TEKNIK BUDIDAYA PADA TANAMAN KELAPA SAWIT

03:08 Bp3k Air manjunto

1. A. Nama lain dari tanaman kelapa sawit Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati yang sangat penting. Perkebunan kelapa sawit di Indonesia di pelopori oleh Adrien Hallet, berkebangsaan Belgia, yang telah mempunyai pengalaman menanam kelapa sawit di Afrika. Penanaman kelapa sawit yang pertama di Indonesia dilakukan oleh beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit seperti pembukaan kebun di Tanah Itam Ulu oleh Maskapai Oliepalmen Cultuur, di Pulau Raja oleh Maskapai Huilleries de Sumatra – RCMA, dan di sungai Liput oleh Palmbomen Cultuur Mij. 1. B. Gambaran Umum Kelapa Sawit Morfologi Kelapa Sawit a. Akar Kelapa sawit merupakan tumbuhan monokotil yang tidak memiliki akar tunggang. Radikula (bakar akar) pada bibit terus tumbuh memanjang ke arah bawah selama enam bulan terus-menerus dan panjang akarnya mencapai 15 cm. Akar primer kelapa sawit terus berkembang. Susunan akar kelapa sawit terdiri dari serabut primer yang tumbuh vertikal ke dalam tanah dan horizontal ke samping. Serabut primer ini akan bercabang manjadi akar sekunder ke atas dan ke bawah. Akhirnya, cabang-cabang ini juga akan bercabang lagi menjadi akar tersier, begitu seterusnya. Kedalaman perakaran tanaman kelapa sawit bisa mencapai 8 meter dan 16 meter secara horizontal. b. Batang Tanaman kelapa sawit umumnya memiliki batang yang tidak bercabang. Pada pertumbuhan awal setelah fase muda (seedling) terjadi pembentukan batang yang melebar tanpa terjadi pemanjangan internodia (ruas). Titik tumbuh batang kelapa sawit terletak di pucuk batang, terbenam di dalam tajuk daun, berbentuk seperti kubis dan enak dimakan. Di batang tanaman kelapa sawit terdapat pangkal pelepah-pelepah daun yang melekat kukuh dan sukar terlepas walaupun daun telah kering dan mati. Pada tanaman tua, pangkal-pangkal pelepah yang masih tertinggal di batang akan terkelupas, sehingga batang kelapa sawit tampak berwarna hitam beruas. c. Daun Tanaman kelapa sawit memiliki daun (frond) yang menyerupai bulu burung atau ayam. Di bagian pangkal pelepah daun terbentuk dua baris duri yang sangat tajam dan keras di kedua sisisnya. Anak-anak daun (foliage leaflet) tersusun berbaris dua sampai ke ujung daun. Di tengah-tengah setiap anak daun terbentuk lidi sebagai tulang daun

Akar-akar adventif pertama muncul di sebuah ring di atas sambungan radikula-hipokotil dan seterusnya membentuk akar-akar sekunder sebelum daun pertama muncul. daging biji (endosperm) yang berwarna putih dan mengandung minyak. Biji dura deli memiliki bobot 13 gram per biji. daging buah (mesocrap) dari susunan serabut (fibre) dan mengandung minyak. Bunga jantan berbentuk lonjong memanjang. Arah tegak lurus ke bawah (geotrophy) disebut dengan radicula yang selanjutnya akan menjadi akar. buah mulai rontok dan berjatuhan (buah leles). daging buah tipis. Dura memiliki cangkang tebal (3-5 mm). e. disebut dengan plumula yang selanjutnya akan menjadi batang dan daun 2. Artinya. kulit biji (endocrap) atau cangkang atau tempurung yang berwarna hitam dan keras. serta lembaga (embryo). . sedangkan bunga betina agak bulat. Bunga dan buah Tanaman kelapa sawit yang berumur tiga tahun sudah mulai dewasa dan mulai mengeluarkan bunga jantan atau bunga betina.d. Perkecambahannya dapat berlangsung lebih dari 6 bulan dengan keberhasilan sekitar 50%. Buah kelapa sawit tersusun dari kulit buah yang licin dan keras (epicrap). dan biji tenera afrika rata-rata memiliki bobot 2 gram per biji. Plumula tidak keluar sebelum radikulanya tumbuh sekitar 1 cm. Biji kelapa sawit umumnya memiliki periode dorman (masa non-aktif). Lembaga (embryo) yang keluar dari kulit biji akan berkembang ke dua arah. Tanaman kelapa sawit mengadakan penyrbukan silang (cross pollination). kelapa sawit dibedakan menjadi beberapa jenis sebagai berikut : 1. dan setelah matang menjadi merah kuning (oranye). Biji dura afrika panjangnya 23 cm dan bobot rata-rata mencapai 4 gram. Bibit kelapa sawit memerlukan waktu 3 bulan untuk memantapkan dirinya sebagai organisme yang mampu melakukan fotosintesis dan menyerap makanan dari dalam tanah. Buah yang sangat muda berwarna hijau pucat. kemudian menjadi kuning muda. Jika sudah berwarna oranye. 1. biji kelapa sawit memerlukan pretreatment. Biji Setiap jenis kelapa sawit memiliki ukuran dan bobot biji yang berbeda. Jenis Kelapa Sawit. Arah tegak lurus ke atas (fototropy). Agar perkecambahan dapat berlangsung lebih cepat dan tingkat keberhasilannya lebih tinggi. sehingga dalam 1 kg terdapat 250 biji. dan rendemen minyak 15- 17%. Semakin tua warnanya berubah menjadi hijau kehitaman. Berdasarkan ketebalan cangkang dan daging buah. bunga betina dari pohon yang satu dibuahi oleh bunga jantan dari pohon yang lainnya dengan perantaraan angin dan atau serangga penyerbuk.

000 mm per tahun. dan penerapan teknologi lainnya. Iklim Kelapa sawit termasuk tanaman daerah tropis yang tumbuh baik antara garis lintang 130Lintang Utara dan 120 Lintang Selatan. Warna buah : dikenal tiga tipe yaitu Nigrescens. perlakuan budidaya.000 – 3. Klasifikasi dan Morfologi Tanaman kelapa sawit (palm oil) dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Ordo : Palmales Famili : Palmae Sub – Famili : Cocoidae Spesies : 1. daging buah tebal. dan rendemen minyak 21-23%. Elaeis melanococca atau Corozo oleifera (kelapasawit Amerika Latin) Varietas/Tipe : Digolongkan berdasarkan : 1.2. Pisifera memiliki cangkang yang sangat tipis. Curah Hujan Tanaman Kelapa sawit menghendaki curah hujan 1. Pisifera. Pembagian hujan yang merata dalam satu tahunnya berpengaruh kurang baik karena pertumbuhan vegetatif lebih dominan daripada pertumbuhan generatif. yaitu Dura. dan terjadinya erosi. terutama di kawasan Afrika. dengan musim kemarau jatuh pada bulan juni sampai september.000 mm per tahun. yakni berkisar antara 2. Contoh Keadaan curah hujan yang baik adalah di kawasan Sumatera utara. Keadaan iklim yang dikehendaki oleh kelapa sawit secara umum adalah sebagai berikut : 1.000 mm per tahun. pembakaran sisa-sisa tanaman pada pembukaan kebun. Tebal tipisnya cangkang (endocarp) : dikenal ada tiga varietas/tipe. tetapi curah hujan optimal 2. Elaeis guineensis Jacq (Kelapa sawit Afrika) 2. Tanaman kelapa sawit memerlukan kondisi lingkungan yang baik agar mampu tumbuh dan berproduksi secara optimal. dan Albescens 3. lalu dibudidayakan. Namun curah hujan yang terlalu tinggi kurang menguntungkan bagi penyelenggaraan kebun karena mengganggu kegiatan di kebun seperti pemeliharaan tanaman. . Tenera memiliki cangkang agak tipis (2-3 mm). 2. Tandan buahnyahampir selalu gugur sebelum masak.000 – 4. Keadaan iklim dan tanah merupakan faktor utama bagi pertumbuhan kelapa sawit. C. 1. Asia. Syarat Tumbuh Kelapa sawit semula merupakan tanaman yang tumbuh liar di hutan – hutan. Rendemen minyaknya tinggi (lebih dari 23%). 3. dengan jumlah hari hujan tidak lebih dari 180 hari per tahun. di samping faktor – faktor lainnya seperti sifat genetika.500 – 4. sehingga bunga atau buah yang terbentuk relatif lebih sedikit. D. sehingga jumlah minyak yang dihasilkan sedikit. dan Amerika Latin. Virescens. tetapi daging buahnya tebal dan bijinya kecil. dan Tenera. kelancaran transportasi.

E.0 – 5. pH tanah sebaiknya bereaksi asam dengan kisaran nilai 4. bahan tanaman kelapa sawit dapat diperoleh dalam bentuk bibit atu klon hasil pembiakan secara kultur jaringan (tissue culture). Pengembangan kelapa sawit sistem kultur jaringan dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan yang terdapat pada bahan tanaman kelapa sawit yang berasal dari biji yang umumnya memiliki keragaman dalam produksi.0 dan ber – pH optimum 5. Pengendalian sistem produk (bibit klon) secara menyeluruh sehingga produk (bibit) yang dihasilkan seragam. Di jawa. tanaman kelapa sawit berkembang di daerah Banten Selatan yang iklimnya relatif cukup basah. Selain itu. pertumbuhan vegatatif. sehingga diperoleh hasil buah yang tinggi. Pembuatan bibit klon dengan sistem kultur jaringan menggunakan bahan pembiakan yang berasal dari tanaman hasil persilangan antara Deli Dura dan Pisifera yang memiliki sifat – sifat unggul. Karena itu. pertumbuhan vegetatif seragam. yakni produksinya tinggi. 1. Sedangkan di Indonesia bagian timur. Kelembapan dan Penyinaran Matahari Sifat Kimia Tanah Tanaman Kelapa sawit membutuhkan unsur hara dalam jumlah besar untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif. Pembiakan Secara Kultur Jaringan Pada pembiakan secara kultur jaringan. Bibit kelapa sawit yang diperoleh dengan sistem kultur jaringan ini disebut dengan klon kelapa sawit. Penyimpanan plasma nutfah untuk tujuan produksi dan bank gen dapat dilakukan secara efektif dan efisien. kualitas minyak. dan toleran terhadap hama dan penyakit. tidak terlalu tergantung pada musim dan dapat dilaksanakan dengan sistem produksi bibit yang terkendali. Suhu dan Tinggi Tempat 3. Keadaan curah hujan yang kurang dari 2.5. yang musim kemaraunya tegas dan berlangsung selama 4-5 bulan seringkali menyebabkan kerusakan bahkan kematian pada tanaman kelapa sawit. . Keadaan iklim yang demikian mendorong kelapa sawit membentuk bunga dan buah secara terus menerus.0 – 6.000 mm per tahun tidak berarti kurang baik bagi pertumbuhan kelapa sawit. misalnya di Kalimantan Timur. Teknologi perbanyakan Tanaman Teknologi perbanyakan tanaman yang dapat dilakukan pada tanaman kelapa sawit adalahdengan kultur jaringan dan pembibitan untuk perbanyakan secara konvensional. Keuntungan pembiakan kelapa sawit dengan sistem kultur jaringan di antaranya adalahsebagai berikut :    Pembiakan suatu varietas unggul melalui sistem kultur jaringan berjalan dengan cepat. asal tidak terjadi defisit air yaitu tidak tercapainya jumlah curah hujan minimum yang 2.tetapi masih ada hujan turun yang menyediakan kebutuhan air bagi tanaman. dan ketahanan terhadap hama – penyakit. untuk mendapatkan produksi yang tinggi dibutuhkan kandungan unsur hara yang tinggi juga. kualitas minyak baik.

Program pemuliaan dapat dipersingkat karena pohon terpilih dari hasil pemuliaan langsung dapat diperbanyak secara vegetatif. Bebas penyakit tajuk (crown disease). Media Media untuk tempat menumbuhkan sel – sel pembiak adalah komponen yang tersusun dari senyawa kimia yang mampu mendukung perkembangan dan pertumbuhan jaringan. perbanyakan bahan tanaman melalui kultur jaringan dapat menggunakan teknologi Inggris (Unilever) atau teknologi perancis (CIRAD – CP). genetic orange spotting. Induksi Kalus Bahan biakan adalah daun kelapa sawit yang manis muda (daun ke – 4. 4). Peninggian pohon berkisar antara 40 – 55 cm per tahun. b. ke – 6 atau ke – 7) dan masih aktif. 1. mineral. dsb. Persilangan terpilih harus berproduksi 7 -9 ton minyak sawit/hektar/tahun dan pohon yang dipilih memiliki potensi produksi 9 – 11 ton minyak/hektar/tahun. Pembentukan Embrio Waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan embrio dari kalus berbeda .  Perbanyakan pohon yang toleran terhadap beberapa penyakit yang bersifat genetis dapat dilakukan secara mudah. 1. Embrio tersebut dipelihara di dalam ruang pembiakan dengan intensitas cahaya 1. ke – 5. vitamin. Daun Kelapa sawit tersebut diiris melintang berukuran 1 cm. protein. 2). 1. tergantung pada klon yang digunakan.60%. Dari satu pohon induk dapat diperoleh sebanyak 1. Proses atau langkah – langkah pembiakan kelapa sawit dengan sistem kultur jaringan secara garis besarnya adalah sebagai berikut : a. Bahan Kultur jaringan Bahan kultur jaringan menggunakan pohon induk yang dipilih dari hasil persilangan pohon ibu dan pohon bapak tebaik dari varietas Deli Dura X Pisifera. misalnya penyakit crown disease. Media tumbuh ini terdiri atas unsur – unsur hara makro. Kandungan asam lemak tidak jenuh di atas 54% 3). .000 gross lux suhu 27 0C dan kelembaban udara 50% . c.200 bahan biakan atau eksplan. mikro. Pematangan embrio membutuhkan waktu 2 – 4 bulan. dan hormon pada dosis tertentu sehingga memberikan hasil optimum bagi perkembangan jaringan. Metode pembiakan kultur jaringan yang dilaksanakan oleh PPKS Medan adalah metode CIRAD – CP yang dilaksanakan melalui lima tahap kegiatan sebagai berikut. Pembiakan Embrio Embrio muda dipindahkan ke media baru untuk pematangan sekaligus perbanyakannnya.beda. Metode Seperti telah dikemukakan di atas. Kriteria pemilihan pohon induk yang akan digunakan sebagai sel-sel pembiakan atau ortet adalah sebagai berikut : 1).

dikulturkan di dalam ruang pembiakan dengan intensitas cahaya 1. embrio juga didapat sebagai stock atau koleksi dalam tabung penyimpanan dengan teknik krioperservasi. lalu keringanginkan. dan kelembaban 50 60%. yaitu proses adaptasi planlet dari kondisi laboratorium menjadi kondisi lingkungan alami di luar. 1. 1. Pupus yang masih berukuran kecil dipelihara kembali dalam media penumbuhan pupus Pembiakan Secara Pembibitan Pembibitan klon meliputi pembibitan awal (pre nursery) selama 3 bulan dan pembibitan utama (main nursery) selama 9 bulan. 1. Pada embrio yang sudah matang (mature) dapat ditumbuhi – pupus. suhu 300C. Setiap 7 hari. lalu rendam dalam air selama 6-7 hari. Selanjutnya rendam biji tadi dalam Dithane M-45 konsentrasi 0. Masukkan benih ke dalam larutan Dithane M-45 0. rendam benih dalam air sampai kadar air 20-30% dan dikeringanginkan lagi. Proses pengecambahan umumnya dilakukan sebagai berikut. F. Tandan buah diperam selama 3 hari dan sekali-kali disiram air. 5. Pupus yang mempunyai ukuran lebih dari 6 cm disapih dari kelompoknya dan dimasukkan ke dalam media induksi akar. Cuci biji dengan air. Sebelum pembibitan awal dilakukan. 3.4 bulan. Tangkai tandan buah dilepaskan dari spikeletnya. Setelah 60 hari. Ganti air rendaman setiap hari. Persemaian dan Pembibitan Pembibitan Benih kelapa sawit untuk calon bibit harus dihasilkan dan dikecambahkan oleh lembaga resmi yang ditunjuk pemerintah. planlet (tanaman baru) perlu melewati fase aklimatisasi.000 gross lux. Masukkan biji kelapa sawit tersebut ke dalam kaleng pengecambahan dan simpan di dalam ruangan bertemperatur 39oC dengan kelembaban 60-70% selama 60 hari. 2. Pisahkan buah dari tandannya dan peram lagi selama 3 hari. benih dikeringanginkan selama 3 menit. Penumbuhan Pupus Embrio yang terpilih untuk penumbuhan pupus dipindahkan ke dalam media baru.Kemampuan pembiakan embrio dari setiap klon berbeda. 1. Penumbuhan Akar Pupus yang tumbuh dalam satu kelompok diseleksi untuk penumbuhan akar. 4.2% selama 1-2 menit. Simpan . Penumbuhan pupus membutuhkan waktu 2 . tetapi tidak ada hubungannya dengan jenis persilangan.2 % selama 2 menit. Masukkan buah ke mesin pengaduk untuk memisahkan daging buah dari biji.

Merumpuk yaitu mengumpulkan dan menumpuk hasil tebangan dan rencekan biasanya memanjang arah utara-selatan agar dapat sinar matahari secukupnya dan cepat kering. Letak ajir (pancang) harus tepat. Penanaman dan Penyulaman Jenis – jenis pekerjaan utama dalam proses penanaman adalah : (a) Pembuatan larikan tanaman atau penempatan pancang. Dalam keadaan yang demikian. pembukaan lahan dapat dilakukan sekaligus atau secara bertahap. 1. Setelah 10 hari. Pembukaan Lahan Secara Mekanis Pembukaan lahan secara mekanis dilakukan pada areal hutan dan konversi yang ditumbuhi oleh pohon – pohon besar.Merencek. Pengajiran Pada tahap pertama dibuat rancangan larikan (barisan) tanaman serta pancang sebagai titik tanam. Penanaman tanaman penutup tanah kacangan. atau ajir tanam. dan (c). (b). G. yaitu areal yang sebelumnya juga ditanami kelapa sawit. memotong – motong cabang – cabang dan ranting – ranting kayu yang sudah tumbang untuk memudahkan perumpukan. Mengingat areal kebun kelapa sawit yang cukup luas. memotong pohon – pohon besar yang berdiameter di atas 10 cm dengan menggunakan gergaji mesin atau kapak. dan kelak setiap individu tanaman pun akan lurus teratur serta memperoleh tempat tumbuh yang sama luasnya. yaitu membabad dan memotong pohon –kecil atau semak – semak yang tumbuh dibawah pohon besar. Persiapan lahan merupakan kegiatan yang sangat penting dan harus dilaksanakan berdasarkan jadwal kegiatan yang sudah ditetapkan. Konversi. Bukaan baru (new planting) pada hutan primer. yang terpenting adalah keadaan kebun sudah siap dipanen dan dapat memasok buah yang akan diolah ketika pabrik sudah siap berproduksi. Namun. 1. H. dimana bibit kelapa sawit akan ditanam. 2. Cara membuka untuk tanaman kelapa sawit disesuaikan dengan kondisi lahan yang tersedia. Pengajiran atau memancang adalahmenentukan tempat – tempat yang akan ditanam bibit kelapa sawit. sehingga terbentuk barisan ajir yang lurus dilihat dari segala arah. benih berkecambah pada hari ke30 tidak digunakan lagi. Menumbang. 1. Persiapan Lahan Tanaman Kelapa sawit sering ditanam pada berbagai kondisi areal sesuai dengan ketersediaan lahan yang akan dibuka menjadi lahan kelapa sawit. Pembukaan lahan secara mekanis ini terdiri dari beberapa pekerjaan sebagai berikut : Babad pendahuluan. . Penanaman Kelapa sawit.benih di ruangan bertemperatur 270 C. yaitu penanaman pada areal yang sebelumnya ditanami dengan tanaman perkebunan seperti karet. Bukaan ulangan (replanting). kelapa atau komoditas tanaman perkebunan lainnya. semak belukar atau areal yang ditumbuhi lalang. hutan sekunder. 1. 3. dan Membakar yaitu membakar rumpukan agar area bersih dari bahan – bahan yang tidak diperlukan.

Sistem jarak tanaman yang digunakan umumnya adalah segitiga sama sisi dengan jarak 9 m X 9 m X 9 m. Populasi (kerapatan) tanaman per hektar adalah143 pohon. pekerjaan pengajiran harus dilaksanakan oleh pekerja yang terlatih. Calopogonium mucunoides. Pueraria phaseoloides. Untuk penanaman kelapa sawit yang melingkari bukit. Pembuatan Lubang Tanam Lubang tanam harus dibuat beberapa minggu sebelum penanaman agar tanah yang digali dan lubang tanam mengalami pengaruh iklim sehingga terjadi perbaikan tanah secara fisika ataupun kimia dan dapat dilakukan pemeriksaan lubang baik ukurannya maupun jumlah per hektarnya. Jarak Utara-Selatan tanaman adalah 7. Penanaman kacangan penutup tanah sebaiknya dilaksanakan segera setelah pembukaan lahan selesai dilaksanakan. I.5 m X 9.5 m dari sisi lereng. Ajir ditancapkan di samping lubang dan bila lubang telah selesai dibuat. Penyiangan (pengendalian gulma) Upaya pengendalian gulma telah dilaksanakan dengan menanami tanah di antara tanaman kelapa sawit (gawangan) dengan tanaman kacang penutup tanah dan membuat piringan di sekeliling tiap individu tanaman. dan Mucuna cochinchinensis. Tanaman Penutup Tanah Penanaman tanaman penutup tanah biasa dilaksanakan pada perkebunan kelapa sawit. 2. Centrocema pubescens. LCC) yang ditanam untuk menutup tanah yang terbuka di antara kelapa sawit karena belum terbentuk tajuk yang dapat menutup permukaan tanah. baik teras individual maupun teras kolektif. biasanya dibuat teras – teras terlebih dahulu. persiapan lubang. Lubang tanam kelapa sawit biasanya dibuat dengan ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm.tanaman mempunyai peluang utnuk tumbuh dan berkembang dalam kondisi yang tidak berbeda. Dengan sisitem segitiga sama sisi ini. dan pemeriksaan areal yang sudah ditanami. 4. Pengangkutan bibit ke lapangan. maka berbagai macam . tanah atas ditaruh di sebelah dan tanah bawah di sebelah selatan lubang.5 m X 9. ajir ditancapkan kembali di tengah – tengah lubang.5 m dengan jarak tegak lurusnya (U-S) 8. Psophocarphus palustries. Jenis – jenis tanaman kacangan penutup tanah yang umum ditanam di perkebunan kelapa sawit adalah Calopogonium caeruleum. Tanaman penutup tanah adalah tanaman kacangan (Legume cover crops. Pada saat menggali. menanam bibit pada lubang. Untuk mencapai ketepatan pengajiran. Apabila tanaman akan ditanam menurut garis tinggi (kontur) atau dibuat teras melingkari bukit. dan menekan tumbuhan pengganggu (gulma). 1. Menaruh bibit di setiap lubang. 3. letak lubang tanaman harus berada paling dekat 1. kimia dan biologi tanah. tetapi ada juga yang hanya berukuran 50 cm x 40 cm x 40 cm.2 m dan populasi 128 pohon per hektar. Pembuatan lubang yang dilakukan pada saat tanam atau hanya 1-2 hari sebelum tanam tidak dianjurkan. mempertahankan kelembaban tanah. mencegah terjadinya erosi. Menanam Kegiatan menanam terdiri dari kegiatan mempersiapkan bibit di Pembibitan utama.82 m dan jarak antara setiap tanaman adalah 9 m. Penanaman kelapa sawit dapat juga menggunakan jarak tanam 9. Bila pertumbuhan gulma tidak dikendalikan dengan baik. Pueraria javanica. Penanaman tanaman kacangan penutup tanah bertujuan untuk memperbaiki sifat – sifat fisika.

Gulma lunak. misalanya lalang (Imperata cylindrica). 1. Secara garis besar jenis – jenis gulma yang dijumpai pada perkebunan kelapa sawit dapat digolongkan menjadi : 1. sembung rambat (Mikania cordata dan M. J. dan mencegah berkembangnya hama dan penyakit tertentu. Pengendalian Secara kultur teknis. harendong (Melastoma malabtrichum). antara lain sebagai berikut : 1. sehingga diperoleh hasil yang optimal. misalnya dibabad. yaitu pengendalian gulma dengan menggunakan peralatan dan upaya pengendalian secara konvensional. Pengendalian gulma pada tanaman menghasilkan dimaksudkan untuk mengurangi terjadinya saingan terhadap tanaman pokok. sebab jenis gulma ini dapat menahan erosi tanah. menyebabkan keadaan kebun menjadi kotor dan lembab. digarpu dan sebagainya. kendati demikian pertumbuhannya harus dikendalikan. sebaiknya dilaksanakan analisis tanah dan daun terlebih dahulu. maka ketersediaan unsur – unsur hara di dalam tanah pada saat itu dapat diketahui dan keadaan hara terakhir yang ada pada tanaman dapat diketahui juga.yaitu pengendalian gulma dengan menggunakan tanaman penutup tanah jenis kacangan.putihani/krinyuh (Eupathorium odoratum syn. Pengendalian gulma secara manual. . dan sebagainya. Micrantha). yaitu gulma yang memiliki daya saing tinggi terhadap tanaman pokok. baik yang bersifat kontak maupun sistemik. serta beberapa tumbuhan berkayu diantaranya. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan beberapa cara. Yang termasuk gulma lunak misalnya babadotan/wedusan (Ageratum conyzoides). sehingga dapat ditetapkan dosis pemupukan yang harus diaplikasikan.gulma dapat tumbuh dengan subur dan mengganggu (menyaingi) pertumbuhan tanaman pokok. Gulma berbahaya.Chromolaena odorata). Pemupukan Pemupukan tanaman bertujuan untuk menyediakan unsur – unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan generatif. lempuyangan (Panicum repens). memudahkan pelaksanaan pemeliharaan. Dosis Pemupukan Kelapa Sawit Berdasarkan Unsur Tanaman. dibongkar dengan cangkul. Tabel 25. yaitu pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida. yaitu gulma yang keberadaannya dalam budi daya tanaman kelapa sawit dapat di toleransi. dan tembelekan (Lantana camara) 2. Berdasarkan hasil analisis dapat ditentukan kebutuhan tanaman terhadap jenis – jenis unsur hara secara lebih tepat. rumput kipahit (Paspalum conjugatum). Untuk menentukan dosis pupuk yang tepat. 2. Dengan analisis tanah dan daun. pakis (Nephrolepis biserata). Pengendalian gulma secara kimia. teki (Cyperus rotundus). 3.

5 – 1.Jenis Pupuk Umur Tanaman Sulphate of Amonia (ZA) Rock Phosphate (RP) Muriate of Potash (KCl) Kieserite (MgSO4) Dosis (Kg/Pokok/Tahun) *) 5–5 6 – 12 >12 1.0 m dari pangkal pokok (0.0 – 2. Untuk mencapai maksud tersebut. K.0 2.0 1.0 – 2. Membantu dan memudahkan pada waktu panen Mengurangi perkembangan epifir Agar proses metabolisme tanaman berjalan lancar.5 – 3.5 – 1. Pupuk P.0 m di luar piringan) Pupuk B ditaburkan secara merata pada jarak 30 – 50 cm dari tanaman pokok Pemberian pupuk pada kelapa sawit diatur dua kali dalam setahun.4 – 1. K. pemberian pupuk pada Tanaman Menghasilkan (TM) harus dilaksanakan dengan cara sebagai berikut :    Pupuk N ditaburkan secara merata pada piringan mulai jarak 50 cm sampia dipinggir luar piringan. K. Pemangkasan Pemangkasan atau disebut juga penunasan adalah pembuangan daun – daun tua atau yang tidak produktif pada tanaman kelapa sawit.0 0. 1.5 – 2.0 – 3.0 0. dan Mg diberikan dua kali aplikasi. pupuk P diberikan satu kali aplikasi. - . terutama proses fotosintesis dan respirasi.0 0.5 – 3. pada tanaman muda sebaiknya tidak dilakukan pemangkasan.5 – 1.5 – 1.0 1.05 – 0.0 0.1 Kg per pohon per tahun) Cara pemberian pupuk diperhatikan secara seksama agar pemupukan dapat terlaksana secara efisien.0 1.0 – 2.0 0.75 – 1. Pemberian pupuk yang pertama dilakukan pada akhir musim hujan yaitu bulan Maret – April dan pemberian pupuk kedua dilakukan pada awal musim hujan yaitu bulan September – Oktober. kecuali dengan maksud mengurangi penguapan oleh daun pada saat tanaman akan dipindahkan dari pembibitan ke areal perkebunan.5 *) Keterangan : Pupuk N.0 1.0 1. Adapu tujuan pemangkasan adalahsebagai berikut :      Memperbaiki sirkulasi udara di sekitar tanaman sehingga dapat membantu proses penyerbukan secara alami Mengurangi penghalangan pembesaran buah dan kehilangan brondolan buah terjepit pada pelepah daun. dan pupuk B (bila diperlukan) diberikan dua kali aplikasi per tahun (salah satu contoh dosis B adalah 0.0 m hingga jarak 3. dan Mg ditabur secara merata dari jari – jari 1.

bibit dan tanaman muda juga sering diserang oleh hewan besar jenis mamalia terutama bila kebun kelapa sawit dibuka pada lahan yang sebelumnya berupa hutan. a. hama perusak daun. agar larva hama terbakar dan mati ü mempercepat tertutupnya tanah dengan tanaman penutup tanah dengan tanaman penutup tanah agar dapat menutup bagian – bagian batang hasil tebangan pada saat pembukan lahan yang membusuk di lokasi kebun ü Pemberian bahan pengusir. Kumbang Tanduk (Oryctes rhynoceros) Kumbang tanduk banyak menimbulkan kerusakan pada tanaman muda yang baru ditanam hingga berumur 2-3 tahun. . Pengendalian hama kumbang tanduk lebih diutamakan pada upaya pencegahan (preventif).1. kimia. L. pengendalian terhadap hama dan penyakit perlu dilaksanakan secara baik dan benar. baik hutan primer maupun hutan sekunder. Hama Perusak Daun Ada beberapa jenis hama yang merusak daun tanaman kelapa sawit. tanaman muda yang belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman yang sudah menghasilkan (TM). yakni dengan cara sebagai berikut : ü membakar sampah – sampah dan bagian pohon yang mati. yaitu menghambat perkembangan larva dengan mengurangi kemungkinan kumbang bertelur pada medium yang tersedia. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman kelapa sawit dapat diserang oleh berbagai hama dan penyakit tanaman sejak di pembibitan hingga di kebun pertanaman. Beberapa jenis hama dan penyakit dapat menimbulkan kerugian yang besar pada bibit. Kumbang dewasa (imago) masuk kedaerah titik tumbuh ( pupus ) dengan membuat lubang pada pangkal pelepah daun muda yang masih lunak. Hama dan penyakit dapat merusak bibit. Gangguan nematoda ini dijuluki red ring disease. Pengendalian hama dan penyakit dapat dilaksanakan secara manual.1. Hama ini menyerang akar tanaman kelapa sawit. Oleh karena itu. a. Daun berubah warna menjadi kuning kemudian mengering. tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM). Hama Hama yang biasa menyerang tanaman kelapa sawit biasanya terbagi menjadi hama perusak akar. atau biologis sesuai dengan hama dan penyakit yang menyerang. di antaranya adalahsebagai berikut : a. Tandan bunga membusuk dan tidak membuka sehingga tidak menghasilkan buah. misalnya kapur barus yang diletakkan pada batang kelapa sawit yang mulai membusuk (pada pembukaan ulangan) b. a. hama perusak tandan buah. Ulat Setora (Setora nitens) Ulat setora muda memakan anak – anak daun dari tanaman muda dan tanaman sudah menghasilkan yang berumur antara 2-8 tahun. Gejala – gejala umum dari kelapa sawit yang terserang adalah pusat mahkota mengerdil dan daun – daun baru yang akan membuka menjadi tergulung dan tumbuh tegak. Hama Perusak Akar. Hama ini kadang – kadang memakan daun kelapa sawit hingga ke lidinya. Selain serangan hama yang tergolong jenis serangga.2. Hama yang sering merusak akar kelapa sawit adalah nematoda Rhadinaphelenchus cocophilus.

d. Serangga Asinga (Sethothosea Asigna) Ulat dari hama ini menyerang daun kelapa sawit terutama daun yang menyerang dalam keadaan aktif. Basal Steam Rot Penyebabnya adalah Ganoderma sp. rotasi dan sistem panen serta mutu panen. Marasmius Penyakit marasmius dapat menggagalkan atau merusak pembentukan buah. Buah akan berubah menjadi merah jingga ketika masak. M. meskipun sering pula menyerang daun pada tanaman dewasa. Proses pemanenan pada tanaman kelapa sawit meliputi pekerjaan memotong tandan buah masak. yaitu daun nomor 9 – 25. . Pengendalian ulat Darma trima dapat dilaksanakan secara kimia dan hayati. Pengendalian secara kimia dapat menggunakan insektisida. Pemberantasan yang efektif sampai sekarang belum ada. kandungan minyak pada daging buah telah maksimal. serta perusak kokoh yaitu lalatTachinidae c. b. Pengendalian hama ini dapat dilakukan secara kimia dan secara hayati.Pengendalian Hama ulat setora dapat dilakukan secara hayati dan secara kimia. Pemberantasan dilakukan dengan membersihkan pohon. selanjutnya pohon akan mati. dan mengangkutnya dari pohon ke tempat pengumpulan hasil (TPH) serta ke pabrik. terutama pada tanaman muda. Pengendalian secara kimia dilakukan dengan menyemprot tanaman yang terserang dengan insektisida. tetapi hanya bisa dilakukan pembuangan bagian yang terserang untuk memperbaiki bentuk tajuk dan mencegah infeksi dari jamur Fusarium sp. Gejala pada tingkat serangan pertama secara visual sukar diamati. c. Hama ini merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman kelapa sawit di sentra perkebunan kelapa sawit Sumatera Utara. Buah yang jatuh tersebut disebut membrondol. memungut brondolan. Buah akan menjadi masak sekitar 5-6 bulan setelah penyerbukan. Pengendalian secara hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami seperti parasit telur yaitu lebah Trichogrammatidae I dan lebah Ichneumonidae. cabang daun bagian atas terkulai. Proses pemasakan buah kelapa sawit dapat dilihat dari perubahan warna kulitnya. Penyakit ini tidak bisa diberantas. Pada tingkat yang lebih lanjut. Kriteria panen yang perlu diperhatikan adalah matang panen. pengendalian secara hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami. Penyakit Tajuk (Crown disease) Biasanya menyerang tanaman kelapa sawit yang berumur 2-3 tahun. cara panen. Pada saat buah masak. alat panen. b. buah kelapa sawit akan lepas dan jatuh dari tangkai tandannya. Ulat Siput (Darna trima Mooore) Ulat Darna trima menyerang daun kelapa sawit. Penyakit a. Jika terlalu matang. Serangan yang hebat dapat menimbulkan kerusakan berat dan dapat dijumpai jumlah ulat yang tinggi pada setiap pelepah kelapa sawit. Bagian yang diserangadalah pucuk yang belum membuka. meskipun hasilnya tidak seefektif cara kimia. Pengendalian secara hayati dapat menggunakan musuh alami seperti parasit ulat yaitu lebahBroconidae. Panen dan Pengolahan Hasil Panen Panen Tanaman kelapa sawit mulai berbunga dan membentuk buah setelah umur 2-3 tahun.

Untuk memudahkan pemanenan. jumlah brondolan sekitar 15 – 20 butir. jumlah brondolan kurang lebih 10 butir dan tanaman dengan umur lebih dari 10 tahun. Cara panen Berdasarkan tinggi tanaman. 2. Untuk tanaman yang tingginya 2-5 m digunakan cara panen jongkok dengan alat dodos. sebaiknya pelepah daun yang menyangga buah dipotong terlebih dahulu dan diatur rapi di tengah gawangan. secara praktis digunakan kriteria umum yaitu pada setiap 1 kg tandan buah segar (TBS) terdapat dua brondolan. sedangkan tanaman dengan ketinggian 5-10 m dipanen dengan cara berdiri dan menggunakan alat kampak siam. alat panen.Proses pemanenan pada tanaman kelapa sawit meliputi pekerjaan memotong tandan buah masak. sumber : Buku Budidaya kelapa sawit . kriteria umum yang banyak dipakai adalah berdasarkan jumlah brondolan. Persiapan Panen Untuk menghadapi masa panen dan agar proses dapat berjalan dengan lancar. yaitu tanaman dengan umur kurang dari 10 tahun. Pada saat ini. 1. 3. Cara egrek digunakan untuk tanaman yang tingginya lebih dari 10 m dengan menggunakan alat arit bergagang panjang. rotasi dan sistem panen. tempat pengumpulan hasil (TPH) harus disiapkan dan jalan untuk pengangkutan hasil harus diperbaiki. serta mutu panen. Para pemanen harus disiapkan peralatan yang akan digunakan. Kriteria panen yang perlu diperhatikan adalah matang panen. Namun. Kriteria matang Panen Kriteria matang panen merupakan indikasi yang dapat membantu pemanen agar memotong buah pada saat yang tepat. Kriteria matang panen ditentukan pada saat kandungan minyak maksimal dan kandungan asam lemak bebas atau free fatty acid (ALB atau FFA) minimal. cara panen. ada tiga cara panen yang umum dilakukan oleh perkebunan kelapa sawit di Indonesia. memungut brondolan dan mengangkutnya dari pohon ke tempat pengumpulan hasil (TPH) serta ke pabrik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful