AHLUSSUNAH KHALAF (AL-ASY‟ARY DAN AL-MATURIDI

)

Kata khalaf biasanya digunakan untuk merujuk para ulama yang lahir setelah abad III H dengan karakteristik yang bertolak belakang dengan apa yang dimiliki salaf. Ahlusunnah (sunni) ada dua pengertian: 1. Secara umum, Sunni adalah lawan kelompok syiah 2. Secara khusus, Sunni adalah mazhab yang berada dalam barisan asy‟ariyah dan merupakan lawan mutazilah. Dua aliran yang menentang ajaran-ajaran mutazilah. Harun Nasution dengan meminjam keterangan Tasi Kurbazadah, menjelaskan bahwa aliran ahlu sunnah muncul atas keberanian dan usaha Abu Hasan Al-asy‟ari sekitar tahun 300H.

A. AL-ASY‟ARI 1. Latar Belakang Kemunculan Al-Asy‟ari Nama lengkap Al-asy‟ari adalah Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa Al-asy‟ari. Ia lahir di Bashrah pada tahun 260H/875M. Ketika berusia 40 tahun, ia hijrah ke kota Bagdad dan wafat di sana pada tahun 324H/935M. Ayah al-asy‟ari adalah seorang yang berfaham ahlusunnah dan ahli hadits. Ia wafat ketika Al-asy‟ari masih kecil. Sebelum wafat ia berwasiat kepada sahabatnya yang bernama Zakaria bin Yahya As- saji agar mendidik Al-asy‟ari. Berkat didikan ayah tirinya, Al-asy‟ari kemudian menjadi tokoh mutazilah. Menurut Ibnu asakir, Al-asy‟ari meninggalkan faham mutazilah karena ia telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Sebanyak tiga kali yaitu pada malam ke10, 20 dan 30 bulan Ramadhan. Dalam mimpinya Rasulullah mengingatkan agar meninggalkan faham mutazilah dan beralih kepada faham yang telah diriwayatkan dari beliau.

2. Doktrin-doktrin Teologi Al-asy‟ari Corak pemikiran yang sintesis ini menurut Watt, barangkali dipengaruhi teologi kullabiah (teologi Sunni yang dipelopori Ibn Kullab (w 854 M). Pemikiran-pemikiran Al-asy‟ari: a. Tuhan dan sifat-sifatnya Al-asy‟ari dihadapkan pada dua pandangan ekstrim. Dengan kelompok mujasimah (antropomorfis) dan kelompok musyabbihah yang berpendapat, Allah mempunyai semua sifat yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan sunnah, dan sifat-sifat itu harus difahami menurut harti harfiyahnya. Kelompok mutazilah berpendapat bahwa sifatsifat Allah tidak lain adalah esensi-esensinya. Al-asy‟ari berpendapat bahwa Allah memang memiliki sifat-sifat itu, seperti mempunyai tangan dan kaki dan ini tidak boleh diartikan secara hartiah, sifat-sifat Allah itu unik sehingga tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip. b. Kebebasan dalam berkehendak (free will) Dari dua pendapat yang ekstrim, yakni jabariah dan fatalistic dan penganut faham pradterminisme semata-mata dan mutazilah yang menganut faham kebebasan mutlak dan berpendapat bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri. Al-asy‟ari membedakan antara khaliq dan kasb. Menurutnya, Allah adalah pencipta (khaliq) perbuatan manusia, sedangkan manusia sendiri yang mengupayakannya (muktasib), hanya Allah lah yang mampu menciptakan segala sesuatu (termasuk keinginan manusia). c. Akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk Walaupun Al-asy‟ari dan orang-orang mutazilah mengakui pentingnya akan dan wahyu, mereka berbeda dalam menghadapi persoalan yang memperoleh penjelasan kontradiktif dari akal dan wahyu. Al-asy‟ari mengutamakan wahyu, sementara mutazilah mengutamakan akal. d. Qadimnya Al-Qur'an

Mutazilah mengatakan bahwa Al-Qur'an diciptakan (makhluk) sehingga tak qadim serta pandangan mazhab Hambali dan Zahiriah yang mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah kalam Allah (yang qadim dan tidak diciptakan). Zahiriah bahkan berpendapat bahwa semua huruf, kata dan bunyi Al-Qur'an adalah qadim. Dalam rangka mendamaikan kedua pandangan yang saling bertentangan itu Al-asy‟ari mengatakan bahwa walaupun Al-Qur'an terdiri atas kata-kata, huruf dan bunyi, semua itu tidak melekat pada esensi Allah dan karenanya tidak qadim. e. Melihat Allah Al-asy‟ari tidak sependapat dengan kelompok ortodoks ekstrim, terutama zahiriyah yang menyatakan bahwa Allah dapat dilihat di akherat dan mempercayai bahwa Allah bersemayam di Arsy. Selain itu ia tidak sependapat dengan mutazilah yang mengingkari ru‟yatullah (melihat Allah) di akherat. Al-asy‟ari yakin bahwa Allah dapat dilihat atau bilamana ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihatnya. f. Keadilan Pada dasarnya Al-asy‟ari dan mutazilah setuju bahwa Allah itu adil. Al-asy‟ari tidak sependapat dengan mutazilah yang mengharuskan Allah berbuat adil sehingga ia harus menyiksa orang yang salah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik. Menurutnya, Allah tidak memiliki keharusan apapun karena ia adalah penguasa mutlaq. g. Kedudukan orang berdosa Menurut Al-asy‟ari mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik, sebab iman tidak mungkin hilang karena dosa selain kufur.

B. AL-MATURIDI 1. Latar Belakan Kemunculan Al-Maturidi Abu Manshur Muhammad ibn Muhammad ibn Mahmud Al-Maturidi. Ia dilahirkan di sebuah kota kecil di daerah Samarkan yang bernama Maturid, di wilayah Trmsoxiana

Selain itu ada pula karangan-karangan yang diduga ditulis oleh Al-Maturidi. Karir pendidikan Al-Maturidi lebih dikonsentrasikan untuk menekuni bidang teologi dari pada fiqih. Ta‟wil Al-Qur'an Makhas Asy-Syara‟I. mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan dapat diketahui dengan akal. 2. dll. Kemampuan akal dalam mengetahui dua hal tersebut sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang memerintahkan agar manusia menggunakan akal dalam usaha memperoleh pengetahuan dan keimanannya terhadap Allah melalui pengamatan dan pemikiran yang mendalam tentang makhluk ciptaannya. sedangkan perintah atau larangan syari‟ah hanyalah mengikuti ketentuan akal mengenai baik dan buruknya sesuatu. Akal dan wahyu Dalam pemikiran teologinya. Kalau akal tidak mempunyai kemampuan memperoleh pengetahuan tersebut. Dalam kondisi demikian. wahyu diperoleh untuk dijadikan sebagai pembimbing. Al-Maturidi berpendapat bahwa penentu baik dan buruk sesuatu itu terletak pada suatu itu sendiri. Dalam masalah baik dan buruk. ia wafat pada tahun 268 H. tentunya Allah tidak akan menyuruh manusia untuk melakukannya. Doktrin-doktrin teologi Al-Maturidi a. Ia wafat pada tahun 333 H/944 M. . Namun akal menurut AlMaturidi.di Asia Tengah. tidak mampu mengetahui kewajiban-kewajiban lainnya. diantaranya adalah kitab Tauhid. al-Maturidi hidup pada masa khalifah Al-Mutwakil yang memerintah pada tahun 232-274 H/847-861 M. daerah yang sekarang disebut Uzbekistan. Dan orang yang tidak mau menggunakan akal untuk memperoleh iman dan pengetahuan mengenai Allah berarti meninggalkan kewajiban yang diperintah ayat-ayat tersebut. Al-Maturidi mendasarkan pada Al-Qur'an dan akal dalam bab ini ia sama dengan Al-asy‟ari. hanya diperkirakan sekitar pertengahan abad ke-3 hijriyah. yaitu Risalah fi Al-aqaid dan syarh Fiqh Al-akbar. Pemikiran-pemikirannya banyak dituangkan dalam bentuk karya tulis. Menurut Al-Maturidi. Al-jald. gurunya dalam bidang fiqih dan teologi yang bernama Nasyr bin Yahya Al-Balakhi. Tahun kelahirannya tidak diketahui pasti.

Kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan Menurut Al-Maturidi qudrat Tuhan tidak sewenang-wenang (absolut). kelak di akherat tidak dalam bentuknya (bila kaifa). antara lain firman Allah dalam surat Al-Qiyamah ayat 22dan 23.Al-Maturidi membagi kaitan sesuatu dengan akal pada tiga macam. tetapi perbuatan dan kehendaknya itu berlangsung sesuai dengan hikmah dan keadilan yang sudah ditetapkannya sendiri. Akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebutuhan sesuatu itu. dan yang buruk itu buruk karena larangan Allah. f. Al-Maturidi mempertemukan antara ikhtiar sebagai perbuatan manusia dan qudrat Tuhan sebagai pencipta perbuatan manusia. Perbuatan manusia Menurut Al-Maturidi perbuatan manusia adalah ciptaan Tuhan karena segala sesuatu dalam wujud ini adalah ciptaannya. Sifat Tuhan Dalam hal ini faham Al-Maturidi cenderung mendekati faham mutzilah. b. Kalam Tuhan Al-Maturidi membedakan antara kalam yang tersusun dengan huruf dan bersuara . yaitu: 1. karena keadaan di akherat tidak sama dengan keadaan di dunia. Al-Maturidi berada pada posisi tengah dari Mutazilah dan Al-Asy‟ari. sedangkan mutazilah menolak adanya sifat-sifat Tuhan. yang baik itu baik karena diperintah Allah. Dalam hal ini. Jadi. Pada korteks ini. kecuali dengan petunjuk ajaran wahyu. Hal ini diberitahukan oleh Al-Qur'an. Perbedaan keduanya terletak pada pengakuan Al-Maturidi tentang adanya sifat-sifat Tuhan. Akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebaikan sesuatu itu. e. 3. 2. Akal tidak mengetahui kebaikan dan keburukan sesuatu. d. Melihat Tuhan Al-Maturidi mengatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhan. namun melihat Tuhan. c.

tidak ada sesuatu yang terdapat dalam wujud ini. Pengutusan Rasul Pandangan Al-Maturidi tidak jauh beda dengan pandangan mutazilah yang berpendapat bahwa pengutusan Rasul ke tengah-tengah umatnya adalah kewajiban Tuhan agar manusia dapat berbuat baik dan terbaik dalam kehidupannya. h. Al-Asy‟ari kemudian menjadi tokoh Mutazilah. g. tapi kemudian ia keluar dari Mu‟tazilah dan berfaham ahlusunnah Pemikiran-pemikiran Al-Asy‟ari diantaranya Tuhan dan sifat-sifatnya. akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk. sedangkan kalam yang tersusun dari huruf dan suara adalah baharu (hadist).dengan kalam nafsi (sabda yang sebenarnya atau kalam abstrak). Sebelum ayah beliau wafat. Berkat didikannya. Kalam nafsi adalah sifat qadim bagi Allah. Ayah beliau yaitu seorang yang berfaham ahlusunnah dan ahli hadits. kebebasan dalam berkehendak. melihat Allah. ayak beliau berwasiat kepada Zakaria bin Yahya As-Saji agar mendidik Al-Asy‟ari. beliau ditinggalkan oleh ayahnya ketika masih kecil. qodimnya AlQur'an. Pelaku dosa besar Al-Maturidi berpendapat bahwa orang yang berdosa besar tidak kafir dan tidak kekal di dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertobat. KESIMPULAN Nama lengkap Al-Asy‟ari adalah Abu Al-Hasan Ali bin Ismail in Ishaqi bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bi Abi Musa Al-Asy‟ari. dan tidak ada yang memaksa atau membatasi kehendak Tuhan kecuali karena ada hikmah dan keadilan yang ditentukan oleh kehendak-Nya sendiri. Perbuatan manusia Menurut Al-Maturidi. . keadilan dan kedudukan orang berdosa. kecuali semuanya atas kehendak Tuhan. i.

perbuatan manusia. pengutusan Rasul dan dosa besar. Al-Maturidi hidup pada masa khalifah Al-Mutawakil yang memerintah pada tahun 232-274 H/847-861 M. kariri pendidikan beliau lebih dikonsentrasikan untuk menekuni bidang teologi dari pada fiqih Doktrin-doktrin teologi al-Maturidi diantaranya akal dan wahyu.Al-Maturidi dilahirkan disebuah kota kecil di daerah Samarkan yang bernama Maturid. perbuatan manusia. sifat Tuhan. kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. . melihat Tuhan kalam Tuhan.

PEMANTAPAN AQIDAH ASYARIYAH DAN MATURIDIYAH A. Sejarah Lahirnya Asyariyah Aliran Al-Asy‟ariyah dibentuk oleh Abu Al-Hasan „Ali Ibn Isma‟il Al-Asy‟ari yang lahir di Basrah pada tahun 873 Masehi dan wafat pada tahun 935 Masehi. . misalnya Syafi‟i berpendapat bahwa Al-Qur‟an itu tidak diciptakan. Beliau masih keturunan Abu Musa Al-Asy‟ari. Sejarah Lahirnya Asyariyah dan Maturidiyah a. seorang duta perantara dalam perseteruan pasukan Ali dan Mu‟awiyah. 2. ia gencar menyebar luaskan paham mu‟tazilah dengan karya-karya tulisnya. kafir dan anak kecil. keraguan itu timbul karena ia menganut madzhab Syafi‟i yang mempunyai pendapat berbeda dengan aliran Mu‟tazilah. Menurut Hammudah Ghurabah. bahwa Al-Qur‟an itu bukan qadim akan tetapi hadits (baru) dan diciptakan Alloh. walaupun ia sudah menganut paham Mu‟tazilah selama 40 tahun. Menurut Ahmad Mahmud Subhi. menimbulkan persoalan-persoalan yang tidak mendapat penyelesaian yang memuaskan. ajaran-ajaran yang diperoleh dari Al-Juba‟i. Sejak kecil ia berguru pada Syekh Al-Jubba‟i seorang tokoh Mu‟tazilah yang sangat terkenal. maka ia membentuk aliran yang dikenal dengan namanya sendiri pada tahun 300 Hijriyah. Karena adanya keragu-raguan dalam diri Al-Asy‟ari yang mendorongnya untuk keluar dari paham Mu‟tazilah. Dengan ilmu kemu‟tazilahannya. dan Alloh bersifat rohani dan tidak dapat dilihat dengan mata. Ketidak-puasan Al-Asy‟ari terhadap aliran Mu‟tazilah diantaranya adalah: 1. Sedangkan menurut paham Mu‟tazilah. Ia adalah murid yang cerdas dan ia menjadi kebanggaan gurunya dan seringkali ia mewakili gurunya untuk acara bedah ilmu dan diskusi. Karena tidak sepaham dengan gurunya dan ketidakpuasannya terhadap aliran Mu‟tazilah. tetapi bersifat qadim dan bahwa Alloh dapat dilihat di akhirat nanti. misalnya tentang mukmin.

apalagi setelah Khalifah Al-Mutawakkil mengunjukan sikap penghargaan dan penghormatan terhadap diri Imam Ahmad bin Hanbal. Alloh itu adil. akhirnya Syekh Abu Hasan Al Asyari berkata: “Selain kebenaran pasti hanya kesesatan. Dalam suasana demikianlah Imam Al-Asy‟ari keluar dari golongan Mu‟tazilah dan menyusun teologi yang sesuai dengan aliran orang yang berpegang kuat pada Al Quran dan Al Hadits. lawan Mu‟tazilah terbesar waktu itu. sebab segala sesuatu yang bekenaan dengan kebaikan manusia hukumnya wajib bagi Allah.” Lalu beliau mulai membela hadits-hadits yang berkaitan dengan ru‟yah (melihat Alloh di akhirat). sedangkan pandangan Mu‟tazilah standar adil dan tidak adil dalam pandangan manusia untuk menghukumi Alloh. Dalam mimpi tersebut Rasulullah berpesan kepada Syekh Abu Hasan Al Asyari untuk menolong pendapat-pendapat yang diriwayatkan dari Rasul saw. Karena ikhtiar menurut Mu‟tazilah merupakan bentuk penyerahan ikhtiar yang ekstrim dan juga menafikan ikhtiar dari Dzat-Nya. Syekh Abu Hasan Al Asyari meninggalkan Mu‟tazilah karena beliau bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam pandangan Imam Al Asy‟ari. Selain karena faktor di atas. bahwa jika keadilan mencakup ikhtiar. Ternyata . syafaat.. dan lain-lain. maka pendapat ini akan bertentangan dengan ke-Esaan tindakan Alloh (Tauhid fil Af‟al) bahkan bertentang dengan ke-Esaan Alloh itu sendiri. Setelah melewati perjalanan panjang dalam mengartikan mimpi tersebut. kedudukan kaum Mu‟tazilah mulai menurun. baik dan buruk logistik serta keterikatan tindakan Alloh dengan tujuan-tujuan semua tindakan-Nya. Setelah Khalifah Al Mutawakkil membatalkan putusan Khalifah Al Ma‟mun tentang penerimaan aliran Mu‟tazilah sebagai madzhab Negara. Imam Al Asy‟ari meninggalkan paham Mu‟tazilah ketika golongan ini sedang berada dalam fase kemunduran dan kelemahan.Puncak perselisihan antara Imam Al Asy‟ari dan Mu‟tazilah dalam masalah keadilan Alloh adalah ketika Mu‟tazilah tidak mampu menjawab kritik yang dilontarkan Imam Al Asy‟ari.

Thahir al Jazari. Muhammad al Sanusi. Sultan Nuruddin Mahmud (menyandang gelar al Malik al „Adil: Raja yang Adil. dan lain-lain. Al Imam Abu Sahal al Shu‟luki. Al Imam Hujatul Islam Al Ghazali. Ahmad Zaini Dahlan. Hadhratus Syekh KH Muhammad Hasyim Asyari Al Azmatkhan. Al Imam Abu Hasan Al Bahili. Fakhruddin al Razi. Abu Bakar bin Furak. Walisongo. Al Hafidz Abu Bakar Al Ismaili. Diantara murid-murid Al Asyari adalah al Imam al Mujahid. Al Imam Abu Bakar al Qaffal. Al Imam Abu Usain bin Sam‟un. Al Imam Abu Zayd al Marwazi. dan Mesir selama dua puluh tahun). juga atas peran para penguasa. Sultan Shalahuddin al Ayyubi (pahlawan Perang Salib. Syekh Ihsan bin Dahlan al Kediri. Abu al Fath al Syahrastani. diantaranya: Perdana Menteri Nizham al Mulk (perdana menteri Kabilah Bani Saljuq yang datang menggantikan Kabilah Fatimiyah yang bermadzhab Syiah Ismailiyah). Madzhab Al Asyari tersebar. Sedangkan tokoh-tokoh Madzhab Al Asyari adalah Al Qadhi Abu Bakar Al Baqillani. Al Imam Ibn Khafif al Dhabbi. Izzuddin bin Abdis Salam (Al „Izz). Ibrahim al Bajuri. Al Imam Bundar al Syirazi. Demikian sebagaimana dinukil dari kitab Tabyin Kidzb al Muftari. Muhammad ad Dasuqi. Ibrahim al Laqqani. selain atas jasa murid-murid Syekh Abu Hasan Al Asyari. Al Mahdi bin Tumart (perintis Kabilah Al Muwahidi). Taqyuddin al Subki. semenanjung Arabia. Syekh Yasin Al Hasanain Al Fadani (Padang). Abu Manshur al Baghdadi. dan lain-lain. Ahmad al Dardir. Syekh Muhammad Nawawi Al Azmatkhan Al Bantani (Ulama Banten yang menyandang gelar Syekh Ulama Hijaz –Makkah-Madinah–). dan lain-lain. Wafayat al A‟yan. Ahmad al Marzuqi. Abu Al Mudzaffar al Asfaraniyi. . Al Imam Ali bin Mahdi At Thabari. Abu Qasim al Qusyairi. Al Palembangi. dan Thabaqat al Syafi‟yah al Kubro. dan belum pernah dibacanya dalam suatu kitab. Abu Ishaq al Asfarayini.Syekh Abu Hasan Al Asyari mampu memaparkan kaian-kajian dan dalil-dalil yang belum pernah dipelajarinya dari seorang guru. Saifuddin al Amidi. penguasa daratan Syam. menyandang gelar al Malik al Nashir: Raja Penolong). „Adhududdin al Iji. tidak dapat dibantah oleh lawan.

Keadaan semacam ini telah „dibaca‟ oleh nabi melalui „sabda langit‟. bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan. Dari Mu‟awiyah bin Abi Sufyan. Sabda Nabi adalah wahyu Ilahi yang pasti terjadi. yang sesuai dengan nama pendirinya yaitu Al-Maturidi. B. mereka semua ingin masuk surga. 72 golongan akan masuk neraka. Ia adalah pengikut Al Imam Abu Hanifah dan paham-pahamnya mempunyai banyak persamaan dengan pahampaham yang diajarkan oleh Abu Hanifah. bersabda: “Sesungguhnya orang sebelum kalian dari pengikut Ahli Kitab terpecah belah menjadi 72 golongan. Sejarah Lahirnya Maturidiyah Latar belakang lahirnya aliran ini. yaitu sebagai reaksi penolakan terhadap ajaran dari aliran Mu‟tazilah. Dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Baginda Nabi Muhammad saw.b. Memahami Arti “73 Firqoh” Perdebatan firqoh (sekte) bagaikan sungai yang tak pernah kering. Dalam hadits digambarkan bahwa 72 golongan umat Nabi Muhammad saw. HR Abu Dawud (3981). dan al Hakim (407) yang menilainya shohih. akan celaka. ad Darimi (2/241). Al Hafidz Ibn Hajar menilai hadits ini sebagai hadits hasan. Apakah ini berarti sebagian besar (mayoritas) umat Nabi akan masuk neraka? Atau kah minoritas saja? . dan satu golongan yang masuk surga. Yang jelas. Ahmad (16329). Setiap firqoh mengklaim bahwa hanya pemahaman dirinyalah yang benar dan sesuai dengan al Quran dan al Hadits. hampir sama dengan aliran Al-Asy‟ariyah. Pendiri dari aliran ini adalah Abu Mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi yang lahir di Samarkand pada pertengahan kedua dari abad ke sembilan Masehi dan meninggal pada tahun 944 Masehi. yaitu golongan al jamaah”. Aliran teologi ini dikenal dengan nama AlMaturidiyah. akan terus mengalir.

akan sesat dan celaka.” QS al An‟am: 153. dan sebagainya. Hadits yang lain mengatakan: “Sesungguhnya umatku tidak akan . bukan umat ijabah. untuk beriman kepada Alloh dan mengakui KeesaanNya. yaitu orang-orang yang meyakini ajaran-ajaran yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. bukanlah umat yang celaka. Juga hadits Nabi Muhammad saw. Umat da‟wah adalah umat yang telah diseru oleh Rasul saw. dan bencana ” seolah ingin mengatakan bahwa mayoritas umat Nabi Muhammad saw. dan janganlah kalian mengikuti jalan (lain). maka ikutilah dia. Mereka hanyalah akan mendapat siksa di dunia. Mereka berargumen bahwa penyebutan “72 golongan” tidaklah untuk menjelaskan bahwa golongan yang celaka adalah golongan mayoritas. mereka tidak disiksa di akhirat. gempa. sesuai tekstual hadits. Pendapat kedua mengatakan bahwa golongan yang akan celaka hanyalah golongan minoritas. Adapun umat ijabah adalah firqoh an Najiyah. Kemudian apakah pendapat ini tidak bertentangan dengan hadits: “Umatku adalah umat yang dikasihi..Pendapat pertama mengatakan bahwa mayoritas umat Nabi Muhammad saw. diampuni. Pendapat ini didukung oleh firman Alloh swt. peperangan. dan hanya satu jalan menuju kebenaran. karena mereka telah merasakan „pahitnya‟ fitnah.. yakni dengan timbulnya banyak fitnah. peperangan.: “Dan bahwa (yang Aku perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus. Umat da‟wah inilah yang akan terberai menjadi beberapa firqoh. dan yang diterima taubatnya”? Ulama yang konsisten dalam pendapat ini memberi jawaban: Umat yang celaka adalah umat da‟wah. Pendapat ini seolah-olah mengatakan bahwa tidak ada korelasi integral antara banyaknya jalan kesesatan dengan keselamatan mayoritas umat Nabi Muhammad saw. melainkan untuk menjelaskan begitu banyaknya jalan menuju kesesatan.: “Umatku adalah umat yang dikasihi. karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.

Khawarij. Ibadhiyah. dll. yaitu aliran yang mengikuti madzhab Al Asyari dan Al Maturidi. Dari sini muncul pertanyaan. dan paradigma Ibn Taimiyah). dan sahabat-sahabatnya. hanya dua aliran yang mengklaim dirinya sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Wallohu a‟lam. (2) hanya satu golongan yang masuk surga. Kelompok Syiah. C. Mu‟tazilah. Jika terjadi „konflik‟ pemikiran dan ideologis antara dua kutub tersebut (Asyariyah dan Maturidiyah.” HR Ibn Majah. Perlu diketahui. . dan Madzhab Asyariyah dan Maturidiyah Hadits perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan di atas setidaknya memberi tiga pelajaran. dan (3) golongan tersebut adalah al jama‟ah. Sawad al A‟dzam. Menurut mayoritas ulama sejak zaman salaf yang sholih.bersepakat pada kesesatan. Firqoh an Najiyah. Hadits Shohih. Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah kelompok yang mengikuti ajaran Islam yamg murni dan asli seperti yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw. selalu dimenangkan oleh aliran Asyariyah dan Maturidiyah. dan aliran yang mengikuti paradigma pemikiran Ibn Taimiyah al Harrani. Zaidiyah. adakah dalil Al Quran dan As Sunnah yang mengisyaratkan bahwa madzhab Asyariyah dan Maturidiyah layak mewakili Ahlus Sunnah wal Jamaah? Insya Alloh akan kami jelaskan berikut ini. tidak mau dikatakan Ahlus Sunnah wal Jamaah. yang pada gilirannya layak menjadi golongan yang selamat (firqoh an najiyah). Ahlus Sunnah wal Jamaah merupakan kelangsungan alamiah dari perjalanan Islam yang masih asli dan murni. yaitu (1) umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Dalam perjalanan sejarah. Agaknya pendapat kedua inilah yang mendekati kebenaran. tidak semua aliran dalam Islam mengklaim dirinya atau diakui sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Sekarang timbul pertanyaan. Al Hakim menilainya Hadits Shohih. namun perbedaan ini tidak bersifat kontradiktif (tadhad). yaitu golongan jamaah. dan satu golongan yang masuk surga. Berikut akan dijelaskan beberapa pandangan ulama tentang maksud dari al jamaah. Dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan.” Pernyataan Al Hafidz Az Zabidi tersebut yang senada dengan pendapat mayoritas ulama Islam tersebut menafikan suatu relita tentang adanya kelompok lain yang mengklaim dirinya sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Selanjutnya akan dijelaskan dalil-dalil secara ijmali (global.” Dari Umar bin Khattab ra. Baginda Nabi Muhammad saw. bersabda: “Sesungguhnya orang sebelum kalian dari pengikut Ahli Kitab terpecah belah menjadi 72 golongan. siapakah al jama‟ah? Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah tersebut. Setan akan lebih jauh dari orang yang berduaan.. maka yang dimaksud adalah pengikut madzhab al Asyari dan al Maturidi. Dua hadits tersebut di atas memberi penjelasan bahwa golongan yang selamat adalah al jama‟ah. a. Mengikuti al Jama‟ah Dari Mu‟awiyah bin Abi Sufyan. dalil secara rinci tidak dapat dimuat dalam tulisan kecil ini) dari nash Al Quran dan As Sunnah yang membuktikan bahwa Asyariyah dan Maturidiyah lah yang layak menyandang gelar al firqoh an najiyah. an Nasai. .” HR Tirmidzi. At Tirmidzi menilainya Hadits Hasan Shohih. bersabda: “Ikutilah kelompok yang banyak dan jauhi perpecahan karena setan bersama orang yang sendirian. 72 golongan akan masuk neraka.Ahlus Sunnah wal Jamaah dan Madzhab Al Asya‟ari dan Al Maturidi Al Hafidz Az Zabidi dalam kitabnya Ithaf as Sadat al Muttaqin mengatakan: “Jika Ahlus Sunnah wal Jamaah disebutkan. Rasulullah saw. Ahmad. Barangsiapa yang menginginkan tempat yang lapang di surga maka ikutilah al jama‟ah. akan tetapi keragaman (tanawwu‟).

Al Hadits.” Ini adalah identitas yang khusus pada kami (madzhab Al Asyari dan Al Maturidi). Tidak mencakup golongan Rafidhah (Syiah) karena mereka juga tidak berpandangan perlunya menjaga kebersamaan.: “Sesungguhnya Alloh tidak akan mengumpulkan umatku atas kesesatan. pernah ditanya tentang kelompok yang selamat (firqoh an najiyah). Dan tidak pula mencakup Mu‟tazilah karena mereka tidak mengakui ijma‟ sebagai dalil. Nama al jama‟ah tersebut tidak mencakup golongan Khawarij karena mereka tidak berpandangan perlunya menjaga kebersamaan. dan qiyas .” Sikap mengikuti ijma‟ ulama merupakan realita dalam madzhab Al Asyari dan Al Maturidi. Pertolongan Alloh selalu bersama jama‟ah. lalu beliau menjawab: “Kelompok yang selamat adalah al jama‟ah. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu. Dalilnya adalah firman Alloh dalam Al Quran S.” Juga hadits Nabi saw. an Nisa‟: 115: “Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu‟min. dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Disebut aliran al jama‟ah. Mengikuti ijma‟ Ulama‟. bahwa Nabi saw. ini tidak layak bagi mereka. Al Imam Abu Al Muzhaffar Al Asfarayini berkata dalam kitabnya At Tabshir fid Din: “Diantara ciri khas Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah diterangkan dalam riwayat lain. ijma‟.” 2. maka ia mengucilkan dirinya ke neraka. karena dalam menetapkan hukum-hukum agama para ulama madzhab Al Asyari dan Al Maturidi menggunakan dalil Al Quran.1. Sifat kolektivitas yang disebutkan Rasululloh saw. karena semua orang „alim dan yang awam dari berbagai golongan menamakan mereka dengan Ahlus Sunnah wal Jama‟ah. Dan barangsiapa yang mengucilkan diri dari jama‟ah. Kata al jama‟ah tersebut juga mengacu terhadap golongan yang menjadikan ijma‟ sebagai hujjah dan dalil dalam beragama.

Hal ini berbeda dengan golongan sempalan yang lain dimana perbedaan pendapat diantara mereka tidak jarang menimbulkan perpecahan dan sikap saling mengkafirkan. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Alloh. Kemudian Alloh akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. dan kolektivitas.” QS Al An‟am: 159 Ayat tersebut menerangkan bahwa orang-orang yang membuat perpecahan dalam agama dan menciptakan golongan-golongan adalah mereka yang telah meninggalkan jalan yang benar. membid‟ahkan. mensyirikkan. Oleh sebab itu madzhab Al Asyari dan Al Maturidi layak menyandang Ahlus Sunnah wal Jamaah.yang sempurna. Memelihara kebersamaan dan kolektivitas. Di antara mereka tidak ada perselisihan pendapat yang membawa . tentang penjagaan Alloh terhadap Ahlus Sunnah dari saling mengkafirkan antara sesama mereka. sehingga kata al jamaah menjadi identitas golongan yang selalu menjaga sikap kebersamaan. Ahlus Sunnah wal Jamaah selalu menjaga kebersamaan dan kolektivitas. membid‟ahkan. mensyirikkan. dan memfasikkan. Ahlus Sunnah tidak mengkafirkan antara sesama mereka. Kata al jamaah diatas juga mengacu pada kebersamaan dan kolektivitas. kerukunan. Perbedaan pendapat dalam masalah furu‟ diantara mereka tidak sampai menimbulkan perpecahan (tafarruq) dan menyebabkan mereka terkotak-kotak dalam beberapa golongan. Dalam Al Quran dijelaskan: “Sesungguhnya orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan. 3. dan memfasikkan meskipun di antara mereka terjadi perbedaan pendapat. Hal ini terwujud dalam realita bahwa pengikut golongan Al Asyari dan Al Maturidi menjauhi adanya perpecahan dengan meninggalkan sikap saling mengkafirkan. Dalam realita. Al Imam Abdul Qahir al Baghdadi dalam kitabnya al Farqu Bayna al Firaq menuturkan: “Pasal Kelima.

Abu Nu‟aim.” HR Ibn Majah. Mereka adalah pengikut sahabat dan golongan yang mengikuti mereka dalam prinsip-prinsip aqidah … sedangkan al jamaah adalah mayoritas terbesar (sawad al a‟dzam) Muslimin. Oleh karena itu.” 4. Hadits lain mengatakan: “Tiga perkara yang dapat membersihkan hati seorang mu‟min dari sifat dendam dan kejelekan. al Lalikai. dalam artian Ahlus Sunnah wal Jamaah diikuti oleh mayoritas Muslimin. Sehingga pernah suatu ketika tujuh orang dari mereka berkumpul dalam suatu majlis lalu mereka berbeda pendapat dan mereka berpisah dengan saling mengkafirkan antara satu dangan yang lain.” Pengambilan istilah sawad al a‟dzam adalah dari hadits Shohih Nabi saw.pada pemutusan hubungan dan pengkafiran. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir. sehingga mereka tidak terjerumus dalam ketidakharmonisan dan pertentangan. Syiah. Dan tidak ada satu golongan di antara golongan-golongan sempalan kecuali diantara mereka terjadi sikap saling mengkafirkan dan memutus hubungan. at Tabrani. karena doa . apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah kelompok mayoritas (sawad al a‟dzam). Golongan mayoritas (Sawad al A‟dzam). Oleh karena itu mereka memang golongan al jamaah (selalu menjaga kebersamaan dan keharmonisan) yang melaksanakan kebenaran. seperti aliran Khawarij. Alloh selalu menjaga kebenaran dan pengikutnya. ini adalah hadits Shohih. Kata al jamaah mengacu pada arti sawad al a‟dzam. Mereka tidak ubahnya orang Yahudi dan Nasrani pada saat mengkafirkan. dan Qadariyah. Abd bin Hamid. Syaikh Abdulloh al Harari dalam kitabnya Idzhar al Aqidah al Sunniyyah bi Syarh al Aqidah Thahawiyah berkata: “Hendaklah diketahui bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah mayoritas umat Muhammad saw. yaitu tulus amal. dan selalu mengikuti kebanyakan Muslimin (al jama‟ah).: “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. berbuat baik kepada penguasa.

al Amidi. seperti Sultan al Fatih II bin Sultan Murad I. dari dulu hingga kini. ahli hadits. Ahmad. Ibn Furak. para pengikut madzhab Maliki. Hadits Shohih. Mereka adalah para pengikut madzhab Syafi‟i. al Izz bin Abdis Salam. Tentu saja pendapat ini juga sesuai dengan Asyariyah dan Maturidiyah karena madzhab Asyariyah dan Maturidiyah diikuti oleh mayoritas ulama ahli fiqh. al Syirazi. dan lain-lain. al Qusyairi.” HR at Tirmidzi. Kedua hadits tersebut di atas mengindikasikan bahwa golongan yang selamat adalah golongan mayoritas (sawad al a‟dzam).mereka akan selalu mengikutinya. al Ghazali. al Bukhori. al Subki. Al Hafizh Murtadla Az Zabidi dalam al Ithaf mengatakan: “Pasal Kedua: “Jika dikatakan Ahlussunnah wal Jama‟ah maka yang dimaksud adalah al Asy‟ariyyah dan al Maturidiyyah”. Badrudin bin Jama‟ah. al Baqillani. Sedangkan Rasulullah saw. al Asfarayini. karena dalam realita yang ada ajarannya diikuti oleh mayoritas Muslimin di dunia. dan lain-lain.telah memberitahukan bahwa mayoritas umatnya tidak akan sesat. Pengertian ini sesuai dengan Asyariyah dam Maturidiyah. para pengikut madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala‟ al Hanabilah). Pendapat lain mengatakan bahwa pengertian sawad al a‟dzam adalah mayoritas ulama yang memiliki ilmu yang mendalam dan pendapatnya diikuti (mu‟tabar). al Baghdadi. . al Juawaini. Mereka adalah ratusan juta umat Islam (golongan mayoritas). Shalahuddin al Ayyubi. al Hakim. ahli tafsir. al Razi. al Baihaqi. al Syahratstani. karena mengikutinya berarti berada dalam mainstream mayoritas Muslimin. Sehingga natijah (buah pikiran) dari pengertian ini adalah keharusan mengikuti Asyariyah dan Maturidiyah. dan keluar dari madzhab ini berarti keluar dari mainstream mayoritas Muslimin. ahli tasawuf. Ibn Majah. Alangkah beruntungnya orang yang senantiasa mengikuti mereka.

dan umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan yang selamat”. Jahmiyah. dan Sahabat-Sahabat yang Mulia Dari Abdulloh bin Amr ra. berkata.Hadits-hadits ini agaknya tidak tepat sekali jika dialamatkan pada aliran sempalansempalan. b. Musyabbihah.” Dalam realita yang ada.” HR at Tirmidzi. Para sahabat bertanya: “Siapakah satu golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Golongan yang mengikuti ajaranku dan ajaran sahabatku. bersabda: “Sesungguhnya umat Bani Israil terpecah belah menjadi 72 golongan. Hal tersebut berbeda denga aliran-aliran sempalan seperti Syiah. Hadits Hasan Gharib. pengikut madzhab Asyariyah dan Maturidiyah (Ahlus Sunnah wal Jamaah) merupakan golongan yang selalu konsisten mengikuti ajaran Nabi saw. dan ajaran sahabatnya. Mu‟tazilah. Mengikuti Nabi Muhammad saw. Al Hafidz Az Zabidi berkata: “Hendaknya diketahui bahwa masing-masing dari al Imam Abu Hasan al Asyari dan al Imam Abu Manshur al Maturidi –semoga Alloh meridlai keduanya dan membalas kebaikan mereka kepada Islam– tidak membuat pendapat baru dan tidak menciptakan madzhab baru dalam Islam. Najjariyah. Hasyim Asyari Al Azmatkhan menegaskan dalam Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah: “Al Syihab Al Khafaji berkata dalam kitab Nasim al Riyadl : „Golongan yang selamat adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah . dan Hululiyah. Mereka hanya menetapkan pendapat-pendapat ulama salaf dan membela ajaran sahabat Rasulullah saw.‟ Dalam hasyiyah (catatan pinggir) al Syanawi atas . Mereka (Imam Abu Hasan al Asyari dan al Imam Abu Manshur al Maturidi) telah berdebat dengan kalangan ahli bid‟ah dan kesesatan sampai mereka (ahli bid‟ah) melarikan diri. c. Pengayom dan Rujukan Umat dalam Urusan Agama Hadlratus Syaikh KH M. Khawarij. Rasulullah saw. karena kelompok mereka minoritas dan diikuti oleh sebagian kecil Muslimin. Ghulat.

Di sini akan kami sajikan sedikit nama-nama ulama tersebut. Mereka yang dimaksud dengan sabda Nabi saw. i. Al Hafidz Jalaluddin as Suyuthi. Al Imam al Hafidz Muhyissunnah al Baghawi. Al Imam Ahmad al Shawi al Maliki. Hadits Shohih. dan penafsiran (ta‟wil) yang bodoh.: “Ilmu agama ini akan dibawa/disampaikan oleh orang-orang yang adil dalam setiap generasi. yang dimaksud dengan orang-orang yang adil dalam hadits tersebut adalah para ulama yang mengikuti madzhab Al Asyari.kitab Mukhtashor Ibn Abi Jamroh terdapat keterangan: „Mereka (Ahlus Sunnah wal Jamaah) adalah Abu Hasan al Asyari dan pengikutnya yang merupakan Ahlus Sunnah dan pemimpin para ulama. al Baihaqi. Bidang Tafsir Al Quran Al Imam Abu Laits as Samarqandi.” HR Ibn Adi. Al Imam Nashiruddin Abu Sa‟ad al Baidlawi. Al Hafidz Ibn Jauzi.‟‟ Penjelasan KH Hasyim Asyari tersebut sejalan dengan hadits Nabi saw. Abu al Ma‟ali. para pakar terkemuka ilmu-ilmu agama Islam dalam setiap generasi yang menjadi rujukan mayoritas kaum Muslimin hingga kini adalah ulama pengikut madzhab Asyariyah dan Maturidiyah. Imam Haramain. menjadikan mereka sebagi hujjah atas makhluk-Nya. Al Imam al Hafidz Abul Fida‟ Ismail ibn Katsir ad Dimasyqi. Jika kita mengkaji peradaban Islam. al Ghazali . Abu Nu‟ain. Menurut Abu al Walid Ibn Rusyd al Qurthubi dalam kitab al Fatawa-nya.: „Sesungguhnya Alloh tidak akan mengumpulkan umatku atas kesesatan. Mereka akan membersihkan ilmu agama dari distorsi (tahrif = pemalsuan) kelompok ekstrim. kebohongan mereka yang bermaksud jahat. Al Imam al Khatib as Syarbini. Al Imam Abu Hasan an Naisaburi.dan lain-lain. seperti al Imam al Baqillani. dan masih banyak lagi. Ibn Asakir. Al Imam Abul Barakat Abdulloh al Nasafi. dan hanya mereka yang menjadi rujukan kaum Muslimin dalam urusan agama. . Abu Bakar bin Furak. karena Alloh swt. Al Imam Abu Abdillah Muhammad al Qurthubi. Syaikh Wahbah az Zuhaili al Syafi‟i.

Bidang Ilmu Ushul Fiqh Imam al Haramain. ilmu gramatika dan bahasa. Saifuddin al Amidi. Al Hafidz Abul Walid Sulaiman al Baji al Maliki. Ibn al Hajib.. Maliki. biografi ulama. Al Hafidz Al Muhaddits Al Habib Salim Al-Bin Jindan Al-Bin Syekh Abu Bakar (Tangerang). Al Imam Muhammad al Sanusi. Al Hafidz Ibn Arabi. Al Imam Syiahbuddin al Qasthalani. Dan masih banyak Imam-Imam terkemuka madzhab Asyari dan Maturidi dari bidang tasawuf. Al Hafidz Badrudin Mahmud al Aini. Al Imam Al Habib Ali bin Muhammad al Habsyi. sejarah Islam. Al Hafidz Ibn Abdil Barr al Qurthubi. dan Hambali. . iv. Hanafi. al Ghazali. Al Imam as Syathibi. Al Imam az Zarkasyi. Al Hafidz Al Habib Umar Al-Bin Hafidz Al-Bin Syekh Abu Bakar (Tarim. dll. v. Al Hafidz Qodli Iyadl. Al Imam Tajuddin Abdul Wahhab al Subki. Al Hafidz Al Habib Umar Al-Bin Hafidz Al-Bin Syekh Abu Bakar. dan lain-lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Al Hafidz Ibn Hajar al Asqolani. Bidang Sirah Nabi dan Maghazi Al Imam al Hafidz Abu Nuaim al Ashbihani. Al Imam Nashiruddin al Baidlawi. Al Hafidz Al Muhaddits Al Habib Muhammad bin Alwi al Maliki Al Hasani (Makkah Al Mukarromah). Al Imam al Baihaqi. Al Imam Taqyuddin Ibn Abbas Ahmad al Maqrizi. Al Hafidz Abu Yahya Zakariya al Anshari. Al Barzanji. Al Imam Ibn al Jauzi. Hadramaut).ii. Al Imam Jamaluddin Abu Muhammad al Isnawi. Al Hafidz Al Nawawi. Bidang Ilmu Hadits Al Hafidz Abu Sulaiman al Khattabi al Busti. Al Imam Fakhruddin al Razi. dan masih banyak lagi. iii. Al Hafidz Muhammad Abdurrauf al Munawi. Al Imam Abdurrahman ad Diba‟i. Bidang Ilmu Fiqh Para ahli fiqh Madzab Syafii. Al Imam al Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al Makki. dll. Syaikh Abu Ishaq al Syirazi. Al Imam al Hafidz Qodli Iyadl.

Dalam hal ini. Andalusia. dan Kaukasus dijaga oleh kaum Muslimin Ahli Hadits dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Azerbaijan. Golongan yang Mendapat Hidayah Firman Alloh: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari ridha) Kami. teologi. Pada abad pertengahan. Dan sesungguhnya Alloh benarbenar beserta orang-orang yang berbuat baik. Pertama. sebagaimana diungkapkan oleh as Syatibi dalam kitabnya al I‟tisham. daerah-daerah perbatasan di Romawi.d. mereka selalu dikalahkan seperti yang dialami oleh orang-orang Khawarij dalam perdebatan menghadapi Ibn Abbas. jihad dalam agama ada dua macam. jihad dengan peperangan menghadapi musuh-musuh agama yang ada di berbagai perbatasan negara-negara Islam. Perbatasan Afrika. benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.” QS al Ankabut: 69. Dan apabila mereka berani. Sebelum abad pertengahan. Kedua. Ahlus Sunnah wal Jamaah selalu memiliki nyali dan meraih kemenangan. peran Ahlus Sunnah wal Jamaah sangat dominan. Dalam perdebatan ini. para ulama madzhab Asyari dan Maturidi mendirikan forumforum perdebatan (majlis munazharah) secara terbuka. Sedangkan ahli bid‟ah kebanyakan mereka tidak memiliki nyali dan merasa enggan melayani debat terbuka dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah. baik perdebatan secara dialogis dalam forum terbuka. samudera . ushul fiqh. Jazirah. Perdebatan ini selalu dimenangkan oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah menyangkut ilmu fiqh. Juga Alloh akan memberinya ma‟unah di dunai dan pahala di akhirat. maka Alloh akan memberi hidayah dan petunjuk. jihad dalam perdebatan ilmiah menghadapi orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dengan tujuan menegakkan kebenaran dan mengalahkan kebatilan. Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang yang berjihad dan mencari keridloan Alloh. dan lain-lain. Armenia. Syam. maupun perdebatan di atas kertas melalui karya tulis ilmiah. Hal ini tidak pernah berani dilakukan oleh golongan lain. Dalam kitab al Milal wan Nihal berkaitan dengan hal tersebut.

Oleh karena itu disebut Baa Alwi (Bani Alwi). Sedangkan Kabilah Assegaf. Adapun penyebaran Islam di daerah pedalaman Afrika dilakukan oleh kaum Sufi yang bermadzhab Asyari. Al Jufri (Sayyid Idrus bin Salim Al Jufri: Pendiri Yayasan Pendidikan Al Khoirot di Indonesia bagian timur). Kerajaan Cirebon: Sultan Sunan Gunung Jati. Al Hamid. Al Habsyi. Kerajaan Ternate). adalah kabilah-kabilah dari keturunan Sayyidina Alwi bin Ubaidillah tersebut. dan Yaman juga dijaga oleh Muslimin Ahli Hadits. Al Shahab/Al Shihab/Shihabuddin. Kebanyakan dari mereka adalah itrah (keturunan) suci dari Rasulullah saw. Jamalullail dan Al Gadri/Al Qadri/Al Kadri (Kerajaan Pontianak). Assegaf. Bilfagih. Bin Agil. Penyebaran Islam di daerah-daerah timur. Alaydrus/Al Idrus/Uthairus.Sedangkan pengikut aliran-aliran sempalan tidak memiliki peran dalam berjihad untuk menghadang serangan musuh yang berbeda agama. Al Azmatkhan. seperti Kabilah Al Azmatkhan/Al Khan (Para Walisongo. Setelah abad pertengahan. seperti daratan India hingga Asia Tenggara yang meliputi Indonesia dilakukan oleh dai-dai yang mengikuti madzhab Syafii dan Asyari. Keterangan: Baa Alwi adalah Kabilah itrah suci Rasulullah dari jalur Alwi bin Ubaidillah bin Al-Muhâjir Ilallôh Ahmad bin Isa bin Muhammad An-Naqîb bin Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja‟far Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam As-Sibth Al-Husein bin Al-Imam Amirul Mu‟minin Ali bin Abi Tholib. dari berbagai kabilah. Alatas (Sayyid Abdulloh bin Mukhsin Alatas). suami Az-Zahro Fathimah Al-Batul binti Rasulullah Muhammad SAW. yang menghadang Bangsa Turki dan Cina dijaga oleh dua golongan. Ba‟abud. Sedangkan perbatasan seberang sungai Amudaria. yaitu pengikut madzhab Syafi‟i dan madzhab Hanafi. dan lain-lain. Al Aidid. Alaydrus. aktivitas jihad dalam rangka penyebaran Islam di wilayah Eropa Timur dilakukan oleh Muslimin yang bermadzhab Asyari dan Maturidi dibawah komando Kabilah Utsmani di Turki. Al Gadri. . dll. Bafagih. Al Aidid. Bin Syekh Abu Bakar. Jamalullail. Baagil.Atlantik.

dan disetujui oleh Al Hafidz Adz Dzahabi.‟” HR al Hakim dalam al Mustadrak dan menilainya Shohih sesuai persyaratan Imam Muslim. D. yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Dan sudah barang tentu. maka Rasulullah saw. diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Alloh Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. QS Al Maidah: 54. Nabi Muhammad memberikan penjelasan makna “kaum yang Alloh mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya” adalah kaum Abu Musa al Asyari. bersabda sambil menunjuk kepada Abu Musa al Asyari: „Mereka adalah kaumnya laki-laki itu. karena dalam realita sejarah mereka memiliki andil yang besar dalam berjihad di jalan Alloh dalam rangka penyebaran agama Islam. yang tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Pernyataan bahwa kaum Abu Musa al Asyari adalah kaum yang dicintai Alloh dan juga kaum yang mencintai Alloh dapat mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa pengikut madzhab Asyari adalah kaum yang dicintai dan mencintai Alloh. Hal ini didasarkan pada realita bahwa setiap terjadi penisbatan kata kaum kepada seorang Nabi di dalam Al Quran. yang bersikap lemah lembut terhadap orangorang mu‟min. “Hai orang-orang yang beriman! Barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya. berdasarkan hadits Shohih: “Ketika ayat „Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Alloh mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya‟ . Abu Hasan al Asyari dan pengikut madzhabnya termasuk kaum . Itulah karunia Alloh. berdasarkan ayat di atas. maka kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Alloh mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya. dapat disimpulkan bahwa pengikut madzhab Asyari dan Maturidi adalah golongan yang mendapat hidayah. yang berjihad di jalan Alloh.Dengan demikian. maka yang dimaksud adalah pengikut Nabi tersebut. Keutamaan Madzhab Al Asyari dan Al Maturidi Terdapat dalil-dalil dalam Al Quran dan Al Hadits yang menerangkan keutamaan madzhab Asyari dan Maturidi.

merayakan mawlid nabi.‟” Kitab al Jami‟ li Ahkam al Quran (VI/220). al Hakim dalam al Mustadrak dan beliau menilainya Shohih. aqidahnya sesuai dengan aqidah Rasulullah. Rasulullah tidak akan memujinya. Seandainya aqidahnya menyalahi aqidah Rasulullah. Maka sebaikbaik pemimpin adalah pemimpin penaklukan itu. mengikuti tarekat sufi dengan mursyidnya Maulana Syaikh Aqa Syamsuddin. mencintai kaum sufi. dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan penaklukan tersebut. sehingga secara tersirat masuk dalam konteks ayat di atas. memuji sultan Muhammad al Fatih karena beliau adalah seorang sultan yang shalih.: “Kelak umatku akan benar-benar menaklukkan kota Konstantinopel. Sebagaimana dijelaskan oleh al Imam al Qurthubi dalm tafsirnya: “Al Qusyairi berkata: „Pengikut madzhab Abu Hasan Al Asyari termasuk dalam kaum Abu Musa Al Asyari karena setiap terjadi penisbatan kata kaum terhadap seorang Nabi di dalam Al Quran. maka yang dimaksud adalah pengikutnya. Selain itu juga dijelaskan secara tersirat dalam hadits Shohih Nabi saw. dan pujian beliau terhadap Madzhab Asyariyah dan Maturidiyah. meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat. dan tradisi . Al Hafidz Al Haitsami berkata: „Para perawi hadits ini dapat dipercaya. Abu Nu‟aim. Seperti maklum diketahui dan dicatat oleh sejarah bahwa Sultan Muhammad al Fatih adalah Asy‟ari Maturidi. Beliau bersama pasukannya termasuk pengikut setia Ahlus Sunnah wal Jamaah madzhab Al Asyari.‟ Hadits ini menjadi dasar bagi rekomendasi Nabi saw.” HR Ahmad. karena secara faktual. at Tabrani. maka berbahagialah orang yang senantiasa mengikuti jalan mereka. Konstantinopel (Turki sekarang) baru dapat ditaklukkan oleh Sultan Muhammad al Fatih bin Sultan Murad Khan al Utsmani (835-886 H/ 1432-1481 M). al Asy‟ariyyah dan al Maturidiyyah bahwa aqidah mereka sesuai dengan aqidah Rasulullah. bertawassul. Dengan demikian hadits ini adalah busyra (berita gembira) bagi seluruh Ahlussunnah. Dalam hadits ini Rasulullah saw.Abu Musa Al Asyari.

sufi lainnya, sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Walid al Sa‟id dalam kitabnya Tabyin Dhalalat al Albani Syaikh al Wahhabiyah al Mutamahdits. Aqidah al Asy‟ariyyah dan al Maturidiyyah adalah aqidah kaum muslimin dari kalangan Salaf dan Khalaf, aqidah para khalifah dan Sultan, seperti sultan Shalahuddin al Ayyubi ra. Sultan Shalahuddin al Ayyubi adalah seorang „alim, penganut aqidah Asy‟ariyyah dan madzhab Syafi‟i, hafal al Qur‟an dan kitab atTanbih dalam fiqh Syafi‟i serta sering menghadiri majlis-majlis ulama hadits. Beliau memerintahkan agar dikumandangkan aqidah Sunni Asy‟ariyyah dari atas menara masjid sebelum shalat Subuh di Mesir, al Hijaz (Makkah dan Madinah), dan di seluruh Negara Syam (Syiria, Yordania, Palestina dan Lebanon). Al Imam Muhammad ibn Hibatillah al Barmaki menyusun untuk Sultan Shalahuddin al Ayyubi sebuah risalah dalam bentuk nazham berisi aqidah Ahlussunnah dan ternyata sultan sangat tertarik dan akhirnya memerintahkan agar aqidah ini diajarkan kepada umat Islam, kecil dan besar, tua dan muda, sehingga akhirnya risalah tersebut dikenal dengan nama al Aqidah ash- Shalahiyyah. Risalah ini di antaranya memuat penegasan bahwa Allah Maha Suci dari benda (jism), sifat-sifat benda dan Maha Suci dari arah dan tempat. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberi hidayah kepada kami, anugerahkanlah kami rahmat dari sisi-Mu, Sesungguhnya Engkau Maha Penganugerah

AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH A. Pengertian Ahlussunnah Wal Jama‟ah Secara etimologi, kata Ahlussunnah Wal Jama‟ah terdiri dari tiga unsur. Pertama, kata ahl, yang berarti keluarga, pengikut, atau golongan. Kedua, kata al sunnah. Secara bahasa, kata al sunnah berarti al thariqoh (jalan/perilaku), entah jalan yang benar maupun jalan yang keliru. Secara terminologis, al sunnah berarti jalan yang diridhoi agama yang ditempuh oleh Baginda Nabi Muhammad saw. atau orang-orang yang dapat menjadi teladan dalam beragama, seperti para sahabat ra., berdasarkan sabda Nabi saw. „Ikutilah sunnahku dan khulafaurrasyidin sesudahku.‟ Pengertian ini sebagaimana dinukil dari kitab Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah karya Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari. Ketiga, kata al jamaah. Secara etimologis, al jamaah berarti orang-orang yang memelihara kebersamaan dan kolektivitas dalam mencapai suatu tujuan, sabagai kebalikan dari kata al firqoh, yaitu golongan yang bercerai berai dan memisahkan diri dari golongannya. Sedangkan secara terminologis, al jamaah ialah mayoritas Muslimin (sawad al a‟dzam), dengan artian bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah aliran yang diikuti oleh mayoritas Muslimin. Syekh Abdulloh al Harari barkata: “Hendaklah diketahui bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah mayoritas umat Muhammad saw.. Mereka adalah para sahabat dan golongan yang mengikuti mereka dalam prinsip-prinsip aqidah … Sedangkan al jamaah adalah mayoritas terbesar (sawad al a‟dzam).” Merekalah yang dimaksud oleh hadits Rasulullah saw.: “…maka barang siapa yang menginginkan tempat lapang di surga hendaklah berpegang teguh pada al jama‟ah; yakni berpegang teguh pada aqidah al jama‟ah”. Hadits ini dishahihkan oleh al Hakim, dan at-Tirmidzi mengatakan Hadits Hasan Shahih. Pengertian ini senada dengan hadits Nabi saw.: “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi

perselisihan maka ikutilah kelompok mayoritas (sawad al a‟dzam).” HR Ibn Majah, Abd bin Hamid, at Tabrani, al Lalikai, Abu Nu‟aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir ini adalah Hadits Shohih. B. Pokok-Pokok I‟tiqad Ahlussunnah Wal Jama‟ah Berikut ini adalah ikhtisar aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagaimana dihimpun oleh KH Sirajuddin Abbas dalam kitabnya I‟tiqod Ahlus Sunnah wal Jamaah. 1. Iman ialah mengikrarkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati.

Kemudian iman yang sempurna ialah mengikrarkan dengan lisan, membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota. 2. 3. Tuhan itu ada, namanya Allah, dan ada 99 nama bagi Allah. Tuhan mempunyai sifat banyak sekali, yang boleh disimpulkan perkataan:

Tuhan mempunyai sifat-sifat Jalal (kebesaran), Jamal (keindahan), dan Kamal (kesempurnaan) 4. Sifat yang wajib diketahui oleh sekalian mukmin yang baligh berakal adalah 20

sifat; 20 sifat yang wajib dan mustahil (tidak mungkin) ada bagi-Nya. Dan satu lagi sifat yang harus ada bagi-Nya, yaitu : a. b. Wujud artinya ada, mustahil Dia tidak ada. Qidam artinya tidak ada permulaan dalam wujud-Nya, mustahil ada-Nya

permulaan. c. d. Baqa‟ artinya tidak berkesudahan ada-Nya, mustahil ada-Nya berkesudahan. Mukhalafatuhu ta‟ala lilhawaditsi artinya Dia berlainan dengan segala

makhluk, mustahil Dia serupa dengan makhluk-Nya. e. Qiyamuhu binafsihi artinya Dia berdiri sendiri, bukan berdiri di atas zat lain,

mustahil Dia berdiri di atas zat lain. f. g. h. i. Wahdaniyah artinya Dia Esa, mustahil Dia banyak. Qudrat artinya kuasa, mustahil Dia tidak kuasa. Iradat artinya menentukan sendiri dengan kehendak-Nya, mustahil Dia dipaksa. Ilmu artinya Dia tahu, mustahil Dia tidak tahu (bodoh).

k. Kalam artinya berkata. Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as. mustahil Dia mati. Kaunuhu Qadiran artinya Dia dalam keadaan berkuasa mustahil Dia dalam keadaan tidak berkuasa. Demikian 20 sifat yang wajib (mesti ada) bagi Allah SWT. m. Sama‟ artinya mendengar. mustahil Dia buta. q. Hayat artinya hidup. yaitu Alloh boleh melakukan sesuatu dan boleh tidak melakukannya. r. Kaunuhu Bashiran artinya Dia dalam keadaan melihat. Wajib dipercayai adanya kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada Rasul- rasul-Nya untuk disampaikan kepada ummatnya. mustahil Dia dalam keadaan tidak melihat. mustahil Dia tidak mendengar (tuli). mustahil Dia dalam keadaan tidak tahu. Bashar artinya melihat. s. u. Kaunuhu Sami‟an artinya Dia dalam keadaan mendengar. n. dan satu sifat jaiz bagi Alloh. t. Kaunuhu Mutakalliman artinya Dia dalam keadaan berkata. Tetapi yang wajib dipercayai secara terperinci hanyalah 10 malaikat saja. Kitab-kitab itu banyak. mustahil Dia dalam Kaunuhu Hayyan artinya Dia dalam keadaan hidup mustahil Dia dalam keadaan keadaan tidak mendengar. 6. 5. . o. Wajib dipercayai bahwa Malaikat ada. 20 sifat yang mustahil (tidak mungkin ada bagi Allah SWT). mustahil Dia dalam keadaan tidak berkata. Kaunuhu „Aliman artinya Dia dalam keadaan tahu. l. Kaunuhu Muridan artinya Dia dalam keadaan mempunyai iradat. yaitu: a. Kemudian ditambah dengan sifat jaiz bagi Alloh. mustahil Dia bisu. mustahil Dia dalam keadaan yang tidak mempunyai iradat. mereka banyak. mati.j. tetapi yang wajib diketahui secara terperinci adalah 4 (empat). p.

Akan diadakan hisab. Permulaan hari akhirat itu bagi setiap manusia adalah sesudah mati. 8. Akan ada titian (jembatan) Shirathal Mustaqim yang akan dibentangkan di atas neraka yang harus dilalui oleh sekalian manusia. Kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as. Setiap orang akan mati apabila jangka usianya sudah habis. di mana orang-orang yang beriman akan dapat minum. ada yang diterangkan Allah SWT kepada manusia dan ada yang tidak diterangkan. . i. Pertanyaan tersebut dDiajukan oleh malaikat Mungkar dan Nakir. mereka banyak. yaitu: a. dunia akan hancur luluh dan semua manusia bahkan semua makhluk di atas dunia akan mati dan hancur pula. Kitab Al-Qur‟an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Akan ada telaga Kautsar kepunyaan Nabi Muhammad SAW di dalam surga. Yang lulus ujian dalam meniti Shirathal Mustaqim akan langsung masuk surga Jannatun Na‟im sementara yang tidak lulus akan tergelincir masuk ke dalam neraka. Apa kitab suci. dan lain-lain. Di dalam kuburnya akan ditanya: Siapa Tuhannya. h. Kaum Ahlussunnah wal Jama‟ah mempercayai sekalian rasul-rasul yang diutus Allah SWT kepada manusia. Tetapi yang wajib diketahui secara terperinci adalah 25 rasul yang dinyatakan dalam Al-Qur‟an. f.b. Kemudian pada suatu waktu akan terjadi kiamat besar. Di Padang Mahsyar akan ada syafaat (pertolongan) dari Nabi Muhammad SAW dengan seizin Allah SWT. d. yaitu perhitungan dosa dan pahala. Setiap orang Islam wajib mempercayai adanya hari akhirat. e. Kemudian pada suatu waktu pula akan dibunyikan terompet sehingga seluruh makhluk yang mati akan bangkit kembali. d. berkumpul di padang mahsyar. siapa Nabi. Kitab Zabur yang diturunkan kpada Nabi Daud as. Akan ada timbangan untuk menimbang dosa dan pahala. Setelah mati lalu dikuburkan. c. k. b. g. 7. Orang yang jahat dan ahli ma‟siat akan disiksa di dalam kubur. c. j.

c. m. Pendeknya nasib baik dan buruk semuanya dari Allah SWT dan kita umat manusia hanya menjalani takdir saja. yaitu : percaya kepada Allah SWT. akan masuk ke dalam neraka buat sementara dan setelah menjalani hukuman akan dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam surga buat selama-lamanya. Orang kafir langsung masuk neraka dan kekal selama-lamanya. dan akan diberikan ni‟mat lagi yang paling lezat yakni akan melihat Allah SWT. d. b.l. 9. Yang ada bagi manusia hanya kasab. Demikian secara ringkas tentang hari akhirat. n. bahwa hal itu akan terjadi. hari qiyamat dan qadla‟ qadar-Nya. sebagai berikut: a. Orang mu‟min yang baik-baik akan diberi ni‟mat apa saja yang dia sukai. maka dengan demikian semua nama dan sifat Allah SWT adalah qadim. 11. Demikian kepercayaan orang mu‟min menurut faham Ahlussunnah wal Jama‟ah yang bertalian dengan rukun iman yang (6) enam. Rasul-rasul-Nya. Orang yang mu‟min yang berdosa dan mati sebelum bertaubat. tidak ada pemulaannya. ikhtiar dan usaha. Sedangkan apa yang tertulis dalam mushaf yang menggunakan huruf dan suara merupakan gambaran dari Al Quran yang . kitab-kitab-Nya. malaikat-malaikat-Nya. Allah SWT bersama nama-Nya dan sifat-Nya semuanya qadim. Sekalian yang terjadi di alam ini buruk atau baiknya semuanya dijadikan Allah SWT. Manusia wajib berikhtiar dan berusaha. Sekalian yang terjadi di dunia ini sudah ada qadla‟ Allah SWT yakni hukum Allah SWT dalam azali. Pahala yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia adalah karena karunia- Nya dan hukuman yang diberikan kepada manusia adalah karena keadilan-Nya. o. 10. karena nama dan sifat itu berdiri di atas zat yang qadim. Orang yang baik akan langsung masuk surga dan kekal selama-lamanya. Al Quran adalah kalam Alloh yang qadim. Kaum Ahlussunnah wal Jama‟ah mempercayai adanya Qada‟ dan Qadar yaitu takdir ilahi.

20. Berjalan (musafir) untuk beribadah ke masjid yang tiga tersebut adalah ibadah hukumnya. diberi pahala kalau dikerjakan. malaikat-malaikat dijadikan dari cahaya. dan maqam sahabat-sahabat beliau adalah sunat hukumnya. lebih-lebih maqam Rasulullah SAW. Berdo‟a kepada Allah SWT langsung atau berdo‟a dengan memakai wasilah (bertawassul) adalah sunat hukumnya. lebih tinggi derajatnya dari yang lain. dan orangorang syahid. wakaf dan pahala bacaan (tahlil. 15. Masjid di seluruh dunia sama derajatnya. tidak bertambah dan tidak berkurang. 19. 21. kecuali tiga buah masjid. Ziarah kubur. Siapa yang mengatakan langit tidak ada dia keluar dari lingkungan kaum Ahlussunnah wal Jama‟ah. Bumi dan langit ada. 18. shalawat dan bacaan AlQur‟an) boleh dihadiahkan kepada orang yang telah mati dan sampai kepada mereka kalau dimintakan kepada Alloh untuk menyampaikannya. 12. juga tidak dapat ditunda walaupun sekejap mata.qadim tersebut. khususnya kubur ibu bapak. tetapi manusia diperintahkan untuk mencari rizki. tidak boleh menunggu ajal saja. 14. Rizki sekalian manusia sudah ditaqdirkan dalam azal. jika dikerjakan mendapat pahala. ulama‟-ulama‟. Do‟a orang mu‟min memberi manfaat bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain yang dido‟akan. yaitu masjid-masjid di Makkah. Iblis dan jin dijadikan dari api. Madinah dan Baitul Muqaddas. Pahala sedekah. Adam berasal dari tanah. Seluruh manusia adalah anak cucu nabi Adam. diperintahkan untuk berusaha dan tidak boleh berpangku tangan menunggu saja. Oleh karena itulah Al Quran disebut dengan qadim dan tidak boleh disebut makhluk. wali-wali. diberi pahala kalau mengerjakannya. Tetapi manusia diperintahkan oleh Allah SWT untuk berobat kalau sakit. 16. 17. . Ajal setiap manusia sudah ada jangkanya oleh Allah SWT tidak dimajukan waktunya. Anak-anak orang kafir yang mati kecil (bayi) masuk surga. 13.

halaman 37-42). Kalau terdapat ayat-ayat suci Al-Qur‟an yang seolah-olah menyatakan bahwa Allah SWT bertubuh seperti manusia. . Siapa yang menghafalkannya di luar kepala akan dimasukkan ke dalam surga (lihat shahih Bukhari juz IV bagian 195 dan shahih Tirmidzi juz XIII. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Bukhari. 23. yang tidak serupa dengan makhluk-Nya. tetapi harus seperti yang telah ditetapkan Allah SWT dalam Al-Qur‟an dan Hadits Nabi SAW yang shahih. atau bermuka serupa manusia.22. kalau terdapat ayat mengatakan “Tuhan bertangan” maksudnya adalah bahwa “Tuhan berkuasa” karena tangan itu adalah alat kekuasaan. maksudnya Dialah Dzat yang Qadim. nama Allah SWT itu 99 banyaknya. demikian seterusnya dengan ayat-ayat yang lain. yakni bukan menurut asal dari perkataan itu. Kalau dijumpai ayat yang mengatakan “Tuhan duduk di atas Arsy” maksudnya bahwa “Tuhan menguasai Arsy”. Nama Tuhan tidak boleh dibuat-buat oleh manusia. Jika dijumpai ayat mengatakan bahwa “Tuhan atau Allah SWT itu cahaya”. atau bertangan seperti manusia. bukan batang tubuhnya sebab Allah SWT tidak berbatang tubuh. umpamanya Ya Lathif. Hal ini dianggap sangat perlu agar kita tidak terperangkap ke dalam kekeliruan dalam memahami ayat-ayat suci Al-Qur‟an. Ya Rahman. Ada lagi ayat dan hadits yang mengatakan “Tuhan turun” maka yang turun adalah rahmat-Nya. Ya Rahim. Juga agar termasuk orang-orang yang menyerupakan Allah SWT dengan makhluk-Nya atau golongan kaum Musyabbihah atau Mujassimah yang menerapkan adanya keserupaan Allah SWT dengan makhluk. maka ulama‟-ulama‟ Ahlussunnah wal Jama‟ah mentakwilkan atau menafsirkan ayat di atas secara majazi. Misalnya ayat yang mengatakan bahwa Tuhan bermuka. maka maksudnya adalah Allah SWT itu memberi cahaya. Ya Wadud dan sebagainya. sesudah itu diserahkan kepada Allah SWT apakah yang sebenarnya yang dimaksud oleh ayat tersebut. Kita umat Islam boleh berdo‟a dan boleh menyeru dengan salah satu atau semua nama-Nya yang 99 ini.

Allah SWT memberikan pahala kepada manusia dengan karunia-Nya dan menghukum dengan keadilan-Nya. Pada waktu di dunia tidak ada manusia dapat yang melihat Allah SWT kecuali Nabi Muhammad SAW. Allah SWT dapat dilihat oleh penduduk surga dengan mata kepala. tidak. tafsir Qurthubi. bukanlah kewajiban Allah SWT untuk mengutus rasulrasul-Nya. seperti kitab tafsir At. tafsir Jalalain. Mengutus rasul-rasul adalah karunia Allah SWT kepada hamba-Nya untuk menunjuki jalan yang lurus. Hanya kita yang bertempat dalam surga yang melihat-Nya. kemudian lahir ke dunia kemudian mati. 24. 29. Tetapi tidak boleh berpersepsi bahwa Allah SWT berada dalam surga. Upah (pahala) yang Allah SWT berikan kepada oang-orang yang saleh bukanlah karena Allah SWT terpaksa untuk memberikannya dan bukan pula kewajiban Allah SWT untuk membalas jasa orang itu. bukan dengan mata hati saja. lalu diturunkan kepada beliau ayat-ayat Al-Qur‟an berturut-berturut selama 23 tahun. 28. Tetapi dalam mengartikan atau menta‟wilkan ayat ini janganlah memakai sembarang ta‟wil. 25. Bangkit sesudah mati hanya satu kali. Wajib diketahui dan diyakini oleh seluruh ummat Islam bahwa Nabi Muhammad SAW lahir di kota Makkah. 26. Beliau wafat sesudah melakukan tugas 23 tahun dalam usia 63 tahun.Dalam surat as Syura ayat 11 disebutkan sejelas-jelasnya bahwa Allah SWT tidak serupa dengan makhluk-Nya. Hendaknya diperhatikan kitab-kitab tafsir Ahlussunnah wal Jama‟ah yang dipercayai.Thabari. Makam . Sesudah berusia 40 tahun diangkat menjadi rasul. Sesudah 13 tahun menjadi rasul beliau pindah ke Madinah. Manusia mulanya tidak ada. Lalu hidup kembali (bangkit) dari kematian setelah peniupan terompet dan berkumpul di padang Mahsyar sesuai dengan ayat Al-Qur‟an pada surat Al Baqarah ayat 28. 27. pada malam Mi‟raj. Begitu juga hukuman bagi orang yang durhaka tidaklah Allah SWT terpaksa menghukumnya atau bukanlah kewajiban Allah SWT untuk menghukumnya. tafsir Khazin. dan lain-lain sebagainya. menetap disitu sampai wafat.

dalam lingkungan Masjid Madinah sekarang. Ummu Kalsum. Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Putra-putri Nabi Muhammad SAW adalah : Zainab. makhluk Allah SWT yang termulia di antara makhluk yang lain. Saudah binti Zam‟ah. Ummu Salamah binti Abi Umayyah. Nabi Muhammad SAW Mi‟raj ke langit melalui Baitul Muqaddas (Palestina) tanggal 27 Rajab dan kembali malam itu juga ke dunia membawa perintah shalat lima kali sehari semalam. dan Safiyah binti Hay. dan Ibrahim. Zainab binti Khuzaimah. Aisyah binti Abu Bakar. Juwairiyah binti Harits. 30. ra. tidur. mi‟raj dengan badan dan ruh beliau. karena kepada beliau diturunkan wahyu ilahi. 35. sakit. Ruqayyah. minum. 34. Silsilah nenek moyang Nabi Muhammad SAW adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Marrah bin Ka‟ab bin Luai bin Galib bin Fihir bin Malik bin Nadlar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudlar bin Ma‟ad bin Adnan.Nabi Muhammad SAW berada di Madinah. Akan tetapi kemanusiaan beliau luar biasa. Qasim. Siti Fatimah. bukan malaikat. Isteri-isteri Nabi Muhammad SAW dari mulai kawin sampai beliau wafat adalah: Ummul Mu‟minin Khadijah binti Khuwailid. Beliau makan. tidak pandang suku. 32. rohaniyah dan jasmaniyah beliau luar biasa kuatnya. 33. Nabi Muhammad SAW adalah manusia serupa kita. Dari pihak ibu adalah . Maimunah binti Harits. Kaum Ahlussunnah wal Jama‟ah menganggap bahwa Nabi Muhammad SAW walaupun beliau serupa manusia biasa tetapi beliau adalah sayyidul khalaiq. Hafsah binti Umar. yang kalau diturunkan di atas bukit maka bukit tersebut akan hancur lebur. mempunyai keluarga serupa manusia biasa. Ummu Habibah binti Abi Sufyan. ra. 31. . Abdullah. nikah. Muhammad bin Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf bin Zahrah bin Kilab (nenek Nabi yang keenam dari pihak bapak). Nabi saw. tidak pandang negeri dan tidak pandang agama. Zainab binti Jahasy.

Sesudah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia. seperti “Perang Jamal” antara Siti Aisyah dan Sayyidina Ali. Syafaat (bantuan) itu bermacam-macam. lalu para Nabi. sesudah itu Rasul-rasul yang lain. Sayyidina Utsman bin Affan ra. Wajib diyakini bahwa sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling mulia adalah Sayyidina Abu Bakar. Abdurahman bin „Auf. beliau (Nabi Muhammad SAW) adalah nabi yang paling dahulu diangkat dan yang paling akhir lahir ke dunia. 38. Kalau ijtihad itu benar pada sisi Allah . Karena itu. Nabi Muhammad SAW menerima syafaat (bantuan) nanti di akhirat kepada seluruh manusia. Sa‟ad bin Abi Waqqas. 39. sesudah itu sahabat-sahabat yang ikut Perang Badar. “Perang Shifiin” antara Sayyidina Ali dengan Mu‟awiyah. sebagai khalifah kedua. yaitu 4 orang khalifah ditambah dengan Thalhah bin Ubaidillah. para Malaikat. 40. sebagai khalifah keempat. sesudah itu Sayyidina Utsman bin Affan lalu Sayyidina Ali bin Abi Thalib. sebagai khalifah pertama. lalu sekalian sahabat Nabi ra. kaum Ahlussunnah wal Jama‟ah menanggapi secara positif tidak banyak dibicarakan. 37. tetapi dianggap bahwa mereka berijtihad menurut pendapat mereka masing-masing. Nabi Muhammad SAW terdahulu diangkat menjadi nabi dibanding nabi-nabi yang lain. Wajib diyakini bahwa yang paling mulia di antara makhluk Tuhan ialah Nabi Muhammad SAW.36. barulah Muslimin yang lain. yaitu ketika Nabi Adam masih terbaring dalam surga sebelum diberi jiwa. diantaranya menyegerakan proses penghisaban di padang Mahsyar. Zubair bin Awwam. sesudah itu sahabat-sahabat yang ikut Perang Uhud. Amir bin Jarrah. Sa‟id bin Zaid. Abu Ubaidah. dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. sesudah sahabat-sahabat yang ikut Bai‟atur Ridlwan. sebagai khalifah ketiga. maka pengganti beliau yang sah adalah Sayyidina Abu Bakar ra. Sayyidin Umar bin Khattab ra. Dalam soal pertikaian dan peperangan yang terjadi antara para sahabat Nabi. sesudah itu Sayyidina Umar bin Khattab. sesudah itu sahabatsahabat yang sepuluh yang telah dikabarkan oleh Nabi Muhammad SAW akan masuk surga. 41.

47. Kerasulan seorang rasul adalah karunia Allah SWT. air keluar dari anak jari beliau. Hanya Allah SWT yang mengetahui. Wajib dipercayai adanya Arsy. Keramat artinya pekerjaan yang ganjil yang di luar kebiasaan yang mampu dikerjakan oleh para wali Allah. 42. Nabi Musa AS bisa nenjadikan tongkatnya menjadi ular. yang tidak diketahui hakekatnya dan kebesarannya. matahari berhenti berjalan. bahwa sekalian keluarga Nabi Muhammad SAW.SWT mereka dapat pahala dua. umpamanya dengan bersekolah atau bertapa dan lainlain. Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir. Pangkat tersebut tidak bisa didapatkan dengan diusahakan. kita hanya wajib mengimaninya. Nabi Muhammad SAW dengan kitab suci AlQur‟an yang tidak dapat ditiru oleh orang-orang yang pandai. Begitu juga pangkat kenabian dan kerasulan. 46. begitu juga nabi-nabi pembantu tidak ada lagi sesudah Nabi Muhammad SAW. ahli gua tidur selama 309 tahun tanpa rusak dagingnya. . 45. Kaum Ahlussunnah wal Jama‟ah meyakini adanya keramat. ulama‟-ulama‟. Rasul-rasul yang dibekali dengan mu‟jizat. yaitu suatu benda makhluk Allah SWT yang dijadikan dari nur. tidak ada lagi Nabi sesudah beliau. dan lain sebagainya. Kaum Ahlussunnah wal Jama‟ah yakin. tetapi kalau ijtihad mereka salah maka mereka mendapat pahala satu atas ijtihadnya itu. umpamanya makanan datang sendiri kepada Siti Mariam. yaitu perbuatan yang ganjil yang diluar kemampuan manusia biasa. Fitnah yang dilancakan kepada keluarga Nabi adalah fitnah yang dibuat-buat (QS an Nur ayat 11). Nabi Isa AS dapat menghidupkan orang yang telah mati. maka orang itu pembohong yang wajib dilawan. 43. 44. misalnya Nabi Ibrahim AS tidak tebakar dengan api. Siapa saja yang menda‟wakan dirinya sebagai nabi atau rasul baik nabi bersendiri maupun untuk menjelaskan syari‟at Nabi Muhammad SAW. bulan dapat dibelah dua. khususnya Siti Aisyah Ummul Mu‟minin yang dituduh berbuat kesalahan adalah bersih dari noda. terletak di tempat yang tinggi dan mulia. orang-orang sholih.

Surga dan neraka bersama penduduknya akan kekal selama-lamanya. Syak atau ragu akan ke-Rasulan Nabi Muhammad Saw. jasad. makan riba/rente uang. menjadi tukang sihir mendurhakai ibu bapak. Keduanya dikekalkan Allah SWT agar yang berbuat baik merasakan selamalamanya ni‟mat pekerjaan dan yang berbuat dosa merasai selama-lamanya siksa atas pebuatannya. Kalau dosa besar tidak dikerjakan. yaitu suatu benda yang dijadikan Allah SWT untuk „menuliskan‟ segala sesuatu yang akan terjadi di Lauh Mahfudh. iii. Dosa besar hanya dapat diampuni kalau si pembuatnya taubat kepada Alloh.48. Syak atau ragu bahwa Nabi Muhammad Saw Isra‟ Mi‟raj dengan ruh dan . Syak atau ragu bahwa Al-Qur‟an itu wahyu Tuhan Syak atau ragu bahwa akan ada hari kiamat. Wajib dipercayai adanya Qalam. v. Dosa itu. surga. Dosa besar itu ialah syirik (mempersekutukan Alloh) ini paling berat atau paling besar. Wajib diketahui adanya “Kursi Allah SWT” yaitu suatu benda makhluk Allah SWT yang bedekatan dan bertalian dengan Arsy. iv. neraka dan lain-lain sebagainya. Orang mukmin bisa menjadi kafir kembali (riddah) dengan melakukan hal-hal di bawah ini : a. 50. tidak akan habis. 49. membunuh manusia dengan tidak hak. berbuat liwath. terbagi dua. ii. ada dosa besar dan ada dosa kecil. Sekalian yang terjadi di dunia ini sudah dituliskan dengan Qalam di Lauh Mahfudh terlebih dahulu. menurut faham Ahlussunnah wal Jama‟ah. Hakekat keberadaannya diserahkan kepada Allah SWT. berbuat zina. 52. berdusta terhadap Nabi dan lain-lain sebagainya. i. maka dosa-dosa kecil akan diampuni saja oleh Alloh. Yang wajib kaum Ahlussunnah wal Jama‟ah adalah mempercayainya. lari dari medan perang (perang sabil). 51. hari akhirat. Dalam i‟tiqad : Syak atau ragu atas adanya Tuhan.

makan minum haram boleh baginya dan lain-lain sebagainya. v. puasa. Mengingkari kesahabatan para sahabat-sahabat Nabi yang utama seperti Sayyidina Abu Bakar. vii.vi. viii. Mendakwahkan jadi Nabi atau Rasul setelah Nabi Muhammad Saw. dll. Sayyidina Umar bin Khathab dan lain-lain sebagainya. ii. Menghina Nabi-nabi atau Rasul-rasul dengan lisan maupun perbuatan. jual beli haram baginya. iii. . makan minum haram baginya dan lain-lain sebagainya. membunuh orang boleh baginya. i. pada matahari. Mengingkari salah seorang Rasul yang telah sepakat ulama‟-ulama‟ Islam mengatakannya Rasul. seperti kawin haram baginya. dan lain-lain. Mengharamkan pekerjaan yang sudah sepakat ulama‟ Islam membolehknnya. Mengingkari sepotong atau seluruhnya ayat suci Al-Qur‟an atau menambah sepotong atau seluruh ayat suci al-Qur‟an dengan tujuan menjadikannya menjadi Al-Qur‟an. Menghina kitab-kitab suci dengan lisan atau perbuatan. Meng-i‟tiqadkan bahwa Alloh bertubuh serupa manusia. Dalam amalan: Sujud kepada berhala. Meng-i‟tiqadkan bahwa Alloh tidak mempunyai sifat seperti ilmu. Menghalalkan pekerjaan yang telah sepakat ulama‟ Islam mengharamkannya. xii. pada bulan dan lain-lain. b. iv. berhenti puasa boleh baginya. Sujud kepada manusia dengan suka rela. Mendustakan Rasul-rasul Alloh. seperti sembahyang. hayat. seperti meyakini bahwa zina boleh baginya. xiii. xvi. Meniadakan suatu amalan ibadah yang telah sepakat ulama‟ Islam mewajibkannnya. Meng-i‟tiqadkan ada Nabi sesudah Nabi Muhammad Saw. zakat dan lain-lain sebagainya. xiv. xv. qidam baqa‟. xi. x. ix. Mengejek-ejek agama atau Alloh dengan lisan atau tulisan.

zakat. Dalam perkataan Mengucapkan “Hai kafir”. bukan 99 sebagaimana al asma al husna? Ulama Ahlus Sunah wal Jamaah dalam menetapkan kedua puluh sifat tersebut berdasarkan kajian dan peneltian yang mendalam.c. i. mengapa sifat yang wajib bagi Alloh yang harus diketahui hanya dua puluh sifat saja. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap Muslim. C. wukuf di Arafah dan lain-lain sebagainya. surga dan neraka. thawaf keliling Ka‟bah. Akhirakhir ini muncul sekelompok orang yang mempersoalkan sifat dua puluh tersebut dengan alasan bahwa tidak ada teks dalam Al Quran dan Al Hadits yang mewajibkan mengetahui sifat dua puluh. vi. haji. Bahkan dalam al Hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Alloh (al asma al husna) jumahnya justru 99. puasa. Khulashoh (Penjelasan Ringkas) Aqidah Ahlussunnah Wal Jama‟ah 1. v. iv. Mengejek-ejek atau menghina nama Alloh. dll. Mengejek-ejek keluarga Nabi. misalnya shalat. Mengejek-ejek malaikat-malaikat Mengejek-ejek Nabi-nabi dan Rasul-rasul. ii. kepada orang Islam. iii. Pertama. Dari sini muncul gugatan. viii. vii. setiap orang yang beriman harus meyakini bahwa Alloh wajib memiliki segala sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya. . Ia harus meyakini bahwa Alloh mustahil memilki sifat kekurangan yan tidak layak bagi keagungannya. Mengejek-ejek salah satu syari‟at. Ia harus meyakini pula bahwa Alloh boleh melakukan sesuatu atau meninggalkannya. Mengejek-ejek Nabi Muhammad saw. Ada beberapa alasan ilmiah dan logis yang dikemukakan ulama. Mengapa Wajib Mengetahui Sifat Dua Puluh? Dalam madzhab Ahlus Sunah wal Jamaah terdapat konsep dua puluh sifat yang wajib bagi Alloh. Mengejek-ejek hari akhirat.

dan atau hanya Engkau saja yang mengetahui-Nya secara ghaib. Sehingga berdasarkan hadits tersebut nama-nama Alloh tidak terbatas hanya 99. . Ketiga. cahaya mataku.” Kitab al I‟tiqod „ala Madzhabis Salaf Ahlis Sunnah wal Jamaah. shifat al Dzat. sehingga sifat-sifat Alloh sebenarnya tidak tebatas pada 99 saja. Pertama. Al Hakim dalam al Mustadrak.: „Sesungguhnya Alloh memilki 99 Nama‟. Kedua. jadikanlah al Quran sebagai taman hatiku. tidak menafikan nama-nama selainnya.” HR Ahmad. At Thabrani dalam al Mu‟jam al Kabir. atau Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara makhluk-Mu. Al Hafidz Ibn Hibban menilainya Shohih dalam Shohihnya. pelipur laraku. Al Hafidz Al Bayhaqi berkata: “Sabda Nabi saw. apalagi dua puluh.Demikian adalaha keyakinan yang paling mendasar yang harus tertanam di dalam hati setiap Muslim. yang antara lain adalah sifat dua puluh. Pernyataan Al Hafidz Al Bayhaqi di atas berdasarkan hadits Shohih: “Ya Alloh. para Ulama membagi sifat-sifat khabariyyah. sesungguhnya aku hamba-Mu … Aku memohon dengan (perantara) setiap Nama yang Engkau miliki. Nabi hanya bermaksud –wallohu a‟lam – bahwa barangsiapa yang memenuhi pesan-pesan 99 nama tersebut akan dijamin masuk surga. baik Engkau namakan Dzat-Mu dengan-Nya. bahkan setiap sifat keagungan dan kesempurnaan adalah wajib dimilki Alloh. menjadi dua. para Ulama Ahlus Sunah wal Jamaah sebenarnya tidak membatasi sifat-sifat kesempurnaan Alloh dalam dua puluh sifat. dan penghapus dukaku. yaitu sifat-sifat Alloh yang terdapat dalam al asma al husna. Hadits tersebut di atas menjelaskan bahwa diantara nama-nama Alloh yang telah dijelaskan dalam Al Quran ada yang diketahui oleh sebagian hamba-Nya dan ada yang diketahui oleh Alloh swt. Kedua. yaitu sifatsifat yang ada pada Dzat Alloh swt. atau Engkau turunkan Nama itu dalam kitab-Mu. saja.

Sebagaimana dinukil dari Kitab Tabsith al „Aqaid al Islamiyah karya Syekh Hasan Ayub. kitab Ushul al Din karya Syekh Abu Manshur Abdul Qahir Al Baghdadi (penulis kitab al Farq bayna al Firaq). Sebagaimana dikutip dari kitab al I‟tiqod „ala Madzhabis Salaf Ahlis Sunnah wal Jamaah karya Al Hafidz al Bayhaqi. maka kebalikan dari sifat tersebut tidak mustahil bagi Alloh. ulama mengatakan bahwa shifat al af‟al itu baqa‟ (tidak berakhiran) bagi Alloh. Ketika Alloh memilki salah satu di antara shifat al af‟al. seperti al Razzaq. Hal tersebut berbeda dengan shifat al af‟al. dan dalil aqli. namun tidak azal (ada permulaan). yaitu syarat mutlak ke-Tuhanan Alloh. Perbedaan antara keduanya. al Mu‟thi (Maha Pemberi) dan al Mani‟ (Maha Pencegah). Dari sini Ulama menetapkan bahwa shifat al Dzat ini bersifat azal (tidak ada permulaan) dan baqa‟ (tidak berakhiran) bagi Alloh.shifat al af‟al. al Muhyi. Maka dengan memahami sifat dua puluh tersebut iman seseorang akan terbentengi dari keyakinan- . Keempat. yaitu sifat-sifat yang sebenarnya adalah perbuatan Alloh swt. al Khaliq. dan lain-lain. aliran-aliran sempalan menyifati Alloh dengan sifat makhluk yang dapat menodai Kemahasempurnaan dan Kesucian Alloh. sifat dua puluh dianggap cukup dalam mengantarkan pada keyakinan bahwa Alloh memilki segala sifat kesempurnaan dan Maha Suci dari segala sifat kekurangan. Di samping substansi sebagian besar shifat al Dzat yang ada sudah ter-cover dalam sifat dua puluh tersebut yang ditetapkan berdasarkan dalil Al Quran. Kelima. maka kebalikan dari sifat tersebut adalah mustahil bagi Alloh. Sebagaimana diketahui. dan lain-lain. sehingga ketika shifat al Dzat ini wajib bagi Alloh. seperti al Muhyi (Maha Menghidupkan) dan al Mumit (Maha Mematikan). dari sekian banyak shifat al Dzat yang ada. al Mumit. al Mani‟. al Mu‟thi. shifat al Dzat merupakan sifat-sifat yang menjadi syarath al Uluhiyyah. sifat dua puluh tersebut dianggap cukup dalam membentengi aqidah seseorang dari pemahaman yang keliru tentang Alloh swt. al Dhar (Maha Memberi Bahaya) dan an Nafi‟ (Maha Memberi Manfaat). Al Hadits. Di samping itu.

i. juga bukan benda Lathif atau benda Katsif. Sedangkan sesuatu yang demikian. Syarh al Aqidah al Nasafiyah). maka hal ini akan ditolak dengan salah satu sifat salbiyyah yang wajib bagi Alloh. yaitu benda („ain) dan sifat benda („aradl). Allah ta‟ala berfirman: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi). maka ia adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam dimensi tersebut. Seperti. lebar dan kedalaman). angin dan sebagainya. Adapun sifat-sifat benda adalah seperti bergerak. dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jisim). . ruh. turun. 2. berubah. tanah. karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah. yaitu sifat qiyamuhu bi nafsihi (Alloh wajib mandiri). (QS As Syura: 11) Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah swt.keyakinan yang keliru tentang Alloh. benda-benda padat dan lain sebagainya. ketika Mujassimah mengatakan bahwa Alloh bertempat di „Arsy. tidak menyerupai makhlukNya. bersemayam. Allah Bukan Benda Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagi atas dua bagian. dan tidak ada sesuatupun yang menyerupaiNya”. maka akan banyak yang serupa dengan-Nya sebab dengan demikian berarti ia memiliki dimensi (panjang. Benda Lathif: sesuatu yang tidak dapat dipegang oleh tangan. yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (al Jawhar al Fard). berada di tempat dan arah. Benda yang terakhir ini terbagi menjadi dua macam. (al Imam Sa‟duddin at Taftazani. kegelapan. Benda Katsif: sesuatu yang dapat dipegang oleh tangan seperti manusia. duduk. seperti cahaya. dan seterusnya. naik dan sebagainya. diam. bukan merupakan al Jawhar al Fard. Dan Dia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. ii.

suara atau semacamnya. bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain. duduk. malaikat.” Makna hadits dan atsar (maqalah Sahabat) ini adalah bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan). suara dan bahasa dan sebagainya. Rasulullah saw. cahaya. kegelapan. dia telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.Nya”. diam. berpisah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah. berbicara dengan huruf. Dan keberadaan Alloh sekarang seperti keberadaan-Nya sebelum adanya tempat. berikut ini menjawabnya. bersemayam. Begitu juga orang yang meyakini Hulul dan Wahdah al Wujud telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Pada azal belum ada angin. menempel. berubah. waktu. turun. itu ada sebelum adanya tempat. langit. karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk). berada pada satu tempat dan arah. apakah akal dapat menerima terhadap keberadaan sesuatu tanpa arah dan tempat? Cukuplah hadits Rasulullah saw. . Al Bayhaqi.Mungkin akan timbul pertanyaan. Maka orang yang mengatakan bahwa bahasa Arab atau bahasa-bahasa selain bahasa Arab adalah bahasa Allah atau mengatakan bahwa kalam Allah yang azali (tidak mempunyai permulaan) dengan huruf. mempunyai jarak. dan Ibn Al Jarud. tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula. Amirul Mu‟minin Sayyidina Ali kw. „Arsy. tempat dan arah. yakni tetap ada tanpa tempat dan arah. naik. Di antara sifat-sifat manusia adalah bergerak. Al Imam ath-Thahawi juga mengatakan: “Barangsiapa menyifati Allah dengan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir“. manusia. HR Al Bukhari [2953]. Dan barang siapa yang menyifati Allah dengan salah satu dari sifat-sifat manusia seperti yang tersebut di atas atau semacamnya ia telah terjerumus dalam kekufuran. jin. berkata –sebagaimana dinukil dalam kitab al Farq bayna al Firaq– : “Alloh swt.

). lidah. kanan. kiri. depan. berkata: “Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat”. red. yaitu Allah tidak menyerupai makhlukmakhluk-Nya. Allah Ada Tanpa Tempat dan Arah Allah swt. yaitu sifat yang menafikan sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah.3. naik ke atas untuk bertemu dengan- . bawah.” Perkataan al Imam Abu Ja‟far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma‟ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah). sisi-sisi. hidung. Diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma wa ash-Shifat. Ayat tersebut di atas juga menjadi dalil bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa Allah memiliki sifat mukholafat lil hawadits. dan segala sesuatu selain Alloh.” As Syuro: 11. Sehingga mustahil bagi Alloh menyerupai makhluk yang memiliki roh. jin.berfirman: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dan tegas dalam al Quran yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya dari aspek apapun sehingga Alloh tidak butuh pada tempat yang menjadi tempat-Nya dan tidak pula arah yang menentukan-Nya. batas akhir. anggota badan yang besar (seperti tangan. i. Pernyataan Imam Thahawi Dalam Idzhar al Aqidah as Sunniyah bi Syarh al Aqidah Thahawiyah disebutkan: “Maha suci Alloh dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar. seperti manusia. tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut.). baik benda yang ada di atas maupun yang di bawah (tidak memiliki arah.) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut. Allah juga mustahil menyerupai benda padat. malaikat. Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas. belakang). dll. sehingga Alloh tidak memiliki ukuran sama sekali). dll. Diambil dalil dari perkataan tersebut bahwasanya bukanlah maksud dari mi‟raj bahwa Allah berada di arah atas lalu Nabi Muhammad saw. wajah. Sifat ini termasuk sifat salbiyah. Al Imam Abu al Hasan al Asy‟ari ra.

maka wajib dijauhi kitab Mi‟raj Ibnu „Abbas dan Tanwir al Miqbas min Tafsir Ibnu „Abbas karena keduanya adalah kebohongan belaka yang dinisbatkan kepada Ibnu Abbas. Al Imam Abu Hanifah ra. Penegasan Imam Abu Hanifah Al Imam Abu Hanifah dalam kitabnya al Fiqh al Absath berkata: “Allah ta‟ala ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada tempat. Dan ini adalah kekufuran berdasarkan Ijma‟ (konsensus) kaum muslimin sebagaimana dikatakan oleh al Imam as. Dan Dia pencipta segala sesuatu”. di saat mi‟raj adalah Jibril as. melainkan maksud mi‟raj adalah memuliakan Rasulullah saw. juga para panutan kita ahli tasawwuf sejati seperti al Imam al Junaid al Baghdadi. makhluk. tanpa menyerupai makhlukNya dan tanpa (Allah) berada di suatu arah”. Perkataan al Imam at-Thahawi tersebut juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham Wahdah al Wujud yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya atau pengikut paham Hulul yang berkeyakinan bahwa Allah menempati makhluk-Nya. sebagaimana diriwayatkan oleh al Imam al Bukhari dan lainnya dari asSayyidah „Aisyah ra. dan semua Imam tasawwuf sejati.. Dia ada sebelum menciptakan makhluk. dan sesuatu. Juga tidak boleh berkeyakinan bahwa Allah mendekat kepada Nabi Muhammad saw. melainkan yang mendekat kepada Nabi Muhammad saw.. mereka selalu memperingatkan masyarakat akan orang-orang yang berdusta sebagai pengikut tarekat tasawwuf dan meyakini aqidah Wahdah al Wujud dan Hulul. Ini adalah penegasan al Imam Abu . dalam kitabnya al Washiyyah berkata yang maknanya: “Bahwa penduduk surga melihat Allah ta‟ala adalah perkara yang haqq (pasti terjadi) tanpa (Allah) disifati dengan sifat-sifat benda. al Imam Ahmad ar-Rifa‟i. ii. Syekh Abdul Qadir al Jilani. sehingga jarak antara keduanya dua hasta atau lebih dekat. dan memperlihatkan kepadanya keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al Qur‟an surat al Isra: 1.Suyuthi dalam karyanya al Hawi lil Fatawi dan lainnya.Nya. Dia ada dan belum ada tempat.

adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah. HR Muslim [4888] dan lainnya. kanan dan kiri. keseluruhan dan bagian-bagian. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah. Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal. 4. . Al Imam Al Bayhaqi dalam kitabnya al Asma wa ash Shifat mengatakan: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah saw. tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu“. Al Imam Fakhruddin ibn „Asakir dalam Risalah Aqidah-nya mengatakan : “Allah ada sebelum ciptaan. atau „Bagaimana Dia ?‟. sehingga tidak boleh dikatakan Allah ada di atas „Arsy. Al Imam Ali kw. depan dan belakang.: “Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia(Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula. „Di mana Dia ?‟. tidak boleh dikatakan „Kapan ada-Nya?‟.Hanifah ra. bahwa beliau menafikan arah dari Allah swt. begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Tidak Boleh Dikatakan Allah Ada di Atas „Arsy atau Ada Dimana-mana Atsar Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. atas dan bawah.: “Sesungguhnya Allah menciptakan „Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” (Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq). Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat. tidak ada bagi-Nya sebelum dan sesudah. Dia ada tanpa tempat”. dan ini menjelaskan kepada kita bahwa ulama salaf mensucikan Allah dari tempat dan arah.: “Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan adaNya). ada tanpa tempat” Karenanya tidak boleh dikatakan Allah ada di satu tempat atau di mana-mana.

al Imam al Ghazali dalam kitabnya Ihya „Ulum ad-Din. dan kayfa (sifatsifat makhluk) adalah mustahil bagi-Nya” (Diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma‟ wa ash-Shifat). bersemayam di atas Arsy. Penjelasan seperti ini dituturkan oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama‟ah seperti al Imam al Mutawalli dalam kitabnya al Ghun-yah. bahwa Allah Maha Suci dari semua sifat benda seperti duduk. Al Imam Abu Hasan al Asyari mengatakan: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah Ta‟ala di satu tempat atau di semua tempat”. berkata: “‟Ar-Rahman „ala al „Arsy istawa‟ sebagaimana Allah mensifati Dzat (hakekat)-Nya dan tidak boleh dikatakan bagaimana. dan sebagainya. 5. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah.Al Imam Malik ra. al Imam an-Nawawi dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim. Hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya. Sedangkan ketika seseorang menengadahkan kedua tangannya ke arah langit ketika berdoa. al Imam Taqiyy ad-Din as-Subki dalam kitab as-Sayf ash-Shaqil dan masih banyak lagi. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap Ka‟bah. Syekh Abdul Wahhab asy-Sya‟rani dalam kitabnya al Yawaqiit wal Jawaahir menukil perkataan Syekh Ali al Khawwash: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di mana-mana“. Adz- . akan tetapi karena Ka‟bah adalah kiblat shalat. Sedangkan riwayat yang mengatakan wa al Kayf Majhul adalah tidak benar dan Imam Malik tidak pernah mengatakannya. Sedangkan pengertian al hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk baik kecil maupun besar. Allah Maha Suci dari Hadd (Batasan) Menurut ulama tauhid yang dimaksud al mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk baik kecil maupun besar. berada di suatu tempat dan arah. hal ini tidak menandakan bahwa Allah berada di arah langit. Perkataan al Imam al Asy‟ari ini dinukil oleh al Imam Ibnu Furak dalam karyanya al Mujarrad. Maksud perkataan al Imam Malik tersebut.

Juga tidak boleh dikatakan tentang Allah bahwa tidak ada yang mengetahui tempat-Nya kecuali Dia. Al Imam Ali Zainal Abidin as Sajjad bin al Husain bin Ali bin Abi Thalib (cicit Rasulullah saw. penjelasannya adalah bahwa ruang kosong yang diisi oleh benda lathif. kegelapan dan angin masingmasing mempunyai ukuran. dan ukuran)” Beliau juga berkata : “Maha suci Engkau yang tidak bisa diraba maupun disentuh”. Adapun tentang benda Katsif bahwa ia mempunyai tempat. hal ini jelas sekali. menempel. Allah Maha suci dari sifat berkumpul. Karena definisi tempat adalah ruang kosong yang diisi oleh suatu benda. Maksud perkataan Sayyidina Ali tersebut adalah sesungguhnya berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang kecil atau berkeyakinan bahwa Dia memiliki bentuk yang meluas tidak berpenghabisan merupakan kekufuran. yakni bahwa Allah tidak menyentuh sesuatupun dari makhluk-Nya dan Dia tidak disentuh oleh sesuatupun dari makhluk-Nya karena Allah bukan benda. bentuk. (Diriwayatkan oleh Abu Nu‟aym dalam Hilyah al Auliya‟ I/72). Karena sesuatu yang memiliki tempat dan arah pastilah benda.Dzarrah (sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk melalui jendela) mempunyai ukuran demikian juga „Arsy. karenanya ulama Ahlussunnah Wal Jama‟ah mengatakan: “Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak mempunyai ukuran. kecil ataupun besar memiliki tempat dan arah serta ukuran. berpisah dan tidak berlaku jarak antara Allah dan makhluk-Nya karena Allah bukan benda dan Allah ada tanpa arah. dan mengenai benda lathif bahwa ia mempunyai tempat. itu adalah tempatnya. Sedangkan Allah bukanlah benda dan tidak disifati dengan sifatsifat benda. Semua bentuk baik Lathif maupun Katsif.) berkata : “Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat”. berkata yang maknanya: “Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” . Beliau juga berkata: “Engkaulah Allah yang Maha suci dari hadd (benda. (Diriwayatkan . Al Imam Sayyidina Ali kw. cahaya. besar maupun kecil”.

Dan jika berhenti pada keyakinan bahwa pasti ada pencipta yang menciptakannya dan tidak menyerupainya serta mengakui bahwa dia tidak akan bisa membayangkan-Nya maka dialah muwahhid (orang yang mentauhidkan Allah). Dzat Allah Tidak Bisa Dibayangkan Al Imam asy-Syafi‟i ra. Al Imam Syekh al „Izz ibn „Abd as-Salam asy-Syafi‟i dalam kitabnya Hall ar-Rumuz menjelaskan maksud Imam Abu Hanifah. kafir. Bantahan Ahlussunnah terhadap Keyakinan Tasybih dan Tajsim Al Imam Abu Hanifah ra. berkata : “Barangsiapa yang mengatakan saya tidak tahu apakah Allah berada di langit ataukah berada di bumi maka dia telah kafir”. dan barang siapa yang . salah seorang murid terkemuka al Imam Malik ra. Dan jika dia berhenti pada keyakinan bahwa tidak ada Tuhan (yang mengaturnya) maka dia adalah mu‟aththil -atheis. 6. Al Imam Ahmad ibn Hanbal ra. berkata: “Barang siapa yang berusaha untuk mengetahui pengatur-Nya (Allah) hingga meyakini bahwa yang ia bayangkan dalam benaknya adalah Allah.(orang yang meniadakan Allah). Diriwayatkan oleh al Bayhaqi dan lainnya. maka dia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Diriwayatkan oleh al Maturidi dan lainnya. muslim“. 7.oleh al Hafizh az-Zabidi dalam al Ithaf dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahlul Bayt. Hal ini juga sebagai bantahan terhadap orang yang berkeyakinan Wahdatul Wujud dan Hulul. beliau mengatakan : “Karena perkataan ini memberikan persangkaan bahwa Allah bertempat. keturunan Rasulullah). berkata: “Apapun yang terlintas dalam benakmu (tentang Allah) maka Allah tidak menyerupai itu (sesuatu yang terlintas dalam benak)” Diriwayatkan oleh Abu al Fadll at-Tamimi dan al Khathib al Baghdadi. dan al Imam Tsauban ibn Ibrahim Dzu an Nun al Mishri.

karena tajsim (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dan meyakini bahwa Allah adalah jisim/benda) jelas menyalahi al Quran. Semoga Allah memerangi golongan Mujassimah dan Mu‟aththilah (golongan yang menafikan sifat-sifat Allah). 597 H) mengatakan dalam kitabnya Daf‟u Syubah at-Tasybih: “Sesungguhnya orang yang mensifati Allah dengan tempat dan arah maka ia adalah Musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan MakhlukNya) dan Mujassim (orang yang meyakini bahwa Allah adalah jisim: benda) yang tidak mengetahui sifat Allah”. . Al Hafizh Ibnu Hajar al „Asqalani (W. Syekh Ibn Hajar al Haytsami dalam al Minhaj al Qawim mengatakan: “Ketahuilah bahwasanya al Qarafi dan lainnya meriwayatkan perkataan asy-Syafi‟i. Juga dalam kitab Kifayah al Akhyar karya al Imam Taqiyyuddin al Hushni dikatakan sebagai berikut: “… hanya saja an-Nawawi menyatakan dalam bab Shifat ash-Shalat dari kitab Syarh al Muhadzdzab bahwa Mujassimah adalah kafir. mengenai pengkafiran mereka terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa Allah di suatu arah dan dia adalah benda. 852 H) dalam Fath al Bari Syarh Shahih al Bukhari mengatakan : “Sesungguhnya kaum Musyabbihah dan Mujassimah adalah mereka yang mensifati Allah dengan tempat padahal Allah maha suci dari tempat”.” Ayat ini jelas membantah kedua golongan tersebut”. alangkah beraninya mereka menentang Allah yang berfirman tentang Dzat-Nya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Malik. Al Imam al Hafizh Ibn al Jawzi (W. Saya (al Hushni) berkata: “Inilah kebenaran yang tidak dibenarkan selainnya. mereka pantas dengan predikat tersebut (kekufuran)“. Ahmad dan Abu Hanifah ra.menyangka bahwa Allah bertempat maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya)“. Dalam kitab al Fatawa al Hindiyyah tertulis sebagai berikut: “Adalah kafir orang yang menetapkan tempat bagi Allah ta‟ala “.

akan tetapi wajib dikembalikan maknanya sebagaimana perintah Allah dalam al Qur‟an pada ayat-ayat yang Muhkamat. padahal tidak ada yang mengetahui ta‟wilnya melainkan Alloh.‟ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.Al Imam Ahmad ibn Hanbal ra. Dinukil oleh Badr adDin az. Di antarnya ada ayat-ayat yang Muhkamat. yang dalam bahasa arab mempunyai lebih dari satu arti dan tidak boleh diambil secara zhahirnya.Zarkasyi. itulah pokok-pokok isi al Quran. Ayat di atas menerangkan bahwa di antara isi al Quran terdapat ayat-ayat yang Muhkamat dan Mutasyabihat. Mutasyabihat artinya nash-nash al Qur‟an dan hadits Nabi Muhammad saw.” QS Ali Imran: 7. Sedangkan ayat Mutasyabihat adalah ayat yang tidak jelas maksudnya. Al Imam Abu al Hasan al Asy‟ari dalam karyanya an-Nawadir mengatakan : “Barang siapa yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda maka ia telah kafir. seorang ahli hadits dan fiqh bermadzhab Syafi‟i dalam kitab Tasynif al Masami‟ dari pengarang kitab al Khishal dari kalangan pengikut madzhab Hanbali dari al Imam Ahmad ibn Hanbal. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: „Kami beriman kepada ayat-ayat mutsyabihat. karena hal tersebut mengantarkan kepada tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). tidak seperti benda-benda maka ia telah kafir“. dapat dipahami dengan mudah. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang Mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta‟wilnya. mengatakan: “Barang siapa yang mengatakan Allah adalah benda. Ayat Muhkamat adalah ayat-ayat yang terang dan jelas maksudnya. Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat “Dialah yang menurunkan al Kitab (al Quran) kepadamu. D. dan yang lain (ayat-ayat) Mutasyabihat. semuanya dari sisi Tuhan kami. yakni ayat-ayat yang . tidak mengetahui Tuhannya“.

Pertama. ayat Mutasyabihat yang dapat diketahui oleh orang-orang yang mendalam ilmunya (ar rasikhun fil „ilm). Ayat Istiwa‟ Di antara ayat-ayat Mutasyabihat yang tidak boleh diambil secara zhahirnya adalah firman Allah swt.mempunyai satu makna dalam bahasa Arab. Ayat ini tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah duduk (jalasa) atau bersemayam atau berada di atas „Arsy dengan jarak atau bersentuhan dengannya. karena duduk dan bersemayam termasuk sifat khusus benda sebagaimana yang dikatakan oleh al Hafizh al Bayhaqi. Al Imam Ahmad ar-Rifa‟i dalam al Burhan al Muayyad berkata: “Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur‟an dan hadits Nabi Muhammad saw. sesudah menyelidikinya secara mendalam. Ayat Mutasyabihat dibagi menjadi dua. sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Abdulloh al Harari dalam al Syarh al Qawim fi Hall Alfadz al Shirath al Mustaqim. maka tidak boleh menerjemahkan kata istawa ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa lainnya karena kata istawa mempunyai 15 makna dan tidak mempunyai padan kata (sinonim) yang mewakili 15 makna . Kemudian kata istawa sendiri dalam bahasa Arab memiliki 15 makna. ayat Mutasyabihat yang hanya Alloh yang mengetahui maksudnya. Berdasarkan ini. yang Mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran”. QS Thaha: 5. surat Thaha: 5: “Ar Rahmanu „ala „arsyi istawa”. Seperti maksud dari al istiwa‟ dalam ayat: ”Ar Rahmanu „ala al „arsyi istawa”. Kedua. seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan hal yang ghaib. Karena itu kata istawa tersebut harus ditafsirkan dengan makna yang layak bagi Allah dan selaras dengan ayat-ayat Muhkamat. bukan bersemayam. al Imam al Mujtahid Taqiyyuddin as-Subki dan al Hafizh Ibnu Hajar dan lainnya. yaitu makna bahwa Allah tidak menyerupai segala sesuatu dari makhluk-Nya. Para ulama ar rasikhun fil „ilm menafsirkan istawa di atas dengan „menguasai‟ (al Qahr). Juga tidak boleh dikatakan bahwa Allah duduk tidak seperti duduk kita atau bersemayam tidak seperti bersemayamnya kita.

Kalangan yang mentakwil istawa‟ dengan qahara adalah para ulama Ahlussunnah Wal Jama‟ah. al Ghazali asy-Syafi‟i dalam al Ihya. al Imam Abu Manshur al Maturidi al Hanafi dalam kitabnya Ta‟wilat Ahlussunnah Wal Jama‟ah. Maka ayat tersebut di atas (surat Thaha: 5) boleh ditafsirkan dengan qahara (menundukkan dan menguasai) yakni Allah menguasai „Arsy sebagaimana Dia menguasai semua makhluk-Nya. al Hafizh Ibn al Jawzi al Hanbali dalam kitabnya Daf‟u Syubah at-Tasybih. mengatakan: “Sesungguhnya Allah menciptakan „Arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya”. Dalam ayat ini. seorang pakar bahasa Arab dalam kitabnya Isytiqaq Asma Allah. az-Zajjaj. makna kata istawa dalam ayat tersebut adalah qahara (menundukkan atau menguasai). Syekh Muhammad Nawawi Azmatkhan al Jawi al Indonesi asy-Syafi‟I dalam kitabnya at-Tafsir al Munir. hewan dan malaikat. Al Imam Ali ra. Dan Allah menamakan dzat-Nya al Qahir dan al Qahhar dan kaum muslimin menamakan anak-anak mereka „Abdul Qahir dan „Abdul Qahhar. Syekh Muhammad Mahfuzh at-Termasi al Indonesi asy-Syafi‟i dalam Mawhibah dzi al Fadll. jin. karena al Qahr adalah sifat Allah yang azali (tidak mempunyai permulaan) sedangkan „arsy adalah merupakan makhluk yang baru (yang mempunyai permulaan). al Imam Abu „Amr ibn al Hajib al Maliki dalam al Amaali an-Nahwiyyah. . Yang diperbolehkan adalah menerjemahkan maknanya. Karena duduk adalah sifat yang sama-sama dimiliki oleh manusia. Tidak seorangpun dari umat Islam yang menamakan anaknya „Abdul Jalis (al jalis adalah nama bagi yang duduk). Karena al Qahr adalah merupakan sifat pujian bagi Allah. Allah menyebut „arsy secara khusus karena ia adalah makhluk Allah yang paling besar bentuknya. Di antaranya adalah al Imam „Abdullah ibn Yahya ibn al Mubarak dalam kitabnya Gharib al Qur‟an wa Tafsiruhu. dan masih banyak lagi yang lainnya. Penafsiran di atas tidak berarti bahwa Allah sebelum itu tidak menguasai „arsy kemudian menguasainya.tersebut.

Maksud perkataan al Imam Malik tersebut. yaitu tidak melakukan penafsiran apapun terhadap teks-teks tersebut. Dengan tafwidh ini. maka akan menimbulkan pengertian bahwa Alloh memiliki sifat-sifat kekurangan dan menyerupai makhlukNya. Sedangkan riwayat yang mengatakan wal Kayf Majhul adalah tidak benar. Riwayat yang Sahih dari Imam Malik tentang Ayat Istiwa‟ Al Imam Malik ditanya mengenai ayat tersebut di atas. dan hadits . Penegasan Imam Syafi‟i tentang Orang yang Berkeyakinan Allah duduk di atas „Arsy Ibn al Mu‟allim al Qurasyi menyebutkan dalam karyanya Najm al Muhtadi menukil perkataan al Imam al Qadli Najm ad-Din dalam kitabnya Kifayah an-Nabih fi Syarh at-Tanbih bahwa ia menukil dari al Qadli Husayn bahwa al Imam asy-Syafi‟I menyatakan kekufuran orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas „arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya. kemudian beliau menjawab: “Dan tidak boleh dikatakan bagaimana dan al kayf /bagaimana (sifat-sifat benda) mustahil bagi Allah”. serta menyucikan Alloh dari kekurangan dan penyerupaan terhadap hal-hal yang baru. Oleh karena itu. “Dan ja-a Tuhanmu. Hal ini dilakukan dengan metode ta‟wil ijmali terhadap teks-teks tersebut dan menyerahkan pengetahuan maksud yang sebenarnya kepada Alloh swt.” QS al Fajr: 22. Ulama Ahlussunnah yang Menta‟wil Istiwa‟ Diantara ayat Mutasyabihat dalam Al Quran ada ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Alloh. bahwa Allah Maha Suci dari semua sifat benda seperti duduk.i. namun mencukupkan diri dengan penetapan sifat-sifat yang telah Alloh tetapkan bagi Dzat-Nya. iii. Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah memiliki dua pandangan. ulama mengartikan teks: “Tuhan yang Maha Pemurah beristawa di atas „Arsy. Jika ayat-ayat tersebut diartikan literal.” QS Thaha: 5. ii. Pertama.. bersemayam dan sebagainya. metode tafwidh/ta‟wil ijmali yang diikuti mayoritas ulama salaf. Diriwayatkan oleh al Hafizh al Bayhaqi dalam kitabnya al Asma wa ash-Shifat.

”. dengan tidak mengartikan istawa(istiwa‟) dalam ayat tersebut dengan „bersemayam‟ dan „bertempat di atas Arsy‟. dan tidak mengandung penyerupaan sifat-sifat Alloh dengan sifat-sifat makhluk-Nya. dan lain-lain. Mereka beranggapan bahwa Allah benar-benar turun. Artinya ayat dan hadits seperti itu harus diterima secara harfiah dan tidak dipalingkan dari makna harfiahnya. metode ta‟wil yang diikuti oleh mayoritas Ulama Khalaf dan sebagian Ulama Salaf. Dalam mengomentari ayat tersebut. Ali Imran: 73 dengan „kekuatan dan kedermawanan‟. Sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Abdulloh al Harari dalam kitabnya al Maqalat al Sunniyah fi Kasyf Dhalalat Ibn Taymiyah.” Kaum mujassimah berkata bahwa ayat dan hadits seperti itu tidak memerlukan ta‟wil. Dan tidak pula mengartikan “datang” (ja-a) dan “turun” (yanzilu)-nya Tuhan dalam ayat dan hadits tersebut dengan datang dan turun layaknya makhluk yang berpindah dan bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain.” Jadi mereka beranggapan bahwa Allah benar-benar mempunyai tangan. Metode ta‟wil adalah mengalihkan pengertian teks-teks yang Mutasyabihat tersebut dari makna literalnya dan meletakkan maksud-maksudnya dalam satu bingkai pengertian yang sejalan dan seiring dengan teks-teks lain yang Muhkamat yang memastikan kesucian Alloh dari keserupaan dengan makhluk-Nya. dan “turun” dalam teks tersebut memiliki makna tersendiri yang hanya diketahi oleh Alloh swt. dan itulah penyerupaan. Dalam mengartikan istiwa‟ dalam ayat di atas dengan „kekuasaan Alloh‟. Kaum Mujassimah mempermanis komentarnya dengan katakata: “Namun turunnya Allah tidak seperti turunnya manusia”. Adapun katakata dibelakangnya hanyalah pemanis untuk mengecoh umat. Ulama salaf berpandangan bahwa makna istiwa‟ . “datang”. secara harfiah. Kedua. menafsirkan tangan dalam S.Shohih Bukhori: “Yanzilu Tuhan kami tabaroka wa ta‟ala ke langit dunia ketika waktu tinggal sepertiga malam yang terakhir…. kaum Mujassimah mempermanisnya dengan kata-kata: “Namun tangan Allah tidak seperti tangan manusia. maka mereka telah .

Kedua. sehingga ayat-ayat dan hadits-hadits lain yang Mutasyabihat dan mengesankan Alloh menyerupai makhluk-Nya harus dikembalikan maksudnya terhadap ayat sebelas surat As Syuro ini. adapun kata-kata dibelakangnya hanyalah pemanis untuk mengecoh umat. teks-teks yang berkaitan dengan ushul (pokok-pokok agama) seperti aqidah. karena firman Alloh: „tidak ada yang mengetahui ta‟wilnya melainkan Alloh. Ayat dalam surat as Syuro: 11: “Tiada sesuatupun yang serupa dengan Dia” menegaskan kesucian Alloh yang bersifat mutlak dari menyerupai apapun. dan hal ini tidak diperselisihkan oleh kalangan ulama‟. kelompok yang berpendapat bahwa teks-teks tersebut tidak boleh dita‟wil. dan tidak boleh melakukan ta‟wil apapun terhadapnya. teks yang berkaitan dengan furu‟ (cabang/ranting) yang sebagian besar memang dita‟wil. dasar-dasar agama. Kedua.menjisimkan Allah. tetapi kami menghindar untuk melakukannya serta menyucikan keyakinan kami dari menyerupakan (Alloh dangan makhluk-Nya) dan menafikan (sifat-sifat yang ada dalam teks tersebut). Perlu ditegaskan. Mereka adalah aliran Musyabbihah (faham yang menyerupakan Alloh dengan makhluk-Nya). yaitu ada dua bagian. tetapi diberlakukan sesuai denga literalnya. tetang teks yang dapat dita‟wil. kelompok yang berpandangan bahwa teks-teks tersebut boleh dita‟wil. Demikian sebagaimana dinukil dari kitab Al Maqalat al Sunniyah fi Kasyf Dhalalat Ibn Taymiyah. Pertama.‟ Ibn Burhan berkata. karya Syekh Abdulloh al Harari. Legalitas Tafwidh dan Ta‟wil Al Imam Muhammad bin Ali as Syaukani berkata dalam kitabnya Irsyad al Fuhul ala Tahqiq al Haqq min „Ilm al Ushul: “Bagian kedua. ini adalah . Antara pendapat salaf dan khalaf memilki persamaan yang bersifat prinsip. Para pakar berbeda pendapat mengenai bagian kedua ini menjadi tiga bagian. karena ayat ini kedudukannya Muhkamat. dan sifat-sifat Alloh swt. Pertama. Kedua pendapat ini tidak berpegang pada arti literal ayat al Quran dan Hadits tersebut. yaitu menyucikan Alloh dari keserupaan dengan makhluk-Nya.

Inkonsistensi Orang yang Memahami Ayat Istiwa‟ secara Zhahirnya Tentu saja teks-teks Mutasyabihat seperti di atas tidak boleh dibiarkan mengikuti makna literalnya tanpa melakukan ta‟wil. antara lain: kursi (QS 2: 225) dita‟wil dengan ilmu-Nya Alloh. misalnya dengan mengatakan bahwa Alloh bertempat di atas atau di . Sebagai contoh. dan Ummu Salamah. datangnya Tuhan (QS 89: 22) dita‟wil dengan perintah dan kepastian Alloh. Sahabat Ibn Abbas ra. iv. karena apabila ayat-ayat tersebut dibiarkan mengikuti makna literalnya. Al Imam Sufyan Ats Tsauri menta‟wil istiwa‟(QS 2:29) dengan berkehendak menciptaka langit. baik secara ijmali maupun tafshili. kelompok yang berpandangan bahwa teks-teks tersebut harus dita‟wil.” Perkataan Al Imam As Syaukani ini juga senada dengan pernyataan Al Imam Al Hafidz Badrudin al Zarkasyi dalam kitabnya al Burhan fi „Ulum al Quran.Ketiga. Tabi‟in Mujahid (murid Ibn Abbas) dan al Suddi menta‟wil lafadz janb (QS 39: 56) dengan perintah Alloh.” Kedua ayat tersebut adalah ayat Mutasyabihat yang tidak boleh dibiarkan mengikuti makna literalnya. Bahkan madzhab yang ketiga ini diriwayatkan dari Sayyidina Ali.pendapat ulama‟ salaf…. maka akan melahirkan perselisihan dengan ayat-ayat yang lain. Sedangkan dua madzhab yang terakhir dinukil dari sahabat Nabi saw. Al Imam Malik bin Anas menta‟wil turunnya Tuhan dalam hadits Shohih pada waktu tengah malam dengan turunnya perintah-Nya. Al Imam Al Bukhori menta‟wil hadits Shohih tentang tertawanya Alloh dengan rahmat Alloh. dll. dll. Ibn Masud. Membiarkan teks-teks tersebut tanpa melakukan ta‟wil belum pernah dilakukan oleh ulama salaf dan khalaf. Misalnya ayat: “Tuhan Yang Maha Pemurah ber-istawa di atas Arsy. melakukan ta‟wil atas ayat-ayat Mutasyabihat. dengan ayat: “Kepada-Nyalahnaik perkataan-perkataan yang baik. Ibn Abbas. Ibn Burhan berkata. Al Imam Ahmad bin Hanbal menta‟wil datangnya Tuhan (QS 89: 22) dengan datangnya pahala dari Tuhan.” QS Thaha: 5. madzhab yang pertama dari ketiga madzhab ini adalah pendapat yang batil. sedangkan Al Imam Al Hasan Al Bashri menta‟wilnya dengan datangnya perintah dan kepastian Tuhan.

102 H). mana yang benar? Apakah Alloh ada di atas „Arsy. bahwa Allah menerangi langit dan . v. Ayat ini jika dimaknai literal maka akan melahirkan pemahaman bahwa Alloh berada di seluruh arah di muka bumi. Akan tetapi makna surat Al Baqarah ayat 115 di atas adalah bahwa seorang musafir yang sedang melakukan shalat di atas hewan tunggangan. ke arah manapun hewan tunggangan itu menghadap selama arah tersebut adalah arah tujuannya maka di sanalah kiblat Allah sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid (W. seorang tabi‟in murid Ibn Abbas. Padahal dalam Al Quran mustahil terjadi perselisihan. dalam S. Pengertian demikian akan bertentangan dengan ayat: “Dan kepunyaan Allohlah timur dan barat. an-Nur: 35:”Allohu nuurus samaawati wal „ardl.” tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah adalah cahaya atau Allah adalah sinar. Jika memang dimaknai secara literal. maka Ia tidak menyerupai keduanya. Allah-lah yang telah menciptakan keduanya. maka kemanapun kamu menghadap di situlah „wajah‟ Alloh.„Arsy. karena Nabi Ibrahim dalam ayat tersebut mengatakan akan pergi ke Palestina. di penjuru bumi. Tetapi makna ayat ini. sebagaimana firman Alloh dalam Al Quran surat an Nisa‟: 82. Ayat 35 Surat an-Nur Dan begitulah seluruh ayat-ayat Mutasyabihat harus dikembalikan kepada ayat-ayat Muhkamat dan tidak boleh diambil secara zhahirnya. Takwil Mujahid ini diriwayatkan oleh al Hafizh al Bayhaqi dalam Kitab al Asma‟ Wa ash-Shifat. Seperti firman Allah swt. Sesungguhnya Alloh Maha Luas (Rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” QS as Shafat: 99. Karena kata cahaya dan sinar adalah khusus bagi makhluk.” QS al Baqarah: 115. Ayat ini jika dimaknai literal akan menimbulkan makna bahwa Alloh bertempat di Palestina. dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Juga dengan ayat: “Dan Ibrahim berkata: „Sesungguhnya aku pergi menuju kepada Tuhanku. atau di Palestina? Hal ini akan menimbulkan perselisihan yang nyata.

maka Allah menjawab: “Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?. yakni para malaikat dan pemberi petunjuk orang-orang mukmin dari golongan manusia dan jin.wal „iyadzu billah. salah seorang sahabat Nabi saw. Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku”. Alloh “Sakit” Diriwayatkan dalam hadits Qudsi bahwa Allah swt. vi. dan “Innaa nasiinaakum” (Sungguh Kami telah „lupa‟ pada kalian) QS. QS. As-Sajdah: 14. dan kita tidak boleh mengatakan Allah punya sifat lupa. tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” Shahih Muslim [2569]. Ini adalah kekufuran . tapi berbeda dengan sifat lupa pada diri makhluk. bulan dan bintang-bintang. bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ‟Alamin?”. Atau maknanya. . tidak seorangpun menisbatkannya kepada al Hafizh Ibn al Jawzi kecuali seorang orientalis yang bernama Brockelmann. akan lebih ekstrim lagi jika dimaknai secara literal dan tanpa ta‟wi. Dengan ayat ini kita tidak bisa menyifatkan sifat lupa kepada Allah walaupun tercantum dalam Al Quran. Takwil ini diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma‟ Wa as-Shifat. karena menjadikan Allah sebagai cahaya dan nabi Muhammad saw. Alloh “Lupa” Ayat “Nasuullaha fanasiahum” (Mereka melupakan Allah maka Allah pun „lupa‟ dengan mereka) QS At-Taubah: 67. vii. karena Allah berfirman dalam ayat yang lain: “Dan tiadalah Tuhanmu itu lupa”. yang berada di bumi yaitu petunjuk kepada keimanan. maka ia menjadi Muhammad”. Dengan demikian kita wajib mewaspadai kitab Mawlid al „Arus yang disebutkan di dalamnya bahwa “Allah menggenggam segenggam cahaya wajah-Nya kemudian berkata kepadanya: jadilah engkau Muhammad. bagian dari-Nya. Sebagaimana yang dikatakan oleh „Abdullah ibn Abbas ra. maka berkatalah keturunan Adam: “Wahai Allah. bahwa Allah adalah pemberi petunjuk penduduk langit. Maryam: 64. Kitab ini merupakan kebohongan yang dinisbatkan kepada al Hafizh Ibn al Jawzi. berfirman: “Wahai Keturunan Adam.bumi dengan cahaya matahari.

Al Imam Abu al Muzhaffar al Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din.. berkata: “Sesungguhnya Ia (Allah) ta‟ala . Disebutkan oleh al Imam ar-Rifa‟i dalam kitabnya Hal Ahl al Haqiqah ma‟a Allah. bahwa dia berkata tentang Allah: “Sesungguhnya yang menciptakan tempat tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana dan sesungguhnya yang menciptakan al kayf (sifat-sifat benda) tidak dikatakan bagi-Nya bagaimana”. Kemudian beliau ra. Bagaimanakah Cara Mengenal Allah (Ma‟rifatullah)? Al Imam ar-Rifa‟i berkata: “Batas akhir pengetahuan seorang hamba tentang Allah adalah meyakini bahwa Allah ta‟ala ada tanpa bagaimana (sifat-sifat makhluk) dan ada tanpa tempat”. Maka barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya tidaklah diterima ibadahnya sebagaimana perkataan al Imam al Ghazali: “Tidaklah sah ibadah seseorang kecuali setelah ia mengetahui Allah yang ia sembah”. Al Imam Abu Manshur Al Baghdadi dalam kitabnya al Farq Bayna al Firaq berkata: “Sesungguhnya Ahlussunnah telah sepakat bahwa Allah tidak diliputi tempat dan tidak dilalui oleh waktu”.menurut jalan golongan yang selamat. Karena seandainya Allah bertempat niscaya banyak sekali yang menyerupainya. Al Imam Syekh Abdullah al Haddad al „Alawi dalam bagian akhir kitabnya anNasha-ih ad Diniyyah menuturkan: “Aqidah ringkas yang bermanfaat -Insya Allah swt. mengutip perkataan al Imam Ali ibn Abi Thalib kw. Sedangkan makna ucapan: “Akan kau temui Aku disisinya” adalah “akan kau temui pahala-Ku dan kedermawanan-Ku dengan menjenguknya E. golongan mayoritas umat Islam.Apakah kita bisa menyifatkan „sakit‟ kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita? Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits Qudsi diatas dalam kitabnya Syarh an Nawawiy „ala Shahih Muslim bahwa yg dimaksud „sakit‟ pada Allah adalah hambaNya dan kemuliaan serta „kedekatan‟-Nya pada hamba-Nya itu. Mereka adalah golongan Ahlussunnah Wal Jama‟ah.

Al Imam Khalifatur Rasul Abu Bakr ash-Shiddiq ra. tanpa memikirkan tentang Dzat (Hakekat)-Nya. Adapun berpikir tentang makhluk Allah adalah hal yang dianjurkan karena segala sesuatu merupakan tanda akan ada-Nya. Perkataan ini dikutip dari Imam Ahmad ibn Hanbal oleh Abu al Fadll atTamimi dalam kitabnya I‟tiqad al Imam al Mubajjal Ahmad ibn Hanbal dan diriwayatkan dari Dzu an-Nun al Mishri oleh al Hafizh al Khathib al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad. Karena tidaklah dapat dibayangkan kecuali yang bergambar. maka lebih utama kita beriman dan percaya bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak bisa kita bayangkan. berpisah.yang di dalamnya tidak ada cahaya dan kegelapan. Jika demikian halnya yang terjadi pada makhluk. Maksudnya adalah kita beriman bahwa Allah ada tidak seperti makhluk-Nya. QS al An‟am: 1. Allah berfirman dalam al Qur‟an: “… dan yang telah menjadikan kegelapan dan cahaya” . Dan Allah adalah Maha Pencipta segala gambar dan bentuk.Maha suci dari zaman. keduanya memiliki permulaan. Sebagaimana kita tidak bisa membayangkan suatu masa sedangkan masa adalah makhluk. Berkata yang maknanya: “Pengakuan bahwa pemahaman seseorang tidak mampu untuk sampai mengetahui hakekat Allah adalah keimanan. maka Ia tidak ada yang menyerupai-Nya. tempat dan maha suci dari menyerupai akwan (sifat berkumpul. Akan tetapi kita beriman dan membenarkan bahwa cahaya dan kegelapan. sedangkan mencari tahu tentang hakekat Allah. Al Imam Ahmad ibn Hanbal dan al Imam Dzu an-Nun al Mishri salah seorang murid terkemuka al Imam Malik menuturkan kaidah yang sangat bermanfaat dalam ilmu Tauhid: “Apapun yang terlintas dalam benak kamu (tentang Allah). Ini adalah kaidah yang merupakan Ijma‟ (konsensus) para ulama. yakni membayangkan-Nya adalah kekufuran dan syirik”. bergerak dan diam) dan tidak diliputi oleh satu arah penjuru maupun semua arah penjuru”. Allah-lah yang menciptakan keduanya. maka Allah tidak seperti itu”. Perkataan Sayyidina Abu Bakr . Keduanya tidak ada kemudian menjadi ada.

maka dia telah kafir“. Ahlussunnah dan Para Sufi Menentang Paham Hulul dan Wahdatul Wujud Ahlussunnah Wal Jama‟ah mengatakan: “Sesungguhnya Allah tidaklah bertempat pada sesuatu. Allah menempati sesuatu. Al Imam Ar-Rifa‟i ra.Sesungguhnya Allah tidaklah mengampuni orang yang mati dalam keadaan syirik atau kufur sedangkan orang yang mati dalam keadaan muslim tetapi ia melakukan dosa-dosa di bawah kekufuran maka ia tergantung kepada kehendak Allah. tidak terpecah dari-Nya sesuatu dan tidak menyatu dengan-Nya sesuatu. Beliau juga mengatakan: “Jauhilah perkataan Wahdat al Wujud yang banyak diucapkan oleh orang-orang yang mengaku sufi dan jauhilah sikap berlebih-lebihan dalam agama karena sesungguhnya melakukan dosa itu lebih ringan dari pada terjatuh dalam kekufuran. . berkata: “Ada dua perkataan (yang diucapkan dengan lisan meskipun tidak diyakini dalam hati) yang bisa merusak agama: perkataan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya (Wahdat al Wujud) dan berlebih-lebihan dalam mengagungkan para Nabi dan para wali. Syekh Abd al Ghani an-Nabulsi ra. Al Imam al Junayd al Baghdadi penghulu kaum sufi pada masanya berkata: “Seandainya aku adalah seorang penguasa niscaya aku penggal setiap orang yang mengatakan tidak ada yang maujud (ada) kecuali Allah“.ra. dalam kitabnya al Faidl ar-Rabbani berkata: “Barangsiapa yang mengatakan bahwa Allah terpisah dari-Nya sesuatu. Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari makhluk-Nya”. jika Allah menghendaki Ia akan menyiksa orang yang Ia kehendaki dan jika Allah berkehendak. tersebut diriwayatkan oleh seorang ahli Fiqih dan hadits al Imam Badr ad-Din azZarkasyi as-Syafi‟i dan lainnya. Dinukil oleh Syekh Abd al Wahhab asy-Sya‟rani dalam kitabnya al Yawaqit Wal Jawahir. F. yakni melampaui batas yang disyariatkan Allah dalam mengagungkan mereka“. Ia akan mengampuni orang yang Ia kehendaki“.

Rifa‟iyyah berkata: “Sesungguhnya mengatakan Wahdah al Wujud (Allah menyatu dengan makhluk-Nya) dan Hulul (Allah menempati makhluk-Nya) menyebabkan kekufuran dan sikap berlebih-lebihan dalam agama menyebabkan fitnah dan akan menggelincirkan seseorang ke neraka. agar engkau selamat di dunia dan hari kiamat kelak”. Demikian juga dijelaskan oleh ulama-ulama lain. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdul Wahhab asy. dalam kitabnya atThariqah ar. G. Maksudnya hendaklah engkau selalu menjaga lidah dari segala perkataan yang diharamkan oleh agama terutama perkataan yang menyebabkan seseorang jatuh pada kekufuran. jika ia dalam keadaan berakal (sadar) maka dia dihukumi murtad (kafir)“. .Sya‟rani dalam kitabnya Lathaif al Minan Wa al Akhlaq menukil dari para ulama. Maksiat Lidah dan Macam-macam Kekufuran Sebagian ulama berkata: “Hendaklah engkau memperbanyak diam wahai orang yang berakal. karenanya wajib dijauhi“. sebab hal itu merupakan maksiat lidah yang paling besar. Syekh al „Alim Abu al Huda ash-Shayyadi ra. juga mengatakan dalam kitabnya al Kawkab ad-Durriy: “Barangsiapa mengatakan saya adalah Allah dan tidak ada yang mawjud (ada) kecuali Allah atau dia adalah keseluruhan alam ini.Shayyadi ra.Dua perkataan al Imam Ahmad ar-Rifa‟i tersebut dinukil oleh al Imam ar-Rafi‟i asySyafi‟i dalam kitabnya Sawad al „Aynayn fi Manaqib Abi al „Alamain. Syekh al „Alim Abu al Huda ash. Al Imam Syekh Muhyiddin ibn „Arabi mengatakan: “Tidak akan meyakini Wahdah al Wujud kecuali para mulhid (atheis) dan barangsiapa yang meyakini Hulul maka agamanya rusak (Ma‟lul)”. Salah seorang khalifah Syekh Ahmad ar-Rifa‟i (dalam Thariqah ar-Rifa‟iyyah) pada abad XIII H. Sedangkan perkataan-perkataan yang terdapat dalam kitab Syekh Muhyiddin ibn „Arabi yang mengandung aqidah Hulul dan Wahdah al Wujud itu adalah sisipan dan dusta yang dinisbatkan kepadanya.

Kufur Qauli.Nya. menentang-Nya. mencaci maki nabi. seperti mencaci Allah. Kufur I‟tiqadi. “Mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah. Alloh berfirman: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka katakan) tentulah mereka akan menjawab sesungguhnya kami hanyalah bersendagurau dan bermain-main saja. Rasul-Nya. bahwa mereka telah mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). perbuatan atau perkataan yang mengandung pelecehan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kufur dan menjadi kafir sesudah mereka sebelumnya muslim …” (QS at-Taubah: 74) Qoidah i. seperti sujud kepada berhala. hukum-hukum-Nya.Para ulama dari kalangan empat madzhab membagi kufur menjadi tiga macam: i. Setiap keyakinan. melempar mushhaf atau lembaranlembaran yang bertuliskan ayat al Qur‟an atau nama-nama yang diagungkan ke tempat sampah atau menginjaknya dengan sengaja dan lain-lain. . Kufur Fi‟li. ayatayat-Nya dan rasul-Nya kamu berolokolok?. tidak usah kamu minta maaf. bersemayam atau duduk di atas „arsy. malaikat-Nya. Alloh berfirman dalam Al Quran: “Sesungguhnya orangorang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu…” (QS al Hujurat: 15) ii. Alloh berfirman dalam Al Quran: “Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan…” (QS Fushshilat: 37) iii. atau meyakini Allah seperti cahaya atau semacamnya. syi‟ar agama. karena kamu telah kafir sesudah beriman …” (QS at-Tubah 65-66). mengharamkan perkaraperkara yang jelasjelas halal. meremehkan janji dan ancaman Allah. seperti orang yang meyakini bahwa Allah berada di arah atas atau arah-arah lainnya. Katakanlah apakah terhadap Allah. menghalalkan perkara-perkara yang jelas-jelas haram dan lain-lain. malaikat atau Islam.

Barang siapa yang jatuh pada salah satu macam kekufuran tersebut maka ia dihukumi kafir. tidak sedang sabq al-lisan dan tidak dalam keadaan dipaksa dengan ancaman bunuh. .janji-janji dan ancaman-Nya adalah kekufuran maka hendaklah seseorang menjauhi semua ini dengan segala upaya serta dalam keadaan apapun. meski dia tidak mengetahui bahwa kata yang dia ucapkan menyebabkan kekufuran. maka ia dihukumi kafir. Meski dia dalam keadaan marah atau bercanda. Dan wajib baginya meninggalkan kekufuran tersebut dan segera masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimah Syahadat. Jika ia membaca istighfar sebelum mengucapkan syahadat maka istighfar tersebut tidak bermanfaat baginya. Meskipun dia tidak berniat untuk keluar dari agama Islam. iii. Para ulama Islam menyepakati (Ijma‟) bahwa orang yang jatuh dalam kufur yang sharih (tidak mempunyai kemungkinan arti lain selain kufur). ii. Ini adalah ijma‟ para ulama.

entah darimana pula mereka menemukan makna kalimat Istawa adalah semayam. mempunyai tangan.ARTIKEL AL HABIB MUNZIR BIN FUAD AL MUSAWA* TENTANG AYAT MUTASYABBIHAT Tuesday. mereka selalu mencoba menusuk kepada “jantung Tauhid” yang sedikit saja salah memahami maka akan terjatuh dalam jurang kemusyrikan. Maka bila di suatu tempat adalah tengah malam.758. Jelaslah bahwa hujjah yg mengatakan Allah ada di Arsy telah bertentangan dengan Hadits . yang hanya membuat kerancuan dalam kesucian Tauhid Ilahi pada benak muslimin. berarti berwujud seperti makhluk. tentulah berarti Allah itu selalu bergelantungan mengitari Bumi di langit yg terendah. wajah dll. maka waktu tengah malam itu tidak sirna. dengan menafsirkan kalimat istiwa dengan makna ”BERSEMAYAM atau ADA DI SUATU TEMPAT” . yg sebagian kaum muslimin sesat sangat gemar membahasnya dan mengatakan bahwa Allah itu bersemayam di Arsy. sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim hadits no. tapi terus berpindah ke arah barat dan terus ke yang lebih barat. sedangkan dalam Hadits Qudsiy disebutkan Allah swt turun ke langit yg terendah saat sepertiga malam terakhir. karena bertentangan dengan ayat-ayat dan Nash Hadits lain. Sebagaimana makna Istiwa. dan menunjukkan rapuhnya pemahaman mereka. akan tetapi karena semaraknya masalah ini diangkat ke permukaan. sedangkan kita memahami bahwa waktu di permukaan bumi terus bergilir. 26 June 2007 Ayat Tasybih Mengenai ayat mutasyabih yg sebenarnya para Imam dan Muhadditsin (Ahli Hadits) selalu berusaha menghindari untuk membahasnya. padahal tak mungkin kita katakan bahwa Allah itu bersemayam disuatu tempat. maka perlu kita perjelas mengenai ayat-ayat dan hadits tersebut. maka dimana Allah sebelum Arsy itu ada? Dan berarti Allah membutuhkan ruang. seperti membahas bahwa Allah ada di langit. Bila kita mengatakan Allah ada di Arsy. namun justru sangat digandrungi oleh sebagian kelompok muslimin sesat masa kini. maka semakin ranculah pemahaman ini.

dan menjadi tangannya yg ia gunakan untuk memerangi.!”. Demikian ucapan Imam Malik pada penanya ini. dan hadits Qudsiy mengatakan Allah di langit yg terendah. hingga ia mengatakannya : ”kulihat engkau ini orang jahat”. Lalu bagaimana dengan firman-Nya: ”Mereka yg berbai‟at padamu sungguh mereka telah berbai‟at pada Allah. dan Hamba Ku terus mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah baginya hingga Aku mencintainya. bertanya tentang ini adalah Bid‟ah Munkarah). percaya akannya wajib.6137). yg berarti Allah itu tetap di langit yg terendah dan tak pernah kembali ke Arsy. tentunya seorang Imam Mulia yg menjadi Muhaddits Tertinggi di Madinah Al Munawwarah di masanya yg beliau itu Guru Imam Syafii ini tak sembarang mengatakan ucapan seperti itu. . bila Aku mencintainya maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar. dan matanya yg ia gunakan untuk melihat.Qudsiy di atas. keluarkan dia. lalu mengusirnya. Berkata Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Malik rahimahullah ketika datang seseorang yg bertanya makna ayat : ”Arrahmaanu ‟alal Arsyistawa”. wa su‟al ‟anhu bid‟ah (tidak diketahui maknanya. Juga sebagaimana Hadits Qudsiy yg mana Allah berfirman: ”Barangsiapa memusuhi waliku sungguh kuumumkan perang kepadanya. dan tidak boleh mengatakannya mustahil. Ma‟qul. dan kakinya yg ia gunakan untuk melangkah. bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya….” (shahih Bukhari hadits no. tiadalah hamba Ku mendekat kepada Ku dengan hal hal yg fardhu.. Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS Al Fath 10)? Di saat Bai‟at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yg turut berbai‟at pada sahabat. dan kulihat engkau ini orang jahat. Sedangkan ayat itu mengatakan bahwa Allah ada di Arsy. Imam Malik menjawab: ”Majhul. Imaan bihi wajib. kecuali menjadi dalil bagi kita bahwa hanya orang-orang yg tidak baik yang mempermasalahkan masalah ini.

keberkahan Allah. Tabiin dan Imam-imam Ahlussunnah wal Jamaah. ia berkata ”Nu‟minu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna” (Kita percaya dg hal itu. Imam Bukhari. penglihatan. . Madzhab inilah yg juga di pegang oleh Imam Abu Hanifah. pertolongan Allah. 1. (syarah Jauharat Attauhid oleh Imam Baajuri). Pendapat ini juga terdapat dalam Al Qur‟an dan Sunnah.Maka hadits Qudsiy di atas tentunya jelas-jelas menunjukkan bahwa pendengaran. dan ayat : ”Innaa nasiinaakum” (sungguh Kami telah lupa pada kalian) (QS Assajdah 14). Pendapat Tafwidh ma‟a Tanzih Madzhab tafwidh ma‟a tanzih yaitu mengambil dzahir lafadz dan menyerahkan maknanya kepada Allah swt. dan sungguh maknanya bukanlah berarti Allah menjadi telinga. bagi mereka yg taat pada Allah akan dilimpahi cahaya kemegahan Allah. 2. Seperti ayat : ”Nasuullaha fanasiahum” (mereka melupakan Allah maka Allah pun lupa dengan mereka) (QS Attaubah:67).Imam Nawawi dll. dengan i‟tiqad tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan). mata. juga banyak dipakai oleh para Sahabat. Masalah ayat/hadist tasybih (tangan/wajah) dalam ilmu tauhid terdapat dua pendapat dalam menafsirkannya. dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh tapi menyerupakan Allah dg mahluk. sebagaimana Imam Syafii. dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena terdapat penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya. bukan seperti para imam yg memegang madzhab tafwidh. kekuatan Allah. dan tanpa makna). Pendapat Ta‟wil Madzhab takwil yaitu menakwilkan ayat/hadist tasybih sesuai dg Keesaan dan Keagungan Allah swt. Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat. dan panca indera lainnya. tangan dan kakinya. dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana.

tapi berbeda dg sifat lupa pada diri makhluk. Jakarta. tabiin.2569) apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita? Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits Qudsiy di atas dalam kitabnya yaitu Syarah Annawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yg dimaksud sakit pada Allah adalah hamba Nya. Khadam Majelis Rasulullah SAW. *Beliau adalah Ulama dari kalangan Ahlul Bait Bani „Alawiy (Baa Alwi) BaaHusain. maka salam sejahtera lah bagi para Rasul. dan segala puji atas tuhan sekalian alam”. Imam Ibnul Jauziy dll (lihat Daf‟ussyubhat Attasybiih oleh Imam Ibn Jauziy).majelisrasulullah. seperti Imam Ibn Abbas. (QS Asshaffat 180-182). Imam Malik. dan para Imam Ahlussunnah wal Jamaah yg berpegang pada pendapat Ta‟wil. www. Imam Abul Hasan Al Asy‟ariy. maka berkatalah keturunan Ada : Wahai Allah.org . Imam Bukhari. Kabilah Al Musawa. dan kita tidak boleh mengatakan Allah punya sifat lupa.Dengan ayat ini kita tidak bisa menyifatkan sifat lupa kepada Allah walaupun tercantum dalam Al Qur‟an. Maka jelaslah bahwa akal tak akan mampu memecahkan rahasia keberadaan Allah swt. Aku sakit dan kau tak menjenguk Ku. dan kemuliaan serta kedekatan Nya pada hamba Nya itu. ”wa ma‟na wajadtaniy indahu ya‟niy wajadta tsawaabii wa karoomatii indahu” dan makna ucapan : “akan kau temui Aku disisinya” adalah akan kau temui pahalaku dan kedermawanan Ku dengan menjenguknya (Syarh Nawawi ala shahih Muslim Juz 16 hal 125) Dan banyak pula para sahabat. Imam Tirmidziy. sebagaimana firman Nya: ”Maha Suci Tuhan Mu Tuhan Yang Maha Memiliki Kemegahan dari apa apa yg mereka sifatkan. karena Allah berfirman : ”dan tiadalah Tuhanmu itu lupa” (QS Maryam 64) Dan juga diriwayatkan dalam hadits Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : ”Wahai Keturunan Adam. bagaimana aku menjenguk Mu sedangkan Engkau Rabbul ‟Alamin? Maka Allah menjawab: Bukankah kau tahu hamba Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya? Tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits no.

. dan barangsiapa yang disibukkan dengan hal-hal yang sunnah dari yang fardlu (sehingga dia tidak melaksanakannya) maka dia adalah orang yang tertipu (setan menampakkan amal ini di matanya sebagai amal yang baik padahal amal-amal yang fardlu itu lebih banyak mendekatkan diri seseorang kepada Allah dari pada amal-amal yang sunnah)”. Termasuk di antara hal-hal yang difardlukan oleh agama adalah menyebarkan aqidah Ahlussunnah Wal Jama‟ah dan memperingatkan masyarakat dari orang-orang yang menyalahinya.“Barang siapa disibukkan dengan hal-hal yang fardlu dari hal-hal yang sunnah (sehingga tidak sempat melakukannya) maka dia (dianggap) ma‟dzur (diterima alasannya dan dimaklumi). Dituturkan oleh al Hafizh Ibnu Hajar al „Asqalani dalam Fathul Baari bi Syarh al Bukhari.

Kami menempatkan pelanggan pertama .Kami profesional . Ini didukung oleh visi kita tentang dunia komunikasi-kaya . mempunyai pengaruh signifikan terhadap keputusan pemasaran. internet .BT Group . mobile. Mereka telah menciptakan sebuah obsesi tentang kemenangan yang dikomunikasikan pada semua tingkatan . budaya. Nilai memberikan pembenaran perilaku dan. kelas atau pendidikan.sebuah dunia di mana setiap orang dapat manfaat dari kekuatan keterampilan komunikasi dan teknologi. melalui keragaman teknologi komunikasi termasuk suara. organisasi dan masyarakat memiliki akses tak terbatas pada satu sama lain dan dunia pengetahuan. Perhatikan contoh-contoh berikut bisnis terkenal . data. terlepas dari geografi.mendefinisikan nilainilainya: kegiatan BT adalah didukung oleh seperangkat nilai-nilai yang semua orang BT diminta untuk menghormati: .Nilai-Nilai dan Visi Pengantar Nilai dan Visi Nilai membentuk dasar dari gaya manajemen bisnis '. atau kompleksitas. Tugas kita adalah untuk memfasilitasi komunikasi yang efektif.Kami bekerja sebagai satu tim . oleh karena itu.terlepas dari kebangsaan.Kami berkomitmen untuk perbaikan terus-menerus. Sebuah masyarakat di mana individu.Kami menghormati satu sama lain .MANAJEMEN PEMASARAN Perencanaan Pemasaran . Sumber: BT Group plc situs web Mengapa nilai-nilai penting dalam pemasaran? Banyak perusahaan Jepang telah menggunakan sistem nilai untuk memberikan motivasi untuk membuat mereka pemimpin pasar global. jarak waktu.

Pada akhir 1980-an telah berlalu Caterpillar sebagai pemimpin dunia dalam peralatan bumi yang bergerak.usaha yang telah memungkinkan mereka untuk mengambil pangsa pasar dari pesaing yang tampaknya tak tergoyahkan.Harus sepenuhnya dikomunikasikan . pada awal tahun 1970-an Komatsu kurang dari sepertiga ukuran pemimpin pasar . apa yang dimaksud dengan "visi" dan bagaimana cara berhubungan dengan perencanaan pemasaran? Untuk berhasil dalam jangka panjang.Menyediakan arah masa depan . Ini membantu menetapkan arah strategi perusahaan dan pemasaran. Misalnya. Visi dari bisnis memberikannya energi. Itu juga mengadopsi strategi diversifikasi agresif yang menyebabkan ke pasar seperti robot industri dan semikonduktor.Mengungkapkan manfaat konsumen . Apa saja komponen dari sebuah visi bisnis yang efektif? Davidson mengidentifikasi enam persyaratan untuk sukses: . Ini membantu memotivasi karyawan. Jika "nilai" membentuk perilaku bisnis.Apakah realistis . perusahaan perlu visi tentang bagaimana mereka akan berubah dan ditingkatkan di masa mendatang.Konsisten diikuti dan diukur .Caterpillar .Apakah memotivasi .dan mengandalkan hanya pada satu baris buldoser kecil untuk sebagian besar pendapatannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful