You are on page 1of 15

Tetanus

BLOK 12. Infeksi dan Imunitas

Gituen Miracline Samantha
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Tahun 2010 Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta NIM: 102010076, Email: miraclinesamantha@yahoo.com

Pendahuluan

Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani ditandai dengan spasme otot yang periodik dan berat.5 Tetanus ini biasanya akut dan menimbulkan paralitik spastik yang disebabkan tetanospasmin. Tetanospamin merupakan neurotoksin yang diproduksi oleh Clostridium tetani. 6,7 Tetanus disebut juga dengan "Seven day Disease ". Dan pada tahun 1890, diketemukan toksin seperti strichnine, kemudian dikenal dengan tetanospasmin, yang diisolasi dari tanah anaerob yang mengandung bakteri. lmunisasi dengan mengaktivasi derivat tersebut menghasilkan pencegahan dari tetanus. Spora Clostridium tetani biasanya masuk kedalam tubuh melalui luka pada kulit oleh karena terpotong , tertusuk ataupun luka bakar serta pada infeksi tali pusat (Tetanus Neonatorum ). 1,2,3,9

Anamnesis

Anamnesis merupakan tanya jawab antara dokter dan pasien atau bisa juga terhadap keluarga atau relasi terdekat atau yang membawa pasien tersebut ke rumah sakit atau tempat praktek. Anamnesis diperlukan untuk mengetahui penyebab penyakit tetanus seperti tempat masuknya kuman. Anamnesis terdapatnya riwayat luka-luka patogenesis, disertai keadaan klinis berupa kekakuan otot terutama di daerah rahang, sangat membantu diagnosis. Pembuktian kuman seringkali tidak perlu, karena amat sukar mengisolasi kuman dari luka pasien. Dari

Biasanya tampak luka yang mendahuluinya. Pembuktian kuman seringkali tidak perlu karena amat sukar mengisolasi kuman dari luka penderita. Rhisus sardonicus ( otot wajah kaku ). Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang (pemeriksaan laboratorium) tidak begitu perlu dilakukan. 1. perut kaku. trismus. diketemukan toksin seperti strichnine. dysphagia. leher dan anggota gerak. juga tampak luka yang dalam dan bernanah serta suhu tubuh 38. . Hal ini disebabkan karena penyakit tetanus dapat ditegakkan dengan gejala klinis dan anamnesis. kemudian dikenal dengan tetanospasmin. Pasien datang dengan keluhan kejang dan dari anamnesis. dan frekuensi nafas 28 kali/menit. dan telapak kaki kanan bengkak. Dan pada tahun 1890. tekanan darah 130/80 mmHg.2 Diagnosis tetanus dapat diketahui dari pemeriksaan fisik pasien sewaktu istirahat. disertai dengan keluhan sulit menelan dan demam. diketahui pasien tertusuk paku di telapak kaki kanan 12 hari yang lalu namun tidak diobati. lmunisasi dengan mengaktivasi derivat tersebut menghasilkan pencegahan dari tetanus.anamnesis juga bisa ditanyakan apakah pasien pernah mendapatkan imunisasi sebelumnya.3oC. berupa gejala klinik : kejang tetanik. denyut nadi 88 kali/menit. yang diisolasi dari tanah anaerob yang mengandung bakteri. kekakuan pada wajah. Tetanus disebut juga dengan "Seven day Disease ". Diagnosis Kerja Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani ditandai dengan spasme otot yang periodik dan berat. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik dapat kita lihat dengan adanya luka dan gejala-gejala yang khas pada penyakit tetanus seperti trismus.

kesadaran yang menurun dan kelainan cairan serebrospinalis. abses gigi yang berat. Kaku kuduk juga dijumpai pada meningitis. pembesaran kelenjar limfe leher. CPK dan SERUM aldolase sedikit meninggi karena kekakuan otot-otot tubuh). tetapi tidak disertai trismus. terdapat anamnesis gigitan anjing atau kucing dengan saliva yang mengandung virus. serta riwayat imunisasi. pada rabies. 1-3 Tabel 3 yang memperlihatkan differential diagnosis Tetanus : 4 .Differensial Diagnosis Untuk membedakan diagnosis banding dari tetanus. tetapi pada hal yang terakhir ini biasanya tampak jelas demam. disertai gejala spasme laring dan faring yang terus menerus dengan pleiositosis tetapi tanpa trismus. Kejang pada meningitis dapat dibedakan dengan kelainan cairan cerebrospinalis. kekakuan otot-otot tubuh). Spasme yang disebabkan oleh strikinin jarang menyebabkan spasme otot rahang. sedangkan SGOT. 1. Selain itu. pada tetanus kesadaran tidak menurun. Selain itu. tidak akan sukar sekali dijumpai dari pemeriksaan fisik.2 Trismus dapat pula terjadi pada abses retrofaring.1-3 Rabies dapat menimbulkan spasme laring dan faring. Tetanus didiagnosis dengan pemeriksaan darah (kalsium dan fosfat). risus sardinicus dan kesadaran yang tetap normal. laboratorium test (dimana cairan serebrospinal normal dan pemeriksaan darah rutin normal atau sedikit meninggi. Tetani dibedakan dengan tetanus dengan pemeriksaan kadar Ca dan P dalam darah.

serta pada infeksi tali pusat (Tetanus Neonatorum ).Etiologi Tetanus disebabkan oleh bakteri gram positif.11 Faktor Risiko Faktor risiko penyakit ini biasa karena luka tusuk. Toksin ini labil pada pemanasan. Cloastridium tetani. Di samping itu dikenal pula tetanolysin yang bersifat hemolisis. Biasa di daerah pertanian dan perkebunan juga beresiko terkena tetanus karena penyakit tetanus biasanya timbul di daerah yang terkontaminasi dengan tanah dan dengan kebersihan serta perawatan luka yang buruk. Bakteri ini hidupnya anaerob dan berbentuk batang berspora. atau pascapartus.1. Spora Clostridium tetani biasanya masuk kedalam tubuh melalui luka pada kulit oleh karena terpotong . Spora ini bisa tahan beberapa bulan bahkan beberapa tahun. Gbr Clostridium tetani 5 Toksin ini mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. pada suhu 650 C akan hancur dalam lima menit. Bagi yang tidak mempunyai kekebalan juga beresiko terkena tetanus. jika ia menginfeksi luka seseorang atau bersamaan dengan benda daging atau bakteri lain. Tetanus juga masih . kecelakaan.8. luka bakar. tertusuk ataupun luka bakar . juga bisa pada manusia dan juga pada tanah yang terkontaminasi dengan tinja binatang tersebut. yang peranannya kurang berarti dalam proses penyakit. Bakteri ini lalu mengeluarkan toksin yang bernama tetanospasmin. ia akan memasuki tubuh penderita tersebut. dijumpai pada tinja binatang terutama kuda. Melahirkan juga menjadi salah satu faktor risiko penyakit tetanus terutama pada tali pusat.

namun dapat diduga melalui luka tusuk. 1. Walaupun tetanus dapat dicegah dengan imunisasi. luka bakar.2. seorang pasien dengan usia berapapun dapat mengalami tetanus melalui luka yang terkontaminasi oleh tanah. Bila tidak memiliki imunisasi aktif. individu dengan imunitas parsial. Port of entry tidak selalu dapat diketahui dengan pasti. caries gigi. Filipina. yang terdapat dalam usus berbagai hewan herbivora dan terdistribusi luas dalam tanah. tetanus masih merupakan penyakit yang membebani di seluruh dunia terutama di Negara beriklim tropis dan Negara – Negara sedang berkembang. luka yang kotor dan pada bayi dapat melalui tali pusat. Vietnam.6 Pada negara belum berkembang. . tetanus sering dijumpai pada neonatus. tetanus ini dikenal dengan nama tetanus neonatorum. pembedahan. Orang dewasa yang berusia > 60 tahun merupakan kelompok berisiko tertinggi. infeksi telinga tengah.6 Tetanus disebabkan oleh Clostridium tetani suatu basil anaerob Gram positif pembentuk spora. 1. Epidemiologi Tetanus terjadi secara sporadis dan hampir selalu menimpa individu non imun.2. 1. serta pemotongan tali pusat yang tidak steril. terutama wanita yang mungkin lahir sebelum dikenalkan imunisasi pada anak-anak .2.6 Tetanus dapat pula berkaitan dengan luka bakar. Bisa juga melalui luka operasi yang tidak dirawat dan dibersihkan dengan baik. dan individu dengan imunitas penuh yang kemudian gagal mempertahankan imunitas secara adekuat dengan vaksin ulangan.banyak dijumpai dikarenakan rendahnya kesadaran masyarakat akan kebersihan dan perawatan luka yang kurang higienis. gigitan binatang. pecahan kaca. dan Negara lain di benua Asia. Tetanus neonatal merupakan masalah khusus di beberapa negara berkembang akibat kontaminasi sekitar umbilikus oleh tanah atau kotoran hewan untuk tujuan terapi. Patofisiologi Penyakit tetanus terjadi karena adanya luka pada tubuh seperti luka tertusuk paku. luka bakar. sering terjadi di brasil. luka tembak. bakteri masuk melalui tali pusat sewaktu persalinan yang tidak baik. Indonesia. absorsi dan adanya porte d’entrée.

ia akan memblokir pelepasan neurotransmitter yaitu glisin dan asam aminobutirik (GABA).2. Pemulihan membutuhkan tumbuhnya ujung saraf yang baru yang menjelaskan mengapa tetanus berdurasi lama.7 Terikatnya toksin pada neuron bersifat ireversible. sehingga tidak ada penyebaran kuman. Otot rahang. Aliran eferen yang tak terkendali dari saraf motorik pada korda dan batang otak akan menyebabkan kekakuan dan spasme muskuler. 1. dan kepala sering terlibat pertama kali karena jalur aksonalnya lebih pendek. hemodinamika. Eksotoksin yang dihasilkan akan mencapai pada sistem saraf pusat dengan melewati akson neuron atau sistem vaskuler. 1. Namun toksin yang bebas dalam peredaran darah sangat mudah dinetralkan oleh antitoksin. Untuk menentukan . sehingga muncul gangguan pada pernafasan. masuk ke dalam sirkulasi darah arteri kemudian masuk ke dalam susunan saraf pusat.6. Masa inkubasi 2 hari sampai 2 bulan dan rata-rata 10 hari.7 Penyakit tetanus merupakan salah satu infeksi yang berbahaya karena mempengaruhi sistem urat saraf dan otot. dan neuromuskular.6. hormonal. Hipotesa cara absorbsi dan bekerjanya toksin adalah pertama toksin diabsorbsi pada ujung saraf motorik dan melalui aksis silindrik dibawah ke kornu anterior susunan saraf pusat. Pusat medulla dan hipotalamus mungkin juga dipengaruhi. Tubuh dan anggota tubuh mengikuti. Tetanolisin mampu secara lokal merusak jaringan yang masih hidup yang mengelilingi sumber infeksi dan mengoptimalkan kondisi yang memungkinkan multiplikasi bakteri.2. Organisme multipel membentuk 2 toksin yaitu tetanospasmin yang merupakan toksin kuat dan atau neurotropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot.2. Kuman tetanusnya sendiri akan tetap tinggal di daerah luka. toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik. di mana setelah toksin menyeberangi sinapsis untuk mencapai presinaptik. Kuman ini menjadi terikat pada satu saraf atau jaringan saraf dan tidak dapat lagi dinetralkan oleh antitoksin spesifik. metabolisme. Neuron motorik juga dipengaruhi dengan pelepasan asetikolin ke dalam celah neuromuskuler dikurangi. saluran kemih.6. wajah. Spasme otot sangat nyeri dan dapat berakibat fraktur tendon. sedangkan otot-otot perifer tangan dan kaki relatif jarang terlibat. dan mempengaruhi sistem saraf pusat. Tetanospasmin berpengaruh pula pada sistem saraf otonom.Bentuk spora dari bakteri akan berubah menjadi vegetatif bila lingkungannya memungkinkan untuk perubahan bentuk tersebut dan kemudian mengeluarkan eksotoksin.7 Toksin mempunyai efek dominan pada neuron inhibitori. Kedua. 1.saluran cerna. Toksin bereaksi pada myoneural junction yang menghasilkan otot-otot menjadi kejang dan mudah sekali terangsang.

    masa inkubasi lokal infeksi ( Port d'entree) imunisasi faktor yang memberatkan Derajat keparahan penyakit dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel empat tolak ukur dan besarnya nilai (Philips) 7 Tolah ukur Kurang 48 jam 2-5 hari Masa inkubasi 6-10 hari 11-14 hari lebih 14 hari Internal/umbilical Leher. dinding tubuh Lokasi infeksi Ekstremitas proksimal Ekstremitas distal Tidak diketahui Imunisasi Tidak ada Mingkin ada/ibu mendapat Lebih dari 10 tahun yang lalu Kurang dari 10 tahun Proteksi lengkap Penyakit atau trauma yang membahayakan jiwa Keadaan yang tidak langsung membahayakan Faktor yang memberatkan jiwa Keadaan yang tidak membahayakan jiwa Trauma atau penyakit ringan 8 4 2 Nilai 5 4 3 2 1 5 4 3 2 1 10 8 4 2 0 10 . kepala.derajat penyakit ini. digunakan score menurut Phillips yang berdasarkan 4 tolok ukur yaitu.

3.6. dan kesulitan untuk membuka mulut. Localited tetanus ( Tetanus Lokal ) Tetanus ini merupakan bentuk yang jarang dimana manifestasinya hanya pada otot-otot di sekitar luka. Masa inkubasinya 1-2 hari. Spasme secara progresif akan meluas ke otototot wajah yang menyebabkan ekspresi wajah yang khas “risus sardonicus” dan meluas ke otot-otot menelan yang menyebabkan disfagia (kesulitan menelan). Spasme otot maseter menyebabkan trismus atau rahang terkunci. Biasanya terjadi disfungsi satu atau lebih saraf kranial yang tersering saraf ke tujuh (nervus fascialis). penyakit sedang (angka 9-16). Tetanus ringan dapat sembuh dengan pengobatan baku sedangkan tetanus berat memerlukan perawatan khusus yang intensif. Sementara kesadaran . Generalized tetanus (Tctanus Generalisata atau umum) Tetanus ini merupakan bentuk yang paling umum ditandai dengan meningkatnya tonus otot dan spasme. Namun secara umum. Ada beberapa bentuk tetanus yang dikenal secara klinis. Kaku kuduk. prognosisnya baik.A. derajat keparahan penyakit dapat dibagi menjadi tetanus ringan (angka kurang dari 9). Mortalitasnya tinggi. Rigiditas tubuh menyebabkan opistotonus dan gangguan respirasi dengan menurunnya kelenturan dinding dada. dan tetanus berat (angka lebih dari 16).2. Masa inkubasinya bervariasi tergantung lokasi luka dan lebih singkat pada tetanus berat. Kelemahan otot bisa terjadi akibat peran toksin pada tempat hubungan neuromuskuler. dan apabila berat disfungsi otonomik. nyeri tenggorokan. Pasien dapat demam. Terdapat trias klinis berupa rigiditas (kekakuan).7 1.A.** derajat ** Sistim penilaian untuk menentukan risiko penyulit 1 Berdasarkan jumlah angka yang diperoleh. 2. sering merupakan gejala awal tetanus. spasme (ketegangan) otot. Cephalic Tetanus ( Tetanus Sefalik ) Tetanus ini merupakan bentuk yang jarang dari bentuk tetanus lokal. Gejalanya bersifat ringan dan dapat bertahan sampai berbulan-bulan.S. yakni: 1. yang terjadi setelah trauma kepala atau infeksi telinga. walaupun banyak yang tidak. Progresi menjadi tetanus generalisata bisa terjadi.

sulit menelan ASI. auditori. Pengaruh otonom yang utama adalah takikardi. lengan fleksi dan adduksi serta hiperekstensi kaki. hipertensi labil. dengan tangan mengepal seperti tangan yang sedang meninju.2.7. stimulus visual. Selain itu ada lagi pembagian berupa neonatal tetanus Tetanus ini biasanya fatal apabila tidak terapi. Di antara neonatus yang terinfeksi. Namun tetanus neonatus ini dapat dicegah dengan vaksinasi maternal. Spasme otot-otot laring dan pernapasan dapat menyebabkan obstruksi saluran pernapasan. kisaran kejang dari beberapa detik sampai beberapa menit sampai spasme otot dapat bertahan. bahkan selama kehamilan.tidak berpengaruh. 90% meninggal dan retardasi mental dapat terjadi pada yang bertahan hidup. Demam dengan suhu 400C adalah lazim karena banyak energi metabolik yang dihabiskan oleh otot-otot spastik. dan vasokonstriksi kulit. 1. 4.7 Penyebab kematian merupakan kombinasi berbagai keadaan seperti kelelahan otot nafas dan infeksi sekunder di paru-paru yang menyebabkan kegagalan pernapasan serta gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.6. Setiap rangsangan eksterna dapat mencetuskan spasme otot tetanik generalisata. Gangguan paling kecil pada pandangan. Kontraksi otot dapat bersifat spontan atau dipicu oleh stimulus berupa sentuhan. aritmia. iritabilitas dan spasme.9 Tanpa pengobatan. dan kebersihan saat mengikat dan memotong umbilikus. Kejang-kejang ini ditandai dengan kontraksi otot tonik berat. Angka mortalitas generalisata sangat tinggi. tapi jarang di negara maju. otot voluntar lain terkena yang menyebabkan spasme tonik. Risiko infeksi tergantung panjang tali pusat. kebersihan lingkungan. atau emosional. mendadak. Secara bertahap. Bentuk ini menyebabkan lebih dari 50% kematian akibat tetanus di seluruh dunia. diaforesis. Gambaran khas tetanus neonatum antara lain rigiditas. Penderita tetap sadar dengan nyeri yang sangat hebat serta ketakutan akibat kejang tetanus berikutnya karena toksin tetanus tidak mengenai saraf sensorik atau fungsi korteks.7 Kematian biasanya disebabkan oleh gangguan respirasi. Tetanus neonatal biasa disebabkan oleh higiene umbilikal yang buruk (tidak steril). suara atau sentuhan dapat memicu kejang tetani. . Spasme faringeal sering diikuti dengan spasme laringeal dan berkaitan dengan terjadinya aspirasi dan obstruksi jalan nafas akut yang mengancam nyawa.

2. yang mana hal ini tidak dalam konsentrasi yang adekuat untuk merangsang pembentukan kekebalan). 1. Hal ini dapat menyebabkan gagal ginjal akut. alat pemotong tali pusat.6. Sampai pada saat ini pemberian imunisasi dengan tetanus toksoid merupakan satusatunya cara dalam pencegahan terjadinya tetanus.6.7.6. Selain itu bisa terjadi rhabdomyolysis dan renal failure.7.8 Untuk mencegah tetanus neonatorum perlu diperhatikan kebersihan padawaktu persalinan terutama alas tempat tidur.Komplikasi 1. dan diulang pada umur 18 bulan dan 5 tahun . Tidak terbentuknya kekebalan pada penderita setelah ianya sembuh dikarenakan toksin yang masuk ke dalam tubuh tidak sanggup untuk merangsang pembentukkan antitoksin ( karena tetanospamin sangat poten dan toksisitasnya bisa sangat cepat. Pencegahan Seorang penderita yang terkena tetanus tidak imun terhadap serangan ulangan artinya dia mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapat tetanus bila terjadi luka sama seperti orang lainnya yang tidak pernah di imunisasi. kekakuan otot-otot pematasan atau terjadinya akumulasi sekresi berupa pneumonia serta kompressi fraktur vertebra dan laserasi lidah akibat kejang.9 Komplikasi pada tetanus yang sering dijumpai: laringospasme. Rhabdomyolysis adalah keadaan dimana otot rangka dengan cepat hancur.2.9 Pencegahan lain yang dapat dilakukan yaitu dengan merawat luka dan pemberian anti tetanus serum (ATS) dalam beberapa jam setelah luka akan memberikan kekebalan pasif sehingga mencegah terjadinya tetanus atau memperpanjang masa inkubasi. dengan cara pemberian imunisasi aktif( DPT atau DT ) yang diberikan tiga kali dengan interval 4-6 minggu. dan cara perawatan tali pusat. sehingga mengakibatkan mioglobin (protein otot) bocor ke dalam urin. 1. walaupun dalam konsentrasi yang minimal. Pencegahan dengan pemberian imunisasi telah dapat dimulai sejak anak berusia 2 bulan. Penatalaksanaan Perawatan Imunisasi pasif dengan globulin imun tetanus manusia (TIG) memperpendek .2.

 Terapi pendukung mungkin termasuk dukungan ventilasi dan agen farmakologis yang mengobati kejang otot refleks. Dosis 500 U muncul seefektif seperti dosis yang lebih besar. Dosis diazepam dimulai dengan 4 mg/hari yang dapat ditingkatkan secara bertahap hingga maksimum 60 . 0. biasanya 10-40 mg setiap 1-8 jam. kekakuan. dan relaksan otot (misalnya.  Benzodiazepines telah muncul sebagai andalan terapi simtomatik untuk tetanus. serta perbaikan nutrisi adalah tindakan yang harus dilakukan. namun bukan obat pilihan. obat anestetik inhalasi.6. seperti toksin tetanus. Diazepam bekerja di semua sinaps GABA tapi kerjanya dalam mengurangi spastisitas sebagian yang dimediasi di medula spinalis. klorpromazin. 1. Dosis perwakilan dari infus kontinu adalah 1750 mcg per hari.7.9 Pengobatan Mengatasi kaku otot dan kejang. laporan menunjukkan bahwa lebih dari 26 orang dewasa dengan tetanus parah telah diperlakukan dengan baclofen intratekal.2. gangguan pernapasan. narkotika. dan kejang berhubung dengan tetanus. Sampai saat ini. yang telah digunakan secara luas selama bertahun-tahun. agen yang memblokir neuromuskuler. atau diazepam. Untuk mencegah kejang yang berlangsung lebih lama dari 5-10 detik. Untuk mengatasi kaku otot diberikan obat yang bersifat melemaskan otot dan untuk sedasi digunakan fenobarbital.  Dokter juga menggunakan sedatif hipnotik.  Penisilin G. dan penisilin merupakan antagonis GABA. mengelola diazepam intravena. pengendalian keseimbangan cairan dan elektrolit. baclofen intratekal).program tetanus dan dapat mengurangi keparahannya.5 q6h g) merupakan aktivitas antimikroba yang sebanding atau lebih baik. Metronidazol (misalnya. Diazepam dapat digunakan untuk melemaskan otot yang berasal dari mana saja termasuk trauma otot lokal. Vecuronium (infus kontinu) atau pankuronium (dengan injeksi intermiten) adalah alternatif yang memadai.

Selama pasese usus yang baik.9 Menghilangkan kuman penyebab dapat dilakukan dengan merawat luka yang dicurigai sebagai sumber infeksi dengan cara mencuci luka dengan larutan antiseptik.9 Antibiotik yang banyak dianjurkan dan efektif untuk membunuh Clostridium tetani adalah penisilin.000 U/kg/24 jam yang terbagi dan diberikan pada interval 4-6 jam selama 10-14 hari. Dosis penisilin G adalah 100.7. antimikroba merupakan satu-satunya usaha untuk menghilangkan kuman penyebab. dan perawatan kulit untuk mencegah dekubitus.2.000 IU setiap hari selama lima hari.7. Netralisasi toksin yang masih beredar dilakukan dengan memberikan serum antitetanus (ATS) atau Imunoglobin tetanus human. perubahan posisi. 1. Dasar pemikirannya ialah perkiraan bahwa kuman penyebab terus memproduksi eksotoksin yang hanya dapat dihentikan dengan membasmi kuman tersebut. Pada pemberian ATS harus diingat kemungkinan timbulnya reaksi alergi.mg/hari. 1.6. terutama jalan napas.6. dan pengosongan buli-buli.2 Metronidazol nyata lebih efektif dibandingkan dengan penisilin dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas karena . dan perabaan.9 Dalam merawat pasien tetanus sebaiknya diusahakan ruangan yang tenang yang dilindungi dari rangsangan penglihatan.6. diperlukan staf perawatan yang berpengalaman dan mempunyai desikasi tinggi serta bertanggung jawab.7. Selain itu. Pemberian tidak perlu diulang karena waktu paruh antibodi ini 31/2-41/2 minggu.7 Pada tetanus berat kadang diperlukan paralisis total otot (kurarisasi) dengan mengambil alih pernapasan memakai respirator. Ruangan yang gelap tidak diperlukan karena perubahan dari gelap dan terang secara tiba-tiba dapat memicu timbulnya kejang. Pemberian imunoglobulin tetanus human cukup dengan dosis tunggal 3000-6000 unit. Pemberian nutrisi yang adekuat dapat dilakukan dengan nutrisi perenteral dan enteral.2. eksisi luka. Bila tidak ditemukan sumber infeksi yang jelas.2. 1. Pasien dengan kaku laring biasanya memerlukan trakeostomi untuk mengatasi gangguan pernapasan. ATS diberikan 20. pendengaran. bahkan histerektomi bila uterus diperkirakan sebagai sumber kuman tetanus dan pemakaian antimikroba. Pada perawatan harus dilakukan observasi ketat. nutrisi enteral merupakan pilihan tetapi bila perlu dilakukan pemberian makan lewat pipa lambung atau gastronomi. Fisioterapi paru dan anggota gerak serta perawatan mata juga merupakan bagian dari perawatan baku.

bila sekali muncul kejang umum Berat .metronidazol tidak menunjukkan aktivitas antagonis terhadap GABA seperti yang ditunjukkan oleh penisilin. dan dengan penyakit yang terlokalisasi. dan tiga hari atau kurang antara trimus dengan spasme tetanus menyeluruh. Berat ringannya penyakit juga tergantung pada lamanya masa inkubasi. 2. bila tidak adanya kejang umum ( generalized spsm ) Sedang.3 Pemberian eritromisisn. Prognosa tetanus neonatal jelek bila: 1. bila kejang umum yang berat sering terjadi. Prognosis yang buruk dihubungkan antara jejas dan mulainya trimus seminggu atau kurang. makin pendek masa inkubasi biasanya prognosa makin jelek. tetapi bisa lebih pendek atau pun lebih panjang. tanpa demam. Ringan. Masa inkubasi neonatal tetanus berkisar antara 3 -14 hari. disimpulkan pasien menderita tetanus. 3.7.2. injeksi yang .2. Penyakit ini berasal dari luka tusukan ysng berasal dari benda kotor seperti paku. Tetanus merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri anaerob Clostridium tetani.6.jam Dijumpai muscular spasm. Prognosis dibagi menjadi 2 macam yaitu prognosis yang paling baik dihubungkan dengan masa inkubasi yang lama.5 juta unit/hari dan metronidazol 3 x 1 gr/hari. 1. 1. Case Fatality Rate ( CFR) tetanus berkisar 44-55%. Umur bayi kurang dari 7 hari Masa inkubasi 7 hari atau kurang Periode timbulnya gejala kurang dari 18 . sedangkan tetanus neonatorum > 60%. Dosis penisilin yang dianjurkan adalah 3 x 1.9 Prognosis Prognosis tetanus diklasifikasikan dari tingkat keganasannya.9 Kesimpulan Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan penunjang. 3. tetrasiklin dan klindamisin pada usia lebih dari 9 tahun merupakan alternatif untuk penderita alergi penisilin. : 1. 4. 2.

E. dan sirkumsisi wanita. Adams. Pada keadaan yang lebih lanjut terdapat gejala seperti trismus. pemeriksaan fisik. chapter 193. Secara etiologi. Feigen. pascapartus. gangren.et al. Pencegahan dapat dilakukan dengan 4 cara yaitu perawatan luka yang adekuat dan imunisasi aktif. Tetanus. Nelson. R. Nelson W. Jika pasien telah mengalami kejang.B. Vaughan V C . in: Principles of New'ology. serta keadaan yang tidak lazim yang dapat menimbulkan tetanus seperti gigitan binatang. edition 15 th.Saunders Company. Clostrisium tetani memiliki spora yang dapat bertahan dalam air mendidih tetapi tidak dalam autoklaf.B Saunders Company. Pada tetanus berat kadang diperlukan paralisis total otot (kurarisasi) dengan mengambil alih pernapasan memakai respirator. Nelson Textbook of pediatrics.tidak steril. maka pasien diberikan obat yang bersifat melemaskan otot dan untuk sedasi digunakan fenobarbital. gelisah. ed. Daftar Pustaka 1. Hal ini menyebabkan penderita sadar dan harus menahan rasa yang sangat nyeri.D. Pemeriksaan tetanus dapat dilakukan dengan cara anamnesis.E. kejang opistotonus. fraktur. (p) 815 -7. dan antitoksin tetanus. 2000. Kematian tertinggi yang diakibatkan oleh tetanus yaitu anak-anak ( balita dan bayi) dan lansia. R.E . penderita berpostur lengkung.Richard. . dan iritabilitas yang sering disertai kekakuan. dan spasme otot leher. (p) 617 -20. In: Bchrmlan R. 2001 (p)1205-7. pemeriksaan darah. atau diazepam.D. sukar mengunyah. W. Tetanus. dan sampai menimbulkan kematian. Tetanus memiliki gejala awal seperti nyeri kepala. Setelah melakukan pemeriksaan barulah dilakukan tindakan pengobatan seperti pemberian globulin anti tetanus. abses. dan diagnosis. klorpromazin. Masa inkubasi dan periode onset (periode awal yaitu masa dari timbulnya gejala klinis pertama sampai timbul kejang) merupakan faktor yang menentukan prognosis. luka bakar. 13 th. Tetanus. Philadelphia: W. Clostridium tetani memiliki toksin tetanus yang merupakan bahan kedua yang paling beracun setelah toksin botulinum. penggunaan profilaksis antitoksin dan pemberian penisilin. eds. 3. Behrman. debridemen luka. 2002. 2. McGraw-Hill. Tetanus tidak menyerang saraf sensorik atau fungsi korteks.

llmu Penyakit Dalam. Daulay. 1992. 2003. 2006. CP.J.C. Katz L. Mosby: St Louis. Siregar H. (p) 487-490. Rusdidjas. 9. Infectious Disese. Samuel. 49. 6. (p)53-5. ed. AP. Vol. 8.51. (p)577-579. Tetanus.ed. Hamid.4. ed.982. Scott K.E. Lubis. Wilfert C. 25. volume 2. Glickman J. John MD. Tetanus. Inc. . Jakarta: Paeditrica Indonesiana. 6 th. Tetanus Neonatorum in babies Delivered by Traditional Birth Attendance in Medan. Hendarwanto. 9 th. Departement of Child Health.D. 13 th. Gilroy. Krugman Saaul. (p) 167 -174. Infectious diiseases of children. in :Basic Neurology.1. et al. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. Gerhson AA. 5. Singapore: Info Acces and Distribution Ltd. in: Principles of lnternal Medicine. Medical School University of lndonesia. New York: McGrawHill. ed. Canby R.(p) 229-230 Harrison. Phantom notes medicine . jilid 1. 2007. SeptOkt 2002. 7.