2.1 2.1.

1

Tuna Netra Pengertian Tuna Netra Pengertian tuna netra menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tidak

dapat melihat (KBBI, 1989: 971) dan menurut literatur berbahasa Inggris visually handicapped atau visual impaired. Pada umumnya orang mengira bahwa tunanetra identik dengan buta, padahal tidaklah demikian karena tunanetra dapat

diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori. Anak yang mengalami gangguan penglihatan dapat didefinisikan sebagai anak yang rusak penglihatannya yang walaupun dibantu dengan perbaikan, masih mempunyai pengaruh yang merugikan bagi anak yang yang bersangkutan (Scholl, 1986 ). Pengertian ini mencakup anak yang masih memiliki sisa penglihatan dan yang buta. Dengan demikian, pengertian anak tunanetra adalah individu yang indera penglihatannya (kedua-duanya) tidak berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari seperti orang awas.

2.1.2

Klasifikasi Tuna Netra Klasifikasi yang dialami oleh anak tunanetra, antara lain :

2.1.2.1 Menurut Lowenfeld, (1955), klasifikasi anak tunanetra yang didasarkan pada waktu terjadinya ketunanetraan, yaitu :

Tunanetra sebelum dan sejak lahir; yakni mereka yang sama sekali tidak memiliki pengalaman penglihatan.

Tunanetra setelah lahir atau pada usia kecil; mereka telah memiliki kesankesan serta pengalaman visual tetapi belum kuat dan mudah terlupakan.

Tunanetra pada usia sekolah atau pada masa remaja; mereka telah memiliki kesan-kesan visual dan meninggalkan pengaruh yang mendalam terhadap proses perkembangan pribadi.

Tunanetra pada usia dewasa; pada umumnya mereka yang dengan segala kesadaran mampu melakukan latihan-latihan penyesuaian diri.

Tunanetra dalam usia lanjut; sebagian besar sudah sulit mengikuti latihanlatihan penyesuaian diri.

Tunanetra akibat bawaan (partial sight bawaan)

hanya dengan menggunakan kaca pembesar mampu mengikuti pendidikan biasa atau mampu membaca tulisan yang bercetak tebal.  Tunanetra berat (totally blind). yaitu :  Anak yang memiliki ketajaman penglihatan 20/70 atau kurang setelah memperoleh pelayanan medik. yaitu :  Tunanetra ringan (defective vision/low vision). yakni mereka yang memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti program-program pendidikan dan mampu melakukan pekerjaan/kegiatan yang menggunakan fungsi penglihatan.2. yakni mereka yang sama sekali tidak dapat melihat. klasifikasi didasarkan pada pemeriksaan klinis. klasifikasi didasarkan dari segi pendidikan.  Anak yang mempunyai penyimpangan penglihatan dari yang normal dan menurut ahli mata dapat bermanfaat dengan menyediakan atau memberikan fasilitas pendidikan yang khusus.3 Menurut WHO.  Anak yang buta dengan ketajaman penglihatan sampai dengan 5/200.1.2. . ia tidak dapat melihat gerak tangan pada jarak 3 kaki di depan wajahnya. yaitu :  Anak yang buta total atau masih memiliki persepsi cahaya sampai dengan 2/2000. yaitu :  Tunanetra yang memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 20/200 dan atau memiliki bidang penglihatan kurang dari 20 derajat. 2.  Tunanetra yang masih memiliki ketajaman penglihatan antara 20/70 sampai dengan 20/200 yang dapat lebih baik melalui perbaikan.5.2.4Menurut Hathaway.1.Menurut Kirk (1962) mengutip klasifikasi ketunanetraan.2. yaitu yang memiliki ketajaman penglihatan sampai dengan 10/200.  Anak yang masih dapat diharapkan untuk berjalan sendiri.2 Klasifikasi anak tuna netra berdasarkan kemampuan daya penglihatan. ia tidak dapat membaca huruf-huruf besar seperti judul berita pada koran.  Tunanetra setengah berat (partially sighted). 2.1.1.2. 2. yakni mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan. ia tidak dapat menghitung jari pada jarak 3 kaki di depan wajahnya.

Untuk membantu proses penglihatan pada penderita Myopia digunakan kacamata koreksi dengan lensa negatif. Untuk membantu proses penglihatan pada penderita Hyperopia digunakan kacamata koreksi dengan lensa positif. klasifikasi didasarkan pada kelainankelainan yang terjadi pada mata. Kelainan-kelainan itu.1 Pengertian Tuna Rungu Tuna Rungu adalah istilah yang menunjuk pada kondisi ketidakfungsian organ pendengaran atau telinga anak sehingga menyebabkan mereka mengalami hambatan atau keterbatasan dalam merespon bunyi-bunyi yang ada disekitarnya (suparno. adalah penglihatan jarak dekat. Penglihatan akan menjadi jelas jika objek dijauhkan.  Hyperopia. yaitu : Kelainan ini disebabkan karena adanya kesalahan pembiasan pada mata. 2. bayangan tidak terfokus dan jatuh di depan retina.  Astigmatisme. akan tetapi ia tidak memiliki penglihatan cukup untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang memerlukan penglihatan dan anak ini tidak dapat membaca huruf 10 point.  Anak yang memiliki penglihatan pada batas ketajaman penglihatan 20/200 atau lebih. adalah penyimpangan atau penglihatan kabur yang disebabkan karena ketidakberesan pada kornea mata atau pada permukaan lain pada bola mata sehingga bayangan benda baik pada jarak dekat maupun jauh tidak terfokus jatuh pada retina. Penglihatan akan menjadi jelas kalau objek didekatkan. antara lain :  Myopia.2 Tuna Rungu 2. Untuk membantu proses penglihatan pada penderita astigmatisme digunakan kacamata koreksi dengan lensa silindris.2. Anak yang mampu membaca huruf-huruf besar pada koran.6 Menurut Howard dan Orlansky. Peristiwa ini dapat diperbaiki dengan memberikan lensa atau lensa kontak.1.2. bayangan tidak terfokus dan jatuh di belakang retina. adalah penglihatan jarak jauh. yaitu yang memiliki ketajaman penglihatan sampai dengan 20/200. akan tetapi ia tidak dapat diharapkan untuk membaca huruf 14 point atau tipe yang lebih kecil. 2007) Heward & Orlansky menyatakan bahwa ketunarunguan adalah suatu . 2. Hal ini terjadi bila cahaya tidak terfokus sehingga tidak jatuh pada retina.

sedang. selain itu hampir Sangat Ringan 15 .3. Klasifikasi Tuna Rungu Berdasarkan Tingkat Kehilangan Kemampuan Mendengar Klasifikasi Tuna Rungu Derajat Pendengaran Keterbatasan Kesulitan hanya pada pengucapan kata-kata sulit. tetapi dapat mengikuti bila suaranya cukup keras Kesulitan hingga pada pembicaraan dengan suara keras. Berdasarkan Derajat Pendengaran Menurut Dewey & Garisson (1985) mendengar dibagi dalam klasifikasi : Tabel 1. harus masuk sekolah khusus untuk memperbaiki pemahaman bahasa Hanya bisa mendengar bila suara diperkeras dengan alat bantu Berat 60 – 90 dB pendengaran.45 dB normal. bahasa. harus masuk sekolah khusus untuk belajar bunyi.2. yang walaupun telah diberikan alat bantu mendengar tetap memerlukan pelayanan khusus (Informasi Pendidikan. 2006) 2. walaupun tetap perlu menggunakan alat bantu dengar Kesulitan mengikuti pembicaraan Ringan 30 . dan sangat berat yang dalam hal ini dikelompokkan dalam dua golongan besar. bicara.30 dB sama seperti orang normal.2. dan ujaran Sangat Berat Lebih dari 90 dB Tidak bisa mendengar walaupun dengan alat bantu dengar. yaitu tuli (lebih dari 90 dB) dan kurang dengar (kurang dari 90 dB).1.keadaan atau derajat kehilangan pendengaran yang meliputi seluruh gradasi ringan.2. Sedang 45 – 60 dB harus melihat gerak bibir pembicara. harus tingkat kehilangan atau kekurangmampuan .2 Klasifikasi Tuna Rungu 2.

2. Force JR.4. hal 216 2.2. Pada ketulian jenis ini.2.2. 1985.3. Berdasarkan Saat Terjadinya Ketunarunguan dalam Hubungannya dengan Perbendaharaan Bahasa  Prelingual deafness Merupakan kondisi seseorang dimana ketulian terjadi sebelum dimulainya perkembangan berbicara dan pengenalan bahasa  Postlingual deafness Merupakan kondisi dimana seseorang mengalami ketulian setelah menguasai wicara dan bahasa. The Psychology of Exceptional Children. seseorang tidak dapat .2.d) 2.masuk sekolah khusus untuk belajar membaca dan mengungkapkan ujaran. n. 2006) 2. sehingga menghambat bunyi.2. Berdasarkan Tempat Terjadinya Kerusakan Organ Pendengaran Kerusakan yang menyebabkan ketunarunguan dapat terjadi pada :  Kerusakan pada telinga bagian luar dan tengah.bunyian yang akan masuk ke dalam telinga. Berdasarkan Saat Penyebab Terjadinya Ketunarunguan  Dalam kandungan Ketunarunguan disebabkan kelainan atau gangguan organ pendengaran sejak dalam kandungan akibat sewaktu ibu hamil menderita sakit atau upaya aborsi  Saat bayi dilahirkan Kesulitan waktu dilahirkan menyebabkan bayi kekurangan oksigen sehingga dapat merusak pusat pendengaran di otak atau organ pendengaran  Sesudah anak dilahirkan Ketunarunguan terjadi akibat berbagai penyakit berat maupun obatobatan yang dikonsumsi sehingga menyebabkan kerusakan organ pendengaran (Hermono.2. Garrison & Dewey G. tetapi lebih mengkhususkan pada ketrampilan Sumber: Karl C. disebut tuli konduktif  Kerusakan pada telinga bagian dalam dan hubungan ke saraf otak yang menyebabkan tuli sensoris (Informasi Pendidikan.

d) 2. tetapi dapat berbicara dengan baik (Hermono. n.1 Menurut tingkat kelainannya. anak-anak tuna daksa dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1.3.3. yang sering disebut sebagai cerebral palsy (Suparno. gangguan koordinasi. yang mencakup kalainan anggota tubuh maupun yang mengalami kelainan gerak dan kelumpuhan. 2. postur. 2007). mampu berbicara dan dapat menolong dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari   Golongan Sedang : Mereka yang membutuhkan treatment atau latihan khusus untuk berbicara. Klasifikasi Cerebral Palsy : 1) Penggolongan menurut derajat kecacatan  Golongan Ringan : Mereka yang dapat berjalan tanpa menggunakan alat bantu. atau bentuk tubuh.1 Pengertian Tuna Daksa Tuna Daksa adalah kondisi seseorang yang mengalami kalainan fisik atau cacat tubuh. Kelainan Pada Sistem Cerebral / Cerebral Palsy Cerebral Palsy adalah suatu kelainan gerak.3 Tuna Daksa 2. 2) Penggolongan menurut topografi (banyaknya anggota tubuh yang lumpuh)      Monoplegia Hemiplegia : hanya satu anggota gerak yang lumpuh : lumpuh anggota gerak atas dan bawah pada sisi yang sama. dan menolong dirinya sendiri. berbicara.mendengar. misalnya tangan kanan dan kaki kanan Paraplegia Triplegia : lumpuh pada kedua tangan atau kedua kaki : tiga anggota gerak mengalami kelumpuhan.3. misalnya tangan kanan dan keduan kakinya lumpuh Quadriplegia : kelumpuhan pada seluruh anggota gerak .2. dan kadang disertai gangguan psikologis dan sensoris yang disebabkan oleh adanya kerusakan pada masa perkembangan otak. berjalan dan mengurus dirinya sendiri Golongan Berat : Mereka yang tetap membutuhkan perawatan tetap dalam ambulasi.2 Klasifikasi Tuna Daksa 2.

2. Kecelakaan / trauma : dapat mengekibatkan kelainan ortopedis berupa kelainan koordinasi. Akibatnya fungsi jaringan saraf terganggu dan dapat mengakibatkan kelumpuhan 2.2 Menurut faktor penyebabnya tuna daksa dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1. sehingga dan perkembangan tubuh mengakibatkan kelainan pada sistem dan fungsi intelektual 4.3. Kelumpuhannya bersifat simetris. yaitu pada kedua tangan atau kedua kaki Spina Bifida Kelainan pada tulang belakang yang ditandai dengan terbukanya satu atau tiga ruas tulang tulang belakang yang disebabkan oleh tidak tertutupnya kembali ruas tulang belakang selama proses perkembangan terjadi. Kecerdasannya normal  Muscle Dystrophy Penyakit  otot yang mengakibatkan otot tidak dapat berkembang. mobilisasi dll .2. Infeksi : dapat menyebabkan kelainan pada anggota gerak atau bagian tubuh lainnya 3. Cacat bawaan : sudah terjadi pada saat dalam kandungan atau saat anak dilahirkan 2. Gangguan metabolisme : dapat terjadi pada bayi dan anak-anak yang disebabkan mempengaruhi oleh faktor gizi. Kelainan pada sistem otot dan rangka  Poliomyelitis Suatu infeksi penyakit pada sumsum tulang belakang yang disebabkan oleh virus polio. Akibatnya berupa kelumpuhan yang sifatnya permanen.

2010. Mengasuh dan Mensukseskan Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta: Katahati Geniofam. Yogyakarta: Garailmu Suparno. dkk. 2010. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional . 2007.DAFTAR PUSTAKA Aqila Smart. Anak Cacat Bukan Kiamat. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful