Makalah Kesehatan Reproduksi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi sekarang ini sangat mendukung dalam kehidupan manusia di Indonesia bahkan di dunia, penemuan yang setiap waktu terjadi dan para peneliti terus berusaha dalam penelitiannya demi kemajuan dan kemudahan dalam beraktivitas. Ilmu kedokteran khususnya ilmu kesehatan pun begitu cepat bekembang mulai dari peralatan ataupun teori sehingga mendorong para pengguna serta spesialis tidak mau ketinggalan untuk bisa memiliki dan memahami wawasan serta ilmu pengetahuan tersebut. Terkait ilmu kesehatan dalam hal ini, yaitu kesehatan reproduksi banyak sekali teori-teori serta keilmuan yang harus dimiliki oleh para pakar atau spesialis kesehatan reproduksi. Wilayah keilmuan tersebut sangat penting dimiliki demi mengemban tugas untuk bisa menolong para pasien yang mana demi kesehatan, kesejahteraan dan kelancaran pasien dalam menjalanakan kodratnya sebagai perempuan. Pengetahuan kesehatan reproduksi bukan saja penting dimiliki oleh para bidan atau spesialais tetapi sangat begitu penting pula dimiliki khususnya oleh para istri-istri atau perempuan sebagai ibu atau bakal ibu dari anak-anaknya demi kesehatan, dan kesejahteraan meraka. Untuk itu, penulis dalam makalah ini bermaksud ingin memberikan beberapa pengertian yang mudah-mudahan makalah ini bermanfaat untuk khalayak pembaca khususnya para perempuan. Oleh karena itu penulis mengambil judul pada makalah ini, yaitu “KESEHATAN REPRODUKSI”. Undang-undang Nomor 36 tahun 2009, Bab VI pasal 46 dan 47 bahwa untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dalam bentuk upaya kesehatan perseorangan dan upaya kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh, dan berkesinambungan. Untuk keberhasilan upaya pembangunan kesehatan tersebut maka masyarakat perlu diikuti sertakan agar berpartisipasi aktif dalam upaya kesehatan. Dalam konsitusi dan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Bab IV tentang rumah sakit bahwa pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab untuk dalam hal ini menjamin pelayanan kesehatan di Rumah Sakit bagi fakir miskin, atau orang tidak mampu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) adalah program bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu. Program ini diselenggarakan secara nasional agar subsidi silang dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat miskin (Mukti, 2008). Peserta Program JAMKESMAS adalah setiap orang miskin dan tidak mampu selanjutnya disebut peserta JAMKESMAS sejumlah 76,4 juta jiwa bersumber dari data Badan Pusat Statisti (BPS) tahun 2006 yang dijadikan dasar penetapan jumlah sasaran peserta secara Nasional oleh Menteri Kesehatan RI (Menkes), Jumlah masyarakat miskin dan tidak mampu di Indonesia untuk Jaminan Kesehatan Masyarakat Tahun 2009 sebesar 18.963.939 rumah tangga miskin, 76.400.000 jiwa anggota rumah tangga miskin sedangkan anak-anak terlantar,

Tuntutan pasien terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas bukan hanya berkaitan dengan kesembuhan dari penyakit. Indonesian Corruption Watch (ICW) menilai pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin melalui Program Jamkesmas belum optimal. sehingga tercapai keseimbangan yang sebaikbaiknya antara tingkat puas atau hasil dan derita-derita serta jerih payah yang harus dialami guna rnempeoleh hasil tersebut (Awinda. 2004). 2009). meski hasil survei menunjukkan sebagian besar peserta Jamkesmas (83.L. sempitnya ruang tunggu. kualitas ruangan yang diberikan rumah sakit serta ketersediaan sarana penunjang medis dan non medis. Ryacudu Kotabumi dilaksanakan sesuai dengan pedoman pelaksanaan Jamkesmas 2008. Peran stategis ini diperoleh karena rumah sakit adalah fasilitas kesehatan yang padat teknologi dan padat pakar (Aditama. 2003). pelayanan administrasi. Beberapa pasien Jamkesmas mengeluhkan kekecewaan yang terkait dengan rumitnya proses administrasi untuk mengurus persyaratan Jamkesmas. Sedangkan Junaidi (2002) berpendapat bahwa kepuasan konsumen atas suatu produk dengan kinerja yang dirasakan konsumen atas poduk tersebut. Hasil observasi ICW juga menunjukkan bahwa kualitas pelayanan kesehatan bagi peserta Jamkesmas belum baik jika dilihat berdasarkan panjangnya antrian berobat. kondisi lingkungan fisik dan tanggap kepada kebutuhan pasien.309 jiwa. Hasil penelitian Ferdinand (2006) di RSU F. tetapi juga menyangkut persepsi pasien terhadap kualitas keseluruhan proses pelayanan yang termasuk ke dalamnya ketersediaan sarana dan prasarana rumah sakit guna guna memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat. Propinsi X sendiri 944. 2005).2 persen) menyatakan puas dengan layanan yang diberikan namun masih ada peserta yang tidak puas dengan pelayanan dokter (5%). Lembaga Swadaya Masyarakat itu menyatakan.972 rumah tangga miskin dan 4. ada perhatian terhadap keluhan. baik itu mengenai syarat . perawat (4. Ada beberapa hal di rumah sakit yang berperan dalam kepuasan pasien antara lain adalah pelayanan dokter dan perawat.247 jiwa anggota rumah tangga miskin dan Kabupaten X 158. Penelitian Gita Ardina (2008) menunjukkan bahwa pelayanan Jaminan Kesehatan masyarakat (Jamkesmas) di RSD.7%.7 %) dan petugas kesehatan sebanyak 4. Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai akibat dari kinerja pelayanan kesehatan yang diperoleh setelah pasien membandingkannya dengan apa yang diharapkannya.Tobing bahwa 80 % responden JPKMM menyatakan puas terhadap pelayanan perawatan.629.panti jompo dan masyarakat tidak memiliki KTP sebanyak 2.194 jiwa masyarakat miskin. Dengan demikian keberhasilan suatu rumah sakit tidak hanya ditentukan oleh kemampuan medis tetapi juga ditentuka oleh fasilitas pelayanan rumah sakit dan non medis (Andriani. Menurut Imbalo (2003). Kepuasan pasien adalah tingkat kepuasan pelayanan pasien dan persepsi pasien/keluarga terdekat. bahkan berita penolakan terhadap pasien Jamkesmaspun sering terdengar. dan lamanya peserta dalam menunggu waktu operasi.124. Jika kinerja produk lebih tinggi dari harapan konsumen maka konsumen akan mengalami kepuasan (Denipurnama. sikap perawat dan dokter yang tidak ramah. Kepuasan pasien akan tercapai apabila diperoleh hasil yang optimal bagi setiap pasien dan pelayanan kesehatan memperhatikan kemampuan pasien/keluarganya. lamanya waktu menunggu tindakan medis atau operasi dan fasilitas ruang rawat yang terbatas. Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

serta pelayanan dari petugas medis.68%) dan NDR (36. perawat kurang ramah sebesar 46%. Namun dalam pelayanan Jamkesmas di RDS. maka hams memberikan pelayanan untuk keluarga miskin dengan biaya ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. Rumah Sakit Umum Daerah X Kabupaten X mempakan mmah sakit tipe C dengan kapasitas 105 tempat tidur dan pusat rujukan dari empat Kabupaten.86%). perawat jaga sering tidak mengontrol pasien setiap pergantian jaga sehingga pasien sering terbengkalai sebesar 16%. GDR (51. TOI (0. 2010). Penelitian di RSU dr. dan pelayanan administrasi. Bila pasien yang Non JAMKESMAS saja pelayanan yang diberikan kurang memuaskan bagaimana lagi layanan kesehatan yang diberikan kepada pasien yang termasuk pengguna JAMKESMAS.Zainoel Abidin Banda Aceh pada tanggal 13 April 2009 melalui survey dengan menggunakan kuesioner kepada 30 responden (pasien umum) yang dirawat di Instalasi rawat inap (ruang penyakit dalam dan ruang rawat bedah) mengungkapkan dokter sering telat masuk sebesar 53%. BTO (6. Hal ini menunjukkan bahwa mmah sakit ini sudah melaksanakan tujuannya sebagai mmah sakit mjukan. Pasien JAMKESMAS yang dirawat inap pada tahun 2009 adalah 2565 orang dan pada tahun 2010 sampai bulan juni sebesar 1034 orang. Hal ini terungkap karena penulis sering kali mendengar keluhan dari beberapa pasien umum bahwa belum memuaskannya pelayanan yang diberikan baik dari segi kualitas perlengkapan maupun kualitas pelayanan lainnya seperti pelayanan medik. BTO (6.03%) dan pada tahun 2010 mulai dari januari sampai juni BOR (78. Ryacudu Kotabumi masih terdapat hambatan-hambatan dalam pelayanannya. Rumah Sakit X telah banyak mengalami pembahan terlihat dari bangunan begitu mewah dan fasilitas yang sudah memenuhi standart.77% ).61%). .73%) dan NDR (13.17%).98%).12%). Keputusan Menteri Kesehatan RI No 228/MENKES/SK/III/2002.dan prosedur pelayanan. Ryacudu Kotabumi. TOI (0. Sehingga masih dibutuhkan penyempurnaan agar tercapai derajat kesehatanmasyarakat yang optimal secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuan penyelenggaraan program Jamkesmas. Sampai saat ini pasien rawat inap yang datang menggunakan kartu JAMKESMAS semakin meningkat jumlahnya. Berdasarkan survei awal di RSUD X Kabupaten X dapat diketahui indikator pelayanan rawat inap berikut yaitu pada tahun 2009 BOR (88.40%).58%).53%). pemberian obat-obatan. Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan. AvLOS (3. pelayanan obatobatan. GDR (54. kemudian kurangnya sosialisai pemerintah terhadap masyarakat mengenai syarat dan prosedur pelayanan Jamkesmas di RSD. Pasien rawat inap biasanya dirawat antara 3-7 hari dengan keluhan yang berbeda-beda. perawat lamban dan kurang tanggap dalam melayani pasien sebesar 63% dan pemberian obat kepada pasien sering tidak tepat waktu 36% (Tuti. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa RSUD X Kabupaten X selaku lembaga yang melaksanakan pelayanan kesehatan terindikasi kurang memberikan pelayanan kesehatan yang memuaskan kepada pasien umum yang menanggung biaya rumah sakit sendiri. Bahwa rumah Sakit sesuai dengan tuntutan daripada kewenangan wajib yang hams dilaksanakan oleh rumah sakit propinsi/kabupaten/kota. AvLOS (4. antara lain terbatasnya sarana dan prasarana penunjang pelayanan medis. penulis menemukan beberapa permasalahan yang menyangkut pelayanan kesehatan yang diberikan oleh RSUD X Kabupaten X kepada pasiennya.

kesehatan seksual dan hak seksual. Hak yang Terkait Dengan Kesehatan Reproduksi Membicarakah kesehatan reproduksi tidak terpisahkan dengan soal hak reproduksi. Apa pengertian Kesehatan Reproduksi? 2. kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. 23 Tahun 1992).B. b. maka tujuan penulisan makalah ini. Hak reproduksi adalah bagian dari hak asasi yang meliputi hak setiap pasangan dan individual untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab jumlah. jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (UU No. yakni bagian dari hak asasi manusia untuk memutuskan secara bebas dan bertanggungjawab terhadap semua hal yang berhubungan dengan seksualitas. Kesehatan Reproduksi Pengertian Kesehatan Reproduksi Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan. Definisi ini sesuai dengan WHO. serta untuk memiliki informasi dan cara untuk melakukannya. jarak. yaitu: sehingga setiap orang akan mampu hidup produktif. B. Kesehatan Seksual Kesehatan seksual yaitu suatu keadaan agar tercapai kesehatan reproduksi yang mensyaratkan bahwa kehidupan seks seseorang itu harus dapat dilakaukan secara memuaskan dan sehat dalam arti terbebas dari penyakit dan gangguan lainnya. dan sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsi serta proses-prosesnya. mental. a. yaitu: 1. ditambahkan lagi (sejak deklarasi Alma Ata-WHO dan UNICEF) dengan syarat baru. termasuk kesehatan seksual dan reproduksi. dan mereka memiliki kemampuan untuk bereproduksi dan kebebasan untuk menentukan keinginannya. kapan dan frekuensinya. 2. Kesehatan reproduksi berarti bahwa orang dapat mempunyai kehidupan seks yang memuaskan dan aman. tetapi juga kesehatan mental dan sosial. Prinsip Dasar Kesehatan Dalam Hak Seksual dan Reproduksi . Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik. baik secara ekonomis maupun sosial. BAB II PEMBAHASAN A. Apa saja Hak yang terkait dengan Kesehatan Reproduksi? C. Untuk mengetahui hak yang terkait dengan Kesehatan Reproduksi. Untuk mengetahui pengertian Kesehatan Reproduksi. Terkait dengan ini adalah hak seksual. dan waktu kelahiran anak. bebas dari paksaan. Tujuan Penulisan Berdasarkan rumusan masalah di atas. diskriminasi dan kekerasan. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang akan disajikan sebagai berikut: 1.

hukum dan sebagainya) dan ingin dipadukan secara integratif sebagai pendekatan transdisiplin. • Personhood. • UU No. tidak hanya terbebas dari siksaan dan kejahatan fisik. ras. Oleh karena aitu diintroduksi pendekatan interdisipliner (meminjam pendekatan psikologi. termasuk usaha perlinduangan terhadap fungsi melanjutkan keturunan (Pasal 11 ayat 1f). • Tap No. dan kelas melainkan juga menjamin adanya keadilan sosial dan kondisi yang menguntungkan bagi perempuan. akan tetapi non klinis dan memasuki aspek ekonomi. hak atas tubuh sendiri. ilmu kebijakan. Hak kebebasan atas kualitas hidup untuk jaminan kesehatan dan keadaan yang baik untuk dirinya dan keluarganaya (Pasal 25). perkawinan harus dilaksanakan atas dasar suka sama suka (Pasal 16). 7 Tahun 1984 (Konvensi Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita: Jaminan persaman hak ats jaminan kesehatan dan keselamatan kerja. mengacu pada hak wanita untuk diperlakukan sebagai aktor dan pengambilan keputusan dalam masalah seksual dan reproduksi dan sebagai subyek dalam kebijakan terkait. • Ruang lingkup kesehatan reproduksi sangat luas yang mengacakup berbagai aspek. • Diversity. Setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak (Pasal 11). • UU No. kebutuhan. termasuk penerangan. • Penghapusan diskriminasi di bidang pemeliharaan kesehatan dan jaminan pelayanan kesehatan termasuk pelayanana KB (Pasal 12). Hak wanita dalam UU HAM sebagai hak asasi manusia (Pasal 45). penyuluhan dan pelayanan KB (Pasal 14 ayat 2 b). misalnya akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi. dan sosial-budaya. sosiologi. antropologi. penghargaan terhadap tata nilai. tidak hanya aspek biologis dan permasalahannya bukan hanya bersifat klinis.• Bodily integrity. c. Jamainan hak efektif untuk bekerja tanpa dikriminasi atas dasar perkwainan atau kehamilan (Pasal 11 ayat 2). Hak untuk hidup sejahtera lahir dan batin (Pasal 27). XVII/MPR/1998 tentang HAM Hak untuk membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah (Pasal 2). 39 Tahun 1999 tentang HAM Setiap orang berhak membentuk suatua kelauarga dan melanjutkan keturunan melalui pekawianana yang sah (Pasal 10). bukan hanya dalam hal menghentikan diskriminasi gender. Setiap orang berhak atas rasa aman dan tenteram serta perlindungan terhadap ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu (Pasal 30). juga untuk menikmati potensi tubuh mereka bagi kesehatan. • Penghapusan diskriminasi yang berhubungan dengan perkawinan dan hubungan kekeluargaan atas dasar persaman antara pria dan wanita (pasal 16 ayat 1). dan prioritas yang dimiliki oleh para wanita dan yang didefinisikan sendiri oleh wanita sesuai dengan keberadaannya sebagai pribadi dan anggota masyarakat tertentu. Hak atas pemenuhan kebutuhan dasar auntuk tumbuh dan berkembang secara layak (Pasal 3). Hak Aksasi Manusia yang terkait dengan kesehatan • Deklarasi Universal HAM 1948 Haka kebebasan mencari jodoh dan membentuk keluarga. kelahiran dan kenikmatan seks aman. . • Equality. persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dan antar perempuan itu sendiri. politik. • Jamianan hak kebebasan wanita pedesaan untuk memperoleh fasilitas pemeliharaan kesehatan yang memadai.

serta bagaimana mempertahankan dan meningkatkan cakupan imunisasi. misalnya mendorong peningkatan usia harapan hidup yang meningkatkan proporsi kelompok usia lanjut sementara masalah bayi dan BALITA tetap menggantung. Transisi perilaku. Kesimpulan . membawa masyarakat beralih dari perilaku tradisional menjadi modern yang cenderung membawa resiko. Gangguan pada lingkungan juga merupakan masalah kesehatan karena dapat memberikan gangguan kesehatan atau sakit.Dalam pemenuhan hak asasi manusia. anemia pada kelompok mahasiswa. Transisi epidemiologi. 1. Transisi gizi. tetapi gangguan kesehatan yang ditandai dengan adanya perasaan terganggu fisik. • Hak dan tanggungjawab yang sama antara isteri dan suaminya dalam ikatan perkawainan (Pasal 51). transisi epidemiologi. anak-anak usia sekolah. Transisi demografi. menyebabkan beban ganda atas penyakit menular yang belum pupus ditambah dengan penyakit tidak menular yang meningkat dengan drastis. kekurangan vitamin A pada anak. transisi gizi dan transisi perilaku. Di negara kita mereka yang mempunyai penyakit diperkirakan 15% sedangkan yang merasa sehat atau tidak sakit adalah selebihnya atau 85%. Selama ini nampak bahwa perhatian yang lebih besar ditujukan kepada mereka yang sakit. Sedangkan mereka yang berada di antara sehat dan sakit tidak banyak mendapat upaya promosi. dijamin dan dilindungi oleh hukum (Pasal 49 ayat 3). ditandai dengan gizi kurang dibarengi dengan gizi lebih. 4. • Wanita berhak untuk mendapatkan perlindungan khusus dalam pelaksanaan pekerjaan/profesinya terhadap hal-hal yang dapat mengancam keselamatan dan atau kesehatannya berkenaan dengan fungsi reproduksi wanita (Pasal 49 ayat 2). laki-laki dan perempuan berhak mendapatkan perlakuan dan perlindungan yang sama (Pasal 39). 3. Perubahan masalah kesehatan ditandai dengan terjadinya berbagai macam transisi kesehatan berupa transisi demografi. Untuk itu. terutama di daerah endemic. kekurangan kalori dan protein pada bayi dan anak-anak. mental dan spiritual. Masalah Kesehatan Masyarakat di Indonesia Dewasa ini di Indonesia terdapat beberapa masalah kesehatan penduduk yang masih perlu mendapat perhatian secara sungguh-sungguh dari semua pihak antara lain: anemia pada ibu hamil. BAB III PENUTUP Rangkuman : A. Masalah kesehatan tidak hanya ditandai dengan keberadaan penyakit. Permasalahan tersebut harus ditangani secara sungguh-sungguh karena dampaknya akan mempengaruhi kualitas bahan baku sumber daya manusia Indonesia di masa yang akan datang. dalam penyusunan prioritas anggaran. peletakan perhatian dan biaya sebesar 85 % seharusnya diberikan kepada 85% masyarakat sehat yang perlu mendapatkan upaya promosi kesehatan. A. Transisi kesehatan ini pada dasarnya telah menciptakan beban ganda (double burden) masalah kesehatan. 2. • Hak khusus yang melekat pada diri wanita dikarenakan fungsi reproduksinya.

yaitu: sehingga setiap orang akan mampu hidup produktif. mental. tetapi juga kesehatan mental dana sosial. B. Oleh kerana itu penulis memberi saran kepada para pihak yang terkait khususnya pemerintah. • Definisi kesehatan sesuai dengan WHO. . Materi Kesehatan Reproduksi. dan sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsi serta proses-prosesnya. • Hak reproduksi adalah bagian dari hak asasi yang meliputi hak setiap pasangan dan individual untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab jumlah. Dinas Kesehatan untuk bisa memberikan pengetahuan dan wawasan tersebut kepada khalayak masyarakat dengan cara sosialisasi. supaya kesejahtaraan dan kesehatan bisa tercapai dengan sempurna. Akademi Kebidanan YPIB Majalengka. Oleh karena itu bverdasarkan uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa. Saran Untuk itu wawasan dan pengetahuan kesehatan reproduksi sangatlah penting untuk bisa dikuasai dan dimiliki oleh para perempuan dan laki-laki yang berumah tangga. kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. kegiatan tersebut mudah-mudahan kesehatan reproduksi masyarakat bisa tercapai dan masyarakat lebih pintar dalam menjaga kesehatannya. DAFTAR PUSTAKA Mona Isabella Saragih. baik secara ekonomis maupun sosial. ditambahkan lagi (sejak deklarasi Alma AtaWHO dan UNICEF) dengan syart baru. • Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik. jarak. serta untuk memiliki informasi dan cara untuk melakukannya. Amkeb. SKM.Kesehatan reproduksi sangatlah penting untuk diketahui oleh para perempuan bakal calon ibu ataupun laki-laki calon bapak. dan waktu kelahiran anak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful