TUGAS PERENCANAAN PAJAK

Perhitungan Sanksi Administrasi PPh pasal 21,25 dan PPN

Oleh: KP A Hendrygo Julianto Ferdian Putera Nency Tjendra Edwin Swadaya K. (3063009) (3063038) (3063051) (3063061)

Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya 2010

1

PENDAHULUAN

Sebagian besar negara di dunia ini memiliki sistem perpajakan untuk membiayai pengeluaran pemerintahnya. Tidak terkecuali dengan Indonesia di mana pajak menjadi tulang punggung untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran pemerintah dalam rangka menyediakan barang publik dan jasa publik. Oleh karena itu, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak semakin fokus mendorong kepatuhan pembayaran pajak, khususnya wajib pajak (WP) badan. Saat ini, Ditjen Pajak telah menyiapkan indikator penguji atau benchmark pembayaran pajak untuk 50 sektor usaha. Saat ini, bisnis dan pajak tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Di mana ada potensi keuntungan ekonomis, di situ biasanya akan ada kegiatan bisnis. Di mana pun ada bisnis di situ ada pajak yang mewakili kepentingan negara. Semua kegiatan berbisnis tidak akan luput dari kewajiban pajak. Bahkan Pajak memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam bisnis. Artinya pajak bisa mempengaruhi kelangsungan bisnis seorang pengusaha. Banyak contoh kasus di lapangan yang sudah terjadi, ada perusahaan yang terpaksa ditutup hanya karena persoalan perpajakan, terlepas mana yang salah, pengusahanya atau sistem perpajakannya. Oleh karena itu diperlukan perencanaan pajak (tax planning) agar

perencanaan pemenuhan kewajiban perpajakan secara lengkap, benar, dan tepat waktu sehingga dapat secara optimal menghindari pemborosan sumber daya dan pajak berada dalam jumlah yang minimal, tetapi masih dalam bingkai peraturan perpajakan.

2

LANDASAN TEORI Sanksi perpajakan Sanksi perpajakan merupakan jaminan bahwa ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan (norma perpajakan) akan dituruti/ditaati/dipatuhi. Atau bisa dengan kata lain sanksi perpajakan merupakan alat pencegah (preventif) agar Wajib Pajak tidak melanggar norma perpajakan. Dalam undang-undang perpajakan dikenal dua macam sanksi, yaitu Sanksi Administrasi dan Sanksi Pidana. Ancaman terhadap pelanggaran suatu norma perpajakan ada yang diancam dengan sanksi administrasi saja, ada yang diancam dengan sanksi pidana saja, dan ada pula yang diancam dengan sanksi administrasi dan sanksi pidana. Perbedaan sanksi administrasi dan sanksi pidana adalah: Sanksi administrasi Merupakan pembayaran kerugian kepada negara, khususnya yang berupa bunga dan kenaikan. Sanksi pidana Merupakan siksaan atau penderitaan. Merupakan suatu alat terakhir atau benteng hukum yang digunakan fiskus agar norma perpajakan dipatuhi. Menurut ketentuan dalam undang-undang perpajakan ada 3 macam sanksi administrasi, yaitu berupa denda, bunga, dan kenaikan.

3

Sanksi Karena Tidak lapor/ Telat Lapor SPT Pasal 3 ayat 3 UU KUP No 28 Tahun 2007. Batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan adalah: - untuk SPT Masa, paling lama 20 hari setelah akhir Masa Pajak; - untuk SPT Tahunan PPh WP OP, paling lama 3 bulan setelah akhir Tahun Pajak; atau - untuk SPT Tahunan PPh WP badan, paling lama 4 bulan setelah akhir Tahun Pajak. Jika pelaporan melewati batas waktu yang telah ditentukan, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar, Rp 500.000 untuk SPT Masa PPN; Rp 100.000 untuk SPT Masa lainnya; Rp 1.000.000 untuk SPT Tahunan PPh WP badan; dan Rp 100.000 untuk SPT Tahunan PPh WP OP Jika WP karena kealpaan, tidak melapor SPT atau melaporkan SPT namun isinya tidak benar atau kurang lengkap, tidak dikenai sanksi pidana jika perbuatannya tersebut dilakukan pertama kali oleh WP. WP diharuskan melunasi kurang bayar pajak yang terutang beserta sanksi administrasi sebesar 200% dari jumlah pajak yang kurang bayar tersebut berdasar penerbitan SKPKB. (ref: UU KUP No 28 Tahun 2007 pasal 13A) Jika WP karena kealpaan, tidak melapor SPT atau melaporkan SPT namun isinya tidak benar atau kurang lengkap, dan perbuatannya tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan pertama (seperti yang dimaksud dalam pasal 13A), dikenai denda min 1x jumlah pajak terutang yang kurang bayar dan max 2x jumlah pajak terutang yang kurang bayar, atau pidana penjara min 3 bulan dan max 1 tahun. (ref: UU KUP No 28 Tahun 2007 pasal 38)

4

Jika WP dengan sengaja tidak melapor SPT, dipidana penjara min 6 bulan dan max 6 tahun, serta denda min 2x jumlah pajak terutang yang kurang bayar dan max 4x jumlah pajak terutang yang kurang bayar (ref: UU KUP No 28 Tahun 2007 pasal 39 ayat 1c) Pengenaan sanksi administrasi berupa denda tidak dilakukan terhadap: a. WP OP yang telah meninggal dunia; b. WP OP yang sudah tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas; c. WP OP yang berstatus sebagai warga negara asing yang tidak tinggal lagi di Indonesia; d. BUT yang tidak melakukan kegiatan lagi di Indonesia; e. WP badan yang tidak melakukan kegiatan usaha lagi tetapi belum dibubarkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku; f. Bendahara yang tidak melakukan pembayaran lagi; g. WP yang terkena bencana, yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan; atau h. WP lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Sanksi Administrasi Perpajakan

No Pasal Masalah Denda 1 7 (1) SPT Terlambat disampaikan : a. Masa b. Tahunan 2 8 (3) Pembetulan sendiri dan belum disidik 3 14 (4) a. Pengusaha kena PPN tidak PKP

Sanksi Ket. Rp. 50.000 Rp. 100.000 200% 2%

Per SPT Per SPT Dari jumlah pajak yang kurang dibayar Dari DPP

b. Pengusaha tidak PKP buat faktur2% pajak

5

c. PKP tidak buat faktur atau faktur 2% tidak lengkap Bunga Per bulan, dari jumlah 1 8 (2) Pembetulan SPT dalam 2 tahun 2% pajak yang kurang dibayar Per bulan, dari jumlah pajak terutang Per bulan, dari jumlah kurang dibayar, max 24 bulan Dari jumlah paak yang tidak mau atau kurang dibayar. Per bulan, dari jumlah pajak tidak/kurang dibayr, max 24 bulan Per bulan, dari jumlah pajak tidak/kurang dibayr, max 24 bulan Dari jumlah pajak yang tidak dibayar SK Pembetulan, Banding SK Putusan Per bulan, atas jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar Per bulan, bagian dari Mengangsur atau menunda Kekurangan pajak akibat penundaan 2% bulan dihitung penuh 1 bulan Atas kekurangan atau kurang

2 9 (2a) 13 (2) 13 (5) 14 (3)

Keterlambatan pembayaran pajak masa 2% dan tahunan Kekurangan pembayaran pajak dalam 2% SKPKB SKPKB diterbitkan setelah lewat waktu 10 tahun karena adanya tindak pidana

3

4

48%

5

a. PPh tahunn berjalan tidak/kurang 2% bayar

b. SPT kurang bayar SKPKBT pidana SKPKB/T, Keberatan, dibayar 8 19 (2) 19 diterbitkan setelah lewat

2%

6

15 (4)

waktu 10 tahun karena adanya tindak48%

7

19 (1)

yang 2% menyebabkan kurang bayar terlambat

9

(3) SPT Kenaikan 1 8 (5) Pengungkapan ketidak benaran SPT50% setelah lewat 2 tahun sebelum terbitnya

2%

pembayaran pajak Dari pajak yang kurang dibayar

6

SKP Apabila: 13 (3) teguran,

SPT

tidak

disampaikan dalam yang surat tidak

sebagaimana 2

disebut

PPN/PPnBM

seharusnya dikompensasikan atau tidak tarif 0%, tidak terpenuhinya Pasal 28 dan 29 a. PPh yang tidak atau kurang dibayar 50% Dari PPh yang tidak/kurang dibayar Dari PPh yang tidak/kurang dipotong/dipungut Dari PPN/PPnBM yang tidak atau kurang dibayar Dari jumlah kekurangan pajak tersebut

b. tidak/kurang dipotong/ dipungut/ 100% disetorkan c. PPN/PPnBM tidak atau kurang 100% dibayar 3 15 (2) Kekurangan pajak pada SKPKBT 100%

Penghapusan atau Pengurangan Sanksi Administrasi Dalam ketentuan perpajakan dikenal adanya sanksi administrasi yang dikenakan terhadap Wajib Pajak yang tidak memenuhi ketentuan tertentu dalam Undang-undang Perpajakan. Dalam prakteknya, pengenaan sanksi administrasi ini bisa terjadi bukan karena kesalahan Wajib Pajak atau akibat kekhilafan Wajib Pajak sendiri. Dalam hal terjadi hal seperti ini Wajib Pajak memiliki hak untuk mengajukan permohonan untuk mengurangkan atau penghapuskan sanksi administrasi. Pasal 36 ayat (1) huruf a Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 memberikan landasan bagi Wajib Pajak untuk menyelesaikan masalah ini dengan ketentuan bahwa pengajuan ini paling banyak hanya boleh dilakukan sebanyak dua kali. Pasal 36 ayat (1d) memberikan waktu kepada Direktur Jenderal Pajak untuk menyelesaikan permohonan ini dalam jangka waktu enam bulan sejak surat permohonan diterima. Apabila dalam jangka waktu di atas tidak ada keputusan maka permohonan Wajib Pajak dianggap diterima.
7

Ruang Lingkup Sanksi administrasi yang dapat dikurangkan atau dihapuskan meliputi sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan/atau kenaikan yang dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahan Wajib Pajak yang tercantum dalam STP, SKPKB atau SKPKBT. Pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi yang tercantum dalam Surat SKPKB atau SKPKBT hanya dapat dilakukan dalam hal surat ketetapan pajak tersebut : 1. tidak diajukan keberatan; 2. diajukan keberatan, tetapi telah dicabut oleh Wajib Pajak; atau 3. diajukan keberatan, tetapi tidak memenuhi ketentuan formal permohonan keberatan Syarat Permohonan 1. 1 (satu) permohonan untuk 1 (satu) Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan; 2. 3. permohonan harus diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia permohonan harus disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat dengan memberikan alasan yang mendukung permohonannya; Wajib Pajak terdaftar; 4. Wajib Pajak telah melunasi pajak yang terutang; dan 5. surat permohonan ditandatangani oleh Wajib Pajak, dan dalam hal surat permohonan ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak, surat permohonan tersebut harus dilampiri dengan surat kuasa khusus. Keputusan Keputusan yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak dapat berupa mengabulkan sebagian atau seluruhnya, atau menolak permohonan Wajib Pajak. Namun demikian, Wajib Pajak dapat meminta secara tertulis kepada Direktur

8

Jenderal Pajak mengenai alasan yang menjadi dasar untuk menolak atau mengabulkan sebagian permohonan Wajib Pajak dan Direktur Jenderal Pajak harus memberikan keterangan secara tertulis atas permintaan Wajib Pajak tersebut . Penghapusan Atau Pengurangan Sanksi Secara Jabatan Direktur Jenderal Pajak dapat menghapuskan atau mengurangkan sanksi administrasi secara jabatan dalam hal pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi dilakukan apabila diterbitkan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Pengurangan/Pembatalan Ketetapan Pajak yang tidak benar, atau Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali, yang mengakibatkan pajak yang masih harus dibayar berkurang atau dibatalkan, yang terkait dengan : 1. 2. diterbitkannya surat ketetapan pajak karena Pengusaha Kena Pajak Wajib Pajak dikenakan sanksi bunga penagihan sesuai ketentuan Pasal tidak membuat faktur pajak; dan 19 ayat (1) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007..

Dasar Hukum : · Pasal 36 Ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 · Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/PMK.03/2008 Tanggal 6 Pebruari 2008 Tentang Tata Cara Pengurangan Atau Penghapusan Sanksi Administrasi, Pengurangan Atau Pembatalan Surat Ketetapan Pajak Atau Surat Tagihan Pajak Yang Tidak Benar, Dan Pembatalan Hasil Pemeriksaan

9

PEMBAHASAN

Sanksi administrasi yang sering dikenakan terhadap Wajib Pajak adalah sanksi yang terkait dengan keterlambatan pembayaran pajak dan pelaporan pajak. Seperti diketahui, atas keterlambatan pembayaran pajak akan dikenakan sanksi Pasal 9 ayat (2a) Undang-undang KUP. Sementara atas keterlambatan menyampaikan SPT akan dikenakan sanksi berupa denda Pasal 7 Undang-undang KUP. contoh kasus perhitungan sanksi administrasi berupa bunga dan denda atas keterlambatan pembayaran pajak dan/atau pelaporan pajak berdasarkan ketentuan yang berlaku. Misalkan Wajib Pajak PT ABC melakukan aktivitas terkait dengan kewajiban pajak pada bulan Mei 2008 sebagai berikut.

SPT Masa PPh Pasal 21 bulan April 2008 dengan nilai pelaporan Rp25.450.000,- disetorkan pada tanggal 12 Mei 2008 dan dilaporkan pada tanggal 21 Mei 2008.

SPT Masa PPh Pasal 25 bulan April 2008 senilai Rp56.260.000,dibayarkan pada tanggal 16 Mei 2008 dan dilaporkan pada tanggal 21 Mei 2008.

SPT Masa PPN bulan April 2008 yang menunjukkan kurang bayar Rp120.630.000,- dilunasi pada tanggal 16 Mei 2008 dan dilaporkan pada tanggal 23 Mei 2008.

Berdasarkan data di atas, maka perhitungan sanksi yang akan dilakukan oleh petugas KPP tempat PT ABC terdaftar adalah sebagai berikut. PPh Pasal 21 : Jatuh tempo penyetoran PPh Pasal 21 adalah tanggal 10 bulan berikutnya. Namun demikian, pada bulan Mei 2008 tanggal 10 jatuh pada hari Sabtu sehingga tanggal

10

jatuh temponya menjadi hari Senin tanggal 12 Mei 2008. PT ABC menyetor PPh Pasal 21 tepat pada tanggal jatuh tempo sehingga tidak dikenakan sanksi bunga. Tanggal jatuh tempo pelaporan PPh Pasal 21 adalah tanggal 20 bulan berikutnya. Namun karena tannggal 20 Mei jatuh pada hari libur Nasional (tanggal merah), maka jatuh tempo pelaporan bergeser menjadi tanggal 21 Mei 2008. PT ABC melaporkan SPT PPh Pasal 21 bulan April 2008 pada tanggal 21 Mei 2008 yang berarti tepat pada tanggal jatuh tempo. Dengan demikian, tak ada sanksi denda Pasal 7 untuk PPh Pasal 21. PPh Pasal 25 : Tanggal jatuh tempo pembayaran PPh Pasal 25 April 2008 adalah tanggal 15 Mei 2008. Sementara itu PT ABC membayar pada tanggal 16 Mei 2008 yang berarti terlambat 1 hari. Keterlambatan satu hari ini dibulatkan ke atas menjadi satu bulan sehingga sanksi bunganya adalah : 2% x 1 bulan x Rp56.250.000,- = Rp1.125.000,Pelaporan PPh Pasal 25 dilakukan setelah tanggal jatuh tempo yaitu tanggal 21 Mei 2008 sehingga dikenakan sanksi denda sebesar Rp100.000,-. PPN : Penyetoran PPN dilakukan pada tanggal 16 Mei yang berarti terlambat satu hari karena tanggal jatuh tempo penyetoran PPN adalah tanggal 15 bulan berikutnya. Dengan demikian sanksi bunga yang dikenakan adalah : 2% x 1 bulan x Rp120.630.000,- = Rp2.412.600,SPT Masa PPN April 2008 disampaikan tanggal 23 Mei 2008 sehingga pelaporan PPN ini terlambat. Sanksi denda Pasal 7 yang dikenakan adalah Rp500.000,-.

11

KESIMPULAN

Sanksi perpajakan merupakan jaminan bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (norma perpajakan) akan dituruti/ditaati/dipatuhi. Atau bisa dengan kata lain sanksi perpajakan merupakan alat pencegah (preventif) agar Wajib Pajak tidak melanggar norma perpajakan. Dalam undang-undang perpajakan dikenal dua macam sanksi, yaitu Sanksi Administrasi dan Sanksi Pidana. Ancaman terhadap pelanggaran suatu norma perpajakan ada yang diancam dengan sanksi administrasi saja, ada yang diancam dengan sanksi pidana saja, dan ada pula yang diancam dengan sanksi administrasi dan sanksi pidana. Sanksi administrasi yang sering dikenakan terhadap Wajib Pajak adalah sanksi yang terkait dengan keterlambatan pembayaran pajak dan pelaporan pajak. Seperti diketahui, atas keterlambatan pembayaran pajak akan dikenakan sanksi Pasal 9 ayat (2a) Undang-undang KUP. Sementara atas keterlambatan menyampaikan SPT akan dikenakan sanksi berupa denda Pasal 7 Undang-undang KUP. Jika pelaporan melewati batas waktu yang telah ditentukan, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar,Rp 500.000 untuk SPT Masa PPN;Rp 100.000 untuk SPT Masa lainnya;Rp 1.000.000 untuk SPT Tahunan PPh WP badan; dan Rp 100.000 untuk SPT Tahunan PPh WP OP

12

DAFTAR PUSTAKA http://dokterpajak.com/tag/sanksi-administrasi/ diakses tanggal 4 Juni 2010 http://www.pajakonline.com/engine/learning/view.php?id=652 diakses tanggal 4 Juni 2010 http://dudiwahyudi.com/pajak/ketentuan-umum-dan-tatacaraperpajakan/penghapusan-atau-pengurangan-sanksi-administrasi.html tanggal 4 Juni 2010 diakses

13