You are on page 1of 4

Model Tetes Cairan Model tetes cairan digunakan untuk menentukan massa real dari suatu inti atom

. Model ini mengasumsikan bahwa sifat-sifat inti atom mirip dengan sifat-sifat yang terdapat dalam tetes cairan. Sifat-sifat tetes cairan tersebut adalah kerapatannya adalah konstan, ukurannya sebanding dengan jumlah partikel atau molekul di dalam cairan, energi ikatnya berbanding lurus dengan massa atau jumlah partikel yang membentuk tetesan. Adanya sifat-sifat ini dapat membuka sebuah peluang untuk mendapatkan persamaan untuk massa inti atom Atom terdiri atas inti atom dan elektron-elektron yang mengelilinginya. Inti atom terdiri atas partikel proton dan neutron. Partikel-partikel penyusun inti atom ini biasa disebut nukleon. Nukelon penyusun inti memiliki massa yang hampir sama yaitu mp = 938,3 MeV untuk proton dan mn = 939,6 MeV untuk neutron. Adapun elektron massanya sangat kecil jika dibandingkan massa proton dan neutron, yaitu 0,511. Jumlah proton atau elektron biasa diwakili oleh huruf Z (jumlah proton dan elektron dalam satu jenis atom adalah sama) sedangkan jumlah neutron disimbolkan dengan huruf N. Jumlah antara proton (Z) dan neutron (N) menghasilkan suatu nomor massa dari atom dan disimbolkan dengan huruf A. Jadi, sebagai asumsi awal massa inti M yang tersusun dari proton dan neutron dapat dutulis dengan persamaan : M = Zmp + A(A-Z)mn Dalam inti terdapat gaya ikat (gaya tarik antar partikel penyusun inti), sehingga massa inti seharusnya lebih kecil daripada ketika nukleon-nukleon inti terpisah seperti yang diterapkan pada rumus yang pertama. Energi ikat sebanding dengan jumlah nukleon inti, oleh karena itu akibat energi ikat ini persamaan massa inti harus dikurangi faktor koreksi sebesar b1A dimana b1 adalah suatu konstanta yang diperoleh secara eksperimen. Tetapi besarnya gaya ikat setiap nukleon yang terdapat pada koreksi pertama dianggap sama, padahal pengaruh gaya ikat inti bagi nukleon di permukaan lebih lemah daripada nukleon inti yang lebih dalam. Dalam kasus ini inti atom dianggap menyerupai bola sempurna dengan jarijari R, sehingga besar kecilnya pengaruh gaya ikat inti terhadap nukleon sebanding dengan besar luas permukaan bola. Luas bola = 4πR2 Jari inti diperoleh dengan persamaan R = roA1/3. Sehingga Luas bola = 4πR2 = 4π(roA1/3)2 ; ==> ro adalah konstanta atau Luas bola ≈ b2A2/3 Jadi faktor koreksi berikutnya untuk massa inti sebesar b2A2/3 Energi Coulumb positif antar proton juga memberi kontribusi terhadap kenaikan massa inti. Menurut hukum Coulumb, gaya Coulumb antar muatan yang sejenis akan tolak-menolak. Oleh karena itu, tolakan Coulumb antar proton akan mengakibatkan penambahan massa inti.

Untuk memperoleh faktor koreksi akibat perbedaan jumlah proton dan neutron ini. pengurangan Z sebesar v diikuti juga dengan penambahan N sebesar v yang diberikan oleh v = (N-Z)/2 Jika selisih antar tingkat energi nukleon adalah Δ. perbedaan energi ikat berubah menjadi ΔEikat = Δ/8(A-2Z)2 atau ΔEikat ≈ b4(A-2Z)2 Jadi faktor koreksinya sebesar b4(A-2Z)2 Nukleon-nukleon dalam inti juga cenderung “berpasangan”.Dari hukum Coulumb energi yang diakibatkan oleh interaksi antar partikel bermuatan dirumuskan dengan E = k[q1q2/R] = k[(Ze)2/roA1/3] = ke2/ro[Z2A-1/3] Atau E ≈ b3[Z2A-1/3] Faktor koreksi ketiga untuk persamaan massa inti akibat pengaruh energi Coulumb adalah sebesar b3[Z2A-1/3] Proton dan neutron merupakan kategori fermion (taat asas pauli dan tidak mau berkeadaan sama). didapati bahwa pasangan energi hadir bervariasi sebesar A-3/4 dan bertambah sebesar jumlah nukleonnukleon tidak berpasangan. Sehingga memberikan koreksi sebesar b5A-3/4 . Adanya kelebihan neutron ataupun proton dalam suatu isobar dapat meningkatkan massa inti menurut prinsip larangan pauli. perhatikan gambar berikut : Dari gambar diatas. Akibat efek ini. maka pengurangan Z memberikan selisih energi ikat pada isobar sebesar ΔEikat = v[Δ(v/2)] = [(N-Z)/2][ (N-Z)/2] [Δ/2] = Δ/8(N-Z)2 Karena N = A-Z. jadi masing-masing menempati kulit berbeda dalam deretan kulit terpisah. neutron-neutron atau proton-proton berkelompok bersama dalam spin-spin yang berbeda. jelasnya.

3 MeV dan b5 ditentukan berdasarkan skema berikut ini : A Genap Ganjil Genap Z Genap Genap b5 -33. Salah satu persamaan ini yaitu elektron dan nukleon memiliki tingkat-tingkat energi tertentu. maka persamaan massa riel inti atom menjadi M = Zmp + A(A-Z)mn . 126 yang disebut bilangan ajaib inti.0 MeV b2 = 13.5 MeV +33.0 MeV b3 = 0.b5A-3/4 Konstanta di persamaan diatas ditentukan dari data eksperimen. yaitu Kemungkinan nilai λ dari kombinasi n dan l ditunjukan pada tabel berikut : . Proton dan neutron terjebak dalam sebuah potensial.b1A . Dalam persoalan atom juga ditemukan bilangan ajaib. 50.b3[Z2A-1/3] .Pemecahan persamaan ini memberikan informasi tentang perilaku gelombang dari partikel. Rumus tingkat energi yang diperoleh dari pemecahan persamaan schroodinger untuk osilator harmonik.Jika semua koreksi yang telah diperoleh diumpulkan. Bentuk osilator harmonik lebih mendekati hasil yang diinginkan.58 MeV b4 = 19. Perubahan sifat-sifat inti secara menonjol terjadi di dalam inti dengan N dan Z sebesar 2.5 MeV Model Kulit Berbagai persoalan yang terdapat dalam inti memiliki beberapa persmaan dengan persoalan elektron-elektron dalam atom. 82. Beberapa bentuk potensial yang dipakai yaitu potensial kotak dan osilator harmonik.b4(A-2Z)2 . Letak perbedaan antara persoalan yang terdapat pada elektron dalam atom dan inti atom adalah potensial yang ditimbulkan dan sifat orbitnya. nilainya (dalam satuan energi) yang dapat diambil adalah b1 = 14. 28. 8.b2A2/3 . Fungsi potensial V ditulis dalam bentuk persamaan schroodinger. yaitu nomor atom yang terdapat pada gas mulia.

20. 28. 82.Dan urutan penempatan nukleon ditunjukan sebagai berikut : Selain berada dalam potensial. dan 126) dan tingkat-tingkat energi inti ditunjukan pada gambar berikut : . 50. juga terdapat interaksi spin-orbit dalam inti sehingga diperoleh bilangan-bilangan ajaib yang sesuai ( 2. 8.