You are on page 1of 6

Pelayanan Kesehatan Berbasis Risiko Berbasis Keluarga Bentuk pelayanan ini dikembangkan berdasarkan pemikiran sebagai berikut

Umum  Setiap kehamilan mempunyai kemungkinan untuk mendapat komplikasi atau penyulit, yang dapat membahayakan ibu atau bayi, baik berupa

kesakitan ataupun kematian.persepsi ini berkembang pula di masyarakat tradisional, yang menganggap bahwa “tiap kehamilan/persalinan, nyawa ibu dan bayitaruhannya (toh nyawa)”.  Atas dasar itu, harus ada upaya untuk memberdayakan ibu hamil, suami, keluarga dan masyarakat, agar bisa menyelamatkan ibu dan bayi.

Khusus Upaya khusus yang harus dilakukan agar bisa mencapai tujuan, adalah sebagai berikut.  Melakukan pengenalan secara dini adanya faktor risiko dalam kehamilan dan persalinan, sedapat mungkin oleh ibu hamil sendiri atau

suami/keluarga. Ini merupakan manifestasi dari sikap proaktif strategi pendekatan risiko.  Mengembangkan pemberdayaan ibu hamil, suami, keluarga dan

masyarakat agar mampu mengambil keputusan dan merencanakan persalinan yang bersih dan aman, ditempat dan penolong yang sesuai , termasuk bila perlu dirujuk ke RS, baik berupa rujukan dini berencana maupun rujukan tepat waktu.  Melakukan advokasi, sosialisasi, mobilisasi Gerakan Sayang Ibu, dalam mengembangkan bantuan biaya dan transportasi untuk kelancaran rujukan.

Rujukan Terencana

Seperti kita ketahui, pada dasarnya tujuan sistem rujukan adalah untuk menyelamatkan ibu dan bayi secara fisik, mental dan sosial, di tempat yang sesuai, oleh penolong yang terampil, dengan biaya yang terjangkau. Agar tujuan ini bisa tercapai, rujukan ini harus merupakan kegiatan yang terencana, bukan sebagai reaksi sesaat terhadap suatu keadaan yang tidak diinginkan. Perencanaan yang baik harus mengandung komponen-komponen sebagai berikut.   Komponen waktu : rencana itu harus sudah dibuat sejak ibu mulai mengandung, melalui kegiatan KIE yang konsisten. Komponen risiko : setiap ibu hamil harus dikenal tingkat risikonya sehingga dapat direncanakan kapan, ke mana, dan bagai mana cara merujuknya.  Komponen jalur : jalur rujukan, mulai dari rumah sampai ke tempat rujukan harus diamankan, terutama dari segi biaya, transportasi, dan kesiapan petugas di tepat rujukan.

Dalam mewujudkan strategi pendekatan risiko, Rochjati P, membagi ibu hamil dalam dua kelompok, berdasarkan gambaran klinisnya, yaitu : 1. Risiko Rendah : mereka yang tidak bermasalah 2. Risiko Tinggi : mereka yang bermasalah, dibagi lagi dalam tingkat kelompok : a. Ada Potensi Gawat Obstetri (APGO) b. Ada Gawat Obstetri (AGO) c. Ada Gawat Darurat Obstetri (AGDO) Selain cara, pengelompokan diatas, ibu hamil dapat dikelompokan berdasarkan skoring. 1. Kehamilan Risiko Rendah (KRR) : Skor = 2 -> warna hijau 2. Kehamilan Risiko Tinggi (KRT) : Skor = 6-10 -> warna kuning

3. Kehamilan Risiko Sangat Tinggi (KRST) : Skor

Penjelasan tentang masing-masing kelompok dapat dibaca pada tabel 15-2. Berdasarkan adanya pengelompokan tersebut rujukan terencana dibagi dua, yaitu : 1. Rujukan Dini Berencana (RDB) atau Rujukan Dalam

Rahim (RDR) 2. Rujukan Tepat Waktu (RTW)

Rujukan Dini Berencana (RDB) Batasan RDB  Ibu hamil KRT dengan APGO dan AGO masih SEHAT dalam upaya pengendalian dan pencegahan proaktif terhadap kemungkinan komplikasi persalinan.  Ibu dirujuk menjelang “aterm” (near term), 38 minggu atau lebih, belum ada tanda-tanda persalinan dan belum ada komplikasi. Di dalam RDB, termasuk pengertian RDR bagi janin risiko tinggi yang belum gawat darurat. Keuntungan RDB  Pada pengiriman ibu ke rumah sakit, ada kemudahan dalam bentuk kesehatan ibu hamil masih optimal, dapat berjalan sendiri tanpa kesakitan, tidak membutuhkan alat penunjang atau obat, serta dapat menggunakan kendaraan umum yang mudah dan murah dalam suasana santai.  Saat sampai di rumah sakit, keadaan ibu yang sehat tidak memerlukan upaya stabilisasi, KIE atau informed consent dapat dilakukan dalam keadaan yang santai oleh dokter atau bidan rumah sakit dengan tindakan dapat direncanakan waktunya secara optimal, baik waktu maupun jenisnya.

 Penanganan dilakukan dengan prosedur baku, obat generic, hari perawatan lebih pendek, perawatan pascatindakan dapat diakukan di Puskesmas dengan biaya yang lebih murah dan terkendali.  Prognosisi baik, berupa ibu dan bayi yang sehat, bayi dapat ASI dan ibu segera mendapatkan pelayanan KB.  Bagi bayi, RDB atau RDR ini memberikan keuntungan tambahan, yaitu selama dalam perjalanan, rahim ibu berfungsi sebagai alat transportasi yang paling murah, aman, nyaman, hangat, bersih dan steril. Rahim ibu merupakan incubator alami dengan pemberian nutrisi yang baik dan kontinu. Di samping itu, perlindungan fisik dan hubungan batin antara ibu dan anak tetap terjaga. Hasil penelitian menunjukan bahwa prognosis bayi yang dirujuk secara RDR, jauh lebih baik jika dibandingkan dengan bayibayi yang dirujuk pascasalin. Contoh kasus untuk RDB :  Kehamilan dengan bekas SC  Kelainan letak, lintang dan sungsang  Kehamilan dengan panggul sempit absolute, tinggi badan kurang lebih 145 cm atau CDP  Kehamilan dengan underlying disease, seperti Diabetes Mellitus atau penyakit sistemik lainnya, yang memerlukan perawatan spesialistik nonObGin.

Pada dasarnya yang dimaksud dengan RDB atau RDR itu adalah RUJUKAN KEHAMILAN, bukan RUJUKAN PERSALINAN dalam rangka persiapan persalinan aman di Rumah Sakit Rujukan. Ibu hamil dapat tinggal pada keluarga atau Pondok Sayang Ibu dekat dengan RS selama menunggu pertolongan di rumah sakit.

Rujukan Tepat Waktu (RTW)

RTW adalah suatu rujukan yang harus segera dilakukan untuk menyelamatkan jiwa ibu dan bayi.

Batasan RTW  Ibu hamil dengan AGDO, seperti perdarahan antepartum yang belum mengalami syok atau anemia besar, Preeklamsi Berat/Eklampsia sebelum sindroma HELLP.  Ibu dengan komplikasi obstetric dini dalam persalinan.

Tabel 15-2. Hubungan antara Kelompok Risiko, Gambaran Klinis, dan jenis Rujukan Status Risiko Kelompok I 1. Primi muda 2. Primi tua 3. Primi sekunder 4. Anak terkecil < 2 tahun 5. Grande multi 6. Umur tua Faktor Risiko Gambaran Klinis Jenis Rujukan