ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM SENSORY AND PERSEPSY SINUSITIS

TUTOR 9

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Fika Apriani Fiola Dermawan

220110090027 2201100900

Irtanty Nur Rachmatika 220110090013 Mimin Minkhatul Maula 220110090008 Muhammad ridwan 220110090047

Nissa Fadillah Somantri 220110090132 Reni Juanita Roselina Hutabarat Siti Nurtsalis S 2201100900 220110090100 220110090060 220110090072 220110090085S

10. Teguh sumarna 11. Tia Destianti

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJAJARAN JATINANGOR 2011

1

Chair Scriber I Scriber II

: Teguh Sumarna : Tia Destianti : Siti Nurtsalis S

KASUS 1 SINUSITIS Seorang laki-laki 25 tahun datang dengan keluhan ± 3 bulan ini keluar cairan encer dari kedua lubang hidung terutama saat udara dingin,bersin-bersin bila menghirup debu dan udara dingin,hidung tersumbat bergantian kanan kiri, hidung terasa gatal, terasa lendir mengalir di tenggorokan, demam, dan pusing. Bila diminumi obat yang dibeli sendiri keluhan berkurang namun timbul lagi. Keluhan di rasakan lebih dari 4 hari dalam 1 minggu, karena dirasa mengganggu aktivitas penderita memeriksakan diri ke poli THT. Dari hasil pemeriksaan fisik di dapatkan : telinga dalam batas normal, hidung nyeri ketok kedua pipi (+/+), mukosa hiperemis (+/+), edema konka (+/+), hiperemis konka (+/+), diafanaskopy : kesuraman (+/-). Pemeriksaan diagnostik : Skin prigt test, X-Ray. Terapi yang diberikan : cepadroxil 2 x 300 mg, ambroxol 3 x 30 mg, paracetamol 3 x 500 mg, loratadin 5 mg dan pseudo efedrin sulfat 120 mg.

STEP I 1. Loratadin (Fika) Obat untuk meredakan peradangan. (Irtanty) 2. Mukosa Hiperemis (Fiola) Mukosa yaitu lapisan. Jadi Mukosa hiperemis itu lapisan mukosa yang abnormal. (Teguh) 3. Hiperemis konka(Tia) Konka yaitu dimana tempat saluran pertukaran udara. Hiperemis itu yaitu tinggi kemerahan. Jadi hiperemis konka yaitu iritasi pada konka (kemerahan). (Irtanty) Konka yaitu tempat untuk menghangatkan udara (Teguh). 4. Diafanoskopy ( Mimin ) Semacam endoskopy dengan memasukan alat ke saluran pernafasan. (Fika) 5. Capadroxil (Ridwan) Antibiotik untuk mengatasi rasa gatal. 6. Pseudo Efedrin Sulfat ( Irtanty) Obat untuk mengurangi penyumbatan. (Fiola) Obat untuk mengurangi hidung tersumbat (Dengkongestan). (Rose)

2

Melancarkan pernafasan. (Mimin) Obat untuk mengatasi inflamasi di daerah hidung. (Nissa) 7. Ambroxol (Siti) Obat untuk mengencerkan mukus. (Irtanty)

STEP II 1. Apa yang menyebabkan adanya cairan dan karakteristik cairan? (Siti) 2. Apa yang menyebabkan penyakit ini kambuh-kambuh? (Nissa) 3. Kenapa hidung terasa gatal ? (Rose) 4. Apa hubungannya hidung yang nyeri di kedua pipi dengan ketok kedua pipi ? (Irtanty) 5. Apa Diagnosa medis? (Ridwan) 6. Bagaimana prosedur diafanoscopy ? ( Mimin) 7. Apa komplikasinya ? ( Tia ) 8. Apa pengaruh udara dingin ? ( Fiola) 9. Apa yang menyebabkan pemeriksaan fisiknya normal seperti di data? (Fika) 10. Apa persarafan apa yang terkena? Apakah akan mengganggu indra penciuman? (Teguh) 11. Hubungan penyakit ini dengan imunitas? Apakah terjalin hubungan erat atau tidak? (Nissa ) 12. Kenapa klien di beri terapi cepadroxil dan paracetamol? (Rose) 13. Pemeriksaan diagnostik yang lain? 14. Bagaimana mekanisme penciuman? ( Ridwan) 15. Tanda dan gejala lainnya? (Mimin) 16. Apa masalah keperawatannya? (Tia) 17. Apakah ada riwayat keluarga? Faktor resiko jika tidak ditangani? (Fiola) 18. Pendidikan dan kesehatan yang diberikan seperti apa dan bagaimana pencegahannya? (Fika) 19. Etiologi selain alergi? (Teguh) 20. Apakah ada tindakan pembedahan? 21. Efek samping dari obat, apakah ada komplikasi ke organ lain? (Ridwan) 22. Apakah ada kemungkinan komplikasi ke telinga?( Fika) 23. Fungsi skin prick test?(Siti) 24. Stadium sinusitis? (Ridwan) STEP III 1. LO 2. Penyakit ini kambuh-kambuh dari udara dingin. (Siti) 3. Karena ada refleks bersin-bersin dan rasa gatal karena adanya mukus. (Nissa) 3

Karena alergi. (Teguh) 4. Harus di palpasi, karena adanya nyeri pada kedua pipi. (Nissa) 5. Sinusitis karena jika di palpasi adanya rasa nyeri ketok. (Rose) Sinusitis karena keluar cairan ± 3 bulan, flu, pusing 3 minggu dan setelah dilakukan diafonoskopy terdapat kesuraman. (Mimin) Sinusitis karena gejala jika berada di tempat dingin sulit bernafas. (Fika) 6. Seperti endoscopy memasuki alat kamera ke dalam untuk melihat kesuraman di dalam rongga telinga. 7. LO 8. Pengaruh udara dingin menyebabkan klien alergi. (Siti) 9. Karena adanya alergi dari luar. (Irtanty) 10. Nervus Olfaktarius (N.1), tentu mengganggu. (Mimin) Nervus Maksilaris. (Rose) 11. LO 12. Gatal karena inflamasi, sehingga hidung tidak bisa menyaring bakteri? (Fiola) 13. CT Scan untuk memeriksa anatomi hidung, biasanya pemeriksaan ini mahal dan hanya dilakukan oleh orang yang mampu (Siti) CT scan untuk memperjelas penyakitnya. (Ridwan) X-Ray dengan posisi waters terkait maksila (+/+). Challange test. (Teguh) 14. Bau masuk ke hidung masuk ke kavum nasal  gas bau yang masuk akan larut dalam cairan mukus ikatan bau akan mengikat AMP akibatnya terjadi membran potensial  di hantarkan dendrit aksonmenghantarkan ke saraf N.1 di bawa ke traktus olfaktarius ke bulbus olfaktarius. Didalam bulbus olfaktarius di bagi 3 cabang yaitu korteks otak (mentransfer ke primer), hipotalamus (diterjemahkan bau busuk), medulla korteks (disimpan sebagai memori). (Irtanty) 15. Timbulnya biasanya kalau udara dingin dan kondisi ruangan yang tidak mendapat cahaya sehingga lembab. (Fika) 16. Gangguan rasa nyaman. (Tia) Gangguan pola aktivitas. (Ridwan) 17. Tidak 18. Jauhi udara dingin,hindari flu,kompres di muka,cegah flu. (Ridwan) 19. LO 20. Ada,belum dilakukan pembedahan karena belum ada nanahnya. (Fiola) 21. Secara umum efek sampingnya ke ginjal. Kalau antibiotik jika tidak di minum teratur akan menjadi resisten obat. (Mimin) 22. Ada, Karena mendekati rongga estasius. (Irtanty)

4

23. Tes kulit untuk mendeteksi IgE spesifik. (Teguh) 24. LO

STEP IV (Mind Map)

Patofisiologi askep

patologi

Anfis Hidung konsep definisi

Sinusitis penatalaksanaan penkes

etiologi Faktor Resiko Manklin Klasifikasi Stadium

Non Farmakologi

Farmakologi

Komplikasi

Pemeriksaan

STEP V (Learning Objective) 1. Apa yang menyebabkan adanya cairan dan karakteristik cairan? 2. Apa komplikasinya ? 3. Hubungan penyakit ini dengan imunitas? Apakah terjalin hubungan erat atau tidak? 4. Etiologi selain energi? 5. Stadium sinusitis?

STEP VI (Self Study)

5

pusing.kejang. Di simpan pada suhu 20-30oC. pelega hidung. (Siti)         Diafanoskopy menggunakan penlight 4.(Rose) 2. Loratadine  Loratadine adalah satu obat untuk alergi dan melancarkan jalan nafas di hidung.merupakan dari efedrin mengandung orang yang minumnya itu hilang dari kelelahan (Fika) Pseudoefedrin ini biasanya merupakan kombinasi obat. Mukosa Hiperemis   Mukosa hiperemis : Mukosa yang merah karena adanya gesekan antara mukosa yang satu dengan mukosa yang lainnya. (Teguh) Loratadine : Indikasi diberikan untuk hidung. (Teguh) Kerjanya hanya sementara memperlanjar dari sumbahan hidung. sehingga di kasih dekongestan supaya jalannya pernafasan tidak sempit . Efek samping: mual. (Mimin)   Loratadine : Kerjanya selektif. (Mimin) 3.gugup.anoreksia. Diafanoskopy  Diafanoskopy = Transiluminasi. (Irtanty) Mukosa hiperemis : Awalnya edema menyebabkan mukosa berhadapan mengalami gesekan.(Rose) 6 .muntah.(Mimin) Dosis dewasa tidak boleh lebih dari 240 mg selama sehari. Efek samping mual muntah. Dosis dewasa 60 mg tiap 4-6 jam sekali. Pseudoefedrin Pseudoefedrin adalah jenis dekongestan.dosisisnya 10 mg per tabletnya. Yaitu pemeriksaan diagnostik yang dilakukan di ruang gelap.untuk wanita hamil tidak disarankan meminum obat ini dan untuk usia di bawah 12 tahun tidak boleh di beri obat ini.anak 45 mg. (Siti) Dosis dewasa tidak boleh lebih 250 mg. dimana sumber cahaya di masukan di mulut klien dan kedua sisi rongga sinus diperiksa. Kontraindikasi untuk hipersensitivitas.STEP VII (Reporting) A.Pembahasan Step 1 1.(Nissa) Efek samping : mual. (Fiola) Karena adanya edema sehingga mukusnya terhambat .

di dalamnya ada vestibulum. (Irtanty)  Mukosa di dalam hidung ada 2 yaitu : mukosa pernafasan dan mukosa penciuman.5 mg.di belakangannya ada osfium . (Rose)  Sampai saat ini empat fungsi sinus itu teryata masih belum bisa dipastikan.3 tahun 7.ada alergen yang masuk ke hidung sehingga merangsang aferen dan nervus 5. (Fiola) 7 . Maksila udah ada sejak lahir.Drainase di kom dan tuba estasius.sehingga akan bersin(normalnya).jadi bisa di kombinasikan dengan obat lain. Ambroxol  Ambroxol : Dosis dewasa 3 x 30 mg untuk 2-3 hari pertama. Hanya satu persen dari fisiologinya yang mengatakan bisa menjaga keseimbangan kepala. Pembahasan Mind Map 1) Anfis  Hidung terdiri dari dua rongga yang dibatasi dibatasi septum. Fungsi sinus ada empat. Drainase normalnya : ada di kom (daerah sempit) sinus maksila akan berdrainase kalau ada gerakan silia. hubungan sinus dan rongga hidung ada duktus.bisa dikombinasikan untuk standar obat umum. (Nissa) Ambroxol baik. Perhatian :Ibu hamil dan menyusui tidak dibolehkan (Irtanty)   Dalam efek 30 menit mengecerkan mukus. Konka itu fungsinya untuk mengalirkan udara dan suhu.Sinus dibagi menjadi empat normalnya itu berongga dan kosong.suhu jika sudah keluar dari hidung 37oC.5. B. (Teguh).etmoid dan frontal 3 bulan. anak-anak 5-12 tahun 2-3 kali 15 mg. Alergen dari partikel2 kecil dan adanya ige mengaktifkan sel g untuk mukus sehingga berdrainase dan di ikat oleh igg sehingga akan cair mengeluarkan mukus. beratnya ringan sekali.kelembapan udara. (Mimin)   Ada artikel menyebutkan kalau yang menjaga keseimbangan itu bukan hanya sinus saja tetapi dari tuba estasius. D simpan di tempat kering n kena cahaya. di bawah 2 tahun 2 x 7. anak-anak 2. Secara umum fisiologinya respon suara . Mukosa pernafasan ada silia y.5 gram. (Ridwan)  Fisiologi hidung : Adanya vestibulum itu untuk bersin.(Irtanty) Sinus paranalis beratnya mencapai 15 ml. sedangkan penciuman itu hanya untuk sel-sel pembau.

(Fika) Mekanisme penciuman : Partikel bau ke vestibulum di tangkap silia. Minor : seperti yang disebutkan oleh teman-teman tadi. Influenza. Kalau lokal di kepala. sehingga d KOM ada penumpukan mukus lalu adanya tekanan intraklanial sehingga pusing. (Rose) 4) Manifestasi Klinis   Kronis : Sering keluar air cairan.penebalan antrium. (Nissa) Demamnya ada sistemik dan ada yg lokal.(Irtanty)     infeksi faring. Kronis : jarang demam. (Fiola) Sakit kepalanya itu karena peradangan terus akibat inflamasi sehingga demam. (Fika) 5) Klasifikasi  Klasifikasinya dibagi tiga menurut adams yaitu : Akut : Infeksi yang terjadi dalam rentang waktu beberapa hari sampai beberapa minggu.nyerinya beralih.dsb. lalu akan di bawa oleh glomeruli olfaktorius lalu di bawa ke akson di bawa ke sel mitral lalu bulbus lalu ke troktus centurial lalu ada persepsi bau.sakit kepala. (Teguh) 2) Definisi  Sinusitis adalah peradangan yang terjadi pada sinus akibat virus atau bakteri. rinitis akut.  Untuk pertumbuhan tulang yang di wajah.gangguan mata. pertumbuhn tulang akan terdesak dan terhubung lagi. lalu ada potensial aksi(ion cairan). (Ridwan) Ciri-cirinya ada dua yaitu: mayor dan minor.sehingga cairan itu dapat berpindah kemana saja. defisiensi imun.(Siti) Nyerinya tidak menertap karena sinusitis itu terisi cairan. (Siti) Bakteri steftacocus normalnya ada dan tidak bermasalah. Akut : Bau. (Reni) 3) Etiologi    Akut : Infeksi virus. Mayor : mukosa purulen. 8 .ada gangguan pendengaran. Kronis : Polusi bahan kimia.demam pusing.di bawa oleh sel-sel olfaktarius sehingga akan meningkatkan AMP.tumor hidung. tetapi jika imun turun ssehingga akan menyebabkan sinus. jamur aspesbulus. (Tia) Akut : lebih sering disebabkan oleh infeksi gigi. biasanya oleh virus streptocucus dan H..trauma.

pusing.Sub akut : Infeksi yang terjadi dalam rentang waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan. Posterior : mukusa .(Mimin) Intrakranial : Meningitis. (Teguh)        Tes Mikrobiologi untuk mendeteksi bakteri. (Reni) Mukokel karena maksila ada cairan di dalam sinus itu padat sehingga jadi kista.osteomilitis.   Derinontogenik : berawal dari infeksi gigi ke graham atas. Sub akut : Demamnya tidak dirasakan.4 minggu Sub akut : 4 minggu . Selain itu juga ada operasi Caldwell melalui tulang pipi. Fiokel itu lebih parah lagi. Sinus etmoid : ada dua pembedahan yaitu etmoid intranasal dan ekstranasal.4 bulan Kronik: tahun.ashma bronkial yg kambuh sebelum sinus itu sembuh. Kronis : Di sembuhinnya itu dengan cara faktor penyebabnya harus di cari terlebih dahulu. Diafanaskopy X-ray Ct scan Tes sedimentasi. (Rose).abses otak. Kronis : Infeksi yang terjadi dalam rentang waktu beberapa bulan sampai beberapa tahun. (Siti)  Akut : 4 hari . (Mimin)  Akut : Gejalanya demam. (Tia) 9 . (Fika) Kelainan paru bisa brokitis kronis. Sinus Frontal : Pembedahannya dinamakan Killian. (Tia) Gangguan pencernaan pada anak-anak. (Fika) 6) Pemeriksaan Diagnostik Rinoskopi anterior : edema. Bertujuan untuk mengeluarkan nanah. (Ridwan) 8) Penatalaksanaan Pembedahan itu dilakukan sesuai letak sinusnya yaitu : Sinus maksila : Pembedahannya dinamakan antrostomi. (Ridwan) 7) Komplikasi Kelainan orbita karena dari sisus edfoid berdekatan dengan frontal.

sfenoid : Menggunakan cairan HCL.(Teguh) 9) Asuhan Keperawatan    Gangguan penghidung berhubungan dengan sekret menumpuk ditandai dengan banyaknya sekret. (Ridwan) Di ajarkan cara batuk efektif supaya sekret tidak masuk ke dalam. jadi dokter melakukan pembedahan dengan melihat ke monitor. karena kalau termolegurasi itu biasanya sudah sampai ke otak. (Mimin) Lingkungan dibuat kondusif. (Siti). Sinus Sfenoid : Pembedahannya menggunakan endoskopi. (Mimin) Nyeri berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan adanya nyeri tekan.  Intervensi nyeri : Kaji skala nyeri Ajarkan distraksi dan relaksasi Inflamasi di tangani dahulu karena penyebab nyerinya ini dari inflamasi. Sinus maksila : Menggunakan cairan garam.etmoid. (Fiola) Gangguan termolegurasi. (Fiola)  Intervensi Hipertemi Pertahankan cairan 10 . Frontal. jadi caranya memasukan endoskop ke dalam rongga hidung. (Teguh). (Mimin) Jika gangguan termolugerasi itu kurang tepat. (Nissa)  Intervensi bersihkan jalan nafas tidak efektif : Air hangat di beri minyak kayu putih lalu uapnya di hirup.sedangkan hipertemi biasanya hanya demam saja.misal di bawa ke taman.  Sebelum dilakukan pembedahan itu sinus harus di cuci dulu.

Batas atas nasi eksternus melekat pada os frontal sebagai radiks (akar). Hidung Luar Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah : 1) Pangkal Hidung (Bridge) 2) Dorsum Nasi 3) Puncak Hidung 4) Ala Nasi 5) Kolumela 6) Lubang hidung (nares anterior) Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi kulit. Kerja otot – otot tersebut menyebabkan nares dapat melebar dan menyempit. jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. Nasalis pars allaris. Lubang yang terdapat pada bagian inferior disebut nares. antara radiks sampai apeks (puncak) disebut dorsum nasi. yang dibatasi oleh : 11 . Nasalis pars transversa dan M.Anatomi Hidung 1.ANATOMI DAN FISIOLOGI HIDUNG DAN SINUS PARANASAL A.

Supratroklearis. Angularis (cabang dari A. Oftalmikus (N.Maksilaris Interna. korpus sfenoidale dan sebagian os vomer  Lantai : merupakan bagian yang lunak. cabang dari a. Fasialis) Persarafan 1) Cabang dari N.Karotis Interna) 2) A. Perdarahan 1) A. os frontal. fossa kranial anterior dan fossa kranial media. Bagian dari septum yang terdiri dari kartilago ini disebut sebagai septum pars membranosa = kolumna = kolumela. Nasalis posterior (cabang A. lamina kribriformis etmoidale.  Superior : Os Frontal. septum nasi dilapisi oleh kulit.Sfenopalatinum. cabang dari A. Etmoidalis anterior) 2. sinus sfenoid.Oftalmika.Karotis Interna) 3) A.Etmoidalis yang merupakan cabang dari A. Infratroklearis) 2) Cabang dari N. jaringan subkutan dan kartilago alaris mayor. kedudukannya hampir horisontal. Maksilaris (ramus eksternus N. Nasalis anterior (cabang A. bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar daripada bagian atap. Kavum Nasi Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua ruangan yang membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). Os Nasal.kartilago alaris mayor dan kartilago alaris minor Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior menjadi fleksibel.  Medial : septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan (dekstra dan sinistra). N. cabang dari A. Batas – batas kavum nasi :  Posterior : berhubungan dengan nasofaring  Atap : os nasal. 12 . Bagian ini dipisahnkan dengan kavum oris oleh palatum durum.kartilago nasi lateralis. Kavum nasi ini berhubungan dengan sinus frontal. Os Maksila Inferior : Kartilago septi nasi. pada bagian bawah apeks nasi.

superior dan media merupakan tonjolan dari tulang etmoid. Perdarahan Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah A. 3.maksilaris dan A. Oftalmika. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang – kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa. Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel – sel goblet. Vena tampak sebagai pleksus yang terletak submukosa yang berjalan bersama – sama arteri. Etmoidale anterior yang merupakan cabang dari A. Trigeminus yaitu N.sfenopalatina yang merupakan cabang dari A. os maksila. palatum dan os sfenoid. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. Palatina mayor menjadi N. Etmoidalis anterior  Posterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari ganglion pterigopalatinum masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi N. Persarafan  Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N. Ruangan di atas dan belakang konka nasalis superior adalah resesus sfenoetmoid yang berhubungan dengan sinis sfenoid. Mukosa Hidung Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. 13 .  Konka nasalis suprema. Sfenopalatinus. Lateral : dibentuk oleh bagian dari os medial. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel goblet. konka nasalis inferior. Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang terpisah. os etmoid. os lakrima. Kadang – kadang konka nasalis suprema dan meatus nasi suprema terletak di bagian ini.

Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. sekret kental dan obat – obatan. Dengan gerakan silia yang teratur. 2. B. Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung. 14 . Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas. palut lendir di dalam kavum nasi akan didorong ke arah nasofaring. Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel. Pengatur kondisi udara (air conditioning) Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara yang akan masuk ke dalam alveolus. lalu naik ke atas setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring. Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan. udara masuk melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara inspirasi. Pada ekspirasi. Sebagai jalan nafas Pada inspirasi. sel basal dan sel reseptor penghidu. b) Mengatur suhu. penguapan dari lapisan ini sedikit. konka superior dan sepertiga bagian atas septum. sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya. sehingga aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung. Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah. Fungsi ini dilakukan dengan cara : a) Mengatur kelembaban udara. sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari nasofaring. Pada musim panas. udara masuk melalui nares anterior. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium). yaitu sel penunjang. Fisiologi hidung 1. udara hampir jenuh oleh uap air. Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir. radang.

konka superior dan sepertiga bagian atas septum. disebut lysozime. Resonansi suara Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi.  Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri. Proses bicara Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m. Indra penghirup Hidung juga bekerja sebagai indra penghirup dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung. sehingga terdengar suara sengau. 15 . Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang. Refleks nasal Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna. 5. Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan partikel – partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia. Dengan demikian suhu udara setelah melalui hidung kurang lebih 37o C. 6. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila menarik nafas dengan kuat.ng) dimana rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka. Rangsang bau tertentu menyebabkan sekresi kelenjar liur.sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal. Sebagai penyaring dan pelindung Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri dan dilakukan oleh :    Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi Silia Palut lendir (mucous blanket). 3.n. 4. palatum molle turun untuk aliran udara. kardiovaskuler dan pernafasan. 7. lambung dan pankreas. Contoh : iritasi mukosa hidung menyebabkan refleks bersin dan nafas terhenti.

Anatominya dapat dijelaskan sebagai berikut:6 sinus frontal kanan dan kiri.Anatomi Sinus Paranasl Ada delapan sinus paranasal. jadi tidak heran jika pada foto rontgen anak-anak belum ada sinus frontalis karena belum terbentuk. sinus ethmoid kanan dan kiri (anterior dan posterior). Sinus paranasal terbentuk pada fetus usia bulan III atau menjelang bulan IV dan tetap berkembang selama masa kanak-kanak. empat buah pada masing-masing sisi hidung. Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media terdapat muara sinus ethmoid posterior dan sinus sfenoid.A. berisi udara dan semua bermuara di rongga hidung melalui ostium masing-masing. 16 . sinus maksila kanan dan kiri (antrium highmore) dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Pada meatus medius yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka inferior rongga hidung terdapat suatu celah sempit yaitu hiatus semilunaris yakni muara dari sinus maksila. Semua sinus ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan mukosa hidung. sinus frontalis dan ethmoid anterior.

Fungsi sinus paranasal adalah :  Membentuk pertumbuhan wajah karena di dalam sinus terdapat rongga udara sehingga bisa untuk perluasan. B. Sinus Ethmoidalis     Terbentuk pada usia fetus bulan IV. sedang apexnya pada pars zygomaticus maxillae. Sinus Maksilaris     Terbentuk pada usia fetus bulan IV yang terbentuk dari prosesus maksilaris arcus I. Bentuknya berupa rongga tulang seperti sarang tawon. saat dewasa terdiri dari 715 cellulae. terdapat di dinding cavum nasi. dibatasi dinding tipis atau mukosa pada daerah P2 Mo1ar.  Gigi. Resonansi suara. dibatasi oleh dinding tipis (berisi n. 17 . Bentuknya piramid. terletak antara hidung dan mata Berhubungan dengan :  Fossa cranii anterior yang dibatasi oleh dinding tipis yaitu lamina cribrosa.  Ductus nasolakrimalis. Berhubungan dengan :  Cavum orbita. Jika terjadi infeksi pada daerah sinus mudah menjalar ke daerah cranial (meningitis. encefalitis dsb). berupa 2-3 cellulae (ruang-ruang kecil). Saat lahir. dindingnya tipis. dasar piramid pada dinding lateral hidung. Merupakan sinus terbesar dengan volume kurang lebih 15 cc pada orang dewasa. infra orbitalis) sehingga jika dindingnya rusak maka dapat menjalar ke mata.     Sebagai pengatur udara (air conditioning). Jika tidak terdapat sinus maka pertumbuhan tulang akan terdesak. Macam-Macam Sinus A. Membantu produksi mukus. Peringan cranium.

alas dan Processus os sfenoidalis.  Glandula pituitari. Volume pada orang dewasa ± 7 cc. arteri dan vena ethmoidalis anterior dan pasterior. Jika melakukan operasi pada sinus ini kemudian dindingnya pecah maka darah masuk ke daerah orbita sehingga terjadi Brill Hematoma.  Dibatasi oleh Periosteum. dibatasi oleh tulang compacta.  Orbita. C.  Tranctus olfactorius. tulang diploic. Berhubungan dengan :  Sinus cavernosus pada dasar cavum cranii. Volume pada orang dewasa ± 7cc.  Nervus. chiasma n. Sinus Sfenoidalis     Terbentuk pada fetus usia bulan III Terletak pada corpus. Orbita. Sinus Frontalis      Sinus ini dapat terbentuk atau tidak. 18 . kulit. Tidak simetri kanan dan kiri. dilapisi dinding tipis yakni lamina papiracea. Berhubungan dengan :  Fossa cranii anterior.opticum. Bermuara ke infundibulum (meatus nasi media). D. dibatasi oleh tulang compacta.  Arteri basillaris brain stem (batang otak)(6). terletak di os frontalis.  Nervus Optikus.

Sinusitis adalah peradangan mukosa sinus paranasal yang dapat berupa sinusitis maksilaris. Fungsi dari cilia ini adalah untuk mendorong lendir yang di produksi didalam sinus menuju ke saluran pernafasan. dan sinusitis sfenoid. tepat di belakang tulang hidung. sinusitis etmoid. Sinusitis paling sering mngenai sinus maksila (Antrum Highmore). Sinus Maxillary. terletak diantara mata. sinusitis frontal. dan bila semua sinus terkena disebut pansinusitis. sehingga aliran sekret (drenase) dari sinus maksila hanya tergantung dari gerakan silia. 19 . Bila yang terkena lebih dari satu sinus disebut multisinusitis. tepat disamping hidung c. ostium sinus maksila terletak di meatus medius di sekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat. terletak diantara tulang pipi. letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar. terletak dibelakang sinus ethmoid & dibelakang mata Didalam rongga sinus terdapat lapisan yang terdiri dari bulu-bulu halus yang disebut dengan cilia. d. Sinus Frontal. terletak di atas mata dibagian tengah dari masing-masing alis b. dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus alveolaris). karena merupakan sinus paranasal yang terbesar. Fungsi dari rongga sinus adalah untuk menjaga kelembapan hidung & menjaga pertukaran udara di daerah hidung. Sinus Sphenoid. Sinus sendiri adalah rongga udara yang terdapat di area wajah yang terhubung dengan hidung. yaitu a. Sinus Ethmoid.Definisi Sinusitis Sinusitis adalah suatu peradangan yang terjadi pada sinus. Ketika lapisan rongga sinus ini membengkak maka cairan lendir yang ada tidak dapat bergerak keluar & terperangkap di dalam rongga sinus. sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila. Gerakan cilia mendorong lendir ini berguna untuk membersihkan saluran nafas dari kotoran ataupun organisme yang mungkin ada.KONSEP PENYAKIT 1. Jadi sinusitis terjadi karena peradangan didaerah lapisan rongga sinus yang menyebabkan lendir terperangkap di rongga sinus & menjadi tempat tumbuhnya bakteri. Rongga sinus sendiri terdiri dari 4 jenis.

pertumbuhan adenoide terletak di bagian belakang tenggorokan atas . 20 . Infeksi virus Sinusitis akut bisa terjadi setelah adanya infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas (misalnya Rhinovirus. Etiologi Sinusitis Sinusitis akut dapat disebabkan oleh : 1. Infeksi gigi. Pembesaran atau pertumbuhan adenoide yang terinfeksi pada anak- anak. Infeksi jamur. Jika berada pada daerah yang tinggi resiko infeksi jamur dan memiliki kelainan sinus atau sistem kekebalan tubuh yang lemah maka sangat beresiko sinusitis akut akibat infeksi jamur. 3. Infeksi virus. Beberapa kondisi kesehatan dapat meningkatkan resiko terkena infeksi sinus yang menyebabkan sinusitis akut. Sejumlah kecil kasus sinusitis akut disebabkan oleh gigi yang terinfeksi. gastroesophageal reflux disease (GERD) atau gangguan sistem kekebalan dapat menyebabkan sinus terblokir sehingga meningkatkan risiko infeksi. maka lebih cenderung disebabkan oleh infeksi bakteri dibandingkan infeksi virus.Manifestasi Klinis Pada sinusitis Akut yaitu : 1. 6. Alergi. dan Parainfluenza virus). Ketika infeksi saluran pernafasan atas terus berlanjut lebih dari tujuh sampai 10 hari. Sebagian besar kasus sinusitis akut disebabkan oleh flu biasa.Faktor Resiko Sinusitis    Lingkungan Berpolusi Udara dingin dan kering Kebiasaan merokok 4. 3. 5. Polip atau tumor nasal. 3. Sebuah septum yang bengkok – dinding antara lubang hidung – dapat membatasi atau memblokir sebagian sinus .2. kondisi kesehatan tersebut adalah : 1. Infeksi bakteri. Komplikasi dari cystic fibrosis. Pertumbuhan jaringan ini dapat menghalangi lubang hidung atau sinus. 2. Kelainan septum hidung. Kondisi medis lainnya . 2. 4. Peradangan yang terjadi disertai alergi dapat menghalangi sinus. Influenza virus.

5. 3.dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesusalveolaris). contohnya jamur Aspergillus. Haemophilus influenzae). sehingga aliran sekret (drenase) dari sinus maksila hanya tergantung dari gerakan silia. 4. Pada penderita rhinitis alergi dan juga penderita rhinitis vasomotor. 5. Karies dentis ( gigi geraham atas ) 4. 2. sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila.2. Bakteri Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae.Klasifikasi Sinusitis Klasifikasi Sinusitis a. 5. Tonsilitis yg kronik Pada Sinusitis Kronik. Menurut anatomi sinus yang terkena  Sinusitis Maksilaris Sinus maksila disebut juga Antrum Highmore. yaitu: 1. sehingga terjadi infeksi sinus akut. Benda asing di hidung dan sinus paranasal 6. Tumor di hidung dan sinus paranasal. Peradangan menahun pada saluran hidung. Septum nasi yang bengkok sehingga menggagu aliran mukosa. Sinusitis akut yang sering kambuh atau tidak sembuh. merupakan sinus yang sering terinfeksi oleh karena merupakan sinus paranasal yang terbesar. letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar. Alergi 3. ostium sinus maksila 21 . Septum nasi yang bengkok 6. Infeksi jamur Infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut pada penderita gangguan sistem kekebalan. maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus. Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya.

nyeri biasanya sesuai dengan daerah yang terkena.Karena dinding leteral labirin ethmoidalis (lamina papirasea). Menurut Adams (1978)  Sinusitis akut Infeksi beberapa hari sampai beberapa minggu. oksipital.Namun penyaki tinil ebihlazim menjadi bagian dari pansinusitis. Pasien biasanya menyatakan bahwa dahi terasa nyeri biladisentuh dan mungkint erdapat pembengkakan supra orbita. Kemudian perlahan-lahan mereda hingga menjelang malam. sering kali bermanifestasi sebagai seluliti sorbita. Nyeri alih di pelipis post nasal dan sumbatan hidung.Nyeri alih dirasakan di dahi dan depan telinga Wajah terasa bengkak.terletak di meatus medius di sekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat. Pada sinusitis maksila nyeri terasa di bawah kelopak mata dan kadang menyebar ke alveolus hingga terasa di gigi. Gejala berupa nyeri yang dirasakan di pangkal hidung dan kantus medius. 22 . misalnya sewaktu naik atau turun tangga. Pada dewasa sering kali bersama-sama dengan sinusitis maksilaris serta dianggap sebagai nyerta sinusitis frontalis yang tidak dapat dihindari. penuh dan gigi nyeri pada gerakan kepala mendadak. Pada peradangan aktif sinus maksila atau frontal. sehingga gejalanya sering menjadi satu denga gejalainfeksi sinus lainnya b. nyeri berlokasi di atas ali smata.  Sinusitis Sfenoidalis Pada sinusitis sfenodalis rasa nyeri terlokalisasi di vertex. terutama bila mata di gerakkan. Gejala subyektif terdapat nyeri kepala yang khas.  Sinusitis Frontalis Sinusitis frontalis akut hamper selalu bersama-samadengan infeksi sinus etmoidalisanterior.Sering kali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk  Sinusitis Ethmoidalis Sinusitus ethmoidalis akut terisolasi lebih lazim pada anak. Sering menimbulkan selutis orbita. kadang-kadang nyeri di bola mata atau belakangnya. di belakang bola matadan di daerah mastoid. biasanya pada pagi hari dan memburuk menjelang tengah hari.

Komplikasi yang dapat terjadi antara lain: 1.Gejalanya: demam. 2. terdapat ingus kental yang kadang-kadang berbau dihidung dan dirasakan mengalir ke nasofaring. Penyebaran infeksi terjadi melalui trombollebitis dan perkontinuitatum. abses orbita. bronkiektasis. 23 . 6.  Sinusitis subakut Infeksi beberapa minggu sampai beberapa bulan. Dikatakan subakut apabila tanda akut sudah reda. hidung tersumbat. 4. nyeri kepala. Biasanya ditemukan pada anak dan sering timbul akibat sinusitis frontal. Osteomielitis dan abses subperiostal. Gejalanya: sekret di faring dan nasofaring. rasa nyeri di daerah yg terkena dan kadang-kadang nyeri alih. seperti bronchitis kronik. 3. selulitis orbita. dan trombosis sinus karvenosus. abses subperiortal. dan asma bronkial. abses ekstradural atau subdural. Kelainan orbita yang disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata (orbita). Kelainan paru. Adanya kelainan sinus paranasal disertai dengan kelainan paru ini disebut sinobronkitis.Komplikasi Komplikasi sinusitis menurun sejak ditemukannya antibiotik. Kelainan yang dapat ditimbulkan adalah edem palpebra. Kelainan intrakranial seperti meningitis. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral.  Sinusitis kronik Infeksi dari beberapa bulan sampai beberapa tahun. pendengaran terganggu. Komplikasi biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronis dengan eksaserbasi akut. gejala di saluran cerna karena mukopus yang tertelan. rasa tidak nyaman ditenggorok. abses otak. rasa lesu. dan trombosis sinus kavernosus.

yakni dengan cara menengadahkan kepala pasien sedemikian rupa sehingga dagu menyentuh permukaan meja. sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid anterior tampak mukopus atau nanah di meatus medius. sphenoid dan etmoid 24 .7. Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan udara (air fluid level) pada sinus yang sakit.  Dentogen Caries gigi (PM1. frontal dan etmoid.M1)  Transiluminasi (diaphanoscopia) Sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. sehingga tampak lebih suram dibanding sisi yang normal. dan edema.PM2. Posisi Posteroanterior untuk menilai sinus frontal dan Posisi Lateral untuk menilai sinus frontal. Posisi Water’s adalah untuk memproyeksikan tulang petrosus supaya terletak di bawah antrum maksila.Pemeriksaan Diagnostik  Rinoskopi anterior Tampak mukosa konka hiperemis.  X. Posteroanterior dan Lateral. sedangkan pada sinusitis ethmoid posterior dan sinusitis sfenoid nanah tampak keluar dari meatus superior.Foto sinus paranasalis: Pemeriksaan radiologik yang dibuat ialah Posisi Water’s. Posisi ini terutama untuk melihat adanya kelainan di sinus maksila. Pemeriksaan transiluminasi bermakna bila salah satu sisi sinus yang sakit. kavum nasi sempit.Pada sinusitis maksila.  Rinoskopi posterior Tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip).

 Pemeriksaan Mikrobiologik dan Tes Resistensi Dilakukan dengan mengambil sekret dari meatus medius atau superior . CT-Scan pada sinusitis akan tampak : penebalan mukosa. bila kista ini makin lama makin besar dapat menyebabkan gambaran air-fluid level. licin. penebalan dinding sinus dengan sklerotik (pada kasus-kasus kronik).  Pemeriksaan Ig E spesifik 25 . Kadang sukar membedakannya dengan polip yang terinfeksi. perselubungan homogen atau tidak homogen pada satu atau lebih sinus paranasal. bentuknya konveks (bundar). pada pemeriksaan CT-Scan tidak mengalami ehans. Untuk hasil yang maksimal lebih baik mengambil sekret yang keluar dari fungsi sinus maksila.  Hitung Eosinofil (terkait Ig E) Terkait Ig E ditemukan jumlah eosinofil yang meningkat. air fluid level. homogen. 2) Polip yang mengisi ruang sinus 3) Polip antrokoanal 4) Massa pada cavum nasi yang menyumbat sinus 5) Mukokel. Pemeriksaan CT –Scan Pemeriksaan CT-Scan merupakan cara terbaik untuk memperlihatkan sifat dan sumber masalah pada sinusitis dengan komplikasi. penekanan. atrofi dan erosi tulang yang berangsur-angsur oleh massa jaringan lunak mukokel yang membesar dan gambaran pada CT Scan sebagai perluasan yang berdensitas rendah dan kadang-kadang pengapuran perifer.Hal-hal yang mungkin ditemukan pada pemeriksaan CT-Scan : 1) Kista retensi yang luas.

gejala dan tanda yang ada yang membuat pemeriksa bisa memperkirakan jenis alergen. SLE dan adanya lesi yang luas pada kulit. Gunakan material yang belum kedaluwarsa 2. Pada penderita dengan keganasan. 6. apakah alergi ini terkait secara genetik dan bisa membedakan apakah justru merupakan penyakit non alergi. Dapat diketahui makanan yang menimbulkan reaksi alergi sehingga bisa dihindari. 1. 4. Pemeriksaan Skin Prick Test Indikasi Tes Cukit ( Skin Prick Test )  Rinitis alergi : Apabila gejala tidak dapat dikontrol dengan medikamentosa sehingga diperlukan kepastian untuk mengetahui jenis alergen maka di kemudian hari alergen tsb bisa dihindari. 5. 26 . Usia : pada bayi dan usia lanjut tes kulit kurang memberikan reaksi. Kecurigaan alergi terhadap makanan.    Asthma : Asthma yang persisten pada penderita yang terpapar alergen (perenial).limfoma. sarkoidosis. Kecurigaan reaksi alergi terhadap sengatan serangga. Jangan melakukan tes cukit pada penderita dengan penyakit kulit misalnya urtikaria. Gunakan ekstrak alergen yang terstandarisasi 3. Persiapan Tes Cukit  Persiapan bahan/material ekstrak alergen. diabetes neuropati juga terjadi penurunan terhadap reaktivitas terhadap tes kulit ini. misalnya infeksi atau kelainan anatomis atau penyakit lain yang gambarannya menyerupai alergi. Menghentikan pengobatan antihistamin 5-7 hari sebelum tes. Persiapan Tes Cukit ( Skin Prick Test) Sebagai dokter pemeriksa kita perlu menanyakan riwayat perjalanan penyakit pasien. Menghentikan pengobatan jenis antihistamin generasi baru paling tidak 2-6 minggu sebelum tes. 7.

4. c) Kemudian dicukitkan dengan sudut kemiringan 45 0 menembus lapisan epidermis dengan ujung jarum menghadap ke atas tanpa menimbulkan perdarahan. Berurutan dari lokasi yang reaktifitasnya tinggi sampai rendah : bagian bawah punggung > lengan atas > siku > lengan bawah sisi ulnar > sisi radial > pergelangan tangan. Kesalahan yang Sering terjadi pada Skin Prick Test 1. Tindakan ini mengakibatkan sejumlah alergen memasuki kulit. Ketrampilan teknik melakukan cukit 10. 9.   Pesiapan Penderita Persiapan pemeriksa Prosedur Tes Cukit Tes Cukit ( Skin Prick Test ) seringkali dilakukan pada bagian volar lengan bawah. Tes dilakukan pada jarak yang sangat berdekatan ( < 2 cm ) 2. Menguap dan memudarnya larutan alergen selama tes. dan tandai dengan pulpen area yang akan kita tetesi dengan ekstrak alergen. b) Ekstrak alergen diteteskan satu tetes larutan alergen ( Histamin/ Kontrol positif ) dan larutan kontrol ( Buffer/ Kontrol negatif)menggunakan jarum ukuran 26 ½ G atau 27 G atau blood lancet. yang memungkinkan terjadi false positive.8. 27 . terjadi perdarahan. Teknik dan ketrampilan pemeriksa perlu dipersiapkan agar tidak terjadi interpretasi yang salah akibat teknik dan pengertian yang kurang difahami oleh pemeriksa. Teknik cukitan yang kurang benar sehingga penetrasi eksrak ke kulit kurang. memungkinkan terjadinya false-negative. Teknik menempatkan lokasi cukitan karena ada tempat-tempat yang reaktifitasnya tinggi dan ada yang rendah. d) Tes dibaca setelah 15-20 menit dengan menilai bentol yang timbul. 3. Adapun prosedurnya yaitu : a) Lakukan desinfeksi dengan alkohol pada area volar.

akan tampak pada sinus maksila yang normal gambar bulan sabit di bawah mata. Untuk diagnosis diperlukan foto 28 . Pada kelainan sinus maksila gambar bulan sabit itu kurang terang atau tidak tampak. Mukosa hidung tampak membengkak (edema) dan merah (hiperemis).Faktor-faktor yang mempengaruhi skin test 1) Area tubuh tempat dilakukannya tes 2) Umur 3) Sex 4) Ras 5) Irama sirkardian 6) Musim 7) Penyakit yang diderita 8) Obat-obatan yang dikonsumsi Interpretasi Tes Cukit ( Skin Prick Test ) Penilaiannya sebagai berikut :  Bentol histamin dinilai sebagai +++ (+3)  Bentol larutan kontrol dinilai negatif (-)  Derajat bentol + (+1) dan ++(+2) digunakan bila bentol yang timbul besarnya antara bentol histamin dan larutan kontrol.  Pemeriksaan di setiap sinus 1) Sinusitis maksila akut Pemeriksaan rongga hidung akan tampak ingus kental yang kadang-kadang dapat terlihat berasal dari meatus medius mukosa hidung.  Untuk bentol yang ukurannya 2 kali lebih besar dari diameter bentol histamin dinilai ++++ (+4). terdapat ingus kental di nasofaring. Pada pemeriksaan di kamar gelap. dengan memasukkan lampu kedalam mulut dan ditekankan ke langit-langit. Pada pemeriksaan tenggorok.

Akan terlihat perselubungan di sinus maksila. ½ % (anak). terdapat ingus kental. ingus di meatus medius. dapat sebelah (unilateral). tampak pada foto roentgen daerah sinus frontal berselubung. Penatalaksanaan 1) Penatalaksanaan Medis a) Drainage   Dengan pemberian obat. Foto roentgen.rontgen. tampak ingus atau krusta serta foto rontgen. mukosa hidung edema dan hiperemis. akan tampak bentuk sinus frontal di dahi yang terang pada orang normal. Pemeriksaan radiologik. Dekongestan oral sedo efedrin 3 x 60 mg. 3) Sinusitis frontal akut Pemeriksaan rongga hidung. yaitu Dekongestasn lokal : efedrin 1 % (dewasa). 8. Pada pemeriksaan di kamar gelap. dengan meletakkan lampu di sudut mata bagian dalam. akan terdapat perselubungan di sinus etmoid. 2) Sinusitis etmoid akut Pemeriksaan rongga hidung. 4) Sinusitis sfenoid akut Pemeriksaan rongga hidung. b) Pemberian antibiotik dalam 5-7 hari (untuk Sinusitis akut) yaitu :   Ampisilin 4 X 500 mg Amoksilin 3 x 500 mg 29 . dapat juga kedua belah (bilateral ). Surgikal dengan irigasi sinus maksilaris. dan kurang terang atau gelap pada sinusitis akut atau kronis.

dan ditampung di tempat bengkok.. dan dicuci 2 kali seminggu dengan larutan garam fisiologis. ujung trokar diarahkan ke batas luar mata. maka jarum trokar dicabut. c) Pemberian obat simtomatik  Contohnya parasetamol. maka untuk memasukkan pipa dipakai trokar yang tumpul. Tapi tindakan seperti ini dapat menimbulkan kemungkinan trokar menembus melewati sinus ke jaringan lunak pipi. atau dengan balon yang khusus untuk pencucian sinus itu. Setelah tulang dinding sinus maksila bagian medial tembus. Setelah 5 menit. kapas dikeluarkan. Pipa itu dihubungkan dengan semprit yang berisi larutan garam fisiologis. dengan sebelumnya memasukkan kapas yang telah diteteskan xilokain dan adrenalin ke daerah meatus inferior.Tindakan ini diulang 3 hari kemudian. Karena sudah ada lubang fungsi. diminta untuk membuka mulut.dasar mata tertusuk karena arah penusukan salah. emboli udara karena setelah menyemprot dengan air disemprotkan udara dengan maksud mengeluarkan seluruh cairn yang telah dimasukkan serta perdarahan karena konka inferior 30 .Pasien yang telah ditataki plastik di dadanya. lalu dengan trokar ditusuk di bawah konka inferior. 2) Penatalaksanaan Pembedahan Pencucian sinus paranasal yaitu :  Pada sinus maksila Dilakukan fungsi sinus maksila. d) Untuk Sinusitis kromis bisa dengan :    Cabut geraham atas bila penyebab dentogen Irigasi 1 x setiap minggu ( 10-20) Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi). sehingga tinggal pipa selubungnya berada di dalam sinus maksila. Caranya ialah. metampiron 3 x 500 mg. Air cucian sinus akan keluar dari mulut.  Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1 tablet Diksisiklin 100 mg/hari.

Pada pipa gelas itu dibuat lubang yang dapat ditutup dan dibuka dengan ujung jari jempol. dengan memotong dinding lateral hidung.tertusuk. Ke dalam lubang hidung dimasukkan pipa gelas yang dihubungkan dengan alat pengisap untuk menampung ingus yang terisap dari sinus. lubang di pipa tidak ditutup. Antrostomi. yaitu membuat saluran antara rongga hidung dengan sinus maksila di bagian lateral konka inferior. Pembedahan. Lubang fungsi ini dapat diperbesar. oleh karena kepala diletakkan ebih rendah dari badan).  Pada sinus frontal. atau dengan memakai alat. Macam pembedahan sinus paranasal : 1. Tindakan pencucian menurut cara ini dilakukan 2 kali seminggu. dan dilakukan di kamar bedah. bila setelah dilakukan pencucian sinus 6 kali ingus masih tetap kental. tetapi ke dalam rongga yang terletak dibawah ( yaitu sinus paranasal. Kedalam hidung diteteskan HCL efedrin 0. Persiapan sebelum pembedahan perlu dibuat foto ( pemeriksaan) dengan CT scan. Pada waktu meneteskan HCL ini. b. yaitu busi. etmoid dan sphenoid Pencucian sinus dilakukan dengan pencucian Proetz. dengan pasien yang diberi anastesi.5-1. bila foto rontgen sudah tampak penebalan dinding sinus paranasal. Sinus maksila a.5 %. Tindakan ini disebut antrostomi. Alat yang perlu disiapkan ialah : 31 . Caranya ialah dengan pasien ditidurkan dengan kepala lebih rendah dari badan. Gunanya ialah untuk mengalirkan nanah dan ingus yang terkumpul di sinus maksila. Pada waktu lubang ditutup maka akan terisap ingus dari sinus. dilakukan jika : a. Pasien harus menyebut “kek-kek” supaya HCL efedrin yang diteteskan tidak masuk ke dalam mulut.

dengan menembus tulang pipi. maka dibuat anthrostom. dan makanan yang diberikan harus lunak.     alat fungsi sinus maksila semprit untuk mencuci pahat untuk memotong dinding lateral hidung alat pengisap tampon kapas atau kain kasa panjang yang diberi salep Tindakan dilakukan di kamar bedah. Olehkarena itu pasien harus bernafas melalui mulut. Isi sinus maksila dibersihkan. Supaya tidak terdapat cacat di muka. 32 . bila tidak terdapat perdarahan. Dengan cunam pemotong tulang lubang itu diperbesar. Perawatan pasca tindakan :  Beri antrostomi dilakukan pada kedua belah sinus maksila. maka kedua belah hidung tersumbat oleh tampon. di bagian superior ( atas ) akar gigi geraham 1 dan 2. Seringkali akan terdapat jaringan granulasi atau polip di dalam sinus maksila. yang ujungnya disalurkan melalui antrostomi ke luar rongga hidung. sehingga tampak tulang sedikit di atas cuping hidung. dengan demikian rongga sinus maksila kelihatan. yang disebut fosa kanina. Kemudian jaringan diatas tulang pipi diangkat kearah superior. Bila terdapat banyak perdarahan dari sinus maksila. maka insisis dilakukan di bawah bibir. pasien boleh pulang b. Setelah sinus bersih dan dicuci dengan larutan bethadine. dengan pembiusan ( anastesia) dan pasien dirawat selama 2 hari. maka dimasukkan tampon panjang serta pipa dari plastik. Dengan pahat atau bor tulang itu dibuka. Operasi Caldwell-Luc Operasi ini ialah membuka sinus maksila.  tampon diangkat pada hari ketiga. setelah itu. Kemudian luka insisi dijahit.

Polip yang ditemukan dikeluarkan sampai bersih. 33 . untuk mencegah pembengkakan di pipi pasca-bedah. Apabila terdapat perdarahan. Sekarang tindakan ini dilakukan dengan menggunakan endoskop. Tindakan pembedahan ini dilakukan dengan pasien dibius umum ( anastesia). seh igga apa yang akan dikerjakan dapat dilihat dengan baik. dapat dilakukan dari dalam hidung (intranasal) atau dengan membuat insisi di batas hidung dengan pipi (ekstranasal). Setelah konka media di dorong ke tengah. makanan lunak tampon dicabut pada hari ketiga.Perawatan pasca bedah :    beri kompres es di pipi.suhu perhatikan apakah ada perdarahan mengalir ke hidung atau melalui mulut. tensi. maka dengan cunam sel etmoid yang terbesar ( bula etmoid ) dibuka. Dapat juga dengan bius lokal (analgesia).  Etmoidektomi intranasal Alat yang diperlukan ialah : o spekulum hidung o cunam pengangkat polip o kuret ( alat pengerok ) o alat pengisap o tampon. maka dokter harus diberitahu. Sinus etmoid Pembedahan untuk membersihkan sinus etmoid. perhatikan keadaan umum : nadi.   2.

dibersihkan. maka dokter juga melakukan pembedahan tidak perlu melihat kedalam endoskop. Etmoidektomi ekstranasal Insisi dibuat di sudut mata. Endoskop dimasukkan ke dalam rongga hidung. Karena endoskop ini dihubungkan dengan monitor (seperti televisi). seperti 34 . 4. kemudian dibersihkan. 3. Sinus frontal Pembedahan untuk membuka sinus frontal disebut operasi Killian. Sinus sphenoid Pembedahan untuk sinus sfenoid yang aman sekarang ini ialah dengan memakai endoskop. Biasanya bersama dengan pembersihan sinus etmoid dan muara sinus maksila serta muara sinus frontal.Tulang frontal dibuka dengan pahat atau bor. luka insisi dijahit. pada batas hidung dan mata. b. Setelah rongga sinus frontal bersih. Bedah endoskopi sinus fungsional ( FESS=functional endoscopic sinus surgery) Cara pemeriksaan ini ialah dengan mempergunakan endoskop. yang disebut fronto-etmoidektomi. dan bila tersumbat. tanpa melakukan insisis di kulit muka. tetapi cukup dengan melihat monitor. Seringkali pembedahan untuk membuka sinus frontal dilakukan bersama dengan sinus etmoid. Perban dibuka setelah seminggu. Dengan bantuan endoskop dapat dibersihkan daerah muara sinus. Insisi dibuat seperti pada insisi etmoidektomi ekstranasal. kemudian dibersihkan.Perawatan pasca-bedah yang terpenting ialah memperhatikan kemungkinan perdarahan. dan diberi perban-tekan. yang disebut Bedah Endoskopi Sinus Fungsional. Salurannya ke hidung diperikasa. Di daerah itu sinus etmoid dibuka. tetapi kemudian diteruskan ke atas alis.

2. Amoksilin Dapat diberikan terapi pengobatan Antibiotik selama 10-14 hari meskipun gejala klinis telah hilang. tiap kapsul mengandung cefadroxil monohydrate setara dengan cefadroxil 500 mg. Cefadroxil Cefadroxil adalah antibiotika semisintetik golongan sefalosforin untuk pemakaian oral. Antibiotika yang diberikan dapat golongan Penisilin. Streptococcus pneumoniae. Escherichia coli.Sekitar sinus yang sakit dibersihakan. Cefadroxil aktif terhadap Streptococcus betahemolytic. Kemudian dapat diteruskan kedalam sinus sfenoid yang terletak dibelakang sinus etmoid apabila di CT scan terdapat kelainan di sinus sfenoid. Komposisi: Cefadroxil 500. Proteus mirabilis. Endoskop juga dapat dimasukkan kedalam sinus etmoid anterior dan posterior untuk membuka sel-sel sinus etmoid. Dosis: Dewasa Infeksi saluran kemih : 35 . Terapi pembedahan jarang diperlukan kecuali telah terjadi komplikasi ke organ sekitar sinus. Moraxella catarrhalis. dilihat juga muara sinus-sinus yang lain. tetapi untuk lini kedua dapat digunakan Amoksisilin Klavulanat dan ditambah dengan dekongestan oral. sinus etmoid anterior dan sinus frontal. Klebsiella sp.daerah meatus medius untuk sinus maksila. Setelah selesai. Staphylococcus aureus (termasuk penghasil enzim penisilinase). Cefadroxil bersifat bakterisid dengan jalan menghambat sintesa dinding sel bakteri. rongga hidung di tampoan untuk mencegah perdarahan. 3) Farmakologi 1. Tampon dicabut pada hari ketiga.

Infeksi saluran kemih bagian bawah. Infeksi saluran pernafasan :  Infeksi ringan.Infeksi lain : osteomielitis dan septisemia. muntah. 50 mg/kg BB sehari dalam dua dosis terbagi. dan gejala kolitis pseudomembran. seperti mual.Infeksi kulit dan jaringan lunak. seperti ruam kulit. . Untuk faringitis dan tonsilitis yang disebabkan oleh Streptococcus beta-hemolytic : 1 g sehari dalam dosis tunggal atau dua dosis terbagi. Reaksi hipersensitif. impetigo : 25. neutropenia dan peningkatan transaminase. faringitis. Indikasi: Cefadroxil diindikasikan untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang sensitif seperti : Infeksi saluran pernafasan : tonsillitis. Untuk infeksi yang disebabkan Streptococcus beta-hemolytic. infeksi saluran kemih lainnya 2 g sehari dalam dosis terbagi.Infeksi saluran kemih dan kelamin. infeksi kulit dan jaringan lunak : 25. 1 – 2 gram sehari dalam dua dosis terbagi. Infeksi kulit dan jaringan lunak : 1 g sehari dalam dosis tunggal atau dua dosis terbagi. 2 g sehari dalam dosis tunggal atau dua dosis terbagi. 36 .  Infeksi sedang sampai berat. pneumonia. pengobatan diberikan minimal selama 10 hari. Efek Samping: Gangguan saluran pencernaan. otitis media. Anak-anak : Infeksi saluran kemih.Faringitis. . . dosis disesuaikan dengan bersihan kreatinin untuk mencegah terjadinya akumulasi obat. seperti sistitis : 1 . Pada penderita gangguan ginjal. dosis lazim 1 gram sehari dalam dua dosis terbagi. 50 mg/kg BB dalam dosis tunggal atau dua dosis terbagi. tonsilitis. diare. Efek samping lain seperti vaginitis. gatal-gatal dan reaksi anafilaksis. pengobatan diberikan minimal selama 10 hari.

Interaksi Obat: Obat-obat yang bersifat nefrotoksik dapat meningkatkan toksisitas sefalosporin terhadap ginjal. Setelah 7 hari suspensi yang sudah direkonstitusi tidak boleh digunakan lagi.5 mg o Dosis dapat dikurangi menjadi 2 kali sehari. jika diberikan 48 – 72 jam setelah pemberian sefalosporin. Cara Rekonstitusi Suspensi: Tambahkan 45 ml air minum.5 tahun : sehari 3 kali 7. Probenesid menghambat sekresi sefalosporin sehingga memperpanjang dan meningkatkan konsentrasi obat dalam tubuh. bronkitis asmatik. Cara Penyimpanan: Simpan dalam wadah tertutup rapat pada suhu kamar (15 . khususnya pada eksaserbasi dan bronkitis kronis. asma bronchial Kontra Indikasi: Hipersensitif terhadap ambroksol Komposisi: Tiap tablet mengandung ambroksol hidroklorida 30 mg.Harus diminum sesudah makan. 37 . untuk pengobatan yang lama. Alkohol dapat mengakibatkan Disulfiram-like reactions.12 tahun : sehari 3 kali 1/2 tablet. Ambroxol Indikasi: Penyakit saluran napas akut dan kronis yang disertai sekresi bronkial yang abnormal. o Anak-anak 5 .30ºC). Dosis: o Dewasa: sehari 3 kali 1 tablet. 3.5 mg o Anak-anak di bawah 2 tahun : sehari 2 kali 7. o Anak-anak 2 . kocok sampai suspensi homogen.

Sifat antiinflamasinya sangat lemah sehingga tidak digunakan sebagai antirematik. 38 . terutama yang berhubungan dengan sediaan yang digunakan sebagai obat standar untuk sindroma bronkitis (glikosida jantung. bronkapasmolitik. 4. Perhatian: Pemakaian pada kehamilan trimester pertama tidak dianjurkan. Kadar maksimum dalam plasma dicapai dalam waktu 30 menit sampai 60 menit setelah pemberian. kortikosterida. Sifat analgesik Parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang. Komposisi: Tiap tablet mengandung Parasetamol 500 mg. terlindung dari cahaya. diuretik dan antibiotik). Reaksi alergi. Pada penggunaan per oral Parasetamol diserap dengan cepat melalui saluran cerna. Parasetamol diekskresikan melalui ginjal. Cara Penyimpanan: Simpan pada suhu kamar (di bawah suku 30 derajat Celcius) dan tempat kering.Efek Samping: Ambroksol umumnya ditoleransi dengan baik. Parasetamol Parasetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik / analgesik. Interaksi Obat: Kombinasi ambroksol dengan obat-obatan lain dimungkinkan. kurang dari 5% tanpa mengalami perubahan dan sebagian besar dalam bentuk terkonyugasi. Sifat antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga berdasarkan efek sentral. Efek samping yang ringan pada saluran pencernaan dilaporkan pada beberapa pasien. Pemakaian selama menyusui keamanannya belum diketahui dengan pasti.

rasa gatal pada hidung serta rasa gatal dan terbakar pada mata. sakit gigi. Dosis:  Dibawah 1 tahun: ½ . bersin-bersin.2 sendok teh atau 120 – 250 mg. Komposisi: Tiap tablet mengandung 10 mg loratadine.1 sendok teh atau 60 – 120 mg. misalnya untuk mengurangi rasa nyeri pada sakit kepala. tiap 4 .5 tahun: 1 . Serta menurunkan demam pada influenza dan setelah vaksinasi.4 sendok teh atau 250 – 500 mg. Kontra Indikasi: Hipersensirif terhadap loratadine. sakit waktu haid dan sakit pada otot. tiap 4 . Loratadine Indikasi Efektif untuk mengobati gejala-gejala yang berhubungan dengan rinitis alergi.  6 . Selain itu loratadine juga mengobati gejala-gejala seperti urtikaria kronik dan gangguan alergi pada kulit lainnya. termasuk bagi pasien yang tidak tahan asetosal. Sebagai analgesik.  1 . maksimum 4 g sehari. Cara Kerja Obat: Loratadine merupakan suatu antihistamin trisiklik yang bekerja cukup (long 39 .6 jam. 5.  Diatas 12 tahun: ½ .6 jam.6 jam. tiap 4 .Indikasi: Sebagai antipiretik/analgesik.1 g tiap 4 jam.12 tahun: 2 . seperti pilek.

Interaksi Obat: Pemberian loratadine bersama alkohol tidak memberikan efek potensiasi seperti yang terukur pada penampilan psikomotor.  Hati-hati pemakaian loratadine pada pasien dengan gangguan hati dan gagal ginjal. Peringatan dan Perhatian:  Karena efek pemakaian loratadine selama kehamilan belum diketahui secara pasti. harus dengan resep dokter.acting). Frekuensi efek-efek ini pada loratadine maupun placebo tidak berbeda secara statistik.  Loratadine sebaiknya tidak diberikan pada ibu menyusui karena dieksekresikan melalui air susu. mulut kering jarang dilaporkan.  Pemberian loratadine pada anak-anak di bawah 12 tahun keamanannya belum diketahui dengan pasti. ketokonazol & simetidine dapat menghambat metabolisme loratadine. jenis: tablet pada suhu 2 30 derajat Celcius. kotak 5 strip @ 10 tablet. Pemberian loratadine bersama eritromisin. lelah. karena rasa mual. mempunyai selektifitas tinggi pada reseptor histamin -H1 periter dan tidak menimbulkan efek sedasi atau antikolinergik. 40 . Cara Penyimpanan: Simpan Kemasan: Loratadine 10 mg tablet. maka loratadine diberikan pada wanita hamil hanya nila manfaatnya lebih besar dari resikonya terhadap janin. sakit kepala. Efek Samping: Loratadine tidak memperlihatkan efek samping yang secara klinis bermakna.

6. Usia lanjut Dosis Dewasa dan anak-anak> 12 tahun : 1 kapsul 2 kali sehari Kemasan Box isi 5 strip @ 10 kapsul lepas lambat 41 . peningkatan DM atau TIO. dan pseudoefedrin sulfat 120 mg Indikasi Pengobatan simtomatis pada alergi rhinitis. Aldisa Sr @ 50 Capsul Kandungan Loratadin 5 mg. ulkus peptikum.arteri koroner berat dan hipertiroidisme Efek Samping Insomnia. pasien glaucoma sudut sempit/tertutup. penyakit kardiovaskuler.retensi urin. Kontra Indikasi penderita yang mendapat anti depresan MAOI. mengantuk Perhatian Glaukoma. dan berbagai jenis alergi pada kulit. stenosis. hipertrofi prostat dan obstruksi leher kandung kemih. urtikaria kronik.mulut kering. hipertensi berat. sakit kepala.

9. Cari pertolongan medis jika gejala pernafasan atas menetap lebih dari 7 atau 10 hari. c.Pendidikan dan Kesehatan Sinusitis a. Olahraga. Pertahankan kesehatan umum sehingga daya tahan tubuh alamiah tidak turun dengan cara : Makan yang tepat. f. d. Ingatkan pemberi perawatan jika nyeri pada area sinus menetap atau jika terdapat rabas nasal dan terdapat perubahan warna dan bau busuk. 42 . dan istirahat yang cukup. e. Hindari orang yang menderita infeksi saluran pernafasan atas. Memberikan informasi mengenai pencegahan dan infeksi sinusitis b. Hindari alergen jika menderita alergi.

Patofisiologi Sinusitis Alergen Berikatan dengan T4 Diikat oleh IgG Sel goblet Produksi mukus Menggetarkan bulu hidung Merangsamg impuls aferen Menuju nervus 5 Dihantarkan ke medula Pengeluaran Antibodi IgE Reaksi antigen antibodi Sel Mast basofil rusak Reaksi imun anafilaktik Pengeluaran histamin Permeabilitas kapiler Vasodilatasi vaskuler Vaskularisasi di pipi Demam lokal/ Hangat area pipi Ostium sinus maxilla tidak berdrainase Penumpukan mukus di sinus maxila Mukus di maxilla berlebih Saraf sensori dan etmoid anterior tertekan nyeri Berkembang bakteri melepas endoksitosin Melepas zat pirogen Melepas IL.1 Hipertermi Set point. suhu 43 Produksi sitokinin Merangsang sel Beta Alergen terus menerus Produksi mukus Daerah KOM menyempit Peradangan area hidung Mukosa dan konka hidung bengkak dan merah Silia tidak bergerak Bersin Drainase tidak lancar Drainase sinus frontal dan etmoid tidak lancar Sekret menumpuk Penumpukan mukus di hidung Penyempitan jalan nafas Menekan intrakranial .

Pola eliminasi : 4. Pengumpulan data A. Pola makan 2. B. namun timbul lagi. Pengkajian 1.(perlu dikaji lebih lanjut) R : kedua lubang hidung S : . Keluhan utama Keluar cairan encer di kedua lubang hidung. terutama saat udara dingin. Keluhan dirasakan > 4 hari dalam seminggu. Pola tidur :44 . Kebutuhan dasar 1. Riwayat kesehatan keluarga : E.ASUHAN KEPERAWATAN I. Riwayat kesehatan sebelumnya Bila diminumi obat yang dibeli sendiri keluhan berkurang. Identitas klien Nama Umur Jenis kelamin Tanggal pengkajian : Diagnosa medis A. : Sinusitis :: 25 tahun : laki-laki D.(perlu dikaji lebih lanjut) T : saat udara dingin C. Riwayat kesehatan sekarang P : virus/bakteri Q : . Pola minum ::- 3.

5. Pemeriksaan fisik 1. Pemeriksaan diagnostik   Skin pricktest X-ray : diafonoscopy kesuraman (+) H. Auskultasi G. mukosa hiperemis (+/+). hidung nyeri. Data objektif    Telinga dalam batas normal Hidung nyeri Ketok kedua pipi (+/+) 45 . hiperemis konka (+/+) 2. Palpasi : edema konka kiri dan kanan (+/+) 3. Cepadroxil 2x500mg Ambroxol 3x30mg Paracetamol 3x500mg Loratadin 5mg Pseudofedrin sulfat 120mg Pengelompokkan data 1. Terapi yang dijalani: I. Aktivitas F. Data subjektif          Sekitar 3 bulan ini keluar cairan encer dari kedua hidung terutama saat udara dingin Bersin-bersin bila menghirup debu dan udara dingin Hidung tersumbat bergantian kanan-kiri Hidung terasa gatal Terasa lendir mengalir di tenggorokan Demam Pusing Bila diminumi obat yang dibeli sendiri keluhan << namun timbul lagi Keluhan dirasakan >4hari dalam seminggu 2. Perkusi : ketok kedua pipi (+/+) 4. Inspeksi : terganggu : telinga dalam batas normal.

mukosa hiperemis (+/+).S: Data Etiologi Peradangan area hidung ↓ Mukosa dan konka hidung bengkak ↓ Sillia tidak bergerak ↓ Ostium sinus maxilla tidak berdrainase ↓ Penumpukan mucus di sinus maxilla ↓ Mucus di maxilla >> ↓ Saraf sensori dan ethmoid tertekan ↓ Nyeri hidung ↓ Nyeri Nyeri Masalah b. pada kedua diafonoscopy kesuraman (+).d nyeri ketok pipi. Analisa Data No. 3.O: Penumpukkan mucus di hidung ↓ Penyempitan jalan nafas ↓ Hidung tersumbat ↓ Bersihan jalan nafas tidak efektif Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d reaksi 46 . D. hiperemis konka (+/+) 2.d penumpukkan mucus di hidung d.d klien mengeluh hidung tersumbat bergantian kanan-kiri.    Mukosa hiperemis (+/+) Edema konka kiri-kanan (+/+) Hiperemis konka (+/+) Diafonoscopy kesuraman (+) II. 1. D.S: hidung tersumbat bergantian kanan-kiri D. inflamasi d. D.O: hidung nyeri ketok kedua pipi (+/+).d proses D.S: demam Reaksi imun anafilaktik Hipertermi b.

III. Nyeri b.d reaksi imun anafilaktik d. 3.D. 2.d demam lokal/hangat area pipi.d penumpukkan mucus di hidung d.d demam lokal/hangat area pipi. 47 .d nyeri nyeri ketok pada kedua pipi.O: - ↓ Pengeluaran histamine ↓ ↑permeabilitas kapiler ↓ Vasodilatasi vaskuler ↓ ↑vaskularisasi di pipi ↓ Demam lokal/hangat area pipi ↓ hipertermi imun anafilaktik d. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d proses inflamasi d. Diagnosa Keperawatan 1. Hipertermi b.d klien mengeluh hidung tersumbat bergantian kanan-kiri.

Rencana Asuhan sKeperawatan No. Observasi tingkat nyeri dan respon motorik klien. dan dapat mengalihkan perhatian nyerinya e. Diagnosis Keperawatan 1. Kaji terhadap nyeri dengan skala 0-4. ke hal-hal yang menyenangkan.d hidung nyeri ketok kedua pipi (+/+). sehingga nyeri berkurang. . Klien melaporkan nyeri biasanya di atas tingkat cidera. skala nyeri. b. diafonoscopy kesuraman (+). 30 menit setelah pemberian analgesik untuk mengkaji efektivitasnya dan setiap 1-2 jam e. d. mukosa hiperemis (+/+). c.1V. Nyeri merupakan respon subjektif yang bisa dikaji menggunakan b. Nyeri b.d peradangan pada hidung d. hiperemis konka (+/+) Tujuan jangka panjang : Dalam 3x24 jam tanda-tanda peradangan/nyeri yang dirasakan klien hilang. Akan melancarkan peredaran darah. a. Kolaborasi analgesic. Analgesik memblok lintasan nyeri. a. Pengkajian yang 48 Tujuan Intervensi Rasional Tujuan jangka pendek : Dalam 1x24 jam nyeri yang dirasakan berkurang atau dapat diadaptasi oleh klien. d. Mengajarkan tehnik relaksasi dan metode distraksi. Istirahat akan merelaksasi semua c. jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan. Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman.

Observasi tandatanda vital. a. Mengetahui 49 .setelah tindakan perawatan selama 1-2 hari.d klien tidak lagi klien hidung mengeluh mengeluhkan tersumbat hidung b.d pendek : Dalam 1x24 jam a. selanjutnya. Bersihan jalan nafas Tujuan jangka tidak efektif b. b. 2. Kaji penumpukan secret yang ada. optimal akan memberikan perawat data yang objektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat. Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan penumpukkan mucus di hidung d.

Tujuan jangka panjang : Dalam 3x24 jam bersihan jalan nafas menjadi efektif setelah secret dikeluarkan e. warna sekret dikaji untuk tindakan selanjutnya 3.tersumbat. Mengeluarkan sekret di jalan napas. kemampuan batuk efektif d. a. konsistensi. Tujuan jangka pendek : Dalam 1x24 jam suhu tubuh klien tidak meningkat dan mulai berangsur turun a. Koaborasi nebulizing dengan tim medis untuk pembersihan secret. Monitoring perubahan suhu tubuh. Hipertermi b. karakteristik sekret. perkembangan klien sebelum dilakukan operasi.d demam lokal/hangat area pipi. Kerjasama untuk menghilangkan penumpukan secret. c. c. Suhu tubuh harus dipantau secara efektif guna mengetahui perkembangan dan kemajuan dari pasien.d reaksi imun anafilaktik d. jumlah. Ronkhi (-) mengindikasikan tidak ada cairan/sekret pada paru. e. Ajarkan batuk efektif.bergantian kiri kanan. Evaluasi suara napas. 50 . d.

keseimbangan cairan dalam tubuh dengan pemasangan infus. suhu tubuh meningkat maka tubuh akan kehilangan cairan lebih banyak. d.Tujuan jangka panjang : Dalam 3x24 jam suhu tubuh klien kembali dalam keadaan normal b. Antibiotik berperan penting dalam mengatasi d. Mempertahankan b. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik guna mengurangi proses peradangan (inflamasi). c. Apabila c. 51 . Cairan dalam tubuh sangat penting guna menjaga homeostasis (keseimbangan) tubuh. Jika metabolisme dalam tubuh berjalan sempurna maka tingkat kekebalan/ sistem imun bisa melawan semua benda asing (antigen) yang masuk. Anjurkan pada pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang optimal sehingga metabolisme dalam tubuh dapat berjalan lancar proses peradangan (inflamasi).

Golderg AN. Data Obat Indonesia. http://www.entdoctor. 1995.com. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Pedoman Obat Untuk Perawat. Fungsional endoscopic sinus surgery. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Kepala. 2007. Tenggorokan. 2006. Jakarta : HTA Indonesia Pletcher SD. Pengobatan Sinusitis. Jakarta : EGC Ghorayeb B. Judith Hopfer.com/AnatomiSinuses.majalah-farmacia.Leher. Jakarta : EGC 52 . (Diakses tanggal 17 agustus 2011) Anonim. Sinusitis. Jakarta : EGC Dongoes. (Diakses tanggal 17 Agustus 2011) Mangunkusumo E. Rencana Asuhan Keperawatan. Marilyn E.H. 2004. http//:www. Sinusitis. Sinusitis. http://kedokteran. 2003. Jakarta : PT Mulia Purna Jaya Terbit Swartz. 2006. Perhati. (Diakses tanggal 16 Agustus 2011) Anonim.spot. http://putrisayangbunda.html.blog. (Diakses tanggal 17 Agustus 2011) Anonim.DAFTAR PUSTAKA Anonim. The Diagnosis and Treatment of Sinusitis In advanced Studies in Medicine. 2011. Askep Sinusitis. ( Diakses tanggal 16 Agustus 2011) Damayanti S. 2011. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2008. Jakarta: Balai Penerbit FKUI Deglin. M. Jakarta :EGC Purwanto Hardjosaputra. 2008.com. Hidung.com. & Endang M. 2011.com. 2011. Telinga. 1999.dkk.ghorayeb. Soetjipto D.http://www.