You are on page 1of 47

BAB I Pendahuluan 1.

1 Latar Belakang Informasi laba sebagai bagian dari laporan keuangan sering menjadi target rekayasa melalui tindakan oportunis manajemen untuk memaksimumkan kepuasannya, tetapi dapat merugikan pemegang saham atau investor. Tindakan oportunis tersebut dilakukan dengan cara memilih kebijakan akuntansi tertentu, sehingga laba perusahaan dapat diatur, dinaikkan atau diturunkan sesuai dengan keinginannya. Perilaku manajemen untuk mengatur laba sesuai dengan keinginannya tersebut dikenal dengan istilah manajemen laba (earnings management ). Manajemen laba timbul sebagai dampak persoalan keagenan yaitu adanya ketidak selarasan kepentingan antar pemilik dan manajemen. Menurut teori keagenan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance=GCG). Corporate Governance (CG) merupakan suatu mekanisme yang digunakan pemegang saham dan kreditor perusahaan untuk mengendalikan tindakan manajer. Mekanisme tersebut dapat berupa mekanisme internal yaitu; struktur kepemilikan, struktur dewan komisaris, konpensasi eksekutif, struktur bisnis multidivisi, dan mekanisme eksternal yaitu; pengendalian oleh pasar, kepemilikan institusional, dan pelaksanaan audit oleh auditor eksternal Tindakan oportunis manajemen laba dapat merugikan pemegang saham, dan informasi laba yang

disajikan dapat menyebabkan keputusan investasi yang salah. Karena itu, perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi manajemen laba Good Corporate Governance merupakan tata kelola perusahaan yang menjelaskan hubungan antara berbagai partisipan dalam perusahaan yang menentukan arah kinerja perusahaan. Isu mengenai Good Corporate Governance mulai mengemuka, khususnya di Indonesia pada tahun 1998 ketika Indonesia mengalami krisis yang berkepanjangan. Banyak pihak yang mengatakan lamanya proses perbaikan di Indonesia disebabkan oleh sangat lemahnya Corporate Governance yang diterapkan dalam perusahaan di Indonesia. Sejak saat itu, baik pemerintah maupun investor mulai memberikan perhatian yang cukup signifikan dalam praktek Corporate Governance. Corporate Governance tidak saja berakibat positif bagi pemegang saham, namun juga bagi masyarakat yang lebih luas yang berupa pertumbuhan ekonomi. Karena itulah berbagai lembaga-lembaga ekonomi dan keuangan dunia sangat berkepentingan terhadap penegakan Corporate Governance dinegara penerima dana karena mereka menganggap bahwa Corporate Governance merupakan bagian penting sistem pasar yang efisien. Pasar dikatakan efesien apabila memenuhi dua kriteria, yaitu harga saham mencerminkan semua informasi yang releven saat itu dan karena informasi menyebar secara merata maka reaksi harga terhadap informasi baru terjadi seketika karena semua pemain dipasar telah memiliki antisipasi cukup. Buruknya pelaksanaan Corporate Governance dapat meningkatkan risiko

berinvestasi yang berimplikasi pada rendahnya minat investor atau kreditur untuk

menyalurkan investasi atau kreditnya. Corporate Governance adalah salah satu pilar dari sistem ekonomi pasar yang berkaitan erat dengan kepercayaan baik terhadap perusahaan yang melaksanakannya maupun terhadap iklim usaha di suatu negara. Penerapan Corporate Governance mendorong terciptanya persaingan yang sehat dan iklim usaha yang kondusif. Penerapan Corporate Governance merupakan salah satu upaya yang cukup signifikan untuk melepaskan diri dari krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Peran dan tuntutan investor dan kreditor asing mengenai penerapan prinsip Corporate Governance merupakan salah satu faktor dalam pengambilan keputusan berinvestasi pada suatu perusahaan. Penerapan prinsip dalam dunia usaha di Indonesia merupakan tuntutan zaman agar perusahaan-perusahaan yang ada jangan sampai terlindas oleh persaingan global yang semakin keras. Prinsip-prinsip dasar dari Corporate Governance pada dasarnya memiliki tujuan untuk memberikan kemajuan terhadap kinerja suatu perusahaan. Corporate Governance lebih condong pada serangkaian pola perilaku perusahaan yang diukur melalui kinerja, pertumbuhan, struktur pembiayaan, perlakuan terhadap para pemegang saham, dan stakeholders. Sehingga dapat dijadikan sebagai dasar analisis dalam mengkaji Corporate Governance di suatu negara dengan memenuhi transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan yang sistematis yang dapat digunakan sebagai dasar pengukuran yang lebih akurat mengenai kinerja perusahaan dan bagaimana korelasi antar kebijakan tentang buruh dan kinerja

perusahaan. Meskipun kinerja ekonomi pemerintah yang lalu diwarnai oleh beberapa pelanggaran prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (Good Corporate Governance),

baik di pasar modal, perbankan, maupun di sektor riil akibat krisis yang melanda Indonesia lalu sebaiknya prinsip-prinsip Corporate Governance tetap dapat dijalankan secara amanah, akuntabel, transparan dan fair untuk mencapai tujuan terciptanya nilai kinerja perusahaan jangka panjang seraya terlayaninya semua kepentingan pihak yang berkepentingan dengan jalannya perusahaan (stakeholders). Manajemen laba juga sebagai suatu fenomena dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yang menjadi pendorong timbulnya fenomena tersebut. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi manajemen laba yaitu bonus plan hypothesis, debt to equity hypothesis, dan political cost hypothesis. Hipotesis bonus plan menyatakan bahwa manajer pada perusahaan dengan bonus plan cenderung untuk menggunakan metode akuntansi yang akan meningkatkan income saat ini. Debt to equity hypothesis menyebutkan bahwa pada perusahaan yang mempunyai rasio debt to equity besar maka manajer perusahaan tersebut cenderung menggunakan metode akuntansi yang akan meningkatkan pendapatan maupun laba. Adapun political cost hypothesis menyatakan bahwa perusahaan yang besar, yang kegiatan operasinya menyentuh sebagian besar masyarakat akan cenderung untuk mengurangi laba yang dilaporkan.

Beberapa peneliti menemukan bahwa asimetri informasi dapat mempengaruhi manajemen laba. Teori keagenan (Agency Theory) mengimplikasikan adanya asimetri informasi antara manajer sebagai agen dan pemilik (dalam hal ini adalah pemegang saham) sebagai prinsipal. Asimetri informasi muncul ketika manajer lebih mengetahui

Kualitas laporan keuangan akan mencerminkan tingkat manajemen. Adanya asimetri informasi akan mendorong manajer untuk menyajikan informasi yang tidak sebenarnya terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan pengukuran kinerja manajer. Richardson (1998) melakukan penelitian tentang “Asimetri informasi terhadap Manjemen Laba” berpendapat bahwa terdapat hubungan yang sistematis antara magnitut asimetri informasi dengan tingkat manajemen laba.informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemegang saham dan stakeholder lainnya. ketika terdapat asimetri informasi. serta dampaknya terhadap kinerja keuangan perusahaan. manajer dapat memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada investor guna memaksimisasi nilai saham perusahaan. Musnadi (2006) melakukan penelitian tentang struktur kepemilikan sebagai mekanisme corporate govenrnance. Hasilnya menunjukan bahwa kepemilikan terkonsentrasi terbesar memiliki pengaruh positif . Sinyal yang diberikan dapat dilakukan melalui pengungkapan (disclosure) informasi akuntansi. dikaitkan dengan peningkatan nilai perusahaan. Fleksibelitas manajemen untuk memanajemeni laba dapat dikurangi dengan menyediakan informasi yang lebih berkualitas bagi pihak luar. 2. dengan menggunakan emiten non financial yang berkapitalisasi menengah besar yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (sekarang BEI). Beberapa replika penelitian terdahulu yang digunakan penulis untuk dijadikan acuan dalam melakukan penelitian ini yaitu: 1.

Ini mengindikasikan bahwa . Selain itu semakin besar perusahaan. Nuryaman (2005) melakukan penelitian tentang Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan. dan Mekanisme Corporate Governance terhadap Manajemen Laba. 3. karena salah satu alasan utamanya adalah perusahaan besar harus mampu memenuhi ekspektasi dari investor atau pemegang sahamnya. Pendekatan ini digunakan untuk menentukan nilai abnormal accruals. Perusahaan besar mempunyai insentif yang cukup besar untuk melakukan manajemen laba. Penelitian ini menggunakan model modified Jones untuk menentukan earnings management. dengan menggunakan pendekatan cross section yang dikembangkan oleh Peasnell dkk (2000). Ukuran Perusahaan. sehingga mendorong manajemen bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham.terhadap kinerja keuangan perusahaan. Penelitian Defond (1993) dalam Veronica dan Bachtiar (2003) menemukan bahwa ukuran perusahaan berkorelasi secara positif dengan manajemen laba. semakin banyak estimasi dan penilaian yang perlu diterapkan untuk tiap jenis aktivitas perusahaan yang semakin banyak. Hasil ini bermakna bahwa kepemilikan saham terkonsentrasi dapat berperan sebagai mekanisme corporate governance dalam mengurangi persoalan keagenan. dengan memfokuskan pada komponen working capital accruals. Hasilnya menunujukkan bahwa konsentrasi kepemilikan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. sebab konsentrasi kepemilikan dapat menjadikan pemegang saham pada posisi yang kuat untuk dapat mengendalikan manajemen secara efektif. 4.

1. sedangkan model tersebut tidak difahami oleh praktisi.2 Rumusan Masalah Sesuai dengan latar belakang dan judul penelitian. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk meneliti ulang penelitian sebelumnya dan mengembil judul “ Pengaruh Good Corporate Governance (GCG). maka yang menjadi pokok permasalahan adalah : . Kepemilikan Manajerial. dan Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya pada proksi manajemen laba yaitu dengan menggunakan proksi akrual modal kerja. Dalam Utami (2005) Manajemen laba yang diproksi dengan rasio akrual modal kerja dengan penjualan terbukti memberikan kontribusi yang paling besar dalam menjelaskan variasi biaya modal ekuitas. Para akademisi banyak menggunakan model statistik yang rumit untuk mengidentifikasi praktik manajemen laba. sehingga mampu membatasi manajemen laba di perusahaan.konsentrasi kepemilikan dapat menjadi mekanisme corporate governance bagi perusahaan. Asimetri Informasi.

Apakah Good Corporate Governance.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Kepemilikan Manajerial. Asimetri Informasi. Kepemilikan Manajerial. Meneliti kembali variabel-variabel yang ada pada penelitian sebelumnya dengan menambah faktor lain yang mempengaruhi manajemen laba yaitu asimetri informasi dan kepemilikan manajerial. Untuk menambah pengetahuan mengenai Good Corporate Governance 1. Bagi investor . Mengetahui apakah Good Corporate Governance. 3. dan Ukuran Perusahaan Berpengaruh Terhadap Manajemen Laba? 1.4 Manfaat Penelitian Penelitian yang akan dilaksanakan ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang positif bagi : 1. Asimetri Informasi. dan Ukuran Perusahaan berpengaruh terhada Manajmen Laba 2.

terutama dalam menilai kualitas laba yang dilaporkan dalam laporan keuangan. maka kerangka dari penelitian ini adalah : Good Coorporate Governance . 2. Bagi kreditur Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar dan pertimbangan dalam pengambilan keputusan pemberian kredit dan memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah kredit yang diberikan dapat dibayar perusahaan pada saat jatuh tempo.5 Kerangka Penelitian Berdasarkan latar belakang diatas dan penelitian terdahulu. 4. Bagi akademisi Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan dan pedoman bagi peneliti di masa yang akan datang yang juga tertarik membahas permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini. 3.Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar masukan dan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi saham. Bagi pengelola pasar modal Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan dan pertimbangan mengenai sejauh mana asimetri informasi dan ukuran perusahaan itu mempengaruhi manajemen laba sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu acuan untuk mendorong perusahaan agar menyajikan informasi yang lebih berkualitas bagi pihak luar. 1.

Tujuan dan Manfaat dari penelitian ini. Bab I Pendahuluan Bab ini memaparkan Latar Belakang Masalah yang mendorong dilakukannya penelitian ini. di dalam bab ini juga dipaparkan Perumusan Masalah. . Sebagai bagian akhir dari bab ini adalah Sistematika Penulisan.6 Sistematika Penulisan Penulisan skripsi ini menggunakan sistematika untuk masing-masing bab sebagai berikut. Bab II Tinjauan Pustaka Bab ini memaparkan tinjauan pustaka yang berkaitan dengan teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini seperti Pelaporan Keuangan.Asimetri Informasi Manajemen Laba Kepemilikan Manajerial Ukuran perusahaan Gambar 1: Kerangka Pikir Penelitian 1. Selain itu.

alat analisis data serta pengujian hipotesis.1. Bab IV Analisis Data Bab ini berisi analisis terhadap data yang telah diperoleh dari pelaksanaan penelitian ini.1 Tinjauan Teoritis 2.Faktor-faktor yang mempengaruhi Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan. Bab III Metode Penelitian Bab ini memaparkan metode penelitian yang digunakan untuk melakukan penelitian ini. Dalam bab ini juga ditinjau penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini. Sebagai bagian akhir dari bab ini disampaikan hipotesis penelitian.1 Good Corporate Governance 2.1 Pengertian Corporate Governance . subyek dan obyek penelitian. Di dalam bab ini dijelaskan populasi. Bab V Kesimpulan dan Saran Bab ini merupakan bagian akhir dari penulisan skripsi ini. BAB II Landasan Teori 2.1. Di dalam bab ini disampaikan beberapa kesimpulan serta saran yang relevan dengan temuan atau hasil penelitian yang telah dilakukan.1. Analisis yang dilakukan dalam bab ini mencakup analisis deskriptif dan pengujian hipotesis.

Saat ini Pemerintah sedang berupaya untuk menerapkan Good Corporate Governance dalam birokrasinya dalam rangka menciptakan Pemerintah yang bersih dan berwibawa. Corporate Governance (FCGI) didefinisikan sebagai seperangkat peraturan yang menetapkan hubungan antara pemegang saham. pemerintah. dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders yang lain. pengurus. Penerapan Good Corporate Governance juga diharapkan dapat menunjang upaya pemerintah dalam menegakkan Good Corporate Governance pada umumnya di Indonesia. pihak kreditur. Corporate Governance berkaitan erat dengan kepercayaan baik terhadap perusahaan yang melaksanakannya maupun terhadap iklim usaha di suatu negara.Good Corporate Governance (GCG) menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) adalah salah satu pilar dari sistem ekonomi pasar. Corporate Governance juga mensyaratkan adanya struktur perangkat untuk mencapai tujuan dan pengawasan atas kinerja. dengan tujuan utama meningkatkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang. Corporate Governance didefinisikan oleh Monks dan Minow dalam Darmawati (2005) adalah sebagai hubungan partisipan dalam menentukan arah dan kinerja Corporate Governance didefinisikan oleh IICG (Indonesian institute of Corporate Governance) sebagai proses dan struktur yang diterapkan dalam menjalankan perusahaan. Penerapan Good Corporate Governance mendorong terciptanya persaingan yang sehat dan iklim usaha yang kondusif. Oleh karena itu diterapkannya Good Corporate Governance oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia sangat penting untuk menunjang pertumbuhan dan stabilitas ekonomi yang berkesinambungan. karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan .

sistem peradilan. memiliki tujuan terhadap perusahaan sebagai berikut : . menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para pemegang saham maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan. peraturan dan kaidah yang wajib dipenuhi. dan sebagainya yang mempengaruhi perilaku perusahaan. penerapan prinsip Good Corporate Governance secara konkret. yang pada dasarnya memiliki tujuan untuk memberikan kemajuan terhadap kinerja suatu perusahaan. pasar keuangan. 2. yaitu segala ketentuan hukum baik yang berasal dari sistem hukum. struktur pembiayaan.1. Secara umum. lebih condong pada serangkaian pola perilaku perusahaan yang diukur melalui kinerja. atau dengan kata lain sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan. pertumbuhan.1.ekstern lainnya sehubungan dengan hak-hak dan kewajiban mereka.2 Prinsip-prinsip Good Corporate Governance Prinsip-prinsip dasar dari Good Corporate Governance (GCG). Kategori kedua lebih melihat pada kerangka secara normatif. Kategori pertama. Pengertian tentang corporate governance dapat dimasukkan dalam dua kategori. Corporate Governance merupakan kumpulan hukum. perlakuan terhadap para pemegang saham. dan stakeholders. yang dapat mendorong kinerja perusahaan bekerja secara efisien.

pemenuhan kepentingan seluruh stakeholders secara seimbang berdasarkan peran dan fungsinya masing-masing dalam suatu perusahaan.1. Dalam melaksanakan kegiatannya. merupakan tujuan utama yang hendak dicapai. Memberikan keputusan yang lebih baik dalam meningkatkan kinerja ekonomi perusahaan. 3. Mendapatkan cost of capital yang lebih murah. Dari berbagai tujuan tersebut. sebagaimana ditawarkan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) adalah : a. 4. Melindungi direksi dan komisaris dari tuntutan hukum. Fairness (Keadilan) Prinsip keadilan (fairness) merupakan prinsip perlakuan yang adil bagi seluruh pemegang saham. Memudahkan akses terhadap investasi domestik maupun asing. Disclosure/Transparency (Keterbukaan/Transparansi) Transparansi adalah adanya pengungkapan yang akurat dan tepat pada waktunya serta transparansi atas hal penting bagi kinerja perusahaan. 5. 2. Prinsip prinsip utama dari Good Corporate Governance yang menjadi indikator. terutama kepada pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing dari kecurangan. perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan. Keadilan yang diartikan sebagai perlakuan yang sama terhadap para pemegang saham. kepemilikan. . b. dan kesalahan perilaku insider. Meningkatkan keyakinan dan kepercayaan dari stakeholders terhadap perusahaan.

Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar. Responsibility (Responsibilitas) Responsibility (responsibilitas) adalah adanya tanggung jawab pengurus dalam manajemen. c. dan pemegang saham yang meliputi monitoring. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan. pengawasan manajemen serta pertanggungjawaban kepada perusahaan dan para pemegang saham. Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. dan pengendalian terhadap manajemen untuk meyakinkan bahwa manajemen bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham dan pihak-pihak berkepentingan lainnya. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan. tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham. Prinsip ini diwujudkan dengan kesadaran bahwa tanggungjawab merupakan konsekuensi logis dari adanya wewenang. menyadari akan . d. perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lain. Accountability (Akuntabilitas) Akuntabilitas menekankan pada pentingnya penciptaan sistem pengawasan yang efektif berdasarkan pembagian kekuasaan antara komisaris.serta pemegang kepentingan. evaluasi. kreditur dan pemangku kepentingan lainnya. Untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis. direksi.

Keputusan yang dibuat dan proses yang terjadi harus obyektif tidak dipengaruhi oleh kekuatan pihakpihak tertentu. Independen diperlukan untuk menghindari adanya potensi konflik kepentingan yang mungkin timbul oleh para pemegang saham mayoritas. Hal ini penting mengingat kecenderungan aktivitas usaha yang semakin mengglobal dan dapat dijadikan sebagai ukuran perusahaan untuk menghasilkan suatu kinerja perusahaan yang lebih baik. Pedoman GCG yang telah dibuat oleh Komite Nasional Corporate Governance hendaknya dijadikan kode etik perusahaan yang dapat memberikan acuan pada pelaku usaha untuk melaksanakan GCG secara konsisten dan konsekuen. Independency (Independen) Untuk melancarkan pelaksanaan asas GCG. keadilan. menjadi profesional dan menjunjung etika dan memelihara bisnis yang sehat. responsibilitas dan independen GCG dalam mengurus perusahaan. Prinsip-prinsip transparansi.3 Manfaat Corporate Governance . agar visi dan misi perusahaan yang berwawasan internasional dapat terwujud. Mekanisme ini menuntut adanya rentang kekuasaan antara komposisi komisaris.adanya tanggungjawab sosial. komite dalam komisaris. 2. e. sebaiknya diimbangi dengan good faith ( bertindak atas itikad baik) dan kode etik perusahaan serta pedoman GCG. akuntabilitas.1. menghindari penyalahgunaan wewenang kekuasaan. perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain. dan pihak luar seperti auditor.1.

4. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah (karena faktor kepercayaan) yang pada akhirnya akan meningkatkan corporate value. Penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance dalam suatu perusahaan merupakan salah satu bahan pertimbangan utama bagi kreditor dalam mengevaluasi potensi suatu perusahaan untuk menerima pinjaman kredit. 3.Dengan adanya penerapan Corporate Governance dalam suatu perusahaan maka menghasilkan suatu manfaat yang diperoleh.4 Implementasi Prinsip Corporate Governance Selain para pemegang saham atau investor. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik. implementasi prinsip Corporate Governance secara konkret. meningkatkan efisiensi operasional perusahaan dengan lebih baik. yaitu : 1. meningkatkan efisiensi operasional serta lebih meningkatkan pelayanan kepada shareholders. Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus akan meningkatkan shareholders value dan deviden khusus bagi BUMN akan membantu penerimaan APBN terutama dari hasil privatisasi. 2. 2. dapat memberikan kontribusi untuk . perlu diperhatikan juga kepentingan para kreditor karena hampir tidak ada perusahaan yang dapat berjalan dengan modalnya sendiri.1. Bahkan bagi perusahaan yang berdomisili di negara-negara berkembang. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. sehingga mencari tambahan dana yang diperlukan untuk biaya operasional perusahaan ataupun ekspansi usaha.1.

memulihkan kepercayaan para kreditor terhadap kinerja suatu perusahaan yang telah dilanda krisis. Di dunia Internasional. Terdapatnya sistem hukum yang baik sehingga mampu menjamin berlakunya supremasi hukum yang konsisten dan efektif. Hal-hal tersebut sangat berkaitan dengan filosofi dasar kepentingan para kreditor. Di antaranya: a. Keuntungan maksimal ini dapat diperoleh dengan berbagai jalan. misalnya di Indonesia.5 Faktor Penerapan Good Corporate Governance Keberhasilan penerapan GCG juga memiliki prasyarat tersendiri. ada dua faktor yang memegang peranan. mempunyai kemungkinan besar untuk memperoleh bantuan kredit bagi usahanya. faktor eksternal dan internal.1. 2.1. . Seringkali perusahaan yang telah mengimplementasikan prinsip-prinsip Good Corporate Governance. 1. salah satunya adalah dengan meningkatkan tingkat kemampuan perusahaan debitor untuk mengembalikan dana yang telah dipinjam melalui efektivitas kinerja perusahaan tersebut. yaitu bahwa kepentingan utama kreditor adalah mendapatkan keuntungan maksimal dan menekan seminimal mungkin resiko kegagalan pengembalian pinjaman. Faktor Eksternal Yang dimaksud faktor eksternal adalah beberapa faktor yang berasal dari luar perusahaan yang sangat mempengaruhi keberhasilan penerapan GCG. Di sini. penerapan Good Corporate Governance sudah merupakan suatu syarat utama dalam perjanjian pemberian kredit.

Bahkan dapat dikatakan bahwa perbaikan lingkungan publik sangat mempengaruhi kualitas dan skor perusahaan dalam implementasi GCG (www. Terdapatnya contoh pelaksanaan GCG yang tepat (best practices) yang dapat menjadi standar pelaksanaan GCG yang efektif dan profesional. Hal lain yang tidak kalah pentingnya sebagai prasyarat keberhasilan implementasi GCG terutama di Indonesia adalah adanya semangat anti korupsi yang berkembang di lingkungan publik di mana perusahaan beroperasi disertai perbaikan masalah kualitas pendidikan dan perluasan peluang kerja. . c. Terbangunnya sistem tata nilai sosial yang mendukung penerapan GCG di masyarakat. d.madani-ri. Beberapa faktor yang dimaksud antara lain: a.com) 2.b. Faktor Internal Maksud faktor internal adalah pendorong keberhasilan pelaksanaan praktek GCG yang berasal dari dalam perusahaan. Dukungan pelaksanaan GCG dari sektor publik / lembaga pemerintahaan yang diharapkan dapat pula melaksanakan Good Governance dan Clean Government menuju Good Government Governance yang sebenarnya. Dengan kata lain. e. semacam benchmark (acuan). Terdapatnya budaya perusahaan (corporate culture) yang mendukung penerapan GCG dalam mekanisme serta sistem kerja manajemen di perusahaan. Ini penting karena lewat sistem ini diharapkan timbul partisipasi aktif berbagai kalangan masyarakat untuk mendukung aplikasi serta sosialisasi GCG secara sukarela.

Manajemen pengendalian risiko perusahaan juga didasarkan pada kaidah- kaidah standar GCG. dan integritas berbagai pihak yang menggerakkan organ perusahaan. Dalam kasus Enron ini. jika berbagai prinsip dan aspek penting GCG dilanggar suatu perusahaan. maka sudah dapat dipastikan perusahaan tersebut tidak akan mampu bertahan lama dalam persaingan bisnis global dewasa ini. d. Eksekutif Enron Inc. yang seharusnya berkewajiban moral memberikan data keuangan yang jujur sebagaimana keharusan perusahaan publik. e. c. Yang pasti. skill.madani-ri. sistem kontrol berlapis-lapis ternyata tak bisa mencegah sekelompok pimpinan yang memuaskan ketamakannya untuk kepentingan sendiri. aspek lain yang paling strategis dalam mendukung penerapan GCG secara efektif sangat tergantung pada kualitas. kredibilitas.b. ternyata tidak . di AS beberapa waktu lalu. Di luar dua faktor di atas. Adanya keterbukaan informasi bagi publik untuk mampu memahami setiap gerak dan langkah manajemen dalam perusahaan sehingga kalangan publik dapat memahami dan mengikuti setiap derap langkah perkembangan dan dinamika perusahaan dari waktu ke waktu (www. Terdapatnya sistem audit (pemeriksaan) yang efektif dalam perusahaan untuk menghindari setiap penyimpangan yang mungkin akan terjadi. seperti yang dialami oleh raksasa bisnis Enron Inc. meski perusahaan itu memiliki lingkungan kondusif bagi pertumbuhan bisnisnya.com). Berbagai peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan perusahaan mengacu pada penerapan nilai-nilai GCG.

Laporan keuangan tersebut penting bagi para pengguna eksternal terutama sekali karena kelompok ini berada dalam kondisi yang paling besar ketidakpastiannya (Ali. Sinyal yang diberikan dapat dilakukan melalui pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan. Begitu pula. 2002).melakukan tugas itu. ternyata gagal menjalankan perannya (www. Para pengguna internal (para manajemen) memiliki kontak langsung dengan entitas atau perusahannya dan mengetahui peristiwa-peristiwa signifikan yang terjadi. com) 2. .madaniri. Namun yang paling berkepentingan dengan laporan keuangan sebenarnya adalah para pengguna eksternal (diluar manajemen). Oleh karena itu sebagai pengelola.1. tetapi juga memberi investor maupun kreditor gambaran yang fair serta akurat tentang apa yang sebenarnya terjadi. independent auditor yang semestinya tidak hanya memastikan bahwa laporan keuangan sebuah perusahaan sesuai aturan dan standar akuntansi. sehingga tingkat ketergantungannya terhadap informasi akuntansi tidak sebesar para pengguna eksternal. termasuk manajemen perusahaan itu sendiri. Laporan keuangan dimaksudkan untuk digunakan oleh berbagai pihak. manajer berkewajiban memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik.2 Asimetri Informasi Manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemilik (pemegang saham).

Moral hazard. yaitu bahwa para manajer serta orang-orang dalam lainnya biasanya mengetahui lebih banyak tentang keadaan dan prospek perusahaan dibandingkan investor pihak luar. Eisenhardt (1989) mengemukakan tiga asumsi sifat dasar manusia yaitu: (1) manusia pada umunya mementingkan diri sendiri (self interest). Sehingga manajer dapat melakukan tindakan diluar pengetahuan pemegang saham yang melanggar kontrak dan sebenarnya secara etika atau norma mungkin tidak layak dilakukan. Adverse selection. Menurut Scott (2000). (2) manusia memiliki .Situasi ini akan memicu munculnya suatu kondisi yang disebut sebagai asimetri informasi (information asymmetry). b. Yaitu suatu kondisi di mana ada ketidakseimbangan perolehan informasi antara pihak manajemen sebagai penyedia informasi (prepaper) dengan pihak pemegang saham dan stakeholder pada umumnya sebagai pengguna informasi (user). yaitu bahwa kegiatan yang dilakukan oleh seorang manajer tidak seluruhnya diketahui oleh pemegang saham maupun pemberi pinjaman. terdapat dua macam asimetri informasi yaitu: a. Adanya asimetri informasi memungkinkan adanya konflik yang terjadi antara principal dan agent untuk saling mencoba memanfatkan pihak lain untuk kepentingan sendiri. Dan fakta yang mungkin dapat mempengaruhi keputusan yang akan diambil oleh pemegang saham tersebut tidak disampaikan informasinya kepada pemegang saham.

1. tunjangan. sehingga berbagai kebijakan perusahaan besar akan berdampak lebih besar terhadap kepentingan publik dibandingkan dengan perusahaan kecil. .1. Bagi investor. 2. 2. Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut menyebabkan bahwa informasi yang dihasilkan manusia untuk manusia lain selalu dipertanyakan reliabilitasnya dan dapat dipercaya tidaknya informasi yang disampaikan. Smith dan Watts (1992) menyatakan kepemilikan manajerial merupakan program kebijakan remunerasi guna mengurangi masalah keagenan.daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality).4 Ukuran Perusahaan Perusahaan yang berukuran besar memiliki basis pemegang kepentingan yang lebih luas.3 Kepemilikan Manajerial Kepemilikan manajerial merupakan isu penting dalam teorikeagenan sejak dipublikasikan oleh Jensen dan Meckling (1976) yang menyatakan bahwa semakin besar proporsi kepemilikan manajemen dalam suatu perusahaan maka manajemen akan berupaya lebih giat untuk memenuhi kepentingan pemegang saham yang juga adalah dirinya sendiri. Mereka menjelaskan bahwa kompensasi tetap berupa gaji. dan (3) manusia selalu menghindari resiko (risk adverse). dan bonus terbukti dapat digunakan sebagai sarana untuk menyamakan kepentingan manajemen dengan pemegang saham.

sehingga lebih memungkinkan untuk melakukan manajemen laba.1.1.kebijakan perusahaan akan berimplikasi terhadap prospek cash flow dimasa yang akan datang.1 Faktor-Faktor Pendorong Manajemen Laba Dalam positif accounting theory terdapat tiga hipotesis yang melatarbelakangi terjadinya manajemen laba (Watt dan Zimmerman. Perusahaan . karena memiliki biaya politik lebih besar. 2.5 Manajemen Laba 2.5. 1986). yaitu: 1. Terdapat dua pandangan tentang bentuk hubungan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba. Pandangan pertama menyatakan bahwa ukuran perusahaan memiliki hubungan positif dengan manajemen laba. Pandangan kedua menyatakan ukuran perusahaan memiliki hubungan negatif dengan manajemen laba. serta efektifitas peran pemberian perlindungan terhadap masyarakat secara umum. karena perusahaan besar memiliki aktivitas operasional yang lebih kompleks dibandingkan perusahaan kecil. Sedangkan bagi regulator (pemerintah) akan berdampak terhadap besarnya pajak yang akan diterima.perusahaan yang lebih besar memiliki dorongan yang lebih besar untuk melakukan perataan laba (salah satu bentuk manajemen laba) dibandingkan dengan perusahaan kecil. Bonus Plan Hypothesis . Biaya politik muncul dikarenkan profitabilitas perusahaan yang tinggi dapat menarik perhatian media dan konsumen.

Manajemen akan memilih metode akuntansi yang memaksimalkan utilitasnya yaitu bonus yang tinggi. maka seorang manajer perusahaan akan mela kukan penaikan laba saat ini yakni dengan memilih metode akuntansi yang mampu menggeser laba dari masa depan ke masa kini. Dalam suatu perusahaan yang memiliki rencana pemberian bonus. maka tidak akan ada bonus yang diperoleh manajer sedangkan jika laba berada di atas cap. begitu pula sebaliknya. 2. Jadi manajer hanya akan menaikkan laba bersih perusahaan hanya jika laba bersih berada di antara bogey dan cap. manajer cenderung memperkecil laba dengan harapan memperoleh bonus lebih besar pada periode berikutnya. Debt Covenant Hypothesis Manajer perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian kredit cenderung memilih metode akuntansi yang memiliki dampak meningkatkan laba (Sweeney. Jika laba bersih berada di bawah bogey. Jika laba berada di bawah bogey. Dalam kontrak bonus dikenal dua istilah yaitu bogey (tingkat laba terendah untuk mendapatkan bonus) dan cap (tingkat laba tertinggi). Manajer perusahaan yang memberikan bonus besar berdasarkan earnings lebih banyak menggunakan metode akuntansi yang meningkatkan laba yang dilaporkan. Hal ini untuk menjaga reputasi mereka dalam pandangan pihak eksternal. Tindakan ini dilakukan dikarenakan manajer termotivasi untuk mendapatkan upah yang lebih tinggi untuk masa kini. . maka manajer juga tidak akan mendapat bonus tambahan. 1994).

Seorang manajer dalam perusahaan berindak sebagai agent dan cenderung akan termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya sendiri yang antara lain seperti dalam hal memperoleh investasi. Perusahaan dengan rasio debt to equity yang tinggi akan berakibat menimbulkan kesulitan dalam memperoleh dana tambahan dari pihak kreditor dan bahkan perusahaan dapat terancam melanggar perjanjian utang. Sedangkan pemegang saham sebagai pihak principal tentu akan mengadakan kontrak dengan tujuan untuk memaksimumkan kesejahteraan dirinya sendiri yakni supaya profitabilitas yang selalu meningkat. maka akan mendorong manajer perusahaan untuk cenderung menggunakan metode akuntansi yang dapat meningkatkan pendapatan atau laba. 3. Agency theory terdapat asumsi bahwa setiap individu semata mata termotivasi oleh kepentingan diri sendiri sehingga akan dapat menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent. Adanya biaya politik dikarenakan profitabilitas perusahaan yang tinggi dapat menarik perhatian media dan konsumen.Dalam suatu perusahaan yang mempunyai rasio debt to equity cukup tinggi. Political Cost Hypothesis Dalam suatu perusahaan besar yang memiliki biaya politik tinggi. yaitu perilaku manajemen untuk memaksimumkan kesejahteraannya sendiri yang tentu sangat berlawanan sekali dengan . pinjaman. maupun kontrak kompensasi. Munculnya masalah keagenan ini sebenarnya lebih dikarenakan adanya perilaku oportunistik dari agent. akan mendorong manajer untuk memilih metode akuntansi yang menangguhkan laba yang dilaporkan dari periode sekarang ke periode masa mendatang sehingga dapat memperkecil laba yang dilaporkan.

dan (3) pendekatan berdasarkan distribusi frekuensi. misal Burgstahler dan Dichev (1997) serta Myers dan Skinner (1999). yaitu: (1) bagian akrual yang memang sewajarnya ada dalam proses penyusunan laporan keuangan. model Jones dan modified Jones. maka perlu melakukan pengukuran atas akrual sehingga hal yang sangat penting untuk diperhatikan. dan (2) bagian akrual yang merupakan manipulasi data akuntansi disebut dengan abnormal accruals atau discretionary accruals. disebut normal accruals atau non discretionary accruals. menurutnya ada tiga pendekatan yang dapa digunakan untuk proksi manajemen laba: (1) pendekatan yang mendasarkan pada model agregat akrual. Hasil kajian McNichols (2000) juga . manajer memiliki dorongan dan mempunyai kemampuan untuk memilih dan menerapkan metode akuntansi yang dinilai dapat memperlihatkan kinerjanya yang baik sehingga tujuannya untuk mendapatkan bonus dari principal akan terpenuhi. Sebagai pengelola perusahaan. misal Beneish (1997) serta Beaver dan McNichols (1998). Total akrual dapat dibedakan menjadi dua bagian. fokusnya adalah perilaku laba yang dikaitkan dengan spesifik benchmark dimana praktik manajemen laba dapat dilihat dari banyaknya frekuensi perusahan yang melaporkan laba di atas atau di bawah benchmark. misal Healy (1985). Masih menurut McNichols (2000) .kepentingan principal. (2) pendekatan yang mendasarkan pada model spesifik akrual. Total akrual merupakan selisih antara laba dan arus kas yang berasal dari akt ivitas operasi. Dalam rangka untuk mendeteksi ada tidaknya manajamen laba.

Semakin besar perusahaan. sedangkan model tersebut kadang bahkan justru sulit untuk difahami. Selama ini para akademisi menggunakan model statistik yang rumit untuk mengidentifikasi praktik manajemen laba. menaikkan pajak pendapatan perusahaan. Bonus Purposes Manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan akan bertindak secara oportunistic untuk melakukan manajemen laba dengan memaksimalkan laba saat ini b.menyarankan bahwa agar riset mengenai manajemen laba untuk menggunakan model spesifik akrual dan distribusi frekuensi. misalnya : mengenakan peraturan antitrust. Hal tersebut dikarenakan dengan laba yang tinggi pemerintah akan segera mengambil tindakan. sedangkan para praktisi lebih melihat manajemen laba dalam prespektif insentif pasar modal (capital market incentives). Political Motivations . semakin besar pula kemungkinan perusahaan tersebut memilih metode akuntansi yang menurunkan laba. dan lain -lain. Scott (2000) mengemukakan adanya beberapa motivasi yang menyebabkan terjadinya manajemen laba : a. Riset mengenai manajemen laba oleh para akademisi berdasarkan pada perilaku manajemen untuk memenuhi tujuan tertentu sebagaimana dijelaskan dalam teori akuntansi positip.

5. 2. c.Manajemen laba digunakan untuk mengurangi laba yang dilaporkan pada perusahaan publik. Taxation Motivations Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang paling nyata. Perusahaan cenderung mengurangi laba yang dilaporkan karena adanya tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah menetapkan peraturanperaturan yang lebih ketat. Dan jika kinerja perusahaan buruk. Berbagai metode akuntansi digunakan dengan tujuan penghematan pajak pendapatan. Pergantian CEO CEO yang mendekati masa pensiun akan cenderung menaikkan pendapatan untuk meningkatkan bonus mereka. mereka akan memaksimalkan pendapatan agar tidak diberhentikan. Initital Public Offering (IPO) Perusahaan yang akan go public belum memiliki nilai pasar. Pentingnya Memberi Informasi Kepada Investor Informasi mengenai kiner ja perusahaan harus disampaikan kepada investor sehingga pelaporan laba perlu disajikan agar investor tetap menilai bahwa perusahaan tersebut dalam kinerja yang baik.1.2 Teknik Manajemen Laba . e. f. d. dan menyebabkan manajer perusahaan yang akan go public melakukan manajemen laba dalam prospectus mereka dengan harapan dapat menaikkan harga saham perusahaan.

estimasi biaya garansi. contoh : merubah metode depresia si aktiva tetap. mempercepat/menunda pengeluaran promosi sampai periode berikutnya.5. Sebaliknya. Contoh rekayasa periode biaya atau pendapatan antara lain mempercepat atau menunda pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan sampai padan periode akuntansi berikutnya. esti masi kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud. 2) Mengubah metode akuntansi Perubahan metode akunatansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi. dan lain-lain. dari metode depresiasi angka tahun ke metode depresiasi garis lurus.3 Kondisi untuk Praktik Manajemen Laba Trueman dan Titman (1988) berpendapat bahwa hanya manajer yang dapat mengobservasi laba ekonomi perusahaan untuk setiap perioda. mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tak dipakai. 3) Menggeser periode biaya atau pendapatan. mempercepat/menunda pengiriman produk ke pelanggan. 2.1. pihak lain mungkin dapat menarik kesimpulan sesuatu mengenai laba ekonomi dari laba yang .Teknik dan pola manajemen laba menurut dapat dilakukan dengan tiga teknik yaitu: 1) Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi Cara manajemen mempengaruhi laba melalui judgment (perkiraan) terhadap estimasi akuntansi antara lain estimasi tingkat piutang tak tertagih.

Hasil penelitian Richardson menunjukkan adanya hubungan yang positif signifikan antara ukuran ketidakseimbangan informasi ( bid-ask spreads dan analyst’ forecast dispersion) dan manajemen laba setelah mengendalikan faktor lain yang dapat mempengaruhi manajemen laba. Fleksibilitas untuk menunda laba antarperioda hanya tersedia bagi beberapa perusahaan. risiko. sebagaimana yang diungkapkan oleh manajer. Hipotesis yang diajukan adalah bahwa tingkat ketidakseimbangan informasi akan mempengaruhi tingkat manajemen laba yang dilakukan oleh manajer perusahaan. dan hanya manajer yang mengetahui apakah mereka mempunyai fleksibilitas tersebut atau tidak. Perpindahan tersebut dapat dicapai.5. Dalam menyiapkan laporan mungkin manajer dapat memindah. dan penyesuaian penghapusan piutang.4 Pola Manajemen Laba Pola manajemen laba menurut Scott (2000) dapat dilakukan dengan cara: a. melalui pengakuan biaya pensiun. Jika manajer tidak dapat memindah laba antarperioda maka laba yang dilaporkan oleh perusahaan akan sama dengan laba e konomi pada setiap perioda. sebagai contoh.1. penyesuaian penaksiran umur ekonomis perusahaan. antarperioda. 2. dan pengungkapan keuangan perusahaan. Taking a Bath .dilaporkan oleh perusahaan. Richardson (1998) menunjukkan bukti hubungan antara ketidakseimbangan informasi dengan manajemen laba. seperti variabilitas aliran kas. ukuran. pada saat sebagian laba ekonomi diketahui sebagai laba akuntansi dalam laporan keuangan.

1. Income Smoothing Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada umumnya investor lebihmenyukai laba yang relatif stabil. Income Minimization Dilakukan pada saat perusahaan mengalami tingkat profitabilitas yang tinggi sehingga jika laba pada periode mendatang diperkirakan turun drastis dapat diatasi dengan mengambil laba periode sebelumnya. b.Pola ini terjadi pada saat reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru dengan melaporkan kerugian dalam jumlah besar. 2. Pola ini dilakukan oleh perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian hutang. Income Maximization Dilakukan pada saat laba menurun. Tindakan ini diharapkan dapat meningkatkan laba di masa datang.6 Penelitian Terdahulu Penelitian Warfield et al (1995) yang menguji hubungan kepemilikan manajerial dengan discretionary accrual dan kandungan informasi laba menemukan bukti bahwa kepemilikan manajerial berhubungan secara negatif dengan discretionary . c. d. Tindakan atas income maximization bertujuan untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang lebih besar.

Kualitas laporan keuangan akan mencerminkan tingkat manajemen. karena salah satu alasan utamanya adalah perusahaan besar harus mampu memenuhi ekspektasi dari investor atau pemegang sahamnya. Dengan menggunakan data pasar modal Denmark ditemukan adanya hubungan yang positif tetapi tidak signifikan antara kepemilikan manajerial dan discretionary accrual dan hubungan negatif antara .accrual. Richardson (1998) melakukan penelitian tentang “Asimetri informasi terhadap Manjemen Laba” berpendapat bahwa terdapat hubungan yang sistematis antara magnitut asimetri informasi dengan tingkat manajemen laba. Selain itu semakin besar perusahaan. Adanya asimetri informasi akan mendorong manajer untuk menyajikan informasi yang tidak sebenarnya terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan pengukuran kinerja manajer. Gabrielsen et al (2002) menguji hubungan antara kepemilikan manajerial dan kandungan informasi laba serta discretionary accrual. Hasil penelitian tersebut juga menyatakan bahwa kualitas laba meningkat ketika kepemilikan manajerial tinggi. Penelitian Defond (1993) dalam Veronica dan Bachtiar (2003) menemukan bahwa ukuran perusahaan berkorelasi secara positif dengan manajemen laba. Fleksibelitas manajemen untuk memanajemeni laba dapat dikurangi dengan menyediakan informasi yang lebih berkualitas bagi pihak luar. semakin banyak estimasi dan penilaian yang perlu diterapkan untuk tiap jenis aktivitas perusahaan yang semakin banyak. Perusahaan besar mempunyai insentif yang cukup besar untuk melakukan manajemen laba.

income smoothing secara signifikan lebih sering dilakukan oleh perusahaan –perusahaan yang dikendalikan oleh manajer dibandingkan dengan perusahaan -perusahaan yang dikendalikan oleh pemiliknya. manajer lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemilik (pemegang saham). Dalam penelitian ini tidak terdapat hubungan yang signifikan antara struktur kepemilikan dengan kinerja perusahaan ditolak. Terdapat hubungan hubungan yang signifikan antara disclosure dengan kinerja perusahaan 2. Theresia (2005) melakukan penelitian tentang hubungan antara GCG dan struktur kepemilikan terhadap kinerja perusahaan. Asimetri informasi antara manajemen (agent) dan pemilik (principal) akan memberi kesempatan manajer untuk melakukan manajemen laba ( earnings . Tidak terdapat hubungan yang signifkan antara manajemen laba dengan kinerja perusahaan. . manajer harus berkewajiban memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik. 1976). Sebagai pengelola perusahaan.kepemilikan manajerial dan kandungan informasi laba. Untuk itu.7 Perumusan Hipotesis Sesuai dengan kajian dalam teori keagenan (agency theory). hubungan agensi muncul ketika satu orang atau lebih ( principal) mempekerjakan orang lain (agent) untuk memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepada agent tersebut (Jensen dan Meckling.1.

Corporate governance yang merupakan konsep yang didasarkan pada teori keagenan. Kepemilikan manajemen terhadap saham perusahaan dipandang dapat menyelaraskan potensi perbedaan kepentingan antara pemegang saham luar dengan manajemen (Jansen dan Meckling. Pandangan pertama menyatakan bahwa ukuran perusahaan memiliki hubungan positif dengan manajemen laba. 1976).management) (Ric Corporate governance terdiri dari kepemilikan manajerial. karena perusahaan besar memiliki aktivitas operasional yang lebih kompleks dibandingkan perusahaan kecil. Corporate governance berkaitan dengan bagaimana para investor yakin bahwa manajer akan memberikan keuntungan bagi mereka. 1998). proporsi dewan komisaris independent dan komite audit. Secara teoritis ketika kepemilikan manajemen rendah. sehingga lebih . diharapkan bisa berfungsi sebag ai alat untuk memberikan keyakinan kepada para investor bahwa mereka akan menerima return atas dana yang telah mereka investasikan. yakin bahwa manajer tidak akan mencuri/menggelapkan atau menginvestasikan ke dalam proyek -proyek yang tidak menguntungkan berkaitan dengan dana/kapital yang telah ditanamkan oleh investor. Sehingga permasalahan keagenen dia sumsikan akan hilang apabila seorang manajer adalah juga sekaligus sebagai seorang pemilik (Hardson. maka insentif terhadap kemungkinan terjadinya peril aku oportunistik manajer akan meningkat. Shleifer dan Vishny (1986) menyatakan bahwa kepemilikan saham yang besar dari segi nilai ekonomisnya memiliki insentif untuk memonitor. dan bagaimana para investor mengontrol para manajer Terdapat dua pandangan tentang bentuk hubungan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba.

Perusahaan yang lebih besar kurang memiliki dorongan untuk melakukan manajemen laba dibandingkan perusahaan-perusahaan kecil. karena perusahaan besar dipandang lebih kritis oleh pemegang saham dan pihak luar. Asimetri Informasi. karena memiliki biaya politik lebih besar. BAB III Metode Penelitian 3. Moses (1997) mengemukakan bahwa perusahaan .perusahaan yang lebih besar memiliki dorongan yang lebih besar untuk melakukan perataan laba (salah satu bentuk manajemen laba) dibandingkan dengan perusahaan kecil. Dari pembahasan diatas maka hepotesis yang dapat diambil yaitu: H1 : Good Corporate Governance. Pandangan kedua menyatakan ukuran perusahaan memiliki hubungan negatif dengan manajemen laba. sehingga mendapat tekanan yang lebih kuat untuk menyajikan pelaporan keuangan yang kredible.1 Populasi dan Sampel Penelitian . Biaya politik muncul dikarenkan profitabilitas perusahaan yang tinggi dapat menarik perhatian media dan konsumen. dan Ukuran Perusahaan Berpengaruh Terhadap Manajemen Laba. Perusahaan besar memiliki basis investor yang lebih besar.memungkinkan untuk melakukan manajemen laba. Kepemilikan Manajerial.

3. literatur dan data yang diambil dari Pojok Bursa Efek Jakarta Universitas Islam Indonesia.2 Jenis. Data tentang Indeks Penerapan Corporate Governance dari IICG c. dan komite audit. Data yang diambil adalah data perusahaan yang terdaftar di BEJ tahun 2005 sampai tahun 2007 yang masuk dalam CGPI (Corporate Governance Perception Index). Data sekunder tersebut meliputi buku referensi. Indonesian Capital Market Directory tahun 2005 sampai 2007. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber. Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari pihak ketiga. dimana populasi yang akan dijadikan sampel penelitian adalah populasi yang memenuhi kriteria sampel tertentu.Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang telah go public dan terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) untuk periode waktu 20052007 Digunakannya tiga periode ini untuk dapat melihat konsistensi pengaruh masingmasing variabel independen terhadap variabel dependen. Perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan untuk periode yang berakhir 31 Desember selama periode 2005-2007. b. dewan komisaris. Sumber dan Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan sumber data historis. Perusahaan yang memiliki data kepemilikan manajerial. Kriteria-kriteria tersebut adalah sebagai berikut: a. melalui media perantara. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling. .

3.3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Berdasarkan pada masalah dan hipotesis yang akan diuji.3.∆ Kas Keterangan: ∆AL = Perubahan aktiva lancar pada periode t ∆HL = Perubahan hutang lancar pada periode t ∆Kas = Perubahan kas dan ekuivalen kas pada periode t Data akrual modal kerja dapat diperoleh langsung dari laporan arus kas aktivitas operasi. Digunakannya penjualan sebagai deflator akrual modal kerja adalah karena manajemen laba banyak terjadi pada akun penjualan. Variabel Indipenden.3. a. Manajemen laba (ML) = Akrual Modal kerja (t) / Penjualan periode (t) Akrual modal kerja = ∆ AL .1 Variabel Dependen (Y) Variabel dependen penelitian ini adalah Manajemen laba.1. Dalam penelitian ini Manajemen Laba diukur dengan menggunakan proksi berdasarkan rasio akrual modal kerja dengan penjualan. CGPI berisi skor hasil . Corporate Governance (X1) Variabel ini diukur dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh IICG berupa Corporate Governance Perception Index (CGPI). maka variabelvariabel yang akan diteliti adalah sebagai berikut : 3. sehingga investor dapat langsung memperoleh data tersebut tanpa melakukan perhitungan yang rumit.∆ HL .

t ) / 2 x 100 c.bid i. Ukuran Perusahaan (X4) . b. CGPI adalah program riset dan pemeringkatan penerapan Good Corporate Governance di Indonesia pada perusahaan publik. Kepemilikan Manajerial (X3) Kepemilikan Manajerial diukur dengan menggunakan rumus : KM = MOWN = d.t + bid i. Program ini dilaksanakan sejak tahun 2001 dilandasi dengan pemikiran pentingnya mengetahui sejauh mana perusahaan-perusahaan tersebut telah menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance.t ) / Keterangan : Spread : relative bid-ask spread perusahaan i pada hari t Askit Bidit : harga ask (tawar) tertinggi saham perusahaan i pada hari t : harga bid (minta) terendah saham perusahaan i pada hari t ( Ask i.t .survei mengenai penerapan corporate governance pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Asimetri Informasi (X2) Asimetri Informasi diukur dengan menggunakan Relative bid – Ask Spread yang dioperasikan sebagai berikut : Spread : ( Ask i.

Y = b0 + b1 X1+ b2 X2 + b3 X3 + b4 X4 + ε Keterangan Y b0 b1 b2 b3 b4 X1 X2 X3 X4 ε : Manajemen Laba : Konstanta : Koefisien Regresi : Good Corporate Governance : Asimetri Informasi : Kepemilikan Manajerial : Ukuran Perusahaan : Variabel Pengganggu . 3.4. Model analisis ini digunakan karena penelitian ini dirancang untuk meneliti bagaimana pengaruh variabel independen yang lebih dari satu variabel terhadap variabel dependennya baik secara simultan atau secara parsial.1.Ukuran perusahaan diukur dari market capitalization yaitu jumlah lembar saham beredar akhir tahun dikalikan dengan harga saham penutupan akhir tahun kemudian hasilnya di-log agar nilai tidak terlalu besar untuk masuk ke model persamaan. Metode Analisis Data 3.4. Alat Analisis Data Metode Analisis yang digunakan untuk menganalisis pengaruh variabel Independen terhadap variabel dependen adalah model regresi berganda (Multipel Variabel Methode).

Untuk menghasilkan suatu model regresi yang baik perlu dilakukan pengujian asumsi klasik untuk mengetahui apakah persamaan regresi yang telah dirumuskan terkena penyimpangan klasik atau tidak.Analisis data dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 10 for Windows sebagai alat untuk mengukur model regresi yang telah dirumuskan diatas. 2005). Selain itu. Dalam Uji Normalitas ini ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik (Ghozali. Model regrsi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Uji Multikolineritas Uji multikolineritas ini diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya variabel independen yang memiliki kemiripan dengan variabel independen lain dalam satu model.2 Uji Asumsi Klasik Pengujian ini dilakukan untuk melihat apakah model yang diteliti terkena penyimpangan klasik atau tidak. 2. deteksi terhadap multikolineritas juga bertujuan untuk menghindari kebiasan dalam proses pengambilan kesimpulan mengenai pengaruh pada uji parsial masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. .4. 3. Kemiripan antarvariabel independen dalam suatu model akan menyebabkan terjadinya korelasi yang sangat kuat antara suatu variabel independen dengan variabel independen yang lain. Tahap-tahap dalam pengujian asumsi klasik yaitu : 1. Uji Normalitas Uji Normalitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi.

yaitu dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik Scatterplot dan dasar pengambilan keputusannya adalah : . 3. 4. Masalah ini timbul karena residual tidak bebas dari suatu observasi ke observasi lainnya. dimana hasil pengujian ditentukan berdasarkan nilai Durbin-Watson. Menurut Ghozali (2005) salah satu cara untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas adalah dengan menggunakan metode grafik. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain. Uji autokorelasi dapat dilakukan dengan menggunakan uji DurbinWatson. Model regresi yang baik adalah yang tidak terjadi heteroskedastisitas. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pangamatan yang lain (Imam Ghozali.Salah satu cara untuk mendeteksi ada tidaknya multikolineritas dilakukan dengan menghitung nilai variance inflation factor (VIF) dari tiap-tiap variabel independen. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara variabel pengganggu pada periode tertentu dengan variabel pengganggu periode sebelumnya. Jika Nilai VIF lebih dari 10 atau nilai toleransi VIF kurang dari 10 maka diindikasikan perseamaan regresi terkena multikolineritas. 2005). Apabila hasil analisis menunjukkan nilai VIF dibawah nilai 10 dan nilai toleransi VIF diatas 0.10 maka tidak terjadi multikolineritas.

b. Membuat Perumusan Hipotesis Ho : Good Corporate Governance. Membuat kriteria pengujian hipotesis Keputusan menerima atau menolak hipotesis berdasarkan pada : . b) Jika tidak terdapat pola tertentu yang jelas. a. melebar kemudian menyempit) maka telah terjadi heteroskedastisitas. maka tidak terjadi heteroskedastisitas. serta titik-titik yang menyebar diatas dan dibawah angka nol pada sumbu Y. Kepemilikan Manajerial dan Ukuran Perusahaan berpengaruh secara persial terhadap Manajemen laba.5 Uji Hipotesis Sesuai dengan hipotesis yang telah dikemukakan maka pengujian hipotesis dilakukan dengan cara sebagai berikut : 3.a) Jika ada pola tertentu.1 Uji Regresi Simultan (Uji F) Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen dengan melihat nilai signifikansi F. Kepemilikan Manajerial dan Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh secara persial terhadap Manajemen laba. Ha : Good Corporate Governance. Asimetri Informasi. seperti titik-titik yang membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang. 3. Menentukan nilai kritis Tingkat signifikan ditentukan sebesar α = 5 % atau α = 0. Asimetri Informasi.05 c.5.

05 maka Ho ditolak dan Ha diterima Jika probabilitas > 0. Asimetri Informasi.05 maka Ho diterima dan Ha ditolak .05 f. Asimetri Informasi. Langkah-langkah dalam pengujian ini adalah sebagai berikut : d. Membuat Perumusan Hipotesis Ho : Good Corporate Governance.Jika probabilitas < 0.05 maka Ho diterima dan Ha ditolak 3. e.5. Ha : Good Corporate Governance. Membuat kriteria pengujian hipotesis Keputusan menerima atau menolak hipotesis berdasarkan pada : Jika probabilitas < 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima Jika probabilitas > 0.2 Uji Regresi Parsial (Uji t) Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan yang signifikan dari masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikatnya. Kepemilikan Manajerial dan Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh secara persial terhadap Manajemen laba. Kepemilikan Manajerial dan Ukuran Perusahaan berpengaruh secara persial terhadap Manajemen laba. Menentukan nilai kritis Tingkat signifikan ditentukan sebesar α = 5 % atau α = 0.

H and McNichol.Daftar Pustaka Aburizal Bakrie. Ali Irfan. (2002). Beaver.Lintasan Ekonomi Vol XIX.” dalam “Good Corporate Governance: Konsep dan Implementasi Perusahaan Publik dan Korporasi Indonesia”. 2002).1998. “Good Corporate Governance: Sudut Pandang Pengusaha. ”Pelaporan Keuangan dan Asimetri Informasi dalam Hubungan Agensi”.“ The Characteristics and Valuation of Loss Reserves of . diedit oleh Hindarmojo Hinuri (Jakarta: Yayasan Pendidikan Pasar Modal Indonesia.W. No 2 Juli 2002.

2000. Erna Hidayah. Universitas Padjadjaran Bandung. “Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS”. 1976. ”Corporate Governance dan Manajemen Laba: Suatu Studi Empiris”. and W. serta Dampaknya terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan.Tipe Kepemilikan dan Tipe Pengendalian sebagai Mekanisme Corporate Governance.” Journal of Financial and Economics.M. 2003. 47-68. Vol 8. dan Kinerja Perusahaan Di Perusahaan Publik Indonesia”. Said. C. Kajian tentang Struktur Kepemilikan Terkonsentrasi. Khomsyiah dan Rika Gelar R.. “Penerapan Corporate Governance. Manajemen Laba dan Kinerja Keuangan”. M. Y. 5(1). and Ownership Structure. 2005. 2007. Arief Ujiyantho dan Bambang. H. Jurnal Bisnis dan Akuntansi. Muh. “The Theory of The Firm : Manajerial Behaviour. 1. 2000. Makalah SNA VI. Semarang: Universitas Diponegoro. 2005). Journal of Accounting and Public Policy 19:313-345 Made Wirartha. Pengungkapan Informasi. “Hubungan Corporate Governance dan Pengungkapan Informasi: Pengujian Simultan”. Nelson. McNicols. 2003. and Veronica. . Khomsiyah. Imam Ghozali. Jensen.A Elliot. hal. “Research Design Issues in Earnings Management Studies”. J.ssrn. (Yogyakarta: Andi. Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik. Makalah SNA X. ‘Mekanisme Corporate Governance. 3 : 305-360. “Pedoman Penulisan Usulan Penelitian Skripsi dan Tesis”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. M. Disertasi. and When Do Auditors Prevent It?” http:// papers. DeFond. 2007. Yogyakarta. dan Bachtiar. Agency Cost.Darmawati. “Where do Companies Attempt Earnings Management.W. S.. Meckling. di download dari www. Januari 2005. (2005). Universitas Islam Indonesia.Pengertian dan Konsep Corporate Governance. No.and R.L Tarpley. Skripsi Deni Darmawati.iicg. “Hubungan Corporate Governance dan Kinerja Perusahaan”.org Musnadi.com. 2006. 2003 “ Pengaruh Asimetri Informasi dan Ukuran Perusahaan Terhadap Praktek Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur di BEJ ”.L.

Prentice Hall.” Journal of Accounting and Economics. J. Journal of Financial Economics. 1992. Com www. Richardson.. “Managerial Ownership. Financial Accounting Theory. Watts. July. L.madaniri. Prentice Hall Inc. J Wild.google. Clifford W. Smith Jr. New York.. Scott. “Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan. Information Asymmetry an Earnings Management: Some Evidence. Ukuran Perusahaan. Vol. Makalah SNA VIII. Wild.com . and K. Working Paper.R. 2000. dan Zimmerwan. T. Skripsi Ratna Wardhani. 2005.20. Warfield. 1995. R.Nuryaman. 2005.Jsx. 2006. Accounting Choices. “Hubungan antara Good Corporate Governance dan Struktur Kepemilikan dengan Kinerja Keuangan (studi kasus pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Jakarta)”. The Investment Opportunity Set and Corporate Financing.id www. L. and Ross L.61-91 Watt. “ Pengaruh Manajemen Laba Terhadap Biaya Modal Ekuitas (studi kasus pada perusahaan publik sektor manufaktur)”. 30 MareMakalah SNA IX. No. Theresia Dwi Astuti. dan Mekanisme Corporate Governance terhadap Manajemen Laba”. p. (1998). New Jersey. “Mekanisme Corporate Governance dalam Perusahaan Yang Mengalami Permasalahan Keuangan (Financially Distressed Firms)”. Diviend and Compensation Policies. Positive Accounting Theory. Makalah SNA VIII www..co.1. 1986 Wiwik Utami. W. and Informativeness of Earnings. 2005. Vernon J.