a. Aspek perpajakan dalam kontrak konstruksi Pengertian Dan Fungsi Pajak Definisi pajak menurut Soemitro.

R yang dikutip Mardiasmo (2006) ”Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontra prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.” Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki ciri-ciri: 1. Merupakan iuran rakyat kepada negara 2. Pajak dipungut berdasarkan undang-undang 3. Tanpa jasa timbal (kontra prestasi) dari negara yang secara langsung dapat ditunjuk..Pajak digunakan untuk membayar pengeluaran umum yang bermanfaat bagi 4. Pajak digunakan untuk membayar pengeluaran umum yang bermanfaat bagi Masyarakat luas 5. Pajak dapat dipaksakan (bersifat yuridis) 1. Pajak –pajak dalam suatu kontrak Jasa Konstruksi

a. PPh ATAS JASA KONSTRUKSI

1. Jasa Konstruksi adalah layanan jasa konsultansi perencanaan pekerjaan konstruksi, layanan jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi, dan layanan jasa konsultansi pengawasan konstruksi; 2. Pekerjaan Konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan masing-masing beserta kelengkapannya, untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lain. 3. Perencanaan Konstruksi adalah pemberian jasa oleh orang pribadi atau badan yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang perencanaan jasa konstruksi yang mampu mewujudkan pekerjaan dalam bentuk dokumen perencanaan bangunan fisik lain. 4. Pelaksanaan Konstruksi adalah pemberian jasa oleh orang pribadi atau badan yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang pelaksanaan jasa konstruksi yang mampu menyelenggarakan kegiatannya untuk mewujudkan suatu hasil perencanaan menjadi bentuk bangunan atau bentuk fisik lain, termasuk di dalamnya pekerjaan konstruksi terintegrasi yaitu penggabungan fungsi layanan dalam model penggabungan perencanaan, pengadaan, dan

5. Pengawasan Konstruksi adalah pemberian jasa oleh orang pribadi atau badan yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang pengawasan jasa konstruksi. Subjek dan Objek Pajak Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap yang menerima penghasilan dari usaha di bidang jasa konstruksi. Pengguna Jasa adalah orang pribadi atau badan termasuk bentuk usaha tetap yang memerlukan layanan jasa konstruksi. procurement and construction) serta model penggabungan perencanaan dan pembangunan (design and build). yang kegiatan usahanya menyediakan layanan jasa kontruksi baik sebagai perencana konstruksi. 8. Tarif Wajib Pajak dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang menerima penghasilan dari jasa konstruksi dikenakan Pajak Penghasilan sebagai berikut : Memiliki Kualifikasi Usaha Bentuk pekerjaan Pelaksanaan konstruksi Klasifikasi usaha kecil Menengah dan besar tarif sifat 2% 3% final final Perencanaan dan pengawasan Kecil. yang mampu melaksanakan pekerjaan pengawasan sejak awal pelaksanaan pekerjaan konstruksi sampai selesai dan diserahterimakan. dan besar 4% final . pelaksana konstruksi. Penyedia jasa adalah orang perseorangan atau badan termasuk bentuk usaha tetap. Nilai Kontrak Jasa Konstruksi adalah nilai yang tercantum dalam suatu kontrak jasa konstruksi secara keseluruhan. menengah. 7. 6.pembangunan (engineering. dan pengawas konstruksi maupun sub-subnya.

miak.id Yth. 3. 2.05 IPJ. Para Kepala Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak. di seluruh Indonesia SURAT EDARAN NOMOR : SE . Para Kepala Kantor Penyuluhan. bersama ini disampaikan fotokopi Peraturan Pemerintah tersebut.Tidak Memiliki Kualifikasi Usaha Bentuk pekerjaan Pelaksanaan konstruksi Tarif 4% Sifat Final final Perencanaan dan pengawasan 6% konstruksi * dari jumlah/penerimaan pembayaran tidak termasuk PPN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK Jalan Jendral Gatot Subroto 40-42 Telepon : 5250208.ao. Para Kepala Kantor Wilayah DJP. 03J2008 TENTANG PENYAMPAIAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 51 TAHUN 2008 TENTANG PAJAK PENGHASllAN ATAS PENGHASllAN DARl USAHA JASA KONSTRUKSI Sehubungan dengan telah ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Jasa Konstruksi. Adapun hal-ha1 yang diatur dalam Peraturan Pemerintah tersebut antara lain: . Para Kepala Kantor Pelayanan Pajak. 4. 1. Jakarta 121 90 526-2880 Kotak Pos 124 Faksile 5251 658 Homepage DJP : hWJhmMH.5251609.

dipotong oleh Pengguna Jasa pada saat pembayaran. tidak termasuk Pajak Penghasilan atas sisa laba bentuk usaha tetap setelah Pajak Penghasilan yang bersifat final. jumlah penerimaan pembayaran. 2% (dua persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang memiliki kualifikasi usaha kecil. 2. b. dikalikan tarif Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam butir 2 dalam ha1 Pajak Penghasilan disetor sendiri oleh Penyedia Jasa. tarif Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada butir 2. 3. 6% (enam persen) untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha. Tarif Pajak Penghasilan untuk usaha Jasa Konstruksi adalah: a. . 7. Dalam ha1 Penyedia Jasa adalah bentuk usaha tetap. jumlah pembayaran. dalam ha1 pengguna jasa bukan merupakan pemotong pajak. c. 4% (empat persen) untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang memiliki kualifikasi usaha. dan e. Atas penghasilan dari usaha Jasa Konstruksi dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat fmal. tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai. Besarnya Pajak Penghasilan yang dipotong atau disetor sendiri sebagaimana dimaksud pada butir 5 adalah: a. d. 3% (tiga persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa selain Penyedia Jasa sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b. dikenakan pajak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (4) Undang-Undang PPh atau sesuai dengan ketentuan dalam Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda. dalam ha1 Pengguna Jasa merupakan pemotong pajak. disetor sendiri oleh Penyedia Jasa. 4. 4% (empat persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha. dikalikan tarif Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam butir 2. 5. atau b. Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud pada butir 1: a. Penyedia Jasa wajib melakukan pencatatan yang terpisah atas biaya yang timbul dari penghasilan yang diterima atau diperoleh dari kegiatan usaha selaln usaha Jasa Konstruksl. tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai.1. atau b. Sisa laba dari bentuk usaha tetap setelah Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam butir 3. 6.

PPN Jasa kontruksi termasuk jasa kena pajak Pengusaha jasa kontruksi wajib memungut PPN atas jasa yang diberikannya Tarif yang dikenakan tarif normal 10 % kali Dasar Pengenaan Pajak. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak.8. Pada saat Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Jasa Konstruksi mulai berlaku. 9. Peraturan Pemerintah Nomor 140 Tahun Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Jasa Konstruksl dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Saat pembuatan faktur adalah saat pembayaran atau saat penyerahan. mana yang lebih dahulu . pengenaan Pajak Penghasilan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Jasa Konstruksi. Kerugian dari usaha Jasa Konstruksi yang masih tersisa sampai dengan Tahun Pajak 2008 hanya dapat dikompensasi sampai dengan Tahun Pajak 2008. Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan. 4. 3. Para Direktur di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. Terhadap kontrak yang ditandatangani sebelum tanggal 1 Januari 2008 diatur: a. b. untuk pembayaran kontrak atau bagian dari kontrak sampai dengan tanggal 31 Desember 2008. Para Tenaga Pengkaji di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. Kepala Biro Hukum Departemen Keuangan. pengenaan Pajak Penghasilan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 140 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Jasa Konstruksi. untuk pembayaran kontrak atau bagian dari kontrak setelah tanggal 31 Desember 2008. 2. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 22 ~agustus 2008 Tembusan: 1. Demikian disampaikan untuk diketahui dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. 6. b. 5. lnspektur Jenderal Departemen Keuangan. 10. Para Kepala Kantor Wilayah diminta melakukan sosialisasi kepada para wajib pajak dan mengawasi pelaksanaan Peraturan Pemerintah tersebut. Dasar pengenaan pajak adalah nilai transaksi / nilai kontrak.

b. sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak. maka wajib pajak harus menambah. . c. jika lebih kecil kelebihannya dapat diminta kembali. kemudian pada akhir tahun besarnya pajak disesuaikan dengan keadaanyang sebenarnya. Stelsel campuran Stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata dan stelsel anggapan. PPN ini akan diperhitungkan sebagai bagian dari keseluruhan PPN yang terutang PPN yang dipungut merupakan Pajak Keluaran. penghasilan suatu tahun dianggap sama dengan tahunsebelumnya. Cara pemungutan serta konsekuensi atas kelalaian kewajiban pajak jasa konstruksi Tata Cara Pemungutan Pajak 1. Asas Pemungutan Pajak a. yakni setelah penghasilan yang sesungguhnya diketahui.Sebaliknya. Stelsel nyata (riel stelsel) Pengenaan pajak didasarkan pada objek (penghasilan yang nyata). besarnya pajak dihitung berdasarkan suatu anggapan. Asas ini berlaku untuk wajib pajak dalam negeri. b. Asas domisili (asas tempat tinggal) Negara berhak mengenakan pajak atas seluruh penghasilan wajib pajak yang bertempat tinggal di wilayahnya. 2. Misalnya. Stelsel Pajak Pemungutan pajak dapat dilakukan berdasarkan 3 stelsel: a. baik penghasilan yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri. sehingggapada awal tahun pajak sudah dapat ditetapkanbesarnya pajak yang terutang untuk tahun pajak berjalan. Stelsel anggapan (fictieve stelsel) Pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang diatur oleh undangundang.Jika terjadi pembayaran uang muka atau pembayaran bertahap. maka jumlah pembayaran tresebut dikalikan 10 % sebagai PPN nya. Adapun PPN yang dibayar pengusaha jasa konstruksi saat melakukan pembelian bahan atau alat untuk usaha jasa konstruksi berfungsi sebagai pajak masukan yang dapat dikreditkan sesuai ketentuan umum yang berlaku di PPN 2. Pada awal tahun. Asas sumber Negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber di wilayahnya tanpa memperhatikan tempat tinggal wajib pajak. Bila besarnya pajak menurut kenyataan lebih besar dari pada pajak menurut anggapan.

mulai dari menghitung. c. Official Assessment System Adalah sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak. With Holding System Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan wajib pajak yang bersangkutan) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak. Asas kebangsaan Pengenaan pajak dihubungkan dengan kebangsaan suatu negara. • Wajib pajak bersifat pasif. Ciri-cirinya: • Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada fiskus. Ciri-cirinya: • Wewenang menentukan besarnya pajak terutang ada pada pihak ketiga. . dan melaporkan sendiri pajak yang terutang. b. • Wajib pajak aktif. • Fiskus tidak ikut campur dan hanya mengawasi. Ciri-cirinya: • Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada wajib pajak sendiri. Asas ini berlaku untuk wajib pajak luar negeri. menyetor. pihak selain fiskus dan wajib pajak. Self Assessment System Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada wajib pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang. • Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus. Sistem Pemungutan Pajak a. 3.c. Misalnya pajak bangsa asing di Indonesia dikenakan pada setiap orang yang bukan kebangsan Indonesia yang bertempat tinggal di Indonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful