MAKALAH FTS PADAT

”TABLET ANTALGIN”

Disusun oleh: Andreas Purwo N 0407008 Pandanayu P Rintesa D.H.A 0408120 0408132 0408160

Wieke Febyanti

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI “YAYASAN PHARMASI” SEMARANG 2011

Makalah FTS Padat

I. II.

JUDUL Pembuatan sediaan granul dan tablet Antalgin. TUJUAN Mengetahui cara pembuatan tablet Antalgin mulai dari proses granulasi sampai pencetakan tablet dan melakukan evaluasi dari granul sampai tablet Antalgin yang telah dibuat.

III. LANDASAN TEORI

3.1Granulasi
Granulasi didefinisikan sebagai proses untuk memperbesar ukuran partikel, dari partikel yang kecil / halus menjadi agregat yang lebih besar dengan bentuk yang beraturan. Tujuan granulasi adalah untuk mendapatkan suatu partikel dengan ukuran yang lebih besar dari partikel asal sehingga dapat meningkatkan kompresibilitas dan fluiditas. Alasan lain dilakukan granulasi adalah untuk memudahkan pencampuran, mengurangi debu, mendapatkan partikel dengan densitas yang lebih seragam,dan mencegah segregasi. Idealnya suatu granul yang dihasilkan dari proses granulasi mempunyai sifat : bentuk sferis, distribusi ukuran partikelnya baik (distribusi normal ), dan tidak banyak fines, kelembapan granul 2-5%, fluiditas baik, kompresibilitas baik, Cukup keras / tidak rapuh, mengalami deformasi plastis bila dikompresi. Perubahan ukuran partikel dari bentuk serbuk menjadi bentuk granul, berpengaruh pada sifat partikel itu sendiri dan akhirnya akan berpengaruh pada proses pentabletan dan tablet yang dihasilkan. Efektifitas dan hasil granulasi tergantung dari beberapa sifat, yaitu : a) b) c) d) e) Besarnya ukuran partikel obat dan eksipient Tipe bahan pengikat yang digunakan Jumlah bahan pengikat yang digunakan Efektifitas dan lamanya proses pengadukan Kecepatan pengeringan

( Sulaiman, Teuku Nanda Saifullah.2007 ) Sifat-sifat dari granul secara langsung akan mempengaruhi tablet yang dihasilkan, seperti : a) b) c) d) e) Ukuran dan bentuk partikel Luas permukaan Kerapatan Kekuatan dan keregasan Sifat alir ( Lachman, Leon, dkk.2008 )

3.2Tablet
Menurut Farmakope Indonesia edisi IV 1995, tablet adalah sediaan padat yang mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatannya, tablet digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa. Tablet cetak dibuat dengan cara menekan masa serbuk lembab dengan tekanan rendah kedalam cetakan. Tablet kempa dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk / granul menggunakan cetakan tahan karat (cetakan baja). Tablet dapat dibuat dalam berbagai ukuran, bentuk, dan penandaan permukaan tergantung pada desain cetakan. Tablet berbentuk kapsul umumnya disebut kaplet. Tablet selain yang berukuran umum, juga dikenal bolus yaitu tablet besar yang digunakan untuk obat hewan, umumnya hewan besar. Pada umumnya tablet dibuat dengan bahan tambahan seperti bahan pengisi, pengikat, penghancur, dan pelicin. Untuk memperoleh tablet yang baik bahan baku yang akan dibuat harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut : 1. Mudah mengalir 2. Mudah dikempa 3. Mudah lepas dari cetakan
4. Mudah melepaskan bahan obatnya

Terdapat 3 metode dalam pembuatan tablet kompresi yaitu : granulasi basah, granulasi kering, dan cetak langsung , yaitu : a) Granulasi basah ( Wet Granulation ) Pada pembuatan granulasi basah, bahan yang akan dicetak dilembabkan dengan semacam cairan yang cocok, sehingga serbuk terlekat bersama dan terasa tanah yang lembab. Cairan granulasi ditambahkan sesuai dengan kebutuhan. Dipilih metode granulasi basah jika bahan aktif tahan terhadap air / pelarut dan terhadap panas. Contoh sediaan yang dibuat dengan granulasi basah adalah Parasetamol, INH, Vitamin B6, Vitamin B1,Antalgin. Bahan pengikat dalam proses granulasi basah dapat ditambahkan dalam bentuk : a. Larutan / mucilgo / suspensi ( cairan yang mengandung bahan pengikat ) b. Dalam bentuk kering, kemudian ditambahkan pelarutnya c. Pelarut saja Kekurangan dari granulasi basah adalah : 1. Biaya produksi lebih mahal 2. Banyaknya material yang hilang dalam proses pembuatan karena tahapnya lebih panjang. 3. Hanya dapat digunakan pada material yang tahan panas dan kelembapan. 4. Karena terlalu banyak tahapan proses, maka validasinya menjadi lebih banyak dan sulit. 5. Dalam proses granulasi karena pencampuran partikelnya sangat dekat dan intens, maka kemungkinan terjadi inkompatibilitas semakin besar. b) Granulasi kering Granulasi kering juga ditandai sebagai kompaktasi, sering dijumpai penggunaannya dalam industri. Mereka membutuhkan waktu yang lebih sedikit dan lebih ekonomis dari pada granulasi basah. Cara ini sangat tepat untuk toleransi zat –zat yang peka terhadap suhu / bahan obat yang tidak stabil dengan adanya air. Pada metode granulasi kering, bahan pengikat ditambahkan dalam bentuk serbuk dan tanpa penambahan pelarut. Ada 2 prinsip dasar untuk proses granulasi kering, yaitu :

Campuran serbuk dikempa menjadi tablet ( slugging dengan mesin tablet ) atau campuran serbuk ditekan menjadi lembaran. Tablet atau lembaran yang terbentuk selanjutnya dihancurkan menjadi butiran granul dan diayak. Kelebihan metode granulasi kering dibandingkan metode granulasi basah adalah peralatan dan ruang yang dibutuhkan lebih sedikit, energi yang dibutuhkan lebih kecil dan lebih murah. Sedangkan kekurangan metode granulasi kering adalah dibutuhkan mesin tablet bertekanan tinggi ( heavy duty tablet press ), distribusi warna tidak homogen, timbul banyak debu, dan berpotensi menimbulkan kontaminasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi slug yang dihasilkan, yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kompresibilitas dan kohesifitas dari serbuk Rasio kompresi dari serbuk Densitas dari serbuk Tipe mesin yang digunakan Ukuran punch dan dies Ketebalan Slug Kecepatan kompresi Takaran yang diberikan pada saat pembuatan ( Voight, 1994 ) c) Metode Cetak Langsung Metode ini digunakan untuk bahan yang mempunyai sifat mudah mengalir sebagaimana sifat-sifat kohesinya yang memungkinkan untuk langsung dikompresi dalam tablet tanpa memerlukan granulasi basah atau kering. Keuntungan utama dari metode ini adalah bahwa bahan obat yang peka terhadap lembab dan panas, yang stabilitasnya terganggu akibat operasi granulasi, dapat dibuat menjadi tablet. Akan tetapi dengan meningkatnya tuntutan akan kualitas tablet, maka metode ini tidak diutamakan (Voigt, 1984) Ada beberapa alasan kenapa suatu bahan aktif dibuat dalam bentuk sediaan tablet. Alasan pemilihan bentuk sediaan tablet berhubunan dengan kelebihan-kelebihannya.

Kelebihan Bentuk Sediaan Tablet: 1. Takaran obat/ bahan aktif cukup teliti dan serba sama untuk setiap tablet 2. Dapat menutupi rasa yang pahit, atau kurang enak jika dibandingkan dengan jenis sediaan serbuk dan cairan. 3. Dapat dibuat sesuai unkuran dosis yang diperlukan dan vriabilitas kandungan paling rendah 4. Umumnya lebih stabil dibandingkan sediaan cair 5. Lebih menguntungkan dalam distribusi, mudah dan murah untuk dikemas dan dikirim 6. Memungkinkan untuk dibuat tanda pengenal produk pada tablet, dengan cara membuat permukaan cetak timbul 7. Memungkinkan dibuat dengan profil pelepasan diusus atau produk lepas lambat. Kekurangan Bentuk Sediaan Tablet: 1. Beberapa zat aktif tidak dapat dikempa menjadi padat dan kompak 2. Zat aktif sukar terbasahi, lambat melarut, dosis tinggi sehingga sulit diformulasi untuk memberikan dosis seperti yang diharapkan 3. Zat aktif yang rasanya pahit atau tidak enak, baunya tidak enak, atau obat peka terhadaap oksige atau kelembapan udara sehingga tidak bias angsung dikempa 4. Sukar diberikan pada anak-anak penderita yang sulit menelan
(http://greenhati.blogspot.com/2009/04/farmasi-kekurangan dan kelebihan-tablet.html)

Komposisi tablet, secara umum terdiri dari:  Bahan aktif (active ingredients)  Bahan pembantu (nonactive ingredients/ excipients) Bahan Aktif Adalah bahan yang diharapkan memberikan efek terapetik atau efek lain yang diharapkan. Bahan aktif yang digunakan secara peroral / lewat mulut dibagi menjadi 2 katagori yaitu: 1. Bahan aktif tidak larut, dimaksudkan untuk memberikan efek local pada saluran pencernaan. Contoh : antasida dan absorben
2. Bahan aktif larut, dimaksudkan untuk memberikan efek sistemik dengan cara

terdisolusi/ terlarut dalam usus dan selanjutnya terabsorpsi.

Bahan Tambahan Adalah bahan selain zat aktif yang ditambahkan dalam formulasi suatu sediaan untuk berbagai tujuan dan fungsi. Eksipient mempunyai mempunyai fungsi dan peranan sangat penting dalam formulasi tablet. Hal ini karena tidak ada satupun zat aktif yang dapat langsung dikempa menjadi tablet tanpa membutuhkan exipient. Berdasarkan peranannya exipient dalam sediaan tablet dapat diklarifikasikan menjadi 2 macam yaitu : 1. Exipient yang berpengaruh dalam membantu proses pengempaan ( berpengaruh pada fluiditas dan kompaktibilitas) massa. Contoh : bahan pengisi-pengencer, pengikat, glidan dan lubrikan
2.

Exipient yang membantu memperbaiki karakter sifat fisik tablet agents ( Sulaiman, Teuku Nanda Saifullah.2007. hal: 76-78 )

Contoh : bahan penghancur, pewarna, serta pembasah dan surface-active

Macam-macam bahan tambahan (exipient) yang digunakan pada sediaan tablet adalah :
a. Pengisi ( diluent ) berfungsi untuk memperbesar volume massa agar mudah

dicetak / dibuat. Bahan pengisi ditambahkan jika zat aktifnya sedikit / sulit kempa. Misalnya : Laktosa, sukrosa, kaolin, amylum, glukosa, Kalsium sulfat dihidrogen phosphat.
b. Pengikat ( binder ) berfungsi memberikan daya adhesi pada massa serbuk

sewaktu granulasi serta menambah daya kohesi pada bahan pengisi, misalnya : Mucilage PGA 10%-20%, solution gelatin 10%-20%, larutan gula 50%-70%, Mucilage amylum 10%-15%.
c. Penghancur ( desintegran ) berfungsi membantu hancurnya tablet setelah ditelan,

misalnya : Amylum kering 5%-15%, pectin, agar, asam alginate 5%-10%, natrium alginate.
d. Pelicin ( lubricant ) berfungsi mengurangi gesekan selama proses pengempaan

tablet dan juga berguna untuk mencegah massa tablet melekat pada cetakan. Umumnya lubricant bersifat hidrofobik, sehingga dapat menurunkan kecepatan desintegrasi dan disolusi tablet. Oleh karena itu kadar lubrikan yang berlebih

harus dihindari. Misalnya : Talk 5%-15%, asam stearat 1%-5%, Mg stearat < 1%.
e. Glidan adalah bahan yang dapat meningkatkan kemampuan mengalirnya serbuk,

umumnya digunakan dalam kempa langsung tanpa proses granulasi. Misalnya : Silika pirogenik koloidal. ( Sulaiman, Teuku Nanda Saifullah.2007. hal: 78-79 ) Eksipien sangat menentukan dalam mendesain bentuk sediaan tablet. Konsep baru adalah eksipien sama pentingnya dengan bahan aktif. Pemilihan eksipien bertujuan untuk : 1. Meningkatkan stabilitas 2. Mengoptimalkan atau memodifikasi pelepasan obat (desintegran, polimer hidrofilik, bahan pembasah, polimer biodegradabel). 3. Memberikan fungsi esensial dalam teknologi manufaktur (pengikat, glidan, lubrikan ). 4. Meningkatkan penerimaan pasien, misal dengan penambahan flavor. 5. Membantu identifikasi produk ( zat warna ). ( Agoes, Goeswin.2008.hal : 192-193) Macam-macam jenis kerusakan pada pembuatan tablet antara lain :
a. Binding adalah kerusakan tablet yang disebabkan massa yang akan dicetak

melekat pada dinding ruang cetakan.
b. Sticking / Picking adalah pelekatan yang terjadi pada punch atas dan bawah yang

disebabkan permukaan punch tidak licin, pencetak masih ada lemaknya, zat pelicin kurang dan massanya basah.
c. Whiskering terjadi karena pencetak tidak pas dengan ruang cetakkan, terjadi

pelelehan zat aktif saat pencetakan pada tekanan tinggi. Akibatnya pada penyimpanan dalam botol-botol, sisi-sisi yang lebih akan lepas dan menghasilkan bubuk. d. Spliting / caping

Spliting adalah lepasnya lapisan tipis dari permukaan tablet terutama pada bagian tengah. Sedangkan caping adalah membelahnya tablet pada bagian atasnya. Disebabkan oleh : 1. 2. Daya pengikat pada massa tablet kurang Massa tablet terlalu banyak fines, terlalu banyak mengandung udara sehingga setelah dicetak udara akan keluar. 3. Tenaga yang diberikan pada pencetak tablet terlalu besar, sehingga udara yang berada di atas massa yang akan dicetak sukar keluar dan ikut tercetak. 4. 5. e. Mottling Adalah keadaan dimana homogenitas warna pada permukaan tablet tersebar tidak merata,hal ini disebabkan karena : • Obat / hasil uraiannya mempunyai warna yang berbeda dengan bahan tambahan dan tidak tercampur homogen. • Terjadi peristiwa migrasi selama pengeringan. • Penggunaan zat warna dan pencampuran yang tidak homogen.
f. Crumbling adalah tablet menjadi retak dan rapuh. Penyebabnya adalah kurang

Formulanya tidak sesuai Die dan punch tidak rata.

tekanan pada pencetakan tablet dan zat pengikatnya kurang.
(http://dprayetno.wordpress.com/kerusakanpembuatan-tablet/)

Kriteria sediaan tablet adalah stabil secara fisika dan kimia, secara ekonomi dapat menghasilkan sediaan yang dapat menjamin agar setiap sediaan mengandung obat dalam jumlah yang benar, penerimaan oleh pasien ( ukuran, bentuk, warna, rasa,dsb ), dan untuk mendorong pasien menggunakan obat sesuai dengan aturan pemakaian obat. Kriteria umum dalam mendesain sediaan tablet : 1. Disolusi obat optimal sesuai dengan ketentuan farmakope. 2. Ketersediaan hayati sesuai dengan tujuan penggunaan ( modifikasi ). 3. Ketelitian dan keseragaman kandungan obat dalam setiap takaran.

4. Stabilitas, termasuk stabilitas bahan aktif, formulasi tablet secara menyeluruh, waktu hancur, kecepatan dan jumlah bahan aktif terdisolusi dari tablet untuk jangka panjang. 5. Penerimaan pasien, sedapat mungkin produk jadi harus berpenampilan menarik. 6. Manufakrutabilitas yaitu rancangan formulasi yang memungkinkan untuk memproduksi bentuk obat secara efisien, ekonomis, praktis selama produksi dan reprodusibel. ( Agoes, Goeswin.2008.hal : 192) Jenis – jenis tablet Macam – macam jenis tablet antara lain : 1. Tablet kompresi 2. Tablet Kompresi ganda 3. Tablet salut gula 4. Tablet salut selaput 5. Tablet salut enterik 6. Tablet kunyah 7. Tablet Effervecent 8. Tablet Triturat 9. Tablet Hipodemik 10. Tablet Pembagi 11. Tablet pelepasan Terkendali ( Ansel, Howard.C.2005.hal : 245-250 )

3.3 Disolusi
Disolusi adalah proses suatu zat padat masuk kedalam pelarut sehingga terlarut. Dalam 8industri farmasi, disolusi didefinisikan sebagai jumlah obat yang terlarut persatuan waktu dibawah kondisi, temperatur, dan komposisi medium yang telah di standarisasi. ( Sulaiman, Teuku Nanda Saifullah.2007. hal: 209 ) Uji disolusi didasarkan pada kenyataan bahwa tablet itu pecah menjadi partikel – partikel kecil. Sehingga daerah permukaan media pelarut menjadi lebih luas dan akan berhubungan dengan tersedianya obat di dalam cairan tubuh. Namun sebenarnya uji hancur hanya menyatakan waktu yang diperlukan tablet untuk hancur dibawah kondisi yang ditetapkan dan lewatnya seluruh partikel melalui saringan berukuran mesh 10. Uji ini tidak memberi jaminan bahwa partikel –

partikel ini akan melepas bahan obat dalam larutan dengan kecepatan yang seharusnya. Itulah sebabnya uji disolusi dan ketentuan uji dikembangkan bagi hampir seluruh produk tablet. ( Leon Lachman edisi III jilid 2 hal 659 – 662 )

IV. ALAT DAN BAHAN
IV.1

ALAT : • • • • • • • • • • • • • baskom pencampur Alu Gelas ukur Beaker glass Pipet volum Pengayak anak timbang cawan moisture meter alat volumeter piknometer pencetak tablet disintegration tester Friability tester • Hardness tester

4.2 BAHAN

:

• Serbuk Antalgin • Amylum maydis • Aquadest panas • Gelatin • Magnesium stearat • Talcum • Lactosa • Parafin liquidum

V.

PRAFORMULASI 1. Tinjauan Farmakologi Bahan Obat Antalgin Sifat organoleptis Bentuk Warna Bau Rasa : Hablur/ serbuk hablur : Putih atau tidak berwarna : Tidak berbau : tidak berasa

Metamizol ( antalgin, dipiron, novaminsulfon, metampiron, Dolo neurobion, Novalgin, Unagen ) adalah derivat sulfonat dari amenofenazon yang larutb dalam air. Khasiat dan efeknya sama. Obat ini sering dikombinasikan dengan obat-obat lain, antaralain dengan aminofenazon. Obat ini dapat secara mendadak dan tak terduga menimbulkan kelainan darah yang ada kalanya fatal. Karena bahaya terjadinya agranulositosis, obat ini sudah banyak dilarang peredarannya di banyak negara, antara lain AS, Swedia, Inggris, dan Belanda. (Tjay, Tan Hoan dan Kirana R.2007.hal : 315)

Mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih darai 101,0% C13H16N3NaO4S dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan Pemerian serbuk, hablur, putih, atau putih kekuningan. Susut pengeringan tidak boleh lebih dari 5,5 %, pengeringan dilakukan menggunakan 250 mg yang ditimbang seksama, suhu pengeringan 105 ° C. ( Anonim.1979,hal : 369-370) Kelarutan Larut dalam 1 : 5 bagian air Larut dalam 1: 30 bagian alkohol Sedikit larut dalam kloroform Tidak larut dalam eter Stabilitas Metampiron dalam larutan air akan mengalami peruraian dengan lambat, dimana akan terjadi reaksi kesetimbangan. ( Siegfried Ebel, Hal : 58 ) Khasiat dan penggunaan Analgetikum, antipiretikum Dosis oral : 0,5-4 gram sehari dalam 3-4 dosis. Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
2. Tinjauan sifat fisiko kimia bahan tambahan

a. Amylum Maydis ( Pati Jagung ) Pemerian : Sangat halus,putih Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dingin dan etanol ( Anonim.1995.hal : 108 ) Amylum Maydis ( Starch ) Fungsi : Tablet desintegran, pengikat tablet, agent pengental - Tablet binder : 5 - 10 %

- Tablet desintegran : 3 – 25 % - Antiadheren & lubrikan : 3 – 10 % Sifat alir bersifat kohesif dan memiliki sifat alir yang baik ( Handbook of excipient, hal : 686 ) b. Gelatin Fungsi adalah agen penyalut, agen gel, suspending agent, tablet binder. Kelarutan : praktis tidak larut dalam aseton, Kloroform, etanol 95 %, eter dan metanol, tidak larut dalam air dingin, mengembang dan lunak bila dicelup dengan air, menyerap air secara bertahap sebanyak 5-10x beratnya, larut dalam air panas, dalam H2SO4 6 N dan dalam campuran air dan gliserin. Stabilitas : gelatin kering stabil didalam air. OTT : akan bereaksi dengan asam dan basa, aldehida polimer anion dan bahan kation elektrolit-elektrolit logam dan surfaktan ( Anonim.1995. Hal : 404 ) c. Talcum Konsentrasi talcum sebagai : Glidan-lubrikan Tablet-kapsul diluent lubrikan. ( Handbook of Exipient, hal :728 ) d. Mg Stearat Kelarutan : larut dalam etanol 95%, eter dan air. Inkompatibilitas dengan asam kuat, alkali dan garam besi. Mg stearat tidak dapat digunakan dengan produk yang mengandung aspirin, beberapa vitamin, dan beberapa garam alkaloid. Konsentrasi Mg Stearat sebagai lubrikan / pelincir dalam tablet antara 0,25-5% ( Handbook of Exipient, hal :404 ) Mg Stearat konsentrasi sebagai lubrikan / pelincir dalam tablet antara 0,25-1% ( Sulaiman, Teuku Nanda Saifullah.2007,hal :108-109 ) 3. Rancangan Formulasi Berat bahan Obat Antalgin ( Metampiron ) yang digunakan dalam resep / pembuatan formula sebanyak 500 mg dikutip dari sediaan ANTALGIN BERLICO 1-10% 5-30 %

Fungsi : anticaking agent, glidant, tablet dan kapsul diluent, tablet dan kapsul

( ISO, hal : 2 ) Akan dibuat tablet Antalgin dengan zat aktif sebanyak 500 mg dan bobot satu tablet dibuat 600 mg. Pembuatan sebanyak 500 tablet. Metode Dalam pembuatan tablet ini diperlukan bahan-bahan tambahan yang terdiri dari:  Bahan Pengisi  Bahan Penghancur  Bahan Pengikat
 Bahan Pelincir

: Laktosa : Amilum maydis : Larutan gelatin 5% : - Lubrikant - Antiadheren dan glidant : Mg Stearat : Talk

4.
No 1 Masalah

Alasan Pemilihan Bahan
Diinginkan Alternatif Pemecahan Dibuat sediaan: Tablet Kapsul Pilihan Tablet Alasan/ Keterangan Pembagian dosis akan lebih mudah dan jauh lebih tepat, mudah dalam menggunakannya.

- Ukuran dosis yang - Dosis yang tepat dan bervariasi dalam berbagai macam penggunaan. - Sediaan yang mudah digunakan dan mempunyai banyak keuntungan. Zat aktif memiliki sifat alir yang baik dan tahan terhadap pemansan maupun air. mencapai efek terapi. - Konsumen dimudahkan dalam penggunaanya

2

Dibuat dengan metode yang sesuai, sehingga dihasilkan tablet dengan stabilitas yang baik.

Dibuat dengan metode: Cetak langsung Granulasi basah Granulasi kering

Granulasi Basah

Zat aktif tahan terhadap air dan pemanasan. Dengan metode ini tablet diharapkan memiliki daya ikat (kompresibilitas) yang tinggi. Untuk memenuhi bobot tablet yang diinginkan, selain itu laktosa memiliki rasa yang agak manis sehingga diharapkan dapat menutupi rasa zat aktif yang asin. Dan laktosa

3

Bobot zat aktif dalam 1x dosis terlalu kecil untuk dibentuk dan dibuat bulk.

Bobot yang diinginkan untuk 1tablet adalah 600 mg.

Ditambahkan pengisi: Amilum laktosa

Laktosa

tidak OTT dengan zat aktif maupun komponen tambahan 4 Daya kohesi (kekompakan) serbuk Antalgin kurang baik dan sediaan akan dibuat dengan metode granulasi, sehingga ikatan antar granul sangat 5 diperlukan. Sediaan tablet sukar untuk segera hancur ketika kontak dengan cairan lambung Tablet yang memiliki daya kohesi yang tinggi untuk membentuk ikatan granul sehingga pada saat dipadatkan membentuk massa yang saling melekat. Sediaan tablet yang mudah pecah menjadi granul ketika berkontak dengan cairan pada saluran cerna, sehingga terjadi 6 Massa cetak kemungkinan lengket pada permukaan punch dan die karena pengeringan yang kurang sempurna. pelepasan zat aktif. Massa cetak tidak lengket pada permukaan punch dan die sehingga dihasilkan tablet yang sempurna, tidak mudah terjadi sticking. Ditambahkan antiadherent: talk Talk Amilum Amilum Amilum telah sering digunakan sebagai penghancur dan mempunyai daya hancur yang baik serta tidak OTT dengan komponen lainnya. Dengan talk massa cetak tidak lengket pada punch dan die (mengurangi adhesi antara punch dan die). Dan talk dapat pula dipakai sebagai glidant yang dapat memperbaiki karakteristik aliran granul dari hopper ke ruang die, dan glidant dengan aliran garanul yang baik distribusi ukuran partikel dapat 7 Kemungkinan tablet sulit dikeluarkan dari Tablet mudah dikeluarkan dari ruang die dalam Ditambahkan lubrikan: Mg stearat Mg stearat merata. Mg stearat dan talk merupakan kombinasi yang baik sebagai Mucilago gom arab, Gelatin Solutio Gelatin lainnya. - Natural, telah lama digunakan sebagai pengikat, memiliki daya ikat yang baik - Tablet yang dihasilkan cukup keras - Tidak OTT dengan zat lain.

ruang die dan terjadi gesekan antara punch dan die yang dapat menyebabkan bentuk tablet yang tidak rata.

bentuk tablet utuh.

Na Stearat

pelincir dalam tablet.

VI. FORMULASI R/ Antalgin Corigen coloris 500mg q.s

Amylum Maydis 10 % Sol.Gelatin 5 % q.s Talcum Mg stearat1% S.L ad 100% 1%

VII. PERSYARATAN EVALUASI GRANUL DAN TABLET

A. Evaluasi Granul o MC granul 2-4% dari granul yang ditimbang ( Lachman, hal : 655) o Daya alir 100 gram/10 detik ( Teuku Nanda, hal : 151 ) o Sifat alir Secara langsung : timbang 25 gram granul. Tempatkan pada corong alat, uji waktu alir dalam wadah tertutup, buka penutupnya. Biarkan granul menggalir, catat waktu dengan menggunakan stopwatch. Secara tidak langsung : pada cara (1) granul ditampung pada kertas grafik millimeter, catat tinggi (h) dan diameter anggokan granul. Hitung sudut α (sudut istirahat ) menggunakan persamaan , tg α = h/r ( Lachman ed III hal 615) Persyaratan kecepatan mengalir ( secara langsung ) Kecepatan mengalir Aliran

>10 g/dtk 4-10 g/dtk 1,6-4 g/dtk <1,6>

Bebas mengalir Mudah mengalir Sukar mengalir Sangat sukar mengalir

Persyaratan kecepatan mengalir (secara tidak langsung ) : A (angle of repose ) <25 25-30 30-40 >40 o Kompresibilitas Timbang 100 gram granul , masukkan ke dalam gelas ukur dari alat Joulting volumemeter, catat volumenya. Hidupkan motor, hitung hingga 10 ketukan , catat volumenya. Lakukan selanjutnya 50,100,500 ketukan. Hitung % kompresibilitasnya! % Kp =( Vo – Vn)/ Vn x 100% Vo = volume awal Vn = volume pada tiap jumlah ketukan Persyaratannya : Kompresibilitas 5-15 12-16 18-21 23-25 35-38 >40 o Evaluasi Kadar Lembab Timbang seksama 5,0 gram granul. Panaskan dalam lemari pengering ad bobot konstan (40-60 derajat Celcius ) % kadar lembab = (Wo-Wi )/Wo x 100% Wo = bobot granul awal Wi = bobot granul setelah pengeringan Persyaratan = 3-5 % →Vorght hal 172 2-4 % → Lachman hal 656 Keterangan Excellent Good Fair to passable Poor Very poor Extremely poor Tipe aliran Excellent Good Passable Very poor

B. Evaluasi Tablet o Keseragaman bobot tablet Timbang 20 tablet, hitung rata-rata tiap tablet. Jika ditimbang satu persatu tidak noleh lebih dari 2 tablet yang masing – masing bobotnya menyimpang. Jika tidak mencukupi 20 tablet, dapat digunakan 10 tablet. Bobot rata-rata tidak boleh menyimpang dari bobot rata-rata yang ditetapkan. Tabel Persyaratan : Bobot rata-rata <25> 26-150mg 151-300mg >300mg o Kekerasan Ambil 20 tablet, ukur kekerasan dengan alat Hardness Tester. Hitung rata-rata dan SD. Syarat : 4-8 kg/cm o Friabilitas Ambil 20 tablet, bersihkan dari seluruh serbuk halus. Timbang dan masukkan kea lat uji friabilator. Putar sebanyak 100 putaran. Keluarkan tablet dan bersihkan dari serbuk halus yang terlepas dan timbang kembali. Hitung % friabilitas! % F =( Wo – Wi )/ Wo x 100% Wo = bobot awal Wi = bobot setelah pengujian Syarat F ≤ 1% atau F≤ 0,8% o Waktu hancur Masukkan masing – masing 1 tablet ke dalam tabung dari alat uji tersebut. Masukkan 1 cakram pada tiap tabung dan jalankan alat. Gunakan air sebagai media dengan 37˚± 2. Semua tablet harus hancur sempurna, bila 1 atau 2 tablet tidak Penyimpangan bobot rata-rata A B 15% 30% 10% 20% 7,5% 15% 5% 10% ( FI ed III, hal : 7 )

hancur ulangi pengujian dengan 12 tablet lainnya. Tidak kurang 16 sari 18 tablet harus sempurna. Syarat : untuk tablet tidak bersalut . o Uji Disolusi Tablet Antalgin Persyaratan : Dalam waktu 45 menit tidak kurang dari 75 % antalgin dari yang tertera pada etiket harus sudah melarut. ( Siregar.1989.hal : 178-179)

VIII. SKEMA KERJA

PEMBUATAN GRANUL a. Solutio Gelatin 5 %

Ditimbang gelatin 5gram (+) air panas, jika perlu dipanaskan

Dicukupkan dengan air panas ad 100,0 ml

b. Granul

Ditimbang Antalgin, amylum maydis, lactose dan dimasukkan dalam baskom pencampur

Diaduk sampai homogen
(+) sol gelatin hingga terbentuk masa granul

Diayak menggunakan pengayak mesh no.18 Dikeringkan dalam almari pengering Ditambahkan talcum dan Mg stearat

Granul

Dilakukan Evaluasi

EVALUASI GRANUL a. Uji MC

Ditimbang 5 gram granul kering diletakkan secara merata di dalam cawan moisture meter di sisi kanan

Ditimbang granul tersebut dengan anak timbang 5 gram di sisi kiri cawan timbang moisture meter

Jarum skala tepat di tengah bila kedua sisi cawan/lempeng seimbang, jarum control tepat di tengah

Thermometer diletakkan di tempatnya dan lampu pengering dihidupkan , suhu dinaikkan hingga naik mencapai 100 0C

Dipertahankan suhu tersebut ± 15 menit supaya konstan , jarum diberatkan untuk mengimbangi berat granul agar jarum skala tetap 00C

Diamati dan dicatat pergeseran jarum control

( Teuku Nanda.2007.hal :185)

b. Uji Bobot Jenis Bobot Jenis Nyata

Dimasukkan granul kering dala gelas ukur 100,0 ml

Dihitung bobot jenis nyata, dengan rumus :

(Siregar.1992.hal :39)

Bobot Jenis Mampat

Ditimbang 100 gram granul kering

dimasukkan granul kering dalam gelas ukur 100,0 ml Diuji dengan alat volumeter Dimampatkan selama 60’ Diukur volume granul mapatnya Ditimbang granul yang dimampat

Dihitung bobot jenis mampat dengan rumus :

( Siregar.1992. hal : 38 )

Bobot Jenis Benar

Ditimbang piknometer kosong 10,0 ml (W1.g)

Diisi piknometer kosong dengan paraffin liquidum sampai penuh, ditimbang (W2.g)

Ditimbang seksama granulat sebanyak 1-1,5 g (W3 .g) dimasukkan ke dalam piknometer yang berisi paraffin liquidum

Ditambahkan paraffin liquid sampai 10,0 ml lalu ditimbang

Dihitung bobot jenis benar

( Siregar.1992. hal : 38 )

c. Uji Sifat Alir Daya Alir

Ditimbang 100,0 g granul dengan fase luar

Dimasukkan ke dalam, dialirkan lewat dinding corong sampai habis

Dibuka lubang corong, dihitung waktu mengalir serbuk sampai habis

Sudut Diam

Ditimbang 100,0 g granul dengan fase luar

Dimasukkan ke dalam corong, dialirkan lewat dinding corong sampai habis

Dibuka lubang corong, dibiarkan granul yang turun menbentuk kerucut

Diambil 2 penggaris kemuadian diukur tingginya

Dihitung susut diam dengan rumus :

( Teuku Nanda.2007.hal :150)

A. PENGETESAN KEKERASAN STOKE MONSTANTO

Diletakkan sebuah tablet ke dalam alat

Tekanan diatur sedemikian rupa sehingga tablet kokoh di tempatnya dan penunjuk berada pada skala D

Melalui putaran sebuah sekrup tablet dengan kenaikan tekanan lambat yang dipindahkan melalui sebuah per , sedemikian lama dibebani sampai tablet menjadi pecah. Tekanan dibaca langsung pada skala

(R.Voight, hal 219)

B. PENGETESAN WAKTU HANCUR TYPE 2T.2-ERWEKA

Dimasukkan tabung ke dalam sebuah keranjang jecil dengan 6 tabung kecil gelas

Bagian atas tabung terbuka, pada bagian paling bawah disimpan sebuah tenunan ayakan dengan lubang ayakan 2 mm

Keranjang kecil dicelupkan ke dalam sebuah gelas piala dengan cairan tes 370C yang dijumpai dalam sebuah penangas air yang ditermostatisasi

Setelah alat dihidupkan, dilaksanakan suatu gerakan ke atas dan di bawah dari keranjang tes kecil 30 kali di dalam semenit

Pada akhir waktu hancur sebaiknya semua bagian tablet jatuh melalui ayakan

(R.Voight, hal 224)

C. KERAPUHAN / FRIABILITY TAB-ERWEKA

Dimasukkan 20 tablet ke dalam sebuah drum pleksiglas yang berputar

Drum diputar dengan kecepatan 25 putaran/menit

Percobaan diselesaikan dengan 20 tablet yang dihlangkan debunya

Keausan (friabilitas) sebaiknya tidak melebihi 0,8 %

D. KESERAGAMAN BOBOT

Ditimbang 20 tablet , dihitung bobot rata-rata tiap tablet

Jika ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A dan tidak satu pun tablet yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih dari harga yang ditetapkan kolom B

Bobot Rata-Rata (mg) <25 26-150 151-300 >300

Penyimpangan Bobot Rata-Rata (%) A 15 10 7,5 5 B 30 20 15 10

(FI edisi III, hal 7)

E. UJI DISOLUSI TABLET TIDAK BERSALUT

Dimasukkan 1 tablet pada masing-masing tabung dari keranjang, dimasukkan 1 cakram pada tiap tabung dan jalankan alat

Digunakan air bersuhu 370 ± 20 sebagai media kecuali dinyatakan menggunakan cairan lain

Pada akhir batas waktu, diangkat keranjang dan diamati semua tablet

Bila 1 tablet/2 tablet tidak hancur sempurna, diulangi pengujian denga 12 tablet lainnta tidak kurang 16 dari 18 tablet yang diuji harus hancur sempurna

F. CARA PENCETAKAN TABLET

Ditimbang granul pada percoban I

Ditambah dengan pelicin, dicampur hingga homogen

Dimasukkan dalam hopper dan dicetak dengan bobot tablet sesuai dengan berat yang diinginkan

Dilakukan evaluasi tablet meliputi keseragaman bobot, kerapuhan, kekerasan, dan waktu hancur

Dilakukan penetapan kadar zat aktif dan uji disolusi tablet

UJI DISOLUSI TABLET ANTALGIN  Alat dan Bahan Alat : 1,Dissolution tester 2.Spuit injeksi 3.Labu takar 4.Tabung reaksi 5.Rak tabung 6,Spektrofotometer Bahan: 1.Tablet antalgin 2.HCl 0,1 N

 Prosedur Kerja Uji Disolusi Tablet Antalgin Kondisi uji disolusi: a. Media disolusi b. Alat disolusi c. Kecepatan rotasi d. Waktu pengambilan cuplikan : 900 mL asam klorida (HCl) 0,1 N : tipe 2 : 50 rpm : 45 menit

A. PEMBUATAN LARUTAN BAKU

Ditimbang seksama 50 mg antalgin dan dimasukkan labu takar 50,0 ml

HCl 0,1 N sampai larut Dihomogenkan

Ditambah HCl 0,1 N sampai tanda batas

Dipipet seksama 5,0 ml dan dimasukkan labu takar 50,0 ml

Dibuat deret baku dengan 5 konsentrasi

Diabsorbansi pada panjang gelombang 294 nm

Diperoleh persamaan regresi linier y = bx+a

B. UJI DISOLUSI

Tabung dari keanjang berisi media HCl 0,1 N

Tablet dimasukkan

Alat dayung dipasang

Alat disolusi dijalankan

Dispuit pada setiap tabung pada menit ke 5,10,15,30,45

Diukur secara spektrofotometri pada panjang gelombang 258 nm

Dihitung kadar obat yang terdisolusi berdasarkan persamaan regresi linier y = bx+a

IX.

HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

(1) Evaluasi dengan granul kering a. MC granul = 3 x 5 g b. BJ nyata = 1 x 100 g = 15 g = 100 g = 100 g = 4,5 g = 100 g + 319,5 g

c. BJ mampat= 1 x 100 g d. BJ benar
e. Sifat alir

= 3 x 1,5 g = 1 x 100 g

(2) Evaluasi dengan tablet a. Uji kekerasan tablet b. Uji Kerapuhan c. Uji Keseragaman bobot d. Waktu hancur = 3 x 1 tab x 600 mg/tab = 10 tablet x 600 mg /tab = 1 x 20 tab x 600 mg /tab = 6 tab x 600 mg / tab = 1800 mg = 6000 mg = 12000 mg = 3600 mg

e. Uji disolusi

= 1 x 3 tab x 600mg/tab

= 1800 mg + = 25200 mg = 25,2 g

(3) Jumlah granul untuk evaluasi adalah 319,5 gram + 25,2 gram = 344,7 gram

(4) Jumlah granul yang masih dapat digunakan a. BJ nyata b. BJ mampat = 100 gram = 100 gram = 2,5 gram + 202,5 gram

c. Uji keseragaman bobot

(5) Jumlah granul yang dibutuhkan = 344,7 gram – 202,5 gram = 142,2 gram = 142200 mg

(6) Jumlah tablet yang harus dibuat adalah

(7) Tabel penimbangan bahan No Nama bahan Perhitungan Penimbanga n 1 2 3 4 5 Antalgin Amylum maydis Solutio gelatin 5% Talkum Mg stearat 1% x 600 mg x 500 1% x 600 mg x 500 500 mg x 500 10% x 600mg x 500 250 g 30 g q.s 3g 3g

6

SL

ad 100% (0,600 g x 500) – (250 g+30g+3g+3g) = 14 gram

14 g

(8) Jumlah granul kering = 290,787 g
a. Bobot granul 100% = b. Bobot Mg stearat = c. Bobot talcum =

x 290,787 g = 296,72 g x 296,72 g = 2,97 g

x 296,72 g = 2,97 g

(9) Jumlah pemakaian gelatin =

x 5 g = 2,75 g = 2750 mL

(10)Bobot tablet sebenarnya = (

) + 600 mg = 605,5 mg

Data Pengamatan granul (1) Jumlah granul dan fines = 290,787 g a. Jumlah granul = 243,134 g %= x 100% = 83,61 %

b. Jumlah fines = 47,653 g %= x 100% = 16,39% < 20%

(2) MC granul = 4,2%

(3) Bobot jenis a. Bobot jenis nyata Diket: m = 60,538 g Vo = 100 mL ρo = = = 0,61 g/mL

b. Bobot jenis mampat Diket: m = 60,538 g Vk = 95 mL ρ1 = = = 0,64 g/mL

c. Bobot jenis benar Bobot pikno kosong (W1) Bobot pikno + paraffin liq (W2) = 12,1200 g = 20,5282 g

Bobot granulat + paraffin liq(W3) = 21,0287 g Bobot granul = 1,0001 g

Bobot pikno + paraffin Bobot pikno kosong Bobot paraffin 1

= 20,5282 g = 12,1200 g = 8,4082 g

Bobot pikno + paraffin + granulat= 21,0287 g Bobot granul Bobot pikno + paraffin Bobot pikno kosong Bobot paraffin 2 = 1,0001 g = 20,0286 g = 12,1200 g = 7,9086 g

ρ Paraffin pada suhu 250 C = 0,87 g/mL ρ pada suhu 250 C = 0,99707 g/mL bobot paraffin yang tumpah = 8,4092 g – 7,9086 g = 0,5006 g volume paraffin liq yang tumpah = ρ granul = BJ = = = = 1,7432 = = 0,5754 mL

= 1,7381 g/mL

(4) Sifat alir Waktu alir = 7 detik Berat granul = 100 g Daya alir = = = 14,29 g/detik

(5) Sudut diam r = 5,5 h=3 tan θ =

tan θ = 0,5454 θ = 28,60 < 400

(6) Kompresibilitas C= ρo = 0,61 g/mL ρ1 = 0,64 g/mL C=

(7) Porositas ρ1 = 0,64 g/mL ρ0 = 0,61 g/mL persen porositas =

PERHITUNGAN TABLET  Jumlah gelatin yang digunakan adalah Perhitungan =
 Bobot tablet sebenarnya =

)+ 600 mg

= 5,5 mg + 600 mg = 605,5 mg  Bobot tablet antalgin yang digunakan 600 mg Syarat keseragaman bobot menurut FI ed III,hal.7 (bobot rata-rata tablet > 300 mg ( 5%-10%)) A)Syarat 5% x605,5 mg = 30,275 mg Range = (605,5 mg – 30,275 mg)-( 605,5 mg+ 30,275 mg) = ( 575,225 mg – 635,775 mg) B) Syarat 10%

Range = (605,5 mg-60,55 mg)-(605,5 mg+60,55 mg) = (544,95 mg – 666,05 mg) DATA PENGAMATAN TABLET  Keseragaman Bobot Bobot total (20 tablet) = 12,604 g Bobot tiap tablet =

No

Bobot tablet (mg)

No

Bobot tablet (mg)

1. 2. 3. 4.

632 620 634 648

11. 12. 13. 14.

640 625 622 632

5. 6. 7. 8. 9. 10. SD = 10,2166 Rata-rata = 630,2 CV =

633 642 620 644 636 616

15. 16. 17. 18. 19. 20.

642 630 616 629 620 615

 Uji Kerapuhan Bobot sebelum dilakukan pengujian = 12,573 g Bobot setelah dilakukan pengujian = 12,567 g % Kerapuhan =  Uji Kekerasan Tablet NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Kekerasan (kg) 10 10 10 13 10 10,5 9,5 9 14 14

 Waktu Hancur NO. Waktu Hancur (menit) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 4,07 5 5 5 5 5

PERHITUNGAN UJI DISOLUSI  Pembuatan media HCl 0,1 N N HCl pekat = 37% N= = 37 mL/100mL

 HCl yang dibutuhkan 0,1 N digunakan untuk 4000 mL V1 x N1 = V2 x N2 0,1 x 4000 = V2 x 12,0630 V2 = 33,159 mL V2 = 33,16 mL ad 4000 mL aquadest

 Deret baku Cara penetapan: Ultraviolet Spectrum Aqueous Acid 158 nm A11 = 266a (Clarke’s Analysis of Drug and Poison, hal.941-942)

A = a.b.C 0,2 = 266.1.C C = 7,5188 x 10-4 C = 7,5188 ppm

A = a.b.C 0,8 = 266.1.C C = 3,0075 x 10-3 C = 30,075 ppm

 Rentang kadar deret baku (7,5188 ppm-30,075 ppm) Larutan baku = 50 mg/50 mL = 1000 ppm

(Pengenceran 10x)

100 ppm

 Penimbangan baku Berat kertas + antalgin= 0,3225 g Berat kertas + sisa Berat antalgin = 0,2741 g = 0,0484 g = 48,4 mg

Konsentrasi larutan baku sebenarnya =

No 1.

Deret baku 8 ppm V1.N1 = V2.N2 V1 x 100 = 25 x 8 V1 = 2,0 mL ad 25 mL

Koreksi kadar

V1.N1 = V2.N2 2,0 x 96,8 = 25 x N2 N2 = 7,7 ppm

2.

12 ppm V1.N1 = V2.N2 V1 x 100 = 25 x 12 V1 = 3,0 mL ad 25 mL V1.N1 = V2.N2 3,0 x 96,8 = 25 x N2 N2 = 11,6 ppm

3.

16 ppm V1.N1 = V2.N2 V1 x 100 = 25 x 16 V1 = 4,0 mL ad 25 mL V1.N1 = V2.N2 4,0 x 96,8 = 25 x N2 N2 = 15,5 ppm

4.

20 ppm V1.N1 = V2.N2 V1 x 100 = 25 x 20 V1 = 5,0 mL ad 25 mL V1.N1 = V2.N2 5,0 x 96,8 = 25 x N2 N2 = 19,4 ppm

5.

25 ppm V1.N1 = V2.N2 V1 x 100 = 100 x 25 V1.N1 = V2.N2 25,0 x 96,8 = 100 x N2

V1 = 25,0 mL ad 100 mL  Data absorbansi baku Konsentrasi sebenarnya (ppm) 7,7 11,6 15,5 19,4 24,2

N2 = 24,2 ppm

Absorbansi 0,191 0,218 0,412 0,511 0,629

a = -0,0564 b = 0,0286 r = 0,9827 y = bx + a y = 0,0286 x - 0,0564

 Penimbangan tablet untuk uji disolusi Tablet 1 = 624 mg Tablet 2 = 620 mg Tablet 3 = 600 mg

 Absorbansi sampel (tablet antalgin) a. Replikasi 1 Waktu pengambilan cuplikan 5 menit Absorbansi 0,326 (pengenceran 10x)

10 menit 15 menit 30 menit 45 menit

0,498 (pengenceran 10x) 0,750 (pengenceran 10x) 0,358 (pengenceran 25x) 0,409 (pengenceran 25x)

b. Replikasi 2

Waktu pengambilan cuplikan 5 menit 10 menit 15 menit 30 menit 45 menit

Absorbansi 0,314 (pengenceran 10x) 0,504 (pengenceran 10x) 0,588 (pengenceran 10x) 0,435 (pengenceran 25x) 0,555 (pengenceran 25x)

c. Replikasi 3

Waktu pengambilan cuplikan 5 menit 10 menit 15 menit 30 menit 45 menit

Absorbansi 0,284 (pengenceran 10x) 0,428 (pengenceran 10x) 0,803 (pengenceran 10x) 0,362 (pengenceran 25x) 0,422 (pengenceran 25x)

SAMPEL TABLET ANTALGIN Replikasi I t (menit) 5 Absorbansi 0,326 X (ppm) 13,3663 Pengenceran 10x X . pengenceran 133,663 % terdisolusi 23,13%

10 15 30 45

0,498 0,750 0,358 0,409

19,3777 28,1850 14,4847 16,2672

10x 10x 25x 25x

193,777 281,850 362,118 406,68

33,79% 49,16% 63,22% 71,09%

Berat zat aktif =

t5’ 133,663 = % terdisolusi =

t10’ 193,777 ppm = Factor koreksi = Kadar terkoreksi = 174,399 mg + 1,3366 mg = 175,7356 mg % terdisolusi =

t15’ 281,850 ppm = Factor koreksi = Kadar terkoreksi = 253,665 mg + 1,9526 mg = 255,6176 mg % terdisolusi =

t30’ 362,118 ppm = Factor koreksi = Kadar terkoreksi = 325,9062 mg + 2,8402 mg = 328,7464 mg % terdisolusi =

t45’ 406,68 ppm = Factor koreksi = Kadar terkoreksi = 366,012 mg + 3,6527 mg = 369,665 mg % terdisolusi =

AUC01 = AUC01 = AUC01 = AUC01 = AUC01 =

AUC total

= (2,313 + 5,692 + 8,295 + 3,746 + 4,477) = 24,523

% DE = = = 0,77%

Replikasi II t Absorbans i X (ppm) Pengencera n x.Pengence ran % Terdisolu si 5’ 10’ 15. 30’ 0,314 0,504 0,588 0,435 12,9469 19,5874 22,5232 17,1759 10x 10x 10x 25x 129,469 ppm 195,874 ppm 225,232 ppm 429,3975 ppm 45’ • 0,555 21,3698 25x 534,245 ppm 93,89% 22,55% 34,50% 39,62% 75,24%

Berat zat aktif = t 5’ → 129,469 ppm = 129,469 mg/1000ml = 116,5221 mg/900ml % terdisolusi = t 10’ → 195,874 ppm = 195,874 mg/1000ml = 176,2866 mg/900ml Faktor koreksi = Kadar terkoreksi = 176,2866 mg + 1,9587 mg = 178,2453 mg % Terdisolusi =

t 15’ → 225,232 ppm = 225,232 mg/1000ml = 202,7088 mg/900ml Faktor koreksi = Kadar terkoreksi = 202,7088 mg + 1,9805 mg = 204,6893 mg % Terdisolusi = t 30’ → 429,3975 ppm = 429,3975 mg/1000ml = 386,4578 mg/900ml Faktor koreksi = Kadar terkoreksi = 386,4578 mg + 2,2743 mg = 388,7321 mg % Terdisolusi = t 45’ → 534,245 ppm = 534,245 mg/1000ml = 480,8205 mg/900ml Faktor koreksi = Kadar terkoreksi = 480,8205 mg + 4,3192 mg = 485,1397 mg % Terdisolusi = AUC (0-1) = AUC (1-2) = AUC (2-3) = AUC (3-4) = AUC (4-5) = % DE =

Replikasi III

t (menit) 5 10 15 30 45

Absorbansi 0,284 0,428 0, 803 0,362 0,422

X (ppm) 11,8984 16,9312 30,0374 14,6245 16,7215

Pengenceran 10x 10x 10x 25x 25x

X . pengenceran 118,984 169,312 300,374 365,6125 418,0375

% terdisolusi 21,42% 30,71% 54,41% 66,41% 75,98%

Berat zat aktif =

t5’ 118,984 ppm = % terdisolusi =

t10’ 169,312 ppm = Factor koreksi = Kadar terkoreksi = 152,3808 mg + 1,1898 mg = 153,5706 mg % terdisolusi =

t15’ 300,374 ppm = Factor koreksi = Kadar terkoreksi = 270,3366 mg + 1,7063 mg = 272,0429 mg % terdisolusi =

t30’ 365,6125 ppm = Factor koreksi = Kadar terkoreksi = 329,0513 mg + 3,0227 mg = 332,074 mg % terdisolusi =

t45’ 418,0375 ppm = Factor koreksi = Kadar terkoreksi = 376,2338 mg + 3,6897 mg = 379,9235 mg % terdisolusi =

AUC01 = AUC01 = AUC01 = AUC01 =

AUC01 =

AUC total

= (2,142 + 5,213 + 8,512 + 4,027 + 4,746) = 24,64

% DE = = = 0,72%

X. PEMBAHASAN

Pada praktikum teknologi sediaan padat ini,dilakukan uji pembuatan granul dengan metode granulasi basah kemudian dicetak menjadi tabet dan dilakukan evaluasi. Granulasi merupakan tahap yang sangat penting dalam pembuatan tablet karena merupakan proses utama sebelum di cetak menjadai tablet. Tujuan proses granulasi adalah untuk meningkatkan aliran

serbuk dengan jalan membentuknya menjadi bulatan-bulatan dalam bentuk yang beraturan yang disebut granul. Zat aktif yang digunakan adalah Antalgin. Antalgin mempunyai sifat tahan terhadap panas, tahan terhadap air (kelembapan) dan pelarut cair serta memiliki sifat alir yang baik. Dengan melihat karakteristik dari Antalgin ini, Antalgin dapat dibuat dengan pilihan metode pembuatan tablet yakni granulasi basah dan cetak langsung. Granulasi basah dapat dilakukan jika zat aktif tahan terhadap pemanasan dan air selain itu granulasi basah dapat memungkinkan homogenitas campuran dan dapat digunakan untuk obat dengan dosis yang rendah. Sedangkan cetak langsung dapat dilakukan jika zat aktif mempunyai sifat alir yang baik. Pada percobaan ini Antalgin dibuat dengan metode granulasi basah. Pembuatan tablet dengan metode granulasi basah akan menghasilkan tablet yang lebih kuat karena adanya penambahan zat pengikat. Pengikat bentuk gelatin ini memiliki daya kohesi yang kuat untuk menyatukan serbuk-serbuk tablet dan membentuk ikatan granul-granul sehingga terbentuk tablet yang memiliki kekompakan yang tinggi. Dengan kekompakan tablet yang tinggi menjadikan tablet tidak mudah pecah, rapuh, ataupun retak pada saat dicetak. Formula yang dibuat untuk tablet dengan zat aktif Antalgin ini, digunakan zat tambahan sebagai pengikat adalah gelatin. Pada literatur Teknologi dan Formulasi sediaan Tablet, konsentrasi gelatin apabila digunakan sebagai pengikat adalah antara 2%-7%. Pada formula yng dibuat konsentrasi gelatin yang digunakan sebagai pengikat adalah sebanyak 5%. Diharapakan pada konsentrasi tersebut daya kohesi antar komponen penyusun granul tidak terlalu kuat maupun tidak terlalu lemah. Apabila konsentrasi pengikat yang ditambahkan terlalu banyak maka masa yang akan dibuat menjadi granul akan menghasilkan massa yang lembek sehinggga sulit untuk diayak dan akan mempengaruhi pada proses pencetakan tablet. Selain itu, dengan kelembapan yang tinggi akan memperlama waktu yang dibutuhkan untuk pengeringan granul.Sedangkan apabila konsentrasi yang ditambahkan terlalu kecil maka campuran yang dihasilkan tidak membentuk masa granul yang baik masih seperti serbuk sehingga kadar fines yang diperoleh banyak. Komponen tambahan lainnya adalah zat pengisi (diluent), Pengisi ini biasa digunakan jika kandungan zat aktif tidak cukup untuk membuat tablet dengan ukuran yang sesuai, selain itu pengisi juga dapat meningkatkan daya kohesi antar serbuk dan dapat memperbaiki sifat alir granul dalam hopper. Jika kandungan zat aktif cukup tinggi, mungkin dibutuhkan pengisi yang sedikit atau bahkan tidak dibutuhkan sama sekali. Tablet yang dibuat dengan penggunaan laktosa menunjukan laju pelepasan zat aktif yang baik, granul yang dihasilkan akan cepat

kering dan menunjukan waktu hancur yang bagus. Pada pembuatan tablet Antalgin dengan kandungan zat aktif hanya 500 mg per tabletnya, maka perlu penambahan bahan pengsi untuk didapatkan bobot tablet yang dikehendaki dan mempermudah dalam pencetakan tablet. Diluent yang dipilih adalah laktosa, karena laktosa biasa digunakan pengisi serta memberikan rasa manis yang dapat mengurangi rasa yang tidak enak dari bahan aktif sehingga sediaan tersebut mudah diterima oleh pasien , tidak OTT dengan komponen lain pada formula terutama terhadap zat aktif. Komponen yang lain adalah penghancur tablet. Zat ini ditambahkan untuk meningkatkan daya hancur dan disolusi dari tablet, pada proses pembuatan tablet dengan metode granulasi basah zat penghancur ditambahkan pada saat proses granulasi (merupakan fase dalam yang dicampurkan pada bahan aktif yang akan buat granul dengan bantuan bahan pengikat). Ketika tablet dikonsumsi, tablet kemudian akan berkontak dengan cairan dalam saluran pencernaan, dengan adanya komponen penghancur, tablet akan mengembang dan selanjutnya pecah menjadi granul-granul, selanjutnya granul-granul pecah menjadi fines. Hal ini sangat berpengaruh terhadap waktu hancur dan pelepasan zat aktif. Komponen penghancur yang kami gunakan dalam formulasi adalah amilum maydis. Berdasarkan Handbook of Excepient, amylum maydis dapat digunakan sebagai penghancur pada konsentrasi 3-25%. Pada percobaan digunakan pada konsentrasi 10%, alasan pemilihan pada konsentrasi tersebut diharapkan pada konsentrasi tersebut formula yang dihasilkan tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah kemampuan hancurnya. Komponen selanjutnya adalah pelincir, pelincir ditambahkan setelah proses granulasi (fase luar) untuk mengatasi hal-hal yang terjadi pada proses pencetakan seperti aliran yang kurang baik yang dapat berpengaruh pada keseragaman bobot tablet, massa cetak dapat menempel pada dinding punch maupun die ini akan berpengaruh pada penampilan tablet dalam hal bentuk dan akan timbul masalah pada tablet yaitu sticking dan picking, atau terjadi gesekan sisi tablet dengan dinding ruang cetak tablet. Lubrikan yang digunakan dalam formulasi ini adalah Mg-stearat merupakan lubrikan yang tidak larut air, karena akan lebih efektif tetapi memiliki kekurangan akan menambah lama waktu hancur dari tablet, lubrikan juga dapat mengurangi ikatan antar partikel pada tablet sehingga kekerasan tablet dapat berkurang, hal ini efektif untuk mengurangi kekerasan tablet . Jenis pelincir yang lain adalah antiadherent dan glidant, antiadherent berfungsi untuk mencegah melekatnya sebagian massa tablet pada permukaan punch, dan glidant mempunyai fungsi memperbaiki sifat aliran granul. Komponen yang digunakan sebagai antiadherent dan juga berfungsi sebagai glidant adalah talkum, talkum biasa digunakan sebagai komponen ini, tidak OTT dengan komponen lain terutama zat aktif,

dan sebagai glidant akan menutupi permukaan partikel yang tidak beraturan. Dengan kombinasi ini tablet yang dihasilkan dapat dengan mudah dicetak, tidak melekat pada dinding punch dan memiliki bentuk sempurna. Penambahan komponen pelicin ini dilakukan sesaat sebelum pencetakan, karena jika ditambahkan pada saat pencampuran awal dalam rentang waktu yang cukup lama atau melalui pengocokan yang terlalu lama, pelicin yang bersifat hidrofob akan menutupi seluruh permukaan granul sehingga setelah dicetak dan dilakukan uji waktu hancur akan didapat waktu yang terlalu lama karena granul yang telah menjadi tablet akan semakin sulit untuk dibasahi. Setelah dilakukan proses pencampuran dan granulasi kemudian dilakukan pengayakan.pengayakan dilakukan sebanyak 2 kali dengan tujuan agar granul yang terbentuk memiliki ukuran yang sedapat mungkin seragam dan diperoleh massa granul yang baik. Masa granul setelah pengeringan dan sebelum penambahan fase luar dilakuan pengujian MC (Moisture Content) granul dengan menggunakan alat moisturizer tester. MC granul merupakan pengujian untuk mengetahui jumlah kadar air di dalam granul. MC granul yang ditetapkan pada standart adalah 2-4% (menurut Leon lachman) dan 3-5% (R.Voight), jika kadar air terlalu tinggi maka tablet yang dihasilkan akan sangat padat ( memiliki kekerasan yang tinggi ) karena pengikat yang digunakan adalah solutio gelatin yang mampu mengikat granul-granul menjadi tablet. Sehingga bila kekerasan tablet yang dihasilkan sangat tinggi akan mempengaruhi ADME obat di dalam tubuh. Tablet akan sulit pecah di dalam tubuh dan efek yang di inginkan akan tercapai dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, dengan kadar air yang tinggi dapat menyebabkan massa granul menempel pada cetakan punch, maka penyelesaiannya pada granul dapat dikeringkan kembali dan jika kadar air terlalu rendah dapat ditambahkan lagi pengikat karena jika kadar airnya terlalu rendah dapat menyebabkan tablet mengalami capping dan lamination yaitu terpisah sebagian atau seluruhnya atas dan bawah serta sulit untuk dicetak menjadi tablet. Oleh sebab itu kadar kelembapan granul harus memenuhi range antara 2-5% . Daripercobaan yang telah dilakukan didapatkan MC granul 4,2 % kadar tersebut memenuhi persyaratan. Karena MC yang didapatkan memenuhi persyaratan kadar air dalam granul maka diharapkan saat pencetakan tablet tidak bermasalah. Hal ini terbukti saat pencetakan tablet, dimana tidak ada lekatan yang tersisa pada pencetak dan tablet yang didapatkan tidak banyak yang rusak. Pengujian selanjutnya adalah uji daya alir dari granul. Daya alir ini berpengaruh pada aliran granul pada hopper yang dapat menyebabkan adanya perbedaan pada keseragaman kandungan zat aktif dan perbedaan pada bobot tablet yang dihasilkan. Laju alir ini juga dipengaruhi oleh banyaknya granul atau fines yang ada. Semakin cepat granul mengalir

kebawah maka granul yang di hasilkan semakin baik. Secara teoritis atau menurut literatur, kecepatan alir yang baik adalah 100g/ 10 detik. Dari hasil pengujian ini didapatkan daya alir untuk 14,29 gram per detik sama dengan 100 gram/7 detik. Hal ini menunjukkan bahwa granul yang didapatkan mempunyai daya alir yang baik. Daya alir yang baik akan mempengaruhi keseragaman bobot tablet yang dihasilkan, sehingga turut mempengaruhi kadar zat aktif yang terkandung dalam setiap tablet. Pengujian selanjutnya adalah evaluasi sudut diam dengan menghitung sudut dari granul yang telah jatuh dari corong. Secara teoritis, sudut diam granul berada pada rentang 25°- 40°. Pada percobaan sudut diam yang didapatkan adalah 28,60° sehingga menunjukkan granul memiliki sudut diam yang baik. Pengujian selanjutnya adalah indeks pengetapan, pengujian ini digunakan untuk mengetahui daya alir granul yang telah dikempa dengan menggunakan alat tap density. Pengentapan dilakukan dengan mengamati perbandingn volume sebelum pengetapan (V0) dan volume konstan (Vt). Ini menggambarkan kemampuan kompresibilitas granul. Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui BJ nyata dan BJ mampat. Dari percobaan diperoleh data BJ nyata granul 0,61 g/ml dan bobot jenis mampat sebesar 0,64 g/ml. Selain evaluasi kedua bobot jenis tersebut , dihitung pula bobot jenis benar dengan menggunakan alat piknometer dengan cairan pembandingnya adalah paraffin liquidum. Dari evaluasi diperoleh bobot jenis granul sebesar 1,7432. Pengujian yang lain adalah kompresibilitas. Pengujian ini menentukan kerapatan dari granul yang sudah terbentuk, kerapatan ini akan berpengaruh pada saat pengempaan tablet dan kemampuan tablet untuk tetap kompak setelah dilakukan pencetakan. Hal ini berkaitan dengan distribusi ukuran partikel, yaitu penyebaran yang rata antara jumlah fines dan granul jika terlalu banyak granul maka setelah dikempa tablet kurang kekuatannya, begitu pula jika terlalu banyak fines. Jika jumlah fines yang ada dapat menutupi rongga-rongga yang terbentuk oleh adanya granul maka tablet akan memiliki kompresibilitas yang tinggi dengan daya ikat antar partikel yang kuat. Kompresibilitas yang baik, hanya memerlukan tekanan yang tidak terlalu besar untuk pengempaannya untuk mendapatkan sebuah tablet. Pada hasil pengujian granul yang telah dibuat nilai kompresibilitas yang didapatkan adalah 4,69%. Pada literatur granul yang mmpunyai nilai kompresibilitas bagus apabila nilai kompresibilitas antara 5-15%. Pengujian porositas Semakin besar porositas maka granul yang didapat semakuin jelek. Evaluasi bobot jenis dilakukan untuk mengetahui bobot jenis / kerapatan dari granul yang telah dibuat, Semakin tinggi nilai kerapatan berarti granul yang dihasilkan semakin rapat

dan udara antar granulnya sedikit, sehingga granul lebih mudah dikempa dan kualitas tablet yang dihasilkan semakin baik. Dari persen porositas granul diperoleh sebesar 60,94%. Setelah granul-granul yang dibuat telah diuji maka tahap selanjutnya adalah tahap pencetakan. Massa granul dimasukan kedalam hopper pada alat pencetak tablet untuk selanjutnya dicetak. Dari hasil pencetakan didapatkan tablet sebanyak 345 tablet hal ini sangat jauh dari perhitungan yang seharusnya menghasilkan 500 tablet, massa granul yang hilang ini diperkirakan terbuang saat proses pencampuran, pengayakan granul dan tercecernya granul saat akan dicetak serta digunakan untuk orientasi alat pencetak. Kualitas suatu tablet dipengaruhi oleh kualitas granul yang telah dibuat. Semakin baik kualitas granul yang dihasilkan, maka tablet yang dihasilkan kemungkinan besar kualitasnya baik. Tablet yang sudah didapatkan kemudian dilakukan pengujian yang meliputi, pengujian secara visual, tablet diamati secara visual apakah ada tablet yang tidak rata bentuknya atau terdapat retakan-retakan pada tablet. Pengujian selanjutnya adalah keseragaman bobot tablet. Keseragaman bobot menjadi indikator awal dalam keseragaman kadar / keseragaman kandungan zat aktif. Dengan asumsi bahwa campuran massa yang akan dikempa merupakan campuran yang homogen setelah dikempa menjadi tablet. Bila tablet yang dihasilkan memiliki bobot tablet yang seragam ,dapat dipastikan memiliki bobot yang seragam pula. Aturan cara kerja uji dilakukan menurut FI yaitu dengan cara 20 buah tablet sebagai sampling dan timbang satu persatu yang kemudian didapat bobot rata-rata tablet yaitu 630,2 mg dari rencana pembuatan sebesar 600 mg tiap tablet. Karena tablet yang dibuat beratnya 600 mg maka penyimpangan berdasarkan FI Edisi IV tidak boleh lebih dari 2 tablet yang penyimpangannya 5% dan tidak boleh ada satu tablet pun yang berat penyimpangannya 10% dari berat rata- rata, yaitu tidak boleh dibawah 575,225 dan tidak boleh lebih dari 666,05 mg. Dari percobaan diperoleh tidak lebih dari 2 tablet yang beratnya dibawah 620 mg dan lebih dari 648 mg, serta tidak ada satu tabletpun yang beratnya dibawah 575,225 mg dan diatas 666,05 mg. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa bobot tablet yang dibuat telah memenuhi persyaratan keseragaman bobot. Keseragaman bobot memiliki kaitan yang erat dengan sifat alir dari granul penyusun tablet. Granul yang memiliki sifat alir yang bagus maka akan mudah dalam melalui pencetak tablet sehingga akan memberikan daya alir granul yang seragam. Apabila bobot tablet yang dihasilkan relatif kecil dari bobot tablet yang seharusnya maka kandungan zat aktif didalamnya akan relatif kecil. Begitu juga bobot tablet yang relatif besar dari bobot yang seharusnya maka kandungan zat aktif didalamnya relatif lebih besar. Meskipun berat tablet bukan satu-satunya yang mempengaruhi keseragama akan diperhatikan. tetapi harus tetap

Pengujian selanjutnya yaitu uji kerapuhan tablet, dengan menggunakan alat friabiliaty tester. Uji kerapuhan menggambarkan kekuatan permukaan tablet dalam melawan berbagai perlakuan yang menyebabkan abrasi pada permukaan tablet. Tablet yang mempunyai kerapuhan yang tinggi akan mempersulit dalam pengemasan, penyimpanan dan pendistribusian. Selain itu juga akan mengurangi bobot tablet maupun zat aktif karena adanya permukaan tablet yang terkikis. Tablet terlebih dahulu dibebas debukan kemudian ditimbang .Tujuan dibebas debukan supaya saat pengamatan uji kerapuhan tidak terganggu dan bobot Antalgin tidak bertambah dengan adanya debu. Tablet yang diuji sebanyak 20 tablet sebagai sampling. Tablet dimasukan kedalam alat dan alat diputar hingga 25x putaran / menit, kemudian dihitung massa tablet sebelum dan sesudah dilakukan pengujian. Persentase dari uji ini didapat 0,048%, nilai ini memenuhi standar yang menyatakan persentase kerapuhan kurang dari 1%. Kerapuhan sangat berkaitan erat dengan kekerasan tablet, pengujian kekerasan tablet yang dilakukan dengan alat hardness tester, kekerasan tablet merupakan kekuatan mekanis tablet sebagai tahanan terhadap kerapuhan. Kekerasan tablet sangat dipengaruhi oleh formula penyusun tablet tersebut. Pada percobaan pembuatan tablet Antalgin yang menggunakan metode granulasi basah seharusnya menghasilkan tablet yang relatif keras karena adanya tambahan pengikat. Konsentrasi pengikat yang digunakan pada pembuatan tablet adalah 5%. Pengikat yang digunakan adalah gelatin dalam air. Tetapi pada saat penggunaan pengikat, pengikat yang digunakan untuk mengikat hanya 55 ml gelatin yang setara dengan 2,75 gram dalam 300 g tablet yang akan dibuat. Jumlah pengikat yang ditambahkan akan mempengaruhi kekersan tablet yang dihasilkan. Semakin tinggi pengikat akan semakin keras tablet yang dihasilkan. Pada evaluasi kekerasan dari tablet yang diuji didapatkan rata-rata kekerasan tablet adalah 11 kg. Nilai ini sesuai dengan nilai persyaratan kekerasan antara 4-10kg. Kekerasan tablet akan sangat berpengaruh terhadap waktu hancur dan disolusi dari tablet, jika tablet terlalu keras maka waktu hancur dan disolusinya meningkat, sehingga pelepasan zat aktif tidak segera dan dikhawatirkan jika pelepasannya terlalu lama dapat menyebabkan konsentrasi untuk mencapai efek terapi tidak tercapai. Pengujian waktu hancur menggunakan alat desintegration tester, sebanyak 6 buah tablet sebagai sampling diuji dengan alat ini, waktu terlama yang dibutuhkan oleh tablet untuk hancur selama 5 menit, dari hasil tersebut diketahui bahwa tablet Antalgin yang di uji memenuhi persyaratan waktu hancur tablet tidak bersalut yaitu kurang dari 15 menit. Pengujian selanjutnya dalah pengujian disolusi. Pengujian ini untuk mengetahui waktu tablet mulai larut dan kadar zat aktif mencapai puncak, yang menggambarkan proses disolusi

dalam saluran cerna yang diuji secara invitro. Alat yang digunakan untuk menguji laju disolusi ini dengan menggunakan dissolution tester. Laju disolusi ini menggambarkan waktu yang dibutuhkan tablet untuk melarut dan melepaskan komponen zat aktif yang selanjutnya diabsorpsi oleh tubuh untuk didistribusikan kemudian mencapai efek di dalam tubuh. Disolusi merupakan kontrol kualitas yang sangat penting untuk sediaan farmasi karena dapat digunakan untuk memperbaiki bioavailabilitas suatu obat. Kecepatan disolusi dapat mengontrol konsentrasi obat dalam darah.Penggunaan bahan tambahan yang bersifat hidrofob seperti magnesium stearat, dapat menaikkan tegangan antar muka obat dalam medium disolusi. Hal ini menyebabkan jumlah obat terdisolusi menjadi lebih sedikit dan berpengaruh pula terhadap jumlah obat yang diabsorpsi. Pada saat melakukan uji disolusi kondisi percobaan disesuaikan dengan kondisi tubuh seperti kecepatan pengaduk diatur dengan kecepatan 50 rpm dimana dianalokan dengan sistem pencernaan manusia. Selain itu suhu juga diatur pada suhu tubuh yaitu pada suhu 37°C. Disolusi dilakukan dengan memasukkan tablet Antalgin dalam medium HCL 0,1 N. Fungsi medium HCL ini adalah sebagai simulasi kadar asam dalam lambung sehingga dapat diamati larutan tabletnya selama 45 menit Secara umum mekanisme disolusi tablet secara invitro sangat dipengaruhi oleh konsentrasi bahan tambahan yang digunakan. Pada formulasi tablet Antalgin digunakan desintegran amylum maydis dengan konsentrasi 10%. Pada konsentrasi tersebut amylum dengan kandungan amilosa dan amilopektin akan mengembang pada suhu 37°C. Maka tablet yang dimasukkan pad suhu tersebut akan mengembang sehingga ikatan-ikatan antar partikel akan melemah, tablet mengalami desintegran menjadi granul-granil kecil dan melepaskan zat aktif. Apabila kelarutan zat aktif besar maka zat aktif tersebut cepat terdisolusi, sehingga dapat diukur konsentrasinya. Pada formula juga mengandung talcum dan magnesium stearat, kedua bahan tambahan ini bersifat hidrofobik sehinggga akan mempertinggi tegangan permukaan antara obat dengan media disolisi, hal ini yang akan mempengaruhi kecepatan disolusinya. Pada uji spektrofotometri UV dibuat deret baku dengan konsentrasi 7,7 ppm, 11,6ppm, 15,5ppm, 19,4 ppm, dan 24,2 ppm dengan panjang gelombang 258 nm. Persamaan regresi liniear dari deret baku tersebut adalah y = 0,0286 x - 0,0564. Disolusi dilakukan replikasi sebanyak 3 kali dan cuplikan diambil pada menit ke 5, 10, 15, 30, dan 45. % DE menunjukkan banyaknya kadar zat aktif yang terlarut atau yang dapat terabsorbsi dalam tubuh. %DE pada replikasi I yaitu 0,77 %, %DE pada replikasi II yaitu 0,59%, dan %DE

pada replikasi III yaitu 0,72%. Kadar zat aktif terbesar yang dapat larut adalah pada tablet I yaitu memiliki %DE 0,77%.

XI. KESIMPULAN Granulasi : 1. Proses granulasi merupakan proses yang sangat pentin dalam pembuatan tablet. 2. Dalam pembuatan granul diperlukan bahan pengisi, pengikat, penghancur, serta lubrikan agar ganul dapat terbentuk dengan baik. 3. Metode yang digunakan adalah granulasi basah dimana penambahan bahan pengikat (solutio gelatin) sedikit demi sedikit hinga terbentuk massa granul. 4. Granul yang dihasilkan memiliki kadar air sebesar 4,2% (memenuhi rentang) 5. Untuk BJ nyata dan BJ mampat diperoleh sebesar 0,61g/ml dan 0,64g/ml sehingga kompresibilitas granul diperoleh sebesar 4,69% dan presentase porositas granul sebesar 60,94%. 6. Evaluasi BJ benar diperoleh sebesar 1,7432 7. Kecepatan alir granul 14,29 gram/detik atau 100 gram/7detik (memenuhi syarat).
8. Granul antalgin yangdihasilkan memiliki sudut diam sebesar 28,60.

Tablet : 1. Pembuatan tablet dipengaruhi oleh bentuk granul yang dihasilkan. Semakin baik waktu alirnya maka semakin bagus tablet yang dihasilkan.
2. Persentase dari uji kerapuhan ini didapatkan data sebesar 0,048%, nilai ini

memenuhi standar yang menyatakan persentase kerapuhan kurang dari 1%.
3. Pada evaluasi kekerasan dari tablet yang diuji didapatkan rata-rata kekerasan

tablet adalah 11 kg. Nilai ini sesuai dengan nilai persyaratan kekerasan antara 410kg.

4. Pengujian waktu hancur menggunakan alat desintegration tester waktu terlama

yang dibutuhkan oleh tablet untuk hancur selama 5 menit, dari hasil tersebut diketahui bahwa tablet Antalgin yang di uji memenuhi persyaratan waktu hancur tablet tidak bersalut yaitu kurang dari 15 menit. 5. Dari hasil disolusi diperoleh %DE pada replikasi I yaitu 0,77 %, %DE pada replikasi II yaitu 0,59%, dan %DE pada replikasi III yaitu 0,72%. Kadar zat aktif terbesar yang dapat larut adalah pada tablet I yaitu memiliki %DE 0,77%.

XII. DAFTAR PUSTAKA Ansel,U.C.1989.Pengantar Buku Sediaan Farmasi edisi IV,Jakarta: UI Press Anonim. 2010. Kerusakan pembuatan Tablet. diambil diakses diambil dari pada dari situs hari situs (http://dprayetno.wordpress.com/kerusakan-pembuatan-tablet/), Sabtu, 7 Mei 2010 pukul 16.31 WIB Anonim. 2009.Kekurangan dan Kelebihan Tablet. http://greenhati.blogspot.com/2009/04/farmasi-kekurangan dan kelebihan-tablet.html, diakses pada tanggal 7 Mei 2010 pukul 16.35 Agoes, Goeswin.2008.Pengembangan Sediaan Farmasi Edisi Revisi dan Perluasan. Bandung : ITB
- Lachman,Leon.1994.Teori dan Praktek Farmasi Industri edisi III, Jakarta: UI Press - Wade,A.,and Waller,P.J.1994. Handbook of Pharmaceutical Excipient .2 nd.

Washington: American Pharmaceutical Assosiation

- Panitia Farmakope Indonesia. 1978. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta :

Depatemen Kesehatan RI.
- Panitia Farmakope Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta :

Departemen Kesehatan RI - Shargel,leon. 1999. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan.Edisi III. Surabaya : Airlangga - Sulaiman, Teuku Nanda Syaifullah.2007.Teknologi dan Formulasi Sediaan Tablet. Yogyakarta : UGM Press

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful