BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Setiap negara di dunia adalah saling membutuhkan untuk melakukan hubungan perdagangan internasional. Hal ini dikarenakan setiap negara tidak mampu memenuhi semua kebutuhannya sendiri. Maka perdagangan internasional dilakukan dengan tujuan memperoleh barang dan/atau jasa yang tidak dapat dihasilkan didalam negeri, mengimpor teknologi yang lebih modern dari negara lain, memperluas pasar produk-produk dalam negeri, dan memperoleh keuntungan spesialisasi. Perdagangan internasional semakin mudah dilakukan seiring dengan berkembangnya globalisasi, dimana seperti tidak adanya batas antar negara di dunia. Hubungan perdagangan internasional, tidak akan pernah terlepas dari nilai tukar mata uang suatu negara dengan negara lain atau yang biasa dikenal dengan kurs. Perbedaan kurs pada prinsipnya ditentukan oleh besarnya permintaan dan penawaran mata uang tersebut (Levi, 1996:129). Kurs merupakan salah satu harga penting dalam perekonomian terbuka, karena ditentukan oleh adanya keseimbangan antara permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar. Kurs dapat dijadikan alat untuk mengukur kondisi perekonomian suatu negara. Pertumbuhan nilai mata uang yang stabil menunjukkan bahwa negara tersebut memiliki kondisi ekonomi yang relatif baik atau stabil (Salvator, 1997:10). Seperti negara-negara lain didunia, Indonesia juga melakukan hubungan perdagangan dengan negara lain, salah satunya adalah dengan Negara Jepang. Indonesia-Jepang melakukan hubungan perdagangan baik dari sektor migas maupun non-migas. Ekspor Indonesia ke Jepang untuk non-migas, komoditi yang diperdagangkan meliputi hasil-hasil kelautan, bijih logam, batu bara, kayu, gabus, mesin-mesin listrik, dan alat-alat lainnya. Sebaliknya, Indonesia mengimpor beberapa komoditas dari Jepang, meliputi besi dan baja, mesin industri, dan kendaraan bermotor. Setiap tahunnya, hubungan perdagangan antara kedua negara, mengalami peningkatan volume. Baik dari sisi ekspor Indonesia ke Jepang maupun Impor Indonesia 1

dari Jepang. Berikut persentase ekspor Indonesia ke Jepang dan impor Indonesia dari Jepang berdasarkan total nilai ekspor-impor non migas.

Tabel 1: Hubungan Perdagangan antara Indonesia-Jepang

Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

Ekspor (%) 7.9 8.0 7.8 6.4 11.6 12.9 15.1 17.0

Impor (%) 9.7 6.6 6.0 8.7 12.5 15.4 15.0 16.7

Sumber: Bank Indonesia, data diolah Dari tabel diatas terlihat bahwa setiap tahun terjadi peningkatan nilai ekspor dan impor antara Indonesia dan Jepang. Tentunya, ketika melakukan hubungan perdagangan terjadi kompleksitas system pembayaran.

Kompleksitas sistem pembayaran dalam perdagangan internasional semakin bertambah tinggi dalam kondisi perekonomian global. Hal tersebut terjadi akibat makin besarnya volume dan keanekaragaman barang dan jasa yang diperdagangkan. Oleh karena itu, upaya untuk meraih manfaat dari globalisasi ekonomi harus didahului upaya untuk menentukan kurs valas pada tingkat yang menguntungkan. Upaya penentuan kurs valas menjadi pertimbangan penting bagi negara yang terlibat dalam perdagangan internasional karena kurs valas berpengaruh besar pada biaya dan manfaat dalam perdagangan internasional (Sri Isnowati, 2002:1). Di Indonesia, ada tiga sistem yang dipergunakan dalam kebijakan nilai tukar rupiah sejak tahun 1971 hingga sekarang. Antara tahun 1971-1978 dianut sistem tukar tetap (fixed exchange rate) dimana nilai rupiah secara

2

langsung dikaitkan dengan dollar Amerika Serikat (USD). Sejak 15 November 1978 sistem nilai tukar diubah menjadi mengambang terkendali (managed floating exchange rate) dimana nilai tukar rupiah tidak lagi semata-mata dikaitkan dengan USD. Dengan sistem nilai tukar ini, meskipun diarahkan ke sistem nilai tukar mengambang bebas tapi Bank Indonesia masih melakukan pengendalian secara berkala, selektif, dan pada waktu yang tepat. Sistem yang ketiga dalah sistem nilai tukar mengambang bebas (purely free floating exchange rate). Sistem nilai tukar ini, kurang efektif jika diterapkan di Indonesia karena melihat segala dampak dari sistem itu sendiri dan kondisi/struktur perekonomian Indonesia yang sulit untuk menerapkannya. Sehingga kemungkinan Bank Indonesia akan bertahan untuk menerapkan sistem manage floating axchange rate. Hubungan perdagangan antara dua negara, secara langsung akan mempengaruhi nilai tukar mata uang antara dua negara yang bersangkutan. Seiring dengan meningkatnya nilai impor Indonesia, membuat rupiah mengalami depresiasi. Hal ini dikarenakan semakin tinggi tingkat

pertumbuhan pendapatan (relative terhadap negara lain) makin besar pula permintaan akan impor sehingga permintaan akan valuta asing juga mengalami peningkatan. Kurs valuta asing cenderung meningkat dan harga mata uang sendiri turun. (Nopirin, 1997:148)

Grafik 1: Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Yen
14000.00 12000.00 10000.00 8000.00 6000.00 4000.00 2000.00 0.00 Q1 Q3 Q1 Q3 Q1 Q3 Q1 Q3 Q1 Q3 Q1 Q3 Q1 Q3 Q1 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

3

Grafik 2: Fluktuasi Kurs Rupiah Terhadap Dolar Amerika Serikat
14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 Q1 Q3 Q1 Q3 Q1 Q3 Q1 Q3 Q1 Q3 Q1 Q3 Q1 Q3 Q1 2005 2006 2007 2008 2009 2010 20112012

Sumber: Bank Indonesia, data diolah Dari grafik 1 dan 2 dapat dijelaskan bahwa selama periode penelitian, perubahan nilai tukar rupiah terhadap yen lebih fluktuatif dibandingkan perubahan nilai tukar anatara rupiah dengan dolar AS. Grafik 1 menjelaskan bahwa semenjak tahun 2007, rupiah terus mengalami depresiasi terhadap yen. Bahkan mulai tahun 2009, nilai tukar rupiah terhadap yen selalu diatas Rp 10,000. Jika dihubungkan dengan tabel 1, ekspor-impor Indonesia ke dan dari Jepang juga menunjukkan peningkatan. Sementara dari grafik 2 dapat disimpulkan bahwa pada periode yang sama rupiah cenderung stabil terhadap dolar. Pada periode penelitian tahun 2008 tengah terjadi krisis global. Hal ini menyebabkan Indonesia juga terkena dampaknya. Pada tahun tersebut rupiah mengalami depresiasi terhadap bebarapa mata uang negara lain. Namun, dalam jangka pendek perubahan dalam nilai tukar baik itu depresiasi maupun apresiasi dapat disebabkan oleh banyak faktor baik faktor fundamental maupun non fundamental. Faktor fundamental atau faktor ekonomi yang dapat mempengaruhi adalah tingkat inflasi, tingkat suku bunga, jumlah uang beredar, aliran modal yang masuk maupun keluar, posisi neraca pembayaran internasional Indonesia serta kebijakan-kebijakan moneter yang dijalankan pemerintah. Sedangkan faktor non fundamental antara lain faktor psikologis, faktor sosial-politik dan keamanan negara.

4

4. b. cadangan devisa. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat. inflasi. total nilai ekspor 5 .2. Untuk menganalisis bagaimana pengaruh variabel perbedaan suku bunga riil. inflasi. 1. total nilai ekspor dan total nilai impor terhadap fluktuasi kurs rupiah Indonesia-yen Jepang. Masalah-masalah tersebut antara lain: 1. Output dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sebuah pemahaman mengenai pengaruh variabel perbedaan suku bunga riil. cadangan devisa. Variabel apakah yang paling dominan mempengaruhi fluktuasi kurs rupiah terhadap yen? 1. Rumusan Masalah Dari latar belakang yang telah diuraikan sebelumnnya dapat ditarik adanya beberapa permasalahan yang dapat dibahas dan diteliti lebih lanjut.Sehubungan dengan fenomena diatas. Seberapa besar pengaruh masing-masing variabel dalam mempengaruhi fluktuasi kurs rupiah terhadap yen? 2.3. Manfaat Akademis a. total nilai ekspor dan total nilai impor terhadap fluktuasi kurs rupiah Indonesia-yen Jepang. Untuk mengetahui bariabel yang paling dominan mempengaruhi perubahan nilai tukar rupiah terhadap yen. inflasi. adapun kontribusi penelitian yang ingin dicapai adalah: 1. cadangan devisa. cadangan devisa. inflasi. maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pengaruh variabel perbedaan suku bunga riil. 2. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin diperoleh dalam penelitian ini adalah: 1. total nilai ekspor dan total nilai impor terhadap fluktuasi kurs rupiah Indonesia-yen Jepang. Sebagai bahan kajian dan sumbangan pemikiran yang berkaitan dengan perhitungan seberapa besar pengaruh pengaruh variabel perbedaan suku bunga riil. 1.

dan total nilai impor terhadap fluktuasi kurs rupiah Indonesia-yen Jepang. Bagi peneliti: untuk menumbuhkembangkan sikap kritis peneliti terhadap pengaruh variabel perbedaan suku bunga riil. Bagi Lembaga (BI dan pemerintahan): Dapat dijadikan sumber informasi tambahan untuk menentukan alat intervensi yang paling tepat dalam menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Sebagai bahan bacaan dan referensi bagi peneliti yang selanjutnya dalam tema yang sama. 6 . 2. Manfaat Praktis a. b. total nilai ekspor dan total nilai impor terhadap fluktuasi kurs rupiah Indonesia-yen Jepang. inflasi. cadangan devisa. c.

Depresiasi mata uang rupiah terhadap yen berarti menurunnya nilai rupiah terhadap yen Jepang. poundsterling-Inggris dan franc-Perancis.1 Pengertian Valuta Asing dan Kurs Valuta asing (valas) atau sering disebut foreign exhange (forex) adalah mata uang asing dan alat pembayaran lainnya yang digunakan untuk melakukan transaksi ekonomi keuangan internasional dan ada catatan nilai tukar secara resmi dari bank sentral. Pada umumnya mata uang keras adalah mata uang dari negara-negara kelompok industri maju. Kurs adalah pertukaran antara dua mata uang yang berbeda. Berikut landasan teori yang digunakan dalam penelitian. yaitu merupakan perbandingan nilai mata atau harga antara mata uang tersebut. Hal ini akan menyebabkan harga barang-barang domestik menjadi lebih mahal bagi pihak luar negeri. Mata uang yang sering digunakan dalam transaksi perdagangan internasional dianggap sebagai mata uang keras (hard currency). Nilai tukar biasanya berubah-ubah. 2.BAB II KAJIAN TEORI 2. Sebaliknya amta uang yang jarang digunakan untuk transaksi tersebut dianggap sebagai mata uang lemah (soft currency) yang nilainya relatif tidak stabil bahkan sering mengalami depresiasi terhadap mata 7 . Deperisi mata uang negara membuat harga barang-barang domestik menjadi lebih murah bagi pihak asing. “Hard currency is a currency that freely traded without may restrictions and for which there is usually strong external demand. Jadi. deutchmark-Jerman.1. yaitu dollar-Amerika. dapat berupa apresiasi maupun depresiasi. Sedangkan apresiasi mata uang rupiah terhadap yen artinya kenaikan harga rupiah terhadap yen Jepang. 2002:2). mata uang tersebut nilainya stabil dan bahkan cenderung mengalami apresiasi terhadap mata uang negara lain. yen-Jepang. Hard currencies are often called freely convertible currencies” (Adwin.1 Landasan Teori Landasan teori sangat penting digunakan sebagai acuan dalam melakukan penelitian kuantitatif.

2. Perubahan tingkat suku bunga ini akan berpengaruh pada perubahan jumlah permintaan dan penawaran di pasar uang domestik. 101). tingkat bunga domestik (i) cenderung disamakan dengan tingkat bunga luar negeri (i*) dengan memperhitungkan perkiraan laju depresiasi mata uang negara yang bersangkutan terhadap negara lain (Baile dan McMohan. Faisal 2001). Perbedaan tingkat suku bunga akan berdampak pada perubahan jumlah investasi di suatu negara. 3.1. Paritas suku bunga (interest rate parity) merupakan teori yang paling dikenal dalam keuangan internasional. Doktrin paritas suku bunga ini mendasarkan nilai kurs berdasarkan tingkat bunga antar negara yang bersangkutan. Apabila dalam suatu negara terjadi peningkatan aliran modal masuk (capital inflows) dari luar negeri. peso-Filipina. dapat disimpulkan bahwa teori paritas suku bunga adalah hubungan antara tingkat suku bunga domestik dan luar negeri yang dapat 8 .uang negara lain. p. bath-Thailand. Maka.2 Teori Paritas Suku Bunga (Interest Rate Parity) Terdapat beberapa pendapat mengenai pengertian teori paritas suku bunga menurut beberapa ilmuwan ekonomi. hal ini menyebabkan terjadinya perubahan nilai tukar mata uang negara tersebut terhadap mata uang asing di pasar valuta asing (Madura. Misalnya rupiah-Indonesia. yakni: 1. Interest Rate Parity menyatakan bahwa tingkat bunga relatif menentukan relativitas antara kurs forward dan kurs spot. 1986:20-26). 2000. baik yang berasal dari investor domestik maupun dari investor asing. Interest Rate Parity (paritas tingkat suku bunga) menghubungkan tingkat suku bunga domestik dan luar negeri beserta perubahan nilai tukar yang diharapkan dari nilai mata uang domestik terhadap mata uang asing (M. khususnya pada jenis investasi portfolio yang umunya berjangka pendek. 2. Dalam negara dengan sistem kurs valas bebas. Umumnya mata uang ini adalah mata uang negara-negara kelompok negara berkembang.

Hubungan tersebut dijelaskan secara matematik dalam persamaan berikut: iD = iF – Et+1 – Et Et Dimana: iD iF = Tingkat suku bunga riil domestik = Tingkat suku bunga riil asing Et+1 – Et Et = Ekspektasi apresiasi mata uang domestik Artinya. konsep yang akan digunakan adalah konsep paritas suku bunga tertutup. baik investasi domestik maupun asing. Teori paritas suku bunga terdiri dari dua bentuk yaitu paritas suku bunga tertutup (covered interest rate parity) dan paritas suku bunga tidak tertutup (uncovered interest rate parity). Dalam teori paritas suku bunga tidak tertutup. Paritas suku bunga tertutup dipandang sebagai dasar yang lebih relevan untuk menjelaskan kurs valas. Selanjutnya. diasumsikan pasar yang efisien terjadi bila kurs forward merupakan peramal yang tidak bias untuk nilai kurs spot pada masa yang akan datang. pasti terlebih dahulu akan memperhitungkan Expected Return yang akan diperoleh.berpengaruh pada nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing. Investor yang akan melakukan kegiatan investasi. 9 . Dalam menjelaskan keberlakuan teori paritas suku bunga antar negara. Paritas Suku Bunga Tertutup (Covered Interest Rate Parity) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kurs spot. Untuk dapat dibandingkan. Paritas Suku Bunga Tidak Tertutup (Uncovered Interest Rate Parity) juga digunakan untuk menganalisis model kurs valas. dan variabel suku bunga. Paritas suku bunga tertutup ini menjelaskan hubungan yang erat antara suku bunga dengan pergerakan kurs spot dan kurs forward mata uang tertentu khususnya mata uang keras (hard currency) seperti dolar Amerika dan Yen Jepang. kurs forward. tingkat suku bunga riil domestik dipengaruhi oleh tingkat suku bunga riil asing dikurangi ekspektasi apresiasi mata uang domestik. yang paling mudah adalah melalui investasi internasional khususnya investasi portofolio.

2. maka akan terjadi pelarian modal ke luar negeri yang pada akhirnya akan berdampak melemahnya nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing. hasil dari perhitungan Expected Return antara deposito domestik dan deposito asing adalah sama jika risiko valas diabaikan. Tidak adanya perbedaan dalam pengendalian/pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap sistem moneter. 3. 2. akibat adanya daya beli konsumen untuk membeli produk domestik akan sama dengan daya beli untuk membeli produk luar negeri. sistem perpajakan dan resiko politis. Konsep paritas suku bunga sangat penting karena konsep tersebut menghubungkan antara kebijakan perubahan suku bunga dengan variabel kurs yang fluktuasinya dapat mempengaruhi perekonomian.maka nilai mata uang harus dikonversi ke dalam salah satu mata uang misalnya dikonversikan ke dalam Rupiah. Surat berharga dalam dan luar negeri dianggap mempunyai batas waktu dan resiko identik. Teori ini menyatakan bahwa nilai tukar akan meyesuaikan diri dari waktu ke waktu untuk mencerminkan selisih inflasi antara dua negara.3 Teori Purchasing Power Parity (PPP) Teori PPP diperkenalkan oleh Gustav Cassel yang menjelaskan hubungan antara harga komoditi dalam mata uang domestik (lokal) dengan dengan nilai tukar. hubungan antara suku bunga dan kurs dapat diuraikan sebagai berikut. Demikian juga sebaliknya jika suku bunga domestik lebih tinggi dari suku bunga asing maka diperkirakan akan menarik arus modal masuk sehingga akan memperkuat nilai tukar mata uang domestik. Asumsi utama yang mendasari teori PPP adalah pasar komoditi merupaka pasar 10 .1. dengan memperhatikan tingkat depresiasi nilai mata uang domestik terhadap mata uang luar negeri dan suku bunga domestik lebih kecil dari suku bunga asing. Secara teoritis. Menurut Baillie dan Mc Mahon (1998) ada beberapa asumsi yang mendasari terciptanya kondisi paritas suku bunga yaitu: 1. Tidak adanya biaya transaksi dalam valuta asing. Dalam teori paritas suku bunga.

yang efisien dilihat dari alokasi. Perbandingan harga hanya memerlukan suatu konversi satu mata uang ke mata uang lain. Sementara itu. Kurs valuta asing dinyatakan dalam nilai harga kedua negara: St = Pt / Pt* Dimana: St Pt dan Pt* = Kurs spot = harga rata-rata tertimbang dari komoditi di dua negara. teori PPP Relatif mengatakan persentase perubahan kurs nominal antara dua negara akan sama dengan persentase peubahan inflasi di antara kedua negara. harga produk biasanya dinyatakan dala mata uang yang berbeda. teori PPP absolute menerangkan kurs spot ditentukan oleh harga relatif dari sejumlah barang yang sama (ditunjukkan oleh indeks harga). (Tucker. namun harga produknya tetap masih sama. yaitu bentuk Absolute dan bentuk Relatif. 1991). operasional. Teori PPP Absolute menyatakan bahwa harga dari dua produk homogen di negara-negara yang berbeda akan sama jika diukur dalam valuta yang sama. PPP Relatif menerangkan bahwa harga-harga dan kurs mengalami perubahan sedemikian rupa sehingga nisbah daya beli domestik dan luar 11 . (* menunjukkan luar negeri). penentuan harga dan informasi. Artinya bila produk yang sama dijual pada pasar yang berbeda dan tidak ada hambatan dalam penjualan maupun biaya transportasi.1990). Dengan kata lain. bila indeks harga di kedua negara identik. Bila kedua pasar tersebut adalah dua negara berbeda. Dalam kaitannya dengan inflasi (kenaikan harga produk secara umum) dapat disimpulkan bahwa menurut teori ini suatu negara yang mata uangnya mengalami tingkat inflasi yang tinggi seharusnya mengurangi nilai mata uangnya relatif terhadap mata uang negara lain yang tingkat inflasinya lebih rendah. maka harga produk cenderung sama pada dua pasar tersebut. Oleh karena itu. the law of one price menjustifikasi teori PPP (Baillie dan McMahon. Dengan kalimat lain. Teori PPP dibedakan benjadi dua.

sehingga produk yang sama di negara yang berbeda tidak perlu menjadi sama bila diukur dengan mata uang yang sama. Madura (2000) mengatakan bahwa: "Country with high inflation rates have de-preciating currencies. dalam jangka panjang dapat diperkirakan bahwa ada hubungan antara tingkat harga dan nilai tukar yang didukung oleh kenyataan bahwa barang-barang dan jasa dapat dibeli di suatu negara atau di ne-gara lainnya sehingga hipotesis PPP lebih relevan jika diaplikasikan untuk mengamati pergerakan atau fluktuasi nliai tukar dalam jangka panjang daripada jangka pendek. dan kuota. asalkan faktor-faktor penyebab deviasi PPP absolut dari waktu ke waktu cukup stabil. perubahan-perubahan persentase tingkat-tingkat harga relatif rnasih dapat mem-perkirakan perubahan persentase kurs. PPP merupakan suatu temuan yang sangat berharga. tarif.” Menurut Lindert dan Kindleberger (1988:363).negeri dari setiap negara tetap bertahan. Dengan dermikian. 12 . and over the long run. harapan perubahan kurs valuta asing sama dengan harapan perbedaan inflasi: ∆ St = ∆ Pt . the rate of depreciation of the ex-change rate is approximately equal to the differential in national inflation rates. bentuk relatif teori paritas daya beli ini merupakan versi alternatif yang memperhitungkan kemungkinan ketidaksempurnaan pasar seperti biaya transportasi. Selain itu. Apabila dinyatakan dalam konteks future.∆ P*t Dimana: ∆ St = harapan perubahan kurs PPP Relatif ini penting karena ia dapat diterapkan sementara PPP absolut tidak. 2000:215). Untuk menunjukkan terjadinya konflik antara stabilisasi harga dalam negeri dengan stabilisasi nilai tukar. versi ini menyatakan bahwa tingkat perubahan dalam harga-harga produk seharusnya agak sama bila diukur dengan mata uang yang sama (Madura.

Komponen utamanya adalah neraca perdagangan. Sedangkan FW Paish memberikan penjelasan 13 . sedangkan hasil defisit menandakan telah terjadi aliran dana keluar netto ke luar negeri (Krugman. faktor analisis. Ketika posisi neraca pembayaran menunjukkan surplus maka akan mendorong apresiasi mata uang domestik. Hasil surplus menunjukkan adanya aliran dana valuta asing yang masuk netto di dalam perekonomian negara melalui transaksi financial & asset. Investasi asing jangka pendek mengukur arus dana yang diinvestasikan dalam sekuritas-sekuritas berjangka waktu kurang dari 1 tahun. Jika impor lebih tinggi dari ekspor maka yang terjadi adalah defisit neraca perdagangan. panawaran dan permintaan dari suatu mata uang dipengaruhi oleh: 1. termasuk investasi asing langsung dan pembelian sekuritas yang yang berjangka waktu jatuh tempo lebih dari 1 tahun. Posisi Neraca Pembayaran atau Balance of Payment Neraca Pembayaran (balance of payment) adalah ukuran semua transaksi antara penduduk dalam negeri dengan penduduk luar negeri selama periode waktu tertentu. yang terjadi adalah surplus neraca perdagangan. Neraca pembayaran dibagi menjadi dua komponen yaitu neraca berjalan dan neraca modal.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar dan Hubungannya Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar adalah faktor-faktor atau kondisi seperti faktor fundamental. Investasi luar negeri jangak panjang mengukur semua investasi modal antar negara. 2000:23). Selisih Tingkat Inflasi Pengertian mengenai inflasi dalam ruang lingkup ilmu ekonomi banyak sekali dijumpai. Sedangkan secara tidak langsung.2.1. 2. Neraca modal (capital account) mencerminkan perubahan-perubahan dalam kepemilikan aset jangka pendek dan jangka panjang. Sebaliknya jika ekspor lebih tinggi dari impor. yaitu selisih antara ekspor dan impor. faktor psikologis dan faktor spekulasi. Menurut Lehner adalah keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan terhadap barang dalam suatu perekonomian secara keseluruhan. Neraca berjalan (current account) adalah ukuran perdagangan barang dan jasa internasional suatu negara.

bukan dalam artian satu atau dua jenis barang. Hal ini akan mengakibatkan meningkatnya permintaan terhadap valuta asing (Madura. melainkan secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama. b. harga dalam konteks inflasi dimaksudkan sebagai harga barang-barang secara umum. kenaikan harga yang terjadi tidak hanya berlangsung dalam waktu tertentu saja. Kenaikan tingkat inflasi juga bisa mempengaruhi ekspektasi masyarakat dalam memegang suatu mata uang karena kenaikan inflasi dapat mengurangi nilai riil suatu mata uang. yaitu berupa kecenderungan harga-harga untuk meningkat. sehingga makin diperlukan banyak valuta asing untuk membayar transaksi impor tersebut. Selisih Tingkat Suku Bunga Menurut John Maynard Keynes tingkat bunga adalah imbalan jasa (harga) yang harus dibayar kepada si penabung agar ia bersedia untuk melepaskan bagian tabungan yang ditahan (disimpan) dalam bentuk 14 . General level of price.mengenai inflasi sebagai suatu kondisi dimana pendapatan nasional meningkat jauh lebih cepat bila dibandingkan dengan peningkatan barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu perekonomian. Boediono ( 19992) mendefinisikan inflasi sebagai suatu proses kenaikan harga-harga secara umum dan berlangsung secara terus-menerus dalam periode tertentu. Tingkat inflasi domestik yang melebihi tingkat inflasi luar negeri akan mengakibatkan nilai kurs domestik terdepresiasi terhadap mata uang asing. Ketika terjadi kenaikan tingkat inflasi yang mendadak dan besar di suatu negara akan menyebabkan meningkatnya impor oleh negara tersebut terhadap berbagai barang dan jasa dari luar negeri. Sustained. Tendency. 2000:210). c. Dalam beberapa pengertian diatas. perlu digaris bawahi bahwa definisi inflasi mencakup aspek-aspek berikut: a. artinya dalam suatu waktu tertentu dimungkinkan terjadinya penurunan harga tetapi secara keseluruhan mempunyai kecenderungan (trend) meningkat. 3.

Jadi. khususnya pada jenis-jenis investasi portofolio. Perubahan tingkat suku bunga ini akan berpengaruh pada perubahan jumlah permintaan dan penawaran di pasar domestik. Tingkat suku bunga riil pada umumnya lebih sering dibandingkan antar negara guna mengukur pergerakan nilai tukar mata uang. maka nilai ekspor negara tersebut akan makin tinggi. Perubahan tingkat suku bunga akan berdampak pada perubahan nilai investasi di suatu negara. Hal ini dikarenakan valuta asing yang diterima eksportir akan ditukar kembali ke dalam mata uang domestik. Dengan kata lain. Tingginya permintaan mata uang domestik akan berdampak pada apresiasi mata uang domestik terhadap mata uang asing. Menurut Nopirin (1992). tingkat suku bunga juga mempunyai fungsi alokatif dalam perekonomian khususnya penggunaan uang dan modal. Namun disisi lain. baik yang berasal dari investor domestik maupun investor asing. yang umumnya berjangka pendek. Ketika transaksi pembayaran dilakukan maka akan melibatkan valuta asing. Nilai Ekspor dan Impor Di dalam pasar bebas perubahan kurs tergantung pada beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawarang valuta asing. 15 dalam . demand mata uang domestik akan menyusul meningkat. Ekspor akan mendorong suplay valuta asing didalam negeri meningkat. 4. untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam investasi. suku bunga adalah ukuran atau tariff yang menunjukkan seberapa banyak yang harus dibayarkan oleh peminjam kepada pemberi hutang yang merupakan selisih dari yang dipinjam. Bahwa valuta asing diperlukan guna melakukan transaksi pembayaran atas perdagangan antar negara baik impor maupun ekspor. tingkat suku bunga tidak lain adalah harga yang terjadi di pasar uang dan pasar modal. tingkat bunga adalah harga yang harus dibayar agar dana likuiditas itu tidak disimpan melainkan dilepaskan untuk investasi.dana likuid. Menurut Mankiw (1999). Makin produktif suatu negara dalam menghasilan barang dan jasa sedangkan permintaan akan barang dan jasa tersebut didalam negaranya kurang dari penawaran.

dan tingkat suku bunga dengan observasi 16 . tingkat suku bunga. Tri Wibowo dan Hidayat Amir (2001) dalam “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah”. sedangkan variabel-variabel yang lainnya tidak. Wahyu Aryo Pratomo. Dari pengujian atas beberapa model menghasilkan model terbaik bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi besaran nilai tukar rupiah terhadap US$ adalah selisih pendapatan riil Indonesia dan Amerika. Jhon Tafbu Ritonga (2007) dalam “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah”. yaitu inflasi.5% dari variabel terikat dipengaruhi oleh variabel-variabel lain di luar variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini. 1997:148) 2. Dari analisis data diperoleh hasil bahwa hanya variabel jumlah uang beredar yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Kurs valuta asing cenderung meningkat dan harga harga mata uang sendiri akan turun. Penelitian ini bertujuan menganalisis tentang hubungan berbagai variabel ekonomi. 2. Adwin Surya Atmaja (2002) dalam “Analisa Perserakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Amerika Setelah Diterapkannya Kebijakan Sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas di Indonesia”.Kondisi sebaliknya. Hal ini akan berdampak makin besar pula permintaan akan valuta asing. ketika pertumbuhan pendapatan (relatif terhadap negara lain) makin tinggi.5% mengindikasikan bahwa 67. selisih suku bunga Indonesia dan Amerika serta nilai tukar rupiah terhadap US$ satu bulan sebelumnya (lag -1). 3. akan meningkatkan kemampuan untuk impor. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian adalah jumlah uang beredar. Iqbal Abdillah. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Model Messed an Rogoff. Dengan koefisien determinasi sebesar 32. (Nopirin. selisih inflasi Indonesia dan Amerika. dalam mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. inflasi.2 Penelitian Terdahulu 1. Ramli. jumlah uang beredar. pendapatan nasional di Indonesia dan Amerika Serikat serta posisi neraca pembayaran internasional Indonesia.

variabel pendapatan nasional dan tingkat suku bunga berpengaruh secara signifikan terhadap fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Hasil estimasi menunjukkan bahwa jumlah uang beredar. I Wayan Wardita (2008) dalam “Pengaruh Selisih Suku Bunga Bank Indonesia dengan Suku Bunga Internasional. Disisi lain. ketiga variabel mempunyai pengaruh yang signifikan dengan variabel terikat yakni kurs rupiah terhadap dolar AS. tingkat suku bunga SBI dan nilai impor Indonesia Terhadap Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS. Sedangkan secara simultan. 4. Hasilnya menunjukkan bahwa dalam jangka pendek inflasi berpengaruh secara positif namun pengaruhnya tidak signifikan terhadap fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar AS. pendapatan nasional dan tingkat suku bunga dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara variabel inflasi. Metode yang digunakan adalah Error Corection Model (ECM). dan Cadangan Emas Terhadap Kurs Rupiah Terhadap US Dollar”. Hasil dari estimasi menggunakan ECM bahwa dalam jangka panjang variabel inflasi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh variabel jumlah uang beredar. inflasi dan suku bunga mempunyai pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah. tingkat suku bunga SBI dan nilai impor berpengaruh secara signifikan dengan hubungan yang positif terhadap nilai tukar rupiah 17 . inflasi. Agus Budi Santoso (2008) dalam ”Kemampuan Inflasi pada Model Purchasing Power Parity dalam Menjelaskan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Amerika Serikat”. 6. Triyono (2008) dalam “Analisis Perubahan Kurs Rupiah Terhadap Dolar Amerika”. Hasil dari penelitian menujukkan bahwa secara parsial variabel selisih suku bunga BI dengan suku bunga internasional dan inflasi mempunyai hubungan yang tidak signifikan dengan fluktuasi kurs hanya variabel cadangan emas yang mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap fluktuasi kurs. 5. Metode analisis yang digunakan adalah Error Correction Model (ECM). inflasi.penelitian mulai Januari 2000 sampai dengan Desember 2004.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh pendapatan nasional. Bahwa dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Variabel nilai ekspor tidak berpengaruh secara signifikan. Sedangkan selisih tingkat suku bunga dan cadangan devisa berpengaruh negatif terhadap perubahan kurs antara rupiah terhadap dolar. dan tingkat suku bunga secara simultan berpengaruh terhadap nilai tukar di Indonesia. Suku Bunga. 7. Apip Supriadi (2010) dalam “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar di Indonesia Periode 1990-2008”. Periode 18 . Alat analisis menggunakan analisis regresi. Money Supply. dan Capital Account Terhadap Nilai Kurs Rupiah Indonesia – Dollar Amerika”.terhadap dolar AS. Hasil analisis menunjukkan keberlakuan teori PPP di Indonesia. suku bunga dan jumlah uang beredar dalam mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. ketiga variabel mempunyai pengaruh yang signifikan. 8. 10. Penelitian ini bertujuan mengukur seberapa jauh pengaruh tingkat inflasi. perbedaan tingkat harga diantara kedua negara. inflasi. jumlah uang beredar dan nilai impor akan berpengaruh secara positif terhadap nilai tukar mata uangnya. Hasil lain menunjukkan bahwa terdapat hubungan kausalitas antara variabel inflasi dan jumlah uang beredar terhadap nilai tukar. Grisvia Agustin (2009) dalam “Analisis Paritas Daya Beli pada Kurs Rupiah Terhadap Dolar Amerika Serikat Periode September 1997Desember 2007 dengan Menggunakan Metode Error Correction Model”. Yunika Murdayanti (2012) dalam “Pengaruh Gross Domestic Product. Suku Bunga. dan Jumlah Uang Beredar Terhadap Nilai Tukar Dolar Amerika pada Emiten di Bursa Efek Indonesia”. dan tingkat bunga terhadap nilai tukar di Indonesia periode 19902008. Doni (2009) dalam “Dampak Tingkat Inflasi. Sebaliknya ketika dilakukan regresi secara simultan. 9. Inflasi. Sedangkan jumlah uang beredar mempunyai hubungan negatif terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. suku bunga dan jumlah uang beredar tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan nilai tukar. inflasi. Hasil penelitian anai adalah pendapatan nasional. Current Account.Hasil penelitian adalah secara parsial tingkat inflasi.

penelitian adalah mulai Agustus 1998 sampai Desember 2001. Selisih Suku Bunga Nilai Ekspor Nilai Impor Selisih tingkat Inflasi Ekspektasi Rp/¥ Cadangan Devisa Supply&Demand Valuta Asing Kurs Rp/¥ 19 . cadangan devisa. 2. 2. Variabel Gross Domestic Product.4 Kerangka Berfikir Berdasarkan atas telaah teori serta hasil penelitian terdahulu. dan Capital Account mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perubahan kurs sedangkan current account tidak berpengaruh signifikan. Suku Bunga. Money Supply. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa money supply menjadi satu-satunya variabel yang terdapat multikolinieritas sehingga dikeluarkan dari regresi linier. dan landasan teori di atas. perumusan masalah. Diduga terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas yaitu selisih tingkat suku bunga. 2. Diduga variabel nilai ekspor paling berpengaruh terhadap perubahan nilai tukar rupiah terhadap yen. maka dapat disusun kerangka berpikir sebagai berikut. nilai ekspor dan nilai impor terhadap variabel terikat yakni nilai tukar rupiah terhadap yen. selisih inflasi. maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut : 1. Inflasi.3 Hipotesis Penelitian Berdasarkan latar belakang.

20 .BAB III METODE PENELITIAN 3. 3. Penelitian dilakukan diantara kedua negara karena perubahan nilai tukar antara rupiah dengan yen lebih fluktuatif dibandingkan perubahan nilai tukar rupiah dengan mata uang negara lain.4 Teknik Pengumpulan Data Metode pengumpulan data berupa metode kepustakaan yaitu dengan membaca literatur-literatur. yaitu data yang diperoleh dari publikasi yang diterbitkan lembaga-lembaga terkait. Variabel-variabel tersebut disusun menjadi sebuah model yang diestimasikan menggunakan alat analisis regresi. selanjutnya hasilnya dideskripsikan. Pendekatan kuantitatif dimaksudkan untuk mengetahui berapa besar pengaruh variabel-variabel bebas yang digunakan dalam mempengaruhi variabel terikat yakni fluktuasi kurs rupiah terhadap yen. 3. Penelitian dilakukan selama periode kuartal I 2005 sampai kuartal I 2012 dikarenakan didalam penelitian ini ingin diketahui kondisi nilai tukar mata uang diantara kedua negara 4 tahun sebelum krisis global dan 4 tahun sesudahnya. Seperti Bank Indonesia. 3.1 Pendekatan Penelitian Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskripsi kuantitatif.3 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. dan Bank of Japan.2 Lingkup Penelitian Lingkup penelitian ini adalah fluktuasi nilai tukar mata uang rupiah Indonesia dan yen Jepang. jurnal ilmiah dan penelitian-penelitian lain yang berkaitan dan menunjang baik secara langsung maupun tidak langsung dengan penelitian ini. Badan Pusat Statistik.

Tingkat suku bunga Indonesia menggunakan BI rate yakni yang dikelurkan oleh Bank Indonesia sebagai pemegang otoritas moneter Indonesia. tetapi juga obyek berupa benda-benda alam yang lain.5 Populasi dan Sampel Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karateristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari yang kemudian ditarik kesimpulannya. Tingkat suku bunga Jepang menggunakan tingkat suku bunga yang dikeluarkan ole)h Bank of Japan. Selisih tingkat suku bunga riil Harga yang dibayarkan per satuan mata uang yang dipinjam per periode waktu tertentu.3. 3.6 Definisi Variabel Operasional Variabel operasional adalah variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian yang digunakan sebagai sumber data. Berikut variabel-variabel operasional yang digunakan adalah: 1. Sampel dalam penelitian ini adalah perubahan kurs rupiah terhadap dolar selama periode 2005-2012. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Data diperoleh dari kepustakaan Bank Indonesia (BI). Tingkat suku bunga yang dikeluarkan oleh pemegang 21 . 2005). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perilaku perubahan nilai tukar rupiah terhadap yen sepanjang waktu. Kurs yang digunakan adalah nilai kurs rupiah terhadap yen (IDR/JPY). Populasi juga bukanlah sekedar jumlah yang ada pada obyek ataupun subyek yang dipelajari. dinyatakan dalam persentase. 2. melainkan meliputi seluruh karakteristik ataupun sifat yang dimiliki oleh obyek atau subyek tersebut (Sugiyono. Nilai tukar atau kurs Harga mata uang yang terhadap mata uang negara lain atau banyaknya mata uang yang harus dikorbankan untuk mendapatkan mata uang lainnya. Tingkat suku bunga yang digunakan adalah tingkat suku bunga yang ditentukan oleh masingmasing pemegang otoritas moneter diantara kedua negara. Jadi populasi bukanlah hanya orang.

Simpanan ini merupakan asset bank sentral yang tersimpan dalam beberapa mata uang cadangan (reserve currency) seperti dolar. Tingkat suku bunga riil diperoleh dengan mengurangi suku bunga nominal dengan inflasi yang terjadi. Selisih tingkat suku bunga riil diperoleh dari tingkat suku bunga riil Indonesia dikurangi tingkat suku bunga riil Jepang. Nilai ekspor Nilai ekspor ditentukan oleh kombinasi dari perkembangan harga dan volume ekspor. euro atau yen dan digunakan untuk menjamin kewajibannya. Selisih tingkat inflasi diperoleh dari mengurangi tingkat inflasi Indonesia dengan tingkat inflasi Jepang. Posisi cadangan devisa Simpanan mata uang asing oleh bank sentral dan otoritas moneter. dan cadangan berbagai bank yang disimpan di bank sentral oleh pemerintah atau lembaga keuangan. λ Dimana: λ λr λr* = λr – λr* = Selisih tingkat suku bunga = Tingkat suku bunga riill Indonesia = Tingkat suku bunga riil Jepang 3. 5. Data tingkat inflasi yang digunakan adalah data inflasi bulanan yang dikeluarkan oleh BPS dan diolah menjadi kuartalan. Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah posisi cadangan devisa. Selisih tingkat inflasi Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara menyeluruh dan berlangsung terus-menerus selama periode tertentu. Perkembangan harga dan perkembangan volume 22 . Π Dimana: Π Π π* = Selisih inflasi = Tingkat inflasi Indonesia = Tingkat inflasi Jepang = π – π* 4. yaitu mata uang lokal yang diterbitkan.otoritas moneter adalah tingkat suku bunga acuan yang selanjunya untuk diimplementasikan ke tingkat suku bunga deposito.

maka perkembangan harga adalah faktor eksogen bagi Indonesia. pada gilirannya. artinya Indonesia adalah price taker. Model dasar yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah: Dimana: Kurs = Nilai tukar rupiah terhadap yen SSBR = Selisis suku bunga riil Indonesia-Jepang SINF = Selisih tingkat inflasi Indonesia-Jepang 23 . 3. Data nilai ekspor diperoleh dari BPS dan Bank Indonesia. Sedangkan untuk tujuan yang kedua yaitu variabel mana yang mempunyai pengaruh paling dominan bila dibandingkan dengan variabel yang lainnya dalam mempengaruhi perubahan nilai tukar rupiah. Sedangkan perkembangan volume ditentukan oleh faktor-faktor dari sisi suplai domestik. Data nilai impor diperoleh dari BPS dan Bank Indonesia.7 Metode Analisis Berdasar pada tujuan penelitian yang pertama yaitu untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel-variabel bebas yang terdiri dari selisih suku bunga riil. dapat diselesaikan menggunakan metode analisis regresi parsial.tersebut. Untuk mengetahui pengaruh secara simultan digunakan uji-F dan untuk mengetahui pengaruh secara parsial digunakan uji-t. Nilai ekspor yang digunakan dalam penelitian adalah nilai ekspor non migas hasil hubungan perdagangan Indonesia ke Jepang. Nilai impor lebih dipengaruhi dari peningkatan pendapatan nasional suatu negara. 6. nilai ekspor dan nilai impor berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat yakni perubahan nilai tukar rupiah terhadap yen dapat dilakukan dengan metode analisis regresi berganda. Indonesia sebagai negara kecil di pasar global untuk hampir semua produk ekspor. cadangan devisa. Nilai impor yang digunakan adalah nilai impor non migas Indonesia dari Jepang. Nilai impor Nilai impor ditentukan oleh kombinasi dari perkembangan harga dan volume impor Indonesia dari luar negeri. ditentukan masing-masing oleh sejumlah faktor yang berbeda. selisih tingkat inflasi.

10 atau sama dengan nilai VIF diatas 10.Cadev = Cadangan devisa Indonesia Eks Imp 3. Untuk mengetahui ada tidaknya multikolinearitas didalam model regresi adalah sebagai berikut: 1. OLS). maka dalam menganalisa data haruslah dipenuhi asumsi-asumsi klasik. Multikolinearitas dapat juga dilihat dari (1) nilai tolerance dan lawannya (2) variance inflation factor (VIF). maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolinearitas. 24 .8 = Nilai ekspor Indonesia ke Jepang = Nilai impor Indonesia dari Jepang Uji Asumsi Klasik Di dalam model regresi klasik. Asumsi klasik tersebut diantaranya adalah: 1) Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi linear yang sempurna antara variabel-variabel bebas (Gujarati. Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel bebas dengan melakukan regresi antar variabel bebasnya. Nilai cutoff yang umum dipakai adalah nilai tolerance 0. untuk memperoleh nilai pemerkira yang tidak bias dan efisien dari persamaan regresi linear berganda dengan metode kuadrat terkecil biasa (Ordinary Least Square. 2004). 3. Nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat tinggi. Multikolinearitas dapat disebabkan karena adanya efek kombinasi dua atau lebih variabel bebas. Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi dan menunjukkan adanya kolonieritas yang tinggi. tetapi secara individual variabel-variabel bebas banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel terikat. Tolerance mengukur variabilitas variabel bebas yang terpilih yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel bebas lainnya. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. 2. Jika antar variabel bebas nilai R2 lebih besar dari nilai R2 model utama. Tidak adanya korelasi yang tinggi antar variabel bebas tidak berarti bebas dari multikolinearitas.

Uji Glejser. 3) Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi. (Gujarati: 2004) untuk uji model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data yang normal atau tidak. 2004). Melihat nilai Jarque Bera Test. keduanya mempunyai distribusi normal ataukah tidak. Berikut ini cara untuk mendeteksi ada tau tidaknya heteroskedastisitas (Gujarati. dapat dilakukan dengan cara: a. Setelah dilakukan pengujian jika koefisien variabel independen lebih besar dari 5% maka dapat disimpulkan ada heteroskedatisitas. b. Jika varian dari residual satu pengamatan atau pengamatan yang lain tetap. sedang. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain. Jika nilai probabilitas Jarque Bera lebih besar dari 5% maka distribusi error adalah normal artinya model yang digunakan lolos uji normalitas.2) Uji Heteroskedatisitas Uji heteroskedatisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidak samaan variance dari residual atau pengamatan ke pengamatan yang lain. Ada beberapa cara yang digunakan untuk 25 . variabel terikat dan variabel bebas. maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. dan besar). 2004): a. Kebanyakan data crossection mengandung situasi heteroskedastisitas karena data ini menghimpun data mewakili sebagai ukuran (kecil. Setelah dilakukan uji park jika masing-masing variabel menunjukkan hasil tidak signifikan pada tingkat 5% maka model empiris yang digunakan tidak terdapat masalah heteroskedatisitas. 4) Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya) (Gujarati. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas. Uji Park.

54 tanpa kesimpulan c. Dari besarnya koefisien akan dilihat adanya hubungan dari variabel-variabel bebas. salah satunya yaitu dengan uji Durbin-Watson (DW-test).10 sampai 1. Dari hasil regresi berganda akan diketahui besarnya koefisien masing-masing variabel. dilakukan dengan cara: 1. a. Nilai DW 2.  H1= Variabel bebas secara tidak bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat.10 ada auto korelasi b. Nilai DW kurang dari 1.46 tidak ada korelasi d.9 Uji Statistik Uji statistik ini dilakukan dengan tujuan untuk membuktikan ada tidaknya korelasi antara variabel bebas dengan variabel terikat. Nilai DW1. Hipotesis nol dan hipotesis alternatif yang akan diuji pada uji statistik F adalah sebagai berikut:  H0= Variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat.55 sampai 2. Untuk melakukan uji atas hipotesa. Nilai F hitung dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut : Fhit =  R 2 k  1 1  R 2 n  k   26 . baik secara terpisah maupun bersama-sama terhadap variabel terikat. Sedangkan hipotesis diterima atau ditolak dengan cara membandingkan nilai F hitung dengan nilai F tabel. Uji Statistik Simultan (F-test) Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersamasama terhadap variabel terikat (Gujarati: 2004).90 ada autokorelasi 3. Nilai DW Lebih dari 2.mendeteksi ada atau tidaknya korelasi.90 tanpa kesimpulan e. Nilai DW 1.46 sampai 2.

Nilai t hitung dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut: t hit = bB Sb Nilai t tabel dapat dilihat dengan mengetahui tingkat signifikansi () dan derajat bebas sebesar n-k- (dimana n  jumlah observasi. Nilai yang mendekati satu berarti variabel- 27 . Hipotesis nol dan hipotesis alternatif yang akan diuji pada uji statistik t adalah sebagai berikut (Gujarati. Sedangkan hipotesis diterima atau ditolak dengan cara membandingkan nilai t hitung dengan nilai t tabel. Uji Statistik Parsial (t-test) Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel bebas secara individual terhadap variabel terikat. Adapun ketentuan untuk menerima atau menolak adalah sebagai berikut :  H0 akan ditolak jika nilai F hitung  F tabel  H0 akan diterima jika nilai F hitung  F tabel 2. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel bebas dalam menjelaskan variasi variabel terikat amat terbatas.Nilai F tabel dapat dilihat dengan mengetahui tingkat signifikansi () dan derajat bebas sebesar n-k- (dimana n  jumlah observasi. Adapun ketentuan dari uji ini adalah :  H0 akan ditolak jika nilai t-hitung  t-tabel  H0 akan diterima jika nilai t-hitung  t-tabel 3. = Variabel bebas secara individual tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat. Nilai koefisien determinasi adalah diantara nol dan satu. 2004). Koefisien Determinan Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat. k = jumlah variabel bebas). H0 H1 = Variabel bebas secara individual berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat. k  jumlah variabel bebas).

Selain itu juga dilakukan pencarian literatur dan jurnal-jurnal ilmiah yang dapat digunakan sebagi acuan dalam melakukan penelitian. terlebih dahulu dilakukan pencarian datadata yang diperlukan dari sumber-sumber yang terpercaya dan relevan dengan topik yang akan diteliti yakni data kurs antara rupiah-yen. Selanjutnya menentukan model estimasi yang akan digunakan untuk diregresi. Inflasi Indonesia dan Jepang. 28 . Langkah selanjutnya adalah melakukan perhitungan selisih tingkat suku bunga riil dan inflasi diantara kedua negara. tahap selanjutnya adalah mengelompokkan variabel-variabel tersebut kedalam kelompok negara yang bersangkutan. Untuk menilai apakah model yang digunakan tepat.10 Tahapan Analisis Untuk memulai penelitian. data tingkat suku bunga Indonesia dan Jepang. maka serangkaian uji asumsi klasik harus dilakukan agar hasil penelitian valid. Cadangan devisa Indonesia. Selanjutnya dilakukan estimasi dengan menggunakan alat analisis regresi. 3. nilai ekspor Indonesia dari Jepang dan nilai impor Indonesia dari Jepang.variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel terikat. sedangkan untuk data runtun waktu (time series) biasanya mempunyai nilai koefisien determinasi yang tinggi. Secara umum koefisien determinasi untuk data silang (crossection) relatif rendah karena adanya variasi yang besar antara masing-masing pengamatan. Setelah data-data yang diperlukan diperoleh.

2 Hasil Uji Asumsi Klasik Setelah dilakukan serangkaian pengujian asumsi klasik untuk menguji ketepatan model yang digunakan dalam penelitian maka diperoleh hasil sebagai berikut: 4.0015 0.013739 1817.0757 2.108807 -0.0000 13. 0. Error 136. diperoleh hasil pengolahan data sebagai berikut: Tabel 2: Hasil Regresi Model Utama Variable SSBR SINF CADEV EKS IMP C R-squared Adjusted R-squared Coefficient -124.0035 0.000004 Durbin-Watson stat 1.322560 Sumber: data sekunder.1618 -9.7593 201.3966 349. diolah dengan Eviews 4.736470 3.3725 0.959087 3. Penilaian terdapat maslah multikolinearitas atau tidak dapat dilakukan dengan melihat nilai R2 dari regresi parsial terhadap masing-masing variabel bebas.1 Hasil Penelitian Pengujian atas model penelitian adalah menggunakan model regresi berganda.076429 0.BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Uji Multikolinearitas Untuk menguji apakah terdapat korelasi antar variabel bebasnya.841210 0.0959 0.705 F-statistic Prob(F-stat) t-Statistic 0.0070 0. Hasil dari regresi tersebut menunjukkan bahwa masing-masing 29 .909602 1.044727 7058.255545 3.2. Dengan menggunakan Eviews.746 0.607267 -2. Yakni merupakan model regresi yang digunakan untuk jenis penelitian yang mempunyai variabel bebas lebih dari atau sama dengan dua.684952 Std.883328 Prob.17506 0.525127 0.025829 0.

variabel terikat dan variabel bebas.2. 4. Jika nilai probabilitas Jarque Bera lebih besar dari 5% maka distribusi error adalah normal artinya model yang digunakan lolos uji normalitas. Hasil estimasi diperoleh nilai Probabilitas Jarque Bera adalah 0. Untuk memperoleh hasilnya dapat dilakukan dengan melihat nilai Probabilitas Jarque Bera. 2004). Masalah autokorelasi dapat didetekdi dengan melihat nilai Durbin-Watson dari hasil regresi.3 Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi. Hasil uji park pada model diperoleh bahwa masing-masing variabel bebas tidak signifikan pada tingkat 5%.2. Maka model regresi yang digunakan bebas dari masalah multikolinearitas. Maka model empiris bebas heteroskedasitas.322560 maka tidak dapat disimpulkan apakah terdapat masalah autokorelasi didalam model regresi.06122 artinya tidak signifikn pada tingkat 5% sehingga distribusi error model adalah normal. keduanya mempunyai distribusi normal ataukah tidak.2 Uji Heteroskedasitas Uji heteroskedatisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidak samaan variance dari residual atau pengamatan ke pengamatan yang lain. Untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan uji Park. (Gujarati: 2004). 4. 4.3 Analisis Hasil Penelitian Dari hasil estimasi dengan menggunakan program Eviews didapat persamaan regresi penelitian adalah: 30 .4 Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya) (Gujarati. Nilai DW penelitian adalah 1.regresi parsial mempunyai nilai R2 yang lebih kecil dari nilai R2 regresi utama. 4. Setelah dilakukan uji park jika masing-masing variabel menunjukkan hasil tidak signifikan pada tingkat 5% maka model empiris yang digunakan tidak terdapat masalah heteroskedatisitas.2.

1 Selisih Tingkat Suku Bunga Riil Dari hasil estimasi diketahui bahwa koefisien variabel bebas selisih tingkat suku bunga riil negatif atau berlawanan arah yakni -124. menunjukkan bahwa terdapat dua variabel bebas yang tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat. Sebaliknya apabila tingkat suku bunga suatu negara lebih rendah dari pada tingkat suku bunga negara lain maka mata uang negara tersebut akan mengalami depresiasi.3. Kondisi ini sesuai dengan teori bahwa apabila tingkat suku bunga suatu negara lebih tinggi dibandingkan negara lain (tingkat suku bunga internasional) maka akan mendorong apresiasi mata uang domestik. Nilai R-squared 0. 31 .058.3725 artinya tidak signifikan dalam derajat kepercayaan 5%.746 artinya ketika tidak ada variabel bebas yang mempengaruhi variabel terikat maka nilai kurs rupiah terhadap yen adalah Rp 7. Sedangkan variabel bebas yang lain mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai tukar rupiah terhadap yen.746. Hal ini dikarenakan spekulan akan berspekulasi positif terhadap mata uang domestik atau investor akan berfikir bahwa investasi di domestik lebih menguntungkan sehingga permintaan mata uang domestik akan naik yang akhirnya berdampak pada apresiasi mata uang domestik. maka akan mendorong apresiasi rupiah terhadap yen sebesar 124. hasil observasi menunjukkan tingkat probabilitas variabel selisih tingkat suku bunga riil sebesar 0. Namun.4%.3966 artinya ketika terjadi kenaikan selisih tingkat suku bunga riil antara Indonesia dan Jepang sebesar 1%.84 menunjukkan bahwa variabel bebas secara keseluruhan memberikan pengaruh sebesar 84% terhadap variabel terikat sehingga 16% dari perubahan nilai tukar rupiah terhadap yen dipengaruhi oleh variabel bebas lain diluar model.Hasil penghitungan dengan menggunakan α = 5%. Konstanta penelitian adalah 7058. 4. Variabel bebas tersebut adalah selisih tingkat suku bunga dan selisih inflasi diantara Indonesia dan Jepang.

kenaikan tingkat harga atau tingkat inflasi yang terjadi adalah merupakan kombinasi dari imported inflation akibat depresiasi nilai tukar.0959 lebih besar dari 5%. Kebijakan-kebijakan administered price oleh pemerintah antara lain berupa kenaikan tarif dasar listrik. 2009). gangguan pasokan dan distribusi barang-barang kebutuhan pokok. Dengan tingkat signifikansi sebesar 0. kondisi sosial yang tidak sepenuhnya stabil merespon dampak administered price tersebut secara cepat sehingga menimbulkan tuntutan-tuntutan kenaikan upah dan gaji akibat besarnya ekspektasi inflasi yang terbentuk. kenaikan harga karena kebijakan pemerintah di bidang 32 .17%.1618 artinya setiap kenaikan selisih inflasi akan menyebabkan nilai tukar rupiah naik yang berarti mendepresiasi kurs rupiah terhadap yen sebesar 349.Bank Indonesia memilih menempuh kebijakan moneter yang diarahkan untuk menyerap kelebihan likuiditas agar tidak menambah tekanan terhadap inflasi dan melemahnya nilai tukar. 4. namun arah koefisiennya sesuai dengan teori paritas daya beli relatif dimana semakin tinggi inflasi di Indonesia maka nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing akan makin terdepresiasi. Pengaruh tingkat harga terhadap nilai tukar berlangsung cukup cepat atau tingkat harga cenderung bersifat fleksibel. Di sisi lain. Namun demikian upaya menstabilkan kembali nilai tukar dan laju inflasi dilakukan dengan tetap menjaga agar kenaikan suku bunga yang terlalu dras-tis dan berlebihan dapat dihindarkan (Agustin. Kombinasi dari hal-hal tersebut menyebabkan tingkat harga bergerak menyesuaikan secara lebih cepat atau fleksibel Dilihat dari penyebabnya. harga bahan bakar minyak dan air minum meningkatkan cost of production yang ditanggung oleh produsen. Meskipun tidak signifikan dalam derajat kepercayaan 5%. Sifat tingkat harga yang ternyata fleksibel ini antara lain dipicu oleh kebijakan administered price oleh pemerintah dalam periode penelitian yang beberapa kali mengalami perubahan (kenaikan harga).2 Selisih Tingkat Inflasi Koefisien yang dihasilkan dari estimasi model utama untuk variabel selisih tingkat inflasi adalah positif atau searah yakni dengan nilai koefisien 349.3.

Kegiatan intervensi valas ini masih tetap dilakukan dengan maksud untuk menghilangkan distorsi-distorsi di pasar valuta asing mengingat pasar ini belum sempurna dan belum rasional. Dalam hubungannya dengan nilai tukar. Makin besar jumlah cadangan devisa yang dimiliki maka kepercayaan luar negeri atas kemampuan negara kita untuk mengatasi external shocks akan meningkat sehingga dapat menekan berspekulasi atas mata uang domestik sehingga nilai tukar akan menguat. Kondisi ini sesuai dengan teori bahwa cadangan devisa dan kurs mempunyai hubungan negatif atau berlawanan arah. otoritas moneter masih melakukan intervensi dengan melepas cadangan devisa di pasar valas. selain faktor permintaan dan penawaran. Selain itu. 2009). melainkan hasil dari market failure. Dalam sistem nilai tukar mengambang bebas. (Agustin. tingkat harga memiliki hubungan timbal balik atau kausalitas. Semenjak 1997. Dengan nilai koefisien sebesar -9. maka bukan correct price yang diperoleh.3 Cadangan Devisa Hasil estimasi menunjukkan bahwa variabel cadangan devisa berpengaruh secara negatif signifikan artinya nilai tukar rupiah terhadap yen mempunyai hubungan saling berkebalikan dengan cadangan devisa.3. Sehingga implikasi dari hubungan ini adalah depresiasi nilai tukar perlu dikendalikan untuk menekan laju inflasi dan demikian pula inflasi perlu ditekan agar tidak memicu depresiasi.harga dan pendapatan (administered price) dan melonjaknya uang beredar akibat ekspansi moneter. tingginya laju inflasi juga disebabkan ekspektasi inflasi masyarakat yang cenderung berlebihan. Sehingga apabila sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar. 33 . pemerintah memutuskan untuk menghapus rentang intervensi dan menganut system nilai tukar mengambang bebas. nilai tukar juga digerakkan oleh political and social (unrest) news. Walaupun Indonesia telah menganut sistem nilai tukar mengambang bebas.108807 dan nilai probabilitas 0.0015 maka setiap ada kenaikan cadangan devisa Indonesia sebesar 1% akan berpengaruh pada penurunan nilai tukar rupiah artinya rupiah terapresiasi (berhubungan negatif) sebesar 9.11%. 4.

Sehingga kinerja ekspor yang semula diharapkan menjadi motor penggerak perekonomian tidak dapat mengoptimalkan momentum depresiasi rupiah yang terjadi. Dari sisi eksternal. penurunan harga ekspor yang lebih rendah daripada harga pada tingkat wajar juga disebabkan oleh semakin ketatnya persaingan harga dian-tara negara-negara asia yang mata uangnya juga mengalami depresiasi. menurunnya ekspor antara 34 .0070 artinya bahwa variabel ini berpengaruh secara negatif signifikan. khususnya ekspor nonmigas kurang mampu menyumbang devisa. investasi portofolio maupun pinjaman luar negeri.076% (berhubungan negatif). Selain itu sektor ekspor sendiri masih banyak mengalami hambatan. yakni bahwa peningkatan nilai ekspor domestik ke asing akan mendorong apresiasi rupiah. sterilisasi valuta asing oleh bank sentral. dan aliran modal masuk asing baik berupa penanaman modal asing (foreign direct investment). Makin banyak ekspor yang dilakukan sebuah negara maka permintaan akan mata uang domestik akan meningkat sehingga mata uangnya apresiasi. Hasil estimasi atas variabel nilai ekspor juga mendukung teori yang ada menganai ekspor-impor. Namun surplus perdagangan sektor ekspor masih belum mampu memberikan dampak apresiasi terhadap rupiah akibat kondisi pasar valuta asing domestik yang masih tetap tipis. Setiap kenaikan variabel nilai ekspor sebesar 1% akan mengakibatkan apresiasi rupiah sebesar 0. Hambatan-hambatan tersebut tidak saja datang dari luar negeri atau faktor eksternal akibat makin ketatnya persaingan perdagangan namun juga datang dari dalam negeri. Dari sisi internal. selain disebabkan sisi permintaan yang menurun. melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia terutama di negara-negara tujuan ekspor dan turunnya harga-harga komoditas utama mengakibatkan ekspor.4.3.076429 dan probabilitas 0. Khusus untuk ekspor nonmigas. sumber utama pasokan valuta asing di pasar adalah devisa hasil ekspor. Penurunan ekspor juga dipengaruhi oleh adanya penetapan syarat-syarat tambahan bagi produk ekspor Indonesia seperti penerapan persyaratan ramah lingkungan dan perlindungan hak konsumen. Dari sisi penawaran.4 Nilai Ekspor Variabel nilai ekspor mempunyai hasil koefisien senilai -0.

4 Analisa Dengan Pendekatan Statistik Uji statistik ini dilakukan dengan tujuan untuk membuktikan ada tidaknya korelasi antara variabel bebas dengan variabel terikat.5 Nilai Impor Variabel total nilai impor memiliki koefisien regresi sebesar 0.1 Uji F (F-test) Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat (Gujarati: 2004).044727. gangguan keamanan dan masih belum pulihnya fungsi intemediasi perbankan.045%. Dari besarnya koefisien akan dilihat adanya hubungan dari variabel-variabel bebas. diketahui besarnya koefisien masingmasing variabel.4.3.lain dipengaruhi oleh terjadinya gangguan pada produksi dan distribusi yang disebabkan oleh faktor ketidakpastian sehu-bungan dengan masih maraknya aksi mo-gok buruh. Dari hasil regresi berganda yang telah dilakukan. Hal ini berarti bahwa hubungan antara variabel total nilai impor dan nilai tukar adalah serah (positif). Hubungan ini sesuai dengan teori dimana pertumbuhan pasca impor yang berarti meningkatnya pemba-yaran kepada eksportir asing akan mengurangi pasokan valuta asing di dalam negeri sehingga mendepresiasi nilai tukar. Dengan tingkat signifikansi α=0. 4. Untuk melakukan uji atas hipotesa. 4. Penga-ruh depresiasi yang dipengaruhi oleh total nilai impor pada perubahan nilai tukar dise-babkan masih besamya kandungan impor pada bahan baku maupun barang modal yang dipergunakan oleh industri dalam negeri. dilakukan dengan cara: 4.005 dan derajat kebebasan df=23 dan hipotesis statistik yang akan diuji adalah: 35 . baik secara terpisah maupun bersama-sama terhadap variabel terikat. Dimana pertumbuhan variabel nilai impor sebesar 1% akan mengakibatkan pertumbuhan nilai tukar (depresiasi) rupiah sebesar 0.

2 Uji t (t-test) Uji t dilakukan untuk melihat derajat signifikansi koefisien-koefisien masing-masing variabel bebas dalam penelitian secara terpisah terhadap variabel terikat.005 1.069 2. Tabel 3: Nilai t tabel dan t hitung Variabel Selisih Suku Bunga Riil Selisih Tingkat Inflasi Cadangan Devisa Nilai Ekspor Nilai Impor Sumber: Data diolah Dengan hipotesis statistic penelitian adalah sebagai berikut: H0 = Variabel bebas secara individual berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat. Nilai F hitung lebih kecil dari F tabel yakni 35.5. maka didapat perbandingan nilai t tabel dan t hitung sebagai berikut: variabel terikat.4.069 2.963 1.069 2.906 2.172 sehingga H0 diterima. t Tabel 2.  H1= Variabel bebas secara tidak bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Dengan ketentuan:  H0 akan ditolak jika nilai F hitung  F tabel  H0 akan diterima jika nilai F hitung  F tabel Setelah dilakukan perhitungan maka nilai F hitung yang diperoleh adalah 31.069 2. 4. H0= Variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat. Dengan tingkat signifikansi α=0.008 36 .005 dan derajat kebebasan df=23.452 0.069 t Hitung 1.

sehingga dari hal ini dapat dikatakan bahwa semua variabel bebas yakni selisih suku bunga riil. diperoleh Nilai R2 model adalah 0.H1 = Variabel bebas secara individual tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat. Nilai koefisien determinasi adalah diantara nol dan satu.84 menunjukkan bahwa variabel bebas secara keseluruhan memberikan pengaruh sebesar 84% terhadap variabel terikat sehingga 16% dari perubahan nilai tukar rupiah terhadap yen dipengaruhi oleh variabel bebas lain diluar model.4. 4.3 Koefisien Determinasi (R2) Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat. Setelah dilakukan regresi berganda. selisih inflasi. Dengan ketentuan: H0 akan ditolak jika nilai t-hitung  t-tabel H0 akan diterima jika nilai t-hitung  t-tabel Maka dari nilai t-hitung dapat diketahui bahwa nilai t untuk semua variabel berada dibawah nilai t tabel. nilai ekspor dan nilai impor secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat yakni nilai tukar rupiah terhadap yen atau dengan demikian maka H0 diterima. cadangan devisa. 37 .

4. Hal ini mengindikasikan bahwa suku bunga masih relevan dijadikan sebagai piranti kebijakan moneter untuk mempengaruhi fluktuasi nilai tukar dan juga investasi asing. selisih tingkat inflasi Indonesia dengan Jepang. 38 .BAB V PENUTUP 5. 3. Intervensi pemerintah sangat diperlukan untuk mengurangi gejolak nilai tukar yang berlebihan. Variabel selisih suku bunga riil di Indonesia dengan Jepang berpengaruh secara negatif signifikan pada nilai tukar Rupiah terhadap Yen Jepang. 5. Variabel cadangan devisa di Indonesia berpengaruh secara negatif signifikan pada nilai tukar Rupiah terhadap Yen Jepang. cadangan devisa.1 Kesimpulan Berdasarkan pada hasil analisis dalam penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Peningkatan cadangan devisa sutu negara menyebabkan nilai tukar negara tersebut apresiasi. Dalam prakteknya para investor tidak hanya memperhatikan ekspektasi inflasi. Seluruh variabel yang meliputi variabel selisih suku bunga riil di Indonesia dengan Jepang. namun juga memperhatikan keadaan perekonomian yang sedang terjadi dinegara tersebut terutama sektor riil. Peningkatan pada selisih siku bunga riil di Indonesia menyebabkan nilai tukar Rupiah terhadap Yen Jepang mengalami apresiasi. nilai ekspor dan nilai impor secara bersama-sama berpengaruh pada nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat. sehingga kepercayaan investor menjadi hal yang lebih penting dalam menanamkan modalnya. Variabel nilai ekspor memberikan pengaruh paling besar secara parsial terhadap variabel terikat ditunjukkan dengan hasil uji t yang paling signifikan. 2. Variabel selisih tingkat Inflasi di Indonesia dan Jepang tidak berpengaruh secara positif signifikan pada nilai tukar Rupiah terhadap Yen Jepang. Intervensi tersebut dengan melakukan kecukupan cadangan devisa.

Bagi pemerintah perlu dilakukan upaya dan kebijakan-kebijakan untuk meningkatkan ekspor baik migas maupun non-migas mengingat devisa dari ekspor masih sangat diperlukan untuk menambah pasokan devisa pada sisi supply yang dapat menahan fluktuasi nilai tukar yang berlebihan. 2. Variabel total nilai ekspor memiliki pengaruh yang negatif namun tidak signifikan terhadap nilai tukar. Perlunya menjaga kestabilan tingkat harga yang merupakan cerminan dari tingkat inflasi. kebijakan pengendalian inflasi yang dilakukan haruslah dengan tetap menjaga output loss yang seminimal mungkin. Oleh karena itu. 7. Namun demikian. Masih besarnya ketergantungan produksi dalam negeri terhadap barang modal dan bahan baku yang diimpor memberikan kontribusi besarnya impor yang selanjutnya memberikan dampak depresiasi terhadap nilai tukar karena mengurangi penawaran valuta asing di dalam negeri untuk pembayaran impor dalam valuta asing. Peningkatan nilai ekspor dapat membawa dampak apresiasi nilai tukar rupiah namun masih besarnya kendala dari internal maupun eksternal yang dihadapi sektor ekspor serta devisa hasil ekspor yang tidak seluruhnya kembali ke dalam negeri mengakibatkan sektor ekspor belum mampu memberikan kontribusi dalam menambah pasokan valuta asing untuk mengapresasi nilai tukar rupiah. 39 .6.2 Saran Saran yang dapat diberikan bagi pihak-pihak yang terkait dengan penelitian ini adalah: 1. kebijakan moneter dengan sasaran tunggal yaitu pengendalian inflasi (inflation targeting) perlu didukung dan dilaksanakan di Indonesia. hal ini dikarenakan perbedaan tingkat inflasi dapat memperburuk nilai tukar rupiah baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Variabel total nilai impor memiliki pengaruh yang positif signifikan terhadap nilai tukar. 5.

dan menambah variabel ekonomi lainnya. Bagi penelitian selanjutnya agar mampu menyajikan data yang lebih bisa memberikan gambaran yang lebih nyata yakni dengan periode waktu penelitian diperpanjang.3. 40 . sehingga dapat terlihat perilaku nilai tukar yang lebih nyata.

Januari 2007).id/ diakses pada tanggal 1 Juni 2012 Bank of Japan. Analisis Paritas Daya Beli Pada Kurs Rupiah Terhadap Dollar Amerika Serikat Periode September 1997-Desember 2007 Dengan Menggunakan Metode Error Correction Model.go. dan Jumlah Uang Beredar Terhadap Nilai Tukar Dollar Amerika Pada Emiten Di Bursa Efek Indonesia. Dampak Tingkat Inflasi. Jilid 1. Edisi Kelima. 4. Atmadja. Grisvia.or. Sri. Jakarta : PT Indeks Kelompok Gramedia. Agustin. 2009.bi. 2 No. New York : The Mc GrawHill Companies. Damodar N. Adwin Surja. Paul R dan Maurice Obstfeld. Fourth Edition. (Vol. Maurice D.DAFTAR PUSTAKA Abdillah.jp/en/statistics/dl/depo/tento/te120530. Iqbal dkk. 2001 Kurs Bank Indonesia http://www. Jurnal Bisnis dan Ekonomi Krugman.go. Keuangan Internasional.id/tab_sub/view. LIPI. Mei 2002: 69-78). 2009). Fakultas Ekonomi : Universitas Negeri Malang.1. Gujarati. (Vol. Ekonomi Internasional. http://www.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=03& notab=6 diakses pada tanggal 1 Juni 2012 Doni. MEPA Ekonomi. 2000. No.9 No.bps.org/ortax/?mod=kursbi&page=neg&id=SGD&jenis=_&sea rch=2005-6-4&search_2=2012-6-29 diakses pada tanggal 1 Juni 2012 Levi. International Management. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar Amerika: Pendekatan Moneter 19871991. 2001 Isnowati. diakses pada 1 Juni 2012 Data Inflasi BPS http://www. 2001.ortax.1 Maret 2002). JESP. Fakultas Ekonomi : Universitas Kristen Petra Bank Indonesia http://www. Jeff. 1 No. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah. USA: South-Western College Publishing 41 . Yogyakarta : Andi Madura. (Vol. Suku Bunga. (Vol.boj. 1. Analisa PergerakanNilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar Amerika Setelah Diterapkannya Sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas di Indonesia. Jurnal Akuntansi & Keuangan.1. Basic Econometrics.pdf. Jurusan Ekonomi Pembangunan.

2. 1. Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan. (Vol. Dosen STIMI “Handayani” : Denpasar Wibowo. Sixth Edition. Dr. Pengaruh Selisih Suku Bunga Bank Indonesia Dengan Suku Bunga Internasional. Suku Bunga. I Wayan. Pengaruh Gross Domestic Product. Wardita. 2 No. Analisis Perubahan Kurs Rupiah Terhadap Dollar Amerika. 6 No. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. 1997. Fakultas Ekonomi : Universitas Stikubank Semarang. Magister Manajemen. Faktor-Faktor Ynang Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah. Salvator. Jakarta : Departemen Keuangan RI. Money Supply. X No. 1. Bandung : Alfabeta Supriadi. Sugiyono. 15 No. Dosen Fakultas Ekonomi : Universitas Negeri Jakarta. Juni 2010). Desember 2008). Jurnal Bisnis Dan Ekonomi. 2008.2. Desember 2005). Current Acount dan Capital Account Terhadap Nilai Kurs Rupiah Indonesia-Dollar Amerika. Prof. Inflai. New York: John Wiley & Sons Inc Santoso. 4. Jurnal Ekonomi Pembangunan. No. Agus Budi. 42 . 9. Fakultas Ekonomi : Universitas Muhammadiyah Surakarta. International Economics. Ecosains. (Vol. Tri dan Hidayat Amir. Kemampuan Inflasi Pada Model Purchasing Power Parity Dalam Menjelaskan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar Amerika Serikat. Dosen Fakultas Ekonomi : Universitas Siliwangi Tasikmalaya Triyono. (Vol. Maret 2012). (Vol. (Vol. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Tukar Di Indonesia Periode 1990-2008. Forum Manajemen. Dan Cadangan Emas Terhadap Kurs US Dollar. (Vol. Inflasi. 9 No. Dominick. 2008). 1. Yunika.Murdayanti. Maret 2008). Apip.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful