You are on page 1of 7

Perubahan Paradigma Resusitasi Jantung Paru: “From ABC to CAB”

Submitted by ervan on Tue, 04/12/2011 - 13:17 Oleh: Letda Ckm dr. Angling Yunanto, CHt Dokter Yonif 221/Motuliato/Kostrad

I.

PENDAHULUAN Tahun lalu American Heart Association (AHA), dalam Jurnal Circulation yang diterbitkan 2 November 2010, mempublikasikan Pedoman Cardiopulmonary Resucitation (CPR) dan Perawatan Darurat Kardiovaskular 2010. Seperti kita ketahui, para ilmuwan dan praktisi kesehatan terus mengevaluasi CPR atau yang lebih kita kenal dengan Resusitasi Jantung Paru (RJP) ini dan mempublikasikannya setiap 5 tahun. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh mencakup urutan dan prioritas langkah-langkah CPR dan disesuaikan dengan kemajuan ilmiah saat ini untuk mengidentifikasi faktor yang mempunyai dampak terbesar pada kelangsungan hidup. Atas dasar kekuatan bukti yang tersedia, mereka mengembangkan rekomendasi yang hasilnya menunjukkan paling menjanjikan. Rekomendasi 2010 Pedoman mengkonfirmasi keamanan dan efektivitas dari banyak pendekatan, mengakui ketidakefektifan orang lain, dan memperkenalkan perawatan baru berbasis evaluasi bukti intensif dan konsensus para ahli. Kehadiran rekomendasi baru ini tidak untuk menunjukkan bahwa pedoman sebelumnya tidak aman atau tidak efektif, melainkan untuk menyempurnakan rekomendasi terdahulu. II. PEDOMAN RESUSITASI JANTUNG PARU TERBARU 2010 Setelah mengevaluasi berbagai penelitian yang telah dipublikasi selama lima tahun terakhir AHA mengeluarkan Panduan RJP 2010. Fokus utama RJP 2010 ini adalah kualitas kompresi dada. Berikut ini adalah beberapa perbedaan antara Panduan RJP 2005 dengan RJP 2010. 1. Bukan lagi ABC, melainkan CAB • AHA 2010 (new) “A change in the 2010 AHA Guidelines for CPR and ECC is to reccomend the initiation of chest compression before ventilation.”

• AHA 2005 (old) “The sequence of adult CPR began with opening of the airway, checking for normal breathing, and then delivering 2 rescue breaths followed by cycles of 30 chest compressions and 2 breaths.” Sebelumnya dalam pedoman pertolongan pertama, kita mengenal ABC: Airway, Breathing, Ciculation (Chest Compression) yaitu buka jalan nafas, bantuan pernafasan, dan kompresi dada. Pada saat ini, prioritas utama adalah Circulation baru setelah itu tatalaksana difokuskan pada Airway dan selanjutnya Breathing. Satu-satunya pengecualian adalah hanya untuk bayi baru lahir (neonatus), karena penyebab tersering pada bayi baru lahir yang tidak sadarkan diri dan tidak bernafas adalah karena masalah jalan nafas (asfiksia). Sedangkan untuk yang lainnya, termasuk RJP pada bayi, anak, ataupun orang dewasa biasanya adalah masalah Circulation kecuali bila kita menyaksikan sendiri korban tidak sadarkan diri karena masalah selain Circulation harus menerima kompresi dada sebelum kita berpikir memberikan bantuan jalan nafas. 2. Tidak ada lagi Look, Listen, and Feel • AHA 2010 (new) “Look, listen, and feel for breathing was removed from the sequence for assessment of breathing after opening the airway. The healthcare provider briefly checks for breathing when checking responsiveness to detect signs of cardiac arrest. After delivery of 30 compressions, the home rescuer opens the victim’s airway and delivers 2 breaths.” • AHA 2005 (old) “Look, listen, and feel for breathing was used to assess breathing after the airway was opened.” Kunci utama menyelamatkan seseorang dengan henti jantung adalah Bertindak bukan Menilai. Telepon ambulan segera saat kita melihat korban tidak sadar dan tidak bernafas dengan baik (gasping). Percayalah pada nyali Anda. Jika Anda mencoba menilai korban bernapas atau tidak dengan mendekatkan pipi Anda pada mulut korban, itu boleh-boleh saja. Tapi tetap saja sang korban tidak bernafas dan tindakan look listen and feel ini hanya akan menghabiskan waktu. 3. Tidak ada lagi Resque Breath • AHA 2010 (new) “Beginning CPR with 30 compressions rather than 2 ventilations leads to a shorter delay to first compression” Resque breath adalah tindakan pemberian napas buatan sebanyak dua kali setelah kita mengetahui bahwa korban henti napas (setelah Look, Listen, and Feel). Pada AHA 2010, hal ini sudah dihilangkan karena terbukti menyita waktu yang cukup banyak sehingga terjadi penundaan pemberian kompresi dada. 4. Kompresi dada lebih dalam lagi • AHA 2010 (new) “The adult sternum should be depressed at least 2 inches (5 cm)”

• AHA 2005 (old) “The adult sternum should be depressed 11/2 to 2 inches (approximately 4 to 5 cm).” Pada pedoman RJP sebelumnya, kedalaman kompresi dada adalah 1 ½ - 2 inchi (4 – 5 cm), namun sekarang AHA merekomendasikan untuk melakukan kompresi dada dengan kedalaman minimal 2 inchi (5 cm). 5. Kompresi dada lebih cepat lagi • AHA 2010 (new) “It is reasonable for lay rescuers and healthcare providers to perform chest compressions at a rate of at least 100x/min.” • AHA 2005 (old) “Compress at a rate of about 100x/min.” AHA mengganti redaksi kalimat disini sebelumnya tertulis: tekan dada sekitar 100 kompresi/ menit. Sekarang AHA merekomendasikan kita untuk kompresi dada minimal 100 kompresi/ menit. Pada kecepatan ini, 30 kompresi membutuhkan waktu 18 detik. 6. Hands only CPR • AHA 2010 (new) “Hands-Only (compression-only) bystander CPR substantially improves survival following adult out-of-hospital cardiac arrests compared with no bystander CPR.” AHA mendorong RJP seperti ini pada tahun 2008. Dan pada pedoman tahun 2010 pun AHA masuh menginginkan agar penolong yang tidak terlatih melakukan Hands Only CPR pada korban dewasa yang pingsan di depan mereka. Pertanyaan terbesar adalah: apa yang harus dilakukan penolong tidak terlatih pada korban yang tidak pingsan di depan mereka dan korban yang bukan dewasa? AHA memang tidak memberikan jawaban tentang hal ini, namun ada saran sederhana disini: berikan Hands Only CPR, karena berbuat sesuatu lebih baik daripada tidak berbuat sama sekali. 7. Pengaktivasian Emergency Response System (ERS) • AHA 2010 (new) “Check for response while looking at the patient to determine if breathing is absent or not normal. Suspect cardiac arrest if victim is not breathing or only gasping.” • AHA 2005 (old) “Activated the emergency response system after finding an unresponsive victim, then returned to the victim and opened the airway and checked for breathing or abnormal breathing.” Pada pedoman AHA yang baru, pengaktivasian ERS seperti meminta pertolongan orang di sekitar, menelepon ambulans, ataupun menyuruh orang untuk memanggil bantuan tetap menjadi prioritas, akan tetapi sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan kesadaran dan ada tidaknya henti nafas (terlihat tidak ada nafas/ gasping) secara simultan dan cepat.

8. Jangan berhenti kompresi dada • AHA 2010 (new) “The preponderance of efficacy data suggests that limiting the frequency and duration of interruptions in chest compressions may improve clinically meaningful outcomes in cardiac arrest patients.” Setiap penghentian kompresi dada berarti menghentikan aliran darah ke otak yang mengakibatkan kematian jaringan otak jika aliran darah berhenti terlalu lama. Membutuhkan beberapa kompresi dada untuk mengalurkan darah kembali. AHA menghendaki kita untuk terus melakukan kompresi selama kita bisa atau sampai alat defibrilator otomatis datang dan siap untuk menilai keadaan jantung korban. Jika sudah tiba waktunya untuk pernapasan dari mulut ke mulut, lakukan segera dan segera kembali melakukan kompresi dada. Prinsip Push Hard, Push Fast, Allow complete chest recoil, and Minimize Interruption masih ditekankan disini. Ditambahkan dengan Avoiding excessive ventilation. v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} 9. Tidak dianjurkan lagi Cricoid Pressure • AHA 2010 (new) “The routine use of cicoid pressure in cardiac arrest is not recommended.” • AHA 2005 (old) “Cricoid pressure should be used only if the victim is deeply unconscious, and it usually requires a third rescuer not involved in rescue breaths or compressions.” Cricoid pressure dapat menghambat atau mencegah pemasangan jalan nafas yang lebih adekuat dan ternyata aspirasi tetap dapat terjadi walaupun sudah dilakukan cricoid pressure. Cricoid pressure merupakan suatu metode penekanan tulang rawan krikoid yang dilakukan pada korban dengan tingkat kesadaran sangat rendah, hal ini pada pedoman AHA 2005 diyakini dapat mencegah terjadinya aspirasi dan hanya boleh dilakukan bila terdapat penolong ketiga yang tidak terlibat dalam pemberian nafas buatan ataupun kompresi dada. 10. Pemberian Precordial Thump • AHA 2010 (new) “The precordial thump should not be used for unwitnessed out-of-hospital cardiac arrest. The precordial thump may be considered for patients with witnessed, monitored, unstable VT (including pulseless VT) if a defibrillator is not immediately ready for use, but it should not delay CPR and shock delivery.” • AHA 2005 (old) “No recommendation was provided previously.” Pada beberapa kasus dilaporkan bahwa precordial thump dapat mengembalikan irama ventricular tachyarrhytmias ke irama sinus. Akan tetapi pada sejumlah besar kasus lainnya, precordial thump tidak berhasil mengembalikan korban dengan ventricular fibrillation ke irama

sinus atau kondisi Return of Spontaneous Circulation (ROSC). Kemudian terdapat banyak laporan yang menyebutkan terjadinya komplikasi akibat pemberian precordial thump seperti fraktur sternum, osteomyelitis, stroke, dan bahkan bisa mencetuskan aritmia yang ganas pada korban dewasa dan anak-anak. Pemberian precordial thump boleh dipertimbangkan untuk dilakukan pada pasien dengan VT yang disaksikan, termonitor, tidak stabil, dan bila defibrilator tidak dapat disediakan dengan segera. Dan yang paling penting adalah precordial thump tidak boleh menunda pemberian RJP atau defibrilasi. III. PENUTUP Dengan adanya pedoman resusitasi jantung paru terbaru ini, diharapkan dapat meningkatkan angka harapan hidup pada korban dengan henti jantung. Selain itu, pedoman ini juga lebih praktis dan relatif mudah untuk dipahami dan dilakukan sehingga dapat diajarkan kepada masyarakat awam sekalipun. Semakin banyak orang yang memahami dan mampu untuk melakukan resusitasi, maka semakin banyak pula korban henti jantung yang dapat terselamatkan. Disini penulis juga bersedia untuk berbagi pengetahuan dan ketrampilan terutama tentang pedoman resusitasi terbaru ini baik dalam pelatihan maupun seminar dan diskusi. Semoga bermanfaat. KOSTRAD. Referensi Andrew H, Travers. Thomas D, Rea. Bentley J, Bobrow et al. CPR Overview: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation 2010;122;S676-S684 Diana M, Cave. Raul J, Gazmuri. Charles W, Otto et al. CPR Techniques and Devices: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation 2010;122;S720-S728 Robert A, Berg. Robin, Hemphill. Benjamin S, Abella. Tom et al. Adult Basic Life Support: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation 2010;122;S685-S705

Sudakah Anda Mengetahui Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR)
Apr 17 Posted by dokteraldi

1 Vote

Background Pada pasien-pasien dengan henti jantung, survival rates dan neurologic outcomes sangat kecil, namun dengan resusitasi dini yang efektif, termasuk resusitasi jantung paru (RJP), defibrilasi dini, dan implementasi dari post-cardiac care yang tepat, dapat meningkatkan survival dan neurologic outcomes. Untuk itulah posting ini saya buat untuk meningkatkan pengetahuan kita dalam meningkatkan angka keberhasilan dalam merespons henti jantung. RJP terdiri dari tindakan kompresi dada dan artifisial ventilasi untuk mempertahankan sirkulasi pernapasan dan oksigenasi selam henti jantung terjadi. Variasi pada RJP diketahui sebagai “Hands only” atau “compression only” RJP hanya terdiri dari kompresi dada. Ini merupakan variasi dari terapi yang berkembang menjadi perhatian sebagai pilihan bagi penolong yang nonmedikal. Dari studi observasi yang melibatkan lebih dari 40.000 pasien disimpulkan bahwa standar RJP berhubungan dengan peningkatan angka keberhasilan dan nerologik outcome yang baik dibanding COCPT (Compression Only CPR). Namun, studi yang lain menunjukan hasil yang berlawanan, dan sekarang sudah diterima bahwa COCPR merupakan standar superior RJP pada pasien out of hospital cardiac arrest. Revisi dari American Heart Association (AHA) mengenai guidelines CPR menyatakan bahwa penolong yang tidak terlatih harus melakukan COCPR (hanya compresi dada) sebagai standar RJP. Lebih dari 300.000 penderita henti jantung yang terjadi setiap tahun di Amerika, angka keberhasilannya secara tipikal lebih rendah 10% untuk kejadian diluar rumah sakit dan lebih rendah 20% pada kejadian di rumah sakit. Ditambahkan, studi-studi yang telah dilakukan menunjukan bahwa angka keberhasilan menurun 10-15% pada setiap menit henti jantung tanpa pemberian RJP. Penolong saksi yang melakukan RJP awal dengan hitungan menit dari onset hemti jantung telah menunjukan peningkatan angka keberhasilan 2 sampai 3 kalilipat, sama baiknya juga peningkatan neurologic outcome pada 1 bulan. Artikel ini hanya fokus pada RJP, yang hanya pada satu aspek dari penanganan resusitasi. Intervensi lain, seperti pemberian pharmakologi, defibrilasi jantung, invasif prosedur jalan napas, penggunaan echocardiography dalam resusitasi, dan berbagai macam manuver diagnostik, tidak termasuk dalam artikel ini. American Heart Assiciation CPR Guidelines

Di tahun 2010, Emergency Cardiovascular Care Committee (ECC) dari AHA merilis guidelines terbaru untuk RJP. Perubahan-perubahan tersebut termasuk :
    

Inisial urutan langkah dirubah dari ABC (airway, breathing, chest compression) ke CAB (chest compressions, airway, breathing), kecuali pada bayi. “Look, listen, and feel” tidak direkomendasikan lagi. Kedalaman kompresi untuk dewasa harus tidak lebih dari lima centimeter. Rata-rata kompresi tidak lebih dari 100x/menit. Penatalaksanaan emergensi kardia tidak direkomendasikan termasuk atropin rutin pada pulseless electrical activity (PEA)/asystole, penekanan cricoid(dengan RJP), dan suksion jalan napas pada semua bayi. (kecuali mereka dengan obstruksi) Penanganan post cardiac arrest dilakukan pada seksi yang baru.

Guidelines AHA 2010 menyatakan bahwa penolong yang tidak ditraining harus melakukan COCPR (dimana sebelumnya AHA guidelines, RJP tidak disarankan dilakukan oleh penolong yang tidak ditraining secara terpisah). Beberapa studi menyimpulkan bahwa menghentikan kompresi dengan tujuan memberikan ventilasi dapat mengganggu pasien outcome. Sementar penolong menghentikan kompresi untuk memberikan 2 pernapasan, aliran darah juga berhenti, dan penghentian ini akan mencetuskan penurunan tekanan darah secara cepat dimana sudah dilakukan peningkatan tekanan darah pada kompresi sebelumnya. Indikasi RJP harus segera dilakukan secepatnya pada orang yang menjadi tidak sadar dan ditemukan tidak ada pulse (tidak ada nadi). Kehilangan aktivitas yang efektif dari jantung biasanya dicetuskan oleh nonperfusing arrhytmia, kadang-kadang berhubungan kepada aritmia malignan. Penyebab yang paling sering dari nonperfusing arrhytmias termasuk:
    

VF Pulseless VT PEA Asystole Pulseless bradycardia

Meskipun demikia defibrilasi awal telah menunjukan peningkatan angka keberhasilan pada irama VF dan pulseless VT, RJP harus dilakukan sebelum identifikasi irama dilakukan dan harus dilanjutkan sementara defibrilator dipasangkan dan charged. Ditambahkan pu;a, RJP harus dilanjutkan kembali setelah kejutan defibrilator sampai terlihat irama. Ini didukung oleh studistudi yang menunjukan “preshock pause” pada RJP menghasilkan nilai yang lebih rendah pada keberhasilan defibrilasi pada pemulihan pasien.