2 yang dihasilkan jumlahnya banyak. Hal inimenimbulkan masalah dalam biaya pembuan gandan lingkungan.

Lumpur yang dihasilkan perlu diadakanpengolahan secara khusus agar lumpur tersebutdapat dimanfaatkan kembali untuk keperluankehidupan. Lumpur buangan merupakan salah satuhasil limbah dari Instalasi Penjernihan Air yangmeng gunakan koagulan Aluminium Sulfat(Al 2 SO 4 ) untuk menurunkan kekeruhan air baku.Lumpur buangan yang dibuang ke sungai tanp apengolahan terlebih dahulu menyebabkanpencemaran karena mengandung beberapa zat kimia seperti Al, Fe, Mg, dan Ca. Lumpur buangandapat digunakan sebagai adsorben untuk menurunkan fosfat dari air limbah.Hal ini disebabkan melimpahnya aluminiu m iondalam lumpur buangan yang dapat meningkatkanproses adsorpsi dan presipitasi kimia yangmembantu menghilangkan polutan dari air limbah(Y.Yang,2006).Salah sat u limbah yang dihasilkan dari usahalaundry adalah fosfat yang berasal dari pengg unaandetergen. Pembuangan limbah industri dandomestik ke badan air merupakan pen yebab utamapolusi air. Air menjadi keruh, sinar matahariterhalang menembus ke da lam air, dan tumbuhanhijau yang menyerap karbon dioksida dan melepasoksigen dala m kegiatan fotosintesisnya akan mati.Kandungan oksigen dalam air menurun, dan da yadukung air terhadap kehidupan air menurun( Suripin, 2002).Setelah dilakukan pe ngujian sampel air limbahlaundry yang berada di Jalan Bengkuring yaitudidapatkan kadar fosfat sebesar 9,291 mg/l (dataterlampir). Kadar fosfat tersebut melebihi ambangbatas yang ditetapkan didalam KeputusanGubernur Kalimantan Timur No.26 Ta hun 2002Tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi KegiatanIndustri Dengan Usaha Lainnya Dalam Provinsikalimantan Timur, dimana untuk fosfat yangdiperbolehkan adalah 2 mg/l. Apabila konsentrasifosfat melebihi baku mutu 2 mg/l menyebabkanpencemaran dan mengakibatkan eutrofikasi.Dengan mempertimbangkan permasalahan yangtimbul, m aka untuk menurunkan kandungan fosfat pada limbah laundry dan untuk memanfaatkanlumpur buangan Instalasi Pengolahan Ai r perludilakukan pengolahan atau teknologi yang sesuai,sebagai suatu usaha untuk meminimalisasi limbahtersebut. Lumpur buangan yang berasal dariinstalasi pengol ahan yang mengandung oksidalogam Al 2 O 3 , SiO 2 oksida logam tersebut akandigunakan untuk menurunkan limbah laundry yangmengandu ng fosfat yaitu dengan Pemanfaatanlumpur buangan Instalasi Pengolahan Air (IPA)s ebagai bahan untuk mengadsorpsi fosfat. 1.2. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :1. Untuk menentukan ukuran diameter lumpurbuangan dan waktu kontak yang efektif dal ammenurunkan konsentrasi fosfat.2. Menentukan kemampuan lumpur buangansebagai adsorben untuk menurunkankonsentrasi fosfat pada limbah laundry s ecarabatch.3. Untuk menentukan model isoterm adsorpsi. 1.3.

Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang ada diatas makayang menjadi rumusan masalah dala m penelitianini adalah1. Berapa ukuran diameter lumpur buangan danwaktu kontak yang efektif dalam menyera pfosfat?2. Bagaimana kemampuan penurunan konsentrasifosfat dengan penambahan adsorben lumpu rbuangan?3. Model isoterm adsorpsi apakah yang sesuaidengan penelitian yang dilakukan? 1.4. Batasan Masalah Untuk menghindari meluasnya masalah danmempermudah pemahaman dalam penelitian ma kamasalah dibatasi sebagai berikut :1. Penelitian dilakukan dalam skala laboratorium.2. Subyek penelitian adalah lumpur buangan yangdiambil dari PDAM di Instalasi Pengo lahan AirUnit I Jl. Cendana Samarinda pada unitsedimentasi.3. Metode adsorpsi digunakan denganmenggunakan sistem batch4. Parameternya adalah variasi ukuran diameterlumpur buangan dan waktu kontak optim umyang dibutuhkan.5. Limbah yang digunakan adalah limbah cairlaundry yang berada di Jl. Padat KaryaBe ngkuring. 1.5. Manfaat Penelitian 1. Memberikan data dan informasi tentangkemampuan lumpur buangan PDAM untuk menurun kan konsentrasi fosfat pada limbahlaundy.2. Mendapatkan suatu alternatif teknologi yangmurah, sederhana dan mudah pengoperas iannyauntuk menurunkan konsentrasi fosfat padalimbah cair laundry. 3 3. penelitian ini dan mencoba berbagai variasipercobaan sehingga nantinya akan memp erolehdata yang lebih lengkap tentang kemampuanteknologi lumpur buangan PDAM dal ammenurunkan kadar fosfat . 2. Tinjauan Pustaka 2.1. Tinjauan Umum Tentang Limbah Limbah laundry berasal dari proses pencucian baju,limbah laundry ini salah satu limbah domestik yang dibuang ke badan air. Hal ini menyebabkanpencemaran yang ak an berakibat buruk terhadaplingkungan bila tidak diolah dengan baik.Pengertian l imbah adalah air bekas yang sudahtidak terpakai lagi sebagai hasil dari adanyabe rbagai kegiatan manusia sehari-hari. Limbahlaundry ini memiliki sifat dan karakt eristik fisik,kimia dan biologi. Sifat fisik limbah laundry ditentukan olehderajat kekotoran yang mudah dilihat,p

arameter ini meliputi kandungan zat padatsebagai efek estetika dan kejernihan se rta bau,warna dan temperatur.Sifat kimia dalam air limbah dapatmenimbulkan bau dan rasa yang tidak sedap.Zat kimia dapat diklasifikasikan menjadi bahanorganik yang jika jumlah dan jenis bah anorganik semakin banyak akan mempersulitdalam pengolahan limbah, sebab beberapa zattidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme.Sedangkan jumlah bahan anorganik a kanmeningkat sejalan dan dipengaruhi olehformasi geologis dari asal air limbah.Sifat biologis dalam air limbah perlu diketahuiuntuk mengukur tingkat pencemaran sebelumdibuang ke badan air penerima.Mikroorganisme- mikroorganisme yangberpera n dalam proses penguraian bahan-bahanorganik di dalam air buangan domestik adala hbakteri, jamur, protozoa, dan algae. 2.2. Deterjen Deterjen adalah bahan pembersih yangmengandung senyawa petrokimia atau surfaktan sintetik lainnya. Surfaktan merupakan bahanpembersih utama yang terdapat di dala m deterjen.Komposisi kimia deterjen terdiri dari bermacam-macam komponen yang be ntuk dan bahan lain-lain. Bahan-bahan yang umum terkandung padadeterjen adalah : Surfaktan ( surface active agent ) merupakanbahan organik yang berperan sebagai bahanaktif pada deterjen, sabun, dan shampo.Surfaktan berfungsi menurunkan teganganpermukaan air sehingga dapat m elepaskankotoran yang menempel pada permukaanbahan. Komposisi surfaktan dalam de terjenberkisar antara 10% - 30%, disampingpolifosfat dan pemutih. Kadar surfakta n 1 mg/ldapat mengakibatkan terbentuknya busadiperairan. Meskipun tidak bersifat toksik keberadaan surfaktan dapat menimbulkan rasapada air dan dapat menurunkan absorbsioksigen diperairan.Jenis surfaktan yang biasa digunakan dalamdeterjen a dalah Alkylbenzene Sulphonate (ABS)yang bersifat resisten terhadap dekomposisibiologis. Kemudian jenis surfakt an ini digantidengan Linearalkyl Sulphonate (LAS) yangdapat diuraikan secara biologis ( biodegradable ).Permasalahan yang ditimbulkan oleh deterjentidak hanya menyangkut surfaktan, a kan tetapi juga berkaitan dengan banyaknya polifosfatyang juga merupakan penyusu n deterjen, yangmasuk kebadan air. Polifosfat dari deterjen inidiperkirakan memb erikan kontribusi sekitar50% dari seluruh fosfat yang terdapatdiperairan. Kebera daan fosfat yang berlebihanmenstimulir terjadinya eutrofikasi (pengayaan)peraira n.Builder ( Pembentuk )Berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci darisurfaktan deng an cara menonaktifkan mineralpenyebab kesadahan air.Filler ( pengisi)Adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan m eningkatkan dayacuci, tetapi menambah kuantitas atau dapatmemadatkan dan memanta pkan sehingga dapatmenurunkan harga, misalnya sodium sulfat.AdditivesAdalah bahan suplemen atau tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnyapewangi, pelarut, pemutih, pewarna dansebagainya yang tidak berhubungan langsungdengan daya cuci deterjen. Additivesditambahkan lebih untuk maksud kome rsialisasiproduk.Menurut kandungan gugus aktifnya deterjendiklasifikasikan sebag ai deterjen jenis keras dan jenis lunak. Deterjen jenis keras sukar dirusak oleh