You are on page 1of 17

MAKALAH

PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM
KLASIFIKASI DAN KRITERIA KELAS MUTU AIR BERDASARKAN
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 82 TAHUN 2001



OLEH :





DESI RATNA KOMALA
BP. 0910941014




DOSEN:
ESMIRALDA, MT








JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2012
KOAGULASI DAN KRITERIA DESAIN METODE PENGADUKAN MEKANIS
1.1 Koagulasi
Pengertian koagulasi adalah penambahan dan pengadukan cepat (flash mixing) koagulan yang
bertujuan untuk mendestabilisasi partikel-partikel koloid dan suspended solid (Reynolds,
1982). Sedangkan menurut Kawamura (2001) koagulasi didefinisikan sebagai proses
destabilisasi muatan koloid dan padatan tersuspensi termasuk bakteri dan virus, dengan suatu
koagulan. Pengadukan cepat (flash mixing) merupakan bagian integral dari proses koagulasi.
Tujuan pengadukan cepat adalah untuk mempercepat dan menyeragamkan penyebaran zat
kimia melalui air yang diolah. Pengadukan cepat yang efektif sangat penting ketika
menggunakan koagulan logam seperti alum dan ferric chloride, karena proses hidrolisisnya
terjadi dalam hitungan detik dan selanjutnya terjadi adsorpsi partikel koloid. Waktu yang
dibutuhkan untuk zat kimia lain seperti polimer (polyelectrolites), chlorine, zat kimia alkali,
ozone, dan potasium permanganat, tidak optimal karena tidak mengalami reaksi hidrolisis
(Kawamura, 1991).
Menurut Kawamura (1991), keefektifan pengadukan cepat dipengaruhi :
1. Tipe koagulan yang digunakan;
2. Jumlah zat kimia yang diberikan dan karakteristiknya masing-masing;
3. Kondisi lokal, misalnya kondisi daerah, temperatur, kelayakan suplai energi dan
sebagainya;
4. Karakteristik air baku;
5. Tipe pengaduk zat kimia;
6. Kehilangan tekanan (headloss) yang tersedia untuk pengadukan cepat;
7. Variasi aliran pada instalasi;
8. Jenis proses selanjutnya;
9. Biaya;
10. Dan lain-lain.
Kawamura (1991) menyebutkan bahwa pemilihan koagulan sangat penting untuk
menentukan desain kriteria pengadukan cepat dan untuk proses flokulasi dan sedimentasi agar
berjalan efektif. Koagulan yang sering digunakan adalah koagulan garam logam seperti :
alumunium sulfat, ferric chloride, dan ferric sulfate. Polimer buatan seperti polydiallyl
dimethyl ammonium (PDADMA) dan polimer kation alam seperti chitosan (terbuat dari kulit
udang) juga dapat digunakan. Perbedaan antara koagulan logam dengan polimer kation adalah
pada reaksi hidrolisnya dengan air. Garam logam mengalami hidrolisis ketika dimasukkan ke
dalam air sedangkan polimer tidak. Reaksi hidrolisis ini menghasilkan hydroxocomplex
seperti:
+ + + 2 3
3 2
3
6 2
, ) ( , ) ( AlOH O H Fe H Al
dan
+ 2
) (OH Fe
.
Selain koagulan, biasanya dalam pengolahan air bersih ada penambahan zat kimia yang
dibubuhkan dalam pencampuran cepat. Zat kimia yang sering digunakan adalah alum, polimer
kationik, potasium permanganat, chlorine, powerded activated carbon (PAC), amonia, kapur
soda, serta anionic dan nonionic polymers. Pemilihan zat kimia yang tepat sangat penting
khususnya pada air baku yang tidak memiliki alkalinitas yang cukup (Kawamura, 1991).
Jenis koagulan yang sering dipakai (Reynolds, 1982) adalah :
1. Alumunium Sulfat (Alum)
Alum [Al2(SO4)3.18H2O] adalah salah satu koagulan yang umum digunakan karena
harganya murah dan mudah didapat. Alkalinitas yang ada di dalam air bereaksi dengan
alumunium sulfat (alum) menghasilkan alumunium hidroksida sesuai dengan persamaan :
Al2(SO4)3.14H2O + 3Ca(HCO3)2 → 3CaSO4 + 2Al(OH)3 + 6CO2 + 14 H2O
Bila air tidak mengandung alkalinitas untuk bereaksi dengan alum, maka alkalinitas perlu
ditambah. Biasanya alkalinitas dalam bentuk ion hidroksida yaitu berupa kalsium
hidroksida (Ca(OH)2) dengan reaksi :
Al2(SO4)3.14H2O + 3Ca(OH)2 → 2Al(OH)3 + 3CaSO4 + 14 H2O
Alkalinitas bisa juga ditambahkan dalam bentuk ion karbonat dengan penambahan natrium
karbonat. Kebanyakan perairan memiliki alkalinitas yang cukup sehingga tidak ada
penambahan zat kimia selain alumunium sulfat. Nilai pH optimum untuk alum sekitar 4,5–
8,0.
2. Ferrous Sulfate (FeSO4)
Ferrous sulfate membutuhkan alkalinitas dalam bentuk ion hidroksida agar menghasilkan
reaksi yang cepat. Senyawa Ca(OH)2 biasanya ditambahan untuk meningkatkan pH
sampai titik tertentu dimana ion Fe2+ diendapkan sebagai Fe(OH)3. Reaksinya adalah :
2FeSO4. 7H2O + 2Ca(OH)2 + ½ O2 → 2Fe(OH)3 + 2CaSO4 + 13 H2O
Agar reaksi di atas terjadi, pH harus dinaikkan hingga 9,5. Selain itu, ferrous sulfate
digunakan dengan mereaksikannya dengan klorin dengan reaksi :
3FeSO4.7H2O + 1,5Cl2 → Fe2(SO4)3 + FeCl3 + 21H2O
Reaksi ini terjadi pada pH rendah sekitar 4,0.


3. Ferric Sulfate dan Ferric Chloride
Reaksi sederhana ferric sulfate dengan alkalinitas bikarbonat alam membentuk ferric
hydroxide dengan reaksi :
Fe2(SO4)3 + 3Ca(HCO3)2 → 2Fe(OH)3 + 3CaSO4 + 6CO2
Sedangkan reaksi ferric chloride dengan alkalinitas bikarbonat alami yaitu :
2FeCl3 + 3Ca(HCO3)2 → 2Fe(OH)3 + 3CaSO4 + 6CO2
Apabila alkalinitas alami tidak cukup untuk reaksi, Ca(OH)2 ditambahkan untuk
membentuk hidroksida. Reaksinya adalah :
2FeCl3 + 3Ca(OH)2 → 2Fe(OH)3 + 3CaCl2
Menurut Kawamura (1991), pengadukan cepat bisa dilakukan dengan sistem difusi secara
hidrolis, mekanis maupun dengan pompa. Tipe pengadukan cepat yang umum digunakan,
berdasarkan keefektifan, kemudahan pemeliharaan serta biaya, urutan pilihannya adalah
sebagai berikut :
1. Diffusion mixing dengan water jet bertekanan (Gambar 1.1)
Keuntungan dari sistem ini adalah bahwa air baku tanpa penambahan zat kimia atau sudah
mengalami destabilisai sebagian bisa digunakan dalam sistem injeksi zat kimia. Valve
yang dipasang pada pompa bisa digunakan untuk mengontrol kecepatan pemompaan dan
variasi energi input untuk aliran yang bervariasi dan berjenis-jenis zat kimia koagulasi.
Sistem ini mempunyai durasi pengadukan sekitar 0,5 detik dan nilai G sekitar 1000 detik-
1 (AWWA, 1997).


Gambar 1.1. Jet Injection Sistem Pengadukan Cepat
Sumber : Montgomery, 1985


2. In-line static mixing (Gambar 1.2.)
Pengaduk ini dikenal dengan pengaduk statis tidak bergerak. Pengaduk ini cukup efektif
dalam proses koagulasi. Kelebihan pengaduk ini adalah (1) tidak adanya bagian yang
bergerak, (2) tidak membutuhkan energi luar untuk menjadi input (masukan) ke dalam
sistem, (3) lebih sedikit terjadinya penyumbatan daripada tipe pengadukan difusi dengan
pompa. Kekurangannya adalah bahwa tingkat dan waktu pengadukannya merupakan
fungsi debit aliran. Panjang pengadukan biasanya 1,5 – 2,5 diameter pipa. Dalam
penerapannya, maksimum headloss yang melintasi unit koagulasi adalah 0,6 m. Desain
instalasi pegolahannya harus mempunyai screen pada intake di bagian hulu dari pengaduk
statis sehingga sampah-sampah besar tidak merusak pengaduk statis (Kawamura, 1991).

Gambar 1.2. In-line Static Mixer
Sumber : Montgomery, 1985
Nilai G dirumuskan sebagai berikut :
5 . 0
.
|
|
.
|

\
|
=
V
P
G
µ

Untuk pengadukan cepat dengan static mixer besarnya P dapat diperoleh melalui persamaan
(Kawamura, 1991) :
Qwh P =


N
D
S Q N
h
|
|
.
|

\
| ÷
=
4
1 , 0 2
) 1 ( 009 , 0 µ

Dimana :
P = energi pengadukan, (Watt = N.m/s)
µ = viskositas absolut air (N.s/m2) = 1,336.10-3 N.s/m2 pada 10° C
V = volume zone pengadukan (m3)
Q = debit aliran (m3/s)
w = berat air = 1000,15615 kg/m3
h = tekanan jatuh (m)
S = specific gravity = 1,00
N = jumlah elemen pengadukan
Pengadukan cepat dengan in-line static mixer mempunyai kriteria desain tersendiri yaitu
(Kawamura, 1991) :
G x t = 350 – 1700 (rata-rata 1000)
t = 1 – 5 detik
3. Mechanical mixing (Gambar 1.3)
Pengaduk mekanis secara umum merupakan tipe pengaduk paddle atau propeller. Lebih
dari satu set blade propeller atau paddle tersedia pada sebuah shaft. Pengaduk mekanis
sering dirancang dengan penggerak shaft vertikal dengan sebuah penurun kecepatan dan
motor elektrik. Nilai desain untuk kebanyakan sistem pengaduk cepat secara mekanis
yaitu waktu detensi 10 – 60 detik dan nilai G sebesar 600 – 1000 detik-1 (AWWA, 1997).
Menurut Reynolds, 1982:
Gradien kecepatan : G2 =

Menurut Fair & Geyer, 1986:
Daya pengadukan yang dibutuhkan
- Untuk single blade :
P = 5.74 x 10-4. Cd . µ . (1 – K )3 n3 r3 A
- Untuk multiple blade :
P = 1.44 x 10-4 CD . µ . (1 – K )3 n3 b ¿ (r4 - r04 )
Cd = Koefisien Drag , harganya ditentukan sbb :
Tabel 1.1. Harga Koefisien Drag
No Panjang : Lebar Cd
1 5 1,2
2 20 1,5
3
·
1,9
Sumber: Reynolds, 1982
Keterangan : P : Daya pompa (watt) n : jumlah putaran permenit (rpm)
µ : viskositas dinamis (Ns/m2) r : jari-jari blade/impeller (m)
v : volume (m3) A : luas blade/impeller (m2)
Cd: koefisien drag b : lebar blade/impeler (m)
µ : berat jenis air (kg/m3) td : waktu tinggal (jam)
G : gradien kecepatan (1/dt)
k : ratio kecepatan fluida terhadap kecepatan blade/impeller


Gambar 1.3. Mechanical Mixer
Sumber : Montgomery, 1985
4. In-line mechanical mixing (Gambar 1.4)
Tipe pengaduk ini menghasilkan pengadukan cepat yang lebih efisien walaupun letaknya
tetap. Keuntungan menggunakan tipe ini adalah bisa mencapai dispersi atau penyebaran
zat kimia yang cepat. Pengaduk ini beroperasi pada watu detensi yang pendek (kurang dari
satu detik) dan pada nilai G yang tinggi. Namun, hal tersebut menjadi pertimbangan
penting karena menjadi kelemahan alat ini dalam air yang membutuhkan waktu reaksi
yang lebih lama dan lebih dari satu zat kimia untuk pembentukan flok (AWWA, 1997).

Gambar 1.4. In-line Mechanical Mixer
Sumber : Montgomery, 1985
5. Hydraulic mixing dengan terjunan (Gambar 1.5)
Pengadukan hidrolis dapat dilakukan dengan menggunakan V-notch, saluran air, orifice,
aliran turbulen sederhana yang disebabkan oleh kecepatan dalam pipa, fitting atau saluran.
Total headloss untuk pengadukan zat kimia koagulan tidak lebih dari 3,2 m. Energi dari
suatu terjunan efektif setinggi 30 cm menyediakan nilai G sebesar 1000 s-1 pada suhu 20°
C (AWWA, 1997).
Gradien kecepatan (G) : 400-1000 /dt
Waktu detensi (td) : 60 detik (untuk kekeruhan tinggi)
G x td : 20.000 – 30.000
2
1
.
.
(
¸
(

¸

=
td
h g
G
u
(2-11)
dimana, G =gradien kecepatan (1/detik)
g =percepatan gravitasi (m/s2)
h =tinggi terjunan
u =viskositas kinematis

Gambar 1.5. Koagulasi Tipe Terjunan

6. Diffusion dengan pipe grid (Gambar 1.6)
Tipe pengadukan cepat ini tergantung pada turbulensi yang diciptakan oleh pipa grid.
Koagulan atau zat kimia lainnya ditambahkan ke dalam aliran melaui injeksi orifice di
dalam grid. Masalah yang umum terjadi adalah tersumbatnya orifice setelah beberapa
bulan hingga satu tahun instalasi beroperasi. Di bawah kondisi normal, pengaduk ini tidak
direkomendasikan (Kawamura, 1991).

Gambar 1.6. Diffusion Flash Mixer
Sumber : Montgomery, 1985
Salah satu jenis pengadukan cepat tipe hidrolis adalah pengadukan dalam pipa. Panjang pipa
yang diperlukan untuk pengadukan cepat berdasarkan kecepatan aliran dan waktu
pencampuran, dengan rumus perhitungan sebagai berikut (Darmasetiawan, 2001) :
v
L
td =

2
G
v Hf g
L
u
=

A Q V / =

Dimana :
L = panjang pipa (m)
V = kecepatan aliran dalam pipa (m/detik)
= 2.5 – 4 m/detik
Q = kapasitas pengolahan (m3/detik)
td = waktu pencampuran (detik)
A = luas penampang pipa (m)
= ¼
t
D2
G = gradien kecepatan (/dt)
u
= viskositas kinematik (1,306x10-6 m/s pada suhu 10°C)
Gradient kecepatan 350-1700 /dt /detik. Dengan rumus sebagai berikut :
|
|
.
|

\
|
=
td
Hf g
G
u
0.5
Dimana :
G = gradient kecepatan (per detik)
g = percepatan gravitasi (9,81 m/det2)
Hf = kehilangan tinggi tekanan sepanjang aliran (m)
td = waktu pencampuran
u
= viskositas kinematis ( 1,306 x 10-6 m2/det pada temperatur 10 °C)
Peavy (1985) menjelaskan bahwa parameter desain untuk pengadukan cepat adalah waktu
pengadukan (t) dan gradien kecepatan (G). Untuk mendapatkan flok yang baik dilakukan
pengadukan yang bertahap dan gradien kecepatannya makin lama makin menurun.
Tabel 1.2. Kriteria Desain Unit Koagulasi
No Keterangan Unit
Kawamura
(1)
Al-
Layla
(2)
Reynolds
(3)
Darmasetiawan
(4)
Peavy
(5)
Montgomery
(6)
1
G
dtk-1 300 700 - 1000 700 - 1000
600 -
1000
1000
2 Td dtk 10 - 30 30 - 60 20 - 60 20 - 40 10 - 60
3 G x Td 300 - 1600 20000 - 30.000 1000 - 2000
4 pH alum opt. 4 4,5 - 8,0 5,0 - 7,5
Sumber: 1.Kawamura, 1991; 2.Al-Layla, 1980; 3.Reynolds, 1982; 4.Darmasetiawan, 2001; 5.Peavy, 1985; 6. Montgomery, 1985
1.2 Metode Pengadukan Mekanis
1.2.1 Tipe Mekanis yang Digunakan.
Banyak tipe mekanis yang dapat digunakan dalam operasi mixing dan agitasi ini.
Diantaranya:
1. Paddle
Impeller paddle bervariasi dalam desain. Dari paddle tunggal dan datar pada shaft
vertikal sampai flokulator banyak blade yang dipasang pada shaft horizontal yang
panjang seperti terlihat pada gambar 2.5 berikut ini.







Gambar 1.7 Impeller Paddle Shaft Horizontal
Paddle dapat berjalan pada kecepatan rendah sampai sedang (2 sampai 150 rpm)
dan terutama digunakan sebagai agitator untuk melarutkan suspensi atau sebagai
pencampur pada aplikasi viskositas tinggi. Arus utama yang diperoleh merupakan
radial dan tangensial terhadap rotating paddle.
2. Turbine
Turbine impeller merupakan istilah yang digunakan untuk berbagai macam bentuk
impeller. Yang banyak digunakan adalah turbine impeller jenis yang terlihat pada
gambar 2.6. jenis ini terdiri dari beberapa blade lurus yang terpasang vertikal pada
suatu piringan datar. Rotasi berlangsung pada kecepatan sedang dan aliran fluida
terbentuk pada arah radial dan tangensial.

Gambar 1.8 Turbine Impeller
3. Propeller
Impeler tipe marine propeller merupakan yang berukuran kecil namun
berkecepatan tinggi (400 rpm untuk propeller beerdiameter besar sampai 175 rpm
untuk yang berdiameter kecil) dan digunakan secara luas dalam aplikasi viskositas
rendah. Impeller ini mempunyai laju pemindahan aliran tinggi dan menghasilkan
arus kuat pada arah aksial.

Gambar 1.9 Propeller
1.2.2 Hal-hal yang perlu diperhitungkan dalam mendesain pengadukan menggunakan
alat mekanis
Dalam operasi pengadukan dengan mekanis beberapa hal yang perlu diperhitungkan
diantaranya:
1. Baffling
Komponen aliran tangensial yang diinduksi oleh rotating impeller memberikan
pergerakan rotasi yang lebih dikenal dengan vorteks disekitar tiang impeller.
Vorteks menghalangi operasi pengadukan dengan cara mengurangi kecepatan
impeller relatif terhadap cairan. Sehingga lebih lanjutnya konsumsi daya yang
dibutuhkan menjadi lebih sulit dihitung. Karenanya vorteks dapat dikurangi dengan
baffling yang tepat. Pembatas vertikal ditempatkan sepanjang dinding tangki untuk
memecah pergerakan rotasi dengan mengalihkan cairan kembali terhadap tiang
impeller. Untuk operasi turbin impeller, kelebaran baffle harus lebih kecil 1/10
sampai 1/12 diameter tangki.sedangkan pada operasi propeller, lebar yang lebih
kecil dapat digunakan.
2. Fluid Regime
Rotating impeller terjadi di dalam suatu pola aliran massa fluida yang terbentuk
tidak hanya akibat bentuk, ukuran dan kecepatan impeller tetapi juga karena
karakteristik kontainer fluida dan adanya baffling. Jika aliran bersifat viskos, tidak
ada mixing yang terjadi di dalam akibat difusi. Namun jika aliran turbulen, partikel
fluid bergerak dalam semua arah dan pengadukan terjadi terutama akibat dari
penempatan konveksi. Transfer moment yang berhubungan dengan penempatan ini
menghasilkan tegangan geser yang kuat di dalam fluida. Biasanya aliran massa dan
turbulensi atau hasilnya berupa tegangan fluida penting dalam operasi pengadukan.
Kebanyakan turbulensi dihasilkan dari adanya kontak antara aliran fluida
berkecepatan tinggi dengan yang berkecepatan rendah. Aliran sepanjang sisi
kontainer, blade impeller dan sepanjang baffle memberikan turbulensi dalam
tingkat yang lebih rendah. Desain operasi pengadukan mecakup dua hal:
- Identifikasi fluida regime tertentu yang diperlukan dengan melihat: pertama,
hubungan yang ada antara gaya-gaya yang terlibat dalam regime. Hal ini tentu
harus komplit dan menghasilkan kesamaan geometrik, kinematik dan dinamik
pada operasi scaling up. Kedua, dari beberapa hal lainnya seperti input daya per
unit volume cairan untuk menghasilkan proses tertentu. Walaupun hasilnya
kurang lengkap karena hanya menghasilkan kesamaan geometrik dan kinematik
saja;
- Sintesa suatu operasi untuk menghasilkan regime.
3. Kurva Daya
Fluida regime yang terjadi akibat rotating impeller, sehingga gaya-gaya mayor
yang terjadi dalam fluida adalah:
- Gaya inersia yang ditandai dengan Power Number
5 3
. .
.
D n
g P
N
c
P
µ
=
- Gaya viskos yang digambarkan dalam Bilangan Reynold
µ
µ . .
2
Re
D n
N =
Gaya gravitasi yang dideskripsikan dengan Bilangan Froude
g
n D
N
Fr
2
.
=
Dimana : g
c
= faktor konversi hukum newton, 32,17 ft.lb massa/dt
2
.lb.massa
Hubungan yang dapat disimpulkan dari ketiga gaya tersebut adalah :
q
Fr
p
P
N N K N . .
Re
=
Dimana :
qqK = konstanta
qp, q = Eksponen
nilai K,p dan q tergantung situasi pengadukan.
Gaya gravitasi yang digambarkan dalam bilangan Froude menjadi efektif hanya
jika aliran turbulen dan oleh karenanya jika vorteks terbentuk disekitar impeller.
Plotting logaritmik persamaan (2.15) untuk impeller tertentu diperlihatkan pada
gambar 2.8 berikut. Disini bilangan Reynold diplotkan terhadap fungsi daya:











Gambar 1.10 Karakteristik Daya Mixing Impeller
Untuk kontainer baffle tanpa vorteks:
5 3
. .
.
D n
g P
N
c
P
µ
| = =
Kurva ABCD menggambarkan hubungan fungsi daya dan bilangan Reynold Jika
vorteks tidak terbentuk. Dan jika vorteks terbentuk:
q
c
q
Fr
P
g
n D
D n
g P
N
N
÷
|
|
.
|

\
|
= =
2
5 3
.
. .
.
µ
|
Kurva ABE memberikan hubungan jika terjadi vorteks.
Pada bilangan reynold rendah, kedua kurva bertemu, menunjukkan eksponen q sama
dengan nol dan :
p
P
N K N
Re
. = = |
Berlaku untuk kedua kurva diatas.
Sampai pada bilangan reynold 10, kemiringan kurva daya mendekati sama dengan –1.
Substitusi nilai ini untuk p pada persamaan (2.18)
|
|
.
|

\
|
= =
µ
µ
µ . . . . .
.
2 5 3
n D
K
D n
g P
N
c
P

3 2
. . . D n
g
K
P
c
µ =
Jika kondisi turbulen sepenuhnya terjadi di dalam kontainer dimana vorteks
dihilangkan (dari C ke D pada kurva ABCD) nilai eksponen p adalah nol.
K N
P
= = |
5 3
. . . D n
g
K
P
c
µ =
Dalam sistem diatas, turbulensi terjadi pada bilangan reynold = 100.000.
Bagian kurva ABE yang terjadi pada daerah aliran turbulen adalah irregular.
Konsekuensinya, tidak ada persamaan yang dapat dibuat untuk input daya jika aliran
turbulen dan adanya pembentukkan vorteks. Nilai konstanta K tergantung pada
bentuk, ukuran impeller serta jumlah baffle dan variabel lainnya yang tidak termasuk
dalam persamaan daya. Berikut tabel nilai konstanta K pada beberapa jenis impeller:
Tabel 1.3 Viskos Range dan Turebulent Range Beberapa Impeller
IMPELLER
VISKOS
RANGE
(PERS. 2.20)
TURBULENT
RANGE
(PERS. 2.22)
Propeller, square pitch, 3 blade
Propeller, 2 pitch, 3 blade
Turbine, 6 flat blade
Turbine, 6 curved blade
Turbine, 6 arrowhead blade
Fan turbine, 6 blade
Flat paddle, 2 blade
Shrouded turbine, 6 curved blade
Shrouded turbine, with stator (no baffle)
41.0
43.5
71.0
70.0
71.0
70.0
36.5
97.5
172.5
0.32
1.00
6.30
4.80
4.00
1.65
1.70
1.08
1.12
Sumber: Unit Operation Of Sanitary Engineering, Rich, 1961


Kecepatan impeller adalah sebesar:
n r v
i
. . 2t =
Sedangkan kecepatan relatif yang terjadi akibat pergerakan impeller dan perlawanan
air (v
a
) adalah :
a i
v v v ÷ =
Sehingga gaya yang dibutuhkan untuk pengadukan adalah sebesar:
2
. . . .
2
1
v A C F
D D
µ =
Power yang dibutuhkan dalam mendesain mekanis sebagaimana disebutkan diatas
adalah sebesar:
P = F
D
. v
4. Scale up
Hanya sedikit informasi yang ada hubungannya dengan operasi pengadukan pada
kinerja proses. Maka konsekuensinya, identifikasi fluid regime optimum untuk
mencapai hasil proses yang diinginkan. Sehingga harus didapatkan informasi
berdasarkan percobaan laboratorium atau pilot-plant. Jika fluid regime optimum
teridentifikasi, metode scaling up untuk operasi skala kecil dapat digunakan untuk
mendesain operasi dengan ukuran yang diinginkan yang memiliki dinamika yang
sama. Dua sistem yang sama secara geometrik jika rasio dimensi dalam satu sistem
sama dengan rasio pada sistem yang lainnya kesamaan kinematik tercapai jika gerakan
fluida sama pada kedua sistem yang secara geometrik sama. Sistem-sistem akan
memiliki kesamaan dinamik jika selain sama secara geometrik dan dinamik, juga
mempunyai rasio-rasio gaya yang sama pada titik tertentu di dalam sistem. Jadi sejauh
ini scale up akan tepat tercapai hanya di dalam sistem yang secara dinamik sama.
Untuk pemakaian daya tertentu, rasio aliran massa-intensitas geser dapat divariasikan
dengan menggunakan impeller dengan ukuran berbeda dan secara geometrik sama.
Sehingga pada tingkat pilot plant, pertimbangkan dengan baik rasio diameter impeller-
tangki yang memberikan hasil proses optimum. Pengaruh ukuran impeller terhadap
laju reaksi pada dua jenis proses dapat dilihat pada grafik berikut:















Gambar 1.11 Grafik Pengaruh Ukuran Impeller terhadap Laju Reaksi pada Input Daya
yang Sama
Karena rasio aliran massa terhadap intesitas geser dapat divariasikan pada input daya
sama dengan menggunakan impeller berbeda ukuran yang secara geometrik sama,
hanya sedikit justifikasi yang diperoleh dengan berbagai variasi bentuk impeller.
Seperti telah disinggung sebelumnya, bilangan Reynold berhubungan dengan
intensitas geser yang terjadi pada fluida turbulen. Jadi, data laju reaksi yang
tergantung pada ketebalan film cairan dapat dikorelasikan dengan bilangan Reynold.
Korelasi ini didemonstrasikan oleh Ruhton. Jika impeller dirotasikan pada kecepatan
berbeda dalam kisaran aliran yang sepenuhnya turbulen (dari C ke D gambar 2.5), data
yang diperoleh akan memberikan hubungan seperti pada gambar 2.10 berikut:








Gambar 1.12 Korelasi Koefisien Laju, Sifat Fluida dan Gerakan Fluida
Bilangan Reynold diplot terhadap ψ:
w
P
k
c
k
D h
÷
|
.
|

\
|
= +
µ . .

Dimana : h = koefisien Transfer panas (BTU)/(ft
2
)(jam)(
o
F)
K= kondukrivita termal (BTU)(ft)/(ft
2
)(jam)(
o
F)
c
p
= panas spesifik pada tekanan konstan (BTU)/(lb)(
o
F)
w= eksponen
Dalam bentuk persamaan hubungannya adalah:
w
P
m
k
c n D
K
k
D h
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
=
µ
µ
µ . . .
'
.
2

Dimana : m = kemiringan kurva korelasi
Untuk menghasilkan nilai tertentu dari koefisien transfer h dalam sistem secara
geometris sama untuk ukuran berbeda, hubungan scale up dapat diperoleh dengan
membagi hubungan pada persamaan (2.24) yang diekspresikan dalam perbandingan
ukuran yang satu terhadap yang lain, jika fluida tidak berubah:
( ) m m
D
D
n
n
/ ) 1 2
2
1
1
2
÷
|
|
.
|

\
|
=
Dimana : 1 dan 2 merujuk pada ukuran yang berbeda.
kebutuhan daya yang harus dipenuhi pada scale up ditentukan dari hubungan yang
dikembangkan dengan mengkombinasikan persamaan (2.22) dan (2.25):
( ) m m
D
D
P
P
/ 3
2
2
1
2
÷
|
|
.
|

\
|
=
nilai m tergantung pada geometrik khas tangki serta bentuk, ukuran dan lokasi
impeller serta kelengkapan lain di dalam tangki. Plot eksponen ini terhadap rasio daya
input persatuan volume di dalam sistem yang secara geometris sama sebagai fungsi
ukuran tangki dapat dilihat pada gambar 2.8 berikut ;

Gambar 1.13 Hubungan Daya –Volume Terhadap Skala Eksponen
Terlihat dari kurva bahwa secara umum input daya persatuan volume bervariasi
dengan scale up. Selain itu, rasio bervariasi terhadap nilai m.

KOAGULASI DAN KRITERIA DESAIN METODE PENGADUKAN MEKANIS 1. chlorine. 3. 9. 1982). keefektifan pengadukan cepat dipengaruhi : 1. dan ferric sulfate. Variasi aliran pada instalasi. 7. Biaya. 1991). Perbedaan antara koagulan logam dengan polimer kation adalah pada reaksi hidrolisnya dengan air. 8. temperatur. Pengadukan cepat (flash mixing) merupakan bagian integral dari proses koagulasi. Dan lain-lain. misalnya kondisi daerah. Tipe koagulan yang digunakan. Tujuan pengadukan cepat adalah untuk mempercepat dan menyeragamkan penyebaran zat kimia melalui air yang diolah. kelayakan suplai energi dan sebagainya. Garam logam mengalami hidrolisis ketika dimasukkan ke . dengan suatu koagulan. Kehilangan tekanan (headloss) yang tersedia untuk pengadukan cepat. Kondisi lokal. tidak optimal karena tidak mengalami reaksi hidrolisis (Kawamura. Waktu yang dibutuhkan untuk zat kimia lain seperti polimer (polyelectrolites). Menurut Kawamura (1991). Sedangkan menurut Kawamura (2001) koagulasi didefinisikan sebagai proses destabilisasi muatan koloid dan padatan tersuspensi termasuk bakteri dan virus. dan potasium permanganat. zat kimia alkali. Koagulan yang sering digunakan adalah koagulan garam logam seperti : alumunium sulfat. 5. 4. ozone. Pengadukan cepat yang efektif sangat penting ketika menggunakan koagulan logam seperti alum dan ferric chloride. Jenis proses selanjutnya. Jumlah zat kimia yang diberikan dan karakteristiknya masing-masing. Karakteristik air baku.1 Koagulasi Pengertian koagulasi adalah penambahan dan pengadukan cepat (flash mixing) koagulan yang bertujuan untuk mendestabilisasi partikel-partikel koloid dan suspended solid (Reynolds. 2. Kawamura (1991) menyebutkan bahwa pemilihan koagulan sangat penting untuk menentukan desain kriteria pengadukan cepat dan untuk proses flokulasi dan sedimentasi agar berjalan efektif. karena proses hidrolisisnya terjadi dalam hitungan detik dan selanjutnya terjadi adsorpsi partikel koloid. ferric chloride. Tipe pengaduk zat kimia. Polimer buatan seperti polydiallyl dimethyl ammonium (PDADMA) dan polimer kation alam seperti chitosan (terbuat dari kulit udang) juga dapat digunakan. 10. 6.

. serta anionic dan nonionic polymers. 7H2O + 2Ca(OH)2 + ½ O2 → 2Fe(OH)3 Agar reaksi di atas terjadi. amonia.5– 8. 2. Fe (H 2O ) 3 .5Cl2 → Fe2(SO4)3 + FeCl3 + 21H2O Reaksi ini terjadi pada pH rendah sekitar 4.14H2O + 3Ca(OH)2 → 2Al(OH)3 + 3CaSO4 + 14 H2O Alkalinitas bisa juga ditambahkan dalam bentuk ion karbonat dengan penambahan natrium karbonat.0. seperti: Al (H 2 ) 3 .0. Zat kimia yang sering digunakan adalah alum.18H2O] adalah salah satu koagulan yang umum digunakan karena harganya murah dan mudah didapat. Pemilihan zat kimia yang tepat sangat penting khususnya pada air baku yang tidak memiliki alkalinitas yang cukup (Kawamura. ferrous sulfate digunakan dengan mereaksikannya dengan klorin dengan reaksi : 3FeSO4. Alumunium Sulfat (Alum) Alum [Al2(SO4)3. kapur soda.5. Nilai pH optimum untuk alum sekitar 4. Jenis koagulan yang sering dipakai (Reynolds. polimer kationik. Reaksinya adalah : 2FeSO4.7H2O + 1. Selain itu. 1982) adalah : 1. Biasanya alkalinitas dalam bentuk ion hidroksida yaitu berupa kalsium hidroksida (Ca(OH)2) dengan reaksi : Al2(SO4)3. Kebanyakan perairan memiliki alkalinitas yang cukup sehingga tidak ada penambahan zat kimia selain alumunium sulfat. 1991). pH harus dinaikkan hingga 9. Alkalinitas yang ada di dalam air bereaksi dengan alumunium sulfat (alum) menghasilkan alumunium hidroksida sesuai dengan persamaan : Al2(SO4)3. Selain koagulan. potasium permanganat. Senyawa Ca(OH)2 biasanya ditambahan untuk meningkatkan pH + 2CaSO4 + 13 H2O sampai titik tertentu dimana ion Fe2+ diendapkan sebagai Fe(OH)3. AlOH 6 3 2 Reaksi hidrolisis ini menghasilkan hydroxocomplex 2 dan Fe (OH ) .dalam air sedangkan polimer tidak. chlorine. biasanya dalam pengolahan air bersih ada penambahan zat kimia yang dibubuhkan dalam pencampuran cepat. powerded activated carbon (PAC). Ferrous Sulfate (FeSO4) Ferrous sulfate membutuhkan alkalinitas dalam bentuk ion hidroksida agar menghasilkan reaksi yang cepat. maka alkalinitas perlu ditambah.14H2O + 3Ca(HCO3)2 → 3CaSO4 + 2Al(OH)3 + 6CO2 + 14 H2O Bila air tidak mengandung alkalinitas untuk bereaksi dengan alum.

3. Valve yang dipasang pada pompa bisa digunakan untuk mengontrol kecepatan pemompaan dan variasi energi input untuk aliran yang bervariasi dan berjenis-jenis zat kimia koagulasi. kemudahan pemeliharaan serta biaya. Ferric Sulfate dan Ferric Chloride Reaksi sederhana ferric sulfate dengan alkalinitas bikarbonat alam membentuk ferric hydroxide dengan reaksi : Fe2(SO4)3 + 3Ca(HCO3)2 → 2Fe(OH)3 + 3CaSO4 + 6CO2 Sedangkan reaksi ferric chloride dengan alkalinitas bikarbonat alami yaitu : 2FeCl3 + 3Ca(HCO3)2 → 2Fe(OH)3 + 3CaSO4 + 6CO2 Apabila alkalinitas alami tidak cukup untuk reaksi. 1997). Jet Injection Sistem Pengadukan Cepat Sumber : Montgomery. Tipe pengadukan cepat yang umum digunakan. Reaksinya adalah : 2FeCl3 + 3Ca(OH)2 → 2Fe(OH)3 + 3CaCl2 Menurut Kawamura (1991). urutan pilihannya adalah sebagai berikut : 1. Diffusion mixing dengan water jet bertekanan (Gambar 1. Sistem ini mempunyai durasi pengadukan sekitar 0.1) Keuntungan dari sistem ini adalah bahwa air baku tanpa penambahan zat kimia atau sudah mengalami destabilisai sebagian bisa digunakan dalam sistem injeksi zat kimia. pengadukan cepat bisa dilakukan dengan sistem difusi secara hidrolis. berdasarkan keefektifan. Ca(OH)2 ditambahkan untuk membentuk hidroksida. mekanis maupun dengan pompa.1. 1985 .5 detik dan nilai G sekitar 1000 detik1 (AWWA. Gambar 1.

Desain instalasi pegolahannya harus mempunyai screen pada intake di bagian hulu dari pengaduk statis sehingga sampah-sampah besar tidak merusak pengaduk statis (Kawamura. 1985 Nilai G dirumuskan sebagai berikut :  P G   .5 Untuk pengadukan cepat dengan static mixer besarnya P dapat diperoleh melalui persamaan (Kawamura.2.) Pengaduk ini dikenal dengan pengaduk statis tidak bergerak.5 – 2.1  N h    D4   Dimana : P  V Q w = energi pengadukan. (2) tidak membutuhkan energi luar untuk menjadi input (masukan) ke dalam sistem. 1991) : P  Qwh  0.2. Gambar 1. 1991).s/m2 pada 10° C = volume zone pengadukan (m3) = debit aliran (m3/s) = berat air = 1000.5 diameter pipa.15615 kg/m3 . Kelebihan pengaduk ini adalah (1) tidak adanya bagian yang bergerak. Dalam penerapannya. Panjang pengadukan biasanya 1.6 m.009(N  1)Q 2S  0. (3) lebih sedikit terjadinya penyumbatan daripada tipe pengadukan difusi dengan pompa.2.  V     0.336. In-line Static Mixer Sumber : Montgomery.10-3 N. Kekurangannya adalah bahwa tingkat dan waktu pengadukannya merupakan fungsi debit aliran. maksimum headloss yang melintasi unit koagulasi adalah 0.s/m2) = 1. In-line static mixing (Gambar 1. Pengaduk ini cukup efektif dalam proses koagulasi. (Watt = N.m/s) = viskositas absolut air (N.

Lebih dari satu set blade propeller atau paddle tersedia pada sebuah shaft. (1 – K )3 n3 r3 A .r04 ) Cd = Koefisien Drag . 1997). Pengaduk mekanis sering dirancang dengan penggerak shaft vertikal dengan sebuah penurun kecepatan dan motor elektrik. (1 – K )3 n3 b  (r4 . Mechanical mixing (Gambar 1. 1982 Keterangan : P : Daya pompa (watt) n : jumlah putaran permenit (rpm)  : viskositas dinamis (Ns/m2) r : jari-jari blade/impeller (m) v : volume (m3) A : luas blade/impeller (m2) Cd: koefisien drag b : lebar blade/impeler (m)  : berat jenis air (kg/m3) td : waktu tinggal (jam) G : gradien kecepatan (1/dt) k : ratio kecepatan fluida terhadap kecepatan blade/impeller .00 = jumlah elemen pengadukan Pengadukan cepat dengan in-line static mixer mempunyai kriteria desain tersendiri yaitu (Kawamura. Menurut Reynolds. Cd . harganya ditentukan sbb : Tabel 1.44 x 10-4 CD . 1982: Gradien kecepatan : G2 = Menurut Fair & Geyer.74 x 10-4.  .2 1. Nilai desain untuk kebanyakan sistem pengaduk cepat secara mekanis yaitu waktu detensi 10 – 60 detik dan nilai G sebesar 600 – 1000 detik-1 (AWWA. 1991) : Gxt t = 350 – 1700 (rata-rata 1000) = 1 – 5 detik 3.Untuk single blade : P = 5.5 1.9 Sumber: Reynolds. 1986: Daya pengadukan yang dibutuhkan .  .1. Harga Koefisien Drag No 1 2 3 Panjang : Lebar 5 20  Cd 1.h S N = tekanan jatuh (m) = specific gravity = 1.Untuk multiple blade : P = 1.3) Pengaduk mekanis secara umum merupakan tipe pengaduk paddle atau propeller.

000 – 30.4. 1997).5) Pengadukan hidrolis dapat dilakukan dengan menggunakan V-notch. 1997). aliran turbulen sederhana yang disebabkan oleh kecepatan dalam pipa. hal tersebut menjadi pertimbangan penting karena menjadi kelemahan alat ini dalam air yang membutuhkan waktu reaksi yang lebih lama dan lebih dari satu zat kimia untuk pembentukan flok (AWWA. Namun. Keuntungan menggunakan tipe ini adalah bisa mencapai dispersi atau penyebaran zat kimia yang cepat. 1985 5. Energi dari suatu terjunan efektif setinggi 30 cm menyediakan nilai G sebesar 1000 s-1 pada suhu 20° C (AWWA. 1985 4. orifice. Hydraulic mixing dengan terjunan (Gambar 1. Mechanical Mixer Sumber : Montgomery. In-line mechanical mixing (Gambar 1.Gambar 1. Total headloss untuk pengadukan zat kimia koagulan tidak lebih dari 3.3. Gradien kecepatan (G) Waktu detensi (td) G x td : : : 400-1000 /dt 60 detik (untuk kekeruhan tinggi) 20. Pengaduk ini beroperasi pada watu detensi yang pendek (kurang dari satu detik) dan pada nilai G yang tinggi.2 m. saluran air. fitting atau saluran.000 . In-line Mechanical Mixer Sumber : Montgomery.4) Tipe pengaduk ini menghasilkan pengadukan cepat yang lebih efisien walaupun letaknya tetap. Gambar 1.

Panjang pipa yang diperlukan untuk pengadukan cepat berdasarkan kecepatan aliran dan waktu pencampuran. 1991). Gambar 1.h  G  . Di bawah kondisi normal. 1985 Salah satu jenis pengadukan cepat tipe hidrolis adalah pengadukan dalam pipa. dengan rumus perhitungan sebagai berikut (Darmasetiawan.5. Koagulan atau zat kimia lainnya ditambahkan ke dalam aliran melaui injeksi orifice di dalam grid. pengaduk ini tidak direkomendasikan (Kawamura.td  dimana. 2001) : . Diffusion dengan pipe grid (Gambar 1. 1 2 (2-11) G g h  =gradien kecepatan (1/detik) =percepatan gravitasi (m/s2) =tinggi terjunan =viskositas kinematis Gambar 1.6. Masalah yang umum terjadi adalah tersumbatnya orifice setelah beberapa bulan hingga satu tahun instalasi beroperasi.6) Tipe pengadukan cepat ini tergantung pada turbulensi yang diciptakan oleh pipa grid. g. Diffusion Flash Mixer Sumber : Montgomery. Koagulasi Tipe Terjunan 6.

2001.2.40 20000 .Peavy. 1985 .7.8.30 300 . Unit dtk-1 dtk Kawamura (1) 300 10 .30. 1991.1600 30 .td  L L v g Hf v  G2 V Q / A Dimana : L = panjang pipa (m) V = kecepatan aliran dalam pipa (m/detik) = 2. 1980. Kriteria Desain Unit Koagulasi No 1 2 3 4 Keterangan G Td G x Td pH alum opt. Montgomery.60 5. Untuk mendapatkan flok yang baik dilakukan pengadukan yang bertahap dan gradien kecepatannya makin lama makin menurun.000 Peavy (5) 600 1000 10 . 6.2000 Sumber: 1. 5.306 x 10-6 m2/det pada temperatur 10 °C) Peavy (1985) menjelaskan bahwa parameter desain untuk pengadukan cepat adalah waktu pengadukan (t) dan gradien kecepatan (G).5  = gradient kecepatan (per detik) = percepatan gravitasi (9. 3. 4.60 4.306x10-6 m/s pada suhu 10°C) Gradient kecepatan 350-1700 /dt /detik.Darmasetiawan. Dengan rumus sebagai berikut :  g Hf G    td  Dimana : G g Hf td     0. 1982.1000 20 .81 m/det2) = kehilangan tinggi tekanan sepanjang aliran (m) = waktu pencampuran = viskositas kinematis ( 1.1000 20 .5 Montgomery (6) 1000 1000 .5 . Tabel 1.0 Darmasetiawan (4) 700 . 1985.Reynolds.60 4 AlLayla (2) Reynolds (3) 700 . 2.5 – 4 m/detik Q = kapasitas pengolahan (m3/detik) td = waktu pencampuran (detik) A = luas penampang pipa (m) = ¼  D2 G = gradien kecepatan (/dt)  = viskositas kinematik (1.0 .Al-Layla.Kawamura.

Dari paddle tunggal dan datar pada shaft vertikal sampai flokulator banyak blade yang dipasang pada shaft horizontal yang panjang seperti terlihat pada gambar 2. jenis ini terdiri dari beberapa blade lurus yang terpasang vertikal pada suatu piringan datar.7 Impeller Paddle Shaft Horizontal Paddle dapat berjalan pada kecepatan rendah sampai sedang (2 sampai 150 rpm) dan terutama digunakan sebagai agitator untuk melarutkan suspensi atau sebagai pencampur pada aplikasi viskositas tinggi. Gambar 1.5 berikut ini. Rotasi berlangsung pada kecepatan sedang dan aliran fluida terbentuk pada arah radial dan tangensial.1 Tipe Mekanis yang Digunakan. 2.2.1. Banyak tipe mekanis yang dapat digunakan dalam operasi mixing dan agitasi ini.6. Turbine Turbine impeller merupakan istilah yang digunakan untuk berbagai macam bentuk impeller. Diantaranya: 1. . Yang banyak digunakan adalah turbine impeller jenis yang terlihat pada gambar 2. Arus utama yang diperoleh merupakan radial dan tangensial terhadap rotating paddle. Paddle Impeller paddle bervariasi dalam desain.2 Metode Pengadukan Mekanis 1.

Impeller ini mempunyai laju pemindahan aliran tinggi dan menghasilkan arus kuat pada arah aksial.8 Turbine Impeller 3.2 Hal-hal yang perlu diperhitungkan dalam mendesain pengadukan menggunakan alat mekanis Dalam operasi pengadukan dengan mekanis beberapa hal yang perlu diperhitungkan diantaranya: 1. Propeller Impeler tipe marine propeller merupakan yang berukuran kecil namun berkecepatan tinggi (400 rpm untuk propeller beerdiameter besar sampai 175 rpm untuk yang berdiameter kecil) dan digunakan secara luas dalam aplikasi viskositas rendah. Vorteks menghalangi operasi pengadukan dengan cara mengurangi kecepatan impeller relatif terhadap cairan. Baffling Komponen aliran tangensial yang diinduksi oleh rotating impeller memberikan pergerakan rotasi yang lebih dikenal dengan vorteks disekitar tiang impeller.2.Gambar 1.9 Propeller 1. Gambar 1. Sehingga lebih lanjutnya konsumsi daya yang .

hubungan yang ada antara gaya-gaya yang terlibat dalam regime.dibutuhkan menjadi lebih sulit dihitung. Aliran sepanjang sisi kontainer. dari beberapa hal lainnya seperti input daya per unit volume cairan untuk menghasilkan proses tertentu. Jika aliran bersifat viskos. . ukuran dan kecepatan impeller tetapi juga karena karakteristik kontainer fluida dan adanya baffling. 3. Transfer moment yang berhubungan dengan penempatan ini menghasilkan tegangan geser yang kuat di dalam fluida. lebar yang lebih kecil dapat digunakan.sedangkan pada operasi propeller.g c  . Kurva Daya Fluida regime yang terjadi akibat rotating impeller. Biasanya aliran massa dan turbulensi atau hasilnya berupa tegangan fluida penting dalam operasi pengadukan.Sintesa suatu operasi untuk menghasilkan regime. Kedua. tidak ada mixing yang terjadi di dalam akibat difusi. kinematik dan dinamik pada operasi scaling up. blade impeller dan sepanjang baffle memberikan turbulensi dalam tingkat yang lebih rendah. Untuk operasi turbin impeller. Pembatas vertikal ditempatkan sepanjang dinding tangki untuk memecah pergerakan rotasi dengan mengalihkan cairan kembali terhadap tiang impeller.n 3 . 2. Namun jika aliran turbulen. Hal ini tentu harus komplit dan menghasilkan kesamaan geometrik. partikel fluid bergerak dalam semua arah dan pengadukan terjadi terutama akibat dari penempatan konveksi. kelebaran baffle harus lebih kecil 1/10 sampai 1/12 diameter tangki. Desain operasi pengadukan mecakup dua hal: . Kebanyakan turbulensi dihasilkan dari adanya kontak antara aliran fluida berkecepatan tinggi dengan yang berkecepatan rendah.Identifikasi fluida regime tertentu yang diperlukan dengan melihat: pertama. sehingga gaya-gaya mayor yang terjadi dalam fluida adalah: -Gaya inersia yang ditandai dengan Power Number NP  P. Karenanya vorteks dapat dikurangi dengan baffling yang tepat.D 5 -Gaya viskos yang digambarkan dalam Bilangan Reynold . Walaupun hasilnya kurang lengkap karena hanya menghasilkan kesamaan geometrik dan kinematik saja. Fluid Regime Rotating impeller terjadi di dalam suatu pola aliran massa fluida yang terbentuk tidak hanya akibat bentuk.

lb massa/dt2.10 Karakteristik Daya Mixing Impeller Untuk kontainer baffle tanpa vorteks:   NP  P.N Re  n.massa Hubungan yang dapat disimpulkan dari ketiga gaya tersebut adalah : N P  K.g c  . q = Eksponen nilai K.lb.D 2 . 32. Gaya gravitasi yang digambarkan dalam bilangan Froude menjadi efektif hanya jika aliran turbulen dan oleh karenanya jika vorteks terbentuk disekitar impeller.N Re . Disini bilangan Reynold diplotkan terhadap fungsi daya: Gambar 1.15) untuk impeller tertentu diperlihatkan pada gambar 2.n 2    .g c     .  Gaya gravitasi yang dideskripsikan dengan Bilangan Froude N Fr D.D 5  g  P.p dan q tergantung situasi pengadukan.n 3 .n 3 .17 ft. Dan jika vorteks terbentuk: q  NP N Fr q  D.D 5 Kurva ABCD menggambarkan hubungan fungsi daya dan bilangan Reynold Jika vorteks tidak terbentuk.N Fr p q Dimana : qqK = konstanta qp. Plotting logaritmik persamaan (2.8 berikut.n 2  g Dimana : gc = faktor konversi hukum newton.

N Re p Berlaku untuk kedua kurva diatas. Substitusi nilai ini untuk p pada persamaan (2. 6 curved blade Shrouded turbine. 3 blade Turbine. kedua kurva bertemu.22) 0.30 4.20) 41. square pitch.    . 2 pitch. Nilai konstanta K tergantung pada bentuk. . turbulensi terjadi pada bilangan reynold = 100.n . 2. 2.   NP  K P K .0 43.D 5 gc Dalam sistem diatas.0 70. Rich.00 6.D   P.Kurva ABE memberikan hubungan jika terjadi vorteks.. Bagian kurva ABE yang terjadi pada daerah aliran turbulen adalah irregular. 3 blade Propeller.65 1.5 97.32 1.70 1. 1961 . tidak ada persamaan yang dapat dibuat untuk input daya jika aliran turbulen dan adanya pembentukkan vorteks. 2 blade Shrouded turbine.n 3 . with stator (no baffle) VISKOS RANGE (PERS.08 1. Pada bilangan reynold rendah.5 172. Berikut tabel nilai konstanta K pada beberapa jenis impeller: Tabel 1. kemiringan kurva daya mendekati sama dengan –1.00 1. .80 4. menunjukkan eksponen q sama dengan nol dan :   N P  K. 6 blade Flat paddle.0 36.0 71. Konsekuensinya. 6 curved blade Turbine. ukuran impeller serta jumlah baffle dan variabel lainnya yang tidak termasuk dalam persamaan daya.n. Sampai pada bilangan reynold 10.g c 3 5 K .5 TURBULENT RANGE (PERS.18) NP  P     K 2  D. 6 arrowhead blade Fan turbine.12 Sumber: Unit Operation Of Sanitary Engineering.5 71.3 Viskos Range dan Turebulent Range Beberapa Impeller IMPELLER Propeller. 6 flat blade Turbine.n 2 .000.0 70.D 3 gc Jika kondisi turbulen sepenuhnya terjadi di dalam kontainer dimana vorteks dihilangkan (dari C ke D pada kurva ABCD) nilai eksponen p adalah nol.

Maka konsekuensinya. Untuk pemakaian daya tertentu. rasio aliran massa-intensitas geser dapat divariasikan dengan menggunakan impeller dengan ukuran berbeda dan secara geometrik sama. . Jika fluid regime optimum teridentifikasi.Kecepatan impeller adalah sebesar: v i  2 . Sehingga harus didapatkan informasi berdasarkan percobaan laboratorium atau pilot-plant. pertimbangkan dengan baik rasio diameter impellertangki yang memberikan hasil proses optimum. identifikasi fluid regime optimum untuk mencapai hasil proses yang diinginkan.n Sedangkan kecepatan relatif yang terjadi akibat pergerakan impeller dan perlawanan air (va) adalah : v  vi  v a Sehingga gaya yang dibutuhkan untuk pengadukan adalah sebesar: 1 FD  .C D . Dua sistem yang sama secara geometrik jika rasio dimensi dalam satu sistem sama dengan rasio pada sistem yang lainnya kesamaan kinematik tercapai jika gerakan fluida sama pada kedua sistem yang secara geometrik sama. Scale up Hanya sedikit informasi yang ada hubungannya dengan operasi pengadukan pada kinerja proses. Pengaruh ukuran impeller terhadap laju reaksi pada dua jenis proses dapat dilihat pada grafik berikut: . A.v 2 2 Power yang dibutuhkan dalam mendesain mekanis sebagaimana disebutkan diatas adalah sebesar: P = FD . v 4.r. Sehingga pada tingkat pilot plant. Jadi sejauh ini scale up akan tepat tercapai hanya di dalam sistem yang secara dinamik sama. metode scaling up untuk operasi skala kecil dapat digunakan untuk mendesain operasi dengan ukuran yang diinginkan yang memiliki dinamika yang sama. juga mempunyai rasio-rasio gaya yang sama pada titik tertentu di dalam sistem. Sistem-sistem akan memiliki kesamaan dinamik jika selain sama secara geometrik dan dinamik.

D  c P . data yang diperoleh akan memberikan hubungan seperti pada gambar 2. Jika impeller dirotasikan pada kecepatan berbeda dalam kisaran aliran yang sepenuhnya turbulen (dari C ke D gambar 2. Sifat Fluida dan Gerakan Fluida Bilangan Reynold diplot terhadap ψ: h. Seperti telah disinggung sebelumnya.10 berikut: Gambar 1. Jadi.11 Grafik Pengaruh Ukuran Impeller terhadap Laju Reaksi pada Input Daya yang Sama Karena rasio aliran massa terhadap intesitas geser dapat divariasikan pada input daya sama dengan menggunakan impeller berbeda ukuran yang secara geometrik sama.     k  k  Dimana : w h = koefisien Transfer panas (BTU)/(ft2)(jam)(oF) K= kondukrivita termal (BTU)(ft)/(ft2)(jam)(oF) cp= panas spesifik pada tekanan konstan (BTU)/(lb)(oF) w= eksponen . data laju reaksi yang tergantung pada ketebalan film cairan dapat dikorelasikan dengan bilangan Reynold. Korelasi ini didemonstrasikan oleh Ruhton.12 Korelasi Koefisien Laju. hanya sedikit justifikasi yang diperoleh dengan berbagai variasi bentuk impeller.5).Gambar 1. bilangan Reynold berhubungan dengan intensitas geser yang terjadi pada fluida turbulen.

  h. kebutuhan daya yang harus dipenuhi pada scale up ditentukan dari hubungan yang dikembangkan dengan mengkombinasikan persamaan (2.Dalam bentuk persamaan hubungannya adalah:  D 2 .22) dan (2. Selain itu.n. rasio bervariasi terhadap nilai m.13 Hubungan Daya –Volume Terhadap Skala Eksponen Terlihat dari kurva bahwa secara umum input daya persatuan volume bervariasi dengan scale up. ukuran dan lokasi impeller serta kelengkapan lain di dalam tangki. Gambar 1. jika fluida tidak berubah: n 2  D1  n1  D2       2 m 1) / m  Dimana : 1 dan 2 merujuk pada ukuran yang berbeda. hubungan scale up dapat diperoleh dengan membagi hubungan pada persamaan (2.24) yang diekspresikan dalam perbandingan ukuran yang satu terhadap yang lain. .8 berikut .25): P2  D2    P1  D2    3  m  / m nilai m tergantung pada geometrik khas tangki serta bentuk.   c P . Plot eksponen ini terhadap rasio daya input persatuan volume di dalam sistem yang secara geometris sama sebagai fungsi ukuran tangki dapat dilihat pada gambar 2.D  K'     k   k     m w Dimana : m = kemiringan kurva korelasi Untuk menghasilkan nilai tertentu dari koefisien transfer h dalam sistem secara geometris sama untuk ukuran berbeda.