You are on page 1of 9

MAKARA, KESEHATAN, VOL. 11, NO.

1, JUNI 2007: 11-16 11 PENGARUH PEMBERIAN KARBON TETRAKLORIDA TERHADAP FUNGSI HATI DAN GINJAL TIKUS Ruqiah Ganda Putri Panjaitan1, Ekowati Handharyani2, Chairul3, Masriani4, Zulfa Zakiah5, Wasmen Manalu6 1. Program Studi Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tan jungpura, Pontianak, Indonesia 2. Bagian Klinik, Reproduksi, dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Bogor 16680 3. Bidang Botani, Puslit. Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Cibinong 4. Program Studi Kimia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tanju ngpura, Pontianak 5. Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Univers itas Tanjungpura, Pontianak 6. Bagian Anatomi, Fisiologi, dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Instit ut Pertanian Bogor, Bogor 16680 E-mail: ruqiah_gpp@yahoo.com Abstrak Karbon tetraklorida (CCl4) lazim dipakai sebagai penginduksi kerusakan hati sehi ngga sering digunakan dalam pengujian aktivitas hepatoprotektor suatu zat. Karbon tetraklorida dosis tunggal 0,1; 1,0; dan 10 ml/kg bobot badan diberikan secara intraperitoneal pada tikus jantan, dan diamati kerusakan yang t erjadi pada hati dan ginjal. Kerusakan hati ditandai dengan peningkatan kadar enzim alanin transaminase (ALT), aspartat transaminase (AST), alkali fosfatase (ALP), bilirubin total, dan protein total dalam serum. Peningkatan kreatinin ser um merupakan indikator gangguan fungsi ginjal. Lebih lanjut juga dilakukan pengamatan terhadap gambaran histopat ologi hati dan ginjal. Dibandingkan dengan kontrol, CCl4 dosis 0,1 dan 1,0 ml/kg bobot badan mengakibatkan peningkat an ALT dan penurunan AST, dan pada dosis 10 ml/kg bobot badan kadar kedua enzim tersebut sudah sangat turun (p <0,05). Kadar ALP, bilirubin total, dan protein total semua kelompok tidak berbeda (p>0,05). Karbon tetraklorida dos is 0,1 dan 1,0 ml/kg bobot badan mengakibatkan peningkatan kreatinin, sebaliknya pada dosis 10 ml/kg bobot badan kadar kreatinin sudah sangat turun (p<0,05). Gambaran histopatologi kelompok yang mendapatkan 1,0 dan 10 ml CCl4/kg bobot badan menunjukkan terjadinya steatosis pada sel-sel hati, namun pada glomerulus tidak terlihat ada nya perubahan. Karbon tetraklorida menimbulkan kerusakan sebanding dengan dosis yang diinduksikan. Abstract The Effects of Carbon Tetrachloride Administration on Liver and Renal Function. Carbon tetrachloride (CCl4) that induces liver damage is widely used in hepatoprotector experiments. Carbon tetrachloride at a single dose 0,1; 1,0; and 10 ml/kg body weight was administrated intraperitoneally in male rats to inv estigate liver and renal damage. Liver damage was monitored by increased alanine transaminase (ALT), aspartate transami nase (AST), alkaline phosphatase (ALP), total bilirubin, and serum total protein. Increased serum creatinine is a n indicator of renal problem. Futhermore, liver and renal tissues were subjected to histopathological studies. Compared wi th control, injection of 0,1 and 1,0 ml CCl4/kg body weight increased ALT and decreased AST, and at dose 10 ml/kg body w eight both ALT and AST decreased to a greater extent (p<0.05). Alkaline phosphatase, total bilirubin, a

Selanjutnya triklorometilperoxi menyebabkan peroksidasi lipid sehingga mengganggu homeostasis Ca2+. mengacaukan proses oksidasi. Triklorometil dengan oksigen akan membentuk radikal triklorometilperoxi yang dapat menyerang lipid membran endoplasmik retikulum dengan kecepatan MAKARA. Dalam endoplasmik retikulum hati CCl4 dimetabolisme oleh sitokrom P450 2E1 (CYP2E1) menjadi radikal bebas triklorometil (CCl3 *) 1. mengakumulasi lipid. with no significant effect in glomerulus. Keywords: Carbon tetrachloride. Carbon tetrachloride at dose 0. 1. Histopatho logical studies confirmed the presence of steatosis in hepatic cells at single dose of 1. Asam lemak penyusun membran sel khususnya asam lemak rantai panjang tak jenuh (PUFAs) amat rentan terhadap radikal bebas 6. dan akhirnya menyebabkan kematian sel 3. 11. menyebabkan pembengkakan hati sehingga bobot hati menjadi bertambah.1 and 1. artinya memiliki daerah hidrofilik dan hidrofobik.nd total protein were not different in all treatments (p>0. Membran plasma dan membran organel memiliki ragam protein yang spesifik. KESEHATAN. yakni pengujian aktivitas hepatoprotektor akar pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.5. Administration of single dose of CCl4 can induce liver and renal dam age that dependent on CCl4 received. mengurangi sintesis protein. Keberadaan dua lapis fosfolipid mengakibatkan membran memiliki permeabilitas selektif.2. melainkan melalui interaksi nonkovalen yang kooperatif 4.05). Lebih lanjut akan dipilih satu dosis untuk digunakan dalam tahap penelitian berikutnya.05). tetapi protein juga ikut menentukan sebagian besar fungsi spesifik membran. NO. protein. hepatotoxicity. However. Pemberian CCl4 dalam dosis tinggi dapat merusak endoplasmik retikulum. Molekul lipid dan molekul protein pada membran tidak terikat secara kovalen. Lipid yang menyusun membran adalah fosfolipid. dan karbohidrat. VOL. JUNI 2007: 11-16 12 yang melebihi radikal bebas triklorometil. Penyusun utama membran sel adalah lipid. dan pemberian jangka panjang dapat menyebabkan nekrosis sentrilobular serta degenerasi lemak di hati. Metode Penelitian . 2.). Menurut Jeon et al. menurunkan bobot badan. Pendahuluan Karbon tetraklorida (CCl4) merupakan xenobiotik yang lazim digunakan untuk menginduksi peroksidasi lipid dan keracunan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kerusakan sel hati serta gangguan fungsi hati dan ginjal yang terjadi akibat pemberian CCl4 pada berbagai tingkatan dosis. Fosfolipid merupakan molekul yang bersifat amfipatik. histopathology of liver and rena l 1.0 ml/kg body weight increased creatinine.0 and 10 ml CCl4/kg body weigh t. injection of 10 ml CCl4/kg body weight decreased creatinine (p<0. 4 jumlah PUFAs dalam fosfolipid membran endoplasmik retikulum akan berkurang sebanding dengan jumlah CCl4 yang diinduksikan.

Fungsi Hati dan Ginjal. 1. Kemudian serum dipisahkan ke dalam tabung ependorf. Jaringan yang telah difiksasi kemudian didehidrasi dengan alkohol mulai dari konsentrasi 70%. Reproduksi. serta pengukuran protein total dengan menggunakan metode Biuret. Sebelum percobaan dimulai semua hewan coba diaklimatisasi selama kurang lebih tujuh hari untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Penentuan Daya Hepatotoksik CCl4. hewan coba diberi makan dengan pakan standar dan minum ad libitum. kelompok selanjutnya dibedakan pada dosis pemberian CCl4 berturut-turut 0. Bagian Anatomi. Evaluasi Biokimiawi. Analisis Data. Hewan dikorbankan dengan cara dislokasi cervical. Bagian Klinik. sampel darah yang diperoleh kemudian disentrifus dengan kecepatan 3000 rpm selama 10-15 menit. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Organ hati yang diambil kemudian dicuci dengan NaCl fisiologis. 90%. Jaringan kemudian ditanam dalam media parafin. Hasil sayatan dilekatkan pada kaca objek.Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi.0. Karbon Tetraklorida. Selanjutnya dilakukan pengukuran terhadap kadar enzim ALT. Pengamatan dilakukan sampai dengan 24 jam setelah penyuntikan. AST. Pemberian CCl4 dilakukan dengan penyuntikan secara intraperitoneal. kreatinin. kemudian diwarnai dengan pewarnaan hematoksilin-eosin (HE) 7. ALP. dan Farmakologi. bilirubin total. Berikutnya dilakukan penyayatan dengan ketebalan 4-5 mikron. 95% masing-masing selama 24 jam dilanjutkan dengan alkohol 100% selama 1 jam yang diulang tiga kali. AST.1. tiap kelompok terdiri atas tiga ekor. Secara menyeluruh perolehan data kadar ALT. Hewan coba dibagi ke dalam empat kelompok. Histopatologi. Fisiologi. Selama masa aklimatisasi. yang berasal dari Laboratorium Non Ruminansia dan Satwa Harapan. Fisiologi. dan kreatinin dengan menggunakan kit. Setelah dehidrasi dilanjutkan dengan penjernihan dengan menggunakan xilol sebanyak tiga kali masing-masing selama satu jam. 80%. Sediaan CCl4 diperoleh dari Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi. ALP. Sediaan diberikan tunggal pada hewan percobaan. Setelah 24 jam pengamatan dilakukan pengambilan sampel darah dari jantung. Kelompok pertama merupakan kontrol (tanpa CCl4). Hewan coba yang digunakan adalah tikus jantan strain Sprague Dawley umur 2. kemudian dibedah untuk mengambil organ. dan protein total dianalisis statistik dengan menggunakan program SPSS dan dilanjutkan dengan uji Tukey jika berbeda nyata . selanjutnya difiksasi dengan menggunakan buffer formalin 10%. Fakultas Kedokteran Hewan IPB. dan 10 ml/kg BB masing-masing hanya diberikan satu kali selama percobaan. Bagian Anatomi. bilirubin total. Hewan Percobaan.5-3 bulan dengan bobot badan berkisar antara 200-250 g sebanyak 12 ekor. dilanjutkan dengan infiltrasi parafin. dan Patologi. Untuk mendapatkan serum darah. dan Farmakologi dan Laboratorium Patologi. Fakultas Peternakan IPB.

NO. Kerusakan yang relatif kecil pada sel hati akan meningkatkan kadar enzim ALT dan AST di dalam darah. bahkan pada pemberian 10 ml CCl4/kg BB kemampuan hati dalam mensintesis enzim ini sudah sangat terganggu akibat terjadinya kerusakan sel hati yang luas dan berat. Hasil pengukuran kadar enzim ALT dan AST dalam serum menunjukkan bahwa dosis 0. Kerusakan hepatosit diawali dengan perubahan permeabilitas membran yang diikuti MAKARA. Peningkatan ALP terjadi akibat adanya kolestasis. pemberian CCl4 tidak mempengaruhi aliran empedu ekstra dan intrabiliar. 11.1 ml/kg BB kadar enzim ALP di dalam darah hewan coba meningkat dibanding kontrol. namun perubahan kadar enzim ini tidak terlalu mencolok dan secara statistik juga dinyatakan tidak berbeda (p>0. Pada pemberian CCl4 1 ml/kg BB terjadi peningkatan kadar enzim ALP hampir dua kali lipat dibanding kontrol. JUNI 2007: 11-16 13 dengan kematian sel. Peningkatan AST dalam darah disebabkan oleh kerusakan hati yang parah dan disertai nekrosis. dan eritrosit. Alkalin fosfatase merupakan enzim yang berperan dalam mempercepat hidrolisis fosfat organik dengan melepaskan fosfat anorganik. Hal ini digambarkan dengan sedikit peningkatan kadar enzim ALT dibandingkan kontrol (Tabel 1). Peningkatan kadar ALT dalam darah terutama disebabkan oleh kerusakan sel hati dan sel otot rangka. Pemberian 1 ml CCl4/kg BB mengakibatkan steatosis yang luas. 3. Waktu paruh enzim ALT lebih lama dibanding AST 8. VOL. Hal ini mungkin disebabkan karena waktu paruhnya yang pendek sehingga kadar enzim AST pada kelompok ini terlihat lebih rendah dibanding kontrol. terutama di hati. Aspartat transaminase juga merupakan enzim yang terlibat dalam glukoneogenesis. otot rangka.(p<0. Bilirubin merupakan pigmen empedu yang berasal dari . dan digambarkan dengan peningkatan kadar enzim ALT dalam serum sampai dua kali lebih tinggi dibanding kontrol. sehingga enzim dari mitokondria juga ikut keluar sel. pada tingkat kerusakan yang luas dan parah. Dari percobaan yang dilakukan terlihat bahwa dengan pemberian CCl4 0. ketersediaan enzim ALT dan AST di dalam sel hati sudah sangat rendah akibat kemampuan sel hati dalam mensintesis enzim tersebut sudah berkurang atau hilang sama sekali. terdapat di dalam sitosol serta mitokondria sel hati. Kadar enzim AST pada kelompok yang diberi 1 ml CCl4/kg BB terlihat mengalami penurunan dibanding kontrol. otot jantung. Hasil dan Pembahasan Alanin transaminase merupakan enzim sitosol dan terlibat dalam glukoneogenesis. 1. KESEHATAN.1 ml CCl4/kg BB mengakibatkan degenerasi dan nekrosis secara multifokal.05). mukosa usus. dan pada obstruksi intra maupun ekstrabiliar enzim ini akan meningkat 3-10 kali dari nilai normal sebelum timbul ikterus 9. Artinya. dan plasenta. Enzim ini terdapat dalam banyak jaringan. Pemberian CCl4 10 ml/kg BB tampaknya sangat merusak sel hati. Namun. tulang.05).

00±276. serta obat-obatan antara lain aspirin dan . Rataan kadar ALT. dan kreatin in dalam serum tikus jantan strain Sprague Dawley.57±13.47±73.95±8.89a 1.11a 100.67±1.0 10 . Dari hasil percobaan ini telihat bahwa kelompok yang mendapatkan CCl4 1 dan 10 ml/kg BB mengalami steatosis (Gambar 2).25±4. JUNI 2007: 11-16 14 Kadar protein total secara keseluruhan menurun dibanding kontrol. cairan asites atau mewarnai kulit.95a 0. Steatosis merupakan gambaran patologi yang ditandai dengan akumulasi lemak di dalam sel hati yang disebabkan oleh gangguan pada metabolisme lipid di hati.1 ml/kg BB terjadi peningkatan kadar bilirubin total dibanding kontrol.67b AST (U/L) 330.47±19. 11. kehamilan.52±8. Faktor penyebab peningkatan kadar bilirubin total adalah kebocoran bilirubin dari sel-sel hati atau sel duktuli sehingga bilirubin bisa masuk ke dalam aliran darah dan dapat memasuki semua cairan tubuh seperti cairan otak. KESEHATAN.46a 52.17a 770. NO.33±76.87±2.14a 854. Sebaliknya.87±50. Gambaran patologi anatomi menunjukkan bahwa dengan pemberian 10 ml/kg BB CCl4 terlihat adanya nekrosis milier pada permukaan hati (Gambar 1). ALP.79±11. 1.33±6.sel eritosit tua yang dihancurkan di limpa serta dari sumber-sumber lain seperti mioglobin dan sitokrom.40a Protein Total (mg/ml) 122. hiperlipidemia.0 ALT (U/L) 134. pada pemberian CCl4 1 ml/kg BB dan 10 ml/kg BB terjadi penurunan bilirubin total secara drastis.37a 308. yakni obesitas.12±8.11. Peningkatan ini diduga karena terjadi kebocoran dari sel-sel hati atau sel-sel duktuli. protein total. AST.20a 1066. malabsorpsi.00a 260.67±270. Ada beragam faktor penyebab terjadinya steatosis.25a 2.92a 116. Kejadian ini dapat dipahami karena dengan pemberian 1 ml CCl4/kg BB dan 10 ml CCl4/kg BB mengakibatkan kerusakan sel-sel hati yang luas dan berat sehingga mengganggu fungsi hati dalam metabolisme bilirubin.16a 0.45a 83. Tabel 1. Karbon tetraklorida merupakan penyebab kerusakan hati yang ditandai dengan peradangan akut pada sel-sel hati.01a 330.82±0. yakni terjadinya nekrosis serta steatosis pada bagian sentral lobus 3. Terkait dengan fungsi hati dalam mensintesis protein.98±0. bilirubin total.821a Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan beda nyata pada uji Tukey dengan taraf 5% C MAKARA. sclera dan lain-lain 9.11a 113. serta faktor sekunder yang meliputi diet yang tidak seimbang. VOL.93a Bilirubin Total (mg/dl) 1. Pengambilan sampel darah dilakukan 24 jam setelah pemberian perl akuan (n=3) Parameter Dosis CCl4 (ml/kg BB) 0 (Kontrol) 0. alkohol.48a 161.89±0.05).50±331.41a Kreatinin (mg/dl) 36. Dengan pemberian CCl4 0. walaupun secara statistik dinyatakan tidak berbeda (p>0.88a 0±0b ALP (U/L) 651.1 1.00±103.83±176. secara garis besar dibedakan atas faktor primer.36a 6. dan resistensi insulin.70±7. jika sel-sel hati mengalami kerusakan maka kemampuan hati dalam mensintesis protein juga akan turun 10.67±42.

KESEHATAN.13. sebaliknya kadar protein total dalam serum akan menurun 3. Dengan demikian. radikal bebas dapat menyebabkan stres oksidatif yang ditandai dengan kerusakan membran sel dan protein.1 ml/kg BB. dan hampir semua kreatin tubuh terdapat dalam otot. dan kreatinin pada kadar yang tinggi dalam plasma. dan lipid. Objektif 40x (20 μm) Pada manusia. Kreatinin secara metabolik tidak A C A s D MAKARA. dan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan 1.14-16. A) Kontrol. 11. daya proteksi suatu senyawa terhadap CCl4 dinilai dari kemampuannya dalam menghambat peroksidasi lipid 17.tetrasiklin 12. Menurut Mohssen 19. . Peningkatan level oksidatif digambarkan dengan megamitokondria dan steatohepatitis nonalkoholik 12. Akumulasi lemak dalam sel hati (s). dan protein dalam serum. C) Pemberian CCl4 1 ml/kg BB. Kreatinin merupakan produk akhir dari kreatin. Gambar 1. termasuk enzim. akibat gangguan pada permeabilitas membran dan fungsi membran itu sendiri. Glomerulus yang normal (G).1 ml/kg BB. B) Pemberian CCl4 0. Peroksidasi lipid selanjutnya mengubah DNA mitokondria dan mengganggu kestabilan membran sel. Dari penelitian-penelitian sebelumnya dilaporkan bahwa pemberian CCl4 antara lain akan meningkatkan kadar bilirubin total. Tanda panah menunjukkan adanya nekrosis milier pada permukaan hati Gambar 2. D) Pemberian CCl4 10 ml/kg BB. 1. dan ALP. propagasi siklus oksidatif stres secara besar-besaran yang diikuti dengan peradangan. A) Kontrol. D) Pemberian CCl4 10 ml/kg BB H & E. B) Pemberian CCl4 0. Gambaran sel hati tikus. hampir seluruh hasil akhir metabolisme diekskresi melalui glomerulus. protein. A) Tanpa perlakuan. AST. NO. enzim ALT. Reactive oxygen species (ROS) selain dapat merusak membran sel juga merusak komponen intrasel termasuk asam nukleat. Kreatin diambil dari aliran darah oleh otot kemudian difosforilasi dan memasuki metabolisme otot. bilirubin. JUNI 2007: 11-16 15 Gambar 3. Sel hati yang normal dengan inti sel yang berukuran normal (n). ekskresi metabolitmetabolit melalui tubulus kurang penting kecuali untuk kalium. C) Pemberian CCl4 1 ml/kg BB. Asam deoksiribonukleat (DNA) mitokondria tidak tahan terhadap serangan radikal bebas sehingga membran bagian dalam mitokondria juga menjadi ikut rusak. Kerusakan sel hati akan mempengaruhi kadar enzimenzim hati. ureum.1 ml/kg BB. C) Pemberian CCl4 1 ml/kg BB. Gambaran jaringan ginjal tikus. B) Pemberian CCl4 0. D) Pemberian CCl4 10 ml/kg BB H & E. Morfologi hati tikus. Kreatin terutama disintesis dalam hati dan ginjal dari asam-asam amino. menekan aktivitas enzim ALT dan AST [18]. VOL.

yang . walaupun dari pengukuran kreatinin serum terlihat adanya peningkatan yang nyata dibanding serum. Pada manusia umumnya jika kreatinin plasma kurang dari sekitar 900 μmol/l filtrasi glomerulus dinyatakan normal 9. Bahkan dengan pemberian 10 ml CCl4/kg kadar enzimenzim tersebut sudah sangat turun. Gambaran patologi anatomi maupun histopatologi ginjal tidak menunjukkan perubahan yang bermakna. secara histopatologi tidak terlihat adanya perubahan dibanding kontrol (Gambar 3). Kesimpulan Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan: Hasil pengukuran biokimiawi darah menunjukkan bahwa pemberian CCl4 sebanyak 0.12 mg/dl dan 84. berdifusi ke dalam plasma dan dieksresikan ke dalam urin. Bahkan dengan pemberian CCl4 sebanyak 1.1 ml/kg BB. Dibandingkan dengan urea plasma. Pemberian CCl4 0. Gambaran histopatologi hati menunjukkan bahwa pemberian CCl4 0. Sebaliknya. bahkan dengan pemberian 1. pemberian 1. masing-masing 52. kreatinin plasma lebih luas digunakan untuk mengukur fungsi ekskresi kegagalan ginjal kronik dan sebagai ukuran kuantitatif kerusakan ginjal karena kreatinin plasma hampir tidak dipengaruhi oleh diet seperti halnya urea plasma.1 dan 1. Iskandar M. sebaliknya menurunkan kadar enzim AST.0 ml/kg BB mengakibatkan peningkatan kadar enzim ALT. walaupun hasil pengukuran biokimiawi darah menunjukkan bahwa dengan pemberian CCl4 0. kreatinin ditahan bersama unsur nitogen nonprotein (NPN) darah lainnya.0 dan 10 ml CCl4/kg BB. dan ALP. Sc.0. dan Harnowo Permadi. M.Objektif 40x (20 μm) aktif. 1. dan 10 ml/kg BB mengakibatkan penurunan kadar protein total. Pada kegagalan ginjal.1 ml/kg BB mengakibatkan terjadinya degenerasi dan nekrosis secara multifokal.1. 4. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drh. Pemberian CCl4 sebanyak 0.1 ml/kg BB terjadi peningkatan kadar kreatinin. Penurunan kreatinin setelah pemberian 10 ml CCl4/kg BB juga berkaitan dengan bertambah luas dan beratnya kerusakan hati sehingga kemampuan hati dalam mensintesis kreatin terganggu. Dari hasil percobaan ini.47 mg/dl. Peningkatan kreatinin ini mungkin berkaitan dengan terjadinya kerusakan sel hati yang disebabkan oleh CCl4.0 dan 10 ml/kg BB kadar kreatinin menjadi sangat turun. M. Hal yang sama juga terjadi pada percobaan Mohssen 19. Sc.1 ml/kg BB dan 1 ml/kg BB mengakibatkan peningkatan kadar kreatinin. Dosis CCl4 yang dipilih untuk pengujian aktivitas hepatoprotektor di penelitian tahap berikutnya adalah 0. Dari percobaan ini diperoleh hasil bahwa pemberian CCl4 0. Gambaran patologi anatomi hati menunjukkan terjadinya nekrosis milier pada kelompok yang diberi 1.0 dan 10 ml CCl4 /kg BB kadar bilirubin total menurun.0 dan 10 ml CCl4/kg BB telah terjadi steatosis.1 ml/kg BB mengakibatkan kadar bilirubin total meningkat. dengan pemberian thimet 20 kg/ha tidak memperlihatkan gambaran histopatologi yang berbeda pada organ ginjal.

Shikuma C. Latha MS. Ethnopharmacol. Venkataraman S.. 433-486. and Biophys. 254 (1979) 5892-5899. Pushpangadan P. Pergamon Pr. Comm. pp 141-155. Jakarta. Trivedi N. Lin JM. Philadelphia. pp. 1991. 2. Shirwaikar A. Wang MH.. Simarmata L. Terjemahan dari: Biology Fifth Edition. Indian J. Svingen BA. dengan nomor kontrak 023/SP3/PP/DP2M/11/2006 untuk itu ucapan terima kasih juga ditujukan kepada BPPS sebagai sponsor beasiswa S3 dan Dikti sebagai pemberi dana dalam penelitian ini. Venukumar MR. Campbell NA. 11. Lestari et al. Fundamentals of Veterinary Clinical Pathology. J. O’Neal FO. Erlangga. Ed. Chem. 103 (2006) 484-490. Jakarta. 11. pp. 34 (2002) 269-275. NO. Pharmacol. Ethnopharmacol. 3. 14. Delgado JN. J. . Theory and Practice. Andrianto P dan Gunawan J.B. Iowa state Pr. Caldwell SH. Terjemahan dari: A Short Textbook of Chemical Pathology. Res. Hepatology 37 (2003) 1202-1219. Remers WA. Park DK. ke-1. Aust SD. J. 8. Rawal UM. Biochem. editor. 104 (2006) 124-128. Scott MA. A G B C D MAKARA. 2002. 6. pp 90-97. Ed ke-9. Reece JB. Rao CV. Mitchell LG.telah banyak membantu dalam penelitian ini. editor. Yen MH. Jin YS. Jeon TI. pp 113-231 10. 1992. Biol. VOL. 13. Biologi. Rhee HI. Shin SI. J. Park NG. Rao GMM. Gerschenson M. Shanmugasundaram P. Porchezhian E..Lippincott Co. Lo TS. KESEHATAN. 1990. Ruqiah Ganda Putri Panjaitan dengan judul: Efek Perlindungan Sediaan Akar Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack. Teselkin YO. Textbook of Organic Medical and Pharmaceutical Chemistry. Histological & Histochemical Methods. Hardani HW. Buege JA. Toxicology 187 (2003) 67-73. 12. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian S3 sekaligus riset yang didanai oleh Hibah Bersaing XIV an. Safitri A. Indian J. Canada. 5. Choi SD. Kolhir VK. Ethnopharmacol. J. 1. Neuschwander-Tetri BA.. 329 (2005) 991-995. Sa JH. 4. Kapita Selekta Patologi Klinik. 9.) Asal Kalimantan Barat Terhadap Peradangan hati Tikus. ke-2. 2002. Mithochondrion 4 (2004) 95-109. Ed ke-5 Jilid I. 30 (1998) 318-322. Shim TH. Kiernan JA. Hwang SG. Baron DN. Ed. Lin CC. 17. 16. Day L. Ed ke4. 2-10. Stockham SL. Babenkova IV. Phytomedicine 12 (2005) 62-64. penerjemah. penerjemah. EGC. Daftar Acuan 1. 15. 60 (1998) 9-17. Pharmacol. Blackwell publishing Co. Ansari SH. JUNI 2007: 11-16 16 7.

87 (2001) 31-36. Environ. 14 (2000) 489494. Sec. 18. Res.Baginskaya AI. Huang PC. Res. Tjukavkina NA. Phytother. Mohssen M. Kolesnik YA. Phytother. Lin CC. 19. . Res. Eichholz AA. Selivanova IA. 14 (2000) 160-162.