You are on page 1of 3

Untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Biologi

Disusun Oleh : Agnia Nursyifa Alvian Fathoni Alysa Amadhea Andina Rahayu Arief Pratama Aulia Muslim Kelas : X-3

ARCHAEBACTERIA
Archaebacteria merupakan kelompok bakteri yang dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan. Archaebacteria hidup di lingkungan yang ekstrim. Berdasarkan lingkungan hidupnya, kelompok bakteri ini dibedakan menjadi bakteri metanogen, bakteri halofil, dan bakteri termoasidofil.

Ciri-ciri Archaeobacteria :
a. Sel bersifat prokaryotik. b. Lipida pada membran sel bercabang. c. Tidak memiliki mitokondria, retikulum endoplasma, badan golgi, dan lisosom. d. Habitat di lingkungan bersuhu tinggi, bersalinitas tinggi, dan asam. e. Berukuran 0,1 m sampai 15 m, dan beberapa ada yang berbentuk filamen dengan panjang 200 m. f. Dapat diwarnai dengan pewarnaan Gram. g. Dinding sel tidak mengandung peptidoglikan.

h. Memiliki enzim RNA polymerase yang komplex dan mirip dengan enzim pada eucaryota. i. Tidak peka terhadap antibiotik seperti streptomycin ,chloramphenicol.

1. BAKTERI METANOGEN :
Bakteri yang menghasilkan metana dari gas hidrogen dan CO2 atau asam asetat. Metana disebut juga biogas. Bakteri metanogen hidup di rawa sebagai pengurai. Contohnya adalah : Methanobacterium Karakteristik Bentuk sel Sifat Klasifikasi Struktur dinding sel Metabolisme Sumber energi dan sumber karbon Metanogen Batang, kokus, spirilla, filament, sarcina Gram + / Gram Archaebacteria Pseudomurein, protein, heteropolysaccharida anaerob H2 + CO2, H2+ metanol, format, metilamin, metanol(30 % diubah menjadi CH4), asetat (80 % diubah menjadi CH4) CH4 atau CH4 + CO2

Produk katabolisme

Kebanyakan metanogen bersifat mesofilik dengan kisaran suhu optimum antara 20 0C 400C, namun metanogen juga dapat ditemukan di lingkungan ektrim seperti hydrothermal vent yang memiliki temperatur sampai 1000C. (Dubey,2005) Identifikasi bakteri metanogen dapat dilakukan dengan mengkultivasi bakteri metanogen dalam medium selektif dengan kondisi anaerob, Metanogen tergolong archaebacteria dengan struktur dinding sel yang tidak memiliki peptidoglikan sehingga

resisten terhadap agen yang dapat menghambat pembentukan peptidoglikan dan antibiotik cukup efektif digunakan untuk seleksi antara bakteri methanogen dan bakteri non methanogen.(Nakatsugawa,1992). Antibiotik yang dapat digunakan adalah vancomycin yang efektif untuk menghambat pembentukan dinding sel serta kanamycin yang dapat menghambat sintesis protein.(Nakatsugawa,1992). Analisis bakteri metanogen dilanjutkan dengan analisis produksi gas metan dengan menggunakan Gas Kromatografi atau gas analizer. Identifikasi bakteri metanogen secara mikroskopik telah dikaji sejak era tahun 70an. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ronald W. Mink dan Patrick R.Dugan (1978) menunjukkan bahwa bakteri metanogen dapat diidentifikasi secara mikroskopis dengan menggunakan mikroskop fluoresens. Secara fisiologi bakteri metanogen memiliki suatu substansi yang disebut F420, yaitu suatu koenzim yang dapat terabsorpsi dengan kuat pada panjang gelombang 420 nm (Ronald,1978), dengan adanya koenzim F420 dalam keadaan terreduksi menyebabkan bakteri ini dapat memancarkan sinar fluoresens berwarna hijau kebiruan ketika disinari oleh sinar ultraviolet pada panjang gelombang tertentu dan dapat membedakannya dengan bakteri non metanogen. Fungsi dari koenzim F420 adalah sebagai pembawa elektron pada proses metabolisme yaitu pada proses metanogenesis. (Michael,1989)

2. BAKTERI HALOFIL
Bakteri halofil ( Yunani, halo = garam, philos = suka ) adalah bakteri yang hidup di lingkungan dengan kadar garam tinggi. Halofil ekstrem bersifat heterotrof. Halofik ekstrim melakukan respirasi aerobik untuk menghasilkan energi, ada juga yang dapat berfotosintesis. Bakteri halofil hidup optimal pada lingkungan dengan kadar garam 20%. Beberapa jenis bakteri halofil membutuhkan lingkungan dengan kadar garam sepuluh kali lebih tinggi dari kadar garam air laut. Contoh bakteri halofil : Halobacterium.

3. BAKTERI TERMOASIDOFIL
Bakteri termoasidofil hidup di lingkungan ekstrim yang panas dan asam. Archaebacteria ini hidup dengan mengoksidasi sulfur. Kondisi bakteri ini adalah pada temperatur 60-80oC denagn pH 2-4. Bakteri ini terdapat pada daerah yang mengandung asam sulfat, misalnya di kawah vulkanik. Contohnya adalah bakteri Sulfolobus dan Thermoplasma.