Learning Objectives: Mengetahui penyakit infeksius gastrointestinal meliputi etiologi, patogenesis, gejala klinis, diagnosa, terapi dan pencegahan

. Pembahasan: I. Agen penyebab penyakit infeksius pada gastrointestinal kucing. No Gastrointestinal 1 Lambung NamaPenyakit Helicobacter-Associated Disease oleh bakteri Helicobacter pylori Pythiosis oleh jamurPythiuminsidiosum 2 Usus Feline Parvoviral Enteritis oleh Parvovirus CVP-2b Feline Coronaviral Enteritis oleh Coronavirus Feline Leukemia Virus-Associated Panleukopenia oleh FeLV Feline Immunodeficiency Virus-Associated Diarrhea oleh FIV Campylobacteriosis oleh bakteri Campylobacter jejuni Salmonellosis oleh bakteriSalmonella sp Clostridial Disease oleh bakteri Clostridium perfringens, C. difficile Cacing Cambuk/whipworms (Trichurisvulpis) Cacing gelang/roundworms (Toxocara cati, Toxocara leonina) Cacing tambang/hookworms (Ancylostoma spp, Uncinaria spp) Cacing pita/tapeworms (Dypilidium sp., Taenia sp.) Coccidiosis oleh Isospora sp. Criptosporidia oleh Criptosporidiumparvum Giardiasis oleh protozoa Giardia sp. Trichomoniasis oleh Tritrichomonas foetus/suis (Nelson R W and Couto C G, 2003) II. Ancylostomosis.
1

Meskipun gejal klinisnya kurang jelas dari yang terlihat pada manusia. Larva migrans Apabila jumlah larva yang bermigrasi melalui paru-paru cukup banyak dapat terjadiiritasi jaringan paru-parutermasuk saluran nafas hingga terjadi batuk yang sifatnya ringan sampai dengan sedang. Cacing ankilostoma dewasa biasanya ditemukan pada mukosa usus halus anjing. Patogenesis Perjalanan penyakit cacingan dengan perubahan patologi yang teramati sangat ditentukan oleh proses infeksi cacing (larva) ke dalam tubuh dan perkembangannya terkait dengan daur hidupnya. gejala pada anjing dapat berupa rasa gatal. gambaran patologinya pada anjing dan kucing tidak sejelas pada manusia. 2. Membesarnya kaki ataupun terjadinya deformitas pangkal kuku dan kukunya juga mungkin diamati. Rasa gatal terlihat dari usaha menjilati sebagai ganti menggaruk daerah yang gatal. Dilaporkan bahwa radang kulit pada anjing terdapat di rongga antar jari-jari. 3. pada anjing ditemukan cacing Ancylostoma caninum yang terdapat di dalam mukosa usus halus. yang dikenal sebagai creeping eruption oleh larva migrns. Infeksi cacing dalam usus halus 2 . Dalam keadan tertentu lesi kulit mirip radang kulit oleh tungau demodex (terbatas) atau mirip dermatitis atopik. kemerahan. 1. Dalam pemeriksaan pascamati. Etiologi Penyakit cacing tambang banyak ditemukan pada daerah dengan tingkat kelembapan tinggi. kaki dan kadang-kadang pada kulit perut. tanpa hospes antara. Biasanya. maupun pemeriksaan histopatologi sering ditemukan larva cacing dalam jumlah besar. oval. telurnya tipe strongyloid. dan terjadinya papulae di daerah yang menderita. Infeksi yang meluas juga dapat mencapai sendi-sendi pada jarijari kaki. Daur hidup cacing tambang bersifat langsung. dan bila dibebaskan keluar tubuh memiliki 2 – 8 gelembung blastomer. yaitu berdinding tipis.A. B. Penetrasi larva per kutan Gambaran radang kulit sebagai akibat penetrasi larva cacing A duodenale melalui kulit pada manusia.

Tiap ekor cacing dewasa A caninum dapat menyebabkan kehilangan darah 0.05-0. hipoproteinemia. yang sekaligus melekat pada mukosa. dan atrofi parsial villi intestinales. Perubahan-perubahan patologik dan fail tersebut meliputi anemia. Oleh gigitan cacing. radang usus. Anak anjing yang terinfeksi berat. yang kemudian oleh hilangnya zat besi anemianya akan berubah menjadi hipokromik mikrositik.0003 ml. dan Ustenocephala 0.001 ml. Cacing A tubaeforme termasuk dalam kategori pengisap darah sedang yang akibat akhirnya berupa anemia berat. segera terjadi perdarahan yang tidak segera membeku karena toksin yang dihasilkan oleh cacing. Adanya parasit dewasa dalam jumlah kecil sampai sedang mampu menimbulkan kekebalan (imunitas terbatas) hingga penderita tahan 3 . Pengeluaran tinja bercampur darah tersebut biasa disebut melena. Perdarahan usus terjadi pada hari ke 8 pasca infeksi dan pada akhir minggu ke 3 pasca infeksi penderita kehilangan darah setiap harinya setara dengan 20 % dari total volume eritrositnya. Pada anjing dan kucing dewasa hilangnya darah sebagian terkompensasi oleh kegiatan eritropoesis.Oleh adanya cacing dalam mukosa sus halus beberapa perubahan patologi dan faali dapat terjadi. Anemia yang timbul pada awalnya bersifat normositik normokromik. Infeksi kedua spesies tersebut cenderung lebih banyak ditandai oleh hipoproteinemia. A braziliense 0.2 ml/hari. darah yang mengucur ke dalam luen akan keluar bersama tinja dank karena adanya darah tersebut tinja menjadi berwarna hitam. segera mengalami anemia akut. Cacing dewasa biasa berpindah-pindah tempat gigitannya hingga terjadilah luka-luka yang mengucurkan darah segar. Infeksi anjing oleh A braziliense dan U stenocephala tidak megakibatkan perdarahan ebat seperti pada infeksi oleh A caninum. erjadinya gangguan penyerapan makanan dan terjadinya penekana terhadap respon imunitas dari anjing. Anak anjing muda maupun anak kucing sangat rentan terhadap infeksi oleh cacing tambang karena pada umur 2-4 minggu persediaan Fe akan merosot yang disebabkan makanan utama anak anjing adalah air susu yang memang sangat kecil kandungan Fe nya. radang usus ringan sampai berat. Hilangnya vili usus halus juga dialami oleh anjing yang terinfeksi A caninum dan mengakbatkan gangguan absorbsi makanan.

berwarna gelap serta anemia dapat dilihat dari pucatnya selaput lendir mulut. 27-33mg/kg(dewasa)11mg/kg (anak)  Mebendazole. Infeksi larva dalam jumlah besar akan melampaui ketahanan tubuh dan hewan akan mengalami parasitosis. vagina. diulang setiap 2-4 bulan. Pencegahan Berdasarkan periode prepaten cacing yang berlangsung sekitar 3 minggu : Pengobatan pertama baiknya dilakukan umur 2-4 minggu. hingga anjing mudah menderita parvovirus. dingo. penurunan aktifitas system imunitas. A. dan manusia. E. hepatitis. serigala. Gejala Klinis Gejala-gejala akibat infeksi cacing Ankilostomiasis seperti hilangnya darah dalam waktu pendek. Radang yang ditimbulkan menyempitkan muara saluran empedu yang menyebabkan ikterus. 22mg/kg selama 5 hari  Disophenol. kucing.terhadap infeksi larva selanjutnya. maupun kulit. D.  Anjing betina dewasa diobati 2 kali. Diagnosa Diagnosa dari infeksi cacing Ankilostomiasis yaitu dengan memeriksa tinja. 5mg/kg selama 3 hari F. citrat emboat. tinja lunak. pada saat bunting dan menyusui masing-masing dilakukan  satu kali. gejala diare berdarah. 4 . mata. 10mg/kg sub kutan  Fenbendasol. Diphylidiasis. dengan antara 2 minggu.  Pyrantel pamoat. III. Cacing ini memiliki panjang sampai 50 cm. dan distemper. 5-12 mg/kg  Dihlorphos. Etiologi Disebabkan karena infeksi cacing Dypilidium caninum yang tinggal d dalam usus halus anjing. Terapi  Pengobatan dengan Canex atau Telmin biasanya dilakukan pada umur 6-12 minggu. terutama daerah perut. diulang 2-3 bulan selanjutnya diobati secara teratur tiap 3-6 bulan sekali. C.

Hospes intermedier Dipylidium caninum adalah pinjal (Ctenocephalides canis. Jika segmen sudah kering dan mengkerut dengan cara memecahkan segmen kemudian dilihat dibawah mikroskop. Terapi 5 . cacing tersebut dilengkapi dengan 4 penghisap pada skoleksnya.Ctenocephalides felis dan fulex irritans) serta kutu Trichodectes canis. kurus. dan alergi. Infeksi berat menyebabkan lemah. penurunan berat badan. Masa prepaten selama 2 – 3 minggu.Untuk melekan dan memperoleh makanannya. Diagnosa Diagnosis Dipylidium caninum dengan ditemukan segmen disekitar perineum. Jika segmen masih baru bisa diamati bentuknya yang seperti biji mentimun dan 2 alat genital ditepinya dengan kaca pembesar. sakit pada epigastrium. Gejala Klinis Cacing dewasa bersifat non pathogen. hilangnya nafsu makan. Segmen yang berada di anus menyebabkan anjing sering manggaruk daerah perineum atau menggosok–gosok anus ke lantai. diare. sera kait-kait yang dapat ditarik ke dalam. sehingga dengan mudah dimakan oleh anjing. gangguan saraf. Telur ->dimakan oleh larva pinjal ->telur cacing berkembang menjadi larva stadium infective dalam pinjal yang berkembang ->Pinjal tertelan saat kucing grooming -> larva cacing dalam pinjal akan bekembang menjadi dewasa pada usus halus -> segmen cacing membawa telur keluar melalui feses C. Mempunyai puluhan proglotid yang berbentuk oval yang masing-masing memiliki satu pasang alat reproduksi hermaprodit. Patogenesis. dan gangguan pencernaan. bentuk peralihannya adalah sistiserkoid yang ditemukan didalam rongga badan terbentuk setelah 13 hari. E. B. Pada manusia menyebabkan gangguan intestinal. D. Sistiserkoid pada pinjal menimbulkan kematian atau menjadi lemah dan lamban.

praziquantel dan kuinakrin. otak. jantung dan urat daging licin lainnya. Penyakit ini disebabkan oleh sporozoa yang dikenal dengan nama Toxoplasma gondii. ginjal. pyrantel pamoat. Toksoplasmosis. sumsum tulang. khorioretinitis. dan hewan peliharaan lainnya. Selanjutnya setelah diselidiki maka penyakit yang disebabkan oleh toxoplasmosis dianggap suatu genus termasuk famili babesiidae. Walaupun sering terjadi pada hewan-hewan yang disebutkan di atas penyakit toxoplasmosis ini paling sering dijumpai pada kucing dan anjing. Apabila penyakit toxoplasmosis mengenai wanita hamil trismester ketiga dapat mengakibatkan hidrochephalus. yaitu suatu parasit intraselluler yang banyak terinfeksi pada manusia dan hewan peliharaan. hematopan B12 untuk pembentukan darah dan menambah nafsu makan. Etiologi Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia. limpa. febantel. Toxoplasma ini biasanya berbentuk bulat atau oval. 6 . Pengobatan suportif untuk diare dengan pemberian kaotin suspensi. Toxoplasma gondii adalah parasit intraseluler pada momocyte dan sel-sel endothelial pada berbagai organ tubuh. urat daging. Toxoplasmosis ditemukan oleh Nicelle dan Manceaux pada tahun 1909 yang menyerang hewan pengerat di Tunisia. domba. Untuk tertular penyakit toxoplasmosis tidak hanya terjadi pada orang yang memelihara kucing atau anjing tetapi juga bisa terjadi pada orang lainnya yang suka memakan makanan dari daging setengah matang atau sayuran lalapan yang terkontaminasi dengan agent penyebab penyakit toxoplasmosis. Afrika Utara. tuli atau epilepsi. Penyakit toxoplasmosis biasanya ditularkan dari kucing atau anjing tetapi penyakit ini juga dapat menyerang hewan lain seperti babi. paru-paru. Penderita toxoplasmosis sering tidak memperlihatkan suatu gejala klinis yang jelas sehingga dalam menentukan diagnosis penyakit toxoplasmosis sering terabaikan dalam praktek dokter sehari-hari. jarang ditemukan dalam darah perifer. A. sapi. tetapi sering ditemukan dalam jumlah besar pada organorgan tubuh seperti pada jaringan hati.Pengobatan dengan atabrine. diphenhydramine HCl untuk anti radang IV.

Dapat ditemukan dalam jaringan selama masa akut dari infeksi.Perkembangbiakan toxoplasma terjadi dengan membelah diri menjadi 2. Kista penting untuk transmisi dan paling banyak terdapat dalam otot rangka. Trofozoit berbentuk oval dengan ukuran 3 – 7 um. Bentuk pseudocyste ini lebih tahan dan dapat bertindak sebagai penyebar toxoplasmosis. Inti selnya terletak dibagian ujung yang berbentuk bulat. Kucing yang mengandung toxoplasma gondii dalam sekali exkresi akan mengeluarkan jutaan ookista. Cepat mati karean pembekuan darah induk semangnya dan bila induk semangnya mati jasad inipun ikut mati. Dalam epitel usus kucing berlangsung siklus aseksual atau schizogoni dan siklus atau gametogeni dan sporogoni. dan Ookista. otot jantung dan susunan syaraf pusat. Pada preparat segar. Patogenesis Toxoplasma gondii terdapat dalam 3 bentuk yaitu bentuk trofozoit. Toxoplasma membentuk pseudocyste dalam jaringan tubuh atau jaringan-jaringan tubuh hewan yang diserangnya secara khronis. 4 dan seterusnya. Setelah sel yang ditempatinya penuh lalu pecah parasit-parasit menyebar melalui peredaran darah dan hinggap di sel-sel baru dan demikian seterusnya. bentuk oval agak panjang dengan kedua ujung lancip. Ookista terbentuk di sel mukosa usus kucing dan dikeluarkan bersamaan dengan feces kucing. B. dalam sel-sel sistem reticulo endoteleal. belum ada bukti yang jelas mengenai perkembangbiakan dengan jalan schizogoni. Bentuk kedua adalah kista yang terdapat dalam jaringan dengan jumlah ribuan berukuran 10 – 100 um. kista. hampir menyerupai bentuk merozoit dari coccidium. sel alat tubuh viceral maupun dalam sel-sel syaraf membelah dengan cara membelah diri 2. dapat menginvasi semua sel mamalia yang memiliki inti sel. Toxoplasma gondii mudah mati karean suhu panas. Pada preparat ulas dan sentuh dapat dilihat dibawah mikroskop. sporozoa ini bergerak. Bentuk yang ke tiga adalah bentuk Ookista yang berukuran 10-12 um.4 dan seterusnya. Yang menghasilkan ookista dan dikeluarkan bersama feces kucing. Jika ditemukan diantara sel-sel jaringan tubuh berbentuk bulat dengan ukuran 4 sampai 7 mikron. Toxoplasma baik dalam sel monocyte. Bila ookista ini tertelan oleha hospes perantara seperti manusia. tetapi peneliti-peneliti belum ada yang berhasil memperlihatkan flagellanya. 7 . Bila infeksi menjadi kronis trofozoit dalam jaringan akan membelah secara lambat dan disebut bradizoit. kekeringan dan pembekuan.

misalnya distemper dan ankilostomiasis. Adanya penyakit menular atau tidak menular. kambing atau kucing maka pada berbagai jaringan hospes perantara akan dibentuk kelompok-kelompok trofozoit yang membelah secara aktif. Gejala Klinis Sebagian besar kasus toksoplasmosis tidak memperlihatkan gejala klinis. Pada hospes perantara tidak dibentuk stadium seksual tetapi dibentuk stadium istirahat yaitu kista.sapi. dan gejala toksoplasmosis segera tampak. Dala keadaan infeksi berat gejala toksoplasmosis sangat bervariasi tergantung pada tingkat kekebalan da umur penderita. 8 . C. Bila kucing makan tikus yang mengandung kista maka terbentuk kembali stadium seksual di dalam usus halus kucing tersebut. kekebalan akan menurun.

dan untuk pyremetamin 0. dan ikterus. dan uji polimerase chai reaction (PCR) dari cairan sumsum tulang. E. Gejala-gejala pada radang organ tertentu mengikuti intensitas peradangn organyang bersangkutan. 4 kali atau lebih. Obat yang dapat menghambat sintesis asam tersebut adalah sediaan sulfa dan pyrimetamin. dispnoe. Diagnosa Penentuan diagnosa didasarkan pada pemeriksaan serologik.5mg/kg. F. diare.20oC. dan menhindari hewan peliharaan untuk memakan rodensia mentah seperti tikus. dengan mengukur titer antibodi dari 2 spesime serum yang diambil dengan jarak 2-3 minggu. Dosis tersebut adalah untuk sehari. Dosis sulfadiasin adalah 120mg/kg. Menjaga makanan agar tidak terkontaminasi dengan binatang rumah atau serangga. menunjukkan adanya infeksi aktif.Gejala yang menonjol pada yang bersifat sistemik akut meliputi demam. Kenaikan yang mencolok. diturunkan secara proporsional. Wanita hamil trimester pertama sebaiknya diperiksa secara berkala akan kemungkinan infeksi dengan toxoplasma gondii. diberikan 2-4 minggu. Efek toksik terjadi bila lekosit dan rombosit turun sebesar 25-50% dari normalnya. D. Memasak daging minimal pada suhu 66oC atau dibekukan pada suhu . Untuk mengurangi efek toksik dapat diberikan asam folat dengan dosis 1 mg/kg. Sediaan sulfa yang dianjurkan adalah sulfadiasin atau sulfadoxin. Dosis kombinasi dengan pyremetamin adalah untuk sulfadiasin 60mg/kg. Pencegahan Menghindari pemberian daging mentah pada hewan peliharaan. untuk memenuhi kebutuhannya organisme tersebut harus dapat menyintesiskan dirinya sendiri. Juga pengukuran IgM dalam uji imunoflouresens bila titernya tinggi (1:80) membuktikan adanya infeksi aktif. lahir mati ataupun cacat bawaan. Mengobatinya agar tidak terjadi abortus. Terapi Karena Toxoplasma gondii tidak mampu memenfaatkan asam folat dari luar. Bila diberikan 2-4 kali sehari. 9 . muntah. Dalam hal pencegahan toxoplasmosis pada manusia yang penting ialah menjaga kebersihan. mencuci tangan setelah memegang daging mentah menghindari feces kucing pada waktu membersihkan halaman atau berkebun. Uji serologi lain yang dapat dilakukan meliputi uji aglutinasi dan uji komplemen.

php?option. 2007. www. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing. The 5-Minute Veterinary Consult Canine and Feline Third Edition. Sumatera Utara: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Toksoplasmosis Penyakit yang Perlu Diwaspadai oleh Ibu Hamil.. L. Nelson R W and Couto C G.W. dan Smith. 2011.. 2006. 2003.vet-klinik. com_content &do_pdf=1&id=69 Hiswani.com/index2.Daftar Pustaka Anonim.Small Animal Internal Medicine.P. 2004.K. 10 .Mosby : Missouri Subronto. Ancylostomosis. Lippincott Williams & Wilkins : Philadelphia. F. Tilley.