PENGOLAHAN MANUAL METODE GEOLISTRIK RESISTIVITY KONFIGURASI WENNER ALPHA

Cahyo Hidayah 115.100.078 Jurusan Teknik Geofisika, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta Jalan SWK 104 Condongcatur Yogyakarta Geolistrik_2012@yahoo.co.id

INTISARI
Metode geolistrik adalah salah satu metode geofisika yang mengukur sifat kelistrikan batuan di bawah permukaan bumi dan bagaimana mendeteksinya di permukaan bumi. Pada pengolahan data manual yang dilakukan di ruang kuliah REP Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta ini digunakan konfigurasi Wenner Alpha dalam penyusunan antara elektroda arus dan elektroda potensialnya. Pengolahan data manual konfigurasi wenner alpha ini memberikan gambaran bawah permukaan yang bervariasi dengan nilai resistivitas 596.28 sampai dengan 51.75 ohm. Dari hasil pengolahan data manual didapatkan nilai resistivitas yang dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu resistivitas sangat tinggi (596-460 Ωm), resistivitas tinggi (460-324 Ωm), resistivitas sedang (324-187 Ωm) dan resistivitas rendah (187-51 Ωm). Kanta Kunci: Geolistrik, Konfigurasi Wenner alpha, Elektroda Arus, Elektroda Potensial, Resistivitas. 1. PENDAHAHULUAN Metode geolistrik adalah salah satu metode geofisika yang mengukur sifat kelistrikan batuan di bawah permukaan bumi yang didasarkan pada nilai konduktivitas material tersebut dan cara mendeteksinya di permukaan bumi. Sifat kelistrikan yang diukur dapat berasal dari material di dalam bumi tersebut ataupun berasal dari injeksi arus dari luar sehingga nilai konduktivitas batuan tersebut dapat diukur. Pada pengolahan data manual ini digunakan metode resisitivity konfigurasi Wenner. Konfigurasi Wenner digunakan untuk mengkompensasi kelemahan pada sumber pembangkit arus yang kuat karena elektroda arus jauh dari elektroda potensial. Oleh sebab itu, jarak antara elektroda potensial dibuat lebih pendek dengan jarak yang sama. Konfigurasi ini sering digunakan untuk Horizontal Profilling (Mapping) dengan hasil akhir hanya diperoleh profil secara horizontal. Metode resistivity konfigurasi Wenner dibagi menjadi beberapa konfigurasi yaitu konfigurasi wenner alpha, konfigurasi wenner beta, dan konfigurasi wenner gamma. Masingmasing konfigurasi tersebut memiliki susunan elektroda yang berbeda-beda, tetapi jaraknya sama. Pada pengolahan data manual ini digunakan konfigurasi wenner alpha. Konfigurasi Wenner Alpha

Gambar 1. Susunan elektroda konfigurasi wenner alpha

Konfigurasi wenner alpha juga disebut konfigurasi wenner normal. Pada konfigurasi ini, keempat buah

HASIL DAN PEMBAHASAN 2. Rho (ρ). Hal ini berkaitan dengan model penjalaran listrik dibawah permukaan bumi yang bergantung dengan posisi masingmasing elektroda. Datum Point (DP). Datum Point (DP).  Interpretasi hasil penampang pseudosection 2D. kemudian dibuat pseudosection 2D nya.75 Ωm.7 UPN “Veteran” Yogyakarta. METODOLOGI Pengolahan data manual Konfigurasi Wenner alpha ini dilaksanakan pada hari Rabu. kedalaman. Data yang didapat kemudian diolah lebih lanjut untuk mendapatkan nilai nilai faktor geometri (k).30 WIB di ruang kuliah REP. Konfigurasi wenner alpha dan faktor geometrinya Diagram alir pengolahan data manual geolistrik Konfigurasi Wenner Alpha ini antara lain sebagai berikut:  Tabulaasi data mentah yang di dapat kedalam microsoft excel agar memudahkan dalam perhitungan  Pengolahan data yang meliputi penghitungan nilai faktor geometri (k).elektroda terletak dalam satu garis dan simetris di titik tengah.28 51. Dari hasil pengolahan data manual tersebut terdapat persebaran nilai resistivitas dari rentang nilai 596. 12 September 2012 pukul 12. Rho (ρ). 3. Berikut adalah konfigurasi wenner alpha dan persamaan faktor konfigurasi (K): Diagram Alir Gambar 3. Nilai perhitungan resistivitas semu bawah permukaan yang biasanya disimbolkan dengan “Rho” tergantung dengan faktor konfigurasi yang digunakannya.  Interpolasi perbedaan nilai resistivitas  Menggambar penampang pseudosection 2D kedalam milimeter blok. Diagram alir pengolahan data Gambar 2. Dari rentang nilai tersebut. Pengolahan data manual ini menghasilkan suatu pseudosection 2D persebaran nilai resistivitas material di bawah permukaan tempat pengukuran. penulis hanya membaginya menjadi 4 bagian berdasarkan warna yang berbeda .III. dan Kedalaman (Z). dan Rho ke dalam milimeter blok.  Plotting nilai datum point. dan Kedalaman (Z).

460 Ωm) dengan warna merah. Resisitivitas sedang ini lebih dominan pada bagian kanan dan kiri pseudosection 2D. DAFTAR PUSTAKA Staf Assisten Geolistrik. dan resistivitas rendah (187 . Dari penampang 2D manual tersebut didapatkan nilai resistivitas sangat tinggi (596 . UPN “Veteran” Yogyakarta. .187 Ωm) dengan warna hijau. http://poetrafic. Persebaran nilai resistivitas pada pseudosection 2D tersebut didominasi oleh nilai resistivitas rendah yang ditunjukkan oleh warna biru pada pseudosection 2D. Laboratorium Geofisika Eksplorasi. Buku Panduan Praktikum Geolistrik. dan resistivitas rendah (187 . Fakultas Teknologi Mineral. resistivitas tinggi (460 . 5. Sedangkan nilai resistivitas yang paling dominan adalah resistivitas rendah yang ditunjukkan oleh warna biru yang penyebarannya hampir di seluruh penampang dengan presentase >50% dari total penampang pseudosection 2D. KESIMPULAN Dari pengolahan manual metode geolistrik Konfigurasi Wenner didapatkan gambaran penampang 2D berdasarkan perbedaan nilai resistivitas yang tersebar dibawah permukaan daerah telitian. resistivitas sedang (324 .460 Ωm) dengan warna merah. Resistivitas sedang ditunjukkan oleh warna hijau pada pseudosection 2D yang juga tersebar hampir di seluruh bagian penampang.187 Ωm) dengan warna hijau. 2012. resistivitas tinggi (460 .com/category/ geoscience/ menunjukkan nilai resistivitas rendah.324 Ωm) dengan warna kuning.324 Ωm) dengan warna kuning.yaitu resistivitas sangat tinggi (596 . namun membentuk tampilan tersendiri.wordpress.51 Ωm) dengan warna biru. Lebih dari 55% dari pseudosection 2D 4.51 Ωm) dengan warna biru. resistivitas sedang (324 . Untuk nilai resistivitas tinggi dan sangat tinggi ditunjukkan oleh warna kuning dan merah yang hanya sedikit terdapat pada pseudosection 2D.