CARDIACT ARREST Merupakan suatu kondisi dimana jantung berhenti memompakan darah (berkontraksi) yang ditandai dengan ketidaksadaran

yang terjadi sebagai kolaps yang tiba-tiba, tidak ada denyut nadi yang teraba pada nadi karotis, radialis dan femoralis, apnoe atau gerakan napas tidak efektif, pupil dilatasi, kulit keabuan atau putih atau sianosis, tampak seperti mati. (Skeet, 1995 & Jusrafli). Henti jantung (Cardiac Arrest)Terhentinya denyut jantung dan sirkulasi darah secara tiba-tiba pada seseorang yang sebelumnya tidak mengalami gangguan apa-apa . Merupakan keadaan kegawat daruratan kardiovaskuler gawat darurat. Keadaan ini kemudian diikuti dengan berhentinya fungsi pernafasan dan hilangnya kesadaransecara refleks. Resusitasi kardiopulmonal dan serebral harus segera dimulai segerasetelah diagnosis ditegakkan. Cardiac arrest disebut juga cardiorespiratory arrest, cardiopulmonary arrest, atau circulatory arrest, merupakan suatu keadaan darurat medis dengan tidak ada atau tidak adekuatnya kontraksi ventrikel kiriyang dengan seketika menyebabkan kegagalan sirkulasi (U.S National Heart, Lung, and Blood Institute, 2009; Sudden Cardiac Arrest Association, 2008; Sovari dan Kocheril: 2009). Terdapat empat jenis ritme yang menyebabkan henti yaitu ventricular fibrilasi (VF), ventricular takikardia yang sangat cepat (VT), pulseless electrical activity (PEA), dan asistol. Untuk bertahan dari empat ritme ini memerlukan kedua bantuan hidup dasar/ Basic Life Support dan bantuan hidup lanjutan/ Advanced Cardiovascular Life Support (ACLS) (American Heart Association (AHA), 2005). gejala klinis sebagaiberikut : 1. Gerakan pernafasan dan angin pernafasan yang menghilang atau sangat lemah 2. Denyut nadi dan suara jantung menghilangatau sangat lemah 3. Bradikardia atau takikardia yang sangat menyolok. 4. Hilangnya kesadaran. Dilatasi pupil

Hilangnya kesadaran secara tiba-tiba merupakan tanda terjadinya kekurangan oksigen di otak (cerebral hipoksia). Namun, kadang kita bisa menemukan “tanda-tanda peringatan” yang dapat menunjukan akan terjadinya henti jantung yaitu rasa lelah, lemah, pandangan kabur dan berkunang-kunang, pusing, nyeri dada, napas dangkal dan pendek, berdebar-debar (palpitasi), atau muntah; walaupun tidak semua kejadian henti jantung memberikan tanda peringatan ini (Sovari dan Kocheril: 2009).

Etiologi henti jantung antara lain karena : 1. Terhentinya sistem pernafasan secara tiba-tiba yang dapat disebabkan karena : a. penyumbatan jalan nafas b. aspirasi cairan lambung atau benda asing c. Sekresi air yang terdapat dijalan nafasseperti yg terjadi pada keadaan tenggelam,edema paru, lendir yang banyak. d. Edema atau spasme saluran pernafasanbagian atas atau bagian bawah e. Kelainan anatomik seperti atresia choanal f. Depresi susunan saraf pusat, yang dapat disebabkan karena : Obat-obatan, Racun, Arus listrik tegangan tinggi, Edema otak, Hipoksia berat, Hiperkapnia, Penyakit SSP , ensefalitis, poliomielitis, SGB, dan lain-lain. g. Terhentinya peredaran darah secara tiba-tiba, yang disebabkan karena : Hipoksia, Asidosis, hiperkapnia karena penyakitparu atau karena henti pernafasan secara tiba-tiba. 2. Rangsangan vagus misalnya karena penghisapan tenggorok, endoskopi, dilatasi rektum, operasi mata, Arus listrik tegangan tinggi, Obat-obatan, terutama digitalis, kuinidin, kalium obatanastesia., Aritmia yang hebat, karena obat-obatan, penyakit jantung, kateterisasi jantung, Shock (trauma, perdarahan, sepsis, pada operasidan pasca operasi, dehidrasi, dll)- Keadaan terminal berbagai penyakit, Efusi perikardium dengan tamponade jantung. 3. Terganggunya fungsi sistem saraf, yang terjadi sebagai akibat terganggunya sistem pernafasan danperedaran darahDalam susunan saraf pusat terjadi iskemia, hipoksi dan hiperkapnia, asidosis dan hipoglikemia, yangberakibat terganggunya metabolisme otak disertai dengan terjadinya edema serebri dan di ikutidengan infark serebri. Susunan saraf pusat sangat rentan terhadap keadaandiatas, urutan kerentan tersebut adalah :

a. Korteks serebri akan menderita kerusakan setelah 3-5menit b. Pusat pupil dan palpebr, setelah 5 -10 menit c. Serebelum, setelah 10 - 15 menitPusat peredaran darah dan d. pernafasan, setelah 20 - 30menitMedula spinalis, setelah 45menit e. Ganglion simpatik, setelah 60 menit.

Penatalaksanaan Segera lakukan resusitasi Langkah -langkah tindakan pada resusitasi dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu : 1. Bantuan hidup dasar 2. Bantuan hidu planjutan 3. Bantuan hidup terusmenerus. Penanganan pasien yang mengalami henti jantung yaitu pertama dilakukan resusitasi jantung paru dengan prinsip ABC. Urutan tindakan dalam melakukan resusitasi jantung paru yaitu : a. Pastikan keselamatan penolong dan pasien terjamin b. Periksa pasien dan lihat responsnya Goyang bahunya dan bertanya cukup keras. ”Siapa namamu ?”, ”Coba buka matanya”. Bila pasien menjawab atau bergerak, biarkan pasien tetap pada posisinya, periksa keadaan pasien secara berkala dan teratur. Bila pasien tidak memberi respons, berteriaklah mencari bantuan, buka jalan napas dengan mendorong dahi dan mengangkat dagu. Posisikan telapak tangan pada dahi sambil mendorong dahi ke belakang (head tilt). Ibu jari dan telunjuk harus bebas agar dapat digunakan menutup hidung jika perlu memberikan napas buatan. Pada waktu yang sama ujung-ujung jari tangan yang lain mengangkat dagu (chin lift). Jika ada kecurigaan trauma leher jangan melakukan head tilt. c. Sambil mempertahankan jalan napas bebas, lihat, dengar raba ada tidaknya udara pernapasan keluar masuk dengan cara melihat pergerakan dada turun naik, mendengar suara napas pada mulut pasien dan meraba gerak hawa pernapasan dengan pipi. Jika pernapasan memadai, posisikan pasien pada ”recovery position” (jika tidak ada kecurigaan trauma leher), pastikan pernapasan tetap ada, bila ada beri oksigen 100 % dan

carilah bantuan. Jika pasien tidak bernapas, carilah bantuan, telentangkan pasien, singkirkan semua sumbatan yang terlihat dari mulut pasien (misal gigi yang terlepas), beri 2 napas buatan yang efektif, setiap napas harus disertai ekshalasi. Jika mengalami kesulitan dalam memberikan napas buatan yang efektif, periksa lagi apakah mulut pasien sudah bersih dari sumbatan, periksa apakah posisi ”head tilt – chin lift” sudah benar. Usahakan lagi memberi sampai 5 kali napas buatan untuk mendapatkan paling sedikit 2 napas buatan yang efektif. d. Periksa tanda-tanda sirkulasi (meskipun napas buatan belum berhasil), cari apakah ada gerakan pasien (gerakan menelan atau bernapas), dan raba nadi karotis. Jika yakin ada tanda-tanda sirkulasi, lanjutkan napas buatan sampai pasien bisa bernapas sendiri, tiap menit periksa lagi tanda-tanda sirkulasi. Jika pasien mulai bernapas tetapi tetap tidak sadar, posisikan pada ”recovery position”. Periksalah kondisi dan siap mengembalikan pada posisi terlentang untuk diberi napas buatan. Jika tidak ada tanda-tanda sirkulasi, mulai dilakukan pijat jantung dengan cara: 1. Tentukan lokasi pijatan setengah-bagian bawah tulang dada (sternum) dengan telunjuk dan jari tengah menyusur batas bawah iga sampai titik temu dengan sternum. 2. Tambahkan 1 jari kemudian tempatkan tumit tangan satunya di atas sternum tepat disamping telunjuk tersebut. Itu adalah titik tumpu pijat jantung, 2 jari di atas procexus xyphoideus. 3. Tumit satunya diletakkan di atas tangan yang sudah berada tepat di titik pijat jantung 4. Jari-jari kedua tangan dirapatkan dan diangkat agar tidak ikut menekan. 5. Penolong mengambil posisi tegak lurus di atas dada pasien dengan siku lengan lurus, menekan sternum sedalam 4 – 5 cm (1,5 – 2 inci). 6. Ulangi gerakan pijat, lepas, pijat, lepas sekitar 100 kali/menit (kira-kira 2 pijatan/detik). 7. Setiap setelah 15 kali pijat jantung lakukan head tilt – chin lift dan beri 2 napas buatan efektif. Lalu pijat jantung lagi 15 kali dan seterusnya (15 : 2). e. Lanjutkan resusitasi sampai ada tanda-tanda kehidupan kembali atau bantuan yang lebih mampu datang atau penolong kelelahan sehingga kalau diteruskan akan membahayakan penolong.

f. Bilamana mencari bantuan 1. Sangat penting bagi penolong untuk sesegera mungkin mencari bantuan 2. Jika ada dua penolong salah satu melakukan resusitasi sedangkan lainnya mencari bantuan. 3. Jika hanya ada satu penolong, lakukan resusitasi minimal 1 menit (satu siklus) dulu sebelum berusaha mencari bantuan. (FK-UNAIR, 2002)

Post cardiac arrest care (perawatan pasca henti jantug yang terintegritas) Perawatan atau pertolongan yang dapat dilakukan pasca henti jantung antara lain  Awasi jalan napas sebaik-baiknya dan pengelolaan ventilasi  Berikan oksigen jika tersedia  Jika terjadi muntah bersihkan jalan napas  Lanjutkan memantau tanda – tanda vital  Stabilisasi fisik dan transport

Paper Cardiac Arrest dan Post Cardiac Arrest

Oleh :

Hirma Maratisa Muhammad Imamsyah

STIK Muhammadiyah Pontianak

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful