IMUNISASI PADA REMAJA Remaja, menurut definisi Badan Kesehatan Dunia (WHO), adalah kelompok usia antara 10 sampai

18 tahun. Remaja terbagi dalam 3 kelompok usia yaitu remaja dini (early adolescence) 10–13 tahun, remaja pertengahan (mid adolescence) 14–16 tahun, dan remaja lanjut (late adolescence) 17–18 tahun.1 Masa remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menjadi masa dewasa. Masa remaja adalah saat memasuki pertumbuhan pesat kedua yang merupakan kurun waktu terpaparnya anak pada lingkungan luas dan beraneka ragam. Remaja selalu mencoba berbagai peran dan melakukan analisis dari sisi yang seringkali berbeda. Remaja ini akan berhadapan dengan masalah pendidikan, kesehatan, psikologi, dan masalah sosial mereka.Mereka lebih sulit diduga, mereka berani mengambil risiko untuk melihat sampai mana dia bisa. Mereka menghadapi bahaya lebih kompleks dari generasi sebelumnya, adakalanya tanpa dukungan sama sekali. 2 Data demografi menunjukkan bahwa remaja merupakan populasi yang besar dari penduduk dunia. Menurut WHO (1995) sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja. Di Indonesia menurut Biro Pusat Statistik kelompok umur 10-19 tahun sebanyak 42.181.920 orang yang terdiri dari 21.609.111 remaja laki-laki dan 20.572.809 remaja wanita.3 Dalam masalah kesehatan, tercakup imunisasi remaja yang kurang mendapat perhatian baik dari orangtua maupun petugas kesehatan. 4 Imunisasi merupakan strategi pencegahan penyakit yang paling berhasil, terutama pada bayi dan balita. Kesakitan dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, secara nasional sudah sangat berkurang dengan adanya vaksinasi melalui Program Pengembangan Imunisasi (PPI), termasuk pada anak sekolah dengan dilaksanakannya bulan imunisasi anak sekolah secara rutin setiap tahun. Namun, imunisasi pada remaja belum dilaksanakan secara baik dan teratur. Di masa lalu imunisasi pada remaja diberikan sebagai booster, bukan imunisasi dasar. Saat ini dengan diproduksinya beberapa vaksin baru, vaksinasi remaja meliputi: imunisasi primer, booster, dan catchup vaccination (yang terlewat pada saat bayi dan anak). Status imunisasi remaja perlu dievaluasi, untuk menilai persiapan remaja menghadapi masalah kesehatannya di masa depan. Imunisasi pada masa tersebut sangat penting untuk dipantau dalam upaya pemeliharaan kondisi atau kekebalan tubuh terhadap berbagai macam penyakit infeksi yang disebabkan karena kuman, virus maupun parasit dalam kehidupan menuju dewasa. Perlu dinilai kembali apakah respons imun terhadap penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi masih cukup tinggi, selain berguna bagi masing-masing individu juga diperlukan untuk memutuskan transmisi penyakit. Di lain pihak, masa remaja sering dianggap periode yang paling sehat dalam siklus kehidupan sehingga tidak rentan terhadap penyakit. Hal ini menimbulkan anggapan bahwa imunisasi remaja tidak terlalu

Beberapa penelitian pada subjek remaja dan dewasa dengan menggunakan flow cytometry mengungkapkan bahwa jenis kelamin dan usia mempengaruhi jumlah sel yang berperanan dalam sistem imunitas tubuh. Memori Imunologik Peran utama vaksinasi adalah menimbulkan memori imunologik yang banyak.6 Respons imun yang timbul baik respons imun innate maupun adaptive. Bila sel B memori ke jaringan limfoid yang mempunyai antigen yang serupa maka akan terjadi proses proliferasi dan diferensiasi seperti semula dengan menghasilkan antibody yang lebih banyak dan dengan afinitas yang lebih tinggi.2008) Respons Imun pada Remaja Antara anak. ras. berbeda antara usia anak dan dewasa. Sel B memori akan berada di sirkulasi sedang sel plasma akan migrasi ke sumsum tulang. Terjadi proliferasi dan diferensiasi sel limfosit B dan akan terbentuk sel plasma yang akan menghasilkan antibody dan sel B memori yang mempunyai afinitas Ag yang tinggi. Sel APC akan mempresentasikan antigen yang sudah diprosesnya bersama-sama molekul MHC di jaringan limfoid perifer pada sel limfosit T.diperlukan sehingga program imunisasi remaja tidak semudah pemberian pada masa bayi dan anak-anak. remaja.5 Remaja memiliki periode perkembangan yang unik yang ditandai dengan perubahan fisiologis dan psikososial yang nyata. dan faktor genetik menyebabkan perbedaan dalam jumlah sel yang berperanan dalam membentuk kekebalan tubuh.9 Perubahan hormonal yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan berpengaruh terhadap respons imun. Sel T memori dibentuk melalui beberapa tahapan. sampai ke dewasa akan terjadi perubahan dalam faal tubuh termasuk faal kekebalan. Antigen asing yang sudah terikat dengan antibody akan membentuk kompleks antigenantibodi dan akan terikat dengan komplemen (C). Respons imun pada masa remaja berbeda dengan respons pada masa anak yakni selain dipengaruhi faktor ras dan jenis kelamin.2010 dan Ranuh. usia. Salah satu fungsi dari sitokin adalah proliferasi sel T dengan antigen spesifik dan diferensiasi menghasilkan sel T efektor dan sel T memori.5. Jenis kelamin. Terbentuknya antibody sebagai akibat ulangan vaksinasi (boosting effect) tergantung dari dosis antigen yang diberikan. kompleks Ag-Ab-C akan menempel pada sel dendrite folikel (FDC=Follicular Dendritic Cells) karena reseptor C di permukaan sel dendrit. ditentukan juga oleh faktor hormonal. Meningkatnya risiko penyakit autoimun pada masa pubertas dan setelah pubertas pada wanita (pria dalam derajat yang lebih rendah) menimbulkan 1 . sehingga respons terhadap penyakit serta keamanan dan efikasi pemberian vaksin pun akan berubah. (Akib. bersamaan dengan ini akan disekresikan sitokin.

Involusi kelenjar thymus terjadi pada saat remaja awal. program imunisasi diberlakukan untuk semua kelompok umur termasuk remaja. Apalagi bila booster alami tidak ada lagi karena insidens penyakit telah menurun. yang merupakan sumber pembuatan sel T CD4. terutama apabila akan melanjutkan sekolah ke luar negeri.11 Beberapa penyakit menular seperti campak. Namun pada kelompok usia remaja dan dewasa muda insidens PD3I masih menetap dan cenderung meningkat karena program imunisasi belum memfokuskan pada kelompok ini. rubela. seperti kanker hati. Perubahan penting terjadi pada masa remaja yaitu involusi kelenjar timus.3 2 . harus dicegah sebelum remaja melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. gondongan.dugaan kuat bahwa hormon seks steroid menimbulkan efek pada fungsi imun baik sistem imun nonspesifik (innate) maupun sistem imun spesifik (adaptive). namun penelitian terbaru memperlihatkan involusi terjadi pada masa dewasa. Beberapa penyakit yang pada masa kanak-kanak belum menyebabkan morbiditas tinggi ternyata pada masa remaja dapat menyebabkan kematian. varisela. memutuskan transmisi penularan. kanker leher rahim (carcinoma cervix). Walaupun demikian.5 Jumlah sel T berbeda pada usia remaja dibandingkan dengan jumlah pada usia dewasa. Beberapa tujuan dari program imunisasi menyeluruh di semua kelompok umur yaitu untuk meningkatkan herd immunity (kekebalan komunitas).10 Remaja harus dipersiapkan untuk masuk ke kehidupan dewasa dengan berbagai risiko terkena penyakit. tetapi berdampak buruk secara tidak langsung. Anak usia sekolah merupakan kelompok tersering yang terinfeksi virus influenza dengan attack rates pada kelompok pra-sekolah dan usia sekolah mencapai 15%-42% setiap tahunnya.5 Imunisasi pada Remaja Untuk menurunkan kejadian penyakit. seperti influenza. perubahan fungsi thymus seiring usia berpengaruh terhadap adanya perbedaan respons imun pada pemberian vaksinasi di berbagai tingkatan usia.3 Program imunisasi pada bayi dan anak telah berjalan dengan baik terbukti dengan meningkatnya cakupan imunisasi sehingga insidens penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada usia ini menurun. dan sebagai upaya catchup serta missed opportunities terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi di masa lalu. Konsentrasi dalam serum sebagai marker aktivasi sistem imun pada remaja secara signifikan berhubungan dengan ras dan usia. Untuk menurunkan PD3I dan menghadapi risiko terkena penyakit pada usia dewasa maka remaja harus diberikan imunisasi selengkap mungkin. juga berbeda antara jenis kelamin yang berbeda pada usia remaja yang sama. Penyakit lain tidak berbahaya pada remaja.

Untuk memberikan imunitas lanjutan terhadap tetanus dan difteria. Imunisasi ini juga untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit diphtheria. Hal ini karena pertusis (batuk rejan) meningkat di kalangan remaja. Remaja usia 11–18 tahun sebaiknya mendapat dosis tunggal Tdap dibandingkan 3 . American Academy of Pediatric dan American Academy of Family Physicians dan institusi kesehatan internasional lainnya : Vaksin DPaT DPaT adalah vaksin untuk tetanus. Manfaat terpenting memberikan imunitas terhadap pertusis selama masa remaja karena imunitas pertusis yang didapat dari dosis lengkap vaksinasi selama anakanak hanya bertahan selama 5-10 tahun setelah pemberian dosis terakhir. Centers for Disease Control and Prevention (CDC. Dengan menurunnya reservoir pertusis maka akan menurunkan insidensi peyakit ini. diphtheria toxoids dan acellular pertussis. DPaT sebaiknya diberikan dalam dosis tunggal Td pada suatu seri catch-up atau sebagai booster pada usia 10 sampai 18 tahun. Pada Individu berusia 13 sampai 18 tahun yang belum menerima Tdap sebaiknya mendapat vaksinasi ini. Vaksin DPaT direkomendasikan untuk remaja usia 11 hingga 12 tahun untuk individu yang telah mendapat vaksinasi lengkap vaksin DTP/DTaP. vaksin ini juga melindungi terhadap difteri dan pertusis. Selain vaksin untuk tetanus. Disamping itu juga untuk mengurangi reservoir pertusis dimana remaja yang menderita pertusis dapat menularkan penyakitnya pada bayi atau anak-anak.Beberapa jenis imunisasi untuk yang direkomendasikan oleh Advirsory Committee on Immunization Practices (ACIP). tetanus dan pertusis pada remaja. serta belum menerima dosis booster tetanus dan diphtheria toxoid (Td). Imunisasi dengan vaksin DTaP pada remaja lebih aman diberikan DPaT. gunakan Td untuk dosis lainnya.

diphtheria. Penyedia vaksin sebaiknya memberikan vaksinasi Tdap dan tetravalent meningococcal conjugate pada remaja usia 11–18 pada waktu yang bersamaan bila vaksin tersebut tersedia dan diindikasikan. Suatu kombinasi vaksin difteria-tetanus tersedia dalam dua bentuk: DT. Interval pemberian antara Td dan Tdap yaitu 5 tahun untuk mengurangi resiko reaksi lokal dan sistemik setelah vaksinasi Tdap. dapat digunakan interval pemberian kurang dari 5 tahun. Pada usia praremaja (10-14 tahun) khususnya pada anak perempuan diperlukan vaksinasi ulang tetanus (dT) untuk mencegah kemungkinan terjadinya tetanus neonatorum pada bayi yang akan dilahirkan. Apabila vaksinasi telah dilakukan pada usia 4-6 tahun. kecuali pada kasus trauma yang berpotensi 4 . Pemberian booster dapat dilakukan pada usia 11-12 tahun. Vaksin DT digunakan untuk anak usia muda yang mempunyai kontraindikasi terhadap vaksin pertusis. jika dosis keempat diberikan saat usia 7 tahun atau lebih maka tidak diperlukan dosis kelima) dan belum mendapat vaksinasi Td atau Tdap. tapi belum mendapat DPaT. Booster dapat diberikan secara rutin tiap 10 tahun. direkomendasikan untuk anak sampai usia 7 tahun. sebaiknya mendapat dosis tunggal DPaT untuk memberikan perlindungan terhadap pertusis jika mereka telah mendapat vaksinasi DTP/DTaP lengkap. dan 13 Td digunakan di negara yang merekomendasikan dosis ulangan sepanjang hidup. Sediaan toksoid difteria yang tersedia di pasar merupakan salah satu komponen vaksin yang terdapat dalam tiga komponen vaksin DTP. Usia vaksinasi Tdap yang direkomendasikan yaitu 11-12 tahun. Walaupun demikian. dan pertusis jika mereka telah mendapat vaksin DPT/DTaP lengkap yang direkomendasikan semasa bayi dan anak-anak (5 dosis sebelum usia 7 tahun. Remaja usia 11–18 tahun yang mendapat Td. Kontraindikasi Vaksin DPaT dan Td Individu dengan riwayat reaksi alergi serius terhadap komponen vaksin (misalnya syok anafilaktik). maka booster pada usia 11-12 tahun tidak dianjurkan. tetapi diberikan pada 10 tahun setelah vaksinasi terakhir. dan Td (jumlah toksoid difteria sudah dikurangi) digunakan untuk anak yang lebih besar dan dewasa oleh karena reaksi yang berlebihan terhadap toksoid difteria pada orang yang sudah tersensitisasi oleh antigen. Remaja dengan riwayat ensefalopati (koma atau kejang berkepanjangan) tidak boleh mendapat komponen vaksin pertusis sehingga mereka hanya mendapat vaksinasi Td saja dan bukan vaksinasi Tdap. Booster Td bertujuan memperpanjang perlindungan terhadap tetanus dan difteri.vaksin tetanus dan diphtheria (Td) untuk booster imunisasi melawan tetanus. Selain itu toksoid difteria juga tersedia sebagai salah satu komponen gabungan dengan vaksin lain.

2 dan 6.mengakibatkan tetanus. 1 dan 6 bulan. untuk imunisasi influenza pada anak tahun 2008-2009 untuk pencegahan 5 .5 mL secara intramuskular pada M. dengan jadwal 0. Oleh sebab itu pemberian vaksinasi HPV sebaiknya diberikan saat remaja.2 juta remaja usia 10-18 tahun menderita asma dan kelompok ini merupakan salah satu kelompok risiko tinggi yang dapat menderita komplikasi berat terhadap infeksi influenza. Vaksin HPV telah disahkan oleh Food and Drug Administration (FDA) dan Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) dan di Indonesia sudah diizinkan badan POM RI. untuk vaksin HPV bivalen. Sedangkan untuk vaksin HPV kuadrivalen. untuk mencegah infeksi HPV yang menetap lama (persisten) pada leher rahim yang dapat berkembang menjadi kanker leher rahim. Vaksin HPV berpotensi untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan infeksi HPV genitalia.8 Pada penelitian tentang efikasi pada vaksinasi usia 15-25 tahun terlihat angka perlindungan 100%. Vaksin ini melindungi terhadap HPV. Terdapat 2 jenis vaksin HPV yaitu vaksin bivalen (tipe 16 dan 18. 16 dan 18. Diberikan setiap tahun pada anak usia 6 bulan sampai 18 tahun. Diperkirakan sebanyak 2. virus yang menyebabkan kanker serviks dan genital warts (kulit kelamin). Di Indonesia.13 Vaksin Human Papilloma Virus (HPV) Vaksin HPV diindikasikan untuk semua perempuan dari usia 9 sampai 26 tahun. vaksin ini biasanya bisa diberikan kapan saja (tidak bergantung musim) yang bisa diberikan rutin setiap tahun sekali.deltoideus.12. Kanker leher rahim yang biasanya terjadi setelah jangka waktu 5-10 tahun setelah seorang wanita menderita infeksi human papilloma virus (HPV). Vaksin ini mempunyai efikasi 96-100% untuk mencegah kanker leher rahim yang disebabkan oleh HPV tipe 16/18. rinitis alergi atau sinusitis. Mengacu pada rekomendasi American Academiy of Pediatrics (AAP) maupun Advisory Committee on Immunization Practice (ACIP). Gardasil®). Cervarix®) dan vaksin quadrivalen (tipe 6. imunisasi diberikan dengan jadwal 0. Imunisasi diberikan dengan dosis 0. Vaksin HPV yang telah beredar dibuat dengan teknologi rekombinan. 12 Vaksin influenza Vaksinasi flu sekarang dianjurkan untuk semua anak dari usia 6 bulan sampai 18 tahun. Imunisasi vaksin HPV diperuntukkan pada anak perempuan dengan usia >10 tahun. 11. Pada kasus trauma itu vaksinasi tetanus toksoid harus diberikan sesegera mungkin pada orang yang telah mendapat booster >5 tahun. Lebih direkomendasikan pada remaja dengan gangguan asma. Mulai umur 10 tahun anak perempuan perlu diberikan imunisasi HPV.

Jepang. Remaja yang akan berkunjung atau bekerja ke daerah endemis hepatitis A (selain Australia. Di Indonesia belum ada data yang pasti pada 6 . Di Amerika Serikat setiap tahun diperkirakan 140. Diberikan dua dosis vaksin dalam rentang waktu 6 bulan. Kanada. Imunisasi menyebabkan terbentuknya serum neutralizing antibodies. Selain itu. Dua dosis vaksin diberikan sekurang-kurangnya 6 bulan terpisah untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit hati.14 Vaksin hepatitis A Vaksin ini digunakan untuk melindungi terhadap hepatitis A. remaja yang bepergian ke negara-negara tertentu juga harus mendapatkan vaksin ini. Proteksi jangka panjang terjadi akibat antibody protektif yang menetap atau akibat anamnestic boosting infeksi alamiah. Selain itu remaja yang dianjurkan untuk mendapat vaksinasi hepatitis A adalah mereka yang: 12  menderita penyakit hati kronis  mendapat faktor-faktor pembekuan  menggunakan narkoba injeksi atau noninjeksi  homoseksual Meningococcal conjugate vaccine (MCV) Infeksi meningokok adalah infeksi invasif yang mengakibatkan meningokoksemia. Remaja yang tinggal di daerah dengan sejumlah besar kasus hepatitis A harus divaksinasi. Ini yang dikenal sebagai herd immunity.000 orang terinfeksi virus hepatitis A dan usia terbanyak adalah kelompok usia 5-14 tahun.influenza.15 tahun. Selandia Baru. Batas umur maksimal vaksinasi hepatitis A adalah antara 10. dan negara-negara di Eropa Barat) dianjurkan untuk mendapat vaksinasi hepatitis A. Tambahan lagi transmisi pada sesama anak sekolah menurun dengan vaksinasi yang pada gilirannya menurunkan pula transmisi influenza di rumah tangga dan komunitas. Alasan ini dianjurkan pada anak usia sekolah karena populasi tersebut mempunyai disease burden dan risiko tertinggi dibanding orang dewasa. dan diharapkan rutin diberikan jangan lebih lambat dari musim influenza 2009-2010. maka semua anak usia 6 bulan sampai 18 tahun dianjurkan untuk mendapat vaksin influenza. Imunisasi hepatitis A dapat diberikan mulai usia anak ≥ 2 tahun. dan atau meningitis. Bila memungkinkan vaksinasi ini mulai diberikan untuk musim influenza 2008-2009. Lama proteksi antibodi HVA diperkirakan menetap selama ≥ 20 tahun.

Vaksin diberikan secara injeksi subkutan dalam pada remaja pada usia 11-18 tahun. termasuk implant cochlear. hanya dianjurkan pada golongan risiko tinggi. Pneumokokus dapat menyebabkan penyakit pneumonia.anak. Vaksin ini juga secara rutin diberikan pada remaja usia 11 hingga 12 tahun. Suatu vaksinasi ulang tunggal sebaiknya diberikan pada individu dengan asplenia fungsional atau anatomis maupun kondisi immunocompromise lainnya setelah usia 5 tahun. Vaksin Pneumococcal Polysaccharide (PPV23) Diberikan pada anak dengan kondisi medis tertentu yang mendasari. Remaja yang mungkin membutuhkan vaksin ini adalah remaja dengan kondisi kronis tertentu. diabetes. Vaksin meningokokus dikembangkan untuk melindungi remaja terhadap bakteri meningitis. misalnya penyakit sel darah merah sabit. meningitis atau bakteremia. Vaksin ini tidak secara rutin diberikan kepada remaja kebanyakan. Pencegahan diberikan kepada jemaah haji yang akan berada untuk waktu yang lama di daerah yang kecil dengan jumlah orang yang sangat banyak serta padat. penyakit jantung kronis atau penyakit paru-paru kronis. Tidak dianjurkan sebagai imunisasi rutin. Bakteri meningitis adalah infeksi serius pada otak dan tulang belakang yang membunuh sekitar 10 hingga 15 persen dari orang yang terinfeksi.12 7 . Imunisasi akan sangat dianjurkan bagi pelancong yang menuju daerah atau negara yang dikenal sebagai daerah hiperendemik atau epidemik penyakit meningokok. Arab Saudi termasuk dalam meningitis belt dimana sering terjadi siklus epidemik Meningokokus. Remaja yang dianjurkan untuk mendapat vaksinasi pneumokokus adalah remaja dengan:  asplenia fungsional atau anatomis (termasuk penyakit Sickle cell)  sindrom nefrotik  kebocoran cairan serebrospinal  imunosupresi (termasuk infeksi HIV) Vaksinasi ulang direkomendasikan pada remaja yang memiliki risiko tinggi untuk terjadinya infeksi pneumokokus berat dan kelompok remaja yang berdasarkan pengalaman mengalami penurunan kadar antibodi terhadap pneumokokus yang lebih cepat yang telah melewati >5 tahun vaksinasi pertama. bahkan dengan perawatan antibiotik.

bayi. Catch up immunization merupakan imunisasi yang belum pernah diimunisasi atau terlambat > 1 bulan dari jadwal seharusnya. Diberikan secara intramuskular dalam. antara pemberian vaksin pertama dan kedua. Pemberian dengan dosis yang sesuai rekomendasi akan membentuk respons protektif (anti HBs ≥ 10 mIU/mL) pada > 90% dewasa. Pada remaja diberikan di regio deltoid. 12 Vaksinasi rutin hepatitis B pada remaja usia 11-12 tahun yang belum pernah mendapatkan imunisasi. Vaksin hepatitis B diberikan minimal sebanyak 3 kali dengan interval yang direkomendasikan adalah 1-2 bulan. anak. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar antibodi antihepatitis B telah menurun pada masa remaja sehingga booster masih diperlukan.7 Pada prinsipnya booster hepatitis B tidak diperlukan lagi bagi orang yang jelas telah memberikan respons yang baik setelah imunisasi. Efektivitas vaksin dalam mencegah infeksi VHB adalah 90-95%. antara pemberian vaksin kedua dan ketiga (akan memberikan respons antibodi paling optimal). Pada imunisasi catch up ini interval imunisasi minimal 4 minggu antara dosis pertama dan kedua. Vaksinasi hepatitis B memberi manfaat untuk mencegah timbulnya kanker hati yang sering timbul saat dewasa. kemudian 8-16 minggu antara dosis kedua dan ketiga. Pada remaja di atas 12 tahun yang memiliki risiko tinggi juga dapat diberikan vaksinasi hepatitis B. 80% kanker hati disebabkan oleh virus Hepatitis B. Saat ini vaksinasi dasar Hepatitis B sudah diberikan pada masa anak dan tidak memerlukan booster. namun apabila tidak menunjukkan adanya pembentukan antibodi atau kadar antibodi telah menurun di bawah ambang pencegahan vaksinasi hepatitis B (kurang dari 10 μg/dl). Catch-up immunization atau imunisasi yang tertinggal perlu diberikan pada remaja apabila pada masa anak belum pernah diimunisasi atau terlambat lebih dari 1 bulan dari jadwal seharusnya. serta 4-12 bulan. Kelompok remaja yang berisiko tinggi antara lain: 12  Penyuntikan narkotik dan zat adiktif  kontak erat serumah dengan penderita hepatitis B yang  HbsAg positif  Tenaga kesehatan yang terpajan dengan darah  Memerlukan hemodialisis 8 . Di Negara endemis. Memori sistem imun menetap minimal sampai 12 tahun pasca imunisasi sehingga tidak dianjurkan untuk imunisasi booster. masih memberikan dampak dalam penurunan insidens hepatitis. Di samping itu vaksinasi Hepatitis B dapat mencegah penularan dari ibu ke bayi (transmisi vertikal). ulangan perlu diberikan. dan remaja.Vaksin Hepatitis B (HepB) Vaksin VHB yang tersedia adalah vaksin rekombinan.

Mumps dan Rubella (LAV). Pada dasarnya jadwal vaksinasi hepatitis B sangat fleksibel. Sejak 1989 direkomendasikan vaksinasi 2 dosis vaksin MMR pada siswa sekolah dasar. Vaksin Varicella Pemberian imunisasi varicella pada remaja yang belum pernah mendapat imunisasi diberikan imunisasi 2 kali dengan jarak pemberian selama 1 bulan sebanyak 9 . sebaiknya diberikan total 4 dosis. Pemberian vaksin MMR penting untuk wanita usia subur karena komponen rubella yang ada di dalamnya dapat mencegah rubella congenital apabila wanita tersebut hamil. Penghuni lembaga kecacatan perkembangan  Memerlukan faktor pembekuan darah  Berkunjung ke daerah endemis HBV (tinggi atau sedang) selama >6 bulan Dianjurkan untuk memberikan 3 dosis vaksin hepatitis B. dan mahasiswa. Vaksin ini diberikan 1 kali. Jeryl Lynn (MMR-MSD)Rubella: RA 27/73 Cara pemberian : SC atau IM Dosis : 0.13 Inactivated poliovirus vaccine (IPV) Bagi anak yang telah mendapat vaksinasi IPV atau semua poliovirus oral (OPV). mumps. ensefalitis parotitis. Apabila telah diberikan dosis pertama. Jenis vaksin : Triple vaccine Measles. diperlukan dosis keempat jika dosis ketiga diberikan pada usia 4 tahun atau lebih. dapat diberikan sesegera mungkin setelah diketahui.meningoensefalitis. Jika OPV maupun IPV diberikan sebagai suatu serial. Apabila hanya dosis ketiga yang terlambat. sekolah menengah. maka dosis kedua dan ketiga diberikan sesegera mungkin dan antara dosis kedua dan ketiga setidaknya berjarak 2 bulan. Measles. Interval hingga 1 tahun dosis pertama dan dosis ketiga masih memberikan respons antibody yang baik. tanpa memperhitungkan usia anak saat ini. Kunjungan remaja 11-12 tahun ke tenaga kesehatan memberikan peluang untuk pemberian vaksin MMR yang kedua pada remaja yang belum mendapatkan vaksinasi MMR 2 dosis. isinya :Measles: campak Mumps: Urabe (trimovax-pasteur). Efek samping : sama dengan campak + parotitis: demam.5 cc/dosis. tuli neural unilateral (tetapi dilaporkan sembuh sempurna tanpa gejala sisa). Dua dosis vaksin MMR memberikan perlindungan sebesar 98%. and rubella vaccine (MMR) Imunisasi campak pada remaja diberikan berupa vaksin MMR. ruam. Kontra indikasi vaksin ini sama dengan campak.

bahkan mungkin lebih penting.0.3 Hambatan infrastruktur untuk pemberian 10 . Pada umumnya kebutuhan untuk remaja lebih diutamakan untuk keperluan sekolah. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas. diberikan 2 dosis jika belum pernah divaksinasi sebelumnya atau dosis kedua jika sebelumnya mereka hanya mendapat 1 dosis. Morbiditas penyakit influenza pada remaja paling tinggi tetapi mortalitasnya rendah dibandingkan anak & usia lanjut. Upaya penanggulangan penyakit hendaknya tidak meninggalkan upaya yang sama pentingnya. Pada kelompok usia >13 tahun direkomendasikan vaksinasi dua dosis dengan interval 4-8 minggu. Untuk individu berusia 7 sampai 18 tahun tanpa adanya bukti imunitas. sehingga apabila tidak sakit maka tidak ada alokasi anggaran. Komplikasi dan kematian akibat varisela lebih tinggi pada kelompok usia <15 tahun. sehingga tidak perlu mendapat imunisasi lagi. Dana vaksinasi tentu akan lebih berguna kalau dialokasikan untuk upaya perbaikan gizi. Sebaliknya reaksi imun akibat suatu penyakit akan lebih hebat. vaksin dosis tunggal memberikan perlindungan antibodi >95%. Apabila diberikan pada usia <13 tahun. Sedangkan bagi yang sebelumnya hanya mendapatkan 1 kali penyuntikan maka diperlukan pemberian kedua untuk meningkatkan imunitas. Jenis vaksin yang direkomendasikan untuk kelompok ini adalah golongan monovalen. juga timbul anggapan akan meningkatkan perilaku seks bebas pada remaja. Status imun pada remaja dianggap yang paling baik karena organ yang terlibat dalam sistem imun sudah matang. Pemberian vaksin HPV pada remaja masih timbul berbagai pendapat di samping harganya yang mahal. Beberapa hambatan perlu dipelajari dan dicarikan pemecahannya.12 Kontroversi dan Hambatan pada Imunisasi Remaja Sebagian besar masyarakat menganggap remaja tidak lagi rentan terhadap PD3I. Hal ini menimbulkan anggapan bahwa pemberian vaksin flu tidak perlu diberikan pada remaja. khususnya remaja Indonesia karena masalah seasonal influenza tidak ada di Indonesia. Vaksin varisela tidak boleh diberikan pada kehamilan atau akan hamil dalam 1 bulan setelah vaksinasi. Serokonversi didapat pada 97% individu yang divaksinasi dan sekitar 70% terlindungi apabila terpapar infeksi oleh anggota keluarga. yaitu menghentikan berkembangnya perilaku seks bebas.5 ml. Vaksinasi varisela sebaiknya diberikan pada remaja 11-12 tahun yang belum mendapat vaksinasi dan belum pernah menderita varisela. Catch-up Vaccines Catch-up vaccines adalah vaksin yang diberikan pada remaja yang tidak mendapat imunisasi lengkap sebelumnya.

sehingga petugas kesehatan harus telah siap bersamaan penerangan pada masyarakat. Walaupun demikian. sehingga remaja dan orangtuanya tidak underestimate terhadap risiko remaja terhadap PD3I.6 11 . perilaku provider kesehatan terhadap kesehatan remaja perlu diperbaiki sejalan dengan perilaku terhadap kesehatan keluarga. Pada saatnya mungkin perlu memasukkan imunisasi remaja ke dalam program nasional melalui kegiatan kesehatan sekolah. perlu dilakukan penyuluhan kepada masyarakat awam tentang pentingnya beberapa imunisasi pada kelompok remaja berikut alasannya. Diperlukan data burden of diseases kejadian penyakit pada remaja sebagai justifikasi pemberian imunisasi pada remaja khususnya untuk penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. tampaknya tidak relevan untuk kondisi Indonesia.imunisasi pada remaja. Pencatatan kesehatan khususnya status imunisasi setiap anak dibuat dan disimpan dengan baik sehingga akan mempermudah perencanaan imunisasi ketika dicapai masa remaja.1 Upaya menggalakkan kesehatan remaja secara menyeluruh harus segera disosialisasikan kepada semua provider kesehatan sebagai bagian dari upaya pemeliharaan kesehatan keluarga. seperti tidak tersedianya tempat pelayanan kesehatan untuk remaja . Untuk memberikan persepsi yang benar.

2004. Aspek imunologi imunisasi.h. 5. MMWR 1991.AAP. Philadelphia: Saunders. and natural killer cells. penyunting. 2007. 2005. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Bekker LG. Reduction of the Influenza Burden in Children.Suyitno H. and practices for immunzation of adolescent. B lymphoytes.127-62. Dalam: Behrman RE. Kartasasmita CB.h.h. editor. AIDS. Jaspan HB. Sara S. Buckley RH. Lichtman AH.h. 2005.org at Indonesia: AAP Sponsored on November 9. Lawrence SN. Prevention of Influenza: Recommendations for Influenza Immunization of Children 2008-2009. In: Lawrence SN. Jakarta: Badan Penerbit Pengurus Pusat IDAI. Bandung.7-18. Siregar SP. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 11.20(4):483-94. Lawn SD. 2006. 13. Matondang CS. 2008. 14. Kliegman RM.h. Nomor: 6.United States 2008. 9. penyunting. Pediatrics 2002. suatu tantangan untuk dokter anak.pediatrics. Masa remaja. Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke-1. tetanus. Lippincott Williams & Wilkins. Edisi kedua. 2008. Kontroversi imunisasi pada remaja. Diphtheria. Hadinegoro S. Recomendations Practices Advisory committee (ACIP). Prociding Simposium dan Kongres National Adolescent Health I. 1999. T lymphocytes.40 (No. Edisi ke-5. 3. Cellular and molecular immunology. Diakses dari www. Dalam: Ranuh IGN. 12 . 2002. In: Narendra MB. Nancy P. editor. 2006. Ferguson BJ. Dhamayanti M.Clemens CJ. Jakarta: Sagung Seto. 2. Imunisasi Remaja.gov/vaccines/pubs/ACIP-list. penyunting.htm.DAFTAR PUSTAKA 1. Biro Pusat Statistik (BPS). 6. Soetjiningsih. Byass P. Mouli VC. Philadelphia: Saunders. and pertussis: recommendations for vaccine use and other preventive measures.1246-52. The maturing immune system: implications for development and testing HIV-1 vaccines for children and adolescents. Abbas AK.2743. Volum: 59. Diakses dari: http://www. 4. Suyitno H.cdc.683-9. Department of vaccine & biologicals and department of child and adolescent health and development.American Academy of Paediatrics. Edisi Ke-17. Dalam : Maj Kedokt Indon. 8. Jenewa: WHO. 10. 12. Global strategies. Mari R. Sularyo TS. Safrit JT. RR-10):128.110. policies. Adolescent Health Care A Practical Guide. Buku Ajar Tumbuh Kembang Anak. Jenson HB. Ranuh IGD. Hadinegoro S. Juni 2009 287 7.138-70.Recommended immunization schedule for persons aged 7-18 years.