Sintaksis: Sebuah Intisari

BAB 1 APAKAH SINTAKSIS? 1.1 Batasan Sintaksis Sintaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech). Unsur bahasa yang termasuk dalam lingkup sintaksis adalah frasa, klausa dan kalimat. Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonprediktif, misalnya rumah mewah. Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah predikat, dam berpotensi menjadi kalimat. Kalimat adalah satuan bahasa yang relatif berdiri sendiri, yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah subjek dan predikat. 1.2 Aspek-Aspek Sintaksis 1.2.1 Kata: Ciri dan Klasifikasi Kata dapat dilihat dari berbagai segi. Pertama,kata dilihat dari pemakai bahasa. Menurut pemakai bahasa salah satuan gramatikal yang diujarkan, bersifat berulang-ulang, dan secara potensial ujaran itu dapat berdiri sendiri. Kedua, kata dilihat secara bahasa. Secara linguistis kata dapat dibedakan atas satuan pembentuknya. Oleh karena itu, kata dapat dibedakan atas: 1) Kata sebagai satuan fonologis Ciri fonologis kata bahasa Indonesia, misalnya: a. b. c. d. mempunyai pola fonotatik suku kata, bukan bahasa vokalik, tidak ada gugus konsonan pada posisi akhir, batas kata tidak ditentukan oleh fonem suprasegmental.

2) Kata sebagai satuan gramatikal Menurut Lyons(1971) dan Dik (1976), secara gramatikal kata bebas bergerak, dapat dipindah-pindahkan letaknya, tetapi identitasnya tetap. 3) Kata sebagai satuan ortografis Secara ortografis, kata ditentukanoleh sistem aksara yang berlaku dalam bahasa itu. Bahasa Indonesia misalnya menggunakan aksara latin jadi sebuah kata dituliskan terpisah dari kata lainnya, misalnya terima kasih dan kerja sama. 1.2.2 Frasa: Ciri dan Klasifikasi Frasa dalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif (Rusyana dan Samsuri, 1976) atau satu kata konstruksi ketatabahasaan yang terdiri atas dua kata atau lebih. 1.2.3 Klausa : Ciri dan Klasifikasi Klausa dalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat. Klausa dapat dibedakan berdasarkan distribusi satuannya dan berdasarkan fungsinya. Berdasarkan distribusi satuannya, klausa dibedakan atas klausa bebas dan klausa terikat. Berdasarkan fungsinya, klausa dibedakan menjadi klausa subjek, klausa objek, klausa keterangan, dan klausa pemerlengkapan. 1.2.4 Kalimat: Ciri dan Klasifikasi Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relative berdiri sendiri, mempunyai intonasi final (kalimat lisan), dan secara actual ataupun potensial terdiri atas klausa. Dilihat dari fungsinya, unsur kalimat berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Menurut bentuknya, kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal, kalimat tunggal dan perluasannya, serta kalimat majemuk. 1.3 Hubungan Sintagmatis dan Paradigmatis

1.3.1 Hubungan Sintagmatis Hubungan sintagmatis adalah hubungan linier antara unsur bahasa yang satu dan unsur bahasa yang lain dalam tataran tertentu. Hubungan itu dapat diuji dengan permutasi atau perubahan urutan satuan unsur-unsur bahasa. Contoh: a. Dengan penuh disiplin dan tanggung jawab, saya bekerja keras. b. Saya// bekerja keras// dengan penuh disiplin// dan tanggung jawab. 1.3.2 Hubunagn Paradigmatis Hubungan paradigmatis adalah hubungan sistematis antarunsur bahasa yang memiliki kesesuaian. 1) Tataran Fonemis Fonem /s/ pada kata sarang mempunyai hubungan paradigmatis dengan fonem yang dapat menggantikannya asalkan penggantian itu menghasilkan kata dalam kategori dan fungsi yang sama, misalnya fonem /s/, /b/, /p/, dan /k/ pada kata /s/arang, /b/arang, /p/arang, dan /k/arang karena kata-kata itu berkelas nomina dan sama-sama dapat mengisi fungsi subjek atau objek. 2) Tataran Morfologis Pada umumnya, urutan morfem dalam sebuah kata tidak dapat diubah-ubah menurut keinginan seseorang, misalnya sebagai pembentuk kata kerja, awalan meng- dan diselalu terletak pada awal kata, seperti pada menulis dan melancong serta ditempuh dan dijual. 3) Tataran Sintaksis Ada kalanya kata di dalam sebuah kalimat dapat diubah-ubah letaknya tanpa mengubah arti. Yang berubah akaibat perubahan letak itu hanya pengutamaan informasi, sepaerti

a. Saya dan adik pergi kemarin b. Kemarin saya dan adik pergi c. Saya dan adik kemarin pergi 1.4 Kategori, Fungsi, dan Peran Beberapa jenis kategori yang dapat menjadi unsur kalimat adalah nomina (kata benda), adjektiva(kata sifat), numeralia(kata bilangan), adverbial, dan kata tugas, seperti preposisi(kata depan), konjungsi(kata penghubung), dan partikel, seperti kah, lah, tah, pun. Berdasarkan fungsinya, unsur-unsur kalimat ada yang disebut subjek, predikat, objek, pelengkap, serta keterangan. Peran semantis yang lazim terdapat dalam suatu kalimat adalah pengalam atau penanggap (experiencer), pelaku (agent), pokok,cirri, sasaran, hasil, peruntung atau pemaslahatbeneficiary), dkk.1998) 1.5 Kegramatikalan, Kebermaknaan, dan Keberterimaan Kegramatikalan atau keapika gramatikal (grammatical wellformedness) adalah konsep yang mengacu pada satuan bahasa yang mengikuti kaidah tata bahasa yang meliputi beberapa tingkatan, yaitu menyangkut kegramatikalan bentuk kata, bentuk klausa, atau bentuk kalimat (cf. Lycons, 1981:101) Kebermaknaan meliputi kebermaknaan kata, frasa, dan kalimat. Selanjutnya, suatu tuturan, mungkin dapat gramatikal dan bermakana, tetapi tuturan lain mungkin tak gramatikal dan tak bermakna Lycins, 1996:132) keberterimaan (acceptability) berkaitan denga sistem bahasa yang tepat atau keapikan semantis (semantic well-formedness). Sebaliknya, ketakberterimaan (unacceptability) berkaitan dengan sistem bahasa yang tidak tepat atau kerantakan semantis (semanticill-formedness) (Lycons, 1979:379) 1.6 Tafsir Ganda ukuran(measure), alat(instrument), tempat(place),

sumber(source), jangkauan(range), penyerta, waktu dan asal (Kridalaksana 1991; Alwi

BAB 2 KLASIFIKASI FRASA . Misalnya. Tafsir pertama rumahnya yang aneh dan tafsir kedua sang jutawannya yang aneh. belum dimilikinya perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Negara tersebut. 1.7 Parafrasa Parafrasa berarti (1) pengungkapan kembali suatu tuturan dari sebuah tingkatan atau macam bahasa menjadi yang lain dengan tidak mengubah arti. Contohnya: a. antara lain. kalimat (1) Rumah sang jutawan aneh akan dijual menimbulkan tafsir ganda. bahkan bermacam-macam makna karena penyusunan ungkapan atau pernyataan tersebut kurang tertib.Ada beberapa kendala dalam penyelesaian BLBI. (2) penguraian kembali suatu teks (karangan dalam bentuk (susunan kata-kata) yang lain dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi.Suatu ungkapan atau pernyataan kadang-kadang bisa ditafsirkan menjadi dua makna.Bantuan Likuiditas Banh Indonesia yang dibawa kabur oleh konglomerat ke Singapura dan Cina sulit diselesaikan karena banyak hambatan. 1.8 Permutasi Permutasi adalah perubahan deretan atau urutan unsur-unsur kalimat. Misalnya. 2. 1. Agar tidak menimbulkan tafsir ganda maka kalimat tersebut direvisi menjadi (1a) Rumah aneh milik sang jutawan aka dijual dan (1b) Rumah milik sang jutawan aneh akan dijual. kalimat pada hari Senin minggu depan Menteri Pembangunan Daerah Tertinngal akan mengumumkan jumlah desa tertinggal di Indonesia dapat dipermutasi menjadi Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal akan mengumumkan jumlah desa tertinggal di Indonesia Senin minggu depan.

seperti karena. seperti selaras dengan perbandingan.2. Pada dasarnya. i. l. c. 2. lantaran penjadian. g. d. seperti di pasar. buatmu sebab. ke Kampus menunjukkkan peralihan. dari sekolah asal bahan. e. n. seperti tentang ekonomi tujuan.1 Pengantar Frasa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif (Rusyana dan samsuri 1976) atau satu konstruksi ketatabahasaan yang terdiri atas dua kata atau lebih. para hakim’ (b)frasa yang seluruhnya berperilaku sama dengan salah satu . h. seperti seperti dia 2.2. frasa preposisional menunjukkkan makna berikut: a. b. seperti dengan cangkul keberlangsungan. seperti denganmu cara. seperti dari kampong. baik dengan sumbu maupun dengan preposisi. f. m.2. seperti sejak kemarin penyamaan. 2. seperti dengan baik alat. seperti kepada saya perihal.2 Frasa Eksosentris Nondirektif Frasa eksosentris nondirektif dapat dibedakan menjadi (a) frasa yang sebagian atau seluruhnya memiliki perilaku yang samadengan bagian-bagiannya. seperti si kancil. seperti untukmu. seperti oleh karena itu kesertaan. o. si terdakwa. tempat. ke rumah asal arah.1 Frasa Eksosentris Direktif (Frasa Preposisional) Frasa preposisional pada umumnya berfungsi sebagai keterangan. seperti ke Lampung. j. seperti cincin( dari emas) tujuan arah. k.2 Frasa Eksosentris Frasa eksosentris adalah frasa yang sebagian atau seluruhnya tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan semua komponennya.

3 Frasa Endosentris Frasa endosentris adalah frasa yang seluruhnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan perilaku salah satu komponennya. nasi berbakul-bakul. terdakwa dan kekasih memiliki perilaku sama dengan si terdakwa dan sang kekasih. 2. kamu dengan dia. kolam yang jernih. kulit kuning langsat. dan demonstrativa. uang itu. verba. sang raja. politisi yang ditinngal di Jakarta itu. 2) Frasa Pronominal Frasa pronominal adalah frasa yang terdiri atas gabungan pronominal dan pronominal atau gabungan pronimina dan adjektiva. numeralia. hadiah untuk ibuku. orang yang dicintainya.3.unsurnya. 1) Frasa nominal adalah frasa yang terdiri atas nomina (sebagai pusat) dan unsur lain yang berupa adjektiva. frasa preposisional.1 Frasa Endosentris Berinduk Tunggal (Frasa Modifikasi) Frasa endosentris berinduk tunggal terdiri atas induk yang menjadi penanda kategorinya dan modifikaror yang menjadi pemerinya. numeralia. dua buah rumah. adverbial. atau frasa lain. batu bertulis. teman separtai. mereka itu. banyak mahasiswa. anak mereka. demonstrativa. . 2. Artinya. pronominal. anak manis. konstruksi dengan yang…-nya. 3) Frasa Verbal Frasa verbal adalah frasa yang tediri atas gabungan verba dan verba atau gabungan verba dengan adverbial atau gabungan verba dan preposisi gabungan. Contoh: kami berdua. frasa dengan yang. lagi-lagi saya. hati yang luka. Contoh:meja batu. peristiwa yang amat penting yang terjadi kemarin.

2) Frasa Apositif Frasa apositif adalah frasa endosentris berinduk banyak yang secara luar bahasa komponennya menunjuk pada maujud yang sama. Contoh: sembilan belas. masuk desa. makan dengan lahap. untuk dan atas nama klien. coba baca buku. beristri dua. mati kartu. panas terik. cantik benar. jalan tanpa arah. asalkan seluruhnya berperilaku sebagai adjektiva. dan nomina ukuran. Contoh: kaya atau miskin. 5) Frasa Numeral Frasa numeral adalah frasa yang terdiri atas numeralia sebagai induk dan unsur perluasan lain yang mempunyai hubungan subordinatif dengan nomina penggolong bilangan. Contohnya: sedikit masam. dua atau tiga. entah suka entah tidak.3. kuat iman. pulang pergi. baik merah maupun biru.2 Frasa Endosentris Berinduk Banyak 1) Frasa Koordinatif Frasa kooordinatif adalah frasa endosentris berinduk banyak. dapat diketahui.Contoh: pergi kerja. masuk ke dalam. gagah berani. dating ke. yang secara potensial komponennya dapat dihubungkan dengan partikel. dua lusin. makin tua makin bermutu. ribuan penduduk. agak nakal juga. 2. cetakan pertama. masih belum pasti. 4) Frasa Adjektival Frasa adjektival adalah frasa yang terdiri atas gabungan beberapa kata atau yang terdiri atas induk berkategori apa pun. .

orag sabar.Contohnya: Ria. 1982). kata majemuk harus berstatus kata. terbagi menjadi dua belas tipe. 2. Kolokasi dibedakan dengan idiom.4 Frasa dan Kata Majemuk Harimurti Kridalaksana (1985) mengemukakan bahwa: 1. Kolokasi tipe I A dibentuk oleh nomina yang berciri semantis +insani. kata majemuk bukan frasa. 2. bukan konsep semantic. yaitu: A. -konkret. +waktu. Contoh: anak cerdas. gadis lincah. 2. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantik +watak atau +perbuatan. Idiom merupakan konstruksi dari unsur-unsur kata yang saling memilih atau konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna anggota-anggotanya. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan. misalnya panjang tangan berarti pencopet atu pencuri. anak kakakku yang tinggal di Lampung. dan frasa karena sanding kata dilihat dari kemungkinan adanya beberapa kata dalam lingkungan yang sama atau perasosiasian yang tetap antara kata dan katakata tertentu (Kridalaksaan. +terbilang. sebagai berikut: a.5 Kolokasi Kata Kolokasi disebut juga sanding kata. +konkret. yaitu kolokasi yang berkonstruksi [N+A]. +terbilang. . kata majemuk merupakan konsep sintaksis. kata majemuk. a. Secara garis besar kolokasi dalam bahasa Indonesia dibedakan diklasifikasi menjadi dua. Kolokasi tipe I B dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani. salah satu mantan Presiden Republik Indonesia. Kolokasi kelompok I. -bernyawa. Megawati Soekarno Putri.

kotak hijau. Contoh: wajah bulat. +konkret. Kolokasi tipe I D dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani.Contoh: iklan penting. Kolokasi tipe I G dibentuk oleh nomina yang berciri semantis +insani. -terbilang. karya baru. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan. Contoh: nasib buruk. +terbilang. Kolokasi tipe I C dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani. gidung mancung. Kolokasi tipe I H dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani. orang tua. +konkret. Contoh: bapak gagah. -bernyawa. +terbilang. -bernyawa. +terbilang. -bernyawa. malam aman. gadis manis. a. +konkret. +terbilang. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan. hari panas. hati lembut. +terbilang. sungai lebar. a. +bagian tubuh. a. cerita pendek. +konkret. -bernyawa. +terbilang. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +warna. Contoh: masyarakat sejahtera. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +ukuran. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +usia. . Kolokasi tipe I E dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani. Kolokasi tipe I F dibentuk oleh nomina yang berciri semantis +insani. negara makmur. -bernyawa. a. Kolokasi tipe I I dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani. a. Contoh: barang berat. ibu anggun. +konkret. a. Contoh: janda muda. bangku panjang. tanah subur. -konkret. a. pemuda ganteng. -konkret. Kolokasi tipe I J dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +kualitas. a. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan diri. Contoh: angsa putih. +konkret. +terbilang. +kelompok. kertas kuning.

Kolokasi tipe I L dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani. +konkret. Kolokasi tipe I K dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani. Kolokasi lelompok II memiliki konstruksi adjektiva ditambah nomina atau [A+N]. jari lentik. -terbilang. A. -bernyawa.Contoh: bibir sumbing. dada bidang. klausa dapat dibagi menjadi klausa bebas dan klausa terikat. yang pada dasarnya kolokasi tipe ini merupakan kebalikan dari kolokasi kelompok I. a. cahaya redup. a. -konkret. 3. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +lingkungan. Contoh: pintu baru. . sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan. Contoh: awan mendung.2 Klausa Berdasarkan Distribusi Satuan Berdasarkan potensinya untuk dibentuk menjadi kalimat.1 Pengantar Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat. laut luas. cuaca buruk. jendela bekas. Contoh: [A] + [N] Hangat-hangat kuku Kuning langsat Merah darah bab3 KLASIaFIKASI KLAUSA 3. +terbilang. bernyawa.

3 Klausa Berdasarkan Fungsi Berdasarkan fungsinya.1 Subjek Subjek adalah bagian klausa yang berwujud nomina atau frasa nominal yang menandai apa yang dinyatakan oleh pembicara. keterangan. klausa dapat menduduki fungsi subjek. d. yang berfungsi meluaskan atau membatasi makna subjek atau makna predikat.2 Objek Objek adalah bagian klausa yang berwujud nomona atau frasa nomina yang melengkapi verba transitif.3. Contoh objek tak langsung : bibi sedang menanak nasi untuk kita semua. 3. objek. dan pelengkap. Contoh: Kami sekeluarga bulan lalu berlibur ke Bali.3.3.(kami sekeluarga merupakan subjek) 3. Contoh: a. ia tidak jadi ikut keterangan jimlah: bagai pinang dibelah dua keterangan alat: dinaikkan dengan mesin pengangkat 3.3 Klausa Keterangan Klausa keterangan adalah klausa yang menjadi bagian luar inti. Objek dapat dibagi menjadi dua yaitu objek langsung dan objek tak langsung.4 Klausa Pelengkap . 3.3. b. keteranga akibat: penjahat itu dihukum mati keterangan sebab: karena sakit. c. Contoh objek langsung: bibi sedang menanak nasi.3.

Contoh: Ia berpandangan dengan ibunya. adjektiva. . tetapi secara berbalasan atau klausa yang subjeknya saling melakukan pekerjaan yang disebutkan predikat verbalnya. aku mengirimkan surat.4 Klausa Berdasarkan Struktur 3. dan lain-lain. Klausa verbal aktif taktransitif adalah klausa yang predikat verbalnya tidak mempunyai sasaran dan tidak mempunyai onjek. Klausa verbal aktif transitif adalah klausa yang predikat verbalnya mempunyai sasaran dan atau mempunyai objek.Contoh: Bibi menjual makanan. dan lain-lain. frasa nomina. seperti: a. abangku menjadi pilot b. Contoh: saya makan.Klausa pelengkap adalah klausa yang terdiri atas nomina. kami kehujanan. Klusa verbal pasif adalah klausa yang menunjukkan bahwa subjek dikenai pekerjaan atau sasaran perbuatan seperti yang disebutkan dalam predikat verbalnya.1 Klausa Verbal Klausa verbal adalah lausa yang predikatnya verba. adik mandi. Klausa verbal aktif transitif resiprokal adalah klausa yang subjeknya melakukan pekerjaan yang disebutkan predikat verbalnya. aku dianggap patung 3.4. Klausa verbal terdiri atas klausa verbal aktif transitif dan klausa verbal aktif taktransitif. Contoh: korban ditembak. atau frasa adjektival yang merupakan bagian dari predikat verbal. kami bermain bola c.

3. Hubungan pertetangan yang menyatakan implikasi . pengetahuan kita bertambah.1. 3. Saya mencintai dan memahami pekerjaan saya selam ini. 1. ayahku nelayan. tetapi juga teliti dan rendah hati. Contoh: adik ke Bandung. Hubungan pertentangan yang menyatakan penguatan Contoh: Ia tidak hanya rajin dan pandai. b.2 Klausa Nonverbal Klausa nonverbal adalah klausa yang predikatnya berupa nomina.1. dia sedang sakit. dan lain-lain. adjektiva. Contoh: a.5 Hubungan Antarklausa 3.5.5.4.5. Contoh: 1. Saya bersama beberapa orang teman ingin mendirikan perpustakaan.2 Hubungan Adversatif (pertentangan) Hubungan pertentangan biasanya ditunjukkan oleh klausa kedua yang berisikan informasi yang bertentangan dengan isi informasi pada klausa pertama. numeralia. 3.Contoh: kelakuannya menjadi-jadi.1 Hubungan Antarklausa yang Koordinatif Hubungan koordinatif menunjukkan hubungan yang setara. 3. pronomina. dan lain-lain. atau frasa preposisional.1 Hubungan Aditif (jumlah) Hubungan jumlah ditunjukkan oleh klausa kedua berisikan informasi yang menambahkan isi informasi pada klausa pertama.

5.5.2. lalu mencari uang.5. dan hasilnya.1. 2) Hubungan pilihan yang tidak menyatakan pertentangan Dia duduk merenungkan masa lalu ataukah sedang merancang masa depan? 3.5. 3. .3 Hubungan Alternatif (pilihan) Hubungan pilihan adalah hubungan yang menyatakan pilihan diantara berbagai kemungkinan yang ada yang ditunjukkan oleh klausa yang dihubungkan itu. 3.2 Hubungan Akibat Kata hubung yang digunakan adalah akibat.2. Hubungan pertentangan yang menyatakan perluasan Contoh: Budaya daerah harus dijaga. Mereka berkelahi karena salah paham b. Saya tidak tahu apa sebab dia tidak mau datang ke pertemuan itu. 1) Hubungan pilihan yang menyatakan pertentangan Aku harus bersekolah dengan sengsara atau berhenti. 3. karena. tetapi belum juga punya uang banyak. dan oleh karena.2 Hubungan Antarklausa Subordinatif Hubungan antarklausa subordinatif menunjukkan hubungan yang hierarkis. tetapi budaya luar baik jangan ditolak.Contoh: Aku sudah lama berdagang. Contoh: a. akibatnya. 1.1 Hubungan Sebab Kata hubung yang digunakan adalah sebab.

4 Hubungan Syarat Kata hubung yang digunakan adalah jika. 3.2. sesudah.2.5.5 Hubungan Waktu 1) Waktu Batas Permulaan Ditandai dengan kata hubung sejak atau sedari. dia membantu orang tuanya bekerja di ladang. supaya. dan tatkala. jikalau. 4) Waktu Batas Permulaan . Contoh: Kami terbiasa hidup sederhana sedari kami masih baru saja menikah. dan begitu. 3) Waktu Berurutan Ditandai dengan kata hubung sebelum.2. dan asalkan. 2) Waktu Bersamaan Ditandai dengan kata hubung ketika. selagi.5. dan biar. (se)waktu. sehabis. Contoh: Sesudah pulang sekolah. pada waktu. agar. selam. serta. Contoh: Mereka datang ketika kami sedang duduk-duduk di teras rumah sore hari. demi. 3. sambil. setelah. kalau. Contoh: Saya bekerja keras demi membesarkan anak-anak saya.Contoh: Kebakaran itu terjadi akibat kelalaian petugas pada bagian mesin.5. semantara. Contoh: Saya mau datang ke pertemuan penting itu jika anda datang juga. seraya.3 Hubungan Tujuan Kata hubung yang digunakan adalah untuk. seusai. 3.

dan menggunakan.2. Contoh: Petinju itu menang dengan cara mengelakkan setiap pukulan yang datang. 3.5.2.2.5. memakai. tidak dengan.6 Hubungan Kosesif Ditandai dengan kata hubung sungguh (pun).7 Hubungan Cara Ditandai dengan kata hubung dengan atau tanpa. 3.5.5.9 Hubungan Alat Ditandai dengan kata hubung dengan. Contoh: Petani membalik tanah dengan cangkul.10 Hubungan Perbandingan 3.10a Hubungan Ekuatif .5. Contoh: Sekarang aku baru tahu (bahwa) anak itu ternyata sangat rajin. 3.2.Ditandai dengan kata hubung sampai dan kepada. dan kendati (pun).2. sekalipun.2.8 Hubungan Kenyataan Klausa subordinatif pada hubungan kenyataan atau hubungan komplementatif bertugas melengkapi verba atau melengkapi nomina subjek. 3. Contoh: Dia rela anaknya pergi belajar walaupun harus jauh dari kampung halaman. 3.5. Contoh: Aku harus belajar dan berjuang keras sampai cita-citaku tercapai.

. Contoh: Istrinya yang tinggal di Bogor berjualan telur. dan maka.10b Hubungan Komparatif Hubungan komparatif mempersyaratkan perbedaan taraf antara klausa utama dan klausa subordinatif.00 3. sampai-sampai.12 Hubungan Atributif Ditandai dengan kata hubung subordinatif yang. keterangan pewatas itu menjadi bagian integral dari nomina yang diterangkannya. seperti: Pesta itu telah menghabiskan biaya lebih dari/kurang dari Rp 50. 3. seperti: Sekarang penghasilan anak-anakku sama banyak dengan penghasilanku. sehingga. 3. Bentuk persamaan yang digunakan adalah sama + adjektiva +dengan atau se-+adjektiva.11 Hubungan Hasil Ditandai dengan kata hubung sampai.2. Akibatnya.2.000.5.5.5. Contoh: Semburan Lumpur panas itu makin lama makin besar sehingga kami hampir tidak mampu lagi mengatasinya.2. 2) Hubungan Atributif Takrestriktif Klausa relatif pada hubungan atributif takrestriktif hanya memberikan tambahan informasi pada nomina yang diterangkannya.000.Hubungan ekuatif mempersyaratkan persamaan taraf antara klausa utama dan klausa subordinatif. Bentuk persamaan yang digunakan adalah lebih/kurang +dari atau lebih/kurang + adjektiva +daripada. 1) Hubungan Atributif Restriktif Hubungan seperti ini mewatasi makna nomina yang diterangkannya.

semoga. kalau-kalau ia juga datang pada hari ini. yang tinggal di Bogor. . Contoh: Andaikata saya merpati. tentu sudah aku terbangi laut yang luas itu.5. apabila. ikalau. berjualan telur. izin perusahaan tersebut dapat dicabut. 1) Andaian yang tidak mungkin terjadi Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung andaikata dan andaikan. Contoh:Jika suatu perusahaan melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud Pasal 6.5. Contoh: Mengapa ayah diam saja sejak tadi? Jangan-jangan ayah marah kepada kita.13 Hubungan Andaian Klausa subordinatif pada hubungan pengandaian berisikan andaian atas sesuatu yang terdapat pada klausa utama. moga-moga. dan bilamana. 2) Andaian yang mungkin terjadi Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung jika. 3. kalau.Contoh: Istrinya.14 Hubungn Optatif (Berharap) Kata hubung yang digunakan adalah agar. Contoh: Kita berdoa sajalah. dan mudah-mudahan.2. 3. 3) Andaian yang menggambarka kekhawatiran Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung jangan-jangan. 4) Andaian yang berhubungan dengan ketidakpastian Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung kalau-kalau.2.

dan Fungsi Lain Untuk mengetahui subjek sebuah kalimat. kita dapat mengajukan pertanyaan dengan menggunakan unsur predikat sebagai tumpuan. .? atau siapa yang……. mempunyai intonasi final (kalimat lisan). Predikat. Semua kalimat dasar adalah kalimat tunggal. Objek. Kalimat tunggal sapat diperoleh dari beberapa segi.4. apa yang…….1 Apakah Kalimat? Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri. b) Kalimat tunggal adalah kalimat dasar yang diperluas dengan berbagai keterangan. Jadi kalimat dasar adalah kalimat yang belum mengalami perluasan.2 Strategi Pengenalan Kalimat Kalimat dasar adalah kalimat yang terdiri atas unsur-unsur pokok.1 Kalimat Tunggal Kalimat tunggal adalah kalimat yang mempunyai satu subjek dan satu predikat.4 Kalimat Menurut Bentuk 4. 4.Contoh: Kami memohon semoga bapak mau memaafkannya. Contoh: Wisatawan asing berkunjung ke Indonesia.? 4. a) Kalimat tunggal adalah kalimat murni Contoh: Rupiah menguat.. BAB 4 KLASIFIKASI KALIMAT 4. dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa. Misal. 4.3 Fungsi Sunjek.

dan berobjek kedua nomina. Contoh: Berdiri aku di senja senyap. enam pola kalimat dasar di atas dapat diperluas atau dipermutasikan unsur-unsurnya. Dalam Bahasa Indonesia terdapat enam pola kalimat: 1) Subjek (KB) + Predikat (KK) : pakar politik berdiskusi 2) Subjek (KB) + Predikat (KK) +Objek (KB) : Mahasiswa mengikuti ujian 3) Subjek (KB) + Predikat (KK) +Objek (KB) +Objek (KB) saya buku Biologi 4) Subjek (KB) + Predikat (KS) : Harga kertas mahal 5) Subjek (KB) + Predikat (K. dan berobjek nomina.c) Kalimat tunggal adalah kalimat dasar yang berubah susunannya. Contoh: Surat kabar memberikan saya kepintaran. Pola 1 adalah pola kalimat yang hanya mengandung unsur subjek nomina dan unsur predikat verba.Bil) : Komputernya dua buah 6) Subjek (KB) + Predikat (KB) : Temanku guru SMU 1 Untuk menciptakan beragam kalimat tunggal. Pola 3 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat verba. Pola 2 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat verba. osen membawakan . Contoh: Kami berjuang. Contoh: Kami mencairkan dana.

Ketarangan tempat. b. atau.2 Kalimat Majemuk Bertingkat (taksetara) Kalimat majemuk taksetara terdiri atas unsur anak kalimat dan induk kalimat.3. dengan keris. 4. Contoh: Mereka sudah menyelesaikan tugas . 4. seperti dan. d.4.Pola 4 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat adjektiva. c.3 Kalimat majemuk taksetara Rapatan Kalimat majemuk taksetara atau kalinat majemuk bertingkat dapat juga dirapatkan jika terdapat unsure subjek yang sama.1 Kalimat Majemuk Setara Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang terdiri atas dua kalimat tunggal atau lebih yang digabungkan dengan kata hubung yang menunjukkan kesetaraan. seperti tiap tahun. Keteranga cara. sedangkan. 4. dalam ruangan. ninggu ketiga. sekitar kota.3. dan tetapi. 4. dan berbagai jenis keteranga lainnya. Keterangan alat. Keterangan waktu.4.4. Pola 5 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat numeralia. seperti dengan pensil. seperti di sini.4.2 Perluasan Kalimat Tunggal Keenam pola kalimat dasar itu dapat diperluas dengan unsure keterangan. Contoh: Panjang mobil itu empat meter.4.3 Kalimat Majemuk 4. Contoh: Saya akan sulit sampai di kantor jika pagi-pagi sekali hari sudah hujan. Contoh: Suku bunga bank sangat tinngi.3. a. seperti dengan berhati-hati.

lalu diikuti oleh unsur tambahan (induk kalimat diikuti anak kalimat). pendapatan pegawai swasta jauh lebih besar.4 Jenis Kalimat menurut Bentuk dan Gaya a. 4. Kalimat yang Melepas Jika kalimat majemuk diawali oleh unsure utama. (salah) Jika dibandingkan dengan pendapatan pegawai negeri.3. . Contoh: Kemunduran perekonomian kita harus diatasi sebelum masyarakat menderita kelaparan total.3 Kalimat Majemuk Campuran Terdiri atas kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat.4 Penghilangan Kata Penghubung pada Kalimat Majemuk Contoh: Dibandingkan dengan pendapatan pegawai negeri. b. Contoh: Karena pembicaraan mengenai pemecahan atom belum rampung. gaya penyajian tersebut disebut gaya penyajian berklimaks.Mereka boleh mengambil tanda terima Dapat dirapatkan menjadi Karena mereka sudah menyelesaikan tugas. Kalimat yang Berklimaks Jika kalimat majemuk diawali anak kalimat dan didikuti induk kalimat. gaya penyajian tersebut disebut gaya penyajian melepas.3.4.4. pendapatan pegawai swasta jauh lebih besar. kami terpaksa bekerja sampai malam dan melakukan pembagian kerja dengan lebih baik lagi. 4.(benar) 4.4. mereka boleh mengambil tanda terima.

Contoh: Karena penjarah berbaju hitam. Kalimat yang Berimbang Jika kalmiat disusun dalam bebtuk kalimat mejemuk campuran. 4. Contoh: Dilarang merokok di ruangan ini! e. Contoh: Stabilitas nasional mantap. Kalimat Pertanyaan (deklaratif) Dipakai jika penutur ingin menyatakan sesuatu dengan lengkap ketika ia ingin menyampaikan informasi kepada lawan bicaranya. Kalimat Perintah atau Permintaan (Imperatif) Dipakai jika penutur ingin menyuruh atau melarang orang melakukan perbuatan.5 Kalimat menurut Fungsi a. Contoh: Bukan main sulitnya soal ini. Kalimat Pertanyaan (Interogatif) Dipakai jika penutur ingin memperoleh informasi atau reaksi yang diharapkan. Contoh: Di mana mereka melakukan latihan? c. b. . petugas keamanan tidak dapat mengenali para penjarah tersebut.Kalimat Seruan Dipakai jika penutur ingin mengungkapkan perasaan yang kuat atau yang mendadak. masyarakat dapat bekerja dengan leluasa. dan masyarakat dapat beribadah dengan tenang. c. Contoh: Tidak semua nasabah bank memperoleh kredit lunak.

6. a. Contoh: Kejaksaan Agung akan menayangkan wajah para koruptor yang menjadi buronan di televisi.6 Kalimat Efektif Adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk memunculkan gagasan pada pemikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran penulis. (salah) Patung Dewi Sri terletak di dalam lemari kaca.4. 4. Tidak Hadirnta Subjek ganda Contoh: Patung Dewi Sri terletak lemari kaca.1 Kesepadanan Struktur Yang dimaksudkan kesepadanan struktur adalah kesepadanan antara pikiran dan struktur bahasa yang digunakan. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. Contoh: Kami datang agak terlambat. Tidak Hadirnya Kata Penghubung Intrakalimat pada Kalima Tunggal Kata penghubung intrakalimat yang dimaksudkan adalah sedangkan dan sehingga. Hadirnya subjek dan predikat Contoh: Bagi mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah pada akhir bulan September.(benar) a. a. (salah) Mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah pada akhir bulan September. Kalimat tersebut tidak efektif karena yang dimaksudkan adalah menayangkan di televisi wajah koruptor yang menjadi buronan. (salah) .

4 Kehematan Kata Yang dimaksud dengan penghematan kata adalah hemat dalam menggunakan kata.(salah) Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. a. 4.6.2 Keparalelan Bentuk Yang dimaksud adalah kesejajaran atau kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Penghilangan Subjek yang Sama pada Anak Kalimat Contoh: karena dia tidak diundang. bentuk kedua dan seterusnya juga harus menggunakan nomona. frasa. .6. Contoh: Kebobrokan perusahaan itu tersembunyi dengan rapat dan penutupannya dengan sangat cermat.6. Kalau bentuk pertama menggunakan nomina.(salah) Karena tidak diundang. Tidak Hadirnya Kata yang di Depan Predikat Contoh: Bahasa Indonesia yanf berasal dari bahasa Melayu. 4. Contoh: Harapan Presiden ialah agar kita semua membangun bangsa dan negara ini dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.(benar) a. 4. dia tidak dating ke pesta itu.Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. atau bentuk lain dan tidak menggunakan apa pun yang dianggap tidak perlu. Unsur yang ditegaskan dalam kalimat itu aslah harapan Presiden. (salah) Kebobrokan perusahaan itu tersembunyi dengan rapat dan tertutup dengan cermat. dia tidak dating ke pesta perpisahan itu.3 Ketegasan Makna Ketegasan makna kalimat ditentukan oleh beberapa unsur.

(salah) Ia memakai baju merah muda.1 Definisi Paragraf Sebuah paragraph harus memiliki sebuah gagasan utama. Gagasan utama adalah gagasan dasar tentang sesuatu.(benar) BAB 5 SYARAT-SYARAT PARAGRAF 5.2 Keruntutan Paragraf Keruntutan paragraf ditampilkan melalui hubungan formalitas (hubungan secara bahasa) diantara kalimat yang membentuk paragraf. sebuah paragraf sudah memiliki satu gagasan yang utuh dan jelas. Sebuah paragraf harus merupakan satu gagasan yang utuh. Penghindaran Pemakaian Superordinat pada Hiponimi Contoh: Ia memakai baju warna merah muda. Paragraf yang disusun dengan runtut (kohesif) ditandai oleh berpautnya kalimat yang satu dengan kalimat yang lain yamg ada di dalamnya. a. artinya jika dilepaskan dari teks. diperlukan alat penghubung antarkalimatagar keterpautan itu terlihat jelas. Penanda hubungan antarkalimat . (benar) a.(salah) Anda dipersilakan naik untuk beristirahat. Untuk itu. Paragraf yang disusun dengan padu (koherensif) ditandai oleh berpadunya gagasan yang tedapat dalam setiap kalimat yang membangunnya. yang menjadi tumpuan berpikir bagi penulis untuk memunculkan gagasan berikutnya. Penghindaran Pemakaian Sinonim pada Satu Kalimat Ontoh: Anda dipersilakan naik ke atas untuk beristirahat. 5.a.

. yaitu teknik pengacuan(reference). (a) Hubungan Pengacuan dengan itu Pengangkatan anak wajib dilaksanakan berdasarkan penetapan pengadilan di tempat tinggal sah pemohon. penggantian(substitution). (e) Hubungan Pengacuan dengan seperti itu Telah dinyatakan berulang-ulang bahwa hasil yang optimum memerlukan proses yang panjang. Penetapan itu…. Hubungan dengan Teknik Pengacuan 1) Hubungan Ensoforis Dapat dibedakan menjadi hubungan anaforis dan hubungan kataforis.Berfungsi memadukan hubungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain dalam sebuah paragraf. Terdapat lima penanda hubunhan antar kalimat . hubungan pelesapan (ellipsis). (c) Hubungan Pengacuan dengan begitu itu Hasil yang optimum itu memerlukan proses yang panjang dan waktu yang lama serta ketelitian yan tinggi.. Hasil yang begitu (bagus) itu……… (d) Hubungan Pengacuan dengan demikian itu Analisis kompetensi yang komprehensif merupakan langkah utama untuk menyusun standar kompetensi kerja yang dibutuhkan si bidang tertentu. perangkaian(conjunction). Hasil yang seperti itu……… . dan hubungan leksikal(lexical cohesion) a. Begitu pula halnya dengan penilaian unit kerja lapangan. (b) Hubungan Pengacuan dengan begitu Unit Konteks kalimat dinilai dengan UKBI yang terbatas. Analisis yang demikian itu………….

(h) Hubungan Pengacuan dengan –nya Untuk menjaga kelestarian gajah. bahan makanan di rumah sudah tidak ada lagi. dan burung. 3) Hubungan Pelesapan Ditandai oleh lesapnya unsur kalimat karena tidak dinyatakan secara tesurat atau tidak diucapkan pada kalimat berikutnya. setiap orang dilarang membunuhnya. b) Hubungan Eksoforis Hubungan eksoforis dapat disebut juga hubungan luar bahasa. (g) Hubungan Pengacuan dengan tersebut itu Untuk menjaga kelestarian hidup gajah dan kura-kuara hijau. Bu?” 2) Hubungan Penggantian Ria dan Eka kemarin siang bersama-sama pulang ke Bogor. kura-kura. Mereka berdua naik kereta api. setip orang dilarang membunuh gajah dan kura-kura tersebut itu.(f) Hubungan Pengacuan dengan tersebut Setiap orang dilarang membunuh gajah. 4) Hubungan Kata Perangkai . Sementara itu. lalu ia bertanya. Kalau ada yang melanggar laranga tersebut. “Makanan siapa ini? Boleh saya makan . “Sudah dua hari saya sakit dan sudah dua hari pula (saya) tidak masuk kerja. Contoh: Hafid melihat ada makanan di atas meja makan. pelanggar dapat dihukum. Saya tidak tahu entah dari mana (saya) akan dapat makan.

(b) Penominalan (a) Sebelum memangku jabatannya. akan tetapi. padahal. b. Contoh ungkapan penghubung antarkalimat: a.Siti Hawa selalu dipercaya sebagai manusia kedua karena ia diciptakan setelah Tuhan menciptakan adam. diperlukan keseriusan dan kecermatan yang tinngi dari pihak-pihak yang berkepentingan. meskipun demikian dsb. akibatnya. dengan demikian. Hubungan pertentangan: sebaliknya. Untuk itu. termasuk mamatuhi Undang-Undang Lalu Lintas di Jalan Raya. (c) Penggunaan kata hubung intrakalimat Contoh: Jika terjadi kematian warga Negara. namun. (b) Pengucapan sumpah dan janji setia tersebut……. 6) Pengulangan Misalnya: Ketentuan untuk menggunakan baju seragam putih-putih pada hari Senin hanya berlaku bagi anak-anak sekolah dasar di Kecamatan Ciluer. Bahkan. Hubungan sebab akibat: oleh karena itu. . setiap calon terpilih harus mengucapkan sumpah dan janji setia. 5) Hubungan dengan Penanda Leksikal Contoh: Setiap warga negara garus mematuhi perundang-undangan yang berlaku di negeri ini. Siti Hawa (ia) diciptakan dari tulang rusuk manusia pertama itu. instansi yang ditunjuk wajib mencatat kematian warga Negara itu. Anak-anak itu harus segera diberi tahu mengenai ketentuan itu agar mereka bias menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan anak itu. (d) Penggunaan ungkapan penghubung antarkalimat Contoh: Catatan peristiwa itu amat penting untuk penyelidikan. jadi.

tengah. dan kalimat subordinatif.1 Aspek Semantis a. atau akhir paragraf biasanya merupakan perincian lebih lanjut atau penjelasan atas tema. atau akhir paragraf. dsb. tengah.3 Simpulan Paragraf dapat dikenali lewat ciri sebagai berikut: 1. baik wacana lisan maupun wacana tertulis. a. dsb. dsb. g. atu sebaliknya. 5. Pada umumnya. Hubungan perangkaian: akhirnya. 3. malah. h. Kalimat yang terdapat di dalam sebuah paragraf dapat berurutan atas kalimat tunggal. kalimat koordinatif. i. di samping itu. d. Hubungan cara: dengan demikian. 6. lain dari itu.2. lebih-lebih. e. dengan itu. jika begitu dsb. f. berkaitan dengan itu. lalu.c. 4. dengan kata lain. Hubungan urutan waktu: kemudian. dsb.1 Pendahuluan Banyak orang menduga bahwa satuan bahasa yang terlengkap adalah kalimat. setelah itu. Hubungan syarat: kalu begitu.2 Aspek-Aspek Wacana 6. Paragraf juga dapat memiliki bagian pengantar. Hubungan lebih: bahkan. kalau demikian. Hubungan semantis antarbagian wacana ditandai oleh hubungan antara proposisi dan proposisi bagian-bagian wacana itu. Hubungan penjumlahan: lagi pula. Hubungan pertalian untuk menandai manfaat: untuk itu. Kalimat yang diletakkan pada bagian awal.1 Hubungan sebab atau hubungan alasan . Dugaan itu salah sebab sebuah kalimat bagaimanapun bentuknya pasti menjadi bagian dari sebuah wacana. BAB 6 SATUAN-SATUAN DALAM WACANA 6. paragraf memiliki kalimat tema. 2. dsb. yang biasanya diletakkan pada bagian awal.

a.2. 6. b. dsb. tolong terima sebentar. Na. luas tanah 1. Sebuah rumah tua. kalimat dengan kalimat.2 Hubungan di antara peserta tuturan Contoh: Ketika telepon berdering. Konjungsi Di dalam bahasa Indonasia. Peminat yang serius harap menghubungi kami. Elipsis (pelesapan) Biasanya apa yang dilesapkan di dalam salah satu bagian merupakan ulangan dari bagian yang lain. Hubungan latar belakang semantis wacana b. Aku lagi mandi. Butuh uang tunai segera. seorang ibu berkata kepada anaknya: Ibu : Ada telepon untuk kamu. Di mana-mana terjadi kekeringan. klausa dengan klausa. Anna : Ma.500 meter persegi dan luas bangunan 200 meter persegi. konjungsi dapat bertugas menyambungkan frasa dengan frasa.2 Aspek gramatikal a.2 Hubungan sarana-tujuan b. a. Contoh: Di mukamu ada sebuah rongga (di mukamu) ada giginya ada lidahnya . Musim tanam terlambat.Contoh: Musim kemarau tahun ini amat panjang.1 Kesatuan topik Contoh: “ Dijual. Kami tidak mempunyai waktu untuk melayani perantara. petani mengeluh tak ad air.

Mereka banyak yang memang sama sekali belum pernah melihat keramaian kota. seperti: Kami pergi berjalan-jalan ke kota bersama sebagian penduduk desa kami. Oleh karena itu.2 Penggantian Kataforis Pronomina persona-nya dapat juga digunakan untuk penggantian kataforis. Pendek kata kita membaca alam. 6. d. mereka tampak sangat gembira. Penggantian (substitusi) Dapat bersifat anaforis atau pun kataforis.3 Satuan Satuan di Dalam Wacana . Paralelisme Paralelisme atau kesejajaran bentuk dalam wacana mengikuti pola di antara bagian di dalam wacana itu.Lewat rongga itu semua bias Kumasukkan ke dalam perutmu a. Contoh: “ Berhadapan dengan struktur teks sajak kadang-kadang seperti berhadapan dengan ayat-ayat atau yanda-tanda kebesaran Tuhan. saya yakin kelak Ahmad dapat menjadi seorang peneliti ulung yang berhasil. d.1 Penggantian Anaforis Penggantian anaforis selalu menggunakan pronominal persona ketiga. seperti: Dengan kecerdasan yang luar biasa serta dilengkapi dengan kecermatan dan ketelitiannya yang tinggi.” a.

.1 Pengantar Pada dasarnya. dan (3) penelitian bahasa dapat dilakukan secara diakronis ataupun sikronis (Kridalaksana. Teori linguistik modern memulai analisis bahasa dari kalimat. frasa. jika dilihat dari segi teknik analisis suatu kalimat. Socrates (46939 SM). morfem. Jika dilepaskan dari sebuah wacana. dan cara mengajarkan bahasa. melanjutkan ide-ide Plato dan Socrates yang berpandangan tentang bahasa. paragraf sudah merupakan suatu kesatuan informasi yang lengkap. kata. ada dua macam teori linguistik yang pernah berkembang di Indonesia. utuh.2 Teori Linguistik yang Berkembang di Indonesia 7.1 Teori Linguistik Tradisional Perintis linguistik pada masa Yunani Kuno. perintis linguistik berikutnya. Plato (436-33 SM). Teori linguistik tradisional berangggapan bahwa semua bahasa di dunia ini memiliki struktur kalimat yang sama. telah memberikan prinsip-prinsip dasar linguistik kemudian. Teori linguistik tradisional memulai analisis bahasa dengan kata dan bentuk kata. kemudian beralih ke unsur yang lebih kecil. BAB 7 TEORI DAN PEMIKIRAN LINGUISTIK YANG BERKEMBANG DI INDONESIA 7. secara garis besarnya. Ciri menonjol dari teori linguistik modern atau teori linguistik struktural adalah (1) pandangan tentang pentingnya hubungan antarunsur bahasa lebih daripada unsur-unsur itu sendiri. Perbedaan yang mendasar di antara kedua teori tersebut terletak pada titik tolak memandang.2. (2) satu-satunya objek linguistik yang benar adalah sistem bahasa (langue). dan fonem yang mendasari struktur kalimat tersebut (disebut teori linguistik struktural). yaitu klausa. melainkan paragraf. kemudian sampai pada struktur kalimat. 1991:7) 7. yaitu teori linguistik tradisional dan teori linguistik modern.Satuan terbesar di dalam wacana bukan kalimat. cara menganalisis. dan selesai.

yang banyak menulis buku tentang logika dan linguistik. Pemikiran para perintis linguistik itu hingga sekarang diyakini kebenarannya oleh para linguis di Indonesia. antara lain: a.S. 7. membedakan struktur lahir dan struktur batin. Tahun 1957 itulah dianggap tonggak awal berkembangnya aliran baru dalam linguistik. dan antibehaviorisme. Aristoteles dianggap sebagai orang yang memperkenalkan kategori kata (distinct parts of speech). Ciri linguistik transformasional.McCawley. J. Lakoff (Kridalaksana. dan G. d. Linguis Indonesia yang menggunakan teori tradisional dalam analisis penelitian mereka seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan J. Aristoteles. Hani’ah dkk.Perintis lai pada masa Yunani Kuno adalah aristoteles (384-322 SM). Pengikut Bloemfield yang brilian adalah Noam Chomsky. Chomsky. c. b. Panini.. Tokoh-tokoh teori linguistik transformasi generatif adalah A. Dalam teori linguistik transformasi generatif terdapat struktur dalam (deep structure) dalam pikiran manusia dan strukrur luar (surface structure) dalam wujud bahasa. bersifat rasionalistis.2.isalnya Plato. 1991:16) . Pada tahun 1957 Chomsky menerbitkan buku yang berasal dari disertasinya yang berjudul Syntactic Structure. bertujuan menemukan apa yang semesta dan teratur dalam memahami dan menghasilkan kalimat yang gramatikal.2006) Linguis yang tergolong kelompok ini m. memakai konsep-konsep competence dan performance. Badudu. (cf.N.2 Teori Linguistik Transformasi Generatif Teori sintaksis struktural dimulai dengan diterbitkannya buku Language oleh Leonard Bloemfield pada tahun 1933. Ia melahirkan suatun teori yang disebut teori linguistik transformasi generatif. Socrates.

b. Makkai (Kridalaksana. bersifat generatif. d. dan lainlain (Kridalaksana.2. analisis gramatika tidak hanya terbatas pada kalimat. Menerbitkan buku pengantar tatabahasa stratifikasi yang berjudul Outline of Stratificational Grammar tatabahasa stratifikasi mengambil nama dari aneka ragam strata ‘lapisan’ yang terdapat dalam suatu bahasa.7.L. b. .2. c. Pike. Tokoh teori linguistik tagmemik adalah K.5 Teori Linguistik Kasus Ciri-ciri teori linguistik kasus: a. membedakan satuan etik dan satuan emik. 1991:15) 7. bahasa dianggap sebagai sistem statis. D. 1991:13) 7. satuan dasar berupa tagmen. Longacre. R. Lamb. H. ada strata leksem.2. ada strata fonem. Ciri teori linguistik stratifikasi: a. b.Lookwood.3 Teori Linguistik Stratifikasi Teori linguistik stratifikasi dilontarkan dan dikembangkan oleh Sidney Lamb dari Universitas California. Tokoh dari linguistik stratifikasi adalah S.Gleason. bersifat fungsionalitas. bahasa dianggap sebagai sistem jaringan dan kaidah-kaidah realisasi yang menghubungkan bagian-bagian struktur yang disebut strata. strata morfem. Evelyn Pike.G. c. jadi menentang konsep-konsep yang menggambarkan proses.A. tetapi sampai ke wacana.4 Teori Linguistik Tagmemik Ciri-ciri teori linguistik tagmemik: a. bahasa dipandang sebagai sistem hubungan-hubungan dan bukan sistem unsurunsur. dan A. mendapat pengaruh dari Pike.

Swiss. dan Susumu Kuno (Kridalaksana. Chafe. dalam semantik dianggap bahwa nomina berhubungan dengan verba dalam struktur batin berupa berbagai kasus.2 Pemikiran Odgan dan Richard . Martinet.34) 7. yaitu dibedakannya dua aspek tanda bahasa. Teori linguistik fungsional dipelopori oleh Selain oleh simon Dik. dan 35) 7.2.7 Beberapa Pemikiran tentang Linguistik 7.2. Tokoh teori linguistik kasus adalah W. penerima.1 Pemikiran Saussure Mongin-Ferdinand de Saussure (1857-1913) adalah tokoh linguistik modern kelahiran Geneva. c. Saussure berprinsip bahwa ujaran (parole) tidak boleh dikacaukan dengan langue. penderita. Langue merupakan sistem yang dimiliki bersama yang secara taksadar kita pergunakan sebagai alat komunikasi.P. seperti kasus pelaku. yaitu significant dan signifie.7. A. dan fungsi pragmatis. pengungkapan bahasa berjalan dari semantik ke sintaksis terus ke pragmatik dan berakhir pada apa yang disebutnya expression rules. fungsi sintaktis. tidak mengenal transformasi. juga danes.2. filter.7. dan sebagainya.6 Teori Linguistik Fungsional Ciri-ciri teori linguistik fungsional: a. 1991:18. 28. sedangkan parole adalah realisasi individual atas sistem bahasa.2. deskripsi ungkapan bahasa dimulai dengan pembebtukan predikasi dasar yang dilakukan dengan penyisipan ungkapan ke dalam kerangka predikat. 1991:16-17. teori ini memberi tempat kepada tiga lapisan fungsi. Saussure memiliki pemukiran yang sangat brilian. yang berupa kalimat-kalimat atau ucapan-ucapan seseorang dalam komunikasi sehari-hari. dekomposisi leksikal. yakni fungsi semantik. Tampubolon dan Soenjono Dardjowidjojo (Kridalaksana. 7. b. d. Tahun 1916 dipandang sebagai tahun kelahiran linguistik modern dan de Saussure dijuliki sebagai Bapak Linguistik Modern. Libguis Indonesia yang pernah menerapkan teori ini dalam penelitian linguistik adalah D.c. Halliday.

yang menyatakan bahwa setiap tutur yang bermakna dalam kalimat tentulah mempunyai acuan. Dia. Dengan kata lain.5 Pemikiran Grice dan Leech Grice dan Leech memunculkan konsep implikatur. (e) . adalah tindakan (a) menyapa. dan perlokusi.2. (b) menuduh. Odgan dan Richard berbicara tentang kodrat kalimat. yaitu tindakan lokusi.2. (d) meminta maaf. Mereka juga berbicara tentang acuan. Ilokusi adalah tindakan yang dilakukan dalam mengatakan sesuatu atau membuat pernyataan. atau dimaksudkan oleh penutur.K. Odgan dan I. menguraikan hubungan antara kegramatikalan (grammaticality) dan kebermaknaan (meaningfulness) serta keberterimaan (acceptability).7.7. ilokusi. Tindakan lokusi adalah tindakan mengatakan sesuatu atau tindakan membuat suatu tuturan.7.5 Pemikiran Austin Austin (1968) memperkenalkan konsep tindak bahasa (speech act). disarankan. C. 7.A.7. Ia membedakan tiga jenis tindakan dalam konsep tindak bahasa. bahasa mempengaruhi cara berpikir masyarakat pengguna bahasa yang bersangkutan.2. yang dikategorikan sebagai tindakan ilokusi.3 Pemikiran John Lyons Lyons (1996:72) tergolong ahli semantik yang sangat berpengaruh. 7.Pada kurun berikutnya. 7. Secara konvensional. khususnya di wilayah makna kata dan makna kalimat. Pemahaman implikatur yang dilontarkan Grice dan Leech (1975) berguna untuk menerangkan apa yang mungkin diartikan. antaralain.2.yang berbeda dari apa yang sebenarnya dikatakan oleh penutur.4 Pemikiran Sapir-Whorf Edward Sapir(1884-1937) dan Benjamin Lee Whorf(1897-1941) berpendapat bahwa pandangan manusia tentang dunia luar dibentuk oleh bahasa yang dipakai. (c) mengakui. Richard dalam The Meaning of Meaning (1923) membuat langkah yang lebih menentukan dalam membangkitkan minat bidang linguistik. 7.

klausa. (n) memberi nama. (h) mengucapkan selamat. dan kalimat. (o) menawarkan. yaitu tataran fonologi dan tataran gramatika atau tataran bahasa. 1993: 81) . sintaksis diartikan sebagai subdisiplin linguistik yang mempelajari tata susun frasa sampai kalimat. dan pengujian hipotesis (Kridalaksana: 1991:11) TINJAUAN PENULIS Secara umum. Sintaksis berasal dari bahasa Yunani (sun + tattein = mengatur bersama-sama) adalah bagian dari tatabahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa. (t) bersulang (Huurfordv dan Heasley. (s) berterima kasih. (g) berdukacita. wawasan atas struktur data. (r) memprotes. yakni proses yang berlangsung dari metode induktif ke metode deduktif. yaitu pengamatan data. sebagaimana dalam ilmu-ilmu lain. dan kalimat (Suparno. cf. ilmu linguistik (ilmu bahasa) memiliki dua tataran. 1994:244. Kaswanti Purwo 1984:19-20) Perlokusi adalah tindak bahasa yang mengakibatkan kawan bicara melakukan suatu tindakan dalam mengatakan sesuatu itu. Dalam tataran bahasa terdapat bahasan tentang morfologi dan sintaksis. yakni: frasa. Menurut aliran struktural. (j) mengizinkan. (p) memuji. Unsur bahasa yang termasuk di dalam lingkup sintaksis adalah frasa. (m) menghina. adalah metode ilmiah. (l) meminta diri. Sintaksis membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech). Dengan demikian ada tiga tataran gramatikal yang menjadi garapan sintaksis.3 Hubungan Teori dan Metode dalam Linguistik Metode dalam linguistik. (f) mengeluh. 7. Metode induktif mencangkup empat langkah. klausa. (i) menyesalkan.menantang. dan dari metode deduktif kembali ke metode induktif. perumusan hipotesis. (q) berjanji. yaitu berupa siklus empiris. (k) memberi salam.

klasifikasi frasa. Klausa adalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat. Berdasarkan uraian-uraian dan pendapat-pendapat di atas maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sintaksis adalah bidang subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan antarkata dalam tuturan yang meliputi tata susun frase. Konstruksinya disebut konstruksi sintaksis. dan kalimat itu merupakan kontruksi. Buku ini dikemas dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga pembaca memperoleh kemudahan dalam menelaah maksud penulis. Dilihat dari tatanan unsur-unsur pembentuknya. buku ini bisa dijadikan sebagai salah satu referensi belajar sintaksis Buku karya: Prof. buku ini juga dikemas dalam bentuk pembahasan per bab sehingga memudahkan pembaca dalam mempelajari isi buku. E. Atas dasar pemikiran itu dikenal konstruksi frase. yang secara khas disebut sintaksis karena konstruksi-konstruksi itu dibahas dan dikaji dalam subdisiplin sintaksis. klausa. klasifikasi klausa. Zaenal Arifin . Pada buku ini telah digambarkan secara jelas mengenai pengertian sintaksis dan hal-hal apa saja yang dipelajari di dalamnya mulai dari pengertian sintaksis. 1987: 7) Frasa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nenprediktif (Rusyana dan Samsuri. dan konstruksi kalimat. dan secara actual ataupun potensial terdiri atas klausa. 1976) atau satu konstruksi ketatabahasaan yang terdiri atas dua kata atu lebih. satuan-satuan dalam wacana hingga teori dan pemikiran linguistic yang berkembang di Indonesia. mempunyai intonasi final (kalimat final). (Suparno. Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relative berdiri sendiri. frase. DR. dan tata susun kalimat dalam suatu bahasa. klausa. konstruksi klausa. Untuk keperluan belajar Sintaksis tataran Mahasiswa Strata Satu Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. dan kalimat adalah satuan bahasa. Selain itu. syarat-syarat paragraph. tata susun klausa. klasifikasi kalimat.Frase.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful