta : Penerbit Yayasan Padamu Negeri Sadikin. 2000. 10 No. Reforma Agraria : Perjalanan yang Belum Berakhir. Revolution and Revolutionaries : Four Theories. 1976. 2000. Eric R. Peasantry as a Political Factor. Petani dan Konflik Agraria. 1991. On Peasant Rebellion. Rusia. Ali. Yogyakarta : INSIST Press Wolf. 1966.

Lampiran 1. Jalan Desa Gambar 8. Tanah Garapan 92   . Dokumentasi Gambar 6. Akses Jalan Menuju Tanah Garapan Gambar 7.

Hasil Panen 93   . Pemanenan Tanaman Kayu Gambar 10.Gambar 9.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful