You are on page 1of 7

Klasifikasi

Klasifikasi hematoma subdural berdasarkan saat timbulnya gejala klinis: a. Hematoma Subdural Akut Hematoma subdural akut terjadi pada trauma kepala berat. Gejala timbul segera hingga berjam-jam setelah trauma. Perdarahan dapat kurang dari 5mm tebalnya tetapi melebar luas. Keadaan ini memiliki prognosis yang buruk, tidak hanya karena darah di subdural itu saja, tetapi karena sangat sering berkaitan dengan cedera parenkimal di sekitarnya. Letalitasnya dapat mencapai sekitar 50%. Manifestasi klinis perdarahan subdural ditentukan oleh lokasi dan luas cedera parenkimal yang sesuai. (buku duss, wikipedia) b. Hematoma Subdural Sub-Akut Gejala-gejala timbul beberapa hari hingga 10 hari setelah trauma. Perdarahan dapat lebih tebal tetapi belum ada pembentukan kapsul disekitarnya. (bukuduss, wikipedia) c. Hematoma Subdural Kronik Gejala timbul lebih dari 10 hari hingga beberapa bulan setelah trauma. Kapsula jaringan ikat mengelilingi hematoma. Kapsula mengandung pembuluh-pembuluh darah yang tipis dindingnya terutama di sisi durameter. Pembuluh darah ini dapat pecah dan membentuk perdarahan baru yang menyebabkan menggembungnya hematoma. Darah di dalam kapsula akan terurai membentuk cairan kental yang dapat mengisap cairan dari ruangan subarakhnoid. Hematoma akan membesar dan menimbulkan gejala seperti tumor serebri. Manifestasi perdarahan subdural kronik ditimbulkan oleh tekanan jaringan otak di bawahnya dan bergantung pada

lokasi hematoma. Hematoma subdural kronikyang terdapat di regio sentral mungkin tidak dapat dibedakan dari infark. (buku duss, wikipedia)

Manifestasi Klinis
Perdarahan terjadi di antara durameter dan arakhnoidea. Perdarahan dapat terjadi akibat robeknya vena jembatan (bridging veins) yang menghubungkan vena di permukaan otak dan sinus venosus di dalam durameter atau karena robeknya arakhnoid. Gejala yang dapat tampak adalah penderita mengeluh tentang sakit kepala yang semakin bertambah keras, ada gangguan psikis, kesadaran penderita semakin menurun, terdapat kelainan neurologis seperti hemiparesis, epilepsi, dan edema papil. (adam, wikipedia) Gejala dari perdarahan subdural onsetnya lebih lambat dibandingkan dengan perdarahan epidural. Ini disebabkan karena peningkatan tekanan akibat perdarahan vena lebih rendah dibandingkan arteri. Oleh karena itu, tanda dan gejala dapat muncul dalam hitungan menit atau jika tidak muncul dapat sampai 2 minggu ke depan. Jika perdarahan cukup banyak, gejala dari peningkatan tekanan intrakranial dapat muncul. (adam, wikipedia) Gejala yang dapat tampak adalah penderita mengeluh tentang sakit kepala yang semakin bertambah berat, kesadaran menurun, pusing, disorientasi, ataksia, kehilangan pendengaran, tinnitus, amnesia, letargia, mual, muntah, nafsu makan berkurang, terdapat kelainan neurologis seperti hemiparesis, epilepsi, kehilangan pendengaran, tinnitus, gangguan pergerakan bola mata dan edema papil. (adam, wikipedia)

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis hematoma subdural dapat dilakukan dengan menggunakan neuroimaging otak yaitu dengan computed tomography (CT) atau magnetis resonance imaging (MRI). (bernard)

CT-Scan subdural Hematoma diambil dari pustaka no. (wikipedia)

Pada CT scan, hematoma subdural yang klasik nampak lesi desak ruang berbentuk bulan sabit dan konkaf yang tidak bebatas jelas dengan jaringan otak dibawahnya dan terdapat

efek massa yang jelas dengan adanya pergeseran midline shift. (wikipedia, bernard) Namun, dapat terlihat cembung, terutama di tahap awal perdarahan. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan dalam membedakan antara perdarahan subdural dan epidural. Indikator lain pada perdarahan subdural adalah melibatkan bagian hemisfer serebri yang lebih luas karena dapat melewati sutura, tidak seperti perdarahan epidural. Pada perdarahan subdural yang akut tampak gambaran hiperdens, pada subakut tampak gambaran isodens, sedangkan pada tahap kronik tampak gambaran hipodens. (bernard)

MRI subdural hematoma Diambil dari pustaka no. (centre on aging)

MRI lebih baik digunakan pada gambaran lesi yang nampak isodens pada CT scan, karena akan nampak sebagai lesi hiperintens. (bernard)

Penatalaksanaan
Terapi pembedahan Pembedahan pada perdarahn subdural harus dilakukan sesegera mungkin. Indikasi pembedahan pada kasus akut yaitu ketebalan 10mm atau pergeseran midline sebanyak 5mm pada CT-Scan dengan memperhatikan GCS pasien. Pasien dengan GCS dibawah 9 harus disertai dengan pengawasan TIK. Pasien koma dengan GCS dibawah 9 dengan penurunan GCS 2 atau lebih sejak waktu kejadian disertai dilatasi pupil dan TIK diatas 20 mmHg walaupun dengan ketebalan kurang dari 10mm atau pergeseran midline kurang dari 5mm tetap harus menjalanakan operasi. (bullock)

Terapi ditujukan baik kepada perdarahannya itu sendiri maupun cedera parenkim yang berkaitan. Jika pengangkatan hematoma secara pembedahan saraf terbuka diperlukan, jaringan otak yang mengalami kontusio sering kali harus direkseksi juga. Pada saat pembedahan, dapat dilakukan duraplasti, dan fragmen tulang dapat ditinggalkan di luar, daripada dikembalikan di tempat semula, tujuannya untuk menyediakan ruang pada otak yang membengkak dan mencegah kemungkinan terjadinya hipertensi intrakranial yang letal. (buku duss) Pada kasus yang kronik terapinya meliputi operatif atau drainase perkutneus. Keadaan ini memiliki angka rekurensi yang relatif tinggi. Adanya hematoma subdural merupakan kontraindikasi terapi antikoagulan, karena dapat menimbulkan perdarahan tambahan dalam ruang hematoma dan menyebabkan efek massa. (buku duss) Terapi konservatif Terapi konservatif adalah pilihan bagi pasien dengan sakit kepala tanpa disertai kelainan neurologis lain baik defisit fokal atau gangguan memori. Terapi konservatif terdiri dari rawat inap pengamatan, percobaan pemebrian steroid atau manitol dan CT scan serial. Terapi konservatif rawat inap untuk pasien kronis yaitu 4-22 minggu. Inzelberg dkk melaporkan 17 kasus yang sukses dengan pengobatan non-bedah. Pasien dengan kontraindikasi pembedahan yaitu pasien dengan hemodialisis berulang. CT scan kepala memperlihatkan hematoma subdural tanpa midline-shift. Pasien ini diberikan 16 mg deksametason per hari IV selama dua minggu kemudian di tapperingoff sampai bulan berikutnya dan pada pemeriksaan CT-Scan memperlihatkan tidak ada cairan subdural. (article neurology) Observasi Ada penelitian yang menyebutkan bahwa perdarahan subdural dapat sembuh spontan hanya dengan observasi beberapa minggu. Faktor-faktor yang mendukung yaitu lesi hipodens pada CT scan, perdarahan subdural kronis dengan ukuran kecil, dan adanya dilatasi ventrikel sebagai lawan dari kompresi subdural. Observasi dapat diikuti dengan CT scan serial. Parlato dkk melaporkan penelitian terhadap 5 pasien yang didiagnosis dengan hematoma subdural kronis dan diamati dengan CT scan serial. Semua pasien memiliki resolusi spontan tanpa pembedahan dan terapi konservatif. Pasien rata-rata berusia 73 disertai sakit kepala dan gangguan kognitif ringan. CT scan menunjukkan subdural hematoma tanpa pergeseran garis tengah otak. Semua 5 pasien memiliki resolusi dalam 6 minggu. (article neurology)

Karnath B. Subdural hematoma: Presentation and management in older adults. Geriatrics volume 59. 2004; p18-23 Baehr M. and Frotscher M., Suplai Darah dan Gangguan Vaskular Sistem Saraf Pusat in Suwono W.J.,eds. Diagnosis Topik Neurologi DUSS. Edisi 4. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran ECG, 2010. p 433-4

Bullock M.R. eds, Surgical Management of Acute Subdural Hematomas. Neurosurgery. Volume 58. 2006. p S2-16 – S2-24

Wikipedia. Subdural Hematoma. [online].[cited 2011 November 28th].Available from : http://en.wikipedia.org/wiki/Subdural_hematoma

Medscape. Subdural Hematoma. [online].[cited 2011 November 28th].Available from : http://emedicine.medscape.com/article/1137207-overview#

A.D.A.M. Medical Encyclopedia. Subdural Hematoma. [online].[cited 2011 November 28th].Available from : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0001732

Centre on Aging.MRI Subdural Hematoma.[online].[cited 2011 November 28th]. Available from: http://www.geroeducation.org/HyperText_Module/Confusion/confusion_in_the_elderly .htm#mri_subdural_hematoma.htm Mumenthaler M., Mattle H., Taub E. Fundamental of Neurology. New York: Thieme, 2006. p 87-91 Netter F.H., eds. Atlas of Neuroanatomy and Neurophysiology. USA: Icon Custom Communications, 2002. p 2-3