REFERAT ILEUS OBSTRUKSI

Oleh : RAINI 030.08.197

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOJA PERIODE 23 JULI – 29 SEPTEMBER 2012 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA

1

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan izin-Nya penyusun dapat menyelesaikan referrat ini tepat pada waktunya. Referat ini disusun guna memenuhi tugas kepaniteraan klinik Ilmu Bedah di Rumah Sakit Umum Daerah Koja.. Penyusun mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dr.A. Fanani Sp.B yang telah membimbing penyusun dalam mengerjakan referat ini, serta kepada seluruh dokter yang telah membimbing penyusun selama di kepaniteraan klinik Ilmu Bedah di Rumah Sakit Umum Daerah Koja. Dan juga ucapan terima kasih kepada teman-teman seperjuangan di kepaniteraan ini, serta kepada semua pihak yang telah memberi dukungan dan bantuan kepada penyusun. Dengan penuh kesadaran dari penyusun, meskipun telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan referat ini, namun masih terdapat kelemahan dan kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat penyusun harapkan. Akhir kata, penyusun mengharapkan semoga referat ini dapat berguna dan memberikan manfaat bagi kita semua.

Jakarta, 12 september 2012

Raini

DAFTAR ISI

2

....……………………………………………... Komplikasi ……... VII. Pendahuluan ……………………………………………..….. 21 Pasca Operasi ………………………………………………. 8 7 BAB II ILEUS OBSTRUKSI …......... III.. 20 19 Penatalaksanaan ………………………………………..... III.. 11 10 Klasifikasi Etiologi ………………………………………………11 10 ..……. 16 15 Diagnosis banding …………………………………………....………………………………………12 11 Phatofisiologi .Kata Pengantar Lembar Pengesahan Daftar Isi BAB I ………………………………………………….... II.. IX.. 4 3 USUS ……. 21 Persiapan penderita ……………………………………….……………………………………………........ 2 …………………………………………………... 23 3 .... 5 4 I.…………………………………………… 13 12 Gejala Klinis . 11 10 I. VI.……………………………………........ …………………………………………..…………………………………………..... 3 ……………………………………………………………. IV....... 5 4 Anatomi …………………………………………………… 6 5 Fisilogi …………………… ………………………………....... II..... ……………………………………………………. 15 14 Diagnosis …………….... VIII. 22 X. Embriologi ………………………………………………. 11 10 Definisi ……. 21 Tindakan Operatif ……...………………………………………….. V.

24 BAB III.. ileus obstruktif.…………………………………………. iskemik. Prognosis ………. Gawat perut dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi. DAFTAR PUSTAKA ….………………………………………. sedangkan diketahui bahwa operasi abdominalis dan operasi obstetri ginekologik makin sering dilaksanakan yang terutama didukung oleh kemajuan di bidang diagnostik kelainan abdominalis. Penyebab yang paling sering dari obstruksi ileus adalah adhesi. merupakan 60-70% dari seluruh kasus akut abdomen yang bukan appendicitis akuta.. 4 . dan penyulitnya. Sebagian kelainan dapat disebabkan oleh cedera langsung atau tidak langsung yang mengakibatkan perforasi saluran cerna atau perdarahan.. dan perdarahan.70% dari seluruh kasus gawat abdomen.XI. Intestinal obstruction merupakan kegawatan dalam bedah abdominalis yang sering dijumpai.. 25 BAB II ILEUS OBSTRUKSI Pendahuluan Obstruksi intestinal merupakan kegawatan dalam bedah abdominalis yang sering dijumpai dan merupakan 60% .

Definisi Ileus obstruktif adalah obstruksi usus akibat dari penghambatan motilitas usus yang dapat ditimbulkan oleh banyak penyebab. Kematian jaringan ini dapat ditunjukkan dengan perforasi usus.Intestinal obstruction meliputi sumbatan sebagian (partial) atau seluruh (complete) lumen usus sehingga mengakibatkan isi usus tak dapat melewati lumen usus.7%. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai macam kondisi. dan shock11. dan nyeri kronis pelvis. kemudian diikuti Hernia 33. dan muntah. Survey Ileus Obstruksi di RSUD DR. yang paling sering menyebabkannya adalah jaringan usus itu sendiri karena adhesi. intestinal obstruction dapat menyebabkan sumbatan bagian usus dan menyebabkan kematian usus. atau tumor11. Anatomi 5 . INSIDEN Perlekatan usus sebagai penyebab dari Ileus saat ini menempati urutan pertama. Maingot melaporkan bahwa sekitar 70% penyebab dari Ileus adalah perlekatan. kembung. infertilitas (bedah ginekologik). mual. nyeri perut. keganasan 15%. Tidak hanya intestinal obstruction saja yang dapat menghasilkan perasaan yang tidak nyaman. bila tak diobati dengan benar. Adhesi dapat membelit dan menarik organ dari tempatnya dan merupakan penyebab utama dari obstruksi usus. Soetomo pada tahun 2001 mendapatkan 50% dari penyebabnya adalah perlekatan usus.(5. infeksi ringan. kram perut.3%. Adhesi merupakan suatu jaringan parut yang sering menyebabkan organ dalam dan atau jaringan tetap melekat setelah pembedahan. Volvulus 1.10) I. hernia.

Panjang jejenum 100 – 110 cm dan panjang ileum 150 -160 cm. Lapisan serosa merupakan lapisan terluar yang terdiri dari peritoneum visceralis dan parietal dan ruang yang terletak antara lapisan visceral dan parietal dinamakan rongga peritoneum. dinding usus halus dibagi atas empat lapisan yaitu lapisan serosa. menyerupai kipas yang menggantung jejenum dan ileum dari dinding posterior abdomen. Omentum minus merupakan lipatan peritoneum yang terbentang dari curvatura 6 . dan tiga per lima bagian terminalnya adalah ileum. Lapisan mukosa dibagi menjadi 3 lapisan yaitu mukosa muscularis. Usus halus dibagi menjadi duodenum. Lapisan submucosa terdiri dari lapisan jaringan konektif fibroelastis yang berisi pembuluh darah dan saraf. Lapisan muscularis propria terdiri dari dua lapisan otot yaitu lapisan otot longitudinal yang tipis dan lapisan otot sirkular yang tebal. Duodenum panjangnya sekitar 25 cm. Lapisan mukosa dan submukosa membentuk lapisan sirkular yang dinamakan valvula koniventes (Lig. lamina propria dan lapisan epitel. lapisan submukosa dan lapisan mukosa. mulai dari pilorus sampai jejenum. Jejenum mempunyai vaskularisasi yang besar dimana lebih tebal dari ileum. muskularis propria. jejenum dan ileum. Ligamentum ini berperan sebagai ligamentum suspensorium. Pemisahan duodenum dan jejenum ditandai oleh Ligamentum Treitz.Kerckringi) yang menonjol ke dalam sekitar 3 mm. Ganglion sel berasal dari pleksus Myenterica (Auerbach) yang berada di antara lapisan otot dan mengirimkan rangsangan pada kedua lapisan tersebut.Usus halus terbentang dari pylorum sampai caecum dengan panjang 270 cm sampai 290 cm. Mesenterium merupakan lipatan peritoneum yang lebar. Apendiks vermiformis merupakan tabung buntu berukuran sekitar jari kelingking yang terletak pada daerah ileosekal. yaitu pada apeks sekum. Omentum mayus merupakan lapisanganda peritoneum yang mengantung dari curvatura mayor lambung dan berjalan turun di depan visera abdomen. Omentum biasanya mengandung banyak lemak dan kelenjar limfe yang membantu melindungi rongga peritoneum terhadap infeksi. Secara mikroskopik. Kira – kira dua per lima dari sisa usus halus adalah jejenum.

kolon descendens. colon transversum. kolon ascenden dan bagian kanan kolon transversum diperdarahi oleh cabang a. sedangkan rangsangan simpatis menghambat pergerakan usus. Kolon dibagi lagi menjadi colon ascenden. Kolon transversum bagian kiri. Pada caecum terdapat katup ileosekal dan apendiks yang melekat pada ujung caecum.minor lambung dan bagian atas duodenum menuju ke hati. Sekum. a. descenden dan sigmoid. Usus besar dibagi menjadi caecum.ileokolika. Darah dikembalikan lewat vena mesenterika superior yang menyatu dengan vena lienalis membentuk vena porta. Colon sigmoid mulai setinggi krista iliaka dan berbentuk suatu lekukan berbentuk S. Arteri mesenterika superior dicabangkan dari aorta tepat di bawah arteri celiaca. Rangsangan parasimpatis merangsang aktivitas sekresi dan pergerakan. sedangkan serabut saraf parasimpatis mengatur refleks usus. Arteri ini mendarahi seluruh usus halus kecuali duodenum yang diperdarahi oleh arteri gastroduodenalis dan cabangnya arteri pankreatikoduodenalis superior.mesenterika superior yaitu a. membentuk Ligamentum Hepatogastrikum dan Ligamentum hepatoduodenale. Caecum menempati sekitar dua atau tiga inchi pertama dari usus besar. Tempat dimana colon membentuk belokan tajam yaitu pada abdomen kanan dan kiri atas berturut-turut dinamakan fleksura hepatika dan fleksura lienalis.kolika dekstra dan a.kolika media. Usus halus dipersarafi cabang-cabang kedua sistem saraf otonom. Usus besar memiliki empat lapisan morfologik seperti bagian usus lainnya. kolon sigmoid dan sebagian besar 7 . colon dan rektum. Lekukan bagian bawah membelok ke kiri waktu colon sigmoid bersatu dengan rektum. Serabut saraf sensorik sistem simpatis menghantarkan nyeri.

Absorbsi adalah pemindahan hasil akhir pencernaan karbohidrat. hepatobiliar dan sekresi usus dan pergerakan peristaltik mendorong isi dari salah satu ujung ke ujung lainnya dengan kecepatan yang sesuai untuk absorbsi optimal dan suplai kontinu isi lambung. elektrolit dan mineral. dan protein menjadi zat – zat yang lebih sederhana. Proses pencernaan dimulai dalam mulut dan lambung oleh kerja ptialin. air.sigmoid dan a. Kolon dipersarafi oleh oleh serabut simpatis yang berasal dari n.kolika sinistra. II. Proses dilanjutkan di dalam duodenum terutama oleh kerja enzim – enzim pankreas yang menghidrolisis karbohidrat. lemak dan protein melalui dinding usus ke sirkulasi darah dan limfe untuk digunakan oleh sel – sel tubuh. Adanya bikarbonat dalam sekret pankreas membantu menetralkan asam dan memberikan pH optimal untuk kerja enzim – enzim.mesenterika inferior melalui a. elektrolit dan vitamin juga diabsorbsi. Pembuluh vena kolon berjalan paralel dengan arterinya. Sekresi empedu dari hati membantu proses pencernaan dengan mengemulsikan lemak sehingga memberikan permukaan yang lebih luas bagi kerja lipase pankreas.hemoroidalis superior. Selain itu.rektum perdarahi oleh a. asam klorida dan pepsin terhadap makanan yang masuk. a. Proses pencernaan disempurnakan oleh sejumlah enzim dalam getah usus (sukus enterikus).vagus. Banyak di antara enzim – enzim ini terdapat pada brush border vili dan mencernakan zat – zat makanan sambil diabsorbsi. 8 .splanknikus dan pleksus presakralis serta serabut parasimpatis yang berasal dari N. Fisiologi Usus halus mempunyai dua fungsi utama yaitu pencernaan dan absorbsi bahan – bahan nutrisi. lemak. air. Pergerakan segmental usus halus akan mencampur zat –zat yang dimakan dengan sekret pankreas.

Bila usus halus berelaksasi. Tiap kontraksi ini melibatkan segmen usus halus sekitar 1 – 4 cm. demikian seterusnya. Kontraksi usus halus disebabkan oleh aktifitas otot polos usus halus yang terdiri dari 2 lapis yaitu lapisan otot longitudinal dan lapisan otot sirkuler. Gerakan ini berulang terus sehingga makanan akan bercampur dengan enzim pencernaan dan mengadakan hubungan dengan mukosa usus halus dan selanjutnya terjadi absorbsi. Gerakan peristaltik pada usus halus mendorong makanan menuju ke arah kolon dengan kecepatan 0. Otot yang terutama berperan pada kontraksi segmentasi untuk mencampur makanan adalah otot longitudinal. Pada saat satu segmen usus halus yang berkontraksi mengalami relaksasi. Bila bagian mengalami distensi oleh makanan. makanan akan kembali ke posisinya semula. Pergerakan usus halus terdiri dari : Pergerakan mencampur (mixing) atau pergerakan segmentasi yang mencampur makanan dengan enzim – enzim pencernaan agar mudah untuk dicerna dan diabsorbsi Pergerakan propulsif atau gerakan peristaltik yang mendorong makanan ke arah usus besar. Gerakan peristaltik ini sangat lemah dan biasanya menghilang setelah berlangsung sekitar 3 sampai 5 cm 9 .Pergerakan usus halus berfungsi agar proses digesti dan absorbsi bahan – bahan makanan dapat berlangsung secara maksimal. segmen lainnya segera akan memulai kontraksi. Proses kontraksi segmentasi berlangsung 8 sampai 12 kali/menit pada duodenum dan sekitar 7 kali/menit pada ileum. dinding usus halus akan berkontraksi secara lokal. dimana pada bagian proksimal lebih cepat daripada bagian distal. Kontraksi segmentasi berlangsung oleh karena adanya gelombang lambat yang merupakan basic electric rhytm (BER) dari otot polos saluran cerna.5 sampai 2 cm/detik.

makanan kadang – kadang terhambat selama beberapa jam sampai seseorang makan lagi. maka kontraksi sfingter ileocaecal akan meningkat dan gerakan peristaltik ileum akan berkurang sehingga memperlambat pengosongan ileum. Klasifikasi 10 . dimana aktifitas dari sel – sel ini dipengaruhi oleh sistem saraf dan hormonal. Pada saat tersebut.Pengaturan frekuensi dan kekuatan gerakan segmentasi terutama diatur oleh adanya gelombang lambat yang menghasilkan potensial aksi yang disebabkan oleh adanya sel – sel pace maker yang terdapat pada dinding usus halus. Bila tekanan di dalam caecum meningkat sehingga terjadi dilatasi. I. CCK. refleks gastrileal meningkatkan aktifitas peristaltik dan mendorong makanan melewati katup ileocaecal menuju ke kolon. dan insulin juga meningkatkan pergerakan usus halus. Makanan yang menetap untuk beberapa lama pada daerah ileum oleh adanya sfingter ileocaecal berfungsi agar makanan dapat diabsorbsi pada daerah ini. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh masuknya makanan ke duodenum sehingga menimbulkan refleks peristaltik yang akan menyebar ke dinding usus halus. Setelah mencapai katup ileocaecal. dan ileum akan mengalami paralisis sehingga pengosonga ileum sangat terhambat. Bila terjadi peradangan pada caecum atau pada appendiks maka sfingter ileocaecal akan mengalami spasme. Katup ileocaecal berfungsi untuk mencegah makanan kembali dari caecum masuk ke ileum. Fungsi sfingter ileocaecal diatur oleh mekanisme umpan balik. Aktifitas gerakan peristaltik akan meningkat setelah makan. Selain itu. Sebaliknya sekretin dan glukagon menghambat pergerakan usus halus. serotonin. hormon gastrin.

Berdasarkan Lokasi Obstruksi : • • • Letak Tinggi : Duodenum-Jejunum Letak Tengah : Ileum Terminal Letak Rendah : Colon-Sigmoid-rectum Berdasarkan Stadium : • • Parsial : menyumbat lumen sebagian Simple/Komplit: menyumbat lumen total Strangulasi: Simple dengan jepitan vasa • II. Etiologi 11 .

Proses yang langsung terjadi adalah gangguan aliran darah dan gangguan pasase segmen usus yang terjepit. b. Non Hernia : Penyempitan lumen usus 12 . Hernia Inkarserata Suatu keadaan dimana isi kantong henia tidak dapat masuk kembali ke rongga peritoneal akibat jepitan.Ileus Obstruktif a.

sehingga menyebabkan hambatan aliran usus dan mengganggu aliran darah yang melalui bagian usus yang mengalami intususepsi.• • • Isi Lumen : Benda asing. mengelilingi mesenterium dari usustersebut dengan mesenterum itu sendiri sebagai aksis longitudilah sehingga menyebabkan obstruksi saluran cerna. Adhesi adalah pita fibrosa yang membentuk jaringan scarlike antara dua permukaan di dalam tubuh. Atau bagian proksimal masuk kebagian distal. terjadi jepitan usus. Malformasi Usus III. Invaginasi atau intususepsi adalah bagian usus masuk kedalam usus dibagian belakangnya. Dinding Usus : stenosis (radang kronik). Volvulus adalah merupakan keainan berupa puntiran dari segmen usus terhadap usu itu sendiri. skibala. keganasan. Ekstra lumen : Tumor intraabdomen. ascariasis. Patofosilogi Obstruksi usus Akumulasi gas dan cairan di dalam lumen sebelah proksimal dari letak obstruksi 13 .

Distensi Kehilangan H2O dan elektrolit Tekanan intralumen Proliferasi bacteri yang berlangsung cepat Volume ECF Syok hipovolemik Ischemia dinding usus Kehilangan cairan yang menuju ruang peritoneum Pelepasan bakteri dan toksin dari usus yang nekrotik ke dalam peritoneum dan sirkulasi sistemik 14 .

Pada obstruksi usus yang lanjut. Sumbatan usus dan distensi usus menyebabkan rangsangan terjadinya hipersekresi kelenjar pencernaan. Hal ini menyebabkan terjadi serangan kolik abdomen dan muntah-muntah. Muntah : • • • Stenosis Pilorus : Encer dan asam Obstruksi usus halus : Berwarna kehijauan Obstruksi kolon : onset muntah lama.\ 15 . Hal tersebut menyebabkan pasase lumen usus terganggu. peristaltik sudah hilang oleh karena dinding usus kehilangan kontraksinya IV. Dengan demikian akumulasi cairan dan gas ntakin hertambah yang menyebabkan distensi usus tidak hanya pada tempat sumbatan tetapi juga dapat mengenai seluruh panjang usus sehelah proximal sumbatan. Gejala klinis A. yang menyebabkan pelebaran dinding usus (distensi). Akan terjadi pengumpulan isi lumen usus yang berupa gas dan cairan.Peritonitis septikemia Obstruksi ileus merupakan penyumbatan intestinal mekanik yang terjadi karena adanya daya mekanik yang bekerja atau mempengaruhi dinding usus sehingga menyebabkan penyempitan/penyumbatan lumen usus. Sumbatan ini menyebabkan gerakan usus yang meningkat (hiperperistaltik) sebagai usaha alamiah. Sebaliknya juga terjadi gerakan anti peristaltik. pada bagian proximal tempat penyumbatan. Nyeri-Kolik B.

Tidak ada flatus Adanya benjolan di perut. inguinal.1. Diagnosis 1.c. dan femoral yang tidak dapat kembali menandakan adanya hernia inkarserata. Perut Kembung (distensi) D. Obstruksi kolon : kolik dirasakan disekitar suprapubik. Tidak ada flatus G. Konstipasi E. Macam ileus Obstruksi simple tinggi Obstruksi simple rendah Obstruksi strangulasi Nyeri Usus ++ (kolik) +++ (Kolik) ++++ (terusmenerus.C. Obstruksi kolon : kolik dirasakan disekitar suprapubik. Perut Kembung (distensi). Invaginasi dapat didahului oleh riwayat buang air besar berupa lendir dan darah. Tidak ada defekasi F. Obstruksi usus halus : kolik dirasakan disekitar umbilicus H. Tidak ada defekasi. Obstruksi usus halus : kolik dirasakan disekitar umbilicus. peritonitis dapat diketahui riwayat 16 . Pada ileus paralitik e. Tabel-2. fekal +++ Tak tentu biasanya meningkat + Paralitik Oklusi vaskuler ++++ +++ + +++ Menurun Menurun + V. terlokalisir) + +++++ Distensi Muntah borborigmi + +++ Bising usus Meningkat Ketegangan abdomen - +++ + Meningkat - ++ Lambat. Subyektif -Anamnesis Nyeri-Kolik. Konstipasi. Muntah. Perbandingan Klinis bermacam-macam ileus.

Auskultasi Hiperperistaltik. 2. Onset keluhan yang berlangsung cepat dapat dicurigai sebagai ileus letak tinggi dan onset yang lambat dapat menjurus kepada ileus letak rendah. Adanya adhesi dapat dicurigai bila ada bekas luka operasi sebelumnya. Riwayat operasi sebelumnya dapat menjurus pada adanya adhesi usus. Perkusi Hipertimpani 17 . borborhygmi. Benjolan pada regio inguinal. bising usus bernada tinggi.nyeri perut kanan bawah yang menetap. Pada Intussusepsi dapat terlihat massa abdomen berbentuk sosis. Pada fase lanjut bising usus dan peristaltik melemah sampai hilang. femoral dan skrotum menunjukkan suatu hernia inkarserata. dapat ditemukan kontur dan steifung. Obyektif-Pemeriksaan Fisik Inspeksi Perut distensi.

Selanjutnya ditemukan adanya hemokonsentrasi. tetapi sangat membantu memberikan penilaian berat ringannya dan membantu dalam resusitasi. invaginasi.44% pada obstruksi non strangulata. dehidrasi dan ketosis. ditemukan hasil laboratorium yang normal. Radiologik 18 . Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Tes laboratorium mempunyai keterbatasan nilai dalam menegakkan diagnosis. hernia. tetapi hanya terjadi pada 38% .Ampula rekti kolaps : curiga obstruksi .50% obstruksi strangulasi dibandingkan 27% . Hematokrit yang meningkat dapat timbul pada dehidrasi.Nyeri tekan : lokal atau general peritonitis 3. dan metabolik asidosis bila ada tanda – tanda shock. Rectal Toucher .Feses yang mengeras : skibala .Feses negatif : obstruksi usus letak tinggi . Selain itu dapat ditemukan adanya gangguan elektrolit. dengan alkalosis metabolik bila muntah berat.10 Leukositosis menunjukkan adanya iskemik atau strangulasi. Pada tahap awal. Peningkatan serum amilase sering didapatkan.Adanya darah dapat menyokong adanya strangulasi. leukositosis dan nilai elektrolit yang abnormal.Isi rektum menyemprot : Hirschprung disease . Analisa gas darah mungkin terganggu.Palpasi Kadang teraba massa seperti pada tumor. neoplasma .

maka akan terlihat gambaran berupa hilangnya muosa yang reguler dan adanya gas dalam dinding usus. sedangkan sensitivitas 84% pada obstruksi kolon. Pada kolon bisa saja tidak tampak gas.Adanya dilatasi dari usus disertai gambaran “step ladder” dan “air fluid level” pada foto polos abdomen dapat disimpulkan bahwa adanya suatu obstruksi. Penggunaan kontras tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan peritonitis akibat adanya perforasi. Udara bebas pada foto thoraks tegak menunjukkan adanya perforasi usus. Foto polos abdomen mempunyai tingkat sensitivitas 66% pada obstruksi usus halus. Jika terjadi stangulasi dan nekrosis. Foto polos abdomen Dapat ditemukan gambaran ”step ladder dan air fluid level” terutama pada obstruksi bagian distal. 19 .

CT scan kadang – kadang digunakan untuk menegakkan diagnosa pada obstruksi usus halus untuk mengidentifikasi pasien dengan obstruksi yang komplit dan pada obstruksi usus besar yang dicurigai adanya abses maupun keganasan. 20 .

Intussuscepsi pada anak. TBC Usus. Divertikulum Meckel. Ileus meconium. 4. Carcinoid gastrointestinal. 9. 3. 5. Malignansi. 7.VI. 8. Infark Myocardial Akut. Penyakit Crohn. Tumor Ovarium. Diagnosis banding Ileus obstruksi harus dibedakan dengan: 1. Volvulus. 21 . 2. 6.

Sering dengan persiapan penderita yang baik. Hal ini terutama disebabkan telah dipahaminya dengan tepat patogenesis penyakit serta perubahan homeostasis sebagai akibat obstruksi usus. Persiapan penderita meliputi : o Penderita dirawat di rumah sakit. Operatif. 2. Penatalaksanaan Penatalaksanaan obstruksi ileus sekarang dengan jelas telah menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. obstruksinya berkurang atau hilang sama sekali. Intravenous fluids and electrolyte Dipasang kateter urin untuk menghitung balance cairan. Dekompresi dengan nasogastric tube.VII. 1. Pada umumnya penderita mengikuti prosedur penatalaksanaan dalam aturan yang tetap. 22 . breathing and circulation. o o o o o Penderita dipuasakan Kontrol status airway. Persiapan penderita Persiapan penderita berjalan bersama dengan usaha menegakkan diagnosa obstruksi ileus secara lengkap dan tepat.

Membuat saluran usus baru yang "melewati" bagian usus yang tersumbat. Apakah ada risiko strangulasi. Pada umumnya dikenal 4 macam (cara) tindakan bedah yang dikerjakan pada obstruksi ileus : a) Koreksi sederhana (simple correction). b) Tindakan operatif by-pass. • Kewaspadaan akan resiko strangulasi sangat penting. jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus ringan. misalnya pada tumor intralurninal. angka kematiannya adalah 1% pada 24 jam pertama. kadang-kadang dilakukan tindakan operatif bertahap. sedangkan pada strangulasi angka kematian tersebut 31%. misalnya pada Ca stadium lanjut. Pada obstruksi ileus yang ditolong dengan cara operatif pada saat yang tepat. dan sebagainya. ada 3 hal yang perlu : • • Berapa lama obstruksinya sudah berlangsung. Hal ini merupakan tindakan bedah sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan. misalnya pada Ca 23 . misalnya pada carcinomacolon. Bagaimana keadaan/fungsi organ vital lainnya. invaginasi strangulate dan sebagainya. misalnya pada hernia incarcerata nonstrangulasi.Bila telah diputuskan untuk tindakan operasi. baik sebagai akibat obstruksinya maupun kondisi sebelum sakit. baik oleh karena penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya. d) Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-ujung usus untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus. c) Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi. Crohn disease. Pada beberapa obstruksi ileus.

VIII. walaupun terdengar bising usus. Pemberian antibiotika dengan spektrum luas dan disesuaikan dengan hasil kultur kuman sangatlah penting. sementara ekskresi meninggi dan absorpsi sama sekali belum baik. mula-mula dilakukan kolostomi saja. Pasca Operasi Suatu problematik yang sulit pada keadaan pasca bedah adalah distensi usus yang masih ada. 3.7 hari pasca bedah. gas dan cairan yang terkumpul dalam lumen usus tidak boleh dibersihkan sama sekali oleh karena catatan tersebut mengandung banyak bahan-bahan digestif yang sangat diperlukan. apalagi bila telah terjadi strangulasi. monitoring pasca bedah yang teliti diperlukan sampai selama 6 . Pada tindakan operatif dekompressi usus. kemudian hari dilakukan reseksi usus dan anastomosis. Tindakan dekompressi usus dan koreksi air dan elektrolit serta menjaga keseimbangan asam basa darah dalam batas normal tetap dilaksanakan pada pasca bedahnya. Sering didapati penderita dalam keadaan masih distensi dan disertai diare pasca bedah. Pasca bedah tidak dapat diharapkan fisiologi usus kembali normal. Komplikasi o Nekrosis usus o Perforasi usus o Sepsis o Syok-dehidrasi o Abses o Sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi o Pneumonia aspirasi dari proses muntah o Gangguan elektrolit o Meninggal 24 . Hal tersebut bukan berarti peristaltik usus telah berfungsi dengan efisien. Bahaya lain pada masa pasca bedah adalah toksinemia dan sepsis. Gambaran kliniknya biasanya mulai nampak pada hari ke 4-5 pasca bedah. Pada obstruksi yang lanjut.sigmoid obstruktif.

R. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah.J. R.com . Talavera.3 Prognosisnya baik bila diagnosis dan tindakan dilakukan dengan cepat DAFTAR PUSTAKA 1. dan De Jong. Last Updated. Fiedberg. Avialablle at URL. J.: Small-Bowel Obstruction. M. 4. Li. S. and Antillon.D.: Ileus obstruksi.. Jusi. last Update januari 5. and Katz. A. 2010 5. Dahlan.. http://www. Mechaber. S.K. http://www. Editor : Dr. 2004.. 2003. J. http://www. Basson. Editor: Ochoa.com. General and laparoscopy surgeon. Keterlambatan dalam melakukan pembedahan atau jika terjadi strangulasi atau komplikasi lainnya akan meningkatkan mortalitas sampai sekitar 35% atau 40%.. FInaCS.. Prognosis Mortalitas obstruksi tanpa strangulata adalah 5% sampai 8% asalkan operasi dapat segera dilakukan. M. Editor: Sjamsuhidajat.. and Altschuler. June 14. F.dokteryudabedah. Last Updated. W. Schwarz. Djang. B. learningRadiology..FMAS.com Accessed on 18 April 2010 25 . Sp B. Obstruksi usus kecil.L. Gawat Abdomen. A.U.emedicine.IX. Wim. June 29. Edisi 2. Sjamsuhidajat.B. Yuda Hendaya. J.com. Editor: Vargas. Windle.: Colonic Obstruction.. Murnizat. 2. www. Jakarta: EGC. 2004. B.emedicine. Hal: 181-192. 3.

Sabiston Textbook of Surgery .healthline. Accessed 0n 20 April 2010 26 . Intestinal obstruction. Mattox KL. Evers BM. 18th ed. 2008:chap 48 7. In: Townsend CM. BM Usus Kecil. Evers. Aviable at URL .6. Mo: WB Saunders. St.com. eds. www. Beauchamp RD. Louis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful