BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Rasul Paulus mengatakan dalam surat kepada jemaat di Roma pasal 13:

“Tunduklah kepada pemerintah yang ada di atasmu, karena pemerintah adalah
hamba Allah untuk kebaikanmu”.1 Nasihat Rasul Paulus tersebut mengandung
suatu pengertian bahwa kita sebagai orang Kristen memiliki kewajiban secara
langsung untuk bersikap patuh terhadap pemerintah di mana kita berada/ hidup.
Ketaatan kepada pemerintah adalah suatu hal yang pokok dalam kehidupan orang
Kristen, sebagaimana ditegaskan lagi oleh Rasul Paulus, bahwa “segala
pemerintahan berasal dari Allah.”
Namun, sejarah telah menunjukkan bahwa perlakuan tiap Negara terhadap
umat Kristen di Negara-negara tertentu tidak sama. Ada kebijakan yang
dikeluarkan oleh pemerintah di suatu Negara yang memberi kebebasan beragama
sepenuhnya bagi umat Kristen untuk beribadah, namun ada juga Negara yang
mengeluarkan kebijakan yang menghambat perkembangan Gereja.2
Salah satu kebijakan yang pernah dikeluarkan oleh pemerintah Republik
Indonesia, yang perlu mendapat perhatian serius dan kritis dari umat Kristen,
khususnya yang berada di Indonesia, adalah Keputusan Presiden RI (Keppres) No.
69 Tahun 2000, tentang legalisasi perkumpulan/organisasi sosial kemasyarakatan

1
Surat Rasul Paulus Kepada Jemaat di Roma yang menekankan tentang perlunya
orang Kristen menjadi warga Negara yang ideal.
2

Yosef Eko Budi Susilo, Gereja dan Negara: Hubungan Gereja Katolik Indonesia Dengan
Negara Pancasila, (Averroes Press, 2002), hal. 3

1

dan keagamaan: Liga demokrasi, Rotary Club, Divine Life Society, Vrijmetselaren
Loge (Freemason), Moral Rearmament Movement, Ancient Mystical Organization
of Rosicrucians (AMORC), dan Organisasi Baha’i. Salah satu perkumpulan yang
diatur dalam Keppres No. 69 Tahun 2000 adalah perkumpulan Freemason, yang
telah dilarang secara resmi (dikutuk) oleh Gereja karena ajarannya yang
menyesatkan.
Keberadaan perkumpulan Freemason, khususnya di Indonesia, dimulai sejak
datangnya kaum kolonialis Belanda di kepulauan Nusantara pada abad ke-18,
yang secara resmi mendirikan loge (rumah pemujaan) pertamanya di Batavia
(Jakarta), “La Choisie” pada tahun 1764. Salah satu Grand Master (Suhu Agung)
dari loge Freemason di Batavia adalah Carpenter Alting, seorang pendeta Gereja
Gereformeerd di Hindia Belanda, yang berperan penting dalam mereformasi dan
mere-organisasi perkumpulan Freemason di Hindia Belanda dan menjadikan
perkumpulan Freemason sebagai penopang kebijakan kolonial Belanda di
Nusantara.3
Dengan keluarnya Keppres No. 69 Tahun 2000 pada masa pemerintahan Presiden
Abdurrahman Wahid, maka perkumpulan Vrijmetselaren (Freemason) mendapat
legalitas untuk hadir, dan beroperasi secara terbuka dengan pengesahan dari
pemerintah Negara Republik Indonesia.
Tentu hal ini merupakan masalah yang serius bagi Kekristenan, khususnya
di tanah air, mengingat bidat Freemason telah menjadi “lawan” bagi Kekristenan
secara global, yang ditandai dengan penolakan atau pelarangan bagi
anggota/jemaat Gereja untuk ikut serta atau bergabung dalam keanggotaan

3

Jan Siar Aritonang & Karel Steenbrink (ed), A History Of Christianity In Indonesia, (Leiden:
Koninklijke Brill, 2008), hal. 648

2

perkumpulan Freemason. Larangan dimaksud di atas dikeluarkan oleh beberapa
Gereja besar seperti Gereja Orthodox, Katolik Roma, dan Gereja Injili.
Memang, sebelum dikeluarkannya Keppres No. 69 Tahun 2000,
perkumpulan Freemason, bersama-sama dengan perkumpulan Baha’i, Rotary
Club, Rosicrucian, dan Divine Life Society, sempat dilarang keberadaannya di
Indonesia pada masa Presiden Soekarno, yang mengeluarkan Keppres No. 264
Tahun 1962, namun alasan penguasa saat itu melarang perkumpulan-perkumpulan
tersebut adalah politis (menghambat penyelesaian revolusi dan tidak mau
menerima manifesto politik Soekarno), dan bukannya karena alasan theologis,
sebagaimana pelarangan yang dilakukan oleh otoritas Gereja terhadap
perkumpulan-perkumpulan yang dinyatakan sebagai aliran sesat/bidat.
Masalah yang cukup pelik saat ini adalah masih minimnya pengetahuan
umat Kristen, khususnya di Indonesia, tentang apa itu perkumpulan Freemason,
Baha’i, Rotary Club, dan Rosicrucian, dan apa mengapa pihak Gereja telah
mengutuk salah satu perkumpulan yang disebutkan di atas, Freemason, dan apa
bahaya yang terkandung dalam ajaran perkumpulan dimaksud. Maka, dengan
memahami secara jelas pengertian dari bidat Freemason, maka diharapkan umat
Kristen, khususnya di Indonesia akan dapat mengantisipasi dan menghindari
keikutsertaan mereka di dalam perkumpulan tersebut.
Rasul Paulus mengatakan dalam surat Efesus 5:11: “janganlah kamu ikut
ambil bagian dalam perbuatan kegelapan yang tidak menghasilkan apa-apa, tetapi
sebaliknya, telanjangilah perbuatan itu”. Oleh karena itulah maka penulis
mencoba menyajikan sebuah penelitian dengan judul: “Legalisasi Perkumpulan
Freemason Menurut Keppres No. 69 Tahun 2000 Ditinjau Dari Perspektif
Iman Kristen”.
1.2.

Identifikasi Masalah
3

Identifikasi masalah adalah tahapan permulaan dari penguasaan masalah,
sehingga obyek dari suatu jalinan situasi tertentu dapat dikenal sebagai suatu
masalah dan identifikasi masalah merupakan pertanyaan-pertanyaan yang
semuanya terkait dengan inti masalah yang diteliti. 4 Berdasarkan uraian di atas,
maka penulis merumuskan identifikasi masalah tersebut sebagai berikut:
1. Keppres belum dipahami kedudukannya dalam sistem hukum Negara
Republik Indonesia.
2. Latar belakang dikeluarkannya Keppres No. 69 Tahun 2000 masih
belum jelas.
3. Umat Kristen di Indonesia belum pernah ada yang dimintai
pendapat/persetujuannya sebelum Keppres No. 69 Tahun 2000 itu
diterbitkan.
4. Perkumpulan Freemason belum dipahami jati dirinya.
5. Sepak terjang perkumpulan Freemason, secara global, maupun lokal (di
Indonesia) belum jelas.
6. Ancaman yang ditimbulkan oleh perkumpulan Freemason terhadap
Kekristenan, khususnya di Indonesia tidak signifikan.
7. Sikap umat Kristen, khususnya di Indonesia terhadap Keppres No. 69
Tahun 2000 sudah jelas.
8. Perguruan Tinggi Theologia,

khususnya

di

Indonesia,

perlu

mengantisipasi dampak keluarnya Keppres No. 69 Tahun 2000.
1.3.

Pembatasan Masalah
Setelah menguraikan identifikasi masalah, maka terlihat begitu luas ruang

lingkup masalah tentang “Legalisasi perkumpulan Freemason Menurut Keppres
No. 69 Tahun 2000 Ditinjau Dari Perspektif Iman Kristen”. Dan dikarenakan
keterbatasan tenaga dan kemampuan, dana serta waktu, maka penulis membuat
batasan masalah sebagai berikut:
4

Etiknius Harefa, Diktat Metode Penelitian Theologia, (Medan: STT Paulus, 2010), hal. 85

4

1. Latar belakang legalisasi perkumpulan Freemason sebagaimana yang
diatur dalam Keppres no. 69 Tahun 2000.
2. Pengertian Freemason.
3. Sikap pihak Gereja terhadap eksistensi perkumpulan Freemason dari
waktu ke waktu.
4. Kriteria perkumpulan atau organisasi yang sesuai dengan iman Kristen.
1.4.

Rumusan Masalah
Sehubungan dengan pembatasan masalah, maka selanjutnya penulis akan

mendeskripsikan tentang rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apakah yang melatarbelakangi legalisasi perkumpulan Freemason
sebagaimana yang diatur dalam Keppres no. 69 Tahun 2000?
2. Apakah yang dimaksud dengan perkumpulan Freemason?
3. Bagaimanakah sikap pihak Gereja terhadap eksistensi perkumpulan
Freemason dari waktu ke waktu?
4. Bagaimanakah kriteria perkumpulan atau organisasi yang sesuai dengan
perspektif iman Kristen?
1.5.

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui latar belakang legalisasi perkumpulan Freemason
sebagaimana yang diatur dalam Keppres no. 69 Tahun 2000.
2. Untuk mengetahui pengertian perkumpulan Freemason.
3. Mengetahui sikap pihak Gereja terhadap eksistensi perkumpulan
Freemason dari waktu ke waktu.
4. Mengetahui kriteria perkumpulan atau organisasi yang sesuai dengan
iman Kristen.

1.6.

Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis
Dapat menambah pengetahuan dalam hal Keputusan Presiden sebagai
salah satu perundang-undangan di Indonesia.
2. Bagi Pemerintah
Sebagai bahan masukan dalam pembentukan perundang-undangan di
Indonesia

5

3. Bagi Umat Kristen, khususnya di Indonesia
Sebagai sumber pengetahuan mengenai perkumpulan Freemason, dan
alat untuk dapat mengantisipasi perkembangannya, sehingga dapat
menyikapinya sesuai dengan iman Kristen.
4. Bagi Sekolah Tinggi Theologia Paulus Medan
Dapat menambah referensi perpustakaan dan koleksi penelitian,
khususnya yang berkaitan dengan perkumpulan Freemason pada
khususnya, dan ilmu theologia pada umumnya.
1.7.

Sistematika Penelitian
Untuk lebih menolong dan memudahkan penyusunan skripsi ini, penulis

membuat sistematika yang sederhana sebagai berikut:
Bab I: Pendahuluan
Dalam bab ini diuraikan tentang latar belakang masalah,
identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika penelitian
Bab II : Kerangka Teoritis dan Kerangka Berfikir/konseptual
Dalam bab ini diuraikan teori-teori mengenai Keppres,
Freemason, dan Perspektif Iman Kristen
Bab III : Metode Penelitian
Dalam bab ini diuraikan tentang : Tempat penelitian, waktu
penelitian,

metode

penelitian

yang

digunakan,

teknik

pengumpulan data, dan teknik analisis data.
Bab IV : Legalisasi Perkumpulan Freemason Menurut Keppres No. 69
Tahun 2000 Ditinjau Dari Perspektif Iman Kristen
Bab V : Kesimpulan Dan Saran

6

BAB II
KERANGKA TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL
2.1. Kajian Teoritis
2.1.1. Pengertian

Terminologis

Legalisasi,

Perkumpulan,

Freemason,

Keppres No. 69 Tahun 2000, dan Perspektif Iman Kristen
2.1.1.1. Pengertian Legalisasi
Kata legalisasi berasal dari kata bahasa Inggris: “legal”. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, “legal” berarti “sesuai dengan peraturan
perundang-undangan atau hukum”.5 Sedangkan menurut kamus yang
sama,

legalisasi berarti “pengesahan (menurut Undang-undang atau

hukum)”. Dengan kata lain, legalisasi berarti membuat sesuatu menjadi
legal di mata perundang-undangan atau hukum.
2.1.1.2. Pengertian Perkumpulan
Kata perkumpulan berarti “perhimpunan”, (tentang organisasi dan
sebagainya); “perserikatan”.6

1.1.1.3. Pengertian Freemason
Berbagai pandangan dikemukakan oleh berbagai pihak mengenai apakah
yang dimaksud dengan Freemason. Freemason adalah sebuah bidat dalam
bentuk organisasi internasional yang konon berkembang dari

5

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 3, (Jakarta: Balai
Pustaka, 2005), hal. 651

6

Ibid., hal. 612

7

asosiasi tukang batu (dalam bahasa Inggris=mason). Freemason modern
dimulai dengan berdirinya Grand Lodge (Loge Agung) di London (1717).
Ideologi deistis dan penolakan kebenaran objektif membuat Freemason
sangat berwarna sinkritis, bahkan atheis dan anti Katolik.7
Pandangan lain menyebutkan bahwa Freemason adalah suatu gerakan
okultisme yang menyembah dan melayani setan dan kuasa-kuasa setan.
Freemason memakai sarana-sarana apa saja untuk mendapat kekuasaan,
otoritas dan pengaruh dalam hidup manusia. Freemason merupakan
gabungan dari banyak kepercayaan yang memiliki akar di Mesir kuno dan
bergerak melalui Asyur, Kasdim, Babilonia, Cina, India, Skandinavia,
Romawi, dan Yunani. Banyak orang bergabung dengan penganut Mason
karena mereka memandangnya sebagai perkumpulan persaudaraan dan
penuh kebajikan. Freemason memiliki andil dalam perkembangan gerakan
Zaman Baru (New Age).8
Freemason kini beranggotakan sekitar enam juta orang dari kurang lebih
120 negara. Organisasi Freemason tidak mempunyai pusat, setiap negara
mempunyai organisasi yang berdiri sendiri. Sekalipun demikian setiap
organisasi Freemason di mana pun mempunyai nomor pendirian dan
berhubungan satu dengan lainnya. Freemason merupakan organisasi
tertutup dan ketat dalam penerimaan anggota barunya. Sekalipun

7

Sinta Maring (ed.), Mengenal 265 Paus, Dari St. Petrus Hingga Benedictus XVI, (Bekasi:
Kristisima Media Pustaka, 2006), hal. 211

8

C. Peter Wagner (ed.), Meruntuhkan Benteng-Benteng di Kota Anda, (Yogyakarta: Penerbit
Andi, 1999), hal. 204-205

8

organisasi ini merupakan organisasi hanya bagi kaum laki-laki namun kini
sudah banyak pula kelompok Freemason wanita.9
Freemason mengajarkan sebuah kepercayaan alami yang menganggap
bahwa seseorang bisa berkenan bagi Tuhan saat ia menganut agama
apapun.10 Freemason menunjukkan keberadaan semua elemen dari agama,
dan memperjelas bahwa Freemason telah menjadi pesaing dari agama
Injil. Karena di dalamnya tercakup bait-bait dan altar-altar, doa-doa, suatu
aturan moral, penyembahan, pernak pernik berpakaian, hari-hari perayaan,
janji upah atau penghukuman pada kehidupan setelah mati, adanya hirarki,
proses pelantikan anggota baru, dan ritual-ritual pemakaman.
Freemason juga adalah sebuah perkumpulan dengan ritual-ritual
rahasia. Pada kegiatan pelantikan anggota barunya, mereka mensyaratkan
adanya “sumpah darah rahasia” yang bertentangan dengan moral-moral
Kekristenan.11
1.1.1.3.1. Sejarah Freemason
Loge Freemason pertama berdiri di Inggris pada tanggal 24 Juni
1717 dengan nama Grand Lodge of England. Freemason bukan hanya
berkembang di berbagai negara Eropa tetapi pada abad ke-17

sudah

berkembang di Amerika, yaitu pada tahun 1730 berdiri Loge pertama
Amerika, di mana pada saat itu Amerika masih merupakan koloni Inggris.
Loge pertama Amerika berdiri di Philadelphia di bawah binaan dari
9
10

www.id.wikipedia.org/wiki/Freemasonry, 19 April 2012
www.catholic.com/quickquestions/what-does-the-church-say-about-freemasonry, 19 April

2012

11

Ibid., www.catholic.com Forum Tanya jawab, 19 April 2012

9

Masonic Grand Lodge England (loge agung Masonik Inggris), dengan
Benjamin Franklin sebagai Grand Master (Suhu Agung) yang pertama.12
Banyak tokoh-tokoh revolusi kemerdekaan di benua Amerika, adalah
anggota Freemason, termasuk di antaranya adalah Rivadavia, 13 Presiden
pertama Argentina, Simon Bolivar, dan para deklarator kemerdekaan
Amerika Serikat, termasuk George Washington Presiden Amerika Serikat
yang pertama.
Di Eropa, banyak pimpinan Negara atau bangsawan yang adalah
anggota Freemason, di antaranya adalah Napoleon Bonaparte,14 raja-raja
Inggris: Edward VII, Edward VIII, George VI.15 Namun, organisasi
tersebut segera menjadi pusat kekuatan yang membuat risau Gereja,
khususnya Gereja Katolik. Konflik antara Freemason dan Gereja terus
tumbuh, meninggalkan jejak di Eropa abad kedelapan belas dan
kesembilan belas. Freemason mulai menyebar ke negara-negara lain di
luar Eropa, pada paruh kedua abad kesembilan belas. Sejalan dengan tidak
menjadi partai politik, Freemason menjadi terorganisir di awal abad
kedelapan belas sebagai sebuah lembaga sosial berskala internasional
sesuai dengan arus sosial politik. Untuk menyokong upaya melaksanakan
kebebasan beragama, Freemason melibatkan diri dalam pertarungan
12

http://id.wikipedia.org/wiki/Freemasonry, 19 April 2012

13

C. Peter Wagner (ed.), Meruntuhkan Benteng-Benteng di Kota Anda, (Yogyakarta: Penerbit
Andi, 1999), hal. 203

14
John Anthony West, The Travellers Key To Ancient Egypt: A Guide to The Sacred
Places of Ancient Egypt , (New York: Knopf, 1985), hal. 34
15

www.la-mason.com/famous.htm. Famous Masons, 20 April 2012

10

melawan kekuatan dan pengaruh kaum klerus (kependetaan) dalam upaya
untuk menggapai sasaran tunggal mereka meruntuhkan kekuatan dan
pengaruh Gereja atas masyarakat.16
1.1.1.3.2. Hubungan Freemason Dengan Ordo Templar
Para Templar, yang juga disebut Tentara Miskin Pengikut Yesus
Kristus dan Bait Salomo, dibentuk pada tahun 1118, dua puluh tahun
setelah tentara salib merebut Yerusalem. Pendiri ordo ini dalah dua ksatria
Prancis, Hugh de Payens dan Godfrey de St. Omer. Berawal dari sembilan
anggota, ordo ini terus berkembang. Nama Bait Salomo dipakai karena
mereka membangun basis di lokasi reruntuhan bait tersebut. Di tempat ini
sekarang berdiri Dome of the Rock (Mesjid Al-Aqsa).
Para Templar menyebut dirinya “tentara miskin”, tetapi dalam
waktu singkat mereka menjadi sangat makmur. Mereka mengontrol penuh
para peziarah Kristen yang berdatangan dari Eropa ke Palestina, dan
menjadi sangat kaya dari uang para peziarah tersebut. Mereka pula yang
pertama kali menyelenggarakan sistem cek dan kredit, menyerupai yang
ada pada sebuah bank. Mereka membangun semacam kapitalisme abad
pertengahan, dan merintis jalan menuju perbankan modern dengan
transaksi mereka yang berbasis bunga.17 Namun, ordo tersebut ditumpas
oleh pihak Gereja (Paus Clement V) dan Raja (Philip Le Bel dari Perancis)
karena dianggap sebagai ancaman bagi iman Kristen dan perpolitikan di
Eropa. Selama penangkapan pada tahun 1307, beberapa orang ksatria
16
2012

http://id.harunyahya.com/id/works/3104, Ancaman Global Freemasonry, 14 Mei

17
Michael Baigent, Richard Leigh, The Temple and the Lodge, hal. 78-81, dikutip
tidak langsung oleh website http://id.harunyahya.com/id/works/3104

11

Templar lolos, dan berhasil menutupi jejak mereka. Menurut berbagai
dokumen sejarah, sejumlah besar mereka berlindung di satu-satunya
kerajaan di Eropa yang tidak mengakui kekuasaan Gereja Katolik di abad
keempat belas, yaitu Skotlandia. Di sana, mereka menyusun kekuatan
kembali di bawah perlindungan Raja Skotlandia, Robert the Bruce. Tak
lama kemudian, gerakan rahasia mereka dilanjutkan dengan penyamaran
yang tepat: mereka menyusup ke dalam gilda (serikat sekerja) terpenting di
Kepulauan Inggris abad pertengahan, yaitu loge (pemondokan) para
tukang batu (bahasa Inggris: Mason), dan mereka pun segera mendominasi
loge-loge tersebut.18 Para Templar yang berlindung di Skotlandia pun
menyelenggarakan/menciptakan ritual ala Skotlandia yang kini popular
dalam perkumpulan Freemason.19
1.1.1.3.3. Pengaruh Peradaban Mesir Kuno Bagi Freemason
Mesir Kuno memiliki posisi penting dipandang dari segi asal usul
Freemason. Gagasan terpenting yang diadopsi oleh Freemason dari Mesir
Kuno adalah tentang alam semesta yang ada oleh dan dari dirinya sendiri,
lalu berkembang secara kebetulan. Orang Mesir percaya bahwa materi
selalu ada; mereka menganggap tidak logis pendapat tentang sebentuk
tuhan yang membuat sesuatu dari ketiadaan mutlak. Permulaan dunia
dipandang terjadi ketika keteraturan muncul dari kekacauan, dan semenjak
itu terjadi pertarungan antara kekuatan pengaturan dan kekacauan.

18
2012

http://id.harunyahya.com/id/works/3104, Ancaman Global Freemasonry, 13 Mei

19
Mimar Sinan, “Templars and Freemasons”, hal. 11, dikutip tidak langsung oleh
website http://id.harunyahya.com/id/works/3104

12

Keadaan kacau ini dinamai Nun, seperti penggambaran orang Sumeria.
yang ada hanyalah adalah sebuah jurang dalam, berair, gelap tanpa cahaya
matahari yang padanya terdapat suatu kekuatan, daya penciptaan yang
memerintahkan keteraturan bermula. Kekuatan laten di dalam zat
kekacauan ini tidak mengetahui keberadaan dirinya; ia adalah suatu
kemungkinan,

sebuah

potensi

yang

berjalin

di

dalam

acaknya

ketidakteraturan.20
Di Mesir Kuno ada suatu masyarakat keagamaan yang mewariskan
sebuah sistem pemikiran dan kepercayaan terhadap Hermetisisme.
Freemason meyakini sesuatu yang serupa dengan ini. Misalnya, mereka
yang telah mencapai tingkat tertentu akan menghadiri upacara-upacara
pada masyarakat tersebut, mengungkapkan berbagai pemikiran dan
perasaan spiritual mereka, serta melatih mereka yang ada di tingkat yang
lebih rendah. Dalam upacara-upacara tersebut terdapat sejumlah kemiripan
yang signifikan dengan berbagai ritus Masonik (bersifat Freemason).21
Freemason adalah organisasi sosial dan ritual yang bermula dari Mesir
Kuno.22
Salah satu hal paling penting yang menghubungkan Mesir Kuno
dengan kaum Mason adalah simbol-simbol mereka. Simbol sangat penting
20
Christopher Knight, Robert Lomas, “The Hiram Key”, hal. 131, dikutip tidak
langsung oleh website http://id.harunyahya.com/id/works/3104
21
Dr. Selami Isindag, “Masonluktan Esinlenmeler” (Inspirations from
Freemasonry), hal. 274-275, dikutip tidak langsung oleh website
http://id.harunyahya.com/id/works/3104
22
Dr. Selami Isindag, “Masonluktan Esinlenmeler” (Inspirations from
Freemasonry), hal. 120, dikutip tidak langsung oleh website
http://id.harunyahya.com/id/works/3104

13

dalam Freemason. Kaum Mason mengungkapkan makna sejati filsafat
mereka kepada anggota melalui alegori (kiasan). Seorang Mason, yang
melewati tahap demi tahap melalui 33 tingkat hirarki Masonik,
mempelajari makna-makna baru untuk masing-masing simbol pada tiap
tingkatnya. Konsepsi bangsa Mesir Kuno paling menonjol dari berbagai
simbol dan legenda, yang merentang jauh ke abad-abad awal sejarahnya.
Di berbagai loge Freemason, dan seringkali di dalam terbitan-terbitan
(media cetaknya), gambar piramid dan sphinx serta tulisan heiroglif dapat
ditemukan. Pada masa Mesir kuno, berbagai upacara inisiasi di kuil
Memphis berlangsung lama, diselenggarakan dengan penuh perhatian dan
kemegahan, dan memperlihatkan banyak kesamaan dengan upacaraupacara Freemason.23 kata-kata yang digunakan di dalam upacara kenaikan
tingkat seorang Mason menjadi Imam Mason adalah: “Ma'at-neb-men-aa,
Ma'at-ba-aa', yang berarti : “Agunglah Imam Freemason yang tak dapat
dipungkiri, Agunglah jiwa Freemason”.24 Kata "Ma'at" berarti keahlian
membangun tembok, dan bahwa terjemahan terdekatnya adalah "Masonry
(Masonik)". Ini berarti bahwa kaum Freemason ribuan tahun setelahnya,
masih melestarikan bahasa Mesir Kuno di loge-loge mereka.
Simbol penting Freemason lainnya adalah wujud yang pernah
menjadi unsur penting dalam arsitektur Mesir, yaitu obelisk. Obelisk
adalah sebuah menara tinggi, tegak lurus dengan piramid sebagai
23
Rasim Adasal, "Masonlugun Sosyal Kaynaklari ve Amaclari" (The Social
Origins and Aims of freemasonry), Mimar Sinan, December 1968, No. 8, hal. 26, dikutip
tidak langsung oleh website http://id.harunyahya.com/id/works/3104
24
Christopher Knight, Robert Lomas, The Hiram Key, (London: , Arrow Books,
1997), hal. 188

14

puncaknya. Obelisk dipahat dengan hiroglif Mesir Kuno, dan terkubur
selama berabad-abad di bawah tanah sampai ditemukan di abad
kesembilan belas, dan dipindahkan ke kota-kota di Barat seperti New
York, London, dan Paris. Obelisk terbesar dikirimkan ke AS. Pengiriman
ini dilakukan oleh kaum Freemason. Obelisk, sebagaimana huruf-huruf
Mesir Kuno yang terpahat padanya, diklaim oleh kaum Freemason benarbenar sebagai simbol-simbol mereka sendiri.25
1.1.1.3.4. Filosofi Pagan Freemason
Setelah memahami bahwa asal usul Freemason terletak pada suatu
doktrin pagan yang merentang hingga ke Mesir Kuno, dan bahwa di Mesir
kuno pula makna sejati dari konsep-konsep dan simbol-simbolnya
tersembunyi, maka Freemason jelas bertentangan dengan agama-agama
Monoteistik.26 Freemason adalah humanis, materialis, dan evolusionis. Di
kalangan internal Freemason, di antara mereka yang telah mencapai
tingkat inisiasi yang lebih tinggi, terdapat para Mason yang memahami
bahwa mereka adalah pewaris dari suatu tradisi kuno dan pra-Kristen yang
diteruskan dari masa pagan.27 Walaupun sebagian kecil kaum Freemason
tingkat rendah menganggap Freemason sebagai suatu organisasi amal dan
sosial, namun Freemason sebenarnya menyangkut rahasia keberadaan
25
2012

http://id.harunyahya.com/id/works/3104, Ancaman Global Freemasonry, 14 Mei

26
Ibid., http://id.harunyahya.com/id/works/3104, Ancaman Global Freemasonry, 14
Mei 2012
27
Michael Howard, “The Occult Conspiracy: The Secret History of Mystics,
Templars, Masons and Occult Societies”, hal. 2-3, dikutip tidak langsung oleh website
http://id.harunyahya.com/id/works/3104

15

manusia. Dengan kata lain, tampilan luar Freemason sebagai organisasi
amal atau sosial sebenarnya adalah penyamaran untuk menyembunyikan
filosofi organisasi tersebut. Dalam kenyataannya, Freemason adalah
sebuah organisasi yang bertujuan menanamkan filosofi tertentu secara
sistematik kepada anggota-anggotanya, juga kepada masyarakat lainnya.
Unsur fundamental filosofi ini, yang telah berkembang menjadi
Freemason dari budaya pagan, khususnya dari Mesir Kuno, adalah
materialisme.28
Kaum Freemason masa kini, sebagaimana para fir’aun, imam, dan
kelas-kelas lain dari Mesir Kuno, mempercayai bahwa materi kekal dan
tidak diciptakan, dan bahwa dari materi tak berjiwa ini makhluk hidup
dapat muncul secara kebetulan. Mereka beranggapan bahwa seluruh
angkasa, atmosfer, bintang-bintang, alam, seluruh makhluk hidup dan tak
hidup tersusun dari atom-atom. Manusia tidak lebih dari kumpulan atomatom yang terbentuk secara spontan. Keseimbangan pada arus listrik di
antara atom-atom memastikan kelangsungan hidup makhluk hidup.
Manusia dianggap berasal dari materi dan energi, dan akan kembali
menjadi materi dan energi. Tumbuhan memanfaatkan atom-atom manusia,
dan semua makhluk hidup, termasuk manusia, memanfaatkan tumbuhan.
Segala sesuatu terbuat dari zat yang sama. Namun karena otak manusia
mengalami evolusi tertinggi dibandingkan semua hewan, muncullah
kesadaran. Sains positif meyakini bahwa tidak ada yang menjadi ada dari
ketiadaan, dan tidak ada yang akan musnah. Jadi, dapat disimpulkan
28
2012

http://id.harunyahya.com/id/works/3104, Ancaman Global Freemasonry, 14 Mei

16

bahwa manusia tidak perlu bersyukur atau menurut kepada kekuatan apa
pun. Alam semesta adalah sebuah totalitas energi tanpa awal dan akhir.
Segala sesuatu lahir dari totalitas energi ini, berevolusi dan mati, tetapi
tidak pernah benar-benar sirna. Benda-benda berubah dan bertransformasi.
Sama sekali tidak ada hal-hal semacam kematian atau kehilangan, yang
ada ialah perubahan yang terus-menerus, transformasi dan formasi.29

1.1.1.3.5. Pandangan Freemason Tentang Asal Usul Kehidupan
Menurut kaum Freemason, karakteristik terpenting dari ajaran
moralitas adalah tidak memisahkan diri dari prinsip-prinsip logika dan
tidak memasuki teisme (ketuhanan), makna-makna rahasia, atau dogma
yang tidak diketahui. Dengan landasan ini ditegaskan bahwa penampakan
kehidupan pertama bermula di dalam kristal-kristal pada kondisi-kondisi
yang tidak dapat diketahui atau ditemukan saat ini. Makhluk hidup lahir
sesuai dengan hukum evolusi dan perlahan-lahan menyebar di seluruh
dunia. Sebagai hasil dari evolusi, manusia sekarang ini muncul dan
berkembang

melampaui

hewan

baik

dalam

kesadaran

maupun

kecerdasan.30 Karakteristik Masonik yang terpenting adalah menolak
teisme, yakni kepercayaan akan Tuhan. Bahwa kehidupan muncul secara
spontan dari materi tak hidup, dan kemudian mengalami evolusi yang

29
Dr. Selami Isindag, “Masonluktan Esinlenmeler” (Inspirations from
Freemasonry), hal. 189, dikutip tidak langsung oleh website
http://id.harunyahya.com/id/works/3104
30
Dr. Selami Isindag, “Evrim Yolu” (The Way of Evolution), hal. 141, dikutip tidak
langsung oleh website http://id.harunyahya.com/id/works/3104

17

menghasilkan kemunculan manusia. Dengan kata lain, kaum Freemason
adalah evolusionis karena mereka tidak mengakui keberadaan Tuhan.
Selain alam tidak ada kekuatan lain yang membimbing manusia, dan
bertanggung jawab atas pemikiran dan tindakan manusia.” Kehidupan
berawal dari satu sel dan mencapai tahapannya saat ini sebagai hasil dari
berbagai perubahan dan evolusi.”31 Dari sudut pandang evolusi, manusia
tidak berbeda dengan binatang. Dalam pembentukan manusia dan
evolusinya tidak ada kekuatan khusus selain dari yang berlaku pada
binatang. Hal ini menunjukkan dengan jelas mengapa kaum Mason
menganggap teori evolusi begitu penting, yaitu untuk mempertahankan
gagasan bahwa manusia tidak diciptakan dan untuk menunjukkan
kebenaran filosofi materialis humanis mereka sendiri.32
.
1.1.1.3.6. Kehadiran Freemason di Indonesia
Kehadiran Freemason di Indonesia ditandai dengan berdirinya
Loge (Lodge) bernama “La Choisie” di Batavia pada tahun 1764,33 atas
prakarsa J.D. M. Radermacher (1741-1780), seorang perwira VOC yang
merupakan anak dari seorang bendahara kerajaan Belanda, dan keponakan

31
Dr. Selami Isindag, Sezerman Kardes VI, “Masonluktan Esinlenmeler” (Inspirations
fromFreemasonry),
hal.
78,
dikutip
tidak
langsung
oleh
website
http://id.harunyahya.com/id/works/3104

32
2012

http://id.harunyahya.com/id/works/3104, Ancaman Global Freemasonry, 14 Mei

33

Dennys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya Kajian Sejarah Terpadu: Jaringan Asia,
Volume 2, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996), hal. 73

18

dari seorang anggota Dewan Direktur VOC.34 Radermacher, selain menjadi
pegawai pengadilan (baljuw) Batavia, juga adalah anggota majelis Gereja
Lutheran di Batavia.35 Loge La Choisie didirikan dengan jumlah anggota
tiga belas orang Belanda.36 Pada penghujung abad ke-18, keanggotaan di
suatu Loge di Batavia menggambarkan dominasi kebudayaan Belanda
yang kuat. Keanggotaan hanya terdiri dari orang-orang Belanda dan IndoEropa, yang kebanyakan adalah pegawai-pegawai negeri. Mereka seolaholah menemukan jati diri Eropa dalam keanggotaan mereka di dalam
Loge.37 Di Batavia berdiri lagi dua loge Freemason, yaitu “La Fidele
Sincerite” (1767), dan “La Vertuese” (1769) dengan jumlah anggota
masing-masing adalah 48 orang dan 36 orang.38 Setelah itu, menyusul
pembentukan Loge “La Constante Et Fidele” di Semarang (1801), “De
Vriendschap” di Surabaya (1809), loge “Mata Hari” di Padang (1858),
loge “Mataram” di Yogyakarta (1870), loge “Prins Frederick der
34
2012

http://en.wikipedia.org/wiki/Jacob_Cornelis_Matthieu_Radermacher, 22 April

35
S. Kalff, “Een Baanbreker in den Raad Van Indie”, hal. 462-483, dikutip tidak
langsung oleh Th. Stevens, Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan
Indonesia 1764-1962, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2004), hal. 93
36
Th. Stevens, Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan
Indonesia 1764-1962, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2004), hal. 63
37
J. Gelman Taylor, “Smeltkroes Batavia. Europeanen en Euraziaten in De
Nederlandse vestigingen in Azie” hal. 118, dikutip tidak langsung oleh Th. Stevens,
Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962.
(Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2004), hal. 62
38
Th. Stevens, Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan
Indonesia 1764-1962, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2004), hal. 75

19

Nederlanden” di Rembang (1871), loge “L’Union Frederick Royal” di
Surakarta (1872), loge “Prins Frederick” di Kota Raja, Aceh (1880), loge
“Veritas” di Probolinggo (1892), loge “Arbeid Adelt” di Makasar (1892),
dan loge “Deli” di Medan (1888).39
Beberapa tokoh kolonial terkemuka tercatat sebagai anggota
Freemason, yaitu: Thomas Stanford Raffles (Gubernur Jendral Inggris di
Hindia Timur dan pendiri Singapura), Herman Willem Daendels dan L. A.
W. J. Baron Sloet Van de Beele (keduanya adalah Gubernur Jendral Hindia
Belanda), Merkus De Kock (Panglima Tentara Hindia Belanda), J. F.
Jasper (Gubernur Yogyakarta), Karel Van Der Heyden (Gubernur Aceh), S.
C. Tromp (Gubernur Sulawesi), Pendeta A. S. Carpentier Alting (pendiri
Perserikatan Protestan Nederland di Hindia), H. J. Van Mook (Letnan
Gubernur Jendral Hindia Belanda).40
Orang Indonesia pertama yang tercatat sebagai anggota Freemason
adalah Raden Saleh, seorang pelukis terkenal pada tahun 1836. Menyusul
kemudian Abdul Rahman, buyut dari Sultan Pontianak yang merupakan
anggota muslim pertama Freemason Hindia (1844), seorang Sultan dari
Kutai beserta keempat puteranya,41 Paku Alam V (1878),42 Paku Alam VI,
Paku Alam VIII, R. A. Pandji Tjokronegoro (Bupati Surabaya), 43 Pangeran
Ario Kusumo Yudho (Bupati Ponorogo, R. M. Adipati
39

Ibid., hal. 149

40

Ibid., hal. 338

41

Ibid., hal. 300

42

Ibid., hal. 150

43

Ibid., hal. 302

20

Haryo Poerbo

Hadiningrat (Bupati Semarang dan Salatiga),44 Rajiman Wedyodiningrat
(dokter Kraton Surakarta, Ketua Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia dan pejabat ketua Budi Utomo 1914-1915),45 R.
A. Tirtokoesoemo (Bupati Karanganyar dan Ketua pertama organisasi
pergerakan Budi Utomo), Pangeran Ario Notodirodjo (Ketua Budi Utomo
1911-1914),46 R. S. Soekanto (Kepala Kepolisian

Negara RI yang

pertama).47
Cikal bakal dari Partai Komunis Indonesia, ISDV, diduga didirikan
oleh orang-orang yang terlibat dengan Freemason, seperti P. Bergsma, J.
A. Brandsetter, H. W. Dekker, dan Adolf Baars.48
Hingga sekitar tahun 1930-an, terdapat sebanyak 25 buah loge
Freemason di seluruh Hindia Timur (Indonesia),

di antaranya di

Palembang, Purwokerto, Bandung (yang memiliki anggota sekitar 200
orang, jumlah terbanyak yang dimiliki oleh Loge di Indonesia pada masa
itu),49 Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945), para

44

Ibid., hal. 317

45

Ibid., hal. 171

46

Ibid., hal. 305

47

Ibid., hal. 172

48
Artawijaya, Dilema Mayoritas: Pertanyaan ideologis Umat Islam Indonesia
Menghadapi Kelompok Sekular, Komunis, dan Kristen Radikal, (Jakarta: Medina
Publishing, 2008), hal. 81
49
Th. Stevens, Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan
Indonesia 1764-1962, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2004), hal. 387

21

anggota loge Freemason sering melakukan pertemuan-pertemuan rahasia
di kamp tawanan perang milik Jepang.50
Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, loge-loge
Freemason yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia berkembang
lagi.51 Di Medan, seorang anggota loge “Deli”, Dokter Tengku Mansur,
menduduki jabatan Wali negeri (Gubernur) Negara Sumatera Timur (19471950) dalam Republik Indonesia Serikat (RIS).52 Dalam sebuah edisi dari
Indische Maconniek Tijdschrift (Majalah Masonik Hindia) tahun 1948,
dikatakan bahwa dua orang anggota Freemason menjadi anggota kabinet
pemerintah Indonesia.53
Keberadaan loge-loge Freemason secara resmi di Indonesia
berlangsung sampai sekitar tahun 1961, saat Presiden Soekarno melalui
Keppres No. 264 tahun 1962, melarang keberadaan perkumpulan
Vrijmetselaren (Freemason) di Indonesia, dengan alasan asas dan tujuan
Freemason tidak sesuai dengan identitas nasional Indonesia.54 Pelarangan
tersebut terjadi setahun setelah pemerintah Indonesia memutuskan
hubungan politik dengan pemerintah Belanda.
1.1.1.3.7. Tingkatan-Tingkatan (Derajat) Ritual Dalam Freemason
Ada tiga tingkatan dalam Freemason, yaitu:
50

Ibid., hal. 439

51

Ibid., hal. 464

52

Ibid., hal. 462

53

Ibid., hal. 462

54

Ibid., hal. 536

22

1. Tingkat Pertama Freemason
Pada tingkatan pertama, para calon anggota berharap untuk
memperoleh manfaat dari Freemason “dengan pertolongan Tuhan”.
Sebuah doa diucapkan bagi calon anggota. Dalam doa ini dikatakan
bahwa calon anggota diminta untuk mendedikasikan hidupnya bagi
pelayanan

untuk

Tuhan,

berdoa

supaya

Tuhan

membagikan

kebijaksanaan Ilahi-Nya. Dengan kebijaksanaan ini, calon anggota
akan setia kepada sesama anggota lainnya, dan melakukan segala
sesuatu untuk kemuliaan Tuhan.55
2. Tingkat Kedua Freemason
Selama tingkatan kedua ini, para calon anggota memasuki Logeloge dan melafalkan lagi beberapa bagian dari ritual di tingkat pertama
yang telah dilakukan sebelumnya. Para calon anggota harus paham apa
saja yang diucapkannya, yang perlu untuk dilafalkan, dengan hafalan.
Pengembangan daya ingat (menghafal) adalah suatu hal yang pokok
dalam pertemuan-pertemuan di loge Freemason. Inilah tahap awal bagi
seseorang untuk menjadi seorang Mason (anggota Freemason).
Pengembangan daya ingat dari calon anggota Freemason merupakan
hal yang penting dalam keterlibatannya selama keanggotaannya di
perkumpulan Freemason. Pada tingkatan ini, calon anggota akan saling
bertukar “kata kunci” (passwords), dan simbol-simbol masonik lain,
yang kesemuanya berhubungan dengan etika/cara hidupnya.56

55
http://www.bilderberg.org/First_Degree.htm, FIRST DEGREE OR CEREMONY
OF INITIATION, 8 Agustus 2012
56
Ibid., http://www.bilderberg.org/First_Degree.htm, FIRST DEGREE OR
CEREMONY OF INITIATION, 8 Agustus 2012

23

3. Tingkat Ketiga Freemason
Tahap ketiga merupakan tahap terakhir yang dianggap melengkapi
perjalanan seseorang dalam kehidupannya sebagai seorang anggota
Freemason. Pada tingkat ketiga ini ada bagian upacara yang
menggambarkan kematian dari Hiram Abbiff (seorang tokoh penting
dalam alam pikiran kaum Freemason), dan kebangkitan dari kematian
menuju kehidupan yang baru bersama Tuhan.57
Walaupun seseorang telah dapat melewati ketiga tahap pertama
dalam Freemason, tak tertutup kemungkinan untuk dapat mencapai
tingkat Master Mason (Suhu).
1.1.1.3.8. Simbolisme dalam Freemason yang Berhubungan dengan Toleransi
dan Harmoni.
Kebebasan, keadilan, persamaan, dan persaudaraan merupakan
empat prinsip utama dalam Freemason.58 Ajaran Freemason dianggap
bisa membawa individu lebih dekat kepada dunia yang diciptakan oleh
Arsitektur Agung Alam Semesta (Grand Architect Of The Universe).
Perkumpulan Freemason mendorong adanya keberagaman, tapi
menghendaki individu-individu untuk mengasihi sesamanya manusia.
Freemason dicirikan oleh upacara/ritual-ritual yang diisi oleh
simbolisme.59
1.1.1.3.9. Hiram Abbiff Dalam Alam Pikiran Masonik
57
Ibid., http://www.bilderberg.org/First_Degree.htm, FIRST DEGREE OR
CEREMONY OF INITIATION, 8 Agustus 2012
58

Ibid., www.biblebelievers.org.au/mason5.htm, Baptist and Freemasonry, 20 April 2012

59

www.ephesians5:11.org, “Who is Hiram Abbiff?”, 20 April 2012

24

Nama Hiram Abbiff tak pernah disebutkan ada dalam Alkitab,
namun kalangan Masonik menganggap bahwa Hiram Abbiff terdapat
dalam Alkitab. Dalam ritual bagi tingkatan Grand Master (Suhu
Agung) Freemason, terdapat tiga karakter utama: Raja Salomo, Hiram
Raja Tirus, dan Hiram Abbiff, yang berasal dari kisah Alkitab mengenai
pembangunan Bait Allah. Raja Salomo dan Hiram Raja Tirus beberapa
kali disebutkan dalam Alkitab (I Raj. 5). Yang paling mendekati istilah
“Hiram Abbiff” dalam Alkitab adalah “Huram Abi” (2 Tawarikh 2:3).
Mengenai kisah non-fiksi dari Hiram Abbiff, kaum Freemason
menyatakan hal itu adalah kiasan (alegori) saja, yang digunakan untuk
mengajar.60 Dalam ritual di tiga tingkatan dalam Freemason, para calon
anggota mempersonifikasikan diri sebagai “Hiram Abbiff”, dengan
mata ditutup, dan dituntun oleh pimpinan upacara selama ritual. Dalam
ritual Masonik, Hiram Abbiff adalah Grand Master (Suhu Agung) dari
pembangunan Bait Suci Salomo.
Kisahnya adalah: Tiap hari, Hiram Abbiff menjadi pengarah para
pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ada pekerja-pekerja yang
bekerja di Bait Suci, yang memperoleh rahasia-rahasia dari seorang
Suhu Mason (Master Mason) sebagai upahnya, setelah pembangunan
Bait Suci selesai. Saat mereka memperoleh rahasia-rahasia dari seorang
Master Mason, mereka akan menerima upah sebagaimana layaknya
seorang Suhu Mason (Master Mason).
Namun, sebanyak 15 (lima belas) orang pekerja memutuskan tak
mau menunggu hingga pekerjaan pembangunan Bait Suci selesai,
60

Ibid., www.ephesian5:11.org, “Who is Hiram Abbiff?”, 20 April 2012

25

Mereka pun lalu berkomplot untuk mencegat Hiram Abbiff di gerbang
selatan, timur, dan barat dari Bait Suci, untuk menanyakan kepada
Hiram tentang rahasia dari Suhu Mason. Hiram pun menolak
permintaan mereka, dengan alasan bahwa saat itu belum waktunya yang
tepat, dan rahasia tersebut barulah diberitahu jika hadir ketiga orang:
Raja Salomo, Hiram Raja Tirus, dan dirinya sendiri (Hiram Abbiff).
Komplotan

tersebut

lalu

membunuh

Hiram

Abbiff,

lalu

menguburkannya di sebelah barat gunung Moria. Namun jasad Hiram
sempat dipindahkan secara diam-diam, sebelum akhirnya ditemukan
terkubur selama 15 hari. Raja Salomo pun memerintahkan untuk
membangkitkan Hiram dengan peralatan pertukangan yang dimiliki
para pekerja bangunan Bait Suci. Upaya itu pun berhasil, lalu Hiram
dan Raja Salomo saling berpelukan. Personifikasi Raja Salomo dalam
ritual Freemason diperankan oleh Worshipful Master (Pemimpin
upacara pemujaan) dalam setiap loge. Jadi, kaum Freemason
menggantikan konsep “Iman” dengan peniruan/imitasi, dan “Tuhan
Yesus” dengan “Hiram Abbiff”, sebagai cara untuk memperoleh jalan
masuk ke surga, setelah kematian.61
1.1.1.3.10. Konsep “Tuhan” Menurut Ajaran Freemason
Dalam Freemason, “Tuhan” digambarkan sebagai “Great Architect
Of The Universe” (Arsitek Agung Alam Semesta), yaitu sebuah konsep
ketuhanan yang dianut oleh orang-orang yang menafsirkan keberadaan
Tuhan menurut keinginan mereka sendiri. Pemikiran Freemason
61
2012

Ibid., www.biblebelievers.org.au/mason5.htm, Baptist and Freemasonry, 20 April

26

dipengaruhi oleh pandangan deisme abad ke-18, yang menganggap
bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta, yang telah mengatur
pergerakan-pergerakan dalam alam semesta, yang telah meletakkan
hukum-hukum moral untuk ditaati oleh manusia, tapi tidak berkarya
secara pribadi dalam dunia ini untuk berbelas kasih atau menghakimi.
Dalam ritual-ritual mereka, nama “Arsitek Agung” disebutkan sebagai
“Jah Bul On”, yang merupakan gabungan dari nama-nama: Jah (bahasa
Ibrani: Yahweh), Bul (Baal, dewa kesuburan orang Kanaan), dan On
(Osiris, Dewa bawah tanah bangsa Mesir). Padangan sinkritis tentang
konsep ketuhanan Freemason sangat berlawanan dengan Tuhan Maha
Kuasa yang telah dinyatakan dalam Yesus Kristus.62

1.1.1.3.11. Yesus Kristus Dalam Pandangan Freemason
Walaupun ada individu-individu yang percaya kepada Yesus
Kristus, tapi secara umum, kaum Freemason tidak menempatkan Yesus
Kristus dalam posisi yang unik sebagai Anak Allah, Tuhan, dan Juru
Selamat. Dalam doa-doanya, kaum Freemason tidak menyertakan nama
Yesus Kristus. Yesus Kristus dianggap sama dengan guru-guru agama
yang lain, seperti Konfusius, Muhammad, atau Zoroaster.63
1.1.1.3.12. Fungsi Alkitab dalam Perkumpulan Freemason

62
2012

Ibid., www.biblebelievers.org.au/mason5.htm, Baptist and Freemasonry, 20 April

63
2012

Ibid., www.biblebelievers.org.au/mason5.htm, Baptist and Freemasonry, 20 April

27

Alkitab merupakan salah satu dari “Kumpulan Hukum-Hukum
Suci” yang digunakan dalam Freemason. Alkitab hanya dianggap
sebagai sumber dari simbol-simbol Masonik ketimbang Firman Tuhan.
1.1.1.3.13.

Konsep Keselamatan Dalam Freemason
Perkumpulan Freemason mengajarkan banyak tentang kebaikan
moral, tapi hampir tidak pernah mengajarkan mengenai dosa dan
pertobatan. Para Mason (anggota Freemason) didorong untuk banyak
beramal, karena menurut mereka dengan banyak berbuat baik, itulah
cara untuk meraih keselamatan. Selain beramal, keselamatan dianggap
dapat diperoleh melalui pencerahan (enlightenment) melalui cara-cara
yang digunakan oleh agama-agama kuno.64

1.1.1.3.14. Konsep Kekekalan Dalam Freemason
Para Mason percaya tentang adanya kekekalan jiwa, namun
melalui teladan moral “Hiram Abbiff”, tokoh sentral dalam alam
pikiran Masonik. Selain itu, Freemason memandang bahwa Grand
Architect Of The Universe (GAOTU), Arsitek Agung Alam Semesta
hidup dan memerintah selamanya.65 Sebagai bagian dari keyakinan
materialis mereka, kaum Mason tidak menerima keberadaan roh
manusia dan menolak sepenuhnya gagasan tentang hari akhir. Walau
demikian, tulisan-tulisan Masonik terkadang menyebut tentang
mereka yang meninggal “telah melangkah ke keabadian” atau
64
2012

Ibid., www.biblebelievers.org.au/mason5.htm, Baptist and Freemasonry, 20 April

65
2012

Ibid., www.biblebelievers.org.au/mason5.htm, Baptist and Freemasonry, 20 April

28

ungkapan spiritual sejenisnya. Tetapi semua rujukan Masonik kepada
kekekalan roh hanya simbolik belaka. Ajaran Freemason tidak
menganggap penting keberadaan roh yang berada di luar jasad. Di
dalam Freemason, kebangkitan setelah kematian adalah dengan
meninggalkan karya spiritual dan material sebagai warisan kepada
umat manusia. Inilah yang mengekalkan manusia. Barang siapa yang
tidak mampu mengabadikan nama di kehidupan manusia yang jelasjelas singkat ini adalah orang yang gagal. Manusia yang telah
berupaya selama berabad-abad untuk memperoleh kekekalan dapat
mencapainya dengan karya yang ia lakukan, pelayanan yang ia
berikan, serta pemikiran yang ia hasilkan; dan ini akan memberi arti
pada kehidupannya.66
1.1.1.3.15. Kemungkinan Hubungan Freemason dengan Okultisme
Nama Baal dipakai sebagai salah satu sebutan untuk Tuhan dalam
Freemason. Dalam Alkitab, Baal adalah sebutan bagi dewa kesuburan
orang Kanaan, dan di kemudian hari, menjadi sebutan untuk Iblis.
Dalam ritual di tingkat tertinggi Freemason, nama Lucifer dan
Abaddon digunakan sebagai pernyataan Ketuhanan Masonik. Kedua
nama itu memiliki kaitan dengan kejahatan dalam Alkitab. Beberapa
konseling dan pelayanan penggembalaan memiliki pengalaman
berurusan dengan para Mason yang bersaksi membutuhkan pelepasan

66
Hasan Erman, "Masonlukta Olum Sonrasi" (After Death in Freemasonry), Mimar
Sinan, 1977, No. 24, hal. 57, dikutip tidak langsung oleh website
http://id.harunyahya.com/id/works/3104

29

dari keterikatan dari kuasa gelap, sebelum akhirnya dibebaskan oleh
Kristus.67
1.1.1.3.16. Keterlibatan Anggota dan Pemimpin Jemaat dalam Freemason
Dan Dampaknya Bagi Gereja
Keterlibatan pemimpin jemaat Gereja dalam perkumpulan
Freemason merupakan hal yang faktual. Perintis jemaat Gereja
Methodis awal di Negara bagian Oregon dan Washington, Amerika
Serikat, Pendeta Daniel Bagley, adalah seorang Freemason, bersama
perdiri kota Seattle lainnya.68 Di Inggris, Gereja dan para Mason
dengan cepat dapat hidup berdampingan secara damai.69 Di Amerika
latin, terdapat beberapa imam dan tokoh-tokoh di Keuskupan Katolik
yang terdaftar sebagai anggota Freemason tingkat tinggi.70 The
Christian Synosure, sebuah badan di dalam National Christian
Association

di

Amerika

Serikat,

sebuah

lembaga

yang

mengorganisasikan orang-orang Kristen untuk menentang keberadaan
perkumpulan-perkumpulan rahasia (secret societies), menaksir pada
tahun 1892 terdapat 20 persen dari para Pastur dalam Gereja

67
2012

Ibid., www.biblebelievers.org.au/mason5.htm, Baptist and Freemasonry, 20 April

68
C. Peter Wagner (ed.), Meruntuhkan Benteng-Benteng di Kota Anda, (Yogyakarta:
Penerbit Andi, 1999), hal. 220
69
Sophia Perennis, Rene Guenon And The Future of The West, The Life and writings
of a 20th Century Metaphysician, (New York: Hillsdale, 2005), hal. 32
70
John Joseph Considine, Catholic Foreign Mission Society of America, Inc.,
(United States Of America: 1958), hal. 13.

30

Episkopal Methodis yang adalah anggota Freemason.71 Bahkan,
Gereja-gereja

Protestan

lainnya

menjadi

tuan

rumah

pertemuan-pertemuan

Masonik,

dan

menyampaikan

berkat,

memanjatkan

salam,

dan

dalam

pendeta-pendetanya
doa

dalam

pertemuan-pertemuan tersebut.72 Di Afrika Selatan (Rhodesia), banyak
imam Gereja yang juga menjadi Freemason, dan ada kerjasama yang
lebih terbuka dan “nyaman” antara Gereja dengan Freemason
ketimbang dengan yang terjadi di Inggris. Ritual-ritual pemujaan
Masonik diadakan di Gereja-gereja, dan peletakan batu pertama
gedung-gedung diadakan dalam ritual Masonik.73 Di Indonesia
(Hindia Belanda), salah satu Grand Master (Suhu Agung) dari Loge
Freemason Indonesia adalah A. S. Carpenter Alting, pendeta Gereja
protestan di Indonesia.74
Dengan mengizinkan anggota Freemason menjadi jemaat di
Gereja, sama saja dengan mengambil bagian dalam pekerjaan jahat
Freemason, melayani setan sehingga memberi setan hak untuk
mendakwa melawan Gereja. Ketujuh surat kepada tujuh Gereja dalam

71
Kevin W. Mannoia and Don Thorsen (ed.), Holiness Manifesto, (Grand Rapids,
Michigan: Wm. D. Eerdmans Publishing, Co., 2008), hal. 99
72
Walter H. Conser, A Coat of Many Colours, Religion and Society Along The Cape
Fear River of North Carolina, (Kentucky: The University Press Of Kentucky, 2006), hal.
127
73
Pamela Welch, Church and Settler in Colonial Zimbabwe, A Study in The History
of The Anglican Diocese of Mashonaland/Southern Rhodesia 1890-1925, (Leiden:
Koninklijke Brill N. V., 2008) , hal. 206
74

http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=7830668, 8 Agustus 2012

31

Kitab Wahyu menyatakan bahwa Allah tak hanya menuntut
pertanggungjawaban dari apa yang dilakukan oleh Gereja, tapi juga
apa yang ditoleransi/dibiarkan oleh Gereja.75
Seseorang yang mempraktekkan ritual Freemason akan dikuasai
oleh setan-setan. Jika seseorang yang menjadi pemimpin Gereja
mempraktekkan ritual Freemason, maka bukan hanya dirinya dan
keluarganya yang mendapat akibat tersebut, namun juga jabatan
penggembalaan yang ia pegang.76
1.1.1.4.

Pengertian dan Asal Mula Keppres
Keppres adalah singkatan dari Keputusan Presiden. Undangundang Dasar 1945 menentukan Keppres sebagai salah satu bentuk
perundang-undangan. Bentuk peraturan (Keppres) baru dikenal sejak
tahun 1959 berdasarkan surat presiden no. 2262/HK/1959 yang
ditujukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yakni sebagai
peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Presiden untuk
melaksanakan penetapan presiden. Kemudian melalui Ketetapan MPRS
No. XX/MPRS/1996, Keputusan Presiden resmi ditetapkan sebagai
salah satu bentuk peraturan Perundang-undangan menurut UUD 1945.
Keputusan Presiden berisi keputusan yang bersifat khusus (einmalig)
adalah untuk melaksanakan UUD 1945, ketetapan MPR yang memuat
garis-garis besar dalam bidang eksekutif, dan Peraturan Pemerintah.77

1.1.1.4.1. Pengertian Keppres No. 69 Tahun 2000
75
2012

Ibid., www.biblebelievers.org.au/mason5.htm, Baptist and Freemasonry, 20 April

76

Ken Hepworth, Mematahkan Kutuk Atas Tanah dan Bangunan, (Yogyakarta: Penerbit
Andi, 2009), hal. 104

32

Keputusan Presiden (Keppres) No. 69 Tahun 2000 adalah sebuah
peraturan yang menyatakan pencabutan Keppres No. 264 Tahun 1962
tentang larangan adanya organisasi Liga Demokrasi, Rotary Club,
Divine Life Society, Vrijmetselaren Loge (Freemason), Moral
Rearmamanet Movement, Ancient Mystical Of Rosi Crucians
(AMORC), dan Organisasi Baha’i. Dengan kata lain, Keppres No. 69
Tahun 2000 merupakan legalisasi bagi keberadaan organisasiorganisasi tersebut di atas di Negara Republik Indonesia. Termasuk di
dalamnya adalah organisasi Freemason yang menjadi bahasan utama
dalam penelitian ini.
Keppres No. 69

Tahun

2000

dikeluarkan

pada

masa

kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid, pada tanggal 23 Mei
2000.

1.1.1.4.2. Latar Belakang Keppres No. 69 Tahun 2000
Beberapa pertimbangan yang mendasari dikeluarkannya Keppres
no. 69 Tahun 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid adalah:
1. Pembentukan organisasi sosial kemasyarakatan

dan

keagamaan pada hakikatnya merupakan hak setiap warga
Negara Indonesia.
2. Pelarangan terhadap organisasi-organisasi: Liga Demokrasi,
Rotary Club, Divine Life Society, Vrijmetselaren Loge
(Freemason),

Moral

Rearmamanet

Movement,

Ancient

Mystical Of Rosi Crucians (AMORC), dan Organisasi Baha’i,

77
2012

http://www.undang-undang-indonesia.com/forum/index.php?topic=19.0, 2 Mei

33

dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan prinsip-prinsip
demokrasi.
3. Meskipun dalam kenyataannya Keppres No. 264 Tahun 1962
sudah tidak efektif lagi, namun untuk lebih memberikan
kepastian hukum perlu secara tegas mencabut Keputusan
Presiden No. 264 Tahun 1962.
Adapun dasar hukum yang dijadikan acuan oleh Presiden
Abdurrahman Wahid untuk melegalisasi organisasi-organisasi Liga
Demokrasi, Rotary Club, Divine Life Society, Vrijmetselaren Loge
(Freemason), Moral Rearmament Movement, Ancient Mystical Of
Rosi Crucians (AMORC), dan Organisasi Baha’i adalah Pasal 4 ayat
(1) Undang-Undang Dasar 1945, dan Undang-Undang No. 39 Tahun
1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Tahun 1999
Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3886).

1.1.1.5.
Pengertian Perspektif Iman Kristen
1.1.1.5.1. Pengertian Perspektif
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perspektif
berarti: “sudut pandang” ; “pandangan”.78
1.1.1.5.2. Pengertian Iman
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), iman berarti: 1.
Kepercayaan (yang berkenaan dengan agama); keyakinan dan
kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dan sebagainya. 2. Ketetapan
hati; keteguhan batin; keseimbangan batin.79
78

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 3, (Jakarta:
Balai Pustaka, 2005), hal. 864

79

Ibid., hal. 425

34

1.1.1.5.3. Pengertian Kristen
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kristen berarti:
“agama yang disampaikan oleh Kristus (Nabi Isa)”.80
Jadi, pengertian perspektif iman Kristen adalah memandang sesuatu dari sudut
pandang iman/kepercayaan Kristen.

1.2.

Kerangka Konseptual
Konsep atau pengertian merupakan definisi secara singkat dari kelompok

fakta atau gejala yang dapat dirumuskan sebagai suatu definisi yang dapat dipakai
untuk menggambarkan secara abstrak suatu fenomena sosial.81
Dengan kata lain, kerangka konseptual adalah hasil kesimpulan yang
tersedia dari penulisan kelompok fakta dan gejala yang tersedia. Jadi, kerangka
konseptual dalam penelitian ini adalah umat Kristen memandang perkumpulan
bidat Freemason dengan sikap kritis dan mewaspadainya sebagai suatu ancaman
bagi kelestarian ajaran Kristen yang benar.

80

Ibid., hal. 601

81

Pedoman Penelitian Skripsi, (Medan: Unimed, 1986), hal. 25

35

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.

Tempat Penelitian
Penelitian berlokasi di wilayah provinsi Sumatera Utara dan sekitarnya.

3.2.

Waktu Penelitian
Penelitian berlangsung sejak bulan Februari 2012 sampai dengan awal
Agustus 2012.

3.3.

Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, metode penelitian yang digunakan adalah metode

kualitatif. Penelitian kualitatif berupaya untuk mempelajari tindakan-tindakan
manusia dari sudut pandang pelaku-pelaku kehidupan sosial itu sendiri. Tujuan
utama dari penelitian dengan pendekatan kualitatif adalah pendeskripsian dan
pemahaman mengenai perilaku manusia.82 Fokus dari penelitian kualitatif
bukanlah hasil, tetapi proses dari penelitian itu sendiri.83 Penekanan pada sudut
pandang dari pelaku kehidupan sosial yang diamati, dan bukan sudut pandang dari
peneliti.84 Tujuan utama penelitian kualitatif adalah memperoleh pendeskripsian-

82
E. Babbie dan J. Mouton, “The Practice Of Social Research”, dikutip tidak
langsung oleh Sandra Brownrigg, Freemasonry: Men’s Lived Experience Of Their
Membership Of A Male-Only Society, Mini Dissertation, (Pretoria: University Of Pretoria,
2007), hal. 60
83
E. Babbie dan J. Mouton, “The Practice Of Social Research”, dikutip tidak
langsung oleh Sandra Brownrigg, Freemasonry: Men’s Lived Experience Of Their
Membership Of A Male-Only Society, Mini Dissertation, (Pretoria: University Of Pretoria,
2007), hal. 60
84
E. Babbie dan J. Mouton, “The Practice Of Social Research”, dikutip tidak
langsung oleh Sandra Brownrigg, Freemasonry: Men’s Lived Experience Of Their
Membership Of A Male-Only Society, Mini Dissertation, (Pretoria: University Of Pretoria,
2007), hal. 60

36

pendeskripsian yang mendalam dan pemahaman mengenai pelaku-pelaku
kehidupan sosial dan peristiwa-peristiwa.85 Pendekatan dalam proses penelitian
kualitatif biasanya bersfat induktif, dan peneliti memandang banyak aspek dari
kehidupan sosial dengan cara pandang kualitatif.86
3.4.

Teknik Pengumpulan Data
1. Studi Pustaka
Pengumpulan data melalui literatur yang ada
2. Dokumentasi
Data berasal dari dokumen-dokumen yang berkaitan dengan obyek
penelitian
3. Wawancara
Salah satu cara yang paling sering digunakan dalam pengumpulan
data pada penelitian kualitatif adalah wawancara individual. 87 Sebuah
wawancara kualitatif adalah interaksi antara pewawancara dan
partisipan,

di

mana

pewawancara

merencanakan

pertanyaan-

pertanyaan bersifat garis besarnya saja, ketimbang bersifat spesifik
kata-demi kata. Wawancara penelitian dilakukan dengan menanyai
partisipan untuk memperoleh pengetahuan mengenai kehidupan

85
E. Babbie dan J. Mouton, “The Practice Of Social Research”, dikutip tidak
langsung oleh Sandra Brownrigg, Freemasonry: Men’s Lived Experience Of Their
Membership Of A Male-Only Society, Mini Dissertation, (Pretoria: University Of Pretoria,
2007), hal. 61
86
Sandra Brownrigg, Freemasonry: Men’s Lived Experience Of Their Membership
Of A Male-Only Society, Mini Dissertation, (Pretoria: University Of Pretoria, 2007), hal.
61
87
Babbie dan J. Mouton, “The Practice Of Social Research”, dikutip tidak langsung
oleh Sandra Brownrigg, Freemasonry: Men’s Lived Experience Of Their Membership Of
A Male-Only Society, Mini Dissertation, (Pretoria: University Of Pretoria, 2007), hal. 67

37

partisipan.88 Fokus dari wawancara penelitian kualitatif adalah
menyelami kehidupan dari partisipan.89
Pada penelitian ini, peneliti melakukan wawancara dengan orangorang di pihak pemerintah (Dinas Kesatuan Bangsa Pemerintah
Provinsi Sumatera Utara) sebagai representasi dari pihak eksekutif
(pembuat peraturan), dengan pihak organisasi yang diatur/dilegalkan
oleh Keppres No. 69 Tahun 2000, dan dengan tokoh-tokoh Gereja di
Sumatera Utara.
3.5.

Teknik Analisis Data
Dalam penelitian kualitatif, analisis data yang lazim digunakan adalah

data reduction, data display, dan data conclusion/verification.90
1. Data Reduction
Data reduction (pengurangan data) mengacu kepada memilih,
memfokuskan, menyederhanakan, mentransformasikan data dalam
bentuk catatan-catatan. Dengan demikian, memilih aspek-aspek mana
dari data yang telah terbangun tersebut yang sebaiknya ditekankan,
diminimalisir, atau dikesampingkan untuk tujuan penelitian.91

88
S. Kvale, “Interviews: An Introduction To Qualitative Research Interviewing”,
dikutip tidak langsung oleh Sandra Brownrigg, Freemasonry: Men’s Lived Experience Of
Their Membership Of A Male-Only Society, Mini Dissertation, (Pretoria: University Of
Pretoria, 2007), hal. 67
89
Sandra Brownrigg, Freemasonry: Men’s Lived Experience Of Their Membership
Of A Male-Only Society, Mini Dissertation, (Pretoria: University Of Pretoria, 2007), hal.
67
90
Matthew B. Miles dan Michael Huberman, Qualitative Data Analysis, (Beverly
Hills: Sage Publications, 1994), hal. 10.
91
Matthew B. Miles dan Michael Huberman, “Qualitative Data Analysis”, dikutip
tidak langsung oleh website http://www.nsf.gov/pubs/1997/nsf97153/chap_4.htm

38

2. Data Display
Data display (penayangan data) adalah langkah setelah data reduction,
untuk menyajikan sebuah “bagunan” informasi yang telah terorganisir
dan dipadatkan untuk menarik suatu kesimpulan. Penayangan data bisa
berupa teks, diagram, tabel, yang dapat menimbulkan cara baru untuk
merangkai dan berpikir tentang data-data yang telah tersaji.
Penayangan data, apakah itu dalam bentuk kata atau diagram,
digunakan oleh peneliti untuk memperhitungkan/membedakan polapola atau hubungan-hubungan dari data.92
3. Data Conclusion/Verification
Data conclusion/verification (penarikan kesimpulan). Tahap ini
mencakup langkah mundur untuk mempertimbangkan apa arti dari data
yang telah dianalisa, dan menilai implikasinya bagi jawaban atas
masalah.93

92
Matthew B. Miles dan Michael Huberman, “Qualitative Data Analysis”, dikutip
tidak langsung oleh website http://www.nsf.gov/pubs/1997/nsf97153/chap_4.htm
93
Matthew B. Miles dan Michael Huberman, “Qualitative Data Analysis”, dikutip
tidak langsung oleh website http://www.nsf.gov/pubs/1997/nsf97153/chap_4.htm

39

BAB IV
LEGALISASI PERKUMPULAN FREEMASON DITINJAU
DARI PERSPEKTIF IMAN KRISTEN
Sepanjang waktu sejak munculnya perkumpulan Freemason, pihak Gereja
telah menyatakan sikap yang jelas mengenai keberadaan perkumpulan
Freemason. Berbagai denominasi Gereja telah menunjukkan sikap mereka, baik
secara eksplisit , maupun implisit terhadap perkumpulan Freemason.
4.1.

Gereja Katolik Roma
Melalui para Paus yang hidup pada masa awal berdirinya Freemason,

hingga saat ini, Gereja telah mengeluarkan sikap yang jelas. Paus Clement XII
(1730-1740), mengatakan: “Mari kita merenungkan kejahatan-kejahatan serius
sebagai akibat dari perkumpulan-perkumpulan (seperti Freemason), bukan hanya
ketenteraman Negara, tapi menyangkut keselamatan jiwa-jiwa. Perkumpulanperkumpulan seperti ini (Freemason) tidak sejalan dengan hukum sipil dan
ekonomi dari Negara-negara yang ada. Untuk menutup jalan menuju kedurjanaankedurjanaan yang bisa dilakukan tanpa dihukum, dan juga atas alasan lain yang
adil dan masuk akal, kami telah memutuskan dan menetapkan untuk mengutuk
dan melarang pertemuan-pertemuan, reuni-reuni, dari perkumpulan yang sejenis
dengan Freemason atau aliran-aliran lain yang sama. Kami melarang dan
mengutuk mereka dengan ini, ketetapan kami saat ini, yang berlaku sampai
seterusnya.” Kutukan Paus Clement XII ditujukan bukan hanya bagi perkumpulan

40

Freemason, tetapi juga bagi kaum awam Gereja yang dihimbau untuk
menghindari pergaulan dengan perkumpulan Freemason, agar tidak di
ekskomunikasi (dikucilkan) dari Gereja.94
Penerus dari Paus Clement XII, Paus Benedictus XIV (1740-1758), dalam
keputusan Gereja, “Providas”, yang menegaskan bahwa pengutukan terhadap
Freemason adalah sesuatu yang tak dapat dibatalkan, dan akan diberlakukan di
masa datang, sebagaimana pada masa kini. Dalam dekrit “Providas”, Paus
Benedictus XIV mengemukakan enam alasan mengapa Paus Clement XII
melarang perkumpulan-perkumpulan rahasia seperti Freemason, yaitu: 1)
Interconfessionalism (lintas kepercayaan) dari Freemason; 2) kerahasiaan mereka;
3) Sumpah mereka; 4) Oposisi mereka terhadap Gereja dan Negara; 5) Larangan
terhadap mereka yang diumumkan oleh para kepala Negara dari beberapa Negara;
dan 6) Ketidakbermoral-an mereka.95
Paus Clement XIII (1758-1769), juga menyatakan ketidaksetujuannya
terhadap keberadaan Freemason. Dalam Ensiklik Kepausan “Christianae
Republicae Salus”, Paus Clement XIII menulis: “Musuh dari segala kebaikan,
telah menyebarkan benih kejahatan di ladang Tuhan. Dan gandum kejahatan telah
tumbuh subur dengan cepat, sampai-sampai hendak menghancurkan panenan.
Saatnyalah kini untuk menebang tanaman kejahatan itu. Pada masa kita ini, tak
ada yang terbebas dari serangan-serangan mereka yang durhaka. Allah sendiri
menjadi sasaran dari kelancangan mereka, di mana Allah digambarkan oleh

94
http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of
Freemasonry, 4 Juli 2012
95
Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of
Freemasonry, 4 Juli 2012

41

mereka sebagai keberadaan yang bisu, hampa, tanpa rasa memelihara dan tanpa
rasa keadilan; mereka merendahkan-Nya ke tingkatan hewan-hewan.96
Paus Roma selanjutnya, yaitu Paus Pius VI (1795-1799), meninggal di
pengasingan, di mana Paus Pius VI diasingkan, berpindah-pindah dari Roma ke
berbagai kota di Italia dan Perancis. Paus Pius VI diasingkan atas perintah
Napoleon, di tengah-tengah berkecamuknya revolusi Perancis. 97 Pengganti dari
Paus Pius VI, yaitu Paus Pius VII (1800-1823), dalam Ensiklik Kepausan
“Ecclesiam A Jesu Cristo”, menulis tentang para Freemason: “Mereka datang
dalam rupa (kedok) domba, namun sebenarnya mereka tiada lain adalah serigalaserigala yang buas. Paus Pius VII menambahkan bahwa sifat yang paling jahat
dari perkumpulan Freemason adalah ketidakpedulian mereka terhadap agama.
Selain itu Freemason juga membebaskan tiap orang untuk melegalkan agama
mereka sendiri sesuai dengan keinginan hati mereka masing-masing. Mereka
mencemarkan dan menodai penderitaan Sang Juru Selamat kita dalam beberapa
upacara-upacara yang menjijikkan.Mereka menggantikan Sakramen-sakramen
Gereja dengan Sakramen-sakramen penemuan mereka sendiri, dan mereka
mencemooh Misteri-misteri dari Gereja Katolik. Dan Freemason, karena
kebencian

khusus

kepada

(supremasi)

Tahta

Kepausan,

hendak

menggulingkannya.98

96
Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of
Freemasonry, 5 Juli 2012
97

http://adventist.org.au, Pope Pius VI and 1798, 5 Juli 2012

98
Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of
Freemasonry, 5 Juli 2012

42

Kecaman terhadap Freemason juga dilakukan oleh Paus Leo XII (1823-1829).
Dalam Ensiklik Kepausan “Quo Graviora”, Paus Leo XII menulis tentang
perkumpulan Freemason: “Mereka telah menunjukkan penghinaan mereka atas
pemerintah, kebencian mereka terhadap kedaulatan Negara, serangan-serangan
mereka terhadap Ketuhanan Yesus Kristus dan eksistensi Allah. Mereka secara
terbuka membual tentang paham materialisme mereka, sebagaimana Anggaran
Dasar dan Statuta Organisasi mereka yang menjelaskan rencana-rencana dan
upaya-upaya mereka untuk menghilangkan legitimasi Kepala-kepala Negara, dan
secara lengkap menghancurkan Gereja.” Paus Leo XII, dalam Ensiklik yang sama,
menulis: “Orang-orang ini (Freemason, pen.), adalah mereka yang dimaksud oleh
Rasul Yohanes, yang sebaiknya tidak diberi salam dan tumpangan. (2 Yoh.1:10).
Mereka adalah orang-orang yang sama, yang menurut para Bapa Gereja, adalah
“keturunan Iblis.”99
Paus Pius VIII (1829-1830), yang merupakan Paus Roma berikutnya, dalam
Ensiklik Kepausan “Traditi”, memperbaharui kecaman terhadap Freemason,
dengan mengutip istilah yang pernah dibuat oleh Paus Leo Yang Agung (wafat
tahun 461 M): “Hukum mereka adalah kesesatan: Tuhan mereka adalah Iblis, dan
perkumpulan mereka adalah kejahatan.”100 Penerus dari Paus Pius VIII, Paus
Gregory XVI (1831-1846), dalam Ensiklik Kepausan “Mirari Vos”, menulis:
“Sesungguhnya inilah saat di mana kuasa kegelapan menggiling orang-orang
pilihan layaknya gandum.” Iblis menghasilkan perkumpulan-perkumpulan

99
Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of
Freemasonry, 5 Juli 2012
100
Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of
Freemasonry, 10 Juli 2012

43

rahasia, jurang penderitaan yang tanpa dasar, di mana jurang yang tanpa dasar itu
telah digali oleh para bidat dan perkumpulan-perkumpulan sesat, yang
memuntahkan semua penistaan dan kutukan mereka.”101
Paus Pius IX, penerus dari Paus Gregory XVI, dalam sebuah Ensiklik Kepausan
tertanggal 9 November 1846, menulis: “Saudara-saudara seiman yang terkasih,
kalian telah sepenuhnya menyadari kesesatan-kesesatan dan piranti-piranti yang
mengerikan yang digunakan oleh anak-anak zaman ini untuk menggerakkan suatu
perang tanpa ampun melawan Gereja Katolik, Otoritas Ilahi dari Gereja dan
hukum-hukumnya, supaya menginjak-injak hak-hak dari kekuasaan Gereja dan
Negara: demikianlah kehendak dari akal-akal bulus melawan Tahta Kepausan
Roma, di mana Kristus telah meletakkan landasan yang tak termusnahkan dari
Gereja-Nya. Demikianlah kehendak dari perkumpulan-perkumpulan rahasia yang
berasal dari kegelapan untuk keruntuhan Gereja dan Negara, yang oleh para Paus
Roma sebelumnya telah dikutuk melalui Surat-surat Kerasulan mereka. Kami
tegaskan lagi tentang pentingnya Surat-surat tersebut, dan mengharapakan supaya
ditaati dengan perhatian penuh.” Dari tempat pengasingannya, Paus Pius IX dalam
amanatnya “Quibus Quantisque” memperbaharui kutukan kepada Freemason:
“Sekte kebinasaan yang menjijikkan itu, sebagaimana penghancuran keselamatan
jiwa-jiwa yang sama fatalnya dengan kesejahteraan dan kedamaian dari
masyarakat sekuler, telah dikutuk oleh para pendahulu kamu, Paus-Paus Roma
sebelumnya; kami secara pribadi juga telah mengutuk mereka dalam Ensiklik
Kepausan kami pada tanggal 9 November 1846 (Qui Pluribus), yang ditujukan
kepada semua Uskup dari Gereja Katolik, namun sekarang, dengan otoritas
101
Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of
Freemasonry, 10 Juli 2012

44

tertinggi dari Gereja Katolik, kami, sekali lagi, mengutuk dan melarang mereka.”
Dalam Ensiklik Kepausan bertanggal 21 November 1873, Paus Pius IX menyebut
Freemason sebagai “(Synagogue of Satan” (Sinagog Setan). Dalam amanatnya
tertanggal 15 September 1865, “Multiplicer Inter”, Paus Pius IX mengatakan:
“Dan sekarang, untuk memuaskan hasrat dan perhatian hati nurani kita, yang
tinggal harus kita lakukan adalah menasihati dan memperingatkan orang-orang
percaya yang mungkin memiliki hubungan dengan perkumpulan-perkumpulan
semacam ini (Freemason, pen.) untuk mengikuti suara hati mereka, dan
meninggalkan perkumpulan-perkumpulan yang jahat, untuk menghindari jatuh ke
dalam jurang keruntuhan abadi.” Ditambahkan oleh Paus Pius IX: “Sebagaimana
kepada orang-orang percaya lainnya, atas perhatian terhadap jiwa-jiwa mereka,
kami, menasihati mereka dengan tegas, untuk mewaspadai wacana-wacana
durhaka dari kelompok-kelompok, yang dengan berkedok kejujuran, yang
terbakar oleh kebencian yang gigih terhadap Agama Kristus dan semua otoritas
yang sah: mereka memiliki satu pemikiran untuk membasmi, semua hak-hak Ilahi
dan manusiawi. Biarlah orang-orang percaya sadar terhadap kenyataan bahwa
persaudaraan dari sekte-sekte tersebut adalah seperti halnya serigala-serigala,
yang, seperti diramalkan oleh Tuhan kita, datang menyamar sebagai domba,
bersembunyi untuk kemudian memangsa seluruh kawanan (domba): Biarlah
orang-orang percaya tahu bahwa kepada perkumpulan-perkumpulan seperti itulah,
menurut para Rasul, kita dilarang untuk bergabung, bahkan untuk memberi salam
kepada mereka.”
Dalam sebuah suratnya kepada Uskup Olinda (Brazil), Paus Pius IX
menulis surat yang isinya sebagai berikut: “Roh Setan dari sekte ini (Freemason,
pen.) telah begitu terbukti, dalam abad sebelumnya, pada masa Revolusi Perancis

45

yang mengejutkan seluruh dunia. Pergolakan-pergolakan demikian membuktikan
bahwa pembubaran total dari masyarakat manusia dapat terjadi, kecuali kekuatankekuatan dari sekte yang jahat ini dihancurkan.”102
Sedangkan Paus Leo XIII, penerus dari Paus Pius IX, dalam Ensiklik Kepausan
bertanggal 20 April 1884, menulis: ”Hari ini, para pelaku kejahatan sepertinya
bersekutu dalam suatu upaya yang menakjubkan, yang terinspirasi, dan dengan
bantuan dari sebuah perkumpulan yang diorganisir secara kuat dan tersebar luas di
seluruh dunia, yaitu perkumpulan Freemason. Faktanya, orang-orang ini tak lagi
berusaha untuk menyembunyikan maksud-maksud mereka, namun mereka saling
berlomba satu sama lain untuk menyerang kepenguasaan Allah Yang Maha
Tinggi. Kini mereka secara terang-terangan dan terbuka berupaya meruntuhkan
Gereja Yang Kudus, dan jika mungkin berhasil, untuk merampas semua karuniakarunia yang dimiliki oleh Negara-negara Kristen, yang telah mereka peroleh dari
Yesus Kristus Juru Selamat kita.”
Ditambahkan oleh Paus Leo XIII: “Sebagai hasilnya, dalam jangka waktu
satu setengah abad, perkumpulan Freemason telah membuat kemajuan yang
menakjubkan. Dengan menggunakan kelancangan dan kelicikan, Freemason telah
merambah ke semua tingkatan hirarki sosial, dan di dalam Negara-negara modern,
Freemason mulai meraih kekuasaan yang hampir setara dengan kedaulatan.”
Ensiklik Kepausan yang dikeluarkan oleh Paus Leo XIII menekankan tentang tiga
karakter Freemason: 1) Anti-moralitas; 2) Anti-Negara; dan 3) Anti-Gereja.
1. Anti-moralitas.
Paus Leo XII menggambarkan padangan kaum Freemason mengenai
moralitas sebagai berikut: “Pandangan yang berkembang di kalangan
102
Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of
Freemasonry, 10 Juli 2012

46

Freemason, sebagaimana juga mereka ajarkan kepada kaum muda, adalah
pandangan ‘moralitas sipil’, moralitas independen, moralitas bebas, yang
berarti sebuah moralitas di mana tak ada tempat bagi keyakinan agama.
Moralitas seperti ini tidak cocok, dan akibatnya adalah penghukuman bagi
dirinya sendiri. Lebih jauh lagi, dalam Freemason terdapat beberapa
kelompok

yang

menghalalkan

segala

cara

untuk

membiasakan

pengikutnya dengan kenajisan dan kejahatan; karena menurut pendapat
mereka, masyarakat akan secara alami jatuh ke dalam tangan-tangan
mereka, dan menjadi alat untuk mensukseskan rencana-rencana jahat
mereka. Contoh sikap anti-moralitas mereka adalah: pernikahan sipil;
melegalkan perceraian, pergaulan bebas, dan pendidikan non-agama bagi
kaum muda. Kehendak mereka adalah penghancuran total atas dasar-dasar
kejujuran dan keadilan. Dengan cara ini, Freemason membantu mereka
yang, seperti perilaku hewan, tak memiliki aturan perilaku, hanya
berdasarkan kemauan mereka sendiri. Cara kerja seperti ini hanya akan
merendahkan martabat manusia dan membawanya ke dalam kejatuhan.”
2. Anti-Negara
Mengenai hal ini, Paus Leo XIII pernah meramalkan bahwa Freemason
memiliki kekuasaan yang hampir setara dengan kedaulatan. Dan telah
mengisi tempat sebagai “Negara di dalam Negara”, yang akan segera
membentuk “Super State” (Negara Super). Dalam keadaan itulah, kaum
Freemason mengeluarkan dogma “Pemisahan Gereja Dan Negara”.
3. Anti-Gereja
Dalam hal ini Paus Leo XIII mengatakan: Karena tujuan sebenarnya dari
Gereja Katolik adalah penjagaan kemurnian yang utuh dari ajaran-ajaran

47

yang diwahyukan Tuhan.” Dan Paus Leo XIII menambahkan: “Rasa
permusuhan yang dilancarkan oleh perkumpulan ini (Freemason, pen.)
terhadap Tahta Kerasulan Paus Roma telah ditingkatkan intensitasnya.
Sampai kini, para pelaku kejahatan telah meraih apa yang mereka inginkan
sejak lama, yaitu berikrar untuk menindas kuasa sakral Tahta Kepausan
Roma dan menghancurkan seluruhnya Kepausan yang telah terlembagakan
secara Ilahi.” Pada kesimpulannya, Paus Leo XIII membuka kedok
Setanisme dari Yahudi-Masonik: “Dogma-dogma mereka yang utama
begitu bertentangan dengan akal sehat, dan sangat sulit membayangkan
ketidakwajarannya. Kenyataannya, bukankah merupakan puncak dari
kegilaan dan kedurhakaan yang lancang dari mereka yang ingin
menghancurkan Agama dan Gereja yang diciptakan oleh Allah sendiri:
yang meyakini perlindungan abadi-Nya; dan setelah delapan belas abad
ingin menggantikannya dengan tradisi dan lembaga-lembaga penyembah
berhala?” Dan ditambahkan lagi oleh Paus Leo XIII: “Tak diragukan lagi
bahwa dalam rencana yang bodoh dan jahat ini, sangat mudah untuk
memahami kebencian yang keras yang merupakan gambaran Setan,
terhadap Yesus Kristus. Kami menolak untuk mengikuti tuan-tuan bengis
yang menyandang nama Setan dan semua keinginan jahat.”103
Paus Pius X (1903-1914), penerus dari Paus Leo XIII, dalam suratnya
kepada rakyat Perancis, 6 Januari 1907, mengatakan: “Deklarasi-deklarasi, ribuan
kali dipublikasikan di media massa, dalam kongres-kongres, di pertemuanpertemuan Masonik, dalam balai-balai parlemen, terbukti bagi diri mereka sendiri,
103
Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of
Freemasonry, 11 Juli 2012

48

bahwa serangan-serangan terhadap Gereja telah dipimpin secara progresif dan
sistematis. Fakta-fakta seperti itu tak bisa disangkal, dan terhadap mereka
(Freemason, pen.) kata-kata saja tidak mungkin berhasil menyadarkannya.”104
Penerus dari Paus Pius X, Paus Benediktus XV (1914-1922), sempat mengutuk
sebuah buku karangan Ludovic Keller berjudul “The Spiritual Foundations Of
Masonry and The Life Of The People” (Landasan rohani dari Freemason dan
Kehidupan Masyarakat) yang terbit pada tahun 1915. Selain itu surat himbauan
dari Kantor Pusat Vatikan kepada jemaat agar waspada karena persekongkolanpersekongkolan baru sedang ditujukan terhadap Iman Kristen oleh perkumpulanperkumpulan anti-Katolik. Perkumpulan yang telah menunjukkan hal tersebut
adalah Y.M.C.A (Young Men Christian Association) (Perkumpulan Pemuda
Kristen), yang dalam banyak kesempatan telah disebut sebagai “fundamental
secara Masonik”. Surat dari Kantor Pusat Kepausan Vatikan tertanggal 5
November 1920 menyebutkan, bahwa menurut pernyataan pendiriannya,
Y.M.C.A. berniat untuk memurnikan dan menyebarkan sebuah pengetahuan yang
lebih sempurna dari kehidupan nyata, yang menempatkan dirinya di atas semua
Gereja dan di luar yurisdiksi agama. Pandangan anti-rohaniwan yang ekstrim
seperti itu tak lain merupakan perwujudan dari paham Yahudi-Masonik.105
Paus Roma selanjutnya, Paus Pius XI (Tahun 1922), dalam Ensiklik Kepausan
“Maximam

Grasissimamque”,

tertanggal

18

Juli

1924,

menyatakan

penentangannya terhadap ajaran-ajaran yang tak beriman: “Apapun yang dikutuk

104
Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of
Freemasonry, 11 Juli 2012
105
Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of
Freemasonry, 11 Juli 2012

49

oleh Paus Pius X, kami pun mengutuknya. Kami secara tegas menegur ajaran ini,
dan secara terbuka kami menyatakan bahwa ajaran ini harus dihukum.”
Dinyatakan juga oleh paus Pius XI: “Freemason adalah musuh kita yang tidak
kekal.”106
4.2.

Gereja Orthodox Timur (Eastern Orthodox Church)
Pandangan Gereja Orthodox terhadap perkumpulan Freemason
adalah dengan tegas mengecam dan bersikap konfrontatif, tidak mentolerir
jemaatnya untuk ikut ambil bagian dalam perkumpulan Freemason, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Gerakan Persatuan Orthodox
Siprus (Pan-Cyprian Christian Orthodox Movement) telah menerbitkan
sebuah buku saku yang mengklaim bahwa Lions Club, bersama dengan
Rotary Club adalah tempat untuk merekrut orang-orang untuk menjadi
anggota Freemason. Di buku saku itu disebutkan: “Para anggota
Freemason adalah ‘kuda Troya’ dalam Negara kita. Mereka adalah
pengkhianat, bukan hanya kepada Iman, tetapi juga kepada Negara.
Mereka (Freemason) adalah sebuah organisasi Zionis, yang tujuannya
adalah menghancurkan Kekristenan dan memperbudak Negara kita.”107
Dalam buku saku itu juga disebutkan bahwa para anggota Freemason
berada di belakang junta (pemerintahan militer) Yunani yang melancarkan
kudeta, yang membawa ke arah diinvasinya Siprus (oleh Turki).

106
Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of
Freemasonry, 11 Juli 2012
107
http://www.scribd.com/doc/40519351/The Rotary-Club-UnmaskedArchimandrite-Haralambos-Vasilopoulos, PAN-CYPRIAN CHRISTIAN MOVEMENT
BLASTS LIONS, SCOUTS AND MASONS, 2 Agustus 2012

50

Pada bulan Februari 1933, Sinode Kudus Gereja Orthodox Siprus
mengeluarkan sebuah surat edaran yang menyebutkan bahwa Freemason
adalah sebuah organisasi yang terkenal di luar Gereja, yang memiliki
pandangan global yang tak sejalan dengan asas-asas dari Gereja Orthodox.
Gereja Orthodox Siprus kembali mengutuk Freemason pada bulan
Februari tahun 2000.
Kritik tajam terhadap Freemason juga dilakukan oleh Uskup
Agung Gereja Orthodox Siprus, Cyprianus, yang menjadi martir dalam
membela kebebasan bangsa Yunani dari penjajahan Turki Ottoman pada
tahun 1821, dengan mengatakan: “Oleh karena itu, dengan dibalut oleh
busana-busana suci Epitrachilion dan Omophorion, kami katakan, jika ada
orang yang memberitakan kepadamu setiap injil, yang berbeda yang kami
beritakan kepadamu, meskipun seorang malaikat dari surga, terkutuklah
dia! (Gal 1:8-9). Bagi mereka, yang mengejar pekerjaan Freemason yang
bersifat Iblis dan tanpa hukum, dan bagi mereka yang mengikuti kegilaan
dan kesalahan mereka, biarkanlah mereka dikucilkan dan dikutuk oleh
Sang Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Setelah kematian, mereka tak
terampuni. Seperti Kain yang merintih dan gemetar di atas bumi. (Kej
4:14). Bumi akan terbelah lalu menelan mereka, sebagaimana halnya
Datan dan Abiram (Bil 16:31-32). Murka Tuhan akan berada di atas kepala
mereka, dan upah mereka adalah bersama dengan Yudas Si Pengkhianat.
Seorang malaikat Tuhan akan mengadili mereka dengan pedang berapi,
dan, sampai perhentian hidup mereka, mereka tidak akan mengalami
kemajuan. Semoga karya-karya dan kerja keras mereka tidak diberkati,
dan semoga mereka menjadi segumpal awan debu. Dan mereka yang

51

masih tetap tinggal dalam kejahatan mereka, memang akan mengalami
pembalasan demikian. Tetapi semua orang yang mau keluar dari tengahtengah kejahatan mereka dan mau dipisahkan, dan setelah meludahi ajaran
sesat yang menjijikkan tersebut, dan ingin pergi jauh-jauh dari kegilaan
mereka yang terkutuk, orang-orang seperti itu akan menerima upah
sebagaimana halnya Phineas yang gigih; mereka akan diberkati dan
diampuni oleh Sang Bapa, Putra, dan Roh Kudus, Tritunggal yang tak
terpisahkan, Satu Allah dalam hakikat, dan oleh kami para para hambaNya.” (Uskup Cyprianus dari Justiniana dan seluruh Siprus, Metropolitan
Chrysanthos dari Paphos, Metropolitan Meletios dari Citium, Metropolitan
Laurence dari Cyrenia, Siprus, 2 Februari 1815).108
Beberapa pernyataan lain yang juga mengecam Freemason datang
dari Gereja Orthodox Rusia dan Yunani. Sikap Gereja Orthodox Rusia
terhadap Freemason dinyatakan secara tegas oleh Metropolitan Anthony,
yang memimpin Sinode Gereja Rusia di Sremsky-Karlovtsy di Yugoslavia.
Pada tanggal 15 Agustus 1932, Metropolitan Anthony mengeluarkan
sebuah surat penggembalaan kepada jemaat, yang menganjurkan
jemaatnya untuk ‘tidak begitu saja percaya’ kepada setiap ajaran, tetapi
menguji ajaran tersebut, apakah ajaran tersebut berasal dari Allah. Karena
banyak nabi palsu yang telah datang ke dalam dunia (1 Yoh. 4:1).
Kemudian Metropolitan Anthony memaparkan secara singkat tentang
sejarah Freemason, dan menyatakan bahwa Freemason adalah salah satu

108
Ibid., http://www.scribd.com/doc/40519351/The Rotary-Club-UnmaskedArchimandrite-Haralambos-Vasilopoulos, PAN-CYPRIAN CHRISTIAN MOVEMENT
BLASTS LIONS, SCOUTS AND MASONS, 2 Agustus 2012

52

ajaran yang paling sesat dan merusak dalam sejarah umat manusia. 109
Metropolitan Anthony mengatakan: “Freemason adalah sebuah organisasi
internasional rahasia yang berjuang melawan Tuhan, Kekristenan, dan
semua pemerintahan nasional, terutama pemerintahan Kristen. Dalam
organisasi internasional, kepentingan dan pengaruh utama dari Freemason
adalah pada keanggotaan orang Yahudi. Karena alasan inilah, dan alasanalasan lainnya, orang-orang Kristen Orthodox dilarang untuk menjadi
anggota Freemason. Seluruh imamat Gereja Orthodox berkewajiban untuk
menyelidiki jemaatnya yang datang untuk Pengakuan Dosa, apakah
mereka anggota dari perkumpulan Freemason. Jika benar mereka adalah
anggota Freemason, jika terlihat bahwa mereka mempercayai dan
menyebarkan ajaran-ajaran Freemason, mereka harus dinasihati bahwa
keanggotaan dalam perkumpulan Freemason adalah berlawanan dengan
Kekristenan Orthodox, dan yang bersangkutan harus secepatnya
mengundurkan diri dari Perkumpulan Freemason. Jika mereka tidak mau
mengundurkan diri dari perkumpulan Freemason, mereka tidak layak
untuk menerima Perjamuan Kudus, dan ketidakbertobatan mereka akan
membuat mereka dikucilkan dari Gereja Orthodox.”
Sedangkan sikap yang jelas datang dari Gereja Orthodox Yunani,
yang

menyatakan

menyangkali

bahwa

Gerakan

orang-orang

Freemason

dan

Kristen

Orthodox

mengundurkan

diri

harus
dari

perkumpulan tersebut jika mereka telah bergabung di dalamnya, dalam
ketidaktahuan terhadap tujuan Freemason. Para Uskup dari Gereja
109
Ibid., http://www.scribd.com/doc/40519351/The Rotary-Club-UnmaskedArchimandrite-Haralambos-Vasilopoulos, The Act of the Russian Orthodox Church
Abroad(1932), 2 Agustus 2012

53

Orthodox Yunani, dalam pertemuan mereka pada tanggal 12 Oktober
1933, menyatakan keprihatianan mereka setelah mempelajari dan
menyelidiki

organisasi

internasional

rahasia,

Freemason.

Mereka

mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Komisi Uskup yang
dibentuk oleh Sinode Kudus, juga pendapat dari pihak Fakultas Theologia
Universitas Athena, setelah itu mengambil kesimpulan: “Freemason
bukanlah sebuah perkumpulan philantropis sederhana atau sebuah sekolah
filsafat, tetapi menetapkan sebuah sistem mistis yang mengingatkan kita
kepada kultus-kultus dan agama-agama kafir kuno, yang menurunkan dan
meregenerasikannya kepada Freemason. Hal ini tidak hanya diakui oleh
guru-guru terkemuka di Loge-loge Freemason, tapi juga dideklarasikan
oleh mereka dengan bangga, bahwa Freemason adalah satu-satunya
misteri kuno yang masih bertahan, dan bisa dikatakan bahwa Freemason
adalah ‘pengawalnya’. Sebuah hubungan antara Freemason dan misterimisteri penyembahan berhala kuno juga diwujudkan dan dipertunjukkan
dalam kegiatan penerimaan anggota baru (inisiasi) Freemason. Dalam
inisiasi pada tingkat ketiga dari Freemason, anggota baru dipertunjukkan
meniru penderitaan dari Hiram, tokoh panutan Freemason. Menurut
pengakuan dari para guru terkemuka Freemason, Hiram adalah seperti
halnya ‘Osiris’, salah satu personifikasi dari Matahari. Jadi, Freemason
adalah sebuah agama misteri, yang berbeda, terpisah, dan terasing dari
Iman Kristen. Tak diragukan lagi bahwa hal ini terlihat dari kenyataan
bahwa Freemason memiliki kuil-kuil dan altar-altar mereka sendiri, dan
memiliki upacara-upacara keagamaan mereka sendiri, seperti upacara-

54

upacara pernikahan, pembaptisan, pemakaman, peresmian kuil Freemason,
juga memiliki urutan hirarkinya sendiri, dan ajaran yang pasti.”
Lebih lanjut lagi, Komisi Uskup Gereja Orthodox Yunani tersebut
mengemukakan: “Memang benar, nampaknya, pada awalnya Freemason
dapat berdampingan dengan tiap agama lain. Hal ini jelas karena karakter
sinkrenistiknya, dan ini membuktikan bahwa Freemason adalah penerus
dari agama-agama kuno yang menerima anggota-anggota baru dari
pengikut semua agama. Freemason, yang bermaksud untuk memberi
‘kesempurnaan moral’ dan ‘pengetahuan tentang kebenaran’ kini
menempatkan diri mereka sebagaimana sebuah ‘agama super’ yang
memandang agama-agama lain, termasuk Kekristenan, sebagai yang lebih
rendah (inferior) dibandingkan mereka. Berbeda halnya dengan Agama
Kristen yang meninggikan Iman di atas segalanya, membatasi akal
manusia hanya sampai pada pemberian Wahyu Ilahi, ajaran Freemason
hanya memilki ‘kebenaran alami’ dan memperkenalkan cara ‘pemikiran
bebas’ dan ‘pemahaman melalui akal saja’ kepada para anggota barunya,
mereka mendasarkan dasar moralnya hanya kepada kekuatan alami
manusia, dan hanya memiliki kehendak-kehendak alami.”
Ditambahkan lagi oleh Komisi Uskup Gereja Orthodox Yunani:
“Jadi, kontradiksi yang bertentangan antara Kekristenan dan ajaran
Freemason cukup jelas. Jadi wajar bila berbagai Gereja dari berbagai
denominasi telah mengambil sikap menentang Freemason. Gereja Barat
tidak hanya menentang ajaran Freemason melalui sejumlah Ensiklik
Kepausan (Katolik Roma), tapi juga Gereja Lutheran, Metodis,
Presbyterian. Lebih jauh lagi, Gereja Orthodox, dalam integritasnya,

55

menjaga perbendaharaan Iman Kristen, menyatakan penentangannya
terhadap Freemason, saat perdebatan atau keragu-raguan terhadap hal itu
mengemuka. Saat ini, komisi Inter-Orthodox (antar Gereja Orthodox)
yang bertemu di Gunung Athos, di mana para perwakilan dari GerejaGereja Orthodox Otonom (Autocephalus) ikut ambil bagian, telah
mengidentifikasi ajaran Freemason sebagai sebuah ‘ajaran sesat’ dan ‘anti
Agama Kristen’.
Majelis Para Uskup dari Gereja Yunani, pada sesi tersebut di atas
merasa lega setelah mendengar penjelasan dan menerima kesimpulan
berikut yang diambil dari penyelidikan-penyelidikan dan diskusi oleh
pimpinan majelis saat itu, Uskup Agung Krisostomos dari Athena, yang
mengatakan: "Freemason tidak dapat sama sekali tidak berlawanan dengan
Kekristenan, sejauh itu adalah organisasi rahasia, bertindak dan
mengajarkan ajarannya secara misterius dan rahasia, dan mendewakan
rasionalisme. Freemason tidak hanya menerima orang Kristen sebagai
anggotanya, tetapi juga Yahudi dan Muslim. Sebagai konsekuensinya,
kaum imam tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam perkumpulan
Freemason. Saya menganggap sebagai suatu kemerosotan jika ada imam
yang melakukannya. Sangatlah penting untuk mendorong semua orang
yang telah memasuki perkumpulan Freemason tanpa berpikir terlebih
dahulu tentang akibatnya dan tanpa memeriksa apakah Freemason itu,
untuk memutuskan hubungannya dengan perkumpulan itu, bahwa
Kekristenan sendiri adalah agama yang mengajarkan kebenaran mutlak
dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan agama dan moral manusia. Dengan
suara bulat dan dengan satu suara semua Uskup dari Gereja Orthodox

56

Yunani telah menyetujui apa yang dikatakan, dan kami menyatakan bahwa
semua umat dari Gereja harus berdiri menentang Freemason. Dengan
iman yang tak tergoyahkan kepada Tuhan Kita Yesus Kristus, yang di
dalamnya Kita memiliki penebusan oleh darah-Nya, pengampunan atas
dosa-dosa Kita, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, di mana Ia
melimpahkannya kepada Kita dalam segala hikmat dan kebijaksanaan
(Efesus 1:7-9), di mana kita memiliki kebenaran yang dinyatakan olehNya dan dikabarkan oleh para Rasul, tidak dengan kata-kata persuasif
tentang kebijaksanaan, tetapi dengan mengambil bagian dalam Sakramensakramen Ilahi, yang melaluinya Kita dikuduskan dan diselamatkan oleh
hidup yang kekal, kita seharusnya tidak terpisah dari Anugerah Kristus
dengan mengambil bagian dalam misteri-misteri lainnya. Adalah salah jika
pada saat yang sama Kita memilki Kristus, tapi sekaligus juga mencari
kesempurnaan moral di luar Dia. Karena alasan-alasan inilah, Kekristenan
sejati tidak sesuai dengan Freemason. Oleh karena itu, semua yang telah
terlibat dalam inisiasi dan misteri-misteri Masonik, sejak saat ini harus
memutuskan semua hubungan dengan loge-loge Freemason dan kegiatankegiatannya, untuk memastikan bahwa, dengan demikian memperbarui
hubungan-hubungan mereka dengan satu Tuhan dan Juruselamat kita,
yang telah diperlemah oleh ketidaktahuan dan salah mengartikan nilainilai.”110
Di Indonesia, pihak Gereja Orthodox, melalui pimpinannya, Pater
Dr. Chrysostomos Manalu, D. Th., mengungkapkan ketidaksetujuannya
110
Ibid., http://www.scribd.com/doc/40519351/The Rotary-Club-UnmaskedArchimandrite-Haralambos-Vasilopoulos, The Act of the Church of Greece (1933), 2
Agustus 2012

57

terhadap perkumpulan Freemason maupun Rotary Club, perkumpulanperkumpulan yang notabene dilegalkan oleh Keppres No. 69 Tahun 2000.
Pater Chrysostomos Manalu mengatakan: “Freemason bermaksud
membentuk agama baru. Orang yang masuk di dalamnya diarahkan untuk
membentuk agama baru. Di Yunani mereka disebut ‘’ (dibaca:
Masonas, pen.). Mereka yang bergabung dengan Freemason sama saja
dengan

menjual

jiwa

mereka.”

Mengenai

Rotary

Club,

Pater

Chrysostomos Manalu mengatakan: “Perkumpulan Rotary Club adalah
zionis. Memang secara finansial mereka mapan.”111

4.3.

Gereja Kristen Lainnya
Charles G. Finney, seorang pendeta dan theolog terkenal Gereja

Presbyterian di Amerika Serikat (1792-1875), merupakan anggota Freemason
pada waktu berusia dua puluh satu tahun, namun akhirnya bertobat dan menerima
Yesus Kristus sebagai Juru Selamat setelah empat tahun bergabung dengan
perkumpulan Freemason. Charles Finney menyebutkan bahwa moralitas
Freemason adalah tidak Kristiani. Pengambilan sumpah dalam Freemason
merupkana pelanggaran dari perintah Kristus. Charles Finney menganjurkan umat
Kristen supaya tidak ambil bagian dalam perkumpulan Freemason.112

111
Sesuai dengan hasil wawancara penulis dengan Pater Dr. Chrysostomos P.
Manalu, pimpinan Gereja Orthodox Indonesia, di kawasan Simalingkar, Medan, pada
tahun 2009.
112
2012

http://www.isaiah54.org/finney.htm, “Why I Left Freemasonry”, 3 Agustus

58

Charles Burchett, serorang pendeta di Gereja Baptis di Texas, Amerika
Serikat (1985) menyatakan bahwa ajaran Freemason berlawanan dengan Iman
dan ajaran Gereja Baptis.”113
Missouri Synod Of The Lutheran Church (Sinode Gereja Lutheran
Missouri) melarang para anggota Freemason untuk menjadi anggota/jemaat
Gereja. Sedangkan Gereja Metodis Inggris mengutuk Freemason pada Sidang
Umumnya tahun 1985.114
Berikut ini adalah daftar denominasi-denominasi Gereja yang mengutuk
Freemason:
 Methodist Church of England (Gereja Methodis Inggris)
 Wesleyan Methodist Church (Gereja Wesleyan)
 Assemblies of God
 Church of the Nazarene
 Orthodox Presbyterian Church
 Reformed Presbyterian Church
 Evangelical Mennonite Church
 Church of Scotland (Gereja Skotlandia)
 Christian Reformed Church in America
 Grace Brethren
 Evangelical Mennonite Church
 Synod Anglican Church of England (Sinode Gereja Anglikan Inggris)
 Free Church of Scotland
 General Association of Regular Baptist Churches
 Independent Fundamentalist Churches of America
 The Evangelical Lutheran Synod
 Baptist Union of Scotland
 Wisconsin Evangelical Lutheran Synod
 Presbyterian Church in America (Gereja Presbyterian Di Amerika).115
113
http://www.saintsalive.com/resourcelibrary/freemasonry/freemasonry and the
southern baptist church, 8 Agustus 2012
114
http://educate-yourself.org/cn/freemasonryoccult31mar05.shtml, Freemasonry
is a Non-Christian Occult Religion, 8 Agustus 2012
115
Ibid., http://www.educate-yourself.org/cn/freemasonryoccult31mar05.shtml,
Freemasonry is a Non-Christian Occult Religion, 8 Agustus 2012

59

Seorang pengajar sekaligus peneliti di Sekolah Tinggi Theologia
Paulus Medan, Sumatera Utara, Marojahan Hutabarat, M. Min., M. Pd.K.,
yang juga aktivis di Gereja Huria Kristen Indonesia Protestan (HKIP),
berpendapat: “Freemason kini merupakan musuh bersama (dari umat
Kristen, denominasi yang berbeda-beda, pen.)”.116
Pandangan senada juga dikemukakan oleh Bapak Pdt. Ruston
Nababan, M. Th., Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gereja Mission Batak
(GMB), sebuah denominasi Kristen Lutheran, yang berpendapat bahwa
Freemason merupakan sebuah perkumpulan yang ‘berbahaya’, karena
dapat menyebabkan Kekristenan menjadi ‘mengambang’ (tidak jelas,
pen.). Ditambahkan oleh Bapak Ruston Nababan: “Seharusnya pemerintah
tidak melegalkan perkumpulan Freemason”.117

116
Sesuai dengan hasil wawancara penulis dengan Bapak Marojahan Hutabarat,
M. Min., M. Pdk, pengajar dan peneliti di Sekolah Tinggi Theologia Paulus, di kawasan
Simalingkar, Medan, pada tahun 2009.
117
Sesuai dengan hasil wawancara penulis dengan Bapak Pdt. Ruston Nababan, M.
Th., Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gereja Mission Batak (GMB), di kawasan Simalingkar,
Medan, pada tanggal 13 Agustus 2012.

60

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Freemason jelas-jelas ditolak keberadaannya oleh Gereja secara
umum, terlihat dari sikap penentangan yang jelas terhadap keberadaan
perkumpulan Freemason dari waktu ke waktu oleh para pimpinan
Gereja-gereja besar (Katolik Roma dan Gereja Orthodox Timur).
2. Ajaran Freemason tidak sesuai, dengan kata lain berlawanan dengan
ajaran Kekristenan sebagaimana yang diajarkan oleh Alkitab
3. Mengikuti atau bergabung dengan perkumpulan Freemason, adalah
dosa, karena merupakan pelanggaran terhadap ajaran Kristen yang
benar.

5.2. Saran
Beberapa saran yang bisa diberikan sebagai berikut:
1. Bagi umat Kristen, khususnya yang berada di Indonesia, disarankan
untuk menolak keberadaan perkumpulan Freemason di manapun
berada, karena ajaran Freemason bertentangan dengan ajaran
Kekristenan yang benar.

61

2. Bagi pemerintah, khususnya pihak pembuat kebijakan (eksekutif),
disarankan agar memperhatikan aspirasi dari umat Kristen, dalam
menyusun atau merumuskan peraturan-peraturan yang ada, sehingga
aspirasi tersebut dapat tersalurkan, dan membawa kebaikan bagi
masyarakat, bangsa, Negara, dan umat manusia pada umumnya.
3. Bagi mereka yang telah bergabung dengan perkumpulan Freemason,
disarankan agar meninggalkan perkumpulan tersebut, dan segera
memutuskan hubungan dengannya, dan bertobat, serta kembali hidup
dengan cara yang berkenan di hadapan Tuhan.
4.

62

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful